Abdurrahman bin Auf

A. Masa Kecil, remaja, dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, dan julukannya, serta penggantian namanya oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di mekah Al-Mukarramah yang dipili Allah untuk menjadi tempat bangunan paling suci di muka bumi (Al-Ka’bah Al-Msyarrafah), dan dengan ilmunya  yang azali dan kemuliaan-nya yang begitu agung Allah telah menetapkan bahwa dari sana akan terpancar sinar dari risalah yang paling agung yang dianugerahkan Allah kepada para hamba-Nya. Disanalah akan dibangkitkan Rasul-nya yang paling mulia MuhammadShallallahu Alaihi wa Sallamuntuk memproklamirkan ajaran tauhid, dan membawakan cahaya serta kebaikan kepada seluruh dunia. Di tanah itulah hidup suku Quraisy yang mempunyai peranan penting dalam kepemimpinan di jazirah arab. Dan dengan ketetapan-nya, Allah mengutus dari kabilah tersebut seorang Rasul yang agung Shallallahu Alaihi wa Sallam. Untuk beberapa waktu mereka memeranginya, memusuhinya, menyiksanya bahkan mengusirnya. Namun setelah itu mereka pun tunduk kepada suara kebenaran. Mereka pun mengikutinya dengan kerelaan dan kebahagiaan, dan hidup dalam naungan iman dan terangkat dengan Islam. Dan kepemimpinan mereka pun semakin bertambah kokoh dengan kekuatan kebenaran dan keistimewaan agama yang mereka emban dan keistimewaan agama yang mereka emban dan kemudian mereka sebarkan kepada seluruh dunia.

Dengan bahasa merekalah Al-Qur’an diturunkan, dan mereka ditantang dengan sesuatu yang menjadi kelebihan dan kebanggaan mereka. Mereka ditantang dengan bahasa mereka sendiri untuk membuat hal yang serupa dengan Al-Qu’an. Namum mereka tidak mampu, gagal, dan kemudian tunduk menyerah dan bahkan berserah diri dengan masuk Islam. Mereka beriman dan membenarkan risalah, dan kemudian turut membawa panjinya dengan penuh kebahagiaan.

Dari suku tersebut kemudian muncullah banyak kabilah yang memperkaya keturunan Quraisy. Seperti Bani Hasyim, Bani Umayyah, Bani Taim, Bani Makhzum, Bani Adi, dan Bani Zuhrah.

Dan dari Bani Zuhrah, salah satu kabilah tersebut –seorang sahabat mulia berasal, dan kepadanya ia dinisbatkan, serta di antara merekalah ia tumbuh dan dibesarkan.

Ibnu Auf sendiri berasal dari garis keturunan ini. Dari sanalah ia berasal, dan kepadanya ia dinisbatkan, serta diantara merekalah ia tumbuh dan dibesarkan.

Jadi ia adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abu bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, Al-Qurasyi Az-Zuhri Al-Makki dan kemudian Al-Madani.

Ia dilahirkan di Mekah sepuluh tahun setelah tahun gajah. Ketika sinar kenabian mulai memancar ia telah berusia tiga puluh tahun. Ia lebih mudah sepuluh tahun dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan lebih tuga tiga tahun dari Umar bin Khaththab.

Ayahnya adalah Auf bin Abdu Auf bin Abdu bin Al-Harits Az-Zuhri, yang merupakan salah seorang tokoh terkemuka di Bani Zuhrah. Buku-buku yang merupakan salah seorang tokoh terkemuka di Bani Zuhrah. Buku-buku ejarah tidak ada yang menyinggungnya, dan kemudian ia meninggal sebelum Islam dan segala hal yang berkaitan dengannya pun turut terkubur bersamanya. Pendapat ini dikuatkan dengan fakta bahwa buku-buku sejarah telah banyak menceritakan tetnang tokoh-tokoh besar yang menjegal langkahnya. Khususnya orang tua dari tokoh-tokoh besar yang terpilih untuk mengemban risalah dakwah sejak kemunculannya, seperti Abu Ubaidah, Ibnu Auf, dan Sa’ad bin Abu Waqqash.

Ibunya adalah Asy-Syifa binti Auf Az-Zuhriyah, ia masuk islam berbai’at kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjadi seorang shahabiya yang baik, dan mendapatkan kebahagiaan dengan keislamannya.

Sudah menjadi kebiasaan banyak orang Quraisy untuk menamakan anak-anak mereka dengan penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Ka’bah (Hamba Ka’bah), Abdull Uzza, Abdu Manat, Abdu Syams, anaknya dengan Abdu Amru, Nama ini terus melekat padanya hingga dewasa. Lalu Allah menyelamatkannya dengan Islam, dan ia pun mempersembahkan ketaatannya kepada Allah di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan menyetakan keimanan terhadap apa yang dibawanya. Allah memuliakan Ibnu Auf dengan nikmat-nya, dan memberinya keutamaan dengan mengilhamkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengganti nama-nama yang jelek atau nama-nama yang membawa makna penghambaan kepada selain Allah Ta’ala. Maka ia pun menghapus nama jahiliyah tersebut dari ingatan yang baru. Ia pun menghiasa dirinya dengan salah satu nama yang paling disukai oleh Allah, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun memberinya nama baru Yaitu Abdurrahman.

Dalam sebuat hadits shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya, dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengubah nama yang jelek dengan nama yang bagus.”

Dan juga yang diriwayatkan oleh Muslim, Abud Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Umar, “Bahwasanya seorang putri Umar bernama Ashiyah (yang bermaksiat), maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menamakannya dengan jamilah (cantik).

Dalam sebuah hadits shahih lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abuk Iman, dari Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berada bersamaku, datanglah seorang nenek. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Siapakah engkau?” ia berkata, “Aku Jatstsamah Al-Muzaniyah”, maka beliau berkata, “Engkau adalah Hassanah Al-Muzaniyah. Bagaimana kalian? Apakabar kalian? Bagaimana kalian setelah kami?” ia menjawab, “Demi Allah, baik Rasulullah.” Ketika ia telah pergi aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau menyambut nenek tersebut sedemikian rupa?!” Beliau menjawab, “Dia sering mendatangi kami sejak masa Khadijah, dan menghargai masa lalu adalah sebagian dari iman.”

Ini adalah salah satu di antara sikap beliau yang terpuji dan sungguh seluruh yang beliau lakukan adalah terpuji dan juga ajaran beliau yang mulia. Juga salah satu bentuk dari kecintaan beliau kepada shahabat-shahabatnya serta harapan beliau akan kebaikan bagi mereka.

Salah satu bentuk lainnya adalah ketika beliau mengganti Abdu Amru, dan beliau menamakannya dengan salah satu nama yang paling disukai oleh Allah. Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawun, dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Dulu pada masa jahiliyah namaku adalah Amru, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menamakanku Abdurrahman.”

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dishahihkannya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman berkata, Ayahku bercerita kepadaku, dari ayahnya, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Dulu pada masa jahiliyah namaku adalah Abdu Amru, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menamakanku Abdurrahman.”

Abdurrahman mempunyai julukan Abu Muhammad, dan dengan inilah ia dikenal dan di panggil oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat.

2. Ciri-ciri dan Karakternya

Di samping kemuliaan garis keturunan yang di anugerahkan Allah kepada Abdurrahman, ia juga dikaruniai dengan ketampanan dan social yang berwibawa. Sehingga ciri fisik yang menonkol ini memberikan nilai tambah kepada kebersihan jiwanya, dan memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya. Orang yang pertama kali bertemu dengannya akan terpesona oleh ketampanannya, dan keindahan bentuknya, serta wajahnya yang berseri-seri. Juga matanya yang indah, dengan tubuh yang tinggi, terlihat elok dari jauh, dan indah dipandang dari dekat. Orang-orang merasa segan dengan wibawanya, dan banyak mata yang mencuri pandang kepadanya. Semoga Allah meridhainya.

Sahlah binti Ashim mencoba menggambarkannya dengan berkata “Abdurrahman bin Auf seorang yang putih, memiliki mata yang lebar dan indah, dan bulu matanya panjang. Hidung mancung, dua gigi taring bagian atasnya panjang sehingga seolah bias melukai bibirnya. Ia mempunyai rambut yang panjang di bawah kedua telinganya. Lehernya panjang, berbahu lebar, dan memiliki jari-jari yang kasar.

Dan Ya’qub bin Utbah juga menggambarkannya dan berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang tinggi, berwajah tampan, dan berkulit tipis. Punggungnya agak membungkuk (karena tingginya), putih kemerah-merahan, ia tidak mengubah jenggotnya autaupun rambut di kepalanya.

Ketika usianya semakin bertambah, ia mulai di tumbuhi uban. Ia tidak merubah rambut tersebut dan membiarkannya sebagai bukti dari perjalanan hidup yang mengambil dan juga memberi kepada manusia. Ubannya menambah kewibawaannya, dan untuk mengingatkan bahwa ia telah dekat dengan akhir perjalanannya di dunia. Agar ia mulai bersiap menjejakkan langkahnya yang pertama dalam perjalanan hidup yang abadi dan kenikmatan yang tak pernah habis.

Berbagai peperangan yang diikutinya dalam islam juga telah merenggut sebagian dari ketampanannya, namun itu semua justru semakin menambah kewibawaan dan keagungannya. Karena itu semua adalah lencana dari keabadian, dan keagungannya. Karena itu semua adalah lencana dari keabadian, dan tanda kebanggan atas kepahlawanannya, juga bukti dari perjalanan jihadnya, dan cobaan yang pernah dihadapi nya. Semua itu seolah bersinar di mata orang yang memandangnya, dan mereka akan mengetahui bahwasanya ia mendapatkan semua itu dalam medan jihad dalam rangka mempertahankan akidah kebenaran.

Diriwayatkan oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakka’I dari Muhammad bin Ishaq, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf memiliki dua gigi seri yang patah, dan sedikit cacat yang membuatnya kesulitan. Pada perang Uhud ia terkena pukulan yang mematahkan giginya, dan mendapat sebanyak dua puluh luka atau lebih. Sebagian luka tersebut mengenai kakinya hingga ia pincang.”

Abdurrahman mempunyai kekayaan yang sangat berlimpah. Maka ia membiasakan dirinya untuk membelanjakan harta tersebut pada jalan kebenaran, ia menginfakkannya siang dan malam, secara sembunyi dan terang-terangan. Ia pun tidak melupakan bagian untuk dirinya dari harta tersebut. Ia mengambil apa yang telah disyariatkan Allah dalam firman-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba Nya dan rezeki yang baik-baik?” Katakanlah, “semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.”110dan juga apa yang telah dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru yang berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya AllahSubhanahu wa Ta’ala ingin melihat jejak nikmat yang ia berikan kepada hamba-Nya.”

Sa’ad bin Ibrahim berkata, “Abdurrahman bin Auf biasa memakai pakaian yang seharga lima ratus atau empat ratus.”

Dan ia juga biasa memakai selendang hitam yang menambah ketampanan dan keanggunannya. Dan yang menambah kebahagiaan dan sukacita yang dirasakannya adalah bahwa selendang tersebut dipakaikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya, dan diingkarkan oleh beliau di kepalanya dengan tangan beliau yang mulia!

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Amru, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakaikan Abdurrahman sebuah selendang hitam dan berkata, “Pakailah selendangmu seperti ini.”

Suatu saat Abdurrahman menderita penyakit gatal di tubuhnya, maka ia minta izin kepada RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam untuk memakai sutera, dan beliau mengizinkannya. Dalam Ash-Shahihain dan kita-kitab lainnya, dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai sutra karena penyakit gatal yang mereka derita.”

3. Masa Kecilnya dan Masuk Islam

Abdurrahman dilahirkan di Bani Zuhra dan tumbuh di bawah pengawasan kedua orang tuanya. Ia tumbuh dilingkungan Mekah dan terdidik sebagaimana remaja dan pemuda Quraisy lainnya. Mereka menyaksikan berhala-berhala dan penyembahan manusia kepadanya, walaupun semua itu justru merendahkan martabat dan kehormatan manusia karena sujud kepada berhala yang terbuat dari batu, tanah atau bahkan kurma. Juga kebiasaan jahiliyah lainnya seperti mengundi nasib dengan burung, dengan menggunakan anak panah, dan meminta nasehat kepada berhala-berhala tersebut dalam pernikahan, bepergian, peperangan, perniagaan, dan hal-hal lainnya. Dan juga merendahkan hak wanita dengan meniadakan harga dirinya, serta mewariskannya seperti barang warisan lainnya, atau menguburkannya hidup-hidup. Dan kemudian perbuatan-perbuatan yang jauh dari akhlak terpuji seperti kebiasaan minum khamar, melakukan zina, bertransaksi dengan system riba, memakan orang lain dengan bathil, dengan kezhaliman yang merajalela, pertumpahan darah, kebiasaan balas dendam, dan berbagai keburukan jahiliyah lainnya.

Itu semua bercampur aduk dengan beberapa akhlak mulia dan kebiasaan terpuji yang menjadi kebanggan orang arab dan mereka dikenal dengan berbagai kemualian tersebut. Lalu Islam datang untuk menetapkan hal-hal terpuji tersebut setelah meluruskannya serta mengarahkan nya kepada bingkainya yang benar. Di antaranya adalah cinta kebebasan benci kepada kezhaliman, penolakan terhadap kehinaan, keberanian yang luar biasa, kedermawaan yang tinggi, harga diri dan kesediaan untuk menolong yang tertindas, menepati janji, memberi maaf pada saat mampu, melindungi orang yang meminta perlindungan, membela tetangga, mempertahankan harga diri, sikap qana’ah, ridhan terhadap yang sedikit, harga diri yang tinggi, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, kegigihan dalam menjaga kehormatan yang terkadang berlebihan hingga sampai pada tahap mengubur anak perempuan hidup-hidup, dan tidak menerima siapapun yang menghina kehormatan dirinya atau kehormatan kabilahnya, dan berbagai akhlak mulia lainnya yang tercampur aduk dengan berbagai keburukan jahiliyah dalam sebuah rajutan yang tak seirama, namun sangat sulit untuk dibedakan dan dipisahkan, untuk dibimbing kepada jalan yang benar yang tidak dinodai oleh kebathilan, atau keindahan yang tidak ternodai oleh keburukan. Semua itu sangat mustahil untuk dilakukan kecuali dengan izin dari Tuhan langit dan bumi yang menyiapkan untuk umat ini dan untuk seluruh manusia seorang manusia yang sempruna, ayang akan menjadi pemimpin bagi seluruh alam, yaitu Muahmmad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah telah memilihnya untuk menjadi Rasul bagi umat tersebut dan menjadi penunjuk jalan bagi mereka. Beliaulah yang bertugas memisahkan mereka dari keburukan mereka dan menanamkan kembali kebaikan yang mereka miliki dengan mendidik dan mengarahkannya serta meninggikannya dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dan dengan sunnah yang menjadi pegangan bagi manusia sehingga mereka bias menggapai derajat malaikat. Baik dalam sisi akidah, akhlak, maupun pergaulan mereka, hingga akhirnya beliau mampu membentuk mereka menjadi sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.

Dilingungan itulah Ibnu Aur lahir, tumbuh, dan beranjak dewasa. Dengan akalnya yang cerdas ia menyaksikan seluruh kebiasaan kaumnya mulai dari akidah, perilaku dan ritual-ritual keagamaan. Dengan kecerdasan itu pula ia merenungkan berbagai kebobrokan yang hanya menjerumuskan manusia ke tempat yang paling rendah. Bersama yang lainnya, ia menunggu seorang penyelamat yang akan menjadi pembimbing dan penunjuk bagi mereka.

Pada tahun keempat puluh setelah peristiwa serangan tentara gajah, Mekah di guncang oleh sebua berita yang luar biasa. Berita tersebut menjadi pembicaraan tokoh-tokoh dan pemuka masyarakat, lalu terus menyebar diantara masyarakat umum dan sedikit demi sedikit mulai berhembus keluar kota Mekah. Sebuah berita yang menyatakan bahwa Nabi umat ini telah memproklamirkan namanya, suaranya telah menggema, dan dakwahnya telah muncul di langit Mekah. Nabi itu telah mengajak pelayan Ka’bah dan pemimpin Quraisy untuk mengikuti dakwahnya, dan meraih kehormatan untuk turut mengemban dakwahnya, sehingga bias mempimpin dunia menuju kebaikan, hidayah dan kebenaran. Juga membawa kebaikan bagi negeri dan seluruh manusia, serta kebaikan dunia dan akhirat. Dialah Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ketika berita yang mengguncang akidah orang-orang Mekah tersebut muncul, dan menggoyangkan pondasi kekuasaan para penguasa Quraisy serta menggetarkan nyali mereka, saat itu Abdurrahman telah berusia tiga puluh tahun. Sebuah usia dimana kedewasaannya telah sempurna, dan akal serta keinginan hatinya telah tumbuh dengan sempurna pula. Ia telah memiliki pengetahuan yang cukup, pengalaman dan pemikiran yang memungkinkannya untuk menimbang-nimbang masalah tersebut dengan tenang. Juga memperhatikan berbagai pendapat serta bertukar pikiran dengan orang-orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman ataupun lebih memiliki pengetahuannya darinya, untuk sampai kepada sebuah kesimpulan yang tepat dalam perkara yang sangat penting tersebut.

Dan begitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan dakwahnya, maka keluarganya segera beriman kepada beliau, dan juga Ash-Shiddiq Abu Bakar yang tidak memerlukan waktu untuk berfikir dan mengambil keputusan. Ia juga tidak ragu sedikitpun untuk mengikuti beliau, karena bukti kebenaran NabiShallallahu Alaihi wa Sallam begitu banyak ditangannya, dan tersimpan jauh di dalam jiwanya, membaur dalam perasaan, dan memenuhi hatinya, jiwanya, fikirannya, dan seluruh perasaannya.

Abu Bakar tak ragu memperlihatkan keislamannya, dan bangkit membawa bendera dakwah dalam naungan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia menyisingkan lengan bajunya untuk menyampaikan risalah tersebut. Maka ia pun mengajak orang-orang yang akan menjadi kelompok pertama masuk Islam. Orang-orang yang ia percaya akan menyambut dakwahnya karena ia telah mengetahui kesiapan mereka dalam menerima hidayah. Dalam hal ini Abu Bakar memiliki modal untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang dengan kecerdasan akal nya, kebersihan latar belakangnya, dan pengetahuannya yang luas. Abu Bakar, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Ishaq adalah seorang yang akrab di kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Paling mengenal nasab mereka, memiliki akhlak dan kelebihan di kaumnya dan di negerinya. Orang-orang dari kaumnya sering mendatanginya dan menarik simpatinya, serta meminta pendapat untuk masalah yang berbeda-beda. Mereka menghormatinya karena ilmunya, perniagaannya, ataupun juga karena keramahannya dalam bergaul. Maka ia pun mengajak mereka ya ia percaya dari kaumnya kepada Islam. Ia memilih mereka dari berbagai keluarga yang berbeda. Dan mereka pun menyambut dakwahnya tanpa ragu, sehingga masuk Islam lah di tangannya lima orang permuda dari keluarga terkemuka di Quraisy. Merekalah yang menjadi pondasi dakwah dan tiang awal dari penyampaian risalah. Dan Abdurrahman adalah satu dari mereka.

Ibnu Ishaq dan yang lainnya menceritakan, “Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam, ia menunjukkan keislamannya. Lalu ia menyeru mereka yang ia percaya dari kaumnya dan yang sering bergaul dengannya kepada Allah dan Islam, sehingga masuk Islamlah di tangannya : Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Lalu mereka semua mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar. Beliau menawarkan tentang kebenaran Islam, maka mereka pun membenarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beriman kepada apa yangd dibawa beli dari Allah.

Lima orang toko pahlawan tersebut merupakan buah pertama dari dakwah Abu Bakar. Ia mengajak mereka kepada Islam dan mereka pun menyambutnya. Ia membawa mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mereka menyatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mereka menyatakan Islam langsung di hadapan beliau, merekalah pondasi awal yang menopang bangunan islam dan mengembang dakwanya yang baru tumbuh. Merkea jugalah yang pertama kali menyokong Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah menguatkan beliau dengan keberadaan mereka dan mengokohkannya, dansetelah mereka, orang-orang mulai berdatangan untuk masuk agama Allah hingga akhirnya Islam menjadi dikenal di Mekah, dan menjadi bahan pembicaraan baik secara rahasia maupun dengan terang-terangan.

Abdurrahman dan saudara-saudaranya tersebut adalah yang paling pertama masuk Islam, dan bergabung dengan kafilah dakwah pada hari-hari pertamanya, dan sebelum masuknya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ke rumah Al-Arqam.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Ruman berkata, “Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abu Al-Asad, dan Abu Ubaidah bin Jarrah berangkat menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau menawarkan Islam kepada mereka dan memberitahu mereka tentang syariat-syariatnya. Saat itu juga mereka semua menyatakan masuk Islam, dan itu terjadi sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk rumah Al-Arqam dan berdakwah di sana.”

Orang yang mempeehatikan dengan baik daftar nama kelompok yang pertama kali masuk Islam ini, yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan tanpa kesulitan ia akan menemukan dengan jelas bahwa tidak semua dari mereka, dan bahkan tidak banyak dari mereka yang berasal dari kaum lemah, kaum fakir dan papa, maupun dari keluarga-keluarga yang terpinggirkan di Mekah sebagaimana banyak diceritakan oleh para penulis dan peneliti yang hanya menuruti hawa nafsu mereka. Justru kebanyakan dari kelompok pertama ini merupakan pemuda-pemuda yang terkemuka di Quraisy, yang berasal dari keluarga dan kabilah terhormat dan terkemuka di Mekah.

Banyak dari mereka yang berasal dari Bani Abdu Manafa, Bani Umayyah, Bani Taim, Bani Zuhrah, Bani Fihr, Bani Asad, Bani Adi, Bani Makhzum, dan yang lainnya.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang yang pertama kali menyambut seruaan dakwah dan beriman kepada dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti agama beliau serta membenarkan risalahnya berasal dari pada budak, kaum lemah dan yang terpinggirkan, adalah pendapat yang keliru. Hal ini tidak dapat dipegang sepenuhnya hanya demi menonjolkan kepedulian Islam terhadap kaum lemah, dan pembebasan budak dari perbudakannya, serta membebaskan kaum fakir miskin dari penjajahan social! Namun dengan tidak mengurangi keyakinan kita bahwa Islam yang dipilih Allah sebagai penutup seluruh risalah langit sebelumnya, dating dengan prinsip-prinsip dan syariatnya untuk mengimplementasikan keadilan social, menolong mereka yang terzhalimi, membebaskan kemanusiaan, serta mempersembahkan kehidupan yang terhormat bagi seluruh manusia di bumi Allah. Selain itu juga untuk meletakkan semuanya di dalam satu timbangan, yaitu ketakwaan. Dengan dasar itulah manusia dapat dibedakan.

B. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

1. Dari rumah Al-Arqam, Dakwah secara sembunyi hingga terang-terangan dan Hijrah ke Habasyah

Abdurrahman masuk Islam pada awal dakwah, dan bergabung dengan kafilahnya yang penuh berkah. Bersama kelompok yang pertama masuk Islam lainnya ia bergabung dalam madrasah Islam yang pertama di rumah Al-Arqam yang berada di bukit Shafa, dan yang merupakan pusat dakwah dan madrasah pembelajaran risalah. Di sanalah berkumpul nya pemuda-pemuda yang masih memiliki kejujuran dalam hatinya, untuk menjalankan dakwah mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam senyap. Mereka mengikuti agamanya, membenarkan risalahnya, mengikuti petunjuknya, menyokongnya dan juga membantu nya dalam mengemban beratnya dakwah dan menyampaikan risalah mereka adalah pemuda-pemuda kebanggan kaum mereka, dan terhormat, yang telah memeluk akidah tauhid, dan meninggalkan akidah nenek moyang mereka. Mereka pun menjadi tentara dakwah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan brigade penyampai risalahnya. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka tak ragu mengurangi keras nya hidup setelah sebelumnya menikmati kemewahan di rumah-rumah mereka bersama keluarga masing-masing. Mereka mendengar dan mentaati Rasul yang mulia, dan tak ragu sedikitpun untuk menolongnya dan mewujudkan cita-citanya walaupun itu semua harus dibayar dengan kesenangan dan bahkan hidup mereka.

Metode dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi di rumah Al-Arqam merupakan bentuk dari hikmah AllahSubnahu wa Ta’ala dan Rasul-nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Juga salah satu bentuk dari kebijaksanaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kepemimpinan beliau yang baik terhadap para pengikutnya. Karena beliau berusaha semampunya untuk menghindarkan mereka dari siksaan yang ditimpakan oleh tokoh-tokoh pemimpin Quraisy dan para pelayan berhala, serta mereka yang mengikuti akidah nenek moyang mereka dengan membabi buta dan tanpa mau berfikir.

Sementara itu orang-orang yang beriman terus bertambah setiap harinya. Bunga iman pun mulai merebak mekar, dan pohon Islam mulai tumbuh besar dan mengakar kuat di bumi. Akarnya menancap kuat di bumi dan cabangnya membumbung tinggi di langit. Islam terus menyebar di Mekah, menjadi pembicaraan umum di tempat-tempat berkumpul penduduk Mekah. Banyak kamum laki-laki, pemuda, dan Wanita bergabung di madrasah Al-Arqam. Dan yang terdepan adalah Al-Faruq Umar bin Khaththab, hingga mereka berjumlah sekitar empat puluh orang. Lalu Abu Bakar mengusulkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memperlihatkan keberadaan mereka dan memproklamirkan dakwah mereka di hadapan seluruh Quraisy, dan ia terus mengusulkan hal itu. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabulkan permintaannya. Kaum muslimin mulai menampakkan ibadah mereka secara terang-terangan di hadapan penduduk Mekah. Mereka melaksanakan shalat di Ka’bah juga dengan terang-terangan. Hal ini menjadi kejutan bagi Quraisy dan sekaligus menjadi titik balik dalam sejarah dakwah.

Tindakan ini membuat orang-orang Quraisy menjadi hilang akal. Hati para pelayan berhala dan orang-orang yang mengikuti agama nenek moyang mereka dipenuhi oleh api amarah. Mereka mulai menggunakan cambuk siksaan dan berbagai cobaan. Mereka melampiaskan kemarahan mereka kepada anak-anak mereka, dan siapapun yang menjadi tanggungan mereka yang telah berani mengikuti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beriman kepada dakwah beliau. Berbagai siksaan pun mulai menimpa orang-orang yang beriman tersebut, dan kaum Quraisy menyatakan perang terhadap mereka. Orang-orang yang beriman menghadapi perang yang tak sebanding ini dengan kesabaran, dan bahkan dengan jiwa yang memaafkan dan membalas dengan kebaikan. Seluruh tindakan Quraisy tersebut menjadi penyebab terhalang nya gerakan dakwah dan penyampaian risalah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyaksikan berbagai siksaan dan cobaan yang menimpa para shahabatnya. Beliau sendiri aman karena kedudukan beliau di sisi Allah dan perlindungan yang diberikan oleh paman beliau. Beliau merasa prihatin dengan keadaan para shahabatnya, sementara beliau tak mampu menyelamatkan mereka dari siksaan tersebut. Lalu terbukalah cakrawalah kegelapan dengan adanya kesemoatan untuk melakukan hijrah bagi mereka yang mau ke Habasyah. Selain untuk menyelamatkan diri mereka, juga untuk menyampaikan dakwah yang di bebankan di pundak mereka dalam mengemban amanah dakwah dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada para shahabatnya, “Jika kalian pergi ke negeri Habasyah, sesungguhnya di sana terdapat seorang raja yang tidak seorangpun terzhalimi di sisinya. Itu adalah negeri kejujuran. Hingga nanti Allah membukakan jalan keluar bagi keadaan kalian saat ini.”

Dan Ibnu Auf adalah salah seorang yang melakukan hirah tersebut.

Dituturkan oleh Ibnu Ishaq, Al-Waqidi, dan yang lainnya bahwasanya Abdurrahman bin Auf melakukan hijrah ke Habasyah sebanyak dua kali, bersama dengan sekelompok shahabat besar lainnya. Di antaranya yang berasal dari bani Umayyah adalah Utsman bin Affan dengan istrinya Sahlah binti Suhail bin Amru. Dari Bani Asad. Darni Bani Makhzum : Abu Salamah bin Abdul Asad bersama istrinya Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyah, dan shahabat-shahabat lainnya.

Hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam. Hirah ini bukanlah dalam rangka melarikan diri karena lemah, ataupun karena takut dan sifat pengecut, namum merupakan sebuah perpindahan yang dimaksudkan sebagai sarana untuk menjauhkan diri dari tempat terjadinya fitnah dalam agama, bagi mereka yang tidak bisa melawan permusuhan dengan tetap berpegang kepada kesabaran. Juga untuk menjauhkan diri dari hambatan-hambatan dalam jalan risalah dan menyampaikan dakwah. Karena kebanyakan dari mereka yang berhijrah tersebut berasal dari Quraisy dan juga kabilah arab lainnya secara umum. Sehingga mereka memiliki perlindungan yang cukup untuk menjauhkan siksaan dan tidak menyerah, serta bias melawan penindasan yang mereka hadapi. Hal inilah yang membuat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan keselamatan para shahabatnya dari satu sisi, dan pada sisi lainnya adalah keberlangsungan jalannya dakwah dan penyebarannya.

Dan mereka pun berangkat menuju tempat yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa serta keimanan mereka, serta tugas dakwah dan keteguhan dalam berpegang kepada prinsip yang mereka yakini. Dan juga dengan berbekal kesabaran dalam menghadapi kondisi sebagai orang asing dan perjalanan yang melelahkan, serta kerinduan yang akan mereka rasakan ketika jauh dari kampong halaman, keluarga dan anak-anak.

Orang yang memperhatikan daftar nama mereka yang melakukan hijrah ke Habasyah, baik yang pertama maupun yang kedua, dia akan mengenal nasab keturunan mereka, keluarga mereka, kondisi social mereka, dan kedudukan mereka yang tinggi di tengah kaum mereka. Dia juga akan yakin bahwa hijrahnya mereka tidak mungkin hanya untuk sekedar melarikan diri dari siksaan dan cobaan yang mereka derita. Namun itu adalah sebuah hijrah yang dilakukan oleh mereka yang beriman kepada Allah sebagai tuhan dan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul. Lalu mereka disiksa sampai pada tahap yang tidak mungkin dapat di tanggung oleh seorang manusia, sementara mereka tidak diizinkan untuk melawannya. Mereka diminta untuk tetap bersabar dan memaafkan. Bukan karena kelemahan, namun merupakan bentuk dari kebijakan dan strategi dakwah.

Dan cukuplah bukti bagi anda dengan fakta bahwa mereka yang hijrah ke Habasyah baik yang pertama maupun yang kedua, berasal dari keluarga dan kabilah arab yang paling terhormat. Dengan jumlah yang cukup banyak tersebut, bukan hal yang mustahil bagi mereka yang memiliki latar belakang keluarga terpandang dan kedudukan sosial terhormat dalam masyarakat mereka untuk berkumpul dan menggalang kekuatan menghadapi permusuhan tersebut dan bahkan mengadakan perlawanan baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Namun ketetapan Allah mengharuskan mereka untuk menghadapinya dengan kesabaran. Lalu pemimpin mereka yang agung Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan kebijakan yang diberikan oleh Allah kepadanya, membukakan solusi melalui hijrah. Dan ini merupakan salah satu dari buah kebaikan bagi dakwah dan bagi para pengembannya.

2. Kembali ke Mekah, Mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu Hijrah ke Madinah dan Persaudaraannya dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’

Sebagian dari shahabat yang hijrah ke Habasyah kemudian kembali lagi ke Mekah Al-Mukarrahamah dan bermukim di sana hingga kaum Anshar melakukan dua bai’at Aqabah kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu Allah mengizinkan Nabi-Nya untuk hijrah ke Madinah, dab beliau pun mengarahkan para shahabatnya untuk hijrah ke sana. Mereka pun pergi mendahului beliau baik secara perorangan maupun bersama-sama.

Ibnu Ishaq menukil nama-nama mereka yang kembali dari Habasyah ke Mekah, dan di antara mereka terdapat Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Mush’ab bin Umair, Abu Salamah, dan shahabat lainnya Radhiyallahu Anhum.

Ibnu Auf kembali ke Mekah untuk mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam membawa panji dakwahnya, serta untuk mengikuti petunjuk beliau, dengan berpegang teguh kepada sumpah yang telah diikrarkan di dalam hatinya sejak ia menyatakan keislamannya.

Abdurrahman yang masuk Islam sejak hari-hari pertama kemunculan dakwah, dan merupakan salah seorang dari delapan tokoh yang pertama kali masuk Islam, dan bersegera berpegang teguh kepada risalah nya, dia tak pernah ragu, meski berbagai siksaan yang menimpanya secara bertubi-tubi, sehingga ia berhijrah ke Habasyah sebanyak dua kali, semua itu justru menambah keteguhannya dalam berpegang kepada agamanya, dan juga menambah tekadnya dalam jalan dakwah. Maka sejak awal keislamannya hingga kembali menemui tuhannya, ia merupakan sosok teladan yang mengagumkan bagi seorang mukmin yang mukhlis total dengan keimanannya. Tidak sekalipun ia meninggalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam peristiwa apapun, dan ia tidak pernah meninggalkan dirinya duduk demi meraih kemuliaan, dan semangatnya tak pernah luntur sedikitpun dalam mempersembahkan yang terbaik demi membela agamanya dan meneguhkan kedudukannya di muka bumi.

Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad meriwayatkan dari ayahnya, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf juga dijuluki hawari (pembela) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi menyebutkan nama-nama pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamsebagai berikut : Hamzah, Jafa, Ali, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, Utsman bin Affan, Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin AwwamRadhiuallahu Anhum.

Hari demi hari terus berganti dan tahun demi tahun berlalu. Dakwah telah menempuh jarak yang cukup jauh dalam perjalanannya yang penuh berkah. Pengikut dan pembela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamterus bertambah banyak. Kemudian Allah membukakan sebuah negeri yang baru dan bagi kaum muslimin. Sebuah negeri di mana penduduknya bersedia untuk mengemban tugas dalam membelah Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta membantu saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin dalam membawa panji dakwah dan menyampaikan risalah. Merekalah suku Aus dan Khazraj yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk mendapat kehormatan dalam memberikan tempat tinggal dan pertolongan, serta pendirian agama Islam di kota mereka yang penuh berkah. Dan kemudian dari sanalah kafilah iman melebarkan sayapnya. Mekah berhasil ditaklukkan dan diikuti oleh daerah-daerah lainnya, hingga akhirnya seluruh jazirah arab tunduk dalam kekuasaannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan para shahabatnya untuk lebih dahulu berangkat hijrah ke Madinah. Abdurrahman bin Auf pun berangkat dan bersama sekelompok Muhajirin lainnya ia tinggal di rumah Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari Al-Khazraji Al-Badri yang merupakan salah satu dari dua belas orang yang ikut dalam bai’at Aqabah yang pertama.

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyusul para shahabat nya dan berhijrah ke  Madinah. Beliau menghimpun seluruh potensi yang ada untuk mengokohkan pondasi awal dalam membentuk masyarakat muslim. Beliau membangun masjid Nabi yang menjadi rumah bagi Islam dan seluruh kaum muslimin, rumah bagi masyarakat yang dinaungi hidayah. Serta rumah bagi penggemblengan para da’I yang menyeruh kepada Allah. Dan masjid juga menjadi titik tolak mereka dalam menyebarkan dakwah, berjihad, dan menyebarkan agama Allah.

Setelah itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentuk pondasi kedua yang kuat dan diberkahi. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dengan berlandaskan kecintaan karena Allah. Beliau mempersaudarakan mereka masing-masing dua orang. Dari dua kelompok yang mulia tersebut beliau membentuk sebuah masyarakat yang berlandaskan iman dan cinta karena Allah dan untuk Allah. Sebuah masyarakat yang mampu berkorban demi mempertahankan akidah mereka, dan berjuang menyebarkan dakwah mereka di cakrawala kehidupan dengan membawa petunjuk, kebaikan, kasih saying, dan keadilan.

Persaudaraan tersebut bukan dimaksudkan untuk sekedar mengamankan kaum Muhajirin yang terusir dari negeri mereka dan terpaksa meninggalkan harta mereka dan menumpang kepada saudara-saudara mereka dari golongan Anshar untuk mendapatkan makanan agar mereka bias bertahan hidup, namun persaudaraan itu dimaksudkan untuk tujuan yang jauh lebih penting dan sasaran yang mendalam. Dan tujuan tersebut dilandasi dengan prinsip-prinsip syariah yang kekal. Dengan persaudaraan tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertujuan membina sebuah masyarakat yang menyatu saling bersaudara dan mencintai dengan kekuatan akidah. Tidak ada lagi ego-ego yang merusak fitrah yang murni, sehingga mereka bisa naik meraih kedudukan para malaikat. Sebuah masyarakat yang tidak lagi menjadikan dunia dan segala kenikmatannya sebagai tujuan, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan harta dunia, karena semua itu adalah sementara, dan semua nya akan sirna. Sudah saatnya seluruh potensi diarahkan untuk mencapai hal yang lebih mulia, bukan justru merendahkan martabat manusia dan mengalihkannya dari tujuan yang sebenarnya. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar telah mampu melihat harta dunia dengan kaca mata tersebut. Jiwa mereka telah jauh tinggi meninggalkan hal-hal itu, sehingga mereka mampu memberikan contoh masyarakat ideal bagi seluruh manusia dengan berbagai kiprah dan perbuatan mereka yang mulia lagi kekal.

Persaudaraan antara Abdurrahman dengan Sa’ad bin Ar-Rabi merupakan salah satu contoh nyata yang mengagumkan dari persaudaraan tersebut dalam mewujudkan tujuan dan maknanya yang tertinggi.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakanku dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Lalu Sa’ad bin Ar-Rabi’ berkata, “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan membagi separuh hartaku denganmu, dan pilihlah salah satu dari kedua istriku ini yang engkau sukai, maka aku akan menceraikan nya untukmu. Dan jika masa iddahnya telah usai, aku akan menikahkannya denganmu!” maka Abdurrahman berkata kepadanya “Aku tidak membutuhkan itu, adakah pasar tempat orang berjual beli?” ia menjawab, “Pasar Qainuqa”. Maka Abdurrahman segera menuju kesana dan membeli keju dan mentega, lalu keesokan harinya ia kembali ke pasar untuk berdagang. Dan tak lama kemudian Abdurrahman dating dengan sisa minyak wangi berwarna kuning di tubuhnya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah engkau telah menikah?” ia menjawab, “Iya, sudah.”Beliau kembali bertanya, “Dengan siapa?” ia berkata, “Dengan seorang wanita dari Anshar.” Beliau bertanya, “Berapa engkau berikan mahar untuknya?” ia menjawab, “Emas seberat biji.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Adakah walimah walaupundengan menyembeli seekor kambing saja.”

Inilah jiwa-jiwa yang telah dibentuk oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan itulah persaudaraan yang beliau ikat di antara para shahabatnya Radhiyallahu An’hum. Seorang Anshar dengan rela menyerahkan seluruh hartanya kepada saudaranya dari Muhajirin agar ia bisa memulai hidupnya dengan harta tersebut. Hal ini mungkin biasa dalam cerita kedermawaan, namun yang luar biasa dan belum pernah terjadi dalam sejarah adalah ketika jiwa para tokoh tersebut sampai kepada tahap dimana mereka bisa mengalahkan rasa cinta kepada istrinya sendiri, serta mengenyampingkan hubungan yang telah dibina di antara mereka berdua. Ia pun harus menaiki tangga kemuliaan dengan menawarkan kepada saudaranya untuk memilih salah seorang istrinya untuk di ceraikan, kemudian menunggu masa iddahnya, dan setelah itu bisa dinikahinya!! Ini adalah derajat orang-orang yang benar imannya yang tidak bisa dicapai kecuali oleh mereka yang di didik langsung oleh Rasu terbaik, yang membentuk mereka menjadi manusia terbaik. Mereka ada lah mukjizat Islam itu sendiri yang belum pernah terulang lagi.

Sikap yang ditunjukkan oleh Sa’ad bin Ar-Rabi’ ini merupakan salah satu keutamaannya yang paling mengagumkan yang ditorehkannya dalam lembaran awal dari sejarah pembelaannya terhadapa agama ini.

Pada sisi lain, kemuliaan sikap sang muhajir Abdurrahman bin Auf pun tak kalah bersinar. Ia menghargai tindak saudaranya, memujinya, menghormati besarnya pemberiannya. Namun jiwanya hanya mau membalasa kemuliaan dengan kemuliaan yang sebanding. Ia adalah seorang laki-laki yang telah meninggalkan negerinya, keluarganya, hartanya. Ia telah mengorbankan itu semua di jalan dakwah, maka ia merasa tidak sepantasnya ia mengambil keuntungan dari harta dan keluarga saudaranya dari kalangan Anshar tersebut. Ia memilih untuk mengambil sikap yang lebih terhormat, dan meninggikan jiwanya dari ketamakan dunia. Ia memberikan contoh terbaik bagi dunia untuk terus berusaha dan bersungguh-sungguh, serta mengadakan perniagaan yang jujur dengan Allah. Ia memberikan contoh untuk tidak bertumpu kepada orang lain dan rela untuk berada di bawah. Ia memberikan contoh tertinggi bagi seorang muslim yang telah berhijrah yang tidak terima kecuali jika tangannya tetap berada di atas! Ia pun pergi kepasar, berdagang setiap hari, dan Allah pun memberkahi usahanya sehingga dunia pun dating kepadanya. Tidak lama kemudian tangannya telah dipenuhi oleh harta, dan kemudian menikah. Dengan demikian saudaranya dari kalangan Anshar tetap seperti sedia kala, dan dengan berdagang ia juga berhasil mendapatkan harta dan keluarganya sendiri.

Dari rajutan yang luar biasa inilah masyarakat Madinah yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar dibentuk. Setiap individu dari mereka berusaha untuk meraih kemuliaan dan mencapai kesempurnaan sebagaiamana yang berusaha dicapai oleh mereka yang sempurna!

3. Mendamping Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, melakukan perintah beliau, dan beberapa momen yang dihadapinya bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Abdurrahman mendapat kehormatan untuk mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sejak awal dakwah Islam. Ia menemani beliau selama periode Mekah, dan tidak pernah berpisah dengan beliau kecuali selama ia hijrah ke Habasyah. Kemudian ia meneruskan kebersamaan tersebut di Madinah Al-Munawwarah. Dan Waktu yang ia habiskan dalam mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun membentang hingga kurang lebih dua puluh tahun. Selama itu Ibnu Auf merupakan salah satu pembela dan tangan kanan beliau. Ia mendapat kehormatan untuk belajar langsung dari beliau, dan mengikuti beliau, serta kebahagiaan dalam menolong beliau dalam membangun Negara dan menyebarkan dakwah. Ia mengambil tempat dalam barisan terdepan di antara shahabat yang terdekat di hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dalam majelis-majelis beliau, baik yang umum maupun yang khusus. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mendekatkannya kepada beliau, mengangkat kedudukannyaa, dan meninggikan martabatnya diantara manusia. Beliau sering memujinya, dan memahkotai semua pujian itu dengan memberinya kabar gemberika berupa surge. Dan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepadanya.

Diriwayatkan oleh Iman Ahmad, dari Abdurrahman bin Auf bertaka, “Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari rumahnya menuju kebunnya. Beliau masuk, menghadap kiblat, lalu sujud dan melamakan sujudnya sehingga aku mengira bahwa Allah telah mengambil nyawanya pada sujud tersebut. Maka aku pun mendekat dan duduk didekatnya. Beliau berkata, “Ada apa denganmu?”, aku berkata, “wahai Rasulullah, engkau telah sujud begitu lama sehingga aku mengira bahwa Allah telah mengambil nyawamu dalam sujudmu!” maka beliau berkata, “Sesungguhnya Jibril telah menemuiku dan memberiku kabar gembira. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Siapa yang bershalawat kepadamu maka aku akan bershalawat untuknya, dan siapa yang memberi salam kepadamu maka aku akan memberikan salam untuknya.” Maka aku pun bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur.”

Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Ya’la, dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata “Ada lima atau empat orang dari kami, para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tak pernah meninggalkan beliau , untuk memenuhi kebutuhan beliau siang dan malam. Suatu kali aku datang, dan mendapati beliau telah keluar, maka aku mengikuti beliau. Lalu beliau mengikuti salah satu kebun yang berada di Al-Aswaf.112 Beliau melaksanakan shalat, lalu sujud dan melamakan sujud beliau. Maka aku menangis dan berkata, “Allah telah mencabut ruh beliau!” ia berkata, “Maka beliau mengangkat kepalanya dan memanggilku lalu berkata, “Ada apa denganmu?” aku berakat “wahai Rasulullah, engkau terlalu lama dalam sujudmu sehingga aku berkata, “Allah telah mencabut nyawa Rasul-Nya, aku tidak akan bertemu lagi dengannya!” maka beliau berkata, “Aku sujud sebagai rasa syukur kepada tuhanku yang telah mengujiku dengan umatku. Siapa yang bershalawat kepadaku dari umatku maka Allah akan menulis sepuluh kebaikan baginya, dan menghapus sepuluh kejahatan darinya.”

Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu senantiasa mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamsetiap kali beliau bepergian. Ia mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berziarah kepada para shahabatnya, atau mengunjungi mereka pada saat mereka sakit, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengajak nya untuk pergi melihat anak-anak dan keluarganya. Maka ia pun melayani beliau, belajar langsung dari beliau, bertanya, menghafal hadits-hadits beliau, dan kemudian meriwayatkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya bersama beliau kepada umat.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dan juga Ibnu Sa’ad dengan riwayat yang panjang dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang tanganku dan kemudian membawaku ke sebuah kebun tempat Ibrahim113 berada. Beliau meletakkannya di pangkuannya dan kemudian kedua mata beliau berlinang air mata. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menangis? Bukankah engkau telah melarang tangisan?!” beliau berkata, “Sesungguhnya yang aku larang adalah meratap, aku melarang dua suara bodoh dan buruk, yaitu suara alunan yang membuat lalai dan merupakan seruling setan, dan suara ratapan ketika mendapat musibah dengan mencakar wajah, merobek kantung pakaian yang merupakan alunan setan. Adapun ini adalah rahmat, siapa yang tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi. Duhai Ibrahim, jika saja ini bukanlah satu hal yang pasti, dan janji yang benar, dan bahwasanya ia merupakan jalan yang harus ditempuh, dan bahwa orang-orang yang datang kemudian akan berkumpul dengan mereka yang telah lebih dahulu pergi, niscaya kami akan bersedih lebih dalam dari ini, sungguh kami sangat sedih atasmu. Air mata telah mengalir, hati telah berduka, namum kita tidak akan, mengucapkan apa yang akan membuat murka Tuhan Azza wa Jalla.”

Dan diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Suatu ketika Sa’ad bin Ubadah menderita sakit keras, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’’ad bin Abi Waqqash serta Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhum. Ketika beliau masuk Sa’ad sudah dikelilingi oleh keluarganya, beliau lalu bertanya, “Apakah ia sudah tiada?” mereka menjawab, “Belum wahai Rasulullah.” Maka beliaupun menangis dan ketika orang-orang melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis merekapun menangis. Maka beliau berkata, “Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa karena tetesan air mata ataupun karena kesedihan hati, tetapi karena Allah akan menyiksa karena ini, beliau menunjuk karena lidahnya atau Allah akan merahmatinya. Dan sesungguhnya seorang mayit akan diadzab karena tangisan keluarganya atasnya”.

Setiap kali ia bertambah dekat dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, semakin bersar pula rasa cinta dan penghormatan Ibnu Auf kepada beliau, dan bertambah pula penghargaan dan pujian RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya. Dan beliau juga akan mengarahkan perhatian orang-orang kepada kelebihan-kelebihannya serta menceritakan berbagai keutamaannya kepada mereka. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menjadikan beberapa sikap Abdurrahman bin Auf sebagai contoh teladan yang harus ditiru, karena beliau mengetahui kejujuran imannya, dan keyakinannya yang begitu mendalam, serta ketinggian jiwanya dan juga kemuliaan akhlaknya.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dan Ibnu Asakir secara mursal dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi sesuatu kepada sebuah kelompok dimana Abdurrahman bin Auf ada di antara mereka. Namum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memberinya apa yang beliau berikan kepada orang lain. Maka Abdurrahman pun keluar sambil menangis. Ia berjumpa dengan Umar yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” ia menjawab, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi sesuatu kepada sekelompok orang di mana aku ada bersama mereka. Namum beliau meninggalkanku dan tidak memberiku apa-apa aku takut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sengaja tidak memberika karena suatu yang membuat beliau marah kepadaku!” ia berkata, kemudian Umar mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan memberitahu beliau tentang Abdurrahman bin Auf dan apa yang telah dikatakannya. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Aku sama sekali tidak menyimpan kemarahan kepadanya, namum aku percaya kepada keimanannya.”

Dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, “Bahwa seorang laki-laki membacakan Al-Qur’an di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia mempunyai suara yang lembut dan bacaan yang lembut pula. Seluruh yang hadir di sana menagis selain Abdurrahman bin Auf. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Kalaupun mata Abdurrahman tidak menagis, maka hatinya lah yang menangis.”

Dan dalam momen-momen lainnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya penghargaan dan memberinya bagian yang sama seperti tokoh-tokoh Muhajirin dan pemuka kaum muslimin lainnya. Bukan untuk membantu keadaannya karena ia sudah berkecukupan, namun agar ia menyadari tingginya kedudukannya seperti Umar dan tokoh shahabat lainnya. Dan agar ia dan juga yang lainnya tahu bahwa pemberian tersebut, ataupun jika ia tidak diberi, semua itu tidak akan menambah kedudukannya ataupun menjatuhkannya. Dalam timbangan kebenaran, harta dunia merupakan barang yang tidak bisa menjadi ukuran dalam melihat nilai seorang laki-laki. Namun harta tersebut justru harus digunakan pada tempat yang semestinya dan dalam keadaan yang tepat.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ubaidillah bin Utbah berkata, “Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah membagikan tanah di Madinah. Beliau memberikan Bani Zuhra bagian di belakang masjid, dan Abdurrahman mendapat bagian berupa Al-Hasysy, Al-Hasysy adalah beberapa pohon kurma ukuran kecil yang tidak perlu disiram.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Sa’ad, dari Urwah bin Zubair, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Umar telah memberiku tanah ini dan itu. Lalu Zubair menemui keluarga Umar dan membeli bagian mereka dari mereka, lalu ia mendatangi Utsman dan berkata, “Abdurrahman bin Auf mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Umar telah memberinya tanah ini dan itu, sementara aku harus membeli bagian dari keluarga Umar?” Maka Utsman berkata, “Abdurrahman bin Auf layak untuk mendapatkan hal itu untuknya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hidup bersama para shahabatnya setiap hari dan setiap saat. Beliau senantiasa mengikuti kabar mereka dan bertanya tentang keadaan mereka sehingga beliau bisa ikut bergembira jika ada yang mendapat kebahagiaan dan menghibur mereka yang ditimpa kesedihan serta meringankan beban mereka. Beliau mendorong yang kaya untuk berinfak, dan menunjukkan yang miskin pintu-pintu usaha, serta memberikan contoh dalam menjaga kehormatan diri. Beliau selalu menjenguk shahabatnya yang sakit, menghamparkan kasih saying kepada orang-orang lemah, dan menunjukkan rasa cinta dan tawadhu’nya kepada mereka hingga setiap orang merasa dekat dan dicintai oleh beliau.

Dalam setiap kesempatan dan pada setiap saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menanamkan kebaikan, menunjukkan jalan kepadanya, dan memberikan petunjuk. Beliau mengarahkan para shahabatnya dengan perkataan dan perbuataan langsung dalam meniti tangga kesempurnaan dan kebenaran. Beliau menyatukan hati mereka mengeratkan ikatan mereka, dan merapatkan barisan mereka. Beliau juga mendekatkan antara yang kaya dengan yang miskin, dan menghilangkan dari diri mereka noda-noda perbedaan dan menjadikan mereka satu kesatuan. Beliau memberikan contoh bagi seluruh manusia sebuah gambaran yang hidup tentang bagaimana menghimpun seluruh individu yang ada dalam masyarakat muslim, dan mengumpulkan seluruh potensi mereka dalam mengokohkan nilai-nilai kebaikan serta saling berlomba dalam kebaikan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Ini semua tidak dengan paksaan namun mengalir begitu saja mengikuti fitrah yang murni, serta memanfaatkan seluruh kesempatan yang ada dalam menguatkan prinsip-prinsip kebenaran.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan yang lainnya dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, Ia berkata “Nabi melihat sisa minyak wangi berwarna kuning di tubuh Abdurrahman bin Auf. Maka beliau bertanya, “Apakah ini?” dan ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan emas seberat biji.” Maka beliau berkata, “semoga Allah memberkahimu, laksanakanlah resepsi pernikahan walaupun dengan seekor kambing.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Bazar dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Bersedekahlah kalian, sesungguhnya aku hendak mengirim pasukan.” Ia berkata, “Maka datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Semoga Allah memberkahimu dalam harta yang engkau infakkan, dan memberkahimu dalam harta yang engkau simpan.” Lalu datang seorang Anshar yang memiliki dua sha’ kurma, satu sha’ untuk Tuhanku, dan satu sha’ untuk keluargaku.” Ia berkata, “Maka orang-orang munafik mencelanya dan berkata, “Tidak ada orang memberi seperti pemberian Ibnu Auf kecuali karena riya’”, dan mereka juga berkata, “Bukankah Allah dan Rasulnya tidak butuh satu sha’ ini?” maka Allah menurunkan firmannya “Orang munafik yaitu mereka yang mencelah orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang mencela orang-orang yang hanya memperoleh untuk disedekahkan sekadar kesanggupannya,”114

Dan kisah ini juga diturukan oleh Ibnu Abu Hatim, Ath-Thabari, Ibnu Asakir, Al-Qurthubi, dan yang lainnya ketika berbicara tentang sebab turunnya ayat ini.

Dalam beberapa riwayat dikatan bahwa harta Abdurrahman berjumlah delapan ribu dinar, dan ia menginfakkan setengahnya yaitu sebanyak empat ribu dinar.

Adapun asal dari hadits yang ada dalam Ash-Shahihain dari abu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri berkata, “Ketika ayat sedekah turun, kami saling berlomba dalam mendapatkan pahala. Lalu kemudian ada seseorang yang bersedekah sangat banyak, maka mereka (orang munafik) berkata, “ia bermaksud riya’!” lalu datang orang lain yang hanya bersedekah sebanyak satu sha’, maka mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan satu sha’, maka mereka berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan satu sha’ ini.” Maka turunlah ayat, “(orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya,”115

Yang datang dengan sedekah yang banyak adalah Abdurrahman bin Auf, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menerangkan hal ini secara panjang lebar dalam Fathul Bari.

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’I dari Jubair bin Nufair dari Abu Tsa’labah Al-Khasyani bahwasanya ia menceritakan kepada mereka, “bahwa para shahabat berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuju Khaibar, dan orang-orang kelaparan. Lali mereka menemukan seekor keledai dan menyembelinya. Kemdian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diberitahu tentang itu. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk mengumumkan kepada orang-orang, “Dengarlah, sesungguhnya daging keledai tidak halal bagi mereka yang bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”   

Ibnu Auf tetap pada kesetiaannya terhadap agamanya, dan juga kesetiaannya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia terus mendekatkan diri kepada beliau, mempersembahkan berbagai macam bentuk ketaatan kepada beliau, melaksanakan segala perintah beliau, dan berbuat total dalam melayani dan menghargai beliau. Ini terus dilakukannya hingga detik-detik terakhir dari umur beliau yang penuh berkah, ketika beliau meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah. Abdurrahman tidak ketinggalan dalam menyaksikan detik-detik yang mengharukan tersebut, detik-detik begitu berat bagi jiwa setiap orang mukmin. Ia adalah salah seorang yang berkesempatan untuk melihat jasad Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk terakhir kalinya, lalu membawa beliau dengan kedua tangannya, ikut turun dikuburannya, dan kemudian ikut menguburkan beliau. Peristiwa yang sangat mengharukan seperti itu bisa memberikan bekas yang sangat dalam pada diri seseorang yang ditinggal oleh orang yang sangat berharga dan sangat dicintainya. Maka bisa kita bayangkan jika yang meninggal adalah seorang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?! Pada detik-detik tersebut Abdurrahman telah memperbaharui sumpahnya untuk tetap melanjutkan jalannya sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh Rasul yang agung. Ia mengikat sebuah janji dengan Tuhannya bahwa ia akan tetap mengikuti gurunya yang pertama, yang juga penutup jalannya hingga nafas terakhir dalam hidupnya, ketika ia kembali kepada nya dalam keadaan ridha dan diridhai.

Kebersamaan penuh berkah yang begitu panjang bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan tambahan keutamaan dan kemuliaan bagi Ibnu Auf di setiap momen yang di alaminya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik terhadap manusia, dan orang yang paling berhak menerima kebaikan beliau adalah para shahabatnya, penolongnya, dan pembelanya. Dan Abdurrahman berada pada barisan terdepan dari mereka semua. Maka beliau pun memberinya penghargaan yang begitu banyak, setiap pernghargaan yang diberikan menjadi rebutan bagi orang0irang yang menginginkan kebaikan. Beliau pernah mengirimnya untuk bertugas mengumpulkan sedekah ke beberapa wilayah, dan menjadikan saksi dalam perjanjian Hudaibiyah. Beliau juga mempercayakannya untuk menjaga istri-istri beliau, maka beliaupun mengumumkan di hadapan semua orang bahwa Ibnu Auf adalah seorang yang baik dan terpercaya yang akan menjaga istri-istri beliau. Dalam salah satu peperangan bahkan beliau pernah shalat sebagai makmum di belakangnya. Seluruh hal di atas merupakan buah dari kebersamaan yang baik bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Salla, dan juga bentuk kebaikan serta kemenangan di akhira untuk shahabat mulia ini.

