Abu Ubaidah

A. Asal-Usul Abu Ubaidah, Pertumbuhan, Dan Keislamannya

1. Nama abu Ubaidah, nasab, sifat, dan gambaran fisiknya

Suku Quraisy menempati kedudukan yang utama di Jazirah Arab dan dihormati oleh suku-suku lainnya karena posisinya sebagai pengelola Ka’bah yang dikunjungi oleh bangsa Arab dari berbagai penjuru.

Di Mekah tempat Ka’bah berada, dikelilingi oleh gunung-gunung tandus, tempat berhembusnya angin dari padang pasir yang luas, lahirlah seorang anak dari rahim suku Quraisy. Sosok yang tidak dikenal oleh sejarah sebelum cahaya kenabian muncul dan mataharinya bersinar di atas langit Mekah.

Di sana lahirlah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits bin Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Al-Yas, bin Mundhar bin Nazar bin Maad bin Adnan Al-Quraisy Al-Fihri Al-Makki.

Ayahnya, Abdullah bin Al-Jarrah tumbuh besar sebagai penganut agama kaumnya dan meninggal dunia sebelum munculnya Islam. Sedangkan ibunya adalah Ummu Umaimah binti Ghanam bin Jubair, sempat masuk Islam dan menjadi salah satu shahabiah pengiring Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dari kedua orang tua ini lahirlah Amir, maka dia adalah keturunan Arab Quraisy. Nasabnya bertemu dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada kakek ke tujuh, yaitu Fihr bin Malik.

Orang yang pernah melihatnya menggambarkanfisiknya sebagai berikut: Dia adalah seorang laki-laki yang kurus , berwajah tirus, memiliki janggut yang tipis, berperawakan tinggi, punggungnya sedikit miring, gigi depannya patah, dan memiliki dua jalinan rambut. Dia menggenakan sebuah cincin yang bertuliskan “Kejujuran adalah kemuliaan”.

Pada saat tua, ketika rambutnya mulai ditumbuhi oleh banyak uban, dia menyemir rambut dan janggutnya dengan inai.

Beberapa karakter fisiknya menyerupai Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahkan dia menyerupai Abu Bakar di beberapa sifat dan akhlaknya.

Amir dilahirkan di Bithah, Mekah Al-Mukarramah pada tahun 27 sebelum Nabi diutus. Dia sebaya dengan Umar bin Khaththab dan lebih muda 13 tahun dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

2. Pertumbuhannya, keislamannya, dan julukannya

Anak  ini membuka matanya di lingkungan yang dikelilingi oleh kesyirikan terhadap Allah dan kebodohan tentang hakikat alam dan tujuan penciptaan. Dikuasai oleh kebiasaan penyebahan berhala yang merendahkan kemuliaan manusia ke derajat paling bawah sehingga membuatnya tunduk dan menyerah pada kebiasaan nenek moyangnya, maka dia sempat bersujud kepada selain Allah dan melakukan beberapa kemaksiatan.

Amir bukanlah orang yang pertama melakukannya, dia tumbuh di lingkungan yang dikuasai oleh kebiasaan jahiliyah di mana anak-anak meniru orang tua mereka. Hanya saja, sejarah tidak mencatat kisah tentang kehidupan Amir dalam kebodohan jahiliyah dan keburukan akhlaknya. Kondisinya sama seperti kebanyakan para shahabat mulia yang tidak diketahui cerita kehiduapannya di masa jahiliyah. Pada masa itu mereka terkukung di jazirah mereka, tidak peduli dengan urusan dunia luar sebagaimana dunia luar tidak mengenal mereka, kecuali rombongan yang berangkat dari negeri-negeri mereka atau datang ke tempat mereka untuk urusan perdagangan atau penghormatan atas Ka’bah.

Jika tidak ada Islam, tentu Amir akan mati dan dikubur bersama kisah kehidupannya. Tak ka nada seorang pun yang mengenalnya sebagaimana halnya ribuan manusia yang mati sebelum datangnya Islam, bahkan setelah setelah kedatangannya. Mayoritas shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hidup pada masa Islam, melayani risalahnya, mengorbankan jiwa dan raganmya untuk Islam, dan pergi menemui AllahSubhanahu wa Ta’ala , namun tidak ada seorang pun yang mengenal mereka, bahkan nama mereka tidak tercatat dalam sejarah sehingga orang-orang tidak tahu apa-apa tentang mereka, ketiaka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan haji wada’, ikut bersama beliau 120 ribu kaum muslimin. Di mana tercantum nama-nama mereka dan diaman tercatat biografi mereka? Yang ada di tangan kita hanya sekitar sepuluh ribu biografi shahabat. Kebanyakan tidak lebih dari beberapa garis saja.

Kita tidak mengetahui sedikitpun cerita tentang shahabat yang satu ini pada masa sebelum datangnya Islam. Ketika dia masuk Islam bintangnya langsung bersinar, sosoknya jadi terkenal dan namanya senantiasa disebut-sebut.

Dia biasa dipanggil Abu Ubaidah. Panggilan ini lebih popular dibandingkan namanya. Bahkan RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat biasa memanggilnya dengan panggilan tersebut.

Sedangkan julukannya, Rasulullah menganuhgerahkan padanya sebuah sifat yang sangat indah, yaitu “Kepercayaan Umat”. Julukan ini jadi kiri khasnya yang selalu menempel dengan namanya seolah-olah menjadi bagian dari nasabnya yang tidak mungkin dipisahkan.

Dia dikenal di kalangan orang-orang dengan nama, panggilan dan julukannya tersebut, baik dikalangan shahabat secara umum maupun khusus dan di kalangan sejarawan saat menuliskan kisah tentangnya.

Seiring dengan turunnya wahyu ke hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berupa permulaan surat Iqra’ dan cahaya Al-Qur’an memancar dari gua hira, maka cahaya itu langsung meliputi seluruh penjuru Mekah. Sehingga sekelompok orang menyatakan keimanannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka lah kelompok pertama yang membentuk masyarakat Islam dan yang mengemban tanggungjawab dakwah ke seluruh alam semesta.

Berimanlah pemuka agama dan pemimpin umat, tuannya kaum muslimin dan pengikut Nabi paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu Anhu. Dia adalah orang pertama yang diajak masuk Islam setelah rumah Nabi yang penuh berkah, sehingga dia menjadi orang dewasa merdeka yang menyatakan keimanannya terhadap risalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Setelah Abu Bakar menyatakan keimanannya, dia langsung bangkit berdakwah membawa panji Islam dibawah naungan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka dia mengajak beberapa orang yang dipercayanya dari kaumnya. Hasilnya, lima orang dari mereka menerima ajakan Abu Bakar tanpa ragu sedikitpun, yaitu Utsman bin Affan, Thalha bin Ubaidah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Mereka bersama Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan putrid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan kelompok pertama dan yang paling dahulu masuk Islam.

Seruan masuk Islam terus tersebar ke seantero Mekah, menghembuskan pengaruhnya kepada jiwa-jiwa yang suci, hati yang hidup dan akal yang mencari cahaya. Desas-desus dakwah terus menyebar dan menjadi bahan bicaraan khalayak ramai, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Satu persatu mulai masuk Islam, laki-laki dan perempuan, budak dan orang merdeka. Maka keislaman kelompok kedua terjadi pada masa awal dakwah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Arqam bin Abil Arqam.

Beberapa orang datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Harits bin Muththalib, Abu Salamah bin Al-Asad, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Khabbab bin Al-Art, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fatimah binti Khaththab saudari Umar. Lalu RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan Islam kepada mereka, mengajarkan prinsip-prinsipnya hingga mereka semua masuk Islam.

Terdepannya Abu Ubaidah dan kawan-kawan dalam menyatakan keislaman dan keimanan terhadap dakwah Islam memberi gambaran tentang kualitas hidupnya. Hal tersebut mengungkapkan tentang jiwanya yang bebas dan kelebihannya berupa akal yang jernih, pandangan yang tajam, pemikiran yang cemerlang, dan kemuliaan yang sempurna. Dia melepaskan diri dari keyakinan nenek moyang, menjahui kesesatan penyemabahan berhala dan keburukan perilaku syirik yang memenuhi ruamah-rumah di Mekah dan menutup akal mayoritas penduduknya dan para pembesaranya.

Saat fajar Islam terbit, Abu Ubaidah berusia 17 tahun. Dia masih sangat muda dan memilki keinginan yang menyala-nyala serta pikiran yang cemerlang. Maka dia menjadikan akalnya sebagai pemimpin, tindak tanduk pada pembesar kaumnya, tidak takut atas pilihan yang diambilnya jika tampak olehnya tanda-tanda kebenaran sehingga menggerakkan jiwanya yang paling dalam, membuka pengunci hatinya, dan membangunkan kerinduan nuraninya. Dia pun memasuki pintu Islam dan taman iman tanpa pernah berhenti dan tidak merasa takut ataupun malu.

Hal ini menunjukkan bahwa pemuda yang cerdas ini tidak terpengaruh oleh kondisi masyarakatnya yang dapat mengatur jiwanya dan menyetir akal pikiran dalam membentuk kepribadiannya dan menentuka jalan hidupnya sehingga mencegahnya untuk tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi dadanya begitu cepat menerima pencerahan Islam, akalnya begitu mudah memahaminya, dan jiwanya segera menyambutnya. Merasuklah keimanan ke dalam hatinya dan meresap ke dalam relung jiwanya. Dia pun bergabung dengan para pengemban risalah dakwah yang berkumpul di dalamnya kaum lelaki dan perempuan, orang tua dan pemuda, orang merdeka dan para budak. Hati mereka bertemu, tangan mereka saling berpegang erat, masing-masing mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menyukseskan misi dakwah mereka.

Abu Ubaidah dan orang-orang yang beriman bersamanya menjelma sebagai generasi pertama yang masuk Islam. Mereka semua, meski jumlahnya sedikit, merupakan pasukan dakwah dan penjaga risalah. Tidak ada seorang pun yang mendahului mereka menempuh jalan kebaikan tersebut.

B. Menyertai Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

1. Dari awal keislamannya hingga ke rumah Arqam dilanjutkan dengan dakwah secara terang-terangan.

Abu Ubaidah merasa senang dengan hidayah yang diperolehnya dari Tuhannya, yang ditunjuki oleh akalnya dan dipilih oleh hatinya, berupa pembenaran atas dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bergabungnya dia bersama para pendahulu. Jiwanya bersinar oleh sifat mulia yang diperolehnya dengan menyertai pemilik risalah untuk mengambil tempat di barisan pertama di antara para pembela dakwah yang menyeru kepadanya dan menebar berita gembira dengannya.

Keislamannya terjadi di masa-masa awal sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Al-Arqam bin Abil Arqam. Waktu itu dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, disambut oleh individu-individu dan sekelompok kecil dari orang-orang yang memilki fitrah yang bersih. Mereka menyelinap menerima Islam secara sembunyi-sembunyi sambil mewaspadai kaum Quraisy yang selalu mengikuti langkah mereka dan mewaspadai setiap tarikan nafas mereka.

Abu Ubaidah dan orang-orang bersamanya bergabung ke dalam panji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahap awal dakwah. Mereka menjalani fase sembunyi-sembunyi di bawah naungan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memperoleh pendidikan yang semestinya dan persiapan yang sempurna untuk mengemban panji risalah dengan tekad yang kuat serta penuh kesabaran dan keyakinan. Mereka pun memasuki lembaga pendidikan pertama dalam Islam, yaitu rumah Al-Arqam (Darul Arqam) dibawah naungan bukit shafa yang menghadap ke Ka’bah Al-Musyarrafah. Lemabaga pendidikan yang dipilihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Nabi-Nya itu menjadi sumber cahaya dakwah beliau dan tempat terbitnya hidayah. Di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk dikelilingi oleh sekelompok orang yang paling terdepan dalam menyambut datangnya hidayah dan kebenaran, mengajarkan mereka Al-Qur’an dan hikmah serta membersihkan hati mereka dan mendidik mereka dengan pendidikan yang dialaminya sendiri yang diperolehnya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau pun memahamkan mereka soal agama dan menunjuki mereka ke jalan kebaikan, mengajarkan kepada mereka dengan petunjuknya, bicara dan diamnya, tentang kunci kesabaran, pengendalian diri, keberanian hati, kesucian batin, ketabahan menanggung bala, kemurahan hati, kelapangan hati dan sifat pemaaf, sebagai persiapan untuk menghadapi kesulitan hidup dan kerasnya tantangan di jalan iman dalam rangka mendakwahkan dan menyebarkannya ke seluruh alam.(Lihat Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam [2/156-157], karya Muhammad Ash-Shadiq).

Di tangan pendidik paling sempurna dan manusia paling mulia inilah Abu Ubaidah dan rekan-rekannya memperoleh pelajaran tentang keimanan, keikhlasan, pengorbanan, akhlak mulia, berpegang teguh pada hal-hal mulia, berusaha untuk mencapai kemuliaan, dan bertabiat dengan sifat-sifat yang luhur.

Di tangan pendidikan paling sempurna dan manusia paling mulia inilah Abu Ubaidah   dan rekan-rekannya memperoleh pelajaran tentang keimanan, keikhlasan, pengorbanan, akhlak mulia, berpegang teguh pada hal-hal mulia, berusaha untuk menciptakan kemuliaan, dan bertabiat dengan sifat-sifat yang luhur.

Di madrasah yang penuh keberkahan itu diasahlah kemampuan Abu Ubaidah, dibentuk akhlak dan sifatnya, diarahkan cita-cita dan tujuan hidupnya, dan sempurnalah kepribadiannya. Dia merupakan murid langsung dari Rasul paling mulia.

Dari sana Abu Ubaidah dengan jiwa mudanya dan semangat kaum mukminin, menjelma sebagai pembela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ikut mengemban bersama beliau panji dakwah, member kabar gembira dengannya, dan menyingkirkan berbagai rintangan yang menghalanginya, mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam menempuh jalan dakwah ini, dia ditemani oleh sejumlah kaum mukminin yang segera beriman kepada agama yang lurus ini. Mereka tidak pernah lelah untuk menyampaikan cahaya Islam, hidayahnya, dan kebaikannya kepada manusia disekitar mereka untuk menyelamatkan mereka dari keburukan syirik dan kejahiliyahan.

Al-Waqidi meriwayatkan dari Ibnu Mauhab dari Ya’qub bin Utbah, dia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan beritanya mulai tersebar di Mekah, mereka mengajak satu sama lain. Abu bakar, Sa’id bin Zaid, dan Utsman berdakwah secara rahasia, sedangkan Umar, Hamzah, dan Abu Ubaidah Al-Jarrah berdakwah secara terang-terangan. Kaum Quraisy pun murka atas perbuatan mereka itu.

2. Meningkatnya penderitaan kaum muslimin dan hijrah ke Habasyah.

Para pejuang generasi pertama semakin bertambah. Setiap hari ada saja kelompok baru yang bergabung dengan  barisan pengemban dakwah. Mereka pun jadi bahan perbincangan di tempat perkumpulan kaum Quraisy, gaung keimanan mereka bergema di seantero Mekah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sekelompok kaum mukmini yang kuat mulai menyebarkan dakwah secara terang-terangan.

Para penolong kemusyrikan pun berkumpul untuk membahas persoalan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para pengikutnya. Mereka lalu merencanakan untuk menghalangi jalan dakwahnya setelah beliau melakukannya secara terang-terangan dan para shahabatnya berani masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat di Ka’bah. Mereka yakin, dengan begitu mereka akan menghentikan langkah Rasulullah dan para pengikutnya. Mereka pun menyiksa para shahabat Nabi yang memungkinkan untuk disiksa. Membiarkan mereka kehausan dan kelaparan, menjemur mereka di padang pasir Mekah, menimpakan pada mereka berbagai gangguan, untuk mengembalikan mereka pada agama nenek moyang mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meliahat apa yang dialami para shahabat beliau berupa gangguan dan siksaan yang di luar batas kemampuan manusia untuk menahannya. Beliau lalu menyerankan kepada mereka untuk menghindar ke sebuah negeri agar memperoleh jaminan keamanan dan dapat menjalankan ibadah dengan leluasa serta dapat mempertahankan akidah mereka. Beliau lalu memberitahu mereka bahwa di Habasyah ada seorang raja yang adil.

Sekelompok shahabat lalu berhijrah ke sana, diikuti oleh kelompok kedua yang jumlahnya lebih banyak. Abu Ubaidah ikut serta dalam kelompok yang kedua ini.
Ibnu Sa’ad berkata, “Abu Ubaidah hijrah ke Habasyah bersama kelompok yang kedua.

3. Kembali ke Mekah

Abu Ubaidah tinggal di Habasyah hanya sebentar. Jiwanya yang dipenuhi oleh keimanan dan rasa cinta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta pengorbanan dan kesabaran tidak membuatnya rela berlama-lama di negeri itu.
Adz-Dzahabi berkata, “Meski Abu Ubaidah ikut Hijrah ke Habasyah, namun dia tidak tinggal lama disana.”

Maka Abu Ubaidah pun segera kembali ke Mekah untuk melanjutkan hidup di bawah naungan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mendapat pelajaran hikmah, menggali ilmu, menambah keimanan, dan menyerap akhlak. Sehingga dia memperoleh kemuliaandan ketenangan batin serta kekuatan iman dan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, yang di perolehnya dari lembaga pendidikan terbaik di bawah asuhan pendidik paling agung.

4. Hijrah ke Madinah dan persaudaraan kaum muslimin

Abu Ubaidah senantiasa berjalan beriringan dengan dakwah Islam di Mekah Al-Mukarramah. Semangatnya tumbuh bersama tumbuhnya dakwah dan keteguhan hatinya bertambah seiring bertambahnya pengikut dan penolong dakwah. Setelah peristiwa bai’atul Aqabah Al-Kubra dan kesiapan kaum Anshar untuk membuka daerah mereka, Yatsrib sebagai tempat berlindungnya dakwah dan para pendakwah, maka dakwah pun segera beralih dari kehidupan yang sempit menuju kehidupan yang lapang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membertahu para shahabat beliau, “Saya telah menemukan tempat yang tepat untuk kalian hijrah, yaitu Yatsrib. Maka siapa yang mau silakan berangakat ke sana.” Izin untuk hijrah ini sengat sejalan dengan keinginan para shahabat, maka mereka pun berangakat ke sana baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ashim bin Umar bin Qatadah, dia berkata, “Ketika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah hijrah dari Mekah ke Madinah, dia menumpang di rumah Kultsum bin Al-Hidm.”

Kaum Anshar menyambut saudara mereka kaum muhajirin dengan sambutan yang sangat baik. Meeka menyambutnya dengan rasa cinta dan penghormatan, dan menadhulukan kepentingan saudaranya sendiri dari pada mereka sendiri. Mereka pun berhak atas apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an, “Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga darinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Harsy [59]: 9).

Abu Ubaidah menumpang di rumah seorang shahabat Anshar yang mulia, Kultsum bin Hidm bersama beberapa shahabat Nabi lainnya, seperti Al-Miqdad bin Amr, Khabbab bin Al-Art, Suhail bin Baidha’, dan lainnya.

Di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyusun kaidah-kaidah masyarakat yang baru dan salah satu kaidah terpenting adalah mempersaudarakan antara kaum muslimin dalam rangka membentuk struktur masyarakat muslim yang baru. Beliau lalu mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar atas dasar cinta karena Allah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya, “Saling bersaudaralah karena Allah dua orang dua orang.” Abu Ubaidah bersaudara dengan Abu Thalhah Al-Anshari.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Rasulullah mempersaudarakan antara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan Abu Thalhah.”
Dalam persaudaraan itu, kaum Anshar menunjukkan ketulusan hati mereka dalam mencintai saudara-saudara mereka dari kaum Anshar. Seluruh rasa cinta dan penghormatan yang mereka miliki diberikan pada saudara mereka. Bahkan mereka mendahulukan kepentingan saudaranya dengan cara yang tidak ada bandingnya sepanjang perjalanan sejarah.

5. Berbagai perang yang diikuti Abu Ubaidah bersama Rasulullah

Abu Ubaidah senantiasa mengiringi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sepanjang masa risalah baik di Mekah maupun di Madinah. Dia tidak pernah berpisah dengan beliau kecuali dalam waktu yang pendek, yaitu ketika dia hijrah ke Habasyah, lalu dia segera kembali ke Mekah untuk kembali menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dia sangat menikmati belajar Al-Qur’an langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mendengarkan hadits-haditsnya, menyerap akhlak kenabian, dan mengikuti petunjuknya.
Setelah hijrah ke Madinah, Abu Ubaidah senantiasa ikut serta bersama Rasulullah dalam berbagai peristiwa. Dia tidak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah. Bahkan dia memiliki peran yang luar biasa dalam berbagai peperangan tersebut.

6. Pada perang Badar

Pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H bertemu dua pasukan, pasukan kaum muslimin dengan kekuatan imannya meski jumlahnya sedikit dan persiapan seadanya menghadapi pasukan kafir yang tenggelam dalam kesesatannya dengan jumlah yang banyak dan persiapan yang matang. Roda sejarah berhenti sejenak untuk menorehkan akhir kehidupan yang hina bagi kemusyrikan dan para penolongnya serta semakin majunya perjalanan kehidupan kemanusiaan yang mulia mengantarkan kepada dunia iman, petunjuk, keadilan, rahmat, persaudaraan, dan kasih sayang.

Pada peristiwa yang merubah perjalanan sejarah itu sekelompok kaum mukminin berjuang bersama Nabi mereka untuk mempertahankan akidah dan masyarakat iman dan tauhid. Di barisan terdepan terdapat sahabat kita Abu Ubaidah. Dia pun memperoleh perhargaan tertinggi sebagai Ahli Badar yang ditambahkan atas berbagai penghargaan yang diraihnya sebelumnya, yaitu sebagai kelompok yang paling awal masuk Islam, yang bersabar di Mekah, yang hijrah ke Habasyah lalu ke Madinah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ Az-Zuraqi, yang ikut serta dalam perang Badar, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bertanya, “Bagaimana kalian menganggap mereka yang ikut perang Badar?” Jawab Nabi, “Mereka merupakan kaum muslimin paling utama.” Jibril berkata, “Begitu juga dengan malaikat yang ikut serta dalam perang Badar.”

Berbagai kitab tafsir, kitab sejarah, dan biografi menerangkan bahwa ayah Abu Ubaidah ikut bersama pasukan kaum musyrikin pada saat perang Badar. Maka Abu Ubaidah langsung menghadapinya dan berhasil membunuhnya.

Al-Hakim, Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Dhamrah bin Rabi’ah, dari Abdullah bin Syaudzab, dia berkata, “Ayahnya Abu Ubaidah senantiasa mengejar putranya dalam perang Badar, namun Abu Ubaidah berusaha menghindar. Ketiak ayahnya terus mengejar, Abu Ubaidah pun menghadapinya dan berhasil membunuhnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat ini ketika Abu Ubaidah membenuh ayahnya dalam perang Badar, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapat suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).

Perawi hikayat tersebut adalah Abdullah bin Syaudzab, seorang yang terpercaya, namun sanad haditsnya terputus, sehingga riwayat tersebut di pandang lemah. Ibnu Syaudzan lahir pada tahun 88 H, 86 tahun setelah perang Badar, dan dia tidak memiliki sanad yang tersambung.

Muhammad bin Umar Al-Waqidi mengingkari bahwa ayah Abu Ubaidah hidup pada masa Islam dan mengingkari pendapat penduduk Syam yang menyatakan bahwa Abu Ubaidah menghadapi ayahnya dalam suatu peperangan dan membunuhnya. Dia berkata, “Saya bertanya kepada beberapa orang dari Bani FIhr, diantara  Zufar bin Muhammad, mereka menjawab, “Ayah Abu Ubaidah wafat sebelum datangnya Islam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan kisah ini dalam kitab Fathul Bari dan memposisikannya sebagai riwayat yang dhaif (lemah). Dia berkata dalam penjelasan sifat  Abu Ubaidah, “Ayahnya terbunuh dalam keadaan kafir pada perang Badar. Ada yang mengatakan bahwa Abu Ubaidah yang membunuhnya. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan yang lain dari jalur Abdullah bin Syaudzab secara mursal.

Imam Al-Baihaqi menyebutkan berita ini dan diujungnya dia menyatakan, “Hadits ini terputus.” Dengan demikian, berita tersebut tidak shahih dari segi sanadnya.

Berita ini pun tidak shahih dari segi matannya. Menurut Al-Waqidi, ayah Abu Ubaidah telah wafat sebelum diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, berdasarkan berita sebagian bani Fihr. Mereka tentu lebih mengetahui hal itu. Di samping itu, perawi berita tersebut, Abdullah bin Syaudzab adalah orang Syam dan berita itu tersebar di Syam, padahal kejadiannya di Hijaz dan orang-orang Hijaz tidak tahu mengenai hal itu. Jika memang peristiwa itu terjadi, pasti mereka telah meriwayatkannya dan para perawi berita setelah mereka pasti akan menuliskannya.

Pena salah seorang sastrawan (Sastrawan yang dimaksud adalah Abdurrahman Ra’fat Al-Basys, di dalam kitabnya “Syurah Min Hayah Ash-Shahabah”) terlalu berlebihan ketika menggambarkan sebuah situasi bergaya sastra terkait hikayat tersebut, sehingga dia menyatakan, “Sesungguhnya Abu Ubaidah hanya berjarak satu hasta dari ayahnya, maka dia memukul kepala ayahnya dengan pedangnya hingga kepala tersebut terbelah menjadi dua, lalu sang ayah tersungkur di hadapannya.”

Bagaimana kita memposisikan cerita tersebut dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik?” (QS. Luqman [31]: 15) Ayat ini menggambarkan tentang seorang ayah yang musyrik dan berusaha untuk mengeluarkan anaknya dari agamanya dan menjadikannya musyrik juga, meski demikian, ayah tersebut menyuruh sang anak untuk berprilaku baik terhadap si ayah bahkan hendaknya mempersembahkan kebaikan padanya. Bagaimana menyelaraskan hal ini dengan apa yang disangka oleh kisah-kisah tersebut? Apakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendidik para shahabatnya untuk bersikap kasar terhadap orang tua mereka yang musyrik? Bukankah beliau melarang shahabat Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk membunuh ayahnya  yang merupakan pemimpin kaum munafik? Bukankah beliau menasihati istrinya Ummu Habibah binti Abu Sufyan untuk bersikap baik kepada ayahnya pada saat Ummu Habibah melipat kasur yang akan diduduki Abu Sufyan ketika datang untuk meminta maaf atas pelanggaran Quraisy terhadap perjanjian damai Hudaibiyah?

Tidak ada keutamaan bagi Abu Ubaidah dalam hikayat tersebut hingga kita memasukkannya dalam biografinya dan memujinya karenanya.

7. Pada perang Uhud

Pasukan Quraisy keluar untuk menuntut balas bagi anggota mereka yang terbunuh di perang Badar, yaitu pada perang Uhud yang berlangsung pada pertengahan Syawal tahun 3 H. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat pun menghadapi pasuka Quraisy. Beliau memakai beberapa perlengkapan perang seperti dua baju besi, baju besi berantai, dan topi baja. Beliau menjadikan gunung Uhud dibelakangnya dan menempatkan pasukan pemanah di gunung Ainain (Disebut juga Jabal Rumah yang terletak disamping gunung Uhud) sebanyak 50 orang di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair dan berpesan kepada mereka agar waspada dan member tahu jika ada bahaya. Beliau juga berpesan kepada mereka,

“Tetaplah di tempat kalian ini jagalah bagian belakang kami. Jika kalian lihat kami menang, jangan bergabung bersama kami. Jika kalian lihat kami kalah, tidak perlu kalian tolong kami.”

Dalam kitab Shahih Bukhari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian melihat kami disambar burung, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini hingga aku mengirim utusan untuk member tahu. Dan jika kalian melihat kami mengalahkan musuh dan meluluh lantakkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian hingga aku mengirim utusan.”

Perang pun berkecamuk, kaum muslimin hampir memenangkan pertempuran dan pasukan kafir berhasil dipukul mundur. Melihat hal tersebut pasukan pemanah meresa yakin bahwa kaum musyrikin telah kalah. Mereka pun berselisih, apakah mereka terus bertahan di tempat mereka sebagaimana diperintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau menuruni bukit untuk bergabung bersama pasukan kaum muslimin dan mengumpulkan harta rampasan perang? Kebanyakan mereka memilih unutk turun dari bukit. Maka mereka melanggar perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan membangkang terhadap pemimpin mereka Abdullah bin Jubair yang bertahan di tempatnya dan berusaha mengingatkan mereka tentang perintah dan wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Akan tetapi mereka membantahnya dan merubah maksud perintah Rasulullah seraya mengatakan, “Rasulullah tidak bermaksud begitu. Kaum musyrikin telah kalah, apa gunanya kita tetap bertahan di sini?” Mereka pun turun ke gelanggang untuk ikut serta mengumpulkan harta rampasan perang.

Melihat arah belakang kaum muslimin terbuka, Khalid bin Walid segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia segera membawa pasukan berkuda memutari bukit dan menyerang kaum muslimin dari arah yang tidak diduga oleh kaum muslimin. Timbangan pertempuran pun berbalik.

Pelanggaran pasukan pemanah atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi sebab tercerai berainya barisan kaum muslimin. Mereka mulai dipukul mundur dan mencium aroma kekalahan setelah sebelumnya hampir memperoleh kemenangan. Kondisi mereka manjadi kacau karena di serang dari arah depan dan belakang. Mereka terjebak dalam situasi yang amat sulit dan sebagian besar dari mereka melarikan diri.

Sementara Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terus bertahan dan tidak beranjak dari posisinya. Beliau melempari musuh dengan bebatuan setelah busurnya patah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Miqdad bin Amr, dia berkata, “Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, kakinya tidak beranjak sedikitpun. Beliau berhadapan langsung dengan musuh. Terkadang sekelompok shahabat datang melindungi beliau, pada kesempatan lain mereka berpisah dari beliau. Seringkali saya meliaht beliau melempari mereka dengan busurnya, lalu melempari mereka dengan batu hingga mereka menyingkir dari beliau.”

Beberapa shahabat tetap bertahan bersama beliau, melindungi beliau dengan diri mereka dan berperang dengan gagah berani. Di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Hubab bin Mundzir, Abu Dujanah, Ashim bin Tsabit, Al-Harits bin Ash-Shimmah, Sahal bin Hunaif, Sa’ad bin Mu’adz, dan Muhammad bin Maslamah.

Dalam seranga tersebut kaum musyrikin berhasil mendekati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mereka terkena serangan mereka. Wajahnya terluka, empat gigi depannya patah, topi bajanya pecah, dan dua buah mata rantai baju besi penutup kepalanya menancap ke kedua pipinya.

Dalam situasi sulit tersebut kiata dapati Abu Ubaidah terus bertempur melawan musuh, sementara ujung matanya tidak lepas dari posisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, senantiasa mengawasi beliau seperti mata elang. Ketika melihat ada yang akan membahayakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dia segera melompat menerkam musuh-musuh Allah dan menghalau mereka ke belakang lalu melindunngi Rasulullah sebelum mereka sempat mencelakakannya. Tiba-tiba di dapatinya darah beliau yang suci mengalir dari mukanya dan dilihatnya Rasulullah Al-Amin menghapus darah dengan tangan kanannya sambil bersabda “Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang melukai wajah Nabi mereka padahal ia menyuru mereka kepada Tuahn mereka.” Abu Ubaidah melihat dua buah mata rantai besi penutup kepala Rasulullah menancap di kedua belah pipinya. Abu Ubaidah tak dapat menahan hatinya lagi untuk segera mencabut mata rantai itu dengan giginya. Semua itu didorong oleh keberaniannya dan rasa cintanya terhadap pemilik risalah.

Baiklah kita serahkan kepada saksi mata untuk menggambarkan situasi tersebut, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq., “saya termasuk yang bertahan.

Ath-Thayalisi meriwayatkan dari Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lain, dari Ishaq bin Yahya bin Thalhah, dari Isa bin Thalhah, dari Aisyah Radiyallahu anha. Dia berkata, “Apabila Abu Bakar bercerita tentang perang Uhud, dia berkata, “Hari itu milik Thalhah. Lalu dia bercerita, “Saya termasuk yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Uhud. Saya melihat seseorang berperang melindungi Rasulullah. Saya kira dia adalah Thalhah. Saya lebih suka jika orang tersebut berasal dari kaum saya (Abu Bakar Dan Thalhah sama-sama berasal dari Bani Taim). Di antara saya dan Rasulullah ada seseorang yang tidak saya kenali, posisi saya lebih dekat kepada Rasulullah dari padanya. Lalu dia melompat ke arah Rasulullah dengan cepat, ternyata dia adalah Abu Ubaidah Al-Jarrah. Saya pun sampai ke tempat Rasulullah. Saya dapati gigi depan beliau telah patah, wajahnya terluka, dua mata rantai penutup kepalanya menancap di pipinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tolonglah saudara kalian!” maksudnya Thalhah, dia telah berlumuran darah maka kami tinggalkan dia. Saya bermaksud ingin mencabut mata rantai yang menancap di wajah Rasulullah, namun Abu Ubaidah berkata, “Saya bersumpah, biar saya yang melakukannya.” Maka saya pun membiarkannya melakukannya. Abu Ubaidah tidak mau mencabutnya dengan tangan khawatir akan menyakiti Rasulullah. Maka dia pun menggigit mata rantai dan berhasil mencabutnya, seiring dengan itu gigi serinya pun lepas. Saya ingin melakukan hal yang sama, namun Abu Ubaidah kembali berkata, “Saya bersumpah, biar saya saja yang melakukannya.” Dia kembali melakukan hal yang sama, hingga terlepas satu gigi seri lagi.

Abu Ubaidah adalah orang yang paling baik dalam hal kehilangan gigi seri. Kami pun segera merawat luka Rasulullah. Kemudian kami mendatangi Thalhah, ternyata di tubuhnya terdapat tujuh puluh lebih luka akibat tusukan tombak, pukulan pedang, dan tancapan anak panah, dan salah satu jarinya putus. Maka kami segera merawatnya.”

