Sa’id bin Zaid

A. Masa Kecil, Remaja Dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, dan Penisbatannya

Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah Al-Qurasyi Al-Adawi Al-Makki Al-Madani.

Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Ka’ab bin Lu’ay, dia berasal dari Bani Adi, kerabat dari Umar bin Khaththab, dan nasab mereka bertemu pada Nufail. Jadi Umar adalah anak dari paman ayahnya.

Di masa jahiliyah, keluar Sa’id (Bani Adi) adalah kabilah yang paling sedikit jumlahnya disbanding kabilah-kabilah lain yang terdapat di Quraisy. Mereka tidak mendapatkan jabatan yang penting pada masa jahiliyah, terutama yang berkenaan dengan Ka’bah dan Baitul Haram. Tapi mereka diberikan tanggung jawab sebagai delegasi dan negosiator antara Quraisy dengan siapa saja yang berselisih dan menggugat mereka dari kabilah-kabilah arab lainnya. Suatu hal yang menunjukkan ketegaran dan ketabahan mereka.

2. Julukan dan Ciri-cirinya

Sa’id dijuluki Abu Al-A’war. Namun dari sekian banyak anaknya, tidak diketahui ada yang bernama tersebut (Al-A’war). Dia berperawakan tinggi besar dan memiliki banyak bulu ditubuhnya, dalam hal ini ia menyerupai Umar.

3. Masa Kecilnya

Kebijaksanaan takdir telah menyiapkan kebahagiaan bagi remaja ini sejak menghirup udara pertamanya hingga hari terakhirnya di dunia. Dan pena sejarah pun telah mencatat banyak faktor yang membuatnya mampu meraih kebahagiaan tersebut, dan tetap menjaganya dalam perjalanan waktu dari segala hal yang mengancamnya

Benih-benih kebahagiaan telah mulai disemai ketika ayahnya memberinya nama Sa’id (Kebahagiaan), dan setiap manusia mempunyai keberuntungannya masing-masing dengan namanya. Dan sejarah pun telah menyimpan banyak peristiwa dan perbuatannyaa yang menjamin kebahagiaannyaa di dunia dan akhirat.

Kemudian diikuti dengan didikan, bimbingan, dan asuhan dari ayahnya, seorang laki-laki shalih yang cerdas dan bijaksana, yaitu Zaid bin Amru bin Nufail. Seorang laki-laki yang hidup di tengah keluarganya Bani Adi, dan di tengah kabilah besarnya yaitu Quraisy yang berada dalam kesyirikan dan penyembahan berhala serta kondisi masyarakat jahiliyah yang kufur. Namun demikian, ia bagaikan potret tersendiri yang terpisah dari masyarakat tersebut, ia bukanlah gambaran dari mereka. Secara terang-terangan ia memperlihatkan perbedaannya dengan masyarakatnya, menjauh dari mereka, dan menghindari penyembahan tuhan-tuhan mereka maupun para leluhur. Dia menolak untuk mengundi nasib dengan anak panah sebagaimana kebiasaan kaumnya, ataupun memberikan hewan kurban untuk berhala-hala. Dia seringkali menyelamatkan hidup anak-anak perempuan yang akan dibunuh orang tua mereka dengan cara di kubur hidup-hidup. Ia mengambil anak-anak itu dari orang tua yang akan membunuh mereka, kemudian mengasuh dan mendidiknya. Dia pernah ditawarkan untuk memeluk agama nasrani, namun ia menolaknya. Begitupula dengan agama yahudi. Dia tetap berpegang kepada agama Ibrahim Alaihissalam, dan menjalankan apa-apa yang masih tersisa dari ajaran suci Ibrahim Alaihissalam yang pertama. Ia sering mendatangi Ka’bah, dan sangat menunggu kedatangan seorang Nabi dari keturunan Isma’il Alaihissalam, yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun sayangnya ia tidak pernah menjumpai beliau, karena ia wafat lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Nabi.

Dalam pengawasan dan asuhan laki-laki cerdas yang merupakan seorang penganut tauhid murni inilah Sa’id bin Zaid menjalani hari-hari pertamanya di dunia. Dan dari kemurnian inilah ia mereguk minuman pertamanya, dan dalam arahan dan pola fikir ini ia tumbuh. Kemudian, dengan mengikuti pola dan jalan yang lurus tersebut ia pun sampai pada tujuannya.

Akhlak yang baik, akal yang cemerlang, dan fikiran yang sehat, serta kemampuan analisa yang tajam, diwariskan kepada keturunan. Dan gen-gen tersebut diwarisi sebagaimana mereka mewarisi ciri-ciri fisik dari orang tua mereka. Maka Sa’id pun mewarisi akhlak ayahnya, berjalan mengikuti jalan yang pernah ditempuhnya, dan mengikuti jejak langkahnya. Yang kemudian menerangi jalannya, dan meneguhkan langkahnya dalam meniti jalan yang lurus.

4. Masuk Islam

Begitu fajar risalah mulai terbit, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyampaikan dakwahnya, dan Sa’id mendengar tentangnya, ia segera mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan menyatakan keislamannya di hadapan beliau. Dengan demikian ia turut bergabung dalam kafilah pertama yang mengemban dakwah dan menyeru kepada kebenaran dan kebaikan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, ia berkata, “Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memasuki Darul Arqam dan berdakwah di sana.”

Al-Imam Muhammad bin Ishaq menuturkan nama-nama mereka yang pertama kali masuk Islam, dan menyebutkan nama Khadijah, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar. Dan mereka yang masuk Islam melalui Abu Bakar : Utsman, Zubair, Ibnu Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian ia berkat, “Lalu masuk Islam pula Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Abu Salamah bin Abdul Asad, Al-Arqam, Utsman, Qudamah, dan Abdullah putra-putra Mazh’un, Ubaidah bin Al-Harits, Sa’id bin Zaid, dan istrinya Fathimah binti Al-Khaththab saudari dari Umar, Asma binti Abu Bakar, dan Khabbab bin Al-Arat.”

Keislaman Sa’id merupakan keislaman yang didasari oleh pendidikan yang baik, akal yang cemerlang, dan hati yang terang.

Adapun pendidikan adalah ia tumbuh dalam asuhan Zaid bin Amru bin Nufail, seorang laki-laki bijaksana yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus, meninggalkan berhala-berhala Quraisy, dan menolak agama nasrani dan yahudi yang telah diselewengkan. Seorang laki-laki yang setia menunggu kedatangan seorang Nabi yang telah dekat masanya, namun keinginannya tersebut terhalang oleh kematian yang menjemputnya. Adapun Sa’id, ia segera memenuhi keinginannya dan mewujudkan cita-citanya. Ia pun meniti jalannya dan mengikuti agama yang murni dari kotornya kesyirikan dan animism. Agama yang mengobati kerinduan manusia, menghormati akalnya, menghargai kehormatan manusia, dan menyucikan kemanusiaan itu sendiri.

Adapun akal yang cemerlang adalah karena ia telah mengetahui dan menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallamm, juga keindahan pekertinya dan kedudukannya yang terhormat di kaumnya. Kemudian ia menggunakan kecerdasannya untuk menganalisa dakwah dan pokok-pokok ajaran beliau, lalu membandingkannya dengan apa yang telah dicari dan ditunggu-tunggu ayahnya sejak lama, dan ia pun menemukan kebenaran di sana. Sedikitpun ia tidak merasakan kerancuan dari apa yang diserukan oleh Nabi yang mulia tersebut dengan fenomena yang ada di masyarakat Quraisy saat itu.

Sa’id kemudian mengkumulasikan itu semua dengan apa yang dilihatnya, bahwa rombongan yang pertama-tama menyambut Islam adalah tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Ubaidah, dan Ibnu Auf.

Maka ia pun tidak ragu lagi untuk menyambut dan mengulurkan tangan kanannya memegang tangan kanan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, berserah diri kepada agamanya, menyatakan keimanan kepada risalahnya, dan turut membela dakwahnya.

Sedangkan hati yang terang yaitu ketenangan hati yang ia dapatkan di dalam Islam yang berdiri di atas sikap mentauhidkan Dzat Yang Maha Tinggi. Juga apa yang ia rasakan dalam jiwanya, yang menuntaskan dahaga kerinduannya, disbanding dengan tuhan-tuhan yang terbuat dari batu dan tanah! “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. Az-Zumar [39]:29].

Kemudian bergabung dengan mereka Khabbab bin Al-Arat yang mengajarkan mereka Al-Qur’an di rumah mereka. Mereka semua menyembunyikan keislaman mereka karena takut akan kekerasan sikap Bani Adi, khususnya Umar yang masih berada dalam kesyirikan.

Keislaman Sa’id merupakan baris pertama dari catatan kebahagiaannya. Sebuah kunci dari banyak kemuliaan yang akan ditorehkannya dalam kitab kehidupannya, hingga nanti ia meninggalkan dunia ini dengan membawa kabar gembira dari Nabi tentang kehidupan yang abadi di surga yang penuh nikmat.

B. Bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Sa’id masuk Islam sejak awal kemunculan dakwah, dan bergabung dengan para pahlawan pengusung panji dakwah yang pertama. Dia sangat menyadari akan beban berat yang diembannya dengan pilihan yang berani tersebut. Dia juga mengetahui ancaman siksaan berat yang telah menunggunya, dan menunggu orang-orang sepertinya yang mengikuti cahaya baru yang muncul di Mekah, tepati di tengah kelamnya kemusyrikan dan kekufuran. Juga terbayang di matanya siksaan kaum nya dari Bani Adi, dan yang terdepan dari mereka adalah Umar bin Khaththab yang terkenal dengan kekerasan dan kebengisannya.

Namun ia tidak peduli dengan itu semua, ia menguatkan dirinya untuk menanggung kesusahan, dan sabar dalam menghadapi berbagai penderitaan yang akan menimpa para pengemban dakwah yang berjiwa besar. Ia juga mengokohkan tekadnya, dan keislaman istrinya Fathimah bin Khaththab, adik dari Umar bin Khaththab semakin menguatkannya. Maka ia pun berjanji untuk tetap berada di jalan dakwah, siap mengorbankan apa saja, karena harga yang akan diperolehnya jauh lebih mahal dari apapun juga.

1. Ketabahannya Dalam Menghadapi Umar Mengantarkan Umar Kepada Islam

Berita keislaman ipar dan adiknya pun sampai ke telinga Umar. Ia segera mendatangi mereka, menghantam mereka dengan kebengisan nya, menarik mereka dengan kuat, sebagai penghinaan atas mereka, dan memaksa mereka untuk keluar dari Islam. Namun itu semua justru membuat mereka semakin teguh berpegang kepada agama mereka.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Qais bin Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail di masjid kufah berkata, “Demi Allah, aku pernah bermimpi bahwa Umar adalah peneguhku terhadap Islam, sebelum Umar masuk Islam, dan sekiranya gunung Uhud bisa lenyap karena apa yang telah kalian lakukan terhadap Utsman, niscaya gunung itu akan lenyap.”

Dalam riwayat lain, “Kalau saja aku bermimpi Umar menjadi peneguhku dan adiknya dalam Islam, saat itu dia belum masuk Islam. Dan kalau saja gunung Uhud bisa runtuh karena apa yang telah kalian lakukan terhadap Utsman, niscaya gunung itu akan runtuh!”

Kapal dakwah pun berlayar mengarungi derasnya laut kesyirikan. Setiap hari selalu saja ada satu atau dua orang yang bergabung dengan mereka. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersamanya mulai memasuki rumah Al-Arqam, madrasah pertama dalam Islam. Dan disanalah, dengan disaksikan Baitullah Al-Haram, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam membacakan kepada mereka Al-Qur’an. Mengayomi mereka dengan petunjuk, pendidikan, dan kekuatan tekadnya yang menjadikan mereka semakin teguh berpegang kepada dakwahnya dan siap mengemban apa yang diamankan kepada para pembawa risalah.

Pijar-pijar cahaya dan sinar kenabian perlahan menyingkirkan kegelapan dari hati Umar. Dan sebagi gantinya, menanamkan motif-motif pemikiran yang mencerahkan, yang menuntunnya untuk memikirkan agama baru ini secara mendalam. Kemudian memutuskan untuk berpegang kepadanya setelah melewati pemikiran yang tajam dan tekad yang kuat. Takdir pun telah berkehendak bahwa yang menyadarkan Umar dari kelengahannya, dan mengembalikannya dari jalan sesat para nenek moyang, adalah keluarga terdekatnya sendiri, yaitu ipar dan adik perempuannya.

Pijaran cahaya pertama adalah saat ia dengan sembunyi-sembunyi mendengarkan RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam membaca beberapa ayat suci. Pijaran kedua menyentuh hatinya ketika ia menyaksikan kaum muslimin dan muslimat berangkat hijrah menuju Habasyah. Peristiwa itu mengetuk hatinya, lalu ditambah dengan doa Nabi yang mulia agar Allah menguatkan Islam dan kaum muslimin dengan Umar Radhiyallahu Anhu.

