Sa’ad bin Abi Waqqash

A. Masa Kecil, Remaja Dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, Dan Nisbatnya

Mekah Al-Mukarramah merupakan tempat yang paling suci di bumi, sebuah negeri yang dipilih oleh Allah menjadi tempat bagi rumah-Nya, dan tempat berhaji para Nabi, dan kiblat bagi kaum muslimin. Disanalah Kabilah Quraisy tinggal dengan kebanggan atas seluruh Jazirah Arab. Kabilah inipun mendapatkan perhatian rabbani yang lebih, dimana dari keturunannyalah pemimpin anak cucu Adam, MuhammadShallallahu’alaihi wa Sallam dilahirkan, sebagai Nabi penutup, dan rahmat Allah bagi seluruh alam.

Dari kabilah besar yang terhormat dan memiliki banyak kebanggan dan kelebihan serta keistimewaan ini, lahirlah banyak suku-suku, diantaranya Bani Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik. Dan dari suku yang mempunyai kedudukan yang tinggi inilah, seorang shahabat yang mulia dilahirkan, Sa’ad bin Abi Waqqash. Begitu juga dengan saudaranya dalam Islam, rekannya dalam golongan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, shahabatnya dalam enam orang yang menjadi ahli surga, dan yang lebih dahulu wafat darinya, seorang shahabat terkemuka, Abdurrahman bin Auf.

Sa’ad dengan nasabnya yang mulia adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, dan nama dari Abu Waqqash adalah Malik bin Wahaib dan disebut juga Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhra bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, Al-Qurasyi Az-Zuhri Al-Makki Al-Madani.

Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam pada Kilab bin Murrah, yang merupakan kakek kelima bagi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan yang keempat bagi Sa’ad. Dia adalah seorang Quraisy dilihat dari kabilah besarnya, seorang Zuhri dilihat dari suku dimana ia berasal dan dilahirkan, berasal dari Mekah karena lahir dan besar di sana, dan hijrah ke Madinah, lalu tinggal dan wafat di sana.

2. Paman (Khal, yaitu paman dari pihak ibu) Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam

Sa’ad memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah dari pihak ibu beliau. Ibu Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berasal dari Bani Zuhrah. Ibu beliau adalah Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Ayahnya (Wahab) dan kakek dari Sa’ad (Wuhaib) adalah dua bersaudara. Maka Wuhaib adalah kakek dari Sa’ad (Wuhaib) adalah dua bersaudara. Maka Wuhaib adalah kakek dari Sa’ad, dan paman dari Aminah. Dan orang Arab menganggap kerabat itu sebagai paman.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam seringkali membanggakan hubungan paman dan keponakan ini, dan mencandai Sa’ad dengan itu, juga membanggakannya di depan para shahabat lain dengan berkata,“Inilah pamanku, siapa yang akan memperlihatkan pamannya kepadaku!”

3. Julukannya

Sa’ad dijuluki Abu Ishaq, demikian ia dipanggil oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan para shahabatnya Radhiyallahu’ Anhum.

4. Gelarnya

Sa’ad digelari pahlawan Islam, dan ia layak dan pantas untuk menyandang gelar yang hebat tersebut. Peristiwa-peristiwa yang dilaluinya, begitu juga dengan lembaran-lembaran jihad dan kisah kepahlawanannya serta ketegaran yang dimilikinya, merupakan bukti yang paling nyata bahwa ia benar-benar seorang pahlawan Islam.

5. Sifat Dan Kepribadiannya

Allah menganugerahkan kepada Sa’ad sifat-sifat jasmani dan kesempurnaan tubuh yang mengimbangi kepahlawanannya dalam memikul beban jihad dan menantang para musuh di medan perang. Ia adalah seorang yang mempunyai postur tubuh yang kokoh, dengan otot-otot yang keras, mempunyai cengkeraman yang kuat, memiliki mata yang tajam, jiwa yang berani, dan sangat kuat.

Putrinya Aisyah menggambarkannya dan berkata, “Ayahku adalah seorang laki-laki yang pendek, kekar, mempunyai tubuh yang keras, kuat dengan otot yang besar. Memiliki kepala yang besar, dengan jari-jari besar dan pendek, dan memiliki banyak bulu.”