Khalifah bin Khayyath menyebutkan dalam Taarikhnya nama-nama shahabat yang ditugaskan RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengumpulkan sedekah. Dan ia juga menyebutkan bahwa beliau mengutus Abdurrahman bin Auf untuk mengumpulkan sedekah Bani Kilab.

Al-Waqidi menuturkan kisah perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke perang Hudaibiyah, dan ia menyebutkan bahwa sekelompok shahabat membawa serta hewan sembelihan mereka, diantaranya : Abu Bakar, Abdurrahman, Utsman, dan Thalhah.

Dan disebutkan oleh Ibnu Ishaq, Al-Waqidi, dan muridnya Ibnu Sa’ad rincian dari perang tersebut, serta perjanjian antara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum musyrikin Quraisy, serta orang-orang yang turut menyaksikan perjanjian tersebut. Mereka berkata, “Abu Bakar menjadi saksi, juga Umar bin Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amru, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Mahmud bin Maslamah,”.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ismail bin Abu Khalid, dari Amir Asy-Sya’bi berkata, “Yang turun ke kuburan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Ali, Al-Fadhl, dan Usamah. Amir berkata, “Dan Marhab atau Ibnu Abu Marhab memberitahuku bahwa mereka juga mengikutkan Abdurrahman bin Auf bersama mereka.”

Dan dalam riwayat lain dari Asy-Sya’bi berkata, Marhab atau Ibnu Abu Marhab memberitahuku, ia berkata, “Sepertinya aku melihat empat orang di kuburan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf.”

Zubair bin Bakkar berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah orang kepercayaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengurus istri-istri beliau.”

Hal ini dikarenakan Abdurrahman yang mengurus kebutuhan ummahatul mukminin Radhiyallahu Anhunna,mendampingi mereka menunaikan haji, memberikan nafkah kepada mereka, menginfakkan harta yang banyak bagi mereka, dan berwasiat setelah kematiannya untuk mereka dengan harta yang cukup banyak.

Hal ini dikuatkan oleh banyak hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta banyak peristiwa yang berulang di mana Abdurrahman melayani kebutuhan istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Disebutkan oleh Ahmad dalam Al-Fadhail, dan juga At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan yang lainnya, serta dishahihkan oleh banyak imam, dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Sesungguhnya urusan kalian merupakan salah satu hal penting yang aku tinggalkan sepeninggalku nanti, dan tidak aka nada yang bisa bersabar mengurus kalian nanti kecuali orang-orang yang bersabar.” Ia berkata, kemudian Aisyah berkata, “Maka Allah memberi ayahmu minuman dari mata air salsabil di surge.” Maksudnya Abdurrahman bin Auf, dimana ia memberi istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam harta sebanyak empat puluh ribu dinar.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Umar mengizinkan istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk melaksanakan haji pada musim haji terakhir yang dilaksanakannya. Ia mengirim Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf bersama mereka.”

Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Sa’ad melalui Al-Waqidi, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Pada musim haji di mana Umar menunaikan ibadah haji pada tahun kedua puluh tiga, dan itu adalah haji terakhir yang ditunaikan oleh Umar, istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta izin kepadanya untuk berangkat. Ia mengizinkan mereka dan ia memerintahkan untuk mempersiapkan perjalanan mereka. Mereka dibawa dalam sekedup yang mempunyai kantung-kantung hijau, dan menugaskan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan menemani mereka. Utsman berjalan dengan tunggangannya di depan mereka, dan tidak mengizinkan seorangpun untuk mendekat, sementara Abdurrahman berjalan dengan tunggangannya di belakang mereka serta tidak mengizinkan seorangpun untuk mendekati mereka. Setiap kali Umar berhenti mereka juga akan ikut berhenti.”

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, An-Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia ikut bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Tabuk. Al-Mughirah berkata, “Sebelum shalat fajar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Alaihi wa Sallam pergi untuk membuang hajat, maka aku membawakan air dengan bejana untuk beliau. Dan ketika selesai beliau menemuiku dan aku tuangkan ke tangan beliau air dari bejana. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu membasuh mukanya. Kemudian beliau menyisingkan kedua tangannya dan kemudian mengeluarkan keduanya dari bawah jubah. Lantas beliau membasuh kedua tangan sampai ke siki, dan berwudhu dengan membasuh bagian atas sepatu beliau. Dan setelah itu beliau berangkat.

Al-Mugihrah berkata, “Aku pun berangkat bersama beliau, hingga kami mendapati orang-orang telah mengangkat Abdurrahman bin Auf sebagai imam, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih mendapati salah satu rakaat. Maka beliau pun melaksanakan rakaat kedua sebagai makmum bersama orang-orang. Setelah Abdurrahman salam, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri menyempurnakan shalatnyam ini membuat kaum Muslimin terkejut, dan bertasbih sebanyak-banyak. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyelesaikan shalatnya, beliau menghadap mereka dan berkata, “Kalian telah melakukan yang baik” atau “kalian telah melakukan yang benar.” Beliau memuji mereka karena telah melaksanakan shalat pada waktunya.”

Dan dalam riwayat lain, “Ketika Abdurrahman merasakan kedatangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengambil langkah untuk mundur ke belakang, namun Rasulullah memberi isyarat kepadanya untuk melanjutkan shalat. Dan ketika Abdurrahman menyelesaikan shalat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Al-Mughirah berdiri untuk menyempurnakan shalat mereka.”

Maka selamat untuk Abdurrahman atas keistimewaan tersebut, dimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat sebagai makmum di belakangnya dan mengikutinya.

4. Peperangannya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Sebagaimana ia mendapingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada masa damai, Ibnu Auf juga menemani beliau pada masa perang. Dan bagaimana ia ada bersama beliau setiap kali beliau bepergian, dalam shalat-shalat dan ibadah haji, dalam berbagai majelis untuk mendengarkan ajaran beliau, ia juga bergabung di bawah panji beliau dalam seluruh peperangan yang beliau ikuti. Maka sejak pertama ia menjejakkan kakinya dalam kapal dakwah, dan bergabung dalam perjalanannya yang penuh berkah dan petunjuk, ia telah bertekad untuk tidak berpisah dengan pribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menolong agama Allah serta memikul beban dakwahnya. Maka ia tak pernah sekalipun ragu untuk menyambut seruan jihad, dan tak pernah takut menghadapi musuh. Jiwanya juga tak pernah merayunya untuk menjaga dan melindungi dari panah musuh dan pedang orang-orang yang menghalangi dan menentang kebenaran. Sebagaimana ia membentangkan tangan kanannya dalam berinfak dan memberi, serta menghabiskan umurnya untuk menghadiri majelis-majelis Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,mendampingi dan mentaati beliau, ia juga membenamkan tangannya kepada musuh-musuh, dan berjihad menjunjung tinggi kalimat Allah. Berbagai medan tempur telah menjadi saksi bagi berbagai kiprah dan keteguhannya dalam perang. Sehingga dengan demikian ia telah menorehkan lembaran-lembaran penuh cahanya di seluruh penjuru jazirah arab di mana pertempuran terjadi antara Islam dengan siapapun.

5. Pada Perang Badar

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar bersama serombongan shahabatnya yang mulia untuk mencegat kafilah Quraisy. Namum takdir menggiring mereka kepada tujuan lain, karena Abu Sufyan berhasil lolos dengan kafilah yang dipimpinnya, dan digantikan oleh Quraisy yang datang dengan keangkuhannya dan dipimpin oleh tokoh-tokohnya yang paling jahat. Mereka mengumumkan perang melawan kaum muslimin. Maka kedua pasukan pun bertemu di Badar. Itu merupakan perang yang amat menentukan, di mana Allah memberikan kemenangan kepada kelompok mukmin yang begitu sedikit. Pasukan kafir yang begitu besar tersungkur, dan lehernya terinjak dalam sebuah kekalahan yang amat menyakitkan yang kemudian menjadi tanda awal dari berakhirnya penyembahan berhala di jazirah arab. Orang-orang arab segera mendengar tentang kemenangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para pengikutnya atas keangkuhan Quraisy dan para pelayan kemusyrikan yang zhalim dan kafir.

Abdurrahman mendapat kehormatan untuk ikut serta dalam perang yang menentukan tersebut. Ia tenggelam dalam kecamuk perang sebagai seorang mujahid di bawah panji kebenaran untuk membela agamanya, dan memperjuangkan prinsip-prinsipnya. Peristiwa yang mengagumkan tersebut diceritakan kepada kita oleh dua orang shahabat Anshar yang berjanji kepada diri mereka untuk tidak meninggalkan Abu Jahal hingga berhasil membunuhnya atau mereka yang celaka olehnya, karena apa yang mereka dengar tentang permusuhannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Asy-Syaikhani, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Ketika aku tengah berdiri dalam barisan pada perang Badar, aku melihat ke kanan dan diriku. Dan ternyata aku berada di antara dua orang remaja dari Anshar. Mereka masih sangat muda, dan aku berharap bisa lebih kuat dari mereka. Salah seorang dari mereka berkedip kepadaku dan berkata, “Wahai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal?” aku berkata, “Ya, apa keperluanmu dengannya wahai putra saudaraku?” ia berkata, “Aku diberitahu bahwa ia mencaci maki Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, jika aku melihatnya maka aku tidak akan berpisah dengannya hingga yang paling ajalnya di antara kami mati!” aku terkejut mendengar tekad. Lalu yang seorang lagi juga berkedip kepadaku dan menanyakan hal yang sama. Aku belum sempat terjun ke medan perang hingga aku melihat Abu Jahal berkeliling di antara pasukan. Maka aku berkata, “Ketahuilah, inilah orang yang kalian tanyakan tadi.” Maka mereka segera menyerangnya dengan pedang mereka, dan mereka memukulnya hingga berhasil membunuhnya. Setelah itu mereka berdua pergi menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memberitahu beliau. Maka beliau bertanya,”Siapakah di antara kalian yang telah membunuhnya?” dan keduanya sama-sama berkata, “Aku yang telah membunuhnya.” Beliau berkata, “Apakah telah membersihkan pedang kalian?” Mereka berkata, “Belum”, lalu beliau melihat kedua pedang tersebut dan berkata, “Kalian berdua telah membunuhnya.”

Dan dalam riwayat lain, “Maka aku menunjukkannya kepada mereka berdua, lalu mereka segera memburunya bagaikan elang hingga berhasul memukulnya, dan mereka adalah putra-putra Afra’”.

Dengan terlibat dalam perang Badar Abdurrahman ikut menerima lencana tertinggi yang disematkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dada seluruh pejuang Badar. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dan yang lainnya dari Ali bin Abi ThalibRadhiyallah Anhu dalam kisah Hathib bin Abu Balta’ah, sat itu Umar berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sesunguhnya ika ikut dalam perang Badar dan engkau tidak tahu mungkin saja Allah telah melihat kepada para pejuang Badar dan berkata, “lakukkanlah yang kalian mau, sungguh aku telah mengampuni kalian!”

Dan dalam riwayat lain, “Mungkin saja Allah telah melihat kepada pejuang Badar dan berkata, “lakukanlah yang kalian mau, sungguh telah wajib bagi kalian surge.”

Ucapan yang ditujukan kepada para pejuang Badar ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qurthubi adalah, “Ungkapan penghormatan dan penghargaan, yang mengandung makna bahwa mereka telah melakukan suatu hal yang membuat mereka layak mendapat pengamupunan atas dosa-dosa mereka yang lalu, dan juga pantas untuk mendapat pengampunan atas dosa-dosa mereka yang akan datang. Dan keshalihan pada diri seseorang tidak harus terlihat dalam perbuatan. Allah telah menunjukkan kebenaran Nabi-Nya  Shallallahu Alaihi wa Sallam pada orang-orang yang mendapat jaminan tersebut. Mereka tetap melakukan amalan penduduk surga hingga mereka meninggalkan dunia. Dan kalaupun ada sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang dari mereka, maka ia akan segera melakukan taubat dengan sebenar-benarnya. Dan orang yang meneliti kisah hidup mereka akan menjumpai keadaan ini pada mereka.”

6. Pada Perang Uhud

Tidak lama setelah perang Badar, perang Uhud pun pecah. Antara dua perang tersebut kaum Quraisy berusaha mengobati luka mereka, dan mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya. Karena mereka telah menghilangkan banyak keluarga mereka, membunuh pemimpin-pemimpin mereka, dan mencegah keangkuhan mereka. Mereka pun mengumpulkan kekuatan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, dan mengajak para sekutu mereka, serta memenuhi seluruh kekuatan mereka. Mereka datang dengan pasukan yang jumlahnya mencapai tiga ribu prajurit, lalu berangkat menuju Madinah Nabawiyah, dan kemudian berkemah di dekat gunung Uhud.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar bersama para shahabatnya untuk menghadapi Quraisy dan mengembalikan mereka dari kesesatan mereka dan menghancurkannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallammenempatkan pasukan pemanah di bukit Ainain, dan berwasiat kepada mereka dengan berkata sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, “Jika kalian melihat kami dipukul kalah maka jangan tinggalkan posisi kalian hingga aku mengirim seseorang kepada kalian, dan jika kalian melihat kami mengalahkan mereka dan memenangkan perang maka jangan tinggalkan posisi kalian hingga aku mengirim seseorang menemui kalian.”

Perang pun berlangsung. Saat itu kemenangan berada di pihak kaum muslimin, dan kaum musyrikin kembali mengalami kekalahan yang pahit. Ketika pasukan pemanah melihat kaum musyrikin telah melarikan diri, banyak dari mereka yang lupa akan perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan wasiat beliau. Mereka tidak lagi mendengarkan komandar mereka, dan meninggalkan posisi. Mereka turun untuk ikut mengumpulkan harta rampasan perang bersama yang lainnya. Wajah kemenangan pun berbalik dari mereka. Segalanya berubah, mereka menderita kekalahan dan tercerai berai, kecuali Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sedikit kelompok yang tetap bertahan bersama beliau.

Pada perang tersebut Abdurrahman menunjukkan berbagai kontribusi mulia yang mengisyaratkan kekokohan imannya, kekuatan jiwanya, keteguhan dirinya, dan totalitas dalam membela agamanya dan memegang teguh prinsipnya, serta kegigihannya dalam menjaga janji yang telah ia berikan kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia pun bertahan sebagai seorang pahlawan, menerima berbagai pukulan dari musuh-musuhnya dan ia pun banyak melayangkan pukulan kepada mereka. Dan ketika orang-orang kafir berhasil menggempur pasukan muslimin dan melukai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ketika banyak di antara mereka yang tercerai berai sementara Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap bertahan di hadapan musuh, Abdurrahman tidak beranjak sejengkalpun dari tempatnya. Ia bertahan bersama para shahabat pemberani lainnya, mereka berkumpul di keliling Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan melindungi beliau. Dari kalangan Muhajirin terdapat : Abu Bakar, Umar, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Sementara dari kalangan Anshar : Al-Hubab bin Al-Mundzir, Abu Dujanah, Ashim bin Tsabit, Al-Harits bin Ash-Shimmah, Sahal bin Hunaif, Sa’ad bin Muadz, dan Muhammad bin Maslamah.

Para pahlawan tersebut berjuang mati-matian melindungi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan meringankan serang pasukan kafir terhadap beliau. Dan ketika perang berakhir, Ibnu Auf mendapatkan banyak bekas luka di tubuhnya. Pedang-pedang dan panah musuh berlalu dengan meninggalkan bukti-bukti jihad yang amat jelas dan dapat terlihat oleh siapapun yang melihatnya. Ia mendapatkan begitu banyak luka yang parah hingga membuatnya pincang. Dan ia tetap dalam keadaan demikian sepanjang sisa hidupnya.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Al-Hakim dari Ibrahim bin Sa’ad berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasanya Abdurrahman bin Auf mendapat sebanyak dua puluh satu luka pada perang Uhud, dan ia juga terluka di kakinya hingga menjadi pincang karenanya.”

Dan diriwayatkan oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakka’I dari Ibnu Ishaq, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf memiliki dua gigi seri yang patah, dan sedikit cacat yang membuatnya kesulitan. Pada perang Uhud ia terkena pukulan yang mematahkan giginya, dan mendapat sebanyak dua puluh luka atau lebih. Sebagian luka tersebut mengenai kakinya hingga ia pincang.”

Saat berkecamuknya perang, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memeriksa para shahabatnya dan bertanya tentang keadaan tokoh-tokoh mereka. Beliau juga mencari-cari berita mengenai Abdurrahman bin Auf, dan pada momen yang mulia tersebut beliau mengumumkan bahwa Malaikat turut berperang bersama Ibnu Auf, dan membantunya menghadapi musuh.

Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Ath-Thabrani, dan Ibnu Asakir dari Al-Harits bin Ash-Shimmah berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambertanya kepadaku pada saat perang Uhud, dan saat itu beliau berada di jalan yang ada di gunung, “Apakah engkau melihat Abdurrahman bin Auf?” Aku menjawab, “Ya, aku melihatnya disamping bukit kecil itu sedang menghadapi sekelompok pasukan musyrikin. Aku hendak membantunya, namun ketika aku melihatmu maka aku pun menemuimu terlebih dahulu.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya Malaikat ikut berperang bersamanya.” Al-Harits berkata, “Maka aku pergi menemui Abdurrahman, dan aku melihat tujuh orang musuh telah terkapar di sekelilingnya. Maka aku berkata, “Sungguh engkau beruntung!! Apakah engkau telah membunuh mereka semua?” ia berkata, “Kalau ini Artha’ah bin Abdu Syurahbil dan ini, aku yang telah membunuh mereka, namun yang lain telah dibunuh oleh sesuatu yang tidak terlihat olehku!” Maka aku berkata, “Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya.”

7. Perang Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan

Pada tahun keenam Hijrah, Abdurrahman ikut bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang Hudaibiyah. Ia turut menyaksikan penulisan perjanjian. Saat itu seluruh pasukan selain Al-Jud bin Qais ikut dalam bai’at Ridhwan. Dan dengan demikian Ibnu Auf pun memperoleh kehormatan dan penghargaan yang istimewa. Bersama saudara-saudaranya yang lain ia memperoleh ridha Allah Azza wa Jalla yang memuji mereka dalam firmannya, “Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balsan dengan kemenangan yang dekat,”116

Inilah puncak dari segala keistimewaan dan keutamaan. Siapapun yang kembali dari peperangan dan jihadnya dengan membawa keridhaan Allah, maka ia telah memperoleh seluruh kebaikan, dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dan ini dikuatkan lagi oleh keterangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut berbai’at di bawah pohon.”

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinyatakan hadits hasan olehnya dari jabir berkata, RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pasti akan masuk surge orang yang berbai’at di bawah pohon, kecuali orang yang memiliki unta merah.”117

8. Penaklukkan Kota Mekkah

Pada tahun kedelapan Hijrah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersiapkan sebuah pasukan yang sangat besar. Beliau menghimpun sebanyak sepuluh ribu prajurit yang menyatu dalam barisan mujahidin. Belum pernah terjadi sebelumnya di dalam masyarakat muslim, pasukan sebesar itu terkumpul sebelum perang yang penuh berkah tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat menujuh Mekah Al-Mukarramah untuk memberi pelajaran kepada Quraisy atas dosa yang mereka lakukan dan pengkhianatan mereka ketika mereka melanggar perjanjian dengan memberi bantuan kepada sekutu mereka dari Bani Bakar dalam menyerang sekutu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Bani Khuza’ah.

Abdurrahman pun tak ketinggalan untuk turut mendapatkan kehormatan dari peristiwa tersebut. Di mana ia bisa kembali ke tanah kelahirannya Mekah, menikmati kembali pandangan Baitullah Al-Haram dengan kedua matanya langsung dan memperbaharui janjinya di Ka’bah Al-Musyarrafah. Dalam perang tersebut ia mempunyai peran yang sangat mulia yang menunjukkan sifat kasih sayang yang telah tertanam di hatinya yang lembut dan pada jiwanya yang bersih.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pamannya Abbas untuk membawa Abu Sufyan dan menahannya di celah sebuah lembah yang terletak di muka sebuah bukit. Agar ia bisa menyaksikan pasukan islam yang melewatinya sehingga memberikan pengaruh yang dalam pada dirinya, dan agar ia merasakan kekaguman dari segala sisi.

Pasukan demi pasukan terus maju, hingga kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lewat dalam sebuah pasukan dengan pakaian hijau. Beliau menyerahkan bendera kepada Sa’ad bin Ubadah yang berada di depan pasukan. Ketika Sa’ad lewat dengan membawa bendera ia berseru, “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari pertempuran, hari ini Ka’bah akan dibebaskan, dan hari ini Allah akan menginakan Quraisy!” lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lewat dan ketika berada di hadapan Abu Sufyan, ia berkata, “Wahai Rasulullah. Apakah engkau memerintahkan untuk memerangi kaummu? Sa’ad dan orang-orang yang bersamanya mengira demikian saat lewat di hadapan kami, ia berkata, “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari pertempuran, hari ini Ka’Bah akan di bebaskan, dan hari ini Allah akan menghinakan orang Quraisy!” maka demi Allah, sesungguhnya aku meminta perlindunganmu untuk kaummu. Engkau adalah orang yang paling baik dan paling memelihara hubungan.” Kemudian Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan berkata, “Wahai Rasulullah, kita tidak menjamin Sa’ad untuk tidak menyerang      Quraisy.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari kasih sayang, hari ini adalah hari dimana Allah akan memuliakan Quraisy.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus seseorang kepada Sa’ad untuk menggantikannya dan kemudian menyerahkan bendera kepada nya Qais bin Sa’ad.

Sikap yang di ambil oleh Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan ini didasarkan kepada perasaan kasih dan sayang kepada Quraisy, dan didorong oleh keinginan untuk menghindarkan pertumpahan darah serta bergabungnya Quraisy ke dalam pelukan Islam, dan masuk Islamnya mereka secara berbondong-bondong. Jiwa-jiwa yang telah dibina oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini bagaikan sebatang pohon yang berbuah. Ketika anak-anak kecil melemparinya dengan batu ia akan membalas dengan buah yang baik. Merekalah sosok yang tak pernah menyukai pembalasan dendam pribadi, atau memusuhi orang-orang, namun mereka hanya memerangi kekufuran, kesombongan, kezhaliman dan sikap tirani. Jika semua orang, baik besar maupun yang kecil telah menyerahkan diri kepada Islam, dan bergabung ke dalam pelukannya dengan sukarela, maka biarlah mereka masuk ke dalam dekapan kasih sayangnya dan mendapat kebahagiaan dengan kelapangan dada kaum muslimin secara terhormat.

9. Pada Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijrah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat kabar bahwasanya Romawi mengumpulkan kekuatan untuk memerangi beliau. Maka beliau segera bermaksud untuk mendahului mereka dan memberi pelajaran kepada mereka. Beliau mengumpulkan orang-orang dan menjelaskan maksud beliau kepada mereka. Karena jauhnya perjalanan dan sulitnya keadaan pada saat itu, maka beliau meminta mereka untuk bersiap-siap dan menyiapkan bekal masing-masing, hingga terkumpul sebuah pasukan yang besar berjumlah tiga puluh ribu tentara.

Perang ini dinamakan dengan Ghazwah Al-‘Usrah (Perang pada masa sulit) karena perang tersebut merupakan sebuah latihan menghadapi bentuk kesulitan terbesar yang menimpa kaum muslimin di mana mereka dikepung oleh berbagai kesulitan hidup. Perjalanan saat itu mereka tempuh di bawah panas yang membara, musim panas yang membakar, jarak yang sangat jauh untuk menghadapi musuh yang amat banyak, tanpa adanya media yang paling sederhana sekalipun untuk membawa pasukan kaum muslimin. Tidak ada binatang tunggangan, tidak ada air, tidak ada bekal makanan, dan bahkan persiapan senjata.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menyiapkan pasukan dan membekali para mujahidin. Kaum mukminin pun datang dengan sedekah yang sangat banyak. Orang-orang dengan keimanan yang jujur dan memiliki sifat kedermawaan yang tinggi saling berlomba di jalan Allah. Mereka memiliki sikap yang terpuji dengan bersegera mewujudkan keinginan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamuntuk berinfak dalam jumlah yang banyak. Abu Bakar terdepan dalam kelompok para dermawan tersebut, ia menginfakkan seluruh hartanya. Lalu tokoh-tokoh lain uamg menjadi teladan dalam keikhlasan iman juga bangkit memberikan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, seperti Umar, Utsman, Abdurrahman, Thalhah bin Ubaidillah, dan yang lainnya. Mereka tidak bersikap kikir pada masa sulit tersebut terhadap apa yang mereka mampu. Mereka memberi kebahagiaan di dalam hati RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam atas banyaknya kebaikan yang mereka persembahkan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam enam bulan selama kepulangan beliau dari Thaif. Kemudian Allah Azza wa Jalla memerintahkan beliau untuk berangkat pada perang tabuk, dan itu adalah perang yang disebut Allah terjadi pada masa sulit. Saat itu panas sangat menyengat, bulir-bulir kemunafikan telah banyak, dan penghuni Shuffah juga telah bertambah banyak. Shuffah adalah rumah bagi orang-orang miskin, mereka berkumpul disana , dan menerima sedekah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin lainnya. Jika terjadi perang maka kaum muslimin akan mendatangi mereka dan tiap orang akan membawa satu orang dari mereka atau berapapun yang dikehendaki Allah. Mereka akan mempersiapkan ahlu Shuffah tersebut, dan berangkat berperang bersama mereka, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk menafkahkan harta mereka di jalan Allah dan mengharapkan pahala. Mereka pun berinfak dengan mengharapkan pahala, dan sebagian yang lain berinfak tanpa memikirkan pahala. Sebagian kaum miskin tersebut dapat dibawa, namun masih ada yang tertinggal. Orang yang paling banyak bersedekah pada saat itu adalah Abdurrahman bin Auf. Ia mensedekahkan sebanyak dua ratus Uqiyah, Umar bersedekah sebanyak seratus Uqiyah, sementara Ashim bin Adi Al-Anshari mensedekahkan Sembilan puluh Wasaq118 kurma. Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah sungguh aku melihat Abdurrahman telah berdosa, ia tidak meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?” ia menjawab, “Ya, lebih banyak yang aku infakkan dan lebih baik.” Beliau berkata, “Berapa?”, ia menjawab, “Sebanyak apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya dari rezeki dan kebaikan.”

 Satu Uqiyah sebanding dengan 40 Dirham, dan satu Dirham sama dengan sekitar 3 Gram. Jadi jumlah yang diberikan oleh Abdurrahman adalah sebanyak 24 Kilogram emas! Ini adalah jumlah yang sangat banyak dan tidak akan diberikan kecuali oleh seorang mukmin yang telah mengikhlaskan hatinya kepada Allah. Seorang mukmin yang meletakkan kemashlahatan kaum muslimin dan berbagai kewajiban agama di atas seluruh hitungan lainnya. Ia yakin dengan besarnya pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, serta keberkahan yang akan didapatnya pada harta dan anak-anaknya. Dan Ibnu Auf Radhiyallahhu Anhubenar-benar mendapatkan itu semua.

10. Di utus dalam sebuah ekspedisi militer ke Dumatul Jandal

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Atha’ bin Abu Rabah berkata, “Aku sedang bersama Abdullah bin Umar, lalu ia didatangi oleh seorang pemuda yang bertanya tentang cara memakai selendang (sorban). Maka Ibnu Umar berkata, “Aku akan memberitahumu tentang itu dengan berdasarkan ilmu insya Allah Ta’ala.” Ia berkata, “Aku adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang yang berada di masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ibnu Auf, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhum. Lalu datanglah seorang pemuda Anshar dan memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kemudian ia duduk. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” Ia berkata, “Lalu orang mukmin manakah yang paling baik?” beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling mempersiapkan diri sebelum kematian menjemputnya. Merekalah orang-orang yang cerdik.” Kemudian pemuda tersebut diam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya dan berkata, “Wahai kaum Muhajirin, lima perkara yang jika kalian diuji dengannya, dan jika kalian ditimpa oleh nya, aku berlindung kepada Allah semoa kalian tidak mengalaminya: Tidak ada kekejian yang muncul di suatu kaum dan mereka melakukannya, kecuali akan timbul penyakit Tha’un dan wabah penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menolak untuk membayar zakat, melainkan akan di tahan dari mereka tetesan air dari langit, jikalau bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan. Dan tidaklah mereka melanggar janji mereka di bawah kekuasaan musuh mereka yang bukan dari kalangan mereka, lalu mereka akan mengambil sebagian dari apa yang mereka miliki. Dan selama pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitabullah, niscaya Allah akan melemparkan cobaab atas mereka di antara mereka.”