Semua itu membangkitkan sebuah jeritan yang menghentak di dalam hati Umar. Namun tak lama cahayanya kembali memudar, dan perlahan panasnya kembali pudar. Sementara ia berjuang melawan tumpukan warisan-warisan jahiliyah dan kerasnya jiwa mudanya. Namun ia laksana sumbu yang akan dipadamkan oleh seorang wanita anggun yang mengagumkan. Seorang wanita yang lahir dari Rahim yang sama dengan Umar, dan tumbuh dalam lingkungan yang keras sepertinya. Di temani oleh seorang laki-laki mulia dari Bani Adi yang juga merupakan sepupu bagi Umar. Seorang laki-laki yang hatinya telah dipenuhi iman, dan menempuh jalannya dengan ketegaran dan kekuatan tekad seorang yang berasal Bani Adi. Berpegang teguh kepada Tuhannya, dan bangga dengan keimanannya. Tidak main-main dengan keimanannya, dan tidak gentar terhadap siksaan pada saat-saat yang penuh tantangan, apapun bentuk tantangan yang dihadapinya atau menghalanginya.

Di suatu siang yang sangat panas, Umar keluar dari rumahnya dengan sebuah ketetapan hati. Ia menghunus pedangnya, menuju rumah Al-Arqam yang menjadi tempat berkumpul RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam dengan para sahabatnya, dia telah bertekad untuk membunuh beliau. Di jalan ia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah An-Nahham yang ketika itu telah masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya yang bertanya kepadanya, “Engkau hendak ke mana hai Umar?” Umar menjawab, “Aku akan menemui Muhammad, orang yang telah keluar dari agama kita, memecah belah orang-orang Quraisy, mendustakan mimpi-mimpi mereka, menghina agama mereka, dan mengejek tuhan-tuhan mereka, aku akan mebunuhnya.” Nu’aim berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau telah tertipu oleh dirimu sendiri hai Umar. Apakah menurutmu Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu berleluasa di atas permukaan bumi setelah engkau membunuh Muhammad ?!”

Dari ucapannya, Umar merasa bahwa Nu’aim sendiri telah masuk Islam. Maka ia berkata, “Sungguh aku melihat bahwa engkau pun telah berpaling, dan telah meninggalkan agama yang sebelumnya kau anut?!”

Kecerdasaan yang dimiliki oleh Nu’aim memberikannya jalan keluar dan dia mengetahui tentang kebengisan Umar, maka dia memalingkannya dari tujuan utamanya, untuk menjauhkan RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam dari hal yang mencelakakannya, juga dari dirinya sendiri. Maka ia berkata kepada Umar, “Kenapa engkau tidak kembali kepada keluargamu dan menangani urusan mereka?”

Umar berkata, “Keluargaku yang mana?”

Nu’aim menjawab, “Saudara ipar sekaligus sepupumu Sa’id bin Zaid bin Amru, dan adimu Fathimah binti Khaththab, sungguh demi Allah, mereka telah masuk Islam, dan mengikuti agama Muhammad. Maka hendaklah engkau memperhatikan mereka berdua.”

Umar pun berputar arah. Dia tidak lagi peduli dengan rumah Al-Arqam dan orang-orang yang ada di sana, bahaya telah mengancam rumahnya sendiri, dan menembus masuk ke dalamnya.

Umar kembali menuju rumah adiknya dan saudara iparnya. Saat itu di rumah mereka terdapat Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha kepada keduanya. Ketika mendengar suara Umar, Khabbab segera bersembunyi di sebuah tempat persembunyian mereka, sedangkan Fathimah binti Khaththab bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan menyimpannya di bawa pahanya. Ketika mendekati rumah tersebut, sesungguhnya Umar telah mendengar pembacaan surat Thaha oleh Khabbab kepada mereka berdua. Maka ketika telah masuk rumah, ia berkata, “Suara bisik-bisik apa tadi yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Engkau tidak mendengar apa-apa.”

Ia berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah mendapatkan berita bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad.” Lalu Umar memukul saudara iparnya Sa’id bin Zaid, dan adiknya Fathimah pun bangkit melindungi suaminya dari Umar. Umar memukul Fathima hingga terluka.

Karena Umar bersikap seperti itu, Fathimah dan suaminya berkata, “Ya, kami telah masuk Islam, kami telah beriman kepada Allah dan Rasulnya, perbuatlah apa yang engkau inginkan kepada kami!”

Di sini, kata-kata kebenaran yang penuh kejujuran dari adik dan iparnya, mengetuk hati Umar yang saat itu sedang berada dalam puncak kekerasannya. Kabut yang menyelimuti hatinya pun terkuak, dan segera menjadi lunak dan lembut. Pada detik tersebut, terlihat dengan jelas tabiat Umar yang menjadikannya lebih unggul dari tokoh-tokoh Quraisy lainnya, seperti Abu Jahal dan orang-orang sepertinya yang telah mengetahui kebenaran, namun mereka sombong dan keras kepala.

Kekuatan yang dimiliki Umar adalah kekuatan yang berdasarkan keunggulan, bukan kekuatan yang semata-mata berdasarkan kebengisan, ketergesaan, ataupun sikap keras kepala semata. Hingga ketika hatinya diketuk oleh kata-kata jujur yang timbul dari hati yang dipenuhi oleh iman, keunggulannya terlihat dalam sebuah tabiat yang tidak suka bertele-tele atau berbelit-belit. Bahkan cenderung kepada sebuah kejelasan dan merasa damai dengannya.

Bagaikan petir yang menyambar, ia segera bangkit dari arah Sa’ad. Dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia mendekati adiknya dan berkata, “Berikanlah lembaran yang aku dengar kalian baca tadi, agar aku melihat apa yang sebenarnya di bawa oleh Muhammad.”

Ketika ia berkata demikian, adiknya berkata, “Sungguh kami takut engkau akan merampasnya.”

Umar berkata, “Janganlah engkau takut.” Dan Umar bersumpah dengan nama tuhan-tuhannya bahwa ia pasti akan mengembalikannya jika telah selesai membacanya.

Ketika Umar berkata, demikian, adiknya berharap Umar akan masuk Islam, maka dia berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis karena kemusyrikanmu, dan sesungguhnya lembaran itu tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci.”

Umar bangkit dan mandi. Setelah mandi Fathimah memberikan lembaran itu kepadanya. Dan Umar pub membaca, “Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur’an itu kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy. Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahu rahasia dan yang lebih tersembunyi. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik (QS-Thaha [20]: 1-8.)”.

Umar meneruskan bacaannya dengan hati yang berdebar, dan tubuh yang menggigil, ia membaca dengan khusyu’ dan tenang. Lalu ia menuju rumah Al-Arqam, menyatakan keislamannya, dan Allah pun menguatkan Islam dengannya.

Begitulah keislaman Umar di rumah Sa’id. Sa’id dan istrinya merupakan penyebab utama yang menyadarkan Umar dan kemudian masuk Islam. Dengan sebuah sikap keimanan yang kokoh dan mengagumkan, mereka berdua menantang kebengisan Ibnu Khaththab, dan menyatakan keislaman mereka di hadapannya tanpa ragu. Menghadapinya dengan keyakinan bahwa mereka berada dalam kebenaran sementara dia dalam kebatilan. Ini lah ketegaran Bani Adi yang dimiliki oleh seorang laki-laki seperti Sa’id, dan seorang wanita seperti Fathimah Radhiyallahu Anhuma wa Ardhahuma.

Islam terus menyebar di Mekah. Islamnya Umar semakin memperkokoh cengkramannya. NabiShallallahu’alaihi wa Sallam mulai berdakwah secara terang-terangan, dan orang-orang yang telah beriman pun mendampingi beliau dan melaksanakan dakwah bersama beliau. Masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersamanya melakukan dakwah secara terang-terangan, dan Islam pun mulai menyebar di Mekah, mereka saling berdakwah satu sama lain. Abu Bakar berdakwah secara sembunyi-sembunyi, begitu juga Sa’ad bin Zia,d dan Utsman. Umar berdakwah dengan terang-terangan, juga Hamzah bin Abdul Muththalib dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Melihat ini semua, Quraisy menjadi marah, dan mereka pun mulai memperlihatkan kedengkian dan permusuhan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Sa’id bin Zaid mengisi hari-harinya dengan tetap bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan para shahabatnya. Menghadiri majelis-majelis Rasulullah, belajar dari beliau, dan membelanya. Semakin hari, Islam semakin kuat dan terus menyebar, hingga akhirnya kaum Anshar datang dan membai’at RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam untuk memberikan tempat tinggal dan membela beliau. Setelah itu RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah, dan Sa’id pun ikut hijrah ke sana.

Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Hazm beserta yang lainnya meriwayatkan, bahwasanya ketika Umar keluar untuk hijrah, turut bersamanya sekelompok orang dari Bani Adi. Di antaranya terdapat saudara iparnya Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah yang merupakan adik dari Umar.

Kaum Anshar menyambut saudara-saudara mereka dari golongan Muhajirin dengan tangan terbuka dan penghormatan yang tinggi. Dan mereka berusaha sebaik mungkin menyediakan hal tertinggi yang bisa terlintas dalam pikiran seseorang untuk diberikan. Mereka merentangkan tangan kebaikan dan cinta, serta sikap mendahulukan orang lain. Mereka membuka hati dan pintu-pintu rumah mereka. Dan kaum muhajirin pun tinggal bersama mereka dalam keadaan terhormat dan dimuliakan.

Ibnu Sa’ad berkata, “Ketika Sa’id bin Zaid hijrah ke Madinah, ia tinggal bersama Rifa’ah bin Abdul Munzdzir, saudara dari Abu Lubabah.”

Sejak hari pertama kedatangan Nabi di Yatsrib yang dimuliakan dengan beliau, yang sejak saat itu namanya berubah menjadi Madinah, dan menjadi titik tolak dakwah dan penyampaian risalah, NabiShallallahu’alaihi wa Sallam merajut ikatan persaudaraan antara dua pokok utama masyarakat muslim yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Sebuah tindakan yang tepat setelah pembangunan masjid. Dua tindakan ini lah yang menjadi dua pondasi yang sangat mengakar dalam akidah tauhid. Dan di atasnyalah kemudian dibangun sebuah masyarakat yang bersih dan unggul, yang kemudian memimpin dunia menuju jalan petunjuk, kebaikan, kebahagiaan, dan keberhasilan di dunia dan akhirat.

Dan Ibnu Ishaq serta yang lainnya telah menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallammempersaudarakan antara Sa’id bin Zaid dengan Ubay bin Ka’ab.

Adapun Ibnu Sa’ad, dia mengatakan, “Justru Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mempersaudarakan Sa’id dengan Rafi’ bin Malik Az-Zuraqi.

Namun baik dengan yang ini ataupun yang itu, maka keduanya merupakan tokoh-tokoh sahabat. Ubay adalah salah seorang yang ikut dalam bai’at Aqabah, ikut dalam perang Badar, dan penghulu dari qari’ (ahli membaca Al-Qur’an). Sedangkan Rafi’ adalah tokoh terkemuka golongan Anshar dan termasuk dari dua belas orang yang berbai’at di Aqabah. Maka itu merupakan sebuah persaudaraan yang mulia dari segi tujuan maupun dari sisi keutamaan mereka dalam keislaman.

2. Mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam

Sa’id terus mendampingi Rasulullah selama masa dakwah yang penuh berkah, dia adalah seorang yang paling pertama memeluk Islam, dia tetap berada di Mekah dan tidak meninggalkannya untuk ke Habasyah atau yang lainnya. Kemudian ia hijrah ke Madinah dan terus mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallamdi sana sampai kembali kepada Tuhannya.

Kebersamaan yang indah ini telah dilalui Sa’od selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dan kebersamaan tersebut tentunya penuh dengan berbagai peristiwa dan banyak kejadian. Sa;id adalah satu di antara tokoh shahabat dan yang terkemuka di antara mereka. Namun sebagian besar kitab-kitab referensi sedikit sekali menceritakan kiprah dan prestasinya selama kurun waktu yang cukup panjang tersebut. Sementara pada wakty yang sama kita lihat banyak shahabat lain yang masih di bawah Sa’id dalam hal keutamaannya yang pertama-tama masuk Islam ataupun dalam hal kedudukannya, seluruh shahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah sosok-sosok terpilih dan terbaik, banyak sekali sumber yang bercerita tentang mereka, dan mereka juga mendapatkan porsi yang sangat banyak dalam lembaran sejarah.

Dan hanya terdapat sebuah riwayat yang menceritakan secara umum tentang kehidupan shahabat ini bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, yang memberikan gambaran tentang kiprahnya. Dan menerangi jalan bagi para pembaca untuk memastikan keberadaan Sa’id secara terus menerus dalam mendampingi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, juga belajar dari beliau, mengikutinya dan membelanya.

