Ali bin Abi Thalib

A. ASAL-USUL, GAMBARAN FISIK, PERTUMBUHAN, DAN KEISLAMANNYA

1. Keluarga tempat dia tumbuh
Abdul Muththalib bin Hasyim merupakan pembesar Quraisy dan tokoh yang disegani dan ditaati oleh kaumnya. Kisah tentang dirinya memenuhi padang pasir Arab, dari utara sampai selatan, menebar wangi semerbak. Dialah yang melakukan penggalian sumur Zamzam. Ketika Abrahah dan pasukannya datang untuk merubuhkan Ka’bah, Abdul Muththalib berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melindungi Baitullah.

Kedermawanannya sangat luar biasa, hingga sosoknya digambarkan dengan ungkapan, “Laki-laki yang memberi makan orang-orang di dataran dan binatang buas di pegunungan!”

Dia diberi kepercayaan untuk mengelola siqoyah dan rifadah . Dia mencapai derajat kemuliaan di kalangan kaumnya yang belum pernah dicapai oleh para pendahulunya. Kaumnya sangat mencintai dan menghormatinya. Begitu banyak pujian yang dilekatkan pada dirinya hingga dia terkenal dengan julukan ‘Orang tua terpuji’.

Ketika Abdul Muththalib diberi kabar gembira tentang kelahiran cucunya, Muhammad bin Abdullah, dia pun menggendong Muhammad dan memeluknya ke dadanya lalu segera membawanya ke Ka’bah untuk mengucap syukur kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.

Abu Thalib mewarisi dari ayahnya (Abdul Muththalib) berbagai sifat terpuji tersebut, di samping kedudukan dan kepemimpinannya. Dalam dirinya terkumpul berbagai keutamaan bangsa Arab sehingga dia pun menempati posisi penting di kalangan kaum Quraisy dan termasuk ke dalam jajaran ulama dan ahli pidato.

Dia mendapat kepercayaan untuk mengasuh putra saudaranya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan mencurahkan kasih sayang padanya. Ketika turun wahyu pada keponakannya itu, Abu Thalib memposisikan dirinya sebagai penolongnya meski harus menghadapi permusuhan kaum Quraisy. Ketika kaum Quraisy menampakkan permusuhan mereka terhadap Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Thalib mendatangi mereka dan menentang mereka dengan keras untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan keponakannya diganggu. Dia berkata kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, “Pergilah wahai keponakanku, katakan apa pun yang ingin kau katakan, demi Allah saya tidak akan membiarkan apapun mengganggumu!”

2. Nama lengkap Ali , nasab, kelahiran, dan awal pertumbuhannya
Itulah Abu Thalib yang darinya lahir seorang anak bernama Ali. Itulah Abdul Muththlib kakeknya dan juga kakek Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Inilah nasab shahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththlib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Qurasyi Al-Hasyimi.

Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Sempat masuk Islam, ikut menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan hijrah ke Madinah Munawwarah hingga meninggal dunia disana. Rasulullah menshalati jenazahnya, ikut turun ke dalam kuburnya, memimpin pemakamannya, memakaikan padanya gamis beliau dan memujinya. Beliau berkata, “Wanita ini merupakan makhluk Allah yang memperlakukan saya paling baik setelah Abu Thalib.”

Dari keluarga yang penuh dengan berbagai kemuliaan ini lahir sosok Ali bin Abi Thalib. Para kakeknya merupakan pelayan Ka’bah dan para jamaah haji yang datang ke sana. Mereka menempati posisi paling penting di kalangan Quraisy, ibarat kepala bagi tubuh.

Ali mewarisi dari ayahnya sifat keteguhan hati. Sifat yang diwarisinya itu bercampur dengan Islam dan melahirkan sifat yang suci dan bersih. Loyalitas Ali terhadap Islam tampak sejak awal kemunculannya dan merupakan loyalitas yang jujur dan tinggi.

Ali merupakan putra bungsu, dilahirkan sepuluh tahun sebelum Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam diutus sebagai Nabi. Di antara nikmat sempurna yang diperolehnya adalah dia tumbuh di bawah asuhan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Waktu itu suku Quraisy mengalami masa sulit, sedangkan Abu Thalib memiliki keluarga yang banyak. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun mendatangi Abu Thalib untuk membalas kebaikannya selama ini dan mengambil Ali untuk meringankan beban hidup dan nafkah keluarganya. Hal serupa juga dilakukan oleh Abbas yang mengambil Ja’far untuk diasuh di rumahnya.

Berbagi sifat mulia yang diwarisinya terus tumbuh dan mencapai kesempurnaannya ketika dia berada di bawah naungan pendidik umat manusia yang agung, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang mengambil tanggung jawab pendidikan dan pertumbuhan karakternya. Ali adalah pemuda yang sangat beruntung dan memperoleh keberkahan.

3. Sifat dan gambaran fisiknya
Ali tumbuh dengan tubuh yang kuat baik pada saat muda maupun dewasa. Dia selalu menjaga kekuatan tubuhnya hingga mencapai usia enam puluh tahun. Orang yang melihatnya menggambarkan dirinya memiliki perawakan laki-laki yang sempurna.

Sosoknya sedang, tidak tinggi dan tidak terlalu pendek. Perutnya besar, pundaknya kekar, memiliki tulang lengan dan betis yang besar. Janggutnya tebal hingga memenuhi bagian di antara dua pundaknya, berwarna putih bagaikan kapas. Memiliki bola mata yang hitam, berkepala botak, memiliki buluh dada yang lebat. Dia biasa menggunakan kopiah Mesir berwarna putih, mengenakan cincin di tangan kiri bertuliskan kalimat Allah Al-Mulk. Wajahnya tampan laksana bulan purnama, memiliki leher yang jenjang seperti teko perak, giginya tampak saat tertawa. Apabila berjalan tubuhnya bergoyang, seperti cara berjalan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Apabila dia memegang lengan seseorang maka orang tersebut akan susah bernafas. Apabila berjalan ke medan perang, dia bergegas. Sosok yang kuat dan berani, selalu berhasil menunduk lawannya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.

4. Dirumah Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam
Ali pindah dari rumah ayahnya, pemuka Quraisy ke rumah Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam, pemuka seluruh umat manusia. Di sana dia melihat sebuah gaya hidup yang baru. Dia menyaksikan bagaimana Nabi melakukan pencarian terhadap kebenaran, beribadah sesuai agama Ibrahim, menghindari perilaku jahiliyah dan penyembahan berhalanya, dengan mengasingkan diri ke gua Hira dan beribadah di sana.

Hati remaja ini terpaut oleh putra pamannya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Bagaimana mungkin dia tidak mencintai Muhammad, sedangkan semua orang mencintainya. Bagaimana dia tidak menghormati dan meneladani beliau, sedang para pembesar Quraisy saja menerimanya sebagai orang terpercaya dan sebagai pemutus perkara. Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam merupakan pembuka hidayah dan guru kebaikan bagi Ali pada usia belianya.

Ali tumbuh dirumah kenabian, bernaung di bawah bayang-bayang akhlak mulia Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan pemeliharaan seorang wanita yang cerdas dan mulia, Khadijah binti Khuwailid Radiyallahu ‘Anha. Kehidupan Ali pun berkembang seperti mekarnya bunga di musim semi yang memperoleh siraman air yang bersih, seperti ranting subur yang dipelihara oleh tangan yang lembut dan cerdas. Maka Ali tumbuh dalam petunjuk yang benar dan jalan hidup bersih yang tidak ternoda oleh keburukan jahiliyah.

Seakan-akan takdir telah memilih Ali untuk tumbuh sebagai sosok yang lurus dan cerdas. Dia memperoleh pendidikan di bawah pengasuhan yang suci sehingga tidak ditemukan pada dirinya sifat kekanak-kanakan dan tidak pernah tergelincir pada kesalahan.

5. Keislaman Ali
Ketika Ali mencapai usia sepuluh tahun, sepertiganya dilewati di rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Mekah digoncang berita besar yang membuat para pembesarnya khawatir dan penyembahan berhala terusik, karena wahyu turun kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan menjelma sebagai utusan Allah bagi seluruh umat manusia.

Di rumah Nabi senantiasa terdengar ayat yang pertama turun dibacakan berulang-ulang oleh beliau, maka Ali pun mendengar ayat-ayat tersebut.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu menyampaikan dakwah Islam, dimulai dari keluarganya, orang-orang terpercaya dari para shahabatnya, dan orang-orang penting di Mekah. Keluarga beliau segera mengimani risalah tersebut. Masuk Islamlah Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah, dan para putri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Di luar keluarga beliau, yang segera beriman adalah Abu Bakar, lalu diikuti oleh beberapa orang lainnya.

Ali merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, sebagaimana halnya Abu Bakar merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan dewasa.

Ali masuk Islam pada usia sepuluh tahun, belum mencapai usia baligh, belum terkena catatan pena, dan belum memiliki dosa. Dia tidak pernah bersujud pada berhala dan tidak pernah terjerumus pada perbuatan buruk Jahiliyah. Pertumbuhan dan Permulaan hidupnya menjadi model tersendiri, seolah-olah dia adalah anak Islam, murid wahyu, dan penolong Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam.

B. KEDEKATAN ALI DENGAN NABI, HIJRAH, DAN KEIKUTSERTAAN DALAM BERBAGAI PERISTIWA

1. Hijrahnya Ali
Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu senantiasa menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, belajar Al-Qur’an pada beliau dengan jiwa dan hati yang penuh perhatian, kecerdasan yang menyala-nyala, dan keinginan yang kuat. Sempurnalah pembentukan kepribadiannya di rumah kenabian, sehingga di kemudian hari dia pun menorehkan di lembaran sejarah berbagai sikap mental yang luar biasa dan kepahlawanan yang tidak ada tandingannya.

Peristiwa hijrah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam membuka kesempatan bagi Ali untuk mencatat salah satu contoh paling jelas atas jiwa kepahlawanan Ali serta kekuatan harga diri, keberanian, dan ketulusannya dalam membela dan mentaati Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah bersiap untuk hijrah dan telah memberitahu Abu Bakar tentang rencana tersebut, pada malam saat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam akan meninggalkan rumahnya, Jibril datang pada beliau memberitahukan bahwa kaum Quraisy telah bersepakat untuk membunuhnya dan sekelompok pemuda telah mengepung rumahnya. Maka Jibril menyuruhnya untuk tidak tidur di tempat beliau biasa tidur.

Ibnu Ishaq menceritakan, “Ketika lewat sepertiga malam pertama, mereka berkumpul di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengintai dan menunggu beliau tidur, agar mereka bisa menyergap beliau. Saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengetahui keberadaan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah di atas tempat tidurku, berkerumunlah dengan selimutku yang berwarna hijau, tidurlah di sana, maka tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya padamu dari mereka.”

Lalu Nabi keluar dari rumahnya, waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi pandangan para penjaga di depan pintu rumah beliau dan menjaga Ali dari pedang kaum Quraisy yang zhalim. Setelah itu Ali tinggal di Mekah selama tiga hari untuk mengembalikan barang-barang titipan yang ada pada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepada pemiliknya dari penduduk Mekah. Kemudian dia berangkat hijrah ke Madinah.

Ali Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat hijrah ke Madinah, beliau menyuruhku untuk tinggal beberapa hari agar dapat mengembalikan barang-barang titipan yang ada pada beliau, karena itulah beliau disebut Al-Amin (Orang yang terpercaya). Maka saya tinggal selama tiga hari, selalu menampakkan diri dan tidak pernah sembunyi. Kemudian saya berangkat mengikuti jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Hingga saya sampai ke kediaman Bani Amr bin Auf dan Rasulullah tinggal disana, maka saya singgah di kediaman Kultsum bin Al-Hidm, di sanalah rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

2. Tindakan mempersaudarakan kaum muslimin
Sesampainya Rasulullah di Madinah, setelah membangun masjid, beliau meletakkan kaidah penting yang menyatukan berbagai unsur masyarakat Islam yang baru, yaitu mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Maka beliau menetapkan supaya seorang Anshar memilih seorang saudara dari kaum Muhajirin agar semua berada dalam satu barisan dan menjelma seperti satu tubuh yang apabila salah satu organ tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain akan ikut merasa demam dan tidak dapat tidur. Waktu itu Ali bersaudara dengan Sahl bin Hunaif Al-Anshari.

3. Pernikahan Ali dengan Sayyidah Fathimah
Pemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Ali semakin bertambah dengan pernikahannya dengan putri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Fathimah Az-Zahra, pemimpin kaum perempuan ahli surga. Saat itu usia Fathimah mencapai 15 tahun lewat beberapa bulan.

Ali meriwayatkan bahwa pelayannya mendatanginya dan berkata padanya, “Apakah engkau sudah tahu bahwa Fathimah telah layak dilamar kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Ali, “Tidak.” Dia berkata, “Dia telah bisa dilamar. Maka kenapa kamu tidak datang kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam agar beliau menikahkannya denganmu?” Ali berkata, “Demi Allah, dia terus mendorongku hingga saya pun datang ke rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setelah saya duduk dihadapan beliau, saya terdiam. Demi Allah saya tidak bisa berbicara secara jelas. Rasulullah pun bertanya padaku, “Apa yang membuatmu datang kesini? Apakah kamu ada perlu?” Saya terus diam. Rasulullah berkata, “Apakah kamu datang untuk melamar Fathimah ?” Saya mengiyakan. Beliau bertanya, “Apakah kamu punya sesuatu untuk menjadikan halal bagimu?” Saya jawab, “Demi Allah, tidak wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Dimana baju besi yang saya berikan padamu dulu? –Demi Dzat Yang jiwa Ali berada dalam genggaman-Nya, baju besi itu buatan Huthamiyah yang harganya hanya empat ratus dirham- Saya jawab, “Ada padaku.” Beliau berkata, “Saya nikahkan engkau dengannya dengan mahar baju besi itu. Maka halalkanlah dia dengannya.” Itulah mahar Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ali Radiyallahu ‘Anhu adalah orang yang miskin dan hanya memiliki sdikit harta. Asma’ binti Umais meriwayatkan, “Ketika Fathimah diserahkan kepada Ali, kami tidak mendapatkan di rumahnya selain sehelai tikar, bantal berisi sabut, sebuah guci dan sebuah cangkir.” Maka kaum Anshar mengumpulkan beberapa sha’ teppung dan memberinya seekor domba untuk mengadakan walimatul urs (resepsi pernikahan).

Sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam membekali Fathimah dengan kain beludru, bantal kulit berisi sabut, penggiling, wadah air dari kulit, dan dua buah tempayan.

Dua cahaya itu pun bertemu untuk membentuk sebuah keluarga yang agung. Dari keluarga itulah lahirlah keturunan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam seperti Hasan, Husain, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab.

Mari kita perhatikan kejadian luar biasa pada diri Fathimah yang suci. Ali sendiri yang menceritakan hal tersebut. Dia meriwayatkan bahwa Fathimah mengeluhkan tangannya yang lecet akibat penggiling tepung. Lalu dia mendengar kabar bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mendapat tawanan. Maka Fathimah pun pergi menemui beliau untuk meminta pelayan. Namun Fathimah tidak bertemu dengan beliau. Dia pun menyampaikan maksudnya pada Aisyah. Ketika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam datang, Aisyah menyampaikan pesan Fathimah tersebut kepada beliau. Maka beliau datang ke rumah kami, waktu itu kami telah bersiap-siap untuk tidur. Kami pun hendak bangun, tetapi beliau berkata, “Tetaplah di tempat kalian.” Beliau datang dan duduk di antara kami, sehingga saya dapat merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih berharga dari apa yang kalian minta? Jika kalian bersiap-siap akan tidur maka bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tahmid tiga puluh tiga kali dan tasbih tiga puluh tiga kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri yang membimbing keluarga itu. Terkadang beliau memberi nasihat, di lain kesempatan beliau menghibur dan menganjurkan agar bersabar, tidak jarang beliau mendorong mereka untuk berusaha mencapai kemuliaan hidup. Jika terjadi sesuatu yang membuat keruh suasana, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam segera berupaya menyelesaikan persoalan antara pasangan itu, sesuatu yang wajar terjadi pada manusia, bagaiman pun tingkat keimanan dan ketakwaannya.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang ke rumah fatimah dan tidak menemukan Ali di rumah. Beliau bertanya, “Kemana putra pamanmu?” Fathimah menjawab, “Ada masalah di antara kami. Lalu dia marah dan pergi hingga tidak tidur siang di rumah.” Maka Rasulullah berkata pada seseorang, “Coba cari dimana dia” Tak lama kemudian orang itu datang dan memberitahukan bahwa Ali sedang tidur di masjid. Rasulullah pun pergi ke masjid untuk menemui Ali dan mendapatinya sedang berbaring, kain bagian samping badannya tersingkap hingga terkena tanah. Rasulullah pun menghapus tanah dari badannya seraya berkata , “Bangunlah hai Abu Thurab (bapaknya tanah)!”