Dalam riwayat Ibnu Asakir disebutkan, “Abu Ubaidah menelungkup di atas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu dia mencabut mata rantai yang menancap di wajah beliau. Dia tidak mau menggoyang-goyangkan mata rantai itu khawatir Rasulullah akan merasa sakit, maka dia menggigitnya lalu mencabutnya. Giginya lalu bergeser dan langsung dicabutnya.”

Demikianlah hendaknya rasa cinta itu, begitulah hendaknya sebuah pengorbanan. Sejarah tidak pernah mencatat situasi luar biasa seperti itu kecuali yang terjadi pada para shahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada yang menyamai kecintaan mereka terhadap beliau. Mereka tidak mendahulukan kecintaan terhadap diri, anak, keluarga, dan harta mereka di atas kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

8. Pada perang Dzatus Salasil

Pada bulan Jumadil Akhir tahun 8 Hijriyah sampai berita kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa gabungan pasukan Qudha’ah berkumpul di pemukiman mereka untuk menyerang Madinah. Maka beliau mempersiapkan pasukan yang terdiri dari 300 orang pilihan dari kaum muslimin dan menyerahkan panji kepada Amr bin Ash serta mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan. Beliau memerintahkan kepada Amr bin Ash untuk membeli pelajaran kepada kabilah-kabilah tersebut. Sesampainya di sana, Amr mendapati jumlah pasukan musuh sangat banyak, maka dia meminta tambahan pasukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau pun mengirim tambahan pasukan di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan memerintahkan kepadanya untuk bergabung dengan Amr dan tidak bergerak secara terpisah.

Musa bin Uqbah, Ibnu Sa’ad, dan Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Sampai berita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa gabungan pasukan dari Qudha’ah telah berkumpul untuk melakukan penyerangan terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau memanggil Amr bin Ash dan menyerahkan kepdanya panji berwarna putih, lalu mengikutsertakan benderah berwarna hitam. Beliau mengutusnya bersama 300 pasukan pejalan kaki dari kaum Muhajirin dan Anshar, ikut bersama mereka 30 pasukan berkuda. Beliau juga memerintahkannya untuk meminta bantuan kepada kabilah yang dilewati pasukan, yaitu dari kabilah Bali, Udzrah, dan Balqain. Pasukan ini bergerak pada malam hari dan beristirahat pada siang hari. Ketika pasukan hamper sampai ke tempat musuh, di ketahui jumlah pasukan musuh sangat banyak. Maka Amr mengutus Rafi’ bin Makits Al-Juhani kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta tambahan pasukan. Maka beliau mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan menyerahkan kepadanya panji, ikut bersamanya 200 pasukan pejalan kaki dari kaum Muhajirin dan Anshar, termasuk di antaranya Abu Bakar dan Umar. Beliau memerintahkannya untuk menyusul Amr dan hendaknya mereka bergabung menjadi satu pasukan dan tidak berselisih. Pasukan Abu Ubaidah pun berhasil menyusul pasukan Amr. Suatu saat Abu Ubaidah hendak mengimami shalat, lalu Amr berkata padanya, “Engkau dikirim ke sini sebagai bantuan pasukan, sedangkan saya pemimpin pasukan secara keseluruhan.” Maka Abu Ubaidah mentaati Amr dan sejak itu Amr yang menjadi imam Sholat. Pasukan kaum muslimin melanjutkan perjalanan hingga memasuki negeri Bali dan menundukkannya, hingga mereka sampai ke ujung negeri dan memasuki negeri Udzrah dan Balqain. Terakhir mereka menghadapi pasukan gabungan, maka pasukan kaum muslimin pun menyerbu mereka hingga mereka lari dan tercerai-berai. Perang pun usai dan pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah. Amr segera mengutus Auf bin Malik Al-Asyja’I untuk mengirim berita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahu beliau bahwa mereka dalam perjalanan pulang dengan selamat serta menginformasikan tentang pertempuran yang terjadi.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika Abu Ubaidah meliahat adanya perselisihan, sementara Abu Ubaidah adalah sosok yang lembut dan menganggap rendah segala urusan dunia, dia segera ingat akan pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka dia berkata kepada Amr, “Wahai Amr, ketahuilah bahwa pesan terakhir yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadaku saat akan berangkat adalah, “Jika engkau bertemu dengan shahabatmu, bersatulah dan jangan berselisih.” Demi Allah, jika engkau menolak untuk taat kepadaku maka saya akan tetap taat kepadamu!” Maka Abu Ubaidah pun mematuhi Amr, lalu Amr menjadi imam shalat. Amr berkata, “Saya pemimpinmu dan engakau hanyalah pasuka tambahan untuk membantuku.” Abu Ubaidah menjawab, “Silakan.”

Dengan sikapnya itu Abu Ubaidah menjadi contoh teladan bagi pemimpin dan anggota pasukan dalam hal mentaati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menjaga persatuan kaum muslimin agar mereka tetap berada dalam satu barisan yang kuat dalam menghadapi musuh. Dia tidak berkeras hati menganggap dirinya sebagai pemimpin pasukan yang di antaranya terdapat Abu Bakar dan Umar. Jiwanya lebih terpaut pada tujuan yang lebih mulia yaitu jihad fi sabilillah. Di hatinya tersimpan niat yang ikhlas tanpa dicampuri oleh keinginan hawa nafsu atau bisikan setan.

Akhlak seperti ini dimiliki oleh Abu Ubaidah, lalu semakin tumbuh dan berkembang saat dia hidup dalam naungan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti petunjuk beliau. Sikap Abu Ubaidah ini akan terulang saat dia menjadi pemimpin pada berbagai penaklukan selanjutnya.

9. Pada Fathul Makkah

Memasuki bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah, berangkatlah pasukan kebaikan di abwah pimpinan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuju Mekah untuk penaklukannya dan mengenyahkan berhala-berhala dari lingkungan Ka’bah. Dikibarkanlah panji tauhid melalui lisan muadzin Rasul, Bilal bin Rabah yang meneriakkan kalimat, “Allahu Akbar, La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

Tidak mungkin Abu Ubaidah absen dari peristiwa besar ini, sementara dia tidak pernah ketinggalan dalam berbagai peristiwa yang lebih kecil dari itu. Bagaimana mungkin dia melewatkan kesempatan untuk menyaksikan kemenangan besar? Bagaimana mungkin dia tidak ikut serta berangkat bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menaklukkan Mekah di mana dia pernah terusir dari sana. Kota tempat dia dilahirkan dan melewati masa kecilnya, tempat tinggal keluarganya, tempat dia meletakkan kakinya untuk pertama kali di jalan kebenaran saat menyatakan keislamannya! Dia pun sempat hidup di sana selama 13 tahun di bawah naungan kenabian. Bahkan tempat itu selalu menjadi tambatan hatinya dan kiblat shalatnya.

Abu Ubaidah tidak akan melewatkan semua itu dalam catatan kenangan. Telah terbuka kesempatan untuk mengulangi kembali saat-saat indah, lalu menyambung cerita masa lalu dengan masa sekarang di atas jempatan kehidupan yang mulia dan keimanan yang tulus di kota Iman, Madinah Munawwarah.

Memang benar, Abu Ubaidah ikut berangkat di bawah panji Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kepemimpinannya yang bijaksana. Dia bukanlah seorang tentara biasa, akan tetapi kedudukannya berada di kalangan shahabat terkemuka sejak masa awal dakwah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat mengetahui kedudukan para shahabatnya dan sangat baik terhadap mereka serta sangat menghargai kedudukan mereka. Maka beliau mengedepankan Abu Ubaidah dan menjadikannya salah satu pemimpin pasukan besar ini.

Ath-Thayalisi, Ahmad, Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i, dan yang lain meriwayatkan dari Tsabit Al-Bunani, dia berkata, “Abdullah bin Rabah Al-Ansharimenceritakan kepada kami, Abu Hurairah berkata, “Tidakkah saya beritahukan kepada kalian tentang suatu hadits dari hadits kalian wahai jamaah Anshar?” Maka Abu Hurairah menyebut Fathu Makkah. Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang dan memasuki kota Mekah. Beliau mengutus Zubair sebagai pemimpin salah satu dari dua sayap pasukan dan mengutus Khalid sebagai pemimpin sayap pasukan lainnya. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan yang tidak menggenakan baju besi, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memimpin pasukan berkuda.

Pada kesempatan itu dia menyaksikan satu momen terindah sepanjang hidupnya, yaitu ketika menyaksikan Mekah membentangkan lengan menyambut kedatangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya lalu menyaksikan gerakan pembersih Ka’bah dari kotoran berhala. Kenikmatan yang diperolehnya semakin sempurna dengan terbukanya kesempatan untuk melakukan thawaf, sa’I, dan shalat di maqam Ibrahim.

10. Pemimpin pasukan Ke Dzil Qashshah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  tidak merasa cukup dengan pengerahan pasukan dan keikutsertaan beliau bersama para shahabat dalam berbagai peperangan dalam rangka menegakkan panji jihad fi sabilillah, menyampaikan risalah, dan member pelajaran bagi para musuh, serta menyingkirkan berbagai halangan yang merintangi jalan dakwah ke seluruh alam. Akan tetapi beliau kerap mengirim pasukan bersenjata menyusuri padang pasir di sekitar Madinah untuk memperlihatkan kepada kaum musyrikin jazirah Arab, orang Yahudi, kaum munafik, serat Arab badui yang menetap di sekitarnya bahwa kaum muslimin telah menjelma sebagai pasukan yang kuat dan tidak lemah lagi seperti dahulu. Di samping itu agar menimbulkan rasa takut pada mereka yang memendam keinginan untuk memberontak terhadap pusat pemerintahan Negara Islam atau menyerang wilayah-wilayah di perbatasannya atau menimbulkan kekacauan di sana (Lihat: Fiqh As-Sirah karya Syaikh Muhammad Al-Ghazali, hlm.213-214). Hal ini didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 60).

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memepersiapkan panji untuk pasukan dalam jumlah kecil maupun besar dan mengangkat pemimpin untuk pasukan tersebut dari orang-orang terpilih diantara para shahabat beliau yang memilki kapasitas dan keahlian dalam hal perang dan sifat yang luhur sebagai pemimpin. Abu Ubaidah adalah salah satu yang dipilih oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan jihad. Maka beliau mengutusnya pada tahun ke enam Hijriyah memimpin 40 orang ke Dzail Qashshah.

Ibnu Sa’ad menceritakan bahwa pasukan ini berangkat pada bulan Rabiul Akhir tahun keenam Hijriyah. Penyebabnya adalah Bani Muharib, Tsa’labah, dan Anmar bergabung untuk menyerang peternakan Madinah yang digembalakan di Buhaifa’, sebuah tempat yang berjarak 7 mil dari Madinah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bersama 40 orang kaum muslimin. Mereka berangkat selepas Maghrib dan sampai ke Dzaul Qashshah menjelang Subuh. Maka mereka menyerbu para penyerang hingga melemahkan mereka dan melarikan diri ke pegunungan. Kaum muslimin berhasil menangkap salah seorang dari penyerang, lalu orang itu masuk Islam maka dilepaskan. Abu Ubaidah lalu mengambil ternak para penyerang dan yang tertinggal dari harta benda mereka untuk di bawah ke Madinah. Maka Rasulullah mengambil seperlima dan membagikan sisanya kepada pasukan tersebut.

11. Pemimpin pasukan Al-Khabath (Pasukan Siful Bahr)

Begitu juga, Rasulullah menetapkan Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan yang berjumlah 300 orang dari kalangan shahabat untuk mengintai kafilah dagang kaum Quraisy dan diberangkatkan ke Siful Bahr, daerah pesisir laut merah dari arah Yanbu’ berjarak 180 Km dari Madinah Munawwarah.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radiyallahu Anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengirim kami dengan Abu Ubaidah sebagai komandannya, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Kami hanya dibekali dengan sekarung kurma, dan tidak ada lagi selain itu. Karena itu, Abu Ubaidah membagi-bagikannya kepada kami sebuah demi sebuah.” Abu Az-Zubair berkata, “Lantas saya berkata, “ Apa yang dapat kalian perbuat dengan sebuah kurma itu” Jubair menjawab, “Kami menghisap-hisapnya seperti bayi. Kemudian kami meminum air. Hal itu sudah cukup bagi kami untuk sehari sampai malam. Pernah juga kami menumbuk dedaunan dengan tongkat, kemudian kami siram dengan air lalu kami memakannya. Setelah itu kami samapai di pantai, kami dihadapkan dengan suatu pemandangan yang tampaknya seperti gundukan pasir, ketika kami hampiri ternyata itu adalah hewan laut yang disebut anbar (Ikan Paus).”

Jabir berkata, “Lalu Abu Ubaidah berkata, “Itu adalah bangkai.” Kemudian dia melanjutkan, “Namun tidak mengapa, kita adalah utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengemban tugas fi sabilillah dan kalian dalam keadaan terpaksa, karena itu kalian boleh memakannya.” Jabir berkata, “Kami menetap di tempat itu selama sebulan, dan jumlah kami semuanya ada tiga ratus orang, dan kami menjadi gemuk semuanya (karena makan daging itu).” Jabir melanjutkan, “Sungguh kami telah mengetahui, saat itu kami mengambil minyaknya dari rongga matanya dan menampungnya dengan tempayan besar. Kemudian kami potong-potong dagingnya seperti memotong seekor lembu. Kemudian Abu Ubaidah memanggil tiga belas prajurit untuk masuk ke rongga mata ikan, lalu mereka mengambil kerangkanya dan menegakkannya, kemudian unta kami yang paling besar dituntun  berjalan di bawah kerangka ikan tersebut. Lalu kami mengambil daging ikan itu sebagai perbekalan kami untuk kami masak. Setelah itu kami tiba di Madinah, kami menemuhi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan memberi tahukan hal itu kepada beliau, maka beliau bersabda, “Iitu adalah rizki yang diberikan Allah kepada kalian, apakah kalian membawa sedikit dagingnya untuk kami makan?” Jabir berkata, “Lantas kami kirimkan daging tersebut kepada Rasulullah dan beliau memakannya.”

Dalam riwayat lain Jabir berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim pasukan kea rah pantai dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai pemimpinnya. Jumlah mereka 300 orang. Maka kami berangkat dan di tengah perjalanan perbekalan habis. Abu Ubaidah memerintahkan untuk mengumpulkan yang tersisah dari bekal seluruh pasukan. Terkumpullah dua kantung kurma. Abu Ubaidah mengatur pembagian bekal sedikit demi sedikit sampai habis. Masing-masing kami hanya mendapatkan satu biji kurma. Saya bertanya, “Apakah cukup bagi kalian satu biji kurma?” Dia menjawab, “Kami mendapatkan ganti ketika perbekalan itu habis.”

Begitulah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendidik para shahabat beliau sesuai dengan hati beliau yang mulia dan kehidupan beliau yang luhur, tentang keyakinan kepada Allah dan kepasrahan terhadap ketinggian hikmah, dekatnya jalan keluar dan keluasaan nikmat yang disertai dengan kesabaran dan kezuhudan. Semua itu nampak dalam kepercayaan penuh pada diri mereka bahwa kemenangan itu harsu disertai dengan kesabaran, bahwa ada jalan keluar bagi setiap kesempitan dan bersama kesulitan terdapat kemudahan.

Mungkin mudah bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengumpulkan bekal yang cukup bagi mereka dalam melakukan perjalanan jihad, betapa banyak shahabat yang kaya dan dermawan! Atau bias saja beliau berdoa kepada Allah agar bumi menumbuhkan tanaman untuk mereka, atau laut yang mereka tuju mengeluarkan makanan yang baik untuk mereka konsumsi, atau jejak kaki kuda salah seorang dari mereka memancarkan air tawr yang melimpah untuk mereka. Semua itu sangat memungkinkan bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena langit terbuka untuk doa beliau yang penuh berkah. Akan tetapi, beliau tidak ingin membuat mereka berpangku tangan terhadap semua itu, beliau ingin menanamkan pada diri mereka akhlak terbaik dan ingin menghidupkan dalam hati mereka cahaya iman serta menanam di hati mereka sumber-sumber keyakinan. Sehingga setiap mereka menjelma sebagai sosok yang mampu mengatasi berbagai bentuk kesulitan untuk menggapai tujuan yang luhur. Pemilihan Abu Ubaidah sang pemberani dan terpercaya sebagai pemimpin merupakan keputusan yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pasukan tersebut terus berjalan menempuh jarak yang sangat jauh. Masing-masing dari mereka berbekal sejumlah kurma. Ketika perbekalan menipis, masing-masing hanya memiliki satu buah kurma yang hanya diisap-isap seperti seorang bayi mengisap susu ibunya. Pada hal mereka dalam perjalanan dan kesulitan karena mengarungi padang pasir. Ketika kurma itu habis, mereka beralih pada pepohonan, memetik daun-daunnya, lalu membukanya dan memakannya. Mereka terus berjalan tanpa mempedulikan rasa lapar dan kesulitan perbekalan.

Situasi tersebut tidak berlangsung lama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka dengan rizki yang luar biasa. Maka seorang mukmin itu jika bergantung kepada Allah, ikhlas kepada-Nya, hanya mengharapkan ridha-Nya, dan mengerahkan segala sesuatu untuk melayani agama-Nya, dunia akan mendatanginya. Maka laut itu ditundukkan untuk mereka dan melayani mereka untuk menghilangkan rasa lapar mereka dengan izin Allah. Laut itu lalu mendamparkan untuk mereka daging yang layak dimakan. Mereka memakannya, mengambil minyaknya, dan berbekal dengannya hingga kembali ke Madinah. Kemuliaan yang diberika Allah untuk mereka semakin bertambah ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahu mereka bahwa ikan tersebut bukanlah bangkai akan tetapi rizki yang halal dan baik. Bahkan beliau ikut makan daging ikan tersebut untuk menyenangkan hati mereka.

12. Sikap Nabi yang mengangkat kedudukan Abu Ubaidah dan perolehan julukan “Kepercayaan Umat”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam paling mengenal para shahabatnya. Beliau telah mendidik mereka secara langsung dengan ayat-ayat wahyu yang turun secara berturut-turut kepada beliau, juga dengan hikmah yang dikeluarkan oleh Allah dari hatinya yang bercahaya menuju lisannya yang mulia. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala member beliau kekhususan berupa kemampuan untuk melihat hakikat seseorang dan menimbang mereka dengan sifat-sifat mereka secara jelas seperti judul sebuah buku. Tidak ada orang dengan penglihatan yang dapat menembus hijab. Dengan kemampuan tersebut beliau kerap member kepada beberapa shahabat belaiu julukan yang indah. Lalu berbagai peristiwa membuktikan bahwa julukan itu memang tepat disandangkan padanya. Seperti saat beliau menjuluki Abu Bakar sebagai orang yang paling penyayang kepada umat Islam, Utsman sebagai sosok pemalu, Khalid sebagai pedang Allah, dan Abu Ubaidah sebagai kepercayaan umat.

Utusan penduduk Najran pernah datang ke Madinah Munawwarah dan pemimpin mereka meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengutus bersama mereka seorang shahabat beliau yang terpercaya. Maka beliau mengambil tangan kanan Abu Ubaidah dan memberinya sebuah julukan di depan khalayak ramai, sebuah julukan yang kemudian hari menjadi cirri tersendiri baginya dan senantiasa menempel erat dengan dirinya sepanjang hidupnya dan selalu disebut-sebut bersama namanya dalam catatan sejarah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Ini adalah kepercayaan umat ini.”

Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’I, Ibnu Sa’ad, dan yang lain meriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman Radiyallahu Anhuma, dia berkata, “Seorang tuan dan budak dari Najran mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hendak melaknat beliau. Salah seorang dari mereka berkata, “Jangan lakukan, demi Allah jika dia benar seorang Nabi lalu dia melaknat kita, kita tidak akan beruntung, tidak juga orang yang datang setelah kita!” Lalu keduanya berkata, “Sesungguhnya kami akan member apa yang engkau minta kepada kami. Utuslah bersama kami seorang laki-laki terpercaya. Jangan engkau utus kecuali orang terpercaya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sungguh saya akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki terpercaya, sangat terpercaya.” Para shahabat berharap mendapat kehormatan tersebut, lalu beliau berkata, “Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Al-Jarrah!” Ketika Abu Ubaidah berdiri, beliau berkata, “Orang ini adalah kepercayaan umat ini.”

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad disebutkan, “Mereka berkata, “Utuslah bersama kami seorang laki-laki terpercaya.” Beliau berkata, “Sungguh saya akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki terpercaya, sangat terpercaya,sangat terpercaya, sangat terpercaya.” Beliau menyebutkannya sampai tiga kali. Para shahabat Rasulullah berharap memperoleh kehormatan tersebut, lalu beliau mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Abu Ubaidah adalah seorang terpercaya dan memiliki sifat amanah yang sebenar-benarnya. Dia orang yang memegang anamah agamanya, penyampaian risalahnya, amanah terhadap prinsip-prinsipnya, amanah dalam menjaga berbagai arahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, amanah terhadap semua orang yang dipimpinnya baik dari kalangan yang kuat maupun yang lemah sehingga dia bersikap adil kepada mereka semua, amanah dalam memperlakukan musuhnya meskipun berbeda agama, amanah dalam menjaga persatuan kaum muslimin, amanah dalam menjaga harta milik umat, dan amanah dalam banyak hal lainnya. “Seorang terpercaya yang sangat terpercaya” sebagaimana dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Mengingat sifat tersebut sanagt mulia dan diberikan oleh sosok yang tidak berbicara dari hawa nafsunya, para shahabat yang lain pun berharap untuk memperoleh kemuliaan tersebut. Karena mereka melihat dalam sifat tersebut berbagai keutamaan dan kemuliaan. Maka mereka sangat menginginkan julukan kehormatan itu, bukan karena mereka menyukai penjulukannya, tapi karena mereka ingin agar mereka pun dapat menjaga amanah dalam diri mereka.

Tidak berarti bahwa Abu Ubaidah Radiyallahu Anhu sendiri yang memiliki sifat ini diantara para shahabat, tidak berarti pula bahwa dia melampaui dua sosok terbaik, Abu Bakar dan Umar atau melampaui Utsman dan sejumlah pemuka shahabat dengan sifat tersebut, hanya saja waktu itu Abu Ubaidah adalah orang yang paling tepat untuk utusan itu. Dialah yang cocok dengan situasi dakwah dan kondisi objek dakwah. Maka dia pun beruntung memperoleh sifat yang sangat mahal tersebut. Sebagaimana halnya Ali yang beruntung memperoleh kesempatan melakukan pengorbanan pada saat hijrah Nabi, Abu Bakar beruntung memperoleh kesempatan menyertai beliau di dalam gua, kemudian dalam perjalanan hijrah beliau, Umar mendapat jelar Al-Faruq (Sang pembeda antara yang hak dan batil), Utsman mendapat kehormatan sebagai utusan pada peristiwa Hudaibiyah, Hudzaifah disebut sebagai penjaga rahasia, Khalid sebagai pedang Allah, Zubair sebagai penolong Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Dzar sebagai orang yang paling benar logatnya, Mu’adz sebagai orang yang paling mengerti persoalan halal dan haram, Ubay sebagai orang yang paling baik bacaan Al-Qur’annya, dan berbagai julukan lain yang disematkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada sosok tertentu dari shahabatnya.

Abu Ubaidah pergi bersama utusan tersebut untuk mengambil jizyah(upeti) yang telah disepakati. Maka berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Kami akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta kepada kami” seperti tertera dalam riwayat shahih Al-Bukhari. Yunus bin Bukair menyebutkan dalam riwayatnya di dalam kitab “Al-Maghazi”, Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat kesepakatan damai dengan mereka dengan bayaran jizyah berupa 2000 senjata. Seribu diserahkan bulan Rajab dan seribu lagi pada bulan Shafar. Bersama setiap senjata dilengkapi dengan tameng. Maka Abu Ubaidah pergi mengambil harta kesepakatan damai itu dan kembali pulang.”

Penduduk Yaman pernah datang menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  dan meminta beliau untuk mengutus bersama mereka seorang yang dapat mengajarkan mereka Islam, Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Beliau memenuhi permintaan mereka dan memuliakan mereka. Lalu untuk kedua kalinya Abu Ubaidah mendapat kehormatan yang agung ini.

Imam Muslim, Ibnu Sa’ad, Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi, Al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, “Sesungguhnya penduduk Yaman datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, “Utuslah bersama kami seseorang yang dapat mengajarkan kami As-Sunnah dan Islam.” Maka beliau mengambil tangan Abu Ubaidah seraya berkata, “Orang ini adalah kepercayaan umat ini.”

Namun Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari berpendapat bahwa kedua hadits tersebut terkait dengan satu peristiwa yaitu peristiwa penduduk Najran dan perawi hadits melebihkan ketika menyambut penduduk Najran dengan penduduk Yaman. Namun kami lebih memilih pendapat bahwa kedua hadits tersebut menerangkan dua peristiwa yang berbeda. Pada hadits pertama disebutkan bahwa Abu Ubaidah pergi bersama utusan untuk mengambil jizyah, karena mereka belum masuk Islam. Sedangkan pada hadits kedua secara jelas disebutkan bahwa mereka yang datang telah masuk Islam dan meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengutus bersama mereka orang yang dapat mengajarkan mereka Islam, Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Ubaidah.

Berikut ini adalah situasi lain yang memperlihatkan sisi yang baru dari pengertian amanah pada sosok Abu Ubaidah. Di sebuah desa yang berada di abwah pemerintahan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, datang penduduknya kepada Nabi mengadukan pemimpin mereka. Maka beliau mengabulkan permohonan mereka agar tidak terbuka kesempatan bagi setan untuk menimbulkan fitnah dikalangan mereka dan untuk meletakkan sebuah aturan yang harus dipedomani oleh siapa pun yang memerintah setelahnya untuk mengingatkan para pemimpin agar bersikap adil terhadap rakyatnya. Maka beliau mengutus Abu Ubaidah sebagai pengganti pemimpin mereka untuk mengobati luka yang mereka keluhkan dengan obat amanah dan kelembutan akhlak.

Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari Abdullah bin Umar, dia berkata, Umar berkata, “Saya tidak pernah mengajukan diri untuk menjadi pemimpin kecuali satu kali di mana saya sanagt ingin diangkat sebagai pemimpinnya. Sekelompok orang datang menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengeluhkan pemimpin mereka. Maka beliau berkata, “Sungguh saya akan mengutus kepada kalian seorang terpercaya, sangat terpercaya.” Umar berkata, “Maka saya menawarkan diri agar saya memperoleh doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun beliau mengangkat Abu Ubaidah dan meninggalkan saya.”

Penduduk Bahrain (Mayoritas penduduk Bahrain di kala itu memeluk agama Majusi) pun mengajukan kesepakatan damai kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau mengutus orang kepercayaannya, Abu Ubaidah kepada mereka untuk mengambil jizyah.

Imam Ahmad, Al-Bukahri, Muslim, An-Nasa’I, dan yang lainnya meriwayatkan dari Amr bin Auf Radiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima kesepakatan damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Ala’ bin Hadhrami sebagai gubernur di sana. Datanglah Abu Ubaidah membawa harta dari Bahrain dan kaum Anshar mendengar kabar kedatangan Abu Ubaidah tersebut. Kejadian itu bertepatan denagn waktu shalat Subuh bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Setelah selesai mengimami shalat Subuh, Nabi langsung pergi. Mereka pun mendatangi Nabi. Melihat kedatangan mereka beliau tersenyum dan berkata, “Saya kira kalian telah mendenagr bahwa Abu Ubaidah datang membawa sesuatu.” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Maka gembiralah dan berharaplah sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang saya takutkan atas kalian, akan tetapi seya takut kalian memperoleh kesenangan dunia seperti orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba seperti halnya mereka berlomba-lomba mendapatkannya, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”

C. Perjalanan Hidup Abu Ubaidah, Sifat, Dan Ilmunya

Sejak Abu Ubaidah mengulurkan tangan kanannya untuk menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam dan menanggalkan kejahiliyahan dengan segala pemikiran dan warisannya, dia sangat mengetahui konsekuensinya dari bai’at itu dan konsekuensi dari memasuki kendaraan dakwah yang baru. Karena dengan begitu dia telah bergabung bersama kelompok kecil yang baru tumbuh di tengah-tengah mayoritas pengikut kemusyrikan yang hatinya telah mengeras dan jiwanya telah mengering serta bersikeras untuk menupas setiap upaya yang membahayakan agama nenek moyang atau mengancam warisan para leluhur.

Abu Ubaidah dalam kondisi yang sangat siap untuk melaju ke depan di jalur yang penuh dengan rintangan dan onak duri, mengerahkan segala yang dibutuhkan oleh pilihan hidupnya berupa pengorbanan dan kesabaran. Maka dia menyerahkan masa mudanya, jiwa dan raganya serta seluruh hidupnya untuk melayani agamanya dan menolong Nabinya. Tidak peduli dengan rasa sakit dan gangguan yang meliputi jalan yang ditempuhnya, tidak ada yang dapat mengalihkannya dari jalan itu, baik berupa tawaran yang menggiurkan maupun ancaman yang menakutkan.

Dia senantiasa mengiringi Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dari hari-hari pertama pengangkatannya sebagai Nabi dan terus berlanjut hingga detik-detik akhir kehidupan beliau yang mulia dan suci. Sungguh kedekatan yang penuh berkah selama dua puluh tiga tahun, dia tidak pernah jauh dari beliau kecuali pada saat dia hijrah ke Habasyah, dan dia pun hanya menetap sebentar disana.

Akhlak Abu Ubaidah merupakan gabungan antara perangainya yang dianugerahkan Allah kepadanya dan watak yang mengalir dalam dirinya berupa kehalusan budi pekerti, keramahan, kesopanan dalam bergaul, dan kezuhudan terhadap dunia, dengan pendidikan Nabi yang diperolehnya selama dia mengiringi beliau. Maka Abu Ubaidah menempuh jalan yang beliau tempuh, meniru akhlak beliau yang indah, sikapnya yang agung, wataknya yang mulia, dan pergaulannya yang terhormat. Dari sana terbentuklah sosok shahabat yang memiliki watak yang lebih harum dari bunga melati, perjalanan hidup yang lebih bersih dari salju pegunungan, dan hati yang lebih berharga dari emas. Bahkan ia ibarat pernata indah yang tiada duanya.

Dari sifat yang dimilikinya sejak lahir dan warisan kemuliaan yang diperolehnya dari pendidikan madrasah kenabian, muncullah sosok yang termasuk manusia pilihan di antara para shahabat Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam dan yang sanagt dekat dengan beliau. Sebagaimana terlihat secara jelas pada masa beliau masih hidup dan masa para khalifah sesudah beliau.

Pada sosok Abu Ubaidah terdapat kesesuaian antara lahir dan batinnya, ucapannya dan perbuatannya, niat dan amalnya, tujuan dan keteguhan hatinya. Maka dia selalu berusaha untuk mewujudkan segala sesuatu yang hendak dicapainya, melaksanakan amanah yang dipercayakan padanya, sehingga dia memperoleh julukan mulia dari Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam, bahwa dia adalah ”Kepercayaan umat”.

1. Akhalak yang baik, ketekwaan dan ketawadlu’annya

Al-Hasan Al-Bashari meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tidak ada dari salah seorang shahabatku yang jika saya ingin meniru akhlaknya selain Abu Ubaidah Al-Jarrah.”

Hadits tersebut termasuk hadits mursal dan para perawinya tsiqoah (terpercaya).

Adz-Dzahabi manyitir hadits tersebut dan mengomentarinya sebagai berikut, “ Abu Ubaidah memang memiliki akhlak yang baik, santun dan rendah hati.”

Dalam hadits “ Perang Dzatus Salasil” tentang kisah Abu Ubaidah dengan Amr bin Ash yang berselisih mengenai siapa yang menjadi pemimpin, Abu Ubaidah segera menghentikan perselisihan untuk mencegah kemungkinan timbulnya fitnah, melaksanakan pesan Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam kepadanya, “Jika engakau bertemu dengan sahabatmu bersatulah dan jangan berselisih.” Maka terwujudlah perdamaian dan persatuan di kalangan pasukan berkat kebesaran hati Abu Ubaidah dan ketaatannya kepada perintah Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam. Hal itu berasal dari akhlak yang menghiasi dirinya. Maka para shahabat mensifatinya di dalam hadits yang sama bahwa, “Abu Ubaidah adalah sosok yang lembut dan menganggap rendah segala urusan dunia, dia segera ingat akan pesan Nabi Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam.”

Tsabit Al-Bunani berkata, “Abu Ubaidah pernah berkata saat dia menjabat sebagai gubernur Syam, “Wahai manusia, saya adalah seorang yang berasal dari Quraisy, siapapun di antara kalian, baik berkulit merah atau hitam, jika melebihkiku dalam ketakwaan , saya sangat ingin menjadikannya teladan.”

Dalam sebuah riwayat dari Abu Ubaidah, dia berkata, “Tidak ada seorang pun dari orang kulit merah atau hitam, dari kalangan budak asing atau orang Arab, yang lebih tahu dan lebih utama dariku dalam hal ketakwaannya, kecuali saya ingin untuk menjadikannya teladan.”

2. Zuhud, wara’ dan sedekahnya

Abu Ubaidah mencontoh Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dalam hal kezuhudan terhadap dunia meskipun berada di genggamannya, meminimalisir kesenangan kesenangan dunia meski mampu untuk memilikinya, maka dia menjaga hal itu selama hidupnya bersama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, dan terus seperti itu hingga dia meninggalkan dunia. Ketika terjadi berbagai penaklukan, harta begitu melimpah bagi kaum muslimin, penghasilan para panglima, tentara, dan kaum muslimin pada umumnya jauh meningkat.

Sementara Abu Ubaidah termasuk salah satu penakluk negeri syam. Harta melimpah ruah di tangannnya, harta rampasan pesang berada dibawah kendalinya, bagian untuknya setara dengan bagian sejumlah orang. Meski demikian, dia tidak mengambil dari harta itu selain yang mencukupi dirinya dan keluarganya untuk membiayai hidup mereka dan menjaga kehormatan mereka. Selain dari itu, dia infakkan dan sedekahkan agar dia mendapatinya semakin bertambah di sisi Allah di akhirat nanti.