Ibnu Asakir dan yang lain meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, “Kedudukan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail, mereka selalu berada di depan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam peperangan, berada di belakang beliau dalam shaf shalat. Dan tak satupun shahabat dari kalangan Muhajirin atau Anshar yang bisa menggantikan posisi mereka, baik di saat kehadiran mereka atau tidak”.

Satu riwayat yang singkat ini cukup bagi seorang sastrawan  untuk merajut sebuah cerita kehidupan seorang Sa’id dan kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan peran-perannya bersama beliau. Dengan membandingkannya dengan biografi shahabat-shahabat lain yang disebutkan bersamanya. Namun kami tidak ingin pena ini menulis sesuatu yang tidak diketahuinya, atau mengada-ada. Jadi, riwayat di atas cukup bagi kita untuk mengambil kesimpulan tentang tingginya kedudukan shahabat yang satu ini di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, juga kedudukan nya di sisi para shahabat dan orang-orang kebanyakan. Kita juga bisa mengambil kesimpulan tentang kebersamaannya yang hampir tak pernah lepas dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam shalat-shalatnya, dalam majelis-majelis beliau, di Madinah, ataupun saat bepergian, dan kemudian pada saat peperangan dan peristiwa-peristiwa lainnya.

3. Peperangan yang diikutinya bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Para sejarawan dan penulis biografi tidak memasukkan Sa’id dalam deretan para pahlawan dari kalangan shahabat, ataupun mereka yang tergolong singa-singa perang pada saat berkecamuknya pertempuran. Seperti halnya Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Thalhah, dan Abu durjanah. Namun mereka semua sepakat bahwa ia ikut dalam semua peperangan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, ikut berjihad di bawha panji beliau, untuk membela agamanya, mempertahankan dakwahnya, dan cukuplah itu menjadi suatu kehormatan baginya.

4. Perang Badar

Sa’id tidak ikut dalam perang Badar. Namun itu bukan karena keterlambatannya untuk mendapatkan kemuliaan tersebut, tapi karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah mengutusnya untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy uang menjadi target. Ia pun segera berangkat. Setelah menyelesaikan misinya, ia kembali ke Madinah untuk melaporkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun ia mendapatkan beliau telah selesai dari perang Badar. Maka RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam tetap menghitung perannya dalam perang tersebut juga pahala yang didapatkannya. Karena itulah para sejarawan dan biographer termasuk Al-Bukhari memasukkannya ke dalam golongan yang ikut perang Badar.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir serta yang lainnya meriwayatkan, Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallammenunggu-nunggu kedatangan kafilah Quraisy dari Syam, beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid Amru bin Nufail sepuluh hari sebelum keberangkatan beliau dari Madinah, untuk menyelidiki berita tentang kafilah tersebut. Mereka pun pergi hingga sampai di Al-Haura’, dan tetap disana sampai kafilah tersebut melewati mereka. Berita tentang hal ini sampai kepada Rasulullah sebelum kepulangan mereka berdua, maka beliaupun memimpin shahabat-shahabat nya dan pergi untuk mencegat kafilah. Namun ternyata kafilah itu mengambil jalan pantai dan bergegas. Mereka berjalan siang dan malam untuk menghindari pengejaran. Sementara itu, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid kembali ke Madinah untuk memberitahukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tentang kafilah tersebut, tanpa mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan Madinah. Mereka pun sampai di Madinah tepat pada hari di mana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bertemu dengan pasukan Quraisy di Badar. Mereka pun segera meninggalkan Madinah untuk menyusul Rasulullah. Mereka menemui beliau di Turban, yang terletak antara Malal dan As-Sayalah dalam perjalanan pulang dari Badar. Jadi Thalhah dan Sa’id tidak sempat mengikuti pertempuran. Namun demikian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tetap menghitung bagian dan pahala mereka di Badar. Sehingga seolah mereka ikut dalam perang tersebut.

Begitu juga riwayat dari Urwah bin Zubair dan Az-Zuhri, Musa bin Uqbah, Ibnu Ishaq dan lainnya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menghitung bagiannya dan juga pahalanya dalam perang Badar.

Thalhah dan Zubair bukan meninggalkan kemuliaan ikut dalam perang yang menentukan itu. Juga bukan karena kesibukan mereka dalam perdagangan ataupun urusan dunia lain. Mereka pergi sebagai mata-mata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy dan kekuatan militer mereka. Sebagai bukti, cukuplah bagian yang diberikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan pahala yang mereka terima dalam perang tersebut. Maka tidak heran kalau para sejarawan sepakat bahwa Sa’id adalah termasuk ahli Badar. Dan itu adalah sebuah kehormatan yang mungkin hanya bisa dilampaui oleh kedudukannya sebagai orang yang lebih dahulu masuk Islam.

Ath-Thabrani, Al-Hakim, Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah bin Zubair dalam kitabTasmiyatu Ahli Badr, ia berkata, “Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail kembali dari Syam setelah kepulangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dari Badar. Ia pun berbicara dengan beliau, dan beliau menghitung bagiannya, dan kemudian ia bertanya, “Dan termasuk pahalaku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dan termasuk pahalamu.”

Ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya, namun sesuai. Dan sekaligus menjelaskan arah yang dituju oleh Thalhah dan Zubair untuk menyelidiki berita tentang kafilah itu, yang ternyata berada di jalan yang menuju ke Syam.

Al-Imam Ath- Thabari berkata, setelah sebuah pembicaraan panjang tentang perang Badar, “Sebelum keluar Madinah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, ke jalan yang menuju Syam untuk menyelidiki berita tentang kafilah. Kemudian mereka kembali ke Madinah, dan sampai di sana pada hari terjadinya perang Badar. Mereka kemudian menemui RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam di Turbanm yang merupakan sebuah lembah, dalam perjalanan dari Badar menuju Madinah.”

5. Keikut sertaannya dalam semua peperangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr, An-Nawawi, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan imam-imam lainnya berkata, “Dan Sa’id juga turut dalam perang Uhud, perang Khandaq, dan seluruh peperangan lainnya bersama RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam.”

Jadi, Sa’id Radhiyallahu Anhu merupakan shahabat yang ikut dalam perang Badar, ikut dalam perang Uhud, melakukan Bai’atur Ridhwan, dan termasuk di antara mereka yang ikut dlam perang yang terjadi saat masa susah, dan menerima kemuliaan dari keterlibatannya dalam seluruh peristiwa tersebut. Sementara keterlibatan dalam setiap peristiwa mempunyai keutamaannya tersendiri yang sangat tinggi. Walaupun buku-buku sejarah tidak mencatan peran dan kiprahnya pada perang tersebut, namun ia akan selalu termaktub dalam catatan para Malaikat yang bertugas untuk mencatat. Sa’id akan menemui Tuhannya dan lembaran-lembaran yang penuh cahaya tersebut, dan selamat untuknya.

C. Perjalanan Hidup Dan Kepribadiannya

Perjalanan Hidup Sa’id telah diwarnai oleh petunjuk dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang disampingnya selama lebih kurang dua puluh tiga tahun. Kebersamaan yang panjang dan indah tersebut memberikan pengaruh yang sangat baik dalam kehidupan Sa’id. Membentuk kepribadiannya, meninggikan kepribadiannya, membekalinya dengan akhlak yang terpuji, dan ia adalah salah satu dari mereka yang berhasil lulus dengan keikhlasan dan kesucian. Dia termasuk mereka yang terdidik dengan keikhlasan dan kesucian. Terdidik untuk zuhud, menjaga kehormatan diri, bersikap tawadhu’, saling menasihati dalam da’wah, dan konsisten dengan akhlak mulia yang diajarkan Islam.

Adapun riwayat-riwayat yang bercerita tentang perjalanan hidup Sa’id, kisah kehidupannya, dan kepribadiannya, walaupun tidak banyak, namun itu cukup memberikan gambaran tentang ciri-ciri kepribadian nya yang mulia dan sangat selaras dengan risalah yang dibawanya dan konsep hidup yang telah diajarkan kepadanya. Sa’id sangat konsisten menjaga kebersamaan dengan jamaah kaum muslimin, zuhud dalam duniawi maupun kepemimpinan, mencintai jihad, dan selalu ingin terus meningkatkan dirinya menuju sebuah kesempurnaan. Ia mencintai kedua orangtua dan keluarganya, menyayangi saudara-saudaranya dan siap membela mereka apabila mereka disakiti, baik saat mereka ada atau tidak. Ia terus berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat (samar), dan berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Nabi. Karena itulah ia memiliki kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan para shahabatnya, dan doanya diterima di sisi Allah.

Ahmad, Asy-Syaikhani, Ibnu Hibban, dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebuah hadits panjang tentang Kisah Saqifah dan Pembaiatan kepada Abu Bakar, dan sikap Umar pada masa pemerintahannya. Pada saat haji terakhir yang dilakukannya, ia berkata, “Kalau nanti Umar telah wafat, maka aku pasti memba’iat si fulan.” Ibnu Abbas berkata, “Ketika kami sampai di Madinah pada akhir Dzul Hijjah, hari jum’at pun tiba. Aku segera bergegas untuk ke masjid, karena apa yang telah aku dengan dari Abdurrahman bin Auf. Namun aku mendapatkan Sa’id telah mendahuluiku, dan ia duduk di sisi sebelah kanan dari mimbar. Akupun duduk di sampingnya sehingga lututku menyentuh lututnya. Tidak lama kemudian Umar keluar dan menuju kea rah mimbar.”

Inilah Ibnu Abbas yang telah berusaha untuk datang lebih dahulu dan duduk di shaf pertama dan mendengarkan khutbah Amirul Mukminin, ternyata mendapati Sa’id telah mendahuluinya datang ke Masjid, dan duduk di samping mimbar menunggu shalat dan berdzikir kepada Allah.

Dalam hadits dari Ka’ab bin Malik dalam kisah tiga orang yang tidak turut dalam perang Tabuk dan ia adalah satu dari mereka ia menceritakan turunnya ayat yang menerima taubat mereka, dan bagaimana ia mendapatkan kabar gembira tersebut, kemudian ia berkata,

“Abu Al-A’war Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail pergi menemui Hilal (dia adalah hilal bin Umayyah Al-Waqifi, satu di antara mereka yang tidak ikut. Yang kedua adalah Murarah bin Ar-Rabi’, dan yang ketiga Ka’ab) untuk memberinya kabar gembira di Bani Waqif, dan ketika ia mengabarkannya, Hilal segera sujud. Sa’id berkata, “Aku telah menyangka bahwa dia tidak akan pernah lagi mengangkat kepalanya sampai jiwanya keluar.” Tangis kebahagiaannya jauh lebih banyak dari tangis kesedihan yang dirasakannya, hingga orang-orang mengkhawatirkannya. Kemudian orang-orang menemuinya untuk mengucapkan selamat. Dia hamper tidak bisa berjalan menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena kelemahan, kesedihan, dan tangisannya. Hingga kemudian ia mengendarai keledai!”

Sebuah situasi yang indah dan menunjukkan sikap saling mendukung antara individu-individu masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Yang menggambarkan perhatian besar dari seorang saudara kepada saudaranya yang lain, kecintaannya kepadanya, dan kegembiraannya akan kebahagiaannya, ketergesaannya dalam menyampaikan berita tentang diterimanya taubanyatnya yang memberikan kegembiraan dalam jiwanya, dan mengangkat kesedihan dan kesempitan yang dirasakannya akibat boikot social yang diterimanya dari seluruh masyarakat karena dosa yang telah diperbuatnya. Ini adalah buah dari didikan dan bimbingan yang menakjubkan kepada generasi tersebut, di mana antara satu dengan yang lainnya benar-benar bagaikan satu kesatuan bangunan yang saling menguatkan.

Kemudian mari kita lihat sikap yang di tunjukkan Sa’id dengan orang-orang shahabat besar yang menjadi gubernur, dan hanya diam ketika dalam sebuah kesempatan di majelisnya seseorang mencaci-maki Ali. Maka Sa’id segera bangkit menyuarakan kebenaran di hadapan sang gubernur dan semua orang yang berada di majelis tersebut. Dan menceritakan kepada mereka satu di antara kemuliaan AliRadhiyallahu’anhu.

