Utsman Bin Affan

A. ASAL-USUL DAN GAMBARAN FISIK UTSMAN SERTA KEISLAMANNYA

1. Nama, nasab, dan gambaran fisiknya
Di Mekah Al-Mukarramah tempat berdirinya Ka’bah yang mulia, kabilah Quraisy menempati posisi penting dan terhormat di Jazirah Arab karena mereka mengemban tanggungjawab pengurusan Ka’bah, tempat yang senantiasa di kunjungi oleh manusia dari berbagai penjuru. Enam tahun setelah peristiwa penyerangan tentara gajah, lahirlah Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi Al-Umawi.

Ayahnya Affan bin Abil Ash meninggal dunia pada masa jahiliyah dan tidak sempat mengenal Islam. Sedangkan ibunya Arwa binti Quraiz bin Rabi’ah, putri dari Ummu Hakim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Arwa sempat memeluk Islam, ikut hijrah ke Madinah dan ikut berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia menetap di Madinah Al-Munawwarah hingga wafat pada masa kekhalifahan putranya, Utsman.

Utsman memiliki perawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Parasnya tampan, kulitnya tipis, gigi depannya rapi, hidungnya mancung, janggutnya tebal, berkulit sawo matang, berbadan kekar, betisnya besar, lengannya panjang dan berbulu lebat, rambutnya tebal, suka mewarnai janggutnya, dan memakai gigi emas.
Akhalaknya mulia, sangat pemalu, dermawan, senantiasa berkata jujur, dan selalu menjaga lisan. Abdullah bin Umar berkata, “Tiga orang dari suku Quraisy yang memiliki wajah paling tampan, akhlak paling bagus, paling pemalu, jika berbicara tidak berbohong dan jika engkau bicara maka mereka tidak mendustakanmu, adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Radiyallahu ‘Anhum.”

2. Keislaman Utsman dan kesulitan yang dihadapinya
Utsman hidup di tengah-tengah gelombang kemusyrikan dan penyembahan berhala. Dalam situasi seperti itu, dia melihat sinar yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka dia pun cenderung untuk melepaskan diri dari keburukan Jahiliyah, sesembahan, dan kebiasaannya. Utsman pun berpaling kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam, dan dia menemukan pada diri beliau berbagai keutamaan dan kemuliaan yang tidak ada duanya, serta derajat yang sangat tinggi dalam hal kejujuran, baik pada dirinya, ucapannya, maupun pergaulannya dengan orang lain.

Takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memiliki sekelompok orang dari kaum Quraisy untuk menjadi pahlawan akidah ilahiyah dan meletakkan pondasi dakwah yang penuh berkah. Utsman bin Affan merupakan salah seorang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bergabung pada barisan para penolong Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Mereka beriman pada beliau, menolongnya, memperkuat kedudukannya, berjihad bersamanya, dan ikut menanggung beban risalah di hari-hari pertama kemunculannya.

Ketika Abu Bakar As-Shiddiq masuk Islam, dia segera mengajak orang-orang pilihan dari penduduk Mekah untuk ikut masuk Islam. Maka dia berkata kepada Utsman, “Ini adalah Muhammad bin Abdullah, telah diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya. Apakah engkau ingin menemuinya dan mendengar sesuatu darinya?”

Tanpa berfikir panjang Utsman langsung mengiyakan. Keduanya lalu berangkat menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Sesampainya di sana Abu Bakar pun berbicara kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang maksud kedatangan Utsman. Maka beliau menghadapkan wajahnya ke Utsman dan berkata kepadanya, “Wahai Utsman, penuhi panggilan Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya, Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepadamu dan kepada seluruh makhluk-Nya.”

Utsman berkata, “Demi Allah, ketika saya mendengar ucakan beliau, saya tidak bisa mengelak untuk masuk Islam. Saya langsung bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Utsman pun bergabung ke dalam barisan orang-orang yang beriman pada permulaan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia termasuk salah satu dari delapan orang yang paling pertama masuk Islam, membenarkan Rasulullah dan beriman kepada apa yang dibawanya dari sisi Allah.

Ketika kaum Quraisy mengetahui kelompok yang beriman tersebut, mereka lantas berusaha untuk menimpakan siksaan dan tekanan kepada mereka. Utsman pun mendapat bagian dari tekanan tersebut, sesuai dengan kedudukannya di kalangan kaum Quraisy. Yang bertindak dalam urusan menyiksa Utsman adalah pamannya Al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah. Dia mengikat Utsman dengan rantai dan tali lalu berteriak di wajahnya, “Apakah engkau meninggalkan agama nenek moyangmu dan beralih ke agama baru? Demi Allah saya tidak akan melepasmu selamanya sampai engkau meninggalkan apa yang engkau anut dari agama ini.”

Namun Umar menjawab dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati, “Demi Allah, saya tidak akan meninggalkannya dan tidak akan berpisah darinya.”
Ketika Al-Hakam melihat bagaimana kerasnya hati Utsman dalam mempertahankan agamanya, diapun melepaskan Utsman.

B. PEMILIK DUA CAHAYA, JULUKAN, KETENARAN, PERISTIWA YANG DISAKSIKAN, DAN PERSAHABATANNYA DENGAN NABI SHALLALLAHU ALAHI WA SALLAM

1. Pernikahan Utsman, julukan Dzun Nurain, dan hijrahnya
Pada masa Jahiliyah Utsman biasa dipanggil dengan julukan Abu Amr. Tak lama setelah masuk Islam, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menikahkannya dengan putri beliau yang bernama Ruqayyah. Darinya dikaruniai seorang anak yang diberi nama Abdullah. Maka Utsman pun di panggil dengan julukan Abu Abdullah. Ruqayyah meninggal dunia pada saat terjadi perang Badar, pada usia dua puluh tahun.

Kemudian Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain yaitu Ummu Kulsum yang wafat pada tahun 9 H.

Karena itulah Utsman mendapat julukan Dzun Nurain (Pemilik dua cahaya). Tidak ada seorang pun yang menikah dengan dua orang putri Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selain Utsman.

Ketika jumlah kaum muslimin semakin bertambah, dakwah pun semakin tumbuh, dan tiangnya semakin kokoh. Di sisi lain, kemarahan kaum Quraisy semakin menjadi, mereka pun semakin meningkatkan tekanan dan gangguannya terhadap sekelompok orang yang beriman.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam merasa kasihan melihat apa yang menimpah para shahabatnya. Beliau mengajukan kepada mereka untuk pergi ke suatu negeri yang dapat memberi mereka rasa aman dan tentram. Beliau pun memerintahkan mereka untuk hijrah ke negeri Habasyah. Karena di sana ada seorang raja yang adil dan tidak ada seorang pun terzhalimi di sisinya.

Kaum muslimin pun berangkat kesana. Yang paling pertama berangkat adalah Utsman bin Affan bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Semoga Allah menyertai keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah orang yang pertama hijrah ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama keluarganya setelah Nabi Luth Alaihissalam.”

Utsman pun ikut berangkat ke Habasyah pada hijrah yang kedua, ikut bersamanya istrinya, Ruqayyah Radiyallahu ‘Anhuma. Lalu dia kembali ke Mekah bersama rombongan yang kembali dari Habasyah, kemudian langsung hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Sesampainya di Madinah, dia tinggal di rumah Aus bin Tsabit Al-Anshari, saudara Hassan, sang penyair Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

2. Berbagai peristiwa yang diikutinya bersama Rasulullah
Utsman tidak ikut dalam perang Badar, waktu itu istrinya Ruqayyah sedang sakit. Maka Utsman pun sibuk mengurus istrinya berdasarkan perintah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Karena itulah dia tetap tinggal di Madinah. Akan tetapi Rasulullah melemparkan panah atas namanya sehingga dia pun terhitung sebagai orang yang ikut serta dalam perang tersebut.

Sedangkan dalam perang Uhud Utsman ikut perang di bawah panji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Ketika pasukan pemanah menyalahi perintah Rasulullah dan pasukan kaum musyrikin menyerang mereka dari belakang, situasi menjadi kacau. Tersiarlah kabar bahwa Rasulullah telah terbunuh. Maka sebagian kaum muslimin lari, termasuk Utsman, karena kebingungan bukan karena takut. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memaklumi tindakan mereka dan memaafkan mereka. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 155).

Utsman pun ikut serta dalam perang khandaq dan peristiwa Hudaibiyah. Waktu itu Rasulullah mewakili Utsman dalam berbai’at dengan salah satu tangan beliu. Utsman juga ikut dalam perang khaibar, pelaksanaan umrah pengganti (Umrah Qadha), Fathu Makkah, perang Hunain, perang Tha’if, dan perang Tabuk. Dia juga ikut melaksanakan haji bersama Rasulullah pada saat haji wada’. Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, beliau merasa ridha terhadapnya.

Pada peristiwa Hudaibiyah, Rasulullah mengutus Utsman untuk melakukan tugas penting. Utsman segera memenuhi perintah tersebut untuk menghadapi bahaya dengan dengan keberanian dan keteguhan hatinya tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya.

Pada tahun keenam hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat dari Madinah bersama para shahabatnya yang berjumlah 1500 orang menuju Mekah Al-Mukarramah untuk melaksanakan umrah dan melakukan thawaf di baitullah. Ketika kaum Quraisy mengetahui berita tersebut, mereka segera mengenakan pakaian perang lalu keluar untuk menyongsong rombongan Rasulullah dan menghalangi niat mereka.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memanggil Utsman bin Affan dan menyuruhnya menemui Abu Sufyan dan pembesar Quraisy lainya untuk memeberitahu mereka bahwa beliau tidak datang untuk berperang, melainkan untuk mengunjungi baitullah dan mengagungkannya.

Utsman mengemban perintah Rasulullah tersebut tanpa merasa ragu dan takut. Dia tidak peduli apa yang akan menimpahnya nanti sesampainya di sana, pada saat kaum Quraisy sedang berada di puncak kemarahan. Dia pun berangkat ke Mekkah, disambut oleh putra pamannya, Abban bin Sa’id. Dengan membonceng kuda Abban, Utsman memasuki kota Mekkah dan menemui para pembesar Quraisy untuk menyampaikan pesan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Mereka berkata kepada Utsman, “Jika engkau ingin melakukan thawaf, silahkan thawaf!” Namun Utsman menolak dan berkata kepada mereka, “Saya tidak akan melakukannya sebelum Rasulullah melakukan thawaf terlebih dahulu.”

Kaum Quraisy lalu menahan Utsman dan tidak mengizinkannya untuk kembali menemui Rasulullah. Tersiarlah berita dikalangan kaum muslimin, bahwa Utsman dibunuh. Dalam situasi seperti itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam segera memutuskan untuk memberi kaum Quraisy pelajaran atas kejahatan yang mereka lakukan dan menunjukkan kepada mereka keteguhan hatinya untuk menghentikan kesombongan mereka, serta memberi tahu mereka betapa darah seorang muslim itu sangat berharga di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terpelihara di sisi Rasulullah dan kaum mukminin. Maka beliau bersabda, “Kita tidak akan meninggalkan tempat ini sampai kita memerangi mereka.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam lalu meminta semua orang untuk berbai’at, peristiwa itu disebut dengan bai’aturridhwan yang dilakukan di bawah pohon. Diadakanlah di sana perjanjian yang paling mengagumkan sepanjang sejarah, ketika kaum muslimin berbai’at kepada Rasulullah untuk siap menghadapi maut sekalipun.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Utsman membutuhkan Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau mengangkat tangan kanannya seraya berkata, “Ini adalah tangan Utsman.” Lalu ditepukkannya ke tangan beliau yang lain seraya berucap, “Bai’at ini untuk Utsman.” Maka tangan Rasulullah Utsman lebih baik daripada tangan kaum muslimin untuk diri mereka sendiri.

Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa bai’at ini dalam firman Allah, “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath[48]: 18).

Tak lama datanglah berita yang sebenarnya bahwa ternyata Utsman tidak dibunuh. Lalu dia kembali ke tempat kaum muslimin dalam keadaan selamat tak kurang suatu pun.

Pada tahun 9 hijriah, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bermaksud memerangi pasukan Romawi, karena mereka kaum yang paling dekat kepadanya dan paling berhak mendapat ajakan kepada agama Islam. Beliau lalu memerintahkan para shahabat untuk mempersiapkan diri menghadapi perang Tabuk. Peristiwa itu terjadi pada masa sulit, musim kemarau, dan cuaca sangat panas.

Beberapa orang dari shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang menemui beliau memohon untuk diajak ikut berperang, namun mereka tidak mendapatkan pada beliau kendaraan yang bisa membawa mereka. Dengan perasaan sedih mereka pun kembali. Mereka sangat menyesal karena kehilangan kesempatan untuk memperoleh pahala berjihad bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Mereka pun disebut “orang-orang yang menangis”.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu mendorong orang-orang untuk menyumbang. Para shahabat lalu menyumbang sesuai kemampuan mereka. Waktu itu Rasulullah menjajikan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir nanti. Beliau bersabda, “Siapa yang membantu persiapan pasukan yang sedang kesulitan akan memperoleh surga!” Utsman pun bersemangat untuk ikut menyumbang dan dia memberi sedekah dalam jumlah yang amat besar.

Abdurrahman bin Khabbab menceritakan hal tersebut, “Saya melihat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ,menganjurkan orang-oarang untuk membantu pasukan yang kesulitan mendapat perbekalan dan kendaraan perang. Maka Utsman bin Affan berdirih dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan memberikan seratus ekor unta lengkap dengan pelana muatannya.” Rasulullah lalu menganjurkan lagi. Utsman kembali berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, klau begitu saya akan menambah menjadi 200 ekor unta lengkap dengan pelana dan muatannya.” Rasulullah masih terus menganjurkan. Maka Utsman berdiri untuk ketiga kalinya dan berkata, “Wahai Rasulullah, Demi Allah saya akan memberi 300 ekor unta lengkap dengan pelana dan muatannya.” Saya melihat Rasulullah turun dari mimbar seraya berkata, “Tidak ada lagi yang menimpa Utsman setelah kebaikannya, tidak ada lagi yang menimpa Umar setelah kebaikannya ini!”

Bahkan Utsman menambah lebih banyak dari apa yang disebutkan di hadapan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia mempersiapkan 950 unta ditambah 50 kuda untuk melengkapi menjadi seribu. Di samping itu Utsman pun menyumbang 83,3 kilogram emas ditambah seribu dinar. Semua diletakkan di kamar Rasulullah. Lalu beliau membungkusnya seraya berkata, “Tidak ada yang akan membahayakan Utsman setelah apa yang dilakukannya hari ini, Ya Allah, jangan lupakan Utsman, tidak ada yang akan membahayakan Utsman setelah apa yang dilakukan hari ini.”

3. Kecintaan, dan ketaatan Utsman kepada Nabi
Sisi lain dari sosok Utsman Radiyallahu ‘Anhu adalah dia sangat mencintai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan sangat patuh pada beliau. Dia selalu berusaha meladeninya dalam kondisi apapun, saat sendiri maupun di keramaian, saat susah maupun senang, tidak pernah sekalipun terlambat atau menunda jika sudah datang penggilan.

Utsman menjelaskan hal tersebut dalam salah satu pidatonya, “Amma ba’du, sesungguhnya Allah mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran Islam. Saya termasuk salah satunya yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, saya melaksanakan dua kali hijrah, berbai’at kepadanya. Demi Allah, saya tidak pernah sekalipun menipu atau mendurhakai beliau hingga beliau wafat.”

Ketika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mengutusnya menemui pembesar Quraisy pada peristiwa Hudaibiyah, dia memasuki Mekkah diiringi putra pamannya Aban lalu berkata padanya, “Wahai putra paman, saya melihatmu memperlihatkan kekhusyukan, panjangkanlah surgamu. Utsman menjawab, “Beginilah sahabat kami (yaitu Rasulullah) mengenakan sarungnya, yaitu hingga setengah betisnya.”

Ketika Abban berkata padanya, “Wahai putra paman, lakukanlah thawaf di baitullah.” Utsman menjawab, “Sesungguhnya kami tidak melakukan sesuatu samapai shahabat kami melakukannya, baru kami mengikutinya.”