Kemudian beliau menyuruh Abdurrahman bin Auf bersiap-siap untuk sebuah ekspedisi militer yang akan dikirim oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pagi harinya Abdurrahman telah siap dengan memakai sorban yang terbuat dari bahan hitam. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendekatkannya kepada beliau, melepas sorbannya, dan memakaikannya sebuah sorban putih. Lalu beliau melepas ujung sorban tersebut di bagian belakangnya sepanjang empat jari atau sekitar itu. Dan beliau berkata, “Beginilah hendaknya engkau memakai sorban wahai Ibnu Auf, ini lebih umum dan lebih baik.” Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk memberikan bendera kepada beliau. Beliau memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian berkata, “Ambillah ini wahai Ibnu Auf, berperanglah semua di jalan Allah, dan perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Janganlah berlebih-lebihan, jangan berkhianat, jangan memotong-motong tubuh, dan jangan membunuh anak-anak. Ini adalah janji Allah dan sunnah Nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan lebih panjang dari riwayat di atas, dan juga Al-Waqidi dan Ibnu Asakir, dan tambahan yang ada pada mereka, Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Ibnu Auf untuk berangkat dari malam hingga sampai di Dumatul Jandal, pasukannya berkemah di Al-Jurf, dan mereka berjumlah sebanyak tujuh ratus prajurit. Abdurrahman berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin akhir dari kenanganku denganmu adalah pakaian perjalananku. Maka beliau menundukkannya di depannya, dan melepas sorbannya dengan tangannya, dan kemudian memakaikannya sorban dari bahan hitam. Beliau melepaskan ujungnya sepanjang empat jari atau sekitar itu, dan kemudian beliau berkata, “Beginilah engkau hendaknya memakai sorban wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini lebih baik dan lebih dikenal.” Lalu beliau memintaku untuk menyerahkan bendera kepadanya, dan ia pun menyerahkannya.

Abdurrahman mengambil bendera dan keluar menemui pasukannya. Ia terus berjalan hingga sampai di Dumatul Jandal. Ketika tiba di sana ia mengajak mereka kepada Islam. Pada awalnya mereka menolak Islam dan bersikeras untuk melawan dengan pedang. Namun pada hari ketiga masuk Islam lah Al-Ashbagh bin Amru Al-Kalbi, ia seorang Nasrani dan pemimpin mereka dan turut masuk Islam bersamanya banyak orang dari kaumnya. Dan yang tersisa tetap memilih membayar Jizyah (upeti).

Lalu Abdurrahman menulis surat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengabarkan beliau tentang hal itu, dan juga bahwa ia akan menikah dengan wanita dari sana. Ia mengirimkan surat surat tersebut melalui Rafi’ bin Makits Al-Juhani. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membalas suratnya dan memintanya untuk menikahi Tumadhir putri dari Al-Ashbagh. Abdurrahman pun menikahinya, dan kembali bersamanya. Dan ia adalah ibu dari Abu Salamah bin Abdurrahman.

Begitulah Ibnu Auf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mendampingi dan mengikuti beliau. Juga dalam mengambil contoh dari beliau, melaksanakan perintah-perintahnya, mewujudkan keinginannya, mengemban risalahnya, menyampaikan dakwahnya, dan membela serta melindungi beliau. Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita bersama Abdurrahman untuk melihat perjalanan hidupnya, kelebihannya, akhlaknya, pribadinya, pergaulannya, dan khususnya tentang dirinya secara pribadi.

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Abdurrahman mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hidup bersama beliau pada tahun-tahun yang sulit dan hari-hari yang penuh cobaan. Juga pada saat-saat susah dan senang dan pada masa-masa damai dan perang. Ia benaung di bawah naungan majelis-majelis beliau, dan memperhatikan perilaku beliau yang merupakan cerminan terbaik dan paling sempurna dari Al-Qur’an. Selama tahun-tahun yang panjang, itu ia mampu memetik ajaran Nabi dalam setiap sisi kehidupan, dan mempelajari hal-hal yang memberi kebaikan di dunia dan mewujudkan keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Abdurrahman adalah satu diantara generasi langka yang dibina oleh Rasulullahh Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madrasah Al-Qur’an dan sunnah Nabi, yang mencerminkan prinsip-prinsip Islam, membawa cahaya iman, dan memimpin manusia serta memberinya petunjuk kepada tangga teratas dari kesempurnaan peradaban.

Abdurrahman adalah satu di antara yang terbaik dari yang terbaik, salah satu yang terunggul dari shahabat, baik dari segi akhlaknya, sifat-sifatnya, kepribadiannya, ibadahnya, sifat tawadhu’ dan zuhudnya, keikhlasan dan ketakutannya kepada Allah, maupun dari segi kemuliaan dan ketinggian kedudukannya. Dan ia berhak mendapatkan itu. Dia adalah satu dari mereka yang terdekat dan terdidik langsung dalam naungan kenabian selama dua puluh tiga tahun, baik di Mekah maupun di Madinah.

Abdurrahman bin Auf adalah seorang pedagang. Ia mencari nafkah dengan kedua tangannya, dan beruntung mendapatkan doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk keberkahan usahanya. Dunia pun seolah tercurah kepadanya dengan begitu mudah, hingga ia pernah mengatakan tentang dirinya bahwa jika ia mengangkat sebuah batu maka ia akan menemukan emas atau perak di baliknya. Allah menganugerahkan kepadanya harta yang tidak terhitung jumlahnya, dan Allah juga memberinya karunia berupa jiwa yang selalu rindu untuk memberi. Ia menghabiskan hartanya dengan berbagai sedekah dan infak di banyak bentuk kebaikan. Hartanya terus bertambah, dan perniagaannya semakin luas dan memberika keuntungan yang banyak. Saat ia meninggal ia mewariskan harta-harta yang berupa emas dan perak yang sangat banyak. Ia membuka tangannya untuk memberika pertolongan kepada golongan hamba dan budak. Ia telah memerdekakan ribuan orang dari mereka, dan bahkan ia pernah memerdekakan sebanyak tiga puluh orang sekaligus dalam satu hari.

Ia adalah orang yang sering melaksanakan haji. Ia turut bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam haji wada’, dan pada masa khulafaur-rasyidin ia sering menghajikan orang-orang. Ia memahkotai ibadah yang agung ini dengan melaksanakan haji bersama ummahatul mukminin, dan ia tak ragu mengeluarkan hartanya untuk melayani mereka dan menafkahi mereka selama dalam perjalanan tersebut. Maka ia pun mendapat kebahagiaan dengan kebaikan yang dilakukannya untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamsetelah beliafu wafat, dan pujian beliau untuknya, serta pujian istri-istri Nabi untuk nya atas perbuatan mulia tersebut.

Tak ketinggalan, ia juga tekun dalam mihrab ibadah dan shalat. Ia senantiasa mengikut Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat-shalat beliau dengan berjamaah. Ia adalah sosok yang selalu membaca Al-Qur’an, berbakti kepada ibunya, memuliakan tamu-tamunya, dan memiliki hati yang lembut. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar, sangat tawadhu’, zuhud, dan mempunyai keikhlasan yang tinggi. Namun dengan segala kelebihan yang ia miliki tersebut, ia tetap merasa khawatir jika ia termasuk mereka yang disgerakan kebaikannya di dunia. Maka ia selalu berdoa kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, jagalah aku dari kekikiran diriku.”

1. Shalatnya, ketekunannya dalam membaca Al-Qur’an dan Hajinya

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Abdurrahman bin Auf selalu melakukan shalat yang panjang sebelum shalat Zhuhur, dan jika ia mendengar adzan maka ia akan menarik jubahnya dan keluar.”

Dan diriwatkan oleh Abu Ya’la dari Abdullah bin Umair berkata, “Jika Abdurrahman bin Auf memasuki rumahnya maka ia akan membacakan ayat kursi di setiap sudutnya.”

Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dalam sebuah hadits yang sangat panjang, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, “Bahwasanya Abdullah bin Abbas memberitahunya bahwa ia pernah membacakan Al-Qur’an kepada Abdurrahman bin Auf pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Ia berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan seseorang yang begitu merinding sebagaimana Abdurrahman saat ia mendengar bacaan Al-Qur’an.”

Dan pada tahun kesembilan Hijrah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Bakar untuk memimpin Haji, dan ikut bersamanya banyak toko shahabat diantaranya Abdurrahman bin Auf, dan sat itu ia membawa hewan kurbannya.

Dan ia melaksanakan haji bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada saat haji wada’. Al-Waqidi dan muridnya Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan haji wada’, belia berkata, kami berhasil menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Dzul Hulaifah pada malam hari, dan saat itu bersama kami terdapat Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan.”

Dan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman bin Aufa berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Apa yang engkau lakukan ketika mecium hajar?” Aku berkata, “Aku menciumnya dan kemudian aku tinggalkan”, maka beliau berkata, “Engkau telah benar.”

Ketika Umar bin Khaththab terpilih sebagai khalifah pada tahaun ketiga belas Hijrah, ia menugaskan Abdurrahman untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.

Disebutkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam kitab Tarikhnya dengan singkat, dan Ibnu Sa’ad dengan panjang lebar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, “ketika Abu Bakar wafat dan Umar terpilih sebagai khalifah, ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untum memimpin haji. Kemudian Umar selalu melaksanakan haji setiap tahunnya hingga ia meninggal. Dan ketika Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah, ia pun menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji.”

Ibnu Auf juga turut menunaikan haji bersama Umar pada saat haji terakhir yang dilakukan Umar pada tahun kedua puluh tiga Hijrah. Pada tahun itu Umar menginzinkan istri-istri Nabi untuk menunaikan haji. Mereka kemudian dibawa dengan sekedup, dan ia menugaskan Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk berangkat bersama mereka.

Khalifah juga menyebutkan bahwa Abdurrahman ikut melaksakanakan haji bersama ummahatul mukminin pada tahun keempat belas Hijrah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwasanya ketika Utsman terpilih sebagai khalifah pada tahun kedua puluh empat Hijrah, pada tahun itu ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.

2. Perniagaannya, Keberkahan yang diperolehnya, dan Melimpahnya harta di tangannya

Ibnu Auf yang belajar Al-Qur’an dan sunnah secara langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan memahami prinsip-prinsip agama dengan sangat baik dan menerapkannya dalam kehidupan nyata dengan bimbingan Nabi, dan mengetahu bahwa Islam adalah sebuah system yang menyeluruh mencakup urusan dunia dan akhirat, di mana prinsip-prinsipnya menyentuh masjid dan pasar, keluarga dan hubungan sosial masyarakat, serta medan jihad dan medan dakwah kepada Allah, maka jika ia tidak terlihat sedang mengerjakan shalat di masjid, atau thawaf di Ka’bah, atau berjihad dalam sebuah peperangan, atau mengambil ilmu di majelis-mejelis Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia pastinya tengah bepergian ke penjuru negeri, membuat berbagai kesepakatan di pasar-pasar, dan berdagang sesuai dengan rambu-rambu yang ia pelajari dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dia adalah orang yang memiliki semangat yang meluap-luap terbiasa dengan kerja keras dan usaha yang tek berhenti dalam setiap langkah yang diambilnya. Dengan tabiat ini ia menemukan kenyamanan dalam mengerjakan pekerjaannya yang terhormat dan halal. Baginya perniagaan bukanlah media untuk memonopoli, atau untuk memupuk harta dan mencintai kekayaan, serta menggunakan hartanya untuk membeli berbagai macam property untuk dibanggakan untuk di banggakan. Dan tidak juga dalam rangka saling berlomba dengan para pengumpul harta lainnya guna memuaskan nafsu pribadi dan tujuan mereka yang busuk.

Sama sekali tidak! Baginya perniagaan adalah untuk mewujudkan panggilan langit, “Dialah yang menjadikan bumu untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya.”120 dan untuk mengamalkan arahan-arahan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamyang terdapat dalam banyak hadits shahih dari beliau, seperti : “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”, atau, “Alangkah baiknya harta yang baik pada tangan orang yang baaik pula”, dan “Harta paling baik yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang ia dapatkan dari tangannya sendiri.”

Selain itu hartanya juga ia gunakan untuk menguatkan umatnya, menyambung hubungan kekerabatannya, dan membantu saudara-saudaranya. Ia juga menginfakkannya untuk mereka yang membutuhkan, membebaskan budak, menyiapkan pasukan Islam, dan bagian terbanyak yang ia infakkan dari hartanya adalah di jalan Allah.

Tahun-tahun di mana iam memiliki kekayaannya telah menjadi saksi atas contoh tertinggi dari pemberian dan infak yang begitu banyak. Ini terjadi selama lebih kurang tiga puluh tahun. Sejak ia menjejakkan kakinya di bumi hijrah hingga ia kembali menghadap Tuhannya.

Ketika ia hijrah ke Madinah, ia meninggalkan seluruh kekayaannya di Mekah, dan datang dengan tangan kosong. Ia tidak memiliki emas atau perak, hingga kemudian menginap di rumah saudaranya dari Anshar Sa’ad bin Ar-Rabi’ yang menawarkan setengah hartanya untuknya. Maka Abdurrahman berkata, “Aku tidak membutuhkannya, adakah pasar tempat berdagang?”, dan ia pun menunjukkan pasar kepadanya. Ibnu Auf menuju pasar untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Tak lama kemudian kekayaan dunia pun datang kepadanya, hartanya menjadi banyak, ia bisa menikah, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallammendoakannya dengan berkata, “Semoga Allah memberkahimu.”

Maka ia mendapatkan keberkahan dalam perniagaannya. Ia sangat beruntung dalam usahanya, hingga hartanya tumbuh dalam jumlah yang sangat banyak. Kafilah-kafilah dagangnya terus berdatangan ke Madinah dari Mesir, dan Syam membawa apa-apa yang dibutuhkan oleh jazirah arab, baik makanan, pakaian, maupun yang lainnya. Gudang-gudangnya dipenuhi oleh harta, dan ia pun melimpahkan sedekah dan pemberian yang sangat banyak kepada orang-orang.

Dalam hadits tentang persaudaraan antar aMuhajirin dan Anshar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Sa’ad, dan yang lainnya dari hadits Anas bin Malik, dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Sa’ad pada akhir hadits dikatakan, “Abdurrahman berkata, “Sungguh aku melihat diriku jika aku mengangkat batu, maka aku berharap akan menemukan emas atau perak di baliknya!!”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Ucapannya itu merupakan isyarat tentang dikabulkannya doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar Allah memberkahirnya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Utsman bin Asy-Syarid berkata, “Abdurrahman bin Auf meninggalkan seribu unta dan tiga ribu doma di Baqi’, serta seribu kuda yang digembalakan di Baqi’. Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman, yang menjamin makanan pokok keluarganya selama setahun.”

Maksud dari ucapannya, “Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman”, sebanding dengan mengolah tanahnya dengan menggunakan dua puluh macam alat pertanian pada zaman ini. Dan ini tentunya membutuhkan tanah yang membentang luas. Dan ini hanya untuk wilayah Al-Jurf saja, selain dari tanah-tanah dan berbagai property yang dimilikinya di tempat lain.

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barr, dan yang lainnya, dari Syaqiq bin Salamah berkata, “Abdurrahman mendatangi Ummu Salamah dan berkata, “Wahai Ummul mukminin, sungguh aku takut akan celaka. Aku adalah orang yang paling kaya di Quraisy, aku baru saja menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar! Maka ia berkata, “Infakkanlah wahai anakku, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya ada diantara shahabatku yang tidak akan melihatku setelah aku berpisah dengannya.” Maka aku (Ibnu Auf) mendatangi Umar dan memberitahunya. Lalu Umar mendatanginya dan bertanya, “Apakah aku termasuk dari mereka?” Ummu Salamah berkata, “Demi Allah tidak, dan aku tidak akan memberitahu siapapun lagi setelahmu.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abdu bin Humaid, Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim, dari Umarah bin Zadzan, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik berkata, “Ketika Aisyah sedang berada di rumahnya, ia mendengar suara ramai di Madinah, maka ia berkata, “Suara apakah itu?” mereka berkatam “Kafilah Abdurrahman bin Auf telah datang dari Syam membawa segala hal. Anas berkata, “Saat itu jumlahnya tuju ratus unta. Maka Madinah pun terguncang oleh suaranya!” lalu Aisyah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”121 Ketika berita ini sampai ke Abdurrahman bin Auf, ia berkata, “Jika mampu, aku akan memasukinya dengan berdiri” Maka ia menginfakkan seluruh kafilah tersebut dengan segala bawaannya di jalan Allah Azza wa Jalla.”

Ini hanyalah sebagian dari kekayaan Abdurrahman yang begitu banyak. Tujuh ratus kendaraan penuh beban, memenuhi jalanan kota Madinah hinga menimbulkan keguncangan dan hiruk-pikuk, didengar oleh pedagang, dan suaranya sampai ke telinga para wanita yang sedang berada di rumahnya! Pada zaman kita sekarang, ini sebanding dengan tujuh ratus mobil yang penuh dengan makanan dan pakaian, ditonton oleh banyak orang dalam sebuah pemandangan yang menakjubkan. Semua itu dimiliki seorang laki-laki mulia yang ketika datang ke Madinah, ia tak membawa apapun dari kekayaannya yang ia tinggalkan di Mekah. Diberkahilah ia dalam rezekinya hingga memperoleh kekayaan yang begitu besar.

3. Infak dan Pemberiannya yang melimpah

Pandangan Abdurrahman kepada harta adalah sesuai padangan Islam dengan pemahamannya yang menyeluruh dan seksama, yang membolehkan seorang muslim, dan bahkan mendorongnya untuk memperoleh kekayaan tanpa batas, serta mendapatkan harta yang banyak tanpa khawatir akan apapun. Semua itu dengan syarat ia mengumpulkannya dari sumber yang baik, dan mendapatkannya  dengan cara yang halal. Lalu harta itu tetap berada di tangannya, dan tidak membiarkannya menguasai hatinya. Juga tidak membiarkan dirinya menderita karena menyimpan dan menghitung-hitungnya sehingga merenggut akalnya dari dirinya. Namun hendaknya ia mengumpulkan harta itu dengan tenang dan kemudian menginfakkanya untuk berbagai tujuan yang baik. Dengan harta tersebut ia bisa membahagiakan dirinya, keluarganya, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya, dan seluruh anggota masyarakatnya. Ia bisa menggunakan harta tersebut untuk menolong mereka yang membutuhkan, mempekerjakan pengangguran, membentuk yayasan sosial, memperkokoh sendi-sendi sosial, menyokong pasukan yang akan berjihad, membantu para da’I dan orang-orang yang mengurus kaum muslimin, sehingga ia bisa mewujudkan tujuan utama dan makna hakiki dari kekayaan itu sendiri, serta menerjemahkan dengan baik sabda NabiShallallahu Alaihi wa Sallam, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”

Namun jika ia telah sesat dalam cara mengumpulkan harta dan cara-cara mendapatkannya, lalu melenceng dalam menginvestasikannya serta cara membelanjakannya, maka harta tersebut akan menjadi musibah dan kerugian baginya. Dan hanya akan membawa petaka dan kehancuran bagi umat, sebagaimana yang kita lihat dari perbuatan orang-orang bodoh!

Orang-orang kaya dari generasi awal kaum muslimin merupakan contoh terbaik dari sosok seperti Abdurrahman. Ibnu Auf adalah tuan bagi hartanya, dan tak sekalipun ia menjadi budak bagi hartanya. Berbagai sikap dan tindakannya yang mulia merupakan bukti paling jujur tentang itu, serta dalil yang paling jelas dalam mengikuti jalan terbaik dan cara yang paling lurus dalam mengurus harta, baik ketika mengumpulkannya maupun saat membelanjakannya. Ia merupakan teladan bagi orang-orang yang mempunyai kekayaan berlimpah dalam hal menginfakkannya kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Dengarkanlah kabar yang benar ini yang dituturkan oleh salah seorang dermawan yang terdepan dalam berinfak dan bersedekah, yaitu Thalhah bin Ubaidillah ketika ia berkata, “Penduduk Madinah merupakan tanggungan bagi Abdurrahman bin Auf. Ia meminjamkan hartanya kepada sepertiga dari mereka, sepertiga yang lain ia bantu dengan membayarkan hutang mereka, sepertiga yang lain ia bantu dengan membayarkan hutang mereka, dan ia memberikan hartanya kepada sepertiga yang lain untuk menjaga hubungan dengan mereka.”

Tidak layakkah bagi laki-laki seperti tokoh ini untuk menjadi salah seorang yang terkaya?! Tidakkah shahabat mulia ini diberkahi dalam hartanya, dan hara itupun diberkahi karena berada di tangan pahlawan ini!

Perhatikan juga riwayat yang mengagumkan ini, yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak di dalam kitabAz-Zuhd, dan juga Ath-Thabrani, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dari Az-Zuhri berkata, “Pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Abdurrahman bin Auf mesedekahkan setengah dari hartanya sebanyak empat ribu, lalu ia bersedekah sebanyak empat puluh ribu, lalu ia kembali bersedekah sebanyak empat puluh ribu dinar. Kemudian ia membekali lima ratus kuda di jalan Allah, dan juga membekali seribu lima ratus tunggangan di jalan Allah, dan kebanyakan dari hartanya bersumber dari perniagaan.

Ini semua adalah pemberian dari seorang laki-laki yang tidak takut miskin!

Dan di riwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Sa’ad, Abu Nu’aim, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Ummu Bakar binti Al-Miswar bin Makhramah, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf menjual tanah miliknya kepada Utsman seharga empat puluh ribu dinar. Maka ia membagikan uang itu kepada orang-orang miskin dari Bani Zuhrah dan orang-orang yang membutuhkan, serta kepada para ummahatul mukiminin. Al-Miswar berkata “Siapa yang mengirim ini?” Aku menjawab, “Abdurrahman bin Auf”, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada yang peduli kepada kalian sepeninggalanku kecuali orang-orang yang sabra.” Semoga Allah memebri Ibnu Auf minuman dari mata air Salsabil di surga.”

Dan dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Ummu Bakar binti Al-Miswar bin Makhramah, dari ayahnya berkata,“Abdurrahman bin Auf menjual Kaidamah122 Miliknya kepada Utsman bin Affan seharga empat puluh ribu dinar. Ketika uang itu sampai di tangannya, ia memanggilku dan Abdurrahman bin Al-Aswad serta seorang lainnya, lalu ia berkata, “Sebagaimana kalian lihat, harta ini terkumpul, dan aku akan memulai dari istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ia memberi masing-masing dari mereka sebanyak seribu dinar. Ketika uang tersebut sampai ke tangan mereka, mereka berterimakasih dan berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata, “Tidak aka nada yang menjaga kalian sepeninggalanku nanti kecuali orang tulus yang pemurah” yaitu Abdurrahman bin Auf. Setelah itu ia membagikan yang tersisa kepada kaum kerabatnya. Dan ketika ia berdiri tidak ada lagi yang tersisa di tangannya.”

4. Kepeduliannya kepada Ummahatul Mukminin Radhiyallahu An-hunna, Kebaikannya kepada mereka, dan Hubungannya dengan mereka

Allah Ta’ala telah memuliakan Abdurrahman dengan harta yang sangat banyak ini, dan menyempurnakan nikmatnya dengan mengarahkannya untuk menginfakkan hartanya demi kebaikan kaum muslim. Juga dengan menunjukinya jalan terbaik untuk pengeluaran hartanya, serta yang paling terhormat, dan yang paling besar pahalanya. Allah memberinya kemuliaan untuk melayani istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan terus menerus berbuat baik kepada mereka, serta menjaga hubungan dengan mereka dengan berbagai bentuk pemberian, maupun ibadah, dan menunaikan haji dengan mereka, serta bentuk-bentuk kebaikan lainnya.

Nikmat Allah kepada Ibnu Auf semakin sempurna dengan berbagai pujian yang terlontar langsung dari lisan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam yang benar. Beliau memuji perbuatan Abdurrahman dan memuliakannya di antara para Shahabatnya atas posisinya yang terdepan dalam segala medan kebaikan kepada ummahatul mukminin. Beliau juga mengumumkan di hadapan semua orang tentang kedermawaannya kepada mereka, serta penghormatannya yang demikian besar terhadap mereka.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Fadha’il, dan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Adz-Dzhabi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, “Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Sesungguhnya urusan kalian merupakan salah satu hal penting yang aku pikirkan sepeninggalanku nanti, dan tidak akan bisa ada yang bersabar mengurus kalian nanti kecuali orang-orang bersabar.” Ia berkata, kemudian Aisyah berkata, “Maka Allah memberi ayahmu minuman dari mata air salsabil di surga.” Maksudnya Abdurrahman bin Auf, di mana ia memberi istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam harta sebanyak empat puluh ribu.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Ashim, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata,“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada istri-istrinya, “Sesungguhnya orang yang peduli kepada kalian sepeninggalanku nanti adalah benar-benar seorang yang tulus dan pemurah.”

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang menganggapnya hadits hasan, dan juga Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, “Bahwasanya ayahnya mewasiatkan sebidang kebun untuk ummahatul mukminin yang terjual sepeninggalnya seharga empat puluh ribu dinar.”123

5. Wasiatnya dalam hal Sedekah dan Infak sepeninggalnya

Abdurrahman tidak merasa cukup dengan berbagai hibah dan pemberian yang begitu melimpah yang ia berikan selama hidupnya, namun ia juga mewasiatkan sedekah dalam jumlah yang besar yang hari dikeluarkan setelah wafatnya. Ia meninggalkan harta yang sangat banyak untuk ahli warisnya, namun ia juga mengikat tangan mereka dalam bagian yang telah ia tentukan. Ia meminta mereka untuk mengeluarkan bagian tersebut, dan menginfakkannya di jalan yang mulia yang telah ia tetaapkan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf mewasiatkan lima puluh ribu dinar di jalan Allah, setiap orang mendapat bagian darinya sebanyak seribu dinar.”

Dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh nya dan juga Ibnu Asakir dari Az-Zuhri berkata, “Abdurrahman bin Auf berwasiat untuk pejuang Badar yang masih tersisa, masing-masing sebanyak empat ratus dinar, dan jumlah mereka saat itu seratus orang. Mereka pun mengambilnya. Utsman termasuk di antara yang mengambil bagiannya, sementara ia adalah khalifah!”

Utsman bin Affan yang kaya dan terhormat mengambil bagiannya dari harta tersebut. Dan saat ditanya tentang itu ia berkata, “Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dam memakannya membawa keselamatan dan keberkahan.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Az-Zuhri berkata, “Abdurrahman mewasiatkan seribu kuda di jalan Allah.”

6. Membebaskan budak

Abdurrahman terus mengikuti semua jalan kebaikan yang dapat dilaluinya untuk berinfak. Ia membangun sebuah pondasi kebaikan dalam masyarakat muslim. Ia merupakan contoh tertinggi dan teladan yang patut diikuti oleh setiap muslim yang kaya dalam berinfak dan saling berlomba dalam sedekah. Abdurrahman mendapati bahwa salah satu tujuan tertinggi dari Islam adalah membebaskan manusia dengan cara menghancurkan belenggu perbudakan, serta mengangkat manusia menuju jenjang kemuliaan yang terdapat dalam kebebasan sebagaimana setiap manusia dilahirkan dalam keadaan tersebut. Maka ia pun membuka tangannya untuk itu. Ia menorehkan banyak peran yang mengagumkan, yang mencerminkan kebaikan, rasa cinta, dan kasih sayang. Ribuan jiwa telah ia bebaskan, dan untuk itu ia telah mempersembahkan apa yang tidak mungkin kita dapatkan dalam lembaran sejarah, kecuali pada diri segelintir orang.

Dan dalam hal ini, ia memulainya dari ibunya Asy-Syifa Radhiyallahu Anha, yang wafat pada masa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam, dan tentunya dialah yang paling berhak menerima kebaikan, dijaga hubungan dengannya, dan sedekah atas namanya. Maka Abdurrahman pun membebaskan banyak budak sebagai sedekah atas nama ibunya, dan sebagai bakti kepadanya. Disebutkan Ibnu Sa’ad dalam biografinya, “Asy-Syifa ibu dari Abdurrahman termasuk di antara mereka yang hijrah, dan karenanya lah terdapat sunnah memerdekakan budak atas nama orang yang sudah meninggal. Ia wafat pada masa hidup Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian Abudurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membebaskan budak atas nama ibuku?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya boleh”,maka ia pun membebaskan budak atas nama ibunya.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dari Ja’far bin Burqan berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasanya Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan tiga puluh ribu rumah.” Dan dalam riwayat lain, “Tiga puluh ribu jiwa.”