Ahmad dan empat Ashabus-Sunan juga Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Shadaqah bin Al-Mutsana bin An-Nakha’I, dari kakeknya Riyah bin Al-Harits An-Nakha’I, ia mengatakan “Suatu hari Al-Mughirah bin Syu’bah berada di masjid besar, dengan ditemani penduduk Kufah di kiri dan kanannya. Ghirah menyambutnya dan mendudukannya di dekatnya di atas alas duduknya. Lalu datang seorang laki-laki (seorang penduduk Kufah bernama Qais bin Ilqimah, dalam riwayat lain disebutkan dengan namanya), dari penduduk Kufah yang menemui Al-Mughirah, dan kemudian mencaci maki. Sa’id bertanya, “Siapakah yang di caci maki wahai Mughirah?” Ia menjawab, “Ia mencaci maki Ali bin Abu Thalib!” Maka Sa’id berkata, “Hai Mughirah bin Syu’bah,hai Mughirah bin Syu’bah,” sampai tiga kali. Tidakkah aku mendengar shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dicaci di hadapanmu dan engkau sama sekali tidak mencegah dan melarang?! Aku bersaksi kepada Rasulullah atas apa yang telah didengar kedua telingaku, dan difahami oleh hatiku dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sungguh aku tidak akan mengatakan kebohongan jika ia bertanya kepadaku saat bertemu dengannya nanti. Sungguh beliau telah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali di surga, Utsman di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman di surga, Sa’ad di surga, dan orang mukmin yang kesembilan di surga,” kalau aku mau aku akan menyebutkan namanya.” Maka orang-orang yang hadir di masjid menjadi rebut dan memintanya, “Wahai shahabat Rasulullah, siapakah yang kesembilan tersebut? Ia menjawab, “Kalian telah memintaku dengan nama Allah, demi Allah yang Maha Agung, akulah orang mukmin yang kesembilan tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang kesepuluh. Kemudian ia melanjutkan dengan sebuah sumpah “Demi Allah, sebuah peperangan yang diikuti oleh seorang laki-laki, dimana wajahnya penuh debu bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam lebih baik dari apda amal perbautan siapapun dari kalian, bahkan walaupun ia berumur seperti Nabi Nuh Alaihissalam.”

Sebagian mereka menambahkan dalam riwayat ini, “Kemudian Sa’id berkata, “Sungguh benar, ketika umur-umur mereka terputus, Allah berkehendak untuk tidak memutus pahala mereka sampai hari kiamat. Celakalah orang yang membenci mereka, dan berbagialah orang yang mencintai mereka.”

Adapun laki-laki yang merugi tadi, yang telah mencaci seorang shahabat yang mulia, khalifah NabiShallallahu’alaihi wa Sallam, dan putra dari paman beliau, serta suami dari pemuka para wanita di dunia, dan yang pertama-tama masuk Islam, yang memiliki keutamaan-keutamaan, dan kedudukan yang tinggi, yang dicacinya di hadapan banyak orang dan juga shahabat, sungguh matanya telah buta, dan jalannya telah sesat. Kita dapat katakana kepadanya, “Wahai orang yang bodoh, apa yang bisa membandingkanmu dengan Ali?! Kalaulah karena tidak karena peristiwa yang memalukan ini, engkau tidak akan dikenal oleh siapapun, dan sejarahpun takkan pernah mencatat namamu. Sungguh celaka engkau yang dikenal karena sikap yang keji dan jalan yang tercela ini!” Adapun Ali, selama atas sejarah yang seolah berdendang menyebutkan namanya, berbahagialah pena yang menuliskan kiprahnya, dan berbajagialah mereka yang membela dan menceritakan keutamaan-keutamaan nya. Dan sungguh tepat apa yang diucapkan Sa’id, “Ketika umur-umur mereka terputus, Allah berkehendak untuk tidak memutus pahala mereka sampai hari kiamat.” Baik dengan perbuatan-perbuatan mereka yang terpuji, atau dengan nama-nama mereka yang selalu dikenang dan didoakan untuk senantiasa mendapatkan keridhaan dari Allah, atau dengan mengambil kebaikan orang-orang yang membenci mereka dan kemudian ditambahkan kepada lembaran sejarah kehidupan mereka yang bersih. Jadi bagaimanapun cara Ali dan saudara-saudaranya yang lain dikenang, mereka akan selalu mendapatkan ganjaran dan pahala.”

Namun ini semua tidak menghalangi Sa’id untuk bangkit menentang kemungkaran dan sikap yang sudah keterlaluan tersebut. Dia pun mencela Mughirah dan mengatakan kepadanya, “Hai Mughirah bin Syu’bah’, sampai tiga kali! Bagaimana mungkin engkau bisa diam sementara seorang shahabat di caci di majelismu, tanpa kau cegah. Seharusnya engkau menghukum orang ini di depan umum agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya!

Sa’id adalah seorang yang berpendirian teguh, berperilaku mulia, sangat wara’, amat menjauhi hal-hal yang berbau syubhat, apalagi yang haram. Dia telah menyimak petunjuk dan perjalanan hidup NabiShallallahu’alaihi wa Sallam, mendengar langsung hadits-hadits beliau, dan berakhlak dengan akhlak beliau. Dan di antara yang ia dengar dari beliau adalah larangan untuk mengambil sejengkal tanah orang lain yang bukan haknya, dan ancaman yang menakutkan bagi mereka yang melakukannya. Karena itulah ia sangat takut, dan amat menjaga sikap wara’nya untuk jangan sampai mengambil tanah tetangga-tetangganya, baik itu berupa rumah, atau ladang, ataupun bangunan-bangunan lain.

Sikap wara’ yang dimilikinya ini tidak terlihat begitu saja tanpa di landasi oleh keikhlasan kepada AllahTa’ala, namun Allah berkehendak untuk menguji Sa’id dengan seorang tetangga wanitanya yang menuduhnya melebihi batas tanahnya dan mencuri sebagian dari tanahnya. Kemudian mengadukannya kepada gubernur Madinah saat itu Marwan bin Hakam. Allah pun membukakan tabir kebenaran, dan membebaskan Sa’id. Maka akhlak mulia yang tertutup rapi dengan keikhlasan itupun tampak jelas, dan menjadi pelajaran bagi manusia selama berabad-abad. Dan menjadi bukti bagi mereka bahwa di balik sebuah cobaan terdapat nikmat yang agung. Dan kedudukan Sa’id pun semakin tinggi di sisi Allah, juga dalam pandangan manusia.

Al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Arwa binti Uwais mengaku bahwa Sa’id bin Ziad telah mengambil sedikit dari tanahnya, maka ia mengadukannya kepada Marwan bin Hakam. Sa’id berkata, “Akankah aku mengambil sebagian dari tanahnya setelah apa yang kudengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?! Marwan berkata, “Apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam? Sa’id menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim, maka Allah akan mengalungkannya dengan tujuh lapis bumu pada hari kiamat.” Maka Marwan berkata kepadanya, “Aku tidak akan meminta bukti kepadamu setelah ini.” Kemudian Sa’id berkata, “Ya Allah, kalau wanita itu berdusta, maka butakanlah matanyam dan matikan ia di tanahnya.” Urwah berkata, “Dan wanita itu tidak mati hingga matanya buta, kemudian saat ia berjalan di tanah miliknya, ia terjatuh ke dalam sebuah sumur dan mati.”

Dan Arwa belum cukup sampai di sana, bahkan ia mengutus seseorang untuk berbicara kepada Sa’id, lalu menambah api permusuhan nya dengan mengancam bahwa ia akan membongkar keburukan Sa’id di depan umum di masjid Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam!

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Al-Isti’ab dari Abu Bakar bin Amru bin Hazm, ia berkata, “Arwa binti Uwais datang menemui ayahku, Muhammad bin Amru bin Hazm, dan berkata kepadanya, “Hai Abu Abdul Malik, sesungguhnya Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail telah membangun sebuah dinding di tanah yang menjadi hakku. Datangilah dia, dan suruh agar ia melepaskan hakku, karena demi Allah, kalau ia tidak melakukannya aku akan meneriakkan ini di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam! Ia berkata kepadanya, “Janganlah engkau menyakiti shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dia tidak akan pernah menzhalimimu atau mengambil hakmu.” Arwa pun pergi dan mendatangi Umarah bin Amru dan Abdullah bin Salamah dan berkata kepada mereka berdua, “Datangilah Sa’id bin Zaid, sungguh dia telah menzhalimiku dan membangun sebuah dinding di tanah yang merupakan hakku. Karena demi Allah, kalau ia tidak melakukannya aku akan meneriakkan ini di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam!” Mereka pun pergi mendatanginya di tanahnya yang berada di Aqiq, Sa’id berkata kepada mereka, “Apa yang membawa kalian kemari.” Mereka menjawab, “Arwa binti Uwais telah mendatangi kami dan menduga bahwa engkau telah membuat dinding di tanah yang merupakan haknya, dan bersumpah dengan nama Allah bahwa kalau engkau tidak mencopot nya, dia akan meneriakimu di masjid RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam. Maka kami merasa lebih baik untuk mendatangimu dan mengingatkanmu tentang itu.” Sa’id berkata, “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallambersabda, “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim, maka Allah akan mengalungkannya dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat.” Maka itu, silahkan ia datang dan mengambil apa yang menjadi haknya. Ya Allah, kalau ia berbohong atasku maka janganlah engkau matikan dia sehingga matanya buta, dan menjadikan kematiannya di tanahnya.” Merekapun kembali dan memberitahukan Arwa tentang itu. Arwa pun datang dan menghancurkan dinding tersebut dan membangun sebuah bangunan lain. Tidak berapa lama setelah itu, ia menjadi buta, dan saat itu ia selalu bangun pada malam hari dengan ditemani pembantunya untuk membangunkan para pekerja. Suatu malam ia bangun dan membiarkan pembantunya tidur, dan berjalan keluar hingga terjatuh ke dalam sebuah sumur dan mati di sana!”

Sikap wara’ Sa’id dan kerelaannya untuk tidak mempersoalkan hak nya sendiri semakin terlihat jelas ketika ia memberikan kepada wanita tersebut bagian yang luas dari tanahnya. Abu Nu’aim telah menceritakan dalam kita Hilyatul Auliya’, “Arwa binti Uwais mendatangi Marwan bin Hakam untuk mengadukan tentang Sa’id bin Zaid. Ia berkata, “Dia tetangganya di Aqiq, Maka Ashim bin Umar pun mendatangi Sa’id. Dan Sa’id berkata, “Aku mengambil hak dari Arwa?!” demi Allah aku telah melepaskan untuknya enam ratus hasta dari tanahku karena sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda,“Barang siapa yang mengambil hak seseorang dari kaum muslimin yang bukan haknya, maka pada hari kiamat ia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi!” Bangunlah hai Arwa, dan ambillah apa yang anggap hakmu. Arwa bangkit dan mengambil tanah yang merupakan milik Sa;id lebih banyak lagi, kemudian Sa’id berdoa keburukan untuknya.”

Tidak beberapa lama setelah itu, Allah memperlihatkan kebenaran. Dan orang-orang pun mengetahui kejujuran Sa’id dan bahwa ia tidak bersalah. Setelah kejadian tersebut, Sa’id Radhiyallahu Anhu berdoa kepada Tuhannya agar menunjukkan kebenaran dalam kasusnya, demi menjaga kebersihan tanahnya, dan menjaga kesucian lembaran hidup nya di antara seluruh manusia.

Abu Nu’aim menceritakan dalam kitab Al-Hilyah, dan Ibnu Abdil Barr dalam Al-Isti’ab, dan juga Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah, dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm, ia mengatakan “Sa’id berkata, “Ya Allah, sesungguhnya ia menyangka bahwa ia telah dizhalimi, kalau ia berdusta maka butakanlah matanya, dan lemparkanlah ia kedalam sumurnya. Dan perlihatkanlah hakku agar menjadi penerang bagi kaum muslimin bahwa aku tidak pernah menzhaliminya.” Dalam keadaan demikian, terjadilah sebuah banjir di Aqiq yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan membukakan batas tanah yang menjadi sengketa tersebut. Dan terbukti bahwa Sa’id tidak berbohong. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu menjadi buta, dan ketika ia sedang berjalan-jalan di tanahnya itu, ia terpelosok ke dalam sumurnya sendiri.” Perawi berkata, “Di saat kecil, kami sering mendengar seseorang berkata kepada yang lain, “Semoga Allah membutakan matamu seperti butanya Arwa.” Saat itu kami mengira bahwa dia hanya hanya berbicara tidak sopan. Dan ternyata yang ia maksudkan adalah apa yang telah menimpa Arwa karena telah menuduh Sa’id.

Atas peristiwa inilah kemudian Sa’id Radhiyallahu Anhu dikenal sebagai orang yang dikabulkan doanya. Sangat benar apa yang telah dilakukan Sa’id dengan berdiri kokoh bagaikan sebuah gunung, setelah mendengar ancaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bagi orang yang mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya. Ia tidak berkeinginan untuk melakukannya, namun berpegang teguh kepada hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan tidak hendak melangkahinya sedikitpun. Dan sudah sepantasnya bag setiap muslim untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau syubhat, menjauhi yang haram, khususnya hak-hak kaum muslimin, terutama yang berkaitan dengan tanah, agar tidak mengambil sejengkalpun yang bukan haknya. Semua ini karena ancaman keras yang diriwayatkan dari RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam oleh banyak shahabat.

