Abu Bakar

A. ASAL-USUL DAN GAMBARAN FISIK ABU BAKAR SERTA KEISLAMANNYA

1. Nama, garis keturunan, julukan, dan kelahiran Abu Bakar
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi, yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq bin Abu Quhafah.

Dia dijuluki Atiq karena wajahnya yang tampan dan nasabnya yang baik. Abu Bakar memang berasal dari garis keturunan yang bersih dari cela.

Pada suatu kesempatan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sedang duduk bersama beberapa shahabat, tiba-tiba datang Abu Bakar. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Siapa yang suka melihat ‘Atiq (orang yang terbebas) dari api neraka, silakan melihat Abu Bakar”. Maka julukan itupun menempel pada diri Abu Bakar dan dia terkenal dengan sebutan itu.

2. Sifat dan gambaran fisik Abu Bakar
Abu Bakar dilahirkan dua tahun enam bulan setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh tentara gajah. Beliau berkulit putih, berperawakan kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya, wajahnya tirus, matanya cekung, berkening lebar, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan inai maupun katam (sejenis tumbuhan yang digunakan untuk menghitamkan rambut).

3. Orang tua Abu Bakar dan keislaman mereka
Abu Bakar tumbuh di bawah naungan ayahnya Abu Quhafah yang masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah dan ibunya Ummul Khair, Salma binti Sakhr bin Amir, sepupu Abu Quhafah, yang juga masuk Islam dan menjadi salah satu shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersama sang putra.

4. Karakter Abu Bakar dan Kedudukannya di kalangan bangsa Quraisy
Masa mudah Abu Bakar tidak ternodai oleh keburukan dan perilaku negatif kaum Jahiliyah, karena dia memegang teguh sifat-sifat luhur bangsa Arab. Abu Bakar dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sosok yang menyenangkan, mudah membantu sesama, jujur dalam setiap perkataannya, baik pergaulannya, bahkan mengharamkan atas dirinya khamar sejak masa jahiliyah.

Dia sangat mengerti garis keturunan bangsa Arab, terutama garis keturunan Quraisy, termasuk cerita-cerita mereka, yang baik maupun yang buruk, dan menguasai ilmu ta’wil mimpi. Lebih dari itu dia juga merupakan seorang pedagang berpengalaman dan terlatih. Semua itu membuat Abu Bakar disukai dan sangat dipercaya oleh kaumnya serta menempati posisi yang terhormat. Maka tidak heran jika kemudian Abu Bakar menjelma sebagai salah satu pemuka kaumnya pada masa jahiliyah dan menjadi salah satu elemen penting dalam permusyawaratan mereka. Bahkan dia merupakan satu dari sepuluh tokoh Quraisy yang berlanjut kemuliaannya sejak masa jahiliyah hingga masa islam. Disamping itu, Abu Bakar pun dipercaya sebagai kordinator dalam urusan diyat, jika dia telah memutuskan sesuatu dalam urusan itu, yang lain akan ikut dan segera menyetujuinya.

5. Keislaman Abu Bakar
Telah menjadi kebiasaan bagi Abu Bakar untuk duduk berlama-lama bersama tiga orang shalih yang merupakan penganut Hanafiyah (ajaran agama yang lurus sebagaimana diwariskan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam), yaitu Qus bin Sa’idah Al-Iyadi, Zaid bin Amr bin Nufail, dan Waraqah bin Naufal. Dia amat suka menyimak kata-kata mereka dan mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Namun, ketiga sosok tersebut hanya membatasi keyakinan tersebut untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan dakwah secara terorganisir dan tidak membawa suatu agama yang mengecam penyelewengan akidah kaum Quraisy dan kebiasaan buruk mereka. Ketika ketiganya semakin tua, sehingga bisa saja dalam waktu dekat mereka akan menemui ajalnya, Abu Bakar berpikir untuk mencari sosok lain yang dianggap bisa menggantikan posisi mereka.

Lantas terpikir olehnya sosok Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Sosok yang masih mudah, memiliki asal-usul dan garis keturunan yang baik, kedudukannya di tengah-tengah kaumnya laksana mutiara yang berkilauan. Saat itu Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dikenal sebagai sosok yang menolak menyembah berhala. Hari-harinya tidak ternodai oleh sifat-sifat negatif kehidupan jahiliyah. Bahkan belakangan dia lebih banyak menyendiri di gua Hira untuk melakukan perenungan tentang kehidupan. Sehingga dia sampai pada keyakinan adanya Sang Pencipta yang harus diagungkan dengan tanpa mengagungkan selainnya. Memang dia tidak menghina berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya, tapi dia pun tidak pernah memujinya apalagi bersujud padanya seperti yang biasa dilakukan oleh kaumnya. Dia telah memisahkan diri dari kaumnya untuk mencari kebenaran yang haqiqi.

Dapat dikatakan bahwa Abu Bakar merupakan teman sebaya Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallamkarena usia mereka tidak terpaut jauh. Abu Bakar melihat ada yang berbeda pada sosok yang satu ini. Menurutnya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam  pantas menjadi panutan dan layak dianggap sebagai teladan yang terpercaya. Abu Bakar mencoba menghidupkan kembali memorinya untuk mengingat-ingat berbagai kejadian penting yang senantiasa menjadi buah bibir di kalangan kaumnya di seantero Mekah. Ingatannya mulai tertuju pada suatu peristiwa luar biasa yang terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya ketika kaum Quraisy menyelesaikan proyek renovasi Ka’bah. Waktu itu, setiap orang bersikeras mendapatkan kehormatan untuk mengembalikan Hajar Aswad ke posisi semula.

Terjadilah keributan diantara mereka, hingga hampir menyulut terjadinya perang seperti perang Fijar(sebuah peperangan hebat yang melibatkan suku Quraisy). Pada saat pertikaian semakin sengit, salah seorang dari mereka mengusulkan untuk menyerahkan keputusan persoalan tersebut pada seorang yang paling pertama mendatangi tempat itu. Saat itu yang pertama datang adalah MuhammadShallallahu Alahi wa Sallam. Lantas secara bersamaan mereka berteriak, “Ini dia Al-Amin (sang terpercaya) Muhammad…. dialah hakim terbaik!”

Lantas Abu Bakar menyoroti berhala-berhala sesembahan kaum jahiliyah dan keanekaragaman peribadatan mereka. Ada yang menyembah berhala, ada juga yang menyembah matahari, bintang-bintang, malaikat, jin, bahkan ada juga diantara mereka yang atheis.

Ajaran Hanafiyah pun tenggelam di balik gelombang kesyirikan, membuat Abu Bakar bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa tidak datang seseorang yang dapat menyelesaikan pertikaian kaum Quraisy dan menyelamatkan mereka dari pertumpahan darah!”

Abu Bakar pun berusaha mencari tahu lebih banyak tentang sosok “Al-Amin” yang tak lain merupakan teman dan sahabatnya sendiri. Untuk itu dia sengaja ikut dengannya dalam perniagaan ke negeri Syam, Sehingga dia pun sempat mendengar ucapan Rahib Buhaira tentang adanya tanda-tanda kenabian pada diri shahabatnya tersebut. Abu Bakar pun semakin mengagumi sosok Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia melihat pada diri shahabatnya itu potesi sebagai penyelamat dan pemberi solusi atas problem keyakinan yang dihadapi kaumnya.

Ditambah lagi dengan adanya kejadian yang dialaminya pada saat berniaga ke Yaman beberapa saat sebelum Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagi Nabi. Abu Bakar menuturkan, “Waktu itu saya singgah ditempat seorang Syaikh yang alim dari Azd. Dia telah membaca banyak kitab, menguasai banyak ilmu. Pada saat melihatku dia berkata, Aku memperoleh informasi yang akurat bahwa seorang nabi akan diutus ditanah haram (Mekah). Dia akan ditolong oleh seorang pemuda dan satu orang dewasa. Yang muda merupakan sosok yang suka menantang bahaya dan menolak berbagai bentuk kesengsaraan, sedangkan yang dewasa berkulit putih, berperawakan kurus, memiliki lalat diperutnya, dan memiliki di paha sebelah kiri.”

Lantas dia memintaku untuk menyingkap bagian perutku agar dia dapat melihatnya. Saya pun melakukan apa yang diminta, hingga dia melihat adanya tahi lalat hitan diatas pusarku. Dia pun berseru, “Kamulah orangnya, demi tuhan Ka’bah! saya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu, camkanlah!”

“Apa itu?” tanya Abu Bakar. “Janganlah engkau condong pada hawa nafsu, berpegang tegulah pada jalan yang utama dan pertengahan, dan takutlah pada Allah dalam segala sesuatu yang telah dianuhgerahkan-Nya padamu”.

Sekembalinya Abu Bakar ke Makah, dia menanti saat diutusnya sang Nabi yang ditunggu-tunggu. Maka begitu dia memperoleh informasi bahwa sahabat karibnya Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallammemperoleh wahyu dan diberi amanah untuk mengemban risalah dari langit, dia pun bergegas menemuinya dan bertanya, “Wahai Muhammad, benarkah apa yang diberitakan oleh masyarakat Quraisy bahwa engkau telah meninggalkan tuhan-tuhan kami, merendahkan akal kami, dan mengkafirkan para orang tua kami?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Benar. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah dan Nabi-Nya. Dia mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Saya pun sungguh-sungguh mengajak engkau ke jalan Allah. Demi Allah, ini adalah kebenaran yang hakiki. Saya mengajakmu wahai Abu Bakar untuk menyembah Allah semata yang tidak ada sekutu baginya. Maka janganlah engkau sembah sesuatu pun selain Allah. Saya pun mengajakmu untuk berjanji untuk senantiasa taat kepada-Nya.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Tanpa pikir panjang, Abu Bakar langsung menerima ajakan masuk Islam dan segera menyatakan penolokannya terhadap penyembahan berhala. Dia segera menanggalkan segala bentuk kemusyrikan dan menegaskan kebenaran Islam. Dia pun pulang dalam kondisi telah menjadi seorang muslim yang membenarkan kenabian Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam .

Abu Bakar terhitung orang yang pertama kali masuk Islam. Dia sangat yakin akan benarnya kenabian Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam  dan dakwahnya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan, “Setiap saya mengajak seorang masuk Islam, selalu terbesit tanya dan keraguan dalam benaknya. Berbeda dengan Abu Bakar, dia tidak terpikir panjang untuk memenuhi ajakanku dan dia tidak ragu sedikitpun.”

6. Terkenal dengan julukan “Ash-Shiddiq”
Setiap kali Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengabarkan sesuatu, Abu Bakar selalu menjadi orang yang paling pertama membenarkan dan mengimaninya. Karena dia begitu yakin bahwa RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Kondisi demikian membuat dia dijuluki Ash-Shiddiq (orang yang selalu membenarkan). Dia semakin terkenal dengan julukan itu setelah kejadian Isra’-Mi’raj. Waktu itu sekelompok orang musyrik mendatanginya dan mempertanyakan,”Apa pendapatmu tentang cerita temanmu itu? Dia mengaku telah diperjalankan tadi malam ke Baitul Maqdis!” Abu Bakar balik bertanya, “Dia mengatakan itu?” Mereka serempak mengiyakan. Abu Bakar berkata, “Kalau begitu dia benar! Seandainya dia mengatakan hal yang lebih dari itu tentang kabar dari langit, saya pasti akan membenarkannya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.”

karena itulah Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq.

Baru saja bibir Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selesai mengucapkan sesuatu, Abu Bakar langsung berkata, “Dia benar.” Orang lain boleh saja mencari tahu dulu, berpikir beberapa saat, atau bahkan meragukan. Tapi tidak demikian dengan Abu Bakar. Semboyannya sejak pertama kali menyatakan keislaman adalah, “Jika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, maka dia benar.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun pernah menyiarkan julukan tersebut ditengah-tengah khalayak ramai, yaitu pada saat beliau menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, waktu itu gunung Uhud bergetar. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Tenanglah wahai Uhud, diatasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan dua orang syahid.”

B. PERSAHABATAN ABU BAKAR DENGAN RASULULLAH, HIJRAH, DAN PERANG YANG DIIKUTINYA

1. Persahabatannya dan keteguhannya memegang Al-Qur’an dan Sunnah

Abu Bakar senantiasa menjadi sahabat setia Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sejak dia masuk Islam hingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  wafat. Dia tidak pernah meninggalkan beliau baik pada saat berdiam di Mekah maupun dalam perjalanan. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Aisyah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq Radiyallahu Anhuma, “Sejak aku mengenal kedua orang tuaku, mereka telah masuk Islam. Tidak ada hari yang kami lewati tanpa keberadaan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam di kedua ujung hari pagi dan petang.” Maka pantas Abu Bakar memperoleh pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menyebutnya dalam Al-Qur’an sebagai seorang sahabat, “Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”(QS.At-Taubah [9]:40). Oleh karena itulah para ulama berpendapat bahwa siapa yang mengingkari persahabatan Abu Bakar dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berarti telah kafir. Sebab al-Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa dia adalah sahabat beliau. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  sendiri menyebutnya  sahabat ketika berkata kepadanya, “Engkau adalah sahabatku di haudh(telaga surga) dan sahabatku di gua (Hira).”

2. Mendakwahi manusia kejalan Islam dan membebaskan budak

Abu Bakar tidak merasa cukup jika hanya dirinya yang memeluk Islam. Akan tetapi, kedudukannya dikalangan Quraisy dimanfaatkannya dengan baik untuk kemaslahatan dakwah. Dia pun mengajak orang-orang yang dipercayanya untuk masuk Islam, terutama mereka yang diyakininya akan menjadi penolong dakwah dan pembela Islam. Maka Abu Bakar ikut berperan dalam keislaman Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin auf Radhiyallahu Anhum.

Pada tahap selanjutnya Abu Bakar mengajak Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Al-Arqam bin Abi Al-Arqam untuk masuk Islam. Mereka pun memenuhi ajakan tersebut.

Abu Bakar menggunakan seluruh hartanya untuk menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pernah menginfaqkkan empat puluh ribu dinar kepada Rasulullah di jalan Allah. Sehingga RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak ada harta yang memberi manfaat kepadaku lebih besar dari manfaat diberikan oleh harta Abu Bakar!

Ketika suatu waktu dia berjalan melewati budak-budak yang sedang disiksa oleh majikannya, dia merasa kasihan, dia tidak segan-segan membelanjakan hartanya untuk memerdekakan mereka. Sedikitnya ada tujuh orang yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, diantaranya Amir bin Fuhairah dan Bilal bin Rabah, muadzin Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam .

3. Keteguhan di jalan dakwah dan pembelaannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam

Dengan segenap kemampuan yang dimiliki, Abu Bakar berusaha untuk menjadi penolong bagi agama Allah, denagn mendakwahkannya, dengan memerdekakan para budak, dan dengan selalu menjadi pembela Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ketika sekelompok kaum musyrikin sedang duduk-duduk di Masjidil Haram membicarakan RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam dan apa yang beliau katakan tentang tuhan-tuhan mereka, tiba-tiba Rasulullah datang ke masjid. Mereka pun bangkit dan mendekatinya. Salah seorang lalu bertanya, “Benarkah engkau mengatakan hal-hal buruk tentang tuhan-tuhan kami?” Rasulullah membenarkan. Tanpa berpikir panjang mereka langsung memukuli Rasulullah. Seseorang lalu memberi tahu Abu Bakar tetang kejadian tersebut. “Sahabatmu dipukuli!” Mendengar itu Abu Bakar langsung bergegas menuju masjid dan menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sedang dipukuli oleh sekelompok orang. Dia pun berupaya menghentikan mereka dengan berteriak, “Celakalah kalian, Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah,” padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?” Mendengar itu, mereka melepaskan Rasulullah dan berbalik memukuli Abu Bakar.

Ali bin Abi Thalib pun pernah menceritakan sebuah kisah tentang pembelaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallamdiganggu oleh sekelompok kaum Quraisy. Ada yang mendorongnya, Ada juga yang mengguncang-guncang tubuhnya seraya bertanya, “Engkau yang membuat tuhan-tuhan kami menjadi satu tuhan?” Waktu itu tidak ada yang berani mendekat kecuali Abu Bakar. Dia memukul, mendorong, dan menyingkirkan orang-orang tersebut seraya meneriyaki, “Celaka kalian, Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah?” Lalu Ali menyingkap kain yang sempat menutupi wajahnya. Dia nampak menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata. Dia pun bertanya kepada orang-orang yang berada disekitarnya, “ Demi Allah, Siapa yang lebih baik keluarga Firaun yang beriman atau Abu Bakar?” Semua terdiam. Ali berkata, “Kenapa kalian tidak menjawab? Demi Allah, satu jam dari Abu Bakar jauh lebih baik dibanding seribu jam dari keluarga Firaun yang beriman. Dia menyembunyikan keimanannya, sementara orang ini (Abu Bakar) menampakkan keimanannya!!”

Baru saja jumlah shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mencapai tiga puluh delapan orang, Abu Bakar meminta Rasulullah untuk membolehkan mereka menampakkan keislaman mereka dan mendakwahkannya secara terang-terangan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Wahai Abu bakar jumlah kita masih sedikit.” Namun Abu Bakar tidak berhenti membujuk sampai akhirnya Rasulullah pun menyetujui dan segera berdakwah secara terang-terangan. Kaum muslimin pun menyebar ke berbagai penjuru masjid, setiap orang mengajak kabilahnya masing-masing. Abu Bakar lalu berpidato sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam duduk disisinya. Ini merupakan pidato pertama yang berisi ajakan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kaum musyrikin marah melihat tindakan yang dilakukan Abu Bakar dan kaum muslimin lainnya. Mereka pun dipukuli disetiap pojok masjid. Bahkan Abu Bakar sempat diinjak-injak dan dipukuli wajahnya hingga tak jelas lagi rupanya. Beruntung Bani Taim (Kabilah Abu Bakar) datang ke tempat itu lalu menolong Abu Bakar dan melepaskannya dari amukan kaum musyrikin. Lalu mereka menandu Abu Bakar dengan kain dan membawahnya ke rumahnya. Mereka sempat menyangka Abu Bakar menemui ajalnya akibat pengeroyokan tersebut. Abu Quhafah dan orang-orang Bani Taim yang lain berusaha membangunkannya dan mengajak bicara. Hingga akhirnya Abu Bakar tersadar saat hari sudah petang dan langsung menanyakan kondisi Rasulullah. Mereka pun menyumpahinya dan pergi meninggalkannya seorang diri.

Ibunya, Ummul Khair membujuknya untuk makan dan minum, namun dia menolak seraya berkata, “Aku bersumpah kepada Allah untuk tidak makan dan minum sebelum mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Dia menunggu sejenank sampai kakinya terasa lebih kuat dan orang-orang menjadi tenang. Lalu dengan dibimbing oleh ibunya dan Ummu Jamil binti Khaththab, Abu Bakar diantar kerumah Rasulullah. Sesampainya disana, Rasulullah langsung memeluknya dan menciumnya. Setelah itu secara bergantian kaum muslimin ikut memeluknya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sangat prihatin melihat kondisi Abu Bakar.

Abu Bakar berkata, “Demi ayahku, dan ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, saya tidak apa-apa. Hanya sedikit pukulan di wajah oleh orang fasik yang bernama Utbah bin Rabi’ah. Dan ini ibuku, sangat baik terhadap putranya. Serulah dia kejalan Allah, dan tolong do’akan dia semoga Allah membebaskannya dari api neraka.” Maka Rasulullah pun mendo’akan dan mengajaknya untuk masuk Islam. Ajakan Rasulullah segera disambut oleh Ummul Khair dan langsung mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

4. Hijarahnya bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ke Madinah

Abu Bakar tetap bertahan di Mekah bersanma para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam,menghadapi berbagai gangguan dan tekanan yang dilancarkan kaum musyrikin Quraisy terhadap Islam dan umatnya. Hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Madinah Munawwarah. Satu per satu kaum muslimin hijrah ke sana. Abu Bakar memendam keinginan untuk itu. Namun Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepadanya, “Tangguhkanlah dulu, saya juga berharap mendapatkan izin untuk itu.” Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau benar-benar mengharapkan itu?” Rasulullah mengangguk. Maka Abu Bakar pun menahan diri untuk tidak hijrah dahulu agar bisa menemani Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia pun mempersiapkan dua unta tunggangan dan memberinya makan dedaunan selama empat bulan lamanya.

Hingga suatu hari pada saat Abu Bakar sedang duduk di rumahnya di tengah hari yang amat panas, datanglah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan menyamar. Tidak biasanya beliau datang ke rumah Abu Bakar di siang hari. Abu Bakar berkata, “Demi Ayah dan Ibuku, sebagai tebusannya demi Allah dia tidak akan datang di waktu seperti ini kecuali ada suatu urusan penting.”

Rasulullah pun meminta izin masuk dan segera diizinkan oleh Abu bakar. Beliau pun masuk dan berkata kepada Abu Bakar, “Suruh semua orang keluar”. Abu Bakar berkata, “Mereka adalah keluargamu juga wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah pun memberitahu.”Aku telah mendapat izin untuk hijrah”. Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau ingin saya temani wahai Rasulullah?” Beliau mengangguk. Abu Bakar lantas menangis karena gembira, karena memperoleh kesempatan untuk menemani Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berhijrah.

Saat yang paling ditunggu oleh Abu Bakar pun tiba. Dia telah melakukan persiapan yang matang untuk perjalanan ini karena baginya ini bukanlah perkara biasa, melainkan sebuah upaya untuk merubah sejarah. Dia ingin keluarganya pun memperoleh kemuliaan berupa kesempatan membantu RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam dan menjaga keamanan jiwanya demi keberlangsungan dakwahnya agar tercapai tujuan yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perintah dakwah tersebut. Untuk itu, dia pun membagi tugas yang harus diemban oleh setiap orang dari keluarganya. Aisyah dan Asma’ bertugas membuat makanan sebagai bekal di perjalanan dan menyimpannya dalam sebuah kantong kulit. Lalu Asma’ memotong sebagian dari ikat pinggangnya untuk mengikat mulut kantong kulit tersebut. Karena itu Asma’ mendapat julukan Dzatu Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar singgah di sebuah gua di Gunung Tsur dan bersembunyi disana selama tiga hari. Abdullah bin Abu Bakar ikut menginap di sana bersama mereka. Sebelum fajar tiba dia pergih meninggalkan gua menuju Mekah untuk mencuri dengar rencana kaum Quraisy menangkap Rasulullah dan shahabatnya. Dan baru kembali ke gua ketika hari gelap untuk memberitahukan apa yang didengarnya. Sementara itu, Amir bin Fuhairah (pembantu Abu Bakar) di siang hari mengembalakan kambingnya, kemudian jika sore tiba dia pulang melewati mulut gua untuk menghapus jejak kaki Abdullah bin Abu Bakar sekaligus memberi kesempatan pada Rasulullah dan Abu Bakar untuk meminum susu kambing dan menyembelih seekor kambing untuk dimakan. Hal itu terus berlangsung setiap malam selama tiga hari mereka bersembunyi di gua.

Pada saat keduanya baru sampai ke mulut gua, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, biar saya yang lebih dahulu masuk ke dalam gua. Kalau ada ular atau sesuatu yang berbahaya biar saya yang terkena terlebih dahulu.” Rasulullah mengizinkannya. Masuklah Abu Bakar ke dalam gua dan meraba sekitar dinding gua dengan tangannya. Setiap kali dia menemukan lubang dia robeksebagian kainnya untuk menyumpal lubang tersebut. Dia terus melakukan hal itu terus sampai kainnya habis semntara masih tersisa satu lubang lagi. Dia pun meletakkan tumitnya sebagai penutup lubang itu. Barulah dia mengajak Rasulullah masuk kedalam gua. Ketika pagi menjelang, Rasulullah mendapati Abu Bakar tanpa kain. Beliau bertanya padanya, “Mana kainmu wahai Abu Bakar?” Dia pun menceritakan apa yang dilakukan kemarin. Serta merta Rasulullah menengadakan tangannya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikan derajat Abu Bakar setara dengan saya di hari kiamat nanti.” Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan pada beliau bahwa dia mengabulkan do’a tersebut.

Pencarian terhadap Rasulullah dan shahabatnya itu semakin gencar. Seluruh tempat telah diperiksa, hingga akhirnya mereka sampai ke mulut gua tempat keduanya bersembunyi. Allah pun membutahkan pandangan mereka dan memelingkan hati mereka. Sementara Abu Bakar dari dalam gua telah melihat kaki-kaki mereka sehingga membuatnya sangat merasa ketakutan, khawatir mereka berhasil menemukan tempat persembunyian itu. Jika itu terjadi, Rasulullah tentu akan dibunuh oleh mereka. Dia berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah, mereka pasti melihat kita.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar jika bersama kita berdua ada Allah sebagai yang ketiga?”

Kaum musyrikin pun kembali tanpa hasil. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melindungi Rasul-Nya dari rencana jahat mereka. Rasulullah dan shahabatnya pun meninggalkan gua itu untuk melanjutkan perjalanan menuju Madinah Munawwarah. Abu Bakar pun menceritakan bagaimana kejadian selanjutnya.

“Kami berjalan sepanjang malam dan siang hari hingga tiba waktu zhuhur. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Saya melempar pandangan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat berteduh. Mataku tertumbuk pada sebuah batu panjang yang memiliki bayangan yang tidak terkena sinar matahari. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak disana. Saya meratakan tanah sebagai tempat istirahat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu saya hamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilahkan beliau untuk tidur di atasnya.

Sementara saya melihat-lihat sekeliling untuk mencari tahu apakah ada yang membuntuti kami. Tiba-tiba saya melihat seorang budak pengembala kambing sedang berjalan ke arah kami. Nampaknya dia ingin berteduh seperti kami. Saya bertanya kepadanya, “Milik siapakah engkau?” Dia menyebut nama seseorang dari Quraisy yang saya kenal. Saya bertanya lagi, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia lalu mengambil seekor kambing dan memerah susunya kedalam sebuah gelas yang terbuat dari kayu. Saya juga memiliki sekantong air untuk nabi Minum dan berwudlu. Saya pun kembali mendatangi RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam. Setelah beliau bangun saya sodorkan padanya susu tersebut dan mempersilahkan beliau untuk meminum susu itu, beliau bertanya “Sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan?” saya mengiyakan. Maka kami melanjutkan perjalanan setelah matahari condong ke arah barat. Sya dengar bahwa kaum Quraisy masih melanjutkan usaha mereka untuk mencari kami.

Namun tidak ada yang berhasil menemukan kami kecuali seseorang yang bernama Suraqah bin Malik yang melakukan pengejaran dengan menunggang kuda. Ketika saya melihatnya, saya sampaikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Beliau berkata, “Jangan khawatir, Allah bersama kita.” Ketika orang itu semakin dekat dan hanya tersisa jarak satu atau dua anak panah, saya berkata, “Wahai Rasulullah, orang itu berhasil mengejar kita!” saya pun menangis. Rasulullah bertanya, “Kenapa engkau menangis?” Sambil terisak saya menjawab “Aku tidak menangisi diriku, tapi engkau yang saya tangisi wahai Rasulullah!” Beliau lantas berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, lindungi kami dengan cara apapun yang engkau kehendaki”. Tiba-tiba kedua kaki bagian depan kuda Suraqah terbenam ke dalam tanah, padahal tanah itu bebatuan yang keras.”

Kedua orang mukmin yang hijrah itu pun terus melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah Munawwarah sementara Abu Bakar Ash-Shidiq terus berubaya melindungi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Terkadang dia berjalan di depan kalau-kalau ada yang akan menghadang, di lain waktu dia berjalan di belakang beliau karena khawatir ada yang mengejar. Hingga akhirnya dua bersahabat itu sampai ke Madinah dan langsung disambut oleh kaum Anshar yang sejak lama telah menantikan kedatangan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

5. Beberapa perang yang diikuti Abu Bakar

Sesampampainya di Madinah, yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallamadalah mendirikan negara, meletakkan kaidah-kaidahnya, dan membangun tiang-tiang penyangganya. Semua itu tentu saja membuat tenggorokan kaum musyrikin Quraisy tercekat.

Terjadilah yang menorehkan kemenangan besar bagi tentara hak dan kekalahan telak atas tentara bathil dan para pendukungnya.

Dalam peristiwa itu Abu Bakar mempunyai peran yang besar. Para shahabat membuat sebuah kemah tempat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatur strategi perang. Lalu mereka menugaskan seseorang yang mengawal beliau dari serangan kaum musyrikin. Ali bin Abi Thalib menceritakan hal itu di masa khalifahnya, saat berpidato didepan khalayak dia melempar pertanyaan kepada mereka, “Beritahu saya siapa orang yang paling berani?” Mereka menjawab, “Engkau orangnya wahai Amirul Mukminin.”