Seorang shahabat bernama Ya’la bin Umayyah Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Saya melakukan thawaf bersama Utsman, lalu kami mengusap hajar aswad, saya menarik tangan Utsman untuk mengusap. Utsman malah bertanya, “Apa yang kau lakukan?” Jawab saya, “Engkau tidak mengusap?” Utsman berkata, “Tidakkah engkau melakukan thawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Saya megiyakan. Utsman bertanya, “Apakah engkau melihat beliau mengusap kedua pojok Ka’abh sebelah barat?” saya jawab , “Tidak.” Utsman bertanya lagi, “Bukankah beliau adalah teladan yang baik untukmu?” saya membenarkan. Utsman pun berkata, “Kalau begitu tinggalkanlah.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, seluruh shahabat merasa sangat sedih. Sedangkan Utsman merupakan orang yang paling bersedih di antara mereka. Utsman menceritakan kondisi tersebut,

“Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, para shahabat beliau sangat bersedih sampai ucapan mereka terdengar meracau. Aku termasuk salah seorang yang sangat sedih atas wafatnya beliau. Ketika saya sedang duduk di sebuah benteng Madinah, waktu itu Abu Bakar telah dibai’at sebagai khalifah, tiba-tiba Umar lewat, sementara saya tidak merasakan kehadiran Umar akibat kesedihan yang saya alami. Maka Umar menemui Abu Bakar dan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, tidakkah engkau merasa heran, saya lewat di depan Utsman, lalu mengucapkan salam padanya, namun Utsman tidak menjawab salam saya!”

A. AKHLAK, SIFAT, ILMU, DAN KEDUDUKAN UTSMAN

1. Kemuliaan akhlak Utsman
Sifat yang paling menonjol pada diri Utsman adalah sifat malu. Sifat ini sangat mengakar pada kepribadiannya sehingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menyatakan, “Umatku yang paling penyayang pada sesamanya adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam persoalan agama Allah adalah Umar, dan yang paling pemalu adalah Utsman.”

Malu merupakan sifat yang mulia yang membawa seseorang menjahui sesuatu yang buruk dan mencegahnya mengabaikan kewajiban serta mendorong untuk melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat dan kemungkaran. Rasa malu juga menyemangati pemiliknya untuk melakukan segala bentuk kebaikan dan menghindari berbagai perkara yang syubhat. Untuk semua pengertian tersebut Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Malu itu baik semuanya,” “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan,”

Dalam pengertian seperti inilah Utsman tumbuh dan menjalani hari-harinya. Rasa malu yang ada pada dirinya menguasai kepribadiannya secara menyeluruh dan membimbingnya untuk melakukan berbagai keutamaan.

Di hari saat Rasulullah menyampaikan dakwah kepadanya, dia malu pada dirinya sendiri untuk tidak segera menjawab seruan beliau, maka dia pun segera beriman dan membenarkan kerasulan beliau.

Ketika kaum musyrikin menghalang-halangi dakwah, rasa malunya membawa dirinya mengorbankan kekayaan, keluarga, dan rumahnya, lalu memilih berhijrah. Dia merasa malu kalau samapi didahulu oleh kaum yang lemah dan parah hamba dalam berhijrah.
Pada saat diserukan jihad, dia merasa malu untuk berdiam diri di rumahnya, maka dia segera memenuhi seruan tersebut.

Saat dia mendengar Rasulullah menyeruh untuk berinfak dalam rangka mempersiapkan perbekalan bagi pasukan yang tidak memiliki perbekalan dan kendaraan, rasa malunya menolak untuk bersikap kikir terhadap hartanya.

Begitu juga pada saat dia diangkat sebagai khalifah, sifat malunya semakin tumbuh dan melekat seperti rumput hijau yang terkena hujan sehingga semakin tumbuh dan menghijau.

Maka ketika dia hendak mengangkat panglima perang atau gubernur wilayah, dia memilih sosok terbaik. Dia malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika dia mengangkat sesorang atas kaum muslimin padahal ada orang lain yang lebih baik darinya.

Jika ada hukum Allah yang dilanggar, rasa malunya mendesak dirinya untuk segera merealisasikan hukuman had. Dia tak ingin Allah melihatnya berlambat-lambat dalam melaksanakan hukum-Nya.

Bahkan ketika para pemberontak mengepungnya dan menuntut agar dia menanggalkan jubah kekhalifahan, dia dengan tegas menolak. Karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam memerintahkan padanya untuk tidak menanggalkan dirinya, maka dia merasa malu untuk mendurhakai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meski dia harus membayar mahal untuk itu dengan darahnya.

Inilah sosok malu yang ada pada sosok Utsman, tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang bahwa Utsman adalah sosok yang lemah. Sungguh tepat penjelasan yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika menggambarkan sosok Utsman, beliau berkata, “Umatku yang paling benar sifat malunya adalah Utsman.”

2. Kedermawanan Utsman
Terkait dengan kedermawanan dan kemurahan hati Utsman, sungguh tidak ada tandingannya. Dia telah menyumbangkan hartanya di jalan Allah di banyak kesempatan. Sehingga kedermawanannya –tentu saja beserta sifat malunya- menutupi berbagai keutamaan dan sifat malunya yang lain. Dia telah menyerahkan hartanya yang melimpah untuk kepentingan agamanya dan saudara-saudaranya seiman. Dia menginfakkanya tanpa perhitungan. Jika kita mencoba untuk mencari seseorang yang dapat menandingi kedermawanan Utsman, kita tidak akan menemukannya.

Ketika masjid Nabawi terasa sempit karena banyaknya jamaah yang ikut shalat berjamaah, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bermaksud membeli tanah milik salah seorang shahabat untuk keperluan perluasan masjid. Maka Rasulullah menyampaikan himbauannya untuk itu dengan imbalan pahala, “Siapa yang membeli tanah keluarga fulan lalu menambahkannya ke masjid, akan memperoleh kebaikan dari tanah itu di surga.”  Utsman pun segera membelinya dari harta pribadinya seharga 25 ribu dinar.

Setelah Fathu Makkah, Utsman membeli sebuah rumah yang cukup luas yang menempel dengan Masjidil Haram seharga 10 ribu dinar. Lalu rumah itu ditambahkan ke area masjid.
Dia juga membeli sebuah sumur yang disebut sumur Rumah seharga seribu dirham, lalu diserahkan kepad kaum muslimin, baik untuk orang kaya, miskin, maupun yang kehabisan bekal perjalanan.

Pada saat perang Tabuk, Utsman mempersiapkan untuk pasukan yang tidak memiliki bekal dan kendaraan sebanyak 950 unta ditambah 50 kuda untuk melengkapi jumlah 1000. Di samping itu dia juga menginfakkan uang sejumlah 1000 dinar dan 83,3 kilogram emas.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman As-Sulami, “Ketika Utsman terkepung, dia menampakkan diri pada para pengepungnya, lalu berkata, “Saya mengingatkan kalian dengan nama Allah., bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Siapa yang menggali sumur Rumah akan memperoleh surga.” Lalu saya memanggilnya. Bukankah kalian mengetahui bahwa beliau bersabda, “Siapa yang mempersiapkan bekal dan kendaraan akan mendapat surga.” Lalu saya mempersiapkannya. Abu Abdurrahman berkata, “Mereka membenarkan seluruh perkataan Utsman tersebut.”

Abu mas’ud Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Waktu itu kami sedang bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam suatu peperangan, semua orang mengalami kesulitan sehingga saya melihat kesedihan di wajah-wajah mereka, sebaliknya wajah-wajah orang munafik justru menampakkan raut gembira. Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam melihat kondisi seperti itu, beliau bersabda, “Demi Allah, sebelum matahari tenggelam akan mendatangkan rizki untuk kalian.” Utsman pun mengetahui bahwa Allah dan Rasul-Nya akan dibenarkan, maka dia membeli empat belas unta yang penuh dengan muatan makanan. Lalu Utsman mengirim sembilan unta kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Ketika Rasulullah melihat kesembilan unta tersebut beliau bertanya, “Apa ini?” Orang-orang menjawab, “Utsman menghadiakannya untuk engakau.” Maka nampaklah kegembiraan di wajah kaum muslimin dan kesedihan di wajah orang-orang munafik. Saya melihat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga nampak putihnya ketiak beliau, berdoa untuk Utsman dengan doa yang belum pernah saya dengar diperuntukkan pada siapa pun sebelumnya, “Ya Allah, berilah Utsman, ya Allah lakukanlah untuk Utsman.”

Kemudian pada masa kekhalifahan Abu Bakar, orang-orang mengalami masa paceklik. Abu Bakar lalu berkata, “Jika Allah menghendaki, sebelum sore besok Allah akan memberi kalian jalan keluar.” Pada keesokan paginya, datanglah kafilah dagang Utsman. Para pedagang pun bergegas mendatanginya. Ketika Utsman keluar menemui mereka, langsung diminta untuk menjual muatan kafilah dengannya kepada mereka. Namun Utsman menolak seraya berkata, “Ya Allah, saya menghibahkannya kepada orang-orang fakir Madinah tanpa harga dan tanpa perhitungan.”

Utsman sendiri pernah berkata, “Setiap kali datang hari Jum’at, saya memerdekakan seorang budak sejak saya masuk Islam. Jika saya tidak mendapatkan budak yang bisa dimerdekakan pada hari Jum’at itu, saya gabungkan ke Jum’at berikutnya.”
Bahkan pada saat genting sekalipun, yaitu ketika Utsman berada dalam kepungan para pemberontak di hari-hari terakhirnya, dia masih sempat memerdekakan dua puluh orang budak.

3. Kasih sayang Utsman dan pergaulannya yang baik
Kasih sayang Utsman meliputi dirinya yang penyayang seperti air yang menyirami dahan pohon yang menghijau oleh dedaunan. Kita dapati Utsman pada malam hari bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud, berjalan tertatih-tatih karena usianya yang lanjut, mengambil air wudlu sendiri dan membangunkan siapapun. Ada yang mempersalahkannya dalam hal itu seraya berkata, “Seandainya engkau membangunkan beberapa orang pelayan, tentu cukup bagimu!”

Utsman menjawab, “Tidak, waktu malam adalah untuk mereka agar mereka bisa beristirahat.”

Suatu kali Utsman memarahi seorang budak, sampai dia menjewer telinga budak tersebut hingga merasa kesakitan. Waktu itu Utsman segera teringat akan akhirat dan pembalasan, maka dia berkata kepada budak itu, “Saya baru saja menjewer telingamu, silakan membalasnya padaku.”

Pada kesempatan lain Utsman membeli sebidang tanah dari seseorang, namun orang itu tak kunjung datang untuk mengambil uangnya. Utsman pun mendatanginya dan bertanya, “Kenapa engkau tidak datang untuk mengambil uangmu?” Orang itu menjawab, “Engkau menipuku dalam jual beli ini.” Utsman bertanya lagi, “Itukah yang membuatmu tidak datang?” Orang itu mengiyakan. Maka Utsman berkata, “Kalau begitu silahkan pilih apakah engkau ingin mengambil tanah atau uangnya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Allah akan memasukkan ke dalam surga orang yang memudahkan dalam urusan jual-beli dan peradilan.”

Thalhah bin Ubaidillah pernah meminjam sejumlah uang kepada Utsman. Ketika Thalhah memiliki kelapangan rizki dari Allah, dia segera hendak membayar hutangnya kepada Utsman. Thalhah pun bertemu dengan Utsman saat keluar dari masjid. Thalha berkata, “Sesungguhnya uang yang saya pinjam darimu sejumlah 50 ribu telah ada pada saya, silahkan mengutus orang untuk mengambilnya.” Utsman berkata padanya, “Sesungguhnya kami telah menghibahkannya untukmu karena kebaikanmu itu.”

4. Ketaatan Utsman, ibadahnya, dan ketakwaannya
Utsman termasuk salah satu ahli ibadah. Dia gemar berpuasa di siang hari, bertahajjud di malam hari, dan banyak membaca mushaf Al-Qur’an. Kondisi itu terus bertahan sepanjang hidpnya yang lebih dari delpan puluh tahun.

Atha’ bin Abi Rabah meriwayatkan, “Sesungguhnya Utsman mengimami jamaah, kemudian dia melaksanakan shalat malam di belakang maqam Ibrahim dan menggabungkan seluruh isi Al-Qur’an dalam satu rakaat witirnya. Maka Utsman dijuluki Butiara.”

Abdurrahman bin Utsman At-Taimi berkata, “Saya melaksanakan shalat malam di belakang maqam Ibrahim, saya berharap tidak ada yang mengalahkan saya seorangpun malam itu. Tiba-tiba ada seseorang mencolek saya, tapi saya tidak menoleh. Orang itu terus mencolek, saya pun menoleh. Ternyata Utsman bin Affan. Maka saya pun mundur, dan Utsman maju lalu membaca seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat, kemudian pergi.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dia berkata, “Ketika orang-orang mengepung Utsman dan menerobos masuk untuk membunuhnya, istrinya berkata, “Terserah, apakah kalian akan membunuhnya atau membiarkannya, sepanjang malam dia melaksanakan shalat satu rakaat membaca seluruh Al-Qur’an.”

Imam Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa Utsman membaca seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat di dekat hajar aswad pada musim haji. Ini merupakan ketekunan Utsman Radiyallahu ‘Anhu. Karena itu, kami meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia berpendapat mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ”(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” (QS. Az-Zumar [39]: 9). Bahwa orang itu adalah Utsman bin Affan. Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ”Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia tidak berada di jalan yang lurus? (QS. An- Nahl [16]: 76), bahwa orang itu adalah Utsman.

Ketekunannya dalam melaksanakan puasa sunnah membuat orang-oarang yang hidup semasa dengannya menggambarkan seolah-olah Utsman berpuasa sepanjang tahun.
Di samping itu, hati Utsman selalu terpaut dengan Al-Qur’an. Kitab suci itu selalu menemani dan menyertainya. Utsman berkata, “Tidak ada yang aku sukai setiap kali datang hari baru kecuali menatap kitabullah.”

Hasan Al-Bashri meriwayatkan, “Utsman bin Affan Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Meskipun hati kita telah bersih, kita tidak akan merasa puas dengan firman Tuhan kita.” Hasan Al-Bashri berkata, “Ketika Utsman meninggal dunia, mushafnya sobek karena sering dibaca.”

Sedangkan ibadah haji, selalu menjadi dambaan hatinya. Dia ikut melaksanakan haji wada’ bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Pada masa kekhalifahan Umar dia melaksanakan haji bersama Abdurrahman bin Auf memimpin rombongan para Ummul mukminin. Sementara pada masa kekhalifahannya, dia melaksanakan haji sepuluh kali berturut-turut, kecuali pada tahun saat dia dikepung para pemberontak. Waktu itu dia mengutus Ibnu Abbas untuk memimpin orang-orang dalam pelaksanaan haji.
Pelayannya bernama Hani’ menceritakan, “Apabila Umar berdiri di samping sebuah kuburan, dia selalu menangis sampai membasahi janggutnya.”

5. Keilmuan Utsman
Utsman bin Affan Radiyallahu ‘Anhu termasuk salah satu ulama di kalangan shahabat dan termasuk ke dalam kelompok kecil yang kerap memberi fatwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Al-Qasim bin Muhammad menceritakan, “Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali memberi fatwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Diriwayatkan dari Sahal bin Abi Hatsmah, “Orang-orang yang biasa memberi fatwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terdiri dari tiga orang Muhajirin dan tiga orang Anshar, yaitu Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’Abu Bakar, Mu’adz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit.”

Utsman juga memberi fatwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Ketika Umar menjabat sebagai khalifah, yang berhak memberi fatwa adalah Utsman, Ali, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. Utsman merupakan shahabat yang paling mengerti manasik haji, diikuti setelahnya oleh Abdullah bin Umar.

