Umar Bin Khaththab

A.    ASAL-USUL DAN GAMBARAN FISIK UMAR SERTA KEISLAMANNYA

1. Nama, nasab, dan kelahiran Umar
Di serambi Mekah, dengan cuaca yang panas, anginnya yang menderu-deru, padang sahara yang luas, tiga belas tahun setelah peristiwa gajah, lahirlah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurzhu bin Razah bin Adi Al-Qurasyi.
Ayahnya Khaththab bin Nufail Al-Adawi adalah orang yang berwatak keras dan memiliki tabiat yang kuat. Sedang Ibunya bernamah Hantamah binti Hasyim bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, sepupu dari Abu Jahal.
Umar tumbuh di bawah asuhan ayahnya sehingga dia mewarisi watak keras sang ayah yang tak kenal rasa takut, keras hati, tidak setengah-setengah dalam melakukan sesuatu.

2. Gambaran fisik dan sifat Umar serta kedudukannya dikalangan Quraisy
Umar adalah laki-laki berkulit coklat, kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan keduanya, memiliki sosok yang kuat, ukuran tubuh yang tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Jika dia berada di kerumunan nampak seolah dia sedang menunggangi sesuatu yang lain berjalan kaki, Umar berkumis lebat, jalannya cepat, suaranya besar, dan pukulannya amatlah keras.
Kekuatan fisik dan kesatriannya amatlah prima, sampai-sampai dia sanggup naik ke atas kuda hanya dengan berpegang pada telinga kuda.

Umar merupakan salah satu orang terpandang dan pemuka kaum Quraisy. Dia sering dipercaya sebagai juru damai apabila terjadi peperangan antar sesama kaum Quraisy atau antara suku Quraisy dengan yang lain. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab, pada saat hendak berdamai masing-masing pihak yang bertikai mengutus seseorang sebagai juru damai. Masing-masing juru damai akan membanggakan pihaknya sampai akhirnya tercapai kesepakatan damai. Kaum Quraisy sangat menaruh kepercayaan pada Umar bin Khaththab untuk mewakili mereka sebagai juru damai.
Di samping itu, Umar memiliki jiwa yang bersih secerah langit Mekah, hati yang tulus tidak berbelok-belok laksana padang pasir yang luas, keteguhan hati yang kokoh laksana gunung, dan sifat yang mulia seterang bintang di langit.

3. Keislaman Umar
Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mulai berdakwah mengajak semua orang yang beriman hanya kepada Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala, Umar memposisikan dirinya sebagai penentang dakwah Rasulullah tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyimpan harapan agar suatu saat Umar masuk Islam, melihat kekuatannya yang luar biasa dan kelebihannya dibandingkan orang-orang sebayanya. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Ya Allah perkuatlah Islam dengan salah satu dari orang yang lebih Engkau sukai: Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Dan ternyata yang lebih disukai oleh Allah dari mereka berdua adalah Umar bin Khaththab.

Dakwah pun semakin meningkat dan semakin meluas hinggah merubah pandangan Umar. Berikut ini adalah penuturan Umar sendiri bagaimana awal mula masuknya sinar Al-Qur’an ke dalam hatinya yang sebelumnya tertutup sangat rapat,
“Waktu itu saya keluar untuk merintangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Ternyata beliau telah mendahuluiku berjalan ke arah masjid. Saya pun membuntutinya. Lantas beliau membaca surat Al-Haqqah, membuatku takjub akan keindahan Al-Qur’an. Maka saya mengatakan, “Dia benar-benar penyair sebagaimana disebut-sebut kaum Quraisy.” Maka beliau membaca, “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang turun kepada) Rasal yang mulia, Dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”(QS. Al-Haqqah [69]: 40-41). Lalu saya berkata, “Dia adalah seorang penyihir.” Beliau membaca, “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).”(QS. Al-Haqqah [69]: 42-47). Sampai akhir surat, Al-Qur’an pun mulai ,merasuki hatiku.”

Kemudian pada suatu hari Umar berpapasan dengan Ummu Abdullah binti Akhi Hatsmah yang sedang bersiap untuk hijrah ke negeri Habasyah. Umar bertanya padanya, “Apakah ini persiapan untuk berangkat wahai Ummu Abdullah?” Jawab Ummu Abdullah, “Ya. Demi Allah kami harus keluar dari negeri ini. Kalian telah menyakiti dan berbuat kasar terhadap kami, hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kami.” Umar berkata, “Semoga Allah menyertai kalian.”

Peristiwa inilah yang menjadi peringatan kedua di dalam hari Umar. Hampir saja cahayanya meredup dan pengaruhnya melemah, namun dia bagaikan sumbu yang apinya dinyalakan oleh seorang perempuan yang amat marah, yang tak lain saudari sepersusuan Umar yang tumbuh besar bersama di lingkungan yang sama.

Selanjutnya pada suatu hari yang amat panas, Umar keluar dari rumahnya bergegas menuju rumah shahabat Al-Arqam, tempat Rasulullah biasanya berkumpul dengan para shahabatnya. Hari itu Umar berniat akan membunuh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah An-Nahham yang waktu itu telah masuk Islam namun menyembunyikan keislamannya karena khawatir akan diusir oleh kaumnya. Nu’aim lalu bertanya padanya, “Hendak kemanakah engkau wahai Umar?”

Umar menjawab, “saya mau menemui Muhammad, orang yang telah meninggalkan agamanya, mencerai-berai urusan kaum Quraisy, membuyarkan impian mereka, menghina agama mereka, dan mencaci tuhan-tuhan mereka. Saya akan membunuhnya.”

Nu’aim berkata padanya, “Engkau telah memperdaya dirimu sendiri wahai Umar. Apakah menurutmu Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu hidup jika engkau membunuh Muhammad?”

Umar berkata, “Menurutku engkau telah berpaling dan telah meninggalkan agama lamamu!”

Nu’aim balas mengatakan, “Kenapa engkau tidak kembali saja ke keluargamu untuk menyelesaikan urusan mereka?”

Umar bertanya, “Siapakah keluargaku yang engkau maksud?”

Nu’aim menjawab, “Saudara iparmu yang juga sepupumu Sa’id bin Zaid bin Amr, dan saudarimu Fatimah binti Khaththab. Demi Allah, mereka telah masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Kenapa engkau tidak mengurus mereka saja!”

Umar pun langsung berbalik dan bergegas pergi ke rumah saudarinya Fatimah dan suaminya. Saat itu, keduanya sedang kedatangan Khabbad bin Art yang membawakan lembaran yang bertuliskan surat Thaha untuk dibacakan pada keduanya. Ketika mereka mendengar gerakan Umar, Khabbad langsung bersembunyi di kamar, sedangkan Fathimah langsung mengambil lembaran berisi surat Thaha dan menyembunyikannya di bawah pahanya. Sementara itu Umar sempat mendengar gumaman khabbad saat dia mendekati rumah mereka.

Ketika Umar menerobos masuk, dia langsung bertanya, “Surat apa yang baru saja saya dengar?”

Keduanya menjawab serempak, “Engkau tidak mendengar apa-apa.”

Umar menukas, “Tidak, demi Allah, aku mendengar kabar bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad.” Tanpa pikir panjang Umar langsung menyergap saudara iparnya, Sa’id bin Zaid. Melihat itu Fatimah langsung bangun dan bergerak ke arah Umar berusaha melepaskan suaminya dari sergapan Umar. Tapi Umar langsung memukulnya hingga melukainya.

Mendapat perlakuan kasar dari Umar, keduanya lalu berkata, “Ya, kami telah masuk Islam dan telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan!”

Saat itulah, ucapan saudari dan iparnya itu menghujam ke dalam hati Umar saat dia sedang berada di puncak kemarahannya. Terkoyaklah penutup hatinya dan sikapnya langsung berubah menjadi lemah lembut. Dia pun melepaskan Sa’id bin Zaid dan menyesali tindakannya. Dia lalu memohon pada saudarinya, “Berikan padaku lembaran yang baru saja kalian baca itu agar aku dapat melihat apa yang dibawa oleh Muhammad.

Mendengar itu, fatimah segera menjawab, “Kami khawatir engkau akan merusaknya.”

Umar berkata, “Jangan takut.” Dia pun bersumapah dengan nama tuhan-tuhannya bahwa dia akan mengembalikan lembaran tersebut jika diizinkan untuk membaca isinya.”

Pada detik itu muncul harapan pada diri Fatimah terhadap keislamannya Umar. Dia pun langsung mengatakan pada Umar, “Wahai Saudaraku, engkau masih najis karena kemusyrikanmu, sedang lembaran itu hanya boleh disentuh oleh orang-orang yang suci.”

Umar pun langsung bangun untuk membasuh dirinya. Setelah itu, barulah Fatimah menyerahkan lembaran tersebut padanya. Umar langsung membacanya, “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy. Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang baik.”(QS. Thaha [20]: 1-8). Dia membacanya dengan hati berdebar dan tubuh gemetar, dengan penuh kekhusyukan dan perlahan. Hingga dia sampai pada ayat, “Sungguh, aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha [20]: 14). Baru saja dia selesai membaca ayat tersebut, dia langsung berujar, “Alangkah indah dan mulianya ungkapan ini! Tunjukkan aku di mana Muhammad.”

Mendengar itu, Khabbad langsung keluar dari persembunyiannya. Dia langsung berkata pada Umar, “Wahai Umar, demi Allah, sesungguhnya aku berharap Allah mengkhususkan engkau dengan doa Nabi-Nya. Sungguh saya kemarin mendengar Rasulullah berkata. “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abu Al-Hikam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab.” Allah pasti mengabulkan doanya wahai Umar.

Umar pun berkata padanya, “Kalau begitu, tunjukkan padaku dimana Muhammad wahai Khabbad agar aku bisa menemuinya dan mnyetakan keislamanku,”

Khabbad menjawab, “Beliau di sebuah rumah di Shafah bersama beberapa shahabatnya.”

Umar memungut pedangnya dan menyandangnya. Lalu dia bergegas menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya. Sesampainya disana Umar langsung menggedor pintu rumah. Mendengar itu, salah seorang shahabat Rasulullah segera bangun dan mengintip dari pintu. Nampaklah olehnya Umar sedang menyandang pedangnya. Dia segera menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam melapor sambil ketakutan, “Wahai Rasulullah yang datang adalah Umar bin Khaththab sambil menyandang pedang!”

Hamzah bin Abdul Mutthalib berkata, “Izinkanlah dia masuk. Jika dia datang menginginkan kebaikan, akan kita berikan padanya kebaikan itu. Jika dia datang menginginkan keburukan, akan kita bunuh dia dengan pedangnya itu.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun berkata, “Izinkan dia masuk.” Salah seorang dari mereka membukakan pintu dan mempersilahkan Umar masuk. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu bangkit untuk menemuinya di sebuah ruangan. Beliau langsung menarik baju Umar dengan kuat dan berkata, “Apa yang membuatmu datang kesini wahai Ibnu Khaththab? Demi Allah, menurutku engkau tidak akan berhenti sampai Allah menurunkan bencana atasmu!!”

Umar segera menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang padamu untuk menyatakan keimananku pada Allah dan rasul-Nya serta pada apa yang dibawanya dari sisi Allah.”

Serta merta Rasulullah meneriakkan takbir. Mendengar itu seisi rumah pun tahu bahwa Umar telah masuk Islam.

Akhirnya Umar bergabung bersama 40 orang yang telah lebih dahulu beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Peristiwa itu terjadi pada tahun keenam kenabian.

4.    Mendapat julukan Al-Faruq
Di hari saat Umar bin Khaththab menyatakan keislamannya, dia berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di jalan yang benar apabila kita mati ataupun hidup?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “ Benar, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kalian berada pada jalan yang benar apabila kalian mati ataupun hidup.”

Umar lalu berkata, “Kalau begitu kenapa kita harus bersembunyi? Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran Islam, kita harus keluar!”

Maka kami pun keluar dalam dua barisan. Hamzah berada dalam satu barisan, sementara Umar dalam barisan yang lain. Derap langkah kaki mereka menerbangkan pasir jalanan yang mereka lalui, sampai akhirnya mereka masuk ke dalam Masjidil Haram.

Umar berkata, “Kaum Quraisy melihat saya dan Hamzah, mereka pun merasakan kekuatan yang sebelumnya mereka rasakan, maka pada hari itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberiku julukan Al-Faruq.”

5.    Menampakkan keislamannya
Umar melaksanakan keislamannya dengan kualitas yang prima, dia memperlihatkan keislamanya dengan suara yang menggelegar hingga menusuk-nusuk telinga kaum musyrikin. Umar berkata, “Demi Allah, di setiap majlis yang dulu aku sering datangi pada saat aku masih kafir, aku menampakkan keislamanku tanpa merasa takut dan khawatir.”

Dia pun dengan sengaja pergi ke rumah Abu Jahal, mengetuk pintu rumahnya. Saat ditanya, “Siapa di luar?” Dia menjawab dengan lantang, “Umar bin Khaththab, sungguh saya telah masuk Islam.” Abu Jahal langsung membanting pintu di hadapan wajahnya. Lalu Umar pergi menemui pemuka Quraisy yang lainnya dan melakukan hal yang sama. Hingga dia bertanya-tanya dalam dirinya, “Ada apa ini, kaum muslimin lain mengalami berbagai gangguan, kenapa saya tidak?”

Hingga dia meminta pada seseorang yang biasa menyebar berita di kalangan Quraisy untuk menyiarkan berita keislamannya. Orang itu bernama Jamil bin Ma’mar Al-Jumahi. Umar mendatanginya dan berkata padanya, “Apakah kamu sudah tahu wahai Jamil, bahwa saya sudah masuk Islam. Saya sudah menjadi pengikut agama Muhammad!”
Jamil tidak menunggu Umar mengulangi ucapannya, langsung bangkit menarik gamisnya dan berdiri di depan pintu Masjidil Haram lalu berteriak sekencang mungkin, “Wahai masyarakat Quraisy, ketahuilah bahwa Umar telah menyimpang!” Umar berkata di belakangnya, “Bohong, yang benar adalah aku telah masuk Islam dan aku telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Orang-orang Quraisy yang berada di sana langsung menyerang Umar. Mereka pun terlibat perkelahian sampai tengah hari dan Umar merasa kelelahan. Umar lalu duduk seraya berkata, “Silahkan lakukan apa saja yang ingin kalian lakukan! Saya bersumpah dengan nama Allah, jika kami ada berjumlah 300 orang, maka kami akan meninggalkan tanah ini untuk kalian atau kalian yang meninggalkan tanah ini untuk kami.”

Abdullah bin Mas’ud menggambarkan besarnya peran keislaman Umar dalam mendukung Islam dan kaum muslimin, “Islamnya Umar menjadi pembuka jalan, hijrahnya menjadi penolong, kepemimpinannya menjadi rahmat. Saya sempat mengalami bahwa kami kaum muslimin tidak bisa shalat di Baitullah, hingga Umar masuk Islam. Ketika Umar masuk Islam, dialah yang menghadapi kaum musyrikin Quraisy hingga akhirnya kami dibiarkan shalat di sana.”

B.    PERSAHABATANNYA DENGAN RASULULLAH, HIJRAH, DAN PERANG YANG DIIKUTI

1. Hijarahnya Umar
Ketika kebanyakan kaum muslimin hijrah ke Madinah dengan cara sembunyi-sembunyi, Umar justru bersikeras untuk hijrah secara terang-terangan agar dapat menjadi cambukan bagi kaum Quraisy dan pukulan keras bagi jiwa mereka. Ali bin Abi Thalib menceritakan hal tersebut, “Setahu saya, setiap kaum muslimin hijrah dengan cara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khaththab. Saat dia merasa mantap untuk hijrah, Umar menenteng sebilah pedang ditangannya, meletakkan busur dipundaknya, Umar memegang beberapa anak panah dengan tangan kirinya. Kemudian Umar mendatangi Ka’bah, menemui tokoh-tokoh Quraisy dan tetua mereka, yang selalu mengintimidasi kaum muslimin Mekah saat itu. Dia melakukan Thawaf tujuh kali di Ka’bah, kemudian shalat dua raka’at di maqam Ibrahim. Setelah itu Umar mendatangi kelompok-kelompok orang Quraisy yang berada di sana dan berkata, “Wahai wajah-wajah yang tidak bersinar, barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, barang siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, barang siapa yang ingin istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah ini, Umar menantang. Tidak seorang pun berani mengikutinya, kecuali orang-orang lemah yang diberi pelajaran dan petunjuk oleh Umar. Dia pun berangkat hijrah dengan disaksikan oleh kaum musyrikin Mekah.

2. Beberapa perang yang diikuti Umar
Telah terjadi berbagai pertempuran dan peristiwa berat antara kelompok haq dan batil. Umar bin Khaththab menyaksikan berbagai peristiwa tersebut bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Bahkan di setiap pertempuran yang terjadi, Umar selalu memberi sumbangan pikiran dan memiliki peran yang nyata.

Saat perang Badar baru saja usai dan beberapa orang menjadi tawanan kaum muslimin, timbul persoalan di antara mereka, apa yang harus dilakukan kepada para tawanan tersebut. Umar menceritakan peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meminta pendapat pada Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Umar.”

Abu Bakar berpendapat, “Wahai Rasulullah, mereka adalah sepupu dan kerabat kita, menurut saya, sebaiknya kita mengambil tebusan dari mereka untuk menambah kekuatan kita atas orang-orang kafir, semoga mereka mendapat hidayah dan menjadi pendukung kita di kemudian hari.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya padaku, “Bagaimana menurutmu wahai Ibnu Khaththab?”

Saya menjawab, “Demi Allah, saya berbeda pendapat dengan Abu Bakar. Menurut saya, engkau memberi izin padaku untuk membunuh si fulan (yang merupakan kerabat Umar sendiri), lalu izinkan Ali bin Abi Thalib membunuh Aqil, dan Hamzah membunuh si fulan (Saudara Hamzah sendiri), agar Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat bahwa tidak ada sedikit pun dalam hati kita kecenderungan pada kaum musyrikin. Sedangkan mereka ini adalah pemuka dan ksatria kaum musyrikin!”