Ali berkata, “Memang saya setiap kali bertarung dengan seseorang selalu berhasil mengalahkannya, tapi saya ingin tahu siapa manusia yang paling berani?”

Semua orang menggeleng tidak tahu. Maka Ali menjelaskan, “orang itu adalah Abu Bakar. Pada saat perang Badar, kami membuat kemah untuk Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Lalu kami bertanya-tanya, siapa yang menemani Rasulullah dan melindunginya dari serangan kaum musyrikin? Demi Allah, tidak ada satupun dari kami yang berani mengajukkan diri selain Abu Bakar. Dengan pedang terhunus dia mengawal Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setiap kali ada pasukan kaum musyrikin yang berusaha menyerang Rasulullah berhasil dikalahkan oleh Abu Bakar. Sungguh dia orang yang paling berani.”

Abu bakar juga ikut serta dalam perang Uhud. Dia termasuk kelompok yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Begitu juga perang khandaq dan Bai’atur-ridhwan yang dilakukan di bawah pohon. Ketika rasulullah menyepakati perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy, kaum muslimin merasa terpukul karena harus ekmabali ke Madinah tanpa melakukan umrah terlebih dahulu. Umar bin Khaththab bahkan mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menyatakan keberatannya atas syarat-syarat yang menurutnya amat merugikan kaum muslimin.

Umar berkata, “Saya menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan melontarkan pertanyaan, “Bukankah engkau benar-benar Nabi yang diutus oleh Allah?” Rasulullah mengiyakan. Saya bertanya lagi, “Lalu kenapa kita merendahkan agama kita?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Aku adalah utusan Allah, Aku tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia adalah penolongku.

Saya terus bertanya, “Bukankah engkau engkau pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Baitullah (Ka’bah) dan melakukan thawaf disana?”

Jawab Rasul, “Betul, tapi apakah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi tahun ini?

Saya menjawab, “Tidak.”

Rasul berkata, “Engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf di sana.”

Saya pun beralih ke Abu Bakar dan bertanya padanya, “Wahai Abu Bakar, bukankah dia benar-benar Nabi utusan Allah?” Abu Bakar mengiyakan. Saya bertanya lagi, “Bukankah kita berada di jalan yang benar dan musuh kita di jalan yang salah?” Abu Bakar kembali mengiyakan. Saya terus bertanya, “Kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita?”

Kali Abu Bakar berkata, “Hai Umar, dia adalah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak mungkin dia melanggar perintah Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah penolongnya. Tetaplah taat kepadanya, demi Allah, dia berada di jalan yang benar.”

Saya terus bertanya, “Bukankah dia pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Baitullah (Ka’bah) dan melakukan thawaf di sana?”

Jawab Abu Bakar, “Betul, tapi apakah dia pernah mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”

Saya menjawab, “Tidak.”

Abu Bakar berkata, “Engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf di sana.”

Ini merupakan salah satu keajaiban ilham, di mana jawaban Abu Bakar persis sama dengan jawaban Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Abu Bakar juga selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat perang Khaibar, Fathu Makkah, perang Hunain, perang Tha’if, perang Tabuk, dan Haji wada’. Abu Bakar tetap bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat yang lain melarikan diri pada peristiwa Hunain. Sedangkan pada perang Tabuk Rasulullah menyerakan kepadanya panji Islam.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mengutus Abu Bakar sebagai pimpinan haji pada tahun kesembilan hijrah untuk memimpin orang-orang dalam melaksanakan haji. Kemudian Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib dengan permulaan surat Bara’ah dan menyuruhnya untuk menyeruhkan kepada khalayak di hari nahr (Idul Adha) saat semua orang berkumpul di Mina, “Sungguh orang kafir tidak akan masuk surga, orang musyrik tidak boleh melaksanakan haji di tahun depan, dan orang yang telanjang tidak boleh melakukan thawaf di baitullah.”

Ali pun berangkat menunggangi unta Rasulullah bernama Adhba’ dan menyusul Abu Bakar. Ketika Abu Bakar melihatnya, dia bertanya, “Apakah engkau datang sebagai pemimpin atau anggota” jawab Ali, “Sebagai anggota”. Maka keduanya melanjutkan perjalanan. Abu Bakar lalu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin jamaah haji. Begitu juga Ali, dia menyeruhkan kepada khalayak apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

C. AKHLAK DAN SIFAT ABU BAKAR SERTA ILMU DAN KEDUDUKANNYA

1. Ibadah dan ketaqwaan Abu Bakar
Abu Bakar mempunyai tingkat ketakwaan dan wara’ yang tinggi. Dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat sendiri dan merasakan terus diawasi saat berada ditengah keramaian. Dia sangat memperhatikan kehalalan sesuatu dan menjahui segala hal yang syubhat (diragukan kehalalannya).

Suatu hari setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selesai shalat subuh, beliau menghadap ke arah shahabatnya dan bertanya, “Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa tadi malam, maka pagi ini saya berbuka.”

Abu Bakar berkata, “Tapi saya sempat berniat puasa tadi malam, sehingga pagi ini saya puasa.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya lagi, “Apakah ada diantara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?

Abu Bakar berkata, “Aku mendapat kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, maka saya sempat mampir ke rumahnya untuk mengetahui kabarnya pagi ini.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya lagi, “Siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin?

Umar menjawab, “Kami baru saja shalat wahai Rasulullah dan belum pergi kemana-mana.”

Abu Bakar berkata, “Saat saya hendak masuk masjid, ada pengemis yang sedang meminta-minta. Kebetulan ada sepotong roti di tangan Abdurrahman (Putra Abu Bakar), maka ambil dan saya serahkan pada pengemis tadi.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lantas berkata, “Bergembiralah engkau (Abu Bakar) dengan jaminan surga.

Dalam kesempatan lain, di salah satu majlis Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar mendengar beliau bersabda, “Siapa yang menginfakkan sepasang dari hartaya (dua buah [ekor] dari harta yang dimiliki yang sejenis, seperti dua kuda, dua keledai, dan sebagainya) di jalan Allah, akan dipanggil dari berbagai pintu surga, “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik.” Siapa yang merupakan ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat, siapa yang ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan, dan siapa yang ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.

Abu Bakar lalu bertanya, “Demi ayahku dan ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, sungguh bahagia orang yang dipanggil dari semua pintu?”

Di samping itu Abu Bakar Radiyallahu Anhu selalu menjaga lisannya dan melakukan introspeksi terhadap dirinya. Hingga pernah suatu hari Umar mendapatinya sedang memegangi lidahnya seraya berkata, “Ini yang sering mendatangkan bahaya bagi diriku.”

Putrinya, Aisyah Radhiyallahu Anha pernah bercerita, “Suatu kali saya menggenakan pakaian rumah yang baru. Saya pun memandanginya dan merasa sangat terkesan. “Lalu Abu Bakar bertanya, “Apa yang kau pandangi? Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat kepadamu. “Kenapa demikian?”

Abu Bakar menjawab, “Tiadakkah engkau tahu bahwa apabila seorang hamba merasa takjub dengan perhiasan dunia, dia akan dibenci tuhannya Subhanahu wa Ta’ala hingga ia menanggalkan perhiasan tersebut!”

Aisya berkata, “Aku pun segera menanggalkannya dan mensedekahkannya kepada orang lain.”

Lalu Abu Bakar berkata, “Semoga apa yang kau lakukan itu dapat menghapus kesalahanmu tadi.”

Karena itu, Abu Bakar sangat takut jika dunia dan segala perhiasannya mengejarnya, sehingga dapat menurunkannya dari derajat shiddiqin yang seolah-olah telah melekat padanya. Suatu saat Abu Bakar pernah minta dibawakan minum, lalu dihadirkanlah ke hadapannya sebuah wadah berisi air dan madu. Ketika dia mendekatkan wadah tersebut ke bibirnya, tiba-tiba dia menjauhkannya dan langsung menangis. Sampai-samapi para shahabat yang ada disekelilignya ikut menangis. Ketika para shahabat berhenti menangis, Abu Bakar masih terus menangis. Hingga para shahabat berfikir bahwa mereka tidak akan sanggup menyelesaikan masalahnya. Beberapa saat kemudian barulah Abu Bakar berhenti menangis dan mengelap wajahnya. Mereka lalu bertanya, “Wahai khalifah Rasulullah, apa yang membuatmu menangis?”

Abu Bakar menjawab, “Waktu itu saya bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saya melihatnya menjauhkan sesuatu dari dirinya seraya berkata, “Menjauhlah dariku, menjauhlah dariku.” Padahal tidak ada seorang pun bersamanya. Saya pun bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau dorong, saya tidak melihat seorang pun bersamamu?” Jawab beliau, “Dunia ini menampakkan segala keindahannya di hadapanku, maka saya katakan padanya, “Menjauh dariku. Lalu dunia berkata, “Demi Allah, jika engkau berhasil lepas dariku, maka orang sesudahmu tidak akan bisa terlepas.” Maka saya sangat khawatir dunia telah mengejarku, itulah yang membuatku menangis.”

Di samping sifat wara’ yang dimilikinya, Abu Bakar juga sangat berhati-hati dalam kebenaran sesuatu bahkan dalam setiap suapan yang masuk ke dalam perutnya. Dia tidak akan mau menerima sesuatu yang terindikasi mengandung syubhat. Ada seorang budak Abu Bakar yang menyerahkan upeti kepadanya. Abu Bakar pun biasa memakan sebagian dari upeti yang diserahkan si budak. Maka suatu kali budak itu menyerahkan sesuatu kepada Abu Bakar dan langsung dimakan oleh Abu Bakar. Tiba-tiba si budak bertanya, “Tahukah engkau apa itu?” Abu Bakar kembali bertanya, “Apa itu?” Budak itu menjelaskan, “Di masa jahiliyah saya pernah meramal untuk seseorang, padahal saya tidak pandai meramal, saya hanya membohonginya. Lalu orang itu datang menemuiku dan memberiku makanan itu. Itulah yang baru saja engkau makan.” Mendengar penjelasan si budak Abu Bakar langsung memasukkan jari tangannya ke dalam tenggorokannya agar bisa muntah. Maka keluarlah semua makanan dari perutnya. Seseorang berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah engkau melakukan itu hanya untuk mengeluarkan satu suapan itu?” Abu Bakar berkata, “Jika suapan itu tidak mau keluar kecuali dengan nyawaku, pasti saya keluarkan nyawaku sekalian. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda , “Setiap tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih pantas untuknya.” Maka saya khawatir, akan tumbuh sebagian dari tubuhku dari setiap makanan itu.”

Abu Bakar tidak pernah lengah seharipun dari perbuatannya. Bahkan dia selalu merasa takut kepada Allah dan berkata, “Aku berharap menjadi sehelai rambut di sisi seorang hamba yang beriman.”

Jika ada yang memujinya, dia akan berdoa, “Ya Allah, Engkau lebih tahu dariku dari pada aku, dan aku lebih tahu diriku dari pada mereka. Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkah, dan ampuni apa yang tidak mereka ketahui, dan jangan hukum aku atas apa yang mereka ucapkan.”

2. Infaknya di jalan Allah.
Abu Bakar merupakan orang paling dermawan. Tidak ada seorang pun dari kalangan shahabat yang melebihi kedermawanan Abu Bakar. Mari kita perhatikan cerita yang disampaikan Umar bin Khaththab berikut ini.

“Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki sejumlah harta. Maka aku berkata pada diriku sendiri, “Kali ini aku harus mengalahkan Abu Bakar, maka aku pun datang dengan membawa separuh dari hartaku. Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Jawabku, “Sebanyak itu juga.” Tak lama kemudian datang Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya padanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku berkata dalam hati, “Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan kedermawanan Abu Bakar.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam diutus sebagai Nabi, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu dinar. Semua itu langsung diinfakkannya kepada Rasulullah untuk digunakan di jalan Allah. Dengan harta itu Rasulullah memerdekakan budak dan menolong kaum muslimin. Rasulullah menggunakan harta Abu Bakar itu seperti dia menggunakan hartanya sendiri. Hingga suatu kali Rasulullah pernah bersabda, “Semuanya yang pernah membantu telah kami balas, kecuali Abu Bakar, dia mempunyai hak atas kami yang nanti akan dibalas langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak ada harta yang memberi manfaat kepadaku lebih besar dari manfaat yang diberikan oleh harta Abu Bakar.”

3. Keilmuan Abu Bakar, hadits-hadits yang diriwayatkannya, dan orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya
Abu Bakar merupakan pemuka para shiddiqin di kalangan shahabat yang mulia, paling pertama dari sekelompok manusia yang pertama masuk islam, manusia paling berani, paling gemar berinfak, paling besar kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, paling gemar bertaubat, dan takut kepada Allah di kala sendiri dan di tengah keramaian.

Lebih dari itu, Abu Bakar juga merupakan manusia yang paling berilmu dan paling faham dengan persoalan agama. Pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah memberi fatwa. Ketika Ibnu Umar ditanya, “Siapa yang memberi fatwa di zaman Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dijawab, “Abu Bakar dan Umar. Setahuku tidak ada yang lainnya lagi.”

Karena itulah, ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit, beliau mengutamakan Abu Bakar atas yang lainnya untuk menjadi imam. Tidak ada yang pantas mengimami orang-orang selain orang yang paling baik bacaannya dan paling dalam ilmunya di antara mereka. Begitu juga dalam masalah haji pada tahun kesembilan hijrah, Abu Bakar diangkat sebagai pimpinan rombongan haji. Tidak ada yang pantas menjadi pemimpin haji selain orang yang paling faham tentang manasiknya dan paling mengerti di antara mereka.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia, sekelompok orang menolak untuk membayar zakat. Abu Bakar pun mengambil sikap tegas, sikap yang amat terkenal dalam sejarah. Dia berkata, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan antara kewajiban sholat dan zakat, sesungguhnya zakat adalah haknya harta. Demi Allah, jika mereka menolak membayar seutas tali pengikat unta yang sebelumnya mereka tunaikan di masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, akan saya perangi mereka dengan penolakan tersebut.”

Para shahabat pada awalnya tidak memahami hukum dalam masalah ini, namun Abu Bakar terus mendebat mereka dan menjelaskan berbagai hujjah disertai dalil-dalil yang kuat, hingga nampaklah kebenaran pandangannya setelah berkali-kali dilakukan pembahasan atas masalah ini. AllahSubhanahu wa Ta’ala pun membukakan hati mereka sebagaimana telah membukakan hati Abu Bakar untuk bangkit memerangi kelompok orang-orang murtad.