Para imam hadits telah mendiskusikan makna yang terkandung dalam hadits ini. Dan ungkapan “Dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi” bermakna bahwa seolah orang yang mengambil tanah yang bukan miliknya, maka pada hari kiamat dia akan membawa tanah yang diambilnya tersebut ke padang mahsyar, dan menjadi bagaikan kalung di lehernya. Atau dibalas dengan melemparkannya ke tujuh lapis bumi, sehingga setiap lapis bumi bagaikan kalung tersendiri di lehernya. Ini diperjelas oleh hadits riwayat Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari “Dia akan dilemparkan pada hari kiamat kepada tujuh lapis bumi.”Atau dia akan dibebani dengan menjadikannya kalung di lehernya, dan ia tidak mampu. Maka dia akan diadzab demikian sebagaimana orang yang berbohong dalam tidurnya “Bahwa ia akan melaksanakan suatu ibadah.” Atau pengalungan yang dimaksudkan adalah pengalungan dosa, sehingga kezhaliman yang ia lakukan akan terus menggantung dilehernya sebagaimana dosa yang akan terus dibawanya. Dalam hal ini terdapat firman Allah Ta’ala, “Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya (QS. Al-Isra’ [17]: 13).” Juga ada kemungkinan bahwa mereka yang melaksanakan dosa ini akan terbagi. Sebagian dengan di adzab dengan ini, dan yang lain diadzab dengan hal lainnya, sesuai dengan besar kecilnya kerusakan yang ia sebabkan.

Khalifah Utsman bin Affan telah memberikan untuk Sa’id sebuah jatah tanah di Kufah, maka ia pun pergi dan tinggal di sana. Kemudian setelah kepergiannya, rumah tersebut didiami oleh sebagian anaknya. Sa’id bahkan tidak tinggal di Kufah sampai akhir hayatnya, namun ia kembali ke Madinah dan meninggal di Aqiq.

Sa’id adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya. Karena apa yang dilihatnya tentang kesungguhan ayahnya dalam mencari agama, dan keseriusannya untuk mendapatkannya. Juga penantian ayahnya akan kemunculan Nabi yang ditunggu-tunggu, sebagaimana kabar gembira yang diterimanya. Namun ternyata ajal mendahuluinya sehingga tidak sempat mendapatkannya.

Maka ketika Islam datang, Sa’id menginginkan agar ayahnya juga mendapatkan kebaikan yang telah lama ditunggunya tersebut. Maka Sa’id meminta Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk mendoakan ayahnya.

Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, “Sesungguhnya ia meminta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam agar ayahnya Zaid di ampuni Allah, maka dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku Zaid bin Amru bin Nufail sebagaimana yang telah engkau ketahui, dan sebagaimana yang telah kau dengar, kalau saja ia bisa mendapatkanmu niscaya ia akan beriman kepadamu. Maka mintakanlah ampunan untuknya.” Rasulullah menjawab, “Ya” Dan belia memintakan ampunan untuknya, dan berkata, “Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat sendirian seabgai sebuah umat.”

Sa’id telah mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi para khalifah, shahabat, dan ummahatul mukminin. Telah diceritakan sebelumnya sikapnya terhadap Al-Mughirah bin Syu’bah yang saat itu merupakan seorang gubernur. Ketika ia datang, Mughiralah segera menyambutnya, mendekatkannya dan mendudukannya di tempatnya.

Al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan dari Muharib bin Ditsar, “Bahwasanya Ummul Mukminin Maimunah mewasiatkan agar Sa’id bin Zaid yang menshalatkan jenazahnya.”

Ketika Sa’id wafat, dan para shahabat diberitahu tentang itu, Ibnu Umar yang sedang bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jumat, segera meninggalkannya dan berangkat menuju rumah Sa’id di Aqiq. Setelah itu ia menyelenggarakan jenazahnya bersama yang lain dan kemudian membawanya di atas pundak-pundak mereka menuju Madinah, tempat di mana ia akan dimakamkan.

Perjalanan shahabat yang mulia ini pun menjadi sempurna, dengan menyatukan seluruh unsur kebaikan, mulai dari mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallamm, senantiasa bersikap zuhud dan wara’, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mencintai kaum muslimin, menolong para shahabat dan membela mereka, meneruskan perjalanan jihad yang tlah dimulainya sejak di Mekah, dengan berpegang teguh kepada agamanya dan bersabar atas segala siksaan, kemudian keikutsertaannya dalam seluruh peperangan yang diikuti Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, lalu melanjutkannya dengan mengikuti beberapa peristiwa pada masa khulafaur rasyidin.

Ketika pasukam kaum muslimin menuju wilayah Syam, Sa’id segera menaiki kudanya dan berangkat bersama para mujahidin. Ia menyaksikan pengepungan Damaskus dan penaklukannya. Lalu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menunjuknya menjadi gubernur di sana. Maka dia adalah orang pertama yang bekerja memimpin Damaskus dari umat ini.

Namun jiwa Sa’id tidak bisa berlama-lama dalam kepemimpinan, sementara ia menyaksikan para mujahidin mengerahkan seluruh kemampuan dan nyawa mereka di jalan Allah, dan menerima pahala yang tidak bisa didapatkan oleh umat Islam yang lain.

Maka ketika ia mengetahui bahwa Abu Ubaidah telah berangkat untuk menaklukkan Elia – Baitul Mqadis, dan Abu Ubaidah menunggu sikap dari penduduknya. Namun mereka menolak untuk menyerah atau berdamai, maka ia pun maju dan mengepung mereka. Dan yang bertugas untuk memimpin penyerangan saat itu adalah Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sufyan, yang masing-masing berada di sisinya. Berita ini pun sampai ke telinga Sa’id yang saat itu merupakan gubernur di Damaskus. Maka ia menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Radhiyallahu’anhuma , “Bismillahirrahmanirrahim, dari Sa’id bin Zaid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, keselamatan untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Amma Ba’du. Demi Allah, sungguh aku tidak bisa mendahulukanmu dan shahabat-shahabatmu untuk berjihad di jalan Allah dari diriku. Ataupun dari hal lain yang mendekatkanku dari keridhaan Allah Azza wa Jalla, Apabila seuratku ini sampai kepadamu, maka utuslah untuk pekerjaan ini orang yang lebih menginginkannya dariku. Agar dia bisa bekerja untukmu sesuai dengan keinginanmu. Karena sesungguhnya aku akan segera datang kepadamu di sana Insya Allah. Maka Abu Ubaidah berkata kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Pimpinlah Damaskus untukku.”

D. Ilmunya dan Hadits-hadits Yang Diriwayatkannya

Walaupun Sa’id telah mendampingi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam seluruh perjalanan dakwahnya, mendengar langsung meninggalkannya dan berangkat menuju rumah Sa’id di Aqiq. Setelah itu ia menyelenggarakan jenazahnya bersama yang lain dan kemudian membawanya di atas pundak-pundak mereka menuju Madinah, tempat di mana ia akan dimakamkan.

Perjalanan shahabat yang mulia ini pun menjadi sempurna, dengan menyatukan seluruh unsur kebaikan, mulai dari mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, senantiasa bersikap zuhud dan wara’, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkara, mencintai kaum muslimin, menolong para shahabat dan membela mereka, meneruskan perjalanan jihad yang telah dimulainya sejak di Mekah, dengan berpegan teguh kepada agamanya dan bersabar atas segala siksaan, kemudian keikutsertaannya dalam seluruh peperangan yang diikuti Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, lalu melanjutkannya dengan mengikuti beberapa peristiwa pada masa khulafaur rasyidin.

Ketika pasukan kaum muslimin menuju wilayah Syam, Sa’id segera menaiki kudanya dan berangkat bersama para mujahidin. Ia menyaksikan pengepungan Damaskus dan penaklukannya. Lalu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menunjuknya menjadi gubernur di sana. Maka dia adalah orang pertama yang bekerja memimpin Damaskus dari umat ini.

Namun jiwa Sa’id tidak bisa berlama-lama dalam kepemimpinan, sementara ia menyaksikan para mujahidin mengerahkan seluruh kemampuan dan nyawa mereka di jalan Allah, dan menerima pahala yang tidak bisa didapatkan oleh umat Islam yang lain.

Maka ketika ia mengetahui bahwa Abu Ubaidah telah berangkat untuk menaklukkan Elia Baitul Maqdis, dan Abu Ubaidah menunggu sikap dari penduduknya. Namun mereka menolak untuk menyerah atau berdamai, maka ia pun maju dan mengepung mereka. Dan yang bertugas untuk memimpin penyerangan saat itu adalah Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sufyan, yang masing-masing berada di sisinya. Berita ini pun sampai ke telinga Sa’id yang saat itu merupakan gubernur di Damaskus. Maka ia menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Radhiyallahu’ Anhuma, “Bismillahirrahmanirrahim, dari Sa’id bin Zaid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, keselamatan untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Amma Ba’du. Demi Allah, sungguh aku tidak bisa mendahulukanmu dan shahabat-shahabatmu untuk berjihad di jalan Allah dari diriku. Ataupun dari hal lain yang mendekatkanku dari keridhaan Allah Azza wa Jalla. Apabila suratku ini sampai kepadamu, maka utuslah untuk pekerjaan ini orang yang lebih menginginkannya dariku. Agar dia bisa bekerja untukmu sesuai dengan keinginanmu. Karena sesungguhnya aku akan segera datang kepadamu di sana Insya Allah. Maka Abu Ubaidah berkata, kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Pimpinlah Damaskus untukku.”

Demi Allah, alangkah besarnya jiwa-jiwa ini, alangkah agungnya cita-citanya, dan alangkah hebatnya tekad yang tersemai di sana. Jiwa-jiwa yang dididik untuk senantiasa mengejar keridhaan Allah, menggapai tingkatan para syuhada, tidak dengan keadaan yang penuh kesenangan. Sa’id Radhiyallahu Anhu mengetahui pahala yang ia dapat dari kepemimpinan apabila ia menunaikan hak-haknya. Dengan memimpin manusia dengan adil, dan menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka. Namun ia juga mengetahui dengan baik, bahwa ada yang menyebarkan kalimat yang benar, dan membebaskan manusia dari cengkeraman kekufuran dan penyembahan kepada selain Allah. Dan bahwasanya satu orang yang mendapatkan petunjuk Allah melaluinya, jauh lebih baik baginya dari dunia seisinya. Ini ditambah lagi dengan berbagi macam fitnah yang akan melingkupi wilayah kepemimpinan, dan cobaan yang akan membuat seorang pemimpin tergelincir. Di mana tidak ada yang dapat membedakannya dan menghindarinya serta selamat darinya, kecuali seorang pemimpin yang bijaksana, berpengalaman, mempunyai kesabaran dan kelapangan hati, dan alangkah sedihnya di Damaskus yang tidak pernah disukainya ataupun diharapkannya. Dan ia segera menuju medan jihad, untuk mendapatkan kemuliaan dari penaklukan Baitul Maqdis dan yang lainnya.

Setelah itu ia turut dalam perang Yarmuk yang menentukan, yang berhasil memusnahkan kekuasaan Romawi dari bumi Syam. Kemudian mendirikan pondasi dari agama yang baru, yang kebaikannya segera menyebar di wiliayah tersebut.

Sa’id dan saudara-saudaranya, yang namanya tercatat oleh pensejarah, atau yang tidak terlintas dalam ingatannya dan kemudian terlupakan, maka bagi mereka semua rahmat dan keridhaan, hingga nanti menemui Tuhan mereka yang akan memberikan ganjaran yang paling baik, dan surga yang penuh kenikmatan.

E. Keutamaannya Dan Jaminan Surga Untuknya

Sa’id menyamai saudara-saudaranya yang lain dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga dalam banyak keutamaan, sejajar dengan mereka dalam banyak keistimewaan, dan menandingi mereka dalam berlomba menuju kebaikan. Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dengan memudahkannya dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan mulia. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pun memuliakannya dengan memberikannya kabar gembira berupa surga. Dan menyematkan lencana kejujuran kepadanya ketika Jabal Nur bergoyang di bawah kaki mereka.

Sa’id adalah satu di antara kelompok yang pertama kali masuk Islam, dan termasuk salah satu tokoh kaum Muhajirin. Dan Allah telah memberikannya pujian bagi mereka dalam firmannya, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung (QS. At-Taubah [9]: 100)”.

Dan juga ikut dalam perang Badar, sesuai dengan kesaksian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallamsendiri. Dan keutamaan mereka yang turut dalam perang Badar telah diketahui dan diucapkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam perkataan beliau kepada Umar bin KhaththabRadhiyallahu’anhu, “Mungkin engkau tidak tahu, bahwa barangkali Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah apa yang kalian hendaki, sungguh kalian telah kuampuni.”

Dalam riwayat lain, “Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh telah wajib surga bagi kalian.”

Sa’id pun ikut menyertai Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam perjanjian Hudaibiyah, dan ikut berbai’at di bawah pohon, dan Allah telah memuji mereka dalam kitab-Nya, Allah berfirman , “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat (QS. Al-Fath [48] : 18)”.