Akhirnya Rasulullah lebih setuju dengan pendapat Abu Bakar dan tidak menyetujui pendapatku. Beliau pun mengambil tebusan dari mereka.”

Tak lama berselang, turunlah wahyu yang sejalan dengan pendapat Umar, “Tidaklah pantas, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil.” (QS. Al-Qur’an-Anfal [8]: 67-68).

Pada perang Uhud Umar termasuk orang yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika kaum muslimin bercerai-berai dan berhasil dikalahkan oleh kaum musyrikin. Umarlah yang menantang Abu Sufyan ketika dia merasa telah menang. Waktu itu Abu Sufyan berkeliling seraya menanyakan, “Apakah di antara kalian ada Muhammad?” dia menanyakan itu tiga kali. Lalu, “Apakah di antara kalian ada putra Abu Quhafah (Abu Bakar)?” dia bertanya tiga kali. Lalu, “Apakah di antara kalian ada putra Khaththab?” sebanyak tiga kali. Kemudian dia kembali menemui pasukannya dan berkata, “Mereka semua telah terbunuh!”

Mendengar itu Umar tidak dapat menahan diri. Dia langsung berteriak, “Engkau bohong wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan itu masih hidup dan masih tersisa untukmu suatu hal yang menyakitkan hatimu!”

Kemudian Abu Sufyan menyerukan kalimat pujian atas tuhan-tuhannya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu memilih Umar untuk menimpalinya karena Umar memiliki suara yang keras dan lantang.

Abu Sufyan berkata, “Agungkan Hubal!”

Umar menimpali, “Allah yang maha tinggi dan maha agung!”

Abu Sufyan berkata, “Kami punya Uzza, sedangkan kalian tidak!”

Umar menimpali, “Allah penolong kami sedangkan orang-orang kafir tidak memiliki penolong!”

Abu Sufyan berkata, “Hari ini adalah balasan untuk perang Badar. Hari selalu berputar, dan perang adalah perlombaan.”

Umar menjawab, “Tidaklah sama, orang yang terbunuh dari kami di Surga sedangkan yang terbunuh dari kalian masuk Neraka!”

Kemudian pada peristiwa perdamaian Hudabiyah, setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya di larang melakukan umrah dan thawaf di baitullah, terjadilah kesepakatan damai. Waktu itu Umar melihat bahwa dalam perjanjian tersebut terdapat banyak hal yang menguntungkan kaum musyrikin. Menurutnya selama mereka dalam pihak yang salah, maka harus diperangi dan harus dihabisi. Kebenaran harus di junjung tinggi dan tidak ada kompromi, harus diperjuangkan dan tidak boleh ada gencatan senjata. Begitulah Umar memahami persoalan tersebut dan demikianlah menurutnya yang seharusnya dilakukan.

Maka dia segera menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan melontarkan pertanyaan, “Bukankah engkau benar-benar Nabi yang diutus oleh Allah?” Rasulullah mengiyakan. Umar bertanya lagi, “Bukankah kita berada pada pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang salah?” Rasulullah kembali mengiyakan. Umar terus bertanya, “Lalu kenapa kita merendahkan agama kita?” Kali ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Aku adalah utusan Allah, aku tidak akan melanggar perintahnya, dan Dia adalah penolongku.”

Kata-kata beliau, “Aku adalah utusan Allah” langsung menghujam ke telinga dan hati Umar. Memang beliau seperti itu, dia tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Maka wajib taat dan patuh pada keputusan beliau. Maka Umar pun ikut serta berbaiat pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam peristiwa bai’atur ridhwan.
Selain itu, Umar juga ikut dalam berbagai peristiwa selanjutnya, seperti perang Khaibar, Fathu Makkah, perang Hunain, perang Tha’if, perang Tabuk, dan berbagai peristiwa lainnya.

3. Kecintaan dan pembelaan Umar terhadap Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam
Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memegang tangan Umar, lalu dia berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh saya sangat mencintai engakau lebih dari apapun, selain diriku.” Rasulullah menyanggahnya, “Tidak, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, hingga saya lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Maka sesungguhnya sekarang, demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari diriku sendiri.” Rasulullah berkata, “Sekarang baru engkau mengatakan yang benar wahai Umar.”

Sungguh teramat jelas pernyataan yang disampaikan Umar tersebut, dia sangat jujur dalam pengakuannya, sangat cepat dalam merealisasikannya, dan sangat kuat dalam meninggalkan kehidupan duniawi untuk masuk ke dalam keharibaan iman. Dia tidak pernah ragu dalam menjawab dan selalu menyegerakan diri untuk memenuhi panggilan, sebuah karakter yang luar biasa yang tiada duanya.

Sejak saat itu, Umar berusaha untuk membuat dirinya mencintai segala hal yang dicintai dan diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Seperti yang nampak pada kejadian saat paman Nabi, Abbas bin Abdul Mutthalib menjadi salah satu tawanan perang Badar di bawah pengawasan seorang Anshar yang mengancam akan membunuhnya. Ketika ancaman tersebut terdengar oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau berkata, “Saya tidak akan bisa tidur malam ini karena memikirkan pamanku Abbas. Kaum Anshar bertekad untuk membunuhnya!” Umar bertanya, “Apakah sebaiknya saya mendatangi mereka?” Nabi mengiyakan. Umar pun pergi menemui kaum Anshar dan berkata pada mereka, “Lepaskan Abbas!” Mereka menolak untuk melepaskan Abbas. Lantas Umar mengatakan, “Meskipun Rasulullah meridhainya?” Mereka pun menjawab, “Jika Rasulullah meridhainya ambillah!”

Umar pun mengambil Abbas. Setelah berada di tangannya Umar berkata padanya, “Wahai Abbas, masuk Islamlah, demi Allah, keislamanmu lebih saya sukai daripada keislaman Khaththab (Ayah Umar). Karena saya melihat betapa Rasulullah sangat mengharpkan keislamanmu.”

Bahkan, segala sesuatu yang datang dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sangatlah diagungkan, dihargai, dan dihormati Umar.

Abdullah bin Abbas pernah meriwayatkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa khalifahan Umar. Dia berkata, “Waktu itu Abbas memiliki saluran air yang melintasi jalan yang biasa dilalui Umar. Suatu hari Umar telah berpakaian rapi hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Pada saat bersamaan, di rumah Abbas sedang disembelih dua ekor burung, ketika dituangkan air untuk membersihkan darah bekas sembelihan, air itu mengalir ke saluran air tersebut dan mengenai Umar. Umar pun memerintahkan agar saluran air itu di pinda, kemudian dia kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian dan berangkat lagi ke masjid untuk mengimami shalat Jum’at.

Seusai shalat Abbas mendatangi dan berkata padanya, “Demi Allah, tempat saluran iu merupakan tempat yang dipilih oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Mendengar itu Umar berkata pada Abbas, “Kalau begitu saya bertekad, engkau harus naik ke atas punggung saya untuk meletakkan kembali saluran air itu ke tempat yang telah ditentukan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.” Abbas pun melakukannya.

Rasa cinta yang luar biasa terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tersebut diiringi juga dengan ketaatan mutlak atas segala perintah Rasulullah, termasuk dalam hal mengikuti segala yang beliau kerjakan. Pada saat Umar melaksanakan haji, dia melakukan manasik haji persis seperti yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Sampai kemudian mendatangi hajar aswad dan menciumnya, lalu dia berkata, “Sungguh saya tahu engkau hanyalah sebuah batu yang tidak memberi bahaya atau manfaat, kalaulah saya tidak melihat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menciummu, saya tidak akan menciummu.”

Kemudian dia berkata, “Kenapa kita harus berjalan cepat. Dulu kita memperlihatkannya pada kaum musyrikin untuk menunjukkan kekuatan kita, dan sekarang mereka telah dibinasakan oleh Allah.” Lalu Umar melanjutkan, “Sesuatu yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak ingin kita tinggalkan.”

Itulah Umar, di satu kesempatan dia menampakkan kepatuhannya, sementara di kesempatan yang lain dia pun menampakkan kekuatannya. Kita dapat menyaksikan bagaimana Umar selalu tampil membela Rasulullah setiap kali dia menemukan sesuatu yang menodai kehormatan risalah dan kenabian Rasulullah. Bukan hanya untuk membela kedudukan Nabi yang mulia saja, tapi dia sangat yakin bahwa apapun tindakan yang merendahkan pribadi Rasulullah, berarti penodaan terhadap kehormatan syariat dan pelecehan atas kesuciannya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menagih hutang. Zaid sejatinya sudah mengetahui seluruh tanda kenabian pada diri Rasulullah, kecuali dua hal, yaitu kemurahan hatinya melebihi ketidak tahuannya dan ketidak tahuan yang sangat atas dirinya hanya akan menambah kemusahan hatinya.

Zaid menceritakan, “Ketika hutangnya jatuh tempo, saya mendatangi Muhammad, saya langsung menarik bagian depan bajunya, waktu itu dia sedang bersama para shahabatnya, lalu menatapnya dengan pandangan bengis dan berkata padanya, “Hai Muhammad, ayo berikan hakku! Demi Allah, saya tidak pernah tahu kalau Bani Abdul Mutthalib suka mengulur-ngulur waktu pembayaran hutang.”

Waktu itu menatap padaku dengan mata terbelak karena marah. Umar lalu berkata, “Hai musuh Allah, beraninya engkau mengatakan itu dan berbuat begitu pada Rasulullah? Demi Dzat yang mengutusnya dengan membawa kebenaran, kalau tidak karena saya menjaga diri dari kecamannya, pasti sudah kupenggal kepalamu!”

Pada peristiwa lain, saat perang Badar telah usai, kaum musyrikin saling mengenang orang-orang yang terbunuh dari kalangan mereka. Seseorang bernama Umair bin Wahab Al-Jumahi bertekad untuk membunuh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia menghunus pedangnya dan berangkat ke Madinah. Sesampainya di depan pintu masjid, Umar melihatnya, waktu itu Umar sedang berada di kerumunan kaum muslimin. Umar berkata, “Anjing ini adalah musuh Allah,  Umair bin Wahab. Demi Allah, kedatangannya pasti untuk bermaksud jahat. Dialah yang merusak hubungan di antara kita dan dialah yang memperkirakan jumlah kita pada saat perang Badar.”

Umar langsung menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang sambil menghunus pedang!” Rasulullah berkata, “Bawa dia masuk!”

Umar pun menemuinya, mengambil gantungan pedangnya dari lehernya dan menarik leher bajunya. Lalu dia berkata pada beberapa orang Anshar yang tadi bersamanya, “Masuklah dan duduklah bersama Rasulullah. Jagalah beliau dari penjahat ini, dia tidak bisa dipercaya.” Kemudian barulah Umar membawanya masuk menemui Rasulullah.

C. AKHLAK, SIFAT, KEILMUAN, DAN KEDUDUKAN UMAR

1. Keimanan, keberagamaan, dan ketakwaan Umar
Umar telah mencapai puncak tertinggi dalam hal keimanan dan ketaqwaan, dalam ibadah dan ketaatan. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mendapat sebuah mimpi yang menakjubkan tentangnya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Saat saya sedang tidur, saya melihat orang-orang dihadapkan padaku. Mereka semua memakai gamis, ada yang sebatas dada dan ada yang lebih rendah dari itu. Lalu dihadapkan kepadaku Umar bin Khaththab, dia menggunakan gamis yang terjurai.” Orang-orang lalu bertanya, “Bagaimana engkau menafsirkan mimpimu wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “(Pakaian itu melambangkan) Agama.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan dengan sebuah kalimat pendek bagaimana Umar telah mencapai tingkat keberagamaan yang tinggi, sehingga keimanan benar-benar melekat kuat pada dirinya.

Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam melihat Umar mendekat padanya. Beliau berkata, “Ketahuilah Wahai Ibnu Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh tak ada setan yang berpapasan denganmu di suatu jalan melainkan setan tersebut akan berpaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu.”

Para setan saja lari menghindari sosok mukmin yang hebat ini. Setan merasa putus asa atasnya karena tindakan-tindakannya senantiasa dilaksanakan pada tekad yang kuat. Jika dia berbicara, bicaranya benar, jika mengimani sesuatu, imannya mantap. Dia tidak suka membicarakan hal yang tidak berguna, tidak suka melakukan perbuatan yang mungkar. Tepat apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib mengenai Umar, “Kami para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak ragu behwa ketenangan itu diucapkan melalui lisan Umar.”

Abdullah bin Syaddad menceritakan tentang kekhusyukan Umar. Dia berkata, “Saya mendengar isak tangis Umar Radiyallahu ‘Anhu meski saya berada pada shaf yang paling akhir pada saat shalat subuh. Waktu itu dia membaca surat Yusuf, hingga sampai ayat, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf [12]: 86).

Sedangkan Ubaid bin Umar mengatakan, “Umar bin Khaththab mengimami kami shalat Subuh, maka dia membaca surat Yusuf hingga samapi ayat, “Kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dan diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya)” (QS. Yusuf [12]: 84). Dia lalu menangis dan tidak sanggup melanjutkan bacaannya, maka dia pun langsung ruku’.”

Umar suka melakukan shalat di saat larut malam. Salah seorang istrinya menceritakan, “Waktu itu dia shalat Isya, kemudian dia menyuruh meletakkan bejana kecil yang berisi air di arah kepalanya. Ketika dia bangun pada malam hari, dia meletakkan tangannya di air, lalu mengusapkannya pada wajahnya. Kemudian dia berdzikir pada Allah. Dia terbangun beberapa kali, sampai kemudian tiba saat dia bangun untuk mengerjakan shalat.”

Jika pulang ke rumah, dia selalu membuka mushaf dan membacanya. Terkadang dia mengundang Abu Musa Al-Asy’ari, shahabat yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan indah, lalu berkata padanya, “Ingatkan kami pada Tuhan kami Subhanahu wa Ta’ala.” Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur’an untuknya.

Di samping itu Umar senantiasa berpuasa sepanjang tahun. Pada masa kekhalifahannya dia memimpin pelaksanaan haji sepuluh kali berturut-turut.
Mengenai kedermawanannya, pembantunya Aslam mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang lebih dermawan sampai akhir hayatnya melebihi Umar bin Khaththab.”

Kezuhudannya juga luar biasa. Muawwiyah menggambarkannya dengan sangat indah. Dia berkata, “Adapun Abu Bakar, dia tidak menginginkan dunia dan dunia pun tak menginginkannya. Sedangkan Umar, dunia menginginkannya sementara dia tidak menginginkan dunia.”

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Umar tidak mendahului kami dalam berhijrah, tapi saya tahu satu hal yang membuatnya melebihi kami, dia orang yang paling zuhud terhadap dunia di antara kami semua.”

Ketika Umar Al-Faruq sedang menghadapi masa-masa kritis menjelang wafatnya, beberapa orang shahabatnya duduk di dekatnya, memuji apa yang telah dipersembahkannya untuk Islam. Pada kesempatan tersebut Umar justru berkata, “Demi Allah, kalau saya memiliki segunung emas, pasti akan saya gunakan untuk menebus diri saya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum saya menemui-Nya.”

Umar juga kerap mengulang-ngulang ucapan berikut ini saat berkumpul bersama para shahabatnya, “Kalau ada seruan dari langit mengatakan, “Wahai sekalian manusia, kalian semua akan masuk surga kecuali satu orang,” saya pasti sangat takut kalau-kalau orang itu ternyata saya. Kalau ada seruan mengatakan, “Wahai sekalian manusia, kalian semua akan masuk neraka kecuali satu orang,” saya pasti sangat berharap orang itu adalah saya.”

Suatu kali dia sedang melaksanakan thawaf mengelilingi ka’bah. Dia memanjatkan do’Ali berikut, “Ya Allah, jika Engkau menuliskan aku dalam kebahagian, tetapkanlah aku di sana. Jika Engkau menuliskanku dalam kesengsaraan hapuslah aku darinya dan tetapkanlah aku dalam kebahagiaan. Sesungguhnya Engkau menghapus dan menetapkan apapun yang Enggkau kehendaki dan di sisimulah Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).

2. Ucapannya yang benar dan kesesuaiannya
Di antara sifat Umar bin Khaththab yang membuatnya berbeda dari yang lain adalah ucapannya yang benar, dia tidak pernah takut terhadap celaan orang dalam menyampaikan kebenaran. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mengatakan tentang hal tersebut. “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kebenaran melekat pada lisan dan hati Umar.”

Umar telah mendampingi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada masa itu banyak wahyu yang turun, Rasulullah pun menyampaikannya pada semua orang, mengajari mereka, dan memberi penjelasan. Di samping itu terjadi berbagai peristiwa, muncul banyak persoalan, yang kadang membutuhkan pendapat para shahabat. Dalam hal ini Umar kerap memberi sumbangan pemikiran, lalu datang wahyu mendukung pemikiran tersebut. Bahkan Umar sering menginginkan sesuatu berubah, menganggap baik beberapa hal lain, berharap terjadi sesuatu, lalu wahyu pun turun sesuai dengan apa yang dibicarakan atau diinginkan oleh Umar.

Inilah nikmat luar biasa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Umar. Rasulullah menjelaskan hal tersebutdengan sabdanya, “Pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang ucapannya selalu sejalan dengan kebenaran, apa-apa yang dipikirkannya seringkali terjadi karena dia mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika di antara umatku ada yang seperti itu, maka Umar adalah salah satunya.”

Umar sendiri menceritakan, “Saya mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tiga hal. Saya pernah berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat?” maka turun ayat, “Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.”(QS. Al-Baqarah [2]: 125). Lalu saya pernah menyarankan, “Bagaimana jika engkau perintahkan para ummul mukminin menggunakan hijab?” maka Allah menurunkan ayat hijab. Kemudian suatu saat saya mendengar keluhan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam atas sebagian istrinya, maka saya pun menemui mereka dan mengatakan, “Berhentilah kalian mengeluh atau Allah akan mengganti kalian untuk Rasulullah dengan yang lebih baik dari kalian.” Saat aku mengatakan hal itu pada salah satu istri beliau, dia menjawab, “Wahai Umar, tidakkah ada pada Rasulullah nasihat untuk istri-istrinya, hingga engkau yang menasehati mereka?” Maka Allah menurunkan ayat, “Boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh.” (QS. At-Tahrim [66]: 5).