Di antara bukti yang jelas atas kedalaman ilmunya adalah diangkatnya Utsman sebagai khalifah ketiga. Seorang khalifah haruslah diangkat dari kalangan yang paling mengerti tentang kitabullah, yang paling baik bacaannya, dan yang paling banyak pengetahuannya tentang sunnah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Namun demikian, Utsman sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, khawatir hafalannya keliru lalu dia menambah atau mengurangi sesuatu dari hadits Nabi. Utsman berkata, “Yang menghalangi saya untuk menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bukanlah karena saya tidak termasuk shahabat yang paling memahami dari beliau, akan tetapi saya sungguh telah mendengar beliau bersabda, “Siapa yang mengatakan atas nama saya apa yang tidak pernah saya katakan, hendaklah bersiap-siap untuk menempati tempat duduk di neraka.”

Karena hal tersebut dan karena kesibukannya dengan urusan kekhalifahan pada masanya, serta keikutsertaannya dalam mengurus pemerintahan pada masa Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadits dari Utsman sangat sedikit. Utsman hanya meriwayatkan 146 hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia meriwayatkan hadits secara lisan dari Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar.

Di antara shahabat yang meriwayatkan hadits dari Utsman adalah Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Umran bin Hushain, Abu Qatadah, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Salamah bin Al-Akwa’, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan lain-lain. Termasuk beberapa anaknya, pembantunya, dan sekelompok orang dari kalangan tabiin.

6. Termasuk ahli surga
Shahabat yang termasuk paling awal memeluk Islam ini, yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, pemalu yang Malaikat pun merasa malu padanya, sang dermawan yang murah hati, yang khusyu’ dalam ibadahnya, ahli puasa dan tahjjud, kira-kira di mana kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Abu Musa Al-Asy’ari Radiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Waktu saya sedang bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam di sebuah kebun di Madinah, tiba-tiba datang seseorang meminta dibukakan pintu. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam besabda, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Abu Bakar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Abu Bakar langsung mengucapkan hamdalah. Tak lama kemudian datang lagi seseorang meminta dibukakan pintu. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam besabda, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Umar. Saya pun menyampaikan kabar gembira dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Umar langsung mengucapkan hamdalah.” Kemudian datang orang ketiga yang meminta dibukakan pintu. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam besabda, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga atas musibah yang akan menimpahnya.” Saya lalu membukakan pintu untuk orang itu dan orang itu ternyata Utsman. Saya pun menyampaikan apa yang diucapakan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Utsman langsung mengucapkan hamdalah kemudian mengucap, “Allah-lah tempat memohon pertolongan.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Siapa yang menggali sumur Rumah akan memperoleh surga.” Maka Utsman menggalinya.

Beliau juga bersabda, “Siapa yang mempersiapkan bekal dan kendaraan untuk pasuka yang kesulitan mendapat bekal dan kendaran akan mendapat surga.” Lalu Utsman mempersiapkannya.

Karena itulah Abu Hurairah mengatakan, “Utsman membeli surga dari Rasulullah dua kali, yaitu ketika menggali sumur Rumah dan ketika mempersiapkan perbekalan pasukan yang kesulitan mendapat bekal dan kendaraan.”

Dala hadits riwayat Sa’id bin Zaid disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang dijamin masuk surga: Abu Bakar di Surga, Umar disurga, Utsman di surga, Ali.…” Rasulullah melengkapi menyebutkan sepuluh nama.

7. Kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabat
Kelebihan dan keutamaan yang dimiliki Utsman membuatnya menempati posisi terhormat dan memperoleh simpati yang lebih dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka Rasulullah menikahkannya dengan putri beliau, yaitu Ruqayyah Radiyallahu ‘Anha. Ketika Ruqayyah meninggal, Utsman dinikahkan dengan putri beliau yang lain, yaitu Ummu Kultsum yang meninggal dunia pada tahun kesembilan hijriah.

Utsman juga salah satu penulis wahyu pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dapat dikatakan bahwa Utsman bertindak sebagai sekertaris beliau. Jika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sedang duduk, maka Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau, Umar di sebelah kiri beliau, dan Utsman di hadapan beliau.

Mu’adz bin Jabal meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Saya melihat dalam mimpi bahwa saya diletakkan di salah satu sisi timbangan dan umatku di sisi satunya, maka saya menyamai mereka. Lalu Abu Bakar diletakkan di salah satu sisi timbangan dan umatku di sisi yang lainnya, maka dia menyamai mereka. Selanjutnya Utsman diletakkan disalah satu sisi timbangan dan umatku di sisi lainnya, maka dia menyamai mereka.”

Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berdoa untuk Utsman sejak permulaan malam hingga terbit fajar. Beliau berdoa, “Ya Allah, tolonglah Utsman, saya meridhainya maka ridhailah dia!”

Para shahabat yang mulia sangat memahami kedudukan Utsman Radiyallahu ‘Anhu, maka mereka menempatkannya pada posisi terhormat sebagaimana Rasulullah menghormatinya. Mereka juga memujinya, menyiarkan berbagai keutamaannya, mencela orang-orang yang membencinya, dan memerangi orang-orang yang memusuhinya.

Utsman sangat dekat dengan Abu Bakar dan Umar pada masa kekhalifahan keduanya. Dia kerap berkunjung ke tempat keduanya bersama beberapa orang shahabat untuk memberi saran terkait persoalan kaum muslimin dan urusan kenegaraan. Begitu juga sebaliknya, Abu Bakar dan Umar juga sering meminta pendapatnya.

Orang-orang masih membicarakan Utsman pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu. Hasan bin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Sekarang datanglah Amirul mukminin. Maka Ali  datang lalu berkata, “Utsman termasuk salah satu yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS. Al-Maidah [5]: 93)

Abdullah bin Umar berkata, “Kami pada zaman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak menyamakan Abu Bakar dengan seorang pun, kemudian Umar, lalu Utsman. Selanjutnya kami meninggalkan para shahabat Nabi yang lain, tanpa membanding-bandingkan mereka satu dengan yang lainnya.”

Ketika para pembenci Utsman mengatakan bahwa kecintaan terhadap Ali dan Utsman tidak mungkin berkumpul dalam satu hati, lalu ungkapan dusta itu samapi ke telinga pelayan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Anas bin Malik, dia menjawab, “Mereka bohong. Demi Allah, kecintaan kami pada keduanya berkumpul di hati kami.”

D. KEKHALIFAHAN UTSMAN, KEBIJAKAN DAN PERAN-PERAN PENTING YANG DILAKUKANNYA

1. Isyarat Nabi tentang kekhalifahannya
Ada beberapa petunjuk Nabi dan hadits shahi yang mengisyaratkan pada kekhalifahan Utsman Radiyallahu ‘Anhu.

Ummul mukminin Aisyah Radiyallahu ‘Anha meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus seseorang untuk mengundang Utsman bin Affan. Maka Utsman datang memenuhi undangan dan ditemui oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Beliau berkata padanya,“Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan mengenakan padamu pakaian kekhalifahan, jika kaum munafik menuntut agar engkau menanggalkannya, jangan engkau tanggalkan hingga engaku bertemu denganku.” Rasulullah mengatakan tiga kali.

Jabir bin Abdullah Radiyallahu ‘Anhu menceritakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Seorang laki-laki shalih tadi malam bermimpi bahwa Abu Bakar dipautkan pada Rasulullah, Umar dipautkan pada Abu Bakar, dan Utsman dipuatkan pada Umar.” Jabir berkata, “Ketika kami bangkit dari sisi Rasulullah kami mengatakan, “Laki-laki shalih itu adalah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sedangkan ucapan beliau tentang keterpautan mereka satu sama lain artinya mereka adalah para pemimpin urusan (Islam) yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Abdullah bin Umar mengatakan, “Kami bisa mengatakan pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam: Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” Yaitu terkait dengan kekhalifahan.

Ketika Umar Al-Faruq melaksanakan hajinya yang terakhir, dia memperhatikan takbir, doa, dan perbuatan orang-orang, semua itu membuatnya takjub. Maka dia berkata pada Hudzaifah yang saat itu berada di sampingnya, “Wahai Hudzaifah, sebagaimana yang engkau lihat, apakah ini akan tetap ada untuk orang-orang?” Hudzaifah berkata, “Fitnah itu memiliki pintu, jika pintu itu dirusak atau dibuka, fitnah itu akan keluar!” Umar bertanya, “Apa yang menjadi pintunya? Apa yang membuatnya rusak atau terbuka?” Jawab Hudzaifah, “Seorang mati atau terbunuh!” Umar bertanya, “Wahai Hudzaifah, menurutmu siapa yang akan diangkat sebagai pemimpin oleh kaummu setelahku?” Hudzaifah menjawab, “Saya melihat orang-orang mempercayakan urusan mereka pada Utsman!”

Haritsah bin Mudharrab berkata, “Saya melaksanakan haji bersama Umar, saya tidak melihat keraguan pada para shahabat bahwa khalifah setelahnya adalah Utsman.”

2. Pengangkatan Utsman sebagai khalifah dan bai’at umat terhadapnya
Isyarat Nabi tersebut dan berbagai sikap yang jelas dari para shahabat pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan masa dua khalifah setelah beliau membuat Utsman menempati kedudukan tersebut dan ditunjuk oleh orang-orang setelah Umar Radiyallahu ‘Anhu.

Ketika Umar dalam kondisi sakit akibat mengalami penusukan, orang-orang meminta agar mengangkat seseorang sebagai penggantinya. Maka Umar berkata, “Saya tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat beliau ridha kepada mereka. Siapa pun yang dipilih di antara mereka, maka dia yang menjadi khalifah setelahku.” Maka Umar menyebut nama Ali , Utsman, Thalha, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Dengan kejeniusanya, Umar mengisaratkan pada dua orang yang dianggapnya memiliki kedudukan yang lebih di mata orang-orang. Umar berkata, “Saya kira tidak ada seorang pun bisa menyamai Utsman dan Ali . Keduanya menulis wahyu pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Umar berpesan pada mereka berenam, “Jika saya meninggal dunia, bermusyawarahlah selama tiga hari. Hendaknya tidak datang hari keempat kecuali kalian telah menetapkan seorang pemimpin.”

Mereka pun berkumpul di kamar Ummul mukminin Aisyah. Sebelumnya Thalha bin Ubaidillah tidak hadir, baru kemudian dia hadir di tempat itu. Abdurrahman bin Auf memberi isyarat agar tiga orang dari mereka memberikan hak kekhalifahan pada tiga orang yang lain. Dia berkata, “Jadikanlah urusan ini pada tiga orang dari kalian.” Maka Zubair memberikan haknya pada Ali , Thalha memberikan haknya pada Utsman, dan Sa’ad memberikan haknya pada Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf berkata, “Siapa di antara kalian berdua yang melepaskan diri dari urusan ini, maka kami akan menyerahkan urusan padanya, Allah dan Islam akan menjadi saksi atasnya. Hendaklah yang paling baik di antara mereka melihat pada dirinya.” Dua Syaikh itu, yaitu Utsman dan Ali , hanya diam.

Maka Abdurrahman melanjutkan, “Apakah kalian menyerahkan urusan ini padaku? Demi Allah saya tidak akan lalai dari yang terbaik dari kalian!” Keduanya mengiyakan.

Maka Abdurrahman mengambil tangan salah satu dari mereka (yaitu Ali ) dan berkata, “Engkau mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan paling awal masuk Islam sebagaiman engkau ketahui. Maka berjanjilah pada Allah, jika saya mengangkat engkau sebagai pemimpin maka engaku akan bersikap adil, dan jika saya mengangkat Utsman sebagai pemimpin maka engaku akan mendengar dan mentaatinya?” Ali mengiyakan.

Lalu Abdurrahman bertanya hal yang sama pada Utsman, dan dia pun setuju. Kemudian mereka pun berpisah.

Sejak saat itu Abdurrahman mengemban urusan penting yang cukup berat yang harus diputuskan pada hari ketiga sebagaiman diwasiatkan oleh Al-Faruq untuk tidak melebihi jangka waktu tersebut.

Abdurrahman lalu meminta pandangan Utsman dan Ali , mengumpulkan pandangan kaum muslimin dan tokohnya, baik secara berkelompok maupun perorangan, secara sembunyi atau terang-terangan. Bahkan dia pun menanyakan pendapat kaum wanita di balik hijab mereka, bertanya pada anak-anak di berbagai madrasah, termasuk para pendatang dan penduduk badui yang datang ke kota Madinah.

Selam tiga hari tiga malam Abdurrahman disibukkan oleh urusan ini, matanya tak sempat dipejamkan untuk tidur, kecuali untuk melaksanakan shalat, berdoa, dan shalat isthikarah. Dia terus bertanya pada orang-orang pandai tentang keduanya, maka tidak didapatinya seorang pun yang menyamai Utsman bin Affan Radiyallahu ‘Anhu.

Pada pagi hari ke empat sejak wafatnya Umar, Abdurrahman bin Auf mengutus orang untuk mengundang Utsman dan Ali . Keduanya pun datang menemui Abdurrahman. Maka dia berkata pada mereka, “Saya telah bertanya kepada semua orang tentang kalian berdua dan saya tidak menemukan seorangpun yang menyamai kalian berdua. Kemudian Abdurrahman kembali mengambil janji dari keduanya, jika diangkat akan berlaku adil dan jika tidak diangkat akan mendengar dan taat pada yang diangkat sebagai pemimpin.

Abdurrahman lalu pergi bersamanya ke masjid Nabawi, dia naik ke atas mimbar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, berdiri cukup lama, berdoa cukup panjang di dalam hati, lalu berkata, “Wahai jamaah sekalian, saya telah bertanya pada kalian baik secara sembunyi-sembuyi maupun terang-terangan, namun saya tidak menemukan seorang pun yang menyamai salah satu dari dua orang ini, yaitu Ali ataupun Utsman.

“Maka silakan berdiri wahai Ali .” Ali pun berdiri di bawah mimbar dan Abdurrahman mengambil tangannya dan bertanya, “Apakah engaku mau berbai’at padaku untuk memimpin berdasarkan kitab Allah, Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar, dan Umar?”

Ali menjawab, “Tidak. Akan tetapi saya akan berbuat berdasarkan usaha dan kemampuanku.” Maka Abdurrahman melepaskan tangannya.

Lalu Abdurrhaman berkata, “Silakan berdiri wahai Utsman.” Abdurrahman menggenggam tangannya dan bertanya, “Apakah engkau mau berbai’at padaku untuk memimpin berdasarkan kitab Allah, Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?’

Utsman menjawab, “Iya.”

Maka Abdurrahman menengadahkan kepalanya ke atap masjid sementara tangannya masih menggenggam tangan Utsman. Lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakku dan menyerahkannya pada Utsman.”

Maka Abdurrahman pun membai’at Utsman. Orang yang kedua membai’at Utsman adalah Ali bin Abi Thalib. Diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar, para panglima pasukan, dan masyarakat umum. Mereka mengerubungi hingga menutupinya di bawah mimbar. Utsman menerima pengangkatan dirinya sebagai khalifah pad hari Sabtu dari bulan Muharram pada tahun 24 H.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah memberi kabar gembira tentang situasi pembai’atan Utsman ini. Sebagaiman diriwayatkan oleh salah seorang shahabat bernama Abdullah bin Hawalah Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kalian mengerubungi seorang laki-laki yang melipatkan penutup kepala ke wajahnya yang merupakan ahli surga membai’at orang-orang.” Abdullah bin Hawalah berkata, “Maka kami mengerubungi Utsman bin Affan, kami kami lihat dia melipatkan penutup kepalanya ke wajahnya sambil membai’at orang-orang.”

Terjadilah pembai’atan Utsman berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Mereka sepakat untuk mengangkat orang terbaik di antara mereka sebagai pemimpin. Seorang shahabat mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il, bahwa sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud dalam perjalanan dari Madinah menuju Kufah pada saat Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah. Maka dia memuji Allah, lalu berkata, “Amma ba’du, maka sesungguhnya Amirul mukminin Umar bin Khaththab telah meninggal dunia. Kami tidak pernah melihat hari yang paling banyak tangisan dari hari itu. Kemudian kami para shahabat Nabi Muhammad berkumpul, kami tidak mengesampingkan orang terbaik di antara kami yang paling banyak memiliki kelebihan dan keutamaan, maka kami membai’at Amirul mukminin Utsman bin Affan, maka mereka pun membaitnya.”