7. Rasa Takutnya, Kelembutan Hatinya, Sikap Tawadhu’nya, dan Keindahan Akhlaknya

Dengan seluruh perbuatannya yang mulia, kiprahnya yang terpuji, pemberian yang begitu banyak, dan kebaikannya yang tak pernah putus, Ibnu Auf seringkali membayangkan keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta kesempitan hidup yang beliau jalani. Ia juga melihat keadaan para saudaranya yang terdahulu, mereka yang telah lebih dahulu pergi dan harta kekayaan dunia belum pernah dibukakan untuk mereka. Ia khawatir jika termasuk kepada mereka yang disegerakan baginya nikmat, sementara saudara-saudaranya yang lain mendahuluinya dengan berbagai kenikmatan di surga. Ia merasa malu atas harta yang terus mengalir di tangannya, dan yang ia infakkan dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia takut telah melalaikan kewajibannya di hadapan agamanya, saudara-saudaranya, dan masyarakatnya, maka ia selalu memohon kepada Allah agar membebaskan nya dari noda kekikiran. Sebagaimana ia merasa khawatir jika ada sesuatu dalam dirinya ketika mendapat berbagai pujian dari manusia ketika mereka melihatnya menginfakkan banyak harta, atau ketika mereka mendengarnya mewasiatkan banyak sedekah.

Ia terus berusaha menggapai jenjang yang lebih tinggi dengan jiwanya guna mendapat keteguhan dalam jalannya, serta terus menerus meningkatkan keikhlasan kepada Allah Ta’ala. Semua itu ia lakukan dengan harapan amalnya diterima, karena hanya miliki Allah lah segala keutamaan yang telah memberinya dan meluaskan pemberian nya, dan memudahkannya untuk memberi dan berinfak dengan banyak sarana. Ibnu Auf tetaplah seorang hamba yang khawatir, takut, mengharap, dan memohon kepada Allah agar seluruh amalnya tertulis dalam catatan amalnya yang diterima, hingga ia bisa memperoleh kemenangan dan kebahagiaan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir mereka, dan Ibnu Asakir dalam kitab Sejarahnya, dari Abu-Hayyaj Al-Asadi berkata, “Saat aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah, aku melihat seorang laki-laki yang berkata, “Ya Allah, jagalah aku dari kekikiran jiwaku, tidak lebih dari itu.” Maka aku menanyakan itu kepadanya. Ia menjawab, “Sesungguhnya jika aku di jaga dari kekikiran jiwaku maka aku tidak akan mencuri, tidak akan berzina, dan tidak akan melakukan hal-hal buruk lainnya, dan ternyata ia adalah Abdurrahman bin Auf.”

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang menganggapnya hadits hasan, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Kita diuji dengan kesulitan pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kita mampu bersabar, kemudian kita diuji dengan kesenangan setelah beliau dan kita tidak mampu bersabar.”

Dan dirawayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Abu Nu’aim, Ibnu Abdil Barr, dan yang lainnya, dari Naufal bin Iyas Al-Hudzali berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah kawan duduk kami, dan ia adalah kawan duduk yang baik. Suatu hari ia mengajak kami, dan ketika telah masuk rumahnya, ia masuk dan mandi. Lalu ia keluar dan duduk bersama kami. Ia menghidangkan untuk kami mangkuk yang berisi roti dan daging. Ketika makanan itu diletakkan, Abdurrahman menangis. Aku berkata, “Wahai Abu Muhammad, apa yang membuatmu menangis?” ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah meninggalkan dunia tanpa pernah merasa kenyang oleh roti gandum, begitu juga keluarga beliau. Andai saja kita diakhirkan untuk mendapatkan semua ini demi sesuat yang lebih baik bagi kita.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dala’il, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf dihidangkan makanan, dan saat itu ia sedang berpuasa, maka ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah gugur dan ia lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah, jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya.” Lalu aku melihatnya berkata, “Dan Hamzah juga telah gugur dan ia lebih baik daripadaku. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya,” atau ia mengatakan, “Telah diberikan kepada kami dunia sebanyak-banyaknya”, Sungguh kami khawatir sekiranya pahala kebaikan kami telah didahulukan kepada kami. “Lalu ia menangis dan meninggalkan makanannya!”

Dan dalam riwayat lain, “Aku khawatir jika pahala kebaikan kami telah diberikan pada kehidupan dunia ini, lalu ia menangis.”

Adapun ucapannya, “Dan ia lebih baik daripadaku”, merupakan bukti dari sikap tawadhu’nya Radhiyallahu Anhu, dan penjelasan tentang keutamaan mereka yang syahid pada masa hidup Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, seperti Hamzah dan Mush’ab.

Kekayaan Ibnu Auf yang begitu luas, pemberiannya yang mulia, serta sedekah-sedekahnya yang berlimpah, tidak menimbulkan kesombongan walau sebesar biji zarah pun di dalam jiwanya yang takwah dan bersih. Tawadhu’ adalah akhlak orang-orang besar. Dan tidak akan menyombongkan diri kecuali orang kerdil yang tertipu dan hatinya telah terbalik. Adapun Abdurrahman, hatinya telah dibasuh dengan cahaya Al-Qur’an dan dipenuhi oleh keimanan. Jika ada orang yang tidak mengenalnya melihat berada diantara budak-budaknya maka ia akan mengira bahwa ia adalah salah satu dari mereka. Dan beginilah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan para shahabatnya dulu, beliau tidak membedakan diri dari mereka.

Sa’ad bin Al-Hasan berkata, “Abdurrahman bin Auf tidak bisa dibedakan dari budak-budaknya!”

Kita bukan hendak mengangkat para shahabat Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam ke derajat para Malaikat. Kita juga tidak menafikan bahwa mereka juga mempunyai kesalahan, atau menganggap masyarakat mereka bersih dari pertentang, perbedaan, dan perselisihan pendapat, ataupun hal-hal lainnya. Mereka sama sekali tidak terjaga dari kekhilafan, dan Islam juga tidak menghendaki mereka melepaskan sisi kemanusian mereka. Karena itu berarti menghapus kepribadian mereka dan mencabut mereka dari fitrah mereka sebagai manusia! Al-Qur’an mengangkat mereka untuk berada di atas hawa nafsu, atau dari terjerumus ke dalam jurang permusuhan. Para shahabat juga saling berbeda pendapt dan berselisih pada saat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih berada di tengah-tengah mereka dan Al-Qur’an masih turun di antara mereka, namun Al-Qur’an sama sekali tidak mencela mereka karena itu. Al-Qur’an turun untuk mengarahkan fitrah dan insting mereka, serta menyatukan berbagai perbedaan mereka dalam kerukunan yang tidak dinodai oleh pertentangan. Dan mendorong mereka untuk menerima perbedaan dengan lapang dada, sehingga masing-masing bisa menghargai kepribadian saudaranya, dan juga pendapat dan ijtihadnya. Semua bertujuan untuk mencapai kebenaran, dan kesanalah mereka menuju, dan dengan talinya mereka saling berpegangteguh.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib berkata, “Suatu ketika terjadi perselisihan antara Thalhah dan Abdurrahman bin Auf. Lalu Abdurrahman datang menjenguknya, maka dikatakan kepadanya, “Abu Muhammad Abdurrahman ada pintu”, ia berkata, “Apakah ia masih datang setelaah apa yang terjadi di antara kami?! Persilahkan ia masuk.” Setelah ia masuk, Thalhah berkata kepadanya, “Demi Allah, engkau lebih dariku, karena jika engkau yang saat ini sakit aku tidak akan menjengukmu.”

Dengan kemuliaan akhlak inilah mereka terdidik. Abdurrahman sama sekali tidak memutuskan hubungan dengan saudaranya walaupun di antara mereka telah terjadi perselisihan. Thalhah pun menyambut kedatangan Abdurrahman untuk menjenguknya, dan berterus terang kepadanya bahwa ia lebih baik darinya karena jika ia yang sakit, ia tidak akan menjenguknya. Ia sama sekali tidak berpura-pura atau bertele-tele karena gerak-gerik mereka telah mengatakan apa yang ada di dalam batin mereka, dan perbuatan mereka merupakan cerminan dari niat mereka, Radhiyallahu Anhum.

Dan diantara bentuk sikap bertakwa dan kesempurnaan keikhlasan seorang Abdurrahman bin Auf, serta ketulusan hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya, bahwa ia jika mendatangi kota Mekah, ia sama sekali tidak tinggal di rumah yang tinggalkan dulu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir dari Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Jika Abdurrahman bin Auf mendatangi kota Mekah, ia tidak ingin tinggal di rumah yang telah ia tinggalkan saat hijrah.”

8. Keringanan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam baginya untuk memakai sutera, dan sebuah kejadian diantaranya dengan Al-Faruq

Diriwayatkan oleh Ahmad, dan As-Sittah, dan yang lainnya, dari Qatadah, bahwasanya Anas menceritakan kepada mereka, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai baju sutera karena penyakit gatal yang mereka derita.”

Dan dalam riwayat lain dari Anas, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf dan Zubair mengadu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang penyakit gatal yang disebabkan kutu, maka beliau memberi keringanan bagi mereka untuk memakai sutera. Dan aku melihat mereka memakainya dalam suatu peperangan.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Musaddad dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata, “Ibnu Auf mendatangi Umar dengan memakai sutera, maka Umar berkata, “Dikatakan kepadaku bahwasanya orang yang memakai sutera di dunia tidak akan dapat memakai di akhirat. Maka Abdurrahman berkata, “Sesungguhnya aku berharap dapat memakainya di dunia dan akhirat.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Saa’ad dan Ahmad bin Mani’ dengan isnad yang didalamnya terdapat seorang laki-laki yang lemah, dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Abdurrahman bin Auf mengadukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang banyaknya kurap di tubuhnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk memakai baju dari sutera?” maka beliau mengizinkannya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan juga Abu Bakar wafat, dan Umar menjadi khalifah, Ibnu Auf dan putranya Abu Salamah yang memakai baju dari sutera mendatangi Umar. Maka Umar berkata, “Apa ini? Lalu ia memasukkan tangannya ke kantung baju dan merobeknya ke bawah. Maka Abdurrahman berkatanya, “Tidakkah engkai mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menghalalkannya untukku?!” ia berkata, “Sesungguhnya beliau menghalalkannya untukmu karena engkau menderita penyakit kurap, adapun orang lain maka tidak boleh.”

9. Sejenak bersama Abdurrahman dalam berbagai sedekah dan infaknya

Islam berusaha membentuk sebuah masyarakat yang bersih, saling melengkapi, dan saling mendukung dalam naungan cinta, serta mengikat setiap individu dalam masyarakat dengan jalinan kasih sayang. Islam juga mempersaudarakan mereka dengan ikatan iman, serta menciptakan asas ukhuwah imaniyah di dalam hati mereka dengan saling mengasihi, saling mencintai, dan saling menyayangi. Dan juga menghilangkan rasa egois dari dada mereka, lalu menggantinya dengan sikap mendahulukan orang lain dengan berbagai macam bentuknya. Dengan demikian diharapkan terciptanya masayrakat yang solid, bagaikan satu tubuh yang saling menguatkan.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah membangun masyarakat tersebut dalam bentuk yang sangat ideal, di mana rasa cinta diantara individunya mencapai tingkat di mana mereka saling berbagi rasa persaudaraan dan kasih sayang untuk saling membantu dan menguatkan satu sama lain. Sudah selayaknya rasa cinta yang ada di dalam hati setiap muslim terhadap saudaranya sebagaimana rasa cintanya kepada dirinya sendiri.

Maka beliau pun menegakkan semua perilaku yang dapat membangun sikap tersebut, dan menganjurkannya, serta menjanjikan pahala yang banyak bagi siapapun yang melakukannya, dan bahkan melipat gandakan ganjarannya. Dan sebaliknya, beliau juga memerangi segala bentuk perbuatan jelek dan akhlak yang buruk yang akan menggerogoti pondasi masyarakat tersebut, dengan meminta mereka menghindarinya dan menjanjikan balasan yang pedih bagi mereka yang melakukannya.

Di antara akhlak yang mulia tersebut adalah dengan mengeluarkan harta di jalan yang baik dan terpuji, serta membebaskan para budak dari belenggu perbudakan, dan membantu masyarakat muslim dalam megokohkan pondasinya dan membangun peradabannya.

Di dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dan kitab-kitab lainnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja yang membebaskan seorang budak muslim, maka Allah akan membebaskan setiap bagi tubuhnya dari api neraka.”

Dan dalam Ash-Shahihain dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bersabda, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh ada rasa iri kecuali dalam dua hal : Seorang laki-laki yang dikaruniai oleh Allah dengan harta yang banyak dan kemudian ia menghabiskannya dalam kebenaran, serta seorang laki-laki yang diberikan ilmu oleh Allah dan ia menggunakannya untuk memutuskan hokum dan mengajarkannya.”

Dan diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang menyumbangkan seekor kuda di jalan Allah, karena keimanan kepada Allah dan keyakinan akan janji nya, maka makanannya, minumannya, kotorannya, dan air seninya akan dimasukkan ke dalam timbangannya pada hari kiamat.”

Dan diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’I dari Abu Mas’ud Al-Badri Radhiyallahu Anhu berkata,“Seorang laki-laki datang membawa seekor unta lengkap dengan tali kekangnya, dan berkata, “Ini aku sedekahkan dijalan Allah”, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau akan mendapatkan balasan pada hari kiamat berupa tujuh ratus ekor unta, dan semuanya lengkap dengan taali kekangnya.”

Dan di dalam Ash-Shahihhain, serta kitab-kitab lainnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerima nya dengan tangan kanannya lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung.”

Dan diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan dua jenis (berpasangan)124 dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga ; (lalu dikatakan keoadanya), Wahai hamba Allah, inilah kebaikan (dari apa yang kamu amalkan).” Maka barangsiapa berasal dari kalangan ahli shalat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan barangsiapa dari kalangan ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, dan barangsiapa dari kalangan ahli sedekah maka dia akan dipanggil dari pinti sedekah, dan barangsiapa dari kalangan ahli puasa maka dia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan”. Lantas Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bertanya, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan kepadamu wahai Rasulullah, jika seseorang dipanggil dari satu pintu dari pintu-pintu yang ada, itu sebuah kepastian! Namun apakah mungkin seseorang akan di panggil dari pintu itu semua?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Benar, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka.”

Hadits-hadits mulia yang banyak ini semua berada pada tingkat tertinggi dari derajat shahih, dan Abdurrahman Radhiyallahu Anhu telah mendapatkan kebaikan dari semuanya. Sedekahnya yang begitu banyak telah berhasil memberangkatkan banyak pasukan berkuda, dan yang tertinggi adalah kebaikannya yang tak pernah putus kepada ummahatul mukminin Radhiyallah Anhunna. Seluruh bentuk sedekah ini akan ditumbuhkan oleh Allah hingga buahnya akan seperti gunung dan bahkan lebih besar. Maka berapakah jumlah pahala dari sedekahnya yang mencapai jutaan banyaknya?!

Dengan memberangkatkan seribu kuda di jalan Allah, maka ia akan mendapatkan pahala dari makanannya, minumannya, kotorannya, air seninya, yang semuanya akan diletakkan dalam timbangan kebaikannya pada hari kiamat. Dan dari setiap kuda ia akan mendapat balasan sebanyak tujuh ratus ekor kuda dari Allah ayang akan memberikan ganjaran untuknya tanpa dihitung.

Juga dengan memerdekakan budak dan hamba-hamba sahaya, ia mendapatkan kabar gembira dari NabiShallallahu Alaihi wa Sallam yang menyampaikan dari tuhannya bahwa ia akan dijauhkan dari neraka dengan setiap budak yang dimerdekakannya. Sementara Ibnu Auf telah memerdekakan lebih dari tiga puluh ribu budak, maka pahala yang didapatnya tidak bisa digambarkan dan tak terhitung. Dan selamat atasnya untuk itu.

Ia juga telah menorehkan berbagai kiprahnya dalam berjihad di jalan Allah, di mana ia tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Begitu juga dengan shalatnya, puasanya, hajinya, ia telah mendapatkan pahala yang sangat banyak dari ibadah-ibadah tersebut.

Maka Abdurrahman akan di panggil Insya Allah dari seluruh pintu-pintu ibadah dan amalan yang telah ia lakukan.

Berbagai sisi kemuliaan yang telah kami sebutkan pada pribadi shahabat mulia ini, dan berbagai hadits shahih yang telah kami sebutkan yang menerangkan besarnya pahala bagi mereka yang mengerjakan amalan-amalan tersebut, menjadi bukti atas sabda Nabi yang benar dan sangat jelas bahwasanya Ibnu Auf akan termasuk ke dalam golongan mereka yang terdepan, yang akan melewati shirath laksana kilat yang menyambar, Insya Allah.

D. Ilmunya dan Hadits-Hadits yang Diriwayatkannya

Kebersamaan Abdurrahman bin Auf dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentang selama masa kenabian. Ia menemani beliau di Mekah dan Madinah, menghadiri mejelis-majelis beliau, dan menyertai hari-hari beliau bersama para shahabat dan kaum muslimin lainnya, sementara beliau mengajarkan syariat kepada mereka, mendidik mereka, dan mengarahkan mereka kepada jalan-jalan hidayah. Ibnu Auf juga berjihad di bawah panji beliau, dan tak pernah sekalipun absen dari seluruh peperangan yang beliau ikuti. Ia belajar langsung dari Al-Qur’an dari beliau saat diturunkannya, mengambil sunnah langsung dari lisan beliau, dan mendengar banyak sekali hadits selama masa yang membentang selama lebih kurang dua puluh tahun tersebut.

Di antara bukti keluasan ilmunya adalah dia merupakan salah seorang yang memberikan fatwa pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masa tiga khulafaur rasyidin setelah beliau. Umar dengan kadar keilmuan yang dimilikinya dan kedudukannya dalam ilmu juga mendatanginya pada banyak kesempatan, dan mendapatkan ilmu yang ia pelajari sebagiannya pada seorang alim umat ini yaitu Abdullah bin Abbas.

Namun riwayat yang dapat ditemukan dari Ibnu Auf tidak lebih dari 65 hadits saja. Ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan rentang waktu kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun keadaan ini juga dijumpai pada banyak shahabat yang seperti Abdurrahman Radhiyallahu Anhu.

Dan penjelasan tentang hal ini mudah sebagaimana yang dapat dilihat oleh penulis. Pada masa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam, Abdurrahman adalah salah seorang pembantu dan pembela beliau, yang sibuk dalam menyampaikan dakwah dan risalah. Dan pada masa tiga khalifah, ia adalah salah satu pondasi dalam tegaknya negara Islam, serta salah seorang penasehat terdekat dan terpercaya pada masa para khalifah. Dan ini dikuatkan dengan pencalonannya untuk jabatan kepemimpinan tertinggi serta pemilihan Utsman setelah Umar. Juga kedudukannya sebagai pemimpin haji pada lebih dari satu kesempatan, hajinya bersama ummahatul mukminin, dan semua itu tentnya mengambil banyak sekali waktunya.

Dan salah satu bukti yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, sunnah, dan fikih, adalah penyerahan kepemimpinan haji kepadanya pada masa Umar dan Utsman. Kedudukan yang mulia ini tidak akan diserahkan kecuali kepada orang yang merupakan penghulu para ulama, dan mempunyai pengetahuan yang luasa dalam manasik haji. Itu adalah hari-hari di mana jabatan begitu dihormati dan sakral, yang tidak didapat dengan rekomendasi kezhaliman, juga tidak bergantung kepada dekat atau jauhnya hubungan dengan para penguasa. Hari-hari di mana amanah diberikan kepada yang berhak dari orang-orang yang terhormat, yang mempunyai kelayakan dan kontribusi yang mulia. Dan hari-hari dimana masalah hukum serta urusan umat tidak diserahkan kepada orang-orang bodoh yang tidak berilmu dan kemudian berbicara tentang urusan umat tanpa adanya kemampuan.

Semua itu ditambah lagi dengan fakta bahwasanya banyak waktu Abdurrahman digunakan untuk mengembangkan hartanya, mengurus perniagaannya, serta mengurus pengeluarannya di berbagai bentuk amal dan membantu kaum muslimin.

Karena berbagai sebab itulah Abdurrahman tidak bisa memimpin majelis-majelis ilmu, atau memberikan seluruh waktunya dalam kelompok-kelompok pengajian untuk menyebarkan dan mengajar ilmu. Ia juga telah melihat banyak pemuda dari kalangan shahabat dan ulama yang cukup untuk mengemban pekerjaan yang mulia ini.

Dan masyarakat muskim tidak hanya tegak dengan ulama saja, sebagaimana tidak dapat ditegakkan oleh para pedagang saja, karena setiap orang akan berjalan sesuai jalurnya.

Dengan bertemunya berbagai bakat dan adanya berbagai kontribusi yang saling melengkapi dan tujuan yang saling menguatkan, maka muncullah satu kelompok yang saling menyempurnakan dan sebuah masyarakat yang lurus. Yang berdiri dari khalifah dan para pembantunya, ulama dan pedagang, yang kaya dan yang miskin, laki-laki dan perempuan, para mujahidin dan para pekerja, serta berbagai kelompok sosial lainnya.

1. Hadits-hadits yang diriwayatkannya

Disebutkan oleh sekelompok ulama, di antaranya Ibnu Hazm, An-Nawawi, dan Adz-Dzahabi bahwasanyaKutuh As-Sittah (enam kitab hadits) meriwayatkan 65 hadits dari Abdurrahman.

Abdurrahman meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dari Umar bin Khaththab.

Dan kalangan shahabat yang meriwayatkan hadits darinya antara lain Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Jubair bin Muth’im, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Al-Miswar bin Makhramah Radhiyallahu An-hum.

Dan dari anak-anaknya Ibrahim, Humaid, Umar, Mush’ab, dan Abu Salamah.

Dan putra dari anaknya Al-Maswar bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf.

Dan juga meriwayatkan darinya yakni Bajalah bin Abdah, Raddad Al-Laitsi, Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, Qabishah bin Duz’aib, Malik bin Aus bin Al-Hadatsan, serta yang lainnya.

Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Asy-Syaikhani, dan yang lainnya, dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya Umar bin Khaththab berangkat menuju Syam. Ketika sampai di Sargh ia ditemui oleh para panglimanya Abu Ubaidah bin Jarrah beserta para shahabatnya dan mereka memberitahunya bahwa sebuah wabah penyakit tengah menyebar di negeri Syam. Ibnu Abbas berkata, Maka Umar berkata, “Panggilkan untukku kelompok Muhajirin yang pertama”, mereka pun datang dan Umar bermusyawarah dengan mereka, Kemudian ia berkata, “Panggilkanlah para shahabat Anshar untukku.” Maka aku memanggil mereka dan Umar bermusyawarah dengan mereka” Kemudian Umar bermusyawarah dengan tetua Quraisy, lalu ia membuat keputusan untuk membawa rombongannya kembali dan tidak membawa mereka kepada wabah tha’un yang tengah menyebar di dataran rendah Jordaniah. Dan di akhir riwayat disebutkan, “Lalu datangilah Abdurrahman bin Auf, ia sempatkan tidak hadir karena suatu keperluan. Kemudian ia berkata, “Aku memiliki sebuah ilmu dalam hal ini. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika engkau mendengar suatu wabah di sebuah negeri maka janganlah kalian memasukinya, namun jika itu terjadi di sebuah negeri dan kalian telah berada di dalamnya, maka janganlah melarikan diri darinya.” Maka Umar memuji Allah dan berlalu.”125

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Kuraib pembantu Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas berkata, “Aku pernah duduk bersama Umar saat ia menjabat sebagai khalifah, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau pernah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau dari salah seorang shahabatnya sebuah hadits yang menyebutkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika seorang lupa di dalam shalatnya?” Aku menjawab, “Tidak, tidakkah engkau pernah mendengarnya wahai amirul mukminin?” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Apa yang sedang kalian bicarakan?” maka Umar berkata, “Aku bertanya kepadanya, apakah ia pernah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau daru salah seorang shahabatnya sebuah hadits yang menyebutkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika seseorang lupa di dalam shalatnya?” Maka Abdurrahman berkata, “Aku memiliki ilmu tentang itu.”Umar berkata, “Katakanlah, engkau adalah orang yang adil dan diridhai.” Maka Abdurrahman berkata.” Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian ragu apakah ia telah mengerjakan dua rakaat, maka pilihlah yang satu rakaat. Dan jika ia ragu antara tiga dan empat maka hendaklah ia mengambil yang tidak rakaat, kemudian ia menyempurnakan yang tersisa dari shalatnya, sehingga keraguannya terdapat dalam tambahan rakaat. Setelah itu hendaklah ia melakukan sujud dua kali saat ia duduk sebelum salam.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya, dari Amru bin Dinar, ia telah mendengar Bajalah bin Abdah berkata, “Dulu aku adalah sekretaris Jaza’ bin Muawiyah paman dari Al-Ahnaf bin Qais. Lalu datang sebuah surat dari Umar setahun sebelum wafatnya, yang memerintahkan untuk membunuh setiap penyihir laki-laki dan wanita, dan pisahkan dua orang suami istri yang muhrim dari kaum majusi dan agar melarang mereka mengeluarkan suara dari hidung ketika makan, Maka kami membunuh tiga orang penyihir dan kami pisahkan suami istri yang berasal dari muhrim menurut kitabullah. Lalu Jaza’ membuat makanan yang banyak dan meletakkan pedang di atas pahanya. Kemudian ia mengundang orang-orang majusi, dan mereka makan tanpa mengeluarkan suara dari hidung. Sebelumnya Umar tidak mengambil atau menerima jizyah dari orang-orang majusi, hingga kemudian Abdurrahman bin Auf bersaksi bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengambilnya dari kaum majusi di Hajar.”126

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Alhakim dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Qarizh, “Bahwasanya ia masuk menemui Abdurrahman bin Auf saat ia sakit, maka Abdurrahman berkata kepadanya, “Engkau telah menemukan kasih sayang. Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Akulah rahman yang maha pengasih, aku telah menciptakan Rahim (kasih sayang), dan memberinya nama dari nama ku. Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Aku sambungkan pula baginya dan barang siapa yang memtuskannya, maka akan Aku putuskan hubunganku dengannya.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, An-nasa’I, dan Ibnu Majah, dari An-Nadhr bin Syaiban berkata, “Katakanlah kepadaku tentang suatu hal yang engkau dengar dari ayahmu mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan tidak ada seorangpun perantara ayahmu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang bulan Ramadhan, dan aku sunnahkan atas kalian shalat pada malamnya. Maka barang siapa yang berpuasa dan shalat malam pada bulan itu dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”

2. Pemahaman Agamanya

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Niyar Al-Aslami, dari ayahnya berkata, “Abdurrahman adalah salah seorang yang memberikan fatwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga pada masa Abu Bakar, Umarm dan Utsman, sesuai dengan apa yang telah didengarnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ibnu Hazm Menyebutkan nama-nama shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memberikan fatwa, dan mereka ada dalam tiga kelompok : Yang banyak mengeluarkan fatwa, yang menengah, dan yang sedikit mengeluarkan fatwa. Di antara yang menengah adalah Abu Bakar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya. Ibnu Hazm berkata, “Mungkin hanya sebagian kecil saja yang bisa dikumpulkan dari fatwa masing-masing mereka.”

Syaqiq bin Salamah meriwayatkan dari Abu Jarir Al-Bajali berkata, “Kami keluar dalam keadaan berihram, lalu aku melihat seorang arab badui yagn membawa kijang, maka aku membelinya darinya dan menyembelihnya dan lupa akan kepadaanku. Lalu aku mendatangi Umar dan menceritakan masalahku kepadanya, maka ia berkata, “Datangilah beberapa saudaramu dan biarkan mereka menentukan hukum kepadamu. Maka aku mendatangi Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Malik, dan mereka menghukumku dengan membayar seekor kambing jantan.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Qubaishah bin Jabir Al-Asadi salah seorang dari fuqaha Kufah ia berakata, “Aku berada dalam keadaan berihram, lalu aku melihat seekor kijang, maka aku memanahnya dan ia mati. Aku merasa tidak tentram karenanya. Maka aku mendatangi Umar bin Khaththab untuk bertanya kepadanya. Aku mendapati seorang laki-laki putih dengan wajah lembut berada disampingnya, dan ternyata ia adalah Abdurrahman bin Auf. Lalu aku bertanya kepada Umar, ia menoleh kepada Abdurrahman dan bertanya, “Menurutmu seekor domba betina cukup untuknya?” ia berkata, “Ya, cukup.” Maka ia pun menyuruhku untuk menyembelih seekor domba betina.”

