Thalhah bin Ubaidillah

A. Masa Kecil, Remaja, dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, Penisbatan, dan Julukannya

Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah, Al-Qurasyi At-Taimi Al-Makki dan Kemudian Al-Madani.

Julukannya Abu Muhammad, dengan ini ia dipanggil oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat.

Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay, dan dengan nasab Abu Bakar Ash-Shiddiq pada Taim bin Murrah. Mereka berdua berasal dari Kabilah Taim.

Adapun garis keturunan inilah shahabat mulia, Thalhah berasal. Dan ia lahir di negeri Islam. Dan tempat yang terbaik di bumi. Ia pertama kali membuka matanya dan melihat dunia ini dalam naungan Baitul Atiq, Ka’bah. Disanalah pertama kali ia mendongakkan kepalanya melihat langit dan menerima cahaya dan kebaikannya, dan ia pun menyatakan berlepas diri dari segala hal yang berkaitan dengan penyembahan berhaka dan mensucikan dirinya dari hal tersebut. Ia hanya menerima kemurnian tauhid. Maka ia pun menunggu kabar langit dan membuka kedua tangannya untuk menerima kebenaran wahyu yang mulai turun dan membawa akidah yang berdasarkan kepada keikhlasan ibadah hanya untuk Alllah, dan mencampakkan semua sesembahan selainnya.

Hari-hari pun berganti, siang dan malam datang silih berganti, dan kemudian menjadi hitungan tahun. Thalhah mulai tumbuh di lingkungan kota Mekah, dan ia menerima berbagai kelebihan yang ada di sana, mulai dari keturuna yang baik, keluarga yang mulia, dan kaum kerabat yang terhormat.

Dari garis keturunan dan hubungan kerabat yang ia miliki, ia dikelilingi oleh sosok terbaik dan sangat terhormat di kalangan Quraisy, baik pada masa jahiliyah maupun Islam. Ayahnya berasal dari kabilah Taim Quraisy. Dan tampaknya ia telah wafat pada masa jahiliyah, karena tidak ada satupun riwayat yang menceritakan tentang sikapnya pada saat kedatangan Islam. Ibunya adalah Ash-Sha’bah binti Al-Hadhrami, saudari Al-Ala’ bin Al-Hadhrami, seorang shahabiyah mulia yang masuk Islam dan ikut berhijrah. Pamannya Amru bin Utsman juga masuk Islam, hijrah ke Madinah, dan ikut dalam perang Qadisiyah. Lalu neneknya dari garis ibunya adalah Atikah binti Wahab bin Abdu bin Qushay bin Kilab, dan Wahab bin Abdu adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab mengurus makanan jamaah haji. Thalhah merupakan ipar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melalui empat istrinya Thalhah menikahi Ummu Kultsum binti Abu Bakar yang merupakan saudari dari Aisyah Ummul Mukminin, dan Hamnah binti Jahsy yang merupakan saudari dari Ummul mukminin Zainab, lalu Rafa’ah binti Abu Sufyan yang merupakan saudari dari Ummul mukminin Habibah, dan Qaribah binti Abi Umayyah yang merupakan saudari dari Ummul mukminin Ummu Salamah. Dan ia juga menikahi Khaulah binti Qa’qa’ bin Mu’id, yang dijuluki aliran sungai Eufrat karena kedermawanannya!

Ia mempunyai keturunan yang banyak, di antara putra-putranya yang terkenal adalah Muhammad bin Thalhah yang bergelar As-Sajjad (yang banyak bersujud), Musa, dan Isa, mereka semua adalah tokoh-tokoh terhormat. Dan di antara putri-putrinya yang menonjol adalah Aisyah binti Thalhah, kakeknya adalah Abu Bakar, dan ayahnya adalah Thalhah, dan ia merupakan wanita paling berpengaruh di zamannya. Lalu ummu Ishaq yang dinikahi oleh Husain bin Ali, dan kemudian dinikahi oleh adiknya, Husain.

Ini Cuplikan tentang garis keturunan Thalhah yang mulia, dan kekerabatan yang terhormat melalui istri-istrinya, yang menunjukkan tentang tingginya kedudukannya, dan kemurnian lingkungan keluarnya, sejak kelahirannya hingga masa dewasa, dan kemudian membangun keluarganya sendiri.

2. Sifat dan kepribadiannya

Jikalau seseorang mempunyai keberuntungan tersendiri dengan namanya, maka Thalhah telah mendapatkan yang terbaik dan tertinggi dari keberuntungan tersebut.

Ath-Thalhu, merupakan bentuk jamak dari Thalhah dan nama ini diberikan untuk laki-laki. Dan ia merupakan sebuah pohon di wilayah Hijaz yang tumbuh di dalam lembah pada tanah yang keras, subur, dan sulit dijangkau. Pohon ini mempunyai batang yang besar, daun yang lebat, sangat hijau, dahannya keras, dan mempunyai daya perekat yang terbaik. Pohon ini tinggi sehingga serin digunakan sebagai tempat berteduh para musafir dan unta-unta mereka, batang pohonnya sangat besar sehingga tidak bisa dipeluk oleh satu orang laki-laki, mempunyai dahan-dahan yang besar dan panjang sehingga melambai kea rah langit. Ia juga mempunyai duri yang besar dan panjang, namun tidak membahayakan, sehingga duri-duri ini banyak dimakan oleh unta.

Bagi yang pernah membaca perjalanan hidup Thalhah, ia akan menemukan banyak sifat dan ciri-ciri yang sesuai dengan pohon tersebut, baik dalam hal kekuatannya, ketegarannya, kebaikannya, keutamaannya, dan juga manfaat yang dipetik orang lain darinya!

Ia dilahirkan di pusat wilayah Hijaz, tumbuh di padang pasirnya, dan berkembang dalam naungannya. Ia mempunyai tubuh yang kuat dan kokoh, tegar, memiliki hati yang tak tergoyahkan. Ia merupakan pribadi yang dermawan, tangannya senantiasa terulur memberikan bantuan, dan sangat baik hati. Ia tak ragu menempuh kesulitan dalam menghadapi musuh-musuh Allah. Tidak ada lawan yang ditakutinya, dan ia tak gentar menghadapi kebisingan dan kerasnya medan pertempuran. Ia menghabiskan hartanya demi kebaikan dan membela Islam serta menolong mereka yang membutuhkan. Ia juga melibatkan dirinya dalam banyak medan jihad dan melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan membela dakwahnya serta menyebarkan risalahnya. Ia bagaikan pohon Ath-Thalhu dalam kekokohannya, kedermawanannya, dan banyaknya manfaat yang ia berikan sehingga tidak ada yang menandingi kedermawanannya. Sungguh ayahnya sangat tepat ketika memilihkan nama ini untuknya.

Ketampanan dan keindahan tubuhnya menjadi keistimewaan lain bagi kepribadiannya. Sehingga terkumpul dalam dirinya ketampanan dan kemuliaan pekerti. Putranya, Musa bin Thalhah menggambarkannya sebagai berikut, “Thalhah bin Ubaidillah mempunyai kulit putih kemerah-merahan, tingginya sedang dan cenderung agak pendek, dadanya bidang, kedua bahunya lebar, dan jika ia menoleh, ia akan menggerakkan semuanya. Kakinya besar, wajahnya tampan, batang hidungnya ramping, jika berjalan ia bergegas, dan ia tidak pernah mengubah warna rambutnya.”

Dan pada bagian akhir ia menggambarkan, “Rambutnya lebat, tidak terlalu keriting dan juga tidak lurus.”

Dapat dilihat bahwa pada sebagian ciri-ciri ini ia mirip dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

3. Pertumbuhannya dan Keislamannya

Remaja ini tumbuh dan berkembang di Mekah dan lingkungan sekelilingnya, hingga ia menjadi kuat dan pola pikirnya mulai terbentuk sempurna. Ia tumbuh bersama-sama dengan teman-teman seusianya seperti Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka bertiga sangat dekat, dan ketika cahaya wahyu mulai terbit dan turun kepada hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Thalhah baru berusia lima belas tahun, yang berarti bahwa ia masih sangat remaja dan baru akan memasuki tahap kedewasaannya. Pikirannya tidak pernah terkontaminasi oleh keburukan jahiliyah, hatinya juga tidak pernah tertarik kan akidah mereka, dan ia juga tidak tertarik untuk mengikuti kebiasaan nenek moyangnya. Dalam hal ini ia tidak berbeda dengan banyak remaja yang belum memasuki kancah kehidupan yang dihiasi dengan berbagai macam akidah, ritual keagamaan, dan aneka bentuk ibadah yang ada. Ia masih menapaki langkah-langkah awal dari jalan kehidupan yang amat panjang.

Saat itu, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dikenal sebagai orang yang menjauhi akidah Quraisy dan berbagai kebathilan mereka. Ia seolah mempresentasikan suatu gambaran yang bersih suci dalam lingkungannya, dan bukan sebagai gambaran dari lingkungan tersebut. Jalan yang di ambilnya telah menarik perhatian sejumlah orang. Kemuliaan akhlaknya juga telah dikenal luas, dan bahkan ia dijuluki Ash-Shadiq Al-Amin (yang jujur dan terpercaya). Thalhah pun telah mendengar tentang hal itu, namun ia tidak tahu banyak tentang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum kenabiannya, karena jarak umur yang cukup jauh di antara mereka yaitu sekitar dua puluh lima tahun. Dan ini tentunya berpengaruh kepada pola fikir dan cara hidup mereka, juga pada hal-hal yang berkaitan dengan minat, kecenderungan, dan cita-cita serta tujuan hidup yang ingin dicapai.

Percikan pertama yang memberikan cahaya pada langit jiwa dari remaja ini adalah ketika ia tengah berada di negeri Syam. Saat itu ia dalam suatu perjalanan dengan para pedagang menuju Bushra. Saat itu, api nuraninya, serta kobaran keingintahuan di dalam hatinya telah dinyatakan oleh seorang rahib yang merupakan salah satu dari rahib terbaik di negeri itu yang mengetahui ciri-ciri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga saat kemunculannya serta tempat ia akan diutus.

Thalhah menceritakan kepada kita tentang peristiwa tersebut, sebagimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah berkata, “Thalhah bin Ubaidillah telah bercerita, “Aku berada di pasar Bushara ketika seorang rahib berkata dari dalam biaranya, “Tanyalah orang-orang yang datang pada musim ini, adakah diantara mereka yang berasal dari tanah haram?” Thalhah berkata, “Maka aku berakata, “iya, saya berasal dari sana.” Lalu rahib itu bertanya, “Apakah Ahmad telah hancur?” Aku berkata, “Siapa Ahmad?” dia menjawab, “Putra Abdullah bin Abdul Muthalib, ini adalah bulan kemunculannya, di adalah Nabi terakhir, ia akan muncul dari tanah haram, dan akan hijrah ke suatu tempat yang memiliki banyak pohon kurma, berbatu, dan banyak rawa, maka jangan sampai engkau didahului oleh orang lain! Thalhah berkata, “Ucapannya meninggalkan bekas di hatiku, Maka aku segera pergi dan sampai di Mekah aku bertanya, “Adakah yang yang terjadi?” Orang-orang menjawab, “Ya, Muhammad bin Abdullah Al-Amin mengaku sebagai Nabi, dan ia telah diikuti oleh Ibnu Quhafah.” Ia berkata, “Maka aku segera pergi menemui Abu Bakar, dan berkata, “Apakah engkau telah mengikuti laki-laki ini?” ia menjawab, “Ya, maka segeralah pergi menemuinya, dan ikutilah dia, sesungguhnya ia menyeru kepada kebenaran.” Kemudian Thalhah memberitahunya tentang apa yang telah dikatakan oleh sang rahib. Mendengat itu Abu Bakar segera berangkat bersama Thalhah menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Thalhah masuk Islam, lalu ia juga memberitahu RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam tentang ucapan sang rahib, dan beliau gembira mendengarnya.”

Meskipun pengetahuan Thalhah tentang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik tentang pertumbuhannya, budi pekertinya, akhlaknya, dan kelebihan-kelebihannya sangat sedikit, dan tidak cukup untuk membuat nya yaking tentang perkara yang begitu agung, namun remaja yang cerdas ini tidak ingin menyimpang dari jalannya. Ia juga tidak meremehkan apa yang diucapkan oleh sang rahib, dan tidak menganggapnya remeh dan menunggu hingga perkara tersebut telah menyebar dan menjadi pembicaraan seleuruh kalangan. Ia juga tidak begitu saja beriman kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan membenarkan apa yang dibawanya tanpa melihat dahhulu tentang latar belakang kehidupannya.

Remaja ini telah dianugerahi oleh Allah sebuah akal yang cerdas, hati yang tajam, serta pemikiran yang tepat. Hal ini mulai terlihat ketika ia bertemu dengan rahib tersebut, dan terus menjadi bagian dari kepribadiannya sepanjang hidupnya. Ia memikirkan tentang perkara yang agung tersebut, menggunakan ketajaman pikirannya, dan berusaha melihatnya dari banyak sudut pandang. Maka kemudian ia berkesimpulan untuk menanyakan hal itu kepada orang yang paling dapat ia percaya, orang yang paling tepat untuk menerangkan tentang hal-hal yang membingungkan, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Salah satu kerabat terdekat nya dari Bani Taim, yang paling terkemuka dari kaumnya, dan merupakan orang yang paling mengenal Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan paling dekat dengannya. Ia juga orang yang paling mengenal sifat-sifat dan perjalanan hidupnya, dan tentunya orang yang paling jujur yang dapat memberitahukan tentang segala hal yang berkaitan dengannya.

Maka Begitu Thalhah sampai di Mekah dari Bushra, dan mendengar berita tentang kenabian MuhammadShallallahu Alaihi wa Sallam, dan bahwa Abu Bakar telah membenarkan dan mengikutinya, ia segera mendatanginya. Ia melangkah kakinya menuju rumah Abu Bakar, dan masuk menemuinya, dan berkata, “Ya, Maka segeralah pergi menemuinya, dan ikutilah dia, sesungguhnya ia menyeru kepada kebenaran.”

Adapun Abu Bakar, maka sejak detik pertama dari keislamannya, ia telah membebankan di pundaknya kewajiban untuk menyampaikan apa yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka ia pun segera menyeru mereka yang ia percayai dan dapat memperkuat kelangsungan dakwah. Keinginan Ash-Shiddiq ini bertepatan dengan kedatangan Thalhah dari Syam dengan membawa sebuah berita menarik yang menyuruhnya untuk mengikuti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Abu Bakar lah yang menjadi perantara bagi Islamnya Thalhah.

Berita ini diperkuat, dan disempurnakan oleh riwayat dari Imam Muhammad bin Ishaq yang juga menerangkan dari sisi lain dari kisah di atas, ia berkata, “Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia menunjukkan keislamannya. Dan menyeru kepada Allah dan Rasullnya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Bakar adalah seorang yang akrab di kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Paling mengenak nasab Quraisy, memahami dengan baik seluk beluk kabilah itu, yang baik maupun yang jahat. Ia adalah seorarng pedagang, dan berakhlak mulia. Dia sering didatangi oleh orang-orang dari kaumnya untuk masalah yang berbeda-beda. Baik itu karena pengetahuannya, karena perdagangannya, ataupun juga karena kerahamahannya dalam bergaul. Maka ia pun mengajak mereka yang ia percaya dari kaumnya kepada Islam, terdiri dari mereka yang sering bergaul dengannya, sehingga masuk Islamlah karena seruannya orang-orang seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu Anhum. Saat mereka menerima ajakannya, ia membawa mereka kehadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka, membacakan Al-Qur’an, menerangkan tentang kebenaran Islam, dan merekapun beriman. Merekalah delapan orang yang paling pertama masuk Islam. Mereka membenarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan mengimani apa yang beliau bawa dari Allah.”

Dan sejak detik pertama, Thalhah melangkahkan kakinya pada jalan yang benar, dan bergabung dengan kelompok Islam yang pertama, yang merupakan cikal bakal dari masyarakat muslim, dan titik awal dakwah, serta titik tolak dari penyampaian risalah kepada seluruh alam.

B. Kehidupannya Dalam Naungan Kenabian, Serta Jihadnya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

1. Kesabarannya Dalam Menghadapi Cobaan dan Siksaan

Thalhah menyambut seruan fitrah yang suci, dan menerima ajakan Ash-Shiddiq, maka ia segera menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan menyatakan keislamannya. Ia bergabung dengan kelompok pertama yang membangun pondasi awal dari keberlangsungan dakwah. Merekalah kelompok pertama yang ikut dalam kapal kebenaran dan petunjuk, memperkuat kedudukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan keberadaan mereka maka Allah mengokohkan keberadaan beliau. Dan kemudian mereka diikuti oleh satu demi satu yang menyatakan keislamannya baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Kaum Quraisy mulai mendengar tentang keislaman pemuda-pemuda terbaik mereka, dan mereka yang berasal dari keluarga dan keturunan terbaik pula. Jumlah mereka terus meningkat, dan bergabung di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menyatakan keimanan mereka kepada dakwahnya, membenarkan risalahnya, dan mengikuti petunjuknya. Orang-orang Quraisy pun mulai bisa melihat bahaya yang mengancam kehidupan jahiliyah mereka, juga mengancam keberlangsungan akidah leluhur mereka. Bumi seolah berguncang di bawah mereka, dan api kebencian pun mulai membakar hati mereka. Mereka mulai menyalakan api siksaan, dan menimpakan berbagai cobaan, serta menyeret putra-putra terbaik mereka yang melepaskan kepercayaan lama mereka dan mengikuti sang Nabi baru, yang mengajak mereka kepada agama tauhid.

Thalhah juga menerima berbagai siksaan dan penderitaan. Bahkan ia disiksa oleh mereka yang merupakan keluarga terdekatnya. Pertama adalah saudaranya yang menimpakan siksaan kepadanya, lalu kekerasan sifat jahiliyah ibunya juga harus di tanggungnya. Namun ia menerima itu semua dengan kesabaran, dan tanpa sedikitpun menyimpan dendam. Ia tetap berpegang teguh kepada agamanya dan bertekad untuk membelanya dan membawa panji-panjinya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Ibnu Asakir dari Mas’ud bin Hirasy berkata, “Ketika aku tengah berjalan diantara Shafa dan Marwa, aku lihat banyak orang yang mengikuti beberapa orang lainnya, aku melihat lebih dekat, dan ternyata itu adalah seorang pemuda yang tangannya terikat ke lehernya. Aku berkata, “Ada apa dengan mereka?” mereka menjawab, “Ini adalah Thalhah bin Ubaidillah telah meninggalkan agamanya.” Lalu di belakangnya terdapat seorang wanita yang menyuruhnya untuk meninggalkan agama barunya dan juga mencaci agama barunya. Aku bertanya, “Siapa wanita ini?” mereka menjawab, “ini adalah ibunya Ash-Sha’bah binti Al-Khadhrami.”

Thalhah bin Yahya berkata, “Aku diberitahu oleh Isa bin Thalhah dan yang lainnya, bahwasanya Utsman bin Ubaidillah, saudara Thalhah, mengikat Thlahah dengan Abu Bakar untuk menghalanginya agar tidak shalat dan meninggalkan agamanya. Ia mengikat tangan Thalhah dan tangan Abu Bakar dalam satu ikatan, namun itu tidak menghalanginya untuk tetap shalat bersama Abu Bakar!”

Namun permusuhan yang diperlihatkan oleh ibu dan saudaranya terhadap Islam tidak berlangsung lama, keduanya mendapatkan rahmat Allah, dan memperoleh kebahagiaan ketika mereka menyatakan keislaman mereka, semoga Allah meridhai mereka.

Dari sini terlihat bahwasanya ayah dari Thalhah telah meninggal sebelum kedatangan Islam, karena para sejarawan tidak menyebutkan apapun tentang sikapnya. Jikalau ia masih hidup pada masa kenabian, dan belum masuk Islam, tentu ia yang pertama kali menyiksa putranya Thalhah dan memaksanya untuk meninggalkan agamanya.

Thalhah terus menerus menerima siksaan dari salah seorang toko Quraisy yang paling jahat. Ia disiksa oleh Naufal bin Khuwailid bin Asad yang merupakan salah satu pemuka Quraisy dan juga tokoh paling jahat. Ia dinamakan singa Quraisy. Ketika Abu Bakar, Thalhah, dan yang lainnya masuk Islam, Naufal menyeret Abu Bakar dan Thalhah dengan satu tali, sehingga kemudian mereka berdua dijuluki dengan Al-Qarinain(Sepasang shahabat yang mulia), dan saat itu Bani Taim sama sekali tidak membela mereka.

Khuwailid tetap berada dalam keangkuhan dan kesombongannya, menunjukkan permusuhannya kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menentang perjalanan dakwah, dan terus berada dalam kesesatannya. Hingga akhirnya ia ditundukkan oleh kekuatan Islam saat ia memimpin pasukan Quraisy pada perang Badar. Saat kedua pasukan telah bertemu, dan para pejuang saling bertempur, pedang Ali yang tidak kenal ampun menebas kepalanya dan membunuhnya. Ia pun mati dalam keadaan kafir dan sengsara.

Adapun Thalhah dan saudara-saudaranya yang seiman, berhasil melewati ujian, dan tidak terpengaruh oleh cobaan. Mereka bersabar dalam menerima siksaan, dan menerima cobaan yang telah ditetapkan untuk mereka. Mereka pun keluar dari api peperangan dalam keadaan yang lebih suci, keimanan yang lebih tinggi, keimanan yang lebih mantap, dan lebih teguh dalam berpegang kepada agama mereka. Mereka bertekad untuk tetap meneruskan dakwah hingga ajal menjemput.

2. Hijrah dari Persaudaraan

Sejak detik pertama keislamannya, Thalhah telah menggariskan jalannya, dan mencanangkan tujuan hidupnya. Lalu ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai tujuannya, serta mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menggapai cita-citanya. Ia berpegang teguh kepada agama yang telah dipilihnya, memikul beratnya beban dakwah, dan terus maju membela agamanya, dan melindungi sosok pertama yang mengangkat panji dakwah tersebut, yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Thalhah termasuk di antara segelintir mereka yang terpilih untuk selalu mendampingi beliau. Merekalah penolong dan pembela beliau, dan merupakan sekelompok shahabat yang paling dekat dengan beliau, paling siap membela dan melindungi beliau, serta paling besar rasa cintanya. Ini berlaku sejak hari pertama kemunculan fajar dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hingga detik-detik akhir dari usia beliau yang penuh berkah, dan sampai mereka semua juga kembali menghadap Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Mereka telah membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepada mereka, dan mereka gugur dengan menepati janji tersebut, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.

Thalhah masuk Islam dan bernaung di bawah naungannya yang amat luas sejak hari pertama keislamannya saat ia masih sangat muda belia di mana perasaannya masih bergolak, dan api iman membara dalam hatinya. Keyakinannya begitu mantap, ambisinya menggebu, kekuatan nya melimpah-limpah, dan ia adalah satu di antara pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terpilih dan penuh keikhlasan tanpa peduli akan bahaya apapun juga. Ia hidup bersama beliau pada periode Mekah sebagai seorang pengikut yang membela dan melindungi beliau. Pada saat hijrah ia bertemu dengan beliau, dan terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Dan setelah itu ia segera menyusul hijrah ke Madinah, dan ikut dalam peristiwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar.

Disebutkan oleh Al-Imam Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi nama-nama shahabat pembela RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam, ia menyebutkan nama mereka satu persatu yaitu “Hamzah, Ja’far, Ali, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Utsman bin Affan, Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam, Radhiyallahu Anhum.”

Para shahabat tersebut berhasil mendapatkan kedudukan yang begitu mulia karena mereka adalah generasi pertam yang masuk Islam, yang terbaik dan paling utama dari kalangan shahabat. Dan mereka selalu berada di barisan terdepan dalam berdakwah pada segala fase dan keadaan.

Disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dan yang lainnya dalam hadits tentang hijrahnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar ke Madinah, bahwasanya ketika mereka dalam perjalanan ke Madinah, mereka menerima kiriman hadiah dari Syam yang dikirim oleh Thalhah bin Ubaidillah untuk Abu Bakar. Hadiah tersebut berisi pakaian putih dari Syam, mereka berdua memakainya dan memasuki Madinah dengan pakaian putih tersebut.

Dan dalam riwayat lain, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beranjak dari Al-Kharrar (Sebuah tempat di hijaz dekat dari Al-Juhfah, di katakana juga sebuah tempat di Khaibar) pada saat hijra ke Madinah, beliau bertemu dengan Thalhah bin Ubaidillah yang baru datang daro Syam bersama sebuah kafilah. Thalhah menghadiahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar dengan pakaian dari Syam, dan memberitahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahswasanya kaum muslimin yang berada di Madinah telah menunggu kedatangan beliau. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammempercepat jalannya, sementara Thalhah meneruskan perjalanannya ke Mekah hingga menyelesaikan seluruh urusannya. Setelah itu ia pun hijrah bersama keluarga Abu Bakar. Dialah yang membawa mereka ke Madinah.

Ketika Thalhah hijrah ke Madinah, ia tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan dasar-dasar bangunan masyarakat muslim yang baru. Masjid merupakan dasar pertama yang beliau bangun, dan yang kedua adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka masing-masing berdua, dan Thalhah bin Ubaidillah bersaudara dengan Ka’ab bin Malik.

3. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Dan di sanalah, di Madinah, Thalhah menempatkan dirinya di antara para shahabat. Ia hidup bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, shalat di belakang beliau, menghadiri mejelis-majelisnya. Bersama shahabat-shahabat lainnya ia turut mengokohkan pondasi agama, membangun Negara kaum muslimin, membangun masyarakat, menegakkan hokum-hukumnya, dan menjalankan seluruh syariatnya.

Thalhah Radhiyallahu Anhu tidak pernah berpisah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mendapingi beliau dengan sempurna, dan selalu bersama beliau baik pada saat berada di Madinah maupun saat bepergian, walaupun semua itu tidak harus ia lakukan. Karena kalau seluruh shahabat melakukan apa yang dilakukannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup mereka, karena mereka akan melalaikan begitu banyak kewajiban agama, dan juga kan berpengaruh kepada urusan mereka secara individu maupun dalam konteks bernegara.

Jadi ada sebagian shahabat yang mengabdikan diri mereka kepada Islam dengan cara mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah maupun pada saat bepergian, sementara sebagian lainnya tetap menghadiri majelis-majelis beliau dan mendampingi beliau secukupnya. Mereka bergantian menuntut ilmu dari beliau, menemui beliau secara berkala, hari demi harim dan setelah itu mereka pergi berjalan di muka bumi untuk mengais rezeki dan mengurus urusan dunia dan akhirat.

Thalhah termasuk golongan ini. Ia beribadah kepada Allah bersama yang lain, berjihad bersama para mujahidin, mendatangi majelis-majelis Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mereguk ilmu dari beliau, dan apabila hak Allah telah terpenuhi ia akan bepergian dalam perniagaannya. Ia akan berada di pasar-pasar, mengembangkan hartanya, mengurus perniagaan dan propertinya. Terkadang ia pergi keluar kota untuk berniaga, dan dengan demikian ia berhasil menyelaraskan antara kepentingan dan propertinya. Terkadang ia pergi ke luar kota untuk berniaga, dan dengan demikian ia telah berhasil menyelaraskan antara kepentingan dunia dan agama. Ia menghasilkan banyak harta yang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya serta orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dan ia juga tidak lupa untuk menginfakkan hartanya untuk kepentingan saudara-saudaranya, masyarakatnya, serta untuk membela agamanya baik dalam keadaan damai maupun perang, dan dalam keadaan susah ataupun senang. Ia termasuk di antara tokoh shahabat yang kaya raya, yang menjadi contoh dalam kedermawaannya, dan kemurahan hati mereka dalam berinfak selalu melegenda, sekaligus menakjubkan. Ia sering memberikan kegembiraan dalam hati orang-orang yang beriman karena kedermawanan dan kemurahan hatinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la , juga At-Tirmidzi yang menganggapnya hadtis hasan, serta Al-Hakim yang menshahihkan dan disetujui oleh Adz-Dzhabi, dan juga diriwayatkan oleh perawi lain selain mereka, dari Abu Anas Malik bin Abu Amir, kakek dari Malik merupakan Imam Darul Hijrah ia berkata:

“Suatu saat aku sedang bersama Thalhah bin Ubaidillah. Lalu datanglah seseorang dan berkata, “Wahai Abu Muhammad, Demi Allah kami tidak tahu, apakah orang Yaman ini maksudnya Abu Hurairah lebih tahu tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam daripada kalian, ataukah ia meriwayatkan dari RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam sesuatu yang tidak pernah beliau katakana?” maka Thalhah berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah ragu bahwa ia telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apa yang belum pernah kami dengar, dan ia juga mengetahu apa yang tidak kami ketahui. Sungguh saat itu kami termasuk golongan yang kaya dan mempunyai keluarga, sehingga kami hanya mendatangi Rasulullah pada pagi hari dan petang, dan setelah itu kami pulang. Adapun Abu Hurairah adalah seorang shahabat yang miskin, yang tidak mempunyai harta, maupun keluarga dan anak. Maka tangannya seolah terika kepada tangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia selalu bersama beliau dimanapun juga, maka kami tidak pernah ragu bahwa ia telah mengetahu apa yang tidak kami ketahui, dan mendengar apa yang tidak kami dengar. Dan tidak seorangpun dari kami yang pernah menuduhnya bahwa ia telah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apa-apa yang tidak pernah beliau katakana.”

Thalhah selalu merasakan kegembiraan saat menunaikan shalat di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di masjid beliau yang penuh berkah. Suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam segera mengerjakan raka’at yang terlupa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’I, Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi, dari Muawiyah bin Hudaji berkata, “Aku menunaikan shalat Maghrib bersama RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau lupa, dan salam apda rakaat kedua. Dan kemudian beliau pun beranjak pergi. Lalu seseorang berkata, “Wahai Rasulullah sungguh engkau telah lupa, engkau salam pada rakaat kedua.” Maka beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan iqamat dan menyempurnakan rakaat yang tertinggal tersebut. Lalu aku bertanya kepada orang-orang tentang laki-laki yang mengatakan, “Wahai Rasulullah sungguh engkau telah lupa.” Dan mereka berkata kepadaku, “Apakah kau mengenalnya?” aku menjawab, “Tidak, kecuali kalau aku melihatnya.” Kemudian seorang laki-laki berjalan melewatiku dan aku berkata, “Inilah dia.” Maka mereka berkata, “ini adalah Thalhah bin Ubaidillah.”

Ia mendengarkan hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyimaknya dengan baik, dan menimba ilmu dari beliau. Ia berusaha untuk selalu mengikuti sunnah beliau, dan kadang kala ia menanyakan beberapa hal tentang shalat yang tidak sempat ia dengar, sehingga ia bisa belajar langsung dari beliau. Dan dengan demikian ia juga membawa kebaikan bagi kaum muslimin karena telah berperan dalam meneguk hikmah-hikmah kenabian yang tentunya membawa kebaikan bagi kaum muslimin, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Musa bin Thalhah, dari ayahnya berkata, “Suatu ketika kami melaksanakan shalat sementara hewan ternak berjalan melewati kami. Maka kami menceritakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau berkata, “Kalaulah sudah ada benda seperti kayu yang ada di punggung unta dan diletakkan di depan salah seorang dari kalian, maka sesuatu yang lewat di hadapannya tidak akan membahayakan (membatalkan shalatnya).”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan An-Nasa’I dari Musa bin Talhah, dari ayahnya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami bershalawat kepadamu?” beliau menjawab, “Katakanlah, “Allahumma Shalli Ala Muhammad wa Ala Ali Muhammad, Kama Shllaita Ala Ibrahim Innaka Hamidun Majid, Wa Barik Ala Muhammad wa Ala Ali Muhammad, kama Barakta Ala Ibrahim Innaka Hamidun Majid.”

Thalhah senantiasa mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam majelis-majelis beliau, dan saat beliau keluar untuk berkeliling madinah atau saat beliau melakukan ziarah kubur, dan juga pada sebagian perjalanan beliau. Ia berusaha untuk selalu menyenangkan hati beliau, menuntun unta beliau, memegang tali kekangnya, menunaikan berbagai keperluan beliau, dan melaksanakan seluruh perintah beliau.

Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Thalhah, “Kami keluar bersama Rasulullah NabiShallallahu Alaihi wa Sallam hingga ketika kami telah mendekati Harrah Waqim, kami menemukan beberapa kuburan di sebuah tekungan lembah. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini kuburan saudara-saudara kita?” Rasulullah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Kuburan shahabat-shahabat kita.”. Kemudian kami terus berjalan hingga kami telah sampai di kuburan para syuhada, beliau berkata, “inilah kuburan saudara-saudara kita.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Fasawi dan Al-Hakim dengan sanad yang lemah dari Thalhah berkata, “Aku menjumpai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau sedang memegang buah jambu biji, beliau melemparkan buah itu kepadaku dan berkata, “Makanlah buah ini wahai Abu Muhammad, sesungguhnya buah ini melembutkan hati.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thalhah, ia berkata, “Tugas menyiapkan kendaraan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan memegang minyak wangi beliau adalah tugasku. Suatu ketika beliau didatangi seorang laki-laki yang meminta salah satu dari tugas tersebut. Beliau berkata, “Mintalah kepada Thalhah bin Ubaidillah.” Maka orang itu mendatangiku dan memberitahukan maksudnya, namun aku menolaknya. Kemudian ia kembali kepada Rasulullah dan mengadukannya. Dan beliau kembali mengatakan sebagaimana yang pertama. Orang itu pun kembali kepadaku, maka aku berkata pada diriku, “Rasulullah tidak akan mengirimnya kepadaku kecuali bahwa beliau memang ingin mengabulkan permintaannya, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengabulkan apa yang diminta kepadanya. Aku berkata, “Sungguh memberikan kebahagiaan bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih aku sukai daripada menyiapkan kendaraannya.” Maka akupun menyerahkan tugas itu kepadanya. Kemudian RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam hendak melakukan perjalanan, dan memerintahkan agar kendaraannya disiapkan. Orang itu mendatangiku dan berkata, “Dari dua unta ini, yang manakah yang lebih disukai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” aku menjawab, “Ath-Thaifiyah” dan ia pun menyiapkan unta tersebut dan membawanya kepada beliau. Namun ternyata unta tersebut melawan. Maka beliau berkata,“Siapa yang menyiapkan unta ini?” mereka menjawab, “Fulan” dan beliau berkata, “Kembalikan tugas itu kepada Thalhah.” Dan tugas itu pun dikembalikan kepadaku. Thalhah berkata, “Demi Allah aku tidak pernah mencurangi siapapun dalam Islam selain orang itu, itu aku lakukan agar tugas menyiapkan kendaraan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikembalikan kepadaku.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, “Dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya dua orang laki-laki dengan pakaian lusuh mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka berdua telah masuk Islam secara bersamaan, namun yang satu lebih banyak ijtihadnya disbanding yang lain. Lalu si mujtahid pergi berperang di jalan Allah dan mati syahid, sementara temannya masih hidup sampai satu tahun kemudian, lalu ia juga wafat. Thalhah berkata, “Aku bermimpi bahwasanya ketika aku sedang berada di pintu surge, tiba-tiba aku telah berada bersama mereka berdua. Kemudian seseorang keluar dari surge dan mempersilahkan orang yang terakhir wafat di antara mereka. Setelah itu ia keluar lagi dan mempersilahkan orang yang syahid di antara mereka untuk masuk surge. Lalu ia kembali kepadaku dan berkata, “Pulanglah, waktumu belum tiba.” Pagi harinya Thalhah menceritakan mimpinya kepada orang-orang, dan mereka heran akan mimpi tersebut. Lalu berita itu sampai di telinga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mereka pun menceritakan itu kepada beliau. Beliau berkata, “Apa yang membuat kalian heran?” mereka menjawab, “Wahai Rasulullah orang yang pertama ini adalah yang paling banyak ijtihadnya di antara mereka, lalu ia mati syahid, tapi kenapa temannya yang meninggal terakhir masuk surge lebih dahulu darinya?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Bukankah temannya itu masih hidup setahun setelah kematiannya?” mereka menjawab, “betul”, beliau berkata, “Dan bukankah ia masih mendapati Ramadhan, lalu ia berpuasa, melakukan shalat ini dan itu selama satu tahun itu?!” mereka menjawab, “betul”, maka RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Maka jarak antara mereka lebih jauh dariapda jarak antara langit dan bumi!”.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dari Abdullah bin Syaddad, “Bahwasanya tiga orang laki-laki dari Banu Udzrah mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang akan mengurus mereka untukku?” Thalhah berkata, “Saya” dan mereka pun tinggal bersama Thalhah. Lalu NabiShallallahu Alaihi wa Sallam mengirimkan sebuah ekspedisi militer, dan salah seorang dari mereka ikut dalam misi tersebut dan mendapatkan syahid. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim sebuah misi yang lain, dan salah seorang dari mereka kembali ikut dan mendapatkan syahid. Lalu yang ketiga meninggal di atas kasurnya. Thalhah berkata, “Aku bermimpi melihat tiga orang yang pernah bersamaku itu di surge, dan aku menyaksikan bahwa orang ketiga yang meninggal di atas kasurnya berada paling depan, lalu yang syahid terakhir berada di belakangnya, dan yang syahid pertama kali berada paling belakang.” Dia berakat, “Hal ini menjadi tanda Tanya bagiku, maka aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan mimpi tersebut kepada beliau. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberkata, “Apa yang membuatmu heran dalam hal ini !? Tidak ada yang lebih di sisi Allah dari seorang mukmin yang diberikan umur yang panjang karena banyaknya tasbih, takbir, dan tahlilnya.”

Terkadang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa kehilangan Thalhah dalam majelis beliau, maka beliau bertanya kepada para shahabat tentangnya. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak segan-segan untuk memuji dan menyanjungnya. Di antaranya sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Thalhah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika telah duduk di majelisnya akan bertanya tentangku, dan berkata, “Kenapa aku tidak melihat Ash-Shabih (yang berseri-seri), Al-Malih (yang tampan), dan Al-Fashih (yang fasih dalam berbicara).

4. Peperangannya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Di medan jihad Thalhah selalu berada pada barisan terdepan. Ia melesat ke kancah pertempuran, dan menyambut musuh dengan tangan terbuka dan dengan membusungkan dada. Ketika perang semakin memanas, dan mata-mata semakin memerah, ia akan menyerang musuh dengan hati yang kokoh sekokoh iman yang bersemayam di dadanya, dan tekad sekuat gunung karang, ia tidak pernah membalikkan punggungnya kecuali berbelok untuk siasat perang atau menggabungkan diri dengan pasukan yang lain. Tidak pernah sekalipun ia takluk dalam pertempuran atau gugup dalam menyerang. Tidak ada pahlawan musuh yang bisa menggentarkannya, tak ada pedang yang membuatnya mengurungkan niat untuk menyerang. Ia akan tetap menusuk masuk menghadapi kondisi sesulit apapun, meladeni kesatria terbaik musuh, dan para pahlawan mereka. Ia berperang bagaikan satu pasukan prajurit yang mengeluarkan suara gemuruh, mempersembahkan seluruh kemampuannya di jalan Allah, untuk mempertahankan agamanya dan membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Berbagai peristiwa yang mengagumkan telah meninggalkan banyak bekas luka di tubuhnya, yang menjadi bukti akan keberanian dan kepahlawanannya yang menakjubkan. Luka-luka tersebut juga menjadi lencana kehormatan dan bukti tak terbantahkan akan keteguhan shahabat yang mulia ini dalam berpegang kepada tali Allah, dan perjuangannya dalam mempertahankan agamanya dan membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam walaupun semua itu harus dengan mempertaruhkan nyawanya!

Perang Uhud merupakan bukti yang paling nyata akan kebenaran apa yang kami sebutkan di atas. Sekaligus sebagai bukti dari kebenaran kiprah shahabat yang mulia ini dalam membela agama AllahSubhanahu wa Ta’ala, dan keikhlasannya untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menggambarkan peristiwa tersebut dengan sangat tepat dan sempurna ketika ia berbicara tentang perang Uhud dengan mengatakan, “Hari itu semuanya milik Thalhah.”

Thalhah ikut dalam seluruh peperangan Rasulullah selain Badar. Adapun sebab ketidakhadirannya pada perang tersebut adalah karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menugaskannya untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy. Dan ketika ia pulang setelah menyelesaikan misinya, perang Badar juga telah berakhir. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memberikan bagiannya dari harta rampasan perang dan menjamin pahala yang sama untuknya.

Thalhah tidak hanya berjihad di jalan Allah dengan jiwanya, namun ia menggabungkan dua keutamaan yang ada dan menerima dua kebaikan sekaligus. Ia berjihad dengan hartanya dan jgua dengan jiwanya untuk menyambut seruan Allah dalam firman-Nya, “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (QS. At-Taubah [9]: 41). Maka ia menginfakkan hartanya dalam jumlah yang sangat banyak mempersiapkan perang dan menafkahi para mujahidin. Memberi mereka bekal yang membantu mereka dalam urusan dunia dan menyiapkan kebutuhan jihad. Sikap nya yang demikian mulia tersebut merupakan buah dari pendidikan kenabian yang diterimanya dalam naungan kerasulan sejak di madrasah Mekah hingga Madinah. Di mana pendidikan tersebut telah berhasil membuka pintu-pintu kebaikan dan air mata kebaikan yang telah ada di dalam dirinya. Thalhah adalah seorang yang sangat dermawan dalam mengeluarkan hartanya, mempunyai sifat pemurah dalam dirinya dan jiwanya khususnya dalam hal berhubungan dengan dakwah.

5. Perang Badar

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menugaskan Thalhah dan Sa’id bin Zaid Radhiyallahu Anhumauntuk mengumpulkan informasi tentang kafilah Quraisy yang baru kembali dari Syam. Mereka segera melaksanakan perintah beliau dan bergegas melaksanakan misi tersebut. Sementara itu RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya juga mempersiapkan diri untuk mencegat kafilah tersebut dengan harapan agar Allah memberikan mereka kemenangan. Mereka tidak berniat untuk perang, dan ketika Abu Sufyan yang mengepalai kafilah tersebut mengetahu rencana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan bahwa beliau telah bergerak bersama para shahabatnya, ia segera mengubah arah perjalanan dan berhasul menyelamatkan diri bersama kafilah yang dipimpinnya. Dengan demikian tujuan kedua pasukan pun menjadi berubah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah, dan terjadilah perang badar Al-Kubra. Dengan pertolongan dari Allah, kaum muslimin berhasil mendapatkan kemenangan yang menjadi pembicaraan seluruh kabilah arab di seantero jazirah Arab. Keangkuhan orang-orang Quraisy berhasil mereka taklukkan, dan memberi mereka rasa malu yang luar biasa.

Thalhah dan Sa’id kembali ke Madinah dan mendapati bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat telah keluar dari kota itu. Mereka segera menyusul, namun mereka telah menjumpai pasukan tersebut telah kembali dari Badar dengan membawa kemenangan atas Quraisy. Mereka sangat menyesal karena tidak mendapatkan kehormatan untuk turut serta dalam peperangan pertama bagi tentara Islam dalam menghadapi pasukan musyrikin. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi mereka anugerah dan kehormatan yang tinggi serta memberikan ketenangan dan kegembiraan pada jiwa mereka berdua. Beliau memberi mereka kabar gembira bahwa pahala mereka sama dengan mereka yang ikut dalam perang tersebut, karena mereka berdua juga menjalankan misi dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam rangka mengamankan keberlangsungan dakwah dan membela risalahnya, ini diperkuat dengan memberi mereka bagian yang sama dari rampasan perang, untuk membuktikan bahwa kedudukan mereka dari rampasang perang, untuk membuktikan bahwa keududukan mereka berdua setara dengan mereka yang ikut berperang, baik dalam hal pahala maupun dalam hak mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Khalifah bin Khayyath, dan Al-Hakim secara ringkas, dan Ibnu Saa’d dalam riwayat yang lebih panjang, ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunggu-nunggu kedatangan kafilah Quraisy dari Syam, beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail sepuluh malam sebelum keberangkatan beliau dari Madinah, untuk menyelidiki berita tentang kafilah tersebut. Mereka pun pergi hingga sampai di Al-Haura’, dan tetap di sana sampai kafilah tersebut melewati mereka. Berita tentang hal ini sampai kepada Rasulullah sebelum kepulangan mereka berdua, maka beliau pun memimpin shahabat-shahabatnya dan pergi untuk mencegat kafilah. Namun ternyata kafilah itu mengambil jalan pantai dan bergegas. Mereka berjalan siang dan malam untuk menghindari pengejaran. Sementara itu, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid kembali ke Madinah untuk memberitahukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kafilah tersebut, tanpa mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan Madinah. Mereka pun sampai di Madinah tepat pada hari di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka menemui beliau di Turban, yang terletak antara malal dan As-Sayalah dalam perjalanan pulang dari Badar. Jadi Thalhah dan Sa’id tidak sempat mengikuti pertempuran. Namun demikian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap menghitung bagian dan pahala mereka di Badar. Sehingga seolah mereka ikut dalam perang tersebut.”

Karena itulah Thalhah dianggap sebagai salah satu ahli Badar, dan para sejarawan dan penulis Biografipun menganggapnya sebagai salah satu dari mereka.

6. Thalhah dalam Perang Uhud

Setiap kali ingat akan perang Uhud, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu selalu berakat, “Hari itu semuanya merupakan miliki Thalhah!”. Beginilah orang-orang yang ikut dalam perang tersebut dan merasakan kehebatannya memberi kesaksian. Mari kita mengikuti kiprah Thalhah pada perang tersebut, dan menyaksikan kisah kepahlawanannya, agar bisa mengambil berbagai pelajaran tentang kejujuran, keikhlasan, dan pengorbanan dalam membela Islam dan melindungi jiwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari segala hal yang bisa menyakiti beliau.

Pasukan Quraisy telah bergerak menuju Madinah dengan kekuatan tiga ribu tentara, menggetarkan bumu dengan segala keangkuhannya, dan membawa dendang kesumat atas kekalahan mereka paa perang Badar. Mereka bermaksud untuk membasuh habis kehinaan akibat kekalahan yang mereka derita, dan berharap dapat memberi kaum muslimin kekalahan yang setimpal dengan apa yang mereka tanggung pada perang Badar.

Kedua pasukan telah bertemu, dan pertempuran pun pecah. Para pahlawan dari kedua pasukan mengamuk memperlihatkan kekuatan mereka. Ali, Zubair, dan Thalhah bin Ubaidillah telah menceburkan diri dalam kancah pertempuran. Begitu juga dengan Abu Thalhah Al-Anshari, Sa’ad bin Abi Waqqash, serta para singa-singa perang lainnya dari kalangan shahabat. Bahkan singa Allah Hamzah bin Abdul Muththalib bertempur bagaikan satu pasukan tentara, sehingga tidak ada satupun prajurit musyrik yang melewatinya kecuali dengan kepala terpenggal.

Sementara itu di gunung Uhud perang juga berkecamuk dengan dahsyat dan menerbangkan banyak kepala orang-orang musyrik. Tanah dipenuhi oleh mayat-mayat yang bergelimpangan, dan pemegang panji pasukan musyrikin terus berganti hingga Sembilan orang dari tokoh mereka, dan satu demi satu dari mereka tewas ketika berusaha mempertahankannya.

Al-Imam Muhammad bin Sa’ad menyebutkan did alam Ath-Thabaqat nama-nama mereka, dan nama-nama shahabat yang berhasil membunuh tokoh-tokoh kafir tersebut. Ia berkata, “Kemudian panji perang dipegang oleh Al-Julas bin Thalhah bin Abu Thalhah, dan ia berhasik di bunuh oleh Thalhah bin Ubaidillah.”

Pasukan kaum musyrikin terpecah, dan kekalahan membayangi mereka, sehingga mereka berbalik arah melarikan diri ke gunung-gunung. Keadaan itu digambarkan oleh Zubair bin Awwam sebagai berikut, “Aku melihat gelang kaki milik Hindun bin Utbah dan para pengiringnya yang menyisingkan lengan baju dan celana mereka untuk melarikan diri!”

Kekalahan menimpa pasukan musyrikin, dan tidak ada keraguan lagi akan hal itu. Kaum muslimin pun mulai mengumpulkan harta rampasang perang yang begitu banyak, sehingga mereka lalai untuk mengejar pasukan musyrikin dan memastikan kehancuran mereka. Pasukan pemanah pun banyak yang ikut mengumpulkan harta rampasan perang dan meninggalkan posisi mereka dan itu berarti melanggar perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan inilah yang kemudian menjadi benih awal dari kekalahan kaum muslimin!

Khalid bin Walid melihat bahwa bukit tempat pasukam pemanah telah kosong dan hanya beberapa orang saja yang masih bertahan disana. Maka ia memimpin pasukan berkuda dan diikuti oleh Ikrimah bin Abu Jahal dan berhasil membunuh pasukan yang tersisa di sana, lalu memberikan serang yang mengejutkan bagi kaum muslimin dari arah belakang mereka. Kaum musyrikin kembali menyatukan barisan dan mengambil alih peperangan. Perang pun kembali berkecamuk dengan dahsyat!.

Serangan mengejutkan tersebut berpengaruh besar dalam menghancurkan kesatuan kaum muslimin dan merusak barisan mereka. Mereka menjadi tercerai-berai, dan roda peperangan berputar memberi mereka kekalahan, dan mereka didera oleh badai pertempuran yang menghancurkan kesatuan mereka. Mereka melemparkan harta yang telah mereka kumpulkan dan berusah menggapai senjata yang telah mereka letakkan. Akhirnya mereka harus menelan kekalahan dikarenakan kesalahan sebagian dari mereka yang melanggar perintah langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu pihak lain yang kemudian mengumpulkan harta rampasan perang, sementara mereka harus menanggung musibah yang menimpa mereka secara keseluruhan.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Zubair bin Awwam berkata, “Pada perang Uhud, pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka untuk mengumpulkan rampasan perang. Maka kami pun diserang dari belakang, dan kemudian ada yang berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah terbunuh.” Maka kami pun mundur untuk pulang dan mereka pun berhasil memukul kami mundur.”

Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari, “Saat itu kaum muslimin terpecah menjadi tga: Satu kelompok terus mundur dalam kekalahan hingga mendekati kota Madinah, dan mereka tidak pulang hingga peperangan selesai. Jumlah mereka sedikit, dan merekalah yang dimaksudkan dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah maha Pengampun, Maha penyantun.” (Qs. Ali Imran [3]: 155). Kelompok lainnya merasa bingung ketika mendengar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah terbunuh. Sehingga ada di antara mereka yang hanya berkeinginan untuk mempertahankan dirinya sendiri, dan yang lainnya bertekad untuk terus bertempur hingga terbunuh, dan mayoritas shahabat masuk dalam golongan ini. Sementara kelompok yang ketiga tetap bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian di bantu oleh kelompok kedua sedikit demi sedikit setelah mereka mengetahui bahwa beliau masih hidup.”

Pasukan Quraisy menumpahkan segala kemarahan mereka untuk menghancurkan kaum muslimin dan mengarahkan seluruh kebencian dan kedengkian mereka untuk bisa membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka belasan tombak pun ditujukan kepada beliau, begitu juga dengan ratusan anak panah yang datang menghujani, sementara pedang-pedang terus merengsek maju kea rah beliau, dan seluruh usaha tersebut dicurahkan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atau paling tidak menciderai beliau.

Namun bagaimana mungkin orang-orang Quraisy tersebut bisa melaksanakan maksud mereka, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikelilingi oleh singa-singa perang dan orang-orang yang paling memahami makna pengorbanan yang siap menyerahkan jiwa mereka untuk menghalangi satu buah duri sekalipun yang dapat melukai kaki beliau. Apalagi kalau tubuh dan jiwa beliau terancam bahaya seperti saat itu.

Thalhah melihat sisi medan perang di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada, dan ia telah yakin bahwasanya beliau merupakan sasaran utama dari seluruh kekuatan pasukan musyrikin tersebut maka ia segera berlari menuju beliau, menembus jalan yang penuh dengan dentingan pedang dan tombak pasukan kafir. Namun itu semua tidak dipedulikannya, karena tujuan utamanya adalah menyelamatkan jiwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallami dan melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara itu pedangnya terus bergerak ke kanan dan ke kiri bertempur seolah ia adalah satu pasukan tentara yang kuat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri bertahan di tempat nya, tidak bergeser sejengkalpun menghadapi musuh yang begitu dekat. Dan bersama beliau beberapa orang shahabat juga tetap bertahan dan kemudian yang lain ikut bergabung bersama mereka.

Disebutkan oleh Al-Waqidi dan yang lainnya bahwasanya yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjumlah lima belas orang, delapan dari Muhajirin yaitu Abu Bakar, Umar, Ali, Talhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dan tujuan lainnya dari Anshar yaitu Al-Hubab bin Al-Mundzir, Abu Dujanah, Ashim bin Tsabit, Al-Harits bin Ash Shimmah, Sahl bin Hunaif, Sa’ad bin Mu’adz atau Sa’ad bin Ubadah dan Muhammad bin Maslamah.

Dan disebutkan juga, “Pada hari itu beliau dikelilingi oleh tiga puluh orang yang semuanya mengatakan, “Wajahku untuk melindungi wajahmu, jiwaku untuk melindungi jiwamu, keselamatan bagimu dan engkau tidak akan pernah ditinggalkan!”

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Utsman An-Nahdl berkata, “Di sebagian hari-hari ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, tidak ada yang tersisa di sisi beliau selain Thalhah dan Sa’ad, sebagaimana yang mereka katakan.”

Pada hari itu Thalhah tampil dengan dua baju besi, ia memakainya dengan berlapis.

Disebutkan oleh Zubair bin Bakkar dengan sanadnya sendiri dari Ibnu Abbas berkata, “Sa’ad bercerita kepadaku, ia berkata, “Ketika kaum muslimin menderita kekalahan pada perang Uhud, RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam membai’at sekelompok shahabat untuk siap mati. Mereka mampu bersabar dan mengorbankan jiwa mereka demi beliau hingga beberapa dari mereka terbunuh. Kemudian ia menyebutkan beberapa nama dari mereka yang berbai’at antara lain Abu Bakar, Umar, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Sahl bin Hunaif, dan Abu Dujanah.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Thalhah, “Ketika kaum muslimin menghadapi situasi demikian, dan mereka mundur, datanglah seorang laki-laki dari Bani Amir menyeret tombak dari atas kudanya yang berwarna hitam kemerah-merahan dan dengan angkuh berteriak, “Aku adalah putra Dzatul Wada’, “Tunjukkanlah padaku Muhammad!” Aku (Thalhah) pun menebas betis kudanya hingga terduduk, lalu aku mengambil tombaknya dan demi Allah aku tidak meleset untuk menikam matanya, dan ia mengeluh seperti seekor banteng. Maka aku segera menginjak pipinya dan membunuhnya.”

Mari kita lihat beberapa kejadi hebat dan keberanian luar biasa serta kepahlawanan yang diperlihatkan oleh Thalhah dalam usahanya membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keteguhan tekadnya untuk melindungi jiwa beliau.

Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dengan sanad yang baik sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalamFathul Bari, “Dari Jabir bin Abdullah berkata, “Pada perang Uhud, di saat orang-orang mundur, RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam berada di tempatnya dengan dua belas orang dari Anshar melindungi beliau. Dan Thalhah juga berada bersama mereka. Lalu kaum musyrikin berhasil mendekatinya, maka Rasulullah menoleh kepada orang-orang yang bersamanya dan berkata, “Siapa yang akan menghadapi mereka?”Thalhah berkata, “Aku”, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tetaplah di tempatmu”. Salah seorang dari Anshar berkata, “Aku wahai Rasulullah”, Maka beliau berkata, “Ya engkau”. Dan beliau terus berkata demikian, sementara orang-orang Anshar terus maju satu persatu untuk bertempur dan terbunuh, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Thalhah bin Ubaidillah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang akan menghadapi mereka?”Thalhah berkata, “Hassi (sebuah kata yang diucapkan ketika seseorang dalam keadaan setengah sadar karena mendapat pukulan ataupun terbakar). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Jika engkau tadi mengatakan, “Bismillah” niscaya para malaikat akan mengangkatmu dengan disaksikan oleh orang-orang yang lain!” setelah itu Allah memukul kaum musyrikin.”

Dlam riwayat dari Baihaqi, “Jika tadi engkau mengatakan “Bismillah” niscaya para malaikat akan mengangkatmu dengan disaksikan oleh orang-orang hingga engkau memasuki langit”. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik ke bukit di mana para shahabatnya telah berkumpul.

Ini adalah sebua peristiwa yang berdetak dengan dahsyat, hingga pena pun takkan kuasa untuk melukiskannya, dan tidak mampu menuliskan kepahlawanan yang begitu mengagumkan. Ia sama sekali tidak peduli akan kengerian yang ada. Thalhah menghadapi pedang-pedang yang haus akan darah tersebut, dan bertempur bagaikan sepasukan prajurit. Ia mampu bertahan di hadapan pasukan musyrikin tersebut dan memebrikan perlawanan yang sebanding dengan sebelas orang saudaranya dari Anshar. Jiwa macam apa yang ada di dalam diri shahabat agung ini?!!

Setelah serangan yang ganas tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan cedera yang cukup parah. Wajah beliau terluka, gigi seri beliau di bagian kanan bawah patah, sebuah lemparan mengenai kepala beliau dan melukai keningnya. Beliau terjatuh ke dalam sebuah lubang yang di gali oleh Abu Amir dengan tangannya dan dipeluk oleh Thalhah, hingga bisa kembali berdiri. Sementara itu dua buah mata rantai dari penutup kepala menancap di wajah beliau, dan dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan giginya. Ia berusaha menggigit rantai tersebut hingga kedua giginya patah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir dari Aisyah dan Ummu Ishaq putri-putri Thalhah, mereka berkata, “Pada perang Uhud ayah kami mendapatkan luka sebanyak dua puluh empat luka, diantaranya terdapat sebuah luka berbentuk segi empat di kepalanya, urat kakinya terputus, dan salah satu jarinya juga terputus. Sementara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menderita cedera yang cukup parah dengan luka di wajah beliau dan beberapa gigi beliau patah, dan beliau telah sangat kepayahan. Thalhah dengan tenaga yang masih tersisa membawa beliau mundur, setiap menjumpai orang kafir ia akan bertempur untuk melindungi beliau, hingga kemudian ia menyandarkan beliau pada sebuah dinding bukit!”

Luka-luka tersebut sangat melemahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan dua lapis baju besi yang beliau pakai menjadi semakin terasa berat sehingga beliau kesulitan untuk menaiki sebuah batu besar di bukit Uhud. Maka Thalhah membungkukkan badannya hingga beliau bisa menapakinya dan naik ke batu besar tersebut. Dan ketika waktu shalat tiba, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat dengan duduk, di ikuti oleh kaum muslimin yang juga duduk di belakang beliau.

Peristiwa ini diceritakan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya, dari Abdullah bin Zubair, dari ayahnya Zubair bin Awwam berkata, “kami pergi menaiki bukit Uhud bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau berusaha menaiki sebuah batu besar namun beliau kesulitan. Maka Thalhah membungkukkan badannya di bawah beliau, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menapaki badannya hingga berhasil duduk di atas batu tersebut! Zubair berkata, “Aku mendengar RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Telah wajib bagi Thalhah” (Maksudnya, Thalhah telah melakukan suatu perbuatan yang menjadikannya wajib mendapatkan surga).

Sa’ad bin Abi Waqqash yang meurpakan salah seorang pahlawan yang hebat dari kalangan shahabat juga memberikan kesaksian bahwa Thalhah adalah orang yang paling banyak melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, “Semoga Allah merahmati Thalhah. Dia adalah orang yang paling besar perannya dalam melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara kami sering menjauh untuk menghadapi musuh dan kemudian kembali menemani beliau. Aku telah melihatnya sendiri berputar-putar di sekeliling Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membentengi beliau dengan dirinya.”

Ketika perang usai, tubuh Thalhah membawa banyak sekali tanda dari perang tersebut. Dari kepala sampai kaki, leher dan dadanya, semuanya mendapat bekas sayatan pedang, dan mengalirkan luka bekas tusukan tombak. Banyak panah yang telah menembusnya, namun ia menghadapi itu semua tanpa ada niat untuk melarikan diri. Berbagai macam bekas senjata pun memenuhi tubuhnya. Tubuhnya diselimuti oleh darah, dan ia menyelesaikan perang dengan lebih dari tujuh puluh bekas luka yang terdiri bekas pedang, tusukan tombak, maupun panah. Itu semua menjadi lencana kehormatan dan tanda kepahlawanan serta sekaligus sebagai bukti dari ketulusan pengorbanannya. Ia memperlihatkan kesabaran dan ketabahan dalam pertempuran, dan menunjukkan kepada Allah perbuatan yang diridhai nya dengan berpegang teguh kepada agamanya dan melindungi Rasulnya Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Mari kita dengarkan kesaksian beberapa tokoh shahabat yang menyaksikan langsung apa yang dialami Thalhah pada hari itu.

  • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Qais bin Abu Hazim berkata, aku menyaksikan di tangan Thalhah bin Ubaidillah banyak sayatan, ia menggunakan tangannya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Uhud.”
  • Dalam sebuah riwayat dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah ia berkata, “Jari manis dari tangan kiri Thalhah terkena tebasan pedang dari pangkalnya hingga putus, ia melakukan itu untuk melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”
  • Abu Bakar Ash Shiddiq menggambarkan kejadian saat itu dengan amat terperinci dan mengagumkan. Ia menceritakan sebuah kisah yang menggambarkan tentang keberanian dan kehormatan, lalu memberikan kesempatan kepada para pembaca untuk merenungkannya agar tertanam di hati mereka kebanggaan dan penghormatan untuk sosok pahlawan yang rela menanggung berbagai luka demi kebenaran. Dan agar mereka mengukirkan contoh terbaik dan teladan yang paling mulia di hati mereka.

Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi di dalam Ad-Dala’il dan Ibnu Hibban, juga Ibnu Asakir dan yang lainnya dalam riwayat yang lebih panjang, dan Ibnu Sa’ad serta Abu Nu’aim dalam riwayat yang lebih singkat, dari Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,

“Setiap kali mengingat perang Uhud Abu Bakar Radhiyallahu Anhu akan menangis, dan berkata, “Hari itu semuanya adalah milik Thalhah!! Kemudian ia mulai bercerita, “Aku adalah orang yang pertama kali kembali pada saat perang Uhud, dan aku menyaksikan seorang laki-laki yang bertempur bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melindungi beliau, aku berkata, “mudah-mudahan itu Thalhah, karena aku telah ketinggalan banyak momen saat itu. Dan aku berkata, “Dia antara aku dan pasukan musyrikin ada seorang laki-laki yang tidak bisa aku kenali, dan aku lebih dekat kepada RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam darinya, namun ia berjalan lebih cepat dariku. Dan ternyata dia adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketika sampai di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kami mendapati gigi beliau telah patah, wajah beliau terluka, dan dua mata rantai dari penutup kepalanya telah menancap di wajah beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tolonglah shahabat kalian. Maksud beliau adalah Thalhah yang telah mengeluarkan banyak darah. Namun kami tidak memperhatikan ucapan beliau.” Lalu Abu Bakar menceritakan tentang kisah Abu Ubaidah yang melepaskan mata rantai di wajah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan giginya. Kemudian ia berkata, “Lalu kami merawat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan setelah itu kami mendatangi Thalhah yang berada dalam salah satu lubang yang ada di sana. Dan ia telah memiliki lebih kurang tujuh puluhan bekas luka tusukan, sayatan, maupun lemparan panah, dan jarinya juga telah putus. Maka kami pun merawatnya.”

Dalam kitab Al-Maghazi karangan Al-Waqidi diaktakan, “Pada hari itu Thalhah terluka di bagian kepalanya, dan terus mengeluarkan darah hingga ia pingsan. Abu Bakar memercikkan air di wajahnya hingga ia siuman, dan berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Abu Bakar menjawab, “Baik, beliaulah yang menyuruhku merawatmu.” Ia berkata, “Alhamdulillah, setiap musibah setelahnya adalah kecil!!”

Sungguh Ash-Shiddiq telah berkata jujur dan tepat ketika ia berbicara tentang perang Uhud, “Hari itu semuanya adalah milik Thalhah.”

7. Peperangan Thalhah Lainnya Setelah Uhud

Thalhah tidak pernah ketinggalan dalam seluruh peperangan yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia turut dalam perang Badar, Uhud, dan juga dalam Bai’atur Ridhwan.

Kitab-kitab sejarah dan kisah peperangan telah mencatatkan kiprahnya yang luar biasa pada perang-perang tersebut. Diantaranya adalah kesediaannya untuk mengeluarkan hartanya demi memenuhi kebutuhan para mujahidin, atau mengerjakan perintah-perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang menyempurnakan seluruh sisi jihadnya pada masa kenabian.

8. Pada perang Hudaibiyah

Thalhah ikut berangkat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat itu kalangan shahabat yang berasal dari Jeddah telah membawa binatang kurban dari rumah mereka, maka Abu Bakar, Utsman, Ibnu Auf, dan Thalhah juga membawa binatang kurban masing-masing. Ketika perjanjian telah ditanda tangani dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para shahabat untuk memotong kurban dan bercukur, Thalhah segera bangkit dan memotong hewan-hewan yang telah dibawahnya dari Madinah.

Dan disanalah kaum muslimin memberikan Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon, Thalhah berada pada posisi terdepan memberikan bai’at.

Ia juga keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Dzu Qarad (Sebuah mata air yang terletak sejauh dua malam perjalanan dari Madinah arak Khaibar. Qarad sebuah gunung yang terletak di atas lembah An-Naqma yang terletak di arah Timur Laut dari Madinah dengan jarak sekitar 35 Km.) Dengan hartanya, ia membeli sebuah sumur dan menyedahkannya untuk kaum muslimin. Karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menamakannya Thalhah yang dermawan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi, ia berkata, “Pada perang Dzu Qarad, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati sebuah sumur yang bernama Baisan maka beliau bertanya tentangnya. Dan dijawab, “Namanya adalah Baisan wahai Rasulullah, dan airnya asin.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tidak, tapi namanya Na’man (yang nikmat) dan airnya baik.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengubah namanya, dan Allah merubah rasa airnya! Thalhah membeli sumur itu dan menyedekahkannya, lalu ia mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamdan memberitahu beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah Thalhah Al-Fayyadh (yang dermawan)”

9. Tahun Kesembilan Hijrah, Perang Tabuk

Perang ini terjadi pada saat orang-orang berada dalam kesulitan musim panas begitu menyengat, panas membakar, perjalanan begitu jauh, dan musuh amat banyak. Namun Thalhah berada dalam barisan tedepan dari pasukan mujahidin, ia berjihad dengan dirinya, berinfak dengan hartanya, mengikuti perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mulai mempersiapkan pasukan, mendorong kaum muslimin untuk mengeluarkan sedekah, dan menjanjikan mereka pahala yang berlipat. Para dermawan pun saling berlomba untuk mengeluarkan harta mereka. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf menyerahkan harta yang amat banyak. Sementara Thalhah sendiri tetap berada pada barisan terdepan dalam hal ini. Ia membawa hartanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menyerahkannya secara langsung ke tangan beliau.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat dalam diri para shahabatnya apa-apa yang menyenangkan hatinya. Wajah beliau berseri-seri, dan beliau berdoa untuk mereka secara umum, dan juga secara khusus untuk beberapa orang, dan yang terutama tentunya Utsman yang menyiapkan sepertiga pasukan, semoga Allah meridhainya.