Tidak ada peristiwa yang lebih menunjukkan keluasan ilmunya tentang Al-Qur’an dan banyaknya hafalan haditsnya, selain apa yang ditunjukkannya di Saqifah bani Saidah. Ketika dia berkhutbah, tidak ada satu pun dari yang diturunkan pada kaum Anshar, atau yang pernah disebutkan oleh Rasulullah mengenai mereka, kecuali disebutkan juga oleh Abu Bakar di depan khalayak.

Banyak shahabat yang meriwayatkan hadits darinya, diantaranya Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Ibnu mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah Radhiyallahu Anhum. Termasuk beberapa putra-putrinya, seperti Abdurrahman, Muhammad, dan Aisyah. Bahkan sejumlah perowi dari kalangan tabi’in ikut meriwayatkan hadits darinya.

Namun, meski memiliki keluasan ilmu, jumlah hadits Rasulullah yang diriwayatkan darinya hanyalah 142 hadits. Sebab Abu Bakar wafat sebelum hadits-hadits tersebar luas dan sebelum para tabi’in memiliki perhatian serius dalam mendengar, mencari, dan menghafal hadits. Di samping itu, Abu Bakar juga sempat disibukkan dengan upaya memerangi kaum murtadin dan meletakkan kaidah dasar untuk negara Islam. Belum lagi dia harus menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Semua itu membuatnya sulit untuk meluangkan waktu dalam berbagai majlis ilmu dan pengajarannya.

4. Penafsiran mimpi yang dilakukan oleh Abu Bakar
Abu Bakar As-Shiddiq terkenal pandai menafsirkan mimpi. Sehingga Muhammad bin Sirin mengatakan, “Abu Bakar adalah orang yang paling pandai menafsirkan mimpi di kalangan umat Islam setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ibbun Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, “Seorang laki-laki datang menemui RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, semalam saya bermimpi melihat segumpal awan meneteskan minyak samin dan madu. Kulihat orang-orang menadahkan tangannya ke arah awan tersebut. Ada yang mendapat banyak dan ada juga yang mendapat sedikit. Kemudian saya melihat seutas tali terjulur dari langit ke bumi. Saya melihat engkau memegang tali itu, lalu naik ke atas. Setelah itu ada yang turut memegang tali itu dan ikut naik mengikuti engkau. Laki-laki lain juga naik menyusul. Kemudian ada seorang lagi ikut naik, tetapi tali itu terputus. Setelah tali disambung maka dia naik terus ke atas.”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya memohon kepada engkau agar mengizinkan saya untuk menafsirkan mimpi itu. “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Tafsirkanlah!” Abu Bakar berkata, “Awan yang ada dalam mimpi itu adalah Islam. Sedangkan minyak samin dan madu yang menetes dari awan itu adalah Al-Qur’an yang manis dan lembut. Adapun yang ditadah oleh orang-orang dalam mimpi itu adalah orang-orang yang mendapat pemahaman dari Al-Qur’an. Ada yang mendapat pemahaman yang banyak dan ada juga yang mendapat pemahaman yang sedikit. Sedangkan tali yang terulur dari langit adalah kebenaran yang engkau bawa dan engkau yakini wahai Rasulullah, Hingga dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajat engkau. Kemudian tali (kebenaran) itu pun diikuti oleh banyak orang lain, hingga dengannya dia pun mencapai derajat yang tinggi. Kemudian tali (kebenaran) itu diikuti oleh yang lain, tetapi tiba-tiba tali itu terputus. Maka ia pun berusaha untuk menyambung lagi, hingga tersambung, dan ia pun memperoleh derajat yang tinggi. Demi ayahku dan engkau wahai Rasulullah , beritahukanlah kepadaku, apakah tafsir mimpiku benar?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Wahai Abu Bakar, sebagian ada yang benar dan sebagian ada yang salah.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, manakah yang benar dan manakah yang salah?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Janganlah kamu bersumpah (dalam masalah tafsir mimpi ini)!

Kemudian, putrinya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah bermimpi melihat tiga bulan jatuh ke dalam rumah. Dia pun menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar. Mendengar itu Abu Bakar menjelaskan, “Jika benar mimpimu itu, maka di rumahmu ini akan dikuburkan tiga manusia terbaik.” Ketika RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, ini adalah bulanmu yang terbaik.” Sementara dua bulan yang lain adalah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

5. Kedudukannya di mata Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabat
Abu Bakar menempati posisi yang istimewa di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Kedudukan tertinggi yang sangat diidamkan oleh setiap jiwa. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallampernah bersabda, “Seandainya saya diperbolehkan memilih seorang kekasih, maka saya akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam. Tidak ada satupun pintu yang tersisa di masjid melainkan akan tertutup kecuali pintu Abu Bakar.

Amr bin Ash pernah datang menemui Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan bertanya, “Siapa orang yang paling engkau cintai?” Jawab Nabi, “Aisyah.” Dia bertanya lagi, “Kalu dari laki-laki?” Jawab Nabi,“Ayahnya (Abu Bakar)”. Dia terus bertanya, “Lalu siapa?” Nabi menjawab, “Umar bin Khaththab”kemudian beliau menyebutkan beberapa nama lagi.

Sekembalinya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari haji wada’, beliau naik keatas mimbar. Setelah mengucap hamdalah dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Abu Bakar tidak pernah sekalipun menyakitiku, maka akuilah hal itu oleh kalian untuknya. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya ridha padanya, pada Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Auf, dan kaum muhajirin generasi awal, Maka akuilah itu oleh kalian untuk mereka.

Bahkan di majlis Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam Abu Bakar memiliki tempat khusus. Jika dia terlambat datang karena sesuatu urusan, tidak ada seorang pun yang mau menempati tempat tersebut. Seorang shahabat Anshar menceritakan hal tersebut, “Majelis Shallallahu Alahi wa Sallam selalu penuh sesak. Meski demikian, tempat Abu Bakar selalu kosong. Tidak seorang pun yang ingin duduk di sana. Jika Abu Bakar datang, dia langsung duduk di tempat itu dan Rasulullah pun menghadap padanya dan menyampaikan haditsnya, sementara semua orang mendengarkan.”

Seringkali Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan dihadapan orang-orang, “Aku, Abu Bakar, dan Umar mengimaninya.” Padahal dua orang itu tidak ada di sana. Hal tersebut menjelaskan betapa kuatnya keimanan mereka dan betapa percayanya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kepadanya.

Karena itulah para shahabat sangat menghormati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan tidak suka memusuhinya. Karena mereka tidak ingin Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam marah karena kemarahan Abu Bakar .

Abu Darda’ meriwayatkan suatu peristiwa dari seseorang, “Waktu itu saya sedang duduk bersama NabiShallallahu Alahi wa Sallam. Tiba-tiba Abu Bakar datang sambil memegang tepi baju Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam hingga merapat pada lutut beliau. Nabi bertanya, “Apakah teman kalian telah marah?”Maka Abu Bakar bakar memberi salam lalu berkata, “Aku punya masalah dengan Ibnu Khaththab lalu aku terlanjur marah kepadanya namun kemudian aku menyesal, aku pun datang menemuinya lalu minta maaf namun dia enggan memaafkanku. Maka itu aku datang kepadamu”. Maka beliau bersabda, “Allah akan mengampunimu, wahai Abu Bakar”. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali. Ternyata kemudian Umar pun menyesal lalu mendatangi kediaman Abu Bakar dan bertanya, “Apakah ada Abu Bakar?” Orang-orang menjawab, “Tidak ada”. Kemudian umar menemui Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan memberi salam. Kedatangannya ini membuat wajah Nabi nampak marah, maka Abu Bakar merasa tidak enak, dia pun langsung duduk bersimpuh pada lutut beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku yang lebih bersalah” dia mengucapkannya dua kali. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallambersabda, “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian namun kalian mengatakan, ‘Kamu pendusta’ sedangkan Abu Bakar berkata, ‘Dia orang yang jujur’ dan dia berjuang membelaku dengan jiwa dan hartanya, Apakah kalian bisa membiarkan shahabatku untukku?” Beliau mengulang ucapannya dua kali. Maka sejak itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi.

Pada kesempatan lain, Aqil bin Abi Thalib dan Abu Bakar saling mengejek satu sama lain. Abu Bakar adalah seorang yang ahli dalam silsilah nasab, hanya saja dia tidak ingin berdosa mengingat Aqil memiliki kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka dia pun pergi meninggalkannya dan mengadukannya kepada Rasulullah. Mendengar itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam langsung berdiri dihadapan khalayak dan bersabda, “Bisakah kalian biarkan untukku shahabatku? Apa masalah kalian dengannya? Demi Allah, Pada saat rumah-rumah kalian masih dianuhgerahi kegelapan, rumah Abu Bakar telah dianuhgerahi cahaya. Demi Allah kalian telah berkata kepadaku, “Engkau benar!” kalian pegang erat harta kalian, sementara dia begitu dermawan memberikan hartanya kepadaku. Kalian meninggalkan aku, sementara dia membela dan mengikutiku!!”

Para shahabat sangat memahami kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallamdan kedudukannya didalam Islam, pada masa Rasulullah masih hidup, pada masa kekhalifahannya, hingga setelah wafatnya.

Abdullah bin Umar berkata, “Waktu itu kami mebanding-bandingkan derajat kebaikan orang-orang di masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka kami mengurutkan mulai dari Abu Bakar, lalu Umar bin Khaththab, lalu Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhum.”

Di masa kekhalifahan Amirul mukminin, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, datang sekelompok orang mengatakan, “Demi Allah tidak ada seorang yang lebih adil dalam memutuskan perkara, lebih berani berkata benar, dan lebih tegas terhadap kaum munafik selain dari pada engkau wahai Amirul mukminin. Engkau manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Maka Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “kalian salah. Demi Allah, kami telah melihat orang yang lebih baik dari Umar setelah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.” Mereka bertanya, “Siapa dia wahai Auf?” Jawab Auf, “Abu Bakar”. Umar pun berkata, “Auf benar dan kalian salah. Demi Allah, Abu Bakar lebih baik dari pada minyak wangi dan saya lebih sesat dari unta peliharaan (ketika dia masih dalam keadaan musyrik).”

Sekelompok orang dari penduduk Kufah dan Bashrah datang menemui Umar bin KhaththabRadhiyallahu ‘Anhu. Ketika mereka sampai di Madinah, terjadi obrolan diantara mereka hingga membicarakan Abu Bakar dan Umar. Sebagian mereka menganggap Abu Bakar lebih baik dari pada Umar, sementara sebagian lain menganggap sebaliknya.

Obrolan itu sampai ke telinga Umar. Dia pun naik ke atas mimbar. Setelah memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dia berkata, “Ketahuilah bahwa manusia terbaik di kalangan umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar. Siapa yang berpendapat selain itu setelah ini merupakan orang yang dusta. Akan mendapat dosa seperti halnya pendusta.”

Ketika Muhammad bin Al-Hanafiyah bertanya kepada ayahnya Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Aku bertanya kepada ayahku, “Siapa manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dia menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?” Dia menjawab, “Umar.” Dan aku khawatir dia akan menyebut Utsman, aku pun berkata, “Lalu engkau?” Dia menjawab, “Aku hanyalah salah satu dari kaum muslimin!”

Abdullah bin Abbas datang menemui Muawiyah. Setelah dia duduk, Muawiyah bertanya padanya, “Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ibnu Abbas berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Demi Allah dia adalah orang yang gemar membaca Al-Qur’an, menjahui segala bentuk penyimpangan, meninggalkan perbuatan keji, melarang kemungkaran, memahami dengan baik agamanya, takut kepada Allah, senantiasa bangun malam untuk beribadah, gemar berpuasa disiang hari, selamat dari perkara dunia, berusaha menciptakan keadilan untuk rakyatnya, memerintahkan yang ma’ruf, mensyukuri berbagai keadaan, selalu mengingat Allah baik di rumah maupun di perjalanan, tidak mementingkan maslahat pribadi, melebihi para shahabatnya dalam hal wara’, zuhud, iffah (menjaga kehormatan), kebaikan dan kehati-hatian. Maka Allah akan melaknat siapa pun yang mencelahnya hingga hari kiamat.”

6. Berbagai kelebihan Abu Bakar
Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu di antara manusia ibarat hujan. Dimanapun dia turun selalu memberi manfaat. Dia memperoleh banyak hal yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun. Diantaranya, dia adalah orang yang pertama dari kalangan laki-laki dewasa merdeka yang masuk Islam, orang pertama yang menjadi pemimpin haji dalam Islam, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menugaskan untuk memimpin orang-orang dalam pelaksanaan haji pada tahun kesembilan hijrah, orang yang pertama disebut khalifah (pengganti) Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, orang yang pertama mengumpulkan Al-Qur’an dan menamakannya mushaf, dan orang yang pertama mendirikan baitul mal.

7. Termasuk ahli surga
Abu Bakar Ash-Shiddiq memperoleh jaminan dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai ahli surga. Bahkan dia termasuk pemilik derajat pertama dan derajat tertinggi di kalangan shiddiqin.

Abdurrahman bin Auf meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau bersabda, “Abu Bakar (akan berada) di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga….” hingga beliau menyebutkan ke sepuluh nama shahabat yang memperoleh jaminan masuk surga.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Dua orang ini merupakan pemuka orang-orang dewasa di kalangan ahli surga dari generasi pertama sampai terakhir, kecuali para Nabi dan Rasul.”

D. KEKHALIFAHAN ABU BAKAR DAN PERAN-PERAN PENTING YANG DILAKUKANNYA

1. Sikap Abu Bakar saat wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam
Semasa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam hidup, Abu Bakar bakar berada di bawah naungan kepemimpinan beliau sebagaimana halnya seluruh kaum muslimin. Namun ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia, Abu Bakar tampil menggantikan beliau sebagai sosok yang membukakan jalan bagi kaum muslimin dan menunjuki mereka ke jalan yang benar. Pada saat itulah nampak kebesarannya, terutama di saat para shahabat, bahkan dakwah Islamiyah, membutuhkan sikap yang tegas agar dapat menunjukinya jalan yang benar.

Di saat-saat terakhir kehidupan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, setelah Abu Bakar menggantikan beliau sebagai imam shalat kaum muslimin, dia menjenguk Rasulullah dikamarnya dan minta izin untuk berangkat ke rumahnya di Sunuh (salah satu wilayah di Madinah). Ketika Abu Bakar sedang berada di sana, datanglah seseorang membawa berita duka bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah wafat.

Air mata Abu Bakar pun mengalir bercampur dengan suara seraknya saat mengucap, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un”. Tanpa pikir panjang Abu Bakar langsung berangkat menuju kediaman RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam.