Dia juga ikut dalam perang Tabuk yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai masa-masa sulit, dan Allah pun memuji mereka yang ikut dalam perang tersebut dalam firman-Nya, “Sungguh, Allah teklah meneria taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hamper berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasihm, Maha Penyayang kepada mereka (QS. At-Taubah [9]: (117)”.

Sa’id meriwayatkan sebuah peristiwa menakjubkan tersebut saat dia bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan sejumlah shahabat di gunung Hira. Tiba-tiba gunung tersebut bergetar dan bergoyang karena takut dan sekaligus gembira. Takut karena kebesaran orang-orang yang saat itu menginjak tanahnya, dan gembira karena kehormatan yang didapatnya dengan keberadaan mereka dan risalah yang diemban mereka. Juga karena keberadaan Nabi yang mereka ikuti serta pekerjaan besar yang mereka lakukkan! Gunung itu pun menggoyangkan kedua sisinya, membanggakan diri kepada gunung-gunugn lain disekitarnya dan berkata, “Akulah gunugn dimana pemimpin anak cucu Adam mengasingkan diri kepada Tuhannya. Di antara batu-batu karangku yang keraslah wahyu diturunkan, yang berupa beberapa ayat pembuka surat Al-Alaq, dan merupakan ayat-ayat pertama dari Al-Qur’an Al-Hakim. Dan inilah aku sekarang, dimuliakan dengan keberadaan manusia-manusia terbaik dimuka bumi yang berjalan dengan langkah-langkah mereka di atas punggungku. Maka gunung manakah di muka bumi ini yang lebih berbahagia dariku?!”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam merasakan itu dari gunung Hira, beliaupun berbicara kepadanya untuk menenangkannya. Dan menjelaskan keutamaan-keutamaan dari kumpulan shahabat-shahabat nya yang mulia, menegaskan kontribusi-kontribusi mereka yang terbaik, dan gunung itu pun menjadi tenang dan tunduk.

Ahmad dan ulama hadit pemilik kitab As-Sunan, serta Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Abdullah bin Zhalim Al-Mazini. Dari Sa’id bin Zaid berkata, “Suatu waktu kami dan unung itu pun bergetar. Maka beliau berkata, “Tenanglah hai Hira, tidak ada yang berada di atasmu kecuali seorang Nabi, atau seorang shiddiq, atau seorang syahid.” Aku berkata, “Dan siapa saja saat itu yang berada di Hira?” ia menjawab, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad.” Kami bertanya, “Lalu siapa yang kesepuluh?” dia menjawab, “Aku.”

Dan di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Humaidi, ulama hadits pemilik kitabAs-Sunan, Ibnu Hibban, dan lainnya dari jalan yang banyak, dan Riyah bin Al-Harits An-Nakha’i, “Bahwasanya Sa’id bin Zaid berkata, Aku bersaksi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam atas apa yang telah didengar oleh kedua telingaku, dan dipahami oleh hatiku dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sungguh aku tidak akan mengatakan kebohongan jika ia bertanya kepadaku saat bertemu dengannya nanti. Sungguh beliau telah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali di surga, Utsman di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman di sruga, Sa’ad di surga.” Dan orang mukmin yang kesembilan, kalau aku mau aku akan menyebutkan namanya! Maka orang yang hadir di masjid menjadi ribut dan memintanya, “Wahai sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, siapakah yang kesembilan tersebut? Ia menjawab, “Kalian telah memintaku dengan nama Allah yang Maha Agung, akulah orang mukmin yang kesembilan tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang kesepuluh.”

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf dari Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sepuluh orang yang disurga (teks hadits yang lengkap telah disebutkan sebelumnya) dan menyebutkan Sa’id bin Zaid di antara mereka.”

F. Bersama Khulafaur Rasyidin dan Masa Setelah Mereka

Pada masa khulafaur rasyidin dan masa setelah mereka, Sa’id adalah salah satu tokoh dan pemuka dalam masyarakat muslim yang ikut dalam mengokohkan sendi Negara, mengarahkan politiknya, dan menciptakan sejarahnya. Dengan beberapa tingkat perbedaan dalam kontribusi yang diberikan dalam beberapa peristiwa sesuai dengan kondisi yang ada. Dia telah membai’at empat khulafaur rasyidin satu demi satu, dan bergabung dalam sebuah kelompok yang menjadi anggota dari majelis syura yang berfungsi untuk memecahkan berbagai masalah dan persoalan Negara. Dia juga berperan serta dalam beberap penaklukan, dan sempat memimpin sebuah wilayah untuk waktu yang sangat singkat karena ia lebih memilih untuk berjihad. Dan ketika fitnah mulai menyebar, ia memilih untuk tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal diam di rumah. Sebuah sikap yang banyak dipilih oleh shahabat-shahabat besar yang cenderung dengan pendapat ini.

1. Bersama Abu Bakar Shiddiq

Sejak hari pertama wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Sa’id bersama kaum Muhajirin dan Anshar yang lain telah menyatakan sikap untuk mendampingi Abu Bakar, dan membai’atnya pada hari terjadinya peristiwa Saqifah. Dan terus melanjutkan perjalanan bersama Abu Bakar selama masa pemerintahannya.

Ath-Thabari meriwayatkan dari Az-Zuhri, ia berkata, “Amru bin Huraits berkata kepada Sa’id bin Zaid, “Apakah engkau menyaksikan wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?” ia menjawab, “Iya” dan ia pun berkata, “Kapankah Abu Bakar dibai’at” ia menjawab, “Pada hari wafatnya RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam tersebut, mereka tidak ingin berada dalam satu hari dimana mereka tidak berada dalam satu kesatuan.” Amru bertanya lagi, “Apakah ada yang menantangnya?” Sa’id menjawab, “Tidak, kecuali mereka yang murtad, atau yang hamper murtad, hanya saja Allah berkehendak untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.” Ia bertanya, “Apakah ada dari golongan muhajirin yang tidak ikut berbai’at?” ia menjawab, “Tidak, kaum muhajirin membai’atnya secara bergantian tanpa harus ia panggil.”

Ketika beberapa kabilah arab murtad dan menolak untuk membayar zakat, dan Abu Bakar berencana untuk menyerangnya sampai mereka kembali kepada kebenaran, dan pada saat yang sama tetap bertekad untuk mengirim ekspedisi Usamah bin Zaid, datanglah kepada Abu Bakar beberapa pemuka shahabat, di antaranya Sa’id bin Zaid, yang mengusulkan dan meminta kepadanya agar mengundur pengiriman tentara Usamah, dan mengemukakan alasan-alasan mereka untuk itu.

Al-Waqidi dan Ibnu Asakir meriwayatkan, “Ketika orang-orang arab mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan banyaknya orang yang murtad, Abu Bakar berkata kepada Usamah, “Lakukanlah apa yang telah diperintahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepadamu.” Pasukan pun mulai bergerak dan kembali berkemah di tempat mereka yang pertama, lalu Buraidah berangkat dengan membawa panji hingga sampai di perkemahan tersebut. Namun hal ini menyusahkan beberapa tokoh dari golongan Muhajirin, dan mereka pun datang menemui Abu Bakar yaitu Umar, Utsman, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Sa’id bin Zaid. Mereka berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, sesungguhnya orang-orang arab telah berbalik menentangmu dari segala penjuru, dan dengan memisahkan pasukan seperti ini engkau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadikanlah mereka dalam satu pasukan saja, dengan itu engkau bisa menyerang mereka yang murtad sekaligus di tempat-tempat mereka! Dan juga, kita tidak bisa merasa aman dengan keadaan Madinah yang hanya dihuni oleh anak-anak dan wanita. Kalau saja engkau mau mengundur penyerangan kepada Romawi sampai keadaan menjadi stabil, dan mereka yang murtad kembali kepada Islam atau mereka dimusnahkan dengan pedang, kemudian barulah engkau mengirimkan pasukan Usamah, sehingga kita bisa merasa aman jikalau Romawi akan menyerang kita.”

Namun Abu Bakar mempunyai pendapat lain. Pasukan tersebut, panjinya telah dipancangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan beliau telah memerintahkan untuk dilaksanakan. Maka Abu Bakar takkan mengambil alih panji tersebut, bahkan walaupun ia diserang oleh kawanan binatang buas sekalipun! Maka para shahabat pun menyambut baik pendapatnya tersebut, dan segera mentaatinya. Dan terbukti bahwa pendapat dan pilihan Abu Bakar yang terbaik.

Ketika keadaan Negara telah stabil, Ash-Shiddiq bertekad untuk mengirim pasukan guna menyampaikan dakwah Islam ke seluruh dunia. Dan menghancurkan para tirani yang menghalangi penyampaian Islam kepada seluruh manusia agar mereka bisa memilih dengan kesadaran dan tanpa paksaan untuk masuk agama ini. Dan tujuan pertamanya adalah wilayah Syam. Ia pun mulai bermusyawarah dengan para shahabat.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, “Ketika Abu Bakar hendak menyerang romawi, ia mengundang Ali, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, juga para pemuka shahabat dari golongan muhajirin dan anshar yang ikut dalam perang Badar, dan beberapa lainnya. Lalu mereka datang menemuinya.” Abdullah bin Abi Aufa mengatakan, “Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah tidak akan bisa terhitung, dan tidak ada amal yang bisa menandinginya, maka bagi-Nya segala puji. Allah telah menyatukan kalian, dan memperbaiki hubungan diantara kalian, memberikan hidayahnya kepada kalian dengan Islam, dan menjauhkan setan dari kalian. Maka Allah tidak menginginkan kalian berbuat syirik dan menyembah Tuhan selain-Nya. Orang-orang Arab pada saat ini adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku berkeinginan untuk mengerahkan kaum muslimin untuk berjihad menghadapi Romawi di Syam. Semoga Allah menguatkan kaum muslimin, dan menjadikan kalimat-Nya yang tertinggi, maka silahkan siapa saja untuk mengemukakan pendapatnya tentang hal ini.”

Maka beberapa orang seperti Umar, Ali, dan Abdurrahman memberikan pendapatnya. Kemudian Utsman berkata kepada Abu Bakar, “Sungguh aku melihat engkau sebagai seorang yang senantiasa memberikan nasihat kepada umat ini, dan menyayangi mereka. Kalau engkau berpendapat sesuatu yang membawa kebaikan bagi mereka semua, maka laksanakanlah dengan pasti, sungguh engkau tidak akan dituduh yang bukan-bukan.”

Maka Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Ubaidah, dan Sa’id bin Zaid, serta mereka yang hadir di majelis itu dari kalangan muhajirin dan anshar berkata, “Utsman benar, laksanakanlah rencanamu, kami tidak akan menyelisihimu atau menuduhmu.”

Pada hari-hari terakhir pemerintahannya, Abu Bakar hendak mendekati ajalnya, ia mengundang Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Katakan kepadaku tentang Umar bin Khaththab? Abdurrahaman bin Auf menjawab, “Demi Allah, dia adalah orang yang terbaik yang dapat engkau lihat.” Kemudian ia mengundang Utsman dan meminta pendapatnya, lalu juga meminta pendapat dari Sa’id bin Zaid Abul A’war, Usaid bin Hudhair, dan selain mereka dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

2. Bersama Al-Faruq Umar

Kisah perjalanan Sa’id berlanjut pada masa pemerintahan Umar seperti halnya pada masa Abu Bakar.Dan kedudukannya pun tetap tinggi bersama pemuka-pemuka shahabat lainnya.

Sejak hari pertama dari pemerintahan Umar bin Khaththab, Sa’id telah ikut serta dalam menentukan gaji dari khalifah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata, “Umar sempat beberapa lama tidak mengambil sedikitpun dari baitul mal, hingga ia mengalami kesulitan hidup. Maka ia mengundang shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk bermusyawarah. Ia berkata, “Sungguh aku telah disibukkan oleh urusan ini, dan berilah makan keluargamu dari Baitul Mal.” Dan Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail pun berpendapat demikian. Kemudian Umar bertanya kepada Ali, “Apa pendapatmu dalam hal ini?Ia berkata, “Ambillah untuk makan siang dan makan malam.” Umar pun mengambil pendapat ini.”

Sa’id selalu mendapingi Umar pada detik-detik akhir hidupnya, ketika Sa’id mengusulkan kepadanya (setelah ditikam) agar menunjuk seorang khalifah bagi kaum muslimin.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Rafi’, ia mengatakan “Umar bin Khaththab saat itu bersandar kepada Ibnu Abbas, dengan Ibnu Umar dan Sa’id bin Zaid bersamanya. Ia berkata, “Ketahuilah bahwa aku tidak pernah mengatakan sesuatupun tenang kalalah (kalalah adalah seorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak), dan tidak menunjuk seorangpun untuk menjadi khalifah menggantikanku, dan kalau ada tawanan arab yang mendapati kematianku, maka ia bebas dengan harta Allah. Sa’id bin Zaid bin Amru berkata, “Sesungguhnya kalau emgkau menunjuk salah seorang dari kaum muslimin, orang-orang akan mempercayaimu.” Maka Umar berkata, “Aku telah melihat adanya ambisi yang tidak baik dari beberapa orang. Maka sesungguhnya aku telah menyerahkan urusan ini kepada enam orang yang ketika RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka.”