Pada perang ini, terdapat sekelompok kecil orang yang memperlihatkan keimanan mereka sementara dalam hati menyembunyikan kekufuran. Mereka berkumpul secara sembunyi-sembunyi dalam kegelapan di rumah seorang yahudi, duduk bersama memikirkan tipu daya melawan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, dan bersekongkol untuk menggerogoti Islam. Mereka berencana untuk menghancurkan kaum muslimin dan membelot dari perang dan jihad. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertindak tegas dengan memotong akar dari kejahatan tersebut, dan menghilangkan pengaruh negatif yang akan ikut menggerogoti tubuh kaum muslimin. Untuk itu beliau menugaskan sekelompok shahabat yang dipimpin oleh Thalhah. Thalhah menerima tugas tersebut dengan senang hati dan segera melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Haritsah bin An-Nu’man Shallallahu Alaihi wa Sallamberkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat berita bahwa beberapa orang munafik berkumpul di rumah seorang yahudi yang bernama Suwailim. Rumahnya berada di Jasum (sebuah benteng yang berada di Madinah Al-Munawwarah). Mereka menghasut orang-orang untuk tidak mengikuti anjuran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Thalhah memimpin beberapa orang shahabat lain, dan menugaskan mereka untuk membakar rumah Suwailim. Lalu Thalhah melaksanakan tugas tersebut. Ad-Dhahhak bin Khalifah (Adh-Dhahak, Ia pernah dicurigai sebagai seorang munafik. Setelah kejadian itu ia membuat sebuah syair yang menyiratkan bahwa ia telah bertaubat dan memperbaiki dirinya) mendobrak dari bagian belakang rumah hingga kakinya patah, sementara teman-temannya juga menerobos keluar dan berhasil kabur.”

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Kita telah melihat bagaimana Thalhah senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mengikuti jejak langkah beliau, tetap berada di jalan yang telah digariskan, dan berjihad di bawah panji beliau. Dia berada pada barisan terdepan di medan perang, ia bagaikan singa dan menjadi contoh perang keberanian. Ia berani menembus dasyatnya perang, tanpa takut sedikitpun akan kematian, dan tak peduli akan jumlah musuh yang banyak. Ia mempunyai pendirian yang teguh, fisik yang kuat, sebuah model yang harus dicontoh dalam medan pengorbanan dan pembelaan terhadap Islam, serta mengangkat panji Islam tetap berkibar tinggi.

Dan sekarang, bagaimanakah Thalhah kalau dilihat dari segi perilaku, akhlak, keperibadian, dan pergaulan?

Bagaimana hubungannya dengan Tuhannya, juga dengan keluarga, kerabat, dan saudara-saudaranya?

Apa saja hal-hal yang menjadi kerinduannya, cita-citanya, dan harapan yang ingin digapainya?

Bagaimana keadaan pribadinya, bagaimana ia melihat dunia, dengan harta-harta dan segala macam kesenangannya?

Orang yang memperhatikan perjalanan hidup Thalhah akan mendapati bahwasanya seluruh hal-hal yang menjadi jawaban atas pertanyaan di atas tidak kalah hebat, dan tidak kalah mengagumkan, dilihat dari sisi kedisiplinannya dalam berpegang kepada akhlak-akhlak dan ajaran Islam, dibandingkan dengan kehebatannya dalam medan jihad bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam kehidupannya, ia tetap menerapkan keseimbangan, dan keadilan sebagaimana yang diajarkan oleh Islam dengan itu ia didik oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Shahabat mulia ini menyaksikan turunnya wahyu dan hidup pada saat turunnya wahyu tersebut sejak detik-detik awal hingga kemudian Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Ia memperhatikan RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam, hidup bersama beliau, dan ia mempelajari dengan teliti setiap detik dari kehidupan beliau dan setiap sikap beliau yang merupakan hakikat Islam secara umum maupun detik yang lebih kecil. Maka cahaya wahyu pun mengalir dalam dirinya, jiwa dan kepribadiannya diliputi oleh kemuliaan akhlak kenabian. Thalhah adalah satu di antara shahabat yang mendapatkan didikan langsung di bawah naungan kesucian, kebaikan, dan kebenaran.

Maka jiwanya selalu terikat kepada Tuhannya, senantias merindukan keagungan, dan tak sabar untuk mendapatkan kemenangan yang hakiki di akhirat. Hatinya lembut di tempat yang mengharuskan seperti itu, dan menjadi keran dan teguh ketika berhadapan dengan dahsyatnya pertempuran. Ia sangat rendah hati, mempunyai tutur kata yang terjaga, dan ia merupakan salah satu tokoh Quraisy yang terkenal dengan kelembutan bahasanya. Ia berpegang teguh kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ajaran-ajaran beliau yang ia dapatkan dari hadits-hadits yang didengarnya. Ia mencintai saudara-saudaranya, dan ikut bergembira atas kebaikan yang mereka dapatkan. Ia bersikap lunak kepada mereka, cepat memaafkan, dan berusaha menjauhi pertentangan dengan mereka. Allah telah menganugerahkannya harta yang banyak dan kekayaan yang melimpah, dan memuliakannya dengan jiwa yang pemurah dang sangat dermawan dalam kebaikan. Ia bagaikan angin ketika memberi, dan bagaikan laut dalam hal kedermawanan. Ia mendermakan banyak sekali contoh terbaik dari pemberian dan kedermawanannya. Harta yang terkumpul di tangannya bahkan menyebabkannya tidak bisa tidur, hingga terkadang ketika ia mendapatkan ratusan ribu dinar di tangannya, ia akan memerintahkan para pegawainya untuk membagi-bagikan harta tersebut pada malam itu juga. Maka ketika pagi tiba, tidak ada lagi yang tersisa dari harta tersebut!

Ia selalu terlihat bahagia, selalu tersenyum khususnya bersama anak-anak dan keluarganya. Jika diminta ia akan memberi, dan jika ada yang berbuat baik ia akan berterima kasih dan membalas kebaikan tersebut dan melebihkannya. Jika ia dizhalimi maka ia akan cepat memaafkan, semoga Allah meridhainya, dan sunggu ia telah melakukan semua itu.

1. Gambaran Umum tentang Kepribadian dan Akhlaknya

Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’I, Al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Yahya bin Thalhah bin Ubaidillah, dari ayahnya, bahwasanya Umar melihatnya sedang bersedih, maka ia berkata, “Kenapa engkau bersedih wahai Abu Muhammad? Mungkinkah engkau bersedih karena pemerintahan putra pamanmu yaitu Abu Bakar? Ia menjawab, “Tidak”, dan memuji Abu Bakar, tapi aku telah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada sebuah kalimat yang ia jika diucapkan oleh seorang hamba pada saat kematiannya, maka Allah akan melepaskannya dari bebannya dan mecerahkan warnanya.” Namun aku tidak sempat untuk menanyakannya kepada beliau hingga wafatnya.” Maka Umar berkata, Sungguh aku mengetahuinya!” Thalhah berkata, “Apakah kalimat itu?” Umar menjawab, “Apakah engkau tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari apa yang diminta beliau untuk diucapkan oleh paman beliau, La ilaha Illallahi?” Thalhah berkata, “Demi Allah, itulah dia.”

Dan dalam sebuah riwayat lain dari Ahmad dan An-Nasa’I dari Jabi bin Abdullah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khaththab berkata kepada Thalhah bin Ubaidillah, “Kenapa aku melihatmu begitu kusut dan kumal sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, adakah yang tidak engkau sukai dari kepemimpinan putra pamanmu?” Ia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah, aku peringatkan kalian bahwa aku tidak akan pernah begitu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat jika di ucapkan oleh seorang hamba pada saat kematiannya, niscaya ia akan mendapati ruhnya dalam keadaan tentram pada saat meninggalkan jasadnya, dan pada hari kiamat ia akan mempunyai cahaya.” Namun aku belum sempat menanyakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau juga tidak memberitahuku”, ia berkata, “Segala puji bagi Allah, Apakah itu?” Umar menjawab, “Itu adalah kalimat yang diucapkan beliau kepada paman nya, La ilaha Illallah.” Thalhah berkata, “Engkau benar.”

Demikianlah semangat Thalhah yang tinggi dan kegigihannya dalam mencari ilmu serta kesedihannya karena tidak sempat menanyakan tentang sebuah hadits kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan itulah keinginannya yang tertinggi, harapan dan cita-citanya akan rahmat dari Allah jika dunia telah ditinggalkan dan ia berada di gerbang akhirat. Maka hendaklah setiap mukmin senantiasa takut dan mempunyai harapan yang tinggi untuk mendapatkan kematian dengan melafkan kalimat tauhid dengan penuh keikhlasan baik saat di dunia maupun pada saat wafatnya nanti.

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad hasan dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya ia pernah mengimami shalat pada suat kaum, setelah selesai ia berkata, “Sungguh aku lupa untuk mempersilahkan kalian menjadi imam sebelum aku maju tadi, apakah kalian rela dengan shalatku tadi (sebagai imam)? Mereka berkata, “ya, dan siapa yang tak menyukainya wahai pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?!” ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Apabila ada orang yang mengimami suatu kaum, sementara mereka tidak menyukainya, maka shalatnya tidak akan melewati telinganya.”

Sikap Thalhah Radhiyallahu Anhu ini memberikan kepada kita sebuah nuansa lain dalam metode pendidikannya, dan juga memperlihatkannya keteguhannya dalam berpegang kepada sunnah NabiShallallahu Alaihi wa Sallam. Jika ia berusaha memastikan kerelaan para jamaah akan shalat yang baru saja diimaminya, maka bagaimana mungkin ia akan bersekongkol atas mereka atau mengambil alih kekhalifahan tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin atau tanpa meminta keridhaan dan keputusan mereka bersama?! Dengan metode inilah para shahabat tumbuh, dan dengan ketranspaaranan ini mereka memimpin berbagai wilayah dan mengurus hokum dan perkara rakyat lainnya.

Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dalam Ar-Riqqatu wa Al-Buka’u, “Bahwasanya Thalhah dan Zubair melewati tempat peleburan seorang pandai besi, maka mereka berhenti memandanginya sambil menangis. Lalu mereka melewati tukang buah dan tumbuh-tumbuhan yang wangi, dan mereka pun menangis dan memohon surga kepada Allah.”

Jadi mati hati seorang mukmin harus terbuka, hatinya terjaga, cepat tanggap dalam mengambil hikmah dan pelajaran, ketika ia melihat sesuatu yang mengingatkannya kepada neraka, hatinya menjadi terguncang dan berlindung kepada Allah dari siksa jahannam. Dan ketika ia melewati salah satu kenikmatan dunia, jiwanya menjadi rindu akan surga dan ia meminta keutamaan itu dari Allah Ta’ala.

Sekarang mari kita buka lembaran baru dari kitab perjalanan hidup Thalhah untuk membaca beberapa sikapnya terhadap saudara-saudara dan para shahabatnya. Pada perang Tabuk, ada tiga orang shahabat terkemuka yang tidak ikut berangkat. Dan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka mengakui bahwa mereka tidak mempunyai alas an untuk tidak ikut, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta’ala. Hingga kemudian taubat mereka diterima dan turun dalam bentuk wahyu yang akan tetap dibaca sepanjang zaman, sesuai dengan metode terbaik dalam pendidikan dan dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan dalam masyarakat yang baik yang tidak mungkin luput dari berbagai kekurangan yang meurpakan tabiat dari manusia. Salah satu dari tiga  shahabat tersebut adalah Ka’ab bin Malik Al-Anshari yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Thalhah bin Ubaidillah pada awal hijrah ke Madinah. Ketika taubat Ka’ab diterima, Thalhah segera menyampaikan kabar gembira tersebut, dan berbegas mempercepat langkahnya untuk menyalaminya dan memberikan ucapan selamat.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang dari Ka’ab bin malik berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut. Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kepada kami sehingga rasanya aku hidu di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya hingga lengkaplah lima pulu malam sejak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang orang untuk berbicara dengan kami. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke 50, dan aku sedang duduk dalam keadaan sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran, jiwaku telah menjadi sempit, dan bumi yang luas ini juga menjadi sempit bagiku, tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dari atas sebuah bukit dengan suaranya yang paling keras, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah. Ia berkata, “Maka aku segera luruh bersujud, dan aku yakin bahwa telah ada pembebasan. Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni kami bertiga. Orang-orang pun berbondong-bondong menyampaikan kabar gembira itu kepada kami. Bahkan seseorang datang menemuiku dengan bergegas dan memukul kudanya dengan kedua kakinya agar ia berlari lebih cepat. Seseorang dari Bani Aslam menaiki bukit dan berteriak menyampaikan berita tersebut. Suaranya datang lebih cepat dari pada kuda. Ketika orang yang berteriak itu kemudian mendatangiku, aku membuka kedua pakaianku dan memakaikannya untuknya atas kabar gembria yang dibawanya. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu. Aku mencari pinjaman pakaian dan memakainya. Kemudian aku berangkat untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucap selamat atas diterimanya taubatku oleh Allah. Ketika aku masuk masjid, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk dengan dikelilingi oleh para shahabatnya. Melihat kedatanganku, Thalhah bin Ubaidillah bangkit dan berlari-lari kecil kepadaku dan kemudian ia menyalamiku dan memberikan ucapan selamat. Demi Allah, tidak seorang pun dari Muhajirin yang berdiri selain Thalhah, dan aku tidak akan melupakan itu untuk Thalhah.”

Beginilah seharusnya seorang muslim. Menginginkan kebaikan untuk kaum muslimin dan ikut bergembira atas kegembiraan mereka. Bersedih atas penderitaan mereka, dan jika mereka mendapatkan kebahagiaan ia akan memberi mereka kabar gembira tersebut dan berharap agar kebahagiaan mereka akan berlanjut. Ia menunjukkan kepada mereka bahwa ia turut berbahagia atas kebahagiaan mereka. Dan jika mereka ditimpa oleh kesedihan atau kesempitan hidup, ia akan ikut bersedih dan merasakan penderitaan mereka serta berusaha meringankan beban mereka. Inilah salah satu dari tanda-tanda keimanan, dan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Mari kita merenungkan sebuah kisah yang diabadikan oleh sejarah untuk kita dalam perjalanan hidup shahabat yang mulia ini.

Thalhah berkata, “Antara aku dan Abdurrahman bin Auf pernah mempunyai harta (sebidang tanah), aku berbagi dengannya. Lalu ia ingin membuat jalur air melalui tanahku, namun aku menolaknya dan ia mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengadukanku. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamberkata, “Tahanlah, dia adalah seorang yang telah wajib baginya surga.” Lalu ia kembali mendatangiku untuk memberikan kabar gembira tersebut. Aku berkata, “Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukanku kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?!” ia berkata, “Tadinya mememang begitu”, Thalhah berkata, “Maka aku bersaksi kepada Allah, dan bersaksi kepada RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bahwa harta itu telah menjadi milikmu.”

Sebuah lisan yang jujur, kepribadian yang bersih, jiwa yang lapang dan dermawan, serta senantiasa menginginkan yang terbaik.

Ia mengungkapkan dengan jujur apa yang ada di dalam dirinya, dan menggambarkan apa yang terjadi dengan jelas. Abdurrahman bin Auf ingin mengalirkan air ke tanahnya melalui tanah Thalhah, namun Thalhah tidak mengizinkannya maka ia mengangkat masalah tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun beliau enggan menerima pengaduan atas seseorang yang telah wajibnya baginya surga! Maka Ibnu Auf bergegas menemui saudaranya untuk memberikan kabar gembira tentang ucapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut, dan memberikannya ucapan selamat atas angerah yang telah diberikan Allah kepadanya. Thalhah melihat kembali sebidang tanah yang telah menyebabkan persengketaan itu, dan ia pun menganggapnya kecil walau seberapa mahal pun harganya. Ia tidak ingin tanah tersebut menjadi penyebab suatu perkara yang harus diangkat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia memandang jauh ke depan sebagaimana yang selalu ia lakukan, maka ia menghibahkan seluruh harta tersebut. Ia bersaksi kepada Allah dan Rasulnya bahwa harta itu adalah hibah untuk saudaranya Abdurrahman, sebagai wujud syukur kepada Allah atas kabar gembira Nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan surga, dan sekaligus sebagai hadiah untuk kebesaran jiwa Ibnu Auf yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya meskipun saat itu ia tengah bersengketa dengannya!

Semoga Allah merahmati jiwa-jiwa itu dan meninggikan kedudukannya di surga.

Sebuah kisah lain yang mirip dengan kisah sebelumnya, dan dari sisi lain bisa dilihat kebalikan dari yang tadi, namun ia menyempurnakan kisah sebelumnya. Kisah ini semakin menguatkan hakiekat bahwa seseorang yang dermawan akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah ia berikan dan bahkan lebih banyak. Ia memberikan hartanya untuk kebaikan dan mempererat hubungan, dan memaafkan orang yang berhutang kepadanya, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik. “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (Qs. Saba’ [34]: 39.

Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir meriwayatkan bahwasanya “Thalhah mempunyai hutang kepada Utsman sebanyak lima puluh ribu dirham. Suatu hari Utsman keluar menuju masjid, di sana Thalhah berkata kepadanya, “Uangmu sudah siap, ambillah”, Utsman berkata, “Uang itu sudah menjadi milikmu wahai Abu Muhammad, sebagai bantuan untukmu atas kedermawananmu.”

Dan sungguh benar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Harta yang baik lebih berkah di tangan orang yang baik pula.”

Di antara kelebihan akhlak Thalhah lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab Sirahnya, “Thalhah tidak pernah berdiskusi dengan seorang yang bakhil dalam hal pergaulan, atau seorang pengecut dalam masalah perang, atau seorang pemuda dalam masalah perempuan.

Sifat pemurah, baik hati, dan kedermawanan merupakan sifat-sifat yang mendarah daging dalam dirinya. Ia tidak pernah menunda-nunda dalam memberikan infak, atau membuang waktu dengan diskusi tentangnya, apalagi jika orang yang diajak berdiskusi adalah seorang yang bakhil dan sangat kuat mempertahankan hartanya.

Kemurahan hatinya sama dengan keberaniannya, dan ini adalah dua hal yang tidak terpisahkan darinya. Jika suara kebenaran telah menyerunya untuk berjihad di jalan Allah, dia akan segera memakai besinya, menaiki kudanya, dan menyambut seruan jihad tersebut sebagai mana yang dilakukan oleh para pahlawan yang siap mengorbankan diri di medan tempur. Ia tidak membiarkan suara-suara pengecut menghambat jalannya menyambut seruan jihad.

Bentuk lain dari kdermawanan dan kemurahan hatinya adalah pertolongannya kepada para pemuda untuk menikah, agar kehormatan tetap terjaga dalam masyarakat, dan menyatukan mereka yang telah siap untuk memasuki ikatan yang penuh berkah ini dan memasuki mahligai rumah tangga yang suci dan melahirkan keturunan yang suci. Karena itulah dikatakan bahwa Thalhah tidak berdiskusi dengan seorang pemuda dalam masalah perempuan, karena jika ia telah melihat keinginan nya untuk menikahi seorang wanita, ia akan segera memotong tali-tali yang membuat segala urusan tentang itu menjadi panjang, melangkahi hambatan-hambatan dari berbagai adat, dan mengeluarkan hartanya dengan kedermanannya. Ia menggabungkan keinginan sang pemuda dengan pemudi, dan berusaha menyatukan mereka sesuai dengan hukum Islam dan sekaligus untuk menyambut seruan fitrah yang suci.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai kesempurnaan dalam akhlak perilaku beliau. Di antara kesempurnaan akhlak tersebut adalah sikap rendah hati beliau yang amat tinggi. Para shahabat pun mencontoh sifat tersebut dari beliau, termasuk Thalhah. Ia adalah seorang yang sangat rendah hati, lembut, akrab dan mudah bergaul. Dan dengan segala kelebihan yang dimilikinya, juga berbagai keutamaan yang ada padanya, dan berbagai kontribusi yang telah dipersembahkannya, semua itu justru menambah sikap rendah hati dan tenang dalam dirinya. Ditambah dengan rasa hormat yang ditunjukkan orang-orang kepadanya dan tingginya kedudukannya di tengah-tengah mereka.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Adi dan Ibnu Asakir, dengan sanad lemah dari Musa bin Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Aku memasuki sebuah majelis dengan ayahku, maka mereka melapangkan tempat untuknya di segala sisi, maka ia duduk di tempat yang paling rendah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara sikap tawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla adalah keridhaan untuk berada di tempat yang paling rendah dalam kemuliaan sebuah majelis.”

Thalhah juga dikenal sebagai seorang yang santun dan toleran. Ini adalah sebuah sifat mulia dan terhormat yang menambah kewibawaan dan kemuliaan seseorang. Bahkan orang yang mengenal Thalhah menganggapnya sebagai salah seorang toko Quraisy yang sangat santun. Qais bin Abi Hazim berkata, “Aku mendengar Thalhah bin Ubaidillah berkata, dan dia dianggap sebagai tokoh Quraisy yang santun, “Sesungguhnya aib terkecil bagi seorang laki-laki adalah dengan berdiam duduk di rumahnya.”

Kita akan menutup pembicaraan tentang kepribadiannya dengan menyitir kesaksian dari salah seorang istrinya, wanita ini tidak melebih-lebihkan dalam menggambarkan akhlaknya, dan orang yang paling mengenal seorang laki-laki adalah keluarganya, khususnya istrinya. Wanita ini tidak melebih-lebihkan akhlak Thalhah, namun ia menceritakan apa yang dilihatnya pada diri THalhah, yang bahkan sudah didapatinya sebelum menikah dengannya. Ia juga telah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Thalhah sebelum memilihnya sebagai suami di antara empat tokoh shahabat yang datang meminangnya saat itu. Ia memilih Thalhah karena ia melihat dalam dirinya sifat-sifat yang dikehendakinya ada dalam diri suaminya dalam rumah tangganya kelak.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari Musa bin Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata, “Umar bin Khathtab Radhiyallahu Anhu datang meminang Ummu Aban binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams, namun ia menolaknya. Dikatakan kepadanya, “Kenapa?” ia menjawab, “Jika ia masuk rumah, ia datang dengan memikirkan masalah, dan jika keluar, oa pun keluar dengan memikirkan masalah. Urusan akhiratnya telah melupakannya dari urusan dunianya, seolah ia telah melihat Tuhannya dengan kedua matanya!”. Lalu ia dilamar oleh Zubair bin Awwam, dan ia pun menolaknya. Dan dikatakan kepadanya, “Kenapa?”, ia menjawab, “Istrinya hanya akan memenuhi kebutuhannya saja, dan ia akan mengatakan begini dan begitu. Kemudian ia dilamar oleh Thalhah, dan ia berkata, “Inilah suamiku yang sejati”, mereka bertanya, “Kenapa demikian?” ia menjawab, “Aku telah mengenal akhlaknya, jika ia masuk rumah ia akan memasukinya dengan tertawa, dan jika keluar, ia akan keluaur dengan tersenyum. Jika aku meminta sesuatu ia akan memberikan, jika aku diam dia akan memulai pembicaraan, jika aku melakukan sesuatu ia akan berterimakasih, dan jika aku berbuat salah aia akan memaafkan.” Ketika mereka telah menikah, Ali berkata, “Wahai Abu Muhammad, jika engkau mengizinkan aku akan berbicara dengan Ummu Aban?” ia berkata, “Berbicaralah kepadanya.” Lalu ditariklah hijab pembatas di rumahnya. Ali berkata, “Assalamualaikum wahai yang menjaga kemuliaan dirinya!” ia menjawab, “Waalaikassalam.” Ali berkata, “engkau telah dilamar oleh Amirul Mukminin dan engkau menolaknya.” Ia menjawab, “Benar demikian”, Ali kembali berkata, “Lalu aku melamarmu, dan engkau telah mengetahu hubungan kekerabatanku dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan engkau pun menolakku.” Ia menjawab, “Benar demikian”. Lalu Ali berkata.” Dan sekarang demi Allah, engkau telah menikahi orang yang paling tampan di antara, dan paling dermawan, ia akan memberikan ini dan itu!!”

2. Perniagaannya, kekayaannya, dan kedermawanannya

Thalhah Al-Khair, Thalhah Al-Fayyadh, Thalhah Al-Jud (Tiga kata yang disebutkan merupakan ungkapan tentang kedermawanan seseorang), demikian lah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjuluki Thalhah. Beliau menyematkan untuknya tiga sifat mulia yang menjadi idaman orang lain walaupun salah satunya saja, namun Thalhah mendapatkan ketiganya sekaligus!

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya kehormatan dengan kemuliaan yang tinggi ini sebagai penghargaan atas pemberiannya yang banyak dan kedermawanannya yang melimpah.

Sebatang pohon yang baik diciptakan untuk senantiasa memberiakan manfaat kepada manusia dengan buah-buahnya yang ranum. Laut takkan pernah bosan untuk memberikan kebaikannya kepada seluruh dunia selama ia masih menyimpan air. Dan sebuah mata air tidak akan berhenti mengalirkan airnya yng jernih dan elzat untuk siapapun yang meminumnya, dimanapun ia, dan siapapun ia dan begitulah Thalhah.

Kebaikan adalah tabiat asli dalam dirinya, kemurahan hati yang dimilikinya seolah juga telah menjadi fitrah dirinya, dan pemberian yang begitu banyak sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam kepribadiannya. Ia tidak bisa menghindari sifat-sifat tersebut bahkan kalaupun ia menginginkannya. Namun itu bagaimana mungkin sementara kepribadiannya telah dicelup dengan pendidikan Islam dalam naungan kenabian?! Ia memperhatikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memberikan hartanya dalam kebaikan tanpa perhitungan, jika beliau mendapatkan harta yang banyak maka beliau akan segera menginfakkannya dan tak pernah membiarkan harta tersebut bermalam di rumahnya. Beliau akan menugaskan Bilal dan berkata, “Infakkanlah ini wahai Bilal, dan jangan takut akan sedikitnya harta di hadapan Sang Pemilik Arsy.” Bagaimana mungkin Thalhah tidak mencontoh ini dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk dapat meningkatkan dirinya pada derajat yang lebih tinggi dengan berinfak, dan memberikan hartanya, serta meletakkannya di bingkai yang tepat sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam. Dengan demikian ia bisa mengumpulkan harta dengan halal, mengembangkannya sesuai syariat, dan tangannya tidak pernah ragu untuk mengeluarkannya di jalan Allah.

Thalhah adalah contoh terbaik dari didikan dan gemblengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para shahabatnya, baik dari segi keteguhannya dalam berpegang kepada Islam, konsistensinya dalam menerapkannya dalam hidup, dan juga kepahlawanannya dalam membela agamanya.

Harta merupakan salah satu pondasi untuk tegaknya Negara Islam dengan sempurna. Maka Thalhah pun berusaha untuk menempatkannya pada posisinya dengan sebaik-baiknya. Ia tak pernah ragu untuk melakukan perjalanan kemanapun, masuk ke pasar-pasar, melakukan bisnis property, menginvestasikan hartanya di banyak tempat, mengupah seseorang untuk bekerja dengannya dalam perniagaannya, hingga pemasukannya perhari mencapai seribu wafi, harta pun mengalir kepadanya, hingga ia menjadi salah satu orang terkaya. Dengan kekayaan itu ia menginfakkan ini dan itu di jalan Allah tanpa perhitungan, sehingga Allah pun mengganjarnya dengan tanpa perhitungan pula, dan Allah melipatgandakan ganjarannya hingga hari kiamat kelak, dimana tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah Ta’ala.

Kisah-kisah kedermawanan dan kemurahan hatinya dalam memberi telah diketahui dengan baik oleh setiap musafir, dan kaum muslimin secara umum, dan khususnya kedermawanannya kepada keluarga dan kaum kerabatnya serta para Ummul mukminin.

Kemurahan hatinya semakin menjadi-jadi dan mendapat dukungan yang kuat karena di antara istrinya ada yang selalu mendorongnya untuk berinfak dan memberi, dan bahkan menunjukkan kepadanya tempat-tempat serta pihak-pihak yang layak untuk diberi bantuan.

Ia pernah bersedekah di sebuah majelis sebanyak seratus ribu dirham sementara bajunya sendiri membutuhkan perbaikan. Ia membagikan tujuh ratus ribu dirham kepada orang-orang dan hanya menyisakan seribu dirham untuk keluarganya. Ketika ia menerima uang yang banyak, ia justru tidak bisa tidur hingga ia membagi-bagikannya dan tidak menyisakan sepeserpun di rumahnya.

Itulah beberapa peristiwa, dan sikap Thalhah yang menakjubkan, dan patut mendapat pujian yang baik, serta layak untuk selalu dikisahkan sebagai teladan yang baik.

Sekarang mari kita lihat hartay ang dimiliki Thalhah, sumbernya, dan perkiraan jumlahnya.

Al-Waqidi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin Ibrahim, dari ayahnya berkata, “Thalhah mendapat pemasukan di Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu dirham, di Sarat. Ia mendapat pemasukan sebesar kurang lebih sepuluh ribu dirham, dan di A’radh ia juga mendapat banyak pemasukan.”

Dan diriwayatkan dari Musa bin Thalhah, ia berkata, “Setiap tahun Thalhah mendapat pemasukan dari IRak sebesari seratus ribu dirham, diluar pemasukannya dari Sarat dan tempat lainnya. Untuk kebutuhan keluarganya di Madinah setiap tahunnya di ambil dari ladangnya di Qanah, ia mempekerjakan hingga dua puluh pekerja di ladangnya, dan dialah orang pertama yang menanam gandum di Qanah.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Isa bin Thalhah, ia berkata, “Abu Muhammad Thalhah mendapat pemasukan dari Irak setiap harinya sejumlah seribu wafi.”

Ia mempunyai banyak tanah yang digunakan untuk berladang, ia memperdagangkannya, menjual, dan membeli, dan ia mengembangkan hartanya dalam banyak bentuk perdagangan. Maka sumber pendapatannya pun menjadi bermacam-macam, dan harta pun datang melimpah ke tangannya, dan ia menginfakkannya tanpa perhitungan.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggambarkan kedermawanan dan kemurahan hati Sa’ad dalam beberapa kejadian yang diriwayatkan kepada kita oleh para biografer dan sejarawan.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir dari Musa bin Thalhah, dari ayahnyaRadhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutku pada perang Uhud: Thalhah Al-Khair, dan pada perang Al-Usyairah: Thalhah Al-Fayyadh, dan pada perang Hunain: Thalhah Al-Jawwad.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim dalam Al-Ma’rifah, dan Ibnu Asakir dari Salamah bin Al-Akwa’ Radhiyallahu Anhu berkata, “Thalhah membeli sebuah sumur di dekat sebuah gunung, kemudian menyembelih seekor unta, dan mengundang orang banyak untuk memakannya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Engkau adalah Thalhah Al-Fayyadh”.

Dan sebuah riwayat yang disebutkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrakdari Musa bin Thalhah, “Bahwasanya Thalhah menyembeli seekor unta dan menggali sumur pada perang Dzu Qarad, kemudian ia memberi makan dan minum untuk orang-orang, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Wahai Thalhah Al-Fayyadh.”. Maka ia pun dinamakan Thalhah Al-Fayyadh.”

Qabishah bin Jabir adalah seorang tokoh tabi’in dan salah seorang dari ahli fikih di kota Kufah. Ia telah bergaul dengan banyak tokoh shahabat terkemuka, di antaranya Umar, Thalhah, Al-Mughirah, Mua’awiyah, dan ia menyebut mereka dengan kelebihan dan keistimewaan mereka masing-masing.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Abu Nu’aim, Ath-Thabrani, dan yang lainnya dari Qabishah bin Jabir berkata, “Aku telah mendampingi Umar bin Khaththab, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak membaca kitabullah, atau lebih memahami agama Allah, dan yang lebih baik dalam mempelajari darinya. Dan aku juga telah mendampingi Thalhah bin Ubaidillah, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberikan harta yang banyak dan tanpa diminta darinya.”

Seorang shahabat As-Saib bin Yazid menggambarkan sebuah peristiwa tentang luasnya pemberian Thalhah dan tingginya kedermawanannya. Thalhah tidak hanya memberi pada saat bermukim, namun juga saat dalam sebuah perjalanan, dan tidak terbatas pada pemberian yang berbentuk dinar atau dirham, namun juga  kebutuhan hidup lainnya seperti makanan dan pakaian.

As-Saib berkata, “Aku mendampingi Thalhah bin Ubaidillah dalam perjalanan dan pada saat bermukim, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih dermawan dari Thalhah dalam memberikan dirham, pakaian, dan makanan.”