Ada baiknya kita beri kesempatan para saksi mata menggambarkan ketabahan Abu Bakar pada saat menghadapi detik-detik pertama hantaman musibah tersebut, sebagai berikut, “Abu Bakar datang diliputi kesedihan yang mendalam. Dia meminta izin kepada putrinya Aisyah untuk masuk. Setalah diizinkan dia pun masuk ke dalam dan mendapati jasad Rasulullah disemayamkan di salah satu pojok ruangan. Dia menyingkap kain penutup wajah Rasulullah, menciumnya, lantas mengis lantas berkata, “Tidak benar apa yang dikatakan Ibnu Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya, RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam telah wafat. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada engkau wahai Rasulullah. Sungguh indahnya dirimu, baik ketika hidup maupun disaat wafat.” Lalu Abu Bakar menutupkan kembali kain penutup wajah Rasulullah.

Setelah itu dia bergegas pergi ke masjid, berjalan diselah-selah jamaah yang duduk berkumpul di sana hingga mencapai mimbar. Saat melihat Abu Bakar berjalan ke arahnya, Umar pun duduk. Kemudian Abu Bakar berdiri disamping mimbar dan meminta semua orang duduk dan tenang. Dia pun membaca kalimat syahadat, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil Nabi-Nya kembali padanya dan dia Mahahidup. Allah juga akan memanggil kalian (mewafatkan kalian) hingga tak ada yang tersisa selain Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik kebelakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imra [3]: 144). Umar berkata, “Itu ayat Al-Qur’an? Demi Allah seakan-akan sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau ayat itu pernah diturunkan!!!”- Allah pun pernah berfirman kepada Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).”(QS. Az-Zumar [39]: 30) dan berfirman, “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al- Qashash [28]: 88), “Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman [55]: 26-27) dan “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS. Ali-Imran [3]: 186)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Muhammad umur dan menghidupkannya, sehingga dia menegaskan agama Allah, melaksanakan perintah-Nya, menyampaikan risalah-Nya, dan berjuang di jalan-Nya. Kemudian setelah semua itu terlaksana, Allah pun mewafatkannya. Maka tidak akan binasa seseorang kecuali setelah adanya penjelasan dan kesembuhan. Maka siapa yang menuhankan Allah, Sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Siapa yang menyembah Muhammad dan memposisikannya sebagai tuhan, maka tuhannya itu telah binasa. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai umat manusia, berpegang tegulah pada agama kalian, bertawakallah kepada tuhan kalian, maka sesungguhnya agama Allah telah tegak dan kalimat-Nya telah sempurna. Sesungguhnya Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya dan memuliakan agama-Nya.

Sesungguhnya kitabullah ada di hadapan kita, itulah cahaya dan obat penyembuh, dengannya Allah menunjuki Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Di dalamnya terdapat keterangan tentang halal dan haram. Demi Allah, kita tidak peduli terhadap orang yang mengumpulkan pasukan untuk menyerang kita, sungguh pedang kita telah terhenus. Kita tidak akan meletakkannya, kita akan berjuang melawan orang-orang yang menentang kita, sebagaimana kita telah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka siapapun yang berbuat zalim sesungguhnya ia hanya menzalimi dirinya sendiri.”

Sungguh sebuah kebesaran, keteguhan hati, dan keelokan luar biasa yang nampak dari sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq! Kearifan, kebijaksanaan, dan visi luar biasa yang telah dicapai oleh Abu Bakar!

2. Isyarat Nabi mengenai kekhalifahannya

Sikap Abu Bakar tersebut, termasuk riwayat hidupnya yang penuh dengan kemuliaan dan kepahlawanan, membuat seluruh mata tertuju padanya, bahwa dialah yang pantas mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam setelah kepergian beliau ke sisi Tuhannya.

Di tambah lagi dengan adanya beberapa petunjuk yang jelas tentang kekhalifahannya, yang mengisyaratkan, bahkan bisa dikatakan menyebutkan perannya di kemudian hari, sebagai bentuk penunjukan atau rekomendasi.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit, beliau telah memili Abu Bakar untuk menggantikan beliau mengimami shalat. Abdullah bin Zam’ah meriwayatkan, “Ketika sakit Rasulullah semakin parah, saya dan beberapa orang sedang bersama beliau. Datanglah Bilal menjemput beliau untuk shalat. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat.” Abdullah bin Zaid berkata, “Kami pun keluar dari tempat Rasulullah menuju tempat shalat, ternyata Umar yang ada bersama jamaah, sedang Abu Bakar tidak ada. Saya pun berkata, “Wahai Umar, bangunlah, jadilah imam shalat. Maka Umar pun maju ke depan dan bertakbir. Ketika RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam mendengar suaranya –kebetulan Umar memiliki suara yang keras- beliau bersabda, “Dimana Abu Bakar? Allah dan kaum muslimin menolak itu!” Maka diutuslah seseorang menjemput Abu Bakar. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar setelah Umar selesai mengimami shalat. Lalu Abu Bakar kembali mengimami shalat.”

Ketika Aisyah mencoba mempersoalkan keputusan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tersebut, beliau bersabda, “Hendaklah Abu Bakar mengimami shalat, sungguh kalian ini seperti sahabat Yusuf.

Pada kesempatan lain, seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallammenanyakan sesuatu. Rasulullah pun menyuruhnya untuk kembali nanti. Wanita itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya datang tidak mendapati engkau?” –seakan-akan yang dimaksud oleh wanita itu adalah jika beliau meninggal dunia- Rasulullah menjawab, “Jika kamu tidak mendapati saya, temuilah Abu Bakar.”

Di saat-saat terakhir kehiduannya, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Seandainya saya diperbolehkan memilih seorang kekasih selain Tuhanku maka saya akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam. Tidak ada satupun pintu yang tersisa di masjid melainkan akan tertutup kecuali pintu Abu Bakar.

Lebih hebat dari itu, apa yang diriwayatkan oleh Ummul mukminin, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berikut ini, “Ketika kondisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam semakin parah, beliau memanggil Abdurrahman bin Abu Bakar. Beliau bersabda, “Berikan pundakmu agar saya bisa menulis suatu pesan untuk Abu Bakar supaya tidak ada persengketaan atasnya.” Abdurrahman waktu itu hendak berdiri, maka Rasulullah berkata, “Duduk, Allah dan kaum mukminin tidak menginginkan adanya persengketaan atas Abu Bakar.

3. Pembai’atan Abu Bakar dan peristiwa Saqifah
Begitu sampai berita tentang berkumpulnya kaum Anshar di Saqifah (aula pertemuan) milik Bani Sa’idah, Umar dan Abu Ubaidah pun bergegas menemui mereka untuk mencegah timbulnya fitnah dan memberi tahu mereka siapa yang dia setujui untuk menjadi khalifah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tapi kemudian mereka justru membaiatnya, Umar atau Abu Ubaidah, sementara Umar tidak menyangka bahwa bai’at itu ditunjukan kepadanya,

Mari kita beri kesempatan Abu Hafsh Umar bin Khaththab menggambarkan peristiwa tersebut. Umar berkata, “Aku berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar ayo pimpin kami menemui saudara-saudara kita dari kaum Anshar.” Maka kami pun berangkat untuk menemui mereka. Ketika kami sudah hampir sampai, dua orang shalih datang menemui kami dan mengutarakan kesepakatan orang-orang. Mereka bertanya, “Hendak kemana gerangan kalian wahai Muhajirin?” Jawab kami, “Hendak menemui saudara-saudara kami kaum Anshar.”

Mereka berkata, “Jangan sekali-kali kalian mendekat kepada mereka, batalkan rencana kalian. “Namun saya katakan , “Demi Allah, kami harus mendatangi mereka”.

Maka kami pun berangkat hingga mendatangi mereka di Saqifah milik Bani Sa’idah, ternyata di sana ada seorang laki-laki yang berselimut kain ditengah-tengah mereka. Saya pun bertanya, “Siapakah ini?” mereka menjawab, “Ini Sa’ad bin Ubadah” Saya bertanya lagi, “Ada apa dengannya?” Mereka menjawab, “Dia tengah sakit dan mengalami demam yang serius.” Tatkala kami duduk sebentar, juru pidato mereka bersaksi dan memanjatkan pujian kepada Allah dengan pujian yang semestinya bagi-Nya, kemudian mengatakan, “Amma ba’du. Kami adalah penolong-penolong Allah (ansharullah) dan laskar Islam, sedang kalian wahai segenap muhajirin hanyalah sekelompok manusia yang terusir dari bangsa kalian, namun anehnya tiba-tiba kalian ingin mencongkel wewenang kami dan menyingkirkan kami dari akar-akarnya serta ingin memonopoli kepemimpinan.”

Tatkala juru pidato itu diam, saya ingin berbicara dan telah saya perindah sebuah ungkapan kata yang membuat saya terkagum-kagum dan ingin saya ungkapkan di hadapan Abu Bakar, yang dalam beberapa batasan saya sekedar menyindirnya. Tatkala saya ingin berbicara. Abu Bakar menegur, “Sebentar!” Maka saya tidak suka jika niatku menjadikannya marah! Maka Abu Bakar berbicara, dia lebih lembut daripadaku dan lebih bersahaja. Demi Allah, tidaklah dia meninggalkan sebuah kata yang saya kagumi dalam susunan yang saya buat indah selain ia ucapkan dalam pidato dadakannya yang semisalnya atau bahkan lebih baik hingga dia diam.

Kemudian dia mengatakan, “Kebaikan yang kalian sebut-sebutkan memang kalian penyandangnya dan sesungguhnya masalah kekhilafahan ini tidak diperuntukkan selain untuk penduduk Quraisy ini yang mereka adalah pertengahan di kalangan bangsa arab dari segi nasab dan keluarganya, dan saya telah meridhai salah satu dari dua orang ini untuk kalian, maka bai’atlah salah seorang diantara keduanya yang kalian kehendaki.” Kemudian Abu Bakar menggandeng tanganku dan tangan Abu Ubaidah, dan dia duduk ditengah-tengah kami.

Tidak ada yang saya benci dari perkataannya selain yang terakhir ini. Demi Allah, kalaulah saya digiring dan leherku dipenggal dan itu tidak mendekatkan diriku dari dosa, itu lebih saya sukai daripada memimpin suatu kaum padahal disana masih ada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ya Allah, kalaulah bukan karena jiwaku membujukku terhadap sesuatu pada saat kematian yang tidak saya dapatkan sekarang.

Rupanya ada seorang dari kaum Anshar berhujar, “Aku adalah kepercayaan Anshar, berpengalaman, cerdas dan tetua yang dihormati, hendaklah dicalonkan dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin, wahai kaum Quraisy!” Spontan terjadi kegaduhan, suara-suara meninggi, hingga saya memisahkan diri dari perselisihan dan kukatakan, “Julurkan tanganmu hai Abu Bakar!” Lantas Abu Bakar menjulurkan tangannya, orang-orang muhajirinpun secara bergiliran berbai’at padanya, kemudian orang Anshar juga berbai’at kepadanya.

Umar pun bangkit dan mengingatkan mereka tentang sebuah peristiwa yang terjadi menjelang wafatnya Rasulullah  Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia berkata, “Bukankah kalian tahu bahwa RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam menyuruh Abu Bakar untuk menjadi imam shalat?! Maka siapa di antara kalian yang ingin mendahului Abu Bakar?” Mereka serempak menjawab, “Kami berlindung kepada Allah dari sikap mendahului Abu Bakar.”

Zaid bin Tsabit lantas berdiri dan berkata, “Tauhkah kalian bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam itu termasuk dari golongan muhajirin dan penggantinya pun dari kalangan muhajirin. Sementara kita sebelumnya merupakan para penolong Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, maka sekarang kita menjadi penolong pengganti beliau sebagaimana sebelumnya kita menjadi penolong beliau.” Kemudian Zaid meraih tangan Abu Bakar dan berkata, “Ini adalah shahabat kalian!” Maka Umar pun membaiat Abu Bakar, diikuti oleh kaum muhajirin dan kaum Anshar.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpandangan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallamsempat sakit beberapa hari. Dalam jangka waktu itu beliau menyuruh Abu Bakar untuk menjadi imam shalat. Ketika beliau wafat, saya mencermati bahwa shalat itu merupakan lambang Islam dan tiang agama. Maka kami ridha jika urusan dunia kami diserahkan kepada orang yang diridhai RasulullahShallallahu Alahi wa Sallam dalam urusan agama kami. Kami pun membaiat Abu Bakar.”

4. Ketakutan Abu Bakar pada jabatan
Begitulah ceritanya Abu Bakar menjabat sebagai khalifah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan pemimpin seluruh kaum muslimin dia sama sekali tidak berambisi untuk itu. Dia menerima jabatan itu sebagai bentuk ketaatan atas panggilan keimanan dan rasa tanggung jawab terhadap agama, sekaligus sebagai upaya menghindari timbulnya fitnah.

Dia pun berpidato di hadapan kaum muslimin, “Demi Allah, saya tidak pernah berambisi untuk menjadi pemimpin, saya pun tidak punya keinginan untuk itu, saya juga tidak pernah meminta kepada Allah untuk dijadikan pemimpin, baik saat sendirian maupun di keramaian. Akan tetapi saya tidak ingin terjadi fitnah. Dengan demikian saya bukannya senang dengan jabatan ini, saya justru merasa diberi beban yang amat berat yang mungkin tidak sanggup saya pikul kecuali dengan adanya pertolongan AllahSubhanahu wa Ta’ala.

5. Strategi kepemimpinan Abu Bakar dan kontribusinya
Di pagi hari selasa, Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan pelan menuju mimbar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan perasaan gugup. Dia menghadap kearah kaum muslimin, inilah kali pertama dia menyampaikan pidato setelah terputusnya wahyu dari langit dan jasad Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang suci telah berkalang tanah. Berikut ini adalah petikan pidato Abu Bakar.

Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya telah diangkat sebagai pemimpin kalian meski saya bukan yang terbaik diantara kalian. Jika saya berbuat baik, dukunglah saya. Sebaliknya jika saya berbuat salah, luruskanlah saya. Kejujuran itu merupakan amanah, sedangkan dusta itu merupakan pengkhianatan. Kaum yang lemah menempati posisi yang kuat di sisiku hingga saya dapat mengambil farinya hak orang lain dengan izin Allah. Jika suatu kaum meninggalkan perkara jihad di jalan Allah, mereka akan ditimpakan kehinaan oleh Allah, jika kemaksiatan telah meluas di tengah-tengah suatu kaum, Allah akan menimpakan bencana kepada mereka secara menyeluruh. Taatlah kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasulullah-Nya, jika saya bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah-Nya, maka kalian tidak wajib taat kepadaku. Bangunlah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian.”