3. Penyebaran Ilmu pada Keturunannya

Disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat, dan juga Mush’ab Az-Zubairi dalam Nasab Quraisy,sejumlah besar anak-anak Abdurahman dan juga cucu-cucunya dan yang setelah mereka. Lalu Ibnu Hazm mengutipnya dalam Jamharah Ansab Al-Arab dan sekaligus menyingkat perkataan mereka berdua dan juga menambahnya. Ia membuat sebuah bab khusus yang menyebutkan jumlah besar dari keturunan Ibnu Auf. Mereka adalah para pemimpin Quraisy dan tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat. Nama mereka terpampang dalam banyak medan kepemimpinan dan keutamaan. Banyak di antara mereka yang menjadi gubernur, menteri, toko terhormat, hakim, ahli hadits, ahli fikih, dan yang lainnya. Mereka juga menyebar di bagian Timur dari wilayah Islam maupun di bagian Baratnya.

E. Keutamaannya dan Jaminan Surga Untuknya

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan shahabat yang mulia ini, Abu Muhammad, dengan berbagai kemuliaan dan menghiasinya dengan banyak keutamaan dan kelebihan yang tinggi, serta memberinya banyak kabar gembira yang berharga.. Allah membukakan jalan baginya untuk beriman dan membernarkan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallamsejak beliau memproklamirkan dakwahnya dan menyeru manusia untuk menyembah Allah serta mencampakkan semua sekutu selainnya. Maka Abdurrahman merupakan salah seorang yang paling pertama memeluk Islam. Ini merupakan inti dari segala keutamaan dan tonggak dari segala kemuliaan yang melandasi sebuah ikatan yang sangat kuat. Dan kemudian memberinya peluang untuk melakukan berbagai kiprah yang terpuji, dan memahkotainya dengan banyak kontribusi yang mulia sepanjang lebih dari dua puluh tahun yang dilewatinya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga sebelas tahun setelah kepergian beliau.

Ibnu Auf Radhiyallahu Anhu termasuk kelompok yang pertama yang membentuk sebuah komunitas penuh berkah yang terdiri dari orang-orang yang beriman sebelum masuknya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ke rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam. Dan juga diantara mereka yang merupakan dua kali hijrah, yaitu ke Habasyah dan Madinah, dan dikeluarkan dari negeri mereka serta harta-harta mereka karena membela Allah dan Rasul nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia juga ikut dalam perang Badar. Dan d antara mereka yang melakukan Bai’atur Ridhwan yang telah diridhai oleh Allah. Dia juga salah seorang dari sepuluh shahabat yang dijamin masuk surge oleh Rasulullah dalam satu hadits. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallampernah shalat di belakangnya. Dan saat beliau wafat, beliau dalam keadaan ridha kepadanya. Ia termasuk diantara enam anggota majelis syura yang diwasiatkan Umar untuk dipilih menjadi khalifah. Salah seorang tokoh besar yang memperhatikan istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah wafatnya beliau. Dan ia juga terhitung di antara mereka yang menghabiskan harta mereka untuk berinfak dan bersedekah serta mempersiapkan mujahidin untuk berbagai penaklukan. Serta di antara mereka yang paling dikenal dalam memerdekakan para budak dan membebaskan mereka karena Allah.

Kumpulan keistimewaan dan keutamaan ini, yang baisanya tersebar di banyak individu, semuanya terkumpul pada diri Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu.

1. Keistimewaan dan Keutamaannya

Keistimewaan yang pertama adalah termasuk di antara orang yang terdahulu masuk Islam, keimanannya yang tulus kepada Allah, mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kondisi dakwah yang terberat sekalipun, dan ketabahannya dalam menanggung berbagai siksaan demi agama dan akidahnya. Maka ia, dan orang-orang sepertinyalah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firmannya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”128

Ini adalah sebuah janji yang pasti dan jelas yang menjamin surga bagi para shahabat mulia tersebut, yang telah lebih dahulu memeluk agama yang baru, dan terus berjuang untuknya. Hingga ketika RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau dalam keadaan ridha kepada mereka, dan mereka pun kemudian menemui Tuhan mereka dengan mempertahankan janji yang telah mereka ikrarkan kepadanya.

Keistimewaannya yang kedua dan juga keutamaannya yang selanjutnya adalah ia merupakan salah seorang tokoh besar Muhajirin yang melakukan hijrah ke Habasyah dan juga ke Madinah Nabawiyah. Yaitu mereka yang terusir dari negeri mereka dengan zhalim dan dimusuhi dan disiksa di jalan Allah, serta meninggalkan seluruh harta mereka, keluarga mereka, dan kampung halaman mereka karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah. Maka Allah Azza wa Jalla memuliakannya dengan apa yang layak ia dapatkan. Dan Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam firmannya, (Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampong halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”129

Keistimewaan yang ketiga dari Ibnu Auf adalah keikutsertaannya dalam perang Badar Kubra bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan mereka ikut dalam peristiwa yang menentukan ini telah mendapatkan janji yang benar dari Allah melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebuah janji yang tidak akan dilanggar, yang berupa pengampunan dosa-dosa mereka yang terdahulu dan yang akan datang, serta kemenangan berupa surga.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dari Ali bin Abi Thalib, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Umar bin Khaththab, “Engkau tidak tahu mungkin saja Allah telah melihat kepada para pejuang Badar dan berkata, “Lakukanlah yang kalian mau, sungguh aku telah melampaui kalian!”. Dan dalam riwayat lain, “lakukanlah yang kalian mau, sungguh telah wajib bagi kalian surga.”

Lalu tibalah perjanjian Hudaibiyah. Abdurrahman turut keluar bersama pasukan kaum muslimin. Allah memberkahi pasukan yang terdiri dari para shahabat tersebut dengan sebua keistimewaan yang diidamkan oleh setiap muslim. Allah memuliakan mereka tas apa yang mereka peroleh, dan memuliakan kita dengan syafaat mereka serta kedekatan dengan mereka pada hari di mana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama beliau.

Merekalah pasuka Bai’atur Ridhwan yang telah membai’at Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di bawah pohon. Lalu turunlah ayat suci yang meneguhkan kejadian tersebut dan memuki mereka, serta menerangkan mereka, serta menerangkan tingginya kedudukan mereka yang mulia, Allah Ta’ala berfirman,“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahu apda yang ada dalam hati mereka, lalu dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.”130

Maka keutamaan apa lagi, dan keistimewaan yang mana lagi, serta kehormatan yang bagaimana lagi yang lebih tinggi dan lebih mulia dari keridhaan Allah terhadap hamba-hambanya?! Selama bagimu wahai Abu Muhammad, dan semoga Allah membahagiakanmu dengan apa yang telah dianugerahkannya untukmu.

Dan keistimewaan yang kelima diperolehnya pada perang diperolehnya pada perang Tabuk. Dan kami telah menyebutkan kisahnya dengan panjang lebar, dan riwayat itu terdapat dalam Ash-Shahihain dari hadits Al-Mughirah bin Syu’bah, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi untuk buang hajat lalu waktu subuh tiba dan kaum muslimin pun mengedepankan Abdurrahman sementara di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Maka ia pun mengimami mereka. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang dan masih mendapatkan rakaat yang kedua “Maka beliau pun melaksanakan rakaat kedua sebagai makmum bersama orang-orang. Setelah Abdurrahman salam, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamberdiri menyempurnakan shalatnya. Ini membuat kaum muslimin terkejut, dan bertasbih banyak-banyak. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyelesaikan shalatnya, beliau menghadap mereka dan berkata, “Kalian telah melakukan yang baik”.

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Di antara keistimewaan Abdurrahman yang tidak dimiliki oleh siapapun adalah: bahswasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat di belakangnya pada perang Tabuk ketika beliau datang dan Abdurrahman telah mengimami orang-orang sebanyak satu rakaat.”

Dan Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Dan telah jelas dalam Ash-Shahih bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah shalat di belakang nya pada rakaat kedua dari shalat subuh dalam sebuah perjalanan, dan ini adlaah sebuah keistimewaan agung yang tak tertandingi.”

Dan diantara keistimewaannya yang lain adalah pujian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuknya atas kebaikannya kepada istri-istri beliau yang suci, dan juga apa perhatiannya kepada urusan mereka. Telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Al-Bazzar, dan Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluargaku setelahku nanti.”

Dan berbagai pemberian dari Abdurrahman, juga infak, hibahnya yang begitu banyak terus diberikannya kpeada ummahatul mukminin tanpa putus. Bahkan Aisyah ketika menerima pemberian darinya, ia menyebutkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya urusan kalian merupakan salah satu hal penting aku pikirkan sepeninggalanku nanti, dan tidak aka nada yang bisa bersabar mengurus kalian nanti kecuali orang-orang yang bersabar.” Kemudian Aisyah berkata kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, “Semoga Allah memberi ayahmu minuman dari mata air Salsabil di surge.”

Dan ummul mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu Anha juga mendoakan hala yang sama untuknya.

Dan diantara keistimewaannya yang dapat dibanggkan adalah banyaknya sedekah dan infaknya kepada kaum muslimin, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak kesempatan. Juga jihadnya sebelum penaklukan kota Mekah maupun sesudahnya. Dan Allah telah menjanjikan kaum muslimin yang berinfak dan berjihad sebelum penaklukan kota Mekah dan juga setelahnya dengan pahala yang sangat besar, dengan mengedepankan yang terdahulu dari mereka. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang0orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”131

Berbagai keistimewaan Abdurrahman di atas, dan juga kelebihan-kelebihan lainnya telah diketahui oleh seluruh kaum muslimin, dan juga disaksikan oleh rekan-rekannya yang juga merupakan tokoh-tokoh terdepan dan mulia. Dan Amirul Mukminin Umar, dengan kecerdasan yang di anugerahkan Allah kepadanya, juga mengetahui dengan baik kedudukan Abdurrahman dan juga tokoh-tokoh shahabat terpilih lainnya. Maka ia memilih enam orang anggota majelis syura dari mereka, dimana ketika RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka. Ia menyerahkan penunjukan khalifah sepeninggalannya kepada mereka dan menunjuk Ibnu Auf menjadi salah seorang dari mereka. Bahkan ia berwasiat jika terjadi perselisihan maka hendaklah mereka mengikuti Abdurrahman dan kelompoknya. Dan situasi saat itu akhirnya membuat Ibnu Auf harus memilih khalifah bagi kaum muslimin, maka ia pun melakukannya – sebagaimana yang akan dijelaskan pada tempat tersendiri – dan kaum muslimin membai’at orang yang telah ia pilih untuk mereka. Itu merupakan bentuk kesaksian untuknya atas kepercayaan seluruh umat kepada agamanya, sikap wara’nya, amanahnya, kecerdasan akalnya, serta ketepatan pilihannya yang membawa kebaikan bagi kaum muslimin di dunia dan akhirat.

Di samping itu, Abdurrahman merupakan salah seorang dari golongan yang pertama dari kalangan shahabat, yang merupakan golongan yang paling mulia dari shahabat, dan yang paling tinggi kedudukannya, serta paling dihormati nama mereka.

Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama kita, bahwa shahabat yang paling utama adalah “Khalifah yang empat, kemudian enam orang selanjutnya yang menyempurnakan sepuluh, lalu para pejuang Badar, kemudian pejuang Uhud, dan setelah itu mereka yang turut serta dalam Bai’atur Ridhwan di Hudaibiyah.”

2. Jaminan Surga Untuknya

Diriwayatkan oleh Ahmad dan empat orang penulis Kutub Sunan Al-Arba’ah, dan juga Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan yang lainnya, lebih dari satu redaksi dari Sa’id bin Zaid Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku bersaksi untuk Sembilan orang bahwa mereka di surga, dan jika aku juga bersaksi untuk yang kesepuluh aku takkan berdosa. Dikatakan, “Bagaimanakah itu?” ia berkata, “Suatu kali kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di gunung Hira, lalu beliau berkata, “Tenanglah wahai Hira’, sesungguhnya tidak ada yang berada di atasmu melainkan seorang Nabi, atau seorang shiddiq, atau seorang Syahid.” Lalu dikatakan, “Siapakah mereka?” ia menjawab, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad dan Abdurrahman bin Auf.” Lalu dikatakan, “Siapakah yang kesepuluh?” ia menjawab, “Aku.”

Dan ini adalah hadits shahih yang dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan banyak lainnya.

Dan dalam riwayat lain dari Sa’id bin Zaid berkata, “Aku bersaksi dengan nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa sungguh aku telah mendengar beliau bersabda, “Sepuluh orang di surga, nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah bin Ubaidillah di surga, Zubair bin Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, dan Abdurrahman bin Auf di surga.” Dan jika aku mau, aku bisa menyebutkan yang kesepuluh. Mereka berkata, “Siapa dia?” tapi ia diam, mereka kembali bertanya “Siapakah dia?” Maka ia berkata, “Said bin Zaid.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Hibban, dan yang lainnya, dan di shahihkan oleh sekelompok kritikus, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sepuluh orang di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Zubair di surga, Zubair di surga, Thalhah di surga, Ibnu Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.”

3. Hadits-hadits lemah yang terdapat dalam masalah ini

Dari Umarah bin Zadzan, dari Tsabit Al-Bunani, dari Annas bin malik, “Bahwasanya Aisyah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.” Ketika Abdurrahman bin Auf mendengar ia berkata, “Jika aku bisa, aku akan memasukinya dengan berdiri.”

Dan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid dan juga oleh Ahmad, Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim. Dan di sanadnya terdapat (Umarah bin Zadzan), dan dia perawi yang lemah. Dan Ibnu Katsir serta Syu’aib Al-Arnauth telah melemahkan hadits karena keberadaannya.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan Abu Nu’aim melalui Khalid bin Yazid bin Abu Mali, dari ayahnya, dari Atha’ bin Abu Rabbah, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, dari ayahnya, “Dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya engkau adalah orang kaya, dan engkau tidak akan masuk surga kecuali dengan merangkak. Maka pinjamkanlah kepada Allah aga dia melepaskan kedua kakimu.” Ia berkata, “Apa yang harus kupinjamkan kepada Allah?” Beliau berkata, “Bebaskanlah dirimu dari keadaanmu saat ini.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, dari semuanya secara keseluruhan?” Beliau berkata, “iya.” Maka Ibnu Auf pun keluar dengan memikirkan itu. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim seseorang kepadanya dan berkata, “Jibril telah mendatangiku dan berkata, “Perintahkanlah Ibnu Auf untuk menjamu tamu, memberi makan orang miskin, memberi peminta-minta, dan hendaklah ia memulai dari orang yang menjadi tanggungannya, sesungguhnya jika ia melakukannya maka itu menjadi penolongnya dari keadaannya yang saat ini.”

Dan ini juga merupakan hadits yang lemah, karena Khalid bin Yazid telah dilemahkan oleh banyak orang. Ibnu Ma’in dan Ahmad juga berkata. “Ia bukanlah apa-apa”, dan An-Nasa’I berkata, “Ia tidak dipercaya.”

Dan Imam Ahmad berkata, telah bercerita kepada kami Al-Hudzail bin Maimum Al-Kufi, dari Muththarih bin Yazid, dari Ubaidillah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Aku memasuki surga dan aku mendengar sebuah suara di hadapanku, maka aku berkata, “Siapakah ini?” ia berkata, “Bilal”. Beliau berkata, “Maka aku terus berjalan, dan ternyata kebanyakan penduduk surga adalah kaum fakir dari Muhajirin dan juga keturunan laki-laki kaum muslimin. Dan aku tidak melihat kepadaku, “Adapun orang-orang kaya, mereka berada di pintu ini untuk dihitung dan diperiksa, sementara kaum wanita telah dilalaikan oleh dua hal yaitu emas dan perak.” Beliau berkata, “Kemudian kami keluar dari salah satu pintu surga yang delapan. Ketika aku berada di pintu, aku dibawa ke sebuah timbangan dan aku diletakkan di dalamnya, dan umatku diletakkan dalam sisi timbangan yang lain, dan bagianku lebih berat. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu didatangkan dan diletakkan salah satu sisi timbangan, dan seluruh umatku yang lain diletakkan dalam sisi yang lain, dan Abu Bakar lebih berat. Lalu umar didatangkan dan diletakkan dalam sisi yang lain, dan Umar Radhiyallahu Anhu lebih berat. Kemudian umatku ditampilkan satu persatu, dan mereka pun berjalan melwatiku. Lalu aku melihat Abdurrahman bin Auf berjalan dengan sangat lambat, dan dengan putus asa akhirnya ia tiba, maka aku berkata, “Abdurrahman!” maka ia berkata, “Demi ibu dan ayahku sebagai tebusanku padamu wahai Rasulullah, dan demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak sampai kepadamu kecuali setelah mengira bahwa aku tidak akan pernah melihatmu lagi selamanya kecuali setelah aku menjadi sangat tua”, beliau berkata, “Bagaimana bisa?” ia berkata, “Karena banyaknya hartaku, sehingga aku dihitung dan diperiksa.”

Dan ini juga merupakan hadits yang lemah, karena lemahnya (Muththarih bin Yazid, dan Ali bin Yazid Al-Alhani), dan Al-Hafizh Adz-Dzahabi telah menyebutkan hadits ini dalam biografi Abdurrahman bin Auf dalam kita Siyar A’lam An-Nubala’ dan kemudian ia mengomentarinya dan berkata, “Sanadnya lemah.”

Al-Hafizh Al-Haitsami juga menyebutkannya dua kali pada kita Majma’ Az-Zawa’id, dan berkata, “Di dalamnya terdapat Muththarih Dan Ali bin Yazid Al-Alhani, dan keduanya telah disepakati kelemahan mereka. Dan yang membuktikan kelemahan hadits ini bagimu bahwa Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang pejuang Badar, Hudaibiyah, dan salah seorang dari yang sepuluh, dan mereka adalah shahabat yang terbaik. Dan segala puji bagi Allah.”

Saya katakan, hadit-hadits ini selain lemah dari sisi sanadnya, juga lemah dai sisi matan hadits. Karena bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur’an dan banyak hadits-hadits shahih yang telah kami sebutkan di bagian sebelumnya. Cukuplah bagi Abdurrahman bahwa ia termasuk di antara yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali hijrah, termasuk pejuang Badar, ikut dalam Bai’atur Ridhwan, dan kemudian ia adalah tokoh di balik berbagai macam pemberian dan infak yang begitu banyak. Ia juga membebaskan banyak budak, serta banyak perbuatan mulia lainnya, seperti berdakwah, menyampaikan risalah, berjihad, shalat, haji, berbuat baik kepada ummhatul mukminin, dan amalam lainnya.

Duhai jika Abdurrahman bin Auf yang memiliki catatan yang penuh dengan amal mulia dan keutamaan yang akan selalu di ingat, lalu ia masuk surga dengan merangkak, lalu siapa yang akan memasukinya dengan berlari, atau seperti kuda-kuda yang melaju kencang?!

Orang yang mengamati amalan-amalan Ibnu Auf dan kisa hidupnya yang penuh berkah selama kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian dengan parah khulafaur rasyidin, dan menambahkannya dengan banyaknya kabar gembira untuknya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang suci dan juga dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, pastilah ia akan mengharapkan shahabat ini melewati shirath dengan amal shalihnya yang banyak – sebagaimana yang disebutkan dalam Ash-Shahihain maka ia akan berjalan di atas nya sekejap mata bagaikan petir yang menyambar.

F. Kedudukannya di Sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Para Shahabat yang Mulia

Perjalanan hidup Abdurrahman yang cemerlang ini, yang penuh dengan berbagai perbuatan yang mulia, dan dihiasi dengan keindahan akhlak dan perilakunya, sangat layak untuk mengangkat derajat yang empunya kepada posisi dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan juga di sisi manusia. Dan untuk meletakkannya di titik pujian dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, serta orang-orang yang beriman secara keseluruhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang terbaik yang mengetahui sifat manusia, dan mengetahui yang tersembunyi di dalam perasaan dan keinginan yang bergejolak di dalam diri mereka. Dan beliau adalah orang yang paling utama, paling tulus, dan yang paling mulia dalam menghargai oran-orang yang memiliki keutamaan, mengangkat mereka yang memiliki kehormatan, serta memberi pujian kepada orang-orang yang memiliki kiprah yang mengagumkan dan akhlak yang mulia. Begitu juga para shahabatnya yang terdidik langsung di bawah pengawasan beliau, dan lulus dari madrasahnya. Mereka mendahulukan orang yang berhak didahulukan, orang yang memiliki kiprah, dan juga keutamaan, kontribusi, dan kehormatan yang tinggi, sebagaimana terbukti dari banyak tindakan mereka dan dikuatkan lagi oleh ucapan-ucapan mereka.

Ibnu Auf bersama beberapa orang shahabat yang paling mulia menduduki kedudukan yang tertinggi dan terdekat di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini terlihat jelas dari perkataan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga perbuatan beliau yang telah kami sebutkan sebagiannya. Dan ditambah lagi dengan beberapa tindakan lain dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di mana beliau menegur “Pedang Allah” Khalid bin Walid karena ia telah menyinggung Abdurrahman dalam suatu kesempatan! Dan pada kesempatan lain beliau menyebutnya sebagai salah seorang pemimpin kaum muslimin. Dan cukuplah bagi Ibnu Auf  bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepadanya.

Kedudukan Ibnu Auf pada kalangan shahabat juga tak dapat disembunyikan, khususnya bagi tokoh-tokoh mereka dan para ummahatul mukminin. Mereka sering memujinya, mengharagainya, dan menempatkannya di kedudukan yang layak baginya, Semoga Allah meridhainya.

1. Kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban, dan Aby Ya’la, dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu berkata,“Pernah terjadi sesuatu antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, kemudian Khalid memakinya. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian memaki para shahabatku, sesungguhnya jika seseorang dari kalian menginfakkan emas seberat gunug Uhud, maka ia takkan mampu menyamai satu mud dari mereka, dan bahkan tidak setengahnya.”132

Al-Bukhari serta yang lainnya juga meriwayatkannya tanpa ada kisah antara Khalid dengan Abdurrahman.

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang ada di sanad nya adalah Shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami, dari Anas bin Malik Radhiayallahu Anhu berkata, “Pernah terjadi suatu perbantahan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, lalu Khalid berkata kepada Abdurrahman, “Kalian membanggakan di atas kami karena hari-hari di mana hal itu sampai di telinga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau berkata, “Biarkanlah para shahabatku untukku. Sungguh demi Dzat jiwaku berada di tangan-Nya jika kalian menginfakkan emas seberat Uhud, atau seberat gunung-gunung niscaya kalian tidak akan menyamai amal mereka.”

Dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan orang-orang yang ada di sanadnya terpercaya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami dari Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu Anhu berkata, “Abdurrahman bin Auf mengadukan Khalid bin Walid kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Wahai Khalid janganlah engkau menyakiti ahli Badar, jika menginfakkan emas seberat Uhud, engkau takkan menyamai amalnya!”, ia berkata, “Mereka menghinaku, maka aku membalas mereka.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian menyakiti Khalid, sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang Allah yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir.”

Dan Al-Waqidi menukil dalam Maghazi-nya dari Ibrahim Abdullah bin Auf, dari ayahnya berkata, “Pernah terjadi suatu perbantahan antara Abdurrahman bin Auf dan Khalid, sehingga Abdurrahman menghindar dari Khalid. Maka Khalid membawa Utsman bin Affan kepada Abdurrahman dan meminta maaf kepadanya hingga ia ridha, dan Khalid berkata, “Mohonkanlah ampun untukku wahai Abu Muhammad!”.

Dan inilah yang pantas bagi kedua shahabat mulia ini Radhiyallahu Anhuma.

Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam marah kepada Khalid dan mengatakan hadits tersebut kepadanya, dengan kedudukan yang dimiliki Khalid di sisi beliau, serta berbagai kontribusinya yang besar dalam medan jihad dan banyak penaklukan, namun demikian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap tidak rela jika kehormatan para shahabatnya yang terdahulu dan yang setelah mereka diganggu. Maka bagaimana dengan orang-orang yang mencaci maki mereka atau melaknat mereka, yang terdiri dari orang-orang yang telah disesatkan Allah dari jalan mereka, dibutakan matanya, da ditutup hati mereka?! Sunggu celaka mereka sepanjang masa!!

Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Ibnu Adi dalam Al-Kamil, serta Al-Hakim dan Ibnu Asakir, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Busrah binti Shafwan, “Siapa yang meminang Ummu Kultsum?” maka ia menjawab, “Fulan, dan fula, dan juga Abdurrahman bin Auf.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Nikahkan dengan Abdurrahman, sesungguhnya ia adalah salah satu yang terbaik dari kaum muslimin. Dari orang yang sepertinya juga akan menjadi yang terbaik diantara mereka. Dari orang yang sepertinya juga akan menjadi yang terbaik diantara mereka.” Lalu Busrah memberathu Ummu Kultsum tentang itu. Maka ia mengirim pesan kepada saudaranya Khalid bin Uqbah agar menikahkannya dengan Abdurrahman bin Auf saat itu juga.”

Dan dalam riwayat lain, disebutkan “Umar berkata kepada Ummu Kultsum bin Uqbah, Istri dari Abdurrahman bin Auf, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata kepadamu. “Nikahilah pemimpin kaum muslimin Abdurrahman bin Auf?” ia menjawab, “iya.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan, “Bahwasanya ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah setelah haji wada’, beliau naik mimbar, memuji Allah, dan kemudian berkata, “Wahai Manusia, sesungguhnya Abu Bakart tak pernah sekalipun berbuat buruk kepadaku, maka ketahuilah itu tentangnya. Wahai manusia, sesungguhnya aku ridha kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Aufa, dan para Muhajirin yang pertama, maka ketahuilah itu tentang mereka.”

Hal ini dilakukan oleh ucapan Umar dalam hadits tentang syurga yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya, Umar berkata, “Aku tidak menemukan seorang pun yang lebih berhak dalam perkara ini selain mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka. Ia lalu menyebutkan nama Ali, Thalhah, Utsman, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad.”

Dan tingginya kedudukan Abdurrahman di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga dikuatkan oleh apa yang kami sebutkan sebelumnya, mulai dari berbagai peristiwa yang dialaminya bersama beliau, pujian beliau untuknya, shalat beliau di belakangnya sebagai makmum, kabar gembira dari beliau untuknya berupa surga, dan masih banyak keistimewaan lain yang dimilikinya.

2. Kedudukannya di Sisi Shahabat dan Pujian Mereka Untuknya

Inilah Amirul Mukminin Umar yang bertanya kepada seorang alim dari mat Ibnu Abbas, apakah ia mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim jika ia lupa di dalam shalatnya. Dan ia menjawab bahwa ia tidak memiliki ilmu tentang itu.

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Aku memiliki ilmu tentang itu.” Maka Umar berkata, “Katakanlah, sesungguhnya engkau adalah seorang yang adil dan diridhai.” Dan ia pun menyebutkan hadits tentang itu.

Umar berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang pemimpin kaum muslimin.”

Dan pada awal pemerintahannya ia mengutus Abdurrahman bin Auf untuk memimpin orang-orang dalam menunaikan ibadah haji, dan ia juga memilihnya bersama Utsman untuk mendampingi ummahatul mukminin dalam menunaikan haji.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim, dari Al-Miswar bin Makhramah putra dari saudari Abdurrahman bin Auf, ia berkata, “Saat aku tengah berada dalam sebuah rombongan bersama Utsman bin Affan, dan Abdurrahman berada di depanku dengan pakaian hitam, Utsman berkata, “Siapakah yang memakai pakaian hitam itu?” mereka menjawab, “Abdurrahman bin Auf.” Maka Utsman berseru kepadaku dan berkata, “Hai Miswar.” Aku menjawab, “Labbaik wahai amirul mukminin”, dan ia berkata, “Siapa yang merasa bahwa ia lebih baik dari pamanmu pada saat hijrah pertama dan para hijrah yang kedua, maka ia telah berdusta.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami sedang berjalan bersama Utsman bin Affan di jalanan kota Mekah, tiba-tiba ia melihat Abdurrahman bin Auf, maka Utsman berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat melebihi orang tua ini dalam dua hijrah seluruhnya.” Maksudnya adalah hijrah ke Habasyah dan Hijrah ke Madinah.

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Abdurrahman bin Azhar, “Bahwasanya Utsman bin Affan menderita pendarahan di hidungnya, maka ia memanggil Humran133 (Dia adalah Humran bin Aban, Pelayan Utsman bin Affan) dan berkata, “Tuliskanlah penunjukan Abdurrahman (sebagai khalifah) setelahku. Ia pun menuliskan wasiat itu. Lalu Humran pergi menemui Abdurrahman dan berkata, “Apakah ada hadiah untukku?” Ibnu Auf menjawab, “Ya, akan ada hadiah untukmu, ada apa?” ia menjawab, “Sesungguhnya Utsman telah menunjukmu (sebagai khalifah) sepeninggalnya!”, maka ia berdiri di antara makam NabiShallallahu Alaihi wa Sallam dan mimbar, dan berkata, “Ya Allah, jika benar Utsman hendak menyerahkan urusan in kepadaku, maka matikanlah aku sebelum Utsman.” Dan hanya enam bulan setelah itu ia meninggal dunia.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-hakim, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, bahwasanya ia mendengar Ali bin Abu Thalib berkata pada hari dimana Abdurrahman bin Auf wafat, “Pergilah wahani Ibnu Auf, sungguh engkau telah mendapatkan kesuciannya dan melewati keruhnya hidup.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Aku berkata kepada Aisyah, “Sesungguhnya Urwah bisa melebihi kami karena ia bisa menemuimu kapanpun dia mau.” Maka ia berkata, “Dan engkau pun jika mau bisa duduk dibalik tirai dan tanyakanlah kepadaku apa yang engkau mau. Sungguh kami tidak mendapatkan siapapun yang lebih memperhatikan kami sepeninggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selain ayahmu, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata, “Tidak ada yang akan peduli kepada kalian kecuali seorang yang tulus dan baik hati.” Dan maksudnya adalah Abdurrahman bin Auf.