Tidak ada julukan yang lebih disukai Ali dari Abu Thurab. Dia senang dipanggil dengan julukan itu.
Ali sangat mengerti kedudukan istrinya di hati ayahnya. Maka Ali tidak memadunya hingga dia meninggal dunia dan menghindari segala sesuatu yang dapat membuat Fathimah merasa cemburu.

4. Keikutsertaannya dalam berbagai peperangan
Di antara sifat ali yang paling menonjol adalah keberanian dan kepahlawanan yang berpadu dengan sosoknya yang kokoh dan tubuhnya yang kuat. Namun demikian, keberaniannya tidaklah tanpa batas dan tanpa kendali, akan tetapi setiap tindakan kepahlawanan dan kemenangannya sangat memperihatinkan manhaj yang menempanya saat tinggal dirumah kenabian. Peperangan dan jihad yang dilakukannya didasarkan pada sikap istiqamah, dinaungi oleh keadilan, di jaga oleh kemuliaan dan terhindar dari kesewenang-wenangan, serta bersih dari rasa dendam dan dengki terhadap musuh setelah peperangan usai.

Ali mengikuti seluruh pertempuran bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kecuali perang Tabuk, karena beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau memimpin Madinah.

Dengan demikian, Ali ikut serta dalam perang Badar sebagai pembawa panji, sementara dalam perang Uhud Ali termasuk pasukan sayap kanan, lalu menjadi pembawa panji setelah pembawa pertama Mush’ab bin Umair syahid. Ali juga ikut serta dalam perang Khandaq dan membunuh ksatria Arab Amr bin Abdi Wud. Ali pun hadir hadir dalam peristiwa Hudaibiyah dan Bai’atur Ridwan. Begitu juga perang Khaibar yang pada peristiwa itu Ali mengalami berbagai situasi sulit. Kemudian Ali ikut dalam pelaksanaan Umrah pengganti, Fathu Mekah, perang Hunain, perang Tha’if, Umrah bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari Ji’ranah, dan melaksanakan haji bersama beliau pada haji wada’.

  • Pada perang Badar
    Waktu itu Ali mengenakan pakaian wol putih. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyerahkan padanya panji kaum Muhajirin. Ketika dua pasukan bertemu, majulah tiga orang dari mereka menantang bertarung, mereka adalah Uthbah bin Rabi’ah, saudaranya Syaibah, dan putranya Walid bin Utbah. Mereka dihadapi oleh tiga orang dari kaum Muhajirin, yaitu Ubaidah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan Ali. Ketiga kaum musyrikin tewas, sedangkan dari ketiga shahabat hanya Ubaidah yang terluka.Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan –Lafazh ini milik Bukhari- dari Qais bin Ubad, dia berkata, “Saya mendengar Abu Dzar bersumpah bahwa ayat, “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, bertengkar mengenai tuhan mereka” (QS. Al-Haj [22]: 19). Turun terkait mereka yang berperang tanding saat perang Badar, yaitu Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Harits melawan Uthbah, Syaibah putra Rabi’ah, dan Walid bin Uthbah.Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dari Ali Radiyallahu ‘Anhu bahwa dia berkata, “Saya orang pertama yang berlutut di hadapan Allah Yang Maha Pengasih untuk perkara pada hari kiamat.”
  • Pada perang Uhud
    Pada awalnya panji diserahkan pada Mush’ab bin Umair. Ketika Mush’ab syahid, Rasulullah menyerahkannya kepada Ali. Ali pun menganbil panji itu lalu maju seraya berseru, “Saya adalah orang yang akan menghancurkan siapa pun yang ditemuinya.!” Maka Abu Sa’ad bin Abi Thalhah, pembawa panji kaum musyrikin menantang Ali untuk bertarung. Tantangan tersebut langsung disambut oleh Ali. Keduanya lalu saling menyerang, Ali memukulnya hingga membantingnya. Kemudian Ali berpaling darinya karena dia memperlihatkan auratnya.Ali termasuk orang yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Pada hari itu dia terkena 16 tusukan, pedangnya berlumuran darah dan bengkok karena terlalu banyak digunakan untuk memenggal kepala kaum musyrikin.
  • Pada perang Khandaq
    Ali menorehkan banyak kisah kepahlawanan yang sangat terkenal, di antaranya adalah ketika menaklukan Ksatria Jazirah Arab, Amr bin Abdi Wud, yang dianggap setara dengan 1000 orang. Dia menantang kaum muslimin, “Siapa yang berani melawanku?” Ali pun bangkit ingin menghadapinya. Namun Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruhnya duduk seraya berkata, “Dia adalah Amr!” Hal itu terjadi dua kali. Ali pun menahan diri karena ingin mentaati Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Namun pada kali ketiga, Ali bangkit lagi. Ketika Rasulullah mencoba menahannya seraya berkata, “Dia adalah Amr!”, Ali menjawab, “Meskipun dia Amr!”Ali pun maju untuk menghadapi Amr. Amr bertanya, “Siapa kamu?”“Saya Ali.”“Putra Abdu Manaf?” Tanya Ali lagi.“Saya Ali bin Abi Thalib.”

    “Wahai putra saudaraku, di antara paman-pamanmu ada yang lebih tua darimu. Saya tidak ingin mengalirkan darahmu.” Ujar Amr merendahkan.

    “Tapi saya, demi Allah, sangat ingin menumpahkan darahmu!” Balas Ali.

    Amr pun marah, lalu turun dari kudanya dan menghunus pedangnya. Dia segera menyerang Ali dengan penuh kemarahan dan dihadapi oleh Ali dengan tameng kulit. Amr menebas pedangnya hingga merobek tameng Ali dan tameng itu tersangkut di pedangnya lalu jatuh menimpa kepalanya hingga melukainya. Ali pun memukul urat bahunya hingga dia tersungkur ke tanah. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu mendengar seruan takbir, maka beliau pun tahu bahwa Ali telah berhasil membunuh Amr.

  • Pada Bai’atur ridwan
    Pada peristiwa itu para shahabat berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan kesiapan mereka untuk mati dalam rangka memberi pelajaran kepada kaum Quraisy ketika sampai pada mereka berita bahwa Utsman telah dibunuh. Ali pun segera berbai’at. Dengan demikian memperoleh ridha Allah sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) dibawah pohon.”(QS. Al-Fath [48]: 18).
  •  Pada perang Khaibar
    Di awal tahun ketujuh Hijriah, pasukan kaum muslimin bergerak ke Khaibar. Waktu itu Ali tidak ikut berangkat karena sedang sakit mata. Ketika dia melihat kaum muslimin berangkat ke medan jihad, dia khawatir akan melewati kemuliaan peristiwa tersebut. Dia berkata dalam hati, “Saya tidak ikut bersama Rasulullah?” Maka  dia pun berangkat menyusul Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.Kaum Yahudi berlindung di balik benteng mereka. Pasukan kaum muslimin pun berupaya menyerang benteng tersebut namun benteng tersebut sangat sulit ditembus sehingga memperlambat terwujudnya kemenangan kaum muslimin. Pada saat itulah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kabar gembira yang luar biasa itu, sebagaimana di kisahkan oleh Sahl bin Sa’ad, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata pada perang Khaibar, “Sesungguhnya saya akan menyerahkan panji ini besuk kepada seorang laki-laki yang ditangannya Allah akan berikan kemenangan bagi kaum muslimin. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, sebaliknya Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata, “Malam itu para shahabat bertanya-tanya siapa dari mereka yang ditugasi membawa panji tersebut.”Esok harinya para shahabat dan kaum muslimin lainnya datang menghadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. setiap orang dari mereka ingin di beri tugas untuk membawah panji tersebut. Lalu Rasulullah bertanya, “Dimana Ali bin Abi Thalib?” Para shahabat menjawab, “Dia sedang menderita sakit mata wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Bawalah ia kemari!” Tak lama kemudian, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah . lalu Rasulullah meludai kedua matanya dan berdoa untuk kesembuhannya. Tak lama kemudian mata Ali sembuh tanpa ada rasa sakit lagi. Kemudian Rasulullah menyerahkan panji itu kepadanya. Ali bin Abi Thalib bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi kaum musyrikin hingga mereka menjadi orang-orang muslim seperti kita?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Laksanakanlah tugasmu dengan baik dan tidak tergesa-gesa, hingga kamu tiba di wilayah mereka. Setelah itu, serulah mereka untuk masuk dalam agama Islam, beritahukan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan di dalam ajaran Islam! Demi Allah, sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang (hingga ia masuk Islam) melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah .”Kaum Yahudi melawan dari balik benteng mereka. Sementara kaum muslimin terus menyerang mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kemenangan. Ali pun kembali bersama shahabatnya dengan membawa kemenangan yang gemilang. Benar apa yang diprediksi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika berkata, “Sesungguhnya saya akan menyerahkan panji ini besok kepada seorang laki-laki ynag di tangannya Allah akan memberikan kemenangan bagi kaum muslim.”
  • Pada perang Tabuk
    Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruh Ali tinggal di Madinah untuk menjaga keluarga beliau. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu ‘Anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat ke Tabuk dan menyuruh Ali tinggal di Madinah. Ali bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau menyuruhku tinggal bersama anak-anak dan kaum perempuan?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku bagaikan kedudukan Harun dari Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”

5. Pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyirikin pada tahun kesembilan Hijriyah
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin haji kaum muslimin dan memerintahkan padanya untuk menyerukan pada semua orang bahwa, “Tidak ada lagi haji bagi orang-orang musyrik setelah tahun ini dan tidak ada lagi yang melakukan thawaf di Baitullah  dengan bertelanjang.” Kemudian Rasulullah mengutus Ali setelah Abu Bakar untuk mendampinginya dan mendapat tugas untuk menyampaikan pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyrikin, menggantikan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam karena posisinya sebagai putra paman beliau dan keluarga beliau.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, “Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, “Pada pelaksanaan haji itu Abu Bakar mengutusku bersama dua orang penyeru pada hari raya Idul Adha. Kami pun menyerukan tentang pernyataan pemutusan hubungan. Abu Hurairah berkata, “Ali ikut menyeruhkan bersama kami pada orang-orang di Mina, “Tidak ada lagi haji bagi orang-orang musyrik setelah tahun ini dan tidak ada lagi yang melakukan thawaf dengan di Baitullah dengan telanjang.”
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus bersama Abu Bakar pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyrik. Sesampainya di Dzaul Hulaifah, beliau berkata, “Tidak boleh seorangpun menyampaikannya selain aku atau seseorang dari keluargaku.”Maka Rasulullah pun menyuruh Ali untuk menyampaikannya.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas disebutkan, “Maka Ali menyerukan pada hari-hari tasyriq, “Jaminan Allah dan Rasul-Nya tidak berlaku lagi bagi setiap orang musyrik, maka bertebaranlah di muka bumi selama empat bulan, janganlah seorang musyrik pun melaksanakan haji setelah tahun ini, janganlah melakukan thawaf di Baitullah dengan telanjang, tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin.” Ali terus menyeruh, jika dia lelah Abu Bakar yang menggantikannya.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengangkat Ali sebagai komandan pasukan dalam beberapa peperangan. Beliau juga pernah mengutusnya ke Yaman untuk mengajak penduduknya masuk Islam dan Ali pun berangkat ke sana, mengajak penduduknya masuk Islam dan membacakan kepada mereka surat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka masuk Islamlah suku Hamdan. Ali mengirim surat kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah membaca surat tersebut, beliau langsung bersujud, lalu bangun dari sujudnya seraya berkata, “Keselamatan bagi Hamdan, keselamatan bagi Hamdan.”

Ali pun kembali dari Yaman dengan segera agar dapat mengikuti pelaksanaan haji. Maka dia pun ikut melaksanakan haji bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada haji wada’.

C. AKHLAK, SIFAT, ILMU, DAN KEDUDUKAN ALI

1. Akhlak Ali bin Abi Thalib
Akhlak Ali Radiyallahu ‘Anhu merupakan pantulan dari cahaya akhlak Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, karena Ali tumbuh besar di rumah Nabi, hidup di taman akhlak yang mulia, ditambah lagi dia pun menjadi menantu Rasulullah, di mana Rasulullah senantiasa membimbingnya dan Fathimah dengan berbagai nasihat yang luhur dan adab yang mulia.

Ali merupakan sosok pemalu, sifat malunya para ksatria pemberani. Pada perang Uhud, ketika bertarung melawan Abu Sa’ad bin Abi Thalhah dan berhasil menjatuhkannya ke tanah, pada saat Ali akan menghabisinya tiba-tiba Ali berbalik dan pergi meninggalkannya. Ketika para shahabat bertanya kenapa dia tidak jadi menghabisinya, Ali menjawab, “Dia menghadapiku dengan menampakkan auratnya, maka saya merasa iba padanya, saya tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membinasakannya.” Perbuatan itu terulang kembali pada perang Khandaq ketika bertarung melawan Amr bin Abdi Wud. Ali menceritakan, “Saya memukulnya dengan pedang, lalu dia melindungi dirinya dengan menampakkan auratnya, maka saya merasa malu untuk menghabisinya.”

Kemuliaan seorang pejuang merupakan akhlak yang tidak pernah dilupakan oleh Ali pada saat memperoleh berbagai kemenangan. Sesungguhnya para pejuang sejati seperti Ali menggapai kemenangan dengan cara yang mulia dan adil. Sikap ini hanya akan muncul dari akhlak yang tumbuh di rumah para Nabi dan tidak memilikinya kecuali orang-orang pilihan.

Ali juga dikenal jujur dan apa adanya. Dia menolak sikap berpura-pura untuk menyelamatkan diri meski dalam situasi sulit sekalipun. Dia pernah berkata, “Tanda keimanan adalah engkau lebih mengutamakan kejujuran meskipun merugikanmu atas kebohongan meski memberi manfaat bagimu, hendaklah dalam pembicaraanmu tidak melebihi ilmumu dan bertaqwalah kepada Allah dalam berbicara dengan orang lain.”

Dalam menjaga hubungan kekerabatan Ali dikenal sangat gigih. Dia bersaing dengan beberapa shahabat dalam memperoleh hak asuh Amarah putri pamannya Hamzah bin Abdul Muththalib Radiyallahu ‘Anhu, dan tidak bisa memberi ketetapan antara dia, Ja’far, dan Zaid bin Haritsah selain keputusan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Barra’ bin Azib Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam melakukan umrah pada bulan Zulqa’dah, maka penduduk Mekah tidak mengizinkan beliau memasuki Mekah hingga Rasulullah membuat kesepakatan dengan mereka bahwa beliau hanya akan tinggal di Mekah selama tiga hari. Ketika telah lewat tiga hari, penduduk Mekah mendatangi Ali dan berkata, “Sampaikan pada shahabatmu untuk segera keluar dari wilayah kami karena waktunya telah habis.” Maka Nabi dan para shahabatnya pun keluar dari Mekah. Tiba-tiba mereka diikuti oleh Hamzah seraya memanggil, “Wahai putra pamanku!” Ali pun membawanya dan berkata kepada Fathimah, “Bawa serta putri pamanmu.” Lalu Ali berselisih dengan Zaid dan Ja’far mengenai hak asuhnya. Ali berkata, “Saya lebih berhak mengasuhnya karena dia putri pamanku dan bibinya adalah istriku.” Sementara Zaid berkata, “Dia adalah putri saudaraku.” Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam memutuskan untuk menyerahkannya pada bibinya seraya berkata, “Bibi sama seperti Ibu.” Beliau berkata pada Ali, “Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu.” Lalu berkata pada Ja’far, “Engkau menyerupai aku dan akhlakku.” Kemudian berkata pada Zaid, “Engkau adalah saudara kami dan pelayan kami.”