Dan dengan ciri-ciri fisik seperti ini ia lebih mirip dengan ciri-ciri yang dimiliki Ali bin Abu ThalibRadhiyallahu’ Anhuma.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Abu Ishaq As-Sabi’ berkata, “Shahabat Rasulullah yang paling keras ada empat : Umar, Ali, Zubair, dan Sa’ad.”

Jadi dalam hal kekuatan tubuh, kekokohannya, kesempurnaan sosok dan kekuatannya, serta dalam hal keunggulannya dalam berperang dan tabiatnya yang keras, menyerupai Umar, Ali, dan Zubair. Dan telah cukup kita ketahui bagaiamana kekuatan, ketegaran, ketegasan, juga keberanian, wibawa, serta keagungan yang mereka miliki.

Abu Ya’la meriwayatkan dalam Musnadnya dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Saad termasuk orang yang paling tajam pandangannyaa. suatu hari ia melihat sesuatu. Ia bertanya kepada orang yang bersamanya, “Apakah kalian melihat sesuatu?” mereka berkata, “Kami melihat sesuatu seperti burung.” Sa’ad berkata, “Aku melihat seseorang mengendarai unta.” Tidak lama setelah itu datanglah Umar bin Sa’ad dengan mengendarai seekor unta betina. Ia berkata, “Ya Allah, kami berlindung kepadamu dari kejahatan yang akan datang bersamanya.”

Ketajamannya penghlihatannya ini telah menolongnya dalam banyak peperangan dimana ia bisa mengarahkan anak panahnya kepada leher-leher musuhnya, dan tidak pernah meleset. Dan hal ini juga diberkahi dengan doa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dimana beliau berdoa agar tembakan panahnya selalu tepat. Dan itulah yang kemudian terjadi.

6. Masa Kecil

Sa’ad dilahirkan di mekah, dan tumbuh besar dalam dekapan gurun-gurun dan lingkungannya. Ia tumbuh remaja dan menjadi seorang pemuda diantara gunung-gunung dan lembahnya. Jiwanya pun diwarnai oleh bersihnya langit Mekah, dan pendiriannya menjadi sekokoh gunung-gunung yang ditancapkan Allah mengelilingi Baitul Haram, dimana Sa’ad lahir di dekatnya. Kemauannya yang keras, serta jiwa mudanya yang bergelora ditambah dengan kesibukannya dalam membuat anak panah yang seringkali dibeli oleh para petarung yang terhormat. Dan betapa banyak mereka saat itu! Begitu juga para penembak jitu dan mereka yang gemar berburu. Pengalaman ini memberinya kemampuan yang hebat dalam membuatnya dan sekaligus keinginan untuk menggunakan dan melemparnya. Ditambah lagi bahwa hal itu sekaligus menjadi latihan baginya untuk berperang dan menghadapi pertempuran.

Sa’ad mewarisi sifat-sifat ibunya yang keras dan tegas, hingga kekerasan dan ketegasan yang ia miliki pun menjadi semakin kuat. Hamnah, ibu Sa’ad adalah seorang yang sangat penyabar dan keras, mempunyai kemauan yang kuat, kepribadian yang kokoh, dan sangat kuat mempertahankan keinginannya. Hingga ia mampu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Dan saat itu tidak ada satupun yang bisa menggoyahkan tekadnya, ataupun meruntuhkan kesabarannya, selain tekad yang dimiliki oleh putranya Sa’ad ketika masuk Islam, dan ia memaksanya untuk meninggalkan agamanya. Ia juga mengancam untuk tidak makan dan minum. Dan ini benar-benar dilakukannya hingga keadaannya menjadi sangat lemah, dan sementara itu Sa’ad juga belum mampu untuk menaklukkan tekad dan keinginannya yang sangat kuat. Sa’ad memilih untuk tetap berpegang pada agamanya, dan menempuh jalan yang telah dipilihnya. Akhirnya sang ibu menyadari bahwa tidak ada lagi cara untuk memaksa Sa’ad mundur dari agamanya, dan ia pun mengundurkan diri dari medang perang sebagai pihak yang kalah di depan kesabaran putranya, dan di hadapan kekuatan iman yang dimilikinya. Ia pun kembali makan dan minum.