Dan suatu kali ketika Aisyah menerima salah satu pemberian dari Abdurrahman bin Auf, ia menyebutkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada yang memperhatikan kalian setelahku kecuali orang-orang yang sabar.” Lalu ia berkata, “Semoga Allah memberi minum Abdurrahman dengan mata air salsabil di surga.”

Dan pada kesempatan lain Aisyah mengatakan kepada putranya Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf,“Semoga Allah memberi minum ayahmu dengan mata air salsabil di surga.” 

G. Bersama Khulafaur Rasyidin, Pencalonannya untuk Posisi Khalifah, dan Perannya Dalam Pemilihan Utsman

Setelah wafatnya Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abdurrahman memasuki fase baru dalam hidupnya, ia membawa serta seluruh kontribusinya yang kekal, dan pengalamannya yang sangat berguna untuk membela Islam dan mengemban tanggung jawab, serta menanggung beban dakwah. Ia juga bertanggung jawab, serta menanggung beban dakwah. Ia juga bertanggung jawab untuk mengurus administrasi hartanya dalam perniagaan dan pertaniannya, serta membina keluarganya sesuai dengan ajaran-ajaran yang turun kepada mereka dari langit yang tinggi untuk mengangkat mereka kepada tangga kesempurnaan.

Ibnu Auf meneruskan jalan yang telah ditempuhnya bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam keikhlasan kepada agamanya, kejujuran kepada umatnya, dan kegigihan dalam menjaga keutuhan Negara kesatuan umat, dan  ketinggian wibawanya. Juga untuk menjaga akidahnya dan berupaya dengan teguh untuk menjaga eksistensi dan akhlaknya. Maka ia pun tetap berada di barisan terdepan dari para shahabat pilihan yang membentuk majelis syura untuk membantu para khilafah.

Abu Muhammad merupakan salah satu dari tokoh shahabat dan pemuka kaum muslimin yang dibutuhkan pendapatnya, diminta arahannya dan juga diikuti petunjuknya. Ini karena kedudukan yang diberikan Allah kepadanya di sisi Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga karena berbagai kiprah dan amal mulianya yang terdahulu, serta idenya yang cemerlang. Semua itu ditambah dengan kedudukan nya yang tinggi di sisi para shahabat, baik secara khusus maupun secara umum.

Kemudian para khalifah sendiri, dengan mendekatkan Abdurrahman serta tokoh-tokoh lain yang sepertinya yang memiliki keutamaan, nasehat, sifat amanah, dan banyak kontribusi mulia. Bukanlah untuk sedekar menguatkan posisi mereka dalam segala keputusan yang mereka ambil, juga bukan sedekar untuk mengambil untung dari pendapat dan musyawarah mereka. Namun karena Ibnu Auf dan rekan-rekannya yang lain yang merupakan penasehat sekaligus berperan dalam pengambilan keputusan, bersama-sama dengan khalifah, berhasil membentuk sebuah kelompok elit yang terpilih dari umat yang mendapat kalungan tanggung jawab di leher mereka. Di pundak merekalah bergantung perjalanan Negara. Dan bersama-sama mereka mengemban amanah berat yang harus ditunaikan dengan semestinya tersebut. Dan melakukan wawancara yang detil dan terbuka dengan seluruh kaum muslimin untuk melihat permasalahan mereka dan mengatasinya. Sebuah tanggung jawab total yang tidak dapat disembunyikan dari Allah Ta’ala yang telah memilih mereka untuk mengurus perkara umat, dan mengembankan amanah khalifah di pundak mereka. Dan Allah pasti akan menanyakan apa yang telah diamanahkan kepada mereka, apakah mereka menjaganya atau menyia-nyiakannya.

Jadi para khalifah dalam perkara yang besar dan mulia ini, serta dalam kewajiban yang sangat berat ini, melihat kepada permasalahan khilafah dan kepemimpinan umat denga kaca mata tanggung jawab dan beban amanah, bukan dengan dengan kebanggan dan kehormatan! Maka mereka memilih tokoh-tokoh umat yang kuat dan terpercaya untuk membantu mereka dalam mengemban beban yang berat tersebut, dan turut meringankan beban dalam mengurus Negara dan rakyat. Dan sebelum dan sesudahnya para khalifah itu juga bertanggung jawab dalam memilih para pembantu mereka, para menteri, anggota majelis syura, dan para penasehat mereka. Apakah mereka telah memilih mereka untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin? Atau para khalifah memilih dengan dorongan hawa nafsu yang didasarkan kepada hubungan kekerabatan, atau kecenderungan-kecenderungan yang lain tanpa berdasarkan kebenaran?!

Mereka sangat menyadari beratnya tanggung jawab dan beban yang harus ditanggung dalam memikulnya. Maka merea pun berhenti untuk waktu yang cukup lama dan memohon dengan sangat untuk dapat melaksanakannya dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Di hadapan Maha Raja yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa-apa yang tersembunyi di dalam dada! Mereka pun menjadikan kesabaran sebagai tameng, menghiasi diri dengan sifat amanah, dan bersikap bijak, lalu berangkat dengan berlandaskan sendi-sendi keikhlasan dan wara’. Dengan demikian Allah menuntun mereka kepada kebenaran yang mereka tuju, dan memudahkan mereka untuk mendapatkan petunjuk dan ketepatan dalam hokum sebagaimana yang mereka harapkan.

Maka tidak heran jika Abdurrahman menjadi salah satu dari penasehat dan tokoh terkemuka dalam majelis syura. Dan menjadi salah satu sendi Negara yang turut menentukan kebijkanannya dan memimpin perjalanannya, dalam naungan tiga khulafaur rasyidin di mana ia hidup bersama mereka pada masa pemerintahan mereka, Semoga Allah meridhai mereka semua.

1. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, “Bahwasanya jika Abu Bakar memiliki suatu masalah dan ingin bermusyawarah dengan para penasehat dan ahli fikih, ia mengundang beberapa toko dari Muhajirin dan Anshar. Ia mengundang Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan begitulah Abu Bakar selama pemerintahannya, dan ketika Umar menjabat ia pun memanggil tokoh-tokoh tersebut.

Tidak lama sebelum meninggal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyiapkan pasukan dengan tujuan Syam di bawah komando Usamah bin Zaid. Beliau memerintahkannya untuk membawa pasukannya hingga Al-Balqa’ dan Ad-Darum. Ia mengirimnya dengan tujuh ratus tentara kaum muslimin. Pasukan pun bergerak hingga sampai di Al-Jurf, namun keberangkatan mereka tertunda karena wafatnya NabiShallallahu Alaihi wa Sallam.

Abu Bakar memulai kepemimpinannya dengan melanjutkan pengiriman Usamah, demi menjalankan perintah Rasululla Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah menyiapkan pasukan tersebut dan menyerahkan panji perang dengan tangan beliau sendiri. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwasanya Ash-Shiddiq keluar menuju Al-Jurf, untuk menemui pasukan dan memotivasi mereka. Ia menemani mereka dengan berjalan kaki sementara Usamah menunggang kudanya, dan Abdurrahman bin Auf membawa kendaraan Abu Bakar. Maka Usamah berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, engkau yang akan mengendarai tungganganmu atau aku yang akan turun?!” maka dia berkata, “Demi Allah, engkau tidak akan turun, dan aku tidak akan naik kendaraanku, tidaklah masalah bagiku untuk mengotori kakiku di jalan Allah untuk beberapa saat!”

Demi Allah betapa mengangumkan Abu Bakar dan Ibnu Auf.

Abu Bakar adalah khalifah kaum muslimin dan tokoh terbesar di dalam Islam setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia mendapingi pasukan dengan berjalan kaki sementara panglima pasukannya Usamah bin Ziad mengendarai kudanya padahal ia sama dengan salah satu anaknya dan salah satu dari tentaranya! Ya, apa yang menghalangi khalifah untuk mengotori kakinya di jalan Allah, dan menjadi teladan bagi mereka yang memagang urusan umat dengan sifat tawadhu’, penuh kasing sayang, tidak sombong, serta jauh dari kekejian dan merusak di muka bumi.

Dan Ibnu Auf dengan kebesarannya, keutamaannya, dan keistimewaannya yang begitu banyak, menuntun tali kekang unta Abu Bakar. Inilah akhlak orang-orang besar yang mengetahu keutamaan orang-orang mulia, dan tidak ada tempat bagi kesombongan di hati mereka.

Abu Bakar memimpin kaum muslimin dalam kehidupan mereka, dan mereka mengikutinya bersama-sama untuk mengokohkan sendi-sendi Negara, mengemban risalah, dan menanggung beban untuk menyampaikannya kepada seluruh dunia. Lalu Abu Bakar bertekad untuk memerangi Romawi dan menaklukan negeri Syam, namun sebelum mengirim pasukan ia mengumpulkan pendapat dari shahabat-shahabat dan para penasehatnya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika Abu Bakar berencana untuk memerangi Romawi, ia mengundang Ali, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Jarrah, serta para pemuka Muhajirin dan Anshar, baik para pejuang badar maupun yang lainnya. Dan mereka pun masuk menemuinya. Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dan aku termasuk diantara mereka.” Lalu Abu Bakar berbicara, diantara yang dikatakannya adalah sebagai berikut.

“Aku berkeinginan untuk mengerahkan kaum muslimin untuk berjihad menghadapi Romawi di Syam, agar Allah menguatkan kaum muslimin, dan menjadi kalimatnya yang tertinggi. Maka silahkan siapa saja untuk mengemukakan pendapatnya tentang hal ini.”

Umar berdiri dan mengemukakan pandangannya. Kemudian Abdurrahman berdiri dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, mereka adalah Romawi, berkulit kuning, kuat bagai besi, dan sangat tangguh. Aku tidak berpendapat kita harus menyerang mereka dengan sebuah serangan yang besar. Namun kita bisa mengirim pasukan berkuda untuk menyerang daerah-daerah yang terletak di perbatasan mereka, lalu kembali. Jika ini bisa dilakukan secara terus menerus tentu akan melemahkan mereka, dan bisa menguasai wilayah-wilayah terluar mereka. Kemudian engkau bisa mengirim utusan ke wilayah Yaman dan kabilah-kabilah Rabi’ah dan Mudhar, serta menghimpun mereka semua di bawah komandomu. Dan setelah itu jika engkau mau, engkau bisa memimpin langusng untuk menyerang mereka, atau jika engkau mau, engkau bisa menunjuk orang lain.” Lalu ia diam, dan yang lain pun diam.”

Abu Bakar tetap berada di jalannya yang penuh petunjuk dalam mengokohkan sendi-sendi Negara dan menyebarkan kebenaran dan keadilan. Lalu ia menutup masa kepemimpinannya dengan sebuah tindakan yang mulia, di mana ia menunjuk Umar bin Khaththab untuk menjadi khalifah. Ia tidak memaksakan kehendaknya dalam hal itu, namun ia telah mengundang tokoh-tokoh terkemuka dari kaum Muhajirin dan anshar dan bertanya kepada mereka tentang Umar, walaupun ia lebih mengetahui tentang Umar.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan yang lain, “Bahwasanya ketika Abu Bakar menderita sakit yang sudah parah, ia memanggil Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Katakan kepadaku tentang Umar bin Khaththab?” Abdurrahman berkata, “Engkau tidak bertanya kepadaku tentang satu hal yang engkau lebih mengetahuinya dariku.” Abu Bakar berkata, “Meskipun demikian.” Maka Abdurrahman berkata, “Demi Allah dia adalah orang terbaik yang dapat engkau lihat.”

Kemudian ia bermusyawarah dengan Utsman, Sa’id bin Zaid, Usaid bin Al-Hudhair, dan yang lainnya. Lalu Allah menguatkan tekad Ash-Shiddiq untuk menunjuk Umar. Dan itulah yang terjadi, dan kaum muslimin pun membai’tanya dan berbagaia dengan kepemimpinannya.

2. Bersama Al-Faruq Umar

Lalu tibalah masa pemerintahan Umar sang jenius Islam dan kebanggan kemanusiaan. Ia mengikuti jalan yang telah diikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar. Ia memimpin kaum muslimin dari satu kemenangan kepada kemenangan lainnya, dari kemuliaan kepada kemuliaan lainnya, dari keteguhan posisi kepada keteguhan lainnya, dari berbagai kehormatan kepada kehormatan lainnya, dan dari kebahagiaan, kesejahteraan, kesenangan hidup, keadilan, dan kasih sayang kepada situasi yang sama yang membawah kepada ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan, dan kebanggan. Umat Islam pun mendapatkan kebahagiaannya, dan bahkan kemanusiaan secara keseluruhan.

Umar didampingi oleh para menteri-menteri yang tulus, penasehat yang senantiasa menunjukkan kepada kebaikan, para panglima pemenang, mujahid yang ikhlas, gubernur yang adil, guru-guru yang bijak, para kritikus yang adil, yang semuanya mempunyai kepedulian untuk melindungi Negara yang berasaskan kebenaran, dan menjaga keberlangsungan arahnya yang tepat, dan mereka pun bersama-sama menjaga keagungan dan hasil-hasil yang diperolehnya.

Namun terdapat pengaburan kebenaran, juga kezhaliman sejarah, dan menganggap remeh banyak potensi yang dimiliki umat ini, ketika seluruh keberhasilan pada masa pemerintahan Umar itu hanya dianggap sebagai prestasi Umar sendiri secara pribadi, sehingga menutup ribuan nama yang bersinar dengan kemampuan yang mengagumkan. Sehebat apapun kemampuan berfikir yang dimiliki seseorang, dan walaupun ditambah dengan kemampuan kepemimpinan dan ciri-ciri kejeniusan lainnya, takkan mampu mendirikan pondasi sebuat umat, dan memberikan kebanggan kepada mereka seorang diri. Ia pasti membutuhkan otak-otak lain yang akan membantunya serta tangan-tangan yang turut bekerja bersamanyam serta memimpin perjalanan Negara dan melanjutkan pembangunannya.

Abdurrahman bin Auf adalah di antara mereka yang terdepan dalam medan kepemimpinan, kebijakan, dan pembangunan. Hingga hampir tak pernah ia absen dalam mendampingi Umar dalam segala peristiwa. Ia mendampinginya pada saat berada di tempat, menyertainya dalam perjalanan, menasihatinya dan mengarahkannya, mengemukakan pendapat-pendapatnya yang jenuh dengan nasihat yang dilandasi oleh keikhlasan, bersama-sama dengannya dalam membuat keputusan-keputusan dan mengurus Negara dengan keberanian dan kekuatan, dengan pikiran yang tajam, ide yang masak, segar, dan dikuatkan oleh bukti yang jelas. Ia bahkan juga membantunya langsung dalam menangani sejumlah urusan, dan sehingga kontribusinya tidak hanya terbatas dalam ucapan dan ide saja. Al-Faruq sendiri menyadari kebesaran Ibnu Auf dan juga kedudukannya, potensinya, dan latar belakang yang dimilikinya. Maka ia sengaja mendekatkannya, dan mengembankan kepadanya banyak tugas penting. Ia juga mendengarkan ide-ide dan pendapatnya dalam banyak kesempatan.

Maka pada tahun di mana Umar menerima tanggung jawab sebagai khalifah, ia mengutus Abdurrahman untuk memimpin haji. Ia pun membimbing orang-orang dalam menjalankan manasik haji mereka. Dan ia juga menunjuknya pada tahun 23 H, yaitu pada haji terakhir yang dilakukannya bersama, dan ia meminta Ibnu Auf dan Utsman bin Affan untuk mendampingi ummahatul mukminin.

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat dan selesai dimakamkan, Umar mengajak para penasehat dan bersama-sama masuk ke baitul mal milik Abu Bakar. Saat itu ia bersama dengan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan, serta lainnya. Mereka pun membuka baitul mal tersebut, dan tidak menemukan dinar atau dirham sedikitpun. Lalu mereka menemukan sebuah kantung uang, dan membukanya. Dan mereka hanya menemukan satu dirham di dalamnya. Mereka pun mendoakan Abu Bakar mendapat rahmat Allah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Sekelompok pedagang dating dan menginap di Al-Mushalla.” Maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Apakah engkau bersedia jika kita menjaga mereka mala mini dari pencurian?” maka malam itu mereka pun menjaga mereka dan melakukan shalat.

Dalam bidang jihad dan penaklukan-penaklukan, Umar berperan penting dalam menyempurnakan pekerjaan besar yang perencanaannya telah digariskan langsung oleh tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk dan pengiriman pasukan Usamah. Lalu Abu Bakar pun melanjutkan apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Dan kemudian datanglah Al-Faruq untuk menyempurnakan apa yang telah direncanakan oleh Abu Bakar. Ia pun menyiapkan pasukan, mengangkat bendera perang, mengrim para penaklukan yang terjadi pada masanya. Bendera tauhid berkibar di belahan bumi bagian Timur dan Barat. Dan raja-raja Romawi, Persia, penguasa-penguasa tiran di arab terpaksa tunduk di bawah kakinya. Pajak pun di wajibkan atas mereka, negeri-negeri dibuka, banyak hal-hal baru dimulai, dan administrasi Negara mulai dibukukan.

Di Syam, pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Abu Ubaidah dan disertai oleh banyak komandan pasukan lainnya mulai menaklukkan negeri tersebut, sehingga pasukan Romawi berkumpul di Humsh untuk mengepung Abu Ubaidah. Maka Umar menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Qa’Qa’ bin Amru dan mengirim mereka untuk membantu Abu Ubaidah.

Namun Umar belum merasa tenang dengan itu, dan belum merasa cukup. Dan ia pun keluar langsung untuk membantu Abu Ubaidah. Saat itu Abdurrahman memimpin sayap kiri dari pasukannya. Mereka berjalan hingga sampai di Sargh. Sementara itu Abu Ubaidah telah mulai menyerang pasukan Romawi. Pasukan Romawi pun berhasl dikalahkan dengan telak. Dan itu terjadi tiga malam sebelum kedatangan pasukan bantuan. Lalu Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar dan mengabarkannya tentang kemenangan yang ia peroleh. Umar memuji Allah Ta’ala, dan kembali ke Madinah dengan pasukan yang bersamanya.

Begitu Abu Ubaidah selesai dari penaklukan Damaskus, ia segera menulis surat kepada penduduk Al-Quds dan mengajak mereka kepada Allah dan Islam, atau membayar Jizyah, atau perang. Mereka menolak tawarannya sehingga ia mengepung dan menekan mereka. Hingga akhir nya mereka meminta perjanjian damai, dan mensyaratkan agar Amirul Mukminin Umar sendiri yang dating kepada mereka. Maka Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar dan memberitahunya tentang hal itu.

Umar menyambut undangan itu dan berangkat bersama kaum muslimin. Saat itu Abdurrahman bin Auf berada di sisi kanannya. Ia membuat perjanjian damai dengan kaum nasrani di Baitul Maqdis, dan membuat surat jaminan keamanan yang disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Abdurrahman bin Auf, dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Sementara di arah Irak pada awal tahun 14 H, Umar mendorong kaum muslimin untuk berjihad. Ini dilakukannya saat ia mendengar terbunuhnya Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi (pada perang Jisr), dan bersatunya pasukan Persia di bawah pimpinan Yazdajir, serta pelanggaran kafir Dzimmi Ira katas perjanjian mereka, dan juga pencampakan mereka atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, dan dikarenakan mereka telah mulai menyerang kaum muslimin dan mengusir para gubernur dari wilayah mereka.

Maka pada awal bulan Muharram dari tahun tersebut, Umar berangkat bersama pasukan kaum muslimin dari Madinah, dan tiba disebuah mata air yang bernama Shirar134. Ia berkemah di sana dengan tekad untuk memimpin langsung penyerangan Irak. Ia menunjuk Ali sebagai penggantinya di Madinah, dan membawa bersamanya Utsman bin Affan dan para tokoh shahabat lainnya. Ia menunjuk Abdurrahman untuk memimpin sayap kanannya dan Zubair bin Awwam di sebelah kiri.

Kemudian Umar mengadakan sebuah pertemuan untuk bermusyawarah  dengan para shahabat tentang tekadnya tersebut. Maka diserukanlah untuk shalat jamaah, Ali pun telah diberitahu, dan ia segera datang. Kemudian Umar bermusyawarah dengan mereka, dan semua sepakat dengan Umar yang akan memimpin langsung pasukan ke Irak kecuali Abdurrahman bin Auf yang berkata, “Aku tidak pernah menebus seseorang dengan kedua orang tuaku setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum hari itu dan sesudahnya. Aku berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, timpakanlah kelemahan itu kepadaku, siapkanlah, dan berangkatkanlah pasukan. Engkau telah melihat ketetapan Allah padamu melalui pasukanmu sebelum dan sesudahnya. Sungguh kekalahan pasukanmu tidak sama dengan kekalahanmu sendiri, dan sungguh kalau engkau terbunuh atau dikalahkan pada awal dari semua ini, aku khawatir kaum muslimin tidak akan pernah lagi mengucapkan takbir atau mengucapkan la ilaha illallah selamanya!”

Umar menerima pendapat ini. Dan ketika masih mencari siapa yang akan memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, datanglah surat dari Sa’ad di saat pertemuan tersebut masih berlangsung Saat itu Umar tengah menugaskannya untuk mengumpulkan sedekah dari wilayah Nejed. Umar berkata, “Kalau begitu tunjukkanlah kepadaku seorang laki-laki (yang akan memimpin pasukan tersebut).” Abdurrahman berkata, “Aku telah menemukannya” Umar berkata, “Siapa?”, ia menjawab, “Singa yang menyembunyikan cakar, Sa’ad bin Malik!” dan pendapat ini juga disetujui oleh mereka yang hadir.

Pada tahun paceklik, Abdurrahman beserta sekelompok took shahabat lainnya turut membantu Amirul Mukminin dalam memberikan bantuan kepada kaum muslimin, meringankan derita mereka, dan mengangkat kesempitan serta kesusahan hidup mereka.

Suatu hari datanglah sebuah kafilah besar membawa makanan yang dikirimkan oleh gubernur Mesir Amru bin Ash Radhiyallahu Anhu. Ia mengirim bantuan yang sangat besar dimana bagian depannya berada di Madinah, dan bagian belakangnya masih berada di Mesir. Rombongan itu terus berdatangan secara bergantian. Ketika bantuan tersebut diterima Umar, ia membagikannya kepada seluruh penduduk, dan memberikan setiap keluarga di Madinah dan sekitarnya seekor unta lengkap dengan makanan yang dibawahnya. Lalu Umar menugaskan Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhum untuk membagikannya kepada orang-orang. Mereka membagikan kepada setiap rumah satu ekor unta dan makanan yang di bawanya. Sehingga mereka bisa memakan makanan tersebut, dan menyembelih unta agar dagingnya bisa dimakan, menjadikan gajihnya sebagai lauk, dan memanfaatkan kulitnya untuk alas kaki, serta memanfaatkan kantung tempat makanan yang ada di punggung unta untuk kepentingan mereka. Dengan demikian Allah telah memberikan kelapangan untuk orang-orang.

Dan dalam riwayat dari Ibnu Asakir disebutkan, “Umar menerima harta, maka Abdurrahman bin Auf berkata kepada, “Wahai Amirul Mukminin, jika engkau bisa menyimpan sebagian dari harta ini di baitul mal untuk menghadapi musibah atau kejadian yang mungkin akan terjadi nanti.” Maka ia berkata, “Sebuah perkataan yang tidak akan diucapkan kecuali oleh setan. Allah telah membekaliku dengan alas an yang kuat dan menjagaku dari fitnahnya. Apakah aku harus bermaksiat kepada Allah pada tahun ini karena takut pada yang akan datang?! Aku telah menyiapkan bagi mereka ketakwaan kepada Allah. Allah Ta’alatelah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”135

Penaklukan demi penaklukan terus berlangsung, dan harta-harta terus berdatangan memenuhi baitul mal. Hal ini meresahkan Umar, karena keadaan demikian tak pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam maupun pada masa Abu Bakar sehingga mereka bisa meninggalkan contoh yang baik tentang bagaimana cara membagikan dan menginfakkannya. Maka Umar meminta bantuan Ibnu Auf untuk memberikan pendapatnya dalam masalah tersebut.

Abdurrahman berkata, “Umar memintaku untuk datang maka aku menemuinya. Ketika sampai di pintu aku mendengar teriakannya, maka aku berkata, “Inna Lillahi wa Inna ilaihi raji’un, telah terjadi sesuatu pada Amirul Mukminin!”, lalu aku masuk dan memegang bahunya dan berkata, “Tidak apa-apa wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata, “Justru ada masalah besar!” lalu ia memegang tanganku dan memasukanku melalui sebuah pintu, dan ternyata terdapat banyak tas yang saling tumpuk. Ia berkata, “Saat ini keluarga Khaththab telah hina di sisi Allah! Sesungguhnya jika Allah mau, Dia bisa memberikan ini kepada dua shahabatku, Maksudnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, sehingga mereka bisa memberikan contoh yang bisa aku ikuti. Aku berkata, “Marilah kita duduk dan memikirkannya.” Maka kemudian kami memberi ummahatul mukminin masing-masing sebanyak empat ribu, untuk kaum muhajirin masing-masing sebanyak empat ribu, dan seluruh orang lainnya masingmasing mendapat dua ribu, hingga kami berhasil membagikannya seluruh.”

Abdurrahman dan saudara-saudaranya yang duduk di majelis syura bukanlah sekedar pemanis dan sebagai formalitas bagi tugas khalifah dan keputusan-keputusan yang dibuatnya, atau dalam seluruh kebijakan dan tindakannya. Dan Umar sendiri ketika bermusyawarah dengan shahabatnya tidak memaksudkan itu sebagai pertunjukkan drama untuk menipu seluruh umat sehingga mereka mengira bahwa ia telah menunaikan janji yang di ucapkannya atas dirinya untuk menerapkan sistem syura dan patuh terhadap prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya! Namun ia benar-benar mengibarkan bendera syura dan menundukkan kepalanya yang terhormat itu. Wajahnya selalu berseri-seri ketika mendengarkan setiap pendapat yang menentangnya dengan berani dan tulus. Ia menyertakan orang-orang yang bekompeten dalam tanggung jawab hokum dengan rutin. Dan dia adalah orang yang telah meletakkan kebenaran pada hatinya, lisannya, dan bahwa ia adalah orang yang diilhami. Ia mempunyai kecerdasan yang sampai kepada tingkat ilham.

Ini karena Umar benar-benar menghargai tanggung jawab hokum, dan memandang bahwa rakyat harus mendapat tempat dalam kerangka umat. Mereka bebas mengemukakan pendapat mereka untuk mematangkan kedewasaan yang dimilikinya. Ia menyadari bahwa orang yang memaksakan pendapatnya akan celaka, dan bahwa syura merupakan paru-paru bagi setiap hokum yang benar dan tepat.

Dan juga karena ia menydarai bahwa ia memimpin sebuat umat yang terdiri dari singa, bukan sekelompok domba! Ia menginginkan rakyatnya menjadi mata yang terbuka, kritikus yang tajam, pemiki yang cemerlang, dengan gerakan yang dilandasi oleh kesadaran, dan pendapat yang berani dan terbuka. Dan bukan menjadi rakyat yang bisu, buta, tuli, dan bodoh, yang hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya!!

Khalifah dengan para penasehatnya dan juga seluruh rakyat bisa tetap berada dalam jalan tersebut karena mereka semua telah dibina melalui metode kenabian yang prinsip-prinsipnya telah ditegaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, Dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.”(Qs-Asy-Syura [42]:38) “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”[Qs-Al-Imran [3]:159). Dab sedujut banyaknya mereka juga telah menyaksikan sendiri praktek syura tersebut dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, padahal beliau ditopang dengan wahyu, dijaga kema’shumannya, seorang yang terpilih dan dilengkapi dengan banyak kesempurnaan manusia. Namun demikian, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sengaja menumbuhkan semangat berbagi ide dan pendapat dalam masyarakat muslim, dan juga dalam menentukan keputusan serta dalam mengemban tanggung jawab dari masalah-masalah yang besar. Dan agar setiap penguasa atau gubernur menjalankan tugas dalam mengurus kaum muslimin dengan system yang telah baku tersebut, sehingga tidak ada yang memaksakan ide dan pemikirannya tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Dan tidak memaksa masyarakat muslim untuk patuh dan tunduk dengan terpaksa kepada pendapat seseorang, bagaimanapun tinggi kedudukannya, dan sehebat apapun pujian-pujian orang-orang dan para penjilat kepadanya.