Ali terkenal sangat zuhud. Dia makan dari hasil jerih payahnya sendiri, mengambil sendiri air dari sumur, padahal dia menantu Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Bahkan istrinya, Fathimah menggiling gandum dengan batu gilingan hingga kedua tangannya lecet.
Ali senang menjamu tamu, mudah memberi orang-orang yang membutuhkan, dan memuliakan utusan mereka. Ali Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Mengumpulkan beberapa shahabatku untuk menyantap bersama satu atau dua sha’ makanan lebih saya sukai daripada pergi ke pasar untuk memerdekakan budak.”

Suatu hari datang padanya seorang laki-laki berkata, “Wahai Amirul mukminin, saya membutuhkanmu. Saya telah memintanya kepadamu. Jika engkau memenuhi permintaanku ini saya akan memuji Allah dan berterima kasih kepadamu. Jika tidak, saya memuji Allah dan memaafkanmu.”

Ali berkata, “Tulislah di tanah, saya tidak suka melihat kehinaan peminta-minta pada wajahmu.”

Maka orang itu menulis, “Saya orang  yang butuh bantuan.”

Ali lantas berkata, “Bawakan padaku sehelai pakaian.” Lalu didatangkanlah sehelai kain dan diberikannya pada orang itu. Orang itu segera mengambil dan memakainya, lalu memuji Ali dengan gubahan syair.

Kemudian Ali berkata, “Bawakan padaku uang dinar.” Maka didatangkanlah uang seratus dinar dan diberikannya pada orang itu. Seseorang berkata kepada Ali, “Wahai Amirul mukminin, engkau memberinya pakaian dan uang seratus dinar?”

Ali menjawab, “Ya, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Posisikan orang sesuai dengan kedudukannya.” Ini adalah kedudukan orang itu di sisiku.”

2. Keimanan, ketaatan, dan sifat wara’ Ali
Ali Radiyallahu ‘Anhu senantiasa memelihara pelaksanaan shalat sunnah baik pada malam hari maupun siang hari. Dia kerap kerap shalat sunnah sebelum zhuhur empat rakaat yang panjang, ketika ditanya tentang hal itu dia menjawab, “Saya melihat Rasulullah melaksanakan shalat seperti itu.” Di samping itu Ali juga selalu shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar. Dia berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” Ali tidak pernah meninggalkan shalat Dhuha dan membiasakan diri untuk membaca wirid yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kepadanya, yaitu membaca tasbih, tahmid, dan takbir seratus kali pada waktu pagi dan petang. Ali tidak pernah meninggalkan itu baik diperjalanan maupun di rumah, baik kala sehat maupun sedang sakit, sehingga saya berkata mengenai hal itu, “Saya tidak pernah melewatkannya sejak saya mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kecuali pada malam terjadinya perang Shiffin, saya lupa, dan baru ingat di penghujung malam, maka saya langsung membacanya.”

Ali Radiyallahu ‘Anhu senantiasa berhubungan dengan kitabullah. Dia berkata, “Menurut saya tidak pantas jika seorang berakal tidur tanpa membaca beberapa ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Ayat-ayat itu merupakan harta karun yang tersimpan di bawah Arys.”
Di samping itu Ali juga gemar bersedekah, mudah memberi, dermawan, dan murah hati. Bahkan Ali memiliki banyak harta wakaf yang dijadikan sebagai sedekah jariyah. Hasil dari semua itu mencapai 40 ribu dinar.

Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu berpendapat mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”(QS.Al-Baqarah [2]: 274) bahwa ayat tersebut terkait dengan Ali bin Abi Thalib. Dia pernah memiliki empat ribu dirham, lalu dia menginfakkan semuanya. Pada malam hari seribu, siang hari seribu, secara sembunyi seribu, dan secara terang-terangan seribu.

Ali juga terkenal dengan sifat wara’, qana’ah, suka menangis, cerdas, dan berpikiran tajam.
Suatu hari dibawakan padanya kurma kering, Ali pun memakannya diikuti dengan minum air, kemudian dia memukul perutnya seraya berkata, “Siapa yang dimasukkan oleh perutnya ke dalam neraka, maka Allah akan menjauhkannya.”

Pada kesempatan lain Ali melakukan ziarah kubur bersama Kumail bin ziyad. Ketika sampai diperkebunan dia berkata, “Wahai ahli kubur, Wahai penghuni tempat yang sepi, Apa kabar kalian? Adapun kabar dari kami, harta telah dibagikan, anak-anak telah menjadi yatim, pasangan telah terganti. Inilah kabar kami. Bagaimana kabar kalian?” Lalu Ali menoleh ke Kumail dan berkata, “Wahai Kumail, seandainya mereka diizinkan menjawab, mereka akan berkata, “Sesungguhnya bekal terbaik adalah ketakwaan.” Kemudian Ali menangis dan berkata, “Wahai Kumail, kuburan adalah kotak amal dan saat kematian datang engkau akan memperoleh kabar yang sesungguhnya.”

Di antara doa yang kerap diucapkannya adalah, “Aku berlindung kepada-Mu dari sulitnya cobaan, kemalangan yang susul menyusul, dan kegembiraan para musuh. Aku berlindung kepada-Mu dari penjara, belenggu, dan cemeti.”

“Ya Allah, sesungguhnya dosa-dosaku tidak akan mencederai-Mu dan rahmat-Mu kepadaku tidak akan mengurangi kemuliaan-Mu.”

3. Keilmuan Ali
Sejak muda, Ali memperoleh pengajaran dari Kitabullah yang mulia dan hikmah nabawiyah. Dia mengambil ilmu yang benar dan luhur dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Hal itu didukung oleh keadaan Ali yang memiliki otak yang cerdas, lisan yang gemar bertanya, telinga yang mendengar dan pandangan yang tajam. Ali termasuk orang yang hafal Al-Qur’an pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan mengetahui tafsir dan takwil.

Ali bercerita tentang dirinya dalam rangka mengungkapkan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia berkata, “Demi Allah, tidak turun satu ayat pun kecuali aku mengetahui pada peristiwa apa , di mana, dan mengenai siapa ayat itu turun. Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku otak yang cerdas dan lisan yang pandai berkata-kata.”

Ali juga pernah berkata, “tanyakanlah padaku tentang kitabullah. Tidak ada satu ayat pun melainkan saya mengetahui apakah ayat itu turun pada malam hari atau siang hari, di dataran rendah atau pegunungan.”

Di tambah lagi dengan keberkahan doa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam untuknya ketika beliau mengutusnya ke Yaman sebagai hakim. Mengenai hal ini Ali Radiyallahu ‘Anhu menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutusku ke Yaman. Saya pun berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau mengutusku padahal aku masih mudah, engkau mengangkatku sebagai hakim padahal aku tidak mengerti hukum!” Maka beliau menepuk dadaku dengan tangannya, kemudian berdoa, “Ya Allah, tunjukilah hatinya dan tetapkan lisannya.” Demi Allah, sejak saat itu aku tidak pernah ragu dalam memutuskan perkara antara dua orang.”

Para shahabat memuji keilmuan Ali. Pemuka shahabat banyak yang bertanya padanya dan mengutip ucapannya dalam berbagai persoalan dan masalah. Bahkan Umar pernah berkata, “Ali adalah yang paling baik memutuskan perkara di antara kami.” Lebih jauh Umar berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari masalah yang Abu Hasan (Ali) tidak menanganinya.”

Sementara Abdullah bin Mas’ud berkata, “Waktu itu kami berbincang-bincang bahwa orang yang paling baik dalam memutuskan perkara di Madinah adalah Ali bin Abi Thalib.”
Ibnu Abbas berkata, “Jika seorang tsiqah (terpercaya) menyampaikan fatwa dari Ali, maka kami tidak akan melampauinya.

Sedangkan Aisyah Ummul mukminin berkata, “Adapun Ali, adalah orang yang paling mengerti tentang sunnah,”

Meski demikian, Ali tidak pernah menyerang suatu fatwa. Jika dia ditanya tentang sesuatu yang tidak difahaminya, dengan tenang dia akan menjawab, “Saya tidak tahu.”
Pernah suatu kali dia ditanya tentang suatu masalah, dia menjawab, “Saya tidak memahami hal itu. Alangkah menenangkan hati, saya ditanya tentang sesuatu yang saya tidak pahami lalu saya menjawab, “Saya tidak tahu!”

Ali meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan dari istrinya Fathimah serta dari Abu Bakar, Umar, dan Miqdad bin Amr.

Ilmunya tersebar luas di kalangan para shahabat dan tabi’in. Di antara yang meriwayatkan hadits darinya adalah anak-anaknya: Hasan, Husein, Muhammad Al-Akbar (yang dikenal dengan nama Ibnu Al-Hanafiyah), Umar, dan Fathimah. Begitu juga cucunya, Muhammad bin Umar bin Ali, keponakannya Abdullah bin Ja’far, putra saudarinya Ja’dah bin Hubairah Al-Makhzumi, dan sekertarisnya Ubaidillah bin Abi Rafi’.

Dari kalangan shahabat terdapat sejumlah besar yang meriwayatkan hadits dari Ali, di antaranya: Abdullah bin Mas’ud, Al-Barra’ bin Azib, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Shuhaib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Jabir bin Abdullah, Abu Musa Al-Asy’ari, dan lain-lain.

Sementara dari kalangan Tabi’in ada Zirr bin Hubaisy, Abul Aswad Ad-Du’ali, Al-Harits bin Abdullah Al-A’war, Syuraih bin Hani’, Syaqiq bin Salamah, Amir Asy-Sya’bi, Alqalamah bin Qais, Marwan bin Al-Hakam, Abu Abdurrahman As-Sulami, dan masih banyak lagi.
Dalam kitab-kitab sunnah dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terdapat 586 hadits yang diriwayatkan dari Ali.

4. Syair Ali
Ali suka membaca syair dan memiliki pandangan positif tentang syair. Bahkan ada kumpulan syair yang dianggap sebagai karya Ali sehingga dinamakan Diwan Ali bin Abi Thalib. Diwan ini meliputi cukup banyak kasidah, namun hanya sedikit yang benar-benar merupakan karya Ali. Sedangkan mayoritas isinya merupakan sisipan.

5. Kecerdasan dan firasat Ali
Di atas semua yang telah di sebutkan tadi, Ali di kenal cerdas dan jenius. Suatu hari seseorang yang membencinya datang padanya dan memujinya secara berlebihan. Maka Ali berkata padanya, “Saya tidak seperti yang engkau ucapkan, saya di atas apa yang ada pada dirimu.”

Pada kesempatan lain, seseorang yang membencinya juga berkata padanya, “Semoga Allah menetapkanmu.” Ali segera menjawab, “Di atas dadamu.”

Seseorang berkata padanya, “Kenapa pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar situasi begitu tenang sedangkan masa kekhalifahanmu dan Utsman suasana menjadi keruh?” Jawab Ali, “Ketika Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, saya dan Utsman membantunya. Sementara engkau dan orang seperti engkau yang membantu saya dan Utsman.”

Seorang Yahudi datang menemuinya dan berkata, “Setelah kepergian Nabi kalian, hanya dalam jangka waktu dua puluh sekian tahun kalian saling membunuh satu sama lain.” Ali menjawab, “Kalian, belum lagi kering kaki kalian dari air laut (merah), kalian menuntut Musa dengan mengucapkan, “Hai Musa, buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka memiliki banyak tuhan.”

6. Mendapat kabar gembira berupa surga
Berbagai kelebihan tersebut ditambah dengan sifatnya yang mulia, posisinya sebagai orang yang paling pertama memeluk Islam, pengorbanannya di jalan Islam, dan kecintaannya kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan kepatuhannya kepada beliau membuat Ali pantas untuk menjadi orang yang pertama masuk surga Firdaus. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan kabar gembira tersebut di berbagai kesempatan dalam banyak ucapannya.

Dalam hadits Sa’id bin Zaid disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang akan masuk surga, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali…..” hingga beliau menyebutkan sepuluh nama.

Jabir bin Abdullah meriwayatkan, “Saya berkunjung bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ke rumah seorang perempuan, lalu dia menyembelih seekor kambing untuk kami. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Akan masuk seorang ahli surga.” Maka masuklah Abu Bakar Radiyallahu ‘Anhu. Lalu beliau berkata lagi, “Akan masuk seorang ahli surga.” Maka masuklah Umar Radiyallahu ‘Anhu. Kemudian beliau berkata, “Akan masuk seorang ahli surga, Ya Allah, jika Engkau menghendaki jadikanlah orang ini Ali.” Maka masuklah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu.

Ali Radiyallahu ‘Anhu pernah berkata, “Ketika Rasulullah memgang tanganku di salah satu penjuru Madinah, kami melewati sebuah kebun. Saya lantas berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah indahnya kebun ini.” Beliau enjawab, “Engkau memiliki yang lebih baik dari itu di surga.”

7. Kedudukannya di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam
Ali menempati posisi yang mulia di sisi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam karena banyak kebijakannya, besar jasanya, dan berbagai keutamaannya serta hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Banyak hadits yang menyatakan hal tersebut, sehingga Imam Ahmad berkata, “Tidak ada riwayat tentang keutamaan seorang shahabat dengan sanad yang baik seperti yang diriwayatkan tentang keutamaan Ali Radiyallahu ‘Anhu.” Hal ini terjadi karena Ali Radiyallahu ‘Anhu hidup lebih lama daripada khalifah pendahulunya, ditambah lagi adanya perselisihan di masanya dan adanya kelompok yang membelot darinya. Para shahabat pun meriwayatkan keutamaan Ali sebagai balasan atas mereka yang melawannya dan orang-orang berusaha mencari berbagai keutamaan tersebut hingga riwayat-riwayatnya tersebar di kalangan umum.

Bukti yang paling nyata tentang keutamaan kedudukan Ali di hati Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah beliau menikahkannya dengan putri beliau Fathimah, pemimpin kaum wanita ahli surga dan keluarga yang paling beliau cintai. Dia pun menjadi menantu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan termasuk keluarga beliau. Ketika turun ayat, “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.”(QS.Ali Imran [3]: 61). Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memanggil Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein lalu berkata, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengambil pakaiannya dan meletakkannya di atas Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein lalu membaca, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlu bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. Al-Ahzab [33]: 33), kemudian berkata, “Mereka adalah keluargaku, Ya Allah, keluargaku lebih berhak.”

Suatu ketika Rasulullah memegang tangan Hasan dan Husein, lalu berkata, “Siapa yang mencintaiku dan mencintai dua anak ini, ayah, dan ibunya, akan bersamaku pada hari kiamat.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selesai meleksanakan haji Wada’ dan berangkat menuju Madinah, beliau berkhutbah di suatu tempat bernama Ghadir Khum . Dalam khutbah tersebut beliau menjelaskan keutamaan Ali Radiyallahu ‘Anhu, beliau memegang tangannya lalu berkata, “Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka orang ini adalah walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintainya, Ya Allah musuhilah orang yang memusuhinya.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyeru umat ini untuk mencintai Ali dan menghormatinya, hingga beliau menjadikan kecintaan padanya sebagai tanda kesungguhan iman seseorang dan terbebasnya dia dari sifat munafik. Beliau berkata, “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan oarang mukmin tidak akan membenci Ali.”
Ali sendiri menceritakan hal itu, dia berkata, “Demi Allah, janji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepadaku, “Tidak akan mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak akan membenciku kecuali orang munafik.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat menuju Tabuk, beliau memerintahkan Ali untuk tetap tinggal di Madinah. Muncul tuduhan miring dari orang-orang yang suka menyebar berita dusta. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan sabdanya kepada Ali, “Posisimu dariku seperti Harun dari Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”

Pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam masih hidup, beliau memerintahkan untuk menutup semua pintu yang dibuka ke arah Masjid Nabawi kecuali pintu rumah Ali. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memerintahkan kepada kami untuk menutup pintu-pintu yang mengarah ke Masjid Nabawi dan membiarkan pintu Ali.” Hal itu karena Fathimah binti Rasulullah membutuhkannya untuk pergi ke rumah ayahnya.