Di antara pandangan Umar juga, hendaknya orang munafik itu tidak boleh dishalatkan ketika meninggal dunia, karena mereka telah menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka pun telah melampaui batas dalam kemunafikannya. Maka turun ayat yang menyatakan hal tersebut.

Umar menceritakan, “Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam diminta untuk menshalatinya. Pada saat beliau telah berdiri untuk menshalati, saya mendekati beliau dan berbisik padanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menasehati Ibnu Ubay, sementara pada waktu itu dia berkata begini-begitu?” saya pun menyebutkan beberapa ucapannya pada Rasulullah. Beliau lalu tersenyum dan berkata, “Mundurlah hai Umar.”  Namun saya terus berusaha menjelaskan, sampai akhirnya beliau berkata, “Saya diberi pilihan, maka saya harus memilih. Seandainya saya tahu bahwa jika saya memintakan ampunan kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali  dia akan diampuni, pasti saya akan lebihkan!”

Umar melanjutkan ceritanya, “Maka Rasulullah pun akhirnya menshalati Abdullah bin Ubay. Setelah selesai beliau pun pergi, tak lama berselang turun dua ayat dari surat Bara’ah (At-Taubah), “Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(QS. At-Taubah [9]: 84). Setelah itu baru saya terperengah mengingat betapa beraninya saya tadi mempengaruhi Rasulullah. Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Umar juga pernah memendam keinginan agar khamar diharamkan. Dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang tuntas.” Maka Allah pun menurunkan ayat tentang pengharaman khamar.
Termasuk juga turunnya ayat yang memperkuat pendapatnya terkait tawanan perang Badar dan berbagai situasi lainnya yang jumlahnya cukup banyak.

3. Ketegasan Umar dalam membela kebenaran
Jika sebelum menyatakan keislamannya Umar terkenal sebagai sosok yang keras menentang Islam, maka setelah masuk Islam Umar menjelma menjadi sosok yang keras dalam membela Islam. Dia berusaha menampakkan kemuliaan Islam dan kaum muslimin sejelas mungkin. Maka kekuatannya yang luar biasa itu berubah menjadi sesuatu yang menguntungkan kaum muslimin, sehingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan dalam sabdanya, “Umatku yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar dan yang paling keras di antara mereka dalam membela agama Allah adalah Umar.”

Suatu ketika Abu Sufyan bin Harb datang ke Madinah dengan tergesah-gesah untuk meminta maaf atas nama Quraisy atas pelanggaran yang mereka lakukan terhadap perjanjian Hudaibiyah, sekaligus ingin memperkuat kembali akad perjanjian tersebut dan memperpanjang masa berlakunya. Dia berusaha melobi beberapa shahabat, namun tidak mendapat respon yang positif. Ketika dia mencoba melobi Umar untuk memberinya dukungan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Umar justru mencelanya, “Aku merekomendasikan kalian pada Rasulullah? Demi Allah, kalaulah saya tidak mendapatkan selain seekor semut kecil, pasti telah kuperangi kalian dengannya!”

Maksudnya adalah firman Allah Ta’ala, “(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohon ampunan bagi mereka…” (QS. At-Taubah [9]: 80)

Umar melanjutkan kata-katanya, “Apa yang baru dari perjanjian kita telah dijadikan usang oleh Allah, apa yang kuat telah diputus-Nya, apa yang terputus takkan disambung-Nya kembali.”

Kerasnya sikap Umar dan kewibawaannya menembus ke dalam hati setiap orang. Bahkan di kalangan para shahabatnya sendiri Umar sangat disegani. Sa’ad bin Abi Waqqash menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di rumah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

“Pada suatu ketika Umar bin Khaththab pernah meminta izin untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saat itu ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau secara panjang lebar dan dengan suara yang lantang. Setelah Umar meminta izin untuk masuk, maka kaum wanita itu segera berdiri dan bersembunyi dibalik tirai (hijab). Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mempersilahkan Umar masuk sambil tersenyum-senyum, Umar berkata, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Hai Umar, sebenarnya aku sendiri merasa heran dengan kaum wanita yang berada bersamaku tadi. Karena, ketika mereka mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi.” Umar berkata, “Sebenarnya engkaulah yang lebih berhak mereka segani.” Kemudia Umar menoleh ke tabir tempat para wanita itu bersembunyi dan berkata, “Hai orang-orang yang menjadi musuhnya sendiri, apakah kalian merasa segan kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah?” Kaum wanita Quraisy itu pun menjawab, “Ya, karena engkau lebih keras dari Rasulullah!” Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada digenggaman-Nya, sungguh tak ada setan yang berpapasan denganmu di suatu jalan wahai Umar, melainkan setan tersebut akan beroaling ke jalan lain untuk menghindar dari jalanmu.”

Karakter keras yang dimiliki oleh sososk Umar serta ketegasannya dalam berpendapat tidaklah sampai kelewat batas atau melanggar kebenaran seujung jaripun, akan tetapi dia akan segera berhenti dari keinginannya.”

Bilal bin Rabah pernah bertanya pada Aslam, pembantu Umar, “Bagaiman pendapat kalian tentang Umar?” Jawab Aslam, “Dia sebaik-baik manusia, kecuali jika dia marah, menjadi masalah besar!” Bilal pun berkata, “Jika saya sedang berada di dekatnya saat dia marah, saya bacakan Al-Qur’an sampai marahnya redah.”

Malikud-Dar, pembantu Umar yang lain mengatakan, “Suatu hari Umar membentak saya dan memukul saya dengan cambuk, saya katakan padanya, “Saya ingatkan engkau dengan Allah!” Umar langsung melemparkan cambuknya dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingatkanku dengan sesuatu yang besar.”

4. Keilmuan Umar dan hadits yang diriwayatkannya serta orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya
Umar diberi oleh Allah kepintaran yang luar biasa. Dia merupakan salah satu ulama besar di kalangan shahabat. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sempat memuji nikmat yang diberikan oleh Allah pada Umar ini dan mengingatkan para shahabat tentang nikmat tersebut agar mereka menyerapnya dari Umar. Beliau bersabda, “Ketika tidur, saya bermimpi diberi segelas susu. Saya pun meminumnya hingga saya merasakan kesegaran sampai ke ujung kuku. Kemudian sisa susu tersebut kepada Umar bin Khaththab.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa takwil mimpi tersebut?” Jawab Rasulullah, “Itu tentang ilmu.”

Umar selalu berusaha untuk dapat hadir dalam majlis ilmu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak satupun yang luput darinya. Umar menceritakan hal tersebut, “Dulu saya dan tetangga saya dari kaum Anshar tinggal di komplek Bani Umayyah bin Zaid, di pinggir kota Madinah. Kami bergantian dalam menghadiri majlis ilmu Rasulullah. Sehari dia yang hadir, sehari kemudian saya yang hadir. Jika saya yang hadir, saya akan menyampaikan kepadanya. Jika dia yang hadir, dia pun melakukan hal yang sama.”

Abdullah bin Mas’ud menggambarkan betapa tingginya tingkat keilmuan Umar pada hari wafatnya Umar. Dia berkata, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di satu sisi timbangan dan sisi lainnya diisi dengan ilmu semua orang di muka bumi ini, pasti ilmu Umar lebih berat dari ilmu mereka. Menurut mereka Umar memperoleh sembilan dari sepuluh ilmu. Aku lebih percaya pada majelis yang kuhadiri bersama Umar daripada pekerjaan yang kulakukan selam setahun.”

Hudzaifah bin Yaman mengatakan, “Seakan-akan ilmu seorang itu menyelinap ke dalam hati Umar.”

Di antara shahabat yang meriwayatkan ilmu darinya adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, putranya Abdullah bin Umar, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Amr bin Ash, Ibnu Abbas, Muawiyah bin Abi Sufyan, Adi bin Hatim, Zaid bin Tsabit, Ibnu Zubair, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Hurairah, Ummul mukminin Aisyah, putrinya Hafshah, dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabiin tak terbilang banyaknya.

5. Termasuk Ahli Surga
Cukup banyak kabar gembira yang tercantum dalam berbagai hadits shahih yang menyatakan bahwa Umar merupakan salah satu shahabat yang memperoleh jaminan surga.

Pada suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sedang duduk berbincang bersama para shahabatnya, beliau pun bersabda, “Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi bahwa saya sedang berada di surga. Tiba-tiba ada seorang perempuan berwudlu di samping sebuah istana. Saya bertanya padanya, “Istana siapa ini? Dia menjawab, “Milik Umar.” Lantas saya teringat akan sifat cemburu Umar, saya pun segera pergi dari sana.” Umar yang saat itu berada bersama Rasulullah menangis. Kemudian dia berkata, “Bagaimana mungkin saya cemburu kepada engkau wahai Rasulullah.”

Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, “Waktu saya sedang bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam di sebuah kebun di Madinah, tiba-tiba datang seseorang meminta dibukakan pintu. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Abu Bakar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Abu Bakar langsung mengucap hamdalah. Tak lama kemudian datang lagi seseorang yang meminta dibukakan pintu.  Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Umar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Umar langsung mengucapkan hamdalah.”

Sementar Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, “Dua orang ini merupakan pemuka orang-orang dewasa di kalangan ahli surga dari generasi pertama sampai terakhir, kecuali para Nabi dan Rasul. Jangan kau beritahu mereka wahai Ali.”

6. Kedudukannya di mata Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para sahabat
Di mata Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya, Umar menempati posisi kedua setelah Abu Bakar Radiyallahu ‘Anhuma.

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Saya tidak tahu sampai kapan saya bersama kalian, Maka ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.”

Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menjelaskan kedudukan Umar di sisinya dan di sisi umat Islam. Beliau amat meninggikan kedudukannya dari yang lalu-lalu ketika berkata, “Seandainya ada Nabi setelahku, pasti yang diangkat menjadi Nabi adalah Umar bin Khaththab!”

Di samping itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sering mengatakan, “Waktu itu saya, Abu Bakar, dan Umar..”, “Saya, Abu Bakar, dan Umar melakukan…”, “Saya, Abu Bakar, dan Umar berangkat…” atau “Saya, Abu Bakar, dan Umar mengimani hal itu.”
Karena itu, Umar seolah-olah menempati posisi sebagai menteri kedua bagi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam setelah Abu bakar. Kedua tokoh itu ibarat pendengaran dan penglihatan Nabi.

Para shahabat pun menempatkan Umar pada posisi tersebut. Mereka menghormati Umar sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menghormatinya. Mereka mempersilakan Umar menjadi imam shalat ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sedang sakit sementar Abu bakar tidak berada di masjid. Karena mereka tahu bahwa Umar adalah yang paling pantas di antara semua yang hadir waktu itu.

Bahkan Abu Bakar pernah mengumumkan pada semua orang, “Tidak ada orang yang paling saya cintai di muka bumi ini selain umar.”

Abdullah bin Umar mengatakan, “Dulu kami pada zaman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak melihat ada yang menyamai Abu bakar, kemudia Umar, kemudian Utsman. Setelah itu kami tidak mencoba membanding-bandingkan para shahabat Rasulullah yang lain.”

D. KEKHALIFAHAN UMAR, KEBIJAKAN DAN PERAN-PERAN PENTINGYANG DILAKUKANNYA

1. Pengangkatannya sebagai khalifah dan latar belakangnya
Umar menjadi khalifah berdasarkan keputusan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan disetujui oleh kaum muslimin. Mereka membaitnya secar umum di masjid. Umar pun menerima amanah kekhalifahan itu meski dia tidak menyukainya. Dia naik ke atas mimbar Nabi, namun dirinya menolak untuk berdiri persis di tempat Abu Bakar berdiri dan hal itu disampaikan terus terang kepada semua orang. Umar berkata, “Allah tidak melihatku menganggap diriku berhak menempati majlis Abu bakar.” Maka dia menuruni satu anak tangga mimbar.
Kemudian dia menghadap ke kaum muslimin dan memulai pidatonya, “Wahai manusia, sesungguhnya saya diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya bukan karena adanya harapan agar saya menjadi yang terbaik untuk kalian, yang terkuat atas kalian, dan yang paling kuat memikul urusan kalian, saya tidak akan bersedia , menjadi pemimpin kalian. Cukuplah bagi Umar untuk menunggu hisab.

Jika saya tahu bahwa ada orang lain yang lebih kuat memikulnya daripada saya, tentu saya dimajukan dan dipenggal leher saya, lebih saya sukai daripada saya menjadi pemimpinnya.”

Umar melanjutkan, “Sesungguhnya Allah memuji kalian dengan diangkatnya saya sebagai pemimpin dan menguji saya dengan kalian. Allah menetapkan saya atas kalian setelah dua sahabatku tiada. Demi Allah, tidaklah datang padaku sesuatu dari perkara kalian, lalu seorang selain aku mengurusnya, dan tidaklah sesuatu itu tak tampak olehku, lalu saya tidak memberikan balasan yang setimpal dan tidak amanah, Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau mereka melakukan kejahatan, terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

Kemudian Umar menengadakan tangannya untuk berdoa dan meminta kaum muslimin untuk mengamini. Umar berdoa, “Ya Allah, saya ini sungguh keras, maka lunakkanlah hatiku! Ya Allah, saya sangat lemah maka berikanlah kekuatan! Ya Allah, Saya ini kikir maka jadikanlah aku orang yang dermawan dan murah hati!”

2. Kontribusi Umar
Umar menjabat sebagai khalifah kaum muslimin dalam rentang waktu yang cukup lama tanpa mendapatkan gaji dari baitul mal. Hingga dia mengalami kondisi yang sulit, dia lantas bermusyawarah dengan shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Umar bertanya, “Saya telah bekerja dalam urusan ini, apa yang pantas saya terima?” Usman bin Affan menjawab, “Makanlah dan beri makanlah (dari baitul mal).” Lalu Umar bertanya pada Ali, “Bagaimana menurutmu?” Ali menjawab, “Ambillah untuk makan siang dan makan malam,” Maka Umar pun mengambil untuk keperluan itu.

Umar menceritakan kondisinya setelah kaum muslimin menetapkan untuknya sejumlah gaji, “Halal bagiku dua potong pakaian, satu itu musim dingin dan satu lagi musim panas. Juga pakaian untuk haji dan umrah. Makananku dan makanan keluargaku sama dengan makanan seorang Quraisy yang bukan dari golongan kaya dan bukan juga dari golongan miskin. Selebihnya saya hanyalah salah satu dari kaum muslimin, mengalami apapun yang mereka alami.

Umar melanjutkan, “Saya memposisikan diri saya di hadapan harta milik Allah seperti memandang harta anak yatim. Jika saya telah merasa cukup, saya tidak menggunakannya dengan cara yang baik.”

Kondisi tersebut terus berlanjut tanpa ada perubahan, meskipun harta yang melimpah berserakan di hadapannya dan kekayaan kekaisaran Persia berada di bawah kekuasaannya. Putranya Abdullah mengatakan, “Umar memberi makanan darinya dan keluarganya dan memakai pakaian di musim panas (yang diambil dari baitul mal). Apabila ada sarungnya yang robek dia segera menambalnya. Dia tidak menggantinya hingga datang masa yang baru. Meski perolehan harta pada tahun itu melimpah, pakaiannya –sepanjang yang saya tahu- lebih jelek dari tahun lalu. Hafshah pernah mempertanyakan hal itu. Jawab Umar, “Saya mendapat pakaian dari harta kaum muslimin. Ini sudah cukup bagiku.”

“Jika Umar memiliki suatu kebutuhan, dia mendatangi penjaga baitul mal dan berhutang padanya. Sering kali dalam keadaan sulit, penjaga baitul mal datang menagih hutangnya. Maka Umar meminta penjadwalan ulang untuk pelunasan hutangnya. Terkadang, ketika gajinya keluar, langsung digunakan membayar hutang.”

3. Strategi Umar dalam pemerintahan
Umar menjelaskan pada semua orang bahwa seorang khalifah itu harus memiliki empat sifat. Dia berkata, “Hendaklah orang yang menjabat sebagai khalifah itu memiliki empat sifat, yaitu kelembutan yang tidak membuatnya lemah, ketegasan yang tidak membuatnya berperilaku kasar, kesederhanaan yang tidak membuatnya berprilaku bakhil, dan kedermawanan yang tidak membuatnya menghambur-hamburkan harta.”

Ibnu Abbas berkata, “Semua sifat itu tidak terpenuhi kecuali pada diri Umar bin Khaththab Radiyallahu ‘Anhu.”

Suatu hari Umar naik keatas mimbar untuk menyampaikan pada masyarakat kebijakan yang diambilnya sekaligus menjelaskan kewajibannya dan segala hal yang berkaitan dengan mereka. Umar berkata, “Aku dengar orang-orang merasa takut pada sikapku yang keras. Mereka berkata, “Umar bersikap keras ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam masih hidup ditengah-tengah kita, dia pun berperilaku keras pada saat Abu Bakar menjadi pemimpin kita. Bagaimana jadinya jika dia yang memegang tampuk kepemimpinan?’

Ketahuilah bahwa orang yang mengatakan hal tersebut benar belaka. Pada saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam masih hidup, saya menjadi pembantu dan penolong. Rasulullah adalah orang yang paling lembut dan penyayang, sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” Maka posisi saya adalah pedang yang terhunus, sehingga beliau menahan saya atau membiarkan saya bergerak. Saya tetap dalam posisi itu sampai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia dan beliau meridhainya. Segala puji bagi Allah atas hal yang demikian dan saya merasa bahagia dengannya.

Lalu Abu Bakar tampil menggantikan posisi Rasulullah sebagai pemimpin kaum muslimin. Dia pun terkenal dengan sifat pemaaf, pemurah, dan lemah lembut. Saya pun berposisi sebagai pembantu dan penolongnya. Bergabunglah antara sikap keras saya dan kelembutannya. Maka posisi saya seperti pedang yang terhunus, sehingga Abu Bakar menahan saya atau membiarkan saya bergerak. Saya tetap dalam posisi itu sampai Abu Bakar meninggal dunia dan dia merasa ridha terhadapku. Segala puji bagi Allah atas hal yang demikian, dan saya merasa senang dengannya.