3. Strategi kekhalifahan Utsman dan arahnya
Utsman mendapat amanah kekhalifahan dan mengemban tanggung jawabnya, sementara dia memahami betapa sulitnya jalan yang yang ditempuh oleh para pendahulunya, yaitu Abu Bakar dan Umar. Dia juga tahu betapa negara Islam telah begitu luas cakupan wilayahnya, banyak kekayaannya, setiap keluarga memperoleh bagian tertentu dari baitul mal. Di samping itu penaklukan Islam telah meliputi berbagai tingkatan manusia yang berbeda-beda dalam kadar keimanannya dan penerimaannya terhadap agama ini.

Semua itu nampak jelas di hadapan Utsman. Suatu hal yang paling dikhawatirkan oleh Utsman akan terjadi pada kaum muslimin akibat perubahan tersebut adalah terbuka lebarnya kenikmatan dunia dan perlombaan di antara mereka untuk mengejarnya. Karena Utsman mengetahui bahwa Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengingatkan hal tersebut.

Karena itulah pada khutbah perdananya ketika dibai’at, Utsman menjelaskan pada kaum muslimin jalan yang akan ditempuhnya dan menyampaikan strategi kekhalifahannya. Utsman berkata, “Amma ba’du, maka sesungguhnya saya telah diberi amanah dan saya menerimanya. Ketahuilah bahwa saya sebenarnya seorang penerus bukan sebagai pelopor. Ketahuilah kalian memiliki hak atas saya setelah apa yang terdapat di Al-Qur’an dan Sunnah, tiga hal, yaitu meneruskan para pendahulu saya dalam menjalankan apa yang telah kalian mulai dan sepakati, memulai sesuatu yang baik yang belum kalian mulai, dan menahan dari kalian kecuali apa yang berhak kalian dapatkan.”

Utsman lalu mengirim surat kepada seluruh gubernur wilayah memerintahkan mereka agar bersikap sebagai pengayom bukan penarik pajak, berlaku adil di antara manusia dan menebar kasih sayang pada mereka. Utsman pun mengirim surat kepada para komandan pasukan di medan pertempuran untuk tetap pada apa yang diwasiatkan oleh Umar Al-Faruq kepada mereka dan memerintahkan para pegawai pajak untuk mengikuti kebenaran dalam menarik pajak dan bersikap amanah serta menjahui sikap aniaya. Bahkan Utsman menyampaikan suratnya untuk para penduduk di setiap wilayah untuk melakukan kewajiban amar makruf nahi munkar, mendatangi musim haji setiap tahunnya, agar orang-orang yang terzalimi mengangkat kasusnya kepada khalifah.

Utsman menulis sebagai berikut: “Amma ba’du, maka sesungguhnya saya telah mengangkat beberapa pekerja untuk mendatangiku pada setiap musim haji. Saya telah memberi wewenang kepada umat sejak saya diangkat sebagai khalifah untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Maka setiap kasus yang diangkat kepada saya atau kepada salah satu pekerja saya akan direalisasikan. Saya dan keluarga saya tidak memiliki hak seperti rakyat pada umumnya kecuali ditinggalkan untuk mereka. Sungguh telah melapor pada saya penduduk Madinah. Ada sekelompok orang yang dihina, ada juga yang dipukul. Wahai kalian yang pernah dipukul, dihina, atau semacamnya, hendaklah datang pada musim haji agar mengambil haknya dariku atau dari para pegawaiku, atau bersedekahlah, sesungguhnya Allah membalas orang yang bersedekah.”

Pada masa kekhalifahannya Utsman memiliki majlis syura yang beranggotakan para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar ditambah beberapa cendikiawan dari kalangan shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, termasuk Ibnu Abbas sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh Umar, untuk meminta pendapat mereka terkait persoalan kaum muslimin, pengiriman pasukan, penaklukan wilayah, dan pengelolaan negara serta urusan kekhalifahan.

4. Cara yang ditempuhnya dalam menjalankan kekhalifahan
Cara yang ditempuhnya dalam menjalankan kekhalifahan dan kehidupannya secara umum mengikuti manhaj kenabian dan petunjuk dua khalifah sebelumnya.

Utsman biasa tidur siang di masjid –padahal dia seorang khalifah- kainnya diletakkan di bawah kepala, tanpa ada seorangpun yang menjaganya. Ketika bangun, tampak bekas kerikil di bagian samping tubuhnya. Dia juga menjamu orang-orang dengan jamuan istimewa, sementara di rumahnya dia makan dengan cuka dan minyak. Abdullah bin Syaddad –seorang tabi’in terpercaya- pernah melihatnya pada hari Jum’at berdiri di atas mimbar mengenakan kain kasar seharga empat dirham.

Terkadang Usman menunggangi keledai sambil membonceng pembantunya. Dia juga menjenguk kaum muslimin yang sakit, mendoakan mereka, dan memenuhi undangan meskipun dia sedang berpuasa. Suatu kali Mughira bin Syu’bah mengundangnya pada acara resepsi pernikahannya. Utsman datang memenuhi undangan tersebut dan berkata, “Sebenarnya saya sedang berpuasa, tapi saya senang bisa memenuhi undangan dan ikut mendoakan agar diberi keberkahan.”

Dalam banyak kesempatan Utsman selalu bertanya tentang kondisi rakyatnya, berita mereka, dan harga-harga yang berlaku di pasar. Musa binThalha bin Ubaidillah meriwayatkan, “Saya melihat Utsman bin Affan berbicara dengan orang-orang bertanya tentang kabar mereka dan tentang harga-harga kebutuhan.”

5.  Para gubernur dan panglima
Dalam mengangkat gubernur wilayah, Utsman memilih dengan selektif. Dia hanya mengangkat orang-orang yang beriman, jujur, memiliki reputasi yang baik, komitmen pada syariat, taat pada khalifah, peduli pada rakyat, gemar menyiarkan risalah keagamaan, bijaksana, dan terlatih dalam berperang.

Utsman juga mengikuti jejak Umar, dia tidak menurunkan seseorang dari jabatan kecuali jika ada pengaduan atau dia sendiri yang meletakkan jabatannya meski tidak ada pengaduan.

Dia berpesan pada para gubernur untuk senantiasa menjaga ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertindak sebagi pengayom bukan sebagai penarik pajak. Utsman menulis surat kepada para panglima pasukan, “Amma ba’du, maka sesungguhnya kalian adalah penjaga dan pembela kaum muslimin. Umar telah meletakkan aturan untuk kalian berdasarkan hasil musyawarah dengan kami, maka jangan sampai ada di antara kalian yang merubah atau menggantinya, jika tidak, Allah akan mengganti kalian. Maka perhatikanlah bagaimana kalian seharusnya bersikap. Sesungguhnya saya juga memperhatikan apa yang telah ditetapkan Allah untuk diperhatikan dan dilakukan.” Utsman juga memerintahkan para petugas penarik pajak untuk bersikap amanah dan menjahui perbuatan aniaya.

Tidak ada berita yang menyebutkan bahwa Utsman mengangkat seseorang sebagai gubernur berdasarkan permohonan orang tersebut. Utsman menurunkan seseorang dari jabatannya jika samapai padanya pengaduan. Dia menulis surat kepada penduduk wilayah untuk mendatangi musim haji, “Amma ba’du, maka sesungguhnya saya telah mengangkat beberapa pekerja untuk mendatangiku pada setiap musim haji. Saya telah memberi wewenang kepad umat sejak saya diangkat sebagai khalifah untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Maka setiap kasus yang diangkat kepada saya atau kepada salah satu pekerja saya akan direalisasikan.”

Mari kita perhatikan bagaimana interaksi Utsman dengan para gubernur, apakah menetapkan mereka pada jabatannya atau menurunkannya? Untuk mengetahui lebih jauh, mari kita simak beberapa kisah singkat tentang para gubernur dan panglima pasukan pada masa kekhalifahan Utsman.

  • Mu’awiyah bin Abi Sufyan
    Untuk wilayah Syam, gubernurnya adalah seorang shahabat terkemuka, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radiyallahu ‘Anhu. Dia adalah penulis wahyu pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, merupakan salah satu panglima dan gubernur wilayah pada masa Abu Bakar dan Umar.Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Saya tidak melihat seorang pun setelah Utsman yang lebih baik dalam memutuskan perkara dengan benar dari pemilik rumah ini -yaitu Mu’awiyah.”Interaksinya dengan rakyat sangat baik. Orang-orang yang di pimpinnya sangat menyukainya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam dua kitab shahi disebutkan, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian sukai dan mereka pun menyukai kalian, mereka yang kalian doakan dan mereka pun mendoakan kalian.”
  • Sa’ad bin Abi Waqqash kemudian Al-Walid bin Uqbah
    Gubernur wilayah Kufah pada masa kekhalifahan Umar adalah Al-Mughirah bin Syu’bah. Utsman lalu menurunkannya dan menggantinya dengan Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad merupakan gubernur pertama yang diangkat oleh Utsman, berdasarkan pesan Umar bin Khaththab, “Jika kepemimpinan jatuh ketangan Sa’ad, maka dialah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya siapa saja di antara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin, maka aku tidak akan memecatnya karena alasan lemah atau khianat.”Sa’ad menjabat sebagai gubernur Kufah satu tahun lebih, lalu Utsman menggantinya dengan Al-Wahid bin Uqbah bin Abi Mu’aith. Utsman menurunkan Sa’ad karena adanya perselisihan yang terjadi antara dia dan Ibnu Mas’ud.Al-Wahid bin Uqbah yang diangkat oleh Utsman menggantikan Sa’ad adalah seorang shahabat muda, berkeinginan kuat, berakhlak baik, dan memiliki iman yang benar. Abu Bakar As-Shiddiq memanfaatkan sebagai kelebihannya itu untuk berbagai urusan di jalan Allah. Dia percaya sebagai penjaga rahasia yang terdapat dalam surat menyurat antara Khalifah dan komandan pasukannya, Khalid bin Walid. Bahkan dalam kesempatan lain Abu Bakar mengangkatnya sebagai komandan pasukan.

    Begitu juga halnya pada masa Umar bin Khaththab, Al-Walid diangkat sebagai panglima di wilayah Bani Taghlib dan Jazirah Arab, menjaga bagian belakang para mujahidin di negeri Syam agar tidak diserang dari sisi belakang.

    Setelah mendapat kepercayaan dari dua khalifah, Abu Bakar dan Umar, Al-Walid pun diangkat sebagai gubernur oleh Utsman bin Affan. Dia merupakan penguasa teladan dalam hal keadilan, kecerdikan, dan interaksi yang baik dengan masyarakat. Dengan demikian, dia bertahan di Kufah selama lima tahun. Selama itu, rumahnya tidak memiliki pintu gerbang yang dapat menghalangi rakyatnya untuk bertemu dengannya.

    Di samping itu, Al-Walid juga merupakan pejuang teladan yang berjuang di jalan Allah. Dia memimpin pasukan ke Azerbijan dan Armenia. Dia berhasil menundukan wilayah tersebut, mengembalikan mereka ke jalan yang benar, mengajak mereka berdamai, dan mengembalikan suasana tentram bagi wilayah tersebut.

  • Sa’id bin Ash
    Ketika Umar menurunkan Al-Walid dari jabatan gubernur dia mengangkat Sa’id bin Ash bin Abi Uhaiha Al-Umawi sebagai penggantinya. Sa’id adalah seorang shahabat terkemuka, pemimpin yang disegani, dermawan, lemah-lembut, pintar, cocok untuk menjadi pemimpin.Pada masa kekhalifahan Umar dia diangkat sebagai gubernur di wilayah Sawad. Utsman menugaskannya dalam proses penulisan mushaf karena dia adalah orang yang paling fasih di kalangan Quraisy dan yang paling mirip dialeknya dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.Ketika diangkat sebagai gubernur Kufah, dia menjalankan amanah jabatannya dengan sangat baik. Dia mengirim surat kepada para tokoh dan berkata kepada mereka, “Kalian ibarat wajah bagi orang-orang yang berada di belakang kalian. Wajah itu membari tahu apa yang terjadi pada seluruh tubuh. Maka sampaikanlah kepada kami kebutuhan orang yang punya kebutuhan.

    Sa’id juga ikut serta dalam perjalanan jihad, dia ikut menaklukan negeri Tabaristan dan Gorgan. Di antara pasukan yang di pimpinnya terdapat Hasan dan Husain putra Ali , Abdullah yang empat  , Hudzaifah bin Yaman, ketika penduduk Azerbaijan memberontak, dialah yang memerangi mereka dan berhasil berhasil menghentikan pemberontakan mereka.

  • Abdullah bin Amir bin Kuraiz 
    Sementara di Bashrah, Utsman menurunkan gubernur sebelumnya, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dan mengangkat seorang shahabat bernama Abdullah bin Amir Kuraiz sebagai penggantinya, Dia adalah anak paman (dari jalur ibu) Utsman sekaligus anak bibi Rasulullah, Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib.Dia sosok yang mulia dan terpuji, memiliki karakter yang baik, termasuk ke dalam pembesar raja-raja Arab dan tokoh pemberani mereka.Ketika dia datang ke Bashrah, Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Telah datang kepada kalian seorang pemuda dari Quraisy, memiliki garis keturunan yang mulia, yang akan mengatur harta kekayaan kalian sedemikian rupa.”

    Ibnu Amir ikut menegakkan panji jihad. Dia memimpin pasukan untuk menyebarkan risalah Islam bagaikan hembusan angin. Dia pun berhasil menaklukan seluruh negeri Khurasan, sebagian Daerah Persia dan Sijistan, Kirman, dan negeri Ghaznah –yang berbatasan dengan India, serta menaklukan orang-orang Persia, sehingga menyulut rasa dengki mereka terhadap Utsman dan sang gubernur sang penakluk dan pemberani.

  • Amr bin Ash kemudian Ibnu Abi Sarh
    Utsman mengangkat Amr bin Ash sebagai gubernur Mesir. Waktu itu Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh merupakan panglima pasukannya. Amr bin Ash mengutusnya untuk memerangi negeri Maroko. Pada tahun 27 Hafshah, Utsman mengangkat Ibnu Abi Sarh sebagai petugas penarik pajak dari penduduk Mesir, sementara Amr menjadi pemimpin shalat dan panglima tentara. Lalu timbul masalah antara Amr dan Ibnu Abi Sarh. Ketika berita itu sampai ketelinga Khalifah, dia segera menurunkan Amr bin Ash dan mengangkat Ibnu Abi Sarh sebagai penanggung jawab pajak sekaligus panglima tentara.Ibnu Abi Sarh mendirikan armada laut Islam untuk menjaga wilayah pantai Mesir, Syam, dan wilayah utara Afrika. Mereka terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Romawi dalam peperangan Dzatush Shawari.Pada hari terakhir kehidupannya di dunia, dia bertanya pada malam harinya, “Apakah sudah tiba waktu subuh?” Dijawab, “Belum.” Maka ketika dia merasakan dinginnya cuaca subuh dia memanjatkan doa, “Ya Allah, jadikanlah subuh sebagai penutup amalku.” Lalu dia berwudlu dan shalat. Pada rakaat pertama dia membaca Al-Fatihah dan surat Al-Adiyat, sedang pada rakaat kedua dia membaca Al-Fatihah dan sebuah surat. Kemudian dia mengucapkan salam ke kanan, dan ketika baru usai dari mengucapkan salam ke kiri nyawanya diambil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Marwan bin Hakam
    Marwan bin Hakam bin Abil Ash Al-Umawi adalah sekertaris Utsman yang dipercaya memegang stempel kekhalifahan. Dia termasuk pemuka Quraisy, sosok pemberani, paham agama, dan tegas dalam penerapan hudud yang ditetapkan oleh Allah. Para ulama fikih diberbagai wilayah sangat menghormatinya, mengikuti perintahnya, dan menyoroti fatwa-fatwanya.Dia sempat dituduh memalsukan surat atas nama Utsman yang ditunjukan kepada gubernur Mesir, menyuruhnya membenuh setiap orang yang tidak taat kepada Amirul mukminin.Marwan melindungi Utsman pada hari pengepungannya dan bertempur untuk membelanya.