Ali memperoleh keberkahan doa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam banyak kesempatan. Pada perang Khaibar, Ali mengeluhkan sakit pada matanya. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memanggilnya, meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Maka mata Ali pun sembuh seketika.

Di samping itu, Ali Radiyallahu ‘Anhu termasuk salah seorang penulis wahyu. Dia juga menulis surat, piagam, dan surat perjanjian di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dialah yang menulis poin-poin perjanjian damai Hudaibiyah.

Ali pernah mengenakan selimut Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pada malam hijrahnya beliau. Dia tidur di tempat tidur beliau dan mempertaruhkan jiwanya untuk beliau. Ali juga ikut serta dalam perang Badar, sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah berkata kepada Umar, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah memberikan keringanan kepada orang-orang yang ikut dalam perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah sesuka kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian?” Di samping itu Ali pun ikut dalam peristiwa Bai’atur ridwan. Dengan demikian dia termasuk golongan orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon.” (QS. Al-Fath [48]: 18 ).

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pun bersabda, “Tidak akan masuk neraka seorang pun yang berbai’at di bawah pohon.”

Ali juga ikut dalam perang Khaibar. Pada perang itu Ali mendapat kemuliaan yang tidak ada duanya, karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan, “Saya akan memberikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan sebaliknya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya, dia tidak akan lari dan Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya.” Ternyata orang itu adalah Ali bin Abi Thalib.

8. Kedudukan di sisi para shahabat
Para shahabat yang mulia mencintai Ali karena berbagai keutamaannya, karena dia orang yang pertama masuk Islam, dan karena kekerabatannya dengan Rasulullah. Mereka memposisikan Ali seperti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memposisikannya.

Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Umar berkata, “Ali diberi tiga keutamaan, jika aku memperoleh satu saja dari ketiga keutamaan dari keutamaan itu lebih aku sukai dari unta merah.” Umar ditanya, Apakah tiga keutamaan itu wahai Amirul mukminin?” Umar menjawab, “Pernikahannya dengan Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, tinggalnya di masjid bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia boleh melakukan di sana apa yang boleh dilakukan Nabi, dan panji pada perang Khaibar.”

Ketika sekelompok orang mencela Ali di hadapan Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’ad berkata, “Sungguh saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata mengenai tiga keutamaan Ali, jika aku memperoleh satu saja dari tiga keutamaan itu lebih aku sukai dari unta merah. Saya mendengar beliau bersabda, “Sesungguhnya posisi Ali denganku seperti posisi Harun dengan Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” Saya juga mendengar beliau bersabda, “Sungguh saya akan berikan panji pada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan sebaliknya Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Lalu saya mendengar beliau bersabda, “Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka Ali adalah walinya.”

Qais bin Abi Hazim berkata, “Waktu itu saya sedang di Madinah. Ketika saya sedang berkeliling di pasar, saya melihat orang-orang mengerubungi seorang penunggang kuda yang sedang mencela Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu. Tiba-tiba datang Sa’ad bin Abi Waqqash dan berhenti dikerumunan itu. Dia bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada orang yang mencela Ali bin Abi Thalib.” Maka Sa’ad maju dan menerobos kerumunan hingga sampai ke tempat orang itu. Lalu dia berkata, “Hai fulan, atas dasar apa engkau mencela Ali? Bukankah dia orang yang pertama masuk Islam? Bukankah dia orang yang pertama yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam? Bukankah dia orang yang paling zuhud? Bukankah dia orang yang paling berilmu?” Sa’ad terus menyebut keutamaan Ali hingga dia berkata, “Bukankah dia menantu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam? Bukankah dia pembawa panji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam berbagai peperangan?” Kemudian Sa’ad menghadap ke kiblat dan mengangkat tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, orang ini mencela salah seorang wali-Mu, maka tampakkanlah kekuasaan-Mu pada mereka sebelum mereka meninggalkan tempat ini.” Qais berkata, “Demi Allah, sebelum kami meninggalkan tempat itu, tiba-tiba kuda orang itu terperosok hingga orang itu terlempar ke bebatuan, kepalanya pun pecah dan orang itu tewas ditempat.”

Dalam kesempatan lain, seseorang menghina Ali di hadapan Sa’id bin Zaid Radiyallahu ‘Anhu. Sa’id pun menghardiknya dan menyampaikan kepada orang-orang hadits tentang sepuluh orang yang dijamin masuk surga, maka dia menyebut Ali orang keempat. Kemudian Sa’id berkata, “satu peperangan yang diikuti oleh mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam hingga wajah mereka tertutup debu, jauh lebih baik dari amalan salah seorang dari kalian sepanjang umurnya, meskipun dia diberi umur yang panjang seperti Nuh.”

Mu’awiyah bertanya kepada Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhuma tentang keutamaan Ali. Ibnu Abbas menjawab, “Semoga Allah merahmati Abu Hasan. Demi Allah dia adalah pemilik ilmu yang benar, orang yang bertakwa, orang yang cerdas, pemilik setumpuk keelokan, cahaya bagi orang yang berjalan di kegelapan malam, penyeru kepada tujuan yang agung, mengetahui apa yang terdapat di dalam kitab-kitab terdahulu, menguasai takwil, terhubung dengan sebab-sebab petunjuk, meninggalkan kedzaliman dan tindakan yang menyakiti orang lain, menjahui jalan menuju kebinasaan, yang terbaik di kalangan oarang yang beriman dan bertakwa, pemuka bagi setiap yang berpakaian, yang terbaik di antara yang melaksanakan haji dan sa’i, yang paling adil, orator terbaik setelah para Nabi, menyaksikan dua kiblat, apakah ada yang menyamainya? Suami wanita terbaik, ayah dari dua cucu Nabi, saya tidak pernah melihat orang yang menyamainya dan tidak akan melihatnya hingga hari kiamat. Siapa yang melaknatnya akan dilaknat oleh Allah dan seluruh hamba-Nya hingga hari kiamat.”

Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Riyah bin Al-Harits, dia berkata, “Sekelompok orang datang menemui Ali di Rahbah (Sebuah tempat di Kufah), mereka berkata, “Assalamu’alaikum wahai wali kami?” Ali balik bertanya, “Bagaimana mungkin saya menjadi wali kalian padahal kalian bangsa Arab?” Mereka menjawab , “Kami mendengar Rasulullah berkata saat di Ghadir khum, “Siapa yang menjadikan saya sebagai walinya maka ini (Ali) adalah walinya.” Riyah berkata, “Ketika mereka pergi saya mengikuti mereka. Lalu saya bertanya, “Siapa gerangan mereka?” Mereka menjawab, “Sekelompok orang dari kaum Anshar, di antara mereka terdapat Abu Ayyub Al-Anshari.”

Akan tetapi semua itu tidak membuat para shahabat melebih-lebihkan posisi yang seharusnya atau menganggap Ali bahwa Ali adalah orang yang terjaga dari dosa. Mereka tetap menganggapnya seperti shahabat yang lain, bisa terkena sesuatu yang mengenai para shahabat yang lain.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kami tidak menyamakan Abu Bakar dengan seorangpun, lalu Umar, kemudian Utsman, selanjutnya kami tidak membeda-bedakan shahabat yang lain.”
Bahkan Ali sendiri tidak menganggap dirinya lebih baik dari Abu Bakar dan Umar. Sebagaimana diceritakan oleh putranya Muhammad yang di kenal dengan julukan Ibnu Al-Hanafiyah, dia berkata, aku bertanya kepada ayahku, “Siapa manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dia menjawab, “Abu Bakar.” Saya bertanya lagi, “Lalu siapa?” Dia menjawab, “Umar.” Dan saya khawatir dia akan menyebut Utsman, saya pun berkata, “Lalu engkau?” Dia menjawab, “Saya hanyalah salah satu dari kaum muslimin!”

Yang paling benar menurut Ahlus sunnah tentang urutan empat orang khalifah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Sedangkang pendapat ahli Kufah yang mengutamakan Ali, maka keutamaan itu hanya atas Utsman, tidak atas Abu Bakar dan Umar. Namun Ahlus Sunnah tidak ada yang berpendapat demikian.
Tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa, “Siapa yang mengutamakan Ali atas Utsman, sungguh telah merendahkan kaum Muhajirin dan Anshar.” Karena mereka sepakat untuk membaiat Utsman meski Ali ada di antara mereka. Tentu mereka sepakat untuk memilih yang terbaik dari mereka.

D. KHALIFAH KEEMPAT, DAN WASIAT PALSU TENTANG KEKHALIFAHAN

1. Bersama tiga khalifah sebelumnya
Hubungan Ali Radiyallahu ‘Anhu dengan tiga khalifah pendahulunya didasari oleh akhlak mulia yang dipelajari di bawah naungan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia mencintai dan menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka, membenarkan ucapan mereka, berbicara jujur kepada mereka, membantu mereka dengan pikiran dan nasihat, mendukung mereka saat terjadi musibah, tidak membiarkan mereka jatuh pada kesulitan, bahkan membela mereka dengan jiwanya dan putranya, serta membenci orang yang membenci mereka. Tidak ada gambaran buruk tentang hubungan dengan mereka selain dusta yang dibuat oleh para pembohong.

Ali berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memajukan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat padahal saya ada di sana dan dalam kondisi sehat. Jika memang beliau ingin memajukan saya, tentu beliau melakukannya. Maka kami ridha untuk urusan dunia kami diserahkan pada orang yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya untuk urusan agama kami.”

Ali membai’at Abu Bakar di masjid pada hari pertama atau di hari kedua dari wafatnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Ali senantiasa bersamanya, shalat di belakangnya, menghadiri musyawarah, ikut serta bersamanya dalam peperangan menumpas orang-orang yang murtad. Bahkan ketika Abu Bakar memimpin pasukan kaum muslimin sambil menghunus pedang dari Madinah sampai Dzul Qassha, Ali lah yang menuntun kendaraan Abu Bakar!

Dengan demikian, Ali mengakui kelebihan dan keutamaan Abu Bakar, bahkan pada saat dia telah menjadi khalifah. Khaitsamah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Zinad, dia berkata, “Seorang berkata kepada Ali Radiyallahu ‘Anhu, ”Wahai Amirul mukminin, kenapa kaum Muhajirin dan Anshar memilih Abu Bakar padahal engkau lebih baik darinya dan lebih dulu masuk Islam dari padanya?” Ali menjawab, “Jika engkau orang Quraisy, maka saya rasa engkau dari A’idzah?” Orang itu mengiyakan. Ali berkata, “Kalau bukan karena orang mukmin memohon perlindungan kepada Allah, saya pasti telah membunuhmu. Jika saya masih hidup, akan datang padamu rasa takut yang menggetarkan jiwamu. Celaka kamu! Sesungguhnya Abu Bakar mendahului saya dalam empat hal. Dia mendahului saya dalam keimanan, dalam menjadi imam, dalam hijrah ke gua, dan dalam menyebarkan salam. Celaka kamu! Sesungguhnya Allah mencela semua orang dan memuji Abu Bakar. Allah berfirman, “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya.”(QS. At-Taubah [9]: 40).

Ketika putranya Muhammad Ibnu Al-Hanafiyah bertanya padanya tentang manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia menjawab, “Abu Bakar, lalu Umar.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan darinya secara mutawatir bahwa dia berkata di atas sebuah mimbar di Kufah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya manusia terbaik di kalangan umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, lalu Umar. Jika saya ingin menyebut yang ketiga, pasti saya akan menyebutnya.”

Ali sangat sedih atas wafatnya Abu Bakar. Dia menyampaikan ungkapan duka atas wafatnya Abu Bakar sebagai berikut, “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Bakar. Engkau, demi Allah orang yang paling pertama masuk Islam, yang paling murni keimanannya, dan yang paling mantap keyakinannya. Engkau membenarkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika semua orang mendustakannya, engkau membantunya dengan hartamu saat semua orang menolak untuk membantunya, dan engkau berdiri bersamanya saat semua orang tetap duduk. Engkau, Demi Allah, menjadi benteng bagi agama Islam dan menjadi bencana bagi orang-orang kafir. Hujjah dan pandanganmu tidak pernah lemah, dirimu tidak mengenal rasa takut.”

Ketika Umar diangkat menjadi khalifah mengantikan Abu Bakar, Ali termasuk orang yang membai’atnya dan menjadi tangan kanannya. Dia selalu menyertai Umar untuk bermusyawarah dengannya mengenai berbagai persoalan. Umar kerap meminta fatwa padanya mengenai berbagai masalah dan meminta pertimbangan hukum pada masa kekhalifahannya. Ali juga ikut menyertai Umar saat pergi ke Syam dan mendengar khutbahnya di Jabiyah.

Ali termasuk salah seorang yang ikut menetapkan gaji khalifah Umar dan menjadi hakim di Madinah. Umar pernah memujinya dengan ungkapan, “Ali orang yang paling baik dalam memutuskan perkara di antara kami.” Ali juga ikut berperan dalam menentukan arah penaklukan. Bahkan Umar sering mengikuti pendapatnya.

Diriwayatkan dari Suwaid bin Ghaflah, dia berkata, “Saya melewati suatu kaum yang membicarakan Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma dan melecehkan mereka. Saya pun mendatangi Ali Radiyallahu ‘Anhu dan menyampaikan padanya hal tersebut. Maka Ali berkata, “Allah melaknat orang yang menyembunyikan sesuatu dalam dirinya tentang dua orang itu kecuali sesuatu yang baik dan indah. Dua orang itu merupakan saudara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan menterinya!” Lalu Ali naik keatas mimbar dan menyampaikan khutbah yang luar biasa, “Ada apa dengan kaum yang membicarakan dua tokoh Quraisy dan dua pemimpin kaum muslimin dengan cara yang saya berlepas diri darinya dan atas ucapan tersebut saya akan menghukumnya?! Demi Dzat Yang menumbuhkan biji dan menciptakan manusia, tidak mencintai keduanya kecuali orang yang beriman dan bertakwa, dan tidak membenci keduanya kecuali orang berdosa dan berperangai buruk! Keduanya menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan benar dan setia. Keduanya memberi perintah, melarang, dan menjatuhkan hukuman, tidak pernah melampaui pendapat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam semua itu.

Bahkan Rasulullah tidak mencintai orang lain seperti beliau mencintai keduanya. Ketika Rasulullah pergi, beliau ridha pada keduanya dan semua orang pun ridha pada mereka.” Lalu Ali berkata, “Siapa yang mencintai keduanya berarti dia mencintaiku, siapa yang membenci keduanya berarti membenciku dan saya berlepas diri darinya. Ketahuilah, manusia terbaik di antara umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Allah Maha Mengetahui di mana letak kebaikan. Sekian khutbah saya semoga Allah mengampuni saya dan kalian.”

Pada masa Utsman, Ali termasuk golongan Majelis Syura, senantiasa membantu Utsman selam periode kekhalifahannya, dan mencela mereka yang memberontak padanya. Ali berkata kepada mereka pada saat mereka berkemah di sekitar Madinah, “Orang-orang shalih telah mengetahui bahwa pasukan Dzul Marwah dan pasukan Dzul Khusyub terlaknat melalui lisan Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka pulanglah kalian, semoga Allah tidak mempertemukan kalian dengan waktu pagi!” Lalu Ali menaiki tunggangannya dan mengantarkan sekantung air ke tempat khalifah Utsman yang terkepung.

Ali bahkan bangkit untuk menolong Utsman. Dia mengenakan ikat kepala Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan menghunus pedangnya, lalu mendatangi rumah Utsman bersama anaknya Hasan dan Abdullah bin Umar serta beberapa orang dari dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka lalu masuk menemui Utsman. Ali berkata padanya, “Demi Allah, saya melihat orang-orang itu berniat untuk memerangimu. Perintahkan kami untuk memerangi mereka!” Namun Utsman menolak untuk memberi perintah. Ali mengulangi ucapannya dan Utsman tetap pada pendiriannya. Maka Ali berkata, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa kami telah mengerahkan segala kemampuan kami.” Lalu Ali pergi ke masjid, tak lama kemudian datang waktu shalat. Orang-orang berkata padanya, “Wahai Abu Hasan, majulah sebagai imam shalat!” Ali menjawab, “Saya tidak akan mengimami kalian sedangkan khalifah dalam keadaan terkepung. Saya akan shalat sendirian.” Maka Ali pun shalat sendirian lalu pulang ke rumahnya. Anaknya menemaninya dan berkata, “Demi Allah, Wahai ayah, mereka telah menyerang rumah khalifah!” Ali berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi rajiun, demi Allah, mereka memeranginya.” Mereka bertanya, “Di mana dia (Utsman) wahai Abu Hasan?” Jawab Ali, “Di surga.” Mereka bertanya lagi, “Di mana mereka (pemberontak) wahai Abu Hasan?” Jawab Ali, “Di neraka, demi Allah!” Ali mengucapkan tiga kali.