Imam ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hisbah Muslim bin Ukais, pelayan Abdullah bin Amir, dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dia berkata, ”Telah menceritakan orang yang menemuinya ketika dia sedang menangis. Orang itu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis wahai Abu Ubaidah?” Dia menjawab, ”Kami menangis karena pada suatu hari Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan, bahwa Allah akan memenangkan kaum muslimin dan memberi mereka rampasan perang sampai beliau menyebut negeri Syam. Beliau bersabda, ”Jika ajalmu diakhirkan wahai Abu Ubaidah, maka cukuplah bagimu tiga pelayan; satu pelayan melayanimu, satu pelayan lagi yang melayani perjalananmu, dan terahir yang melayani keluargamu dan membantu mereka.

Cukuplah bagimu tiga kendaraan; satu kendaraan untuk kamu naiki, satunya untuk membawa barang-barangmu dan satunya lagi untuk budakmu.” kemudian saya melihat ke rumahku, ternyata telah penuh dengan budak laki-laki dan aku melihat ke kandang untaku, telah penuh dengan kendaraan unta dan kuda, bagaiman aku bertemu Rasulullah setelah ini, padahal beliau telah berwasiat kepada kami, ”Orang yang paling aku cintai dan paling dekat kepadaku diantara kalian adalah orang yang berjumpah denganku dalam kondisi sebagaimana ketika dia berpisah denganku.”

Namun hadits ini di anggap dha’if oleh beberapa ulama. Ibnu Asakir berkata, ”Riwayat ini terputus, yang benar adalah Abu Ubaidah hidup dengan sedikit harta.”

Tidaklah merugikan Abu Ubaidah jika rumahnya penuh dengan budak dan kandang kudanya penuh dengan kuda. Karena dia senantiasa membelanjakan hartanya di jalan Allah. Budak itu dimerdekakannya karena mengharap ridha Allah, sedangkan kuda dimilikinya untuk digunakan dalam berjihad. Jadi kepemilikannya terhadap semua itu tidaklah menafikan sifat zuhudnya dan tidak menyalahi petunjuk Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam hanyalah mewasiatkan kepada para shahabatnya dan umat setelahnya untuk tetap berada dalam keadaan yang beliau tinggalkan yaitu memegang teguh petunjuk beliau , mengikut sunnahnya, mendekatkan diri kepada Allah dengan amal shalih, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan memperbanyak infak dan sedekah tidak bisa dilakukan tanpa banyaknya harta. Sedangkan menjaga diri untuk senantiasa hidup dengan sedikit harta dan bersikap zuhud terhadap dunia artinya hendaknya dunia tidak membuat seseorang sibuk dari urusan akhirat dan urusan hak kaum muslimin, yaitu ketika ketiak dunia menguasai hatinya, membuatnya lupa akan kewajibannya, sehingga dia berlomba-lomba untuk memperolehnya, inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam ketika pintu kesenangan terbuka lebar bagi kaum muslimin lalu mereka berlomba-lomba meraihnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang terdahulu sehingga membinasakan umat terdahulu. Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Amr bin Ash, ”Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang shalih.”

Berdasarkan pemahaman inilah Abu Ubaidah tumbuh, di jalan inilah dia berjalan, dan dengan prinsip itulah dia berpegang. Sehingga dia senantiasa bertahan dalam kehidupan dengan sedikit harta dan zuhud terhadap dunia. Sejak  masuk Islam, Abu Ubaidah bertekad untuk menyerahkan hidupnya untuk menolong agamanya dan menyibukkan diri dengan berdakwah kepadanya. Maka dia hidup pada masa risalah dan hanya mengambil yang mencukupinya dari dunia. ketika datang masa pemerintahan khulafaurasyidin, dia menjadi pemimpin pasukan penakluk sehingga dia dilingkupi oleh medan jihad, dan jiwanya begitu mudah menjalani kehidupan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu penaklukan ke penaklukan yang lain. Bagaimana mungkin dia akan disibukkan oleh ketamakan akan dunia, bagaimana mungkin kenikmatan dunia dapat mengalihkannya dari tujuan hidupnya yang luhur atau menghalanginya untuk mencapai kedudukan mujahidin yang tertinggi.

Di tengah-tengah situasi terbukanya pintu rizki bagi kaum muslimin dan melimpahnya harta di tangan para mujahidin yang melakukan penaklukan, Umar Al-faruq ingin menarik perhatian orang-orang untuk memperhatikan akhlak para pembesar shahabat yang memperoleh pendidikan dari Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam. Mereka  bertahan dalam kondisi tersebut setelah kepergian beliau dan Umar ingin menunjukkan hal itu kepada kaum muslimin dengan mengirimi Abu Ubaidah dan yang lainnya sejumlah harta lalu memperlihatkan kepada khalayak apa yang diperbuat oleh pemuka sahabat terhadap harta tersebut.

Ath-Thabrani, Abu Nu’aim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Malik bin Iyadh yang terkenal dengan sebutan Malikud Dar, dia adalah penjaga baitul mal pada masa Umar, ”Sesungguhnya Umar bin KhattabRadhiyallahu ‘Anhu mengambil 400 dinar dan meletakkannya dalam sebuah kantong uang. Lalu dia berkata pada pelayannya, ”Bawa uang ini ke Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, lalu sibukkanlah dirimu di rumahnya sekitar satu jam agar engkau melihat apa yang dilakukannya terhadap harta itu.” Pelayan itu pun pergi membawa kantong uang itu ke rumah Abu Ubaidah.

Lalu dia berkata pada Abu Ubaidah, ”Amirul Mukminin berpesan kepadamu, ”Gunakanlah harta ini untuk keperluanmu.” Abu Ubaidah berkata, ”Semoga Allah merahmati Umar.” Lalu dia memanggil pelayan perempuannya dan berkata, ”Kemarilah hai pelayan, bawa tujuh dinar ini untuk si fulan, lima dinar ini untuk si fulan, lima dianar ini untuk si fulan, hingga uang itu habis.” Pelayan Umar pun kembali ke tempat Umar dan memberitahu apa yang terjadi. Didapatinya Umar telah menyiapkan hal yang sama untuk Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Maka dia berkata, ”Pergilah ke rumah Mu’adz bin Jabal dan berikan uang ini kepadanya. Sibukkanlah dirimu di rumahnya agar engkau melihat apa yang diperbuatnya terhadap harta ini.”

Pelayan itu pun pergi membawa kantong uang itu ke rumah Mu’adz. Lalu dia berkata pada Mu’adz, ”Amirul Mukminin berpesan kepadamu, ”Gunakanlah harta ini untuk keperluanmu.” Muadz berkata, ”Semoga Allah merahmati Umar.” Lalu dia memanggil pelayan perempuannya, ”Kemarilah, pergilah ke rumah fulan membawa sekian, pergilah ke rumah fulan membawa sekian, pergilah ke rumah fulan membawa sekian.” Pelayan itu berkata kepada Mu’adz, ”Demi Allah, kami orang miskin, berilah kami.” Tidak tersisa di kantong selain dua dinar, maka Mu’adz pun memberikannya pada pelayan itu. Kemudian pelayan Umar pulang menemui Umar dan memberitahukannya atas apa yang terjadi. Umar pun gembira mendengarnya. Lalu dia berkata, ”Sesungguhnya mereka adalah saling bersaudara.

Bukannya Umar meragukan para komandan pasukan dan gubernur wilayah, akan tetapi dia hanya ingin menyirakan keluruhan sifat mereka dan kemurnian jihad mereka agar umat mau meneladani mereka jdan semakin percaya terhadpa pemimpinnya. Sehingga ketaatan mereka kepada pemimpin didasarkan pada rasa percaya. Dengan demikian, umat ini kan meljelma seperti bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Umar bin Khaththab merasa kasihan terhadap Abu Ubaidah dan kelarganya ketika menyaksikan kezuhudannya dan kehidupan keras yang dijalaninya padahal dia adalah gebernue wilayah Syam dan komandan pasukan penaklukan. Umar pun menyarankan kepada Abu Ubaidah untuk mengambil sesuatu dari harta yang berlimpah di sekitarnya. Dengarlah apa yang dikatakan Abu Ubaidah!

Ibnu Al-Mubarak dan Ahmad meriwayatkan dalam kitab zuhud, begitu juga Abdurrazaq dalam kitab Al-Mushannif, dari Hisyam bin Urwah, dari Ayahnya Urwah bin Zubair, dia berkata, ”Umar datang ke Syam dan disambut oleh pembesar wilayah setempat dan komandan pasukan. Umar bertanya, ”Dimana saudaraku?” Mereka balik bertanya, ”Siapa yang kau maksud?” Umar menjawab, ”Abu Ubaidah.” Mereka berkata, ”Dia segera menemuimu.” Maka datanglah Abu Ubaidah mengendarai Unta, mengucapkan salam kepada Umar dan bertanya tentang keadaannya. Lalu Umar berkata, ”Tinggalkanlah kami berdua.” Kemudian Umar berjalan bersama Abu Ubaidah hingga sampai ke rumah Abu Ubaidah dan singgah disana. Umar hanya mendapati di rumah Abu Ubaidah sebilah pedang, baju besi, dan kendaannya. Umar berkata pada Abu Ubaidah, ”Bagaimana jika engkau mengambil beberapa barang.” Abu Ubaidah menjawab, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya inni akan menyampaikan kita ke tempat peristirahatan (Akhirat)!”

Inilah perabotan rumah seorang penakluk Syam, seorang gubernur pada masa risalah nabawiyah, seorang komandan pasukan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, yang melakukan penaklukan yang luas, memperoleh harta rampasan yang melimpah dan harta yang banyak. Lalu dia bersiap zuhud atas semua itu dan hanya mengambil sekedar seperti bekal orang yang melakukan perjalanan. Inilah sosok yang kuat dan terpercaya, yang sangat memahami arti dari tanggungjawab dan kepemimpinan, bahwa itu adalah beban bukan keuntungan, kewajiban bukan kemuliaan. Sesungguhnya jiwa seperti itu penuh dengan keimanan. Bagi orang seperti mereka dunia tidaklah bernilai. Bagaimana jika mereka dibandingkan dengan para pemimpin kita saat ini? Hendaknya para pemimpin kita mau meneladani orang-orang seperti itu.

Perhatikanlah kabar lain yang melengkapi kisah kita tentang Abu Ubaidah yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar. Sebuah pengakuan Umar terhadap Abu Ubaidah, padahal Umar sendiri terkenal dengan berbagai kelebihannya berupa keadilan, kezuhudan, sifat wara’, dan kekuatan iman, meski demikian dia bersaksi bahwa Abu Ubaidah melebihinya dalam kezuhudan sehingga dunia merasa putus asa untuk menggodanya dengan berbagai kenikmatannya.

Imam besar, Nafi’ pelayan Ibnu Umar meriwayatkan dari Ibnu Umar, ”Sesungguhnya Umar ketika datang ke Syam berkata kepada Abu Ubaidah, ”Bawa kami ke rumahmu!” Abu Ubaidah bertanya, ”Apa yang akan kau lakukan di rumahku? Engkau hanya akan memeras air matamu dihadapanku.” Umar pun memasuki rumah Abu Ubaidah dan tidak menemukan apa-apa di dalamnya. Umar bertanya, ”Di mana barang-barangmu? Saya hanya melihat sebuah permadani, sebuah nampan, dan wadah air, padahal engkau seoranng gubernur! Apakah engkau memiliki makanan?” Abu Ubaidah berdiri menuju sebuah keranjang dan mengeluarkan potongan roti. Umar pun menangis. Abu Ubaidah berkata kepadanya, ”Saya sudah mengatakan kepadamu, engkau hanya akan memeras air matamu dihadapanku. Wahai Amirul Mukminin, cukup bagimu apa yang menyampaikanmu ke tempat peristirahatan (akhirat).” Umar berkata, ”Dunia telah merubah kami semua selain engkau wahai Abu Ubaidah!”

Imam Adz-Dzahabi berkomentar setelah menukil hadits tersebut, ”Ini merupakan zuhud yang sebenarnya. Tidak ada kezuhudan bagi orang yang miskin dan tidak punya.”

3. Rasa takut dan harapannya serta pekerjaannya sebagai penggali kubur

Abu Ubaidah sangat takut kepada Allah Ta’ala dan sangat berharap akan rahmat-Nya. Dia sangat mengetahui dengan penuh keyakinan betapa menakutkan situasi di hadapan-Nya. Kondisi ini sama dengan kondisi para shahabat yang lain Radhiyallahu Anhum yang diungkapkan dengan ucapan-ucapan yang jelas dan direalisasikan dengan perbuatan nyata.

Di antara apa yang diriwayatkan oleh Qatadah, dia mengatakan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata, ”Saya berharap kalau saya adalah seekor domba, lalu pemilikku menyembelihku dan memakan dagingku.”

Perhatikan ungkapan tersebut, lalu bandingkan dengan ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhuketika suatu hari dia masuk ke dalam suatu kebun, lalu melihat seekor burung di atas dahan pohon, lalu dia menarik nafas dan berkata, ”Berbahagialah engkau wahai burung, engkau makan dari pohon, berteduh di bawah pohon, dan perjalananmu tidak akan dihisab. Andai saja Abu Bakar sepertimu!”

Dari Abu Al-Hasan Imran bin Nimran, ”Sesungguhnya Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berjalan memeriksa pasukan, lalu dia berkata, ”Ketahuilah, banyak orang yang membersihkan pakaiannya dan mengotori agamanya! Ketahuilah, banyak yang memuliakan dirinya tapi besuk dia akan terhina! Segeralah ikuti keburukan yang lama dengan kebaikan yang baru. Jika salah seorang kalian melakukan keburukan yang memenuhi sampai ke langit, kemudian dia melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan melampaui keburukannya hingga mengalahkannya.”

Jika engakau mengikuti catatan perjalanan hidup Abu Ubaidah dan mencermati perinciannya, setiap lembaran dari buku tersebut akan memperlihatkan sesuatu yang membuatmu terkagum-kagum dan semakin ingin mengetahui lebih jauh tentang sifat-sifatnya. Diantara yang membuat takjub dari dirinya adalah dia kerap menggali kubur dan menguburkan mayat di tempat peristirahatannya terakhir!

Ahmad dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Akramah pelayan Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, dia berkata, ”Di Madinah ada dua orang yang biasa menggali kubur, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang menggali kubur untuk penduduk Mekah dan Abu Thalha yang menggali kubur untuk kaum Anshar dan membuat lubang lahat untuk mereka. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal dunia, Abbas mengutus dua orang untuk menemui keduanya seraya berdoa, ”Ya Allah pilihkanlah untuk Nabimu.” maka mereka mendapatkan Abu Thalhah dan tidak menemukan Abu Ubaidah. Dengan demikian Abu Thalhah menggali kubur Rasulullah dan membuat lubang lahatnya.

Dalam riwayat lain disebutkan, ”Ketika orang-orang berkumpul untuk memandikan jasad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abbas memanggil dua orang dan berkata kepada mereka, ”Pergilah salah seorang kalian menemui Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Abu Ubaidah biasanya menggali kubur untuk penduduk Mekah. Lalu yang lain pergilah ke Abu Thalhah bin Sahal Al-Anshari, dia biasa menggali kubur untuk penduduk Madinah. Kemudian Abbas berdoa seraya melepas keduanya, ”Ya Allah, pilihkanlah untuk Rasul-Mu.” Keduanya lalu pergi dan yang diutus ke Abu Ubaidah tidak berhasil menemukan Abu Ubaidah, sedang yang diutus ke Abu Thalhah berhasil menemuinya. Maka dia membawa Abu Thalhah dan dialah yang menggali kubur Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Alangkah luar biasa Abu Ubaidah, alangkah lembut hatinya, alangkah khusus’ jiwanya ketika dia mau melakukan pekerjaan yang mulia itu!

Sesungguhnya menshalati jenazah dan menyaksikan pemakamannya termasuk syiar agama da pekerjaan yang menghasilkan pahala besar, termasuk ke dalam amal shalih yang dianjurkan oleh RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam dan diperintahkan untuk dipelihara. Karena perbuatan itu dapat melembutkan hati, membangkitkan rasa zuhud, dan mengingatkan pada akhirat. Apalagi orang yang menggali kuburan dan menguburkan mayat, tentu dari situasi tersebut dia menemukan banyak peringatan untuk hatinya dan bukti nyata untuk akalnya bahwa ujung perjalanan berhenti di tempat tersebut! Sadarlah wahai hamba yang lupa bahwa perjalanan hidup akan berhenti di sana! Maka tetaplah menempuh jalan petunjuk, jauhilah sumber-sumber keburukan, dan bersiaplah menanti saat terakhir itu, bersiaplah untuk menempati tempat itu, bersiaplah untuk rumah terakhir!

Seakan-akan Abu Ubaidah membawa dirinya untuk semua itu, seakan-akan dia ingin mengajarkan para pembesar, meskipun mereka sebagai pemimpin, komandan, penakluk, dan semacamnya, agar tidak melupakan meski sebentarpun dari umurnya saat-saat terakhir itu dan rumah peristirahatan terakhir itu. Tidak ada seorangpun yang bisa lari dan menghindar darinya setinggi apapun kekuasaannya. Dia tidak akan bisa menghindar dari lubang itu, ditimbun tanah, meski sebelumnya dia hidup di istana atau benteng yang kokoh.

Semoga engkau diberkahi wahai sang kepercayaan umat!

Abu Ubaidah bekerja menggali kubur dan memakamkan mayat, padahal dia seorang shahabat terkemuka yang paling dahulu masuk Islam, yang ikut melakukan hijrah, ikut serta dalam perang Badar, ikut dalam bai’at di bawah pohon, kepercayaan umat, dan salah seorang komandan pilihan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan utusan beliau ke beberapa daerah, sosok terhormat pada masa Abu Bakar dan UmarRadhiyallahu Anhuma, dan komandan pasukan penakluk Syam. Sosok yang memiliki berbagai kemuliaan itu bekerja di bidang yang sangat tawadhu’, yaitu sebagai penggali makam!

Jiwa seperti apa yang dimiliki orang yang satu ini. Bukankah dia berhak memperoleh sifat mulia dari NabiShallallahu Alaihi wa Sallam bahwa dia adalah kepercayaan umat ini!

4. Ilmunya dan periwayatan hadits darinya

Abu Ubaidah senantiasa menyertai Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menghadiri majlis beliau, mengikuti berbagai peristiwa bersama beliau, mendengar banyak perkataan beliau, menyaksikan langsung sikap beliau, menghafal Al-Qur’an, dan salah seorang ahli fikih dan pemberi fatwa.

Bukti yang paling jelas atas keluasan ilmunya adalah ketika penduduk Yaman datang meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar mengutus bersama mereka seseorang yang membacakan kepada mereka Al-Qur’an dan mengajarkan kepada mereka tentang Islam dan As-Sunnah, beliau mempercayakan Abu Ubaidah untuk tugas yang mulia tersebut.

Begitu juga sikapnya di berbagai peperangan dan penaklukan yang membutuhkan pengetahuan yang mempuni terkait persoalan jihad, pergaulan dengan ahli dzimmah, ketentuan harta rampasan perang, pembuatan kesepakatan dan perjanjian, perlakuan terhadap rakyat yang berada di bawah kekuasaan Islam, dan pengurusan kebutuhan mereka.

Akan tetapi kitab-kitab Sunnah tidak banyak meriwayatkan hadits darinya. Jumlah hadits yang diriwayatkan darinya dalam kitab-kitab tersebut hanya 15 hadits saja.

Sebabnya adalah karena Abu Ubaidah sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyibukkan diri dengan urusan jihad dan penaklukan dalam rangkah menyebarkan dakwah dan menancapkan pilar-pilarnya di berbagai belahan dunia. Sehingga dia tidak memiliki banyak kesempatan untuk dunia pengajaran. Sementara periwayatan hadits biasanya dilakukan di majlis-majlis ilmu.

Di samping itu, Abu Ubaidah pun termasuk yang meninggal dunia lebih awal. Dia wafat tujuh tahun setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hal serupa juga terjadi pada shahabat yang lain yang disibukka oleh jihad, penaklukan, dan urusan umat, seperti Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Zubair, Syurahbil bin Hasanah, Khalid bin Walid, dan yang seumpama mereka.

Ucapan Al-Waqidi menyinggung hal tersebut, ”Para pemuka shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih sedikit meriwayatkan hadits dibandingkan yang lain. Di antara mereka Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’id bin Zaid, dan seumpama mereka. Dari mereka tidak diriwayatkan banyak hadits seperti yang diriwayatkan dari para shahabat Rasulullah yang datang kemudian.”

Adz-Dzahabi berkata, ”Abu Ubaidah termasuk yang mengumpulkan Al-Qur’an.” Maksudnya yang menghafalnya.

Abu Ubaidah pun meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di antara yang meriwayatkan hadits darinya adalah Jabir bin Abdullah, Samurah bin Jundub, Abu Umamah Shuday bin Ajlan Al-Bahili, Al-Irbadh bin Sariyah, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, semua dari kalangan shahabat.

Sementara dari kalangan tabi’in adalah Aslam pelayan Umar, Abdurrahman bin Ghanam Al-Asy’ari, Iyadh bin Ghuthaif, Qais bin Abi Hazim, Nasyirah bin Sumay, dan yang lainnya.

D. Keutamaan Abu Ubaidah dan Jaminan Masuk Surga Untuknya

Abu Ubaidah telah menoreh di lembaran sejarah judul-judul penting yang senantiasa dituliskan oleh para ahli sejarah sepanjang masa dan tidak pernah lepas dari ingatantentang berbagai kebanggaan yang dielu-elukan oleh sebagian penggalan sejarah atas sebagian yang lain, dan mencatatkan di lembaran kemuliaan umat Islam sifat-sifat paling indahdari para pemilik kesempurnaan dan gambaran terbaik tentang kepahlawanan dan pengorbanan serta perjalanan terindah para komandan yang menghiasi peradaban kita pada masa awal.

Maka sejarah senantiasa menjaganya dan menjadikannya menara yang menunjukkan jalan bagi generasi umat berikutnya agar tersambung dengan para pendahulunya, agar bangunan Islam tetap berdiri kokoh untuk menebar kebaikan, dan supaya menjadi bukti atas keluhuran ajaran agama ini, kemuliaan misinya, perbedaan yang dimilikinya dalam hal petunjuk, dan penjelasan tentang kepatutannya untuk memimpin kemanusiaan kembali untuk menyelamatkannya dari kejatuhannya dan menyelamatkannya dari bahaya yang mengancamnya atas nama kebebasan, kemajuan, peradaban, dan hak asasi manusia.

Kita tidak perlu merangkai kata-kata indah atau membuat puisi pujian untuk Abu Ubaidah. Karena kata-kata indah dari penyair tidak akan mampu menggambarkan kemuliaan dan keutamaan yang telah ditorehkan oleh Abu Ubaidah dengan tindakannya yang luar biasa. Sejak dia menyatakan keislamannya dan bergabung bersama kelompok orang-orang yang paling dahulu masuk Islam, hingga takdir menetapkan kematiannya dengan mati syahid akibat penyakit kusta yang mewabah di Yordania pada tahun delapan belas Hijriah.

Jika engkau mengikuti perjalanan hidupnya, engakau akan mendapatinya di anatara orang-orang yang paling dahulu masuk Islam, lalu bersama orang-orang yang hijrah ke Habasyah dan Madinah. Jika engakau melihat kisah peperangan, akan engkau dapatidia bersama para pejuang dan pahlawan, bersama pasukan dan utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Engkau akan semakin takjub dengannya ketika pemilihan Nabi atas dirinya untuk diutus bersama penduduk Yaman sebagai guru dan pendidik, diutus ke Bahrain untuk mengumpulkan sedekah dan menjaga harta, setelah sebelumnya dia mendapat julukan dari Nabi sebagai kepercayaan umat ini. Keutamaan dirinya semakin sempurna dengan adanya kabar gembira dari Nabi, kabar gembira yang diidam-idamkan oleh setiap orang mukmin, yaitu ketika Nabi memasukkan namanya ke dlam deretan pemuka shahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Sebuah kemenangan yang besar. Mari kita ikuti kabar gembira tersebut yang dicatat oleh sejarah sebagai keutamaan Abu Ubaidah.

1. Keutamaan dan kemuliaan Abu Ubaidah

Utusan Najran datang ke Madinah menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan meminta beliau mengutus bersama mereka seorang terpercaya. Maka para shahabat sangat berharap mendapat kemuliaan tersebut dari Rasulullah. Lalu beliau memberikan tugas mulia itu kepada Abu Ubaidah dan memberinya sifat mulia yang senantiasa menempel pada dirinya dan terkenal dengan sifat tersebut.

Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan yang lain meriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman, dia berkata, ”Penduduk Najran datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ”Sesungguhnya kami akan memberi apa yang engkau minta kepada kami. Utuslah bersama kami seorang laki-laki terpercaya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ”Sesungguhnya saya akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki terpercaya, sanagt terpercaya.” Para shahabat Rasulullah berharap mendapat kehormatan tersebut, lalu beliau mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Dalam riwayat malik Ya’qub bin Sufyan Al-Fawasi dan An-Nasa’i dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, ”Mereka berkata, ”Utuslah bersama kami seorang laki-laki terpercaya, sangat terpercaya. Para shahabat Rasulullah berharap mendapat kehormatan tersebut, lalu beliau berkata, ”Bangunlah hai Abu Ubaidah bin Al-Jarrah!” Ketika dia bangun, Rasulullah berkata, ”Ini adalah kepercayaan umat ini.”

Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, dan yang lain meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya setiap umat itu memiliki kepercayaan dan kepercayaan kita wahai umat Islam adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Dalam riwayat milik Al-Fasawi dari Anas, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Sesungguhnya setiap umat itu memiliki kepercayaan dan ini adalah kepercayaan kita.”  Seraya mengambil tangan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.
Dalam riwayat lain milik Ibnu Asakir dari Anas, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ”Setiap umat memilki kepercayaan dan sesungguhnya keperayaan kita adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Lalu beliau menekan lambungnya seraya berkata, ”Lambung seorang mukmin.”

Dalam riwayat yang terakhir ini terdapat suatu hal yang menarik berupa candaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Abu Ubaidah setelah beliau memberinya sifat yang mulia itu. Seakan-akan beliau berkata kepadanya, ”Bergembiralah dengan kesaksian nabawi ini dan senangkanlah hatimu, kemuadian beliau menekan lambungnya untuk bergurau dengannya!”

Imam Ahmad, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ibnul Hibban, dan yang lain meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Di antara umatku yang paling berbelas kasih terhadapku (yang lain) adalah Abu Bakar, sedangkan yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang pzling mengetahui halan dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, dan yang paling mengetahui tentang fara’idh (Ilmu tentang pembagian harta waris) adalah Zaid bin Tsabit serta yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab, dan setiap umat memilki orang kepercayaan, sedangkan orang kepercayaan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Ibnu Hibban mengomentari hadits ini dan berkata, ”Berbagai ungkapan tersebut dengan membuang huruf min (di antara). Beliau ingin mengatakan, ”Di antara yang paling belas kasih”, begitu juga dalam ungkapan berikutnya, ”Di antara yang paling tegas, di antara yang paling pemalu, di antara yang paling bagus bacaannya, di antara yang paling memahami ilmu fara’idh, di antara yang paling mengetahui halal- haram.” Beliau ingin mengatakan bahwa sesungguhnya mereka bagian dari jamaah yang memiliki keutamaan tersebut. Hal tersebut seperi ungkapan beliau kepada kaum Anshar, ”Kalian adalah manusia yang paling saya cintai.” Maksudnya, diantara manusia yang paling saya cintai, bagian dari jamaah yang saya cintai, dan mereka termasuk di dalamnya.”

Di sekumpulan orang yang lain Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuji sejumlah shahabat beliau termasuk di antaranya Abu Ubaidah. Dengan begitu beliau menjadikan mereka menara petunjuk dan simbol keimanan agar manusia mengetahui kedudukan mereka, mengikuti mereka dan berjuang di bawah panji mereka agar membaca riwayat hidup mereka dan meneladani mereka.

Imam Ahmad dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, begitu juga An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan yang lain meriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abi Hazim, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Lelaki terbaik adalah Abu Bakar, lelaki terbaik adalah Umar, lelaki terbaik adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, lelaki terbaik adalah Tsabit bin Qais bin Syammamah, lelaki terbaik adalah Mu’adz bin Jabal, lelaki terbaik adalah Mu’adz bin Amr bin Al-Jamuh. Lelaki terbaik adalah fulan dan fulan.” Beliau menyebutkan tujuh nama, dan tidak disebutkan oleh Suhail untuk kita.

2. Mendapat jaminan surga

Kebahagiaan Abu Ubaidah semakin lengkap dengan adanya kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau Mengumumkan beberapa nama shahabatnya yang telah terukir namanya di pintu-pintu surga. Surga itu telah bersiap untuk menyambut kedatangan mereka, para malaikat penjaganya telah bersiap untuk menyambut sekumpulan orang tersebut dengan ucapan, “Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. An-Nahl [16]: 32) dan menyampaikan kata penghormatan yang penuh berkah, “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka Alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”(QS. Ar-Ra’du [13: 24]).

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan yang lainnya, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya Sa’id bin Zaid bercerita kepada beberapa orang bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang pasti berada di surga, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.” Dia menyebutkan Sembilan nama dan tidak menyebutkan yang kesepuluh. Orang-orang yang bertanya kepadanya, “Kami bersumpah kepada Allah, apakah engkau orang yang kesepuluh? Sa’id menjawab, “Karena kalian bersumpah kepada Allah, Abu-Al-A’war (Sa’id) berada di surga.”

Dalam hadits shahih lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari Abdurrahman bin Auf, dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang pasti berada di surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Zubair di di surga, Thalhah di surga, ibnu Auf di surga, Sa’ad di di surga, Sa’id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.”.

E. Kedudukannya Di Sisi Nabi Dan Para Shahabat

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menaruh perhatian terhadap para sahabat beliau Radhiyallahu Anhum dan mengkhususkan sejumlah orang di antara mereka yang dimuliakan oleh Allah dengan sifat perangai yang mulia dan diberi taufik untuk melakukan pekerjaan yang agung. Abu Ubaidah adalah salah seorang dari kelompok pilihan itu. Dia memperoleh simpati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan perhatian beliau, sehingga memujinya, mempercayakan pekerjaan kepadanya, mengutusnya untuk menyampaikan pesan beliau mengangkatnya sebagai komandan pasukan, dan menampakkan kecintaan beliau kepadanya di hadapan khalayak, sebagaimana diriwayatkan oleh sejumlah shahabat yang mulia.

Kedudukan tersebut semakin mulia hingga meliputi kehidupan Abu Ubaidah sepeninggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena kemuliaannya senantiasa tampak pada sisa usianya, pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Abu Ubaidah merupakan salah satu sandaran yang diandalkan oleh keduanya dalam penyebaran dakwah, penaklukan wilayah, dan pengelolaan negara. Abu Bakar dan Umar senantiasa menyebut-nyebut keutamaan sosok yang kuat dan terpercaya ini dalam berbagai kesempatan.

Abu Ubaidah pun menempati posisi yang mulia di sisi para pembesar shahabat yang hidup bersamanya dalam naungan risalah, saling bahu membahu dengan mereka dalam mengembannya, dan saling mengisi satu dengan lainnya dalam membangun negara Islam. Mereka melihat pada diri Abu Ubaidah sesuatu yang mendinginkan dada, meyenangkan hati, dan berhak atas pujian dan sanjungan.

1. Kedudukannya di sisi Rasulullah, kecintaan beliau padanya, dan pujian beliau untuknya

Amr bin Ash Radiyallahu Anhu diangkat oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai pemimpin pasukan dalam perang Dzatus Salasil. Beliau tidak akan mempercayakan itu kepada Amr kecuali karena keutamaan dan kedudukannya. Maka dia mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta penjelasan dan menanyakan tentang ketetapan tersebut. Maka Nabi menjawabnya dengan adab kenabian, bahwa beliau meletakkan setiap orang pada kedudukan yang semestinya, serasa menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang paling dahulu masuk Islam kedudukan yang tidak dapat disamai, dan masing-masing dijanjikan kebaikan oleh Allah.

Dalam sebuat hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Fadha’il, begitu juga oleh Abu Ya’la dan Ibnu Hibban dai Abdullah bin Syaqiq dari Amr bin Ash, dia berkata, “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Ditanya lagi, “Kalau kaum dari laki-laki?” Beliau menjawab “Abu Bakar.” Ditanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Umar.” Ditanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Menegaskan hal itu dan semakin menambah kemuliaan Abu Ubaidah apa yang diriwayatkan dari sang penjaga rahasia kenabian, ummul mukminin Aisyah, sebagaimana diriwayatkan oleh para imam seperti Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim yang dishahihkan oleh banyak ulama, dari Abdullah bin Syaqiq, dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah, “Siapa sahabat yang paling di cintai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Aisyah menjawab, “Umar.” Ditanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Saya terus bertanya, “Lalu siapa?” Aisyah diam.”

Bahkan Abu Ubaidah menempati suatu posisi di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lebih luas dari kecintaan hati. Maka dia mencapai derajat yang tinggi yang menjadikannya salah satu sosok yang pantas untuk menjadi penggan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai pemimpin umat sepeninggal beliau, berdasarkan usulan pemilik risalah yang tidak berbicara dari hawa nafsunya, dan tidak mengangkat pemimpin kecuali berdasarkan kemampuan dan kepantasan.

Imam Muslim, An-Nasa’i, Ahmad dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Abu Mulaikah, dia berkata, “Saya mendengar Aisyah ditanya, “Siapa yang ditetapkan oleh Rasulullah sebagai pengganti beliau?” Aisyah berkata, “Abu Bakar.” Dia ditanya lagi, :Siapa setelah Umar?” Aisyah menjawab, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Kemudian berhenti sama disini.

Kecakapan yang tertanam dalam jiwa Abu Ubaidah disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu beliau menyingkapnya di hadapan manusia dan menampakkannya dalam berbagai situasi nyata. Sesuatu tampak secara nyata tentu lebih menjelaskan dan lebih mengena dari pada nasihat atau pujian yang berbeda-beda pengaruhnya pada para pendengar dan mudah dilupakan seiring berljalannya waktu.