Kemudian saya diangkat sebagai pemimpin kalian. Maka ketahuilah bahwa kekerasan sikapku itu telah melemah. Sikap itu hanyalah untuk orang-orang yang berbuat zhalim dan melakukan pelanggaran. Sedangkan terhadap orang-orang yang memegang teguh agamanya, saya akan bersikap lembut terhadap mereka, lebih lembut dari sikap sesama mereka. Tapi saya tidak akan membiarkan ada orang yang menzhalimi orang lain atau melanggar haknya, sampai saya meletakkan pipinya ke tanah dan dia mau kembali pada kebenaran. Sebaliknya, saya akan meletakkan pipi saya ke tanah untuk orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya dan tidak berlaku aniaya.

Saya berkewajiban memenuhi beberapa hal untuk kalian, maka tuntutlah hal tersebut:
Saya berkewajiban untuk tidak menarik pajak dari kalian dan dari apa yang Allah berikan pada kalian, kecuali yang seharusnya dibayarkan.

Saya berkewajiban apabila harta tersebut berada di tangan saya, untuk tidak mengeluarkannya kecuali pada hak yang semestinya.

Saya berkewajiban untuk meningkatkan kesejahteraan kalian dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya berkewajiban menjaga agar kalian tidak binasa. Jika kalian berangkat untuk berjihad bersama pasukan kaum muslimin, saya yang bertanggung jawab atas keluarga yang kalian tinggalkan sampai kalian kembali.

Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan tolonglah saya untuk kepentingan kalian dengan menahan diri dari menentangku, dan tolonglah saya untuk kepentingan saya dengan melakukan amar makruf nahi mungkar dan memberi nasehat terkait kepemimpinan yang saya jalani.”

Selanjutnya marilah kita saksikan bagaimana Umar menjalankan kepemimpinannya di antara rakyatnya, sejauh mana dia mampu mewujudkan janjinya kepada Allah dalam kepemimpinannya. Takkan kita temukan situasi yang menggambarkan Umar duduk berleha-leha di singgasana kepemimpinannya.

4. Sikapnya terhadap rakyat yang dipimpinnya
Umar menempatkan dirinya pada jalur petunjuk Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan khalifah pertama Abu Bakar. Sa’ad bin Musayyab berkata, “Umar memperoleh seekor unta dari fai’ (harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan) lalu dia menyembelih unta tersebut. Dia mengantarkan sebagian dagingnya kepada para istri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu memasak sisanya dan mengundang kaum muslimin untuk menyantapnya. Waktu itu Abbas bin Abdul Muththalib ikut hadir dalam jamuan tersebut. Dia berkata pada Umar, “Wahai Amirul mukminin, bagaiman kalau engkau melakukan hal ini setiap hari, agar kami bisa menikmati jamuanmu dan berbincang-bincang.” Umar menjawab, “Saya tidak akan mengulanginya lagi. Dua sahabatku, yaitu Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan Abu Bakar telah pergi. Keduanya telah menempuh suatu jalan. Jika saya melakukan suatu hal yang tidak mereka lakukan, berarti saya telah menempuh jalan yang berbeda dengan mereka.”

Pakaian yang digunakan sehari-hari berupa jubah yang terbuat dari bulu domba yang dibeberapa tempat terdapat tambalan. Dia biasa berjalan di pasar dengan meneteng seutas cambuk dipundaknya yang digunakan untuk mengajari orang. Terkadang dia menemukan biji kurma yang tercecer di jalan, dia pun memungutinya dan melemparkannya ke rumah-rumah orang untuk dimanfaatkan.

Setiap selesai mengerjakan shalat Isya. Umar berkeliling melihat situasi di masjid. Jika dia melihat seseorang disana langsung disuruhnya keluar, kecuali jika orang tersebut sedang melaksanakan shalat.

Suatu malam Umar berjalan Ibnu Mas’ud. Tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya. Dia pun mengikuti sumber cahaya itu samapi dia masuk ke dalam sebuah rumah. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu yang berada di rumah tersebut. Dia melihat seorang kakek sedang duduk, didepannya nampak minuman dan seorang budak perempuan yang sedang bernyanyi untuknya. Dia tidak menyadari kedatangan Umar sampai Umar menyerangnya. Umar berkata, “Saya tidak melihat seperti malam ini pemandangan yang lebih buruk dari seorang kakek yang menunggu ajalnya!”

Kakek itu mendongakkan kepalanya dan berkata, “Benar wahai Amirul mukminin. Apa kau lakukakn sangatlah buruk. Engkau memata-matai, padahal itu dilarang, dan engkau masuk ke rumah orang tanpa izin.”

Umar pun berkata, “Engakau benar. Dia langsung keluar sambil menangis. Umar berkata, ‘Celakalah Umar jika Tuhannya tidak mengampuninya. Orang itu menutupinya dari keluarganya dan berkata, “Sekarang Umar melihatku, maka dia akan terus melakukannya.”

Suatu kali Umar keluar dalam kegelapan malam. Thalha masuk ke beberapa rumah. Setelah Umar keluar dari rumah itu, Thalha pun mendatanginya. Ternyata di rumah itu terdapat nenek buta sedang duduk. Thalha bertanya padanya, “Kenapa orang tadi mendatangimu?” Nenek itu menjawab, “Dia berjanji sejak beberapa waktu lalu akan selalu datang mengunjungiku untuk kemaslahatanku dan menghindarkan dariku hal-hal yang tidak baik.” Thalha berkata, “Celakalah Thalha, mengapa engkau mencari-cari kesalahan Umar?!”

Pada kesempatan lain, Umar keluar di malam hari, tiba-tiba dia melihat api menyala dari sebuah rumah. Dia  pun minta izin untuk masuk kedalam rumah. Ternyata dalam rumah itu ada seorang perempuan beberapa anak kecil yang nampak sedang menahan lapar. Sementara perempuan tersebut tengah meletakkan di atas api sebuah panci yang hanya berisi air untuk menenangkan anak-anaknya dan membuat mereka bisa tertidur. Umar pun segera kembali ke gudang penyimpanan makanan, lalu kemali dengan membawa gandum dan lemak. Dia memikul sendiri semua bahan makanan tersebut. Sesampainya dirumah itu, Umar sendiri yang memasaknya dan menyuapi anak-anak itu. Hingga akhirnya mereka bisa tertidur. Setelah itu Umar memberi ibu mereka nafkah, barulah kemudian dia pergi.

Kemudian ketika Umar sedang dalam perjalanan di dekat Rauha (sebuah pemberhentian di antara Madinah dan Badar, berjarak sekitar 74 KM dari Madinah), dia mendengar suara seorang pengembala dari arah gunung. Umar pun bergegas mendatanginya. Setelah mendekat, dia berteriak memanggil, “Wahai pengembala kambing!” Si pengembala menjawab panggilan tersebut. Umar berkata padanya, “Saya melewati suatu padang yang lebih subur dari tempatmu ini. Sesungguhnya setiap orang bertanggung jawab atas semua orang yang dipimpinnya.” Kemudian Umar melanjutkan perjalanannya.

Umar kerap mengatakan pada orang banyak, “jika ada unta yang mati sia-sia di pinggir sungai Efrat, saya khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban dariku.”

Suatu malam dia keluar bersama pembantunya Aslam ke pinggiran kota Madinah. Lalu dia mendapati seorang perempuan hampir melahirkan. Dia pun segera pulang mengambil gandum dan minyak dan membawa serta istrinya Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib yang biasa membantu perempuan melahirkan. Umar membuatkan makanan untuk keluarga perempuan itu, sementara Ummu Kultsum membantu perempuan itu melahirkan. Keduanya tetap berada di sana sampai perempuan itu melahirkan. Umar pun menyampaikan kabar gembira itu pada ayah si anak, lalu memberi bantuan nafkah, barulah pergi meninggalkan mereka.

5. Sikapnya terhadap para gubernur
Kebijakan Umar dalam memilih gubernur wilayah dan pengawasan yang dilakukannya terhadap mereka sering menjadi contoh yang menjadi pembicaraan dalam berbagai perkumpulan.

Kriteria yang ditentukan oleh Umar dalam menentukan gubernur untuk wilayah-wilayah yang berada di bawah kekhalifahan Islam terangkum dalam sebuah ungkapan, “Seseorang yang apabila dia merupakan pemimpin, penampilannya tampak seperti orang biasa dan yang bukan pemimpin nampak seperti seorang pemimpin.”

Kemudian apabila dia mempekerjakan seorang pegawai, dia membuatkan sebuah perjanjian, meminta beberapa orang Muhajirin sebagai saksi pengangkatannya, dan menyaratkan padanya beberap hal, yaitu dia tidak menunggangi binatang yang gemuk, tidak makan roti yang putih bersih (kualitas terbaik), tidak mengenakan pakaian yang halus, dan tidak menutup pintunya menghindari orang-orang yang membutuhkan pelayanan. Jika dia melakukan salah satunya akan dijatuhi hukuman.

Umar selalu mewasiatkan pada para gubernur agar senantiasa merasa takut kedapa Allah dan mentaati-Nya dalam urusan kepemimpinannya. Umar juga memperingatkannya untuk tidak berlaku zhalim dan merasa lebih tinggi kedudukannya dari orang lain. Umar berkata, “Amba’du, sesungguhnya pemimpin yang paling berbahagia adalah yang rakyatnya merasa bahagia atas kepemimpinannya. Sebaliknya pemimpin yang paling sengsara di sisi Allah adalah yang rakyatnya merasa sengsara karena kepemimpinannya. Hindarilah gaya hidup mewahmu. Jika itu terjadi, perumpamaanmu di sisi Allah seperti hewan yang melihat tanah yang hijau oleh rerumputan lalu mengembalikan diri di sana berharap menjadi gemuk, lalu dia mati karena kegemukannya. Wassalam.”

Umar juga mengumumkan pada khalayak tentang cara yang digunakannya dalam mengirim gubernur ke wilayah tertentu. Suaranya menggema di setiap majlis yang dihadirinya. Dia berkata, “Saya tidak mengangkat gubernur atas kalian untuk memukuli kulit kalian, menghinakan kehormatan kalian atau mengambil harta kalian, akan tetapi saya mempekerjakan mereka untuk mengajari kalian kitab tuhan kalian dan sunnah Nabi kalian. Siapa yang merasa dizhalimi oleh pemimpinnya, silakan melaporkan padaku agar aku bisa membalaskannya.”

Apabila Umar mengangkat seorang gubernur atas sebuah wilayah, lalu ada utusan yang datang dari wilayah tersebut, Umar akan bertanya kepada mereka, “Bagaimana keadaan pemimpin kalian? Apakah dia suka mengunjungi rakyatnya? Suka mengantarkan jenazah? Bagaimana pintu rumahnya, apakah lunak (mudah dikunjungi)?” Jika jawabannya adalah pintu lunak, dia suka mengunjungi rakyatnya, maka Umar akan membiarkannya. Jika tidak demikian, Umar akan segera menurunkannya.

Dengan demikian Umar telah menetapkan garis kebijakannya dan merealisasikan kebijakan tersebut sebaik mungkin. Umar pernah bertanya pada rakyatnya, “Bagaimana menurut kalian, apabila saya mengangkat seorang pemimpin untuk kalian dari orang terbaik yang saya tahu lalu saya perintahkan dia untuk berlaku adil, apakah itu cukup untuk melepaskan saya dari tanggung jawab?” Rakyatnya mengiyakan. Lalu Umar berkata, “Sekali-kali tidak, sampai saya melihat dia bekerja, apakah sesuai dengan apa yang saya perintahkan atau tidak.”

Umar melanjutkan, “Jika ada pegawaiku yang berbuat zhalim pada seseorang, lalu sampai beritanya padaku, lalu saya tidak segera menggantinya, itu artinya saya pun ikut berbuat zhalim padanya.

Karena itulah, Umar selalu mempertanyakan keadaan para gubernurnya, mencari tahu bagaimana mereka memerintah rakyatnya, bagaimana gaya hidupnya, bagaimana sikapnya, dan sejauh mana rakyatnya dapat menerimanya.

Umar pernah mengangkat Sa’id bin Amir Al-Jumahi sebagai gubernur untuk wilayah Himsha. Dia menempuh jalan orang-orang shalih dalam memerintah rakyatnya. Akan tetapi penduduk Himsha mengeluhkannya pada Khalifah. Umar pun mencari tahu sebabnya. Setelah Umar mengetahui bahwa Sa’id tidak bersalah, dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak membuatku langsung menyalahkannya.”

Pada periode yang lain Umar mengutus Umair bin Sa’ad sebagai gubernur Himsha. Maka dia memangku jabatan itu selama satu tahun. Dalam rentang waktu itu Umar memantau setiap kebijakannya di wilayah tersebut. Berdasarkan pantauannya, diketahui bahwa Umair merupakan penguasa yang bersih, amanah, dan menguasai administrasi pemerintahan dengan baik. Maka Umar berkata, “Perbaharui masa jabatan Umair!” Namun Umair berkata, “Sesungguhnya itu perkara lain, saya tidak bekerja untukmu dan tidak juga untuk siapapun setelahmu.”

Berita tentang Umar dan penguasa Mesir dan penaklukannya yang terkenal, Amr bin Ash telah menjadi pembicaraan para musafir. Yaitu ketika putra Amr bin Ash tanpa sepengetahuan Amr memukul orang Mesir yang bersaing dengannya. Berita itu sampai ketelinga Umar. Lalu Umar membalaskan untuk orang Mesir itu. Lalu dia mengucapkan kata-katanya yang masyhur, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia padahal ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka.”

Kemudian Umar pun mengangkat Hudzaifah bin Yaman sebagai penguasa Mada’in. Dia berpesan pada masyarakat Mada’in dalam surat keputusannya, “Dengar dan taatlah padanya, serta berilah apa yang dimintanya pada kalian.”

Hudzaifah menjabat dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga suatu ketika Umar menyuratinya dan meminta supaya Hudzaifah datang menemuinya. Ketika Umar mendapat kabar kedatangan Hudzaifah, dia bersenbunyi di sebuah jalan di tempat yang tidak bisa terlihat oleh Hudzaifah. Pada saat Umar melihatnya masih dalam kondisi seperti dia berangkat dulu, Umar langsung keluar dan memeluknya seraya berkata, “Engkau adalah saudaraku dan saya adalah saudaramu.”

Ketika Irak berhasil ditaklukan, Umar memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membuat perencanaan kota Kufah. Bangunan pertama yang diletakkan adalah masjid, kemudian dia membangun istana di arah mihrab masjid untuk kantor pemerintahan dan baitul mal.

Dibangunlah untuk Sa’ad sebuah istana di dekat pasar. Keributan pasar menghalangi Sa’ad untuk bicara. Maka diapun menutup pintunya dan berkata, “Begini baru bisa hening.” Kalimat tersebut sampai ke telinga Umar. Maka dia segera mengutus Muhammad sesampainya di sana untuk mengumpulkan kayu lalu menyalakan api untuk membakar pintu istana. Setelah itu hendaknya langsung kembali ke Madinah. Maka Muhammad pun mengerjakan perintah tersebut. Lalu dia memerintahkan Sa’ad untuk tidak menutup pintunya dari rakyatnya dan tidak menempatkan penjaga untuk melarang rakyatnya menemuinya. Sa’ad pun mematuhi perintah tersebut. Lalu Sa’ad menawarkan sejumlah harta pada Muhammad bin Maslamah, namun ditolaknya dan dia langsung kembali ke Madinah.

Tidak berhenti sampai di situ, Umar bahkan memeriksa kekayaan para gubernurnya. Pertanyaan yang kerap diajukan pada mereka, “Dari mana kalian dapatkan kekayaan ini?”

Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Sesungguhnya Umar pernah menyuruh para gubernurnya untuk menuliskan kekayaan mereka, termasuk di antaranya Sa’ad bin Abi Waqqash. Lalu Umar membagi dua harta kekayaan mereka, setengah diambilnya, setengah lagi diberikan pada mereka.”

Umar mengawasi dan memeriksa para gubernurnya dengan sangat teliti. Inilah yang dilakukan terhadap gubernurnya yang diangkatnya untuk wilayah Bahrain, Abu Hurairah, perawi hadits terkenal. Dia dihadapkan kepada Umar, lalu Umar melontarkan berbagai pertanyaan padanya dengan ucapan yang keras. Abu Hurairah menceritakan apa yang dialaminya, dia berkata, “Umar berkata padaku, “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau mencuri harta Allah?” Saya menjawab, “Saya bukan musuh Allah dan bukan juga musuh kitab-Nya, melainkan musuh orang yang memusuhi keduanya. Dan saya tidak mencuri harta Allah!” Umar bertanya, “Lalu dari mana kau peroleh harta sebanyak sepuluh ribu dinar?” Saya jawab, “Wahai Amirul Mukminin, kudaku berkembang biak, pendapatanku terkumpul.” Namun Umar bersikeras mengambil harta tersebut. Sementara Abu Hurairah berucap, “Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin.”

6. Pemeliharaannya terhadap kekayaan umat dan pembagiannya pada rakyatnya

Tanggungjawab Umar dalam mengelola harta kekayaan untuk Islam tidak kalah hebatnya dibandingkan kebijakannya terhadap para gubernur wilayah.

Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi datang padanya, dilihatnya di rumah Umar terdapat makanan yang keras dan pakaian yang kasar. Dia lalu berkata, “Wahai Amirul mukminin, orang yang paling berhak memakan makanan yang lembut, mengendarai tunggangan yang bagus, dan mengenakan pakaian yang lembut adalah engkau.” Umar pun mengangkat pelepah kurma yang berada di genggamannya, lalu memukul kepala Rabi’ dengannya. Lalu Umar berkata, “Demi Allah, engkau mengatakan itu hanyalah karena ingin mendekat padaku. Tahukah engkau bagaimana perumpamaan antara aku dan mereka?” Rabi’ balik bertanya, “Bagaimana perumpamaan antara engkau dan mereka?” Umar berkata, “Perumpamaannya seperti sekelompok orang yang hendak melakukan perjalanan, lalu mereka mengumpulkan harta mereka ke salah seorang dari mereka. Maka mereka berkata padanya, “Belanjakanlah untuk kami.” Maka apakah orang itu boleh mengambil sesuatu dari harta tersebut untuk dirinya?” Rabi’ menjawab, “Tidak, wahai Amirul mukminin.” Umar berkata, “Begitulah perumpamaan antara aku dengan mereka.”