Ketika Utsman terbunuh dan beritanya sampai kepada Ali, dia berkata, “Celakalah mereka hingga akhir masa! Lalu Ali masuk kerumah Utsman dan memeluk jasadnya. Ali terus menangis hingga orang yang hadir di sana menyangka bahwa Ali akan mengikuti Utsman.
Dalam banyak kesempatan Ali menyatakan kepada Allah bahwa dia tidak terlibat dalam pembunuhan Utsman. Cukup banyak jalur periwayatan yang menerangkan hal tersebut darinya.

Ketika dia mendengar bahwa para pembunuh Utsman telah menyesali perbuatan mereka, Ali membaca firman Allah Subhamahu wa Ta’ala. “(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”(QS. Al-Hasyr [59]: 16).

2. Dusta tentang perebutan hak kekhalifahan dari Ali
Itulah sekelumit tentang hubungan Ali dengan tiga khalifah pendahulunya, seperti itulah kedudukan mereka dihatinya. Tidak ada diantara mereka kecuali rasa cinta, persaudaraan, dan saling mendahulukan. Itulah akhlak mulia yang mereka pelajari dibawah naungan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Salla.

Akan tetapi, banyak penulis terdahulu dan pengarang kontemporer yang menyebarluaskan berita bohong yang menyatakan bahwa Ali ditolak dari khalifah setelah Utsman, sebagaimana ditolak dari kekhalifahan sebelumnya, bahwa para shahabat bersengkongkol untuk merebut kekhalifahan atas dasar kesukaan atas bani Hasyim, bahwa Ali mengingkari bencana yang menimpahnya dengan dialihkannya pembai’atan kepada selain dirinya setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, bahwa Ali menganggap dirinya lebih berhak atas kekhalifahan dari pendahulunya, bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam telah mempersiapkan kekhalifahannya dan mempengaruhi orang-orang untuk itu dengan menjadikan komandan perang pada kesempatan lain, bahwa tidak ada hubungan yang baik antara Ali dan para shahabat, bahwa Ali memaafkan Abu Bakar dan Umar atas perbuatan mereka merebut kekhalifahan darinya, dan Ali baru membai’at Abu Bakar setelah wafatnya Fathimah.

Semua itu dusta dan kebohongan yang dibuat-buat, ditolak oleh kebenaran dan keadilan, diingkari oleh sejarah yang benar, didustakan oleh Ali sendiri lewat pernyataan yang jelas, bahkan pada masa kekhalifahannya.

Pendapat seperti itu merupakan sebuah bentuk penghianatan yang besar dan tuduhan tak berdasar atas diri para shahabat yang mulia. Para pembohong itu akan mendapat kerugian di hari akhir nanti karena Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam akan memusuhi mereka akibat perbuatan mereka mencela para shahabat beliau, padahal beliau telah melarangnya. Celaan apa yang lebih besar dari menuduh para shahabat menyalahi wasiat yang disangka untuk Ali atau mengakhiri haknya dari Ali?

Bagaimana mungkin para shahabat berbuat hal demikian, padahal mereka adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah dalam kitab-Nya, ditetapkan keutamaannya, dan dinyatakan bahwa Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah?

Apakah mereka meragukan kesepakatan para Muhajirin dan anshar untuk membai’at Abu Bakar As-Shiddiq?

Atau mereka meragukan bai’at kaum muslimin secara umum, termasuk Ali, terhadap Umar Al-Faruq Radiyallahu ‘Anhu?

Atau mereka mengingkari pilihan para shahabat atas khalifah Utsman setelah musyawarah yang berat dan berlangsung selama tiga hari tiga malam, melibatkan penduduk kota dan pedesaan bahkan para gadis yang berdiam diri di rumah mereka?

3. Pengangkatan Ali sebagi khalifah dan pernyataan dusta tentang wasiat kekhalifahan
Ummul mukminin Aisyah Radiyallahu ‘Anha merupakan penjaga rahasia rumah kenabian, di rumahnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit, dan dirumah itu pula beliau meninggal dunia. Tentu Aisyah mengetahui apa yang diucapkan oleh Rasulullah di saat-saat terakhir dari kehidupan beliau di dunia. Beberapa orang menyebutkan bahwa Ali Radiyallahu ‘Anhu diwasiatkan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai penggantinya. Mendengar itu Aisyah berkata, “Kapan beliau mewasiatkan itu kepadanya? Padahal ketika beliau sakit beliau bersandar di dadaku -atau  berkata- di pangkuanku, lalu beliau meminta bejana, sesudah itu beliau rebahan di pangkuanku, saya tidak sadar bahwa beliau telah tiada. Jadi kapan beliau mewasiatkan itu padanya?”

Bahkan Ali sendiri menafikan hal itu, dia akan marah jika ada yang mengatakan di hadapannya bahwa dia adalah orang yang mendapat wasiat kepemimpinan setelah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Sikap tersebut diriwayatkan dalam dua kitab shahih dan kitab-kitab hadits lainnya. Sebagaimana terdapat dalam riwayat Yazid bin Syarik At-Taimi, dia berkata, “Ali berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, “Barang siapa yang mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitabullah dan lembaran ini –kata Abu Ibrahim, “Lembaran yang digantungkan di sarung pedangnya,”- maka sungguh dia pendusta. Di dalanya juga tertulis tentang unta (yang diambil sebagai zakat dan pembayar diyat) dan hukum-hukum seputar pembunuhan. Juga tertulis bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda mengenai Madinah, “

Madinah adalah tanah haram antara wilayah air hingga Tsaur . Jadi barangsiapa yang melakukan perbuatan bid’ah di Madinah atau melindungi orang yang melakukan bid’ah, maka dia akan mendapatkan kutukan Allah, kutukan Malaikat dan semua manusia, serta Allah tidak menerima taubat dan tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat. Jaminan perlindungan kaum muslimin adalah satu, orang paling rendah dari mereka (budak), bisa memberi perlindungan dengan jaminan itu. Barangsiapa yang mengakui orang lain yang bukan bapaknya sebagai bapaknya, atau mengakui orang lain yang bukan tuannya sebagai tuannya, maka dia akan mendapat laknat Allah, laknat para Malaikat dan laknat semua umat manusia, serta Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat.”

Amir bin Watsilah meriwayatkan salah satu sikap Ali yang mengingkari adanya wasiat yang disangka itu yang dikhususkan untuknya tanpa melibatkan shahabat lain, Amir berkata, “Waktu itu saya sedang bersama Ali bin Abi Thalib, lalu datang seorang laki-laki dan bertanya padanya, “Apa yang dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepadamu?” Ali pun marah dan berkata, “Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak memberi rahasia apapun kepadaku yang disembunyikan empat hal.” Orang itu bertanya,”Apa empat hal itu?” Jawab Ali, “Allah melaknant orang yang melaknat ayahnya, Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu untuk selain Allah, Allah melaknat oarang yang melindungi orang yang berbuat pelanggaran, dan Allah melaknat orang yang merubah tanda batas wilayah.”

Dalam riwayat lain dari Abu thufail, Amir bn Watsilah juga, dia berkata, “Ali ditanya, “Apakah Rasulullah mengkhususkan sesuatu kepadamu?” Ali menjawab, “Rasulullah tidak mengkhususkan kepada kami sesuatu yang tidak disampaikan kepada orang-orang, kecuali apa yang terdapat di sarung pedang ini. Maka Ali mengeluarkan sebuah lembaran yang berisi tulisan berikut, “Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang mencuri tanda batas wilayah, Allah melaknant orang yang melaknat ayahnya, dan  Allah melaknat oarang yang melindungi orang yang berbuat pelanggaran.”

Pada saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, Abbas bin Abdul Muththalib berkata kepada Ali, “Ayo kita pergi menemui Rasulullah untuk menanyakan pada siapa beliau menyerahkan urusan ini. Apakah diserahkan pada kita atau selain kita, yang penting kita mengetahuinya agar beliau berwasiat kepada kita.” Ali menjawab, “Demi Allah, jika kita tanya hal itu pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu beliau mencegahnya dari kita, orang-orang tidak akan pernah memberikannya kepada kita setelahnya. Saya, demi Allah tidak akan menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah.”

Ali pun menceritakan tentang saat-saat terakhirnya bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruhku untuk membawakan padanya sebuah piring, beliau menulis di atasnya sesuatu yang akan membuat umatnya tidak tersesat setelah kepergiannya. Maka saya khawatir beliau akan meninggal sebelum sempat menuliskannya. Saya pun berkata pada beliau, “Saya akan menghafal dan memahaminya.” Beliau berkata, “Saya mewasiatkan tentang shalat, zakat, dan budak-budak yang kalian miliki.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Hadits  yang tercantum dalam dua kitab shahih dan kita-kitab hadits lainnya, yang diriwayatkan dari Ali, membantah sangkaan kaum Rafidhah (Syiah) bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mewasiatkan kepadanya kekhalifahan. Jika memang benar sangkan mereka, tentu para shahabat tidak akan menolaknya. Mereka adalah orang-orang yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik pada saat beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Tidak mungkin mereka memilih orang yang tidak dipilih oleh Rasulullah dan mengabaikan orang yang telah dimajukan oleh beliau. Siapa yang menuduh para shahabat melakukan itu, berarti menuduh para shahabat melakukan pembangkangan terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam hukum dan ucapannya.

Siapa yang sampai pada posisi itu, berarti telah menanggalkan keislamannya dan mengingkari seluruh kesepakatan para imam, dan darahnya pun menjadi halal untuk ditumpahkan. Lalu, jika Ali memang memiliki wasiat tersebut, kenapa dia tidak mengeluarkannya dan memperlihatkannya pada para shahabat untuk menetapkan kepemimpinannya atas mereka? Jika dia tidak mampu untuk merealisasikan wasiat yang diberikan kepadanya berarti dia seorang yang lemah, dan orang yang lemah tidak pantas menjadi pemimpin dan Ali tidak mungkin seperti itu. Jika dia mampu tapi tidak melakukannya, berarti dia telah berkhianat, dan orang yang berkhianat diturunkan dari kepemimpinan. Jika dia tidak mengetahui keberadaan wasiat tersebut, berarti dia orang yang bodoh. Sebab orang-orang sesudahnya mengetahui hal itu. Semua itu mustahil terjadi, semua itu hanyalah dusta yang menyesatkan!

Namun kebohongan itu justru dianggap sesuatu yang menguntungkan bagi para pendusta. Setan lalu memolesnya hingga nampak sebagai sesuatu kebenaran meski tidak ada dalil dan bukti yang menguatkan, melainkan hanya bersandar pada tuduhan dan sangkaan. Kita berlindung kepada Allah dari apa yang mereka lakukan dalam mencampur adukkan fakta dan pengingkaran atas kebenaran. Mari kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dan setia pada Islam dan keimanan, semoga semua itu memberatkan timabangan kebaikan kita dan menjauhkan kita dari api neraka, sehingga kita dapat memperoleh kemenangan berupa surga. Sesungguhnya Allah Maha Mulia, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

E. PETUNJUK IMAM DALAM KEKHALIFAHANNYA, TERJANGAN FITNAH DAN KEBENARAN YANG TERUNGKAP

1. Pembai’atan Ali dan tata caranya
Bagi yang memperhatikan berbagai hadits shahih yang disebutkan di atas akan memahami tanpa menyisakan keraguan sedikitpun bahwa tidak ada wasiat yang disangkakan terhadap Ali dan tidak juga terhadap yang lainnya, bahwa para shahabat yang mulia telah berada di jalan yang benar dalam memilih para khalifah secara berurutan, bahwa Ali telah diposisikan pada kedudukan yang seharusnya sebagaimana diakui sendiri olehnya, bahwa memang tepat Ali menjadi khalifah yang keempat, tidak didahulukan dan tidak juga diakhirkan, bahwa setelah Utsman dibunuh, tidak ada dimuka bumu ini yang lebih pantas dari pada Ali untuk menjadi khalifah, maka kekhalifahan itu pun menemuinya sesuai takdirnya.

Dengan kepastiannya, Ali memang pantas untuk menjadi pemimpin umat Islam dan menjadi khalifah kaum muslimin.

Pada awalnya, saat diminta untuk menjadi khalifah, Ali merasa ragu untuk menerimanya. Mengingat baru terjadi peristiwa mengerikan yang dilakukan oleh para pemberontak yang membunuh khalifah Utsman dengan cara biadab dan semena-mena. Mereka kemudian menguasai keadaan di Madinah sementara tangan mereka belum lagi kering dari darah Khalifah yang syahid, Utsman bin Affan. Ali berfikir keras dan berusaha untuk menimbang-nimbang, sementara waktu terus berjalan dan terjadi kekosongan pada posisi khalifah yang dapat berakibat fatal bagi kelangsungan Islam, baik negara maupun masyarakatnya. Maka dia pun memutuskan untuk menerima kekhalifahan yang penuh dengan pertumpahan darah dan kejadian berat, tidak ada yang sanggup memikulnya kecuali orang yang seperti dirinya.

Baru saja Utsman terbunuh, semua orang termasuk para shahabat Nabi- mendesak Ali untuk menjadi khalifah. Mereka berkata, “Amirul mukminin Ali!” Bahkan mereka mendatangi rumahnya dan berkata padanya, “Kami akan membai’atmu, ulurkanlah tanganmu, engkau paling berhak atas kekhalifahan ini.” Ali lantas menjawab, “Bukan kalian yang memutuskan itu, akan tetapi mereka yang ikut serta dalam perang Badar lah yang memutuskan. Siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.”

Muhammad bin Al-Hanafiyah menceritakan, “Saat Utsman Radiyallahu ‘Anhu terbunuh, saya sedang bersama ayah saya (Ali). Dia lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang menemuinya dan berkata, “Orang ini (Utsman) telah terbunh, kaum muslimin harus memiliki iman, saat ini kami tidak menemukan orang yang pantas menempati posisi itu selain engkau, yang paling dahulu masuk Islam dan paling dekat dengan Rasulullah.” Ali menjawab, “Jangan lakukan itu. Menjadi menteri lebih aku sukai dari pada menjadi khalifah.” Mereka berkata, “Tidak, Demi Allah, kami tidak akan membai’at orang lain selain engkau!” Ali pun berkata, “Kalau begitu lakukan di masjid. Pembai’atan terhadap diriku jangan dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan hendaknya atas kerelaan kaum muslimin.”

Ibnu Abbas menyatakan, “Waktu itu saya tidak ingin Ali pergi ke masjid, khawatir dia akan diserang. Namun dia bersikeras agar dilakukan di masjid. Maka ketika dia masuk masjid, para shahabat dari Muhajirin dan Anshar ikut masuk bersamanya, lalu merekamereka membai’atnya diikuti oleh semua orang.

Terjadilah pembai’atan Ali Radiyallahu ‘Anhu secara umum dari kaum Muhajirin dan Anshar serta seluruh yang hadir. Hal itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 19 Zulhijjah tahun 35 Hafshah, satu hari setelah syahidnya Utsman.

Lalu Ali segera mengirim surat kepada seluruh wilayah memberitahukan tentang pembai’atan atas dirinya. Mereka pun tunduk pada Ali kecuali Muawiyah bin Abi Sufyan bersama penduduk Syam.

Kekhalifahan Ali sesuai dengan manhaj kenabian dan petunjuk risalah, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Safinah, pelayan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, bahwa beliau Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kekhalifahan pada umatku berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian berganti menjadi sisitem kerajaan.” Safinah berkata, “Ketika kami hitung, jangka waktu itu mencakup masa kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.”