Hal itu terlihat pada saat datang kepada beliau utusan dari Najran meminta kepada beliau untuk mengutus seorang shahabatnya. Maka beliay berkata kepada mereka, “Sungguh saya akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki terpercaya, sangat terpercaya.” Lalu beliau memegang tangan Abu Ubaidah untuk mengukir di benak para pendengar sebuah kesaksian yang sangat mengena dan tidak akan hilang selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun melakukan hal serupa ketika menetapkan Abu Ubaidah sebagai guru dan pengajar fikih bagi penduduk Yaman.

Di antara yang semakin memperjelas dan menambah tingginya kedudukan Abu Ubaidah adalah ketika Amr bin Ash mengutus seseorang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta tambahan pasukan pada perang Dzatus Salasil, beliau memperkuatnya dengan pasukan yang terdiri dari pemuka shahabat beliau, termasuk dua toko Quraisy, Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau mengangkat Abu Ubaidah sebagai pemimpin mereka. Cukuplah bagimu dengan penunjukkan tersebut bukti tentang mulianya kedudukan Abu Ubaidah di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa mengajarkan para shahabatnya urusan agama mereka, menunjuki mereka pada sumber kebaikan dan perbuatan yang mendatangkan pahala. Tidak ada sesuatu pun yang mengandung kebaikan bagi mereka kecuali beliau arahkan mereka padanya. Termasuk tentang posisi mereka dalam shaf di masjid dan kedekatan mereka darinya. Beliau bersabda, “Hendaklah berdiri setelahku orang yang berakal di antara kalian.” Maka kalian akan menemukan bahwa di masjid beliau yang mulia para pemuka shahabat dan orang-orang yang terdekat dengan beliau berada di shaf pertama.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abza Radhiyallahhu Anhu, dia berkata, “Seakan-akan saya melihat mereka di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Abdurrahman bin Auf.

2. Bersama Abu Bakar dan kedudukannya di sisinya

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal dunia dan terjadi kekosongan kepemimpinan di tengah-tengah umat. Maka Allah Ta’ala memuliakan umat ini dengan singa Islam, sosok yang menghadapi situasi kritis, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Maka dia me-ngisi kekosongan tersebut dan mengangkat panji Islam dengan tangan kanannya dan mengibarkannya setinggi mungkin.

Sejak hari pertama kekhalifahannya Abu Bakar memperhatikan beberapa pembesar shahabat, membolak-balik lembaran sejarah yang mereka torehkan selama dua puluh tiga tahun, maka dia mendapati Abu Ubaidah pada baris pertama dari lembaran awal kitab sejarah.

Waktu itu jasad Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih disemayamkan dan belum dimakamkan. Para shahabat berkumpul dikediaman bani Sa’idah, disana mereka mengadakan musyawarah pertama dalam Islam setelah wafatnya Nabi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memilih pengganti beliau. Situasi itu menjadi salah satu bukti kemuliaan posisi Abu Ubaidah.

Imam Al-Bukhari, An-Nasa’i, dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, sesungguhnya saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meningal dunia Abu Bakar sedang berada di Sunuh. Kaum Anshar lalu berkumpul kepada Sa’ad. Mereka berkata, “Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.” Maka Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah pergi menemui mereka. Waktu Umar hendak berbicara karena saya, ditahan oleh Abu Bakar. Umar menjelaskan, “Demi Allah, saya hendak berbicara karena saya telah mempersiapkan pidato yang membuat saya terkagum, dan saya khawatir Abu Bakar tidak memikirkan sampai ke situ.” Kemudian Abu Bakar berbicara dan pidatonya sangat mengena. Dia berkata dalam pidatonya, “Kami adalah para pemimpin dan kalian adalah para menteri.” Hubab bin Al-Mundzir berkata, “Demi Allah, kami tidak setuju. Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.” Abu Bakar berkata, “Tidak, akan tetapi kami pemimpin dan kalian menteri. Mereka penengah bangsa Arab dan paling mulia nasabnya. Maka Bai’atlah Umar atau Abu Ubaidah.” Lantas Umar berkata, “Justru kami membai’atmu. Engkau adalah tuan kami, yang terbaik di antara kami, dan yang paling di cintai diantara kami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Umar lalu mengambil tangan Abu Bakar dan Membai’atnya, dan semua orang ikut membai’atnya.

Dalam riwayat milik Imam Al-Bukhari dari Ibnu Sa’ad, dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Abu Bakar berkata, “Kebaikan yang kalian sebut-sebutkan memang kalian penyandangnya dan sesungguhnya masalah kekhalifahan ini tidak diperuntukkan sebagai selain penduduk Quraisy ini yang mereka adalah pertengahan di kalangan bangsa arab dari segi nasab dan keluarganya, dan saya telah meridhai salah satu dari dua orang ini untuk kalian, maka bai’atlah salah seorang di antara keduanya yang kalian kehendaki.” Kemudian Abu Bakar menggandeng tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin Al-jarrah, dan dia duduk ditengah-tengah kami.”

Disana terdapat bukti yang jelas tengang tinggi kedudukan Abu Ubaidah di mata kaum muslimin karena dia menjadi salah satu dari tiga orang yang mengurusi persoalan umat, memikirkan kebaikan untuk mereka, berusaha untuk menjaga persatuan, dan memilih orang yang menggantikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengemban risalah dan menyampaikan amanah.

Hal itu juga menunjukkan tentang kedudukannya yang mulia dimata Abu Bakar, karena menyarankan para shahabat untuk mengangkat Abu Ubaidah atau Umar sebagai pemimpin. Artinya Abu Bakar menyamakan kedudukannya dengan Uma Al-Faruq, sesuatu yang menunjukkan tentang tingginya kedudukan yang dicapai oleh Abu Ubaidah, karena dia pun pantas menjadi khalifah Rasulullah pada periode sulti tersebut.

Namun takdir Allah menetapkan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Maka dia menanggung beban yang sangat berat yang pernah di tanggung oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan dan merubahnya menjadi peluang.
Hal pertama yang dilakukan Abu Ubaidah di awal kekhalifahan Abu Bakar adalah menetapkan gaji untuk sang khalifah. Mari kita cermati kejadian berikut.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Atha bin As-Sa’ib, dia berkata, “Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, keesokan paginya dia pergi kepasar membawa sejumlah pakaian dagangannya. Di perjalanan Abu Bakar bertemu dengan Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Keduanya bertanya, “Hendak ke mana wahai engkau wahai khalifah Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Ke pasar.” Keduanya bertanya lagi, “Apa yang hendak kau lakukan di pasar, sedang engkau telah diangkat sebagai khalifah?” Abu Bakar berkata, “Mari ikut agar kami tetapkan untukmu sesuatu.” Abu Bakar pun ikut bersama keduanya. Lalu mereka menetapkan untuknya setengah kambing setiap harinya. Maka umar bertaka, “Serahkan pada saya urusan peradilan.” Umar berkata, “Pernah dalam sebulan tidak ada dua orang bersengketa yang datang padaku.”

Abu Bakar menjalankan kebijakannya sebagai khalifah, dia mengikutsertakan sejumlah shahabat dalam menangung beban kekhalifahan. Abu Ubaidah merupakan pembantunya yang paling terkemuka, dia ditugaskan sebagai penjaga baitul mal kaum muslimin.
Khalifah bin Khiyath berkata saat menyebutkan para pegawai Abu Bakar, “Abu Bakar mengangkat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai penjaga baitul mal, lalu mengutusnya ke Syam.”

Posisi tersebut pada hari ini sama dengan Menteri Keuangan. Abu Ubaidah sangat tepat memangku jabatan tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjulukinya sebagai Keperycayaan umat ini. Harga merupakan amanah yang paling berbahaya bagi seorang. Tidak akan dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik kecuali orang yang bersih hatinya dan bersih riwayat hidupnya serta senantiasa merasakan pengawasan Allah baik di tempat terbuka maupun di tempat tersembunyi. Mereka akan memperhitungkan semuanya, baik yang bernilai besar maupun kecil. Mereka akan meninggalkan pekerjaan itu tanpa ada kecurigaan yang terkait pada diri mereka. Sejarah menceritakan kepada kita, baik zaman dulu maupun masa kini, betapa banyak pengkhianatan terjadi baik secara terang-terangan maupun tersembunyi yang dilakukan oleh mereka yang memiliki jiwa yang rendah dan tidak menjaga amanah. Adapun Abu Ubaidah, cukup baginya jaminan Rasulullah hallallahu Alaihi wa Sallam bahwa dia adalah orang terpercaya, sangat terpercaya.

Abu Bakar pun membuat majelis permusyawaratan yang terdiri dari para pemuka sshahabat seperti Umar, Utsman, Ali, Abu Ubaidah, dan yang lainnya. Dia meminta pendapat mereka, bermusyawarah dengan mereka dalam menjalankan urusan negara dan persoalan kaum muslimin.

Abu Bakar pun mewariskan kepada par gubernur wilayah dan komandan pasukan penaklukan untuk memperlakukan Abu Ubaidah dengan baik dan hendaknya memahami kedudukannya dan meminta pendapatnya. Abu Bakar berpesan pada Syurahbil bin Hasanah, “Jika engkau menghadapi situasi yang memerlukan pendapat orang yang bertakwa, maka mulailah dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal, lalu yang ketiga Khalid bin Sa’id. Engkau akan mendapatkan pada mereka nasihat dan kebaikan. Jangan sampai engkau menolak pendapat mereka atau menyembunyikan dari mereka sebagian berita.”

Abu Bakar memberikan panji kepada Yazid bin Abu Sufyan sebagai pemimpin pasukan yang diberangkatkannya untuk penaklukan Syam. Dia berwasiat kepada Yazid, “Saya berpesan agar engkau memperlakukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan baik. Engkau telah mengetahui kedudukannya dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Maka ketahuilah keutamaannya dan catatan masa lalunya. Perhatikan juga mu’adz bin jabal, engaku telah mengetahui keikutsertaannya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka jangan putuskan sesuatu tanpan mengikutsertakan keduanya.”

Abu Bakarpun mewasiatkan kepada kaum muslimin pada umumnya untuk mengikuti jejak Abu Ubaidah dan meneladani akhlaknya yang memang mulia, dengan menyebut keutamaannya dan sifatnya yang indah dengan ungkapan singkat, “Hendaklah kalian meneladani orang yang lembut, apabila dizhalimi tidak menzhalimi, apabila disakiti memaafkan, apabila diputuskan silaturrahimnya menyambungkan, ramah terhadap kaum muslimin, dan keras terhadap orang-orang kafir, yaitu Amir bin Al-Jarrah.”

3. Bersama Umar dan kedudukannya di sisinya

Umar Al-Faruq mengetahui kedudukan Abu Ubaidah di hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , menyaksikan kepercayaan beliau kepadanya dalam banyak situasi  dan pengutusan beliau untuk berbagai kepentingan dan urusan. Umar pun semakain yakin akan keluhuran sifat Abu Ubaidah dan kemuliaan akhlaknya pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang menjadikannya salah satu tokoh bangsa dan komandan penaklukan. Di tambah lagi dengan firasat Umar yang terbukti jarang salah dan pengetahuannya yang sempurna tentang akhlak para tokoh serta ketepatannya dalam memilih sosok yang memiliki kompetensi, sebagaimana tampak jelas pada masa kekhalifahannya. Maka Umar menempatkan Abu Ubaidah pada posisi yang pantas baginya dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan penaklukan Syam.
Umar Al-Faruq membeberkan berbagai bukti dan alasan untuk mendukung ketepatannya itu agar mereka yang belum mengenal Abu Ubaidah dapat memahami keputusan tersebut.
Ibnu Sa’ad, Abu Nu’aim, dan Al-Hakim meriwayatkan secara ringkas, sementara Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab At-Tarikhul Awsath secara panjang lebar, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, “Sesungguhnya Umar bin Khaththab  berkata kepada para shahabatnya, “Berharaplah!” salah seorang dari mereka berkata, “Saya berharap rumah ini dipenuhi dirham agar saya dapat menginfakkannya di jalan Allah.” Umar berkata lagi, “Berharaplah!” Yang lain berkata, “Saya berharap rumah ini dipenuhi emas agar saya dapat menginfakkannya di jalan Allah.” Umar kembali berkata, “Berharaplah!” Yang lain berkata, “Saya berharap rumah ini dipenuhi permata atau semacamnya agar saya dapat menginfakkannya di jalan Allah.” Umar masih berkata, “Berharaplah!” Mereka pun menjawab, “Apa yang dapat kami harapkan lebih jauh dari semua itu?” Umar berkata, “Sedangkan saya berharap agar rumah ini dipenuhi oleh sosok seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Hudzaifah bin Yaman. Maka saya akan member mereka jabatan dalam rangka ketaatan kepada Allah.” Lalu Umar mengutus seseorang untuk memberi sejumlah harta kepada Abu Ubaidah dan berpesan, “Lihatlah apa yang diperbuatnya dengan harta tersebut!” Saat utusan itu memberikan harta itu kepada Abu Ubaidah, langsung dibagikannya. Kemudian Umar mengutus seseorang untuk membawa sejumlah harta kepada Mu’adz bin Jabal seraya berpesan, “Lihatlah apa yang diperbuatnya dengan harta teresebut!” Saat utusan itu memberikan harta itu kepada Mu’adz, langsung dibagikannya. Umar berkata, “Saya telah mengatakannya kepada kalian.”

Umar pun mengumumkan di depan sejumlah shahabat dan tabi’in tentang kedudukan Abu Ubaidah, bahwa dia pantas untuk menduduki jabatan khalifah. Jika dia mendapati Abu Ubaidah masih hidup, dia akan mengangkat Abu Ubaidah sebgai penggantinya. Lalu Umar menguatkan pendapatnya dengan pujian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   terhadapnya bahwa dia adalah “Kepercayaan umat.”

Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Tsabit bin Al-Hajjaj, dia berkata, “Sampai berita padaku bahwa Umar bin Khaththab berkata, “Jika saya dapati Abu Ubaidah bin Al-Jarrah masih hidup, saya pasti akan mengangkat khalifah penggantiku tanpa perlu bermusyawarah. Jika saya ditanya tentang kepetusan itu saya akan menjawab, “Saya mengangkat pengganti dari kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-NYa.”

Dalam sebuah riwayat yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinukil oleh Ibnu Asakir, Adz-Dzahabi, dan yang lain, dari Syuraih bin Ubaid, Rasyid bin Sa’ad, dan yang lain, mereka berkata, “Ketika Umar bin Khaththab sampai ke Sargh, dia diberitahu bahwa di Syam telah mewabah suatu penyakit.” Umar berkata, “Sampai berita kepadaku tentang mewabahnya penyakit di Syam. Saya pun berkata, “Jika saat ajalku tiba Abu Ubaidah masih hidup, saya akan mengangkatnya sebagai pengganti. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadaku, “Kenapa engkau mengangkatnya sebagai khalifah umat Muhammad?” saya akan menjawab, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda, “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaanku Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Sejumlah orang mengingkari hal itu dan berkata, “Bagaimana dengan para pembesar Quraisy?”  Maksud mereka adalah Bani Fihr. Kemudian Umar berkata, “Jika ajal saya tiba dan Abu Ubaidah telah wafat, saya akan mengangkat Mu’adz bin Jabal sebagai khalifah penggantiku. Jika tuhanku bertanya, “Kenapa engakau mengangkatnya sebagai khalifah pengganti?” saya akan menjawab, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda, “Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat di hadapan para ulama secara tersendiri.”

Akan tetapi Allah Ta’ala lebih memilih Abu Ubaidah untuk berada di sisi-Nya. Maka Abu Ubaidah mati Syahid lima tahun sebelum Umar wafat. Maka Umar Al-Faruq menegaskan di akhir hayatnya kemuliaan kedudukan Abu Ubaidah di sisinya, maka dia menetapkan enam orang shahabat sebagai ahli syura. Dia berkata, “Sesungguhnya saya menyerahkan urusan ini pada mereka berenam yang pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   wafat merasa ridha kepada mereka.” Kemudian Umar berkata, “Kalau saja salah seorang dari dua orang ini masih hidup, saya akan menyerahkan urusan ini padanya dan saya percaya padanya, yaitu Salim pelayan Abu Hudzaifah dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Bukan hanya akhlak, ketakwaan, kezuhudan, sifat wara’, dan banyaknya pengorbanan Abu Ubaidah saja yang membuatnya sangat dihormati oleh Umar, akan tetapi juga terkait dengan kehebatannya dalam bidang perang, kompetensinya dalam pertempuran, memimpin pasukan, penaklukan berbagai negeri, kebijakan untuk rakyat, dan pengurusan Negara. Sifat dasarnya itu semakain tumbuh dan berkembang seiring dengan berbagai vpengalaman yang dilaluinya. Berbagai peristiwa yang dilalulinya dibawah naungan kenabian dan masa kekhalifahan Abu Bakar saling mendukung dalam menempatkan hikmah dalam bentuknya yang terbaik. Karena itulah Umar memilihnya untuk menggantikan Sang pedang Allah, Khalid bin Walid dalam memimpin pasukan penaklukan Syam. Ketika Abu Bakar meninggal dan Umar menggantikannya, Umar menurunkan Khalid dari posisinya sebagai komandan pasukan dan mengangkat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai penggantinya, lalu dia menulis surat ke seluruh wilayah memberitahukan hal itu.

Umar bukanlah tipe orang yang memberikan perintah ke para gubernur wilayah, para komandan pasukan, dan kaum muslimin pada umumnya, lalu mereka menerima perintah itu tanpa pertimbangan dan tidak berani membahasnya. Mereka tidak dididik seperti itu dan Umar pun tidak menginginkan itu, bahkan di awal periode kekhalifahannya dia menyatakan dengan tegas, “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak menyampaikan aspirasi kalian, dan tidak ada kebaikan pada diri kami jika kami tidak mendengar aspirasi.” Umar juga berkata, “Tolonglah saya atas diri kalian dengan menahan diri dariku, tolonglah saya atas diri saya dengan melakukan amar makruf nahi munkar dan memberikan nasihat tentang urusan kalian yang diserahkan oleh Allah kepadaku.” Umar juga berkata, “Saya meletakkan pipiku di tanah untuk pemiliki kehormatan dan yang menjaga diri.”

Semua itu bukanlah bualan kosongatau kata-kata tipuan yang disampaikan di atas mimbar. Buka juga sekedar kampanye untuk menarik perhatian orang banyak, setelah itu diikuti oleh pengkhianatan terhadap janji-janji yang telah terucap. Akan tetapi semua itu merupakan kata-kata seorang lelaki merdeka yang kerjanya lebih banyak dari ucapannya dan riwayat hidupnya tidak menyalahi slogan dan janji mereka.

Jika umar ingin menempuh jalan selain jalan petunjuk -dan itu tidak mungkin terjadi pada diri Umar- tentu dia tidak akan mampu melakukannya. Kerena dia akan berhadapan dengan umat yang proaktif yang akan menghalangi jalannya, dia akan menghadapi pihak yang terdiri dari para pembela kebenaran, pendukung keadilan, penjaga kehormatan dan kemuliaan. Mereka akan menghadapinya hingga mengembalikannya ke jalan kebenaran dan petunjuk.

Lihatlah umat yang melahirkan orang seperti Abu Ubaidah ini. Dibalik kelembutan, sifat tawadhu’, dan kezuhudannya, meski dia diangkat sebagai panglima pasukan kaum muslimin, sebagai gubernur wilayah Syam, dan menempati kedudukan terhormat di sisi Umar, semua itu tidak memalingkannya dari kewajibannya untuk menasehati Amirul Mukminin dan mengingatkannya mengenai tanggungjawab yang besar, bahwa dia akan ditanya tentang hal itu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang jabatan kekhalifahan yang diembannya apakah dia menjaganya atau melalaikannya.

Perhatikan surat berikut. Ketika sampai surat Umar kepada Abu Ubaidah memberitahukan tentang wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka Abu Ubaidah dan Mu’adz menulis surat kepada Umar yang isinya.

“Bismillahirrahmanirrahim, dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal untuk Umar bin Khaththab. Salam untukmu, sesungguhnya kami memuji Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Amma ba’du, maka kami berjanji kepadamu dan urusan dirimu sangat penting bagimu. Engkau telah diangkat sebagai pemimpin umat Muhammad yang terdiri dari bermacam ras, duduk di hadapanmu musuh dan teman, orang-orang terhormat dan orang-orang biasa, orang kuat dan orang lemah, setiap mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh keadilan. Maka perhatikanlah apa yang seharusnya engkau lakukan wahai Umar. Kami mengingatkanmu tentang suatu hari saat segala rahasia ditampakkan, segala aib diperlihatkan, semua yang tersembunyi dimunculkan, seluruh hati menciut, seluruh wajah tertunduk di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa Yang memaksa mereka tunduk pada kekuasaan-Nya, takut akan siksa-Nya, dan berharap rahmat-Nya. Sesungguhnya telah sampai pada kami berita bahwa di kalangan umat ini ada orang yang menampakkan persaudaraan namun menyembunyikan permusuhan. Kami berlindung kepada Allah dari hal itu. Hendaknya surat kami tidak disalahpahami, kami hanya bermaksud menasehatimu dengan surat ini. Wassalam.”

Begitu mulianya kedudukan Abu Ubaidah di sisi Umar hingga dia menetapkan orang yang diangkat oleh Abu Ubaidah untuk urusan kaum muslimin dan mempertahankannya hingga masa setelah wafatnya Abu Ubaidah. Karena Umar sangat percaya pada pendapat dan pandangan Abu Ubaidah, dia pun merasa tenang dengan keputusannya dalam memilih orang-orang yang berkompeten dan pengangkatan mereka untuk jabatan publik yang mengurusi harta kaum muslimin dan negeri mereka. Ini merupakan arti lain dari sifat yang dianuhgerahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   bahwa Abu Ubaidah adalah orang terpercaya, sanagt terpercaya. Berbagai peristiwa menegaskan kelayakan Abu Ubaidah menyandang sifat tersebut.

Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa sesungguhnya Iyadh bin Ghanam –dan dia adalah Bani Fihr kerabat Abu Ubaidah- dia menetap di Syam bersama Abu Ubaidah. “Ketika Abu Ubaidah wafat, dia mengangkat Iyadh sebagai penggantinya. Iyadh adalah seorang laki-laki shalih. Ketika berita duka Abu Ubaidah sampai ke tangan Umar, dia mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berkali-kali dan sangat berduka atas wafatnya. Umar berkata, “Tidak ada yang bias menggantikannya sebagai gubernur?” Mereka berkata, “Iyadh bin Ghanam.” Maka Umar menetapkannya dan menulis surat kepadanya, “Saya mengangkatmu sebagai pengganti Abu Ubaidah, maka bekerjalah dengan baik sesuai dengan yang dikehendaki Allah atasmu.”

Dalam riwayat Imam Al-Bukhari di kitab At-Tarikh Al-Awsath, “Umar berkata, “Saya tidak akan mengganti gubernur yang diangkat oleh Abu Ubaidah.”

4. Kedudukan Abu Ubaidah di mata para pemuka shahabat dan pujian mereka untuknya

Di Mekah, Abu Ubaidah hidup bersama sejumlah pembesar shahabat, kebersamaan itu berlanjut di Madinah. Mereka hidup di bawah panji Islam, mereka salaing mengetahui sifat yang lainnya, seorang shahabat member kesaksian tentang saudaranya atas apa yang dilihatnya. Maka mereka meriwayatkannya kepada umat dengan ungkapan yang indah menggambarkan sifat sekelompok manusia yang penuh berkah itu agar menjadi teladan bagi generasi berikutnya dan tersambunglah hubungan antara mereka dengan para pendahulunya sehingga mereka akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sahabat karibku di kalangan para shahabat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam  ada tiga, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Abdullah bin Amr memuji Abu Ubaidah dengan menyebutkan sifat terpuji yang dimilikinya lalu membandingkannya dengan dua orang dari pembesar shahabat, dia berkata, “Tiga orang dari Quraisy yang paling tampan wajahnya, paling bagus akhlaknya, paling pemalu, jika berbicara padamu tidak membohongimu, jika engkau berbicara padanya tidak mendustakanmu, adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Sedangkan Mu’adz bin Jabal yang menemani Abu Ubaidah di Madinah cukup lama dan sellau bersamanya dalam berbagai penaklukan hingga akhir hayat Abu Ubaidah, bahkan Abu Ubaidah mengangkatnya sebagai pengganti sehingga dia menjadi imam shalat setelahnya, sangat bersedih atas kematian Abu Ubaidah dan merasa kehilangan. Dia pun berpidato dihadapan manusia menyampaikan kata-kata pujian untuk sosok yang sanagt terpuji ini: “Wahai kaum muslimin, kalian pasti bersedih atas wafatnya laki-laki yang saya tidak melihat ada yang lebih baik hatinya, lebih mencintai akhirat dan lebih tulus kepada masyarakat umum dari padanya, maka kalian menyayanginya, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya dan hadirilah untuk menshalatinya.”

Ketiak orang-orang meletakkannya di liang lahat dan menimbunnya dengan tanah, Mu’adz berkata, “Wahai Abu Ubaidah, saya ingin memuji mu dan saya tidak mengatakan sesuatu yang batil karena saya takut akan terkena murka Allah. Demi Allah, engkau termasuk orang yang banyak mengingat Allah, yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati, jika disapa oleh orang jahil membalas dengan ucapan yang baik. Engakau termasuk orang-orang yang dalam membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, melainkan di antara keduanya. Demi Allah engkau termasuk orang-orang yang tawadhu’, menyayangi anak yatim dan orang miskin, dan membenci para pengkhianat dan orang-orang yang sombong.”

Mu’adz bin Jabal lalu mengirim surat kepada Amirul mukminin Umar memberitahukan wafatnya Abu Ubaidah dan memnyampaikan ungkapan duka cita atasnya. Dia menulis, “Untuk hamba Allah Umar, Amirul Mukminin dari Mu’adz bin Jabal. Assalamu’alaik, sesungguhnya saya memuji Allah yang tidak adaTuhan yang berhak di sembah selain Dia, amma ba’du, Kita telah kehilangan seorang yang telah menjadi kepercayaan Allah, sangat mengagungkan Allah, dan sangat saya dan engkau sayangi, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, semoga Allah mengampuni dosanya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kepada Allah kita percayakan dia.”

Mari kita renungkan sikap Sang pedang Allah, tuan berbagai penaklukan dan panglima besar sepanjang sejarah, Abu Sulaiman Khalid bin Walid. Kisah tentangnya bersama Abu Ubaidah sangat luar biasa. Khalid bin Walid Radiyallahu anhu cukup lama menjadi komandanpasukan penaklukan, sementara Abu Ubaidah dan yang lainnya berada dibawah kepemimpinannya. Ketika datang surat penurunan dirinya, dia pun bergabung di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah, mendengar kata-katanya, member saran kepadanya, dan berjihad untuk Allah dan di jalan Allah!

Bahkan Khalid bin Walid mengakui kelebihan Abu Ubaidah dan menceritakan kepada semua orang tentang pujian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  kepadanya. Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab At-Tarikh Al-Awsath, begitu juga Al-Khathib. Ibnu Asakir dalam kitab tarikh keduanya, dari pembesar shahabat Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Saya merupakan salah seorang anggota pasukan Khalid bin Walid yang diutus untuk memperkuat pasukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang sedang mengepung penduduk Damaskus. Abu Ubaidah berkata kepada Khalid bin Walid, “Silakan engkau menjadi imam, engkau lebih berhak, engkau datang kepadaku untuk memperkuat pasukan.” Khalid bin Walid berkata, “Saya tidak mungkin menjadi imam di hadapan seseorang yang saya mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam , bersabda “Bagi setiap umat ada orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Mari kita teladani para pemilik jiwa besar dan akhlak mulia serta riwayat hidup yang bersih itu. Sungguh luar biasa prinsip yang mereka dididik dengannya, dan madrasah yang mereka lulus darinya.

Mereka sungguh beruntung ketika mau mendengar dan menaati para penakluk yang baik. Langkah yang mereka tempuh akan mencapai kebahagiaan selama mereka berjalan di jalan mereka yang bersih. Sebaliknya mereka akan celaka jika berpaling dari prinsip tersebut. Upaya yang mereka lakukan untuk memalingkan generasi ini dari sejarahnya dan memutus hubungan antara masa kini dengan masa lalunya merupakan upaya yang sangat jahat.

F. Mujahid Terpercaya, Penakluk Wilayah Syam

Abu Ubaidah Radiyallahu Anhu hidup bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   sebagi orang kepercayaan atas agama, risalah, ajaran, dan umatnya. Dia pun hidup sepeninggal Rasulullah sebagai orang terpercaya. Maka benar-benar terbuktilah ucapan Nabi tentangnya. Dia mengemban tanggungjawab yang diberikan kepadanya dalam segala situasi, ketika dia menjadi anggota pasukan, pemimpin sekelompok kecil mujahidin, komandan pasukan, atau panglima besar tentara! Dia senantiasa menjadi orang terpercaya dalam semua kondisi tersebut.

Banyak faktor yang membentuk kepribadian Abu Ubaidah. Semua bergabung dalam dirinya untuk menentukan manhaj yang ditempuhnya dalam merealisasikan sebuah tujuan yaitu menolong agama Islam dan menyampaikan risalahnya. Ada beberapa kunci yang dapat membuka sisi tersembunyi dari kepribadiannya untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk sisi luar biasa pada perjalanan hidupnya dan upayanya dalam merealisasikan tujuan mulia yang ditetapkannya.

Kunci pertama adalah sesungguhnya Abu Ubaidah tidak memasuki kancah penaklukan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq tanpa pelatihan dan persiapan. Dia tidak memasuki kancah pertempuran dengan tanpa mengetahui taktik dan strategi untuk memenangkannya atau menyelamatkannya dari situasi sulit. Sebaliknya dia sangat mengerti dan memahami strategi peperangan, dia ikut bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam seluruh peperangan yang dilakukan, memperoleh penghargaan sebagai ahli Badar yang tidak ada tandingannya, dia tetap bertahan bersama sekelompok kecil pasukan pada perang Uhud dalam situasi yang sangat menggetarkan hati, bahkan dia ikut berperan dalam perang Ahzab yang digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai situasi yang paling sulit, “Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat.” (QS. Al-Ahzab [33]: 11). Dia juga ikut mengulurkan tangan kanannya pada tangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Bai’atur Ridhwan, diangkat oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai pemimpin pasukan tanpa baju besi pada saat Fathu Makkah, ikut serta dalam perang Hunain, begitu juga dalam perang Tabuk yang disebut oleh Allah Ta’ala sebagai saat tersulit.

Di samping itu, Abu Ubaidah memperoleh kepercayaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   karena dia menguasai urusan peperangan dan sangat baik dalam memimpin pasukan. Maka beliau mengutusnya sebagai pendukung pasukan Amr bin Ash dalam perang Dzatus Salasil. Di bawah komandonya terdapat pemuka shahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar, termasuk dua orang pemimpin kaum muslimin, Abu Bakar dan Umar.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengutusnya sebagai pemimpin pasukan pengintai ke Siful Bahr. Dia dan pasukannya mengalami kelaparan. Sebagaimana ras mengutusnya dalam pasukan lain menuju Dzil Qashshah.

Semua itu adalah pengalaman Abu Ubaidah dan masa lalunya yang luar biasa di medan Jihad dan penyebaran dakwah. Dia berada di barisan terdepan pasuka Islam. Dalam berbagai peristiwa tersebut dia termasuk orang-orang yang mampu menguasai diri dan keadaan tidak pernah luntur semangatnya, serta tidak pernah kehabisan akal dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian yang sulit sekalipun.

Kunci kedua pada sosok jihad Abu Ubaidah adalah kesungguhannya dalam berjihad dan membela agamanya dan kemuliaan umatnya. Sepanjang perjalanan jihadnya Abu Ubaidah senantiasa berjalan dibawah panji Islam, mengangkatnya dengan tangan kanannya dan berjuang agar panji tersebut tetap berkibar. Dalam situasi itu dia tidak mempedulikan dirinya, yang dipikirkan hanyalah kewajiban yang diembannya sebagai tentara yang mana di pundaknya terletak kemuliaan umat dan kewajiban penyebaran dakwah. Maka engkau akan menyaksikannya ketika menjadi tentara dia berbuat layaknya komandan, dan ketika menjadi komandan dia tidak tampak berbeda dengan tentara biasa karena sifat tawadhu’nya.

Ketika Amr bin Ash meminta tambahan pasukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   dalam perang Dzatus Salasil, maka beliau mengirim Abu Ubaidah bersama 300 pasukan dari kalangan shahabat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   berpesan apabila dia bertemu dengan Amr, hendaklah mereka berdua bersatu. Sesampainya di sana, pasukan Abu Ubaidah berkata, “Abu Ubaidah yang menjadi komandan.”Namun Amr menolak dengan alasan bahwa Abu Ubaidah datang sebagai pasukan pendukung. Abu Ubaidah pun segera mundur, sebelum setan mempengaruhinya. Dia berkata kepada Amr dan mengumumkannya di hadapan seluruh pasukan, “Saya akan mematuhimu. Engkaulah pemimpin pasukan!”

Di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau menyerahkan panji pada Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Abu Bakar As-Shiddiq mengirim pasukan ini paska wafatnya Rasulullah. Pasukan pun bergerak menuju Yordania, dan Usamah memimpin para pembesar shahabat, di antaranya Abu Ubaidah yang memiliki banyak kelebihan di banding Usamah. Namun Abu Ubaidah patuh di bawah kepemimpinan Usamah meski dia masih amat muda.

Inilah Abu Ubaidah di bawah komando Khalid bin Walid yang memimpin pasukan Islam di salah satu pertempuran pada masa Abu Bakar. Abu Ubaidah sendiri menjadi komandan pasukan dibawah kepemimpinan Khalid. Maka dia mematuhi Khalid, menyampaikan nasihat padanya, dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam berperang. Ketika Khalid Abu Bakar wafat, Umar menggantikan posisinya. Maka dia menurunkan Khalid bin Walid dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai pengganti. Dengan demikian Khalid berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyembunyikan berita tersebut hingga pertempuran usai dan pasukan kaum muslimin memenangkan pertempuran. Barulah dia member tahu Khalid tentang surat itu dan tetap mengakui keutamaannya dan mendengar saran pendapatnya. Abu Ubaidah tidak memutuskan sesuatu tanpa bermusyawarah dengannya.