Dengan pidatonya itu Abu Bakar ingin menegaskan pada setiap orang bahwa jabatan itu merupakan sebuah kerugian bukan keuntungan, sebuah tanggungjawab bukan penghormatan, sebuah pengorbanan bukan penghargaan, dan sebuah kewajiban bukan kesewenang-wenangan. Dia pun ingin menghilangkan kesan di tengah masyarakat bahwa seorang pemimpin itu harus dihormati secara berlebihan. Justru seorang pemimpin itu diangkat untuk memberikan pelayanan dalam agama Allah dan Risalah-Nya. Allah mengangkatnya sebagai pemimpin untuk melayani rakyatnya bukan sebaliknya rakyatnya yang melayani dia. Dengan demikian, Abu Bakar telah meletakkan batasan tanggung jawabnya termasuk batasan kewajiban mereka. Menurutnya umat harus berperan aktif dalam persoalan kepemimpinan. Mereka harus menjadi mitra meperhati dan bukan pengikut yang tak mau tahu.

Kemudian kaum muslimin menetapkan untuknya gaji sebesar dua ribu dirham setahun. Abu Bakar berkata, “Tambalah sedikit, karena saya memiliki keluarga. Kalian telah menyibukkan saya dari perniagaan.” Mereka pun menambahkan lima ratus dirham.

6. Peperangan menumpas kaum yang murtad
Ketika berita wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tersiar, sekelompok orang yang baru masuk Islam memilih untuk murtad dari agama Islam. Menurut pemahaman mereka, agama ini terkait erat dengan hidupnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dengan demikian mereka menganggap bahwa Islam telah mati seiring dengan wafatnya Nabi pembawanya. Beberapa kepala suku memanfaatkan kebaruan Islam mereka serta kelengahan dan kebingungan mereka. Mereka pun melanggar salah satu kaidah penting agama Islam, yaitu kewajiban zakat.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Ketika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam wafat dan Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, sekelompok orang Arab memilih untuk keluar dari Islam. UmarRadhiyallahu ‘Anhu berkata, “Wahai Abu Bakar, bagaimana mungkin engkau akan memerangi orang-orang tersebut, sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka menyatakan, ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah’. Maka siapa yang telah mengucapkan itu, akan terpelihara harta dan jiwanya dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah”?

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang membedakan kewajiban shalat dan zakat. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk membayarkan seekor anak kambing yang dulu mereka pernah bayarkan pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, akan saya perangi mereka karena penolakan tersebut.” Umar pun berkata, “Demi Allah, sikap Abu Bakar itu menurut pandanganku menunjukkan bahwa Allah telah membukakan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka. Maka saya pun akhirnya menyadari bahwa sikap Abu Bakar itu benar.”

Abu Bakar kemudian bermusyawarah dengan para shahabat, mendengar pandangan mereka, kemudian bangkit untuk berkhutbah dihadapan mereka. Setelah memanjatkan puji syukur kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala, Abu Bakar menyampaikan khutbahnya sebagai berikut.

Amma ba’du, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat kebenaran itu menjadi sesuatu yang langkah dan Islam merupakan sesuatu yang asing dan tertolak, talinya lemah dan umatnya sedikit. Allah pun mengumpulkan mereka dengan perantaraan Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan menjadikan mereka umat yang tetap dan berada di posisi pertengahan. Demi Allah, saya tidak akan pernah berhenti melaksanakan perintah Allah dan berjihad di jalan-Nya sampai Allah mewujudkan janji-Nya. Di antara kita akan ada yang terbunuh sebagai syahid di jalan Allah, sebagian lain akan tetap hidup sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, saling mewarisi bersama hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sesuatu yang benar, sesungguhnya dia telah berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-oarang sebelum mereka berkuasa,” (QS. An-Nur [24]:55). Demi Allah, jika mereka menolak membayarkan seutas tali tali pengikat unta yang sebelumnya mereka tunaikan di masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu mereka datang bersama pasukan yang banyak terdiri dari jin dan manusia, maka aku akan berjuang menghadapi mereka sampai nyawaku diambil kembali oleh Allah! Sesungguhnya Allah tidak memisahkan antara shalat dan zakat, melainkan selalu menggandeng keduanya.”

Umar pun memekikan takbir dan berkata, “Demi Allah, sekarang aku menyadari, ketika Allah meneghkan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka, sikap Abu Bakar itu benar.”

Itulah sikap khalifah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan diterima oleh seluruh kaum muslimin tanpa kecuali. Mereka melihat Abu Bakar sebagi orang yang paling kuat di antara mereka, paling teguh pendirian, paling cemerlang pandangannya, dan paling besar keagungannya. Dia merupakan sosok yang disembunyikan oleh takdir untuk bergerak ke arah berbagai peristiwa kelam dengan suatu metode yang mengungkapkan sejauh mana keimanan itu sanggup menghadapi kesulitan dan mendatangkan berbagai keajaiban.

Dia mengatakan hal tersebut dalam posisinya sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.Posisi tersebut menuntut kepatuhan total terhadap perintahnya. Sementara dia bertanggung jawab atas agama ini, apakah dia diam saja menyaksikan agama ini dikurang-kurangi? Itu tidak boleh terjadi. Setiap kewajiban yang pada saat wafatnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam telah didirikan harus terus begitu meski membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu memimpin langsung pasukan Islam dengan pedang terhunus. Berangkat dari Madinah Munawwarah menuju Dzul Qashshah (suatu tempat yang berjarak dua puluh empat mil dari Madinah). Sementara Ali bin Abi Thalib menjadi pemandu kendaraan sang khalifah. Abu Bakar bertekat untuk memerangi sendiri kelompok orang-orang murtad. Para shahabat telah berusaha membujuknya untuk kembali ke Madinah dan mekilkan urusan perang ini kepada oarang lain yang dipilihnya dari kalangan para pejuang pemberani.

Bahkan Ali bin Abi Thalib berkata padanya, “Hendak kemanakah engkau wahai Khalifah Rasulullah? Saya ingin mengatakan kembali apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallamkepadamu pada saat perang Uhud, “Sarungkanlah pedangmu, jangan buat kami sedih dengan pengorbanan dirimu.” Maka saya harap engkau bersedia kembali ke Madinah, demi Allah, jika kami sempat bersedih karena terjadi sesuatu atas dirimu, Islam akan kehilangan aturan untuk selamanya!”

Mereka terus membujuk Abu Bakar hingga akhirnya dia pun bersedia untuk kembali ke Madinah setelah mengatur pasukan dan mengirimkan bersama mereka kekuatannya yang adil dan pedangnya yang tajam, serta menetapkan sebelas panji.

Pasukan kaum muslimin lalu berpencar ke seantero jazirah Arab. Mereka berhasil mengusir pasukan Thulaihah Al-Qur’an-Asadi, Al-Qur’an-Aswad Al-Qur’an-Ansi, Sajah, dan kabilah-kabilah yang murtad. Mereka pun berhasil menumpas kenabian Musailamah Al-Qur’an-Kadzab di “Taman kematian”. Dengan demikian mereka telah menebar kekuasaan Islam di muka bumi dan mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya yang benar. Pasukan orang-orang murtad pun berhasil dipukul mundur dan tercerai berai. Hancurlah angan-angan dusta mereka di hadapan kehendak yang kuat dan kebenaran yang nyata.

7. Pengiriman Pasukan Usamah
Menjelang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau tengah menyiapkan pasukan untuk dikirim ke negeri Syam di awah komando Usamah bin Zaid. Rasulullah memerintahkannya untuk memimpin pasukan berkuda menuju Balqa’ (wilayah yang saat ini berada di wilayah Yordania) dan Ad-Darum (kota Dir Balah saat ini di jalur Gaza) dari arah palestina. Ikut orang bersamanya 700 orang dari kaum muslimin.

Pasukan pun berangkat hingga mencapai desa Jurf (salah satu desa di Madinah), pada saat itulah mereka mendengar kabar duka tentang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Dalam situasi yang seperti itu para shahabat menemui Abu Bakar memintanya menarik kembali pasukan Usamah karena Madinah dalam kondisi terancam oleh kelompok murtadin, sementara tindakan melanjutkan pengutusan Usamah akan menimbulkan situasi yang sangat berbahaya. Kelompok yang memohon penarikan mundur pasukan Usamah ini di pimpin langsung oleh Umar bin Khaththab. Bahkan Usamah sendiri termasuk yang mendukung ide tersebut.

Jika persoalan ini dicermati dengan akal fikiran semata, nampaknya ide tersebut benar belaka. Akan tetapi Abu Bakar melihatnya dari sudut lain, yaitu kenyataan bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyerahkan panji kepada Usamah. Beliau pun telah memerintahkan (waktu itu kondisi beliau telah jatuh sakit) dengan sabdanya, “Kirimlah pasukan Usamah!”. Maka menurut Abu Bakar, perintah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam harus didahulukan bagaimana pun berbahaya kondisi di Madinah.

Mari kita cermati keterangan dari saksi mata peristiwa tersebut. Abu Hurairah menceritakan, “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika bukan Abu Bakar yang diangkat sebagai khalifah Rasulullah, pasti Allah tidak akan disembah lagi!”  Abu hurairah mengucapkan itu berulang-ulang sampai orang-orang menyuruhnya diam. Lantas Abu Huarairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengutus Usamah bin Zaid memimpin pasukan yang terdiri dari 700 orang ke negeri Syam. Ketika mereka sampai ke Dzu Khusyub (sebuah lembah yang berjarak satu malam perjalanan dari Madinah ke arah Syam), Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia. Dalam situasi seperti itu beberapa kabilah Arab memilih keluar dari Islam. Para shahabat pun berkumpul memenuhi Abu Bakar dan mengatakan kepadanya, “Mereka telah murtad, bagaimana mungkin engkau mengutus ke Romawi sementara kabilah-kabilah Arab di sekitar Madinah telah murtad?”

Abu Bakar menjawab, “Demi Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, meski anjing-anjing menyeret kaki istri para Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, saya tidak akan menarik pasukan yang telah diutus Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan tak akan menurunkan panji yang telah ditegakkannya.”

Maka Abu Bakar memutuskan untuk melanjutkan pengutusan Usamah. Ternyata, pada saat pasukan Usamah melewati kelompok-kelompok yang bermaksud murtad, mereka justru berkata, “Jika mereka tidak memiliki kekuatan, tidak akan mungkin pasukan sebanyak ini pergi meninggalkan mereka. “Maka alangkah baiknya kita biarkan pasukan Usamah melanjutkan perjalanannya sampai berhadapan dengan pasukan Romawi. Dan akhirnya pasukan Usamah benar-benar berhadapan dengan pasukan Romawi, bertempur dengan mereka, dan berhasil mengalahkan mereka. Pasukan Usamah pun kembali ke Madinah dengan selamat. Maka kelompok yang bermaksud murtad tadi pun mengurungkan niat mereka dan memilih untuk tetap berada dalam agama Islam.

Abu Bakar pun berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar berada di genggaman-Nya, kalau sekiranya binatang buas akan menerkamku, aku pasti akan mengirim pasukan Usamah sebagaimana telah diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Meskipun tidak ada yang tersisa selain aku, pasti aku pun akan mengirimnya.”

Sungguh dalam pengutusan Usamah itu terdapat kebaikan. Karena pada saat kabilah-kabilah yang bermaksud murtad menyaksikan pasukan dalam jumlah besar itu, mereka pun serta merta tersadar. Mereka berfikir, jika benar Madinah saat ini berada dalam tekanan kelemahan dan perpecahan, tidak akan mungkin khalifah kaum muslimin mengirim pasukan sebanyak ini pada saat seperti ini untuk memerangi pasukan Romawi. Jadi dengan hanya menyaksikan pergerakan pasukan itu, telah cukup melemahkan keinginan mereka untuk murtad.

8. Penaklukan wilayah yang dilakukan Abu Bakar
Memasuki tahun kedua belas hijrah, pasukan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diutusnya untuk memerangi kelompok murtadin dan pasukan Usamah yang diutusnya ke Syam telah mengembara ke berbagai penjuru negeri. Dengan demikian mereka telah mempersiapkan pondasi-pondasi Islam, menumpas manusia-manusia yang melampaui batas kelaliman, mengembalikan orang-orang yang hendak meninggalkan agama, meletakkan yang hak pada tempat yang seharusnya, sehingga dengan izin Allah terbentanglah Jazirah Arab, menjadi sama antara yang jauh dan yang dekat.

Setelah Khalid bin Walid selesai dari pertempuran Yamamah dan menumpas fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Kadzab, Abu Bakar mengirim perintah tertulis kepada Khalid yang waktu itu masih berada di Yamamah untuk melanjutkan perjalanan bersama pasukannya ke Irak.

Khalid pun berangkat bersama pasukannya ke Irak, menghadapi berbagai pertempuran sengit melawan pasukan Persia. Seperti pertempuran Dzatus-salasil, Mudzar, Ullais, dan lain-lain. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Hijrah, Anbar, dan Ainut-tamar. Dari sana mereka bergerak menuju Dumatul-jandal.

Setelah itu Khalid bergerak ke arah Firadh, daerah yang berbatasan dengan Syam, Irak, dan Jazirah Arab. Di sana Khalid bin Walid dan pasukannya menghadapi pertempuran sengit melawan pasukan Romawi yang menewaskan seratus ribu pasuka musuh. Berbagai berita kemenangan Khalid bin Walid pun sampai ke Madinah. Maka Abu Bakar mengirimnya surat mengingatkan, “Jangan sampai engkau dirasuki sifat ujub (bangga pada diri sendiri), jika itu terjadi engkau akan merugi dan menjadi hina. Hindari sikap suka memamerkan amalan, sesungguhnya hanya Allahyang berhak membanggakan diri dan hanya Allah yang akan membalas segala amalan.”

Memasuki tahun ketiga belas hijrah, Abu Bakar Ash-Shiddiq bermaksud mengumpulkan pasukan kaum muslimin untuk dikirim ke Sya, mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang pernah mengumpulkan kaum muslimin untuk memerangi pasukan Romawi pada saat perang Tabuk dan mengirim Usamah untuk memerangi perbatasan Syam.