Sa’ad mewarisi dari sosok ibu tersebut, kekuatan tekad, kesabaran, dan kemauannya yang keras. Dengan demikian makin sempurnalah kepribadiannya sebagai seorang pemuda quraisy dari Bani Zuhry yang tumbuh di Mekah. Kekuatan tekad seolah bertemu dengan kekokohan tumbuh di Mekah. Kekuatan tekad seolah bertemu dengan kekokohan fisik di dalam dirinya.

Lalu Islam datang kepada pemuda ini dan membukakan pintu-pintunya. Pemuda itupun tidak merasa ragu sedikitpun, ia segera menyambutnya dengan kemauannya yang rasional, dan maju memasuki taman-tamannya. Ia menemukan apa yang ia cari, dan sekaligus menemukan tujuannya. Agama baru ini pun mengarahkan potensi kekuatannya, menerangi langkahnya, dan memofokuskan seluruh potensinya untuk kebenaran. Jadilah ia seorang laki-laki mengagumkan, yang akan terus diceritakan oleh zaman.

7. Keislamannya Dengan Kelompok Pertama

Wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam berupa ayat-ayat pertama dari surat Al-Alaq. Detikpun itu merupakan saat yang paling membahagiakan di dunia, paling berkah, dan paling menyeluruh manfaatnya bagia seluruh manusia secara umum dan bagi orang-orang arab secara khusus. Wilayah Mekkah seolah diangkat dengan kehadiran Islam. Dan mereka yang paling rasional dan paling cerdas dari putra-putra Quraisy, serta manusia-manusia paling berbahagia di dunia pun segera beriman kepada Nabi yang mulia, Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan bergabung di bawah panjinya, dan bersama-sama membawa benderanya.

Pada hari-hari pertama dari usia dakwah, kebahagiaan menyelimuti sekelompok orang yang terpilih. Takdir telah menuntun mereka untuk menyambut orang yang terpilih. Takdir telah menuntun mereka untuk menyambut seruan langit, mereka segera menyambutnya, dan beriman dengan kesadaran. Mereka membawa panji dakwah dengan bergantung kepada Allah, berpegang teguh kepada tali-Nya, melaju di jalan-Nya, tanpa mempedulikan rasa sakit, dan tidak peduli terhadap berbagai siksaan. Panutan mereka dalam hal ini adalah Rasul yang mulia Shallallahu’alaihi wa Sallam, yang perjalanan hidupnya telah mewangi, dan keharumannya tercium di pelosok Quraisy dengan kesucian, kejujuran, dan kemuliaan sebelum kenabian. Dan setelah kenabiaan, beliau menjadi contoh teragung sampai hari kiamat kelak.

Diantara mereka yang merasakan kebahagiaan tersebut adalah seorang shahabat yang masih begitu muda, Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia bergabung dengan rombongan Islam dan kafilah iman yang pertama. Saat itu ia berada di awal masa mudanya dengan usia tujuh belas tahun.

Kebahagiannya bertambah dengan mimpi yang ia alami disaat tidurnya. Ia menceritakan itu kepada kita, dan berkata.

“Tiga hari sebelum masuk Islam, aku bermimpi. Seolah aku berada dalam kegelapan dan tak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba sebuah bulan ayng menerangiku, dan aku pun mengikutinya. Saat itu aku seolah melihat mereka yang telah lebih dahulu dariku mengikuti bulan tersebut. Aku melihat Zaid bin Hartsah, Ali bin Abu Thalib, juga Abu Bakar. Lalu seolah aku bertanya kepada mereka, “Kapan kalian samapai disini?” Mereka menjawab, “Baru saja.” Setelah itu aku mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyeru kepada Islam dengan sembunyi-sembunyia. Maka aku menemuinya di Syi’b Ajyad (Syi’b Ajyad saat ini adalah salah satu perkampungan di Mekah Al-Mukarramah) yang engkau serukan?” beliau menjawab, “Engkau mengatakan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah dan bahwa engkau Muhammad adalah utusan Allah.” Dan tidak ada yang mendahuluiku selain mereka.”

Sa’ad tidak berlama-lama untuk menyambut seruan ini, karena ia meyakini bahwa mimpi tersebut adalah benar, yang tidak akan bisa dipengaruhi oleh setan. Muhammad telah dikenal Quraisy tentang kejujuran perkataannya, kebersihan jalan hidupnya, dan kemuliaan pribadinya. Kalau ia tidak pernah berbohong kepada manusia, maka bagaimana mungkin dia akan berbohong dia akan berbohong kepada Allah?!