Kunci ketiga dari keberhasilan sosok Abu Ubaidah menjadi sandaran dua pemimpin kaum muslimin adalah ketergantungan yang penuh terhadap Allah Ta’ala dan senantiasa tersambungnya dia dengan Rabbnya.

Maka semua rintangan dan halangan menjadi tidak berarti bagi Abu Ubaidah. Dia memasuki kancah pertempuran, menghadapi pasukan musuh berbekal iman yang mendalam, keimanan yang mantap, persiapan yang cukup, dan tawakkal penuh serta berharap mendapat pertolongan Allah dalam menghadapi musuh yang jumlahnya sangat banyak tapi tidak mendapat dukungan dari langit.

Yang mengikuti perjalanan jihad dan gerakan penaklukan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah serta berbagai situasi besar yang ditorehkannya pada masa Abu Bakar dan Umar selam tujuh tahun, akan menemukan tiga kunci tersebut sangat nampak jelas pada dirinya dan tidak memerlukan tambahan penjelasan dan pembahasan lagi.

1. Persiapan untuk penaklukan Syam pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   

Peperangan kaum muslimin menghadapi Romawi telah dimulai sejak masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliaulah yang membuka jalan dan mempersiapkannya, memimpin para shahabatnya dan memberangkatkan mereka ke sana, menyemangati mereka untuk bergerak kesana, menyampaikan kabar gembira dengan kemenangan yang akan diraih, dan memberitahu mereka tentang keutamaan Syam.

Isyarat paling awal tentang keutamaan negeri Syam, bahwa negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin dan tunduk dibawah panjinya, telah ada sejak sebelum terjadinya peristiwa hijrah, yaitu ketika AllahSubhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya dengan perjalanan malam (Isra’) ke Baitul Maqdis, kemuadian dari sana naik ke langit (Mi’raj). Setelah hijrah, misi terbesar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   adalah perluasan wilayah dakwah Islami dan persiapan untuk penaklukan ke negeri Syam serta menyampaikan risalah tauhid pada penduduknya. Hal itu nampak dari pengiriman surat Rasulullah kepada para raja dan penguasa, pengutusan pasukan, dan kepemimpinan beliau dalam peperangan.

Setelah perjanjian Hudaibiyah pada tahun keenam Hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  mengutus Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi membawa surat beliau ke Heraklius mengajaknya untuk masuk Islam. Artinya hendaklah dia masuk Islam dan member pilihan pada rakyat yang dipimpinnya, jika menolak maka dia harus membayar jizyah, jika tidak, maka tidak ada jalan lain selain berperang untuk menyingkirkan rintangan dari jalan dakwah agar ditawarkan kepada manusia tanpa ada paksaan, sebab, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengutus Al-Haris bin Umair Al-Azdi ke penguasa Bushra. Ketika sampai di Mu’tah, dia dibunuh oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani. Dialah satu-satunya utusan RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam   yang terbunuh. Peristiwa itu membuat Rasulullah mengutus pasukan untuk perang Mu’tah pada tahun 8 Hijriyah.

Di samping itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengutus Syuja’ bin Wahab Al-Asadi kepada Al-Harits bin Syamir Al-Ghassani, gubernur Damaskus yang diangkat oleh Heraklius, mengajaknya masuk Islam. Namun dia menolak dan mengumumkan perang melawan Islam.

Pada tahun ke tujuh Hijriyah, terjadi perang Khaibar, dimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  menghabisi pengaruh Yahudi dan menimbulkan perasaan takut pada jiwa mereka yang masih tersisa diberbagai penjuru Jazirah Arab. Maka kaum Yahudi Fadak, Yahudi Taima’, dan Yahudi Wadil Qura menyerah dan memohon perjanjian damai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan demikian, Negara Islam telah aman dari arah utara sampai ke Syam.

Pada bulan Rabiul awal tahun delapan Hijriyah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  mengutus pasukan pengintai berjumlah lima belas orang dibawah pimpinan Ka’Abu Bakar bin Umair Al-Ghifari. Mereka pun menebus wilayah Syam dan sampai ke Dzatu Athlah di Wadi Arabah di Palestina. Mereka bertarung dengan pasukan gabungan dari Qudha’ah dan semuanya mati syahid kecuali seorang shahabat.

Pada bulan Jumadil Awal tahun delapan Hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Mu’tah dan berperang menghadapi pasuka Romawi dalam pertempuran yang dahsyat. Berakhir dengan penyelamatan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid terhadap pasukan kaum muslimin.

Lalu pada bulan Jumadil Akhir pada tahun yang sama, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Amr bin Ash ke Dzatus Salasil yang terletak di perbatasan antara Yordania dan Arab Saudi sebagaimana telah kami ceritakan sebelumnya.

Kemudian pada bulan Rajab tahun Sembilan Hijriyah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersiapkan pasukan sebanyak 30 ribu orang untuk memerangi Romawi. Beliau sendiri yang memimpin pasukan hingga sampai ke Tabuk. Namun tidak terjadi pertempuran. Kaum muslimin kembali dengan selamat membawa harta rampasan perang.

Sesaat sebelum wafat, beliau mempersiapkan pasukan Usamah bin Zaid dan mengarahkannya ke Balqa’ di tengah Yordania. Akan tetapi beliau wafat sebelum pasukan ini sampai ke sana. Pasuka itu baru berangkat ke sana pada kekhalifahan Abu Bakar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah memberi kabar gembira kepada para shahabat beliau tentang penaklukan negeri Syam dan mendorong mereka untuk berjihad di sana.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Al-Anshari Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya mendengar RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam   bersabda, “Kebahagiaan untuk Syam, kebahagiaan untuk Syam, kebahagiaan untuk Syam.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa demikian?” Beliau menjawab, “Para Malaikat Allah mengembankan sayapnya di atas Syam.

Dari Abdullah bin Hawalah Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda, “Kalian akan mengirim beberapa pasukan, satu pasukan ke Syam, satu pasukan ke Irak, dan satu Pasukan ke Yaman.” Abdullah berkata, “Saya berdiri dan berkata, “Hendaklah kalian bergabung dengan pasukan Syam, siapa yang enggan hendaklah bergabung dengan pasukan Yaman dan minumlah dari telaganya, karena Allah telah menjamin Syam dan penduduknya.”

Dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda, “Saya bermimpi melihat gundukan kitab diambil dari bawah bantalku, ketika saya perhatikan ternyata dia berupa cahaya yang bersinar yang dibawah ke Syam. Ketahuilah bahwa ketika fitnah terjadi, maka keimanan berada di daerah Syam.”

Lalu dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma, ia berkata, “Seusai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   mengimami shalat fajar, beliau menghadap kea rah jama’ah dan berdoa, “Ya Allah berkahilah tanah haram kami, Ya Allah berkailah Syam kami.”

Kemudian riwayat dari Abu Darda’ Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketika terjadi perang besar, benteng kaum muslimin terletak disebuah wilayah yang disebut Ghuthah. Di sana terdapat kota bernama Damaskus, daerah terbaik bagi kaum muslimin pada saat itu.”

Diriwayatkan dari Auf bin Malik Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  saat beliau berada di sebuah bangunan miliknya, saya mengucapkan salam kepada beliau.” Beliau bertanya, “Auf?” Saya jawab, “Betul wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Masuklah.” Saya bertanya, “Saya secara keseluruhan atau sebagian?” Beliau menjawab, “Secara keseluruhan.” Beliau berkata, “Hai Auf, hitunglah enam hal yang ada di hadapan kiamat, yang pertama darinya adalah kematianku.” Aku menangis hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   mendiamkanku. Aku berkata: “Itu yang pertama.” Rasulullah berkata, “Yang kedua, ditaklukannya Baitul Maqdis.” Aku berkata, “Itu yang kedua.” (Semua hadits yang disebutkan statusnya adalah hadits shahih seperti yang terdapat di dalam kitab Fadha’il Asy-Syam wa Dimasyq karya Ar-Rib’i).

2. Abu Bakar As-Shiddiq mengangkat beberapa janji untuk penaklukan Syam

Ketika tiba masa kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, kaum muslimin telah berlatih untuk pertempuran Syam. Penaklukan Syam merupakan cita-cita mereka. Ketika Abu Bakar selesai memerangi kelompok murtaddin dan seluruh bangsa Arab telah tunduk padanya, dia berencana untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam .

Amal jihad pertama yang dihadapinya Abu Bakar dalam kekhalifahannya adalah pengiriman pasukan Usamah ke Balqa’ di tengah-tengah Yordania.

Kemudian dia menyiapkan beberapa pasukan dan menyerahkan beberapa panji kepada sejumlah pemuka komandan jihad untuk penaklukan negeri Syam dan Irak, menyingkirkan kezhaliman dan membebaskan manusia serta menyampaikan pada mereka risalah Islam.

Ali bin Majidah As-Sahmi berkata, “Pada masa kekhalifahannya, Abu Bakar memimpin pelaksanaan haji pada tahun 12 Hijriyah. Sepulang dari haji dia langsung mempersiapkan beberapa pasukan ke Syam di bawah pimpinan Amr bin Ash, Yazid bin Sufyan, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah.”

Lalu Abu Bakar berpidato di hadapan manusia dan menyeru mereka untuk berjihad. Kemudian dia menyuruh Bilal menyeruhkan kepada orang-orang, “Berangkatlah ke medan jihad, musuh kalian Romawi berada di Syam!”

Orang-orang berbondong-bondong memnuhi seruan jihad. Mereka berdatangan dari segala penjuru mendaftarkan diri sebagai pasukan jihad. Abu Bakar pun menyerahkan beberapa panji ke sejumlah pasukan. Perkemahan seluruh pasukan sebelum berangkat ke tujuan masing-masing berada di sebuah daerah bernama Al-Jurf, di perbatasan bagian utara Madinah.

Abu Bakar As-Shiddiq mengumpulkan para komandan pasukan dan berpesan kepada mereka, “Sesungguhnya saya mengutus kalian kea rah Syam dan mengangkat kalian sebagai komandan pasukan. Saya menyertakan bersama masing-masing kalian sejumlah pasukan yang mampu saya kumpulkan. Jika kalian sampai ke negeri itu dan bertemu dengan pasukan musuh lalu kalian bergabung untuk berperang melawan mereka, maka panglima kalian adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Jika Abu Ubaidah belum sempat bertemu dengan kalian dan peperangan harus berlangsung, maka komandan kalian adalah Yazid bin Abi Sufyan.”

Abu Bakar menyerahkan salah satu panji kepada Yazid bin Abi Sufyan dan menetapkan Damaskus sebagai tujuannya. Dia berpesan pada Yazid, “Saya wasiatkan padamu agar berlaku baik terhadap Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, engkau telah mengetahui kedudukannya dalam Islam.” Lalu Yazid berangkat bersama pasukannya menuju Syam dari jalur Tabuk dan menetap di Balqa’, Yordania.

Kemudian Abu Bakar menyerahkan panji kepada Syurahbil bin Hasanah. Dia baru saja datang dari Irak tempat berkumpulnya pasukan Khalid bin Walid. Abu Bakar pun mengangkat sebagian komandan pasukan dan mengutusnya ke Syam. Abu Bakar berpesan padanya, “Jika engkau menghadapi situasi yang memerlukan pendapat orang yang bertakwa dan nasehat, hendaklah engkau memulai dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Lalu Abu Bakar memberangkatkannya ke Yordania melalui jalur yang sama dengan Yazid, akan tetapi dia berangkat tiga hari setelahnya. Ini merupakan strategi yang baik dan sebuah seni peperangan.

Abu Bakar juga menyerahkan panji kepada kepercayaan umat, Abu Ubaidah dan mengarahkannya ke Himsh serta mengangkatnya sebagai panglima seluruh pasukan apabila telah berkumpul. Abu Ubaidah berkemah diluar Madinah. Dia menunggu hingga mendapat instruksi dari Abu Bakar. Pada kesempatan ini datang gabungan pasukan Arab bersama para pemimpin dan kesatria mereka. Ketika mereka telah bergabung Abu Bakar pun berangkat bersama sejumlah kaum muslimin hingga sampai ke perkemahan Abu Ubaidah. Abu Bakar mengajaknya ke lembah Wada’ dan memberinya wasiat dan nasihat. Abu Bakar juga berpesan tentang Qais bin Maksyuh Al-Muradi, seorang kesatria Arab yang hatinya condong kepada Islam.

Kemudian Abu Bakar berkata pada Abu Ubaidah, “Dengarkan baik-baik, engkau memimpin orang-orang mulia, para pemuka bangsa Arab, orang-orang shalih dari kaum muslimin, dan para kesatria jahiliyah. Dulu mereka berperang dengan semangat kesatriaan, kini mereka berperang untuk sebuah niat yang baik. Jagalah hubungan dengan orang-orang yang menyertaimu, berlaku adillah pada semua orang, mintalah pertolongan kepada Allah, cukuplah Allah sebagai penolong.”

Selanjutnya Abu Bakar menyerahkan panji kepada Amr bin Ash setelah memanggilnya dari Oman. Sebelumnya dia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  sebagai gubernur di sana. Abu Bakar menulis surat padanya, “Saya merasa senang untuk memberi yang terbaik bagi dirimu dalam kehidupanku, kecuali engkau lebih menyukai posisimu saat ini.” Amr menjawab, “Sesungguhnya salah satu panah Islam, dan engkau, setelah Allah, sebagai pelemparnya. Maka kumpulkanlah dan pilihlah yang paling baik dan paling kuat, lalu lemparkanlah.”

Waktu itu Amr bin Ash ingin menjadi panglima seluruh pasukan Islam di Syam, namun Abu Bakar tidak mengabulkannya.

Dengan demikian, kaum muslimin memiliki empat pasukan di Syam, pasukan Abu Ubaidah, pasukan Yazid, pasukan Syurahbil, dan pasukan Amr bin Ash. Panglima tertinggi seluruh pasukan adalah Abu Ubaidah. Abu Bakar mengkhususkan untuk masing-masing pasukan daerah tertentu dari Syam. Abu Ubaidah untuk Himsh, Yazid untuk Damaskus, Syurabil untuk Yordania, dan Amr untuk Palestina.

Abu Ubaidah berangkat bersama pasukannya dari Madinah hingga melewati Watil Qura. Kemudian dia bergerak ke Al-Hijr, dari sana dia bergerak ke Dzatul Manar lalu ke Ziza, kemudian berjalan ke Ma’ab. Di sana mereka dicegat oleh pasukan Romawi dan terjadilah pertempuran. Kaum muslimin berhasil memukul mundur pasukan Romawi ke kota mereka dan mengepung mereka di sana. Penduduk Ma’ab pun mengajak berdamai dan disetujui oleh Abu Ubaidah. Dari sana Abu Ubaidah pun bergerak ke Jabiyah.

Imam Ath-Thabari berkata, “Kesepakatan damai pertama di Syam adalah perdamaian Ma’ab.”

Pasukan kaum muslimin terus berjalan hingga masing-masing pasukan sampai ke tempat yang dituju. Pasukan Romawi mengetahui kedatangan kaum muslimin ke wilayah mereka hingga berita itu sampai ke Heraklius yang waktu itu menetap di Baitul Maqdis setelah mengalahkan Persia.

Ketika sampai kepada Heraklius berita kedatangan pasukan kaum muslimin dan begitu dekatnya posisi mereka darinya, dia memanggil para menteri dan menasehatinya, di antara mereka terdapat saudaranya Tadzariq, maka dia berkata pada mereka, “Menurutku, kalian tidak usah memerangi mereka, sebaiknya kalian mengajak mereka berdamai. Demi Allah, engkau member mereka setengah hasil bumi Syam dan mengambil setengah lagi lalu kalian tetap menguasai pegunungan Romawi, lebih baik kalian dari pada mereka mengalahkan kalian hingga menguasai Syam, lalu ikut menguasai pegunungan Romawi!” Namun mereka menolak pendapat Heraklius, dan mayoritas lebih memilih untuk berperang. Tak ada pilihan lain bagi Heraklius selain mengikuti pendapat mayoritas, dia pun memimpin mereka untuk memerangi kaum muslimin. Dia bergerak ke Himsh dan bergabung dibawah kepemimpinannya pasukan dalam jumlah yang sangat besar yang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Dia menyiapkan di hadapan setiap pasukan kaum muslimin tentara yang jumlahnyajauh lebih besar dari pasukan kaum muslimin dan menyiapkan dengan persiapan yang lebih matang.

Diriwayatkan dari Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash, dia berkata, “Ketika pasukan Abu Bakar berangkat ke Syam, berita itu sampai ke telinga Heraklius yang saat itu berada di Palestina. Dilaporkan padanya, “Bangsa Arab telah datang dan mereka mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar. Mereka mengaku bahwa Nabi yang diutus kepada mereka memberitahu mereka bahwa mereka akan menguasai penduduk negeri ini. Mereka datang padamu tanpa merasa ragu bahwa apa yang dikatakan Nabi mereka itu akan terjadi, mereka datang bersama anak dan istri mereka membenarkan ucapan sang Nabi. Mereka berkata, “Jika kita berhasil menaklukannya kita akan tinggal disana bersama anak dan istri kita!” Heraklius berkata, “Hal itu semakin menguatkan kedudukan mereka. Jika suatu kaum berperang atas nama keyakinan, tidak ada yang akan melebihi kekutannya.”

Heraklius pun mengerahkan pasukan Romawi dari segala penjuru wilayah kekuasaannya. Dia meminta dukungan semua orang dan mereka memenuhi permintaannya. Mereka pun berkumpul membentuk pasukan yang sangat banyak. Sampailah berita berkumpulnya pasukan besar itu kepada pasukan kaum muslimin. Mereka lalu bermusyawarah mengenai hal itu. Abu Ubaidah mengirim surat kepada Abu Bakar memberitahunya, “Kami mendapat kabar bahwa Heraklius, Kaisar Romawi telah sampai ke salah satu desa Syam yang bernama Anthaki, dia mengutus utusan ke seluruh penduduk yang berada di bawah kekuasaannya dan mengumpulkan mereka. Mereka pun bergabung bersamanya. Saya ingin memberitahumu hal itu dan meminta pendapatmu.”

Abu Bakar As-Shiddiq membalas surat itu. Dia menguatkan hati mereka, mengingatkan mereka untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan member kabar gembira dengan kemenangan mereka atas pasukan musuh. Lalu Abu Bakar mengirim tambahan pasukan. Dia memanggil Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash, menyuruhnya berangkat bersama pengikutnya dari kaum muslimin untuk bergabung dengan pasukan penakluk Syam. Abu Bakar berpidato di hadapan manusia, menyemangati mereka untuk berjihad ke sana. Hasyim pun berangkat bersama pasukannya untuk membantu Abu Ubaidah. Kaum muslimin meresa gembira dengan kedatangan mereka.

Maka keempat pasukan pun berangkat menuju daerah yang telah ditentukan. Mereka berbasis di daerah masing-masing yang telah ditetapkan oleh Abu Bakar, Yaitu Himsh, Damaskus, Yordania, dan Palestina. Panglima tertinggi mereka adalah Abu Ubaidah.

Terjadilah beberapa pertempuran kecil antara kaum muslimin dan pasukan Romawi. Pertempiuran itu merupakan kali pertama dalam sejarah penaklukan Syam setelah perang Mu’tah dan pengutusan Usamah. Setelah Yazid bin Abi Sufyan sampai ke Balqa’, Abu Ubaidah sampai ke Jabiyah, dan Syurahbil sampai ke perbatasan Bushra, Romawi memberangkatkan 3000 tentara ke Walid Al-Arabah di Ghur Palestina di selatan Laut Mati. Pasukan ini mengancam pasukan kaum muslimin yang datang dari arah timur –sepanjang jalur Tabuk- yang bersambung hingga selatan Damaskus sekitar 50 Km dari Jabiyah. Pasukan Romawi ini datang dari arah belakang kaum muslimin, dan memungkinkan untuk memutus jalur bantuan dari Madinah dan Jazirah Arab, dengan adanya kekuatan Romawi lain Bushra.

Pertempuran di Wadi Arabah berlangsung di sebuah tempat bernama Al-Ghamar dan berakhir dengan kekalahan pasukan Romawi. Kaum muslimin mengejar mereka sampai Dubayyah, berjarak sekitar 16 Km dari tenggara kota Rafah. Dari sana pasukan Romawi melarikan diri ke Datsin dan terus dikejar oleh kaum muslimin. Akhirnya kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka, dengan demikian mereka telah menaklukkan Palestina Selatan, yaitu wilayah Gaza sekarang.

Yang mengalahkan Romawi dalam pertempuran perdana yang penuh berkah itu adalah pasukan sang terpercaya, Abu Ubaidah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh seorang shahabat terkemuka yang merupakan salah satu pasukan mujahidin di bawah panji Abu Ubaidah, yaitu Abu Umamah Al-Bahili yang mengatakan, “Waktu itu saya termasuk salah seorang yang dilepas Abu Bakar bersama Abu Ubaidah bersama beberapa orang dari kaumku. Pertempuran pertama terjadi di daerah Arabah dan Datsinah. Kami diserang oleh enam kelompok pasukan Romawi, masing-masing kelompok berjumlah 500 orang. Jadi jumlah mereka 3000 orang. Mereka datang hingga sampai ke Arabah. Maka Yazid bin Abu Sufyan mengirim utusan kepada Abu Ubaidah memberitahunya hal itu. Maka Abu Ubaidah mengutusku ke Yazid bersama 500 orang. Sesampainya ditempat Yazid dia mengutus seseorang bersama 500 tentara. Sementara Yazid mengikuti kami dengan pasukannya dari belakang. Ketika kami melihat pasukan Romawi, kami langsung menyerang mereka dan berhasil mengalahkan mereka. Kami berhasil membunuh para komandan mereka hingga mereka melarikan diri. Kami terus mengejar mereka hingga mereka bertahan di Datsinah, salah satu desa di Gaza. Kami menyerang mereka, Yazid menyuruhku dan shahabatku untuk maju, hingga kami berhasil mengalahkan mereka. Ketika itu mereka mendapat bala bantuan dari raja mereka.”

3. Permulaan perang Yarmuk dan kepemimpinan Khalid

Ketika para komandan pasukan kaum muslimin melihat pasukan Romawi bergabung menghadapi mereka, maka mereka bermusyawarah untuk menentukan langkah yang akan diambil. Di antara pemikiran yang muncul adalah pendapat Amr bin Ash, “Sesungguhnya pendapat untuk seperti kita adalah dengan bersatu. Karena bersatunya orang-orang seperti kita tidak akan terkalahkan meski berjumlah sedikit.” Lalu mereka mengirim surat ke Abu Bakar, kemudian sepakat untuk berkumpul di Yarmuk. Surat Abu Bakar berisi pendapat yang senada dengan pandangan Amr bin Ash. Abu Bakar berpesan kepada mereka, “Bergabunglah, hingga kalian membentuk satu kekuatan. Kalahkan tentara kaum musyrikin dengan tentara kaum muslimin, maka sesungguhnya kalian adalah para penolong agama Allah, dan Allah penolong bagi mereka yang menolongnya dan akan merendahkan mereka yang kafir. Orang seperti kalian tidak akan kalah karena sedikitnya jumlah. Yang akan kalah adalah 10 ribu lebih oleh 10 ribu jika mereka berbuat dosa. Maka jauhilah perbuatan dosa, dan berkumpullah di Yarmuk, hendaklah setiap kalian shalat bersama para sahabatnya.”

Pasukan Romawi berkumpul di sebuah lembah dan membangun perkemahan di tepian lembah. Mereka menjadikan lembah itu sebagai parit yang memisahkan mereka dengan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin lalu mengepung mereka selama bulan Shafar hingga Rabiul Akhir tahun 13 Hijriyah. Masing-masing pihak tidak dapat menyerang pihak yang lain. Ketika situasi ini berlangsung terlalu lama bagi kaum muslimin, mereka pun menulis surat kepada Khalifah Abu Bakar memberitahukan besarnya jumlah pasukan Romawi dan meminta tambahan pasukan. Baru saja surat para komandan pasukan itu sampai ke tangan Abu Bakar, teringat oleh sosok pedang Allah, panglima besar, Khalid bin Walid. Wajahnya berseri-seri ketika mengingat itu. Dia berkata dalam hati, “Khalid untuk pasukan tambahan itu. Demi Allah, saya akan membuat pasukan Romawi mengabaikan bisikan setan dengan mengirim Khalid bin Walid!”

Abu Bakar As-Shiddiq segera menulis serat kepada Khalid sepulangnya dari pelaksanaan ibadah haji. Dia mengucapkan selamat atas kemenangan yang diperoleh Khalid, mengingatkannya, dan menasehatinya. Lalu memerintahkan padanya untuk membantu saudara-saudaranya, para pemimpin pasukan penakluk Syam. Surat Abu Bakar sampai ke tangan Khalid saat dia berada di Hirah sepulang dari melakukan ibadah haji. “Berangkatlah hingga sampai ke tempat berkumpulnya pasukan kaum muslimin di Yarmuk. Mereka menghadapi situasi yang sulit. Jangan kau ulangi apa yang pernah kau lakukan. Tidak aa yang dapat mengalahkan musuh dengan pertolongan Allah seperti yang engkau telah lakukan, tidak ada yang dapat lepas dari situasi yang sulit seperti yang engkau lakukan, maka mantapkan niat dan langkah, selesaikanlah semoga Allah menyelesaikan untukmu, jangan sampai engkau dirasuki rasa ujub (bangga terhadap diri sendiri), maka engkau akan rugi dan terhina. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pemilik segala karunia, Dialah yang berhak member balasan.”

Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, “Tinggalkanlah Irak dan angkatlah pengganti untuk penduduknya, lalu berangkatlah bersama orang-orang kuat dari pasukan yang datang bersamamu ke Irak dari Yamamah, menemuimu di perjalanan, dan menyusulmu dari Hijaz. Hingga engkau sampai ke Syam dan bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan pasukannya dari kaum muslimin. Jika kalian telah bertemu, maka engkau menjadi panglima perang. Wassalam.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk berangkat bersama separuh pasukan dan mengangkat Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani sebagai pemimpin separuh pasukan lainnya.

Khalid bin Walid pun mematuhi perintah khalifah dan mengangkat Al-Mutsanna sebagai penggantinya di Irak. Khalid berangkat bersama para Pahlawan Islam dari Hirah menuju Daumatul Jandal (Desa yang terletak disebelah utara jazirah arab dan berjarak 450 Km dari selatan Taima’), lalu dia memasuki Bariyyah dan mengumpulkan orang-orang pandai dan bertanya pada mereka, “Bagaimana jalannya agar saya bias keluar dari arah belakang pasukan Romawi? Jika saya datang dari arah depan, pasukan Romawi akan mencegahku untuk menolong kaum muslimin!” semuanya berkata, “Yang kami ketahui hanya ada jalan yang tidak bias dilalui pasukan tentara, jalan itu hanya bias dilalui oleh pengendara yang sendirian. Jangan sampai engkau membahayakan kaum muslimin!” Namun Khalid bersikeras untuk merealisasikan pendapatnya. Dia meminta seorang penunjuk jalan, lalu ditunjukkanlah pada Rafi’ bin Umairah Ath-Tha’i. Khalid pun berpidato dihadapan pasukannya, membangkitkan semangat mereka dan menguatkan keimanan mereka. Dia berkata, “Jangan biarkan iman kalian melemah, berbuatlah, sesungguhnya pertolongan itu datang tergantung niat, balasan tergantung pada perbuatan. Seorang muslim hendaknya tidak merasa takut menghadapi sesuatu dengan adanya pertolongan dari Allah untuknya.” Pasukannya menjawab, “Engkau adalah seseorang yang telah diberi kebaikkan oleh Allah, maka lakukanlah apa yang hendak engkau lakukan.” Mereka pun mendukung Khalid, menguatkan tekad, dan bersemangat seperti semangatnya Khalid.

Khalid pun melanjutkan perjalanan bersama 9500 tentara, yang bertindak sebagai petunjuk jalan adalah Rafi’ bin Umairah. Dia mengambil jalan yang belum pernah dilalui oleh seorang pun, mengarungi padang pasir yang tandus, menuruni lembah, mendaki gunung, berjalan di jalur yang sempit. Rafi’ membawa mereka ke jalur padang pasir yang tandus. Sampailah mereka dalam waktu lima hari dan keluar dari arah Tadmur (Kota yang terletak di negeri Syiria, letaknya di arah timur kota Damaskus dengan jarak 240 Km) dan Khalid membuat kesepakatan damai dengan penduduknya. Pasukan melewati desa Adzra (Desa yang terletak di sebelah timur kota Damaskus dengan jarak 25 Km, pada saat ini dinamakan dengan Adra) dan keluar dari arah timu Damaskus. Mereka terus berjalan hingga sampai ke Bushra. Di dapatinya para shahabat telah memerangi mereka dan pemimpinnya mengajak berdamai dengan mereka.

Padang pasir yang diarungi sendiri oleh Pedang Allah, Khalid bin Walid  bersama pasukannya dari Irak menuju Syam agar dia dapat muncul di tempat pasukan Romawi tanpa ada yang menghalangi, saat ini terkenal dengan Badiyah Syam yang menjadi jalur mobil antara Damaskus dan Baghdad berjarak sekitar 1370 Km (Pada zaman sekarang, jarak antara kota Damaskus dan Baghdad lebih dekatnya 800 Km) dan biasa ditempuh oleh mobil selama 20 jam dengan istirahat. Khalid dan pasukannya menantang maut dengan melewati padang pasir yang mengerikan dan tandus itu, menempuhnya selama lima hari, hingga mendatangi pasukan Romawi dari arah belakang mereka dan mengejutkan mereka.

Memang benar bahwa kejeniusan itu tidak mengenal batasan dan tidak ada yang dapat merintanginya untuk mencapai tujuannya yang luhur.

Khalid Radiyallahu Anhu berharap kedatangannya beserta pasukannya untuk membantu saudara-saudara mereka, pasukan Syam dan sebagai pasukan yang mendukung mereka, dapat menimbulkan ketenangan di hati mereka dan membesarkan hati panglimanya Abu Ubaidah. Ketika Khalifah mengutusnya sebagai pasukan tambahan bagi mereka dan menjadi panglima tertinggi bagi pasukan mereka, Khalid sangat mengetahui kedudukan dan keutamaan para pembesar shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam . Untuk member isyarat kepada Abu Ubaidah di amata kaum muslimin, Khalid mengirim dua pucuk surat, yang pertama di tunjukkan kepada seluruh kaum muslimin di Syam, dia mengatakan kepada mereka, “Amma ba’du, sesungguhnya surat Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   datang kepadaku menyuruhku untuk bergerak ke tempat kalian, dan saya langsung menyanggupinya. Jika pasukan berkuda dan berjalan kaki pimpinanku sampai ke tempat kalian, maka bergembiralah dengan terealisasinya janji Allah dan kebaikan pahala dari Allah. Semoga Allah menjaga kami dan kalian serta melimpahkan pahala mujahidin kepada kita semua.”

Sedangkan surat kedua ditunjukkan kepada Abu Ubaidah secara khusus. Dia mengatakan dalam suratnya, “Amma ba’du, saya berharap kepada Allah agar kita diberi rasa aman pada hari yang diliputi ketakutan dan terhindar dari setiap keburukan. Telah datang kepadaku surat Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   memerintahkan kepadaku untuk bergerak ke Syam dan menjadi panglima pasukannya. Demi Allah saya tidak meminta hal itu sama sekali dan saya tidak menginginkannya. Engkau tetap pada posisimu, kami pun tidak akan memutuskan sesuatu tanpamu. Engkau adalah tuan kaum muslimin, kami tidak mengingkari keutamaanmu dan sangat membetuhkan pemikiranmu. Semoga Allah menyempurnakanakebaikan pada diri kita dan merahmati kita dari ancaman api neraka. Wassalam.”

Ketika Abu Ubaidah membaca surat Khalid tersebut, dia berkata, “Semoga Allah memberkahi Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam pendapatnya dan memberi umur panjang kepada Khalid.

4. Benteng kedua pasukan dan persiapannya serta jalannya pertenpuran yang diakhiri dengan kekalahan Romawi

Heraklius memerintahkan para komandan pasukan dan tentaranya untuk mengambil basis pertahanan di tempat yang luas namun memiliki jalan lari yang sempit. Mereka mematuhinya dan berkumpul di Waqhusah (Desa yang terletak di daerah Julan. Di desa tersebut terdapat lembah yang juga dinamakan Waqhusah, di sebelah selatan desa Waqhusah adalah lembah Yarmuk.) di tepian sungai Yarmuk (Sungai Yarmuk panjangnya 57 Km. Sungai ini merupakan sungai terbesar yang bermuara ke sungai Yordania. Sungai ini berhulu dari dataran tinggi Huraa yang ada di Syiria dan bertemu dengan sungai Yordania di arah selatan danau Tiberia dengan jarak 6 Km. Yarmuk adalah nama tempat, lembah, dan sungai. Di antara lembah yang di Yarmuk adalah lembah Raqqad, lembah Allan (keduanya mengairi dataran Julan) lembah Al-Harir dan lembah Az-Zaidi di Huran.). lembah pun menjadi parit bagi mereka.

Kaum muslimin pun berpindah dari tempat berkumpul sebelumnya menuju tempat yang lebih dekat dari pasukan Romawi dan menempati satu-satunya jalan mereka. Amr bin Ash berkata, “Wahai jamaah, bergembiralah, demi Allah pasukan Romawi terkepung, setiap pasukan yang terkepung kecil sekali untuk menang.”

Abu Sofyan mengusulkan agar pasukan di bagi menjadi tiga kelompok. Sepertiganya bersiap-siap di depan tentara Romawi, kemudian sepertiga lainnya yang terdiri dari perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan Khalid dengan sepertiga tentara lainnya di posisi belakang, maka jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan mereka, Khalid akan segera berpindah ke depan kaum wanita dan mereka dapat menyelamatkan diri ke tempat yang lapang di belakang Khalid dan pasukannya, sambil menunggu kedatangan bala bantuan, maka mereka segera melaksanakan pendapat itu.