Abu Bakar pun memanggil Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, Sa’ad bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang ikut serta dalam perang Badar, dan kaum muslimin lainnya. Setelah semuanya berkumpul Abu Bakar pun menyampaikan idenya, “Saya bermaksud mengirim pasukan kaum muslimin untuk berjihad menghadapi Romawi di Syam, agar Allah semakin mengkokohkan kaum muslimin dan menjadikan kalimatnya sebagai yang tertinggi, Bagaimana pendapat kalian?”

Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash mengungkapkan pendapatnya. Pada kesempatan itu Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Agama ini akan selalu mengalahkan penentangnya, sehingga agama ini tegak dan pemeluknya menjadi pemenang.” Abu Bakar berkata, “Subhanallah, alangkah bagusnya sabda Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tersebut! Sungguh, engkau telah membuat aku senang wahai Ali dengan menyampaikan hadits tersebut, semoga Allah menyenangkan hatimu.”

Setelah urun pendapat dengan mereka, mencari tahu apa yang tersembunyi dalam hati mereka, Allah pun menguatkan tekadnya. Maka Abu Bakar berpidato di depan kaum muslimin. Setelah memuji AllahSubhanahu wa Ta’ala dan menyampaikan shalawat atas Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar menyampaikan pidatonya sebagai berikut,

“Sesungguhnya Allah telah memberi kalian nikmat berupa agama Islam, memuliakan kalian dengan perintah jihad, dan meninggalkan derajat kalian dengan agama ini di atas para pemeluk agam lain, maka bersiaplah wahai para hamba Allah untuk menghadapi pasukan Romawi di Syam. Sesungguhnya saya akan mengangkat beberapa komandan dan menegakkan beberapa panji, maka tatkalah kalian pada tuhan kalian dan jangan membangkang pada pimpinan. Perbaiki niat kalian dan persiapkanlah perbekalan, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan.”

Abu Bakar lantas menyurati penduduk Yaman mengajak mereka untuk andil dalan jihad fi sabilillah. Kemudian dia mengumpulkan para komandan yang terbesar di berbagai Jazirah Arab dan menyerahkan kepada masing-masing mereka satu panji. Ketika pasukan itu berangkat dari Madinah, Abu Bakar ikut serta mengantarkan mereka sampai lembah wada’.

Di san Abu Bakar menyampaikan pesannya, “Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Berjuanglah di jalan Allah, perangilah orang-orang kafir, sesungguhnya Allah akan menolong agamanya. Janganlah kalian menipu dalam harta rampasan, janganlah kalian mengkhinati janji, jangan takut, jangan melakukan kerusakan di bumi, dan jangan menyalahi perintah. Apabila kalian bertemu dengan musuh kalian dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka pada tiga hal, apabila mereka mau menerima salah satu dari tiga hal tersebut, maka terimalah mereka dan berhentilah memerangi mereka. Ajaklah mereka untuk masuk agam Islam. Apabila mereka mau menerima ajakanmu, terimalah dan berhentilah memerangi mereka, jika mereka menolak masuk Islam, mintalah upeti kepada mereka. Apabila mereka mau menyerahkan upeti tersebut kepadamu maka terimalah dan janganlah kamu memerangi mereka. Namun jika mereka enggan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah lalu perangilah mereka. Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan, dan jangan membunuh anak-anak, orang tua, dan perempuan.”

Panji pertama diberikan pada Khalid bin Sa’id bin Ash. Abu Bakar menempatkannya di wilayah Taima’, untuk berjaga disana bersama pasukan kaum muslimin yang dipimpinnya sampai mendapat perintah selanjutnya. Lalu Abu Bakar mengirim Abu Ubaidah dan pasukannya untuk berjaga di wilayah Himsha. Dia pun mengutus Amr bin Ash bersama 3000 pasukan yang kebanyakan diantara mereka berasal dari kalangan muhajirin dan Anshar, untuk berangkat ke Palestina. Abu Bakar juga mengangkat Syurahbil bin Hasnah yang kembali dari pasukan Khalid bin Walid di Irak sebagai komandan pasukan dan mengirimnya ke Syam. Dan satu panji lagi untuk Yazid bin Abu Sufyan dan menempatkannya di Damaskus.

Abu Bakar berpesan kepada setiap komandan untuk menempuh jalan berbeda, menurutnya cara itu akan membawa manfaat, belajar dari Nabi Ya’qub Alaihissalam yang pernah berpesan pada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku! Janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda.” (QS. Yusuf [12]:67)

Pasukan Romawi bersatu menghadapi setiap kelompok kaum muslimin dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini membuat pasukan kaum muslimin mengirim surat pada khalifah Abu Bakar untuk meminta tambahan pasukan. Abu Bakar pun membalas surat mereka dengan mengintruksikan , “Bersatulah dalam satu kelompok!” Lalu mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan.

Sementara itu, datang pasukan tambahan untuk tentara Romawi, sehingga jumlah mereka 240 ribu orang. Tak lama kemudian Khalid dan Ikrimah pun bergabung sehingga jumlah pasukan kaum muslimin mencapai sekitar 40 ribu orang, kedua pasukan bertemu di Yarmuk.

Khalid melihat pasukan kaum muslimin berperang secara terpisah. Pasukan Abu Ubaidah dan Amr di satu sisi. Sedangkan pasukan Yazid dan Syurahbil di sisi yang lain. Maka khalid menyuruh mereka bersatu dan melarang mereka bercerai berai. Khalid juga menyarankan untuk mempergilirkan kepemimpinan pasukan, dan Khalid ditunjuk sebagai yang pertama.

Perang pun berkecamuk, para pejuang saling menerkam. Saat pertarungan baru mulai memanas. Datang berita duka tentang wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, Berita itu lantas disembunyikan dari pasukan, agar mereka tidak menjadi lemah. Upaya penaklukan ini baru berakhir pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu.

9. Pengumpulan Al-Qur’an dam satu mushaf
Berbagai pertempuran tersebut mengakibatkan banyak peristiwa besar, di antara peristiwa yang paling berbahaya bagi Islam adalah wafatnya para penghafal Al-Qur’an dalam pertempuran Yamamah. Kondisi tersebut membuat Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu khawatir. Para shahabat telah berpencar ke berbagai pelosok untuk menyampaikan dakwah Islam. Mati syahid menjadi idaman mereka semua. Sementara Al-Qur’an tersimpan dalam dada mereka semua. Sehingga kematian mereka secara tidak langsung menjadi penyebab hilangnya Al-Qur’an. Bertolak dari pemikiran itu, Umar pun bergegas menemui Abu Bakar untuk bermusyawarah dengannya dalam hal pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Pada awalnya Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menyetujui usulan Umar tersebut, dengan alasan Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam tidak pernah melakukan itu. Bagaimana mungkin dia melangkahi Nabi.

Namun Umar tidak lekas menyerah, dia terus berusaha meyakinkan Abu Bakar dan menjelaskan berbagai sisi positif dari upaya pengumpulan Al-Qur’an tersebut. Sampai akhirnya Abu Bakar pun tercerahkan dan bersedia menerima usulan Umar itu.

Sang penulis wahyu, Zaid bin Tsabit menceritakan situasi genting tersebut.

“Abu Bakar mengirimi aku berita tentang kematian pasukan Yamamah. Ternyata Umar bin Khaththab sedang bersamanya.

Abu Bakar bercerita padaku, “Umar datang padaku mengatakan, “Sesungguhnya perang Yamamah telah merenggut nyawa para penghafal Al-Qur’an, aku khawatir akan lebih banyak lagi para penghafal Al-Qur’an yang meninggal dalam peperangan berikutnya. Dengan demikian, Al-Qur’an akan hilang bersama dengan wafatnya mereka. Maka aku meyarankan agar engkau segera memerintahkan upaya pengumpulan Al-Qur’an. “Aku berkata, “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Umar, “Upaya tersebut Demi Allah merupakan sesuatu yang baik.” Umar tak berhenti berusaha meyakinkan saya, hingga akhirnya AllahSubhanahu wa Ta’ala membukakan hati saya untuk itu. Saya pun jadi berpandangan seperti pandangan Umar tersebut.

Zaid berkata, “Abu Bakar lalu berkata padaku, “Engkau adalah pemuda cerdas yang tidak pernah kami ragukan. Engkau juga penulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka telusuri dan kumpulkanlah Al-Qur’an.” Zaid berkata, “Demi Allah, kalau mereka menugaskan padaku untuk memindahkan salah satu gunung, tidak akan lebih berat dari pada perintahnya untuk mengumpulkan Al-Qur’an.” Aku pun bertanya padanya, “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Abu Bakar, “Upaya tersebut demi Allah merupakan sesuatu yang baik.”

Abu Bakar terus berusaha untuk membujukku, samapai akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’alamembukakan hatiku sebagaiman sebelumnya telah membukakan hati Abu Bakar dan UmarRadhiyallahu ‘Anhuma.

Saya pun mulai menelusuri keberadaan Al-Qur’an. Saya kumpulkan Al-Qur’an dari yang tertulis di pelepah kurma dan lempengan batu putih serta dari hafalan para shahabat, sampai saya mendapatkan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah Al-Qur’an-Anshari yang tidak saya dapatkan dari orang lain seorang pun, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]:128). Sampai akhir. Seluruh lembaran Al-Qur’an kemudian disimpan di rumah Abu Bakar samapai dia meninggal dunia. Kemudian disimpan oleh Umar selama dia hidup, selanjutnya disimpan oleh Hafshah binti UmarRadhiyallahu ‘Anhuma.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Orang yang paling besar jasanya dalam pembuatan mushaf adalah Abu Bakar. Dialah yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf.”

10. Siafat tawadhu’, kasih sayang , dan wara’ Abu Bakar serta keputusannya di bidang hukum
Di balik kerasnya hati Abu Bakar dalam berbagai peristiwa dan keteguhannya membela yang hak, sejatinya hati Abu Bakar sangatlah lembut dan penyayang. Kekhalifahan tidak merubah kepribadiannya dan cara hidupnya. Dia tetap rendah hati meski telah memperoleh banyak kemenangan dalam berbagai penaklukan. Dia pun tidak merasa lebih tinggi derajatnya dari pada yang lain, bahkan dia tetap berbaur dengan rakyat biasa.

Seorang perempuan pernah menuturkan, “Abu Bakar pernah mampir ketempat kami tiga tahun sebelum dia diangkat menjadi khalifah. Lalu dia mampir lagi setahun setelah menjadi khalifah. Di dua kesempatan itu, para pelayan perempuan di sekitar datang membawa kambing-kambing mereka, lalu Abu Bakar memerahkan susu untuk mereka!”

Ketika salah seorang pelayan berkata –setelah Abu Bakar diangkat sebagai khalifah-, “Sekarang tentu dia tidak bersedia memerahkan susu kambing-kambing kami!!” Mendengar itu Abu Bakar segera menyanggahnya, “Demi Allah, aku pasti tetap akan memerahkannya untuk kalian. Aku sangat berharap posisi yang aku tempati sekarang tidak merubah diriku dan sikapku yang dulu.”

Umar bin Khaththab menceritakan kisah tetang persaingan yang terjadi antara dirinya dengan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam membantu orang tua buta. Waktu itu Umar memiliki jadwal membantu seorang perempuan tua buta yang tinggal di salah satu sudut kota Madinah. Dia membawakannya makanan, membantu membersihkan rumahnya dan membereskan pekerjaan rumahnya. Hingga suatu ketika, saat sampai di sana sia mendapatkan ada orang lain yang telah lebih dulu melakukan pekerjaan itu. Umar pun mencoba untuk datang lebih sering agar tidak didahului orang tersebut, lalu Umar mengintai mencari tahu siapakah orang itu. Ternyata orang itu adalah Abu Bakar –waktu itu dia sudah diangkat sebagai khalifah-, Umar berkata kepadanya, “Ternyata engkau orangnya!”

Abu Bakar kerap menjadi hakim yang menyelesaikan perkara diantara masyarakat. Dia menjelaskan dengan fikiran yang cerdas sisi kebenaran dari perkara yang diperselisihkan. Pernah suatu kali orang laki-laki datang padanya mengadu, “Ayahku hendak mengambil seluruh hartaku untuk dikuasainya!” Abu Bakar lalu menjelaskan pada si ayah, “Silakan engkau ambil sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhanmu saja.” Si ayah berusaha mengelak, “Wahai khalifah, bukankah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Engkau dan hartamu milik ayahmu?” Abu Bakar menjawab, “Betul, tapi yang diamaksud adalah persoalan nafkah.”

Jika dihadapkan padanya persoalan yang tidak dia ketahui solusinya, Abu Bakar tidak segan-segan bertanya kepada para shahabat apakah mereka pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan sesuatu terkait persoalan tersebut. Jika ada yang memberitahunya, dia akan menggunakan sebagai solusi, sebagaimana yang pernah terjadi padanya terkait warisan untuk seorang nenek. Qabidhah bin Dzu’aib menceritakan, “Seorang nenek datang menemui Abu Bakar berkata, “Engkau tidak mendapat bagian, baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah. Kembalilah esok hari agar aku tanyakan dulu persoalan ini pada orang-orang.”

Abu Bakar pun menanyakan persoalan tersebut pada para shahabat lain. Mughirah bin Syu’bah mengatakan, “Aku hadir saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi seperenamuntuk seorang nenek.” Abu Bakar bertanya kepadanya, “Apakah ada yang lain yang bersamamu pada saat itu?” Muhammad bin Maslamah lantas berdiri dan mengatakan hal yang sama. Abu Bakar pun langsung menetapkannya untuk nenek tersebut.

Umar menempati posisi sebagai hakim pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Menurut Umar, pernah dalam sebulan tidak ada dua orang yang bersengketa yang datang padanya.

Di tahun pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, dia menempatkan Umar sebagai pengganti saat dia melaksanakan haji. Kemudian dia melaksanakan haji dari Qabil. Lalu dia melakukan umrah pada bulan Rajab tahun dua belas hijrah. Dia memasuki kota Mekah di waktu Dhuha dan langsung mendatangi rumah orang tuanya. Waktu itu Abu Qhuhafah sedang duduk di depan rumah bersama beberapa orang pemuda. Dikatakanlah padanya, “Anakmu datang.” Abu Quhafah langsung bangkit berdiri. Melihat itu Abu Bakar segera menghentikan tunggangannya dan melompat turun seraya berkata, “Wahai ayah, jangan berdiri.” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mencium keningnya. Abu Quhafah menangis gembira atas kedatangan putranya.

11. Pendirian Baitul Mal
Abu Bakar sangat takut pada Allah atas apa yang menimpah kaum muslimin. Dia sangat menjaga harta dan hak mereka. Maka dia sama sekali tidak menempatkan penjaga untuk baitul mal di Sunuh.