Sa’ad telah mengetahui kedudukan Abu BAkar di Quraisy, begitu juga pengetahuannya tentang Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam , dan kejujurannya yang telah dikenal, serta keyakinannya akan kemuliaan akhlaknya, ia segera bergegas, mendahului seluruh orang-orang kecuali Khadijah tentunya untuk masuk Islam, dan membenarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan apa yang dibawanya dari Allah.

Dan Abu Bakar yang dilihat dalam mimpinya ternyata benar-benar menuntunnya kepada Islam! Begitu masuk Islam, Abu Bakar segera menyeru kepada Allah, dan kepada Islam. Ia mengajak mereka yang ia percayai dari kaumnya dan yang telah ia kenal di majelisnya. ia pun datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan pemuda-pemuda terbaik Quraisy, dan berasal dari keturunan yang paling terhormat.

Al-Imam Muhammad bin Ishaq berkata, “Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam, dan ia memperlihatkan keislamannyaa, ia segera berdakwah kepada Allah. Dan masuk Islamlah di tangannya, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubadillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu’anhum. Mereka pergi menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersama dengan Abu Bakar. Beliau kemudian meneawarkan Islam kepada mereka, membacakan Alqur’an, dan menerangkan hakikat dari Islam. Mereka segera beriman. Merekalah delapan orang (Mereka adalah lima orang yang disebut di atas, ditambah tiga orang yang telah mendahului mereka, yaitu Abu Bakar, Ali, dan Zaid bin Haritshah) yang pertama sekali masuk Islam, membenarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam , dan beriman dengan apa yang dibawanya dari Allah”

Sa’ad menceritakan kepada kita kisah keislamannya, dan memberitahukan cerita keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wa Sallam, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah kepadanya. Juga untuk berbagai kebahagiannya atas karunia yang begitu besar, dan sebagai motifasi bagi mereka yang membaca kisah hidupnya atau mendengar ceritanyaa agar segera menuju ke pangkuan Islam dan berpegang kepada petunjuk Al-Qur’an.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, “Aku telah melihat diriku sebagai orang ketiga yang masuk Islam.”

Al-Bukhari, Ibnu Majah, Abu Nu’aim dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab, dia berkata, aku mendengar Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Tidak ada seorangpun yang masuk Islam kecuali pada hari keislamanku. Dan aku telah melewati selama tujuh hari, dan sungguh aku adalah orang ketiga dalam Islam.”

Tidak diragukan bahwa Sa’ad telah sangat lama masuk Islam, dan diantara mereka yang paling pertama masuk Islam, salah seorang pahlawan dari kafilah pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan ia pun membawa bendera dakwah. Namun ucapannya diatas bisa ditafsirkan dan sesuai dengan apa yang diketahuinya. Ibnu Katsir telah menjelaskan dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, juga Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, bahwasanya ucapan Sa’ad “Dan aku telah melewati selama tujuh hari, dan sungguh aku adalah orang ketiga dalam Islam”, ini dikatakannya sesuai dengan apa yang diketahuinya, dan sebabnya adalah bahwa mereka yang masuk Islam pertama kali, tetap menyembunyikan keislamannya.

Mereka yang masuk Islam pada hari-hari tersebut, sengaja menyembunyikan keislamannya karena takut akan kekejaman Quraisy, dan siksaan yang akan ditimpakan mereka karena mengikuti agama yang baru.

Sejak hari pertama ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyerukan dakwah, dan wahyu yang diterimanya, istri beliau Khadijah segera memeluk Islam, begitupula dengan anggota keluarga Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam yang tinggal di bawah atap rumahnya. Baik anak-anaknya, ataupun mereka yang didiknya. Putra-putri beliau yang ada saat itu segera beriman, Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum Radhiyallahu’ Anhunna. Merekalah yang bersama-sama ibu mereka Khadijah membentuk satu ikatan sebagai orang yang pertama kali masuk Islam, dan membenarkan risalah ayah mereka, pemimpin seluruh manusia, Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Kemudian mereka diikuti oleh ramaja binaan Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam , Ali bin Abi Thalib, yang masih dalam usia anak-anak. Dan jugak kesayangan Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam Zaid bin Haritsah. Mereka semua berada dalam satu rumah.