Pasukan kaum muslimin berbasis di seberang sungai dari sisi berlawanan. Adzri’at (Dar’a) berada di arah belakang mereka agar pasukan tambahan dari Madinah dapat sampai ke tempat mereka.

Berbagai keterangan tersebut memberi gambaran tentang tempat terjadinya pertempuran ini, yaitu di dataran yang memanjang antara Dar’a dan lembah Raqqad, salah satu anak sungai Yarmuk, yang terletak disebelah barat kota Dar’a berjarak 20 Km dari kota itu.

Adapun jumlah kedua pasukan, keseluruhan pasukan Romawi mencapai 240 ribu, sementara pasukan kaum muslimin setelah kedatangan Ikrimah bin Abu Jahal dengan pasukan yang bersamanya dan kedatangan Khalid dengan pasukannya, bertambah dari 36 menjadi 40 ribu. Diantara mereka terdapat seribu shahabat yang turut dalam perang Badar.

Adapun jalannya pertempouran, kaum muslimin mulai mempersiapkan diri mereka guna menghadapi Romawi pada bulan Shafar tahun 13 Hijriyah, dan juga pada dua bulan berikutnya (Rabiul Awwal dan Rabiul Akhir). Mereka menunggu pasukan bantuan dan kedatangan Khalid yang tiba pada bulan Rabiul Akhir. Perang sendiri pecah pada bulan Jumadits Tsaniyah, dimana Abu Bakar wafat pada pertengahan bulan ini, sepuluh malam sebelum kemenangan kaum muslimin.

Khalid tiba di Yarmuk dengan sepuluh ribu pasukan –sebagaimana yang dituturkan oleh sebagian riwayat- dan menggenapkan pasukan kaum muslimin menjadi empat puluh ribu. Sebelum kedatangan Khalid kaum muslimin berperang dengan saling menyokong satu sama lain. Setiap pemimpin batalyon (Amir) akan menuju satu titik dengan pasukan yang dipimpinnya dan bertempur disana, dan jika pasukan musuh mulai berkumpul untuk menyerang mereka dengan pasukan yang banyak, maka pasukan lain pun akan datang membantu. Setiap amir akan mengimami pasukannya masing-masing, dan jika ada yang membutuhkan bantuan dari yang lain, mereka akan segera memberikan bantuan. Namun ketika Khalid Radiyallahu Anhudatang dengan membawa pasukan dari Irak, dan melihat jumlah pasuka Romawi yang bergitu besar, yang mungkin tak pernah disaksikan sebelumnya, ia tidak ingin memaksakan apapun kepada para amir yang ada yang mungkin tidak berkenan di hati mereka, yaitu untuk memaksakan kepemimpinan umum yang telah ditugaskan Khalifah untuknya. Ia hanya memberi tahukan hal itu kepada Abu Ubaidah bin Al-jarrah yang merupakan pimpinan umum sebelum kedatangan Khalid. Abu Bakar telah mengatakan pada saat akan memberangkatkan mereka, “Jika kalian telah sampai di negeri itu, dan pasukan musuh telah berkumpul untuk memerangi kalian, maka pemimpin kalian adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Bahkan Khalid memilih untuk menggunkan sebuah metode yang memungkinkan untuk mengawasi secara penuh jalannya peperangan, dan disetujui oleh seluruh pasukan, sehingga mereka bias bersama-sama maju melawan musuh dengan tekad yang tak tergoyahkan. Ia berkata kepada mereka, “Wahai para komandan sekalian, apakah kamu mau menerima suatu hal yang dengannya Allah akan menguatkan agama ini, dan dengannya kalian tidak akan ditimpa oleh hal-hal yang tidak diinginkan?” Mereka menjawab, “Kami menerima.” Setelah mendapat persetujuan dari seluruh komandan yang ada, Khalid berdiri dihadapan seluruh pasukan dan berkata, “Sesungguhnya hari ini adalah bagian dari hari-hari milik Allah, tidak ada yang patut dibanggakan ataupun dicelahkan. Ikhlaskanlah niat kalian dalam berjihad, dan jadikanlah Allah sebagai tujuan dari seluruh amal kalian. Sesungguhnya inilah hari yang akan menentuka hari-hari yang akan datang, janganlah kalian berberang dengan cara saling berpencar. Sungguh cara tersebut tidak tepat danm tidak laya. Sungguh jika musuh kalian mengetahui ini maka mereka akan berusaha menghalangi kalian. Maka lakukanlah apa yang diperintahkan kepada kalian oleh pemimpin kalian yang menyayangi kalian.”

Para amir yang terdiri dari pemimpin batalyon yang ada berkata, “Katakanlah, apa usulanmu?” Khalid berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar tidak mengutus kita kecuali karena ia telah mengetahui bahwa kita akan saling memudahkan. Jika ia mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan apa yang terjadi sekarang niscaya ia akan mengumpulkan kalian kembali. Sesungguhnya keadaan kalian saat ini lebih berat bagi kaum muslimin daripada apa yang telah menimpa mereka, dan lebih menguntungkan bagi kaum musyrikin daripada perlengkapan mereka sendiri. Aku telah menyaksikan bahwasannya dunia telah memisahkan kalian. Maka ingatlah Allah, Allah…telah ada seseorang di antara kalian yang terasing disebuah negeri, kedekatannya dengan seorang komandan tidak akan mengiurangi kehormatan dirinya sebagaimana kedekatan banyak komandan dengannya tidak akan menambah kehormatan dirinya. Jika kalian menunjuk seseorang untuk memimpin kalian secara keseluruhan, maka itu tidak akan mengurangi nilai kalian di sisi Allah dan di sisi Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam . Maka marilah, sesungguhnya musuh kalian telah bersiap, inilah hari yang akan menentukan hari-hari yang akan datang. Jika kita berhasil memukul mereka mundur ke parit-parit mereka pada hari ini, maka kita akan terus memukul mundur mereka. Namun jika mereka mengalahkan kita maka kita tidak akan menang setelahnya. Maka marilah kita saling mengangkat komandan tertinggi. Hendaklah sebagian dari kita memimpin hari ini, dan besuk diambil alih oleh yang lain, dan yang lainnya akan mengambil alih kepemimpinan pada hari berikutnya, hingga seluruh komandan akan mendapat giliran. Dan izinkanlah aku untuk mengambil alih kepemimpinan hari ini.”

Para komandan menyetujui hal ini dan mengangkat Khalid untuk memimpin mereka pada hari itu. Mereka melihat itu sebagai jalan keluar yang baik setelah sebelumnya mereka berperang dengan pasukan masing-masing dan kemudian saling member bantuan. Mereka menyadari bahwa jalan masih panjang di depan mereka, dan yang belum menjadi komandan tertinggi hari ini, akan bias meraihnya esok hari.

Khalid menerima tanggung jawab sebagai komandan tertinggi. Ia melihat pasukan Romawi telah keluar dengan formasi pasukan yang tak pernah disaksikan sebelumnya. Maka ia pun keluar dengan formasi yang tidak pernah dikenal oleh orang arab sebelumnya. Ia membagi pasukannya kepada banyak batalyon, ia membagi mereka kepada tiga puluh enam hingga empat puluh batalyon, dan berkata pada pasukannya, “Sesungguhnya jumlah musuh kalian banyak dan mereka pun bersikap angkuh, dan tidak ada formasi pasukan yang lebih banyak dipandang selain formasi dengan pembagian batalyon ini.”

Ia membagi pasukan tengah menjadi beberapa bataliyon dan menunjuk Abu Ubaidah sebagai komandannya, ia juga membagi sayap kanan menjadi banyak batalyon dengan dipimpin oleh Amr bin Ash dan di sana juga ada Syurahbil bin Hasanahh. Lalu ia membagi sayap kiri menjadi beberapa batalyon dan menunjuk Yazid bin Abi Sufyan untuk memimpinnya. Setiap batalyon diisi oleh pejuang yang terhitung sebagi kesatria pemberani dari kaum muslimin seperti Qa’qa’ bin Amru, Ikrimah bin Abu Jahal, Iyadh bin Ghanim, Hasyim bin Utbah bin Abu Waqqash, Habib bin Maslamah, Abdurrahman bin Khalid, yang usianya saat itu baru delapan belas tahun.

Khalid mengangkat Abu Darda’ sebagai pemutus perkara di antara mereka dan Abu Sufyan bin Harb sebagai motivator pasukan. Ia juga menunjuk Miqdad untuk membacakan ayat-ayat jihad yang terdapat di surat Al-Anfal. Abu Sufyan berjalan diantara batatyon yang ada, berhenti di depan mereka dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah…kalian adalah pembela arab dan penolong bagi Islam, sementara mereka adalah pembela Romawi dan penolong kemusyrikan. Ya Allah, ini adalah diantara hari-hari-Mu, Ya Allah, berikanlah kemenangan bagi hamba-hamba-Mu.”

Khalid mendengar seseorang dari bariksan kaum muslimin berkata, “Alangkah banyaknya pasukan Romawi dan sedikitnya pasukan kaum muslimin!” maka Khalid menghardiknya dan membalas perkataannya dengan kata-kata yang bias membuat individu dari kaum muslimin berperang bagaikan satu pasukan penuh. Ia berkata, “Justru alangkah sedikitnya pasukan Romawi dan banyaknya pasukan kaum muslimin! Sesungguhnya suatu pasukan akan menjadi banyak dengan kemenangan dan menjadi sedikit dengan kekalahan, dan bukan dilihat dari jumlah pasukan. Demi Allah aku berharap Al-Asyraq (nama kuda Khalid yang alas kakinya hancur akibat perjalanan yang jauh dan sulit. Kuda itu tidak menggunakan alas kaki semenjak menempuh perjalanan dari Irak) kembali menggunakan alas kakinya, dan pasukan Romawi berjumlah jauh lebih banyak!”

Khalid kemudian memerintahkan Ikrimah dan Qa’qa’ untuk memulai perang. Kedua pasukan berbaur dan saling bertempur, mereka berperang dengan sangat dahsyat, sebuah perang yang tak pernah disaksikan sebelumnya.

Abu Ubaidah bangkit mengobarkan semangat kaum muslimin dan menasehati mereka dengan berkata, “Hamba-hamba Allah, tolonglah agama Allah niscaya Ia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Wahai kaum muslimin, bersabarlah, karena kesabaran itu menyelamatkan dari kekufuran dan diridhai oleh tuhan serta menghindarkan dari kehinaan. Jangan kalian meninggalkan barisan kalian, jangan langkahkan kaki kea rah mereka, dan janganlah memulai peperangan. Siapkan tombak-tombak kalian, tetaplah diam kecuali berdzikir kepada Allah dalam diri kalian, hingga aku memberi perintah insya Allah Ta’ala.”

Komandan lainnya seperti Mu’adz bin Jabal, Amr bin Ash, Abu Hurairah, dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama untuk menghidupkan semangat jihad dan mendorong pasukan mereka untuk meraih kemenangan atau surga yang dijanjikan Allah.

Ath-Thabari meriwayatkan, dan diikuti oleh Ibnu Al-Atsir, “Saat mereka dalam keadaan demikian, datanglah utusan dari Madinah yang membawa surat. Mereka menyambutnya dan menanyakan kabar. Ia hanya memberitahu mereka hal-hal yang baik, dan tentang bala bantuan. Ia juga menyatakan bahwa kedatangannya untuk menyampaikan berita wafatnya Abu Bakar dan pengangkatan Abu Ubaidah sebagai komandan tertinggi. Lalu mereka mengantarkannya kepada Khalid, dan ia memberitahukan kepadanya berita mengenai Abu Bakar, dan juga memberitahunya apa yang telah ia katakana kepada pasukan lain. Khalid berkata kepadanya, “Engkau telah berlaku baik, maka tetaplah demikian. Lalu ia mengambil surat tersebut dan menyimpannya di tempat anak panahnya. Ia khawatir berita itu akan mempengaruhi semangat pasukannya. Dan Mahmiyyah bin Zunaim – yang merupakan utusan yang datang dari Madinah- tetap berada bersama Khalid.”

Di tengah berkecamuknya peperangan, Jarajah (George) –salah seorang komandan Romawi- keluar dari pasukannya dan berseru. “Aku menginginkan Khalid.” Dan Khalid pun keluar menemuinya. Lalu terjadi dialog yang menarik diantara mereka berdua yang menyebabkan masuk Islamnya Jarajah. Dan setelah itu ia pun berdiri di sisi Pedang Allah Khalid dan berperang bersamanya dalam barisannya!

Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi segera melancarkan serangan kepada kaum muslimin. Mereka menganggap itu merupakan sebuah serangan dari komandan mereka. Mereka pun berhasil memukul mundur pasukan kaum muslimin dari posisi mereka kecuali pasukan pelindung yang terdiri dari Ikrimah dan Al-Harits bin Hisyam. Khalid menaiki kudanya dan diikuti oleh Jarajah, sementara itu pasukan Romawi telah berada di sela-sela pasukan kaum muslimin. Maka mereka pun saling memanggil dan kembali kepada barisan masing-masing sehingga pasukan Romawi pun kembali kepada posisi mereka. Khalid memimpin kaum muslimin menyerang Romawi sehingga pedang-pedang pun beradu. Khalid dan Jarajah menyerang sejak naiknya matahari hingga condong dan tenggelam ke Brat. Lalu Jarajah pun gugur sementara ia belum melakukan shalat apapun selain dua rakaat yang ia lakukan setelah keislamannya. Saat itu kaum muslimin hanya melaksanakan sholat Ashar dan Zhuhur dengan isyarat, dan tak lama kemudian pasukan Romawi pun mulai goyah.

Khalid terus menyerang ke jantung pertahanan mereka hingga ia berada di antara pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki dari mereka. Musuh mereka berada pada posisi terbuka namun dengan jalan keluar yang sempit, sehingga ketika pasukan berkuda mereka menemukan sebuah celah, mereka segera pergi dan meninggalkan pasukan pejalan kaki di dalam barisan. Pasukan berkuda tersebut lari menembus panasnya padang pasir. Lalu kaum muslimin menunda shalat hingga kemenangan berhasil diraih.

Ketika kaum muslimin menyaksikan bahwa pasukan berkuda dari Roamwi berusaha melarikan diri, mereka membiarkannya dan tidak berusaha untuk mengejar. Pasukan tersebut melarikan diri dan tercerai berai memasuki negeri mereka. Lau Khalid dan pasukannya menghancurkan pasukan pejalan kaki yang merasa seolah tembok besar yang runtuh di atas kepala mereka, mereka pun masuk ke dalam parit-parit yang mereka gali, dan kaum muslimin terus menekan mereka hingga mereka akhirnya menuju Waqushah. Di sana pasukan Romawi yang telah diikat dengan rantai tersebutmulai jatuh satu persatu. Mereka yang bias bertahan akhirnya ikut terjatuh karena salah seorang rekan yang terikat terjatuh kepadanya. Satu orang yang jatuh berpengaruh kepada sepuluh lainnya, dansetiap kali dua orang terjatuh, maka yang lainnya akan semakin lemah mempertahankan kekuatan mereka. Sampai akhirnya seratus dua puluh ribu dari mereka tewas di Waqushah tersebut. Delapan puluh ribu diantaranya berasal dari mereka yang terikat rantai satu sama lain, dan empat puluh ribu lainnya dari prajurit yang tidak terikat rantai. Itu diluar pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki yang telah tewas di medan tempur. Saat itu satu orang penunggang kuda bias memiliki seribu lima ratus anak panah. Panglima Romawi yaitu Al-Fiqar sanagt terpukul, dan begitu juga dengan tokoh-tokoh Romawi yang ada bersamanya, mereka mengadakan pertemuan dan berkata, “Kita tidak ingin menyaksikan hari yang kelam karena kita belum bias menyaksikan hari kegembiraan, dan karena kita juga tidak mampu membela agama Nasrani.”

Allah Ta’ala memberikan Romawi kekalahan yang menyesakkan, para komandan dan panglima perenag mereka tewas dalam peperangan, dan kekalahan pun sampai di Heraklius yang saat itu berada di kota Himsh.

5. Beberapa catatan tentang perang Yarmuk dengan dua panglima besar, Abu Ubaidah dan Abu Sulaiman
a. Abu Bakar dan penunjukannya Abu Ubaidah sebagai Panglima tertinggi pasukan Syam

Abu Bakar adalah orang yang memahami sifat dan karakter orang lain. Ia dapat melihat kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang, dan mengarahkannya sehingga bias bermanfaat dalam hidupnya. Ia menunjuk beberapa komandan untuk memegang bendera perang guna menaklukan Syam, dan untuk misi yang maha penting tersebut ia mengangkat seorang yang terkenal dengan keberanian dan kecerdasannya serta orang yang paling memahami seluk-beluk perang. Lalu ia mendatangi mereka semuanya san memberikan nasehat serta arahannya.Ia mendatangi Syurahbin dan memintanya untuk selalu bermusyawarah dengan Abu Ubaidah, Mu’adz, dan Khalid bin Sa’id. Ia berkata, “Sesungguhnya engkau akan mendapatkan nasihat dan kebaikan dari mereka, maka jangan sekali-kali engakau menentang pendapat mereka atau mengabaikan sebagian kebaikan dari mereka.”

Ia juga berwasiat kepada Yazid bin Abi Sufyan untuk memperhatikan dan mengambil pencerahan dari Abu Ubaidah dan Mu’adz, ia berkata, “Janganlah engkau memutuskan perkara tanpa mereka, sesungguhnya mereka tidak akan menghalangi dari kebaikan.”

Dengan itu As-Shiddiq ingin memperlihatkan kedudukan dan keutamaan yang dimiliki oleh segolongan shahabat yang mempunyai keutamaan dan kedahuluan dalam berislam. Ia menginginkan para komandan tersebut saling membantu dan saling menyokong demi menggapai kebaikan dan keberhasilan pasukan yang mereka pimpin serta untuk mencegah terjadinya pemaksaan pendapat pribadi. Ia juga menginginkan tegaknya sebuah menara yang berfungsi sebagai pedoman dan teladan yang baik bagi umat dalam mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulu mereka dengan senantiasa mengedepankan Syura yang bijaksana baik dalam masa damai maupun perang, dan dalam masa susah maupun senang. Karena pemaksaan pendapat dapat menjerumuskan umat kepada kebinasaan dan berarti juga membunuh bakat-bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh umat.

Saat itu Amr bin Ash berharap dapat menjadi komandan tertinggi dalam pasukan yang dikirim ke Syam tersebut. Berbekal dengan apa yang terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  ketika beliau menunjuknya untuk memimpin pasukan yang terdiri dari tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar dalam perang Dzatus Salasil. Karena itu ia menganggap dirinya layak mendapat kehormatan tertinggi memimpin pasukan yang disiapkan untuk menuju Syam itu. Selain kehormatan yang ia dapat pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   tadi, ia juga menambahkan dengan pujian Abu Bakar kepadanya! Maka Abu Bakar kemudian mengajak berbicara dari hati ke hati. Ia akan memberikannya pasukan yang besar, namun tidak mengizinkannya untuk menjadi komandan tertinggi sebagaimana yang diharapkannya. Abu Bakar tidak ingin memilihnya untuk memimpin seorang laki-laki yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri mengatakan tentangnya, “Orang yang paling terpercaya dari umat ini adalah Abu Ubaidah.

Amr berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, apakah aku akan memimpin pasukan?” Ia menjawab, “Iya, engkau akan memimpin merekayang aku kirim dari sini bersamamu.” Ia berkata, “Bukan, maksudku memimpinpasukan kaum muslimin yang akan aku datangi di sana!” Ia menjawab, “Tidak, namun engkau adalah salah satu komandan pasukan, jika perang menyatukan kalian, maka Abu Ubaidah lah pemimpin kalian.” Ia pun diam, dan kembali ke perkemahan. Orang-orang terus bergabung dengannya, dan saat itu bersamanya terdapat banyak tokoh dan pemuka Quraisy.”

Dalam sikap yang tegas ini dari Abu Bakar, seorang pahlawan besar dalam Islam, dan yang menjaga tekad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  untuk mengirim tentara Usamah, dan orang pertama yang menyatakan perang melawan pasukan orang-orang murtad dan kemudian berhasil menghancurkannya. Ia juga merupakan seorang laki-laki penuh berkah yang mampu mengirim pasukan Islam masuk ke negeri-negeri yang dikuasai oleh dua kekuatan besar, Romawi dan Persia. Dengan itu ia telah menorehkan baris pertama dari catatan penaklukan mereka. Dialah seorang laki-laki yang dipuji oleh khalifah setelahnya Umar ketika ia mengatakan, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh dia adalah orang yang lebih mengetahui sifat dan karakter orang-orang daripadaku.”

Kami katakan, Sesungguhnya dengan tidak memilih tokoh-tokoh besar yang terhormat tersebut untuk menjadi panglima tertinggi dan memimpin para komandan lainnya dalam pasukan Syam, dan menyerahkan kepada Abu Ubaidah, merupakan sebuah tanda nyata yang menunjukkan pengetahuan Abu Bakar yang menyeluruh dan mendalam tentang apa yang dianuhgerahkan Allah kepada Abu Ubaidah dari bulir-bulir kecerdasan dan kemampuan kepemimpinan yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih.

b. Tentang tahun terjadinya perang Yarmuk

Riwayat yang kami sebutkan dimuka bahwasannya perang Yarmuk terjadi pada akhir dari masa pemerintahan Abu Bakar, dan ketika perang usai dan kemenangan diraih saat itu Ash-Shiddiq telah wafat dan jabatan kekhalifahan telah dipegang oleh Umar, riwayat ini merupakan riwayat dari Saif bin Umar, dan merupakan salah satu jalan sebagian sejarawan, yang terdepan dari mereka adalah Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari dan diikuti oleh Ibnu Atsir.

Namun terdapat pendapat lain yang merupakan riwayat yang diambil oleh sebagian sejarawan lainnya, diantaranya adalah Abu Ishaq dan Khalifah bin Khayyath, yang dikuatkan oleh Ibnu Asakir bahwasannya perang Yarmuk terjadi pada bulan Rajab tahun 15 Hijriyah, setelah perang Ajnadin, dan Marjush Shuffar, serta pengepungan Damaskus.

Kami sendiri cenderung kepada riwayat yang dipilih oleh penghulu para sejarawan Ath-Thabari, karena demikianlah yang disimpulkan melalui pengamatan yang benar terhadap jalannya peristiwa dan kejadian sejarah.

Ketika Abu Bakar menyerahkan benderah perang kepada para komandan yang ditunjuknya, dan mereka bergerak membawa pasukan menuju Syam, dan orang-orang Romawi mendengar berita tentang kedatangan mereka, Heraklius merasa yakin bahwa mereka mengancam tahtanya dan juga keberlangsungan kerajaannya. Ia mengumpulkan para pembantunya serta anasir ke kerajaan lainnya, lalu bermusyawarah dengan mereka. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menghadapi pasukan kaum muslimin dalam satu pasukan besar dan dalam satu peristiwa yang menentukan. Mustahil Romawi akan membiarkan pasukan muslimin leluasa bergerak di banyak wilayah yang mereka kuasai seperti Syiria, Jordania, dan Palestina, dan kemudian memerangi mereka dalam banyak pertempuran, yang tentunya akan melemahkan kerajaan mereka sedikit demi sedikit. Siasat militer yang benar tentunya mengharuskan mereka untuk menghadapi pasukan kaum muslimin sejak awal kedatangan mereka dalam sebuah perang besar yang menentukan di wilayah mereka yang pertama kali dijejak oleh kaum muslimin, untuk menghalangi mereka memasuki wilayah yang mereka kuasai. Karena itulah mereka mengumpulkan sebuah pasukan besar yang jumlahnya enam kali lebih besar dari pasukan kaum muslimin. Dan ini hanya bias mereka lakukan jika kerajaan mereka masih kuat, sehat, dan berada dalam satu komando. Namun jika Yarmuk terjadi setelah perang Fihil, Marjush Shuffar, dan penaklukan Damaskus, serta peperangan lainnya, di mana wilayah kekuasaan Romawi telah terpotong-potong, dan kaum muslimin telah berhasil menguasai banyak wilayah mereka, tentunya Heraklius takkan mampu menyatukan pasukan Romawi dan mengumpulkan jumlah yang demikian besar, dan memimpin sebuah perang di wilayah yang merupakan pintu gerbang dari kerajaannya bagi pasukan yang datang dari arah Madinah An-Nabawiyah.

Karena itulah setelah kemenangan kaum msulimin di yarmuk, dan keberhasilan mereka mengalahkan pasukan Romawi dengan telak, mereka menghancurkan singgasana Heraklius dan mengumumkan kerajaannya telah musnah berikut dengan dirinya. Kemudian peristiwa-peristiwa lain pun terjadi secara berurutan, dan setelah perang besar tersebut kaum muslimin juga mengalahkan Romawi di Fihil, Damaskus, Himsh, Aleppo, dan yang lainnya. Dan tak diragukan juga terjadi perang-perang besar lainnya dengan Romawi, namun dari segi apapun juga, perang-perang tersebut masih berada di bawah Yarmuk.

Ini membuktikan bahwa jika Yarmuk terjadi setelah peristiwa yang begitu banyak tersebut, maka tidak mungkin Romawi bias mengumpulkan begitu banyak pasukan dan bala bantuan, lalu menyeret kaum muslimin untuk menuju medan perang di Yarmuk.

Ini dikuatkan oleh wasiat Abu Bakar kepada Umar, ketika ia mengatakan kepadanya setelah memberikan estafet khalifah kepadanya, “Jika Allah memberikan kemenangan kepada para komandan dari pasukan yang ada di Syam, maka kembalikanlah pasukan Khalid ke Irak, sesungguhnya mereka adalah penduduknya dan yang berhak memimpinnya, dan mereka adalah pasukan yang gigih dan pemberani.” Disini Al-Imam Ath-Thabari menyebutkan bahwasanya Umar bin Khaththab berkata, “Abu Bakar telah mengetahui bahwa aku tidak menyetujui kepemimpinan Khalid dalam perang Irak ketika ia menyuruhku untuk memulangkan pasukannya dan ia sama sekali tidak menyebutnya.”

Dan Umar Radiyallahu Anhu juga berkata, “Demi Allah, jika Allah menyerahkan urusan ini kepadaku, niscaya aku akan mencopot Al-Mutsanna bin Haritsah dari Irak, dan Khalid bin Walid dari Syam, agar mereka tahu bahwa Allah lah yang memberikan kemenangan, dan bukan mereka!” dan ketika Umar menjabat sebagai Khalifah, ia segera mencopot Khalid dan berkata, “Aku tidak akan jujur kepada Allah jika aku mengusulkan sesuatu kepada Abu Bakar dan kemudian aku sendiri tidak melaksanakannya.” Ini sesuai dengan alur kisah yang telah kami tuturkan. Umar tidak mungkin menunda pelaksanaan idenya tersebut, atau menunggu berbulan-bulan atau lebih sebulan kemudian mencopot Khalid Radiyallahu Anhu, sebagaimana yang disebutkan oleh riwayat-riwayat lain yang menyatakan bahwa perang Yarmuk terjadi pada tahun 15 Hijriyah.

c. Keengganan Khalid untuk menjadi panglima tertinggi Yarmuk

Ini merupakan warna lain dari bentuk kecerdasan dan kejujuran, serta sebuah isyarat tentang keikhlasan yang teguh pada diri komandan lainnya yang terhormat. Khalid Radiyallahu Anhu memiliki latar belakang yang kuat dalam memimpin pasukan, serta kecerdasan yang luar biasa dalam membawa pasukannya menuju kemenangan dan menghindarkannya dari kekalahan. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan kesaksiannya ketika menyambutnya sebagai “Pedang Allah”, dan beliau tidak pernah mengabaikannya dan memilih orang lain dalam menghadapi perkara yang menimpanya. Maka pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sejak ia menyatakan keislamannya, Khalid senantiasa berada pada garda terdepan dalam pasukan Islam. Ia tidak pernah lepas dari kepemimpinan dan selalu mengepalai pasukan hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpulang kepada Allah dan saat itu beliau ridha kepadanya.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalid merupakan tangan kanannya dalam perang menumpas orang-orang murtad. Ia berhasil menghancurkannya dan menghamparkan kekuasaan Islam di seluruh penjuru jazirah arab setelah sebelumnya berhasil meruntuhkan pasukan Musailamah, Thulaihah, Sajah, dan Ammir Ziml. Setelah itu ia mengarahkannya ke Persia dan ia pun segera menyerang pasukan mereka, dan berhasil menimpakkan kekalahan yang terburuk bagi mereka, dan demikian ia pun berhasil menamcapkan bendera Islam di Irak. Di setiap peperangan yang diikutinya, tak pernah sekalipun bendera perang jatuh darinya, dan tak sekalipun pasukan tercerai berai, atau menderita kekalahan. Ia adalah seorang panglima yang diberkahi, dengan jiwa yang tercerahkan, dimana tidak ada peperangan maupun penaklukan lain yang mampu menghasilkan sosok sepertinya.

Abu Bakar sendiri ketika mengetahui banyaknya pasukan Romawi yang terkumpul untuk menghadapi kaum muslimin, ia menyadari bahwa orang yang paling tepat untuk menghadapi itu adalah (Orang yang tak pernah tidur dan tidak pernah membiarkan siapapun tidur!), dan merupakan kewajiban seorang pemimpin muslim untuk memilih orang yang paling pantas, dan paling kuat, serta paling berpengalaman dalam memimpin perang. Ini merupakan sebuah kewajiban atasnya untuk Islam dan kaum muslimin. Berbagai peristiwa yang terjadi kemudian, serta jalannya pertempuran membuktikan kebenaran firasat seorang Ash-Shiddiq dan ketepatannya dalam menilai seseorang, serta pengalamannya dalam mengetahui orang-orang jenius, karena Allah mewujudkan semua harapan yang disandarkan Abu Bakar kepada pedang Allah Khalid.

Abu Bakar menulis surat kepada Abu Ubaidah untuk memberitahunya tentang pengangkatan Khalid sebagai panglima tertinggi dengan alasan bahwa ia lebih berpengalaman dalam perang. Dan itu sama sekali tidak untuk merendahkan kedudukan Abu Ubaidah di sisi Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata dalam suratnya, “Amma ba’du, sesungguhnya aku telah mengangkat Khalid untuk menghadapi musuh di Syam, maka janganlah engkau menentangnya. Dengarlah ia dan jalankanlah perintahnya. Aku tidak mengirimnya untuk memimpinmu sehingga kedudukanmu di sisiku tidak lebih baik darinya, namun aku merasa bahwa ia memiliki pengalaman dalam perang yang tidak kau miliki. Semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kita semua, dan bagi dirimu.”

d. Bersama dua panglima besar Abu Ubaidah dan Khalid dan ketinggian akhlak mereka saat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin bagi yang lainnya

Disini sudah sepantasnya bagi kita untuk berhenti sejenak dan menunjukkan kekaguman yang besar terhadap ketinggian budi yang ditunjukkan kedua panglima ini dan sikap yang ditunjukkan masing-masing dari mereka kepada yang lainnya. Ketika Khalid mengetahui bahwa ia diangkat sebagai panglima tertinggi memimpin para komandan yang ada dalam pasukan Syam, di mana terdapat Abu Ubaidah yang merupakan salah seorang tokoh besar shahabat yang lebih dahulu masuk Islam dan orang yang paling terpercaya dari umat ini, serta komandan yang ditunjuk oleh Rasulullah dalam banyak kesempatan, dan mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi khalifah dan bahkan di sisi kaum muslimin secara umum; ia merasa bahwa tidak sepantasnya bagi seseorang yang memiliki akhlak yang mulia untuk mengejutkannya dengan berita tersebut. Maka Khalid pun menulis surat dan memberitahunya dengan sebaik-baiknya. Khalid menyampaikan bahwa ia tetap berada pada kedudukannya yang tinggi dan terhormat, dan dari segi itu ia tetap merupakan pemimpin bagi kaum muslimin, dan ia takkan memutuskan apapun tanpa meminta pendapatnya.

Bahkan Khalid juga memilih cara yang lebih baik dari itu. Ia menggunakan metode yang memungkinkannya memegang pengawasan penuh terhadap perang dengan keridhaan kaum muslimin sehingga mereka bersedia maju bersamanya dengan tekad yang bergelora. Ia meminta mereka untuk ikhlas dan berjihad di bawah satu bendera dan agar para komandan bersikap lebih fleksibel sehingga mereka bias menghadapi pasukan Romawi dalam satu barisan. Ia tidak memaksakan dirinya menjadi pemimpin bagi seluruh pasukan, namun dengan cerdik dan penuh kebijaksanaan ia berkata kepada mereka, “Maka marilah kita saling mengangkat komandan tertinggi. Hendaklah sebagian dari kita memimpin hari ini, dan besuk diambil alih oleh yang lain, dan yang lainnya akan mengambil alih kepemimpinan pada hari berikutnya, hingga seluruh komandan akan mendapat giliran. Dan izinkanlah aku untuk mengambil alih kepemimpinan hari ini.”

Dan dengan ketinggian adab seperti ini juga lah Abu Ubaidah memperlakukan Khalid ketika roda zaman telah menyempurnakan putarannya dan datangnya surat Umar yang mencopot Khalid dari kedudukannya sehingga ia berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah .

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa surat pencopotan tersebut diterima Abu Ubaidah dan sengaja disembunyikan hingga berakhirnya perang melawan pasukan Romawi. Ia tidak ingin mengejutkan Khalid saat ia sedang berkonsentrasi memimpin perang. Dan ketika kemudian ia mengabarkannya, Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apa yang menghalangimu untuk memberitahuku saat surat itu tiba?” Abu Ubaidah Al-Amin menjawab, “Aku tidak ingin memecah konsentrasimu dalam perang. Bukanlah kekuasaan dunia yang aku inginkan, dan bukan untuk dunia aku bekerja. Apa yang kau lihat akan menuju kefanaan dan kebinasaan, kita berdua adalah bersaudara, dan tidak ada yang membahayakan seseorang jika ia memilih saudaranya untuk memimpinnya dalam agamanya dan dunianya.”