2. Kebijakan Ali dalam kekhalifahannya

  • Terkait para gubernur
    Ali memerintahkan para gubernurnya untuk berlaku baik terhadap rakyat. Di antara wasiat yang selalu diulangnya, “Dahulukan rakyat daripada diri kalian, bersabarlah atas tuntutan mereka.”Ali menulis surat kepada gubernurnya sebagai berikut: “Amma ba’du, janganlah kalian tinggikan tembok kalian sehingga menghalangi rakyat kalian, sesungguhnya gubernur yang membatasi dirinya dari rakyat menunjukkan kekerdilan diri dan kebodohan.”Jika mendengar adanya pengkhianatan dari salah seorang mereka, Ali akan mengirimnya surat berisi ungkapan, “Jika suratku ini sampai padamu, jagalah tanggungjawab yang ada padamu hingga kami mengutus orang yang akan menerimanya darimu.” Kemudian Ali mengangkat tangan ke atas seraya berdo’a, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa saya tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin dengan niat menzhalimi makhluk-Mu dan tidak juga meninggalkan hak-Mu.”Ali melarang para gubenurnya membangun kedekatan dengan mereka yang berperangai buruk. Di antara wasiatnya kepada Muhammad bin Abu Bakar, “Jangan ikut sertakan dalam majlis permusyawaratanmu orang yang bakhil, karena dia akan memalingkanmu dari keutamaan dan menakuti-nakutimu dengan kemiskinan, jangan ikut sertakan juga orang penakut karena dia akan melemahkanmu dalam berbagai urusan, dan jangan ikut sertakan orang yang tamak karena kerusakannya akan menyebabkan kedzaliman.”

    Di samping itu Ali juga berupaya untuk memantau para gubernurnya dan mengikuti kabar mereka. Di antara yang menunjukkan hal itu adalah suratnya kepada Utsman bin Hunaif Al-Anshari, gubenurnya untuk Bashrah. Dia berkata, “Amma ba’du, wahai Ibnu Hunaif, sampai pada saya berita bahwa salah seorang pemuda dari penduduk Bashrah mengundangmu pada suatu jamuan, lalu engkau tergesa-gesa menghadirinya. Dihadirkanlah untukmu berbagai macam makanan. Saya tidak mengira bahwa engkau memenuhi undangan jamuan yang hanya mengundang kalangan kaya dan menghalangi fakir miskin! Maka perhatikanlah apa yang engkau gigit, jika ada yang ragukan muntahkanlah, jika engkau yakin akan kebaikannya, telanlah.”

  • Keadilannya
    Amirul mukminin sangat mengerti bahwa keadilan merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan merupakan tanggungjawab terbesar yang harus diembannya. Ali Radiyallahu ‘Anhu memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Semua orang mendapat hak yang sama, tidak ada keberpihakan terhadap yang kuat dan tidak ada hak orang lemah yang diabaikan.Ja’dah bin Hubairah datang padanya dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, jika datang padamu dua orang, salah satunya sangat mencintaimu sementara yang lain sangat memusuhimu, apakah engkau akan berpihak pada yang pertama dalam memutuskan perkara?” Ali lantas menepuk dada Ja’dah dan berkata, “Itu kalau aku melakukannya untuk diriku, akan tetapi aku hanya melakukan karena Allah!Dua orang perempuan datang kepadanya, seorang wanita Arab dan seorang wanita pelayan. Maka Ali memerintahkan untuk memberi masing-masing mereka sejumlah makanan dan uang sebanyak 40 dirham. Wanita pelayan itu lantas mengambil bagiannya dan pergi. Sementara si wanita Arab bertanya, “Wahai Amirul mukminin, engkau memberi hal yang sama dengan orang itu, padahal aku wanita Arab dan dia wanita pelayan!” Ali menjawab, “Saya melihat kitabullah, tidak saya dapati di dalamnya kelebihan keturunan Isma’il atas keturunan Ishaq Alaihissalam.Amir Asy-Sya’bi meriwayatkan, “Ali pergi ke pasar, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang Nasrani yang menjual baju besi. Ali lantas mengenali baju besi tersebut, maka dia berkata pada orang itu, “Ini adalah baju besi milikku. Urusan antara saya dan kamu akan diputuskan oleh hakim kaum muslimin.” Waktu hakim kaum muslimin di jabat oleh Syuraih. Keduanya lalu pergi ke pengadilan. Ali mengatakan di depan hakim, “Ini adalah baju besi saya yang hilang sejak lama.” Syuraih bertanya pada orang Nasrani itu, “Apa pendapatmu wahai orang Nasrani?” Orang Nasrani itu menjawab, “Saya tidak ingin mendustakan Amirul mukminin, tapi baju besi ini milikku.” Syuraih berkata, “Saya tidak punya alasan mengambil baju besi itu dari tangannya. Apakah ada bukti?” Ali berkata, “Syuraih benar, saya tidak punya bukti.” Tiba-tiba orang Nasrani itu berkata, “Adapun saya, sungguh menyaksikan bahwa ini adalah hukum para Nabi. Seorang Amirul mukminin datang menuntut kepada hakim bawahannya lalu si hakim mengalahkan tuntutannya. Baju besi itu, demi Allah, adalah milikmu wahai Amirul mukminin. Saya mengikutimu, lalu baju besi itu jatuh dari untamu Al-Awraq, saya pun mengambilnya. Maka saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Ali berkata, “Jika engkau masuk Islam, maka baju besi itu menjadi milikmu.”
  • Kebijaksanaan soal harta
    Kebijakan Ali terkait harta umat Islam didasarkan pada sifat adilnya. Dia membagi-bagikan harta tersebut kepada semua orang dengan kedua belah tangannya hingga tidak tersisa sedikitpun.Diceritakan bahwa dalam satu tahun Ali telah membagikan harta sebanyak tiga kali. Lalu datang kepadanya harta dari Ashbahan, Ali pun berkata, “Pergilah bagikan untuk keempat kalinya. Saya bukan penyimpan harta kalian.” Maka dibagikan harta tersebut, hingga tali pun ikut dibagikan. Ada yang menerima dan ada juga yang menolak.Mujammi’ At-Taimi meriwayatkan, “Ali Radiyallahu ‘Anhu menyapu baitul mal dan shalat di dalamnya. Dia berharap baitul mal itu akan menjadi saksi pada hari kiamat nanti bahwa dia tidak menahan di sana harta milik kaum muslimin.
  • Hubungan dengan rakyat
    Tanggungjawab yang banyak tidak membuat Ali mengabaikan urusan rakyat dan menelantarkan mereka. Ali tetap memantau kondisi rakyatnya dan berupaya menyelesaikan persoalan mereka. Ali biasa berjalan di pasar sendirian untuk meluruskan orang yang bertindak salah, menolong kaum yang lemah, lewat di hadapan para penjual dan pedagang lalu membuka mushaf dan membaca ayat, “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash [28]: 83).Ali juga selalu melakukan amar makruf nahi munkar, mengecam tindakan penipuan. Abu Mathar menceritakan, “Saya keluar dari masjid, tiba-tiba seseorang memanggil dari belakang, “Angkat sarungmu, sesungguhnya perbuatan itu lebih bertakwa di sisi Tuhanmu, lebih bersih untuk pakaianmu. Dan potonglah sebagian rambutmu jika engkau seorang muslim.” Ternyata orang itu adalah Ali yang sedang membawa kantong susu. Ali lalu sampai ke tempat penjualan unta, dia pun berkata, “Berjual-belilah dan jangan bersumpah, sesungguhnya sumpah itu menghabiskan barang dagangan namun menghapus keberkahan.” Lalu dia lewat di depan para penjual kurma, maka dia berkata, “Beri makanlah orang miskin, penghasilan kalian akan bertambah.” Kemudian dia lewat di depan para penjual ikan, dan berkata, “Tidak dijual di pasar kita ini ikan yang telah mati mengambang di air.”Sebagaiman Ali kerap memberi pengarahan dalam urusan dunia mereka, Ali pun sering menganjurkan kepada mereka untuk cenderung pada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka akan bahayanya kehidupan dunia. Ali berkhutbahdi hadapan kaum muslimin:“Wahai hamba Allah sekalian. Janganlah kalian terperdaya oleh kehidupan dunia karena sesungguhnya dunia itu di kelilingi oleh bala bencana, dikenal tidak kekal, bersifat menipu, dan semua yang ada di atasnya akan musnah. Orang yang mencintai kehidupan dunia itu ibarat ember dan timba, tidak akan selamat dari keburukannya orang yang turun ke dalamnya. Ketika pecinta dunia meresa senang dan bahagia, ternyata mereka dalam bencana dan tipuan. Kehidupan di dalamnya tercela, kebahagiaan di sana tidak berlangsung lama. Pecinta justru menjadi target yang dilempari panahnya dan dipatahkan oleh kematiannya.”

3. Sifat wara’ Ali
Ali dikenal sangat wara’ dan bertakwa, baik ketika dia hanyalah seorang muslim biasa, maupun saat dia menjabat sebagai khalifah. Bahkan saat menjadi khalifah, Ali semakin wara’ dan zuhud.

Abu Mutharrif menceritakan, “Saya melihat Ali mengenakan sarung dan memakai pakaian sambil membawa kantong susu sehingga ia nampak seperti orang Arab badui. Dia berkeliling hingga sampai ke tempat penjualan baju katun. Seorang penjual berkata, “Wahai syaikh, belilah baju ini seharga tiga dirham.” Ketika Ali mengetahuinya, dia tidak membeli apa-apa dari orang itu. Lalu Ali mendatangi seorang anak muda dan membeli darinya sehelai baju seharga tiga dirham.”

Ali mengajak keluarganya untuk tidak tampil lebih dari rakyat pada umumnya. Ibnu Abi Rafi’, pegawai baitul mal pada masa Ali, menceritakan, “Suatu hari Ali masuk dan putrinya telah dirias. Ali lantas melihat pada anaknya perhiasan yang diketahuinya berasal dari baitul mal. Ali pun bertanya, “Dari mana kau dapatkan perhiasan ini? Demi Allah saya harus memotong tangannya!” Ibnu Abi Rafi’ berkata, “Ketika saya meliahat keseriusannya dalam ucapannya itu, saya berkata, “Demi Allah, wahai Amirul mukminin, saya merias putri saudaraku dengan perhiasan itu. Dari mana dia mampu mendapatkannya jika tidak saya berikan padanya?” Maka Ali pun diam.

4. Sifat Tawadhu’ Ali
Ali merupakan sosok yang sangat tawadhu’ dan rendah hati, hingga dirinya menyamakan kedudukannya –padahal seorang Amirul mukminin- dengan pembantunya, bahkan dalam hal berpakaian. Abu An-Nuwar, seorang penjual pakaian katun, menceritakan, “Ali bin Abi Thalib datang ke kiosku bersama pelayannya dan membeli dua potong pakaian. Lalu Ali berkata pada pelayannya, “Pilih mana yang kau suka.” Pelayan itu lalu mengambil satu pakaia, lalu Ali mengambil yang satunya lagi dan mengenakannya. Ketika dia menjulurkan tangannya di dapatinya baju itu agak kepanjangan. Maka dia berkata, “Potonglah bagian yang lebih dari lengan bajuku.” Pelayan itu lalu memotongnya dan menjahitnya. Kemudian Ali mengenakannya dan pergi.”

Untuk membeli keperluannya sehari-hari, Ali melakukannya sendiri dan mengangkatnya di atas pundaknya tanpa merasa gengsi dengan kedudukannya sebagai khalifah. Pada suatu hari Ali masuk ke pasar dan membeli kurma seharga satu dirham. Maka dia membawanya di balik mantelnya. Seorang berkata padanya, “Biar saya bawakan wahai Amirul mukminin.” Ali menjawab,”Tidak, bapak keluarga lebih berhak membawanya.”
Ali juga kerap menunggangi seekor keledai dan menggantungkan kedua kakinya di satu tempat seraya berkata, “Saya adalah orang yang menghinakan dunia.”

5. Sifat Zuhud Ali
Mari kita perhatikan Abdullah bin Razin menggambarkan bagaimana makanan Amirul mukminin. Dia berkata, “Kami masuk menemui Ali pada hari Idul Adha, maka dia menghidangkan untuk kami khazirah . Kami berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Mengapa engkau tidak menghidangkan untuk kami daging angsa, sesungguhnya Allah telah memperbanyak kebaikan!” Ali berkata, “Wahai Ibnu Razin, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang khalifah dari harta Allah kecuali dua mangkuk, satu untuk dimakannya bersama keluarganya, satu lagi untuk menjamu orang-orang.”

Petunjuk terkait pakaian dapat dilihat dari ucapannya kepada orang yang mempermasalahkan pakaian, “Apa urusanmu dengan pakaianku, sesungguhnya pakaianku ini lebih menjahukanku dari sifat sombong dan lebih pantas untuk diikuti oleh kaum muslimin.

Ali memberi pakaian tersebut dari harta miliknya. Dia tidak ingin mengurangi baitul mal kaum muslimin meski hanya tiga dirham seharga baju yang dikenakannya. Suatu hari, seseorang pernah melihatnya menggigil kedinginan, dia menutupi tubuhnya dengan kain beludru yang telah usang. Orang itu berkata padanya, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah memberimu dan keluargamu jatah dari harta ini, lalu kenapa engkau rela menggigil kedinginan?” Ali menjawab, “Demi Allah, saya tidak ingin mengurangi harta kalian sedikitpun. Kain beludru ini adalah milikku yang saya bawa dari rumah.”

Pada suatu kesempatan Ali berkhutbah di hadapan khalayak, “Wahai jamaah sekalian, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, saya tidak mengurangi dari harta kalian, sedikit atau banyak, kecuali ini –dia lalu mengeluarkan sebuah botol yang berisi minyak wangi dari kantung bajunya- yang dihadiahkan oleh Dihqan kepada saya.”

6. Hadits-hadits Nabi terkait peristiwa yang akan terjadi pada masa Ali
Imam Ali menghadapi ujian yang sangat berat pada masa kekhalifahannya. Namun dia menghadapinya dengan tegar sebagai hasil pendidikan yang diperolehnya dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia pun melewati berbagai ujian itu setelah darahnya yang suci tertumpah dan menyerahkan ruhnya sebagai syahid.

Cukup banyak isyarat Nabi terkait apa yang akan dihadapi oleh khalifah yang sabar ini pada masanya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Ali, “Adapun engkau akan menghadapi sesuatu yang sulit sesudahku.” Ali bertanya, “Apakah agamaku terjaga?” Nabi menjawab, “Agamamu terjaga.”

Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan, “Waktu itu kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu sandal beliau putus, maka Ali pun agak tertinggal karena dia memperbaiki sandal tersebut. Setelah jalan beberapa langkah, beliau berkata, “Sesungguhnya diantara kalian ada yang berperang karena takwil Al-Qur’an sebagaimana saya berperang karena turunnya Al-Qur’an.” Para shahabat pun bertanya-tanya, termasuk Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar bertanya, “Apakah orang itu saya?” Jawab Nabi, “Bukan.” Umar juga bertanya, “Apakah orang itu saya?” Nabi menjawab, “Bukan, akan tetapi orang yang memperbaiki sandal.” Maksud beliau adalah Ali. Maka kami pun mendatangi Ali untuk memberitahukannya berita tersebut. Namun Ali tidak mengangkat kepalanya, nampak dia telah mendengarnya dari Radiyallahu ‘Anhu Shallallahu Alahi wa Sallam.

7. Penerimaan Ali atas jabatan khalifah dan permulaan fitnah
Berbagai persoalan tidak berjalan mulus pada masa Ali. Setelah peristiwa pembunuhan Utsman, An-Nu’man bin Basyir pergi meninggalkan Madinah membawa baju Utsman yang berlumuran darah dan jari-jari Na’ilah binti Furafishah yang putus saat menghalangi suaminya yaitu Utsman dari serangan pemberontak. Nu’man pun menyerahkan semua itu kepada Mu’awwiyah bin Abi Sufyan di Syam. Lalu Mu’awiyah menggantung baju tersebut di atas mimbar dan meletakkan di atasnya potongan jari-jari.

Mu’awiyah dan beberapa orang shahabat seperti Abu Umamah dan Amr bin Abasah menggerakkan massa untuk menuntut bela atas kematian Utsman dan agar para pembunuhnya segera dibunuh.