Dari luar rumah (yang tidak tigngal satu rumah) telah masuk Islam seorang pengokoh agama, imam umat ini, dan sebaik-baik pengikut para Nabi dan Rasul, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mereka semua telah masuk Islam pada detik-detik pertama sejak Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam memproklamirkan bahwa beliau adalah Nabi Allah dan Rasul-Nya.

Setelah itu datanglah angkatan kedua yang beriman, dan diantaranya terdapat Sa’ad dan saudara-saudaranya dimana Abu Bakar mempunyai peran dalam menyeru mereka kepada Allah, dan masuk Islam. Mereka pun mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam , dan memegang tangan kanan beliau untuk berbai’at.

Adapun perkataan Sa’ad bahwa ia adalah “Orang ketiga dalam Islam” juga dapat dilihat dari riwayat lain yang semakna. Dari Amru bin Abasah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendatangi RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam yang sedang berada di Ukazh. Maka aku bertanya, “Siapa yang bersamamu?” Beliau menjawab, “Abu Bakar dan Bilal.” Lalu aku masuk Islam. Dan aku mendapati diriuku sebagai orang keempat dalam Islam.”

Sa’ad adalah diantara mereka yang paling pertama masuk Islam. Ini tidak diragukan. Adapun perkatannya tadi adalah sesuai dengan apa yang diketahuinya saat itu tentang siapa yang telah masuk Islam, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dan itu adalah sebelum diwajibkannya sahalat. Dan Usianya saat itu tujuh belas tahun.

Ibnu Sa’ad dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Aku telah masuk Islam pada hari aku masuk Islam, dan saat itu shalat belum diwajibkan.”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, “Aku telah masuk Islam saat berusia tujuh belas tahun.”

8. Sikap Ibunya Tentang Keislamannya, Dan Keteguhannya Dalam Berpegang Teguh

Keislaman Sa’ad Radhiyallahu’anhu, dan pilihannya untuk mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, ternyata membuat sedih ibunya, dan menyakiti hatinya. Ibunya adalah satu diantara anggota masyarakat Quraisy yang menyembah berhala-berhala, dan berpegang teguh kepada agama nenek moyang. Ia adalah wanita yang susah diatur, memiliki tabiat yang keras, tegar dan tak mudah ditaklukkan. Ia memiliki kekuasaan penuh terhadap anak-anak dan keluarganya. Maka ia pun memaksakan kehendaknya kepada Sa’ad, dan berdiri di hadapannya bagai sebongkah karang yang amat keras, dan takkan dikalahkan oleh air kehidupan. Keahlian seorang tukang pahat pun takkan berguna untuknya. Karena ia telah diwarnai dan tersedot ke dalam pusaran kesombongan masyarakat Quraisy yang jauh dari jalan Allah. Maka ia pun bersuaha untuk mengembalikan Sa’ad kepada agama kaumnya.

Sa’ad adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Senantiasanya menyayanginya, mentaati perintah-perintahnya, dan menuruti segala kemaunnya. Ini semua terjadi sebelum kedatangan Islam. Namun ketika ia telah beriman kepada Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan kesadaran dan penuh ketaatan, dan Allah berkehendak untuk menyelamatkannya dari jurang kemusyrikan, dan mengangkatnya kepada tingginya cahaya keimanan dan tauhid, maka saat itu, dibutuhkan pemikiran yang mendalam, dan keputusan yang tepat, yang didasari oleh cahaya kebenaran yang telah diimaninya.

Maka iapun berusaha menghadapi ibunya dengan kelembutan dan cara yang baik untuk melunakkan sikapnya dan membiarkannya dengan pilihannya. Dan ia akan senantiasa menjaga baktinya kepada ibunya, dan bersikap baik kepadanya selama hidupnya. Namun ia tidak berhasil.

Ibunya menghunuskan sebuah senjata yang sangat berbahaya kepadanya. Dan mendebatnya dengan ajaran-ajaran agama yang diimaninya dan dipegangnya dengan teguh. Ia mengumumkan akan berhenti makan dan minum sampai. Sehingga orang-orang akan menyalahkan Sa’ad atas kematiannya. Dengan demikian ia juga menyindir tentang sikap bakti kepada orang tua di dalam agama yang baru dipeluk anaknya. Ia benar-benar melakukan itu, dan terus melaksanakan aksinya untuk mogok makan dan minum, hingga ia hampir mati karenanya.