Mari kita ikuti kisah yang luar biasa sebagaimana disaksikan oleh Utsman bin Affan dan pembantunya, pada suatu hari yang amat panas. Pembantu Utsman menceritakan.

“Ketika saya sedang bersama Utsman mengurus hartanya di Aliyah, pada hari yang amat panas. Tiba-tiba dia melihat seseorang menuntun dua ekor unta muda, berjalan di atas padang pasir yang panas. Utsman berkata, “Kenapa orang itu tidak tinggal di Madinah sampai cuaca menjadi dingin baru keluar?” Lalu orang itu mendekat ke tempat kami. Utsman pun bertanya-tanya, “Siapa gerangan orang ini?” Saya lalu melihat keluar dan berkata, “Saya melihat seorang laki-laki berkerumun dengan pakaiannya sedang menuntun dua ekor unta muda.” Ketika orang itu semakin dekat, Utsman berkata, “Lihat!” Saya pun melihatnya, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab. Saya segera memberi tahu Utsman. Maka Utsman langsung bangun dan melongokkan kepala dari pintu. Namun dia tidak kuat menahan terpaan panas. Dia pun menarik kembali kepalanya. Setelah menunggu beberapa saat dia mencoba melongokkan kepalanya kembali dan bertanya, “Apakah yang membuatmu keluar rumah pada saat seperti ini?”

Umar menjawab, “Dua ekor unta ini terpisah dari sekelompok unta sedekah. Maka saya ingin mengantarkannya ke Hima (Tanah milik Negara) . Saya khawatir keduanya hilang lalu Allah mempertanyakannya padaku.” Utsman berkata, “Wahai Amirul mukminin, kemarilah berteduh sejenak untuk minum, kami punya persediaan yang cukup. Umar berkata, “Kembalilah ke tempat berteduhmu.” Utsman mengulang ajakannya, namun Umar menjawab dengan jawaban yang sama. Utsman pun berkata, “Siapa yang ingin menyaksikan orang kuat lagi terpercaya, maka hendaklah melihat orang ini.”

“Suatu padang yang dipenuhi rerumputan dan dijaga oleh pemimpin dari gangguan orang. Maka tidak ada yang boleh mengembalakan ternaknya di tempat itu. Umar menetapkan suatu padang bernama Naqi’ sebagai tempat untuk memberi makan binatang hasil sedekah dan kuda yang digunakan untuk jihad fi sabilillah”

Pada kesempatan lain, Ali bin Abi Thalib melihat Umar berjalan ke arah pinggiran kota Madinah. Ali bertanya padanya, “Hendak kemana engkau wahai Amirul mukminin?” Umar menjawab, “Seekor unta sedekah lepas, saya sedang mencarinya.” Ali berkata, “Sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu.”

Lalu pada suatu hari datanglah utusan dari Irak, ikut bersama rombongan tersebut Ahnaf bin Qais. Mereka dikejutkan oleh Umar yang sedang mengobati seekor unta sedekah, melumurinya dengan ter. Ketika Umar melihat mereka, dia langsung memanggil ahnaf dan berkata, “Buka gamismu hai Ahnaf, kemarilah, bantu Amirul mukminin mengurus unta ini. Ini adalah salah satu unta sedekah, padanya terdapat hak orang-orang kafir dan miskin!” Utusan itu pun terkejut, salah seorang lalu berkata, “Semoga Allah mengampuni wahai Amirul mukminin. Sesungguhnya salah seorang budak sedekah cukup untuk mengurus itu.” Umar menjawab dengan penuh rendah hati dan penuh tanggungjawab, “Budak manakah yang lebih rendah dariku dan dari Ahnaf?”

Adapun orang-orang fakir dan miskin menempati kedudukan tertentu di sisi Umar. Dia berusaha untuk menutupi kefakiran mereka, memenuhi kebutuhan mereka, dan memuliakan para kaum muslimin pendahulu, bahkan memuliakan keturunan mereka.

Aslam, pembantu Umar menceritakan, “Saya sedang berjalan bersama Umar di pasar, tiba-tiba seorang perempuan muda menyusul Umar dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, suamiku meninggal dunia dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Mereka tidak memiliki ternak yang bisa dimasak dan tidak punya kebun yang bisa diambil hasilnya. Saya takut mereka akan binasa oleh musim paceklik. Saya sendiri adalah putri dari Khufaf bin Ima’ Al-Qur’an-Ghifari. Ayahku ikut dalam perjanjian Hudaibiyah bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Umar pun mendengar semua keluhan perempuan itu dan tidak meninggalkannya. Lalu Umar berkata padanya, “Selamat datang wahai saudariku.” Lalu Umar mengambil seekor unta yang terikat di rumahnya, meletakkan di punggungnya dua buah karung yang penuh dengan makanan, lalu menyelipkan beberapa uang dan pakaian. Kemudian Umar menyerahkan unta tersebut pada perempuan itu berikut barang-barang yang diangkutnya. Umar berkata padanya, “Manfaatkanlah, dia tidak akan habis sampai Allah memberi kalian jalan keluar yang baik.” Seseorang berkata, “Wahai Amirul mukminin, engkau memberinya terlalu banyak!” Umar menjawab, “Celakalah engkau, demi Allah, saya menyaksikan bagaimana ayah dan saudaranya ikut serta dalam pengepungan suatu benteng dalam masa yang cukup panjang, hingga berhasil menaklukkannya. Kemudian kita memperoleh harta rampasan yang melimpah dari hasil perjuangan mereka.”

Umar pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari, menyampaikan hal berikut, “Amma ba’du, saya mengalami suatu hari dalam setahun tidak tersisa di baitul mal walau satu dirham pun hingga benar-benar kosong, agar Allah mengetahui bahwa saya telah menyampaikan pada setiap orang yang berhak apa-apa yang menjadi haknya.”

Sementara Abdullah bin Abbas meriwayatkan, “Umar bin Khaththab memanggil saya, maka saya pun memenuhi panggilannya. Ketika saya memenuhinya, saya dapati di hadapannya hamparan dari kulit yang di atasnya terdapat emas yang bertaburan seperti jerami. Umar berkata, “Kemarilah, bagikanlah ini kepada kaummu, Allah Maha Mengetahui kenapa Dia menjauhkan ini dari Nabi-Nya Shallallahu Alahi wa Sallam dan dari Abu Bakar, lalu memberikannya padaku. Saya tidak tahu apakah ini berakibat baik untukku atau berakibat buruk.” Saya lalu memisah-misahkan emas itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan sambil berkata, “Tidak, demi Dzat Yang jiwaku dalam genggaman-Nya, Dia tidak menahannya dari Nabi-Nya Shallallahu Alahi wa Sallam dan dari Abu Bakar karena menginginkan keburukan bagi mereka, dan tidak juga memberikannya kepada Umar karena menginginkan kebaikan baginya!”

7. Nafkah untuk dirinya dan keluarganya serta pendidikan bagi keluarganya
Umar senantiasa merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengelola kekayaan umat. Dia takut Allah akan menghisabnya atas beberapa suap makanan yang dimakannya dari baitul mal atas izin kaum muslimin. Karena itu, mengawasi ketat dirinya dan keluarganya, tidak berfoya-foya, dan lebih memilih untuk menahan diri, mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Suatu waktu dia mengeluhkan rasa sakit di badannya. Lalu dia disuruh untuk minum madu. Kebetulan ada sekantung madu di baitul mal. Maka Umar bertanya pada khalayak, “Jika kalian mengizinkan saya mengambilnya akan saya ambil, jika tidak maka dia menjadi haram bagi saya.” Mereka pun mengizinkannya.

Mujahid menceritakan, “Pada saat melaksanakan haji, Umar membelanjakan uangnya sebanyak delapan puluh dirham untuk biaya perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Mekah. Dia merasa sangat menyesal dan memukul-mukulkan kedua tangannya seraya berkata, “Kenapa kita sampai menghamburkan harta Allah Ta’ala.”

Pada suatu hari yang lain Umar minum segelas susu. Dia begitu menyukai susu tersebut. Lantas dia bertanya pada orang yang membawakan susu tersebut. “Dari mana kau dapatkan susu ini?” Maka dia menceritakan bahwa dia datang ke sumber air, tiba-tiba datang seekor ternak sedekah. Orang-orang lalu memberinya minum, kemudian memerah susunya. Saya ikut mengambil susu hasil perahan tersebut.” Mendengar itu Umar langsung memasukkan jarinya ke tenggorokan, lalu memuntahkan apa yang baru saja diminum. Inilah sifat wara’ yang digambarkan oleh Miswar bin Makramah Radiyallahu ‘Anhu ketika dia berkata, “Dulu kami selalu menyertai Umar belajar darinya sifat wara’.”

Para shahabat menyaksikan bagaimana Amirul mukminin mengalami hidup yang sulit. Ketika Allah melapangkan rizkinya dan dia berhasil melakukan berbagai penaklukan untuk kaum muslimin, mereka berharap Umar akan memakan makanan yang lebih lembut dari makanan yang biasa dia makan dan mengenakan pakaian yang lebih lembut dari pakian yang dikenakannya. Namun mereka pun minta bantuan Ummul mukminin Hafshah untuk menyampaikan hal tersebut.

Jawaban Umar kepada Hafshah, “Wahai Hafshah, sampaikan pada orang-orang yang mengutusmu padaku, bahwa perumpamaan aku dengan dua shahabatku (Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan Abu Bakar) adalah seperti tiga orang yang menempuh suatu jalan. Yang pertama telah mebawa bekal yang cukup dan telah sampai ke rumah. Lalu diikuti yang lain dengan menempuh jalan yang sama. Yang kedua pun berhasil mencapai tempatnya. Selanjutnya yang ketiga, apabila dia konsisten berada di jalan yang telah ditempuh dua orang itu, dia akan menyusul mereka. Namun jika dia menempuh jalan yang berbeda, maka dia tidak akan bergabung dengan mereka.”

Umar pernah melihat seorang anak perempuan yang berperawakan kurus dan lemah. Umar bertanya, “Anak siapa ini?” Putranya, Abdullah menjawab, “Ini adalah salah satu putrimu.” Umar bertanya, “ Putriku yang mana?” Jawab Abdullah, “Putriku.” Umar berkata, “Apa yang membuatnya kurus dan lemah begini?” Abdullah menjawab, “Akibat dari perbuatanmu, engkau tidak memberinya nafkah.” Umar berkata, “Demi Allah, saya tidak ingin memberi makan anakmu dengan cara yang batil. Lapangkanlah nafkah untuk anakmu!”

Muhammad bin Sirin meriwayatkan, “Salah seorang ipar Umar bin Khaththab datang menemuinya, memohon agar diberi sesuatu dari baitu mal. Umar langsung membentaknya dan berkata, “Engkau ingin aku menghadap Allah sebagai raja yang berkhianat?” Setelah itu, Umar memberinya harta dari hartanya sendiri sepuluh ribu dirham.”

Pembantunya, Aslam berkata, “Umar keluar lalu duduk di atas mimbar. Orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya. Hingga orang yang tinggal di ketinggian pun turun. Umar pun mengajarkan mereka semua tanpa ada terlewatkan. Kemudian dia kembali ke keluarganya dan berkata pada mereka, “Kalian telah mendengar apa yang aku larang. Jika ada di antara kalian yang melanggar laranganku, akan aku hukum dengan hukuman dua kali lipat.”

Karena itulah, kita dapati Umar selalu berusaha menghindarkan keluarganya dari hal-hal yang syubhat. Celakalah orang yang merusak biografinya dan menyalahi jalan hidupnya. Putranya Abdullah merupakan teladan dalam sifat wara’, zuhud, dan ketakwaan. Dia menceritakan, “Saya membeli seekor unta, lalu saya membawanya ke tanah milik negara. Setelah unta itu gemuk, saya membawanya kembali ke pasar, dilihatnya ada seekor unta yang gemuk. Dia bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Dijawab, “Unta itu milik Abdullah bin Umar.” Umar berkata, “Wahai Abdullah bin Umar, bagus, putra Amirul mukminin?” Umar bertanya, “Dari mana kau dapatkan unta ini?” Abdullah menjawab, “Saya membelinya, lalu saya menaruhnya di tanah milik negara, berharap seperti apa yang diharapkan kaum muslimin.”

Mendengar itu Umar langsung marah dan berkata, “Orang-orang pasti berkata, “Jagalah unta milik putra Amirul mukminin, beri minum unta milik putra Amirul mukminin!” Wahai Abdullah bin Umar, ambillah modalmu dan serahkan keuntungannya ke baitul mal!”
Semoga Allah merahmati Abi Hafsh Umar, dan selamat untuk umat yang dipimpin oleh orang seperti sosok yang kuat dan amanah ini.

Abu Musa Al- Asy’ari memberi istri Umar hadiah permadani. Ketika Umar mengetahui hal itu, dia bertanya bertanya pada Abu Musa, “Apa yang membuatmu memberi hadiah pada istriku?” kemudian Umar mengambil permadani itu dan memukulkannya ke kepala Abu Musa seraya berkata, “Ambillah, kami tidak membutuhkannya.”

Dalam hal makanan dan pakaian, Umar amatlah bersikap zuhud. Pada suatu hari dia bertamu ke rumah putrinya Hafshah. Disuguhkanlah padanya kua daging yang sudah dingin, lalu Hafshah menuangkan minyak pada kua tersebut. Umar berkata, “Dua macam lauk dalam satu wadah? Saya tidak akan mencicipinya sampai saya menghadap Allah Azza wa Jalla.”

Pada suatu ketika, datanglah Abdullah, Hafshah, dan yang lain menemuinya dan membicarakan tentang makanan Umar. Mereka berkata, “Jika engkau mengkonsumsi makanan yang baik, itu akan lebih menambah kekuatanmu dalam membela kebenaran.” Umar bertanya, “Apakah kalian semua sependapat dalam hal ini?” Mereka mengiyakan. Umar pun berkata, “Saya mengerti nasihat kalian, akan tetapi saya telah membiarkan dua shahabat saya menempuh suatu jalan. Jika saya meninggalkan jalan yang mereka lalui, saya tidak akan bisa menemui mereka di rumah.”

Di kesempatan lain, datanglah Abu Musa Al-Asy’ari bersama utusan dari Bashrah untuk menemui Umar. Mereka menceritakan, “Waktu itu srtiap hari kami bertamu ke rumahnya. Makanan yang dikonsumsinya berupa tiga buah roti. Terkadang diberi minyak, samin, atau susu. Pernah juga kami dapati dia memakannya dengan dendeng kering yang ditumbuk, atau dengan daging yang empuk. Namun yang terakhir ini sangat jarang.”

Umar Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika saya tidak takut kebaikan saya akan berkurang, pasti saya sudah mengikuti kalian dalam menjalani kehidupan yang mewah. Kalau saya mau, saya tentu makan makanan yang terbaik di antara kalian dan memiliki gaya hidup yang paling mewah. Kami sangat tahu mana makanan yang baik yang paling banyak dikonsumsi, akan tetapi kami menangguhkannya untuk suatu hari di mana para ibu yang menyusui melalaikan anak yang disusuinya dan para wanita yang sedang mengandung mengalami keguguran. Sungguh, saya menyimpannya untuk kebaikan saya. Karena saya mendengar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang (menikmati) nya.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 20).

Dari segi pakaian, tidak lebih baik dari makanan. Umar mengenakan pakaian yang kasar dan tebal. Tidak ada yang membedakannya dari orang lain, padahal dia Amirul mukminin. Anas bin Malik berkata, “Saya pernah melihat di bagian pundak dari pakaian Umar terdapat empat tambalan.”

Abu Utsman An-Nahdi meriwayatkan, “Saya melihat Umar bin Khaththab melakukan thawaf di baitullah, dia mengenakan sarung yang memiliki dua belas tambalan, salah satunya dengan kulit yang berwarna merah.”

Suatu ketika Umar terlambat datang ke masjid untuk shalat Jum’at. Ketika dia naik mimbar dia minta maaf pada semua orang dan berkata, “Saya terlambat karena gamis saya ini. Saya tidak memiliki gamis yang lain.”

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan kelapangan rizki, banyak wilayah yang berhasil ditaklukan oleh kaum muslimin, sehingga harta rampasan melimpah ruah, itu semua tidak merubah kondisi Umar, baik dari segi makanan maupun pakaian. Pada suatu hari dia naik ke atas mimbar, menghadap jamaah dan berkata dengan suaranya yang lantang, “Dengarkanlah oleh kalian, semoga Allah merahmati kalian!” Tiba-tiba dari salah satu shaf terdengar suara Salman, “Demi Allah kami tidak mau mendengar, Demi Allah kami tidak mau mendengar!” Umar terkejut dan bertanya padanya, “Kenapa begitu wahai Salman?” Jawab Salman, “Engkau membedakan dirimu dari kami wahai Umar. Engkau memberi kami masing-masing satu kain, sementara engkau mengambil dua.” Umar lalu mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang, “Mana Abdullah bin Umar?” Abdullah pun berdiri. Umar lalu bertanya padanya, “Siapa pemilik kain yang satunya?” Abdullah menjawab, “Saya wahai Amirul mukminin.” Umar lalu menghadap ke jamaah, terutama ke arah Salman dan berkata, “Sesungguhnya saya, seperti yang kalian ketahui, memiliki badan yang tinggi. Kain yang saya dapat ukurannya pendek, maka Abdullah memberikan kainnya pada saya. Saya pun menyambungkannya ke kain saya.” Kedua mata Salman berkaca-kaca oleh air mata bahagia. Dia dan para hadirin lalu berkata, “Sekarang, bicaralah wahai Amirul mukminin, kami akan mendengar dan patuh.”