Dan Ibnu Auf merupakan salah seorang tokoh shahabat yang memahami dengan baik falsafah dari syura, dan juga prinsip-prinsipnya. Ia dan saudara-saudaranya tak pernah menjadi pengekor bagu Umar pada setiap kebijakannya, perintahnya, keputusannya, ataupun sikap-sikapnya yang lain. Namum mereka menyetujui dan terkadang menentang, memberikan nasehat dan petunjuk, dan semua dilakukan dalam bingkai kemaslahatan bersama serta memperhatikan yang terbaik bagi Islam dan kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir, dari Muhammad bin Zaid berkata, “Telah berkumpul Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad. Dan yang paling berani di antara mereka terhadap Umar adalah Abdurrahman bin Auf. Maka mereka berkata, “Wahai Abdurrahman, jika engkau mau berbicara kepada Amirul Mukminin untuk semua orang, dan katakana, bahwa sesungguhnya seseorang datang untuk suatu keperluan, namun rasa takutnya kepadamu menghalanginya untuk membicarakan keperluannya kepadamu, sehingga ia pulang tanpa menceritakan keperluannya!” Maka Ibnu Auf pun masuk untuk berbicara kepadanya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bersikap lembutlah kepada orang-orang, sungguh seseorang ada yang datang kepadamu, namun rasa takutnya kepadamu menghalangi nya untuk menyampaikan kebutuhannya kepadamu, sehingga ia kembali tanpa berbicara kepadamu!” Umar berkata, “Hai Abdurrahman, demi Allah, apakah Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair serta Sa’ad memintamu untuk menyampaikan ini?” ia menjawab, “Iya”. Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, sungguh aku telah bersikap lunak kepada mereka sehingga aku takut kepada Allah akan sikap lunakku, kemudian aku bersikap keras sehingga aku takut kepada Allah akan sikap kerasku, Maka bagaimanakah solusinya?” Abdurrahman pun bangkit sambil menangis dan menyeret jubahnya, dan berkata, “Celakalah mereka yang akan menggantikanmu, celakalah mereka yang akan menggantikanmu.”

Dan pada tahun 23 H, pada haji terakhir yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar, Ibnu Auf memiliki peran yang besar bersama. Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas berkata, “Aku sering membacakan Al-Qur’an kepada beberapa orang dari kaum Muhajirin, dan di antaranya termasuk Abdurrahman bin Auf. Saat aku tengah berada di rumahnya di Mina, dan saat itu ia tengah mendampingi Umar bin Khaththab pada haji terakhir yang ditunaikannya, tiba-tiba Abdurrahman kembali menemuiku dan berkata, “Jika saja tadi engkau melihat seorang laki-laki yang mendatangi Amirul Mukminin dan berakata, “Wahai Amirul Mukminin, apa pendapatmuu tentang seorang yang berkata, “Jika Umar telah meninggal maka aku akan membai’at si fulan. Dan demi Allah sesungguhnya pembai’atan Abu Bakar adalalah sebuah kebetulan semata.” Maka Umar marah dan berkata, “Insya Allah, sesungguhnya mala mini aku akan berbicara di hadapan semua orang dan mengingatkan mereka dari orang-orang yang ingin mengacaukan urusan mereka!” Abdurrahman berkata, “Wahai Amirul Mukminin jangan engkau lakukan itu. Sesungguhnya musim haji seperti ini menghimpun orang-orang awam dan bahkan perusuh. Dan jika engkau berbicara nanti maka kebanyakan dari yang berada di dekatmu adalah dari golongan mereka. Aku khawatir engkau akan mengucapkan dan tidak menempatkannya dengan semestinya. Maka tunggulah hingga engkau tiba di Madinah. Sesungguhnya Madinah adalah pusat dari hijrah dan sunnah, maka engkau bisa berbicara kepada para ahli fikih dan para pemuka masyarakat, dan mengutarakan maksudmu dengan baik. Para ulama tersebut akan memahami maksudmu dan meletakkannya pada tempatnya yang semestinya.” Maka Umar berkata, “Kalau demikian, Demi Allah, aku akan melakukan itu pada tempat pertama yang aku datangi di Madinah Insya Allah”, dan hadits ini sangat panjang.

Sikap ini merupakan bentuk dari hidayah, dan ketepatan dari Ibnu Auf, dan bukti yang nyata dari kearifannya, kecemerlangan akalnya, ketepatan pemahamannya, juga pandangannya yang jauh ke depan, kematangannya yang sempurna, dan kepeduliannya yang nyata terhadap hakekat agama dan maslahat kaum muslimin. Di samping itu menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Al-Faruq dimana ia mendengarkan pendapatnya, dan mengerjakan usulannya karena sesuai dengan kondisi, dan strategi yang baik, serta sikap yang bijak, dan memperbaiki suatu masalah dengan bijak serta meletakkannya pada koridor yang benar.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, An-Nasa’I, dan Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik berkata, “Seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah meminum khamar, maka beliau memerintahkan untuk mencambuknya dengan sandal sebanyak empat puluh kali. Lalu Abu Bakar juga pernah dibawakan seseorang yang meminum khamar, maka ia pun melakukan hal yang sama. Lalu Umar dibawakan seseorang yang telah meminum khamar, maka ia bermusyawarah dengan orang-orang tentang itu, Abdurrahman berkata, “Hukuman cambuk yang paling ringan adalah sebanyak delapan puluh kali.” Maka Umar Radhiyallahu Anhu memukulnya sebanyak delapan puluh kali.”

Dan dalam sebuah riwayat, “Maka Umar bermusyawarah dengan orang-orang tentang hukuman cambuk bagi peminum khamar. Abdurrahman bin Auf berkata, “Jika ia meminumnya dan kemudian berbicara sembarangan, maka kami berpendapat hendaknya engkau menghukumnya dengan hukuman cambuk yang paling ringan. Dan orang pertama yang melakukan hukuman cambuk sebanyak delapan puluh kali adalah Umar Radhiyallahu Anhu.”

Mari kita dengarkan sebuah peristiwa antara Abdurrahman bin Auf dengan Amirul Mukminin Umar.

Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dari Al-Miswar bin Makhramah, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Suatu malam aku berjaga bersama Umar, lalu kami melihat sebuah cahaya, maka kami mendatanganinya dan mendapati sebuah pintu yang berlubang dengan banyak suara rebut di dalamnya. Maka Umar berkata kepadaku, “ini adalah rumah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf, dan saat ini mereka tengah minum-minum, bagaimana pendapatmu?” ia berkata, “Aku merasa kita telah melakukan sesuatu yang dilarang kepada kita, yaitu memata-matai!” ia berkata, “Kalau begitu ayo pergi.” Dan aku pun pergi bersamanya.”

Inilah kehormatan rumah-rumah di dalam Islam. Seorang khalifah dan seorang shahabatnya keluar untuk menjaga orang-orang, dan memberikan keamanan, ketenangan, dan kenyamanan bagi mereka, serta menjaga rumah-rumah mereka dari pencurian dan serangan. Lalu telinga mereka mendengar perbuatan maksiat dari sebuah rumah yang pintunya berlubang. Mereka berdua tidak mengizinkan diri mereka untuk membuka aib tuan rumah yang telah ditutup oleh Allah. Dan bahkan mereka berpendapat bahwa mereka telah menerobos penjagaan rumah dan memanjat dinding kehormatannya pada malam yang gelap. Maka mereka menghindari apa yang dilarang oleh Islam yaitu memata-matai aib kaum muslimin.

Sungguh, semoga Allah menghidupkan agama ini, dan menghidupkan ajaran-ajaran ini, serta menghidupkan para pahlawan tersebut yang telah membawanya, mempraktekkannya, dan memperjuangkannya.

Maka bagaimana dengan mereka yang menikmati perbuatan mereka dalam mengungkap aib kaum muslimin, dan mencari-cari berita buruk tentang orang-orang shalih, memata-matai orang-orang yang baik dan bersih, melemparkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap mereka, dan membuat-buat berita bohong dan kemudian melemparkan tuduhan bohong terhadap mereka. Orang-orang yang membuka tirai-tirai rahasia orang lain, menerobos pagar orang lain, menganggu ketenangan dan menyebarkan ketakutan di hati orang-orang yang membuka tirai-tirai rahasia orang lain, menerobos pagar orang lain, menganggu ketenangan dan menyerbarkan ketakutan di hati orang-orang yang senang berada di rumah mereka umntuk mengerjakan amal-amal shalih, tanpa melakukan kemungkaran dan keburukan apapun dan tidak membawa kerusakan di muka bumi?! Celakalah orang-orang yang menakut-nakuti mereka dan kemudian menjatuhkan mereka. Dan celakalah mereka pada saat menyaksikan hari yang agung kelak!!

Abdurrahman tetap berada di kalangan pembantu dan penasehat Umar yang terpilih, ia tidak pernah meninggalkannya dalam perkara-perkara besar, dalam banyak peristiwa, dan juga dalam menangani masalah-masalah pelik. Bahkan di dalam shalat, ia selalu berada di shaf terdepan bersamanya. Karena itulah ia yang menggantikannya sebagai imam ketika ia ditikam oleh si fasik Abu Lu’lu’ah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, dan yang lainnya, riwayat tentang pembunuhan Umar Radhiyallahu Anhu, dari Amru bin Maimun berkata, “Dan ketika ia, Umar telah mengucapkan takbir aku mendengarnya berkata, “Dia telah membunuhku atau itu telah memakanku, saat ditikam. Lalu orang kafir tersebut berlari dengan pisaunya yang mempunyai dua mata, tidak ada seorangpun yang dilewatinya baik di kanan maupun di kiri melainkan ditikamnya. Hingga ia berhasil menikam sebanyak tiga belas orang dan tujuh diantaranya meninggal! Ketika melihat itu, salah seorang dari kaum muslimin melemparkan jubahnya kepadanya. Dan ketika orang kafir itu merasa bahwa ia telah terperangkap, ia pun menikam dirinya sendiri. Lalu Umar memang tangan kanan Abdurrahman dan menariknya maju.”

Dan dalam riwayat dari Ibnu Sa’ad, “Maka ia memegang tangan Abdurrahman dan menariknya maju. Lalu orang-orang pun shalat subuh pada hari itu dengan shalat yang ringan.’

H. Kepergiannya dan Harta Peninggalannya

1. Tanda-tanda akan akhir hidupnya yang bahagia

Allah menyempurnakan nikmatnya kepada Abdurrahman di dunia, dengan memberikan banyak tanda-tanda dan kabar gembira tentang akhir yang bahagia untuknya. Ditambah dengan apa yang telah disiapkan untuknya berupa nikmat yang kekal di surga sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Ishaq bin Rahawaih, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh lebih dari satu orang, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf bahwasanya ia berkata, “Abdurrahman pingsan dalam sakitnya sehinga mereka menyangka bahwa ia telah meninggal pada saat itu. Hingga kemudian mereka meninggalkannya dan menutupinya dengan kain. Lalu istrinya Ummu Kultsum bin Uqbah pergi menuju masjid untuk bersandar dan shalat. Mereka berada dalam keadaan demikian sekitar satu jam dan ia tetap dalam keadaan pingsannya. Kemudian ia bangun dan kata pertama yang di ucapkannya adalah takbir, dan keluarganya pun juga turut bertakbir. Lalu ia berkata, “Kalian benar, dalam pingsanku sesungguhnya aku di bawa oleh dua orang laki-laki yang kasar dank eras. Mereka berkata, “Marilah kami akan menghadapkanmu kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Terpercaya untuk dihakimi.” Mereka pun membawaku hingga bertemu seorang laki-laki yang berkata, “Kemanakah kalian membawa orang ini?” merke menjawab, “Kami akan menghakiminya di hadapan yang maha Perkasa dan Maha Terpercaya.” Maka ia berkata, “Kembalikanlah dia, sesungguhnya ia adalah di antara mereka yang telah ditetapkan bagi mereka kebahagiaan dan ampunan sejak mereka masih berada di perut ibu mereka, dan sesungguhnya ia akan tetap berada di tengah keluarganya hingga waktu yang ditentukan Allah.” Setelah itu ia hidup selama sebulan dan kemudian meninggal.”

Kabar lain juga turut datang mengabarkan tentang kebahagiaan yang penuh suka cita tersebut, dan juga kehidupan yang penuh kenikmatan yang akan dinikmati oleh Ibnu Auf. Hal itu terlihat dala mimpi yang dialami oleh seorang shahabat mulia Auf bin Malik tentang tempat kembali dari Abdurrahman dan Abu Darda’.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al-Hidayah dari Auf bin Malik, “Bahwasanya ia bermimpi melihat sebuah kubah yang terbuat dari kulit dan dikelilingi oleh padang rumput yang hijau. Di sekelilingi kubah tersebut terdapat banyak domba yang berbaring dan berkembang biak serta mengeluarkan kurma. Ia berkata, aku berkata, “Milik siapakah kubah ini?” dikatakan kepadanya, “Milik Abdurrahman bin Auf.” Ia berkata, “Maka kami menunggunya hingga keluar dalam kubah”, ia berkata, Ibnu Auf berkata, “Wahai Auf, inilah yang diberikan Allah kepada kami berkat Al-Qur’an, jika engkau tetap berada di jalan ini niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh matamu dan mendengar sesuatu yang belum pernah didengar oleh telingamu. Allah telah menyiapkannya bagi Abu Darda’ karena ia telah menolak kekayaan dunia dengan lapang dada dan kerelaan.”

2. Kelahirannya, Wafatnya, dan Usianya

Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah dan juga Al-Mada’ini, dan lebih dari satu orang lainnya meriwayatkan bahwa Abdurrahman dilahirkan sepuluh tahun setelah tahun gajah. Dengan demikian ia dilahirkan tiga puluh tahun sebelum kenabian, dan empat puluh tiga tahun sebelum hijrah.

Dan Ya’qub bin Utbah, Khalifah bin Khayyath, Amru bin Ali, dan yang lainnya menuliskan tanggal wafatnya pada tahun 32 H. Dan ditambahkan oleh Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad dan Ya’qub bin Utbah, mereka berkata, “Ia meninggal saat berusia tujuh puluh lima tahun.” Dan ini jelas dilihat dari tahun kelahiran dan tahun wafatnya.

3. Wasiatnya, Shalat atas jenazahnya, dan pemakamannya

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Austah, dan Al-Fasawi serta Ibnu Asakir, dari Urwah bin Zubari, bahwasanya Ibnu Mas’ud, Al-Miqdad, Utsman, Abdurrahman bin Auf, serta Muthi’ bin Aswad, telah berwasiat kepada Zubair bin Awwam.

Dan Zubair bin Awwam adalah orang yang melaksanakan wasiatnya yang begitu banyak dalam memberikan infak dan sedekah, juga membagikan warisannya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wasiat yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal.

Dan ia dishalatkan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan, sesuai dengan yang diwasiatkannya.

Di antara shahabat yang membawa tandu jenazahnya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash. Di dalam kitabThabaqat Ibnu Sa’ad, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku melihat Sa’ad bin Malik berdiri di sisi ranjang Abdurrahman bin Auf dan ia berkata, “Duhai gunung!” Lalu ia meletakkan ranjang itu di pundaknya.” Ia dimakamkan di Baqi’ Semoga Allah meridhainya.

4. Harta Peninggalannya

Allah telah membukakan pintu rezeki yang sangat luas bagi Abdurrahman, dan memberkahi pekerjaan tangan dan perniagaannya. Harta pun mengalir di kedua tangannya, dan gudangnya dipenuhi oleh emas dan perak. Ia menyikapinya sebagai seorang mukmin yang memahami kedudukan harta bagi dirinya, dan kegunaannya bagi umat. Ia juga memahami dengan baik kewajibannya dalam kehidupan, dan tujuannya dalam kesempitan dan kesenangan. Maka ia membentangkan tangannya untuk berbagai pemberian, infak, sedekah. Dan setiap kali ia berinfak, hartanya pun terus bertambah banyak. Bagi Ibnu Auf kondisi ini merupakan bukti dan pembenaran dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang shahih, yang diriwayatkan olehnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Aku bersumpah akan tiga hal: Tidak akan berkurang harta karena sedekah, maka bersedekahlah. Dan tidaklah seseorang memaafkan sebuah kezhaliman yang terjadi pada dirinya, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, maka berilah maaf niscaya Allah akan menambah kemuliaanmu. Dan tidaklah seorang laki-laki membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta kepada manusia, melainkan akan di bukakan oleh Allah pintu kemiskinan baginya.”

Dan ketika wafat, ia meninggalkan harta yang sangat banyak dan menjadi pembicaraan para periwayat hadits dan kabar tentang it uterus dinukil di dalam kitab-kitab yang percaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Asakir, dan Ibnu Al-Jauzi, dari Muhammad bin Sirin, bahwasanya ketika Abdurrahman bin Auf wafat, diantara yang di tinggalkannya adalah sebongkah emas yang dipotong dengan kapak sehingga tangan orang-orang yang mememotongnya menjadi kasar. Dan ia juga meninggalkan empat istri yang masing-masing mendapatkan bagian sebesar delan puluh ribu (dinar).

Dan diriwayatkan oleh Ibnu sa’ad, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir, dari Utsman bin Asy-Syarid berkata, “Abdurrahman meninggalkan sebanyak seribu ekor unta, dan tiga ribu ekor kambing di Baqi, serta seratus kuda yang digembalakan di Baqi.”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shaleh bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Tumadhir binti Al-Ashbagh mendapat bagian seperempat dari seperdelapan, maka dikeluarkan bagiannya sebesar seratus ribu, dan ia adalah satu diantara empat istrinya.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik berkata, “Aku telah melihat setiap orang dari istrinya mendapat bagian setelah kematiannya sebesar sertatus ribu dinar.”

Abdurrahman wafat dengan meninggalkan empat istri, sehingga bagian mereka secara keseluruhan berjumlah empat ratus ribu dinar. Satu dinar sama dengan sepuluh dirham, sehingga berarti bagian mereka adalah sebesar empat juta dirham, dan itu merupakan seperdelapan dari keseluruhan. Maka jumlah harta peninggalannya secara keseluruhan adalah 32 juta dirham. Ini di luar dari peninggalannya yang berupa tanah, property, domba, unta, dan kuda.

I. Data-Data Pribadi dan Keturunannya yang Penuh Berkah

Sungguh banyak nikmat dan keutamaan yang Allah karuniakan kepada Abdurrahman bin Auf dan berlimpah di seluruh sisi kehidupannya, baik dirinya secara khusus maupun keturunannya secara umum, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah memberkahi umurnya dengan memberikan hidayah kepadanya semenjak muncul fajar risalah Islam, sehingga dia pun memeluk agama Islam pada usia yang masih belia. Dia sering menemani Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ikut berperang bersama beliau, dan berjihad di bawah panji beliau. Setiap waktu dari umurnya benar-benar diberkahi, dan perjalanan hidupnya benar-benar diliputi kebahagiaan dan kegembiraan.

Semua usaha dan bisnisnya juga diberkahi, sehingga rezeki pun melimpah di tangannya, sampai diibaraatkan seandainya ia mengangkat sebuah batu maka di bawahnya ia bisa mendapatkan sebongkah emas atau perak.

Hartanya diberkahi karena ia gemar mengeluarkan infaq dan sedekah, sehingga hartanya melimpah di dunia, dan tentunya di sisi Allah lebih banyak dan lebih mulia lagi. Ia meninggalkan warisan berupa emas yang harus dipotong-potong menggunakan kapak sebelum dibagikan. Ia juga meninggalkan banyak kuda dan hewan ternak yang memenuhi padang rumput dinegerinya.

Para istri, anak, cucu, dan keturunannya juga diberkahi, di mana mereka menjabat kedudukan yang tinggu dan mulia. Di antara mereka ada yang menjadi ulama, ahli fikih, ahli hadits, hakim, gubernur, menteri, dan lain sebagainya.

Ini merupakan kebahagiaan yang Allah karuniakan kepadanya selama hidup di dunia disamping yang telah Allah siapkan untuknya di akhirat kelak. Namanya akan selalu disebut sepanjang masa dan di berbagai tempat. Sungguh Allah telah memanjangkan umurnya dan melimpahkan pahala kepadanya, di mana ia meninggalkan anak-anak yang shalih dan berprofesi sebagai ualam, serta sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir kepadanya sampai hari kiamat.

1. Ayahnya Auf bin Abdu Auf

Auf bin Abdu Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah, saya tidak menemukan sumber yang menyebutkan tentang dirinya, kemungkinan ia telah meninggal sebelum Islam.

2. Ibunya Asy-Syifa

Dia adalah Asy-Syifa binti Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah putri dari paman suaminya.

Seorang shahabiyah, masuk Islam dan turut hijra, Radhiyallahu Anha.

Ibnu Sa’ad berkata, “Sunnah memerdekakan budak untuk orang yang meninggal muncul karenanya. Ia meninggal pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bisa memerdekakan budak untuk ibuku?” beliau berkata, “Ya.” Maka dia pun memerdekakan budak untuk ibunya.”

3. Saudara-saudaranya
  • Al-Aswad bin Auf: Ia masuk Islam dan berhijrah sebelum penaklukan kota Mekah.
  • Hamman bin Auf, dan Abdullah bin Auf: Kedunya masuk Islam pada saat penaklukan Mekah.
  • Atikah binti Auf: Masuk Islam dan membai’at Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berhijrah. Ia adalah Ibu dari Al-Miswar bin Makhramah.
  • Asy-Syifa binti Auf: Masuk Islam dan hijrah bersama saudarinya Atikah.
  • Dan Demikianlah, Ibu Abdurrahman, dua saudarinya, serta tiga saudaranya, semuanya adalah shahabat.

4. Istri-istrinya

Abdurrahman menikahi enam belas wanita sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan terdahulu yang menulis biografinya, seperti Ibnu Sa’ad, dan Zubair bin Bakkar. Diantara mereka ada yang meninggal pada masa hidupnya atau bercerai. Dan saat wafatnya ia meninggal empat istri.

Diantara istri-istrinya yang paling dikenal antara lain:

  • Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’aith: Seorang shahabiyah, masuk Islam di Mekah, berbai’at, dan berhijrah. Dan berkenaan dengan dirinya, dan wanita-wanita lain seperti dirinya turun firman AllahTa’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka).”138
  • Sahlah binti Suhail bin Amru: Ia telah lama masuk Islam di Mekah, berbai’at, dan hijrah ke Habasyah dua kali dengan suaminya Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah. Setelahnya ia dinikahi oleh Abdullah bin Al-Aswad, kemudian dinikahi oleh Syammakh bin Sa’id, dan setelahnya dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf. Ia melahirkan anak untuk seluruh suaminya, dan untuk Abdurrahman bin Auf ia melahirkan putranya, Salim.
  • Ummu Kultsum bin Utbah bin Rabi’ahIa masuk Islam dan berbai’at. Ia melahirkan Salim Al-Akbar untuk Abdurrahman yang meninggal sebelum Islam.
  • Habibah binti Jahsy Ummu Habib (atau Ummu Habibah): Saudari dari Zainab ummul mukminin, dan juga saudari dari Hamnah. Ia adalah seorang shahabiyah Radhiyallahu Anha. Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah binti jahsy yang pernah menjadi istri Abdurrahman bin Auf, mengadukan darah penyakitnya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau berkata, “Tunggulah sampai masa hadihmu yang biasanya berlalu, dan kemudian mandilah.” Dan ia pun mandi setiap akan shalat.139. Dan dalam riwayat lain dari Aisyah,“Bahwasanya Ummu Habibah binti Jahsy menderita darah istihadhah selama tujuh tahun. Ia pernah menjadi istri Abdurrahman bin Auf. Maka ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang penyakitnya tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Itu adalah penyakit bukan darah haidh. Maka mandilah dan kemudian shalat.” Ia berkata, “Dan ia mandi setiap kalia akan shalat.” Ia dan saudarinya Hamnah binti Jahsy sama-sama menderita darah istihadhah ini berdasarkan riwayat yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr.
  • Tumadhir bint Al-Ashbagh Al-Kalbiyah
  • Sahlah binti Ashim bin Adi Al-Anshariyah
  • Badiyah atau Badinah binti Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqafiyah
  • Bahriyah binti Hani’ bin Qabishah, dari Bani Syaiban
  • Ummu Hakim binti Qarizh, dari Bani Laits, sekutu bani Zuhrah.
  • Asma binti Salamah bin Makhrabah Ad-Darimiyah
  • Majd binti Yazid bin Salamah Al-Himyariyah
  • Bintu Syaibah bin Rabi’ah bin Abdu Syams
  • Bintu Abu Al-Haysar Anas bin Rafi’ Al-Anshariyah.
  • Ghazal binti Kisra, dari tawanan Mada’in
  • Zainab binti Ash-Shabbah, dan ia dari tawanan Bahra’
  • Ummu Huraits, dan ia dari tawanan Bahra’.
5. Anak-anaknya

Abdurrahman dikaruniai dengan anak yang banyak. Para sejarawan menyebutkan bahwa ia memiliki tiga puluh anak yang terdiri dari 22 orang putra dan 8 orang putri.

Putra nya: 

  • Ibrahim: Seorang Imam, ulama, ahli hadits, dan ahli fikih.
  • Humaid: Seorang imam, ahli hadits, ahli fikih, terhormat, dan mulia.
  • Abu Salamah: Salah seorang ulama Madinah dam lautan ilmu yang dimilikinya. Ia seorang hafizh besar, ahli fikih dan mujtahid.
  • Umar: Seorang ahli ilmu, meriwayatkan hadits dari ayahnya.
  • Mush’ab: Ia memiliki riwayat dari ayahnya.
  • Muhammad: Ia meriwayatkan dari ayahnya dan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri.
  • Salim Al-Akbar: Ia meninggal sebelum Islam.
  • Ismail
  • Urwah
  • Salim Al-Ashghar
  • Abdullah Al-Akbar, mereka bertiga meninggal pada saat penaklukan Afrika.
  • Suhail Abu Al-Abyadh.
  • Zaid.
  • Abdurrahman
  • Utsman
  • Abu Utsman Abdullah
  • Al-Qasim
  • Ma’n
  • Abu Bakar
  • Bilal
  • Yahya

Putri-putrinya: 

  • Ummu Al-Qasim: Lahir pada masa jahiliyah
  • Ummu Yahya.
  • Juwairiyah
  • Hamidah.
  • Aminah
  • Maryam
  • Amatur – Rahman Al-Kubra
  • Amatur – Rahman Ash-Shugra

Dan diantara keturunannya:

  • Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf: Seorang imam besar, ahli hadits yang mulia, ahli fikih dan salah soerang ulama besar, ia merupakan hakim di Madinah.
  • Umar bin Abu Salamah bin Abdurrahman: Seorang ahli hadits dan ahli fikih.
  • Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman: Ahli Hadits.
  • Abdul Majid bin Suhail bin Abdurrahman: Ahli Hadits
  • Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Imam besar ahli hadits, salah seorang ulama Madinah yang paling banyak meriwayatkan hadits pada masanya.
  • Muhammad bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman: Hakim di kota Madinah pada masa Ja’far Al-Manshur
  • Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman salah seorang ahli hadits terbesar.
  • Ubaidillah bin Sa’ad bin Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Ahli hadits.
  • Ahmad bin Abu Bakar Al-Qasim bin Al-Harits bin Zurarah bin Mush’ab bin Abdurrahman: Shahabat dari Imam Malik, dan menjadi Imam Madinah setelahnya.
  • Ahmad bin Sa’ad bin Ibrahim bon sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Ahli hadits, salah seorang ahli ilmu, memiliki keutamaan, keshalihan zuhud.
  • Abdul Aziz bin Imran bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman: Salah seorang toko kota Madinah.
  • Harun bin Abdullah bin Muhammad bin Katsir bin Ma’n bin Abdurrahman: Hakim di kota Ar-Riqqah, Baghdad, dan Mesir pada masa Ma’mun.
  • Abdurrahman bin Harun bin Abdullah bin Muhammad bin Katsir bin Ma’n bin Abdurrahman: Hakim di kota Mekah pada masa Al-Mu’tadhid Billah.

Dan banyak lagi selain mereka yang disebutkan oleh para ulama dan sejarawan. Kemasyhuran mereka terus berlanjut hingga setelah tahun 300H. di antara mereka terdapat banyak pemuka masyarakat, tokoh mereka, ulama, dan gubernur. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari kebaikan yang diberikan Allah kepada Abdurrahman. Allah Ta’ala mengekalkan jejaknya di dunia, dan menjadikannya buat tutur yang baik bagi mereka yang datang kemudian, semoga Allah meridhainya.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/abdurrahman-bin-auf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s