Dengan warna dari akhlak yang mulia serta adab yang tinggi dan keikhlasan yang sempurna inilah para shahabat dibina oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di lingkungan madrasah kenabian. Dan itulah yang menjadi salah satu pondasi utama dari kebangkitan kaum muslimin dan terangkatnya derajat mereka serta tegaknya negara mereka dan menyebarnya kekuasaan yang mereka miliki. Dan itu akan tetap bertahan selama mereka tetap menjaga diri dan tidak peduli dengan keuntungan pribadi maupun persaingan dalam menggapai kekuasaan dunia.

Sebagaimana pedang Allah Khalid menyadari kedudukan saudaranya Abu Ubaidah dan kehormatan serta keutamaannya dalam Islam, begitu pula Abu Ubaidah merupakan orang yang paling memahami hak yang dimiliki Khalid. Ia juga merupakan orang yang paling menghargai kecerdasannya, keutamaannya, dan juga keberaniannya; maka ia menyembunyikan surat pencopotan tersebut dari Khalid demi menjaga perasaannya hingga ia tidak terganggu oleh hal-hal yang dapat merisaukannya ataupun member efek yang tidak baik pada dirinya. Namun ketika Khalid mengetahui hal itu, ia pun menyalahkannya! Sikap yang diambil Abu Ubaidah dalam menghadapi Khalid ini, dimana ia tetap bermusyawarah dengannya dan mendahulukannya dalam berbagai peristiwa pada saat dimana seharusnya ia yang mengambil alih pimpinan tertinggi, merupakan bukti yang paling jelas tentang kebersihan jiwa Khalid yang menjadikannya mampu membuat berbagai mukjizat dalam kecerdasan dan keberaniannya. Disamping itu juga, menunjukkan kehebatannya dalam berfikir dan merancang siasat perang sebagai seorang panglima tertinggi. Dan kontribusinya dalam penaklukan Damaskus, Guensrin, Dan Fihil, merupakan bukti shahih akan kebesaran jiwanya yang ditunjukkannya ketika ia menerima berita pencopotan dirinya!

Perasaan cinta yang demikian tulus yang dibangun di atas pondasi saling menghormati, saling menghargai, dan saling percaya yang ditunjukkan oleh kedua panglima besar ini masih terus berlanjut selama masa jihad yang mereka lalui. Hubungan mereka tak pernah dikotori oleh perasaan egois yang sering muncul di antara dua orang yang saling bersaing dalam menggapai kepemimpinan dan kekuasaan. Bahkan hari-hari dan berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama semakin membuktikan kebenaran dan keindahan hubungan mereka.

e. Bersama dua panglima besar dan keikhlasan mereka yang tinggi dalam berjihad ketika salah satu dari mereka menjadi pemimpin atau dipimpin

Ketinggian akhlak yang diperlihatkan oleh kedua tokoh ini ketika masing-masing menerima kepemimpinan saudaranya atas dirinya, dan juga ketika menerima penunjukan dirinya sebagai panglima tertinggi, tidak sedikitpun menyisakan ganjalan di hati atau sesuatu dalam diri mereka. Namun keputusan tersebut mereka terima dengan cara terbaik yang ditunjukkan dalam medan jihad dan kiprah mereka dalam barisan kaum muslimin dalam menghadapi musuh.

Inilah surat Khalid kepada Abu Ubaidah mengabarkannya bahwa Abu Bakar telah mengangkatnya untuk memimpin pasukan Syam. Abu Ubaidah membacanya, dan seketika dadanya menjadi lapang, lalu ia berkata, “Semoga Allah member keberkahan untuk khalifah Rasulullah atas keputusannya, dan semoga Allah memberkahi Khalid.

Kemarin ia adalah panglima tertinggi yang membawahi seluruh komandan yang ada. Dan saat ini ia turun menjadi salah satu komandan di bawah kepemimpinan Khalid. Namun itu sama sekali tidak mengubah apapun dalam dirinya, dan tidak merendahkan kedudukannya, juga sama sekali tidak melemahkan tekad yang dimilikinya. Ia tidak lantas mundur dan semangatnya mengendur, ia justru turun ke medan tempur sebagai seorang komandan yang memimpin satu pasukan di jantung pertahanan kaum muslimin. Dan ia juga berdiri di hadapan barisan pasukannya untuk menggelorakan semangat jihad mereka.

Sementara Khalid menerima berita pencopotan dirinya dari posisi sebagai panglima tertinggi dengan kerelaan yang luar biasa. Ia menyerahkan segala urusan kepada panglima baru dengan sebaik-baiknya. Ia turun sebagai komandan di bawah pimpinan panglima yang baru dengan memimpin sebuah pasukan untuk beberapa waktu, dan kembali menjadi prajurit sebagaimana prajurit-prajurit lainnya. Ia berjuang dibawah kepemimpinan Abu Ubaidah selama kurang lebih empat tahun, dan tidak pernah tercatat sekalipun ia menantangnya. Abu Ubaidah sendiri diketahui begitu menghormati Khalid. Ia selalu bermusyawarah dengannya dan sering mengambil pendapat dan pandangannya. Ia juga kerap mengutusnya sebagai salah satu ujung tombaknya dalam menghadapi misi-misi sulit dan pertempuran-pertempuran yang besar.

Sejarah tak pernah meragukan bahwa Khalid pada saat terjadinya pencopoton dirinya telah mencapai puncak kebesarannya dimana tidak ada lagi tempat diatasnya untuk seorang penakluk jenius sepertinya. Kedudukan yang dicapainya di hati komandan pasukan yang dipimpinnya, dan di hati seluruh pasukannya, serta kedudukannya di hati kaum muslimin secara umum, membuat amirul mukminin Umar mengumumkan di hadapan kaum muslimin bahwa ia takut mereka akan ditimpa fitnah karenanya! Seorang laki-laki seperti Khalid akan dengan mudah menggerakkan kepalanya untuk menyulut sebuah revolusi maupun pemberontakkan yang akan membakar seluruh penjuru yang telah di taklukkan Islam! Namun ia adalah seorang panglima yang hatinya telah dipenuhi keimanan dan menyatu ke dalam darah dan dagingnya. Jiwanya telah tercerahkan oleh sinar kenabian. Berbagai kemenangan yang telah dicapainya tidak menjadikannya angkuh dan membanggakan dirinya sendiri, atau membuatnya tergoda untuk memecah belah barisan umat, ataupun menjadi faktor penyebab terhentinya berbagai penaklukan yang terus menyebar di seluruh penjuru buni. Semua godaan tersebut terlalu kerdil jika dibandingkan dengan kebesaran jiwa Khalid dan cahaya keimanan yang dimilikinya. Ia tetap mengikhlaskan dirinya untuk Islam, apapun kedudukannya dalam pasukan, dan siapapun pemimpinnya di dalam medan tempur.

6. Abu Ubaidah meneruskan penaklukannya di negeri Syam

Umar menerima tugas kekhalifahan dengan tekad untuk meneruskan penaklukan kea rah Syam dan Irak, serta menggedor kerajaan Persia dan Romawi untuk menyebarkan risalah Islam kepada kulit merah dan hitam. Ia mengangkat Al-Amin Abu Ubaidah untuk memimpin pasukan ke Syam, dan menugaskan banyak singa perang dan macan jihad serta tokoh-tokoh penakluk yang cerdas untuk tetap mendampinginya dan membantunya dengan ide-ide serta pengalaman mereka. Dan yang terdepan tentunya seorang tokoh yang jenius dalam taktik perang dan merupakan pedang Allah dan pahlawan Islam yaitu Khalid bin Walid.

Dari Shalih bin Kaisan berkata, “Surat pertama yang ditulis Umar setelah ia diangkat menjadi khalifah adalah suratnya kepada Abu Ubaidah yang mengangkatnya sebagai pemimpin atas pasukan Khalid, “Aku berwasiat kepadamu untuk bertakwa kepada Allah yang kekal dan selain-Nya akan musnah, yang telah member kita hidayah dari kesesatan, dan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Aku telah mengangkatmu atas pasukan Khalid, maka lakukanlah tugasmu atas mereka sebagaimana hak yang ada padamu. Janganlah engkau dorong kaum muslimin kepada kehancuran demi mengharapkan harta rampasan perang, dan janganlah engkau bawa mereka kepada suatu tempat sebelum engkau memeriksanya sehingga engkau mengetahui tempat kedatangan kalian. Dan janganlah engkau mengirim ekspedisi militer kecuali dengan jumlah yang banyak. Dan jangan sekali-kali mendorong mereka kepada kehancuran. Allah telah mengujimu denganku dan Ia mengujiku denganmu. Tutuplah matamu dari dunia, dan hilangkanlah hatimu darinya. Jangan sampai engaku dibinasakan oleh apa yang telah membinasakan orang-orang sebelummu, sungguh engkau telah menyaksikan apa yang menimpa mereka.”

Lalu Umar memerintahkan mereka untuk bergerak menuju Damaskus.

7. Penaklukan Damaskus

Ketika Abu Ubaidah berangkat dari Yarmuk dan membawa pasukannya beristirahat di Marjush Shuffar (daerah luas yang terletak 37 Km diselatan Damaskus), sementara ia telah bertekad untuk mengepung Damaskus, tiba-tiba ia mendapat berita tentang kedatangan bala bantuan Romawi dari kota Himsh, dan ia juga mendapat berita tentang berkumpulnya sejumlah besar pasukan Romawi di kota Fihil (Fihil terletak memanjang kea rah timur dari sungai Yordania. Fihil berbatasan dengan suangai Zarqa diarah selatan dan dengan sungai Yarmuk di arah utara. Pada saat sekarang hanya tinggal puing-puing belaka) yang berada di Pelestina. Ia tidak tahu harus mendahulukan yang mana, maka ia segera menulis surat kepada amirul mukminin Umar tentang itu. Jawaban dari Umar segera tiba, yang isinya:

“Mulailah dari Damaskus karena ia merupakan benteng Syam dan pusat kerajaan mereka, maka berjuanglah dari sana. Alihkanlah perhatian pasukan mereka yang di Fihil dengan mengirim pasukan berkuda menghadapi mereka. Jika Allah memenangkan mereka sebelum Damaskus maka itulah yang kita harapkan. Dan jika Damaskus lebih dahulu ditaklukan maka berangkatlah engkau dengan pasukan yang bersamamu ke sana, dan tunjuklah seseorang untuk memimpin Damaskus. Dan jika kemudian Allah membukakan Fihil bagi kalian, maka berangkatlah engkau Khalid menuju Himsh dan tinggalkan Amr dan Syurahbil untuk Jordania dan Palestina.”

Maka Abu Ubaidah mengirim pasukan ke kota Fihil untuk mengalihkan perhatian mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Umar, lau ia juga mengirim pasukan untuk berjaga diantara Damaskus dan Palestina, dan ia juga mengirim Dzul Kala’ Al-Himyari dengan pasukan untuk menjaga diantara Damaskus dan Himsh, guna mencegah datangnya bantuan dari pihak Heraklius.

Kemudian Abu Ubaidah berangkat dari Marjush Shuffar menuju Damaskus. Ia menunjuk Khalid bin Walid di jantung pertahanan, sementara Abu Ubaidah dan Amr bin Ash memimpin kedua sayap. Iyadh binGhanim memimpin pasukan berkuda, dan Syurahbil bin Hasanah memimpin pasukan pejalan kaki. Mereka pun sampai di Damaskus yang dipimpin oleh Nisthas. Khalid bersama pasukannya turun digerbang Timur dan juga mengusai gerbang Kisan. Abu Ubaidah turun di gerbang Al-Jabiyah besar, sementara Yazid bin Abi Sufyan turun digerbang Al-Jabiyah kecil. Lalu Amr binAsh dan Syurahbil bin Hasanah menguasai gerbang-gerbang kota lainnya. Mereka pun menghujani kota dengan meriam. Abu Ubaidah juga telah menugaskan Abu Darda’ bersama sebuah pasukan untuk berjaga di Barzah yang bertugas menjaga jalan, begitu juga yang menghubiungkan antara Himsh dan Damaskus. Mereka mengepung kota Damaskus dengan sangat ketat selama tujuh puluh malam. Penduduk Damaskus bertahan mati-matian menghadapi mereka, dan mengirim utusan ke raja mereka Heraklius yang bermukim di Himsh untuk meminta bantuan. Namun bantuan tersebut tidak musngkin bias melewati Dzul Kala’ yang berjaga di jalan antara Himsh dan Damaskus dengan pasukannya dengan perintah langsung dari Abu Ubaidah. Ketika penduduk Damaskus merasa yakin bahwa bala bantuan takkan pernah datang, mereka menjadi semakin putus asa, lemah serta kebingungan. Sementara kaum muslimin menjadi semakin kuat dan menambah ketatnya pengepunngan.

Musim dingin pun datang, serangan dingin yang menyengat semakin memperburuk keadaan dan perang semakin sulit. Pada malam-malam musim dingin tersebut Allah mentakdirkan kelahiran bayi dari komandan Romawi di Damaskus. Maka ia pun mengadakan jamuan makan dan minum, setelah makan, minum, dan keletihan, mereka bermalam di rumah sang komandan pada malam itu. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh komandan perang Khalid (yang tak pernah tidur dan tak membiarkan seseorang tidur), ia terus menerus memonitor keadaan mereka siang dan malam, dan ia juga mempunyai banyak mata-mata yang melaporkan langsung kegiatan musuh tiap pagi dan petang. Maka ketika ia melihat peluang pada malam itu, dan tidak ada seorang pun yang menjaga benteng, ia menggunakan tali berbentuk tangga dan tali bersimpul laso yang telah disiapkan sebelumnya. Maka bersama shahabat-shahabatnya yang terdiri dari pejuang-pejuang tangguh seperti Qa’qa’ bin Amru dan Madz’ur bin Adi, ia bergerak untuk memanjat benteng kota. Sebelumnya ia berkata kepada pasukannya yang telah ia kumpulkan di depan gerbang, “Jika kalian mendengar takbir kami, maka naiklah mengikuti kami.” Setelah itu ia bangkit dan bersama para shahabatnya ia menyebrangi parit dengan berenang dengan cara menggantungkan wadah di tabung mereka. Kemudian mereka melemparkan tali-tali tersebut dengan mengikatkan atasnya kepada bagian beranda benteng dan memastikan bagian bawahnya berada di luar parit. Lalu mereka pun mulai memanjatnya. Setelah mereka sampai di atas, mereka memekikkan takbir yang kemudian diikuti dengan serbuan pasukan muslimin yang ikut menaiki tangga-tangga tersebut. Bersama para shahabatnya yang pemberani, Khalid menyerbu para penjaga gerbang dan berhasil membunuh mereka. Khalid dan para shahabatnya memotong penutup gerbang dengan pedang mereka, dan berhasil membuka pintu gerbang. Segera setelah pasukan Khalid menyerbu masuk melalui gerbang timur.

Penduduk kota yang mendengar takbir kaum muslimin segera menjadi panic dan kebingungan. Mereka pun menawarkan perdamaian kepada kaum muslimin. Namun Khalid dan pasukannya telah berhasil menaklukkan sebagian kota dengan kekerasan, sementara Abu Ubaidah dan yang lainnya memasukinya dengan damai. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan separuh Damaskus sebagai zona damai, dan separuh lainnya sebagai zona perang.

8. Perang Fihil dan penaklukannya

Setelah penaklukan Damaskus, Abu Ubaidah menugaskan Yazid bin Abi Sufyan untuk tetap berada di sana, dan ia sendiri berangkat menuju Fihil. Dan ia menugaskan Syurahbil bin Hasanah untuk memimpin orang-orang yang berada di Al-Ghaur. Abu Ubaidah pun berangkat. Bagian depan dipimpin Khalid bin Walid, Abu Ubaidah memimpin sayap kanan, Amru bin Ash di sayap kiri, Dhirar bin Al-Azwar memimpin pasukan berkuda, dan pasukan pejalan kaki dipimpin oleh Iyadh bin Ghanim. Mereka tiba di Fihil –yang merupakan salah satu desa di Al-Ghaur- dan mereka mendapati pasukan Romawi telah sampai kea rah Baisan (wilayah yang ada di Palestina dan terletak disebelah selatan danau Tiberia dengan jarak 6 Km dari pinggir sungai Yordania) dan mereka berhasil memancarkan air dari bendungan Baisan sehingga mengaliri tanah-tanah yang ada di sana dan membanjirinya sehingga tanah tersebut dipenuhi lumpur. Air dan lumpur itulah yang menjadi penghalang antara pasukan kaum muslimin dan pasukan Romawi. Kaum muslimin mengirim surat kepada Umar untuk mengabarkannya tentang taktik dan perlawanan musuh mereka, juga siasat yang digunakan oleh pasukan Romawi saat itu. Hanya saja pasukan muslim berada dalam posisi yang nyaman, dengan perlengkapan dan persediaan yang banyak, dan mereka sendiri telah siap untuk menghadapi pertempuran.

Pasukan Romawi mengira bahwa kaum muslimin berada pada posisi lengah. Maka suatu malam mereka mengadakan serangan mendadak dengan dikepalai oleh Saqallar bin Mikhraq. Mereka menyerang kaum muslimin dan disambut dengan sebuah serang yang serentak oleh pasukan kaum muslimin yang selalu berada dalam posisi siap siaga. Mereka menyambut serangan pasukan Romawi hingga pagi dan dilanjutkan satu hari penuh hingga malam. Saat malam tiba, pasukan Romawi melarikan diri dan komandan mereka (Saqallar) berhasil dibunuh. Pasukan kaum muslimin terus menyerang mereka hingga mereka terdesak ke sungai berlumpur yang mereka ciptakan sendiri. Di sana Allah menenggelamkan mereka dan kaum muslimin berhasil membunuh hamper delapan puluh ribu orang dengan tombak mereka. Tidak ada yang selamat kecuali mereka yang cacat, dan kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak.

Kemudian Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid beserta seluruh pasukan mereka terus bergerak menuju Himsh sebagaimana yang diperintahkan Amirul mukminin Umar. Abu Ubaidah menunjuk Syurahbil bin Hasanah untuk Yordania, dan Syurahbil pun bersama Amr bin Ash bergerak menuju Baisan dan mengepungnya. Penduduk Baisan menyambut kedatangan mereka dan bertempur sehingga banyak di antara mereka yang terbunuh. Pada akhirnya mereka menawarkan perdamaian sebagaimana yang dicapai di Damaskus.

9. Penaklukan Himsh, Hamat, Aleppo, dan kota-kota lainnya

Abu Ubaidah berangkat bersama Khalid bin Walid dengan pasukan kaum muslimin dari Fihil menuju Himsh. Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan pasukan Romawi, dimana Heraklius mengirim seorang komandan yang bernama Tudzara dengan membawa pasukan. Mereka turun di padang rumput Damaskus dan bagian baratnya. Saat itu musim dingin telah datang. Maka Abu Ubaidah memutuskan untuk menghadapi pasukan tersebut. Namun kemudian datang seorang komandan lain dari Romawi yang bernama Syanes dengan pasukan besar dan Abu Ubaidah pun menghadapinya sehingga ia harus melupakan Tudzara. Tudzara sendiri bergerak ke Damaskus untuk merebuntnya dari Yazid bin Sufyan. Melihat ini, Khalid segera mengikuti pasukan Tudzara ke Damaskus. Yazid bin Sufyan menghadapi pasukan tersebut dan terjadilah pertempuran di anatara mereka. Saat perang berlangsung, Khalid tiba dengan pasukannya dan segera memukul mereka dari bagian belakang, sementara Yazid menbabat mereka dari depan hingga berhasil menghancurkan mereka dan tidak ada yang selamat kecuali mereka yang menderita cacat. Khalid berhasil membenuh Tudzara dan mereka mendapat harta rampasan yang besar dan membaginya. Setelah semua selesai, Yazid kembali ke Damaskus, sementara Khalid kembali bergabung dengan Abu Ubaidah. Ia mendapatinya tengah menghadapi pasukan Syanes di padang rumput Romawi. Maka ia pun memeranginya dalam sebuah pertempuran yang dahsyat dan Abu Ubaidah berhasil membunuh Syanes. Padang tersebut dipenuhi oleh korban tewas dari pasukan Romawi hingga tanah menjadi busuk oleh mayat-mayat mereka. Banyak di antara mereka yang melarikan diri, dan kaum muslimin terus mengejar hingga kota Himsh.

Abu Ubaidah meneruskan perjalanannya menuju Himsh, dan ia memilih jalan melewati Ba’labak dimana penduduknya meminta perlindungan. Ia pun member mereka perlindungan dan membuat perjanjian damai. Kemudian ia meneruskan perjalanannya hingga sampai di Himsh bersama Khalid. Mereka segera mengepungnya dengan sangat ketat, dan itu terjadi pada saat musim dingin begitu menusuk. Para penduduk kota tetap bertahan dan berharap kaum muslimin akan terusisr oleh kejamnya musim dingin. Namun kaum muslimin memilih untuk sabar dengan kesabaran yang luar biasa dan semakin memperketat pengepungan mereka. Hingga kemudian penduduk kota terpaksa menyerah dan mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk Damaskus, menyerahkan setengah wilayah mereka dan membayar pajak atas tanah mereka, serta membayar jizyah (upeti) atas setiap kepala sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Kemudian Abu Ubaidah mengirim seperlima dari harta rampasan perang sekaligus berita kemenangan mereka kepada Umar melalui Abdullah bin Mas’ud. Abu Ubaidah menetapkan pasukan besar di Himsh bersama dengan beberapa komandan termasuk diantaranya Bilal dan Miqdad. Abu Ubaidah juga memberitahu Umar bahwasannya Heraklius telah menyeberang menuju Jazirah, dan terkadang ia terlihat, lalu ia kemabali menghilang. Maka Umar memerintahkannya untuk bermukim di negerinya.

Setelah penaklukan kota Himsh, Abu Ubaidah mengirim Khalid bin Walid menuju Guensrin (daerah yang terletak 25 Km di selatan kota Aleppo). Ketika tiba di Hadhir, ia diserang oleh pasukan Romawi yang dipimpin oleh Minas, dan ia adalah salah seorang panglima Romawi yang terbesar setelah Heraklius. Mereka bertempur di Hadhir, dan Minas beserta pasukannya berhasil dihancurkan dengan telak.

Khalid meneruskan perjalanannya hingga tiba di Guensrin. Melihat kedatangan Khalid, penduduknya memilih untuk mempertahankan diri. Maka Khalid berkata kepada mereka, “Sesungguhnya jika kalian berada di awan sekalipun, niscaya Allah akan membawa kami kepada kalian, atau menurunkan kalian kepada kami!” dan ia terus menekan mereka hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan bagi mereka.

Abu Ubaidah memberitahukan kemenangan ini kepada Umar, dan ia juga menceritakan apa yang dilakukan oleh Khalid dan kata-kata yang ia ucapkan kepada penduduk Guensrin. Maka Umar mengungkapkan perkataannya yang diingat sepanjang masa, “Sungguh Khalid telah mengangkat dirinya sendiri, semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh dia adalah orang yang lebih mengetahui sifat dan karakter orang-orang dari padaku.”

Khalid berhasil menorehkan sebuah catatan baru dalam catatan sejarahnya yang gemilang. Dan ia mendapatkan pengakuan langsung dan pujian dari Amirul mukminin yang mengembalikan kebenaran kepada tempat yang selayaknya dalam lembaran sejarah, dan sekaligus mementahkan riwayat-riwayat palsu yang mengotori sejarah Islam.

Kemudian Abu Ubaidah terus bergerak menuju Hamat dan disambut dengan damai oleh penduduknya. Maka ia membuat perjanjian damai dengan mereka dengan syarat jizyah dan membayar pajak atas tanah mereka. Lalu ia terus menuju Syaizar, ia pun disambut oleh penduduknya yang meminta penjanjian damai yang sama dengan yang di dapatkan oleh penduduk Hamat. Dan ia melanjutkan perjalanan menuju Ma’arrah An-Nu’man, dan penduduknya pun meminta perjanjian damai yang sama dengan penduduk Himsh.

Ketika Abu Ubaidah selesai dari Guensrin, ia segera bergerak menuju Aleppo, dan mendapat berita bahwa penduduk Guensrin membatalkan perjanjian damai dan berkhianat. Maka ia mengutus As-Simth bin Amru Al-Kindi dan kembali menaklukkannya.

Ketika sampai di Hadhir Aleppo, ia mengikat perjanjian damai dengan beberapa kabilah arab yang bersedia membayar jizyah, dan tak lama kemudian mereka pun masuk Islam. Ketika sampai di Aleppo, penduduknya memilih untuk bertahan, namun tak lama kemudian mereka pun mengajukan perdamaian dan meminta perlindungan keselamatan untuk diri mereka dan anak-anak mereka, juga untuk kota, gereja, dan benteng mereka. Dan mereka memperoleh apa yang mereka minta.

Setelah itu Abu Ubaidah bergerak menuju Antiokhia. Di sana terdapat banyak pasukan yang berlindung termasuk yang berasal dari Guensrin dan kota lainnya. Maka Abu Ubaidah mengepung kota tersebut dari segala penjuru hingga mereka terpaksa mengajukan damai dengan pilihan mengkosongkan kota atau membayar jizyah. Sebagian ada yang memilih meninggalkan kota, dan sebgian lainnya memilih bertahan dan mendapat jaminan keamanan.

Lalu Abu Ubaidah menerima berita bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di sebuah tempat diantara Ma’arrah Mashrin dengan Aleppo. Maka ia pun datang dan memerangi mereka. Ia berhasil menaklukkan Ma’arrah Mashrin dengan perjanjian yang sama dengan perjanjian Aleppo.

Pasukan berkudanya terus bergerak hingga sampai di Buqa, dan berhasil menaklukkan desa-desa Al-Jumah, Sarmin, Martahwan, Tizin, dan menaklukkan seluruh wilayah Guensrin dan Antiokhia.

Kemudian Abu Ubaidah terus menuju Qurus, dan membuat perjanjian damai seperti yang ia buat di Antiokhia. Lalu ia mengirim pasukan berkudanya sehingga berhasil menguasai seluruh wilayah Qurus dan menaklukkan Tal Azza. Kemudian ia juga menaklukkan Manbij, Duluk, dan Ra’ban dengan jalan damai. Ia memberikan syarat kepada penduduknya untuk memberitahu kaum muslimin berita tentang Romawi. Sat masih berada di Manbij, ia mengutus Khalid ke Mar’asy yang berhasil menaklukkannya dengan mengusir penduduknya, sebagaimana ia juga menaklukkan benteng Al-Hadats.

Abu Ubaidah meneruskan penaklukannya hingga tiba di Arajin. Ia memerintahkan pasukan depannya untuk terus menuju Balis, dan mengirim Habib bin Maslamah menuju Qashirin (Semua nama kota, desa dan benteng yang telah disebutkan di atas berada di Syria bagian utara dan barat laut). Ia berhasil mengusir sebagian besar penduduknya. Abu Ubaidah memilih untuk bermukim di Balis sebagai pasukan pelindung, dan menugaskan sekelompok pasukan untuk tetap berada di Qashirin, hingga ia mencapai sungai Eufrat.

Dengan demikian Abu Ubaidah telah menyelesaikan penaklukakkan tanah Syam, dan pada setiap wilayah yang ditaklukkan ia menunjuk seorang gubernur, dan menugaskan sekelompok lainnya yang mempunyai keahlian di bidang administrasi untuk membantu para gubernur tersebut dalam mengurus wilayahnya tersebut. Kemudian ia sendiri kembali ke Palestina.

Sebelum menuju Baitul Maqdis ia menugaskan Ubadah bin Ash-Shamit untuk memimpin Himsh, maka Ubadah mendatangi Al-Ladziqiyyah dan berhasil menaklukannya. Ia juga menaklukkan kota-kota dan desa-desa yang terletak di pesisir Syria seperti Jabalah, Tharthus, dan yang lainnya.

Korespodensi anatar para komandan pasukan terus berlangsung. Mereka saling bertukar pengalaman militer, dan saling menasehati dalam memberikan yang terbaik bagi kaum muslimin serta bagi penduduk wilayah-wilayah yang mereka taklukkan dan tentang penyebaran dakwah disana. Dan mereka selalu mendahulukan pendapat dari Abu Ubaidah. Abu Ubaidah sendiri terus berhubungan dengan Amirul mukminin Umar. Ia senantiasa mengirim surat-surat untuk meminta pendapat dan arahannya, atau memberitahunya tentang peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi, juga member gambaran tentang keadaan wilayah yang ditaklukkan dan penduduknya, serta untuk mengabarkannya tentang penaklukan-penaklukan yang telah dicapai. Umar pun terus mengirim nasihat dan arahan-arahannya dalam pengiriman pasukan dan penunjukkan panglima-panglima besar dalam misi yang sulit. Khususnya Khalid bin Walid karena kedudukan yang dimilikinya di sisi khalifah dan para komandan lainnya, serta kedudukannya di hati para mujahidin secara umum. Dan juga sebagai penghargaan atas berbagai pretasinya dalam penaklukan-penaklukan yang telah dilakukannya serta kejeniusannya dalam strategi perang.

Di antara surat-surat tersebut adalah yang ditulis oleh Amr bin Ash kepada Abu Ubaidah yang meminta perintah langsung darinya:

Bismillahirrahmanirrahim, Amma Ba’du, sesungguhnya Romawi telah terguncang oleh penaklukkan Damaskus dan Himsh sehingga mereka memusatkan kekuatan mereka di perbatasan Yordania dan Pelestina. Mereka saling berjanji bahwa tidak akan kembali kepada para wanita dan anak-anak mereka hingga mereka berhasil mengusir orang-orang arab dari tanah mereka. Dan Allah akan mendustakan kata-kata dan harapan mereka. Allah tidak akan memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang yang beriman. Maka tulislah pendapatmu kepadaku tentang hal ini. Semoga Allah memberikan petunjuknya dalam urusanmu serta mencerahkan pikiranmu. Wassalamu alaika warahmatullah(Di dalam kitab-kitab tentang penaklukan dan sejarah, banyak di cantumkan surat dan tulisan tersebut. Muhammad Hamidullah mencantumkan banyak surat berharga di dalam kitabnya Majmu’ Al-Watsaiq As-Siyasiyah Lil Ahdi An-Nabawi Wa Al-Khalifah Ar-rasyidah).

Di saat Abu Ubaidah tengah berusaha untuk menyelesaikan penaklukan Syria, pada saat yang bersaam Amr bin Ash berusaha menaklukkan Palestina. Kemudian Abu Ubaidah bergabung dengannya dan mereka bersama-sama mengepung Iliya –yaitu Baitul Maqdis- hingga akhirnya penduduknya meminta Abu Ubaidah untuk membuat perjanjian damai sebagaimana yang diperoleh oleh penduduk Syam, dan agar Umar bin Khaththab sendiri yang menandatangani perjanjian tersebut. Maka Abu Ubaidah pun mengirim surat kepada Umar tentang permintaan tersebut.

10. Penaklukan Baitul Maqdis

Setelah berbagai penaklukan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah beserta para komandan besar dan tokoh-tokoh mujahidin lainnya, dimana Islam mampu melebarkan sayapnya hingga menutupi keseluruhan wilayah Syria, Abu Ubaidah pun bergerak menuju Palestina. Saat itu Amru tengah mengepung Baitul Maqdis, maka Abu Ubaidah mengirim sebuah surat kepada penduduk Iliyah yang berbunyi.

“Keluarlah kepadaku maka aku akan menjamin keamanan bagi diri dan harta kalian, dan kami akan menempati janji kami sebagaimana kami telah menepatinya kepada orang-orang selain kalian.” Namun mereka merasa keberatan dan tetap enggan. Maka Abu Ubaidah kembali mengirim surat kepada mereka yang isinya, “Bismillahirrahmanirrahim, dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah kepada para pemimpin dan penduduk Iliya. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk, dan beriman kepada Allah yang Maha Agung dan juga kepada Rasul-Nya. Amma ba’du, sesungguhnya kami menyeru kalian kepada syahadat La Ilaha Illallah wa Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu. Dan bahwasannya hari kiamat pasti datang tiada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah akan membangkitkan mereka yang ada di dalam kubur. Jika kalian bersaksi atas itu semua, maka darah dan harta kalian haram bagi kami, dan kalian menjadi saudara kami seagama. Namun jika kalian menolak maka kalian harus membayar jizyah kepada kami dan kalian menjadi hina. Dan jika kalian juga menolak niscaya aku akan membawa kepada kalian pasukan yang lebih mencintai kematian daripada kalian yang lebih mencintai hidup, minuman keras, dan makan daging babi. Dan dengan izin Allah aku tidak akan mundur sebelum membunuh para pejuang kalian dan mengambil anak keturunan kalian sebagai tawanan.”

Maka mereka pun menerima perdamaian dengan syarat Amirul mukminin sendiri yang mendatangani surat perjanjian damai tersebut. Maka Abu Ubaidah mengirim surat kepada Umar memberitahunya tentang hal tersebut.

Setelah menerima surat tersebut, Umar bermusyawarah dengan para shahabat. Utsman bin Affan berpendapat agar ia tidak berangkat ke sana karena itu akan membuat mereka lebih terhina dan menjadi pelajaran bagi merek. Namun Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa sebaiknya Umar berangkat menemui mereka, karena itu lebih meringankan bagi kaum muslimin yang telah lama mengadakan pengepungan. Umar pun lebih condong kepada pendapat Ali, dan kurang setuju dengan pendapat Ustman.

Umar datang dengan mengendarai sebuah unta coklat, cahaya matahari memancar dari kepalanya yang mulai botak. Ia tidak memakai topi ataupun sorban di kepalanya. Kedua kakinya berdepak di kedua sisi tubuh untanya yang tanpa pelana, kakinya bertelekan pada sebuah kain yang terbuat dari wol. Itulah tatakan kainya jika ia hendak menaiki untanya, dan menjadi alas tidurnya jika ia beristirahat. Tasnya hanyalah sebuah kain lebar yang dilipat sedemikian rupa, yang berguna sebagai tasnya saat ia bepergian, dan menjadi bantalnya saat beristirahat. Ia memakai baju yang terbuat dari kapas putih di mana jahitannya telah terlihat menipis dan sebagiannya telah robek.