6. Komandan pasukan lainnya
Di antara komandan pasukan dan pahlawan yang mencuat namanya pada masa kekhalifahan Utsman dan penaklukan yang terjadi pada masa itu adalah Ahnaf bin Qais, Salman bin Rabi’ah Al-Bahili, Abdullah bin Nafi’ bin Abdul Qais, Abdullah bin Nafi’ bin Al-Hushain Al-Fihriyyan, Abdullah bin Qais Al-Jasi komandan pasukan laut, Mujasyi’ bin Mas’ud As-Sulami, Aswad bin Kultsum Al-Adawi, Aqra’ bin Habis, Abdullah bin Khazim, dan yang lainnya.

7. Luas daerah yang ditaklukan dan bentuk-bentuknya
Mari kita ikuti kisah berbagai penaklukan yang terjadi pada masa Utsman bin Affan di bawah panji para panglimanya.

Beberapa wilayah Negara Islam mulai menghianati perjanjian dan piagam yang mereka sepakati pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Sekelompok orang di Azerbaijan, Armenia, Iskandariyah, dan Palestina bangkit dan menyalakan api pemberontakan di negara Islam yang meliputi wilayah yang luas.

Namun pemberontakan itu bukanlah berasal dari penduduk berbagai wilayah tersebut, karena mereka sangat bergembira dengan kehadiran Islam yang telah membebaskan mereka dari kezhaliman bangsa Persia dan Romawi. Adapun yang memimpin pemberontakan tersebut adalah sekelompok pasukan yang menyimpan dendam terhadap Islam karena telah meruntuhkan kekuasaan mereka. Sekelompok kecil dari mereka bersembunyi sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemberontakan.

Utsman yang waktu itu sudah beranjak tua, bangkit untuk memberi mereka pelajaran agar mereka melihat dengan mata kepala mereka bahwa para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam –terutama mereka yang diberi amanah kekhalifahan dan kekuasaan oleh Allah- tidak akan lemah keteguhan hati mereka seiring berjalannya hari dan tahun.

Maka Utsman sendiri yang membuka jalan dan menorehkan catatan sejarah kepahlawanan seorang pemuda, seakan-akan dia bukanlah orang yang tua tapi orang yang muda. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri Utsman mengeluarkan perintahnya dan menyusun kekuatan untuk memukul mundur pasukan yang menaklukan pembrontakan, serta mempersiapkan jalan untuk berbagai penaklukan agar mengikuti jalan kemenangannya.

Ketika Amirul mukminin melihat pentingnya membentuk kekuatan laut sebagai kelanjutan dari upaya penaklukan, dia langsung mengeluarkan perintah untuk membentuk armada laut negera Islam, meski dia tahu betul bahwa Umar Radiyallahu ‘Anhu selalu menolak ide menakutkan tersebut sepanjang periode kekhalifahannya.
Mu’awiyah lantas membangun armada laut untuk menjaga wilayah pantai negeri Syam, begitu juga Ibnu Abi Sarh, membangun armada laut untuk menjaga wilayah pantai Mesir dan Afrika Utara.

Ketika para panglima pasukan melihat keteguhan hati sang khalifah yang telah berusia lanjut itu, mereka pun segera menyambut perintah tersebut. Semangat dan kemampuan mereka meningkat tajam sehingga anda akan takjub karena tidak ada satu pun dari mereka yang kalah dalam pertempuran, jika kita kecualikan satu pertempuran saja. Semua itu merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kebijakan Utsman dalam penaklukan wilayah adalah dengan menerapkan sistem semi otonomi wilayah, sebagai jawaban bagi periode sejarah yang dilalui negara Islam. Dia memilih para gubernur dan panglima yang mumpuni, terpercaya, dan memiliki kemampuan. Lalu menentukan batasan-batasan kewajiban yang harus mereka laksanakan, kemudian memberi mereka kebebasan dalam menjalankan peperangan pada tataran teknis. Dengan demikian mereka diharapkan menangani sesuatu sesuai dengan apa yang menurut mereka pantas untuk dilakukan, berijtihad dengan pemikiran mereka, dan memperhatikan pengalaman orang-orang sebelum mereka dalam menyelesaikan persoalan yang sulit. Sebab, apabila terjadi sesuatu di ujung Afrika atau di daerah Khurasan, tidak mungkin seorang gubernur mengirim utusan kepada khalifah untuk meminta pendapatnya, mengingat jarak yang demikian jauh. Tahun-tahun yang panjang tersebut telah menetapkan keberhasilan gemilang dan kesuksesan pemikiran Utsman yang memperoleh taufik dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Azerbaijan dan Armenia memberontak, Utsman memerintahkan Al-Walid bin Uqbah untuk memimpin pasukan tentara Kufah ke dua wilayah tersebut. Al-Walid pun segera menjalankan perintah tersebut. Dia memasuki negeri-negeri mereka,melakukan peperangan, hingga mengembalikan mereka ke jalan yang benar. lalu membuat perjanjian damai dengan mereka sebagaimana yang pernah mereka lakukan dengan Hudzifah bin Yaman.

Daerah lain yang ikut memberontak adalah wilayah Ray. Maka pasuka tentara Bashrah berangkat ke sana di bawah komando Abu Musa Al-Asy’ari dan berhasil mengembalikan mereka pada kesepakatan yang mereka buat dengan Hudzaifah sebelumnya.

Utsman bin Abil Ash bergerak ke Sabur dan berhasil menaklukannya dengan cara damai. Sementara pasukan Islam di bawah komando Ibnu Abi Sarh berjuang di Afrika dan berhasil menaklukannya. Kemudian Utsman mengutus Abdullah bin Nafi’ bin Abdul Qais dan Abdullah bin Al-Hushain Al-Fahriyyan ke Andalusia. Keduanya mendatanginya dari arah laut. Sedangkan Mu’awiyah memerangi Guensrin, dan ditaklukanlah wilayah Arrajan dan Darabjir.

Sempurnalah pembentukan armada laut neraga Islam. Berangkatlah bersama Mu’awiyah pasukan tentara kaum muslimin dalam jumlah besar menggunakan banyak kapal menuju Siprus. Ikut serta dalam pasukan tersebut sejumlah shahabat pilihan. Utsman pun memperkuat armada tersebut dengan pasukan lain dari Mesir di bawah komando Ibnu Abi Sarh. Kedua pasukan bertemu di Siprus dan mereka berhasil menaklukannya. Pada pertempuran itu seorang shahabat perempuan terkemuka bernama Ummu Haram binti Milhan mati syahid.

Armada laut negara Islam juga mengalami pertempuran Dzatush Shawari di bawah komando Ibnu Abi Sarh melawan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Costatin putra Heraklius. Terjadilah pertempuran yang mengerikan, sehingga permukaan air berubah menjadi merah karena banyak darah yang tumpah. Allah pun menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum mukminin.

Di wilayah Syam, Mu’awiyah mengangkat Abdullah bin Qais Al-Jasi sebagai komandan armada laut. Mereka mengalami lima puluh pertempuran dilautan di antara musim dingin dan musim panas. Tidak ada seorang pun yang tenggelam maupun terluka. Dalam kurun waktu setengah abad, nama laut tengah menjadi laut Syam setelah sebelum nya dikenal dengan nama laut Roma!

Panaklukan terus meluas sehingga Mu’awiyah memasuki wilayah kekuasaan Romawi. Dia pun memerangi selat Konstatinopel, Malta dan Afrika pada tahun 33 H. Sementara Ibnu Abi Sarh dan pasukannya memerangi Habasyah. Sedangkan Sa’id bin Ash, gubernur Kufah, berangkat bersama pasukannya ke Tabaristan, singgah di daerah Kumis, lalu mendatangi Gorgan dan diajak berdamai oleh penduduknya. Kemudian dia melanjutkan ke Thamisah, sebuah kota pinggir pantai Tabaristan, terjadi pertempuran hingga berhasil ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin.

Pasukan Salman bin Rabi’ah menyerang wilayah Bab di laut Qazwain dibantu oleh Abdurrahman bin Rabi’ah. Pasukan itu terus bergerak ke Belanjar, namun penduduknya melakukan perlawanan dibantu oleh bangsa Turki. Terjadilah pertempuran sengit yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin di antara berbagai penaklukan yang mencakup wilayah yang sedemikian luas.

Untuk wilayah Persia, Abdullah bin Amir –dibantu Ahnaf bin Qais dan Aqra’ bin Habis- berhasil menaklukan Asbahan. Kemudian dia bergerak ke Khurasan dan menaklukan Abrasyahar, Thus, Abiward, dan Nasa. Dia pun menerima perjanjian damai penduduk Sarakhs dan mengutus Aswad bin Kultsum ke Baihaq dan berhasil menaklukannya. Perjuangan dan kesuksesannya dilanjutkan oleh Ibnu Amir yang berhasil menaklukan Marwar Rudz, Thalqiyan, Fariyab, Juzajan, Thakharistan. Bahkan pasukannya berhasil mencapai Kabul dan Zabulistan yang termasuk kedalam wilayah  Ghaznah, perbatasan antara Khurasan dan India. Abdullah bin Khazim berhasil menaklukan Khurasan.

Berbagai penaklukan terus terjadi dan semakin meluas pada masa kekhalifahan Utsman Radiyallahu ‘Anhu. Dengan izin Allah, dia berhasil menaklukan berbagai wilayah dan kota tersebut. Dia berhasil memperluas daerah kekuasaannya ke timur hingga menundukkan negeri Persia bahkan tentaranya mencapai perbatasan India. Sedangkan di barat berhasil mengetuk pintu-pintu Andalusia. Pasukannya juga bergerak ke arah selatan hingga mencapai negeri Habasyah dan bertempur di wilayah kekuasaan Romawi hingga mencapai selat Konstantinopel yang waktu itu merupakan ibu kota Romawi. Sementara itu, Utsman yang telah mencapai usia 80 tahun, menimbulkan sangkaan dikalangan para musuh Islam bahwa dia adalah khalifah yang terlalu tua, tidak punya daya dan kekuatan untuk mengetur negara yang demikian besar dan menjaga kewibawaan dan kepemimpinannya.

8. Beberapa keberhasilan Utsman pada masa kekhalifahannya
Umar Radiyallahu ‘Anhu telah menetapkan bagi setiap orang bagian tertentu dari baitul mal. Lalu Utsman menambahkan 100 bagian untuk setiap laki-laki.

Setelah itu Umar pun menetapkan bagi setiap kaum muslimin satu dirham dari baitul mal setiap malam ramadhan sebagai bantuan berbuka puasa, dan menetapkan bagi para Ummul mukminin masing-masing dua Dirham. Ketika Utsman menjadi khalifah, dia meneruskan kebijakan tersebut bahkan menambahnya.

Utsman juga menyediakan hidangan di masjid untuk para ahli ibadah, orang yang I’tikaf, dan fakir miskin.

Hasan Al-Basri meriwayatkan, “Saya menyaksikan penyeruh Utsman memanggil, “Wahai manusia, pergilah mengambil jatah kalian!” Maka mereka pergi mengambilnya. “Wahai manusia pergilah mengambil rezeki kalian!” Mereka lalu pergi mengambilnya. Bahkan –demi Allah- dia pernah menyuru, “Pergilah mengambil jatah pakaian kalian!” Maka mereka mengambil pakaian. “Pergilah mengambil jatah minyak samin dan madu!”

Pada tahun 28 H Utsman menambah bangunan Masjidil Haram dan memerintahkan untuk merubah batas-batas masjid. Lalu pada tahun 29 H dia menambah bangunan Masjid Nabawi dan memperluasnya.

Utsman mengumpulkan semua kaum muslimin pada satu mushaf dan satu qiraat. Berawal dari peristiwa yang terjadi pada masa Hudzaifah bin Yaman memimpin pasukan yang terdiri dari penduduk Syam dan Irak pada masa penaklukan Armenia dan Azerbaijan. Waktu itu terjadi perdebatan antara penduduk Syam dan penduduk Irak dalam bacaan Al-Qur’an. Penduduk Syam membacanya dengan qiraat Ubay bin Ka’ab. Maka terdengar berbeda oleh penduduk irak yang biasa membacanya dengan qiraat Ibnu Mas’ud. Begitu juga sebalikya. Mereka saling mengkafirkan satu sama lain. Perdebatan itu membuat hudzaifah merasa sangat khawatir.

Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘Anhu. Anas berkata, “Hudzaifah bin Yaman datang kepada Utsman, waktu itu dia sedang memimpin pasukan dari penduduk Syam dan Irak pada saat penaklukan Armenia dan azerbaijan. Perselisihan mereka dalam hal qiraat (bacaan Al-Qura’an) membuat hudzaifah sangat khawatir. Maka Hudzaifah pun berkata kepada Utsman, “Rangkullah umat ini mereka berselisih tentang Al-Qur’an sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani.” Utsman pun mengirim surat kepada Hafshah yang berisikan, “Kirimlah lembaran Al-Qur’an kepada kami, agar kami dapat segera menyalinnya ke dalam lembaran yang lain, lalu kami akan segera mengembalikannya pada Anda.” Maka Hafshah mengirimkannya kepada Utsman. Lalu Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya, mereka pun menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy dari mereka, “Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit terkait dengan Al-Qur’an, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al-Qur;an turun dengan bahasa mereka.” Mereka melaksanakan perintah tersebut hingga penyalinan selesai dan Utsman pun mengembalikan lembaran Al-Qur’an ke Hafshah. Setelah itu, Utsman mengirim sejumlah mushaf  yang telah disalin ke berbagai penjuru negeri kaum muslimin, dan memerintahkan untuk membakar Al-Qur’an yang terdapat pada selain mushaf-mushaf tersebut.”

Para shahabat menyetujui tindakan yang diambil oleh Utsman tersebut, yaitu mengumpulkan kaum muslimin pada satu jenis mushaf dan membakar selainnya. Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Saya melihat orang-orang berkumpul saat Utsman membakar mushaf-mushaf tersebut. Mereka terheran-heran menyaksikan hal tersebut.”

Ali  bin Abi Thalib berkata, “Jika Utsman tidak melakukan itu, saya pasti akan melakukannya.”

A. BERAWAL DARI KEBOHONGAN DAN RENCANA JAHAT HINGGA PENGEPUNGAN DAN MATI SYAHID

1. Tuduhan terhadap Utsman
Mari kita cermati beberapa situasi yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsman dan membeberkan beberapa hal yang dituduhkan terhadap Utsman, untuk mngetahui yang sebenarnya terjadi. Di sini kita tidak dalam posisi menyingkirkan berbagai tuduhan tersebut dari Amirul mukminin, karena dia lebih tinggi dan lebih mulia di sisi tuhannya, lebih terhormat dan lebih bersih menurut pandangan para shahabatnya, dan lebih terhormat dalam jiwa kita daripada memposisikannya sebagai seorang tertuduh. Dalam  hal ini kita justru ingin mendebat para pendusta dalam persoalan ini dan membersihkan biografinya yang cemerlang dari berbagai kotoran sejarah dan periwayatan sejarah yang lemah.

Di bagian ini kita akan memaparkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Safinah, pelayan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kekhalifahan setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun, setelah itu akan berganti menjadi kerajaan.”

Sebuah nash yang amat jelas menegaskan bahwa masa kekhalifahan Amirul mukminin Utsman bin Affan masih berada dalam koridor manhaj kenabian. Adapun malapetaka yang terjadi berasal dari para manusia zhalim dan rusak yang direncanakan oleh tangan-tangan jahat dan pendengki lalu direalisasikan oleh orang-orang rendahan dan para penipu.

Semua tuduhan dan celaan yang dialamatkan oleh para pemberontak pada diri Utsman merupakan dusta dan kebohongan. Seorang shahabat terkemuka, Abdullah bin Umar, menjelaskan hal tersebut ketika mengatakan, “Mereka mencela Utsman dalam beberapa hal yang jika dilakukan oleh Umar tidak akan mereka cela!”

Ibnu Umar adalah saksi mata perjalanan kekhalifahan Utsman dari awal sampai akhir dan termasuk ke dalam kelompok shahabat yang memiliki komitmen terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Kebohongan pertama yang dialamatkan pada Utsman adalah bahwa dia memukul Ammar bin Yasir sampai robek ususnya! Sebuah kebohongan yang dibuat-buat, kalau Utsman benar memukulnya sampai robek ususnya, tentu Ammar tidak akan tetap hidup.