8. Umar di tahun paceklik
Suatu ketika, wilayah Hijaz diliputi kekeringan dan paceklik. Semua orang mengalami masa yang amat sulit. Permukaan tanah menjadi gersang, hewan ternak banyak yang mati, manusia pun menderita kelaparan. Sehingga mereka terpaksa mengkonsumsi tulang-tulang yang telah rusak dan menggali lubang-lubang tikus mencari sesuatu yang dapat dikonsumsi. Binatang buas pun tampak berkeliaran di sekitar pemukiman karena tidak mendapat makanan di alam bebas. Permukaan tanah pun menghitam karena kemarau yang panjang, sehingga warnanya menjadi seperti Abu Musa Al-Asy’ari, maka tahun itu pun terkenal dengan sebutan tahun kelabu.

Pada suatu malam, Umar berkeliling melihat-lihat situasi kota Madinah. Dia tidak melihat seorang dari penduduknya yang tertawa atau bercengkrama seperti yang biasa mereka lakukan. Bahkan tidak ada satu pun yang bertanya atau meminta, Umar pun mempertanyakan kondisi tersebut. Seseorang menjawab, “Wahai Amirul mukminin, mereka telah sering bertanya dan meminta tapi mereka tak pernah mendapat jawaban, mereka pun berhenti bertanya. Semua orang mengalami kesulitan dan kesempitan hidup, sehingga mereka tak bisa bercengkrama dan tertawa.”

Kondisi tersebut membuat Umar merasakan kesediahan yang mendalam. Setiap malam dia memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar musibah dan bala ini segera berakhir. Ibnu Umar menceritakan salah satu siatuasi tersebut,

“Pada masa paceklik, Umar bin Khaththab memiliki suatu kebiasaan baru, yaitu setelah selesai mengimami shalat Isya, dia langsung pulang dan langsung melakukan shalat malam sampai mejelang Subuh. Kemudia ia keluar menelusuri lorong-lorong jalan. Saya pernah mendengar pada suatu malam dia mengucapkan, “Ya Allah, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad pada masa kepemimpinanku.”

Kemudian Umar pun mengirim surat ke beberapa gubernur di berbagai wilayah kekhalifahan Islam meminta mereka mengirimkan bantuan makanan dan pakaian untuk menutupi kebutuhan masyarakat Hijaz, Di antara yang dikirimi surat adalah Amr bin Ash di Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan di Syam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash di Irak.

Surat yang ditunjukan Amr bin Ash berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah Umar kepada Ashi bin Ashi (Amr bin Ash). Ba’da salam, Apakah engkau membiarkan saya dan penduduk saya binasa sedangkan engkau dan pendudukmu hidup senang? Kirimkanlah bantuan.”

Amr pun segera mengirim bantuan makanan dan pakaian melalui jalur darat dan laut. Bantuan lewat jalur terdiri dari 20 kapal yang memuat gandum dan lemak. Sementara lewat jalur darat terdiri dari seribu unta yang memuat gandum dan ribuan helai pakaian. Sedangkan Muawiyah mengirimkan 3 ribu unta yang membawa gandum dan 3 ribu unta lainnya yang muatan pakaian. Sementara dari Kufah datang bantuan 2 ribu unta yang membawa gandum.

Para pegawai kekhalifahan pun segera membagikan bahan makanan tersebut ke seluruh penduduk Madinah. Setiap harinya pemerintah menyembelih 120 binatang untuk menjamu masyarakat. Pernah pada suatu malam yang hadir pada dalam jamuan makan malam bersama berjumlah tujuh ribu orang. Umar ikut serta dalam mempersiapkan jamuan tersebut. Dia juga ikut bersama Aslam pembantunya mengangkat bahan makanan untuk kaum wanita dan anak-anak yang tidak bisa datang ke jamuan makan. Mereka mengirim gandum, kurma, dan lauk pauk. Semua itu sampai ke tangan mereka di mana pun mereka berada.

Secara pribadi Umar bersumpah untuk tidak makan atau minyak samin sampai semua rakyatnya dapat hidup baik. Anas menceritakan, “Perut Umar berbunyi, pada masa paceklik dia hanya makan pakai minyak biasa. Dia mengharamkan atas dirinya minyak samin, maka dia menekan perutnya dengan jari-jarinya seraya berkata, “Berbunyilah, engkau tidak akan mendapatkan selain minyak ini samapi semua orang bisa hidup dengan baik.”

Masa kemarau ini berlangsung selama sembilan bulan. Hingga Umar pun memutuskan untuk menggelar shalat istisqa’ (memohon turunnya hujan). Abdullah bin Niyar Al-Aslami meriwayatkan, “Ketika Umar memutuskan untuk melakukan shalat istisqa’ pada hari yang telah ditentukan, memohon pada Tuhan mereka untuk mengangkat kemarau ini dari mereka. Pada hari yang telah disepakati itu, Umar keluar dengan mengenakan jubah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Sesampainya di tempat shalat, dia berkhutbah dan memanjatkan doa kepada Allah. Semua orang yang hadir pun turut memohon dengan sangat. Dalam doanya Umar memperbanyak mengucapkan istighfar. Ketika akan mengakhiri doanya. Umar mengangkat tangannya tinggi-tinggi, merubah posisi pakaiannya, yang kanan dialihkan ke sebelah kiri dan yang kiri ke sebelah kanan, lalu dia kembali mengangkat tangan dan melanjutkan doa sambil menangis cukup lama hingga membasahi janggutnya.

Diriwayatkan dari Anas, “Ketika terjadi kemarau panjang, Umar bin Khaththab Radiyallahu ‘Anhu meminta hujan dengan berwasilah kepada Abbas bin Abdul Muththalib. Dia berdoa, “Ya Allah, dulu kami meminta hujan dengan perantara Nabi kami, kemudian engaku menurunkan hujan. Sekarang kami meminta hujan dengan perantara paman Nabi kami, kama turunkanlah hujan kepada kami.” Anas berkata, “Mereka pun mendapatkan hujan.”
Umar sampai berlutut seraya memanjatkan doa, “Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridhailah kami.”

Di antara doa yang dipanjatkannya, “Ya allah, para penolong kami tak lagi mampu menolong, daya dan upaya kami pun telah habis, jiwa kami telah lemah, maka tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Mu, Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami dan hidupkanlah para hamba-Mu dan negeri ini.”

Sebelum mereka sampai ke rumah mereka, langit pun mendadak mendung dan gelap sebagai tanda akan turun hujan.

Orang-orang Arab badui mendatangi Umar dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ketika kami sedang berada di lembah kami pada jam sekian tiba-tiba langit menjadi mendung. Lalu kami mendengar suara mengatakan, “Telah datang padamu bantuan wahai Abu Musa Al-Asy’ari Hafsh, telah datang padamu bantuan  wahai Abu Musa Al-Asy’ari Hafsh!”

9. Penaklukan wilayah
Pada masa kekhalifahannya Umar bertekad untuk menyempurnakan peran besar yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada perang Tabuk dan pengutusan Usamah yang dilanjutkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq.

Maka Umar mendorong kaum muslimin untuk pergi berjihad dan berperang dengan menjelaskan berbagai keutamaannya dan mengingatkan mereka pada berbagai hadits Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang itu. Suatu hari dia bertanya pada orang-orang di sekitarnya, “Siapa yang paling besar pahalanya?” Mereka menjawab bahwa yang besar pahalanya adalah puasa dan shalat. Mereka juga menyebutkan nama beberapa orang setelah Amirul mukminin. Maka Umar berkata, “Apakah kalian ingin saya beritahu siapa yang lebih besar pahalanya dari orang-orang yang kalian sebutkan dan bahkan lebih besar dari Amirul mukminin?” Mereka mengiyakan. Umar pun melanjutkan, “yaitu orang-orang yang saat ini berada di Syam menunggangi kuda mereka, melindungi ibukota kaum muslimin, tak tahu apa yang akan menimpa mereka, apakah terkaman binatang buas, gigitan ular berbisa, atau sergapan musuh. Merekalah yang lebih besar pahalanya dibandingkan orang-orang yang kalian sebutkan, termasuk Amirul mukminin.”

Umar pun menegakkan beberapa panji dan mempersiapkan beberapa pasukan, sebagian diutus ke timur sebagian lain ke barat. Pada masa kekhalifahannya banyak terjadi penaklukan wilayah, panji tauhid berkibar di belahan timur dan barat. Terwujudlah apa yang pernah di beritakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika beliau bersabda, “Ketika saya sedang tidur, tiba-tiba sata bermimpi bahwa saya berda pada sebuah sumur yang ada timbanya. Kemudian saya menimbah air dari sumur itu sebanyak yang dikehendaki Allah. Lalu Ibnu Abu Musa Al-Asy’ari Quhafah (Abu Bakar) mengambil air itu dan menimbah air sekali atau dua kali dari sumur, tarikannya nampak lemah, semoga Allah mengampuninya. Tak lama kemudian timbah tersebut di pegang oleh Umar bin Khaththab maka aku tidak pernah melihat orang kuat yang mampu menimba air seperti Umar bin Khaththab, hingga orang-orang berkerumun di dekat sumur tersebut untuk memberi minum ternak mereka.”

Para raja Persia dan Romawi tunduk di bawah kekuasaan kekhalifahan Umar. Dia berhasil melakukan berbagai penaklukan, menetapkan pajak, membangun berbagai wilayah, mengatur urusan peradilan, membuat buku administrasi, dan menetapkan gaji pegawai.

Saat diangakat menjadi khalifah, Umar melanjutkan apa yang telah dimulai oleh  Abu Bakar As-Shiddiq. Pada masa kekhalifahannya kaum muslimin mengalami banyak pertempuran seperti perang Yarmuk, Qasiyah, Nawahand (yang disebut juga dengan fathul futuh), Jalula, dan lain sebagainya.

Banyak negeri yang berhasil ditaklukkan. Berbagai kota besar berhasil di kuasai. Posisi Islam pun semakin kuat dan penyebarannya meliputi berbagai penjuru dunia.

Di antara kota yang berhasil ditaklukkan pada masa kekhalifahan Umar di negeri Syam adalah Yarmuk, Busra, Damaskus, Yordan, Baisan, Tiberia, Jabiyah, Palestina, Ramalah, asqalan, Gaza, Sawahil, Quds, Ba’labak, Himsha, Quensrin, Aleppo, dan Antiokhia.

Termasuk Al-Jazirah, harran, ruha, Raqqah, Nashibin, Ra’su’ain, Sumaisath, ‘Ain wardah, Diyar Bakr, Diyar Rabi’ah, Negeri Maushil, dan seluruh wilayah Armenia.
Begitu juga Mesir, Iskandariyah, Tripoli Barat, dan Barqah.

Sementara di Irak, meliputi Qadisiyah, Hirah, Bahurasir, Sabath, Kota-kota Kisrah, Wilayah di tepian sungai Efrat dan Dajlah, Ablah, dan Bashrah.

Penaklukan Islam juga mencapai Ahwaz, Faris, Nahawand, Hamdzan, Ray, Qumis, Khurasan, Isthakhar, Ashbahan, Sus, Maru, Naisabur, Gorgan, Azerbaijan, dan lainnya.
Pasukan kaum muslimin menyebrangi sungai Jaihun di Khurasan beberapa kali. Umar mati syahid pada saat kudanya berada di Ray, dan mereka telah menaklukkan seluruh wilayahnya.

E. PENDIRIAN NEGARA DAN KEJENIUSAN UMAR DALAM PENDIRIANNYA
Dalam rentang waktu yang cukup panjang dari kekhalifahan Umar yang penuh keberkahan itu, negara Islam mengalami perkembangan yang luar biasa. Umar meletakkan pondasi yang kuat dan kaidah dasar yang mantap bagi negara Islam sehingga menjelma menjadi sebagai bukti kongkrit dan contoh nyata dari apa yang ingin diwujudkan oleh agama ini.

1. Syura
Umar menjadikan syurah atau musyawarah sebagai semboyan. Dia ingin menjadi pemimpin bagi sekelompok singa bukan sekawanan lembu. Dia berharap rakyatnya memiliki mata yang awas, kritis, berpikiran cemerlang, dan dinamis. Dia tidak ingin rakyatnya menutup mata, telinga, dan mulut mereka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya lantas menerima saja apa yang disodorkan pada mereka.

Terkadang Umar mengajak para pemuka shahabat dan para senior yang ikut serta dalam perang Badar untuk bermusyawarah. Di lain waktu, ketika menghadapi situasi yang sulit Umar mengundang para pemuda untuk bermusyawarah, berharap akan ketajaman pemikiran mereka. Di antara pemuda yang kerap diajaknya bermusyawarah adalah Abdullah bin Abbas. Bahkan Umar tidak segan-segan meminta pendapat kalangan perempuan. Jika dia melihat ada ide mereka yang baik, dia tidak ragu untuk mengambil itu tersebut.

Ketika Umar meminta pendapat orang lain dalam suatu persoalan, itu bukan sekedar formalitas atau hanya mengharap persetujuan dari yang lain. Melainkan, dalam banyak kesempatan Umar selalu mengingatkan orang-orang dengan mengatakan, “Jangan sampaikan pendapat yang kalian pikir sesuai dengan keinginan, tapi sampaikanlah pendapat yang kalian anggap kebenaran!”

Suatu hari Umar naik ke atas mimbar, lalu bertanya pada jamaah, “Wahai kaum muslimin sekalian, bagaimana pendapat kalian jika saya condong pada dunia?” Seseorang lalu mengangkat salah satu  tangannya memperagakan suatu pedang yang tajam seraya berkata, “Kalau itu terjadi, kami akan menebaskan pedang begini.” Maksudmu engkau akan mengarahkannya padaku?” Tanpa merasa takut orang itu mengiyakan. Wajah Umar berseri-seri, lalu dia berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara di kalian orang yang akan meluruskan penyimpanganku.”

Pada kesempatan lain, ketika Umar sedang berada di suatu majlis, bergabunglah beberapa orang Muhajirin dan Anshar. Umar bertanya pada mereka, “Bagaimana menurut kalian jika saya agak meloggarkan atas kalian beberapa hal?” Mereka diam. Umar terus mengulang pertanyaan samapi tiga kali. Sampai akhirnya Basyir bin Sa’ad menjawab, “Kalau engkau lakukan itu, akan kami luruskan engkau seperti kami meluruskan anak panah.” Umar pun berkata, “Itu baru kalian, kalau begitu.”

Abu Ubaidah bin Jarrah dan Mu’adz bi Jabal pernah menulis surat kepadanya, yang isinya, “Engakau telah diangkat sebagai pemimpin umat ini yang terdiri dari berbagai macam Rasulullah, di hadapanmu ada orang-orang terhormat dan orang-orang biasa, ada teman dan ada juga musuh, setiap mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh keadilan. Maka perhatikanlah apa yang seharusnya engkau lakukan wahai Umar. Kami mengingatkanmu tentang suatu hari setelah seluruh wajah terunduk, seluruh hati menciut, tak ada yang membanta keputusan Sang Maharaja yang memaksa mereka tunduk pada kekuasaan-Nya, berharap rahmat-Nya, dan takut akan siksa-Nya.”

Umar membalas surat itu dengan perkataan, “Kalian berdua telah menasehati saya, apa yang kalian katakan adalah benar. Maka jangan pernah berhenti untuk mengirimi saya nasihat, saya sangat membutuhkan itu dari kalian. Wassalam.”

2. Penanggalan Hijriah
Suatu ketika Umar disodori sebuah dokumen berisi kesepakatan antara dua orang. Tertulis di situ bahwa berlakunya pada bulan Sya’ban. Umar lantas bertanya, “Sya’ban kapan? Tahun ini, tahun lalu, atau tahun yang akan datang?”

Berangkat dari kejadian tersebut Umar pun segera mengumpulkan para shahabat dan meminta pendapat mereka tentang penetapan penanggalan yang bisa mereka sepakati dalam muamalah mereka. Ada yang menyarankan untuk mengikuti penanggalan bangsa Persia dan Romawi, ada juga yang menyarankan untuk menggunakan penanggalan berdasarkan kelahiran Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sementara yang lain berdasarkan masa diutusnya beliau sebagai Nabi, ada juga yang berdasarkan wafatnya. Sedangkan Ali bin Abi Thalib serta beberapa orang jamaah menyarankan penanggalan berdasarkan hijrahnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dari Mekah ke Medinah karena semua orang mengetahui hal tersebut. Umar pun cenderung memilih pendapat terakhir ini karena semua orang mengetahui secara pasti kapan waktu pelaksanaan hijrah. Di samping itu hijrah juga merupakan momen perubahan besar dalam secara dakwah Islam.

Umar pun memutuskan penggunaan penanggalan berdasarkan hijrah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari awal tahun itu, yaitu bulan Muharram yang merupakan permulaan tahun berdasarkan perputaran bulan, agar tidak merombak urutan bulan yang sudah baku. Keputusan itu diberlakukan pada tahun 16 Hijriah, dua setengah tahun setelah pengangkatan Umar sebagai khalifah.

3. Hukum tanah di wilayah penaklukan
Setelah penaklukan semakin meluas, kaum muslimin menghadapi persoalan baru terkait tanah-tanah yang berada di wilayah penaklukan, apakah dibagikan kepada para mujahidin setelah diambil seperlimanya atau dibiarkan pada pemiliknya lalu mereka membayar pajak kepada kaum muslimin.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut Umar pun bermusyawarah dengan tim ahli kekhalifahan, diputuskanlah untuk membiarkan tanah tersebut pada pemiliknya lalu ditetapkan atas mereka pajak yang dibayarkan ke baitul mal agar dapat memberi manfaat bagi semua.

4. Peradilan
Dalam hal peradilan, Umar menetapkan kebijakan pengadilan. Dia memerintahkan para gubernur di seluruh wilayah untuk mendirikan pengadilan dan mengangkat seorang hakim yang tugasnya khusus menangani peradilan.