Baru saja bai’at terhadap Ali selesai dilakukan, datang Thalha, zubair, dan beberapa pemuka shahabat menuntut penegakan hukum atas kematian Utsman dengan menghukum para pembunuh sebelum urusan mereka menjadi genting dan bahaya yang mereka timbulkan semakin besar. Ali sendiri sangat memahami hal tersebu, namun dia memilih menangguhkan persoalan itu hingga situasi kembali tenang dan kewibawaan negara kembali menguat, serta menunggu kekuatan para pemberontak melemah dan mereka kembali ke kabilah-kabilah masing-masing. Pada saat itulah akan dilakukan pengusutan. Ali melihat bahwa saat itu para pemberontak masih sangat kuat, memiliki banyak materi dan pendukung. Pernah dia mencoba mencari tahu tentang pembunuh Utsman, lalu sepuluh ribu orang dari mereka, diantaranya pembuat tombak, mengaku bahwa mereka semua adalah pembunuh Utsman!

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Ali, bahwa dia berkata kepada para shahabat itu, “Wahai saudara sekalian, bukannya saya tidak mengetahui apa yang kalian katakan, akan tetapi bagaimana saya dapat melakukan itu terhadap sekelompok orang yang menguasai kita dan kita tidak bisa mengatasi mereka, kaum Arab badui bergabung dengan mereka, bahkan mereka berada di antara kalian, mengganggu kalian semuanya. Apakah menurut kalian masih tersisa kemungkinan untuk merealisasikan apa yang kalian inginkan?” Para shahabat menjawab, “Tidak.” Ali melanjutkan, “Demi Allah, saya pun berpandangan yang sama dengan kalian Insya Allah. Sesungguhnya urusan ini seperti urusan jahiliyah. Komplotan itu memiliki materi, yang demikian itu karena sesungguhnya setan apabila memulai sesuatu, maka orang yang mengikutinya tidak akan meninggalkan bumi selamanya. Sesungguhnya orang-orang seperti ini apabila bergerak untuk suatu perkara, maka satu kelompok akan berpandangan seperti kalian, kelompok lain akan memiliki pandangannya yang berbeda dengan kalian, sedangkan kelompok ketiga tidak mendukung yang ini dan tidak juga yang itu, hingga orang-orang menjadi tenang dan hati menempati tempatnya yang seharusnya, barulah hak dapat diambil. Maka tenanglah kalian, perhatikan apa yang datang pada kalian, lalu kembalilah.”

Ali bermaksud mengganti para gubenur yang menjabat pada masa kekhalifahan Utsman. Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abdullah bin Abbas berusaha menasihatinya agar membiarkan gubernur yang sedang menjabat hingga keadaan menjadi tenang, terutama menetapkan Mu’awiyah untuk wilayah Syam. Namun Ali menolak mengikuti nasihat tersebut. Dia tetap mengangkat gubernur yang baru untuk setiap wilayah, dan mengangkat Sahal bin hunaif untuk wilyaha Syam. Sahal bin hunaif pun berangkat ke Syam. Namun sesampainya di daerah Tabuk, dia dihadang oleh pasukan berkuda dan disuruh kembali ke tempat asalnya. Penduduk Syam pun menolak berbai’at kepada Ali. Melihat situasi tersebut Ali berusaha memerangi mereka. Dia pun mempersiapkan pasukan untuk itu. Ketika semua sudah siap dan tinggal menunggu keberangkatan menuju Syam, muncul persoalan yang membuatnya beralih dari urusan keberangkatan ke Syam.

8. Perang Jamal
Ummul mukminin Aisyah berangkat ke Basyrah bersama Thalhah dan Zubair. Pada peristiwa itu Aisyah berda dalam sekedup yang diletakkan di atas unta (jamal) bernama Askar. Ketika Ali mendengar kabar tentang hal itu, dia segera merubah rencana keberangkatan ke Syam dan mengalihkan pasukan untuk menghadang pasukan Jamal. Namun Ali terlambat, karena pasuka jamal telah lebih dahulu sampai ke Basyrah. Singkat cerita, terjadilah perang Jamal pada tahun 36 H yang dikobarkan oleh sekelompok orang yang berpikiran picik dari kedua pihak. Terbunuh dalam perang itu sekitar 10 ribu orang. Perang berakhir dengan kemenangan pasukan Ali. Dalam perang itu Zubair tebunuh secara licik, sedangkan Thalhah terbunuh di kancah pertempuran terkena anak pananh yang tidak diketahui pelemparnya. Sementara Aisyah, dikembalikan oleh Ali ke Madinah dengan diiringi 40 orang perempuan dan dikawal oleh saudaranya Muhammad bin Abu Bakar.

Ali pernah ditanya mengenai pasukan Jamal, maka Ali mengatakan, “Mereka adalah saudara-saudara kami yang memberontak terhadap kami lalu kami perangi. Mereka telah sadar dan telah kami terima kembali.” Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Ali pernah berkata, “Saya berharap bahwa saya, Thalhah, Zubair, Utsman termasuk sekelompok orang yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , “Dan lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(QS> Al-Hijr [15]: 47).

9. Perang Shiffin
Kemudian terjadi perang Shiffin antara tentara Syam dibawah komando Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan tentara Irak di bawah komando Ali bin Abi Thalib. Penyebabnya adalah Mu’awiyah menolak berbai’at kepada Amirul mukminin Ali Radiyallahu ‘Anhu sampai Ali membunuh para pembunuh Utsman yang menyusup di antara pasukan Ali.

Sementara Ali memiliki alasan untuk tidak tergesa-gesa dalam menghukum mereka, karena mereka telah menetap di Irak dilindungi oleh kekuatan mereka dan dukungan kabilah mereka, serta banyaknya pendukung dan materi yang mereka miliki. Mengajak mereka berperang akan mengakibatkan keburukan yang terus menerus. Menenangkan suasana adalah solusi terbaik dalam situasi seperti itu. Ali lalu menyeru Mu’awiyah untuk berbai’at seperti yang dilakukan oleh penduduk Mekah, Madinah, Bashrah, Kufah, Yaman, Mesir, Bahrain, Yamamah, dan lainnya. Setelah itu barulah khalifah akan menegakkan hukum dan memutuskan qishash atas para penjahat.

Dengan demikian, mereka yang menuntut penegakan hukum atas para pembunuh Utsman memiliki alasan yang benar, karena mereka menuntut hak, baik yang dilakukan oleh pasukan Jamal (unta) maupun oleh penduduk Syam. Begitu juga Ali, memiliki alasan yang benar dalam menunda penegakan hukum Allah, karena hal itu didasarkan pada kondisi darurat yang tidak mungkin dihindari.

Ketika Ali mengetahui bahwa Mu’awiyah berusaha mempengaruhi penduduk Syam agar mendukung pendapatnya, Ali pun mempersiapkan pasukan dan berangkat menuju Syam. Saat berita berangkatnya Ali samapi ke telinga Mu’awiyah, dia lantas bermusyawarah dengan penduduk Syam menanyakan tindakan apa yang harus diambilnya. Mereka lalu menyarankan agar Mu’awiyah pun berangkat dari Syam untuk menyongsong pasukan Ali.
Pasukan Syam pun berangkat menuju sungai Efrat dari arah Shiffin , jumlah mereka mencapai 90 ribu pasukan. Ali dan pasukannya yang berjumlah 120 ribu orang juga bergerak ke arah sana. Bertemulah dua pasukan dan mereka berkemah lama di Shiffin pada permulaan Dzulhijjah.

Ali dan Mu’awiyah saling bertukar utusan. Semua orang menahan diri untuk berperang hingga lewat bulan Muharram tahun 37 H. setelah itu, Ali pun menyiagakan pasukannya, begitu juga Mu’awiyah. Mereka mengawali perang pada hari pertama Shafar. Mereka berada di Shiffin selama 110 hari, dalam jangka waktu tersebut terjadi sembilan kali pertempuran. Perang berhenti ketika pasukan Syam mengangkat mushaf di atas tombak dan menyeruh pasukan Irak, “Kami mengajak kalian untuk berhukum dengan kitabullah.” Maka terjadilah peristiwa Tahkim.

10. Peristiwa Tahkim (Arbitrasi)
Ali mengutus Abu Musa Al-Asy’ari sebagi wakil dalam perundingan, sementara Mu’awiyah mengutus Amr bin Ash. Kedua juru runding itu sepakat untuk menurunkan Ali dan Mu’awiyah dari jabatannya masing-masing, lalu urusan kekhalifahan diserahkan pada musyawarah kaum muslimin, agar mereka menyepakati mana yang lebih baik di antara dua orang itu, atau mengambil pemimpin baru dari selain mereka. Keputusan diserahkan kepada shahabat inti. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa Tahkim, bukan seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang yang menyatakan bahwa Amr menipu Abu Usama, lalu menetapkan Mu’awiyah sebagai khalifah.

Setelah peristiwa itu, kaum muslimin pun terpecah menjadi tiga kelompok. Penduduk Irak tetap pada bai’at mereka terhadap Ali, sementara penduduk Syam membai’at Mu’awiyah, sedangkan kelompok ketiga merepakan kelompok Ali yang membelot karena tidak setuju atas sikap Ali yang menyetujui tahkim. Mereka lalu dinamakan Khawarij karena sikap mereka itu. Mereka berlebihan dalam menyalahkan Ali hingga mengkafirkannya. Mereka melakukan berbagai kerusakan, hingga akhirnya Ali disibukkan oleh upaya memerangi mereka.

11. Sikap Ali terhadap kaum Khawarij
Kaum Khawarij menjadikan sebuah desa di dekat Kufah bernama Hurura’ sebagai basis pertahanan, sehinga mereka pun dikenal dengan sebutan Al-Haruriyah. Jumlah mereka lebih dari delapan ribu orang. Abdullah bin Abbas pernah mendatangi mereka untuk berdebat dengan mereka dan mengajak mereka kembali, sehingga 4000 diantaranya bertaubat dan kembali bergabung dengan Ali di Kufah, sedangkan sisanya tetap pada pendirian dan kesesatan mereka. Lalu mereka keluar dari Kufah secara sendiri-sendiri agar tidak dicurigai oleh kaum muslimin. Kemudian mereka berkumpul di Nahrawan, sebuah wilayah yang cukup luas di antara Baghdad dan wasith. Seiring waktu kelompok ini membangun kekuatan dan pertahanan mereka. Mereka lalu membelokkan takwil Al-Qur’an, memaksakan pendapat mereka pada orang lain, dan menampakkan diri sebagai orang yang zuhud dan khusuk dalam beribadah.

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dalam Musnad Ali di kitab Tahdzibul Atsar dari jalur Bukair bin Abdullah bin Al-Asyaj bahwa dia bertanya kepada Nafi’, “Bagaimana pendapat Ibnu Umar tentang kelompok Al-Haruriyah?” Nafi’ menjawab, “Menurutnya, mereka adalah makhluk Allah paling buruk, mereka menggunakan ayat-ayat yang berbicara tentang orang kafir untuk menyerang kaum mukminin.”

Qais bin Sa’ad, Abu Ayyub Al-Anshari, bahkan Ali bin Abi Thalib berusaha menasehati dan memberi peringatan kepada mereka. Namun tanggapan mereka adalah saling menyeru satu sama lain, “Jangan hiraukan mereka, jangan berbicara dengan mereka, bersiaplah untuk menghadap Allah Azza wa Jalla. Ayo berangkat menuju surga!”

Mereka lalu bersiap-siap untuk berperang bahkan telah bergerak untuk menyerang. Ali pun menghadapi mereka dengan pasukannya dan memerintahkan Abu Ayyub Al-Anshari untuk mengibarkan panji jaminan keamanan untuk kelompok Khawarij dan menyerukan pada mereka, “Siapa yang datang ke bendera ini akan dijamin keamanannya. Kami tidak punya urusan dengan kalian kecuali dengan mereka yang telah membunuh saudara-saudara kami.” Maka sebagian besar mereka memisahkan diri dari pasukan Khawarij yang sebelumnya berjumlah 4000 orang, dan hanya tersisa 1000 orang atau lebih sedikit dari itu dibawah komando Abdullah bin Wahab Ar-Rasi.

Kedua pasukan pun bertempur. Dengan mudah pasukan Ali dapat mengalahkan mereka dan membunuh para pemimpin mereka seperti Abdullah bin Wahab, Hurqus bin Zuhair, dan Syuraih bin Aufa. Yang selamat dari kelompok mereka kurang dari sepuluh orang, sementara yang terbunuh dari pasukan Ali hanya sekitar sepuluh orang. Peristiwa itu terjadi pada bulan Sya’ban tahun 38 H.

Ali Radiyallahu ‘Anhu sangat memahami sifat mereka dan apa yang mereka perjuangkan, berdasarkan apa yang didengarnya dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan dari riwayat para shahabat. Setidaknya ada 25 orang shahabat yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  tentang kelompok Khawarij.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Jika saya sampaikan kepada kalian hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sungguh, saya terjatuh dari langit lebih saya sukai dari pada berbohong atas nama beliau dan jika saya sampaikan kepada kalian tentang urusan antara saya dan kalian, ketahuilah bahwa perang itu tipu daya. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda belia namun lemah pemahaman. Mereka berbicara dengan ucapan manusia terbaik namun mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari sasarannya. Iman mereka tidak melewati tenggorakan mereka. Maka di mana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka karena pembunuhan atas mereka adalah pahala di hari kiamat bagi siapa yang membunuhnya.”

Sementara Imam Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Zaid bin Wahab Al-Juhani, dia termasuk anggota pasukan Ali Radiyallahu ‘Anhu yang berangkat menghadang kelompok Khawarij. Waktu itu Ali berkata, “Wahai kalian semua, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al-Qur’an, di mana bacaan kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan bacaan mereka; shalat kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka bahwa Al-Qur’an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al-Qur’an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari sasarannya. Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi mereka, niscaya mereka akan berhenti beramal. Ciri-cirinya adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan tak berhasta dan ujung lengannya terdapat tanda seperti puting susu yang di atasnya tumbuh bulu-bulu putih.”

Setelah peperangan melawan kelompok Khawarij selesai, Ali menyeruh kaum muslimin untuk mencari keberadaan orang yang tangannya buntung di antara orang-orang yang tewas terbunuh. Ciri-cirinya adalah salah satu tangannya seperti buah dada perempuan, di ujung lengannya ada titik hitam seperti putting susu, di tumbuhi tujuh helai bulu. Ali Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Carilah di antara mereka orang yang tangannya buntung. Mereka pun mencari dan tidak menemukannya. Lalu Ali ikut mencarinya hingga menemukan tumpukan orang yang terbunuh. Ali berkata, “Singkirkan orang-orang ini!” Akhirnya mereka menemukan orang yang dimaksud berada di tumpukan paling bawah di atas tanah. Ali lantas memekikkan takbir, lalu berkata, “Maha benar Allah dan Rasul-Nya telah menyampaikan!” Ubaidah As-Salami mendatangi Ali dan bertanya, “Wahai Amirul mukminin, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, “apakah engkau benar-benar mendengar hadits tersebut dari Rasulullah?” Ali menjawab, “Ya, demi Allah Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Ubaidah meminta Ali bersumpah sampai tiga kali dan Ali melakukannya.

12. Berpalingnya penduduk Irak dari Ali, lemahnya posisi Ali dan menguatnya kedudukan penduduk Syam
Setelah selesai dari urusan kelompok Khawarij, Ali berkhutbah di hadapan khalayak dan berkata, -setelah memuji Allah dan menyampaikan shalawat kepada Rasulullah- “Amma ba’du, maka sesungguhnya Allah telah memuliakan  kemenangan kalian, maka bergeraklah segera menuju musuh kalian dari penduduk Syam.”

Mereka lalu bangun dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, panah kami telah habis, pedang kami telah tumpul, ujung tombak kami telah lepas, maka bawalah kami ke kampung kami agar kami bisa melakukan persiapan yang baik dan agar Amirul mukminin menambah pasukan kami sejumlah orang yang telah meninggal dari pasukan kami sebelumnya, dengan begitu kami akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi musuh kami.” Yang berbicara adalah Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi, maka Ali pun mengikuti keinginan mereka. Lalu Ali berjalan memimpin pasukan hingga sampai ke Nukhailah. Ali memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di perkemahan mereka dan berusaha membangkitkan semangat mereka untuk berjihad melawan musuh serta memerangi kunjungan mereka terhadap istri dan anak mereka. Mereka sempat bertahan bersama Ali beberapa hari dengan berperang pada pandangan dan ucapannya. Tapi satu per satu pergi secara sembunyi-sembunyi hingga tidak tersisa seorang pun selain para pemuka shahabat Ali. Mereka pun berbeda pandangan dengan Ali. Lalu mereka melanjutkan perjalanan, lalu masing-masing berpisah hingga Ali masuk ke Kufah.