Ketika di Syam, ia disambut oleh Abu Ubaidah dan para komandan lainya seperti Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sufyan. Mereka memintanya untuk mengganti kendaraannya. Mereka memberinya sebuah kuda Turki tanpa pelana maupun perbekalan yang memberatkan. Ketika mulai berjalan, kuda tersebut menggoyangkan tubuhnya dengan angkuh. Maka Umar berkata kepada orang-orang bersamanya, “Berhenti! Aki tidak mengira seorang manusia bias mengendarai setan, kembalikan untaku.” Kemudian ia turun dan kembali mengendarai untanya, dan setelah itu tak sekalipun ia pernah mengendarai kuda Turki itu lagi!

Dalam perjalanan ia harus melewati sebuah sungai kecil. Maka ia turun dari untanya, melepas sepatunya dan meletakkannya di bahunya, lalu ia memegang tali kekang untanya dan berjalan menyebrangi sungai kecil tersebut.

Melihat itu Abu Ubaidah berkata, “Wahai Amirul mukminin, engkau melakukan itu? Engkau melepas sepatumu, meletakkannya di bahumu, memegang tali kekang untamu, dan kemudian berjalan menyebrangi sungai ini! Sungguh aku tidak ingin penduduk disini menyaksikanmu melakukan itu,”

Maka Umar berkata,”Aduh!! Jika saja orang lain mengatakan itu niscaya aku telah menjadikan contoh bagi umat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya dulu kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan diluar apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, niscaya Allah pasti akan menghinakan kita!!”

Kemudian ia melanjutkan perjalanan hingga tiba di Al-Quds. Ia membuat perjanjian damai dengan kaum nashrani yang ada di Baitul Maqdis, dan member syarat kepada mereka untuk mengusir pasukan Romawi. Lalu ia memasuki masjid dari pintu yang dulu dimasuki oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam Isra’. Ia melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di mihrab Dawud Alaihissalam, dan kemudian mengimami kaum muslimin pada shalat subuh di hari berikutnya. Pada rakaat pertama ia membaca surat Shad dan melakukan sujud tilawah yang diikuti oleh kaum muslimin, dan pada rakaat kedua ia membaca surat Isra’. Lalu ia mengambil tanah dari Ash-Shakhrah dengan ujung selendangnya, dan diikuti juga oleh kaum muslimin.

11. Abu Ubaidah di Himsh untuk kedua kalinya, Persekongkolan Romawi atasnya, dan kekalahanyang meyesakkan atas mereka

Setelah penaklukan Baitul Maqdis, Abu Ubaidah kemabali ke Himsh. Ia diikuti oleh pasukan Roamwi yang telah membuat perjanjian dengan penduduk Jazirah Arab, dan mereka bersepakat untuk menghancurkan Abu Ubaidah dan kaum muslimin di Himsh. Maka Abu Ubaidah mengumpulkan pasukan bersenjata yang tersebar dan bertugas menjaga wilayah dan kemudian membuat perkemahan diluar kota Himsh. Lalu Khalid juga datang dari Guensrin dan bergabung dengan pasukan bersenjata yang telah lebih dahulu bergabung. Abu Ubaidah bermusyawarah dengan mereka untuk memutuskan apakah mereka akan melakukan serangan atau mempertahankan diri sampai datangnya bantuan. Khalid meyarankan untuk memulai serangan, sementara yang lain berpendapat untuk mempertahankan diri dan menulis surat kepada Amirul mukminin. Abu Ubaidah mengambil pendapat mereka dan mengabaikan pendapat Khalid. Ia menulis surat kepada Umar mengabarkan tentang pasukan Romawi yang telah siap menghadapinya.

Amirul mukminin Umar telah mempersiapkan di kota-kota besar Islam pasukan cadangan yang terdiri dari pasukan berkuda dan siap bergerak cepat. Di Kufah saja terdapat empat ribu pasukan berkuda, dan tugas mereka adalah memberikan bantuan kepada kaum muslimin dan menyokong mereka mendapat ancaman. Ketika surat dari Abu Ubaidah sampai ke tangan Umar, ia menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di Irak, “Kirimlah pasukan dibawah pimpinan Qa’qa’ bin Amru, dan kirimlah mereka segera ke Himsh pada hari surat ini engkau terima, sesungguhnya Abu Ubaidah telah terkepung disana, bergeraklah kesana dengan segera.” Ia juga menulis kepadanya, “Untuk mengutus Suhail bin Adi ke Ar-Raqqah karena penduduk Jazirah lah yang membantu pasukan Romawi menghadapi penduduk Himsh. Ia juga memerintahkannya untuk mengirim Abdullah bin Abdullah bin Itban ke Nashibin, kemudian menuju harran dan Ar-Ruha. Lalu ia juga meminta untuk mengirim Al-Walid bin Uqbah kepada kabilah arab yang ada di jazirah yaitu kabilah Rabi’ah dan Tanukh. Juga agar ia megirim Iyadh bin Ghanim, dan jika terjadi perang maka Iyadh lah yang akan memimpin mereka.”

Pada hari itu juga Qa’qa’ berangkat memimpin empat ribu pasukan berkuda menuju Himsh. Begitu juga dengan Iyadh yang berangkat menuju Jazirah bersama komandan pasukan lainnya, mereka memilih jalan Jazirah, dan kemudian setiap komandan berpisah menuju wilayah yang ditugaskan kepadanya. Umar bin Khaththab sendiri juga bergerak dan tiba di Sargh atau Al-Jabiyyah dalam perjalanannya menuju Himsh untuk membantu Abu Ubaidah.

Ketika penduduk Jazirah yang membantu pasukan Romawi melawan penduduk Himsh mengetahui bahwa sebuah pasukan telah bergerak menuju kota mereka, mereka segera berpencar malarikan diri ke kampung-kampung dan saudara-saudara mereka, dan meninggalkan pasukan Romawi. Pasukan Romawi yang mendengar kedatangan Amirul mukminin Umar untuk membantu Abu Ubaidah menjadi jerih dan merasa bahwa mereka telah terkepung. Khalid mengusulkan kepada Abu Ubaidah untuk memulai serangan, dan Abu Ubaidah melaksanakan ide tersebut. Allah Ta’ala membukakan kemenangan bagi mereka dan pasukan Roamwi mendapat kekalahan yang menyesakkan. Itu terjadi sebelum kedatangan Umar, dan tiga malam sebelum kedatangan pasukan bantuan yang dikirim untuk mereka. Abu Ubaidah segera mengirim surat kepada Umar mengabarkannya tentang kemenangan yang telah diraih, dan bahwasannya bala bantuan sampai tiga malam setelahnya. Lalu ia bertanya kepada Umar, “Apakah ia harus memasukkan pasukan bantuan tersebut dalam pembagian fai’?” Umar menulis surat balasan yang memintanya untuk memasukkan mereka dalam pembagian harta rampasan perang, karena musuh menjadi lemah, dan melarikan diri, serta bala bantuan dari Romawi terputus karena mereka takut akan bala bantuan dari kaum muslimin. Maka Abu Ubaidah pun mengikutkan mereka dalam pembagian.

Umar berkata, “Semoga Allah membalas penduduk Kufah dengan kebaikan. Mereka mampu mengamankan wilayah mereka, dan memantu penduduk wilayah lainnya.”

Dengan usaha yang luar biasa ini, dna jihad yang tak pernah putus, serta berbagai penaklukan yang terus-menerus, Abu Ubaidah dengan seluruh komandan perang yang bersamanya: Khalid bin Walid, Syurahbil, Amr, Muadz, Iyadh, dan yang lainnya, akhirnya mampu menghamparkan kekuasaan Islam di atas seluruh wilayah Syam mulai dari sungai Eufrat hingga Al-Arisy yang berbatasan dengan Mesir, wilayah tersebut meliputi: Syria, Libanon, Yordania, dan Palestina.

Pada seluruh penaklukan tersebut, Abu Ubaidah merupakan panglima tertinggi yang memimpin pasukan yang menaklukkan Syam, sejak awal penaklukan pada masa Abu Bakar hingga ia wafat pada masa pemerintahan Umar, selain perang Yarmuk dimana panglima tertinggi dipegang oleh Khalid bin Walid.

Untuk arwah para panglima besar tersebut, dan para shahabat dan penakluk teladan kita, yang telah menorehkan bintang mereka di lembaran sejarah, dan mengukir nama mereka dengan cahaya. Dan juga untuk mereka yang hidup di bawah naungan cahaya para tokoh besar tersebut, yang mana mereka tidak tercatat dalam sejarah, dan kisah kepahlawanan mereka tidak pernah disebutkan oleh para sejarawan, untuk mereka semua saya mengungkapkan penghargaan, pujian tertinggi, dan penghormatan terbesar yang bias diberikan oleh seorang manusia. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui apa yang mereka persembahkan, memberi mereka pahala yang besar yang akan terus mereka terima hingga akhir kelak. Dan semoga mereka mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang mengikuti petunjuk cahaya dari kitab yang mereka bawa dan agama mereka sebarkan. Dan itu tentunya tidak bias dihitung oleh Malaikat rahmat dan tidak ada yang sanggup menghitungnya selain Allah.

Abu Ubaidah telah mengukirkan namanya di gunung-gunung dan sungai-sungai di negeri Syam. Juga di kota-kota dan desanya. Ia mengukirkan di memori penduduknya sejak zamannya hingga saat ini dan hingga waktu yang dikehendaki oleh Allah, sebuah kisah kepahlawanan dan keimanan, kisah rahmat dan hidayah, sifat zuhud dan kehormatan diri, pengorbanan dan keteguhan, kebijaksanaan dan kejituan, keberanian dan kegigihan, serta kepatuhan dan ketaantan. Ia adalah seorang panglima dalam pakaian seorang prajurit biasa, dan seorang prajurit biasa dalam pakaian seorang panglima. Allah mengumpulkan pada dirinya sifat-sifat kepemimpinan, kesabaran, dan keberanian, keikhlasan dan ketakwaan, wara’ dan zuhud, dan sikap tawadhu’ yang biasanya tersebar di banyak orang. Dan bergabunglah di bawah panjinya, dan dibawah kepemimpinannya tokoh-tokoh seperti panglima jenius Khalid bin Walid, tokoh Quraisy yang cerdas Amr bin Ash, pemimpin Bani Umayyah Yazid, dan tokoh-tokoh besar ulama shahabat seperti Abu Hurairah dan Jabir, serta tokoh-tokoh Quraisy dan kaum Anshar lainnya.

Dengan bakat dan seluruh kelebihan yang dimilikinya Abu Ubaidah mampu menyatukan seluruh potensi tersebut dan memimpin mereka dengan sebaik-baiknya, dan meraih hasil teragung yang dapat mereka peroleh. Lalu untuk apa keterangan yang begitu panjang tentang kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Ubaidah ini? Bukankah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang tidak mengatakan apapun dari hawa nafsunya telah berkata, “Orang yang paling terpercaya dari umat ini adalah Abu Ubaidah!!” ini merupakan sebuah ucapan yang singkat dan padat dari Nabi yang mulia yang mampu mencakup seluruh keistimewaan dan kelebihan yang dimiliki oleh Abu Ubaidah.

Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Abu Ubaidah dengan saudara-saudaranya telah berhasil menorehkan baris terakhir dari keberanian kerajaan Romawi di wilayah Syam. Dan ketetapan Allah terhadap Romawi pun berlaku dimana mereka diharamkan untuk menguasai seluruh wilayah Syam hingga kiamat kelak. Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika Kisra telah hancur maka tidak aka nada lagi Kisrah lain setelahnya, dan jika Kaisar telah hancur maka tidak aka nada lagi Kaisar setelahnya. Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh harta-harta karun mereka akan dibelanjakan di jalan Allah.”

Heraklius berhasil dikalahkan dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya. Kerajaannya musnah, dan ia pun melarikan diri kea rah wilayah Romawi. Dan ketika dia sampai di Syamsyath –wilayah Selatan Turki- ia menaiki sebuah bukit dan menoleh ke raha Syam dan berkata, “Aku pernah memberikan salam bagaimana salam seorang musafir kepadamu, namun hari ini bagimu salam wahai Syria, sebuah salam yang tidak akan diikuti dengan pertemuan lagi setelahnya!” lalu ia melanjutkan perjalanan hingga sampai di Konstatinopel.

12. Abu Ubaidah dan penyakit Tha’un di Amawas (Daerah yang berada di Pelstina, terletak disebelah tenggara Ramlah, dan berada antara Ramallah dan Gaza. Jarak kota ini dengan Al-Quds adalah 30 Km) 

Para sejarawan menyebutkan bahwa penyakit Tha’un menyebar di Amawas pada tahun 18 Hijriyah, dan kemudian segera menyebar di dataran rendah Yordania, dan virusnya terus menyebar di antara pasukan kaum muslimin dimana sebagian besar dari mereka berada di sana. Di antara mereka terdapat Abu Ubaidah –yang merupakan pemimpin mereka-, Muadz bin Jabal, Syurahbil bin Hasanah, dan sekelompok tokoh besar shahabat lainnya.

Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Asy-Syaikhani, dan yang lainnya, dari Ibnu Abbas, “Bahwasannya Umar bin Khaththab berangkat menuju Syam. Ketika sampai di Sargh ia ditemui oleh para panglimanya –Abu Ubaidah bin Al-Jarrah beserta para shahabat- dan mereka memberitahunya bahwa sebuah wabah penyakit tengah menyebar di negeri Syam. Ibnu Abbas berkata, Maka Umar berkata, “Panglima untukku kelompok Muhajirin yang pertama”, mereka pun datang dan Umar bermusyawarah dengan mereka. Ia mengabarkan bahwa wabah penyakit tengah menyebar di negeri Syam, maka mereka pun berselisih pendapat : sebagian berkata, “Kita telah memutuskan berangkat untuk suatu urusan, dan kami tidak berpendapat engkau harus membatalkan misimu.” Dan sebagian lainnya berkata, “Engkau membawa shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang masih hidup, dan kami tidak berpendapat engkau harus membawa mereka ke dalam wabah penyakit tersebut.” Lalu Umar berkata, “Tinggalkanlah aku, kemudian ia berkata, “Panggillah para shahabat Anshar untukku.” Maka aku memanggil mereka dan Umar bermusyawarah dengan mereka. Mereka mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Muhajirin dan berselisih pendapat. Sebagaimana Muhajirin Umar pun berkata, “Tinggalkanlah aku.” Kemudian ia berkata, “Panggilkanlah untuk ku tokoh-tokoh Quraisy yang hijrah saat penaklukan Mekah.” Maka aku pun memanggil mereka. Dan tidak ada dari mereka berselisih pendapat dalam maslah tersebut. Mereka berkata, “Kami berpendapat bahwa engkau harus kembali dan jangan membawa orang-orangmu ked lam wabah tersebut.” Maka Umar mengumumkan di hadapan pasukan, “Sesungguhnya aku akan berangkat besuk pagi, maka berangkatlah bersamaku.” Maka Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata, “Apakah engkau melarikan diri dari takdir Allah?” Umar menjawab, “Jika saja bukan engkau yang mengatakan itu wahai Abu Ubaidah! Ya betul, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua sisi, yang satu hijau dan satunya kering, bukankah jika engkau mengembalakan untamu di tempat yang hijau berarti engkau mengembalakannya dengan takdir Allah, dan jika engkau mengembalakannya di tempat yang kering berarti engkau juga mengembalakan dengan takdir Allah?! Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf –ia sempat tidak hadir karena suatu keperluan- kemudian ia berkata, “Aku memiliki sebuah ilmu dalam hal ini. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika engkau mendengar suatu wabah di sebuah negeri maka janganlah kalian memasukinya, namun jika itu terjadi di sebuah negeri dan kalian telah berada di dalamnya, maka janganlah melarikan diri darinya.” Maka Umar memuji Allah dan berlalu.

Umar kembali ke Madinah dengan orang-orang yang bersamanya, sedangkan Abu Ubaidah dengan para komandannya dan orang-orang yang bersama mereka kembali ke dataran rendah Yordania. Sementara itu wabah Tha’un masih terus menyebar dan menyebabkan banyak nyawa melayang. Umar sangat mengkhawatirkan keselamatan pasukannya dari wabah penyakit tersebut, dan ingin menyelamatkan mereka dari keganasan virusnya. Maka ia mengirim perintah dan arahannya kepada Abu Ubaidah yang memintanya membawa keluar kaum muslimin dari dataran rendah yang dikelilingi tanah rawah dan udara tidak sehat tersebut, dan membawa mereka ke dataran tinggi yang lebih luas dan mempunyai udara yang lebih bersih dan jauh dari pusat penyakit. Ia juga memintanya untuk mendatanginya di Madinah untuk suatu keperluan. Namun Abu Ubaidah mengira bahwa Umar hanya ingin menyelamatkannya tanpa pasukannya yang lain, maka ia pun minta maaf kepada Umar karena tidak bias melaksanakan perintah tersebut.

Amirul mukminin Umar sendiri menafsirkan hadits yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf tadi bahwasanya larangan untuk keluar dari daerah Tha’un itu adalah bagi mereka yang bermaksud melarikan diri dari wabah dan lari dari takdir Allah, dengan meyakini bahwa kepergiannya bias menyelamatkannya dari kematian. Dan bukan bagi mereka yang keluar dengan maksud berobat atau mencari tempat yang lebih luas dan mempunyai udara yang lebih segar, menurutnya itu adalah dibolehkan.

Pendapat Umar ini diikuti oleh sekelompok shahabat lainnya. Adapun Abu Ubaidah tetap berpegang kepada zhahir hadits, dan tidak ingin memisahkan dirinya dari pasukan kaum muslimin. Ia akan menerima apa yang mereka terima, dan ia dengan setia menunggu datangnya mati syahid.

Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Sesungguhnya Amirul mukminin menulis surat kepada Abu Ubaidah ketika mendengar tentang wabah penyakit yang merenggut banyak nyawa di Syam, “Sesungguhnya aku memilih keperluan kepadamu, dan aku harus menyampaikannya kepadamu. Jika surat ini sampai ke tanganmu pada waktu malam, maka aku minta engkau segera berangkat menemuiku pada pagi harinya. Dan jika sampai di tanganmu pada waktu siang, maka aku ingin engkau segera berangkat pada sore harinya. Maka Abu Ubaidah berkata, “Aku telah memahami kebutuhan yang dimaksudkan oleh Amirul mukminin, dan bahwasanya ia menginginkan untuk mempertahankan seseorang yang tidak akan kekal!” Lalu ia membalas suratnya, “Saat ini aku berada di tengah pasukan kaum muslimin dan aku tidak akan mementingkan diriku dari mereka. Sesungguhnya aku telah memahami kebutuhan yang engkau maksud dari permintaanmu, dan bahwa engkau ingin mempertahankan seorang yang tidak akan kekal. Maka jika suratku ini sampai ke tangnmu maka bebaskanlah aku dari perintahmu dan izinkanlah aku untuk menetap disini.”

Ketika Umar membaca surat tersebut air matanya mengambang dan ia menangis. Orang-orang yang bersamanya bertanya, “Wahai Amirul mukminin, apakah Abu Ubaidah telah meninggal? Ia menjawab, “Belum, namun seakan-akan ia sudah meninggal.”

Lalu Umar kembali menulis surat kepadanya, “Sesungguhnya Yordania adalah tanah yang dipenuhi oleh rawa, dan Al-Jabiyah adalah tanah yang bersih dan jauh dari wabah penyakit. Maka bawalah kaum muslimin ke Al-Jabiyah.” Ketika membaca surat tersebut Abu Ubaidah berkata, “Kalau ini maka kami akan mendengar perintah Amirul mukminin dan mentaatinya.” Abu Musa berkata, “Lalu ia menyuruhku untuk mempersiapkan keberangkatan pasukan. Namun kemudian istriku terkena wabah tersebut, maka aku mendatangi Abu Ubaidah dan berkata, “Sesuatu hal di keluargaku telah menyibukkanku dari apa yang telah engkau perintahkan.” Ia berkata, “Apakah istrimu terkena wabah itu?” aku menjawab, “Betul”, maka ia sendirilah yang kemudian pergi dan mempersiapkan pasukan untuk berangkat, lalu ia menyuruhku untuk memberangkatkan mereka setelahnya.

Ia berkata, “Kemudian Abu Ubaidah pun terkena wabah tersebut, dan ia berkata, “Aku melihat sebuah luka di kakiku, aku tidak tahu apakah wabah ini mungkin telah mengenaiku!” Lalu Abu Ubaidah tetap berangkat mempersiapkan pasukannya, dan kemudian mereka berangkat mengikutinya, sat itu wabah telah mulai menghilang, dan Abu Ubaidah akhirnya meninggal karena wabah penyakit tersebut.

Inilah sebuah bentuk kepemimpinan yang amanah yang telah ditanamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam jiwa para shahabatnya. Yang direguk dari sebuah akidah yang tak gentar menghadapi mati ketika ia datang. Dan ini tergambar dalm bentuknya yang paling mulia dalam sikap yang diambil oleh seorang panglima yang telah disebut oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa ia adalah orang yang terpercaya dari umat ini. Ia terpercaya dalam agama yang dibawanya, terpercaya dalam prinsip-prinsip yang ia serukan, dalam umat yang ia wakili, dan pasukan yang dipimpinnya. Dan Ia telah berkata kepada Umar –dan kita telah mengetahui keimanan yang dimiliki Umar, juga ketakwaannya, kesabarannya, kebijaksanaannya, sifat wara’nya, dan kepeduliannya terhadap hidup kaum muslimin-, “Aku berada ditengah pasukan kaum muslimin dan aku tidak akan mementingkan diriku dari mereka.” Dan ia menulis kepadanya, “Aku tidak akan berpisah dengan mereka hingga menetapkan ketetapannya atasku dan atas mereka. Maka bebaskanlah aku dari perintahmu wahai Amirul mukminin, dan biarkan aku tetap berada dalam pasukannku.”

Inilah sebuah bentuk kepemimpinan yang baik, penuh ketakwaan dan kemurnian. Sebuah keberanian dalam menghadapi musuh, keberanian dalam menghadapi masalah, keberanian dalam menghadapi takdir, keberanian dalam mempertanggungjawabkan perkataan dan membuktikannya dengan perbuatan dalam berbagai peristiwa dan kejadian yang dihadapi. Ia tidak ingin mengistimewakan dirinya di atas pasukannya, karena jika seorang pemimpin telah mementingkan dirinya sendiri, dan melarikan diri ketiak menghadapi kesulitan, dengan menyelamatkan jiwanya tanpa mempedulikan jiwa mereka yang dipimpinnya, maka kepada siapa lagi ia mempercayakan mereka, dan siapa lagi yang bias mereka ikuti, siapa lagi yang akan mereka dengar dan taati jika mereka menyaksikan pemimpin mereka lari dari wabah penyakit atau bahaya yang mengancam?! Dan bagaimana mereka bias berjuang dengan kegigihan dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, dan bagaimana mereka bias bertahan di hadapan musuh, jika tokoh-tokoh besar telah melarikan diri dari medan kehormatan?! Kepemimpinan adalah bagaimana memberikan teladan. Dan ketika menghadapi kesulitan terlihat nilai murni dari seorang laki-laki dan orang-orang yang mempunyai prinsip serta mereka yang mengemban risalah.

Selain Abu Ubaidah juga telah memimpin banyak pertempuran dalma tahun-tahun yang panjang, dan ia telah sangat mendambakan syahid, dan berjuang untuk mendapatkannya. Sampai saat itu ia belum berhasil memperolehnya. Maka apakah ia akan menghindarinya ketika kesempatan itu datang?!

Di dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Penyakit Tha’un dapat mengantarkan kesyahidan bagi setiap muslim.”

Dan Aisyah juga meriwayatkan dalam kitab yang sama, “Bahwasannya ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang penyakit tha’un, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahunya bahwa itu adalah azab yang dikirim Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, namun Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidak ada seorang hamba pun yang ditimpa oleh penyakit tha’un lalu ia bertahan dinegerinya dengan sabar, dan menyadari bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, kecuali ia akan mendapat pahala seorang syahid.”

Maka Abu Ubaidah memilih untuk bersabar bersama pasukannya dalam menghadapi wabah tersebut, dengan harapan ia akan mendapatkan syahid! Niat dan keinginannya begitu ikhlas dan kuat. Maka ia pun mendapat akhir yang mulia dari hidupnya ketika ia meninggal karena penyakit tersebut dalam medan jihad. Semoga Allah meridhainya.

G. Hari-Hari Terakhir Dan Kepulangan nya Menuju Keabadian

1. Bertahan bersama pasukannya menghadapi wabah tha’un dan seruannya kepada mereka untuk tetap sabar dan beriman

Amirul mukminin umar ingin menarik abu ubaidah dan membawanya kembali bersamanya di madinah karena ia membutuhkan tenaganya dalam mengatur urusan negara dan memimpin penaklukan-penaklukan lainnya serta menyebarkan islam. Namun abu ubaidah memilih untuk bersabar bersama pasukannya dalam menghadapi ujian, agar ia menjadi pemimpin sekaligus teladan yang baik bagi mereka dalam susah maupun senang, dalam kelapangan dan kesulitan, dan dalam menghadapi pertempuran ataupun cobaan yang lainnya. Ia mengharapkan syahid yang jika tidak mendatangi melalui dentingan pedang maka ia mengharapkan takdir akan membawakannya melalui wabah penyakit yang korbannya pun terhitung sebagai syahid. Maka ia memohon maaf kepada amirul mukminin dan memintanya untuk membebaskannya dari perintahnya untuk mendatanginya. Ia menulis surat kepadanya, “saat ini aku berada ditengah pasukan kaum muslimin dan aku tidak akan mementingkan diriku dari mereka. Sesungguhnya aku telah memahami kebutuhan yang engkau maksud dari permintaanmu, dan bahwa engkau ingin mempertahankan seorang yang tidak akan kekal. Maka jika suratku ini sampai ke tanganmu maka bebaskanlah aku dari perintahmu dan izinkanlah aku untuk tetap menetap disini.”

Lalu abu ubaidah berdiri dihadapan pasukannya dan memotivasi mereka untuk tetap bersabar dalam menghadapi wabah tersebut. Ia menghibur mereka atas musibah yang menimpa mereka, dan member mereka kabar gembira bagi mereka yang menjadi korban karena wabah penyakit tersebut.

Dari syahar bin hausyah al-asy’ari, dari ayah tirinya –seorang laki-laki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya ikut dalam pasukan yang menghadapi tha’un amawas- ia berkata, “ketika wabah penyakit sedang mengganas, abu ubaidah berdiri di depan pasukan dan berkhutbah, ia berkata, “wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini adalah rahmat bagi kalian, dan merupakan doa dari nabi kalian, serta kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Sesungguhnya abu ubaidah memohin kepada allah untuk memberinya sedikit dari bagiannya.” Ia berkata, “dan ia pun terkena penyakit tersebut dan wafat, semoga allah merahmatinya.”

2. Ditimpa penyakit tha’un dan dirawat oleh istrinya

Penyakit tha’un terus menyebar di pasukan kaum muslimin, virus nya menjangkiti mereka, dan merenggut banyak korban dari mereka. Ajal pun semakin dekat kepada penakluk besar negeri Syam Abu Ubaidah. Wabah tersebut mulai menyerangnya, dan memasuki tubuhnya melalui telapak tangannya. Wabah tersebut terus menyebar, dan tidak ada cara untuk menghindarinya!

Diriwayatkan dari Syahar bin Hausyab ia berkata, Abdurrahman bin Ghanim menceritakan kepadaku dari Al-Harits bin Amirah, “Bahwasanya Mu’adz bin Jabal memegang tangannya dan mengirimnya kepada Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menanyakan kabarnya, dan saat itu mereka berdua telah menderita penyakit tersebut. Lalu Abu Ubaidah memperlihatkan kepadanya luka yang telah menyerang telap tangannya. Keadaan tersebut sangat berat bagi Al-Harits dan merasa prihatin atas apa yang dilihatnya. Namun Abu Ubaidah bersumpah bahwa keadaan tersebut lebih ia sukai daripada unta merah!”

Dalam sakit yang merenggut nyawanya tersebut ia berdiam di tempat istrinya beberapa lama, sambil menunggu kepergiannya menuju keabadian, dan bertemu dengan orang-orang yang dicintainya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya yang telah mendahuluinya menuju kemuliaan. Abu Ubaidah melihat kembali kehidupan yang telah dilaluinya dengan berbagai amal yang agung, dan kehidupan yang telah dilaluinya dengan berbagai amal yang agung, dan berharap Allah akan menerima amal-amal tersebut. Ia khawatir kalau-kalau amal tersebut dicemari oleh penyakit riya’ yang akan mengurangi pahalanya dan bahkan menghilangkannya. Ia juga memeriksa dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Hatinya bergetar takut membayangkan hari perhitungan dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepadanya kelak. Namun ia kembali merasa tenang karena yakin bahwa cobaan yang menimpanya saat itu akan menghapus dosa-dosanya dan menjadi pengampunan baginya!

Diriwayatkan  oleh Al-Walid bin Abdurrahman, dari Iyadh bin Ghuthaif ia berkata, “Kami mendatangi Abu Ubaidah bin Al-Jarrah pada sakitnya, istrinya Tuhaifah sedang duduk di dekat kepalanya, sementara wajahnya melihat ke arah dinding. Aku berkata, “Bagaimanakah Abu Ubaidah menghabiskan malamnya dengan pahala.” Maka Abu Ubaidah berkata, “Demi Allah, sungguh aku tidak menghabiskan malamku dengan pahala.” Dan ia merasa bahwa perkataannya tidak mengenakkan bagi tamu-tamu nya, maka ia berkata, “Tidakkah kalian bertanya tentang ucapanku?” mereka berkata, “Kami tidak merasa kaget dengan ucapanmu, kenapa kami harus bertanya?!” ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “siapa yang meninfakkan hartanya di jalan Allah, maka dibalas dengan tujuh ratus kali lipat, dan barang siapa yang menginfakkan hartanya untuk keluarganya, atau mengunjungi orang yang sakit atau memilih untuk menanggung penyakit, maka satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puasa adalah tameng selama ia tidak merusaknya. Dan siapa diuji Allah dengan sebuah cobaan di tubuhnya, maka itu terjadi penghapus atas dosa-dosanya.”

Demi Allah, wahai Abu Ubaidah! Setelah catatan yang penuh dengan pekerjaan yang mulia tersebut, bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lebih dari dua puluh tahun, kemudian diikuti dengan tujuh tahun yang diisi dengan jihad yang tak pernah putus dan berbagai penaklukan yang terus menerus, dan juga jaminan surge untuknya, dan kesaksian Rasulullah bahwa ia adalah orang yang paling percaya dari umat ini, setelah akan mengampuni apa yang tidak diketahuinya dan juga tidak diketahu oleh orang lain. Dan ia masih berharap Allah menjadikan penyakit tha’un tersebut sebagai syahid baginya dan pengampunan atas dosa-dosanya!

Inilah jiwa seorang mukmin. Jiwa yang takwa dan suci, yang tunduk dan merendahkan hatinya. Yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, serta menghoarmati Allah dengan semestinya. Adapun orang-orang yang telah tertipu dan tidak mengenal Allah kecuali amat sedikit, dan tidak menyadari berapa banyak keikhlasan mereka dalam hal yang sedikit tersebut, lalu berani menguntai banyak harapan bahwa mereka akan di panggil melalui pintu surge yang delapan; sesungguhnya mereka berada dalam bahaya yang amat besar. Adapun Abu Ubaidah dan saudara-saudaranya yang terdidik dalam madrasah kenabian, maka mereka mempunyai kedudukan yang berbeda, dan kisah yang menakjubkan.

3. Wasiatnya kepada pasukannya pada saat terakhir dan pengangkatannya terhadap Mu’adz sebagai penggantinya

Abu Ubaidah merasa bahwa ajalnya sudah dekat, maka di saat-saat terakhir yang mengharukan tersebut ia kembali menorehkan kiprah yang mulia yang menghiasi perjalanan hidupnya yang penuh dengan nasihat dan jiwanya yang tinggi dan penuh ketakwaan serta akhlaknya yang mulia. Dan ia juga menambahkan bukti lain akan kepeduliannya terhadap kaum muslimin, dan kesibukannya dalam memikirkan yang terakhir dari catatan kehidupannya yang penuh dengan kemuliaan dan peran yang takkan terlupakan. Sehingga judul dari buku kehidupannya akan senada dengan pembukaannya, dan seirama dengan kisah akhir yang menjadi penutupnya. Ia memberikan wasiat kepada seluruh mujahidin dan mengingatkan mereka akan hal-hal yang akan menjadi penyebab utama bagi kemenangan mereka, dan juga mengingatkan mereka akan hakekat tertinggi yang mereka dambakan dan merupakan alas an utama dari perjalanan jihad mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Sa’id bin Abu Sa’id Al-Maqburi ia berkata, “Ketika Abu Ubaidah terjangkit wabah penyakit di Yordania, dan disanalah ia dikuburkan, ia memanggil seluruh kaum muslimin yang ada bersama nya dan berkata, “Sesungguhnya aku akan menyampaikan wasiat kepada kalian semua, dan jika kalian menerimanya niscaya kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan : Dirikanlah Shalat, bayarkanlah zakat, dan berpuasalah pada bulan Ramadhan. Bersedekahlah dan nasihatilah pemimpin kalian, dan janganlah mencurangi mereka. Jangan sampai dunia menghancurkan kalian. Sesungguhnya walaupun ada seseorang yang hidup hingga seribu tahun, ia pasti akan sampai pada keadaan seperti keadaanku saat ini sebagaimana yang kalian lihat sendiri. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian bagi anak cucu Adam, maka mereka semua akan mati. Orang yang terbaik dari mereka adalah yang paling taat kepada Tuhannya, dan yang paling banyak bekerja mempersiapkan hari dimana ia kembali pada Tuhannya. Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Wahai Mu’ad bin jabal, shalatlah bersama mereka.” Dan Kemudian ia pun meninggal.”

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/abu-ubaidah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s