Di antaranya apa yang ditulisnya pada Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur wilayah Bashrah, “Sesungguhnya persoalan peradilan itu kewajiban yang telah ditetapkan dan sunnah yang harus diikuti, maka pahamilah perkara jika diajukan padamu, tidaklah bermanfaat pembicaraan tentang kebenaran tanpa realisasi. Damaikanlah antara manusia di majlismu, sehingga orang-orang mulia tidak berharap kesewenanganmu dan orang-orang yang lemah tidak putus asa terhadap keadilanmu. Orang yang menuntut harus mengajukan bukti sedangkan yang membantah harus bersumapah. Jalan damai boleh ditempuh untuk menyelesaikan pertikaian kaum muslimin, kecuali jalan damai yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Jangan pernah ragu untuk meralat keputusan yang telah engkau tetapkan sebelumnya jika engkau menemukan keputusan yang lebih benar. Sesungguhnya tidak ada yang akan mengalahkan suatu kebenaran. Ketahuilah, meralat keputusan untuk mencapai kebenaran jauh lebih baik daripada bersikeras melanjutkan keputusan yang salah. Pahamilah dengan baik hal-hal yang engkau ragukan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Seluruh kaum muslimin diterima kesaksiannya kecuali orang yang pernah dijatuhi hukuman, pernah membuat kesaalahan palsu, dianggap berpihak atau berlaku nepotisme.”

5. Pembuatan hukum administrasi
Akibat dari banyaknya penaklukan yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar adalah melimpahnya kekayaan dan pendapatan negara. Ketika kaum muslimin berhasil menaklukan Mesir, Syam, Irak, Persia, dan Mada’in, para gubernur mengirim pajak dari berbagai wilayah penaklukan sehingga memenuhi baitul mal.
Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Amirul mukminin, saya melihat orang-orang asing itu memiliki buku administrasi  yang berisi nama-nama orang yang berhak mendapat gaji.”

Mendengar ide tersebut, Umar berkeinginan untuk merealisasikannya. Dia lantas mengumpulkan para tokoh untuk bermusyawarah dengan mereka. Ali bin Abi Thalib dan utsman bin Affan meyampaikan pendapatnya. Kemudian Walid bin Hasyim bin Mughirah berkata, “Wahai Amirul mukminin, saya berkunjung ke Syam, saya lihat para rajanya memiliki buku administrasi dan mengangkat pasukan tentara. Maka buatlah sebuah buku administrasi dan bentuklah pasukan tentara.”

Umar pun menyetujui ide Walid. Peristiwa itu terjadi pada tahun 20 H. Umar lalu memanggil tokoh-tokoh Quraisy yang ahli dalam silsilah nasab, seperti Aqil bin Abi Thalib, Makhramah bin Naufal, dan Jubair bin Muth’im, dan memerintahkan kepada mereka menulis nama-nama kaum muslimin dan mengurutkannya sesuai kedudukan mereka.”

Mereka pun mulai menulis nama-nama, diawali dengan Bani Hasyim, lalu Abu Bakar dan kaumnya, diikuti Umar dan kaumnya didasarkan pada urutan kekhalifahan. Ketika Umar melihat catatan tersebut, dia berkata, “Saya juga berharap seperti ini , tapi sebaiknya kalian memulai dengan kerabat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dari yang paling dekat samapi yang jauh, lalu letakkan Umar di temapat yang ditetapkan Allah untuknya.’

Umar lalu menetapkan bagian untuk setiap orang yang tercantum namanya dalam buku. Dia melibihkan bagian orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan ikut serta dalam berbagai pertempuran di masa awal Islam. Sementara Abu Bakar sebelumnya membagi semua rata pada semua orang. Ketika hal itu disampaikan pada Umar, dia mengatakan, “Saya tidak mungkin menyamakan orang yang memerangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan orang yang berperang bersama beliau!”

Tidak ada yang mendapat bagian yang lebih banyak daripada para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar kecuali para istri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Umar menetapkan bagi masing-masing mereka dua belas ribu dirham.

Umar menetapkan bagian tertentu untuk masing-masing kaum muslimin. Umar pernah berkata, “Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini kecuali memiliki hak atas harta rampasan ini, baik diberikan maupun tidak. Jika saya masih hidup nanti, seorang gembala di Yaman akan memperoleh haknya sebelum wajahnya memerah karena lelah memintanya.”

Umar berkata, “Jika jumlah hartanya banyak, Umar menetapkan untuk masing-masing tentara 4000 dirham. Seribu untuk biaya perjalanan, seribu untuk persenjataan, seribu untuk biaya keluarga yang ditinggalkan, dan seribu untuk kuda tunggangan. Saya akan menambahnya jika jumlah harta bertambah dan saya akan menghitungnya dengan cermat. Jika saya ragu akan saya timbang, jika saya masih ragu juga, akan saya tuangkan tanpa perlu menghitung.”

Semua orang hidup dengan harta yang melimpah dan berkecukupan. Semua orang pun mendoakan Amirul mukminin. Ketika Umar mendengar hal tersebut, “Jangan puji saya, karena seanddainya harta itu milik Khaththab, saya tidak akan membaginya.”

6. Gudang logistik
Pada masa kekhalifahannya, Umar pun mendirikan gudang logistik untuk menyimpan persediaan gandum, kurma, kismis, dan kebutuhan lain untuk menolong orang yang memerlukan atau menjamu tamu khalifah. Umar pun membangun pos-pos  persediaan air di sepanjang jalan dari Madinah ke Mekah yang dapat membantu para musafir yang kehabisan bekal agar dapat sampai ke tujuannya.

7. Berbagai peraturan lain yang mengagumkan

  • Menetapkan nafkah untuk setiap anak yang baru lahir di wilayah Islam. Ketetapan ini dikirim ke seluruh gubernur wilayah.
  • Umar berkirim surat pada para gubernur dan panglima tentara menetapkan bahwa masa tugas tidak boleh lebih dari empat bulan. Para tentara harus kembali pulang ke keluarganya sebelum masa tersebut.
  • Mengutamakan mengiriman pasukan dari kalanagn bujangan daripada yang telah menikah dan mengutamakan para prajurit daripada rakyat biasa.
  • Umar juga menulis surat kepada para gubernur, “Agar para panglima tidak menerapkan hukum had pada siapapun sampai mereka terlatih, agar tidak terpengaruh bisikan setan untuk membelot pada pasukan kafir.”
  • Di antara peraturan penting yang ditetapkan Umar untuk melindungi Madinah Munawwarah (pusat kekhalifahan) adalah melarang membawa masuk tawanan dewasa ke sana.

8. Pengusiaran Yahudi
Pada tahun 20 H Umar mengusir seluruha kaum Yahudi Khaibar dan Najran dari Jazirah Arab. Umar mengirim surat kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan aku untuk mengusir kalian. Telah sampai padaku berita bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Tidak akan berkumpul dua agama di Jazirah Arab.” Maka siapa yang pernah mendapat janji dari Rasulullah, silakan datang padaku untuk aku penuhi. Siapa yang tidak memiliki ikatan perjanjian dengan beliau hendaklah bersiap untuk meninggalkan Jazirah Arab.”

9. Perluasan Masjid Nabawi
Umar juga melakukan perluasan Masjid Nabawi. Dia membeli rumah-rumah yang berada di sekitarnya dan memperluas masjid kaum muslimin. Dia juga meminta Abbas paman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menjual rumahnya, namun Abbas menyedekahkannya untuk kaum muslimin.

10. Penddikan
Umar sangat peduli terhadap pendidikan rakyatnya. Dia ikut turun tangan mengajarkan pengetahuan agama pada Arab badui. Umar pun mengutus para ulama dari kalangan shahabat untuk mengajari orang-orang Al-Qur’an dan memahamkan mereka persoalan agama. Dia pernah mengatakan, “Hendaklah yang berdagang di pasar orang yang memahami agama.”

11. Mengumpulkan orang dalam pelaksanaan shalat terawih dan membuat penerangan masjid
Umar mengumpilkan orang-orang dalam pelaksanaan shalat tarawih dengan menetapkan Ubay bi Ka’Abu Bakar sebagai imam. Dia menulis surat kepada seluruh gebernur wilayah memerintahkan mereka untuk melakukan shalat qiyamu Ramadhan secara berjamaah.
Umar juga membuat penerangan di masjid dengan lampu. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib melewati beberapa masjid di Bulan Ramadhanyang seluruhnya terang benderang oleh lampu. Maka dia berkata, “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaiman dia menerangi masjid kita.”

12. Prinsip “dari mana kau dapatkan ini?”
Umar menerapkan prinsip ini dalam memeriksa para gubernur wilayah. Cukup banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana Umar selalu menerapkan prinsip ini.

13. Memuliakan para pendahulu masuk Islam
Umar sangat memuliakan para pendahulu masuk Islam, yaitu mereka yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam mempertahankan keislaman mereka. Suatu waktu beberapa orang hendak bertamu ke rumah Umar. Ada Suhail bin Amr, Abu Musa Al-Asy’ari Sufyan, dan tokoh-tokoh Quraisy yang lain. Lalu keluarlah orang yang menyampaikan izin untuk masuk, lalu mengizinkan para shahabat yang pernah ikut perang Badar seperti Shuhaib, Bilal, dan Ammar Radiyallahu ‘Anhum.

Abu Sufyan berkata, “Saya tidak pernah mengalami hal ini. Dia mengizinkan orang-orang tersebut untuk masuk, sementara kita tidak dilirik sama sekali.”

Suhail bin Amr berkata, “Wahai kaum, demi Allah saya melihat perubahan wajah kalian. Jika kalian marah, maka maralah pada diri kalian sendiri. Mereka dan kalian diseru masuk Islam. Mereka segera menjawab seruan itu sementara kalian berlam-lambat.”

Pada suatu hari Umar membagikan pakaian. Di antara pakaian itu terdapat kain yang bagus dan lebar. Umar pun menyuruh untuk dikirim ke Ummu Umarah, Nasibah binti Ka’ab. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Setiap saya menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat perang Uhud, saya selalu melihat Nasibah bertempur melindungi saya.”

F. KELENGKAPAN RIWAYAT HIDUP UMAR, KEPELOPORANNYA, UCAPANNYA, DAN RASA TAKUTNYA DALAM MENGEMBAN TANGUNGJAWAB KEKHALIFAHAN

1. Kepeloporan Umar
Umar menjadi pelopor dalam banyak hal. Di antaranya, dia adalah orang pertama yang menulis penanggalan Hijriah, orang pertama pertama yang mengumpulkan orang dalam pelaksanaan shalat tarawih pada satu imam, orang pertama yang mengumpulkan orang dalam pelaksanaan shalat jenazah dengan empat kali takbir, orang pertama yang melakukan ronda malam, orang pertama yang menjatuhkan hukuman atas perbuatan fitnah, orang pertama yang menetapkan hukum cambuk sebanyak 80 kali atas peminum khamar, orang pertama yang menarik zakat kuda, orang pertama yang melarang penjualan budak perempuan yang dinikahi dan telah melahirkan anak, orang yang pertama yang membuat buku administrasi lalu menetapkan bagian dari harta rampasan, orang pertama yang mengangkut makanan dari Mesir ke Madinah, orang pertama yang menetapkan wakaf tanah dan mensedekahkan hasilnya, orang pertama yang menggunakan cambuk, orang pertama yang membangun wilayah, orang pertama yang menetapkan pajak atas tanah, dan orang pertama yang memperluas masjid Nabawi.

2. Beberapa ucapan, nasihat, dan khutbah Umar
Cukup banyak kata penuh hikmah yang keluar dari lisan Umar. Berbagai khutbahnya penuh dengan nasihat dan pelajaran mirip ucapan seorang Nabi, hanya saja dia bukan berasal dari wahyu.

Umar menasehati orang-orang yang memberi mereka petunjuk dengan ucapan, “Hisab (Hitung)lah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum diri kalian sebelum diri kalian ditimbang. Sesungguhnya kalian akan mengalami hisab yang lebih ringan besok jika kalian menghisab diri kalian sekarang. Berhisablah untuk menampilkan yang agung, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang bersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah [69]: 18).

Nasihat Umar pada Ahnaf bin Qais, “Wahai Ahnaf, siapa yang banyak tertawa akan berkurang kewibaannya, siapa yang suka bercandah akan diremehkan, siapa yang banyak melakukan sesuatu akan di kenal dengan sesuatu itu, siapa yang banyak bicara lebih sering tergelincir, siapa yang sering tergelincir akan berkurang rasa malunya, siapa yang berkurang rasa malunya akan berkurang wara’nya, siapa yang berkurang wara’nya akan mati hatinya.”

Di antara nasehat Umar pada orang-orang, “Jangan menentang sesuatu yang tidak penting bagimu, hindarilah musuhmu, jagalah jarak dengan temanmu kecuali orang-orang yang terpercaya, sesungguhnya orang yang terpercaya itu tak ada bandingnya, jangan berteman dengan orang-orang jahat karena dia akan mengajarimu sebagian dari perbuatan jahat, jangan sebarkan rahasiamu, dan mintalah pendapat dalam urusanmu pada orang-oarang yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Umar pernah berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan engkau ambil nyawaku saat aku lengah, jangan biarkan aku lengah, dan jangan jadikan aku termasuk orang-orang yang lengah.”

Ketika berangkat untuk penaklukan Baitul Maqdis, Umar sempat mampir di Jabiyah. Di sana dia menyampaikan khutbah yang cukup panjang, “Wahai jamaah sekalian, perbaikilah hal-hal yang tersembunyi dari kalian maka akan baik pula yang tampak dari diri kalian, berbuatlah untuk akhirat maka urusan dunia akan tercukupi, ketahuilah bahwa seseorang itu tidak ada diantaranya dengan adam seorang bapak yang hidup pasti bernasab pada kematian, siapa yang ingin mendapat jalan ke surga hendaklah senantiasa bersama jamaah, sesungguhnya setan bersama orang  yang sendiri, dan dia lebih menjauh dari orang yang berdua. Tapi jangan sekali-kali berduaan dengan perempuan, karena setan menjadi yang ketiga. Siapa yang senang dengan kebaikannya dan sedih atas keburukannya menandahkan bahwa dia adalah seorang mukmin.”

3. Kerendahan hati Umar dan rasa takutnya kepada Allah
Meski Umar Radiyallahu ‘Anhu telah menorehkan berbagai keberhasilan dalam perjalanan hidup, di sisi lain Umar memiliki sifat rendah hati dan rasa takut luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada suatu hari yang terik dia berjalan sambil menutup bajunya ke atas kepalanya. Lewatlah seorang budak menunggangi keledai. Umar berkata padanya, “Wahai budak, bawa saya bersamamu.” Budak itu segera turun dari keledainya dan mempersihlakan Umar naik. Namun Umar berkata, “Tidak naiklah dan saya akan membonceng di belakang. Bagaimana mungkin engkau membawa saya ke tempat yang nyaman sementara engkau berada di tempat yang sulit. Maka Umar pun naik di belakang budak itu hingga masuk ke kota Madinah dan orang-orang melihatnya dalam kondisi seperti itu.
Pernah Umar menghardik seseorang dan hendak memukulnya dengan cambuk. Orang itu berkata, “Saya peringatkan engkau dengan Allah!” Seketika itu juga Umar melemparkan cambuk dari tangannya seraya berkata, “Engkau memperingatkan aku dengan sesuatu yang agung.”

Umar memiliki semboyan yang selalu diberitahukannya pada khlayak, “Orang yang paling aku sukai adalah orang yang menunjukkan padaku kekuranganku.”
Anas bin Malik meriwayatkan, “Saya mendengar Umar bin Khaththab berkata-kata pada suatu hari. Waktu itu kami keluar bersama, lalu dia masuk kedalam sebuah kebun kurma. Dari balik dinding saya mendengar dia berkata, “Umar bin Khaththab, Amirul mukminin, camkan wahai putra Khaththab, takutlah pada Allah atau kalau tidak Dia akan mengazabmu.”

Agar Umar selalu mengingat akhirat dan tidak melupakan hisab, dia mengukir di cincinnya kalimat, “Cukuplah mati sebagai penasihat wahai Umar.”
Umar pernah berkata, “Setiap hari orang berkata, si fulan dan si fulan meninggal. Pasti akan tiba saatnya di mana orang akan berkata, Umar meninggal.”
Bahkan rasa takutnya terhadap perkara hisab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala amatlah tampak dari ucapannya ketika menghadapi ajal, ketika dia berada di tempat putranya Abdullah. Dia mengatakan bahwa dirinya telah banyak berbuat zhalim, namun dia berusaha untuk menjaga shalat dan puasa,

Hal itu merupakan sifat rendah hati dari orang-orang yang agung yang mengerti betul hak Allah, hak manusia, dan hak kekhalifahan dan hukum. Maka dia sangat mengetahui posisi dirinya sehingga sangat merendahkan hatinya di hadapan Allah dan berusaha untuk bertaubat kepada-Nya.

G. SYAHIDNYA UMAR, UCAPAN DUKA DAN KELUARGANYA

1. Kabar gembira tentang syahidnya Umar
Khalifah seperti Umar ini tidak dibiarkan begitu saja oleh para pemimpin kejahatan dan kezhaliman. Mereka tidak pernah rela dijatuhkan dari kekuasaannya dan diturunkan dari kemuliaannya.

Rencana jahat kelompok Yahudi, kemarahan bangsa Persia, dan sakit hati kaum Romawi tidak akan membiarkan Abu Hafsh meninggal dengan tenang di perbaringannya seperti manusia pada umumnya, Maka kekuatan tersebut merencanakan suatu pembunuhan pada suatu malam yang gelap gulita.

Sementara Amirul mukminin Radiyallahu ‘Anhu selalu mengharapkan mati syahid dan amat yakin dia akan memperolehnya. Selalu terbayang dalam ingatannya sebuah peristiwa ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam naik ke atas gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Waktu itu gunung Uhud bergetar. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Tenanglah wahai Uhud, di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Sejak peristiwa itu jiwa Umar selalu merindukan terwujudnya kabar gembira tersebut dan selalu berharap untuk memperoleh kedudukan yang mulia itu. Umar kerap berdoa, “Ya Allah, anugrahkan kepadaku mati syahid di jalan-Mu dan jadikan tempat kematianku di negeri Rasul-Mu.”