Dan karena ketinggian sifat wara’ yang dimiliki Umar, ia tidak memasukkan putra pamannya Sa’id ke dalam enam orang tersebut, walaupun dia tahu akan kelayakannya dalam hal itu!

Dalam sebuah hadits panjang masyhur (tentang kisah pembunuhan Umar dan pembai’atan Utsman), Ath-Thabari meriwayatkan, “Umar berkata, “Hendaklah kalian mentaati mereka yang RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam berkata tentang mereka, “Sesungguhnya mereka adalah penghuni surga”, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail termasuk di antara mereka, tapi aku takkan memasukkan namanya! Namun yang enam adalah Ali, dan Utsman, putra-putra Abdu Manaf, Abdurrahman dan Sa’ad, paman-paman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dari pihak ibunya (Ibu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallamberasal dari Bani Zuhrah, Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash juga dari Bani Zuhrah. Maka mereka adalah kerabat dari Ibu beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan orang arab menganggap kerabat dari ibu sebagai paman-paman),  Zubair bin Awwam pembela Rasulullah  Shallallahu’alaihi wa Sallam dan putra dari bibi beliau, dan Thalhah bin Ubaidillah. Maka hendaklah mereka memilih salah satu di antara mereka. Kalau mereka telah memilih satu orang pemimpin, maka berbaik-baiklah dalam menyokongnya, dan bantulah ia.”

Al-Iman Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam An-Nubala’, “Said bin Zaid sama sekali tidak kalah kedudukannya dari para ahli syura yang enam, baik dalam hal lebih dahulu masuk Islam ataupun dalam hal ini kemuliaan. Namun Umar tidak memasukkannya agar tidak ada alasan keberuntungan. Karena ia adalah ipar dan sekaligus putra pamannya. Kalau ia memasukkannya dalam ahli syura, maka orang yang menolak akan berkata, “Dia telah berpihak kepada putra pamannya! Maka ia tidak memasukkan putranya dan keluarganya yang lain, dengan demikian diharapkan semuanya benar-benar karena Allah.”

Betul, ia takut kalau ada yang mengatakan, “Dia telah berpihak kepada putra pamannya.” Walaupun dia layak untuk itu. Lalu bagaimana dengan orang yang mengejar kekuasaan dan mewariskannya kepada keluarganya, dan menjadikannya sebagai sebagai harta rampasan perang. Lalu ia membagikannya kepada mereka yang mengejar dan mempertahankan kekuasaannya dengan bathil. Menjauhkaan mereka yang lebih mampu, lalu bersama kroni-kroninya melakukan berbagai macam kezhaliman dan kecurangan dalam agama Allah dan terhadap rakyatnya. Lalu ia juga menghambur-hamburkan uang rakyat dan mempertaruhkan masa depan mereka?! DIa bersama para penjilat dan pendukungnya beranggapan bahwa kekuasaan tersebut adalah sebuah keuntungan baginya! Sementara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah besabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, dan Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim, “Tidaklah seorang hamba yang diberikan kekuasaan Allah untuk memimpin rakyatnya, lalu mati dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah akan mengharamkan surga untuknya,” Dan dalam riwayat Al-Bukhari, “Tidaklah seorang hamba diberikan kekuasaan oleh untuk memimpin rakyanya, dan tidak menjaganya dengan nasihat yang baik, kecuali ia tidak akan mendapatkan bau surga.”

Dan ketika Umar Radhiyallahu’ Anhu meninggal,  yang turun kekuburannya adalah Utsman bin Affan, Sa’id bin Zaid, Shuhaib bin Sinan, dan Abdullah bin Umar.

Sa’id bin Zaid menangisi kematian Umar dengan amat sangat. Dan merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Maka seseorang berkata kepadanya, “Hai Abu A’war, apa yang membuatmu menangis?” Sa’id menjawab, “Islamlah yang aku tangisi. Kematian Umar telah membuka sebuah lubang dalam Islam yang tidak akan dapat diperbaiki sampai hari kiamat!”

Sungguh benar apa yang telah dikatakan oleh Sa’id bin Zaid Radhiyallahu Anhu, dengan syahidnya Umar, maka pintu itu telah didobrak, pintu fitnah telah terbuka, dan darah pun mulai mengalir. Sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits shahih.

3. Bersama Utsman Dzun Nurain

Sa’id bersama seluruh kaum muslimin membai’at Utsman bin Affan, dan berjalan bersamanya sesuai dengan aturan  Islam yang telah dilaluinya sepanjang hidupnya. Ketika api fitnah membakar khalifah, ia berjuang semampunya untuk membelanya.

Ketika para pemberontak datang untuk menjatuhkan khalifah Utsman, Ali berangkat bersama beberapa orang dari golongan Muhajirin, termasuk Sa’id bin Zaid, Jubair bin Muth’im, Hakim bin Hizam dan yang lainnya, sementara dari golongan Anshar terdapat Abu Humaid As-Sa’idi, Zaid bin Tsabit, Ka’ab bin Malik dan yang lainnya. Mereka menemui orang-orang Mesir di sebuah tempat bernama Dzu Khusyub, berbicara dengan mereka, dan berhasil meminta mereka untuk kembali pulang.

Di saat para pembuat makar memalsukan sebuah surat atas nama Utsman, dan diambil oleh para pemimpin pemberontak tersebut, mereka menuduh Utsman telah menyuruh gubernur Mesir untuk menghukum para pemberontak dari Mesir tersebut dengan cambuk dan penjara untuk waktu yang lama. Maka mereka pun kembali berbalik menuju Madinah.  Dan meminta beberapa shahabat untuk ikut dengan mereka menemui Utsman karena masalah tersebut. Guna memastikan kepada Utsman tentang surat yang sebenarnya mereka buat-buat sendiri. Mereka menemui Sa’ad bin Abi Waqqash, dan dia berkata, “Aku tidak akan ikut campur dalam urusan kalian.” Lalu kami juga menemui Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail, dan dia pun berkata demikian.”

Sa’ad dan Sa’id serta shahabat-shahabat lain telah mengetahui bahwa surat tersebut adalah palsu. Bahkan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu’anhu berkata, “Hal ini telah direncanakan di Madinah!”

Pada tahun terakhir dari pemerintahan Utsman, ia tidak berangkat menunaikan ibadah haji. Maka Abdurrahman bin Auf dan Sa’id bin Zaid pergi menunaikan haji sekaligus mendampingi para ummahatul mukminin Radhiyallahu’ Anhunna.

4. Bersama Ali bin Abi Thalib

Setelah syahidnya Utsman, para shahabat membai’at Ali bin Abi Thalib. Dan di adalah yang terbaik saat itu. Dan Sa’id pun berada di urutan terdepan dalam membaia’at.

Ibnu Sa’ad berkata, “Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai khalifah sehari setelah terbunuhnya Utsman. Ia dibai’at oleh Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail, Ammar bin Yasir, Usamah bin Zaid, Sahl bin Hunaif, Abu Ayyub Al-Anshari, Muhammad bin bin Maslamah, Zaid bin Tsabit, Khuzaimah bin Tsabit, dan seluruh shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang berada di Madinah, serta anggota masyarakat lainnya.”

Ketika terjadi fitnah perang Jamal dan Shiffin serta yang lainnya Sa’id memilih untuk mengasingkan diri dari kedua kubu, dan tidak menghunus pedangnya atas siapapun. Dan sikap ini juga banyak diambil oleh shahabat lain seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Muhammad bin Maslmah, Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, dan yang lainnya.

5. Pada Masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Tahun 41 H dikenal sebagai tahun jamaah, dimana kaum muslimin membai’at Mu’awiyah Radhiyallahu’ Anhu. Sa’id pun melakukan apa yang dilakukan oleh para pemuka shahabat yang masih ada saat itu. Ia tidak melepaskan tangannya dari ketaatan kepada khalifah.Gubernur Madinah saat itu adalah Marwan bin Al-Hakam, ia sangat mengenal para shahabat, mengerti kedudukan dan keutamaan mereka, khususnya Sa’id bin Zaid, yang merupakan tokoh paling terkemuka di Madinah saat itu.

Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Khalid Ath-Thahhan, dari Atha’ bin As-Saib, dari Muharib bin Ditsar, bahwasanya Ibnu Sa’id bin Zaid telah bercerita kepadaku, ia berkata, “Mu’awiyah mengirim utusan kepada Marwan bin Al-Hakam di Madinah dan memerintahkannya agar berbai’at untuk putranya Yazid. Sementara Sa’id bin Zaid saat itu sedang tidak berada di Madinah. Maka Marwan pun menunggunya. Seorang laki-laki dari Syam bertanya kepada Marwan, “Apalagi yang kau tunggu?” Ia menjawab, “Sampai Sa’id bin Zaid datang, sesungguhnya ia adalah tokoh besar Madinah, kalau ia berbai’at, maka orang-orang pun akan ikut berbai’at.” Ibnu Sa’id berkata, “Maka Sa’id  sengaja terlambat sampai kemudian Marwan terpaksa mengambil bai’at penduduk Madinah, dan Sa’id memilih untuk tidak ikut.

Sikap ini merupakan cerminan dari kebijaksanaan sikap wara’ yang dimiliki Sa’id Radhiyallahu’ Anhu. Ia tidak ingin mengobarkan fitnah kepada Mu’awiyah dan Marwan. Walaupun dengan kedudukannya sebagai tokoh terkemuka di Madinah, dan seseorang yang telah dikenal keutamaan dan masa lalunya oleh masyarakat. Namun ia memilih untuk terlambat sampai pengambilan bai’at tersebut selesai. Ia juga tidak ikut berbai’at karena ia tidak sependapat untuk membai’at orang lain sementara khalifah masih ada. Tapi kalau kemudian khalifah telah wafat, maka saat itu, kaum muslimin boleh membai’at siapapun yang mereka kehendaki.

G. Kepergiannya

1. Kelahirannya, Wafatnya, dan Usianya
a. Kelahirannya

Kitab-kitab sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran Sa’id namun bisa diperkirakan dengan memperhatikan keadaan  yang ada. Telah disepakati bahwa ia masuk Islam pada hari-hari pertama dari diutusnya Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan ikut bersamanya istrinya Fathimah binti Khaththab. Ini berarti bahwa pada saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam diutus menjadi Nabi, ia adalah seorang laki-laki dewasa yang telah mampu memikul beban sebuah perkawinan. Dan itu berarti sekitar akhir dari sepuluh tahun kedua dari usianya, dan ini dikuatkan dari apa yang dikatakan tentang usianya saat ia wafat.

b. Wafatnya

Yahya bin Bukair, Ibnu Numair, Al-Waqidi, Khalifah bin Khayyath, Amru bin Ali, dan beberapa orang lainnya berkata, bahwa Sa’id wafat pada tahun 51 H.

Dan disebutkan dalam riwayat lain apda tahun 52 H. Dan yang betul adalah riwayat pertama.

c. Usianya

Al-Mada’ini berkata, “Sa’id meninggal saat berusia tujuh puluh tiga tahun.”

Dan ini tidak benar, karena dengan demikian berarti pada saat Rasul diutus sebagai Nabi ia baru berusia sembilan tahun, dan ini dimentahkan dengan fakta bahwa saat ia masuk Islam pada masa awal kenabian, ia telah menikah. Apakah mungkin seorang anak berusia sembilan tahun telah menikah dan bergabung dengan kafilah dakwah yang akan menanggung berbagai cobaan dan siksaan?! Dan berani menantang Umar sebagaimana yang telah diceritakan pada kisah Islamnya Umar? Seorang anak kecil tidak mungkin dan tidak akan mampu melakukan itu.

Al-Waqidi dan yang lain mengatakan, “Ketika wafat ia berusia tujuh puluh lebih beberapa tahun”

Ini lebih masuk akal. Kalau kita katakan, Bahwasanya Sa’id menikah beberapa waktu sebelum kenabian, saat usianya lima belas tahun, maka saat hijrah usianya adalah dua puluh delapan tahun. Sementara wafatnya adalah pada tahun 51 H. Dengan demikian didapatkan bahwa pada saat wafat, usianya adalah tujuh puluh sembilan tahun. Wallahu A’lam.

2. Berita wafatnya, dan Penyelenggaraan Jenazahnya

Al-Bukhari meriwayatkan dari Nafi’ pembantu Ibnu Umar, ia mengatakan “Ibnu Umar Radhiyallahu’anhudiberitahu bahwa Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail,  yang merupakan ahli Badar, menderita sakit pada hari Jum’at. Maka ia segera berangkat kerumahnya pada saat siang telah mulai meninggi dan waktu shalat jumat telah dekat, dan ia meninggalkan shalat jumat.”