Abu Bakar tidak segan-segan mengeluarkan apa yang ada di baitul mal untuk rakyatnya. Dia tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. (Orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil,semuanya sama). Abu Bakar pernah membeli unta, kuda, dan senjata untuk digunakan sepenuhnya dijalan Allah. Abu Bakar pun pernah membeli kain beludru yang didatangkan dari pelosok daerah. Lalu kain itu dibagi-bagikan untuk para janda Madinah pada saat musim dingin.

Ketika Abu Bakar meninggal dunia dan telah dimakamkan, Umar bin Khaththab mengajak beberapa orang terpercaya untuk masuk ke baitul mal Abu Bakar. Umar pun masuk kesana bersama Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan lain-lain. Mereka lalu membuka baitul mal dan tidak menemukan apa-apa. Mereka lalu menemukan sebuah kantong uang, ketika dikeluarkan isinya hanya ada uang satu dirham. Mereka merasa kasihan terhadap Abu Bakar.

12. Pengangkatan Umar sebagai pengganti
Sepanjang masa kekhalifahannya Abu Bakar senantiasa berjalan di atas manhaj tersebut. Dia mengakhiri masa jabatannya dengan suatu tindakan terbaik, yaitu menetapkan Umar sebagai penggantinya. Namun dia tidak melakukan sendiri, melainkan setelah bermusyawarah dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar. Dia bertanya kepada mereka tentang Umar –meski sebenarnya dia paling mengerti siapa Umar-. Maka ketika sakitnya semakin parah, dia mengundang Abdurrahman bin Auf dan bertanya padanya, “Bagaimana menurutmu sosok Umar bin Khaththab?”

Jawab Abdurrahman bin Auf, “Engkau tidak menyakan sesuatu kecuali engkau lebih tahu dari padaku.”

Abu Bakar berkata, “Jika aku tetap menanyakan?”

Abdurrahman bin Auf berkata, “Demi Allah, dia hamba yang paling pantas untuk menjadi penggantimu.”

Kemudian Abu Bakar mengundang Utsman bin Affan dan bertanya hal yang sama.

Jawab Utsman, “Engkau lebih tahu tentang dia dari padaku.”

Abu Bakar berkata, “Meski begitu, wahai Abu Abdullah.”

Utsman berkata, “Sepanjang pengetahuanku, yang tersembunyi darinya lebih baik daripada yang tampak. Tidak ada diantara kami yang menyamainya.

Abu Bakar pun sempat bertanya pada Sa’id bin Zaid, Usaid bin Hudhair dan beberapa orang lain dari Muhajirin dan Anshar. Menurut Usaid, “Aku melihatnya sebagai sosok terbaik setelahmu, dia ridha pada sesuatu yang pantas diridhai dan membenci sesuatu yang pantas dia benci. Apa yang tersembunyi dari lebih baik dari yang nampak, tidak ada yang sanggup mengemban amanah ini selain dia.”

Setelah mendapat banyak masukan dari para shahabat, Abu Bakar pun merasa mantap untuk mengumumkan penetapan Umar sebagi calon penggantinya. Beberapa shahabat yang lain lantas masuk menemuinya dan berkata, “Apa yang akan engkau katakan di hadapan Tuhanmu jika Dia bertanya tentang penetapanmu atas Umar sebagai pengganti padahal engkau telah melihat sendiri betapa kerasnya dia?”

Abu Bakar berkata, “Dudukkan aku! Apakah kalian menakuti aku dengan menyebut nama Allah? Akan sia-sia orang yang memimpin kalian dengan cara yang zhalim. Aku katakan, “Ya Allah, aku telah mengangkat penggantiku dari hamba-Mu yang terbaik. Sampaikanlah apa yang aku sampaikan ini pada orang-orang setelahku.”

Lalu Abu Bakar kembali berbaring dan memanggil Utsman bin Affan mendiktekan padanya sebuah maklumat,

Bismillahirrahmanirrahim. Ini merupakan keputusan Abu Bakar bin Abu Quhafah di akhir hayatnya di dunia saat dia akan meninggalkannya, di awal kehidupannya di akhirat saat dia akan memasukinya, saat orang kafir beriman, orang yang menyimpang meyakini, orang yang bohong mengakui. Sesungguhnya saya mengangkat Umar bin Khaththab sebagai pemimpin kalian setelahku, maka dengarlah dia dan taatlah padanya. Sesungguhnya saya tidak ingin berlambat-lambat dalam kebaikan untuk Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, diriku dan kalian semua. Jika dia berbuat adil, maka itulah sangkaanku padanya dan pengetahuanku tentangnya. Jika dia berubah, maka bagi setiap orang balasan yang setimpal atas perbuatannya. Saya hanya menginginkan yang terbaik, dan saya tidak mengetahui yang ghaib, “Dan orang-orang yang zhalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 227). Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.”

Kemudian Abu Bakar membubuhkan stempel kekhalifahan pada lembaran tersebut dan memerintahkan Utsman untuk mengumumkannya. Orang-orang pun membai’at Umar dan merasa ridha padanya.

Selanjutnya Abu Bakar memanggil Umar seorang diri, menasihatinya dengan wasiat yang cukup panjang. Di penghujung wasiatnya Abu Bakar mengatakan, “Jika engkau menjaga wasiatku, tidak ada perkara gaib yang lebih engkau cintai daripada kematian –dan dia pasti akan menemuimu-. Sebaliknya jika engkau mengabaikan wasiatku, tidak ada perkara ghaib yang akan lebih engkau benci daripada kematian, dan engkau tidak akan bisa menghindarinya.”

Setelah Abu Bakar selesai menyampaikan wasiatnya, Umar pun keluar. Setelah itu Abu Bakar menengadahkan tangannya dan berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Ya Allah, sesungguhnya hamba hanya ingin menginginkan kebaikan untuk mereka, hamba takut akan timbulnya fitnah di antara mereka. Karena itulah hamba melakukan untuk mereka apa yang Engkau lebih Mengetahui tentangnya. Hamba mengerahkan segenap kemampuan untuk berijtihad, lalu mengangkat orang yang terbaik dan terkuat di antara mereka sebagai pemimpin, orang yang paling peduli terhadap kebaikan mereka. Hamba telah melaksanakan apa yang sanggup hamba laksanakan dari perintah-Mu, maka berikanlah penggantiku untuk mereka. Sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, nasib mereka ada di tangan-Mu, karuniakanlah kebaikan untuk mereka dan jadikanlah orang itu sebagai khalifah-Mu yeng memperoleh petunjuk, yang mengikuti petunjuk Nabi-Mu dan petunjuk orang-orang shalih setelahnya, dan perbaikilah kondisi rakyatnya untuknya.”

Baru saja Utsman bin Affan keluar membawa lembaran maklumat untuk menyampaikannya pada semua orang, Abu Bakar langsung menyampaikan arahnya lewat sebuah lubang angin, “Wahai kalian semua, saya telah memutuskan sesuatu, apakah kalian ridha?” Orang-orang menjawab, “Kami ridha wahai khalifah Rasulullah.” Tiba-tiba Ali bangkit dan berkata, “Kami tidak ridha kecuali jika orang yang engkau tetapkan itu adalah Umar!” Abu Bakar berkata, “Orang yang aku tetapkan itu adalah Umar.”

Sungguh luar biasa ungkapan yang disampaikan Abdullah bin Mas’ud berikut ini, “Manusia paling berani ada tiga, yaitu Abu Bakar saat mengangkat Umar sebagai pengganti, istri Nabi Musa saat berkata pada ayahnya (Ya’qub Alaihissalam), “Upalah dia untuk bekerja padamu”, dan seorang penjabat yang membeli Nabi Yusuf dan berkata pada istrinya, “Muliakanlah kedudukannya.”

E. WAFATNYA ABU BAKAR DAN GAMBARAN TENTANG KELUARGANYA

1. Wasiat Abu Bakar sebelum wafat
Saat Abu Bakar merasa ajalnya semakin dekat, dia memanggil putrinya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan menyampaikan wasiat kepadanya, “Wahai putriku, sesungguhnya kita diangkat menjadi pemimpin kaum muslimin, kita tidak mengambil dinar ataupun dirham, akan tetapi kita makan dari tumbukan makanan mereka, kita mengenakan sesuatu yang kasar dari pakaian mereka, tidak tersisa pada kita sedikitpun dari harta kaum muslimin selain seorang budak Habsyi, unta pembawa air, dan sehelai kain beludru yan telah usang. Jika saya meninggal nanti berikanlah semua itu kepada Umar.

Lihat juga unta yang biasa kita perah susunya untuk kita minum, mangkuk tempat kita meletakkan lauk, dan kain beludru yang biasa kita kenakan, semua itu telah kita ambil manfaatnya saat kita menjadi pemimpin kaum muslimin. Jika aku meninggal serakan semua itu pada Umar.”

2. Wafatnya Abu Bakar dan wasiatnya tentang warisannya

Sakit Abu Bakar, menurut penuturan putrinya Aisyah, bermulai saat dia mandi pada hari senin tanggal Jumadits Tsaniah saat cuaca sangat dingin. Dia lalu jatuh demam selam 15 hari sampai tidak bisa keluar untuk mengimami shalat berjamaah di masjid. Dalam jangka waktu itu dia menyuruh Umar untuk menggantikannya. Kian hari demamnya kian parah. Orang-orang pun berdatangan menjenguknya. Utsman merupakan orang yang paling banyak menemani Abu Bakar selama dia sakit.

Kemudian Abu Bakar berwasiat atas seperlima hartanya. Dia berkata, “Aku mengambil bagian dari hartaku sebanyak bagian yang telah Allah tetapkan dari harta kaum muslimin untuk digunakan di jalan Allah. Aku lebih suka mewasiatkan seperlima harta dari pada seperempatnya, dan mewasiatkan seperempat harta lebih aku sukai daripada sepertiganya, karena sepertiga tidak menyisakan apa-apa.”

Dalam setiap doanya, Abu Bakar selalu mengucapkan, “Ya Allah, jadikanlah saat terbaik dari usiaku pada penghujungnya, bagian terbaik dari amalku yang paling akhir, dan yang terbaik dari hari-hariku adalah hari di saat hamba menghadapimu.”

Saat sakitnya semakin parah, putrinya Aisyah datang menjenguk. Waktu itu Abu Bakar sedang berjuang menghadapi sakaratul maut. Aisyah pun mengungkapkan situasi itu dengan melantunkan sebait syair. Mendengar itu Abu Bakar langsung membuka matanya dan berkata, “Bukan begitu, akan tetapi hendaknya engkau mengucapkan, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf [50]: 19)

Lalu Abu Bakar bertanya pada sang putri, “Berapa lembar kain yang engkau gunakan untuk mengkafani Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Aisyah, “Tiga helai kain putih, tanpa gamis dan tanpa penutup kepala.” Lalu Abu Bakar bertanya lagi, “Pada hari Rasulullah wafat?” Jawab Aisyah, “Hari Senin.” Abu Bakar bertanya, “Hari apa sekarang?” Aisyah menjawab, “Hari Senin.” Abu Bakar berkata, “Saya kira saya akan meninggal di rentang waktu dari sekarang sampain nanti malam.” Lalu mata Abu Bakar tertumbuk pada kain putih yang biasa digunakan untuk menyelimutinya. Ada bekas minyak za’faran di sana. Dia pun menyuruh Aisyah untuk mencucinya untuk digunakan sebagai salah satu kain kafan, tinggal menambahkan dua helai kain lagi. Aisyah berkata, “Tapi kain ini telah usang.” Jawab Abu Bakar, “Orang yang masih hidup lebih berhak atas pakaian baru daripada orang mati. Sejatinya kain itu akan habis dimakan ulat.” Akhirnya Abu Bakar pun menghadap Tuhannya pada sore hari Selasa, kemudian dimakamkan pagi hari berikutnya.

Abu Bakar sempat berwasiat agar jasadnya dimandikan oleh Asma’ binti Umais dibantu oleh Abdurrahman bin Abu Bakar, dan agar dia dikuburkan disamping Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

3. Pengurusan jenazah Abu Bakar
Jasad Abu Bakar dimandikan dan dikafani sesuai dengan wasiat yang disampaikannya menjelang wafat. Kemudian dia dishalatkan oleh kaum muslimin diimami oleh Umar. Jasadnya diletakkan di antara makam dan mimbar Rasulullah. Setelah itu digalilah tanah di sebelah makam Rasulullah. Kepalanya kira-kira sejajar dengan pundak Rasulullah. Lubang lahatnya menempel pada makam Rasulullah. Yang ikut turun ke dalam liang kuburnya adalah Umar bin Khaththab, Thalhah, Utsman, dan Abdurrahman bin Abu Bakar. Kemudian kuburan itu pun ditimbun kembali dengan tanah, Bersamaan dengan itu terjadi gempa di Mekah.

Abu Quhafah bertanya, “Ada apa ini?” Dijawab, “Anakmu meninggal dunia.” Abu Quhafah berkata, “Sungguh merupakan musibah besar. Siapa yang menggantikannya?” Dijawab, “Umar.” Abu Quhafah berkata, “Dia adalah sahabatnya.”

4. Usia Abu Bakar dan periode kekhalifahannya
Masa kekhalifahan Abu Bakar sekitar dua tahun tiga bulan beberapa hari. Menurut riwayat yang disepakati, dia meninggal dunia pada usia 63 tahun.

5. Istri Abu Bakar dan Anak-anaknya
Abu Bakar sempat menikah dengan empat orang istri, yaitu Qutailah binti Abdul Uzza, Ummu Ruman binti Amir, Asma’ binti Umais, dan Habibah binti Kharijah.

Abu Bakar dikaruniai enam orang anak, tiga putra dan tiga putri. Yang putra bernama Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad, sementara yang putri adalah Aisyah ummul mukminin, Asma’ si pemilik dua ikat pinggang, dan Ummu Kultsum yang terlahir beberapa saat setelah Abu Bakar wafat.

Itulah Abu Bakar, bagaimanapun para penulis menuliskan, para pemuji memuji, para khatib membicarakan, dan orang-orang menyebarkan tentang keutamaan dan kedudukannya, mereka tidak akan merubah kedudukannya di sisi Allah, melainkan mereka tengah mengangkat kedudukan mereka sendiri. Yaitu ketika mereka memposisikan diri sebagai orang yang pantas membicarakan tokoh yang mulia ini, manusia terhormat, dan khalifah yang seolah-olah diturunkan dari langit.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/abu-bakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s