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Utsman memukul Ibnu Mas’ud sampai mematahkan tulang rusuknya dan tidak memberikan haknya dari baitul mal.” Ini juga merupakan kebohongan. Karena Ibnu Mas’ud bertindak sebagai pengelola baitul mal Kufah pada masa Umar dan berlanjut pada masa Utsman. Hanya saja, pada saat Utsman mengumpulkan mushaf Al-Qur’an dan memerintahkan untuk membakar selain mushaf tersebut, Ibnu Mas’ud sempat menolak melaksanakan pembakaran mushafnya. Tapi di kemudian hari Ibnu Mas’ud berbalik menyetujui tindakan Utsman seperti para shahabat yang lain. Kemudian Ibnu Mas’ud tetap berada pada jabatannya di Kufah hingga wafat pada tahun 32 H.

Kebihongan lain yang dituduhakan pada Utsman terkait dengan seorang shahabat terkemuka lainnya. Mereka mengatakan, “Utsman mengusir Abu Dzar ke Rabadzah (sebuah desa yang berjarak 3 mil dari Madinah).”

Abu Dzar Radiyallahu ‘Anhu termasuk salah seorang yang paling awal masuk Islam dan termasuk shahabat yang mulia. Dia pemimpin kezuhudan dan kejujuran, ilmu dan amal, senantiasa berkata benar. Saking zuhudnya, pernah suatu hari dia lewat di depan Abu Darda’ yang baru saja membangun tempat tinggal baru. Lalu dia berkata pada Abu Darda’, “Apa ini? Engkau membangun rumah yang diizinkan oleh Allah untuk dirubuhkan. Melihatmu berguling-guling di kotoran lebih saya sukai dari pada melihatmu dalam kondisi seperti ini.”

Abu Dzar kerap menginfakkan hartanya samapai tak tersisa sedikitpun padanya dan mengajak orang-orang untuk melakukan hal yang sama dan mencela mereka jika memiliki harta yang banyak. Pernah suatu ketika dia lewat di sebuah perkumpulan di Madinah yang di dalamnya terdapat para pemuka Quraisy, lalu dia berkata, “Beri kabar gembira pada para penimbun harta bahwa untuk mereka batu panas yang akan mereka pikul di neraka jahannam.”

Ini adalah mazhab yang dipilih Abu Dzar sepanjang hayatnya. Pada masa kekhalifahan Utsman, dia menegur dengan keras para gubernurnya, sampai-sampai dia pergi menemui Mu’awiyah di Syam dan membacakan di depan khalayak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka , (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.” (At-Taubah [9] : 34). Menurutnya semua orang harus menginfakkan seluruh harta yang dimilikinya, jika tidak mereka akan terkena ancaman yang terdapat dalam ayat tersebut.

Mayoritas shahabat menolak pendapat Abu Dzar ini. Mereka berkata, “Harta yang telah dikeluarkan zakatnya tidak termasuk harta yang ditimbun meskipun disimpan di bawah  tujuh lapis tanah. Sebaiknya harta yang tidak ditunaikan zakatnya merupakn harta yang ditimbun meskipun diletakkan di permukaan tanah. Inilah yang benar.”

Tidak ada yang sanggup melaksanakan Abu Dzar tersebut kecuali segelintir orang. Maka tidak dapat dijadikan patokan bagi umat dan negara.

Abu Dzar teringat akan pesan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam padanya, “Jika bangunan telah mencapai Sala’, maka keluarlah dari sana.”

Abu Dzar meminta izin kepada Amirul mukminin untuk pergi meninggalkan Madinah, dia berkata pada Utsman, “Izinkan saya untuk pergi ke Rabadzah.” Utsman menjawab, “Silahkan, dan kami akan menyediakan untukmu salah satu ternak sedekah untuk bolak-balik ke tempatmu.” Abu Dzar menyanggah, “Saya tidak butuh itu. Cukup bagi Abu Dzar sekawan unta miliknya.”

Para pendusta itu juga berkata, “Utsman mengembalikan Al-Hakam setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyingkirkannya.” Al-Hakam bin Abil Ash adalah paman Utsman bin Affan dan ayah dari Marwan. Diriwayatkan bahwa dia menyebarkan rahasia Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, maka beliau mengusirnya ke Tha’if. Utsman memohon kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam agar mengambilkannya dan beliau menjanjikan hal tersebut kepadanya.

Tidak ada hadits shahih maupun sanad yang memuat kisah pengusiran Al-Hakam. Kebanyakan ulama meragukan adanya tindakan pengusiran terhadapnya. Mereka berpendapat, “Dia pergi atas kemauannya sendiri.”

Bahkan seandainya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam memang menghukumnya dengan mengusirnya, tentu tidak berarti bahwa dia akan terusir sepanjang hidupnya. Tidak ada hukuman seperti itu bagi dosa apapun. Jika seseorang bertaubat, gugurlah hukuman tersebut darinya, dengan demikian seluruh tempat menjadi boleh baginya.

Utsman sendiri pernah berkata kepada para pemuka shahabat, “Saya mengembalikan Al-Hakam setelah sebelumnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengusirnya. Al-Hakam asalnya orang Mekah, lalu Rasulullah mengusirnya dari Mekah ke Tha’if. Kemudian Rasulullah mengembalikannya. Dengan demikian Rasulullah yang mengusirnya dan beliau pila yang mengembalikannya, bukan begitu?” Para shahabat berkata, “Ya, benar.”

Mereka terus berbuat kekacauan dengan menebar berita bohong bahwa Utsman melakukan hal-hal baru dalam urusan agama yang belum pernah ada pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya. Mereka berkata, “Utsman melakukan bid’ah dalam pengumpulan Al-Qur’an dan penyusunannya serta pembakaran mushaf-mushaf.”

Padahal apa yang dilakukan Utsman itu –demi Allah- merupakan kebaikannya yang agung, yaitu mengumpulkan kaum muslimin pada satu mushaf sebagai hasil musyawarah dengan para shahabat Radiyallahu ‘Anhum. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jangan berbicara tentang Utsman kecuali kebaikannya, Demi Allah, apa yang dilakukannya terkait mushaf Al-Qur’an berdasarkan hasil musyawarah dengan kami.”
Tidak cukup sampai situ, mereka berkeras hati dalam kebodohan mereka dengan mengatakan, “Utsman menetapkan lahan yang dilindunginya.”

Lalu ada masalah apa dengan tindakan Utsman tersebut? Padahal Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak ada lahan lindungan kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menetapkan lahan lindungan pada Naqi’, tanah luas yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kemudian pada masa Umar, lahan yang dilindungi diperluas hingga mencakup daerah Staraf dab Rabadzah. Ketika Umar memperluas lahan lindung karena bertambahnya jumlah kuda yang digunakan untuk berjihad dan pemasukan baitul mal, Utsman pun melakukan hal yang sama mengingat semakin meluasnya kegiatan penaklukan dan bertambahnya jumlah kuda jihad dan unta sedekah.

Dengan demikian, penentangan terhadap Utsman dalam hal ini sama saja menentang Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sebab beliaulah yang memulai lahan lindung. Lalu apa yang hendak dikatakan oleh pendusta itu?

Di samping itu, mereka pun menuduh Utsman melakukan nepotisme, memberi jabatan kepada kerabatnya yang tidak memiliki kemampuan untuk jabatan tersebut. Mereka berkata, “Utsman memberi jabatan pada Mu’awiyah, Abdullah bin Amir bin Kuraiz, Marwan, dan Al-Walid bin Uqbah, orang fasik yang tidak pantas untuk menjadi pejabat.”

Mengenai tindakanya memberi jabatan pada kerabatnya, tidak ada yang salah dalam hal itu selama mereka memiliki kemampuan dan ikhlas dalam mengemban jabatan tersebut. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri mengangkat Ali  bin Abi Thalib sebagai hakim di Yaman dan memberi jabatan pada beberapa orang dari bani Umayyah yang memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau. Begitu juga Ali  pada saat menjadi khalifah, memberi jabatan pada Abdullah bin Abbas, Qutsam bin Abbas, dan Tammam bin Abbas.

Tidak ada kabilah Quraisy yang anggotanya banyak menjadi pejabat pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selain Bani Umayyah. Karena mereka sangat banyak dan mereka memiliki kemuliaan. Rasulullah mengangkat Attab bin Asid bin Abil Ish bin Umayyah untuk wilayah Asyraf Al-Baqi’ dan Abu Sufyan bi Harb untuk wilayah Narjan.

Para pendusta itu tidak merasa cukup dengan membuat berbagai tuduhan bohong atas diri Utsman dan masa kekhalifahannya. Tapi mereka pun menyertainya dengan upaya merajut benang-benang komplotan untuk membuat fitnah yang tak terkendali dan menyebarkan desisannya ke seluruh arah.

2. Permulaan pembunuhan Utsman dan isyarat Nabi tentangnya
Berbagai penaklukan besar yang mengguncang dua negara adidaya  Persia dan Romawi serta merobek kekuatan Yahudi dan Nasrani tentu tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan efek balik bagi bangunan uamt Islam yang megah. Masih terdapat di berbagai kerajaan yang kalah tersebut sisa-sisa kekuatan yang menyimpan dendam terhadap Islam, para khalifah, dan panglimanya, menunggu saat yang tepat untuk menyalakan api dendam tersebut. Mereka dibantu oleh gabungan bangsa bangsa-bangsa yang masuk ke wilayah Islam yang luas. Di antara mereka ada yang masuk Islam karena merasa suka padanya, namun tidak sedikit juga yang masuk Islam sebagai kedok untuk menutupi kedengkian mereka yang nantinya akan menjadi penyulut fitnah.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengisaratkan hal tersebut, seakan-akan beliau mengetahui apa yang ada dibalik tabir zaman berdasarkan pemberitahuan dari Tuhannya. Maka pada suatu hari beliau menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah lalu berkata, “Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?” Para shahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku melihat fitnah di antara rumah-rumah kalian seperti hujan yang turun.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memperingatkan berapa fitnah tersebut agar orang-orang tidak terjerumus ke dalamnya. Beliau bersabda, “Siapa yang selamat dari tiga hal ini maka dia benar-benar selamat, yaitu kematianku, keluarnya Dajjal, dan pembunuhan khalifah yang sabar dalam mempertahankan kebenaran.”

Di samping itu, dalam banyak kesempatan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi kabar gembira kepada Utsman behwa dia akan memperoleh syahid. Dari semua berita tersebut dapat dipahami bahwa Utsmanlah yang akan dibunuh karena sabar dalam mempertahankan kebenaran.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘Anhu, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam naik ke atas gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Waktu itu gunung Uhud bergetar. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Tenanglah wahai Uhud, di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Sementara itu dalam hadits riwayat Abu Musa disebutkan bahwa ketika dia sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam di sebuah kebun di Madinah, datanglah Abu Bakar minta izin untuk masuk, lalu datang juga Umar. Setiap kali Abu Musa membukakan pintu, Rasulullah menyuruhnya menyampaikan kabar gembira berupa surga kepada keduanya. Abu Musa berkata, “Kemudian datang orang ketiga yang meminta dibukakan pintu. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga atas musibah yang akan menimpahnya.” Saya lalu membukakan pintu orang itu dan orang itu ternyata Utsman. Saya pun menyampaikan apa yang diucapkan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Utsman langsung mengucapkan, “Allah-lah tempat memohon pertolongan.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menjelaskan bahwa musibah tersebut berupa keinginan para pemberontak untuk menurunkannya dari kekhalifahan lalu membunuhnya. Nabi pun mengingatkan Utsman untuk tidak menuruti keinginan mereka.

Beliau berpesan, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan mengenakan padamu pakaian kekhalifahan, jika mereka menuntut agar engkau menanggalkannya, jangan engkau tanggalkan.”

Dengan demikian Utsman Radiyallahu ‘Anhu sangat mengetahui bahwa dia akan terbunuh, bahwa sejumlah orang akan berkomplotan untuk menjatuhkannya dari kekhalifahan. Utsman telah membicarakan hal itu bertahun-tahun sebelum dia menemui syahidnya. Dia berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, “Saya telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan sangat hafal bahwa beliau bersabda, “Akan terbunuh seorang amir (khalifah) dan akan bebas orang yang membebaskan diri.” Akulah yang terbunuh itu bukan Umar. Karena yang membunuh Umar satu orang, sementara saya akan diserbu oleh sekelompok orang.”

Banyak hadits Nabi yang menyatakan bahwa Utsman berada di jalan hidayah dan kebenaran, dan dia akan terbunuh secara zhalim. Karena itulah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mendorong para shahabat dan siapa pun yang hidup pada saat Utsman menjadi khalifah untuk mentaatinya dan tidak menoleh pada segala dusta yang ditimpakan padanya dan pada masa kekhalifahannya.

Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengingatkan akan terjadinya sebuah fitnah, beliau bersabda, “Dalam fitnah tersebut orang yang berselubung kain ini akan terbunuh secara zhalim.” Saya pun memperhatikan orang itu, ternyata Utsman bin Affan.

Sementara Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Asy’ats Ash-Shan’ani, “Sesungguhnya para khatib melakukan orasi di Syam, di antara mereka terdapat para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Yang terakhir menyampaikan orasi adalah seorang bernama Murrah bin Ka’ab . Dia berkata, “Kalau bukan karena hadits yang saya dengar dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saya tidak akan ikut orasi ini.” Lalu dia menyebutkan tentang fitnah dan memperkirakannya. Saat itu lewat seorang laki-laki berselubung kain, maka Murrah berkata, “Orang ini pada hari itu berada di jalan petunjuk.” Saya lalu berdiri mendekati orang yang berselubung itu, ternyata Utsman bin Affan. Maka saya menghadapkan wajahnya pada Murrah serta bertanya, “Orang ini?” Dia mengiyakan.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menemukan setelah fitnah dan pertikaian –atau beliau bersabda, pertikaian dan fitnah-“ Seorang bertanya pada beliau, “Siapa yang harus kami ikuti wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Hendaklah kalian mengikuti orang terpercaya ini dan para shahabatnya.” Sambil menunjuk ke Utsman bin Affan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Hawalah, “Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Bagaimana sikap kalian terhadap fitnah yang keluar dari penjuru bumi seperti tanduk sapi?” Saya menjawab, “Saya tidak tahu apa yang dipilih oleh Allah dan Rasul-Nya untukku.” Beliau berkata, “Ikutilah orang ini!” Waktu itu yang berselubung kain dari kepalanya lalu menghadapkan wajahnya ke arah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam seraya bertanya, “Orang ini?” Rasulullah mengiyakan. Ternyata orang itu Utsman bin Affan.

3. Hasutan atas Utsman, peran Ibnu Saba’ dalam komplotan, dan syahidnya khalifah

Gerakan pembrontakan dan pemurtadan bangkit di beberapa penjuru negara Islam. Mereka pun melanggar perjanjian dan kesepakatan yang ada. Bertindak sebagai pemimpin gerakan tersebut orang yang melarikan diri dan bersembunyi karena Islam telah menghilangkan kekuasaan zhalim mereka dan meruntuhkan kedudukan mereka yang terhormat. Diikuti oleh gerakan dari dalam, disulut oleh seorang Yahudi jahat dari Yaman yang mengaku bernama Abdullah bi Saba’ yang sengaja datang ke Madinah pada masa kekhalifahan Utsman dan menampakkan keislaman seraya mengaku mencintai agama ini.