Sekarang kita akan melihat beberapa kejadian dan peristiwa lainnya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya ia mendapatkan uang sejumlah tujuh ratus ribu dirham dari Hadhramaut, dan malam itu ia terlihat amat gelisah. Istrinya bertanya, “Wahai Abu Muhammad, kenapa aku melihatmu sangat gelisah mala mini, adakah sesuatu yang tidak engkau sukai dari kami agar kami bisa menyenangkanmu?” ia berkata, “Demi Allah tidak, engkau adalah istri yang baik, namun mala mini aku terpikir akan suatu hal, dan aku bertanya-tanya, “Apakah persangkaan seorang laki-laki kepada Tuhannya sementara ia tidur dengan sejumlah uang ini dirumahnya?” Istrinya berkata, “Apakah engkau telah melupakan sebagian kebiasaanmu?!” Ia berkata, “Apakah itu?” Istrinya menjawab, “Oagi besok, masukkanlah uang-uang itu kedalam pundi-pundi besar dan kecil lalu bagikanlah ke rumah-rumah kaum Muhajirin dan Anshar sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing.” Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya engkau sepanjang pengetahuanku adalah seorang yang diberikan petunjuk oleh Allah, dan putri dari orang yang juga memperoleh petunjuk dari Allah.” Dia adalah Ummu Kultsum binti Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan pada pagi harinya, ia memasukkan uang tersebut ke dalam pundi-pundi besar dan kecil dan membagikannya di antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan ia juga tidak lupa mengirimkan satu pundi ke rumah Ali bin Abu Thalib. Istrinya berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah kami memiliki bagian dari harta ini?” ia berkata, “Kemana saja engkau hari ini? Bagianmu adalah apa yang tersisa.” Ia berkata, “Saat itu tersisa satu kantong yang berisi sekitar seribu dirham!”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Ath-Thabrani, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya dari Su’da binti Auf Al-Murriyyah istri Thalhah Rahdiyallahu Anha berkata, “Suatu hari Thalhah masuk rumah dengan lesu, aku bertanya, “Kenapa engkau begitu lesu? Adakah sesuatu dari kami yang menyusahkanmu agar kami bisa menghiburmu?” ia berkata, “Tidak ada yang meragukanku tentangmu, dan engkau adalah istri yang sangat baik bagi seorang muslim, namun ada harta yang banyak terkumpul di baitul mal dan itu menyusahkanku.” Ia berkata, maka aku berkata kepadanya. “Apa yang menyusahkanmu tentang itu, kirimlah uang itu kepada kaummu dan bagikan di antara mereka.” Maka ia pun mengirimkan uang itu kepada kaumnya, dan membagikanny di antara mereka. Su’da berkata, “Aku bertanya kepada penjaga baitul mal berapa jumlah uang tersebut? Ia menjawab, “Empat ratus ribu!”

Beginilah seharusnya wanita, mendorong suaminya untuk berbuat baik, menunjukkannya jalan kebaikan tersebut yang memberikan manfaat dan dukungan bagi kaum muslimin dan kaum kerabat. Senantiasa berdiri di sampingnya untuk menguatkannya, dan meyakinkannya akan keseriusannya dalam mberikan nasihat, dan keridhaannya atas perbuatan baiknya.

Istri yang pertama adalah Ummu Kultsum bin Abu Bakar, seorang putri yang meniru ayahnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thalhah, “Seorang yang mendapatkan petunjuk, dan putri dari orang yang mendapatkan petunjuk” dan yang lebih mengagumkan adalah bahwa ia menunggu hingga suaminya selesai membagikan hartanya dan kemudian bertanya, “Apakah kami memiliki bagian dari harta ini wahai Abu Muhammad?!” perbuatan baik yang dilakukannya serta kecintaannya untuk memberikan hartanya kepada kaum muslimin telah melupakan nya dari keluarganya sendiri, tidak ada lagi yang tersisa di tangannya kecuali seribu dirham saja. Ketika istrinya mengingatkannya, ia pun menyimpannya untuk mereka!

Istri yang kedua adalah seorang shahabiyah yang mulia, dan sikapnya menunjukkan asal keturunannya yang baik serta terhormat, dan kemuliaan akhlaknya.

Kedua wanita yang mulia ini sungguh layak menjadi istri dari Thalhah, dia adalah seorang suami yang baik, dan mereka adalah istri-istri yang baik pula, semoga Allah meridhai mereka semua.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir dan yang lainnya dari Al-Hasan Al-Bashri, ia mengatakan “Thalhah bin Ubaidillah menjual tanah miliknya kepada Utsman bin Affan dengan harga tujuh ratus ribu, dan Utsman membawa uang itu kepadanya. Ketika Utsman datang dengan uang tersebut, Thalhah berkata, “Sesungguhnya seseorang yang tidur dengan harta ini di rumahnya tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya, sungguh dia adalah orang yang sombong kepada Allah.” Maka malam itu orang-orang suruhannya berjalan di lorong-lorong kota Madinah membagikan uang tersebut, dan ketika waktu Subuh tiba, tidak ada lagi satu dirham pun yang tersisa padanya!”

Al-Fasawi meriwayatkan sebuah peristiwa lain dari Al-Hasan Al-Bashri, ia berkata, “Thalhah menjual tanah miliknya dengan harta seratus ribu dirham, dan ia menyedekahkan semuanya.”

Dan sampai-sampai shahabat yang mulia ini mendahulukan kaum muslim dalam hartanya, dan bahkan dari dirinya sendiri, sehingga seolah mereka lebih berhak dari dirinya atas hartanya tersebut. Ia menginfakkan apa yang dicintainya, sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Ia tak ragu mengeluarkan hartanya untuk mendapatkan pahala dan sebagai tabungannya di akhirat kelak, dengan berharap ia termasuk di antara mereka yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala “Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penantun.” (Qs.At-Tqghabun [64]:17). Harta-hartanya yang ia miliki telah menjadi kecil baginya, ia ikhlaskan kepada Allah dengan berinfak baik secara terang-terangan maupun secara bersembunyi, ia tidak takut untuk jatuh dalam riya’ maupun kebanggaan harta. Setan telah putus asa untuk mendekatinya, dia termasuk di antara mereka yang dipuji oleh Allah dalam firmannya, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka tidak bersedih hati. (Qs. Al-Baqarah [2]: 274).

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan Ibnu Al-Jauzi dari Su’da binti Auf Istri Thalhah berkata, “Suatu hari Thalhah bersedekah sejumlah seratus ribu, lalu ia terpaksa tidak pergi ke masjid karena aku masih menjahit bajunya yang robek.”

Kebaikan yang terbaik dan sedekah yang paling utama adalah yang diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat. Banyak sekali hadits-hadits shahih yang menerangkan tentang itu, di antaranya yang diriwayatkan oleh An-Nassa’I dan Ibnu Hibban dari Thariq bin Abdullah Al-Muharibi Radhiyallahu Anhu, ia berkata. “Ketika kami tiba di Madinah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau bersabda, “Tangan orang yang memberi lebih tinggi, dan mulailah dari orang yang engkau tanggung: Ibumu, ayahmu, saudarimu, saudaramu, kemudian yang terdekat dan terdekat.

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dan yang lainnya dalam kisah Abu Thalhah Al-Anshari ketika ia menginfakkan harta yang paling dicintainya yang berupa sebidang tanah yang bernama Bairuha, ia berkata, “Sesungguhnya itu telah aku sedekahkan untuk Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanan yang baik di sisi Allah, maka pergunakanlah wahai Rasulullah sesuai dengan yang ditunjukkan Allah kepadamu.” Rasulullah berkata, “Bagus, itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakana, dan aku berpendapat hendaklah engkau membagikannya kepada sanak kerabatmu.” Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun tersebut kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya.”

Thalhah sangat memahami makna ini dan menerapkannya dengan baik dalam bentuk yang mulia. Ia menginfakkan hartanya untuk anak-anak yatim dari Bani Taim, mengawinkan janda-janda mereka, membayar hutang-hutang mereka, membantu keluarga mereka, dan melimpahkan kebaikan kepada mereka yang mempunyai hubungan dengannya, atau dekat dari segi kekerabatan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi ia berkata, “Thalhah tidak membiarkan seorangpun dari Bani Taim dalam keadaan miskin melainkan ia cukupkan kebutuhan keluarganya, ia nikahkan janda-janda mereka, ia bantu keluarga mereka, dan membayarkan hutang siapapun yang berhutang dari mereka. Setiap kali menerima pemasukan hartanya setiap tahun, ia mengirimkan untuk Aisyah sebanyak sepuluh ribu dirham. Dan ia telah membayarkan hutang milik Shuhaibah At-Taimi sebanyak tiga puluh ribu dirham.”

Dalam Tarikh Ibnu Asakir, “Ubaidillah bin Ma’mar dan Abdullah bin Amir bin Kuraiz membeli seorang budak dari tawanan perang dari Umar bin Khththab, namun uang mereka masih kurang untuk membayar harganya sebanyak delapan puluh ribu dirham. Maka Umar memerintahkan mereka untuk tetap berada di dekatnya. Thalhah keluar untuk menuju masjid Nabawi, dan ketika ia melewati mereka ia bertanya, “Ada apa Ibnu Ma’mar berada di sini?” ia pun menceritakan masalahnya. Maka Thalhah memerintahkan untuk memberikan empat puluh ribu dirham guna melunasi hutangnya. Namun Ubaidillah bin Ma’mar berkata kepada Abdullah bin Amir, “kalau aku melunasi hutangkum engkaua akan tetap berada disini, namun jika aku membayarkan hutangmu, pastilah Thalhah tidak akan membiarkanku di sni hingga ia membayarkan hutangku.” Maka ia memberikan empat puluh ribu tersebut kepada Abdullah bin Amir dan mendapatinya masih berada di sana, ia berkata, “ada apa Ibnu Ma’Mar, bukankah aku sudah memerintahkan untuk melunasi hutangnya?!” lalu ia diberitahu tentang apa yang telah dilakukannya, Maka ia berkata, “Ibnu Ma’mar tahu bahwa ia memiliki seorang sepupu yang tidak akan menyerahkannya.” Mereka pun melakukannya dan Ubaidillah bin Ma’mar pun bisa pergi bebas.”

Ali bin Zaid berkata, “Seorang badui datang kepada Thalhah, dan meminta kepadanya dengan memelas. Ia berkata, “Sesungguhnya belum pernah ada yang datang meminta kepadaku dengan memelas seperti ini, aku memiliki sebidang tanah pemberian Utsman bin Affan seharaga tiga ratus ribu, ambillah itu, atau kalau engkau mau aku akan menjualnya dari Utsman dan memberikan uangnya untukmu”, ia berkata, “Aku akan mengambil uangnya”, maka Thalhah pun memberikan uangnya.”

D. Ilmunya dan Hadits-Hadits yang Diriwayatkannya

1. Sebab Sedikitnya Hadits yang Diriwayatkannya

Thalhah mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selama periode dakwah. Ia mendengar banyak hadits dari beliau, belajar darinya, menghadiri majelis-majelisnya, ikut dalam banyak peperangannya, shalat di belakangnya, melaksanakan haji bersama beliau, memperhatikan tindak tanduknya, dan melihat akhlak beliau baik saat damai maupun perang, dan saat bermukim atau dalam perjalananan. Namun sedikit sekali hadits ataupun permasalah fikih yang diriwayatkan dari Thalhah, padahal dia termasuk di antara para shahabat yang paling dekat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hal ini kembali kepada tiga sebab utama:

Pertama: Thalhah adalah orang yang sibuk dengan perdagangan dan hartanya. Keterlibatannya dalam mengurus perdangan dan hartanya menyita banyak waktunya. Sehingga ia tidak bisa terus menerus mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atau berlama-lama duduk bersama beliau untuk mendengarkan hadits-hadits beliau, mengumpulkannya, dan menghafalkannya karena banyaknya hadits-hadits tersebut.

Thalhah sendiri telah menyatakan itu dengan terus terang ketika ditanya tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah padahal kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamsangat singkat. Maka Thalhah berkata, “Demi Allah, kami tidak pernah ragu bahwa ia telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apa yang belum pernah kami dengar, dan ia juga mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Sungguh saat itu kami termasuk golongan yang kaya, mempunyai banyak rumah dan keluarga, sehingga kami hanya mendatangi Rasulullah pada pagi hari dan petang, dan setelah itu kami pulang.”

Kedua : Bahwasanya setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Thalhah sangat sibuk di tambah dengan kesibukannya dalam berdagang bersama para khalifah mengemban beban pemerintahan dan mengurus urusan rakyat. Juga memberikan nasihat dan pertimbangan-pertimbangan dalam musyawarah kepada mereka. Ia masuk dalam anggota majelis syura pada masa keempat khalifah, dan keterlibatannya dalam permasalahan pemerintahan dan menangani urusan rakyat tentunya sangat menguras waktu.

Ketiga : Thalhah tidak meluangkan waktunya untuk mengajar di majelis-majelis, fikih atau memberikan fatwa, sama seperti kebanyakan tokoh shahabat lainnya. Mereka telah mempercayakan itu kepada mereka yang meluangkan waktu mereka untuk terus mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan shahabat-shahabat muda lainnya yang berbagung dalam barisan mereka yang memenuhi hati mereka dengan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ilmu fikih, dan kemudian mengkhususkan diri untuk mengajarkan ilmu-ilmu tersebut. Dengan itu mereka telah membebaskan shahabat-shahabat lainnya dari kewajiban yang mulia tersebut. Setiap orang akan berkalan sesuai dengan takdirnya, dan akan mengisi setiap bidang yang ada di dalam Islam. Masing-masing akan bekerja sesuai dengan kemampuannya dengan sebaik-baiknya. Dengan beragamnya pekerjaan para shahabat, dan menyatunya bakat-bakat serta kemampuan yang mereka miliki, dan dengan kerja sama yang kokoh, maka pondasi Negara pun dapat ditegakkan di atas dasar yang kokoh dan keragaman yang saling menguatkan.

2. Hadits-hadits yang diriwayatkannya dan orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya

Thalhah meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar bin Khaththab.

Dan yang meriwayatkan darinya adalah putra-putranya : Ishaq, imaran, Isa, Musa dan Yahya.

Dari kalangan shahabat : Jabir bin Abdullah, dan As-Saib bin Yazid.

Dari kalangan tabi’in: Al-Ahnaf bin Qais, Abdullah bin Syaddaad bin Al-Hadi, Qabishah bin Jabir, Qais bin Abu Hazim, Malik bin Abu Amir, Al-Ashbahi kakek dari Malik bin Anas, Abu Utsman An-Nahdi, dan yang lainnya.

Kitab-kitab hadits menyebutkan sebanyak 38 hadits darinya.

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, An-Nasa’I, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Abdullah bin Utsman At-Taimi bahwasanya ia berkata, “Kami sedang bersama Thalhah bin Ubaidillah, lalu ia mendapat hadiah berupa daging dari bintang buruan, sementara saat itu mereka sedang dalam keadaan ihram, dan saat itu Thalhah sedang tidur. Ketika ia bangun kami berakata, “Ada daging binatang buruan yang dihadiahkan untukmu.” Ia berakata, “Apa daging binatang buruan yang dihadiahkan untukmu.” Ia berkata, “Kenapa kalian tidak memakannya?” ia berkata, “Kami pernah makan yang seperti itu bersama RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam, makanlah.” Maka mereka pun makan, dan ia ikut makan.

3. Menyebarnya ilmu pada keturunannya

Thalhah memiliki anak yang banyak, sebagian mereka merupakan ulama hadits yang terhormat, di antaranya :

  1. Ishaq: Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, Ibnu Abbas, dan dari Aisyah.
  2. Imran: Ia meriwayatkan dari ayahnya, juga dari Ibunya Hamnah binti Jahsy, dan dari Ali bin Abu Thalib.
  3. Isa: Ia mengambil hadits dari ayahnya, dan dari banyak shahabat lainnya.
  4. Musa: Ia mendengar hadits dari banyak shahabat, dan ia termasuk di antara ulama besar.
  5. Yahya : Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, dari ibunya Su’da binti Auf Al-Murriyyah, dan dari Abu Hurairah.

Putrinya bernama Aisyah, ia meriwayatkan hadits dari bibinya ummul mukminin Aisyah, dan orang-orang banyak yang meriwayatkan hadits darinya karena keutamaan dan adabnya.

Kemudian hadits-hadits tersebut berpindah kepada cucu-cucunya, dan jumlah mereka banyak. Di antara ulama yang terkenal dari mereka adalah : Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, Ishaq bin Yahya bin Thalhah, Bilal bin Yahya bin Thalhah, Thalhah bin Yahya bin Thalhah, dan Mua’awiyah bin Ishaq bin Thalhah.

Dan ilmu-ilmu tersebut  terus mengalir kepada keturunannya yang selanjutnya, di antara yang terkenal dari mereka adalah : Abdullah bin Muhammad bin Imran bin Ibrahim bin Thalhah, Abdurrahman bin Muhammad bin Yusuf bin Ya’qub bin Thalhah, Al-Qasim bin Muhammad bin Zakariya bin Thalhah, Muhammad bin Imran bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah, dan Ya’qub bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah.

Begitulah pohon ilmu terus tumbuh tinggi dalam keluarga Thalhah, cabang-cabangnya terus menjalar, dan memberikan buahnya. Banyak sekali dari keturunannya yang mnejadi ulama hadits dan fikih. Allah Ta’alamemuliakannya dengan penyejuk mata dari istri-istrinya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Dengan keturunannya yang bersih dan hasil didikannya yang baik maka pahalanya pun terus mengalir kepadanya.

E. Keutamaannya, Jaminan Surga untuknya, dan Pujian Para Shahabat Untuknya

Thalhah telah menyatakan keislamannya sejak awal terbitnya fajar dakwah, dan bergabung dengan kapal iman sejak awal keberangkatannya. Ia menempatkan dirinya pada posisi yang istimewa dalam barisan terdepan yang mendahului penduduk bumi lainnya untuk mengangkat bendera dakwah. Ia maju dengan seluruh kekuatan dan gelora semangat seorang pemuda dan kejujuran orang-orang yang ikhlas serta dedikasi seorang pecinta dalam membela agamanya. Dalam setiap peristiwa ia memberikan sebuah kontribusi nyata, dan bahkan seringkali ia mempersembahkan banyak kontribusi penting dalam satu peristiwa.

Nikmat Allah sekan terus mengalir tanpa putus kepadanya. Dan itu ditambah dengan berbagai kabar gembira yang diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keapdanya serta berbagai pujian beliau untuknya atas kiprah dan kontribusinya yang begitu banyak. Maka terkumpullah dalam diri Thalhah berbagai kelebihan dan keutamaan yang biasanya dimiliki oleh beberapa orang sekaligus dan hanya didapatkan oleh mereka yang berusaha menggapai puncak.

Baris pertama yang terukir dalam lembar keutamaannya adalah kedudukannya sebagai kelompok pertama yang masuk Islam, dan diikuti dengan pembelaannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamdalam dakwahnya dan ketika menghadapi berbagai siksaan di Mekah. Ia ikut berperan dalam mengibarkan benderah dakwah bersama beliau, lalu berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya untuk berperan dalam membangun Negara Islam di Madinah Al-Munawwarah. Di sana ia meneruskan torehan kisah-kisah kepahlawanan yang mengagumkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beraksi untuknya bahwa ia termasuk ahli Badar, lalu ikut dalam perang Uhud. Di perang tersebut Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memuliakannya dengan pujian yang bahkan sulit untuk diungkapkan, dan mewajibkan baginya surga atas kiprahnya di sana dan di berbagai peristiwa lainnya. Ia turut hadir dalam perang Hudaibiyah dan memberikan Bai’atur Ridhwan di bawah pohon. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan di hadapan seluruh shshabat bahwa Thalhah termasuk di antara mereka yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, dan bahwa ia adalah seorang syahid yang berjalan di muka bumi, dan menjulukinya dengan Thalhah Al-Fayyadh (yang dermawan).

Seluruh keistimewaan dan kelebihan ini menyatu dalam dirinya, yang membentuk sebuah mahkota yang berkilauan di atas kepalanya. Saudara-saudaranya mengetahu keutamaan ini, terukir indah dalam lembaran perjalanan hidupnya dan akan terus dibaca oleh para pengikutnya dan orang-orang yang akan selalu mencintainya dari kaum muslimin sepanjang masa.

1. Kelebihan dan Keutamaannya

Allah Ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada sekelompok shahabat dengan menjadikan mereka kelompok pertama yang menyatakan keislaman mereka, dan memberikan mereka nikmat yang besar berupa kesempatan untuk membela Rasul Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menyokong beliau sejak awal dimulainya kewajiban dakwah. Mereka membuktikan itu kepada Allah dalam banyak peristiwa yang mereka lalui, maka Allah menjanjikan untuk mereka berbagai nikmat nya, dan menurunkan ayat Al-Quran uamg alam terus di baca sepanjang masa tentang mereka. Allah Ta’ala berfirman, : “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah akan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung (Q.S At-Taubah [9]: 00).

Thalhah adalah satu di antara kelompok terbaik tersebut, bahkan ia termasuk di antara yang terdepan dari mereka.

Dakwah melewati masa sulit yang berhasil dilewati dengan kesabaran dan keteguhan. Lalu medan dakwah pun berpindah ke bumi hijra. Thalhah hijrah meninggalkan negerinya Mekah, keluarganya, rumahnya, serta tempat kelahiran dan tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya. Ia menyusul Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ke tempat hijrah beliau, dan ia pun menerima kemuliaan hijrah tersebut, dan berhak menerima lencana Muhajirin yang dipuji oleh Allah dalam firmannya, “(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridhaannya dan demi menolong (agama) Allah dan Rasulnya. Mereka itulah orang-orang yang benar (Qs. Al-Hasyr [59]: 8).

Saat perang Badar tiba, dengan perntah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Thalhah berangkat untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy hingga ia tidak dapat ikut dalam perang tersebut. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap menghitung bagiannya dalam bagian harta rampasan perang dan juga dari segi pahala yang ia dapatkan. Ini sekaligus sebagai kesaksian bahwa ia termasuk ahli Badar. Banyak hadits shahih yang menyatakan tentang tinggi kedudukan mereka, di antaranya perkatan NabiShallallahu Alaihi wa Sallam kepada Umar bin Khaththab, “Barangkali Allah telah mengetahu perihal mereka yang ikut perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, aku telah mengampuni kalian.”

Dan dalam riwayat lain, “Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh telah pasti bagi kalian surga.”

Dalam perang Uhud Thalhah memperlihatkan kiprahnya yang mengagumkan. Dalam perang tersebut ia menoreh banyak keistimewaan dalam lembaran hidupnya yang cemerlang. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kesaksian kepada sejarah dengan kesaksian dan pujian tertinggi bagi Thalhah, beliau menjanjikan surga untuknya, dan bahwasanya ia termasuk di antara mereka yang menepati janjinya dan memenuhi sumpahnya serta menepati apa yang telah dijanjikannya kepada Allah. Beliau memberinya sebuah jaminan tertinggi yang tidak ada lagi bandingannya. Pahlawan ini pun menjadi tenang akan terjaminnya tujuan akhirnya, dan kemuliaan tempat kembalinya nanti. Ia bahagia dengan penjagaan dan perlindungan Allah kepadanya dan keberkahan jalan yang dilalui hingga ia menemui nya di surganya kelak.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan yang lainnya, dari Zubair bin Awwam berkata, “Pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakai dua lapis baju besi, lalu beliau berusaha menaiki sebuah batu besar namun beliau kesulitan. Maka Thalhah membungkukkan badannya di bawah beliau, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menapaki badannya hingga berhasil duduk di atas batu tersebut! Zubair berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah wajib bagi Thalhah”. Maksudnya ia telah melakukan suatu perbuatan yang menjadikan surga wajib baginya.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Ya’la, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtarah dan yang lainnya, hadits ini adalah hadits shahih karena banyak jalur periwayatannya, dari Musa dan Isa putra-putra Thalhah, dari ayah mereka Thalhah, “Para Shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, berkata kepada seorang badui yang bodoh, “Tanyakanlah kepada beliau tentang “Orang yang gugur (dalam menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, Siapakah dia?” mereka tidak berani menanyakan langsung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena segan akan wibawa beliau. Maka orang badui tersebut menanyakannya kepada beliau, namun beliau memalingkan wajahnya darinya, kemudian ia kembali bertanya, dan beliau kembali memalingkan wajah beliau. Lalu aku muncul di pintu masjid dengan memakai pakaian biru. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku, beliau berkata, “Mana orang yang bertanya tadi tentang orang yang gugur?” badui tersebut berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Beliau berkata,“Inilah orang gugur tersebut.”

Dalam sebuah riwayat dari Ummul mukminin Aisyah, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Barangsiapa yang ingin melihat seorang laki-laki yang berjalan di atas muka bumi, sementara ia telah gugur, maka lihatlah Thalhah.”

Thalhah sangat bahagia dengan kesaksian dan kabar gembira tersebut, maka ia berusaha untuk berbuat hal-hal yang akan membantunya dalam mencapai apa yang telah di janjikan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Ia juga memberitahu orang-orang tentang besarnya nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, dari ayahnya berkata, “Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku, beliau akan berkata, “Siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas muka bumi maka hendaklah ia melihat Thalhah bin Ubaidillah.”

Dalam sebuah hadits shahih lainnya yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Musa bin Thalhah, ia berkata, “Aku menemui Mu’awiyah dan ia berkata, “Apakah engkau mau mendengar kabar gembira dariku?” aku menjawab, “Ya”, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberkata, “Thalhah termasuk di antara mereka yang gugur (dalam menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah).”

Al-Imam Ibnu Al-Atsir berkata, “An-Nahbu: An-Nadzur (Nazar), seolah ia telah mengharuskan dirinya untuk menghadapi musuh-musuh Allah dalam peperangan. Dan dikatakan juga, An-Nahbu : Al-Mautu, seolah ia telah mengharuskan dirinya untuk berperang hingga mati.”

Hadits yang diriwayatkan melalui banyak jalur ini merujuk kepada firman Allah Ta’ala. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya (Qs. Al-Ahzab [33]: 23).

Thalhah adalah salah satu dari mereka yang dimaksud, sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini adalah suatu keistimewaan yang dimiliki Thalhah, dan Allah telah memberinya selamat atas kehormatan yang diberikannya.

Di antara kelebihan Thalhah lainnya yang mendapatkan pujian langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah kebaikannya, kedermawanannya, dan kemurahannya dalam memberi. Maka beliau menjulukinya dengan Thalhah Al-Khair (Thalhah yang baik), Thalhah Al-Jud (Thalhah yang pemurah), dan Thalhah Al-Fayyadh (Thalhah yang dermawan).

Suatu hari Thalhah dan sekelompok shahabat tengah berada bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di gunung Hira. Tiba-tiba gunung tersebut berguncang karena gembira akan kehadiran kumpulan yang penuh berkah tersebut, ia bergetara kegirangan. Ia memuji Allah atasnya berdiri kaki-kaki para tokoh mulia tersebut bersama dengan penghulu anak cucu Adam. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallammenenangkannya dan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Beliau menyuruhnya untuk diam dan tenang untuk menghormati para shahabat mulia yang menemani Nabi mereka. Dan tidak ada siapapun di antara mereka melainkan seorang shiddiq atau syahid.

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Abu HurairahRadhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di atas gunung Hira, dan gunung itu pun bergetar. Maka beliau berkata, “Tenanglah hai Hira! Tidak ada yang berada di atasmu kecuali seorang Nabi, atau seorang shiddiq, dan seorang syahid.” Dan yang berada di atasnya adalah NabiShallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad bin Abu WaqqashRadhiyallahu Anhum.” Kami bertanya, “Lalu siapa yang kesepuluh?” dia menjawab, “Aku.”

Diriwayatkan oleh pengarang empat kitab sunan, juga Ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan yang lainnya dari Sa’id bin Zaid, “Gunug Hira berguncang, Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamberkata, “Tenanglah hai Hira! Tidak ada yang berada di atasmu kecuali seorang Nabi, atau seorang shiddiq, dan seorang syahid.” Dan yang berada di atasnya adalah Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan aku.”

2. Jaminan Surga Untuknya

Seluruh kelebihan dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada Thalhah, dan ditambah dengan kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan bukti yang paling nyata bahwa ia termasuk dalam golongan syuhada (orang-orang yang akan mati syahid) dan shiddiqin (orang-orang yang berkata benar) yang merupakan penduduk surga. Allah telah menjanjikan bagi mereka kenikmatan surga yang kekal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS. An-Nisa’ [4]: 69).

Pada perang Uuhud Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira untuknya berupa surga, beliau berkata, “Telah wajib untuk Thalhah (surga)”.

Lalu banyak hadits-hadits lain yang semakin menguatkan dan menetapkan kabar gembira tersebut, yang menambahkan keagungan dari nikmat yang begitu besar. Kebahagiaan pun menyertai langkahnya di dunia hingga ia sampai ke akhirat kelak dimana ia akan memperoleh apa yang telah dijanjikan Allah berupa pemberian yang berlimpah. Dan kabar-kabar gembira tersebut diriwayatkan oleh banyak shahabat.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh empat penulis kita sunan, Ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lainnya dari Rasulullah atas apa yang telah didengar kedua telingaku, dan difahami oleh hatiku dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sungguh aku tidak akan mengatakan kebohongan jika ia bertanya kepadaku saat bertemu dengannya nani. Sungguh beliau telah bersabda, “Abu Bakar disurga, Umar di surga, Ali di Surga, Utsman di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, dan Sa’ad bin Malik di surga.” Dan orang mukmin yang kesembilan, kalau aku mau aku akan menyebutkan namanya! Maka orang-orang yang hadir di masjid menjadi rebut dan memintanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, siapakah yang kesembilan tersebut? Ia menjawab, “Kalian telah memintaku dengan nama Allah yang Maha Agung, akulah orang mukmin yang kesembilan tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang kesepuluh.”

Dan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Auf berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang di surga, Abu Bakar di surga, Umar 

3. Pujian Shahabat Untuknya

di surga, Utsman di surga, Ali di Surga, Zubair di surga, Thalhah di surga, Ibnu Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah bin Al-jarrah di surga.”

Para shahabat telah mengetahui dengan baik berbagai kelebihan yang dimiliki Thalhah dan banyaknya kontribusi yang telah ia persembahkan dalam membela Islam dan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya. Juga besarnya harta yang ia nafkahkan untuk kaum muslimin, dan mereka telah mendengar langsung pujian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuknya, dan penghargaan beliau atas jasa-jasanya. Maka mereka pun menempatkannya di posisi terhormat yang layak untuknya. Mereka juga selalu memujinya, dan menghargainya atas semua yang telah dilakukan dan diberikannya. Bahkan oleh mereka yang tidak sependapat dengannya dalam ijtihad pada saat munculnya fitnah, dan yang terdepan adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu. Mereka benar-benar memujinya dan mengangkat kedudukannya, bahkan Ali Radhiyallahu Anhu adalah tokoh shahabat yang paling banyak memberikan pujian dan penghargaan kepada Thalhah.

Cukuplah ia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Umar ketika ia menjadi salah satu orang terdekatnya, dan merupakan salah seorang dari anggota majelis syura dan menjadi tumpuan Umar dalam bermusyawarah dan bahu-membahu bersama dalam mengurus Negara dan rakyat.

Sebelum Umar Al-Faruq mati syahid, ia menunjuk Thalhah sebagai salah satu dari enam orang yang berhak dipilih menjadi khalifah setelah. Dan ia menerangkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamwafat, beliau ridha kepada mereka berenam.

Ibnu Asakir meriwayatkan, “Pada perang Jamal, dan pasukan Ali telah membunuh banyak kaum muslimin dan berhasil memasuki Bashrah, ia di datangi seorang laki-laki arab dan membicarakan sesuatu dengannya. Ia mengatakan bahwa ia telah berhasil membunuh Thalhah, maka Ali menghardiknya dan berkata, “Sesungguhnya engkau tidak pernah menyaksikan kiprahnya para perang Uhud, dan besarnya pengorbanannya untuk Islam dengan kedudukan yang dimilikinya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Orang tersebut menjadi malu dan terdiam. Seseorang dari mereka bertanya, “Bagaimanakah pengorbanan dan deritanya pada perang Uhud, semoga Allah merahmatinya?” Ali berkata, “Ya, semoga Allah merahmatinya, aku telah menyaksikannya, dan ia menjadikan dirinya sebagai perisai bagi RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam. Pedang dan tombak menyerangnya dari segala penjuru, namun ia tetap bertahan sebagai tameng bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhuma dan dia merupakan salah seorang pendukung Ali, “Bahwasanya Ali keluar dengan membaca ayat ini, “Sungguh sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka).”(QS.. Al-Anbiya’ [21]:101). Lalu ia berkata, “Aku termasuk di antara mereka yang dimaksud dalam ayat ini, juga Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah, dan Zubair.” Dan ia terus membaca ayat tersebut hingga masuknya waktu shalat.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Ibnu Abbas bahwasanya ia mendatangi Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Mu’awiyah menanyakan pendapatnya tentang Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ibnu Abbas memuji mereka dengan pujian yang tinggi. Lalu Mu’awiyah berkata, “Bagaimana pendapatmu dengan Thalhah dan Zubair?” Ibnu Abbas berkata, “Rahmat Allah untuk mereka berdua, demi Allah mereka berdua adalah orang yang menjaga diri, sangat baik, muslim yang suci dan menjaga kesucian diri mereka, dua orang yang syahid, dan alim. Mereka telah berbuat kesalahan dan Allah mengampuni mereka Insya Allah dengan pembelaan mereka terhadap Islam, dan kebersamaan mereka dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta perbuatan baik yang telah mereka lakukan.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang terdiri dari orang-orang yang riwayatnya shahih , dari Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqash berkata, “Suatu hari Sa’ad ketika sedang berjalan-jalan ia melewati seorang laki-laki yang mencaci maki Ali, Thalhah, dan Zubair. Maka Sa’ad berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau mencaci maki suatu kaum yang telah berbuat untuk Allah apa yang telah mereka perbuat. Demi Allah, engkau akan berhenti memaki mereka, atau aku akan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar mencelakakanmu.” Ia berkata. “Dia menakutiku seolah dia seorang Nabi.” Maka Sa’ad berkata, “Ya Allah kalau ia telah mencaci mereka yang telah berbuat untuk mu apa yang telah mereka perbuat, maka jadikanlah ia sebagai contoh!” Tiba-tiba datang seekor unta betina, dan orang-orang memberinya jalan, lalu unta tersebut menginjaknya! Setelah itu aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, “Allah telah mengabulkan doamu wahai Abu Ishaq.”

F. Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya

Seluruh dunia menumpahkan air mata kesedihan atas berpulangnya seorang pemimpin yang membawa seluruh manusia kepada kebaikan dunia dan akhirat. Dada mereka bergemuruh oleh kesedihan yang begitu mendalam atas berakhirnya tugas Jibril yang senantiasa membawa petunjuk setiap saat melalui wahyu yang ditugaskan kepadanya. Adapun para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, keadaan mereka sungguh berbeda! Berita tentang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pengaruh yang amat dahsyat dan di luar dugaan pada diri mereka. Mereka terkejut, merasa terpukul, dan dilanda kebingungan yang luar biasa. Sampai-sampai orang yang paling tegar di antara mereka, yang paling berani, dan paling kuat, yang pernah di gambarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti Nuh dan Musa, dimana Allah meletakkan kebenaran di hati dan lisannya, yaitu Al-Faruq Umar, yang merupakan seorang toko besar pun bahkan sangat terpukul hingga ia berkata, “Demi Allah, Rasulullah tidak mati, Allah pasti akan membangkitkannya kembali dan memotong kaki dan tangan orang-orang yang mengatakan kematiannya!” hingga kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan menyadarkannya dari kebingungannya, dan membangunkannya dari tidurnya, ia membacakan firmah Allah, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula (QS. Az-Zumar [39]:30).  Dan firmannya, “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Berangsiapa berbalik kebelakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (QS: Ali Imran [3]: 144). Umar berkata, “Demi Allah, begitu aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat-ayat tersebut tubuhku, dan aku pun jatuh ke tanah setelah mendengarnya membacakan ayat-ayat tersebut. Saat itu aku menyadari bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah wafat.”

Thalhah dan para shahabat lainnya harus melepas kepergian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan kepergian beliau, ia telah kehilangan seorang imam, pemberi petunjuk, penasehat, dan seorang penghibur yang penuh kasih sayang. Yang telah hidup bersamanya selama dua puluh tiga tahun. Selama masa tersebut ia telah merasakan terangnya cahaya hidayahnya, mengikuti keindahan akhlaknya. Dalam kurun waktu yang penuh berkah tersebut ia mengisi umurnya dengan kisah-kisah kepahlawanan, pengorbanan dan tugas-tugas, serta perbuatan yang mulia, sehingga ia berhak menerima berbagai kehormatan yang menghiasi perjalanan hidup dan kepribadiannya dengan kemuliaan dan penghargaan tertinggi.

Dari masa-masa penuh berkah yang dijalaninya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Thalhah membawa bekal yang akan menyebar ke seluruh dunia. Setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamm, ia memulai sebuah fase baru dalam hidupnya. Ia mendapatkan tempat yang layak pada masa khulafaur rasyidin, dan ia tetap berpegang dengan janji pertamanya saat ia membaiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Para khalifah pun telah mengetahui kedudukan dan kemuliaan serta berbagai kiprahnya pada masa terdahulu, maka mereka pun mendekatkannya dan menjadikannya sebagai salah seorang tokoh shahabat yang mengisi majelis syura pada masa khulafaur rasyidin.

Thalhah yang selalu berada pada barisan terdepan pada saat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik pada saat perang maupun damai, tetap mempertahankan perilaku tersebut bersama para khalifah. Ia selalu berada pada barisan terdepan dalam masa susah dan senang, dalam pemilihan khalifah, dan ikut serta memberikan kontribusinya dalam mengurus Negara, rakyat, mengarahkan pasukan mujahidin, mengumpulkan zakat dan menyalurkannya, juga memberikan nasihat kepada para khalifah dan memberikan pendapatnya tanpa takut akan celaan siapapun. Rasa hormat dan segannya kepada khalifah tidak menghalanginya untuk menyatakan kebenaran dan mendiskusikan pendapatnya bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ia dan para shahabatnya menjadi pelindung yang terpercaya bagi agama dan Negara Islam. Para khalifah pun senantiasa membutuhkan pendapat para penasehata mereka, dan cenderung untuk selalu mendengarkan nasehat-nasehat mereka. Mereka bukanlah tipe pemimpin yang memaksakan pendapat sehingga membahayakan umat demi ambisi pribadi. Dan mereka menjalankan kebijakan ini sebagaimana yang diharuskan oleh kebenaran itu sendiri, dan diwajibkan oleh syariat dan kitab suci mereka yang menjadi tumpuan kehormatan mereka dan merupakan kunci kekuatan dari umat yang mereka pimpin. Dan mereka telah dididik dalam naungan kitab tersebut pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang membawa kita tersebut kepada mereka dan menegakkannya di tengah- tengah mereka, yakni firman AllahTa’ala “Dan bermusyawarahlah dengan mereka (QS. Ali Imran [3]: 159)” dan juga firmannya, “Sedang urusam mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka (Qs. Asy-Syura [42]. 38)”.

Kejujuran Thalhah, keikhlasan dan kemampuan yang dimilikinya menjadikannya layak untuk menempati posisi yang tinggi di sisi para khalifah. Bahkan Umar menjadikannya salah satu dari enam anggota majelis syura, dan menyatakan bahwa ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat beliau ridha kepada mereka. Dan cukuplah itu sebagai bukti bagi kita, akan kelayakan Thalhah untuk dicalonkan sebagai amirul mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin.

Ketika api fitnah mulai menyala dengan pembunuhan Umar bin Khaththab dan menyergap kaum muslimin dengan segala kebenciannya di bawah bendera hitamnya, Dzun Nurain (Utsman) menjadi korban selanjutnya, dan orang-orang menjadi bingung dan bergejolak, Thalhah berdiri kokoh bagaikan gunung membela Amirul Mukminin. Ia berusaha menyibakkan kegelapan fitnah yang melanda. Ia telah terbiasa untuk berada pada barisan terdepan dalam hal yang membawa kepada kebaikan umat. Pemikiran dan ijtihadnya mendorongnya untuk tidak melarikan diri dari pertempuran itu. Dia berpendapat bahwa lebih baik baginya untuk menyatukan tenaganya dengan tenaga shahabat lainnya untuk memperbaiki perkara umat saat itu, dan memperbaiki kerusakan besar yang telah disebabkan oleh para penyeru jahannam!

Ia berdiri tegar mendampingi Utsman ketika ia dikepung dan berjuang membelanya. Ketika Utsman syahid dan kaum Muhajirin membaiat Ali, Thalhah adalah orang pertama yang memegang tangan Ali untuk memberikan bai’atnya, dengan tetap berpegang teguh kepada pendapatnya tentang kewajiban mendahulukan qishash terhadap pembunuhan Utsman. Karena itulah ia berangkat bersama Zubair dan Aisyah menuju Bashrah untuk meminta bantuan penduduknya untuk memerangi para pembunuh Utsman, dan terjadilah perang Jamal.

Thalhah berjalan mengiringi para khalifah berdasarkan asas persaudaraan, saling menasehati, ketaatan, dan berada bersama jamaah. Dengan tetap memberikan ruang yang luas untuk berselisih dalam pendapat dan perbedaan cara pandang, segala semuanya diniatkan untuk kebaikan kaum muslimin. Tidak ada yang menyimpan dengki kepada yang lain, ataupun mengotori hati mereka dengan perasaan iri dan dendam. Mereka semua termasuk di antara orang-orang yang dimaksudkan Allah dalam firmannya, “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka (QS. Al-Fath [48]: 29).”

1. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sejak detik-detik awal dari pemerintahan Abu Bakar, kehadiran Thalhah sudah sangat jelas terasa. Ia membaiat Abu Bakar bersama dengan tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar, dan terus mendukungnya dan membantunya dalam mengurus Negara. Ia juga bersamanya dalam perang Riddah hingga Allah membebaskan mereka dari kejahatannya dan situasi kembali terkendali.

Lalu Abu Bakar bermaksud untuk memerangi Romawi di negeri Syam untuk menyebarkan Islam di sana. Untuk itu ia mengumpulkan tokoh-tokoh shahabat dan pembuka masyarakat untuk bermusyawarah. Di antara mereka terdapat Umar, Utsman, Ubaidah bin Al-Jarrah dan tokoh-tokoh lainnya sekaliber mereka. Kemudian Abu Bakar berbicara menyatakan maksudnya, lalu ia mengatakan, “Maka silahkan siapapun untuk memberikan pendapatnya.”

Umar bangkit dan berbicara, diikuti oleh Abdurrahman bin Auf. Kemudian Utsman berkata kepada Abu Bakar, “Sungguh aku melihat engkau sebagai seorang yang senantiasa memberikan nasihat kepada umat ini, dan menyayangi mereka. Kalau engkau berpendapat sesuatu yang membawa kebaikan bagi mereka semua, maka laksanakanlah dengan pasti, sungguh engkau tidak akan dituduh dengan sesuatu yang buruk.” Maka Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Ubaidah, dan Sai’id bin Zaid, serta mereka yang hadir di majelis itu dari kalangan Muhajirin dan Anshar berkata, “Utsman benar, laksanakanlah rencanamu, kami tidak akan menyelisihimu dan menuduhmu.”

Setelah Abu Bakar bermusyawarah dan mengetahu pendapat para shahabatnya, ia mengambil keputusan untuk menaklukkan negeri Syam. Lalu ia menyampaikan khutbah di hadapam kaum muslimin, ia berkata “Sesungguhnya Allah telah memberi kalian nikmat Islam, memuliakan kalian dengan jihad, dan memuliakan kalian dengan agama ini di atas pemeluk agama lainnya. Maka bersiaplah wahai hamba-hamba Allah untuk menaklukkan Romawi di Syam. Sesungguhnya aku akan menunjuk komandan perang bagi kalian, dan mengibarkan bendera perang untuk kalian. Maka taatilah Tuhan kalian, dan janganlah menentang komandan-komandan kalian. Perbaikilah niat kalian, dan juga makanan serta minuman kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan.”

Ini adalah sikap Thalhah dalam mengelola beberapa permasalahan enkonomi dalam Negara Islam. Ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Asakir, ia mengatakan “Al-Aqra’ bin Habis dan Az-Zibriqan bin Badr (Dua orang shahabat dari pemuka Bani Tamim, yang telah masuk Islam dan baik dalam keislamannya) menemui Abu Bakar dan berkata, “Berikan kepada kami pajak dari Bahrain, maka kami akan menjamin bahawa tidak aka nada dari kaum kamu yang murtad. Maka Abu Bakar memenuhinya dan menuliskan perjanjian. Sementara itu yang ditugaskan untuk mengurus kesepakatan tersebut adalah Thalhah bin Ubaidillah. Lalu mereka menunjuk beberapa orang saksi dan diantaranya adalah Umar. Ketika surat itu diperlihatkan kepada Umar, ia tidak mau bersaksi dan berkata, “Demi Allah, tidak akan pernah” lalu ia merobek surat tersebut dan menghapusnya! Thalhah marah dan mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Engkaulah yang kami atau Umar?! Ia berkata, “Umar, tapi ketaatan tetap kepadaku.”

Sudah menjadi kebijakan politik Abu Bakar untuk menarik hati beberapa orang pemimpin kabilah dan pemuka masyarakat dengan memberi mereka harta selama di sana terdapat kebaikan bagi masyarakat dan menjamin terkendalinya situasi Negara. Ia juga dilakukan untuk menghindari timbulnya kebimbingan dan fitnah dari orang-orang yang masih lemah imannya. Dalam hal ini ia juga di bantu oleh tokoh-tokoh shahabat lainnya. Dalam peristiwa di atas Thalhah bertugas mengadakan perundingan dengan mewakili pendapat khalifah. Sementara Umar berpendapat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammengambil kebijakan menarik hati orang-orang tersebut pada saat kaum muslimin masih berada pada situasi yang genting dan kedudukan mereka belum kokoh. Namun ketika Allah telah menguatkan Islam dan panjinya telah menghunjam kokoh di bumi, dan pengikut serta pembelanya telah kuat, maka kebijakan untuk menarik hati seperti itu tidak lagi diperlukan. Karena itulah Umar merobek surat tersebut, dan sikap seperti ini tidak hanya sekali ia tunjukkan! Namun ini justru menyulut emosi Thalhah sehingga ia segera menemui Abu Bakar dan berkata dengan penuh keheranan, “Engkaukah yang memimpin kami atau Umar?!” Abu Bakar meredakan kemarahannya dengan berkata, “Umar, namun ketaatan tetap padaku.” Dengan jawaban ini Abu Bakar menunjukkan persetujuannya kepada pendapat dan kecerdasannya dalam menghadapi masalah itu. Ia pun menginginkan kebaikan bagi umat Islam, dan akan mempertahankan keagungan agama ini dan akan meninggalkan mereka yang mempunyai jiwa yang lemah.

Sikap yang ditunjukkan oleh shahabat-shahabat mulia tersebut, yang notabene adalah tokoh-tokoh Negara dan yang berperan langsung dalam mengurus khilafah, menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak melepaskan tabiat mereka, juga tidak keluar dari sisi kemanusiaan mereka. Mereka tetap berbeda pendapat, saling bertentangan dalam suatu masalah, dan berbeda pandangan dalam menghadapi suatu masalah. Masing-masing memberikan alasannya dan tetap bertahan pendapatnya yang dianggap membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Namun ketika kebenaran kemudian terungkap dan jalan menjadi lebih tenang, hati mereka tetap bersatu, dan suara mereka juga satu. Karena dasar dari seluruh perkara dan perbuatan mereka adalah keikhlasan mereka dalam mengabdi kepada agama dan bukan untuk memuaskan syahwat pribadi. Berapa banyak sikap-sikap mereka yang seharus menjadi pelajaran bagi kaum muslimin dan menjadi penerang bagi jalan mereka.

Pada detik-detik akhir dari pemerintahannya, Abu Bakar mengambil kebijakan yang menutup pemerintahannya. Ia menambahkan satu lagi sikap mulia kepada catatan kebaikannya yang begitu banyak! Allah memberikan hidayahnya dan memberikan petunjuk kepadanya untuk memilihkan khalifah bagi kaum muslimin, yaitu Faruq Al-Islam. Seorang laki-laki yang menjunjung tinggi keadilan dan kasih sayang, guru bagi kemanusiaan setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar dalam hal kebijakan politik yang baik, dan kecerdasan dalam manajemen, serta kekuatannya dalam membela kebenaran, keadilan, dan memberikan kasih sayang yang menyeluruh bagi seluruh umat.

Ash Shiddiq tidak hendak memaksakan pendapatnya, juga tidak menunjuk salah seorang keturunannya untuk memimpin. Ia ingin kaum muslimin di pimpin oleh orang yang mempunyai latar belakang terbaik dari mereka, yang paling banyak keutamaannya, dan paling tinggi kepribadiannya. Seorang pemimpin yang paling baik pendapatnya, paling kuat tekadnya, dan paling tegar dalam mengemban amanah. Maka untuk itu ia bermusyawarah dengan tokoh-tokoh shahabat dan mereka yang mempunyai ide dan pendapat yang bijaksana.

Abdurrahman bin Auf berkata, “Demi Allah, dia adalah orang terbaik yang dapat engkau temukan.”

Sementara Utsman bin Affan berkata, “Demi Allah, sejauh yang kuketahui tentangnya bahwa apa yang ada dalam hatinya lebih baik dari yang Nampak, dan tidak ada seorangpun dari kita yang menandinginya.”

Usaid bin Al-Hudhair memujinya dengan berkata, “Demi Allah aku tahu bahwa dialah yang terbaik setelahmu. Ia meridhai apa yang patut diridhai dan marah terhadap sesuatu yang patut dimurkai. Ia menyimpang yang lebih baik dalam dirinya dari pada apa yang terlihat, dan tidak akan ada yang memegang urusan ini yang lebih kuat darinya.”

Dan banyak tokoh shahabat lainnya yang membenarkan pendapat mereka tadi.

Namun juga ada pendapat lain yang tidak sependapat dengan arus tadi, yang terdepan adalah Ali bin Abu Thalib dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka mengajak Abu Bakar untuk melihat permasalahan tersebut dari sisi lain. Mereka telah melihat sikap Umar ketika ia menjadi menteri yang jujur bagi Ash Shiddiq di mana ia berlaku keras dan tegas dalam menghadapi masalah. Ia tidak bisa melunak sedikitpun, dan ia mempunyai keinginan yang kuat untuk membawa orang lain mengikuti sikap tegasnya tersebut. Dan ia mengakibatkan ketidak nyamanan bagi sebagian mereka. Karena manusia mempunyai tingkatan yang beragam, juga mempunyai tingkat ketegasan dan kemampuan yang berbeda pula. Jika Umar telah  bersikap demikian pada masa Abu Bakar, bagaimana jadinya jika ia sendiri yang memegang tampuk kekhalifahan?! Ali dan Thalhah khawatir Umar memaksakan untuk mengikuti kebijakannya yang keras dan tak kenal kompromi. Mereka merasa kasihan kepada umat dalam masalah ini, karena itulah mereka bergegas menentang pendapat dan keinginan Abu Bakar tersebut.

Ibu Sa’ad meriwayatkan dari ummul mukimin Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Ketika menjelang ajalnya Abu Bakar menunjuk Umar sebagi khalifah penggantinya. Maka Ali dan Thalhah datang menemuinya dan berkata, “Siapakah yang engkau tunjuk menjadi khalifah?” ia berkata, “Umar”, mereka berkata, “lalu apa yang akan engkau katakana kepada Tuhanmu?” ia berkata, “Apakah kalian hendak menggugat keputusanku dengan nama Allah! Sungguh aku lebih mengenal Allah dan Umar daripada kalian berdua, aku akan berkata, “Aku telah menunjuk hamba-Mu yang terbaik untuk mereka.”

Ath-Thabari meriwayatkan dari Asma binti Umais, ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah datang menemui Abu Bakar dan berkata, “Engkau telah menunjuk Umar sebagai khalifah bagi manusia, padahal engkau telah melihat apa yang ditemui orang-orang darinya pada saat engkau bersamanya, maka bagaimana keadaan mereka jika ia telah sendirian mengurus mereka! Engkau akan menemui Tuhanmu dan engkau akan ditanya tentang rakyatmu.” Maka Abu Bakar berkata, dan saat itu ia sedang berbaring, “Duduklah aku.” Lalu mereka mendudukkannya. Lalu ia berkata kepada Thalhah. “Apa engkau menggugatku dengan nama Allah?! Jika aku telah bertemu Tuhanku dan Dia bertanya kepadaku, Aku akan berkata, “Aku telah menunjuk hamba-Mu yang terbaik untuk memimpin hamba-hamba-Mu.”

Abu Bakar memanggil Umar dan memberinya wasiat serta memanjangkana wasiatnya, kemudian Umar keluar darinya, dan Ash-Shiddiq mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah aku hanya menginginkan kebaikan mereka. Aku takut mereka akan didera fitnah, maka aku melakukan untuk mereka apa yang telah engkau ketahui, dan aku berijtihad dengan pendapatku untuk mereka. Maka aku angkat orang yang terbaik dan paling kuat atas mereka, serta paling teguh memegang  apa yang telah ia katakana untuk kebaikan mereka. Saat itu aku telah menghadapi perkata ini dari-Mu, maka karuniakanlah penggantiku bagi mereka. Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan nasib mereka ada di tangan-Mu. Perbaikilah pemimpin mereka untuk mereka, dan jadikanlah ia salah seorang khalifah-Mu yang mendapatkan petunjuk, yang mengikuti petunjuk Nabi rahmat dan jalan orang-orang shalih setelahnya, dan perbaikilah rakyatnya untukya.”

Waktu telah membuktikan tepatnya firasat Ash-Shiddiq tentang Umar. Para shahabat pun membaiat Amirul Mukminin Umar, sementara Ali dan Thalhah menjadi pendamping yang jujur baginya dan yang selalu dikedepankan olehnya dalam majelis syura yang mempunyai tanggung jawab mengurus pemerintahan dan rakyat.

2. Bersama Umar bin Khaththab

Thalhah meneruskan jalannya pada masa Al-Faruq Umar sebagai mana yang telah dijalaninya pada masa khilafah Abu Bakar. Ia memberikan pendapatnya dan memberikan nasihat kepada khalifah. Ia menunjukkan jalan yang membawa kebaikan bagi Negara dan umat, serta melindungi pondasi Negara mereka dari tipu daya para pemberontak. Ia akan mengatakakan apa yang menurutnya benar, bukan apa yang dikehendaki oleh khilafah atau yang sesuai dengan keinginannya. Thalhah sama seperti shahabat lainnya yang telah lulu dari madrasah Islam, di mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil menanamkan dalam diri mereka agar selalu berpegang teguh kepada kebenaran, menyuarakannya dengan terus terang, dan berusaha menyampaikannya serta bersikap ikhlas dalam menjelaskan pribadi-pribadi yang merdeka, bukan pribadi yang penurut atau asal ikut-ikutan. Beliau menumbuhkan dalam diri mereka kemampuan berijtihad untuk bisa mencapai hasil terbaik, dan menggunakan akal mereka serta tidak mudah menyerah atau tunduk kepada suatu pendapat hanya karena yang mengatakannya adalah seorang khalifah atau amirul mukminin. Islam menginginkan umatnya untuk menjadi kekuatan yang mempunyai kontribusi, umat yang hidup, yang mampu membangun dan membela kebenaran serta berpegang teguh kepadanya. Dan orang yang paling dekat dengan khalifah. Mereka yang telah mendapat amanah dari kaum muslimin untuk melindungi agama mereka dan mengurus persoalan mereka. Mereka melepaskan tanggung jawab tersebut dari pundak mereka dan mengalungkannya di leher orang orang-orang terpilih tersebut. Dan pastinya mereka akan ditanya di hadapan seluruh manusia baik di dunia maupun di hadapan Allah di hari kiamat kelak. Maka tidak selayaknya jika ada di antara mereka yang menyia-nyiakan dan melalaikan sebagian dari tanggung jawab tersebut, sehingga di hadapan Allah nanti mereka memiliki alas an yang kuat dan jelas serta tidak ada keraguan dan kelemahan di dalamnya.

Pada hari-hari pertam dari pemerintahan Umar, berkumpullah Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka berbicara kepada Amirul Mukminin dan meminta nya untuk berlemah lembut terhadap orang-orang yang beriman. Saat itu yang berbicara adalah Ibnu Auf, ketika masuk ia berbicara kepada Umar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bersikap lembutlah kepada orang-orang, sungguh ada yang datang kepadamu, namun rasa takutnya kepadamu menghalanginya untuk menyampaikan kebutuhannya kepadamu, sehingga ia kembali tanpa bisa berbicara kepadamu!” Umar berkata, “Hai Abdurrahman, demi Allah, Apakah Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair serta Sa’ad memintamu untuk menyampaikan ini?!” Ia menjawab, “Iya”. Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, sungguh aku telah bersikap lunak terhadap mereka sehingga aku takut kepada Allah akan sikap lunakku, kemudian aku bersikap keras sehingga aku takut akan sikap kerasku, Maka bagaimanakah solusinya?!” Abdurrahman pun bangkit sambil menangis dan menyeret jubahnya, Lalu berkata, “Celakalah mereka yang akan menggantikanmu, celakalah mereka yang akan menggantikanmu.”

Umar sendiri telah menjelaskan tentang sikap kerasnya tersebut saat ia menerima tanggung jawab sebagai khalifah yang menjadikannya orang yang bertanggung jawab terhadap umat. Al-Hakim dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib bahwasanya ketika Umar terpilih menjadi khalifah, ia berkhutbah di hadapan rakyatnya dan berkata, “Ketahuilah bahwa sikap kerasku yang selama ini telah kalian ketahui saat ini berlipatganda karena urusan ini telah menjadi tanggung jawabku dalam mengembalikan hak kaum muslimin yang lemah dari mereka yang kuat. Namun aku di balik sikap kerasku tersebut, aku siap meletakkan pipiku di atas tanah untuk orang yang lemah, yang menjaga dirinya di antara kalian dan menyerahkan diri.”

Beginilah sikap Umar sang khalifah, dan begitulah sikap para shahabat dan anggota majelis syura kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang memegang amanah, siap memberikan nasihat dan petunjuk serta sangat peduli terhadap perilaku para penguasa dan konsisten dalam menegakkan keadian dan kasih sayang terhadap umat. Dengan sikap tolong menolong, saling menyokong, saling menasihati, saling menjaga, dan saling mengingatkan itulah bahtera khilafah berlayar dan mempersembahkan bagi kemanusiaan jalan terbaik yang ditempuh manusia setelah jalannya para Nabi, yang saat ini menjadi buah bibir di seluruh dunia.

Untuk waktu yang cukup lama Umar sama sekali tidak mengambil gaji dari baitul mal, hingga ia mengalami kesusahan. Maka ia menanyakan para shahabat tentang masalah tersebut. Mereka kemudian menentukan gaji untuknya, juga dua helai pakaian untuk musim panas dan musim dingin, kendaraan yang digunakannya untuk menunaikan haji dan umrah, dan makanan untuknya serta keluarganya yang sesuai dengan standar makanan orang Quraisy yang tidak kaya dan juga tidak miskin!

Umar tetap bertahan dalam keadaan ini sementara harta karun mulai mengalir di kedua tangannya, dan harta melimpah ruah dari hasil penaklukan-penaklukan yang dilakukan. Allah melapangkan rezeki kaum muslimin dan memperbanyak kebaikan untuk merea. Namun Umar dengan keluarganya tetap menahan diri dan hidup dalam keadaan pas-pasan. Dalam hal itu ia berkata, “Aku menempatkan diriku pada harta Allah sebagaimana pada harta anak yatim. Jika aku berkecukupan maka aku akan menahan diriku, dan jika aku membutuhkan maka aku akan memakannya dengan cara yang patut.”

Melihat keadaan ini sekelompok shahabat mencoba menghalanginya, mereka merasa kasihan terhadap keluarga Umar. Mereka menginginkan untuk hidup sebagaimana rakyatnya yang saat itu telah hidup dalam kelapangan. Untuk maksud tersebut mereka mencoba minta bantuan dari putrinya ummul mukminin Hafshah. Dan Thalhah adalah satu di antara kelompok ini yang menghendaki khalifah ikut bersama mereka menikmati kesenangan sebagaimana ia bersabar bersama mereka dalam kesulitan!

Hafshah menemui Umar untuk menyampaikan usulan ini. Ia berkata, “Aku melihat kemarahan di wajahnya”, Umar berkata, “Siapa mereka?” Hafshah menjawab, “Engkau tidak akan mengetahui siapa mereka sampai aku tahu pendapatmu.” Maka Umar berkata, “Kalau aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku burukkan wajah-wajah mereka.” Kemudian ia mengingatkan putrinya Hafshah tentang kehidupan RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam, juga kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dab bahwasanya ia akan tetap mengikuti jejak mereka berdua.

Pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Khaibar, beliau mempersilahkan mereka untuk tetap menempati dan mengolah tanah pertanian mereka dengan syarat bahwa mereka hanya akan mendapatkan setengah dari hasil buahnya. Beliau juga berkata kepada mereka, “Kami akan membiarkan kalian tinggi di sana dengan syarat-syarat tadi sesuai dengan kehendak kami.” Namun seperti biasa, orang-orang yahudi melanggar perjanjian dengan menyerang salah seorang shahabat Anshar dan membunuhnya. Mereka juga berencana membunuh yang lainnya, lalu mereka menyerang Abdullah bin Umar,  maka Umar menghadapi mereka. Ia memusnahkan mereka hingga ke akar-akarnya dan tidak lagi membiarkan mereka membanggakan diri dalam kesesatan mereka. Lalu ia bertekad untuk mengusir mereka semua dari jazirah arab.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari dan yang lainnya bahwasanya Umar berkhutbah di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammemperlakukan orang-orang yahudi Khaibar dengan syarat kita bisa mengusir mereka kapan saja. Saat ini mereka telah menyerang Abdullah bin Umar hingga kedua tangannya terkilir sebagaimana yang telah kalian ketahui, ditambah lagi dengan serang mereka yang sebelumnya atas seorang Anshar. Kita tidak ragu bahwa itu adalah perbuatan orang-orang yahudi tersebut, karena tidak mempunyai musuh di sana selain mereka. Maka barang siapa yang mempunyai harta di Khaibar hendaklah ia mengambilnya, sesungguhnya aku pasti akan mengusir orang-orang yahudi itu.”

Para shahabat mendukung Umar untuk mengusir orang-orang yahudi dari Khaibar. Di dalam kita Maghazi Al-Waqidi disebutkan, “Thalhah bin Ubaidillah dan berkata, “Demi Allah engkau telah benar dan diberkahi wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Aku akan mengizinkan kalian disini selama Allah mengizinkan kalian.” Dan mereka telah melakukan apa yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Shal pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga hasutan mereka terhadap Muzhahhir bin Rafi (mereka adalah dua shahabat dari Anshar) hingga ia dibunuh oleh budak-budaknya, juga apa yang telah mereka lakukan terhadap Abdullah bin Umar. Sungguh mereka adalah pantas mendapat tuduhan dan prangsa kita! Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Siapa lagi yang mempunyai pendapat sepertimu?’ ia berkata, “Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar.” Mendengar itu Umar merasa senang.”

Dan Umar pun mengusir mereka ke Taima’ dan Ariha’

Ketika kaum muslimin berhasil menguasai Mada’in Ibukota kerajaan Persia, orang-orang Persia tersentak dan semangat mereka bangkit menggelora. Maka Yazdajir mendorong mereka untuk menghadapi kaum muslimin. Ia menulis surat ke kota Nahawand dan daerah-daerah pegunungan serta negeri-negeri yang ada disekitarnya. Mereka pun datang dari segala penjur untuk bergabung dengannya, dan berkumpul di Nahawand dengan kekuatan seratus lima puluh ribu prajurit.

Lalu datanglah surat dari Abdullah bin Abdullah bin Itban, gubernur Kufah kepada Umar mengabarkannya bahwa pasukan Persia telah berkumpul dan bertekad untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Untuk itu lebih baik menyerang mereka lebih dahulu untuk menggagalkan rencana mereka yang akan melakukan serang ke negeri kaum muslimin.

Umar segera menyuruh seseorang untuk menyerukan kaum muslimin untuk berkumpul di masjid. Ia kemudian berkhutbah dari atas mimbar dan mengemukakan persoalan ini dan bermusyawarah dengan mereka. Lalu Umar berkata, “Ini lah hari yang jadi penentuan bagi hari-hari yang selanjutnya. Sungguh aku telah berkehendak untuk melakukan sesuatu dan akan ku sampaikan kepada kalian semua, maka dengarkanlah. Setelah itu sampaikanlah pendapat kalian dengan singkat, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebab kalian menjadi getar dan hilang kekuatan kalian, dan jangan terlalu berpanjang lebar.”

Lalu ia bekata, “Aku akan keluar bersama orang-orang yang bersamaku hingga aku sampai di bagian tengah dari dua kota ini (yaitu kufah dan Bahrain), kemudian aku menyuruh mereka untuk  dan aku akan menjadi penolong bagi mereka hingga Allah memberikan kemenangan bagi mereka.”

Maka Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf, berdiri diantara para penasehat dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  kemudian mereka berkata, “Kami tidak berpendapat demikian, tapi jangan sampai mereka kehilangan ide dan arahanmu”. Dan mereka bekata, “Hadapkanlah mereka dengan kabilah-kabilah arab, kesatria-kesatria mereka, dan tokoh-tokoh mereka, juga pertemukanlah mereka dengan orang-orang yang telah mereka pecahkan kesatuannya, orang-orang telah mereka bunuh rajanya, dan telah banyak mengahadapi banyak pertempuran yang lebih bebat dari ini. Sesungguhnya mereka hanya meminta keputusan dari mu untuk mengizinkan mereka, bukan memanggilmu untuk mengizinkan mereka, bukan memanggilmu untuk membantu mereka, maka izinkanlah mereka, dan tunjukkanlah seorang pemimpin atas mereka, dan kemudian berdoalah untuk mereka.”

Akhirnya mereka sepakat bahwa Amirul Mukminin tidak perlu meninggalkan Madinah. Ia cukup mengirimkan bantuan, dan memikul musuh mereka dengan salah seorang diantara komandannya yang terbaik, yang telah digembleng oleh perang, dan di timpa oleh dahsyatnya pertempuran, untuk memimpin pasukan mujahidin menghadapi Persia di  Nahawand.

Saat itu Thalhah memperlihatkan sebuah sikap yang sesuai dengan tabiatnya penuh semangat, dan keberaniannya yang telah di kenal, serta ketegarannya dalam membelah risalah dakwah. Ia berbicara di hadapan Umar dengan kata-kata yang menyenangkan hatinya dan membuat wajahnya berseri-seri. Ia menegaskan bahwa mereka adalah ibarat pedang yang tidak akan meleset di tangannya, bagaikan tombak yang tak akan melunak, dan anak panah yang tak akan melenceng. Ia mengungapkan semua itu dengan ucapan yang fasih dan penuh wibawa, sesuai situasi majelis saat itu. Hal ini di riwayatkan oleh Ath-Thabari, ia berkata,

“Ketika Umar mengemukakan persoalan ini dan bermusyawarah dengan mereka dan berkata, “Setelah itu sampaikanlah pendapat kalian dengan singkat, dan jangan terlalu perpanjang lebar”. Thalhah bin Ubaidillah yang merupakan salah seorang orator dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  – bangkit, dan setelah mengucapkan syahadat, ia berkata, “Amma ba’du wahai amirul mukminin, engkau telah mengurus segala perkara, engkau telah banyak di tempa oleh banyak cobaan dan digembleng oleh banyak pengalaman. Terserah kepada keputusan dan pendapatmu. Kami tidak melenceng di tanganmu, dan kami tidak akan menyusahkanmu. Semua ada di tanganmu. Berikanlah perintah dan kami menaatimu, serulah dan kami akan menyambut seruanmu. Bawalah kami maka kami  akan berangkat, utuslah kami dan kami akn pergi sebagai utusanmu, dan pimpinlah kami maka kami akan menurutimu. Sesungguhnya engkau adalah pemimpin perkara ini, dan engkau telah membuktikan itu dengan berbagai cobaan dan pengalaman. Tidak ada satupun hasil dari ketetapan Allah melainkan engkau dapatkan dengan pilihanmu.” Lalu ia duduk.”