Sementara di Mesir, gubenurnya adalah Muhammad bin Abu Bakar. Namun penduduk Mesir merendahkannya. Ali pun mengutus Al-Asytar untuk menggantikan posisinya namun dalam perjalanan dia terbunuh dengan cara diracuni dan belum sempat sampai ke Mesir. Sedangkan di Syam, posisi Mu’awiyah semakin menguat, dia bermusyawarah dengan para penduduknya meminta pendapat mereka untuk melakukan perjalanan ke Mesir. Para pendukungnya menyetujui usulan tersebut. Mu’awiyah pun mempersiapkan pasukan sebanyak 6000 orang di bawah pimpinan Amr bin Ash. Mu’awiyah sendiri ikut melepas keberangkatan pasukan tersebut kepada Amr agar bertakwah kepada Allah, bertindak lemah lembut dan tidak tergesa-gesa; agar dia hanya memerangi orang yang melakukan penyerangan dan memaafkan mereka yang melarikan diri; dan hendaknya dia menyeru semua orang pada perdamaian dan persatuan. Jika engkau menang, hendaklah para penolongmu menjadi orang-oarang terdekatmu. Amr pun berangkat ke Mesir dan berhasil menggulingkan Muhammad bin Abu Bakar. Mesir pun jatuh ke tangan Amr, sedangkan Muhammad bin Abu Bakar terbunuh.

Ketika Ali mendengar berita tersebut, dia berkhutbah di hadapan khalayak dan membangkitkan semangat jihad mereka untuk berperang melawan musuh-musuh mereka dari penduduk Syam dan Mesir. Ali menetapkan Jara’ah sebagai tempat berkumpul pasukan. Keesokan harinya ketika Ali sampai ke tempat tersebut, tidak ada satu pun pasukan yang datang ke tempat itu. Ali pun merasa sangat terpukul, lalu dia menulis surat kepada Ibnu Abbas, gubernurnya di Bashrah, mengeluhkan pembangkangan rakyatnya. Ibnu Abbas membalasnya dan berusaha menghiburnya serta menasihatinya agar bersabar, karena sesungguhnya pahala dari Allah lebih baik dari pada dunia.

Berbagai situasi menjadi sulit bagi Ali. Pasukannya tidak patuh pada perintahnya, penduduk Irak pun berpaling dan meninggalkannya. Sementara kedudukan penduduk Syam semakin menguat dan kekuasaan mereka semakin meluas. Ketika menyaksikan semua itu, ditambah lagi dengan bermunculannya berbagai fitnah dan datangnya ujian silih berganti, Ali jadi membenci kehidupan dan mengharapkan datangnya kematian. Ia mengatakan, “Sesungguhnya ini –jenggotnya- akan berlumuran darah dari ini –kepalanya-.”

F. SYAHIDNYA ALI, UNGKAPAN DUKA CITA, DAN KELUARGANYA

1. Pemberitaan nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tentang pembunuhan Ali
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memberi tahu Ali bahwa dia akan dibunuh. Jabir bin Samurah menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Ali, “Siapa yang paling celaka di kalangan orang-orang terdahulu?” Ali menjawab, “Para penyembelih unta (pada masa Nabi Shalih).” Nabi bertanya lagi, “Siapa yang paling celaka di kalangan orang-orang kemudian?” Jawab Ali, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Yaitu orang yang membunuhmu.”

Diriwayatkan dari Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepadaku, “Sesungguhnya umat akan menghianatimu setelahku, sedangkan engkau akan hidup diatas agamaku dan engkau akan dibunuh diatas sunnahku. Siapa yang mencintaimu berarti dia mencintaiku dan siapa yang membencimu berarti dia membenciku. Sesungguhnya ini (jenggot Ali) akan belumuran darah dari ini (kepala Ali).”

Ali sangat meyakini pemberitahuan Nabi tersebut. Suatu kali dia jatuh sakit, lalu datanglah sekelompok orang Khawarij mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya engkau akan meninggal!” Ali membantah, “Tidak, demi Allah, akan tetapi saya terbunuh akibat pukulan di kepala yang darahnya melumuri jenggot. Suatu janji yang telah dibuat dan keputusan yang telah ditetapkan. Maka rugilah orang yang mengarang-ngarang cerita!”

Diriwayatkan dari Ali juga, “Ini (jenggotku) akan dilumuri darah dari kepalaku, apa yang ditunggu-tunggu oleh orang yang paling celaka?” Para shahabat berkata, “Wahai Amirul mukminin, beritahu kami orangnya, agar kami binasakan keturunannya.” Ali berkata, “Kalau begitu, demi Allah, kalian akan membunuh karenaku orang yang tidak membunuhku.” Mereka berkata, “Tunjuklah orang yang menggantimu sebagai pemimpin kami.” Ali menjawab, “Tidak, akan tetapi saya akan meninggalkan kalian pada apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah kepada kalian.” Mereka bertanya, “Apa yang akan kau katakan pada Tuhanmu ketika bertemu dengan-Nya?” Jawab Ali, “Saya akan berkata, Ya Allah hamba meninggalkan Engkau untuk mereka, jika Engkau berkehendak, maka Engkau akan memperbaiki kedaan mereka, dan jika Engkau berkehendak, maka Engakau akan merusak keadaan mereka.”

Memasuki bulan Ramadhan, Ali makan malam sekali di rumah Hasan, sekali di rumah Husein, dan sekali di rumah Abdullah bin Ja’far, tidak lebih dari tiga suapan. Ali berkata, “Akan datang ketatapan Allah dan saya dalam keadaan perut kosong. Waktunya hanya tersisa satu atau dua malam lagi!”

Ajal yang telah ditentukan semakin dekat. Ketika dia shalat di masjid, datang padanya seorang laki-laki dari kabilah Murad berkata padanya, “Berhati-hatilah, orang dari kabilah Murad bermaksud membunuhmu!” Ali berkata, “Sesungguhnya bersama setiap orang ada dua malaikat yang akan menjaganya dari apa-apa yang tidak ditakdirkan padanya. Maka apabila datang takdirnya, keduanya akan membiarkan antara orang itu dan takdirnya. Sesungguhnya ajal itu perisai yang melindungi.”

2. Rencana jahat dan syahidnya Ali
Di suatu tempat di tengah kegelapan; kegelapan malam, kegelapan kesesatan, dan kegelapan beribadah yang menyimpang, tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, Al-Burak bin Abdullah bin At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi. Mereka berkumpul di Mekah dan menyebut-nyebut pembunuhan Ali terhadap saudara-saudara mereka dari penduduk Nahrawan. Timbullah rasa kasihan di hati mereka sehingga mereka sepakat untuk membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin Ash. Ibnu Muljam berkata, “Saya akan membunuh Ali.” Al-Burak berkata, “Saya akan membunuh Mu’awiyah.” Sedangkan Amr bin Bakr berkata, “Saya akan membunuh Amr bin Ash.” Mereka sepakat untuk menjalankan aksi mereka pada tanggal 17 Ramadhan. Masing-masing akan bermalam di daerah target mereka tinggal.

Ibnu Muljam berangkat ke Kufah untuk melaksanakan rencana jahat tersebut. Sesampainya di sana, ikut bergabung dengannya seorang laki-laki dari Bani Rabab yang bernama Wardan dan satu lagi bernama Syubaib bin Bahara Al-Haruri. Mereka bertiga mendatangi rumah Amirul mukminin Ali membawa pedang masing-masing. Mereka bersembunyi di seberang pintu tempat Ali biasa keluar. Ketika Ali keluar membangunkan orang-orang untuk shalat, Syubaib langsung menyergap Ali dan memukul pedang ke arahnya, namun pukulannya meleset. Lalu Ibnu Muljam memukulkan pedang ke arah sisi kepala Ali dan mengenainya. Mengalirlah darah dari kepala Ali hingga membasahi jenggotnya. Saat Ibnu Muljam memukul Ali, dia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu hai Ali, bukan juga milik para shahabatmu. Lalu dia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(QS. Al-Baqarah [2]: 207).

Ali lantas berseru, “Tangkap mereka!”Wardan langsung berusaha melarikan diri namun berhasil ditangkap oleh seorang laki-laki dari Hadhramaut dan langsung membunuhnya. Sedangkan Syubaib berhasil lolos dari kepungan massa, sementara Ibnu Muljam berhasil ditangkap dan dibawah ke hadapan Ali. Lalu Ali memerintahkan Ja’dah bin Hubairah untuk mengimami shalat Subuh.

3. Wafatnya Ali, pemakamannya, usia, dan masa kekhalifahannya
Ali Radiyallahu ‘Anhu mengalami penusukan pada hari Jum’at waktu Subuh tanggal 17 Ramadhan 40 H. Dia masih sempat hidup pada hari Jum’at dan malam Sabtu, lalu meninggal dunia pada pada malam Ahad tanggal 19 Ramadhan.

Anak-anak Ali mendatangi Ibnu Muljam dan membunuhnya, ruhnya pergi menemui Tuhannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dosanya.

Jenazah Ali dimandikan oleh kedua anaknya, Hasan dan Husain, serta Abdullah bin Ja’far. Lalu mereka mengkafaninya dengan tiga helai kain tanpa baju. Yang menjadi imam shalat jenazahnya adalah Hasan, putra tertuanya. Selanjutnya Ali dimakamkan di rumah khalifah di Kufah, khawatir sekelompok Khawarij akan membongkar makamnya.

Ibnu Katsir berkata, “Siapa yang berkata bahwa jenazah Ali dibawa dengan binatang tunggangannya lalu dibawa entah ke mana, sungguh pendapat yang salah dan tidak berdasarserta tidak dapat diterima akal maupun syariat. Sedangkan keyakinan mayoritas kaum Rafidah yang menyatakan bahwa makamnya di Masyad An-Najaf, tidak memiliki bukti dan tidak jelas asal usulnya. Bahkan ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud oleh mereka itu adalah makamnya Al-Mughirah bin Syu’bah.

Usia Ali saat mati syahid adalah 63 tahun, masa kekhalifahannya 4 tahun 9 bulan.

4. Ungkapan duka atas wafatnya Ali
Dari Huabirah bin Yarim, dia berkata, “Hasan bin Ali berkhutbah dihadapan kami, dia berkata, “Telah meninggalkan kalian seorang laki-laki kemarin yang tidak ada seorang pun melebihi kapasitas keilmuannya dari kalangan orang-orang terdahulu dan tidak juga dari kalangan orang-orang kemudian. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menyerahkan panji peperangan padanya, jibril di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, dia tidak mundur sampai Allah berikan kemenangan untuknya.”

Saat berita kematian Ali sampai ke telinga Aisyah Ummul mukminin, dia menyampaikan ungkapan duka yang mendalam.

Putrinya Ummu Kultsum berkata, “Ada apa antara saya dan waktu shalat Subuh? Suami saya Umar Amirul mukminin dibunuh pada saat shalat Subuh, ayah saya Ali, dibunuh pada saat shalat Subuh.”

Abu Al-Aswad Ad-Du’ali, seorang tabiin terkemuka yang juga merupakan murid Ali juga menyampaikan ungkapan duka lewat untaian syair yang digubahnya.

5. Istri dan anak Ali
Ali memiliki banyak istri. Ada yang meninggal saat dia masih hidup dan ada juga yang diceraikan. Saat Ali meninggal, dia meninggalkan 4 orang istri. Istri pertamanya adalah Fathimah putri Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Selama Fathimah masih hidup, Ali tidak menikah dengan wanita lain. Setelah Fathimah wafat, Ali menikah dengan banyak perempuan, yaitu Khaulah binti Ja’far, Laila binti Mas’ud, Ummul Banin binti Hizam, Asma’ binti Umais, Ash-Shahba’ Ummu Habib binti Rabi’ah, Umamah binti Abil Ash bin Ar-Rabi’, Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, dan Muhayyah binti Umru’il Qais, serta beberapa ummul walad (budak).

Ali memiliki lima belas orang putra, yaitu Hasan, Husain, Muhsin, Muhammad yang terkenal dengan Ibnu Al-Hanafiyah, Ubaidillah, Abu Bakar, Abbas Al-Akbar, Utsman, Ja’far Al-Akbar, Abdullah, Muhammad Al-Awsath, Muhammad Al-Ashghar, Yahya, Aun, dan Umar Al-Akbar.

Sedangkan putrinya ada sembilan belas orang, yaitu Zainab Al-Kubra, Ummu Kultsum Al-Kubra, Ruqayyah, Ummul Hasan, Ramlah Al-Kubra, Ummu Hani’, Maimunah, Zainab Ash-Sughra, Ramlah Ash-Shughra, Ummu Kultsum Ash-Sughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Salamah, Ummu Ja’far, Jumanah, Nafisah, dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya.

6. Warisan Ali
Saat Ali Radiyallahu ‘Anhu meninggal dunia, dia tidak meninggalkan warisan apa-apa selain uang sebanyak 700 dirham yang ditabungnya untuk membeli budak untuk dijadikan pembantu. Dia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan mewakafkan banyak harta agar menjadi shadaqah jariyah abginya, hingga hasil dari harta wakafnya mencapai 40 ribu dinar.

7. Kepergian sang Imam
Imam Ali pergi menuju kampung akhirat setelah mengalami penusukan pada waktu Subuh tanggal 17 ramadhan, pada saat yang sama di mana Ali Radiyallahu ‘Anhu menikam orang-orang kafir dan mengalahkan musuh-musuh Islam pada perang Badar.
Ali bin Abi Thalib pergi setelah menorehkan banyak kisah kemuliaan dan kepahlawanan sepanjang perjalanan hidupnya. Dia pun telah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, melahirkan banyak ulama dan imam. Kehidupan setelah kepergiannya laksana matahari yang bersinar dan menempati posisi yang mulia dari kehidupan manusia, serta menarik berbagai sifat kepahlawanan, keberanian, keimanan, kejujuran, keikhalasan, dan kemuliaan.

Jasad Ali telah pergi, namun kemuliaan dan keutamaannya tetap hidup sebagai teladan bagi setiap muslim yang mencintai Allah, Rasul-Nya, dan para shahabat beliau yang mulia.
Ali meninggalkan dunia untuk memasuki alam lain dari pintu yang sangat luas, yaitu pintu para syuhada dan orang-orang yang benar. Setelah menghadapi berbagai ujian dan kesulitan yang berusaha menggerus kesabarannya dan kesibukannya dari tujuan hidup yang mulia, namun dia tidak lepas dari kesabaran hingga dia menemui ajalnya dalam kondisi terbaik. Dia mengucapkan salam perpisahan pada dunia diiringi lantunan istighfar di waktu Subuh, dia pergi menghadap Tuhannya dalam kedaan berpuasa agar memperoleh minuman yang membuatnya tidak merasa haus lagi untuk selamanya.
Telah meninggal dunia Ali bin Abi Thalib, seorang ahli fikih dan ahli ibadah, seorang ulama yang mengamalkan ilmunya, ahli ibadah yang bertakwah, sosok yang wara’ dan bersih, pemberani yang senantiasa berada dibarisan terdepan, pembawa panji Nabi dan kaum Muhajirin. Ali telah meninggal dunia dan meninggalkan berbagai pelajaran mengenai keikhlasan, wara’, ketakwaan, ibadah, ilmu, fikih, kepahlawanan, dan keberanian, sehingga telah hidup dalam kenangan kaum muslimin yang mencintainya dan orang-orang yang membac akisah perjalanan hidupnya yang bersih.

Maka selamat jalan untukmu wahai Imam Ali, semoga berbagai amalan yang engkau torehkan memperoleh keberkahan, alangkah indahnya akhir perjalanan hidup yang engkau dapatkan. Semoga engkau menempati kedudukan yang mulia di surga, di sisi Nabimu, ayah dari istrimu, dan putra pamanmu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/ali-bin-abi-thalib

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s