Pasukan tentara Islam pun bangkit untuk memerangi gerakan tersebut memberi mereka pelajaran. Para pemberontak pun berhasil dikalahkan dan memilih untuk melakukan gerakan bawah tanah. Ibnu Saba’ lalu mengumpulkan berita dan mengikuti peristiwa yang terjadi di Madinah dengan penuh tipu daya dan kecerdikan. Dia juga mencuri kabar yang datang dari berbagai penjuru negeri. Dia mengamati berbagai peristiwa pemberontakan dan perlawanan, meyelami jiwa para penyulut pemberontak tersebut, memanfaatkan keberadaan jiwa-jiwa yang sakit dari orang-orang yang pernah muncul pada masa Umar Al-faruq, termasuk orang yang dituduh oleh Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa dia tidak pandai melaksanakan shalat. Dia juga memanfaatkan orang-orang yang merasa terzhalimi dan menyimapan dengki kepada para gubernur, karena terkena dampak penegakan hukum yang adil. Dia pun memiliki perhatian pada mereka yang dibebaskan oleh Islam dari kezhaliman Persia dan Romawi tapi mengalahkan kesulitan hidup di bawah naungan keadilan Islam. Dia memasang jeratnya untuk para budak dan kalangan rendah yang masuk Islam bersama sekelompok besar manusia, padahal mereka belum memahami inti agama Islam. Dia pun tidak melupakan orang-orang yang melampaui batas yang telah membantu akalnya dan kering bibirnya untuk nash dan berbagai kejadian. Maka dia mencoba untuk memulai dari Madinah, namun dia tidak mendapat tempat di sana dan juga tidak mendapat dukungan dari penduduknya.

Maka dia bertolak ke Syam dan mendapatkan penduduknya sangat loyal kepada para gubernur dan khalifah. Dia pun beralih ke Bashrah dan singgah di kediaman Hukaim bin Jabalah. Para penduduk di sana mendatanginya, dia pun berorasi menyampaikan pandangan dan prinsip-prinsip pemikirannya. Dia juga pergi dari tempat itu dengan menginggalkan para pendukungnya.

Di antara racun yang disebarkan adalah ucapan, “Sungguh aneh orang yang mengatakan bahwa Isa akan kembali tapi mendustakan kemungkinan Muhammad akan kembali. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”(QS. Al-Qashash [28]: 85). Padahal Muhammad lebih berhak kembali daripada Isa.”

Dia juga mengatakan, “Nabi itu ada seribu, masing-masing Nabi memiliki pelaksana wasiat. Ali adalah pelaksana wasiat Muhammad. Jika Muhammad penutup para Nabi, Ali adalah penutup pelaksana wasiat!”

Lalu dia bertanya retorik, “Siapa yang lebih zhalim dari pada orang yang tidak melaksanakan wasiat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu menguasai urusan umat!” Dengan pemikiran tersebut Ibnu Saba’ berusaha mempengaruhi orang-orang bahwa Ali terzhalimi, supaya mereka perpaling padanya dan mencoba membandingkan antara Ali dan Utsman. Dari situ dia menyimpulkan bahwa kekhalifahan Utsman tidak sah menurut syariat. Dia berkata, “Sesungguhnya Utsman mengambil kekhalifahan tanpa hak, sementara Ali adalah pelaksana wasiat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka bangkitlah mempersoalkan hal ini, gulirkanlah dan lawanlah para pemimpin kalian. Tampakkan amar makruf dan nahi munkar, ajak semua orang yang mendukung gerakan ini!”

Dimulailah perlawanan terhadap para gubernur wilayah. Penduduk Kufah bangkit melawan Al-Walid bin Uqbah, dilanjutkan dengan pemberontakan terhadap Sa’id bin Ash. Sementara penduduk Bashrah mencela gubernur mereka Abu Musa Al-Asy’ari dan meminta pada khalifah untuk menurunkannya. Mereka pun memfitnah orang-orang shalih. Di Mesir –tempat Ibnu Saba’ tinggal, dan dia senantiasa berkirim surat dengan para pengikutnya di Bashrah dan Kufah- para penduduknya bangkit melawan Amr bin Ash. Mereka mengadu domba antara Amr dan Ibnu Abi Sarh sehingga memaksa Utsman menurunkan Amr dari jabatannya.

Surat menyurat antara penduduk Mesir dan para pendukungnya dari penduduk Kufah dan Bashrah serta siapa pun yang menyahuti mereka terus berlanjut. Mendorong untuk melakukan perlawanan terhadap gubernur masing-masing dan menyepakati hari tertentu –yaitu ketika para gubernur pergi menghadap Amirul mukminin- untuk melakukan pemberontakan terhadap para gubernur dan menurunkan mereka, yaitu pada tahun 34 H. Namun yang bangkit melakukan pemberontakan hanya penduduk Kufah. Mereka berkumpul di Jara’ah (Suatu tempat di dekat Qadisiyah) dan menghadang Sa’id bin Ash yang baru kembali dari tempat Utsman. Mereka melarang Sa’id masuk ke wilayah Kufah. Sa’id pun kembali ke tempat khalifah dan memberitahunya bahwa mereka menghendaki Abu Musa sebagai gubernur Kufah. Utsman pun menulis surat pengangkatan Abu Musa. Dengan demikian, rencana bersama pada tahun 34 H gagal terlaksana. Fitnah hanya terjadi di kalangan penduduk Kufah di Jara’ah. Maka hari itu disebut hari Jara’ah.

Para pembelot terus menjalankan rencananya. Mereka memalsukan beberapa surat mengenai aib para gubernur dan buruknya keadaan, lalu surat itu mereka kirim ke berbagai daerah. Penduduk masing-masing daerah pun menulis surat ke daerah yang lain mengabarkan apa yang mereka perbuat. Maka mereka membaca surat tersebut di daerah mereka masing-masing hingga berita itu sampai ke Madinah. Mereka terus memperluas penyiaran berita tersebut padahal mereka menginginkan sesuatu selain apa yang mereka tampakkan dan menyembunyikan maksud tertentu di balik apa yang tampak. Maka penduduk setiap daerah mengatakan, “Kami baik-baik saja dan terhindar dari apa yang menimpa mereka.” Kecuali penduduk Madinah, mereka menerima berita tersebut dari seluruh daerah, maka mereka berkata, “Sesungguhnya kami baik-baik saja dan terhindar dari apa yang menimpa orang-orang.”

Maka Utsman mengirim Muhammad bin Maslamah ke Kufah, Usamah ke Bashrah, Ammar ke Mesir, dan Ibnu Umar ke Syam. Masing-masing memimpin sebuah pasukan dan dikirim ke wilayah-wilayah besar tersebut. Kemudian mereka semua kembali dan berkata, “Wahai manusia, kami tidak mengingkari sesuatu pun, tidak juga para pemimpin kaum muslimin dan orang awam di kalangan mereka.” Lalu mereka berkata, “Urusannya adalah milik kaum muslimin, hanya saja para pemimpin mereka bertindak adil di antara mereka dan membantu mereka.”

Lalu mereka saling berkirim surat di antara mereka bersepakat untuk berkumpul di Madinah agar dapat mempertanyakan kepada Utsman tentang berbagai hal yang dapat merendahkannya. Maka mereka pun berkumpul di Madinah dan Utsman menemui mereka, mendebat mereka dalam berbagai persoalan yang mereka tuduhkan secara palsu dan dusta bahwa dia dalam semua persoalan itu menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan kedua shahabat beliau. Utsman lalu menyebutkan kepada mereka berbagai hal seperti, penyempurnaan shalat di Mina, lahan lindung, pengumpulan mushaf, pengembalian Al-Hakambin Abil Ash, penurunan para gubernur dan pengangkatan orang-orang baru, pemberian seperlima dari seperlima ghanimah kepada Ibnu Abi Sarh, dan melebihkan kerabatnya dengan berbagai pemberian…..” Setiap kali dia menyebutkan satu persoalan, dia berkata seraya bersumpah, “Bukankah begitu?” Para shahabat menjawab, “Ya, benar.”

Ketika mereka menemui kegagalan pada upaya pertama di hari Jara’ah, begitu juga pada upaya kedua di Madinah, mereka bertekad untuk membunuh Utsman. Mereka berkata pada kedatangan mereka yang terkhir menemui Amirul mukminin, “Kita akan menyambut padanya beberapa hal yang telah kita tanamkan di hati semua orang, kemudian kita kembali kepada mereka dan menggambarkan pada mereka bahwa kita telah memaksanya untuk mengakui kesalahannya namun dia tdak mau merubah dan tidak mau bertaubat. Kemudian kami berangkat seolah-olah sebagai jamaah haji hingga kami datang ke Madinah dan mengepungnya lalu menurunkannya dari kekhalifahan. Jika dia menolak akan kita bunuh!”

Pada bulan Syawwal tahun 35 H mereka berangkat ke Madinah. Mereka terbagi dalam 12 kelompok, masing-masing 4 kelompok dari Mesir, Kufah, dan Bashrah. Setiap kelompok terdiri dari 150 orang. Dengan demikian jumlah keseluruhannya 1800 orang.

Mereka berkumpul di sekitar Madinah. Kelompok yang datang dari Bashrah berkemah di Dzu Khusyub, sebuah lembah berjarak satu malam perjalanan dari Madinah, sedangkan kelompok dari Kufah berkemah di Al-A’wash. Sebuah tempat di timur Madinah berjarak belasan mil, sementara kelompok dari Mesir mayoritas berkemah di Dzul Marwah, desa yang cukup luas bagian dari kota Madinah.

Kelompok dari Mesir mendatangi Ali bin Abi Thalib, sementara kelompok Bashrah menemui Thalha bin Ubaidillah, sedangkan kelompok dari Kufah menemui Zubair bin Awwam. Mereka menawarkan masing-masing tokoh tersebut untuk menjadi khalifah dan menurunkan Utsman. Jawaban ketiga orang shahabat itu, “Kaum muslimin telah mengetahui bahwa pasukan Dzul Marwah, Dzu Khusub, dan Al-Ali’wash terlaknat melalui lisan Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam!!”

Mereka pun kembali ke perkemahan mereka.

Para pemberontak yang menyimapang itu berlaku seolah-olah mereka akan kembali ke negeri mereka masing-masing. Mereka merobohkan kemah-kemah mereka dan keluar dari Madinah. Orang-orang Irak -yang terdiri dari orang-orang Kufah dan Basrah- berjalan ke arah timur menuju utara mengarah ke negeri mereka, sementara orang-orang Mesir berjalan ke arah barat menuju utara. Masing-masing kelompok berjalan ke arah yang berbeda dan semakin lama jarak di antara mereka pun semakin jauh.

Masing-masing kelompok telah berjalan cukup jauh. Orang-orang Mesir telah sampai ke Buwaib (pintu masuk penduduk Hijaz ke Mesir), tiba-tiba seorang penunggang kuda menampakkan diri kepada mereka lalu memisahkan diri. Kejadian itu terjadi berulang-ulang. Mereka pun bertanya pada penunggang kuda itu, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Saya adalah utusan Amirul mukminin untuk gubernurnya di Mesir. Mereka lalu menggeledahnya, lalu menemukan sebuah surat atas nama Utsman lengkap dengan stempelnya yang ditujukan kepada Gubernur Mesir agar dia mensalib mereka, membunuh, atau memotong tangan dan kaki mereka secara silang.

Para pemberontak Mesir pun berbalik haluan dan kembali ke Madinah. Ikut bersama mereka Muhammad bin Abu Bakar . Begitu juga dengan pemberontak Irak. Kedua kelompok tersebut sampai ke Madinah pada saat bersamaan seakan-akan mereka telah membuat kesepakatan waktu. Tidak ada yang membuat takut penduduk Madinah kecuali gemah takbir di seantero Madinah. Para pemberontak telah mengepung Madinah, sebagian besar mereka mengepung rumah Utsman bin Affan. Mereka menggertak semua orang, “Siapa yang menahan diri akan aman.”

Utsman masih mengimami shalat berjamaah dalam beberapa hari. Sementara itu masyarakat banyak yang memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka masing-masing. Para pembelot itu tidak melarang orang untuk angkat bicara, maka sekelompok orang mendatangi mereka mengajak berbicara, ikut dalam kelompok Ali bin Abi Thalib. Dia bertanya pada mereka, “Apa yang membuat kalian kembali setelah kalian pulang dan mengurung niat kalian?” Mereka menjawab, “Kami merebut dari pengantar sepucuk surat yang berisi perintah untuk membunuh kami.” Hal senada disampaikan juga oleh orang-orang Bashrah kepada Thalha dan orang-orang Kufah kepada Zubair. Orang-orang Bashrah dan Kufah berkata, “Maka kami menolong saudara-saudara kami dan melindungi mereka semua.” Ali bertanya pada mereka, “Wahai orang-orang Kufah dan Bashrah, bagaimana kalian bisa tahu apa yang dihadapi orang-orang Mesir? Padahal kalian sudah berjalan cukup jauh, lalu kalian berkumpul mendatangi kami? Ini, demi Allah, perkara yang telah ditetapkan atas Madinah!” Mereka berkata, “Maka letakkanlah itu sekehendak kalian, kami tidak memerlukan orang ini, hendaklah dia menyingkir dari kami!”

Mereka semakin memperketat pengepungan terhadap Amirul mukminin dan mereka melemparinya hingga terjatuh dari mimbar dan tidak sadarkan diri. Utsman lalu diangkat masuk ke rumahnya. Beberapa orang telah bersiap-siap untuk mempertaruhkan diri mereka membela Utsman, di antaranya, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dan Hasan bin Ali . namun Utsman bersikeras menyuruh mereka pergi. Mereka pun akhirnya pergi.

Utsman lalu meminta bantuan para gubernur. Maka Mu’awiyah mengirim pasukan di bawah pimpinan Habib bin Maslamah Al-Fihri. Sementara Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh mengirim pasukan lain di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Hudaij As-Saukani. Pasukan ketiga datang dari Kufah di bawah pimpinan Al-Qa’qa’ bin Amr.

Kepungan para pemberontak semakin menjadi-jadi. Mereka terus berusaha mempersempit ruang gerak Amirul mukminin dengan melarang masuknya makanan dan air ke tempatnya. Mereka pun melarangnya pergi ke masjid dan mengancam akan membunuhnya.

Utsman lalu bangkit menemui mereka dari rumahnya dan menasihati mereka dan menceritakan berbagai kelebihannya agar mereka mengurungkan niatnya dan sadar akan kekeliruan mereka. Dia lalu bersumpah atas nama Allah, sementara para shahabat mendengarkan. Dia berkata, “Demi Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang ke Madinah dan tidak ada air yang bisa diminum selain sumur Rumah, maka beliau berkata, “Siapa yang bersedia membeli sumur Rumah lalu menjadikan embernya bersama kaum muslimin dengan baik, baginya surga sebagai balasannya?” maka saya membelinya dari hartaku. Sementara kalian hari ini melarangku meminum airnya sampai harus minum laut?” Mereka menjawab, “Ya, benar.” Utsman melanjutkan, “Demi Allah dan Islam, apakah kalian tahu bahwa Masjid telah sesak oleh jamaah, maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Siapa yang bersedia membeli sebidang tanah dari keluarga fulan lalu menambahkannya ke Masjid dengan baik, baginya surga sebagai balasan?” Maka saya membelinya dengan hartaku, lalu kalian sekarang melarangku shalat di Masjid walau hanya dua rakaat?” Mereka berkata, “Ya, benar.”

Utsman bertanya lagi, “Demi Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa saya mempersiakan bekal dan tunggangan bagi pasukan yang kesulitan mendapat bekal dan tunggangan dalam berjihad dari hartaku?” Mereka berkata, “Ya, benar.” Utsman terus bertanya, “Demi Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa waktu itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berada diatas gunung Tsabir bersama Abu Bakar, Umar, dan saya. Lalu gunung itu bergetar hingga bebatuannya berjatuhan. Maka beliau menghentakkan kakinya seraya berkata, “Tenanglah wahai Tsabir, sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.” Mereka berkata, “Ya, benar.” Utsman pun berkata, “Allahu akbar! Mereka bersaksi demi tuhan Ka’bah bahwa saya mati syahid.” Dia mengulang-ulang ucapan itu sampai tiga kali.

Pengepungan atas rumah Utsman terus berlanjut sampai lewat hari tasyriq dan sebagian kecil jamaah haji telah kembali dari pelaksanaan haji. Mereka memberitahukan tentang keselamatan orang-orang. Para pemberontak itu mendapat kabar bahwa para jamaah haji tahun itu bertekad untuk kembali ke Madinah untuk membela Amirul mukminin. Mereka juga mendengar kabar bahwa tiga pasukan sedang di perjalanan menuju Madinah untuk menolong khalifah. Dalam situasi seperti itu mereka bersikeras mewujudkan rencananya, memanfaatkan kesempatan sedikitnya jumlah kaum muslimin di Madinah karena kebanyakan mereka berangkat ke Mekah melaksanakan haji, mereka mengepung rumah Utsman dan memaksa Utsman untuk mundur dari kekhalifahan. Namun Utsman menolak mundur.