Namun Sa’ad berdiri kokoh di depan keinginan ibunya bagai sebuah gunung tinggi yang tidak tergoyahkan oleh badai, dan tetap bertahan dengan agamanya sebagaimana gunung yang kokoh.

Berapa orang dari keluarganya segera menemuinya dan memintanya untuk menjenguk ibunya yang berada dalam kondisi menyedihkan, dan mautpun seolah telah bersiap mengetuk pintu rumahnya. Dengan harapan, agar hati Sa’ad menjadi lunak, kemudian meninjau kembali keputusannya dan bisa mengikuti kemauan ibunya.

Sa’ad pun datang menemui ibunya, dan menyaksikan sebuah pemandangan yang meluluhkan hati, yang mampu memusnahkan sebauh karang dari tempat. Namun keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash jauh lebih kuat dari karang, dan lebih kokoh dari gunung. Ia mendekati ibunya, dan mengatakan kepada dengan disaksikan oleh mereka yang hadir, bahwa itu semau tidak akan merubah keputusannya, dan tidak akan bisa membuatnya meninggalkan agamanya.

Mari kita dengarkan sebuah berita yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Ya’la, dan yang lainnya, dari Sa’ad , ia berkata, “Ayat ini turun berkenaan denganku, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlajh engkau menaati keduanya,” (QS. Luqman [31]: 15). Ia berkata, “Ali adalah anak yang sangat berbakti kepada ibuku. Ketika aku masuk Islam, ibuku berkata, “Hai Sa’ad, agama apakah yang telah engkau anut?! Engkau harus meninggalkan agamamu ini, atau aku tidak akan makan dan minum sampai mati, sehingga kau akan dicela karenaku, dan akan dikatakan kepadamu, “Wahai pembunuh ibunya.” Aku berkata, “Janganlah engkau lakukan itu duhai ibu, sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk apapun.” Ia pun kemudian tidak makan dan minum sehari semalam, “Wahai ibu, engkau tahu? Demi Allah kalau engkau memiliki seratus nyawa, an keluar satu demi satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Kalau ibu mau, makanlah, atau kalau tidak maka jangan makan.” Ketika ia melihat sikapku, akhirnya ia pun makan.”

Dalam Sebuah riwayat dari Ibnu Sa’ad disebutkan bahwa ibu Sa’ad bersumpah untuk tidak berbicara kepadanya, tidak makan, dan tidak minum sama sekali, sampai ia keluar dari agama barunya. Ibunya mengatakan, “Engkau mengatakan bahwa Allah telah memerintahkanmu agar berbuat baik kepada kedua orangtuamu, aku sendiri adalah Ibumu, dan aku memerintahkanmu untuk keluar dari agamamu itu.” Ibunya tetap melakukan hal tersebut selama tiga hari hingga akhirnya pingsan karena keletihan. Lalu datanglah saudara Sa’ad yang bernama Uamarah untuk memberi minum kepada ibunya itu. Setelah siuman, ibunya mendoakan keburukan untuk Sa’ad. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat ini, “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-KU dan kepada kedua orang tuamu. hanya kepada aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, makan janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: [31: 14-15).

Dan dalam sebuah riwayat lain, “Dan ia menolak untuk makan, sampai-sampai orang-orang menahan mulutnya dengan kayu untuk memasukkan minuman dan makanan.”

Lalu turunlah wahyu yang mendukung Sa’ad tersebut, dan memuji ketegarannya dalam agamanya. Ini merupakan awal dari banyak kelebihannya, dan satu diantara keutamaan dan kebanggannya. Ia menjadi contoh bagi para pembawa kebenaran, juga bagi para pengemban dakwah dan prinsip-prinsip yang agung. Agar mereka semua senantiasa bersandar kepada agama mereka dan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip mereka. Dengan tetap berbakti kepada kedua orang tua, dan berbuat baik kepada kaum kerabat. [Bersambung …]

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/saad-bin-abi-waqqash

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s