Mendengar doa tersebut putrinya Hafshah bertanya, “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?”

Umar menjawab, “Sesungguhnya Allah mewujudkan sesuatu sesuai kehendak-Nya.”
Ketika Umar sedang bersama para shahabatnya, tiba-tiba dia teringat sabda Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, “Ini adalah pintu penutup fitnah –seraya menunjuk ke arah Umar-. Akan selalu ada pintu yang tertutup rapat antara kalian dan fitnah selama orang ini masih ada bersama kalian.”

Maka Umar bertanya kepada orang-orang yang ada bersamanya, “Siapa di antara kalian menghafal sabda Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang fitnah?” Hudzaifah menjawab, “Saya hafal sabda tersebut.” Umar berkata, “Coba bacakan, sesungguhnya engkau seorang pemberani.” Hudzaifah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ”Fitanah seseorang pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya bisa dihapuskan dosanya dengan Shalat, Sedekah, dan memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar.”

Umar menyanggah, “Bukan yang ini, akan tetapi fitnah yang datang bergelombang seperti gelombang lautan!” Hudzaifah berkata, “Engkau tidak bermasalah dengannya wahai Amirul mukminin, sesungguhnya diantaramu dan fitnah itu ada pintu yang tertutup.”
Umar bertanya, “Apakah pintunya didobrak atau dibuka?” Hudzaifah menjawab, “Didobrak.” Umar berkata, “Kalau begitu layak tidak tertutup selamanya.” Kami bertanya pada Hudzaifah, “Apakah Umar tahu siapakah pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “Ya, seperti halnya ia tahu bahwa yang menghalangi hari ini dan hari esok adalah malam hari. Aku menceritakan sebuah hadits yang tidak ada kekeliruan padanya.” Kami suruh Masruq (Masruq bin Ajda’, dari kalangan tabi’in) bertanya pada Hudzaifah. Ia pun bertanya, “Siapa pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “Umar.”

Pada jum’at terakhir dari periode kekhalifahannya Umar berkhutbah di depan khalayak. Setelah memuji Allah dia berkata, “Amma ba’du, wahai jamaah sekalian, saya kedatangan mimpi yang tidak akan mendatangiku kecuali menjadi tanda datangnya ajalku. Saya melihat seekor ayam jantan mematuk diriku dengan paruhnya dua kali. Saya lalu menceritakannya pada Asma’ binti Umais. Dia berkata bahwa saya akan dibunuh oleh orang asing.”

2. Syahidnya Umar dan pemakamannya di dekat Nabi dan Abu Bakar
Mughirah bin Syu’bah memiliki seorang budak pekerja bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz yang berasal dari kalangan Majusi, berkebangsaan Romawi. Mughirah meminta izin kepada Umar untuk membawanya masuk ke Madinah karena dia memiliki keterampilan yang akan bermanfaat untuk orang banyak; dia seorang pandai besi, ahli pertukangan, dan ukiran. (Umar pernah menetapkan peraturan yang melarang tawanan dewasa dibawa masuk ke kota Madinah) Maka Umar pun mengizinkan.

Abu Lu’lu’ah memendam keinginan untuk membunuh Umar. Maka dia mempersiapkan sebilah pisau besar bermata dua, pegangannya di bagian tengah pisau, di tajamkan dan dilumuri racun. Pada waktu subuh hari Rabu, empat hari terakhir dari bulan Zulhijjah, orang kafir ini bersembunyi di salah satu sudut masjid di penghujung malam menunggu malam keluar.

Amr bin Maimun yang waktu itu shalat subuh di belakang Umar meriwayatkan kisah tragis tersebut. Dia berkata, “Aku berdiri dan tidak ada seorangpun antara aku dan dia kecuali Abdullah bin Abbas pad subuh hari pada saat Umar terkena musibah. Subuh itu, Umar hendak memimpin shalat dengan melewati barisan shaf dan berkata, “Luruskanlah shaf.”

Ketika dia sudah tidak melihat lagi celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka Umar maju lalu bertabir. Sepertinya dia membaca surat Yusuf atau An-Nahl atau seperti surat itu pada raka’at pertama hingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat. Ketika aku tidak mendengar sesuatu darinya kecuali ucapan takbir tiba-tiba terdengar dia berteriak, “Ada orang yang telah membunuhku, atau katanya, “seekor anjing telah menerkamku”, rupanya ada seorang yang menikamnya dengan sebilah pisau bermata dua. Penikam itu tidaklah melewati orang-orang disebelah kanan atau kirinya melainkan dia menikam pula hingga dia telah menikam sebanyak tiga belas orang yang mengakibatkan tujuh orang diantaranya meninggal dunia. Ketika seseorang dari kaum muslimin melihat kejadian itu, dia melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai pembunuh itu. Dan ketika dia menyadari bahwa dia pasti tertangkap (tak lagi bisa menghindar), dia bunuh diri.

Umar memegang tangan Abdur Rahman bin ‘Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan Umar pasti dapat meilihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berda di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya tidak mendengar suara Umar. Mereka berseru, “Subhanallah, Subhanallah (maha suci Allah).” Maka Abdurrahman melanjutkan shalat jamaah secara ringan. Setelah shalat selesai, Umar bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku.” Ibnu Abbas berkeliling sesaat lalu kembali, “Budaknya Mughirah.”

Umar bertanya, “Budak yang pandai membuat pisau itu?” Ibnu Abbas menjawab, “Ya, benar.” Umar berkata, “Semoga Allah membunuhnya, sungguh aku telah memerintahkan dia berbuat makruf (kebaikan). Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapakmu suka bila orang kafir non arab banyak berkeliaran di Madinah.” Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak. Ibnu Abbas berkata, “Jika anda menghendaki, aku akan kerjakan apapun. Maksudku, jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya.” Umar berkata, “Kamu salah, (sebab mana kalian boleh membunuhnya) padahal mereka telah terlanjur bicara dengan bahasa kalian, shalat menghadap kiblat kalian, dan naik haji seperti haji kalian.” Kemudian Umar dibawah ke rumahnya dan kami ikut menyertainya.

Saat itu orang-orang seakan-akan tidak pernah terkenah seperti hari itu sebelumnya. Di antara mereka ada yang berkata, “Dia tidak apa-apa.” Dan ada juga yang berkata, “Aku sangat mengkhawatirkan nasibnya.” Kemudian Umar disuguhi minuman anggur lalu dia meminumnya namun makanan itu keluar lewat perutnya. Kemudian diberi susu dan dia pun meminumnya lagi namun susu itu keluar melalui lukanya. Akhirnya orang-orang menyadari bahwa Umar sefera akan meninggal dunia. Maka kami pun masuk menjenguknya lalu orang-orang berdatangan dan memujinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda seraya berkata, “Berbahagialah anda, wahai Amirul mukminin dengan kabar gembira dari Allah untuk anda karena telah hidup dengan mendampingi (menjadi shahabat) Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan yang terdahulu menerima Islam sebagaimana yang anda ketahui. Lalu anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan anda telah menjalankannya dengan adil, kemudian anda mati syahid.” Umar berkata, “Aku sudah merasa senang jika akhir kekhalifahanku berakhir netral, aku tidak terkena dosa dan tidak mendapat pahala. “Ketika pemuda itu berlalu, tampak pakiannya menyentuh tanah, maka Umar berkata, “Bawa kembali pemuda itu kepadaku.”

Umar bertanya padanya, “Wahai saudaraku, angkatlah pakaianmu karena demikian lebih mensucikanmu (dari najis) dan lebih membuatmu bertakwa kepada rabbmu. Wahai Abdullah bin Umar, lihatlah berapa jumlah hutang yang menjadi kewajibanku.” Maka mereka menghitung nya dan mendapat hasilnya sebesar delapan puluh enam ribu atau sekitar itu. Umar berkata, “Jika harta keluarga Umar mencukupi bayarlah hutang itu dengan harta mereka. Namun apabila tidak mencukupi maka mintalah kepada Bani  Adi bin Ka’Abu Bakar. Dan apabila harta mereka masih tidak mencukupi, maka mintalah kepada masyarakat Quraisy dan jangan mengesampingkan mereka dengan meminta selain mereka lalu lunasilah hutangku dengan harta-harta itu. Temuilah Aisyah, Ummul mukminin Radiyallahu ‘Anha.

Ternyata Abdullah bin Umar mendapatkan Aisyah sedang menangis. Lalu dia berkata, “Umar bin Khaththab menyampaikan salam buat anda dan meminta izin agar boleh dikuburkan di samping kedua shahabatnya (Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan Abu Bakar Radiyallahu ‘Anhu).” Aisyah berkata, “Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untuk diriku namun hari ini aku tidak mementingkan diriku.” Ketika Abdullah bin Umar kemabali dikatakan kepada Umar, “Ini dia, Abdullah bin Umar sudah datang.” Maka Umar berkata, “Angkatlah aku.” Maka seorang laki-laki datang menopangnya. Umar bertanya, “Berita apa yang kamu bawah?” Ibnu Umar menjawab, “Berita yang anda sukai, wahai Amirul mukminin. Aisyah telah mengizinkan anda.”

Umar berkata, “Alhamdulillah. Tidak ada sesuatu yang paling penting bagiku selain hal itu. Jika aku telah meninggal, bawalah jasadku kepadanya dan sampaikan salamku lalu katakan bahwa Umar bin Khaththab meminta izin. Jika dia mengizinkan maka masukkanlah aku (kuburkan) namun bila dia menolak maka kembalikanlah jasadku ke kuburan kaum Muslimin.”

Kemudian Hafshah, Ummul mukminin datang dan beberapa wanita ikut bersamanya. Tatkala kami melihatnya, kami segera berdiri. Hafshah kemudian mendekat kepada Umar lalu dia menangis sejenak. Kemudian beberapa orang laki-laki meminta izin masuk, maka Hafshah masuk ke kamar agar mereka bisa masuk. Maka kami dengar tangisan Hafshah dari balik kamar.

3. Pengangkatan enam ahli musyawarah dan wasiat Umar
Ketika orang-orang melihat apa yang menimpa Umar, mereka berkata padanya, “Wahai Amirul Mukminin, angkatlah penggantimu.” Umar berkata, “Saya tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka atau segolongan mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat beliau ridha kepada mereka. Maka dia menyebut nama Ali, Utsman, Zubair, Thalha, Sa’ad dan Abdurrahman. Selanjutnya dia berkata, “Abdullah bin Umar akan menjadi saksi atas kalian. Namun dia tidak punya peran dalam urusan ini, dan tugas itu hanya sebagai bentuk penghibur baginya. Jika kepemimpinan jatuh ketangan Sa’ad, maka dialah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya. Dan siapa saja diantara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin maka aku tidak akan memecatnya karena alasan lemah atau berkhianat.”

Selanjutnya Umar berkata, “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada kaum Anshar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk seluruh wilayah karena mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali kelebihan harta mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui karena mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang fakir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadnya agar menunaikan perjalanan kepada ahlu Dzimmah (Warga non muslim yang wajib terkena pajak), yaitu orang-orang dibawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alahi wa Sallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahlu dzimmah) yang berniat memerangi harus diperangi, mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka.”

Amr bin Maimun berkata, “Ketika Umar sudah menghembuskan nafas terakhir, kami membawanya keluar lalu kami berangkat ke rumahnya Aisyah Ummul Mukminin dengan jalan kaki. Sesampainya di sana Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada Aisyah Radiyallahu ‘Anha lalu berkata, “Umar bin Khaththab meminta izin.” Aisyah berkata, “Masuklah.” Maka jasad Umar di masukkan ke dalam liang lahat dan di letakkan berdampingan dengan kedua shahabatnya.”

4. Pelunasan hutang Umar
Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘Anhuma menanggung pelunasan hutang ayahnya. Sebelum Umar Al-Faruq dimakamkan, Ibnu Umar memberikan pernyataan tersebut disaksikan oleh enam orang ahli musyawarah dan beberapa orang dari kaum Anshar. Baru saja orang-orang pergi setelah Umar dimakamkan, Abdullah bin Umar langsung membawa sejumlah harta ke tempat Utsman binAffan dan menghadirkan beberapa orang untuk menjadi saksi pelunasan hutang Umar.

Abdullah bin Umar tidak sampai meminta tolong kepada siapa pun untuk melunasi hutang ayahnya, karena Umar maninggalkan warisan yang cukup banyak. Nafi’, pembantu Umar meriwayatkan, “Seorang ahli waris Umar telah menjual warisannya seharga seratus ribu dinar.”

5. Pengurusan jenazah Umar
Umar dimandikan dengan air dan pohon bidara oleh Abdullah bin Umar dan dikafani dengan tiga helai kain, lalu diangkat diatas tandu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Orang-oarang mencari siapa yang sebaiknya menjadi imam dalam shalat jenazah Umar, lalu mereka teringat akan Shuhaib yang pernah menjadi imam mereka dalam shalat wajib atas perintah Umar. Maka mereka pun mempersilakan Shuhaib untuk mengimami shalat jenazah di masjid Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, di antara makam dan kiblat.
Yang turun ke dalam liang lahatnya adalah Abdullah bin Umar, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Zaid, dan Abdurrahman bin Auf. Umar dimakamkan di rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Jika kepala Abu Bakar dibuat sejajar dengan pundak Rasulullah, maka kepala Umar dibuat sejajar dengan pinggang beliau.

6. Pujian untuk Umar dan ungkapan duka atasnya
Ketika Umar telah dibaringkan di atas tandu, Ali bin Abi Thalib berdoa untuk Umar, lalu berkata, “Tidak ada yang lebih saya sukai mendahuluiku menghadap Allah dengan amalannya selain engkau. Demi Allah, menurut saya Allah akan menempatkanmu bersama dua orang shahabatmu. Saya banyak mendengar Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Saya, Abu Bakar, Umar pergi… Saya, Abu Bakar, dan Umar masuk… Saya, Abu Bakar, dan Umar keluar..”

Abu Wa’il, murid Ibnu Mas’ud, berkata, “Abdullah bin Mas’ud datang ke tempat kami (di Kufah). Lalu dia menyampaikan kabar duka tentang wafatnya Umar. Tidak pernah saya melihatnya menangis dan bersedih selama itu sebelumnya. Dia kemudian berkata, “Demi Allah, seandainya saya tahu Umar menyukai anjing, pasti saya akan ikut menyukainya. Demi Allah, saya rasa sebatang pohon pun akan merasa kehilangan Umar.”

Sa’id bin Zaid menangis karena wafatmya Umar. Seseorang bertanya padanya, “Wahai Abul Ali’war, apa yang membuatmu menangis?’ Sa’id menjawab, “Saya menangisi Islam. Sesungguhnya wafatnya Umar membuat sumbing Islam dan tidak dapat diperbaiki samapai hari kiamat.”

Abdullah bin Salam datang setelah Umar selesai dishalatkan. Maka dia berdiri di samping tandunya dan berkata, “Saudara Islam yang paling baik adalah engakau wahai Umar, pemurah dalam yang hak dan bakhil dalam kebatilan, ridha pada saat harus merasa ridha, dan marah pada saat harus marah, menghindari segala hal syubhat, memiliki perangai yang baik, tidak suka terlalu memuji dan tidak juga membicarakan keburukan orang.”
Hasan Al-Bashari berkata, “Jika ada sebuah keluarga yang tidak merasa kehilangan atas wafatnya Umar, maka mereka itu keluarga yang buruk.”

Ja’far Ash-Shiddiq berkata, “Saya berlepas tangan dari oarang yang membicarakan Abu Bakar dan Umar kecuali tentang kebaikan mereka.”
Muhammad bin Sirin mengatakan, “Menurut saya, orang yang menjelek-jelekan Abu Bakar dan Umar berarti tidak mencintai Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.”

7. Usia Umar dan masa kekhalifahannya
Peristiwa penusukan Umar Radiyallahu ‘Anhu terjadi pada waktu subuh hari Rabu, empat hari terakhir dari bulan Zulhijjah tahun 23 H. dan dimakamkan pada hari Ahad, awal Muharram tahun 24 H. usianya waktu itu mencapai 63 tahun seperti usia Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan Abu Bakar ketika keduanya meninggal dunia.

8. Keluarga Umar
Jumlah istri yang pernah dinikahi Umar baik pada masa Jahiliyah maupun pada masa Islam, baik yang sudah diceraikan maupun yang ditinggal wafat, ada 7 orang yaitu Jmilah binti Tsabit bin Abil Aqlah,  Zainab binti Mazh’un, Atikah binti Zaid, Qaribah binti Abi Umayyah, Mulaikah binti Jarwal, Ummu Hakim binti Al-Harits, Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib.

Umar memiliki dua budak perempuan, yaitu Fukaihah dan Luhayyah.
Sementara putra-putrinya berjumlah 13 orang, yaitu: Abdullah, Abdurrahman Al-Akbar, Abdurrahman Al-Wasath, Abdurrahman Al-Ashghar, Zaid Al-Akbar, Zaid Al-Ashghar, Ubaidillah, Ashim, Iyadh, Hafshah, Ruqayyah, Fathimah, dan Zainab.
Umar juga memiliki beberapa pelayan, yaitu: Aslam, Hani’, Abu Umayyah, Mahja’, Malikuddar, dan Dzakwan.

Inilah dia tokoh besar yang tidak sempat kita temui di jalan-jalan Madinah Munawwarah untuk menyaksikan karakternya, keagungannya, dan kemuliaannya yang memenuhi ruang dan waktu. Namun Alhamdulillah kita dapat menyaksikan beberapa cuplikan dari kehidupannya, mengenal hidangannya yang tidak diisi dengan makanan-makanan lezat, yang penuh dengan kemuliaan dan kepahlawanan.

Itulah Umar bin Khaththab, mukjizat Islam dalam pembentukan hukum, kebanggaan sejarah, tokoh dunia, dan pendiri negara Islam yang bersinar.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Abu Hafsh Amirul mukminin dan memasukkan kita ke dalam golongannya.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/sahabat-nabi-umar-bin-khatahtab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s