Lalu Umar mengirimkan surat kepada Hudzaifah bin Al-Yaman memerintahkan untuk berangkat dari Kufah dengan pasukan yang ada di sana. Juga kepada Abu Musa Al-Asy’ari  agar memimpin pasukan dari Basrah. Dan kepada Anu’man – yang saat itu juga berada di Basrah agar berjalan dengan pasukan yang ada bersamanya menuju Nahawand. Dan memerintahkan apabila mereka semua telah berkumpul, maka setiap komandan bertanggung jawab memimpin pasukannya masing-masing. Sementara komandan pasukan secara umum berada di tanggan Anu’man bin Muqarrin. Dan jika ia terbunuh maka pengganti nya adalah Hudzaifah bin Al-yaman, dan jika ia gugur, digantikan oleh Qais bin Maksyuh hingga ia menyebutkan sampai tujuh nama.

Perang Nahwand terjadi pada tahun 21 H, yang merupakan pertempuran yang sangat dahsyat, hingga di sebut kaum muslimin sebagai puncak dari segala penaklukan. Dalam perang tersebut An-Nu’man Radhiyallahu Anhu gugur sebagai syahid.

Umar menghendaki para sahabat untuk menjaga diri mereka dari hal-hal yang berbau syubhat. Khususnya para tokoh yang menjadi pusat perhatian kaum muslimin, yang di anggap sebagai imam dan tokoh panutan. Ia mengajak mereka untuk tetap berada jalur yang telah ditempuhnya. Umar pun mendapati para sahabat tersebut sesuai dengan apa yang di inginkannya, dan Allah sekali-kali tidak akan mengecewakannya berkenaan dengan mereka.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aslam pembantu Umar, “Bahwasanya Umar melihat Thalhah memakai dua helai baju yang di celup dengan sejenis tanah merah saat ia dalam keadaan ihram. Maka ia berkata, “Kenapa dengan dua baju ini wahai Thalhah?” ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin kami hanya mencelupnya dengan tanah merah.” Maka umar berkata,  “Kalian wahai sahabat adalah para imam yang dijadikan panutan oleh manusia. Jika saja ada orang bodoh yang melihatmu memakai dua pakaian ini maka ia akan berkata, “Thalhah telah memakai dua helai pakaian yang dicelup saat ia berada dalam keadaan berihram.”

Ia menambahkan dalam riwayat lainnya, “Dan sesungguhnya pakaian terbaik yang dipakai oleh seorang muhrim adalah yang berwarna putih, maka janganlah membingunkan orang-orang.”

Thalhah mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Umar. Ini terlihat jelas dalam banyak kontribusinya selama masa pemerintahannya yang terbentang selama lebih dari sepuluh tahun. Ia tetap berada di sampingnya hingga detik-detik terakhirnya. Di tambah dengan catatan sejarahnya yang cemerlang pada masa Nabi dan Abu Bakar, yang menjadikannya layak untuk ditunjuk oleh Umar sebagai salah seorang dari enam tokoh yang dicalonkan untuk posisi khalifah.

Di dalam hadits tentang syahidnya Umar dan pembai’atan Utsman sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya, “Para shahabat berkata kepadanya, “Sampaikanlah wasiatmu wahai Amirul Mukminin, tunjuklah seseorang menggantikanmu sebagai khalifah.” Umar menjawab, “Aku tidak menemukan seorang pun yang lebih berhak dalam perkara ini selain mereka yang ketika RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam  wafat, beliau ridha kepada mereka. Ia lalu menyebutkan nama Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman, dan ia berkata, Abdullah bin Umar akan menjadi saksi atas kalian, dan ia tidak berhak sedikitpun atas perkara ini.”

Setelah selesai dari pemakaman Umar, tokoh yang berenam tersebut berkumpul, lalu Abdurrahman berkata, “Serahkanlah urusan ini kepada tiga orang dari kalian. Maka Zubair berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Ali.” Lalu Thalhah berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Utsman.” Dan Sa’ad berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Abdurrahman bin Auf.”

Dalam Riwayat lain dari Ath-Thabrani, dari Ibnu Umar, “Umar berkata “Panggilkanlah saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Siapa?”, ia berkata, “Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abu Waqqash.” Mereka pun dipanggil. Lalu Umar meletakkan kepalanya di pangkuanku, dan ketika mereka datang aku berkata, “Mereka telah hadir.” Ia berkata, “Ya, aku telah memikirkan urusan kaum muslimin, maka aku mendapati kalian berenam sebagai tokoh terkemuka dan pemimpin mereka. Dan perkara ini tidak akan keluar dari kalian berenam. Selama kalian berlaku lurus maka urusan manusia pun akan lurus, dan jika terjadi perselisihan di antara kalian. Bermusyawaralah dengan tiga orang. Dan sementara itu Shuhaib yang memimpin shalat dengan kaum muslimin. Mereka berkata, “Dengan siapa kami harus bermusyawarah wahai Amirul Mukminin?” Ia Menjawab, “Bermusyawarahlah dengan Muhajirin, Anshar, dan pemuka-pemuka masyarakat.”

3. Bersama Utsman bin Affan

Utsman merupakan salah seorang tokoh shahabat terkemuka dan satu dari khulafaur rasyidin yang empat, yang perjalanan hidup mereka terbang tinggi di cakrawala, dan menjadi penunjuk jalan bagi pelayar. Masa pemerintahannya merupakan masa yang penuh berkah dan sesai dengan jalan kenabian, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits shahih.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’I, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan yang lainnya, dari Sa’id bin Juhman, dari Safinah ia berkata, “Aku telah mendengar RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan setelahku atau beliau mengatakan perselisihan dan fitnah” Lalu salah seorang bertanya, “Siapa yang harus kami ikuti wahai Rasulullah?” beliau berkata, “Hendaklah kalian bersama Al-Amin dan para shahabatnya.”Dan dengan itu beliau menunjuk kepada Utsman.”

Dalam sebuah hadits shahih lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirdmidzi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Murrah bin Ka’ab Al-Bahzi berkata, “Ketika kami sedang bersama RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam pada salah satu jalanan kota Madinah, beliau berkata, “Apa yang akan kalian lakukan dalam menghadapi fitnah yang akan menyebar di seluruh penjuru bumi bagaikan tanduk sapi (beliau mengibaratkan fitnah dengan tanduk sapi karena kekerasan dan kesulitan hidup saat itu).?” Mereka berkata, “Apa yang harus kami lakukan wahai Nabi Allah?”, berliau berkata, “Hendaklah kalian bersama ini dan para shahabatnya atau ikutilah ini dan para shahabatnya.” Ia berkata, Maka aku mempercepat jalanku hingga aku lelah, setelah berhasil menyusul laki-laki itu aku berkata, “Orang ini wahai Rasulullah?” beliau berkata, “Ini” dan ternyata orang tersebut adalah Utsman bin Affan Radhiyallahuan Anhu.”

Seluruh shahabat juga telah memberikan kesaksian tentang kedudukannya yang tinggi di sisi NabiShallallahu Alaihi wa Sallam dan juga di sisi mereka. Mereka mengetahui dengan baik berbagai keutamaan, kelebihan, dan kontribusinya yang besar dalam membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dakwah beliau dan umatnya. Ia membaktikan diri dan hartanya untuk agama dan keberlangsungan risalahnya. Dan yang terdepan dalam memberikan kesaksian tersebut adalah tokoh-tokoh terkemuka shahabat seperti Abu Bakar dan Umar, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abu Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Umar, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka juga mendengar bahwa ia adalah salah seorang ahli surga dari lisan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri, dan bahwa ia adalah seorang shiddiq, syahid, dan khalifah yang akan dibunuh secara zhalim, sementara ia berada dalam kebenaran yang nyata. Semua itu terdapat dalam banyak hadits shahih yang masyhur yang diriwayatkan melalui banyak jalan oleh banyak shahabat.

Sebagaimana Utsman, para shahabat juga mengetahui bahwa orang-orang yang memberontak kepada Utsman tersebut adalah sekelompok bathil, yang datang ke  Madinah untuk bersekongkol dengan tujuan mencopotnya dari kursi khalifah dan kemudian membunuhnya. Mereka adalah orang-orang munafik sebagaimana yang ditegaskan langsung oleh lisan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka juga mengetahui bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang Utsman untuk mengikuti pendapat mereka yang salah atau mengabulkan permintaan mereka yang penuh kesesatan tersebut.

Dalam sebuah hadits shahih yang dirawayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari ummul mukminin Aisyah berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikanmu sebuah baju, jika orang-orang munafik menginginkanmu untuk melepasnya, maka janganlah engkau lepaskan hingga engaku datang menemuiku.”

Dan dalam sebuah riwayat, “Wahai Utsman, Jiika Allah mengamanahkan perkara ini kepadamu suatu hari nanti, dan orang-orang munafik berkeinginan untuk melepaskan baju yang telah dipakaikan Allah kepadamu, maka janganlah engkau lepaskan.” Beliau mengetakan itu sampai tiga kali.”

Para shahabat telah membaia’at Utsman bin Affan, dan mereka ridha atasnya sebagai khalifah bagi kaum muslimin, karena kelayakannya, keutamaannya, dan atas apa yang telah ia lakukan. Mereka telah setuju dalam hal itu, dan sepakat atas pemilihannya. Dan mereka tidak mungkin sepakat kecuali terhadap orang yang terbaik di antara mereka dan yang paling tepat untuk kebaikan agama dan dunia mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits tentang penunjukan khalifah.

Al-Imam Ibnu Taimiyah menukil dalam kitabnya Minhaj As-Sunnah perkataan Al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Kaum muslimin tidak pernah mencapai kesepakatan untuk berbai’at sebagaimana kesepakatan mereka dalam membai’at Utsman. Kaum muslimin memilihnya setelah bermusyawarah selama tiga hari. Mereka saling menyatu dan mencapai kesepakatan, saling mengasihi di antara mereka, dan mereka semua juga berpegang teguh kepada tali Allah.”

Dan yang terdepan dalam barisan pembaia’at adalah Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad. Bahkan Thalhah adalah satu di antara enam orang yang dicalonkan menjadi khalifah. Ia mundur dari haknya dan memberikan suaranya untuk Utsman sebagaimana yang terdapat di hadits tentang bai’at.

Abdurrahman bin Auf berkata kepada tim enam yang telah ditunjuk Umar untuk memilih khalifah dari mereka, “Serahkanlah urusan ini kepada tiga orang dari kalian. Maka zubair berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Ali.” Dan Sa’ad berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Abdurrahman.” Lalu Thalhah berkata, “Aku telah menyerahkan urusan kepada Utsman.”

Thalhah dan para shahabat lainnya, khususnya shahabat-shahabat besar tetap berada dalam jalur sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hal ketaatan kepada pemimpin, tetap bersama jamaah, dan menasihati pemimpin, serta berusaha membawa kebaikan bagi kaum muslimin. Mereka tidak pernah mengubah pendiriran mereka dalam hal ini. Ketika terjadi peristiwa fitnah yang painya membakar orang-orang yang menyimpan niat yang busuk, dan kedengkian yang dalam, serta datang ke Madinah dengan maksud menggulingkan khalifah, Amirul Mukminin Alaihi wa Sallam dan tetap bersikap sabar dan menguatkan kesabaran dan keimanannya. Shahabat-shahabatnya yang ada disana berada di sampingnya untuk memberi dukungan,  yang terdepan adalah Ali dan kedua putranya, pemuka pemuda surga hasan dan Husain, lalu Thalhah, Zubair, dan putranya Abdullah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, dan masih banyak lagi selain mereka.

Pasukan pemberontak yang sesat datang menyerang dari mesir dan Irak ke Madinah, dan membagi pasukan mereka ke dalam dua belas kelompok: empat kelompok dari Mesir, empat dari Kufah, dan empat lainnya dari Bashrah. Setiap kelompok berisi seratus lima puluh orang. Artinya dari setiap wilayah tersebut berjumlah enam ratus orang, dan jumlah keseluruhan yang berasal dari tiga wilayah adalah seribu delapan ratus orang.

Lalu mereka pun bergerak sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat. Mereka bergabung dengan kafilah-kafilah biasa agar kedok mereka tidak terungkap, hingga akhirnya mereka mengambil posisi di sekitar kota Madinah pada bulan Syawwal sebagaimana perjanjian mereka dalam surat-surat mereka. Orang-orang yang datang dari Bashrah mengambil tempat di Dzu Khusyub (Sebuah lembah yang berjarak sekitar 35km dari Madinah), orang-orang dari Kufah mengambil tempat di Al-A’wash (Sebuah lembah di timu Madinah, berjarak sekitar belasan mil darinya), lalu mereka di datangi oleh orang-orang yang datang dari Mesir, dan sebagian besar dari mereka kemudian mengambil tempat di Dzul Marwah (Sebuah desa di sekitar Madinah, dan dianggap sebagai bagian dari Wadil Qura).

Dua orang dari mereka kemudian memasuki Madinah untuk melihat situasi dan mencari tahu bagaimana mereka semua bisa masuk untuk mengepung Utsman dan menggulingkannya. Lalu mereka berdua mendatangi istri-istri Nabi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga Ali, Thalhah, dan Zubair. Mereka berkata, “Kami adalah pengikut keluarga ini, dan kami hanya ingin meminta khalifah ini untuk mencopot beberapa gubernur kami, hanya itu tujuan kami.” Lalu mereka minta agar seluruh rombongan mereka diizinkan untuk memasuki Madinah. Namun mereka semua menolak dan berkata, “Telur ini tidak boleh dipecahkan!!”

Mereka pun kembali ke tempat mereka dan menyampaikan berita kepada kelompok mereka. Lalu mereka bermusyawarah dan memutuskan untuk mengirim tiga rombongan utusan yang terdiri dari penduduk Mesir, Kufah, dan Bashrah.

Orang-orang Mesir mendatangi Ali bin Abi Thalib yang sedang berada bersama pasukan di Ahjaruz-Zait (Sebuah desa di sekitar Madinah, dan dianggap sebagai bagian dari Wadil Qura) dengan pedang terhunus. Ia telah mengutus putranya Hasan ke rumah Utsman bersama orang-orang yang berkumpul di sana. Jadi Hasan tetap berada bersama Utsman, sementara Ali bertahan di Ahjaruz-Zait. Orang-orang mesir mengucapkan salam dan menyampaikam maksud mereka dengan kata-kata sindiran. Ali membentak mereka dengan keras dan mengusir mereka. Ia berkata, “Orang-orang shalih telah mengetahui bahwasanya pasukan Dzul Marwah dan Dzu Khusyub terlaknat melalui lisan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kembalilah kalian, Allah tidak akan bersama kalian.” Mereka berkata, “Baiklah” dan mereka pun meninggalkannya dengan hasil demikian.

Sementara itu orang-orang Bashrah mendatangi Thalhah yang juga sedang berada bersama pasukan lain disamping Ali. Ia juga telah mengutus dua putranya untuk melindungi Utsman. Mereka mengucapkan salam dan menyampaikan maksud mereka dengan kata-kata sindirian. Thalhah membentak mereka dengan keras dan mengusir mereka. Ia berkata, “Orang-orang mukmin telah mengetahu bahwasanya pasukan Dzul Marwah, Dzu Khusyub, dan Al-A’Wash terlaknat melalui lisan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam” dan mereka pun kembali ke perkemahan mereka.

Lalu para pemberontak tersebut pura-pura kembali ke negeri-negeri mereka untuk mengelabui penduduk mereka. Maka mereka membongkar perkemahan, dan meninggalkan kota Madinah agar penduduknya mengira bahwa semuanya telah selesai, sehingga mereka bisa tenang dan meletakkan kembali senjata mereka dan hilang kewaspadaan! Padahal sebenarnya mereka telah bertekad untuk mengadakan serangan mendadak yang mengejutkan setelah mereka berhasil menyusun strategi dan siap untuk melaksanakannya. Mereka berkeyakinan bahwa tak ada lagi jalan lain selain menggulingkan khalifah, jika ia menolak mereka akan membunuhnya. Dan ini tidak akan bisa terjadi kecuali dengan serang mendadak yang mengejutkan. Untuk itu mereka harus memiliki alas an yang tepat untuk mengarahkan pendukung mereka, juga untuk penduduk Madinah ketika nanti orang-orang melihat mereka kembali. Karena itulah dua orang dari mereka tetap tinggal, yaitu Al-Asytar An-Nakha’I dan Hukaim bin Jabalah, dan mereka pun menetap di Madinah untuk suatu urusan yang telah mereka rencanakan!!

Maka mereka membuat sebuah surat palsu atas nama Utsman yang ditujukan kepada gubernurnya di Mesir yang memerintahkannya untuk menyali para pemberontak tersebut, atau membunuh mereka, atau memotong kaki dan tangan mereka dengan bersilang, jika mereka kembali ke Mesir!

Para pemberontak yang terdiri dari orang-orang Mesir pun kembali ke Madinah, dan bersama mereka terdapat Muhammad bin Abu Bakar. Kelompok yang terdiri dari orang-orang Irak pun kembali ke Madinah, dan mereka semua tiba pada saat yang bersamaan seolah telah ada kesepakatan sebelumnya di antara mereka!! Penduduk Madinah dikejutkan oleh Takbir yang menggema di sekeliling kota. Para pemberontak telah menyerang kota mereka, dan mengepung kota, sementara kebanyakan dari mereka berada di rumah Utsman, dan mereka berkata, “Siapa yang menahan dirinya akan selamat.”

Utsman masih bisa memimpin kaum muslimin dalam melaksanakan shalat, dan orang-orang tetap berada di rumah mereka. Dan belum ada yang di larang untuk berbicara. Lalu beberapa penduduk Madinah mendatangi para pemberontak untuk berbicara, di antara mereka terdapat Ali, ia berkata, “Apa yang mengembalikan kalian ke sini setelah kalian pulang dan mundur dari maksud kalian sebelumnya?” mereka berkata, “Kami berhasil merebut sebuah surat yang memerintahkan untuk membunuh kami!” Begitu pula yang dikatakan oleh orang-orang Bashrah kepada Thalhah, dan orang-orang Khufah kepada Zubair. Orang-orang Kufah dan Bashrah berkata, “Kami akan menolong saudara-saudara kami dan membela mereka semua.” Maka Ali berkata kepada mereka, “Wahai penduduk Kufah dan Bashrah, bagaimana kalian mengetahui apa yang dialami penduduk Mesir, sementara kalian telah kembali dengan bergelombang, lalu tiba-tiba kalian telah kembali secara bersama-sama kepada kami?! Demi Allah, hal ini pasti telah direncanakan di Madinah!!” mereka berkata, “Terserah kalian mau berkata apa, kami tidak menginginkan khalifah ini, hendaklah ia turun.

Para pemberontak kemudian mulai menyebar di penjuru Madinah sebagian dari mereka berdiam di sekeliling masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Utsman tetap menjadi imam, dan penduduk Madinah serta para pemberontak pun ikut shalat di belakangnya. Utsman tetap berada dalam kondisi ini selama lebih kurang dua puluh hari. Di mata Utsman, para pemberontak tersebut lebih hina dari tanah. Beberapa orang masih bisa menemui Utsman, para pemberontak tidak melarang siapapun untuk berbicara, namub mereka melarang untuk berkumpul!

Pada hari jumat, Utsman berangkat keluar untuk shalat di masjid sementara pemberontak berada di sekitar masjid. Lalu para penduduk Madinah mengerubungi Utsman dan mencela apa yang dilakukan oleh kaum pemberontak. Maka para pemberontak mendatangi penduduk Madinah tersebut dan mengancam mereka, maka Utsman berbicara dengan mereka, dan kemudian ia melaksanakan shalat Jumat bersama mereka. Lalu Utsman naik mimbar dan mengarahkan khutbahnya untuk kaum pemberontak, ia berkata, “Wahai kalian para pemberontak ingatlah Allah, Allah! Demi Allah, sesungguhnya penduduk Madinah telah mengetahui bahwa kalian terlaknat melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka hapuslah kesalahan kalian dengan perbuatan yang benar, sesungguhnya Allah tidak akan menghapus kejahatan kecuali dengan kebaikan.”

Maka Muhammad bin Maslamah bangkit dan berkata,  “Aku bersaksi untuk itu.” Namun Hukaim bin Jabalah menariknya dan mendudukkan nya kembali. Lalu Zaid bin Tsabit juga bangkit dan berkata, “Berikan padaku surat itu.” Maka ia pun di serang oleh Muhammad bin Abu Qutairah dari sisi lain dan didudukkan kembali, dan kemudian para pemberontak pun mengamuk dan melempari orang-orang hingga berhasil mengeluarkan mereka dari masjid, mereka juga melempari Utsman hingga ia terjatuh dari mimbar dalam keadaan pingsan. Maka Utsman di bopong dan dibawa ke rumahnya!! Lalu beberapa orang shahabat menyisingkan lengan mereka dan melawan para pemberontak. Di antara mereka terdapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dan Hasan bin Ali. Namun Utsman mengutus seseorang yang meminta mereka untuk membubarkan diri, maka mereka pun pergi.

Kemudian Ali, Thalhah, dan Zubair mendatangi Utsman untuk menjenguknya, dan mengungkapkan kesedihan mereka yang sangat dalam, setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing.

Para pemberontak kemudian memperketat pengepungan terhadap Amirul Mukminin. Tapi Utsman tetap bisa berhubungan dengan orang dan para tokoh shahabat. Kemudian mereka semakin memperketat pengepungan dan mempersempitnya, hingga mereka melarang apapun yang dikirim untuknya, baik itu makanan, bahkan air dan juga pergi ke masjid. Mereka mengancam akan membunuhnya. Maka Utsman hanya bisa berdiri dan mengawasi mereka dari rumahnya. Ia berusaha menasihati mereka, dan mengingatkan mereka tentang keutamaan dan kelebihan yang dimilikinya dengan harapan agar mereka sadar dan meninggalkan perbuatan mereka. Maka ia berbicara kepada mereka dengan nama Allah, sementara para shahabat mendengarkan. Ia berkata, “Aku hanya ingin mengingatkan para shahabat, lalu ia menyebutkan tentang pembelian sumur Rumah, perluasan masjid Nabawi, pasukan yang disiapkannya dalam masa sulit, juga ketika ia bersama sedang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di gunung Tsabir di Mekah, lalu gunung itu berguncang dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tenanglah wahai Tsabir, sesungguhnya yang ada di atasmu hanyalah seorang Nabi, Shiddiq, dan dua orang Syahid.” Dan para shahabat bersaksi atas setiap yang diucapkannya dan mereka membenarkannya.”

Lalu ia berkata, “Wahai Thalhah, demi Allah, tidakkah engkau mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Hendaklah setiap orang dari kalian memegang tangan kawan duduknya.” Dan beliau memegang tanganku dan berkata, “Inilah kawan dudukku di dunia dan akhirat?” Thalhah menjawab, “Iya”.

Para pemberontak terus memperketat kepungan mereka. Mereka melarang siapapun untuk masuk menemuinya atau keluar dari rumahnya, hingga keadaan jadi semakin sulit bagi Utsman. Ash-Sha’bah binti Al-Hadhrami ibu Thalhah berkata kepada anaknya, “Sesungguhnya pengepungan Utsman telah semakin ketat, cobalah berbicara kepada mereka agar ia dilepaskan.

Utsman mendekati keluarga Amru bin Hazm yang merupakan tetangganya, dan mengutus salah seorang anak dari Amru untuk mengabarkan kepada Ali bahwasanya para pemberontak telah menahan air dari kami, jika kalian bisa mengirimkan sedikit air untuk kami maka lakukanlah! Ia juga mengutus orang untuk menemui Thalhah dan Zubair, juga kepada Aisyah dan istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lainnya. Dan yang pertama kali datang memberikan pertolongan adalah Ali dan Ummu Habibah.

Ali membawa sekantung air, dan dengan susah payah berhasil membawanya untuk Utsman, setelah menerima kata-kata kasar dan tunggangannya diusir oleh para pemberontak. Mereka bahkan melakukan yang lebih buruk dari itu terhadap Ummul Mukminin Ummu Habibah. Mereka berhasil mencederainya, dengan memotong tali keledainya hingga ia terjatuh dan hamper terbunuh. Jika orang-orang tidak segera mengejar keledai itu dan memeganginya, pastilah akan terjadi sesuatu yang sangat besar.

Thalhah dan Zubair mendengar apa yang di alami oleh Ali dan Ummu Habibah, maka mereka tetap berdiam di rumah mereka, dan Utsman berada di rumahnya dengan bantuan air dari keluarga Hazm di saat para penjaga sedang lengah!

Pengepungan terus berlangsung dirumah Utsman hingga berakhir nya hari-hari tasyriq, dan orang-orang kembali dari haji. Para pemberontak diberitahu bahwa orang-orang yang melaksanakan haji pada musim itu telah bertekad untuk kembali ke Madinah guna membla Amirul mukminin. Mereka juga mengetahu tentang bergeraknya pasukan dari Syam, Kufah, dan Bashrah untuk membantu khalifah. Maka mereka semakin memperketat pengepungan mereka dan memaksa Utsman untuk mengundurkan diri. Namun ia menolak dan tetap berpegang teguh kepada wasiat Nabi, “Wahai Utsman, sesungguhnya barangkali Allah akan memakaikanmu sebuah baju, jika mereka menginginkanmu untuk melepasnya, maka jangan engkau lepaskan.”

Para shahabat mendatangi Utsman dan bertanya, “Tidaklah engkau memerangi mereka?” ia menjawab, “Tidak, sesungguhnya Rasulullah telah menjanjikan sesuatu kepadaku, dan aku akan bersabar untuknya.” Saat itu di rumahnya telah bersiap tujuh ratus pejuang terbaik, jika ia mau, ia bisa menggerakkan mereka untuk memukul para pemberontak tersebut dan mengeluarkan mereka dari penjuru Madinah. Namun Utsman tidak menginginkan adanya pertempuran. Ia menunjuk Abdullah bin Zubair untuk memimpin pasukan yang berada di rumahnya saat itu, ia berkata, “Siapakah yang menaatiku, maka hendaklah ia menaati Abdullah bin Zubair.”

Ali juga telah mengutus Hasan dan Husain untuk menjaga Utsman, Thalhah pun mengutus dua putranya, Muhammad dan yang lainnya, sementara Zubair menugaskan putranya Abdullah. Sehingga saat itu yang menjaga Utsman di rumahnya adalah Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Sa’ad bin Al-Ash, Al-Mughirah bin Al-Akhnas bin Syariq, Marwan bin Al-Hakam, dan banyak lainnya, lengkap dengan senjata masing-masing. Namun Utsman mengatakan kepada mereka, “Aku ingin kalian pulang dan meletakkan senjata kalian lalu berdiam di rumah masing-masing.”

Ini menunjukkan bahwa tidak seorangpun dari shahabat yang membiarkan Utsman, atau berpangku tangan melihatnya, maupun rela dengan pengepungan dan pembunuhannya. Utsman sendiri yang melarang para shahabat untuk berperang, ia lebih memilih bahaya yang lebih ringan. Maka ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya daripada semakin meluasnya fitnah yang mengakibatkan tumpahnya darahnya sendiri dengan sukarela, semoga Allah meninggikan derajatnya di taman-taman surga.

Akhirnya para pemberontak yang sesat itu memutuskan untuk membunuh Utsman. Mereka menerobos masuk rumahnya, dan bergumul dengan para shahabat yang bertugas melindungi Amirul Mukminin. Mereka membawa api dan membakar pintu dan ruang pertemuan. Lalu tokoh-tokoh sesat mereka berhasil masuk menemui Utsman dan menumpahkan darahnya yang suci saat ia sedang membaca Al-Quran. Darahpun mengalir membasahi mushhaf, hingga darah tersebut berhenti di firman Allah Ta’ala, “Maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongannya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah [2]:137.)

Beritapun sampai ke telinga Thalhah, dan ia berkata, “Semoga Allah merahmati Utsman dan menolongnya dan Islam.” Lalu dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya mereka telah menyesal!” Ia berkata, “Celakalah mereka! Lalu ia membaca ayat, “Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada  keluarganya (QS. Saba’ [34]:54).”

Ketika Ali mendengar berita pembunuhannya, ia berkata, “Semoga Allah merahmati Utsman dan memberi kebaikan kepada kita”, ia juga mendengar tentang penyesalan orang-orang yang membunuhnya, maka ia membaca firman Allah Ta’ala “(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafilah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh Alam (QS. Yasin [36]: 49-50).”

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash mendengar berita pembunuhan Utsman, ia memohonkan ampunan dan rahmat untuknya, dan untuk orang-orang yang membunuhnya dan rahmat untuknya, dan untuk orang-orang yang membunuhnya ia membaca firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya (QS.Alkahfi [18]: 103-104)”.

Inilah kebenaran tentang keluarnya para pemberontak dari ketaatan terhadap Amirul Mukminin Utsman, dan pemalsuan surat atas namanya dan dengan menggunakan nama beberapa shahabat lainnya, juga tentang pengepungannya, dan pembangkangan mereka yang tanpa alas an, lalu keinginan mereka untuk menggulingkannya, dan akhir nya membunuhnya. Dengan demikian, mereka semua adalah golongan pemberontak yang keluar dari jamaah dan sekaligus pembunuh yang zhalim.

Shahabat secara keseluruhan terbebas dari darahnya. Mereka tidak pernah menyerahkannya atau mengkhianatinya ataupun meninggalkannya. Mereka hanya mengikuti kemauannya, dan menyerah kepada keinginannya untuk menyerahkan dirinya demi menggapai syahid, sebagaimana yang terdapat dalam banyak riwayat yang shahih dan juga catatan-catatan sejarah yang bersih dan sesuai dengan akhlak para shahabat yang terdidik dalam madrasah kenabian.

Adapun beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa para shahabat ataupun sebagian dari mereka telah menyerahkannya, dan mengkhianatinya serta rela dengan pembunuhannya, dan bahkan mungkin sebagian mereka terlibat di dalamnya, maka itu semua adalah berita yang lemah, dan riwayat bohong yang sengaja dibuat oleh para penutur sejarah yang tidak bisa dipercaya, yang menukil berita-berita bohong dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan itu semua bertolak belakang dengan akhlak orang-orang yang akan membela keluarga dan shahabat-shahabat mereka dalam kebenaran. Apalagi mereka adalah shahabat-shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan yang dikepung adalah khalifah kaum muslimin yang harus dibela dan dilindungi, karena ia adalah symbol dari umat ini.

Dan sungguh aneh apa yang dikatakan oleh penulis kita Rijal Haula Ar-Rasul dalam biografi ThalhahRadhiyallahu Anhu, “Dan meletuslah fitnah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu. Sementara Thalhah mendukung alas an para pembangkang tersebut dan membernarkan tuntutan perubahan dan perbaikan yang didengungkan oleh sebagian besar dari mereka.”

Apakah sikapnya ini telah menyeret kepada pembunuhan Utsman ataupun ia ridha dengan peristiwa tersebut? Sekali-kali tidak. Jika ia mengetahui bahwa fitnah tersebut akan terus berkembang hingga kemudian pecah oleh kebencian dan kedengkian yang tak beralasan, niscaya ia akan menjauhkan dirinya dari tindakan keji yang mengorbankan Dzun-Nurain Utsman Radhiyallahu Anhu.

Kami katakan, “Jika ia mengetahui bahwa fitnah itu akan berujung kepada tragedy tersebut, pastilah ia akan melakukan perlawanan, juga para shahabat lainnya yang pada awalnya mendukung gerakan tersebut karena menganggapnya sebagai gerakan untuk sekedar memberikan peringatan, tidak lebih!”.

Penulis itu seolah mengambil riwayat-riwayat yang lemah tersebut pada malam yang gelap gulita, dan menjadikannya sebagai penerangan baginya. Ia mengenyampingkan riwayat-riwayat yang shahih dan hadits-hadits yang telah jelas, lalu menyangka bahwa Thalhah mendukung para pemberontak, dan bahkan membenarkan sebagian besar dari mereka.

Dari mana engkau mendapatkan cerita ini wahai saudara?

Thalhah telah memberikan haknya dalam kekhalifahan untuk Utsman, dan ia tidak akan melakukan itu jika ia tidak melihatnya pantas untuk itu. Dan kalaupun kemduian Utsman melenceng dari jalan yang terlah dibai’at olehnya dan kaum muslimin lainnya, niscaya ia akan menyatakan pendapatnya dengan terang-terangan dan penuh keberanian. Ia tidak membutuhkan kedatangan orang-orang bodoh yang datang dari Mesir dan Irak tersebut, hingga ia merasa perlu untuk mendukung tujuan mereka, lalu bersembunyi di balik punggung mereka dengan memberikan sokongan terhadap tuntutan dan pendapat mereka!

Adapun pendapat bahwa Thalhah tidak mengetahu bahwa fitnah tersebut akan berujung kepada tragedy itu adalah tidak benar sama sekali. Sejak awal ia telah memahami kekejian para pembangkang dan keburukan niat mereka, mereka sama sekali tidak datang untuk perbaikan atau mengharap ridha Allah. Karena itulah ia menantang mereka, dan berlepas diri dari mereka. Ia menghadapi mereka dan mengatakan bahwa para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui keburukan niat mereka dalam gerakan mereka tersebut. Sementara Ali, Zubair, Sa’ad, dan tokoh shahabat lainnya juga melakukkan hal yang sama dengan Thalhah.