Sementara itu para shahabat saling membantu dalam upaya menolong Utsman dan berperang untuk melindunginya serta menjaga jiwa dan darahnya yang suci. Waktu itu Utsman berkata, “Aku bersumpah kepada Allah atas seorang laki-laki yang melihat bahwa Allah memiliki hak dan menetapkan bahwa saya memiliki hak atasnya, akan menumpahkan darahnya karena aku.”

Utsman melalui hari-hari tersebut dengan berpuasa. Pada malam harinya dia bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Mereka berkata padanya, “Sabar, sesungguhnya engkau akan berbuka di tempat kami pada puasa berikutnya.”

Diriwayatkan dari Muslim bin Abi Sa’id, pelayan Utsman bin Affan, dia berkata, “Sesungguhnya Utsman bin Affan memerdekakan dua puluh budak. Lalu dia minta dibawakan beberapa celana lalu mengenakannya –padahal dia tidak pernah mengenakannya baik pada masa jahiliyah maupun pada masa Islam. Utsman berkata, “Sesungguhnya tadi malam saya bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, mereka berkata kepada saya, “Sabar, sesungguhnya engkau akan berbuka di tempat kami pada puasa berikutnya.” Kemudian Utsman meminta dibawakan mushaf Al-Qur’an lalu membentangkannya di hadapannya. Pada saat terbunuh, Al-Qur’an terbuka dihadapannya.

Utsman berkata pada orang yang ada bersamanya, “Saya mempersaksikan pada kalian bahwa saya pagi ini berpuasa, dan saya bertekad atas setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bahwa dia akan keluar dari rumah dalam keadaan selamat.” Mereka berkata, “Wahai Amirul mukminin, jika kami keluar, kami tidak menjamin diri kami akan selamat dari mereka.” Maka Utsman pun mengizinkan mereka untuk tetap bersamanya di dalam rumah. Kemudian Utsman menyuruh agar pintu rumah di buka dan meminta sebuah mushaf dan memeluknya. Bersamanya saat itu ada dua orang istrinya, Al-Furafishah dan Bintu Syaiba. Kalaulah bukan penolakannya, orang-orang yang bersamanya pasti akan menolongnya dari para musuhnya. Akan tetapi takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan terjadi.

Para penjahat itu pun mengambil keputusan final. Mereka menerobos masuk ke dalam rumah Amr bin Hazm yang bersebelahan dengan rumah Utsman, lalu mereka masuk ke rumah Utsman yang kala itu tinggal sendirian tanpa penjaga dan pembela. Di antara yang menerobos masuk adalah Qutairah As-Sakwani, Sudan bin Humran, Al-Ghafiqi bin Harb, Amr bin Al-Hamiq, Kultsum bin Tujib, seorang bernama Al-maut Al-Aswad , dan Khinanah bin Bisyr At-Tujibi. Mereka menyerang Utsman secara bersamaan. Ada yang memukulnya dengan gagang pedang, yang lain memukul dengan tangan, sementara itu Mushaf Al-Qur’an terbuka di hadapan Utsman dan dia membaca surat Al-Baqarah. Mereka semakin bernafsu untuk membunuhnya. Al-Maut Al-Aswad lalu mencekik leher Utsman dengan kuat, sedangkan Al-Ghafiqi memukulnya besi yang ada di tangannya. Salah seorang dari mereka menebas pedang ke arahnya lalu ditangkis oleh Utsman dengan tangannya hingga putus. Utsman berkata, “Demi Allah, tangan itu adalah tangan pertama yang menulis Al-Mufassahal .” Lalu datang seorang membawa anak panah bermata lebar lalu memukul tulang selangkanya. Utsman mengucap, “Bismillahi tawakkaltu alaih.” Tiba-tiba darah mengalir ke janggutnya hingga menetes, sementara Mushaf masih terbuka di depannya. Dia lalu bersandar pada sisi kirinya seraya mengucap, “Subahanallahi azhim” sambil terus membaca mushaf dan darah mengalir di mushaf hingga berhenti pada firman-Nya, “maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah [2]: 137).

Mereka lalu memukulnya secara bersamaan. Kinanah bin Bisyr yang membawa anak panah memukul pangkal telinga Utsman hingga tembus ke tenggorokannya, lalu dia memukul dahinya dengan tongkat besi hingga Utsman tergeletak ke samping. Datang Sudan bin Humran ingin memukulnya, maka Ni’ilah binti Al-Furafishah, istri Utsman menghalanginya dan menangkis pukulan pedang dengan tangannya hingga putus jari-jari tangannya. Dia lalu menghindar. Maka Sudan meremehkannya, dan berkata, “Dia sudah mati!” lalu dia memukul Utsman yang telah tergeletak ke samping dan membunuhnya. Amr bin Al-Hamiq lalu menginjak dada Utsman yang masih bernafas, lalu menusuknya sembilan kali tusukan. Dia berkata, “Tiga tusukan saya lakukan untuk Allah, sedangkan yang enam untuk mengobati apa yang terpendam di dalam dadaku padanya.”

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Jika darah Utsman telah halal, kenapa hartanya tidak?” Maka mereka pun menjarah seluruh harta Utsman dan mengambil semua yang ada di rumahnya yang jumlahnya sangat besar. Bahkan mereka merebut perhiasan yang dikenakan para istri Utsman. Kultsum bin Tujib bahkan mengambil pakaian wanita, lalu dipergoki oleh salah seorang pelayan Utsman. Maka dia membunuh pelayan tersebut. Lalu ada lagi yang berteriak, “Segera ke baitul mal, jangan sampai didahului orang lain!” Ketika para penjaga baitul mal mendengar teriakan itu lantas berkata, “Selamatkan diri kalian, orang-orang itu hanyalah menginginkan dunia!” Mereka pun lari. Tak lama datanglah kelompok pembelot ke baitul mal dan menjarah seluruh isinya yang berjumlah sangat banyak.

F. SYAHIDNYA UTSMAN, UCAPAN DUKA, DAN KELUARGANYA

1. Apa yang dilakukan Utsman sampai dia dibunuh?
Utsman Radiyallahu ‘Anhu terbunuh dan menghadap Tuhannya sebagai syahid dengan tubuh berlumuran darah.

Apa yang dilakukan Utsman sampai mereka sengaja melakukan perjalanan ke tempatnya, menumpahkan darahnya yang haram ditumpahkan pada bulan haram dan di tanah haram?

Padahal Utsman adalah salah satu pahlawan yang paling pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alahi wa Sallam, orang pertama yang hijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth Alaihissalam, satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira berupa Surga dan memperoleh mati syahid.

Utsman-lah yang membeli sumur Rumah, mempersiapkan bekal bagi pasukan yang kesulitan mendapat bekal, dan memperluas masjid Nabawi.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, beliau meras ridha padanya. Lalu kaum muslimin membai’atnya sebagai khalifah setelah Umar berdasarkan kesepakatan para tokoh mereka.

Dia mengirimkan pasukan tentara, membebaskan berbagi wilayah, menyampaikan dakwah Islam hingga mencapai perbatasan India dan Andalusia dan ibu Kota Byzantium.
Utsman mengumpulkan kaum muslimin pada satu jenis mushaf. Dia pernah menghatamkan seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat ketika shalat di Maqam Ibrahim Alaihissalam.

Dia pun kerap membagikan berbagai pemberian dan bantuan, termasuk pakaian dan makanan.

Apakah setelah berbagai kelebihan tersebut Utsman pantas untuk dibunuh?
Apakah Dzun Nurain melakukan dosa yang mengharuskannya dibunuh menurut pandangan para pemberontak yang berdosa itu?

2. Kerugian yang ditimbulkan akibat pembunuhan Utsman
Kerugian yang dialami kaum muslimin akibat pembunuhan Utsman sangat besar. Para pembunuh telah mempelopori kebiasaan kufur dengan melakukan hal tersebut dan membuka pintu keburukan yang luas atas kaum muslimin.

Setelah peristiwa pembunuhan Utsman, banyak darah yang tumpah dan mengalir tanpa bisa dihentikan. Akibat pembunuhan Utsman, gerakan jihad Islam terhenti untuk masa yang cukup panjang dan terjadi berbagai fitnah pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Tanpa itu semua pun, pembunuhan Utsman merupakan kejahatan atas Islam dan kaum muslimin!

3. Pendapat para shahabat mengenai pembunuhan Utsman dan kesedihan mereka atas kematiannya

Musibah tersebut meninggalkan bekas mendalam pada diri para shahabat dan telah membuat mereka sangat bersedih.

Ketika sampai kabar pembunuhan Utsman kepada Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Celakalah mereka hingga akhir masa!” Dia lalu bangkit dan masuk ke rumah Utsman, memeluknya dan menangis, hingga semua orang yang berada di sana menyangka bahwa dia akan menyusulnya. Ali  waktu itu berkata, “Saya berharap saya dan Utsman termasuk ke dalam golongan orang yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 47).

Hudzaifah bin Yaman berkata, “Permulaan fitnah adalah pembunuhan Utsman dan akhir fitnah adalah keluarnya Dajjal. Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika seseorang meninggal dan di hatinya terdapat rasa suka terdapat pembunuhan Utsman meski hanya sedikit, maka dia merupakan pengikut Dajjal jika bertemu dengannya, jika tidak sempat bertemu, dia akan mengimaninya di kuburnya.”

Ibnu Abbas berkhutbah di hadapan khalayak dan berkata, “Jika orang-orang tidak menuntut balas atas kematian Utsman, mereka akan dilempari batu dari langit.”

Sedangkan Sa’id bin Zaid berkata, “Jika Uhud runtuh akibat perbuatan kalian terhadap Utsman, maka dia pantas runtuh.”

Abdullah bin Salam mengatakan, “Dengan pembunuhan Utsman, orang-orang telah membuka pintu fitnah yang tidak akan tertutup selamanya hingga hari kiamat.”

Bahkan Aisyah Ummul mukminin berkata, “Utsman terbunuh secara zhalim, semoga Allah melaknat orang-orang yang membunuhnya.”

Para shahabat sangat merasa kehilangan atas kematian Utsman, sosok dermawan dan penolong, pelaksana apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan penegak hukum Allah. Mereka menangis tersedu-sedu dan meratapi kematian Utsman. Bahkan banyak di antara mereka yang meninggalkan kenikmatan dunia dan menghindari tertawa hingga mereka meninggal dunia.

Abu Hurairah saat diingatkan tentang apa yang diperbuat atas Utsman langsung menangis dan meratap.

Abu Humaid As-Sa’idi berkata saat Utsman dibunuh, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau berhak atas diriku untuk tidak melakukan sesuatu dan tidak tertawa hingga saya menemui-Mu.”

4. Tanggal syahidnya Utsman dan pengurusan jenazahnya
Utsman bin Affan menemui syahidnya di Madinah pada hari Jum’at tanggal 18 Zulhijjah tahun 35 H.

Jasad Utsman dimandikan oleh Jubair bin Muth’im, Miswar bin Makhramah, Hakim bin Hizam, putranya Amr bin Utsman, dan dua istrinya Na’ilah dan Ummul Banin. Lalu mereka mengafani dan menshalatkannya. Yang bertindak sebagai imam adalah Hakim bin Hizam. Ada yang mengatakan imamnya adalah Zubair bin Awwam berdasarkan wasiat dari Utsman.

Sekelompok shahabat mengantarkan ke makam, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Jubair bin Muth’im, dan Hakim bin Hizam. Istrinya Na’ilah binti Al-Furafishah ikut mengantar dengan membawa pelita. Jubair berkata kepadanya, “Padamkan pelitanya agar kita tidak diketahui.” Maka Na’ilah pun memadamkannya. Istrinya yang lain, Ummul Banin pun ikut mengantar.

Mereka membawanya secara sembunyi-sembunyi di atas sebuah pintu, terdengar kepalanya terantuk-antuk pada pintu hingga menimbulkan bunyi, karena mereka berjalan dengan sangat cepat, khawatir diketahui para pembunuhnya yang berniat untuk melemparinya dan menguburkannya di pekuburan Yahudi.

Mereka pun memakamkannya malam hari, tidak mungkin menguburkannya secara terang-terangan karena para pembunuhnya menguasai keadaan. Utsman dimakamkan pada malam Sabtu, antara waktu maghrib dan isya di Hasy Kaukab.
Orang-orang menghindari untuk memakamkan orang yang meninggal di kalangan mereka di tempat itu. Bahkan Utsman Radiyallahu ‘Anhu pernah lewat di dekat Hasy Kaukab dan berkata, “Dalam waktu dekat akan meninggal seorang yang shalih lalu dimakamkan di sana, lalu orang-orang pun menirunya.”

Mu’awiyyah Radiyallahu ‘Anhu pada masa kekhalifahanya mengurus makam Utsman tersebut, maka dia merubah tembok pemisah antara Hasy Kaukab dan Baqi’ dan memerintahkan orang-orang untuk memakamkan orang yang meninggal di antara mereka di sekitar makam Utsman agar terhubung dengan makam-makam kaum muslimin. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikannya.

5. Usia Utsman dan masa kekhalifahannya
Utsman Radiyallahu ‘Anhu meninggal dunia pada usia 82 tahun. Utsman dilahirkan enam tahun setelah tahun gajah, artinya dia lebih muda enam tahun dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Ketika Rasulullah wafat, usia Utsman 57 tahun. Lalu dia hidup setelah wafatnya Rasulullah selama 25 tahun. Dengan demikian usianya mencapai 82 tahun.
Sedangkan masa kekhalifahannya selama 12 tahun kurang 12 hari.

6. Istri dan anak Utsman
Utsman menikah dengan Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. ketika Rauqayyah wafat, Utsman menikahi Ummu Kultsum binti Rasulullah. Setelah Ummu Kultsum wafat, Utsman menikah dengan Fakhitah binti Ghazwan, Ummu Amr binti Jundub, Fatimah biti Al-Walid, Ummul Banin binti Uyaynah bin Hishn, Ramlah binti Syaibah, Na’ilah binti Al-Furafishah (sebelumnya beragama nasrani lalu masuk Islam), dan Ummul Walad (Budak).

Dari pernikahannya Utsman dikaruniai 9 putra, yaitu Abdullah bin Akbar, Abdullah Al-Ashghar, Amr, Khalid, Aban, Umar, Al-Walid, Sa’id, dan Abdul Malik.
Sedangkan putrinya adalah Maryam, Ummu Sa’id, Aisyah, Ummu Aban, Ummu Amr, dan Ummul Banin.

Ketika Utsman wafat, dia meninggalkan 4 orang istri, yaitu Na’ilah, Ramlah, Ummul Banin binti Uyaynah, dan Fakhitah.

7.  Harta peninggalan Utsman
Pada saat Utsman meninggal dunia, dia memiliki 30.500.000 dirham dan 150 ribu dinar. Semua harta tersebut dijarah sampai tidak tersisa sepeser pun.

Di samping itu Utsman juga meninggalkan 1000 ekor unta di Rabadzah dan meninggalkan harta sedekah sejumlah 200 ribu dinar.

Utsman menjumpai Tuhannya sebagai syahid dan dalam kondisi berpuasa. Di hadapannya terbuka mushaf Al-Qur’an yang selalu menemaninya siang dan malam. Bahkan ketika para pembrontak menyerbu masuk ke dalam rumahnya, matanya sedang menatap mushaf dan ruhnya sedang menghayati maknanya, seraya menunggu datangnya waktu maghrib untuk berbuka puasa bersama para kekasihnya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan shahabatnya.

Utsman pergi dan ruhnya naik menjumpai Sang Pencipta dalam keadaan ridha dan diridhai, dinantikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan dua shahabatnya, Abu Bakar dan Umar yang merindukannya.

Wahai khalifah yang syahid, pergilah ke alam yang kekal dalam keadaan ridha dan diridhai, temuilah di sana Rasul tercinta dan dua shahabatnya yang mulia. Adapun para pembunuhmu, “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 137).

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/utsman-bin-affan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s