Dan Abdurrazzaq, Ibnu Sa’ad, dan Al-hakim meriwayatkan dari Nafi’ “Dari Abdullah bin Umar, bahwa ia diberitahu tentang Sa’id bin Amru bin Nufail pada hari Jumat setelah matahari meninggi, maka Ibnu Umar mendatanginya di Aqiq dan meninggalkan shalat jumat.”

Dan dalan sebuah riwayat, “Dari Ibnu Umar bahwasanya ia diberi tahu tentang sa’id bin Zaid pada jumat, dan ia sedang bersiap untuk shalat jumat, maka ia berangkat menemui Sa’id dan meninggalkan shalat jumat.”

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Nafi’, ia berkata, “Sa’id bin Zaid meninggal dan ia adalah seorang ahli Badar, maka Ummu Sa’id berkata kepada Abdullah bin Umar , “Apakah engkau akan membalurinya dengan minyak kasturi?” Ia menjawab, “Adakah yang lebih wangi dari kasturi?” Berikanlah minya itu kepadaku.” Ia pun memberikannya. Ibnu Umar berkata, :Kami tidak pernah melakukan apa yang biasa kalian lakukan, kami biasanya membalurinya dengan minyak pada bagian bawah perut, yakni bagian yang memiliki kulit yang halus, dan juga bagian dalam dari kedua paha.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Ayahku Sa’ad bin Malik memandikan Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail di Aqiq. Kemudian mereka mengangkatnyaa dan membawanya bersama mereka. Ketika sampai dirumah, Sa’ad masuk dan orang-orang ikut bersamanya. Lalu Sa’ad mandi, dan kemudian keluar menemui orang-orang yang bersamanya, dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak mandi karena telah memandikan jenazah Sa’id, namun aku mandi karena udara yang panas.”

Abdullah bin Umar-lah yang menshalatinya. Sa’id meninggal di Aqiq (Aqiq merupakan sebuah lembah yang terkenal di Madinah, mengelilingi kota mulai dari selatan , barat dan terus ke utara. Lembah ini merupakan tempat terbaik di Madinah baik udara maupun airnya. Pada awal masa datangnya Islam, di sana banyak terdapat istana-istana mewah, kebun-kebun indah dan buah-buahan yang ranum. Juga taman-taman yang yang luas, dan lapangan tempat menggembala ternak yang hijau), kemudian ia diangkat dan dibawa untuk dikuburkan di Madinah. Yang ikut menyaksikan kepergiannya antara lain Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Umar, para shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, kaum kerabat dan keluarganya.

Dan yang turun di kuburannya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash  dan Ibnu Umar. Adapaun riwayat yang mengatakan bahwa ia meninggal di Kufah adalah sebuah kekeliruan yang besar.

H. Data-Data Pribadi Dan Keturunannya Yang Penuh Berkah

1. Ayahnya Zaid bin Amru bin Nufail

Zaid adalah orang yang paling bijaksana di Quraisy, paling bersih pikirannya, dan paling tinggi pemikirannya, serta paling suci fitrahnya. Dia orang yang paling menjaga kebersihan diri, dan satu diantara mereka yang mempunyai kepribadian yang lurus, yang meninggalkan agama quraisy, mencampakan berhala-berhala dan menjauhkan diri dari kemusyrikan. Ia memilih untuk mengikuti agama IbrahimAlaihissalam, dan sangat menantikan diutusnya seorang Nabi dari keturunan Ismail Alaihissalam. Namun kematian menghalanginya untuk mencapai cita-citanya tersebut. Ia wafat lima tahun sebelum kenabian, (Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah melihatnya di surga, memohonkan ampun baginya, dan memintakan rahmat  Allah untuknya).

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma, “Bahwasanya NabiShallallahu’alaihi wa Sallam pernah bertemu Zaid bin Amru bin Nufail di bawah Baldah (sebuah lembah yang terletak di jalan antara Tan’im dan Mekah), sebelum turunnya wahyu. Kemudian diberikan kepada Nabi sebuah makanan, namun beliau menolak untuk memakannya (makanan tersebut berasal dari orang-orang quraisy yang diberikan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, namun beliau menolak untuk memakannya. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam memberikannya kepada Zaid bin Amru, dan diapun menolak untuk memakannya). Lalu Zaid berkata, “Aku tidak akan memakan apa yang kalian sembelih untuk patung-patung kalian, dan aku tidak akan memakan kecuali yang disebut nama Allah padanya.” Zaid bin Amru sering mencela Quraisy atas sembelihan-sembelihan mereka, dan berkata, “Kambing itu diciptakan oleh Allah yang menurunkan air dari langit untuknya, dan menumbuhkan tumbuhan dari bumi untuknya. Kemudian kalian menyembelihnya tanpa menyebut nama Allah!”. Ini dilakukannya sebagai sebuah pengingkaran atas perbuatan Quraisy tersebut, dan betapa ia melihat hal itu sebagai perkara yang sangat besar.

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu Umar, “Bahwasanya Zaid bin Amru bin Nufail pergi menuju Syam untuk mencari sebuah agama yang akan ia ikuti, ia bertemu dengan seorang ulama yahudi, dan bertanya tentang agama mereka, ia berkata, “Sungguh, siapa tahu aku akan memeluk agama kalian, maka beritahukanlah kepadamu.” Ia menjawab, “Engkau tidak akan memeluk agama kami, sampai engkau mendapatkan bagianmu kemurkaan dari Allah.” Zaid berkata, “Justru dari kemurkaan Allah-lah aku lari, dan aku tidak akan pernah membawa kemurkaan Allah selamanya, dan bagaimana mungkin aku bisa? Dapatkah engkau menunjukkan padaku agama lain?” ia menjawab, “Tidak ada lagi yang aku ketahui, kecuali sebuah agama yang lurus.” Zaid bertanya, “Dan apa itu agama yang lurus?” Ia menjawab, “Tidak ada lagi yang aku ketahui, kecuali sebuah agama yang lurus.” Zaid bertanya, “Dan apa itu agama yang lurus?” Ia menjawab, “Agama Ibrahim, dia bukanlah seorang yahudi atau nasrani, dan dia hanya menyembah Allah.” Zaid pun pergi melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang ulama nasrani. Ia pun bertanya hal yang sama. Dan ia menjawab, “Engkau tidak akan memeluk agama kami, sampai engkau mendapatkan laknat dari Allah.” Zaid berkata, “Justru laknat dari Allah-lah aku lari, dan aku tidak akan pernah membawa laknat dan kemurkaan Allah selamanya, dan bagaimana mungkin aku bisa? Dapatkah engkau menunjukkan padaku agama lain?” Ia menjawab, “Tidak ada lagi yang aku ketahui, kecuali sebuah agama yang lurus.” Zaid bertanya, “Dan apa itu agama yang lurus?” Ia menjawabm “Agama ibrahim, dia bukanlah seorang yahudi atau nasrani, dia hanya menyembah Allah.” Ketika Zaid mendengar apa yang mereka katakan tentang Ibrahim Alaihissalam, ia keluar. Dan ketika berada di luar, dia mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku memeluk agama Ibrahim.”

Al-Bukhari meriwayatkan dan sekaligus mengomentari, dan dilanjutkan oleh Ibnu Sa’ad dan yang lainnya, dari Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu’anhuma, berkata, “Aku pernah melihat Zaid bin Amru berdiri, menyandarkan punggungnya di Ka’bah, dan berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, tak seorangpun di antara kalian yang memeluk agama Ibrahim selainku,” Zaid adalah seorang yang senantiasa menolong anak-anak wanita yang akan dikuburkan hidup-hidup oleh orang tua mereka. Ketika ada seseorang yang akan membunuh anak perempuannya, ia berkata, “Janganlah kau bunuh dia, aku yang akan mencukupkan kebutuhannya untukmu.” Lalu ia mengambil anak tersebut. Dan apabila anak tersebut mulai tumbuh besar, ia akan berkata kepada ayahnya, “Kalau engkau mau maka aku akan mengembalikannya kepadamu, atau kalau kau mau, aku hanya akan mencukupkan kebutuhannya.”

Ibnu Sa’ad, Al-Fakihi, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Amir bin Rabiah, ia berkata, “Zaid bin Amru berkata kepadaku, sungguh aku telah menyelisi kaumku, dan aku telah mengikuti agama Ibrahim dan ismail, dan apa yang telah mereka sembah, dan mereka shalat dengan menghadap kiblat ini. Aku sedang menunggu seorang nabi yang akan diutus dari keturunan Ismail, namun aku merasa tidak akan dapat mendapatkannya. Tapi aku beriman kepadanya, membenarkannya, dan bersaksi bahwa ia adalah seorang Nabi. Kalau nanti umurmu panjang maka sampaikanlah salamku kepadanya.” Amir berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memberitahukan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam tentangnya. Dan beliau membalas salamnya, mendoakannya, dan berkata “Sungguh aku telah melihatnya di surga menarik ujung bajunya.”

An-Nasa’i meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallammenyebutkan nama Zaid bin Amru bin Nufail dan bersabda, “Dia akan dibangkitkan pada hari kiamat sendirian sebagai sebuah umat, antara Aku dan Isa.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanad hasan dari Aisyah, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam,“aku memasuki surga dan melihat Zaid bin Amru bin Nufail mempunyai dua pohon yang sangat besar.”

2. Ibunya

Fathimah binti Ba’jah, dari Bani Khuza’ah

3. Saudari Perempuannya

Atikah binti Zaid, istri dari Zubair bin Awwam, dan telah diceritakan tentangnya sebelumnya

4. Istri-istrinya
  1. Fathimah binti Khaththab, Sebagian menyebutnya, Ramlah dan yang lain memanggilnya Ummu Jamil. Dia adalah seorang shahabiyah yang mengagumkan. Adik dari Al-Faruq dan masuk Islam sebelumnya. Bahkan dialah penyebab masuk Islamnya Umar, sehingga dia memeluk Islam di rumahnyaRadhiyallahu’anhuma. Dia adalah satu di antara wanita yang pertama kali masuk Islam. Tidak ada yang mendahuluinya selain ummul mukminin Khadijah. Dan dikatakan, sebelum Khadijah dan Ummul Fadhl istri dari Abbas bin Abdul Muththalib.
  1. Hazmah binti Qais bin Khalid Al-Fihriyyah, seorang shahabiyah, saudari dari Fathimah binti Qais dan Adh-Dhahhak bin Qais.
  2. Jalisah binti Suwaidh bin Ash-Shamit
  3. Umamah binti Ad-Dujaij, dari Ghassan
  4. Dhimk binti Al-Ashbagh Al-Kalbiyyah
  5. Ummu Basyir binti Abu Mas’ud Al-Anshari
  6. Ummul Aswad, dan binti Qurbah, mereka berdua dari Bani Taghlib
  7. Dan Ummu Khalid, ummu walad.
5. Anak-anaknya

Disebutkan bahwa Sa;id memeilih tiga puluh empat anak, lima belas laki-laki dan sembilan belas perempuan

Adapun yang laki-laki adalah Abdullah Al-Akbar, Abdullah Al-Ash-ghar, Abdurrahman Al-Akbar, Abdurrahman Al-Ashghar, Ibrahim Al-Akbar, Ibrahim Al-Ashghar, Amru Al-Akbar, Amru Al-Ashghar, Muhammad, Thalhah, Khalid, Zaid, Al-Aswad, Umar, dan Hisyam.

Dan yang perempuan adalah Ummul Hasan Al-Kubra, Ummul Hasan Ash-Shughra, Ummu Habib Al-Kubra, Ummu Habib Ash-Shughra, Ummu Zaid Al-Kubra, ummum Zaid Ash-Shughra, Aisyah, Atikah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, Ummu Musa, Ummu Sa’id Ummu An-Nu’man, Ummu Khalid, Ummu Shalih, Ummu Abdul Haula’. Zajlah, dan Asma.

Keturunannya berada di Kufah, dan tidak ada lagi anak keturunannya yang berada di Madinah.

Asma adalah seorang shahabiyah, dan tidak diragukan bahwa beberapa anaknya juga adalah seorang shahabat. Sa’id telah menikah sejak awal dakwah Islam dimulai dan mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam selama dua puluh tiga tahun. Maka tidak masuk akal kalau seluruh anak-anaknya lahir setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Tidak diketahui adanya anak-anak Sa’id yang menjadi ulama, dan mungkin ini menjadi salah satu sebab tidak adanya pembahasan tentang mereka.

Selamat bagi Sa’id atas kebersamaannya yang panjang dan penuh berkah bersama RasulullahShallallahu’alaihi wa Sallam, dan pembelaannya atas beliau, serta jihadnya di baah panji beliau. Kemudian selamat baginya bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah memberikan kabar gembira dengan surga. Dan bersaksi baginya bahwa ia termasuk mereka yang jujur, dan saat beliau wafat, beliau ridha kepadanya.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/said-bin-zaid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s