Thalhah merupakan menteri yang jujur dalam masa tiga khalifah Abu Bakar, Umar, Dan Utsman. Ia adalah salah seorang anggota majelis syura yang terkemuka, berpengalaman, dan sangat memahami tingkatan manusia serta gerakan yang ada di dalam masyarakat dan juga pemikiran yang sedang berkembang. Jika tokoh-tokoh seperti Thalhah, Ali, Zubair, dan tokoh lainnya yang selevel dengan merea tidak mengerti tujuan dari para pemberontak dan orang-orang yang seperti mereka, maka kepada siapa lagi kita berharap untuk membongkar persekongkolan kaum pembangkang, dan menyibakkan tirai dari kekejian hati mereka yang senantiasa menunggu saat yang tetap untuk menyerang?!

Karena itulah ketika orang-orang Bashrah mendatangi Thalhah, mengucapkan salam kepadanya, dan mengungkapkan niat mereka untuk menggulingkan Utsman dengan sindiran, ia mengusir mereka, dan berkata dengan keras, “Orang-orang mukmin telah mengetahui bahwasanya pasukan Dzul Marwah, Dzu Khusyub, dan Al-A’wash terlaknat melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam!”

Dan ketika Amirul Mukminin Utsman dikepung, ia mengumpulkan para shahabat dan mengingatkan mereka tentang berbagai kelebihannya, keutamaannya, dan perbuatan-perbuatannya yang mulia, maka Thalhah pun bersaksi untuknya di hadapan orang-orang yang mengepungnya, dan ia sama sekali tidak pernah membenarkan (pembangkangan mereka) sebagaimana yang disangka oleh penulis tersebut!

Apakah Thalhah seorang pengecut? Kita tidak pernah melihatnya demikian

Apakah ia takut dari Utsman? Utsman terkepung, dan setelah itu darahnya tertumpah.

Ataukah ia mendekati para pemberontak dan berambisi untuk menjadi khalifah? Ia telah mengusir mereka ketika datang kepadanya dan memaksa untuk membai’atnya. Ia juga mengatakan kepada mereka bahwasanya mereka terlaknat melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia telah mundur dari pemilihan khalifah ketika anginnya masih sejuk mewangi, maka bagaimana mungkin saat itu ia menginginkannya ketika angin panas telah menerjangnya?!

Lalu ketika pengepungan Utsman semakin ketat, dan ia dilempari hingga pingsan, maka Ali, Thalhah, dan Zubair datang menjenguknya dan mengadukan tentang situasi yang semakin genting. Mereka memaksa untuk melindunginya, namun Utsman menolak keinginan mereka.

Ketika Utsman meminta Air, para shahabat datang kepadanya, termasuk Thalhah yang telah sampai di pintunya. Namun ketika ia menyaksikan apa yang dilakukan oleh para pemberontak tersebut terhadap Ali dan ummul mukminin Ummu Habibah, ia mengurungkan niatnya untuk masuk, sebagaimana yang dilakukan oleh Zubair.

Kemudian Ash-Sha’bah ibu dari Thalhah juga telah meminta anaknya untuk berbicara denga para pemberontak agar mereka meninggalkan Utsman.

Ketika pengepungan semakin menjadi-jadi, Thalhah mengirimkan putranya dan jantung hatinya Muhammad bin Thalhah untuk melindungi Amirul Mukminin. Ia bertempur bersama para pembela Utsman lainnya, dan ia tidak sekalipun meninggalkan rumah hingga darahnya tumpah.

Ketika ia mendengar berita tentang terbunuhnya Utsman, dan bahka kaum pemberontak telah menyesali kejahatan mereka, ia berkata, “Celakalah mereka, lalu ia membaca, ayat “Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka juga tidak dapat kembali kepada keluarganya (QS. Yasin [36]:49-50).”

Wahai saudar penulis, kenapa engkau melupakan fakta-faktra kebenaran di atas? Bagaimana mungkin engkau menuduh seorang shahabat yang jujur dan mulia melakukan dosa besar tersebut, dan juga menuduh shahabat lainnya bahwa mereka mendukung para penyulut fitnah dengan menganggap gerakan mereka sekedar gerakan protes?!

Omong kosong apa ini? Kenapa anda berani melemparkan tuduhan kepada para shahabat RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam dan menuduh mereka telah lalai karena tidak menyadari maksud dari para pemberontak tersebut sejak awal?!

Para pemberontak tersebut bukanlah sekedar gerak protes, mereka juga tidak berada dalam posisi yang benar, ataupun menginginkan perbaikan. Mereka adalah kaum munafik yang fasik sebagaimana yang ditegaskan oleh Hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika beliau mengatakan kepada Utsman,“Wahai Utsman, Sesungguhnya Allah akan memakaikanmu sebuah baju, jika orang-orang munafik menginginkanmu untuk melepasnya, maka janganlah engkau lepaskan hingga engkau datang menemuiku!!”

4. Bersama Ali bin Abu Thalib

Ketika takdir dan ketetapan Allah telah berlaku, dan terjadilah apa yang telah ditakdirkannya, dan khalifah yang ketiga Utsman mendapatkan syahid dan kembali kepadanya Nya, maka tidak ada lagi tokoh ke empat yang lebih mulia, lebih berilmu, dan lebih bertakwa selainnya. Maka bai’at pun diberikan kepadanya.

Ketika jabatan kekhalifahan disodorkan kepadanya, pada awalnya ia ragu untuk menerimanya, karena berbagai peristiwa yang terjadi saat itu oleh para pemberontak, yang telah membunuh khalifah Utsman dengan cara yang kejam dan sadis. Mereka tetap bertahan di Madinah, sementara tangan mereka belum kering dari darah Utsman yang syahid! Ali merenungkan seluruh untaian peristiwa tersebut, ia terus memikirkan dan menimbang-nimbang. Dan kemudian ia meyakinkan dirinya bahwa setiap detik yang berlalu dengan kekosongan posisi khalifah hanya akan menyebabkan bahaya yang lebih besar terhadap Islam, negaranya, dan masyarakatnya. Maka ia pun menerima jabatan khalifah yang penuh dengan luka. Tidak aka nada yang sanggup memikul tanggung jawab tersebut selain orang yang seperti Ali. Ia menerima dengan bertawakal kepada Allah dan yakin dengan pertolongan-Nya, juga dengan keberaniannya dalam menghadapi kesulitan.

Begitu Utsman terbunuh, orang-orang segera mendatangi Ali, baik dari golongan shahabat maupun yang lainnya dan mereka berkata, “Amirul Mukminin Ali” Hingga mereka masuk kerumahnya, dan berkata, “Kami akan membai’atmu, maka ulurkanlah tanganmu, engkaulah yang paling berhak atas urusan ini!”, Maka Ali berkata, “Urusan ini bukan di tangan kalian, ini adalah urusan ahli Badar, siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.” Namun tidak seorangpun yang tersisa, semuanya mendatangi Ali dan berkata, “Kami tidak melihat siapapun yang lebih berhak darimu, ulurkanlah tanganmu untuk kami bai’at.” Maka Ali berkata, “Mana Thalhah dan Zubair?” saat itu yang pertama membai’atnya adalah Thalhah dan Zubair. Ketika Ali melihat hal tersebut, ia segera menuju masjid dan naik mimbar. Dan saat itu yang pertama kali naik ke atas mimbar dan membai’atnya adalah Thalhah, diikuti kemudian oleh Zubair, dan shahabat-shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Kaum Muhajirin dan Anshar turut memberikan bai’at mereka, dan kemudian barulah ia di bai’at oleh orang-orang lainnya.

Ath-Thabari meriwayatkan dengan sanad yang terdiri dari orang-orang yang terpercaya, dari Auf bin Abu Jamilah Al-Arabi berkata, “Adapun aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Muhammad in Sirin berkata, “Sesungguhnya Ali datang dan berkata kepada Thalhah, “Ulurkanlah tanganmu wahai Thalhah agar aku membai’atmu.” Thalhah berkata, “Engkaulah yang lebih berhak, engkaulah Amirul Mukminin, maka ulurkanlah tanganmu.” Ia berkata, “Maka Ali mengulurkan tangannya dan Thalhah membai’atnya.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Amru bin Dinar, aku berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Thalhah dan Zubair membai’at Ali? Ia berkata, “Hasan bin Muhammad telah memberitahuku, dan aku tidak melihat siapapun yang lebih tahu darinya, bahwa mereka berdua naik untuk membai’atnya, saat itu ia berada di atas mimbar, dan kemudian mereka kembali turun.”

Dikarenakan tangan Thalhah yang pertama kali terulur untuk membai’at Ali, ada yang berkata, “Yang pertama memberikan bai’at adalah tangan yang telah lumpuh, ini tidak bisa terjadi!” dan ini adalah sebuah kebodohan dari orang yang mengatakannya. Karena tangan Thalhah adalah tangan yang jauh lebih berkah dan lebih besar kontribusinya disbanding dengan siapapun, karena tangan inilah yang telah membela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pada perang Uhud dan melindungi beliau dari hujan panah.

Ketika Al-Ahnaf bin Qais mendatangi Thalhah dan Zubari sebelum terbunuhnya Utsman, dan ia berkata kepada mereka, “Aku berpendapat bahwa ia Utsman pasti akan terbunuh. Siapa menurut kalian yang harus aku bai’at?” mereka menjawab, “Ali”, maka aku berkata, “Apakah kalian menganjurkanku untuk itu dan kalian ridha jika aku melakukan nya?” mereka menjawab, “Iya.”

Maka bai’at umum dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk Ali pun akhirnya terlaksana, diikuti oleh seluruh yang hadir. Dan Ali mengirimkan surat ke seluruh penjuru mengabarkan tentang pembai’atan nya dan mereka pun tunduk kepadanya, kecuali apa yang terjadi pada Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhuma dan penduduk Syam.

Para shahabat telah melakukan pembelaan terhadap Utsman saat ia dikepung di rumahnya, namun ia tidak mengizinkan mereka untuk berperang karena melindunginya, ia tidak ingin ada darah yang tumpah karena dirinya, maka mereka pun mentaatinya. Kemudian mereka hanya bisa memperhatikan apa yang akan terjadi, dan tidak ada yang berpikir bahwa para pemberontak tersebut akan berani menumpahkan darahnya. Namun ketika yang ditakutkan itu terjadi, dan Utsman terbunuh dalam keadaan sabar, para shahabat menjadi terpukul, hati mereka pecah menyaksikan kejadian yang tragis tersebut. Mereka merasa bahwa seharusnya mereka membelanya mati-matian, walaupun pada kenyataannya mereka tidak pernah menyia-nyiakannya.

Maka Thalhah, Zubair, Aisyah dan para pengikut mereka berpendapat bahwa tidak akan ada yang bisa membaskan mereka dari rasa bersalah atas kewajiban membela Utsman selain bangkit untuk menuntut pembalasan darahnya, dan membalas dendam terhadap para pembunuhnya.

Lalu Thalhah, Zubair dan beberapa tokoh shahabat mendatangi Amirul Mukminin Ali dan memintanya untuk menegakkan hukum qishash dan menuntut balas atas darah Utsman. Ali meminta maaf kepada mereka dan mengatakan bahwa para pembunuh Utsman saat itu masih mempunyai sekutu dan bala bantuan, sehingga ia belum bisa melaksanakan tuntutan mereka pada saat itu.

Kemudian Thalhah dan Zubair meminta izin kepada Ali untuk melaksanakan umrah, dan ia mengizinkan mereka, dan mereka pun berangkat menuju Mekah.

Sementara itu Ali telah bertekad untuk memerangi penduduk Syam karena menolak untuk membai’atnya, dan ia pun menyiapkan pasukannya. Dan tidak ada lagi yang harus dilakukan selain berangkat dari Madinah menuju Syam, sampai ia mendengar kabar yang membuatnya harus melupakan maksudnya tersebut.

Ketika ia tengah bersiap menuju Syam, ia mendapat kabar tentang adanya pasukan yang terdiri dari Thalhah, Zubair, dan ummul mukminin Aisyah yang telah keluar dari Mekah dan sedang menuju Bashrah, dan mereka diikuti oleh banyak orang. Pada tahun itu istri-istri Nabi Shallallahualaihi wa Sallammenunaikan ibadah haji untuk menghindari fitnah. Dan ketika menerima kabar tentang terbunuhnya Utsman, mereka memutuskan untuk tetap berdiam di Mekah dan menunggu apa yang akan terjadi.

Setelah haji, berkumpullah sejumlah shahabat dan ummahatul mukminin di Mekah. Aisyah dengan kedudukannya yang tinggi di dalam diri kaum muslimin, mendorong orang-orang untuk bangkit menuntut darah Utsman, dan menegakkan qishash atas para pembunuhnya. Mereka bermusyawarah untuk menentukan langkah yang akan diambil, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat menuju Bashrah guna mengumpulkan kekuatan yang besar dari mereka yang bergabung atas terbunuhnya Utsman, lalu kekuatan yang besar tersebut akan bahu membahu dengan kekuatan pasukan khalifah guna menumpas kekuatan kaum pemberontak dan memusnahkan kekuasaan mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri Thalhah, Zubair, dan Aisyah bahwa Ali bersih dari darah Utsman, dan tidak ada permusuhan ataupun kebencian dan kedengkian di antara du pasukan tersebut, pasukan Ali dan pasukan Bashrah. Semua yang terjadi adalah dengan tujuan perbaikan, penegakkan hukum, dan tuntutan qishash atas orang-orang yang zhalim.

Seribu pasukan berkuda berangkat mengiringi Thalhah, Zubair, dan Aisyah Radhiyallahu Anhum. Mereka bertolak dari mekah, dan dalam perjalanan banyak yang bergabung dengan mereka sehingga jumlah mereka menjadi tiga ribu. Ummul mukmiin berada di tandunya di atas unta yang bernama Askar. Dalam perjalanan mereka melewati sebuah mata air yang bernama Al-Hau’ab dan disana mereka disambut oleh gonggongan anjing. Ketika mendengar itu Aisyah berkata, “Apakah nama tempat ini?” mereka menjawab, “Al-Hau’ab”, maka ia menepukkan kedua tangannya dan berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Aku harus kembali!”. Mereka bertanya, “Kenapa?” ia menjawab, “Aku telah mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata kepada istri-istrinya, “Andai aku tahu siapa di antara kalian yang akan disambut gonggongan anjing di mata air Al-Hau’ab (Al-Hau’ab merupakan sebuat tempat di dekat Bashrah pada jalan yang menuju Mekah. Hadits tentang Ha’uab adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi dalam Ad-Dala’il, juga Al-Hakim dan yang lainnya)”, lalu ia menepuk bahu tangannya dan menduduknya, dan ia berkata, “Kembalikan aku, kembalikan aku, demi Allah akulah wanita (yang disambut gonggongan anjing) di mata air Al-Hau’ab!!”. Lalu Zubair berkata kepadanya, “Apa engkau akan pulang?! Semoga saja Allah akan mendamaikan orang-orang melaluimu.” Aisyah menerima alas an tersebut dari pembela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dengan harapan kedudukannya di hati kaum muslimin akan memberikan pengaruh dalam pertemuan untuk menuntut darah Utsman. Ia pun meneruskan perjalanannya menuju Bashrah, dan orang-orang turut melanjutkan perjalanan bersamanya, untuk ishlah (perbaikan).

Ketika Ali mendengar berita tentang keluarnya Thalhah, Zubair, dan Aisyah menuju Bashrah, ia membatalkan perjalananya menuju Syam, dan keluar bersama pasukan yang telah disiapkannya untuk menuju Syams, dan berangkat menuju Bashrah. Dia berharap dapat menyusul mereka, dan menghalangi mereka, hingga ia sampai di Ar-Rabadzah (Sebuah desa yang pernah ramai dan kemudian mati), di sana ia mendengar bahwa mereka telah terlambat untuk menghadang.

Pasukan Aisyah semakin dekat dengan Bashrah, maka ia menulis surat kepada Al-Ahnaf bin Qais dan pemuka masyarakat lainnya mengabarkan bahwa ia akan datang. Maka gubernur Bashrah Utsman bin Hunaif mengirim kepadanya dua orang utusan : seorang shahabat Imran bin Hushain, dan seorang tabi’in Abu Al-Aswad Ad-Duali untuk mengetahui maksud kedatangannya. Ketika sampai, mereka menanyakan maksudnya, dan ia menyampaikan kepada mereka berdua bahawa ia dan orang-orang yang bersamanya datang untuk menuntut darah Utsman karena ia dibunuh dengan zhalim di bulan haram dan di tanah haram. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala, “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia (QS. An-Nisa’ [4]:114). Dan ia berkata, “Kami bangkit dengan tujuan perbaikan yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla, dan diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadanya kecil dan besar, kepada laki-laki dan perempuan. Inilah urusan kami untuk menyeru kalian kepada kebaikan dan mendorong kalian untuk itu, dan mencegah kalian dari kemungkaran, serta meminta kalian untuk mengubahnya.”

Mendengar kedatangan Thalhah, Zubair, daan Aisyah, penduduk Basrah terpecah menjadi tiga kelompok.

Pertama: Menyambut baik gerakan Aisyah dan bergabung dengannya untuk membantunya menuju perbaikan

Kedua: Tetap loyal terhadap gubernur Bashrah saat itu Utsman bin Hunaif dan tidak setuju dengan gerakan Aisyah.

Ketiga: Memilih untuk tidak memihak kemanapun.

Utsman bin Hunaif bertekad untuk mencegah pasukan Aisyah memasuki Bashrah hingga kedatangan Amirul Mukminin Ali, maka ia pun keluar bersama pasukannya. Ia menghadang pasukan Aisyah di Al-Mirbad (Suatu tempat yang digunakan pasar unta di luar kota), pasukan Aisyah berada di sisi kanan Mirbad, dan pasukan Ibnu Hunaif di sisi kirinya.

Lalu Thalhah berbicara dan mengajak untuk menuntut balas atas darah Utsman, ia diikuti oleh Zubair yang berbicara seperti dibicarakannya. Pasukan yang berada di sisi kanan berkata, “Mereka berdua telah jujur dan benar, dan mereka berdua telah mengatakan kebenaran dan mereka mengajar kepadanya.” Sedangkan pasukan yang berada di sisi kiri berkata, “Mereka berdua telah membangkang, dan mengatakan kebathilan, dan mereka mengajak kepadanya.” Maka kedua pasukan kemudian saling melemparkan pasir dan batu. Dan ketika Aisyah berbicara dan mengajak mereka untuk menuntut balas atas Utsman dan membunuh para pembunuhnya, pasukan Ibnu Hunaif terpecah menjadi dua : Satu kelompok tetap bersamanya, dan kelompok lainnya bergabung dengan pasukan Aisyah.

Maka majulah Hukaim bin Jabalah yang berada dalam pasukan berkuda dari Ibmu Hunaif, dan salah seorang yang ikut membunuh Utsman dan ia memulai peperangan. Namun pasukan ummul mukminin menahan diri dan enggan untuk berperang, sehingga Hukaim pun menyerang mereka. Mereka bertempur di sisi jalan, maka Aisyah memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke kanan hingga sampai di pemakaman Bani Mazin, dan kemudian malam pun menghalangi kedua pasukan. Pada hari kedua, mereka telah siap untuk bertempur, dan pertempuran pun terjadi dengan dahsyat hingga siang, dan banyak anggota pasukan Ibnu Hunaif yang terbunuh, dan banyak yang terluka dari kedua pasukan. Dan ketika perang telah melelahkan mereka, mereka pun mengajak untuk berdamai.

Beberapa orang berhasil memasuki istana Utsman bin Hunaif dan membawanya kepada Thalhah dan Zubair sebagai tawanan. Dan tidak ada lagi rambut yang tersisa di wajahnya karena telah dicukur oleh mereka!! Thalhah dan Zubair menganggap perbuatan itu terlalu berlebihan, kemudian mereka memberitahukan berita tentang penangkapan itu kepada Aisyah. Aisyah memerintahkan untuk melepaskannya, dan mereka pun membebaskannya.

Hal itu menyulut kemarahan kelompok pembunuh Utsman dan para pendukung mereka. Maka mereka bergerak dengan pasukan yang berjumlah hampir tiga ratus orang, dengan dipimpin oleh Hukaim bin Jabalah. Mereka menyampaikan tantangan dan bertempur. Pasukan Aisyah menyambut tantangan mereka, dan berhasil membunuh meraka, termasuk hukaim sendiri. Pasukannya menjadi lemah, dan dengan demikian pasukan Aisyah berhasil menguasai Bashrah.

Utusan Thalhah dan Zubair mengumumkan kepada kabilah-kabilah yang ada di sana bahwa jika ada di antara kalian yang ikut menyerang Madinah maka hendaklah membawanya kepada kami. Mereka pun di bawa dan di bunuh. Tidak ada yang selama kecuali Hurqush bin Zuhair As-Sa’di, karena kaumnya Bani Sa’ad mempertahankannya.

Bashrah berhasil di kuasai oleh Thalhah, Zubair, dan pasukan yang bersama mereka. Kemudian mereka menulis surat kepada penduduk Syam untuk itu. Thalhah dan Zubair meminta mereka untuk bangkit seperti mereka guna menuntut balas atas darah Asy-Syahid Amirul Mukminin Utsman. Mereka juga mengirimkan surat yang serupa kepada penduduk Kufah, penduduk Yamamah, dan kepada penduduk Madinah.

Ketika pasukan Amirul Mukminin Ali sampai di Ar-Rabadzah dan mengetahui bahwa pasukan Aisyah telah mendahuluinya, ia merencanakan untuk terus menuju Bashrah. Di Rabadzah ia bertemu dengan Abdullah bin Salam Radhiyallahu Anhu yang memintanya untuk tidak ikut keluar, namun ia menolak. Dan hasan bin Ali pun berharap agar ayahnya tidak berangkat, namun ia juga menolak! Orang-orang memperhatikan rencana dan tekadnya untuk itu, maka putra dari Rifa’ah bin Rafi’ mendatanginya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau ingin kan? Dan kemana engkau akan membawa kami?” Ali menjawab”Adapun yang kita inginkan hanyalah perbaikan, itu jika mereka menerima dan menyambut ajakan kita.” Ia berkata, “Kalau mereka tidak menyambut ajakan kita?” Ali berkata, “Kita biarkan mereka dengan alas an mereka, kita berikan mereka hak mereka lalu kita bersabar.” Ia berkata, “Jika mereka tidak ridha?” Ali menjawab, “kita akan biarkan mereka selama mereka membiarkan kita.” Ia berkata, “Dan kalau mereka tidak membiarkan kita?” Ia menjawab, “Kita akan membela diri dari mereka.” Dan ia pun berkata, “Baiklah kalau begitu.”

Ali mengirim surat kepada penduduk Kufa meminta mereka untuk membela kebenaran. Di antara isi suratnya sebagai berikut, “Aku telah memilih kalian atas apa yang terjadi. Jadilah penolong dan pembela bagi agama Allah. Dukunglah kami dan bangkitlah bersama kami. Perbaikanlah yang kami inginkan, agar umat kembali menjadi satu saudara. Siapa yang mencintai dan mengutamakan hal ini maka berarti ia mencintai kebenaran dan mengutamakannya. Namun siapa yang tidak menyukainya maka berarti ia pun tidak menyukai kebenaran dan membencinya.

Ketika Ali dan pasukannya mendekati Kufah, ia menerima berita tentang apa yang telah menimpa pasukannya di Bashrah. Dan ketika ia tiba di Dzu Qar, Utsman bin Hunaif mendatanginya dalam keadaan kemah tanpa sedikitpun rambut di wajahnya. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah mengutusku ke Bashrah dengan memiliki jenggot. Dan sekarang aku datang kepadamu dalam keadaan tanpa jenggot!” Ali berkata, “Engkau telah mendapatkan pahala dan kebaikan.”

Di kufah, shahabat mulia Abu Musa Al-Asy’ari bangkit dan menasihati orang-orang agar tidak ikut camput dalam fitnah yang terjadi. Ia menceritakan kepada mereka apa yang pernah didengarnya dari NabiShallallahualaihi wa Sallam tentang peristiwa tersebut, ketika beliau berkata, “Sungguh akan terjadi suatu fitnah dimana orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berkendaraan.” Lalu utusan Amirul Mukminin Ali di antaranya Hasan, Ibnu Abbas, dan Ammar bin Yasir mengajak orang-orang untuk membela khalifah yang telah dibai’at oleh kaum Muhajirin dan Anshar, agar posisinya lebih kuat sehingga bisa menegakkan hukum dan meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Beberapa hadirin kemudian berbicara, di antaranya Qa’qa’ bin Amru yang mendukung pendapat Abu Musa namun ia juga sekaligus mengoreksinya dengan berkata, “Sesungguhnya yang dikatakan oleh gubernur adalah benar, namun orang juga membutuhkan seorang pemimpin yang melawan kezhaliman, dan menolong yang dizhalimi serta merekatkan kembali ikatan manusia. Amirul Mukminin Ali melaksanakan apa yang menjadi tugasnya, dan ia telah berbuat adil dalam himbauannya, hanya perbaikanlah tujuannya, maka bergabunglah dengannya.”

Orang-orang menyambut seruan untuk bergabung dengannya, dan bergerak dengan Hasan dalam sebuah pasukan yang berjumlah hamper Sembilan rebut prajurit, diantara tokoh yang ikut bergabung antara lain : Qa’qa’ bin Amru, Sa’ad bin Malik, Zaid bin Shuhan, Adi bin Hatim, dan Hujr bin Adi.

Di sana sang imam yang baik dan shalih berdiri dan menjelaskan kepada pasukannya jalan lurus yang akan ditempuh, bahwasanya kebenaran yang mereka tujuh memiliki banyak jalan, dan jalan terakhir adalah dengan mengangkat senjata. Dan jika mereka terpaksa harus bertempur melawan saudara-saudara mereka, maka haruslah dengan cara yang benar. Ia menyampaikan khutbahnya di hadapan mereka dan berkata,

“Wahai penduduk Kufah, kalian terlah berhasil merebut kekuasaan orang-orang non arab, dan kalian hancurkan kesatuan mereka hingga kalian mendapatkan warisan peninggalan mereka, kalian menjadi berkecukupan dan bisa menolong saudara-saudara kalian menghadapi musuh mereka. Aku telah mengajak kalian untuk menghaapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi mereka dengan kelembutan, dan kita biarkan mereka hingga mereka memulai menyerang kita secara zhalim. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung kebaikan, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan Insya Allah, dan tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah.”

Kemudian Ali berusaha memastikan berita tentang dua saudara nya Thalhah dan Zubair, untuk mengetahui apa yang menyebabkan keberangkatan mereka dan apa yang mereka inginkan. Juga untuk mengingatkan mereka kepada Allah Ta’ala, dan mengutamakan kesatuan kaum muslimin. Ia pun mengutus seorang komanda yang cerdas Qa’qa’ bin Amru, dan berpesan kepadanya, “Temuilah dua orang ini dan ajaklah mereka untuk kembali kepada persatuan dan jamaah, dan ingat kan akan besarnya bahaya perpecahan.”

Qa’qa’ berangkat hingga tiba di Bashrah. Ia mulai dengan menemui Aisyah Radhiyallahua Anha, ia mengucapkan salam dan berkata, “Wahai ibu, Apa yang yang telah menganggumu dan membuat datang ke negeri ini?” Ia berkata, “Wahai Anakku, untuk perbaikan dan kedamaian di antara manusia.” Qa’qa’ berkata, “Maka panggilah Thalhah dan Zubair agar engkau bisa mendengar perkataanku dan perkataan mereka.” Aisyah pun memanggil mereka, dan mereka segera datang.

Qa’qa’ berkata, “Aku telah bertanya kepada ummul mukminin, apa yang telah menganggunya dan membuat datang ke negeri ini? Dan ia berkata, untuk perbaikan di antara manusia.” Maka apa yang akan kalian katakana? Apakah kalian setuju atau menentang? Mereka berdua berkata, “Setuju”.

Ia berkata, “Sekarang katakana kepadaku, bagaimanakah perbaikan yang kalian inginkan? Demi Allah jika kami menyetujuinya niscaya kami akan memperbaikinya, dan jika kami tidak setuju maka kami tidak akan memperbaikinya.”

Mereka berkata, “Para pembunuh Utsman Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya jika ini dibiarkan maka berarti meninggalkan hukum Al-Qur’an, dan jika dilaksanakan berarti kita menghidupkan Al-Qur’an.”

Qa’qa’ berkata, “Kalian telah menghabisi para pembunuh Utsman Radhiyallhu Anhu dari kalangan penduduk Bashrah. Sebelum menghabisi mereka kalian berdua lebih dekat kepada keistiqamahan dari pada hari ini. Kalian telah menghabisi enam ratus orang dari mereka. Lalu membangkitkan kemarahan enam ribu orang yang menuntut balas terhadap kalian dan memisahkan diri dari kalian. Mereka keluar dari pihak kalian. Lalu kalian menuntut Hurqush bin Zuhair, akan tetapi enam ribu orang melindunginya dan saat ini berada dalam keadaan siaga. Jika kalian membiarkan mereka maka berarti kalian telah meninggalkan apa yang pernah kalian katakana sendiri (untuk menuntut darah Utsman). Namun jika kalian memerangi mereka dan orang-orang yang telah memisahkan diri dari kalian maka kalian akan ditimpa kerusakan yang lebih besar dari apa yang kalian takutkan. Kalian telah menyulut orang-orang dari Bani Mudhar dan Rabiah yang ada di negeri ini sehingga mereka bersatu untuk memerangi kalian demi membela mereka, sebagaimana mereka bergabung dengan orang-orang yang telah menyulut peristiwa besar dan dosa yang besar ini!!”

Ummul mukminin berkata, “Bagaimana pendapatmu?”

Al-Qa’qa’ menjawab, “Menurutku solusi masalah ini adalah meredekan ketegangan! Jika keadaan sudah tenang maka mereka akan kembali terpisah-pisah. Jika kalian sepakat maka itu adalah pertanda kebaikan, rahmat dan sikap yang baik untuk menjaga kesempatan untuk menuntut balas atas Utsman, serta keselamatan bagi umat ini. Jika kalian tidak sepakat dan tetap bersikeras maka itu adalah pertanda keburukan dan lenyapnya kesempatan untuk menuntut balas ini, serta Allah akan menurunkan banyak musibah atas umat ini. Utamakanlah keselamatan niscaya kalian akan memperolehnya. Jadilah kunci kebaikan sebagaimana halnya kalian dahulu. Janganlah bawa kami keapda bencana sehingga kalian harus menghadapinya dan Allah membiaskan kita semua. Demi Allah, aku mengutarakan maksud ini dan mengajak kalian kepadanya. Aku khawatir masalah ini tidak akan selesai hingga Allah menimpakan kemarahan Nya terhadap umat ini yang minim perbekalannya lalu terjadilah apa yang terjadi. Sesungguhnya masalah yang terjadi ini sangatlah besar. Bukan seperti masalah-masalah lainnya, bukan sekedar seorang lelaki membunuh seorang lelaki lain nya atau sekelompok orang membunuh seorang lelaki atau satu kabilah membunuh seorang lelaki!”

Mereka berkata, “Baiklah jika demikian, engkau benar dan telah mengungkapkannya dengan sangat baik, kembalilah, jika Ali datang dengan membawa pemikiran seperti yang engkau utrakan niscaya urusan ini akan selesai.”

Maka Al-Qa’qa pun kembali kepada Ali dan mengabarkan apa yang terjadi. Ali pun takjub mendengarnya. Perdamaian telah hamper tercapai, ada yang tidak menyukai keadaan tersebut da nada yang gembira dengan itu.

Amirul Mukminin Ali adalah orang yang paling gembira dengan keberhasilan tugas Qa’qa’ dan kesepakatan damai yang dicapainya untuk menyatukan kata dan merapatkan barisan guna menghadapi para pembunuh Utsman dan menghancurkan mereka. Khutbah yang disampaikannya saat itu menggambarkan tentang kebahagiaan jiwa dan kesenangan mata hatinya. Ia mengumpulkan pasukannya dan menceritakan tentang keadaan jahiliyah dengan berbagai pertikaian dan peperangannya yang membawa kerugian. Lalu datanglah Islam, dengan kebahagiaan, dan nikmat Allah atas umat ini dengan menyatukannya di bawah seorang khalifah setelah wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan kemudian diikuti oleh khalifah yang setelahnya.

Diantara yang disampaikannya adalah, “Lalu terjadilah peristiwa yang menyeret umat ini yang telah dilakukan oleh orang-orang yang bertujuan untuk mengerjar dunia. Mereka merasa dengki atas keutamaan yang dianugerahkan Allah atas umat ini, dan menginginkan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Tetapi Allah telah melaksanakan ketetapannya, dan Maha benar terhadap apa yang dikehendakinya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya besok aku akan berangkat, maka berangkatlah bersamaku, dan jangan ikut bersamaku seorangpun yang terlibat dalam pembunuhan Utsman, sekecil apapun itu, dan hendaklah orang-orang bodoh tersebut membebaskanku dari diri mereka.”

Dan berangkatlah Ali bersama para shahabat dan pasukannya, dan meletakkan peralatan dan perlengkapan mereka di dekat Bashrah. Pasukan Ali beristirahat di sebuah tempat yang bernama Az-Zawiayah. Sementara pasukan Aisyah beristirahat di sebuah tempat yang bernama Al-Furdhah. Mereka saling mendekati hingga terlihat dari istana Ubaidillah bin Ziyad pada hari kamis pertengahan Jumadits Tsaniyah tahun 36 H.

Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah dan Zubair, dan berkata, “Jika kalian tetap pada pendapat kalian sebagaimana saat kalian ditingkan oleh Qa’qa’ bin Amru maka tunggulah hingga kami sampai dan kita bicarakan masalah ini.” Mereka menjawab pesannya dan berkata, “Kami tetap pada pendapat kami sebagaimana saat kami ditinggalkan oleh Qa’qa’ bin Amru yaitu untuk berdamai.” Maka tenaglah hati dan jiwa kedua pasukan, masing-masing berkumpul dengan pasukannya. Pada sore harinya Ali mengutus Abdullah bin Abbas kepada mereka, dan mereka pun mengutus Muhammad bin Thalhah As-Sajjad. Dan mereka melewati malam itu dengan tenang.

Namun bagi pembunuh Utsman, malam itu adalah malam yang sangat buruk bagi mereka. Maka berkumpullah tokoh-tokoh mereka seperti Al-Asytar An-Nakha’I, Syuraih bin Auf, dan Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu As-Sauda’, Salim bin Tsa’labah, Ilba’ bin Al-Haitsam, dan yang lainnya dengan dua ribu lima ratus pasukan, tidak ada seorangpun shahabat di antara mereka, dan segala puji bagi Allah untuk itu. Mereka berkata,

“Bagaimana pendapat kalian? Demi Allah ini adalah Ali, orang yang paling memahami Kitabullah dan orang yang paling dekat untuk menuntut para pembunuh Utsman, dan ia lebih kuasa untuk melakukan itu. Ia telah mengatakan seperti yang kalian dengar sendiri. Besok ia akan mengumpulkan manusia untuk meringkus kalian. Sesungguhnya yang mereka inginkan adalah kalian semua. Lalu apa yang kalian lakukan sedangkan jumlah kalian sedikit dibanding jumlah mereka yang sangat banyak?”

Mereka berdiskusi dan saling mengemukakan pendapat mereka, hingga kemudian Ibnu As-Sauda’, semoga Allah memburukkan dan menghinakannya, berkata, “Wahai kaum, tidak ada kemenangan bagi kalian kecuali dengan cara berbaur dengan orang-orang. Jika besok mereka bertemu maka nyalakanlah api peperangan di antara mereka. Jangan biarkan mereka berdamai. Orang-orang yang bersama kami tidak akan punya pilihan lain kecuali mempertahankan diri. Dan itu akan menyibukkan Ali, Thalhah, dan Zubair serta orang-orang yang sependapat dengan mereka dari hal yang kalian takutkan.” Merekapun sepakat dengan ide tersebut lalu membubarkan diri sementara orang-orang tidak mengetahui tentang ide busuk ini.

Para pemberontak yang terdiri dari para pembunuh Utsman telah bersekongkol dan sepakat untuk menyulut peperangan dengan licik. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka sekitar dua ribu orang. Masing-masing kelompok bergabung bersama pasukannya lalu menyerang mereka dengan pedang. Setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang bangun dari tidurnya dan langsung mengambil senjata. Mereka berkata, “Penduduk Kufah menyerbu kita pada malam hari, mereka mengkhianati kita!” Mereka mengira bahwa para penyerang itu berasal dari pasukan Ali. Sampailah keributan itu kepada Ali dan ia berkata, “Ada apa gerangan dengan mereka?” Mereka menjawab, “Penduduk Bashrah menyerbu kita pada malam hari, mereka mengkhianati kita!!!” Maka kedua belah pihak mengambil senjata masing-masing, mengenakan baju perang dan mengendarai kuda-kuda. Tidak ada seorang pun yang menyadarai konspirasi yang sedang teradi!! Peperangan pun tidak dapat dielakkan, pasukan kuda saling berhadapan, para pejuang saling menyerang, api pertempuran semakin memuncak. Kedua pasukan saling berhadapan, pasukan Ali berjumlah dua puluh ribu personil dan Aisyah dikelilingi oleh lebih dari tiga puluh ribu orang. Sementara As-Saba’iyah pengikut ibnu Saba’, semoga Allah memburukkannya, tidak henti-hentinya mengobarkan api peperangan. Lalu seseorang penyeru yang ditugaskan Ali terus berseru, “Hentikan! Hentikan! Namun tidak ada lagi yang mendengarnya.

Kemudian datanglah Ka’ab bin Sur hakim dari Bashrah, dan berkata, “Wahai ummul mukminin, temuilah orang-orang, barangkali Allah mendamaikan mereka melalui dirimu!” Aisyah duduk di dalam sekedupnya di atas untanya, dan kemudian di tutupi dengan tameng. Lalu ia maju dan berhenti di mana ia bisa dengan leluasa melihat pertempuran.

Demikianlah para pembunuh Utsman berhasil menyulut peperangan antara Ali dengan dua saudaranya Thalhah dan Zubair. Pasukan unta pasukan Thalhah, Zubair dan Aisyah menyangka bahwa Ali telah mengkhianati mereka. Sementara Ali mengira bahwa saudara-saudaranya telah mengkhianatinya. Mereka semua lebih bertakwa kepada Allah dan tidak mungkin melakukan itu semua di masa jahiliyah, maka bagaimana mungkin mereka melakukannya di saat mereka telah mencapai kedudukan yang tertinggi dari akhlak Al-Qur’an?!

Di sana Ammar berhadapan dengan Zubair, Ammar menyerangnya dengan tombak, namun Zubair tidak melawannya karena ia ingat apa yang dikatakan oleh Nabi Shallallahualaihi wa Sallam kepada Ammar,“Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang zhalim” dan Zubair telah menyadari bahwa peperangannya saat itu tidak  benar, maka ia pun meninggalkan medan perang dan kembali pulang. Lalu ia beristirahat di sebuah lembah yang bernama Wadi As-Siba’, dan di ikuti oleh seorang laki-laki yang bernama Amru bin Jurmuz. Ia menyergapnya ketika ia sedang tidur, dan membunuhnya dengan licik, semoga Allah memburukkan perbuatannya.

Adapun Thalhah bin Ubaidillah, dalam pertempuran tersebut ia terkena oleh sebuah panah yang tidak diketahui siapa yang melepaskannya, dan berhasil membunuhnya.

Ummul mukminin Aisyah maju ke depan di atas sekedupnya. Ia memberi Mushaf kepada Ka’ab bin Sur dan berkata, “Ajaklah mereka kepada Kitabullah!” ketika Ka’ab bin Sur pun maju ke depan dengan membawa Mushaf dan mengajak mereka kepadanya, ia disambut oleh bagian depan pasukan Kufah. Pada saat yang bersamaan Abdullah bin saba’ dan para pengikutnya berada di depan pasukan membunuh siapa saja dari pasukan Bashrah, pasukan unta, yang dapat mereka bunuh. Mereka tidak membiarkan seorang pun. Ketika mereka melihat Ka’ab bin Sur mengangkat Mushaf mereka menghujani nya dengan anak panah hingga tewas!! Kemudian anak panah mulai menghujani sekedup ummul mukminin Aisyah, dan ia berteriak, “Allah! Allah! Wahai anak-anakku, ingatlah Hari Hisab!” Ia mengangkat tangannya dan melaknat para pembunuh Utsman. Orang-orang pun bergemuruh bersamanya dalam doa, hingga gemuruh tersebut sampai ke telinga Ali, ia berkata, “Suara apa itu?” Mereka berkata, “Ummul mukmiin melaknat para pembunh Utsman dan pendukungnya! Ali berkata, “Ya Allah laknatlah para pembunuh Utsman!!” Mereka terus menghujani sekedup Aisyah dengan anak panah sehingga membentuk sekedup itu tak ubahnya seperti seekor landak (yaknin anak panah yang menancap padanya seperti duri pada tubuh landak) Aisyah terus memotivasi pasukannya untuk mempertahankan diri dan menghentikan serangan mereka. Mereka terus mendesak hingga medan pertempuran sampai ke tempat Ali bin Abi Thalib, Peperangan terus berlanjut, kadang kala pasukan Bashrah di atas angin dan terkadang pasukan Kufah berada di atas angin. Banyak sekali yang gugur dari kedua pasukan.

Perang semakin panas, dan empat puluh orang telah terbunuh dalam mempertahankan unta yang ditunggangi Aisyah. Sang khalifah yang berduka menyadari bahwa perang akan terus berlangsung, dan ummul mukminin akan tetap menjadi sasaran tembak para pemanah yang dengki selama untanya masih tegak berdiri dengan dilindungi oleh pasukannya yang bertempur di sekelilingnya. Maka ia berteriak, “Tebaslah unta itu, sungguh jika ia telah jatuh maka mereka akan tercerai berai.” Dan seseorang berhasil menebasnya dan menjatuhkannya. Ketika jatuh, unta tersebut mengeluarkan suara kesakitan yang melengking tinggi, dan pasukan yang berada di sekelilingnya dapat dikalahkan. Lalu sekedup Aisyah dibawa, dan bentuknya telah seperti landak karena dipenuhi anak panah!

Salah seorang penyeru ditugaskan Ali untuk mengumumkan, “Jangan kejar orang yang melarikan diri, jangan dibantai orang yang terluka dan jangan masuk ke dalam rumah-rumah.”

Kemudian Ali memerintahkan beberapa orang agar membawa sekedup ummul mukminin tersebut keluar dari tumpukan korban-korban yang bergelimpangan. Ali juga memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar supaya mendirikan kemah untuk Aisyah. Lalu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib datang menemui Aisyah seraya mengucapkan salam dan berkata, “Bagaimana kabarmu wahai Ibu?”, Aisyah menjawab, “Baik”, Ali berkata, “Semoga Allah mengampunimu.” Pada malam harinya Aisyah memasuki kota Bashrah, dan mereka yang terluka pun mengendap di antara korban yang bergelimpangan dan memasuki Bashrah. Ali Menshalatkan korban yang terbunuh dari kedua pasukan, mereka semua dimakamkan di sebuah kuburan yang besar. Dengan duka yang mendalam setelah berakhirnya hari yang menyedihkan tersebut, ia berkata, “Demi Allah aku berharap seandainya aku telah meninggal dua puluh tahun ini!!”, dan Aisyah pun mengucapkan hal yang sama.

5. Keberhasilan dari darah Utsman, Kisah Syahidnya, dan Sikap Ali terhadapnya

Setelah berbagai sikap mulia yang ditunjukkan Thalhah terhadao saudaranya khalifah yang penyabar Utsman, yang terlihat ketika ia mencela kaum pemberontak dari Bashrah yang datang untuk membai’at nya – dengan kebohongan – dan mengusir mereka, dan ia mengatakan dengan terang-terangan kepada mereka bahwasanya mereka terlaknat melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahualaihi wa Sallam, juga dukungannya untuk Utsman pada saat pengepungannya, lalu kedatangannya untuk mengadukan keprihatinannya atas apa yang sedang terjadi, dan perintahnya kepada anaknya sang mujahid dan ahli ibadah Muhammad bin Thalhah As-Sajjad untuk ikut melindungi Utsman, dan doanya yang mengutuk para pembunuh ketika mereka benar-benar melaksanakan perbuatan keji mereka, kami mengatakan, setelah semua ini ketika Thalhah menyaksikan Utsman terkapar syahid dan darahnya mengaliri mushaf yang dibacanya, ia merasa sangat terpukul. Pikirannya menjadi kosong, dan ia mencela dirinya sendiri karena tidak turun langsung melindungi Utsman, dan menebusnya dengan darahnya, menggunakan dirinya sebagai tameng sebagaimana yang dilakukannya terhadap Nabi Shallallahualaihi wa Sallam pada perang Uhud. Thalhah merasa bahwa ia telah menyia-nyiakan Utsman, ia menyesali hal itu dan berharap jika saja ia bisa mengorbankan dirinya pada tragedy yang menyedihkan tersebut hingga ia tidak akan disalahkan oleh hatinya sendiri. Ia adalah seorang pemberani yang tak pernah ragu mencampakkan dirinya ke dalam medan tempur, ia tak pernah takut menghadapi kematian, dan tak gentar terhadap banyaknya tusukan yang menghunjam di tubuhnya.

Karena itulah ketika acara pembai’atan untuk Ali telah selesai, ia segera bergerak bersama Zubair dan Aisyah serta orang-orang yang mengikuti mereka untuk membalas atas darah Utsman dan membunuh para pembunuhnya. Ia tidak pedulu lagi akan penderitaan, tak gentar terhadap kematian, walaupun itu semua harus mengorbankan darah dan mempertaruhkan nyawanya sekalipun.

Muhammad bin Sa’ad menuturkan dalam kitab Thabaqatnya, “Aku telah diberitahu orang orang yang mendengar Ismail bin Abu Khalid mengabarkan dari Hakim bin Jabir Al-Ahmasi bahwa ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah berkata pada perang Jamal, “Sesungguhnya kami telah bersikap lalai dalam urusan Utsman, maka hari ini tidak ada yang lebih baik selain mempertaruhkan darah kami untuknya. Ya Allah, hukumlah diriku untuk Utsman pada hari ini hingga engkau ridha.”

Sanad ini lemah, dan terlihat adanya kebodohan dari Syaikh Ibnu Sa’ad

Al-Hakim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Uqbah, ia berkata, “Aku telah mendengar Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi berkata, “Ketika Thalhah, Zubair, dan Aisyah keluar untuk menuntut darah UtsmanRadhiyallahu Anhum, di Dzatu Irqin mereka melihat siapa saja yang ada bersama mereka. Mereka mendapati Urwah bin Zubair dan Abu Balar bin Abdurrahman Al-Harits bin Hisyam terlalu lemah, maka mereka pun memulangkan mereka berdua. Ia berkata, “Aku melihat Thalhah, tempat yang paling disukainya adalah tempat yang sepi, dan saat itu ia membiarkan jenggotnya di atas dadanya, maka aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, aku telah melihatmu sebelumnya dan mengetahui bahwa tempat yang paling engkau senangi adalah yang sepi. Saat ini engkau membiarkan jenggot di atas dadamu, jika engkau tidak menyukai hal ini maka tinggalkanlah, tidak ada yang memaksamu melakukannya!” ia berkata, “Wahai Alqamah bin Waqqash janganlah menyalahkanku. Dulu kami adalah satu kesatuan dengan yang selain kami (yaitu Ali), dan saat ini kami telah menjadi dua gunung dari besi, yang satu menyerang yang lain. Namun dalam perkara Utsman tidak ada lagi yang dapat aku lakukan untuk menebusnya selain mempertaruhkan darahku untuk menuntut balas atas darahnya.” Aku berkata, “Kenapa engkau membawa Muhammad bin Thalhah sementara engkau memiliki putra-putra yang masih kecil?! Tinggalkan dia, jika terjadi sesuatu ia akan mengurus peninggalanmu.” Ia berkata, “Dia lebih mengetahuinya, aku tidak ingin mengusir seseorang yang mempunyai keinginan untuk melakukan ini.” Ia berkata, “Maka aku berbicara dengan Muhammad bin Thalhah di belakangnya, dan ia berkata, “Aku tidak ingin bertanya kepada orang-orang tentang ayahku!”

Adz-Dzahabi berkata, “Sanadnya Baik.”

Aku katakan, riwayat ini dan juga sebelumnya dapat dijelaskan dengan apa yang telah kami terangkan tentang sikap Thalhah dan harapannya untuk menjadikan diri dan nyawanya sebagai tebusan bagi Amirul Mukminin Utsman. Namun ketika ia menyaksikannya terbunuh dengan bermandikan darahnya yang suci, ia menyalahkan dirinya dengan sangat, dan berharap menghunus pedangnya daan memukulkannya ke leher para pembunuh Utsman tersebut. Namun apa yang bisa dilakukan jika Amirul Mukminin wajib ditaati dan ia telah memerintahkan mereka untuk tidak menumpahkan setetes darahpun karena dirinya?!

Adapun ucapan Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’, “Sebelumnya Thalhah bersikap tidak peduli ikut bersekongkol terhadap Utsman, ia melakukannya dengan ijtihad. Namun sikapnya berubah ketika ia menyaksikan terbunuhnya Utsman. Ia menyesal karena meninggalkannya dan tidak melindunginya, Radhiyallhua Anhuma!!”

Ini adalah sebuah kelalaian dan kesalahan, kata-kata yang tertolak tanpa sedikitpun keraguan. Dan semoga Allah mengampuni Adz-Dzahabi karena ini. Orang akan mengira bahwa seorang imam yang kritis merekayasa riwayat bohong seperti itu, yang menuduh shahabat melakukan persekongkolan terhadap Utsman, ini sama sekali tidak masuk akal dan tidak mungkin dilakukan oleh seorang shahabat apalagi tokoh besar seperti Thalhah dan Zubair. Apa yang telah kami sampaikan sebelumnya merupakan bukt yang nyata tentang kebersihan Thalhah, Zubair, Ali, Aisyah, dan yang lainnya dari darah Utsman yang syahid, atau bersekongkol terhadapnya, maupun bersikap tidak peduli. Cukuplah sebagai bukti bagimu bahwa Thalhah telah mengutus putranya untuk masuk ke dalam kobaran api fitnah demi membela Utsman. Apakah Thalhah akan melibatkan buah hatinya, kemudian ia bersekongkol menyerang Utsman sehingga bisa menyebabkan kematiannya dan kematian putranya, apakah ini masuk akal?!”

Ath-Thabari menuturkan sebuah riwayat yang menyebutkan Ali menuduh Thalhah dan Zubair terlibat dalam pembunuhan Utsman, dan itu merupakan riwayat yang sangat lemah melalui Al-Waqidi. Riwayat tersebut terbantahkan oleh kisah yang telah kami sebutkan dan juga tertolak oleh berbagai pembicaraan yang terjadi antara Ali dan kedua saudaranya Thalhah dan Zubair tentang para pembunuh tersebut. Juga sikap Ali selama perang Jamal dan kesedihannya ketika melihat Thalhah terkapar di medan perang, serta tangisannya untuknya, dan kebaikan yang ditunjukkannya kepada anak-anak Thalhah, sebagaimana yang akan kami sebutkan.

Diriwayatkan dari Abu Farwah, bahwasanya Ali bin Abu Thalib berkata, “Aku telah diperangi oleh lima orang : orang yang paling ditaati oleh manusia: Aisyah, orang yang paling berani : Zubair, orang yang paling pandai membuat makar: Thalhah, dan ia tidak pernah menjadi korban dalam sebuah makar sekali pun, orang yang paling pemurah: Ya’la bin Munayah, dan orang yang paling baik ibadahnya: Muhammad bin Thalhah, dia adalah orang yang tepuji sebelum kemudian tergelincir oleh ayahnya. Ya’la memberi satu orang sebanyak tiga puluh dinar, senjata, dan kuda untuk memerangiku.”

Ini adalah riwayat yang bathil dan lemah, jika di dalam sanadnya terdapat Ishaq maka ia adalah orang yang ditinggalkan riwayatnya, dan jika yang dimaksud saudaranya maka ia adalah orang yang tidak dikenal.

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Al-Isti’ab tanpa sanad, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari jalur Hasan bin Husain Al-Arani, dari Rifa’ah bin Iyas Adh-Dhabbi dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Pada perang Jamal kami bersama Ali, lalu ia mengirim pesan kepada Thalhah bin Ubaidillah untuk menemuinya, Thalhah pun mendatanginya. Maka Ali berkata, “Demi Allah, apakah engkau pernah mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang menjadikanku seorang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya?” Ia berkata, “Ya, aku telah mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu kenapa engkau memerangiku?” ia menjawab, “Aku tidak ingat hadits tersebut.” Ia berkata, “Dan Thalhah pun pergi.”

Ini adalah riwayat yang bathil dan lemah. Adz-Dzahabi berkata, “Hasan Al-Arani bukan seorang yang terpercaya.”

Ibnu Katsir menyebutkan dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah sebuah riwayat yang panjang, diantaranya, “Ali meminta untuk berbicara dengan Thalhah dan Zubair, mereka pun bertemu hingga leher-leher kuda mereka bersentuhan. Ali berkata, “Wahai Thalhah, engkau datang dengan membawa istri (Aisyah) Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk berperang, dan engkau menyembunyikan istrimu di rumah?!  Bukankah engkau telah membai’atku?! Ia berkata, “Aku telah membai’atmu dengan pedang di leherku.”

Ibnu Katsir melemahkan riwayat tersebut dan berkata, “riwayat ini tidak termasuk yang dihapal oleh sebagian besar perawi hadtis.”

Kami mengatakan, Di dalam matan riwayat ini terdapat banyak keanehan, di antaranya yang menyatakan bahwa Thalhah datang membawa Aisyah, sementara Aisyah tidak dipaksa oleh siapapun untuk keluar. Juga ucapan Thalhah, “Aku telah membai’atmu dengan pedang di leherku”, dan yang benar adalah bahwa ia telah membai’at Ali bersama Muhajirin dan Anshar dengan kemaunnya sendiri.

6. Siapa yang Membunuh Thalhah Dalam Perang

Banyak silang pendapat dalam hal ini. Ada yang meriwayatkan bahwa Marwan bin Al-Hakam melemparnya dengan panah dan membunuhnya, dan juga aa riwayat yang mengatakan bahwa ia terkena panah yang tidak diketahui dari mana asalnya dan membunuhnya, dan inilah yang benar walaupun riwayat pertama lebih mashur.

Riwayat yang menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah Marwan antara lain :

Yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Nafi’, ia berkata, “Marwan bersama Thalhah dengan kudanya, ;a;u ia melihat sebuah ruang pada baju Besi Thalhah dengan kudanya, lalu ia melihat sebuah ruang pada baju besi Thalhah, maka ia memanahnya dan berhasil membunuhnya.”

Dan juga diriwayatkan ole Ibnu Sa’ad dari Qais bin Abu Hazim berkata, “Pada perang Jamal, Marwan bin Hakam membidik Thalhah pada lututnya, maka darahpun mengalir dengar deras, jika mereka menahannya ia akan tertahan, dan jika mereka melepasnya ia akan kembali mengalir.”

Dari Auf Al-A’rabi, ia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasanya Marwan melempar Thalhah dengan panahnya pada perang Jamal saat ia sedang berada di samping Aisyah dan mengenai kakinya, lalu ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan memburu pembunuh Utsman lagi setelahmu.” Thalhah berkata kepada pembantunya, “Carikanlah tempat untukku.” Ia berkata, “Aku tidak kuasa.” Thalhah berkata, “Demi Allah ini adalah panah yang dikirim oleh Allah, ya Allah hukumlah diriku untuk Utsman hingga engkau ridha”, kemudian ia diletakkan di atas sebuah batu dan ia pun wafat.”

Al-Fasawi meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, “Bahwasanya Marwan melihat Thalhah di atas kudanya, maka ia berkata, “Inilah yang membantu pembunuhan Utsman” lalu ia memanahnya tepat di lututnya. Darah masih terus mengalir hingga ia wafat.”

Dalam riwayat Ath-Thabari dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata, “Aku melihat Marwan bin Ali-Hakam ketika ia memanah Thalhah pada hari itu dan mengenai tepat di lututnya. Darah masih terus mengalir ia wafat.”

Khalifah bin Khayyath meriwayatkan dalam kitab Tarikhnya dari Al-Jarud bin Sabrah, ia berkata, “Marwan melihat Thalhah bin Ubaidillah pada perang Jamal dan berkata, “Aku tidak akan menuntut balas lagi setelah hari ini.” Lalu ia memanahnya dan membunuhnya.”

Dan dalam riwayat lain dari Khalifah, “Marwan melepar Thalhah bin Ubaidillah dengan panah, lalu ia menoleh kepada Aban bin Utsman dan berkata, “Kami telah membebaskanmu dari sebagian pembunuh ayahmu.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, “Bahwasanya Marwan membidik Thalhah dengan panah pada saat orang-orang serdang sibuk dengan pertempuran. Ia mengenainya dan membunuhnya.”

Ibnu Abdil Barr telah menuturkan riwayat yang sangat panjang tentang kisah Marwan yang membunuh Thalhah dengan panahnya, ia berkata, “Para ulama terpercaya tidak berselisih pendapat bahwa Marwan yang telah membunuh Thalhah pada hari itu, dan saat itu berada dalam barisannya.”

Beginilah yang dikatakannya, dan akan kami sampaikan bantahan terhadapna.

Ibnu Hajar menuturkan beberapa riwayat dalam kitab Al-Ishabah, dan ia menshahihkan sebagiannya.

Kami mengatakan, Nafi’ dan Al-Jarud tidak menyaksikan peristiwa tersebutm begitu juga Ibnu Sirin, pada perang Jamal ia masih berusia tiga tahun. Sementara riwayat Auf Al-A’rabi juga lemah karena ia mengatakan “Telah sampai kepadaku”.

Sekarang tinggallah riwayat dari Qais bin Abu Hazim yang dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar serta yang lainnya.

Di dalam sebuah riwayat ia berkata, “Bahwasanya Marwan melihat Thalhah maka ia memanahnya”, dalam riwayat lain ia berkata “Aku melihat Marwan saat ia memanah Thalhah”, ini adalah kerancuan dalam periwayatan. Qais tidak menyaksikan perang Jamal hingga ia bisa berkata, “Aku melihat”, dan tidak ada seorang sejarawan pun yang menyebutkan bahwa ia ada bersama Ali bin Abi Thalib pada perang Nahrawan saat ia memerangi khawarij.

Dan kalaupun kita menerima keshahihan riwayat tersebut, maka sesungguhnya si matannya dan isi matan riwayat-riwayat lainnya terdapat kemungkaran dan keanehan yang sangat fatal.

Anda bisa melihat bahwa terkadang Marwan mengatakan, “Inilah yang telah membantu pembunuhan Utsman”, dan terkadang ia berkata, “Aku tidak akan menuntut dendamku setelah hari ini”, dan pada kesempatan lain ia berkata, “Aku tidak akan memburu pembunuh Utsman setelahmu selamanya”, lalu ia mengatakan kepada Aban bin Utsman, “Kami telah membebaskanmu dari sebagian pembunuh ayahmu.”

Sesungguhnya pembenaran riwayat-riwayat seperti ini berarti menegaskan tuduhan terhadap Thalhah bahwa ia telah membantu dalam pembunuhan Utsman, dan bahkan ia telah membantu dalam pembunuhan Utsman, dan bahkan dialah yang telah membunuhnya! Saya heran dengan Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar bagaimana mereka bisa menyatakan shahih riwayat ini sementara isi matannya mengandung kemungkaran yang begitu nyata, karena dengan menyatakan shahih riwayat-riwayat tersebut berarti mereka telah menguatkan isinya yang menyatakan bahwa Thalhah termasuk di antara pembunuh Utsman, dan tidak mungkin kedua imam yang kritis ini melakukan itu!

Selanjutnya, bagaimana mungkin Marwan menuduh Thalhah membunuh Utsman atau berkonspirasi melawannya sementara ia telah mengetahui sikapnya dengan baik dalam hal itu. Dan belum lama sebelum nya ia juga bahu membahu bersama putranya Muhammad As-Sajjad melindungi Utsman di rumahnya!!

Dan juga perlu diperhatikan bahwa Thalhah keluar bersama Zubair dan Aisyah dalam pasukan menuju Bashrah untuk mendapatkan bantuan dari penduduknya guna memerangi para pembunuh Utsman, maka bagaimana bisa Thalhah dituduh melakukan konspirasi untuk membunuh Utsman. Ia telah bergegas untuk menuntut balas atas darahnya, maka bagaimana mungkin ia menuntut qishash kepada orang lain kalau dirinya terlibat?! Dan Marwan sendiri berada dalam pasukan nya dan mengetahui dengan baik kejujurannya dalam usahanya tersebut.

Lalu ketika pertempuran tengah berkecamuk dan orang-orang saling melemparkan panah, siapa yang bisa menelusuri panah-panah tersebut untuk mengetahui ke tubuh siapa ia berlabuh? Dan dendam apa yang bisa membuat Marwan membunuh Thalhah sementara ia ada dalam pasukan yang sama dnegannya, dan mereka sama-sama keluar untuk menuntut balas atas darah Amirul Mukminin.

Dalam salah satu riwayat juga disebutkan bahwa Thalhah berada di atas kuda dan Marwan berada di sisi kiri pasukan. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan kesempatan untuk membidik Thalhah yang berada di samping Aisyah. Hal seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan dalam perang kecuali oleh orang yang berada di luar pertempuran dan membidik sasarannya dengan sekesama, sebagaimana yang dilakukan oleh Wahsyi ketika ia membunuh Hamzah paman Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Semua ini membuktikan lemahnya riwayat dan kabar yang menyatakan bahwa Marwan yang telah membunuh Thalhah.

Dan dengan menuduh Marwan maka berarti sekaligus membebaskan para pemberontak yang telah membunuh Utsman dari darah Thalhah dan para syuhada lainnya.

Karena itulah Al-Imam Al-Muhaqqiq Abu Bakar bin Al-Arabi berkata dalam kitabnya Al-Awashim min Al-Qawasim, “Dan telah diriwayatkan bahwasanya ketika Marwan melihat Thalhah dalam pertempuran, ia berkata, “Aku tidak akan menuntut balas setelah ini”, lalu ia memanahnya dan membunuhnya. Dan tidak ada yang mengetahui kebenaran ini selain Allah. Dan tidak ada kepastian dalam riwayatnya?!”

Dan Ka’ab bin Sur telah keluar dengan membawa mushaf Al-Qur’an di tangannya dan mengajak orang-orang untuk tidak menumpahkan darah mereka, namun ia terkena oleh sebuah panah yang tak diketahui asalnya, dan mungkin Thalhah juga demikian.”

Sementara Khalifah bin Khayyath yang menuturkan sebagian dari riwayat-riwayat ini memulai pembicaraannya tentang perang Jamal dengan berkata, “Perang Jamal terjadi di Bashrah di sebuah sudut di wilayah Bashrah pada hari Jumat tanggal sepuluh Jumadits Tsaniyah tahun tiga puluh enam. Di sanalah Thalhah terbunuh dalam pertempuran, ia terkena oleh panah yang tidak diketahui asalnya dan membunuhnya.”

Al-Imam Ibnu Katsir pun condong ke pendapat ini. Ia berkata, “Ada pun Thalhah, dalam pertempuran itu ia terkena oleh panah yang tidak diketahui asalnya. Ada yang mengatakan, Marwan bin Al-Hakam yang telah memanahnya, dan Allah lebih mengetahui.”

Dalam Bagian lain ia berkata, “Ketika ia berada dalam perang Jamal, ia terkena oleh sebuah panah yang tidak diketahui asalnya dan mengenai lututnya, dan dikatakan, mengenai lehernya, dan yang pertama lebih masyhur. Dikatakan, “Sesungguhnya yang telah memanahnya adalah Marwan bin Al-Hakam,” dan telah dikatakan juga, bahwa sesungguhnya yang memanah nya adalah orang lain, dan menurutku ini lebih dekat kepada kebenaran, walaupun riwayat yang pertama lebih masyhur.”

Dan ini dikuatkan oleh apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Muhammad Al-Anshari, dari ayahnya berkata, “Pada perang Jamal seorang laki-laki datang dan berkata, “Izinkanlah pembunuh Thalhah untuk masuk.” Ia berkata, “Maka aku mendengar Ali berkata, “Sampaikanlah kepadanya kabar gembira berupa neraka.”

Riwayat ini sangat jelas menyatakan bahwa ia bukanlah Marwan. Orang seperti Marwan tidak mungkin tidak dikenal, dan ia telah dikenal oleh semua orang. Jika ia adalah Marwan, maka tidak akan dikatakan “Seorang laki-laki”, namun pasti akan disebutkan namanya! Dan kemudian tidak seorangpun yang mengatakan bahwa Marwan pernah menemui Ali pada hari terjadinya perang Jamal, ataupun sebelum dan sesudahnya.

Maka seolah laki-laki itu berada di dalam pasukan Ali, dan dia menyangka bahwa dengan membunuh Thalhah ia telah mendekatkan dirinya kepada Ali, maka ia pun menemuinya untuk memberitahunya, namun Ali justru membentaknya dengan kata-kata yang mengagetkan tersebut.

Dan ini menguatkan apa yang telah kami tegaskan.

7. Kesedihan Ali atas Thalhah dan putranya Muhammad, serta Penghormatannya kepada anak-anak Thalhah

Setelah perang usai, Ali berjalan mengitari para korban yang tergeletak di medan tempur. Ia mendoakan rahmat Allah bagi orang-orang shalih yang dikenalnya, dia juga menshalatkan korban dari kedua belah pihak, dan ia berharap telah wafat dua puluh tahun sebelum hari itu hingga tidak perlu menyaksikan tumpahnya darah kaum muslimin.

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Bakrah, bahwasanya Ali Radhiyallahu Anhu ketika melihat korban yang tewas dan kepala-kelapa yang terpisah pada perang Jamal berkata, “Wahai Hasan, kebaikan apa yang diharapkan setelah ini?! Ia berkata, “Aku telah melarangmu dari hal ini sebelum engkau memasukinya.”

Amirul Mukminin Ali sangat terpukul ketika melihat Thalhah dan putranya Muhammad As-Sajjad tewas, dan itu sangat berat baginya. Ia hanya bisa mengadukan kedudukannya kepada Allah, tangis tak henti hentinya mengalir dari kedua matanya, lalu ia memberikan kabar gembira berupa neraka kepada pembunuh Thalhah.

Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi berkata, “Ali melihat Thalhah bin Ubaidillah tergeletak di salah satu lembah, maka ia turun dan mengusap debu dari wajahnya, lalu ia berkata, “Sungguh berat bagiku wahai Abu Muhammad melihatmu tergeletak di lembah ini dan di bawah bintang-bintang langit!” Kemudian ia berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kepedihan dan kesedihan yang berkecamuk di dalam jiwaku.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir, dari Thalhah bin Musharrif, bahwasanya Ali sampai di tempat Thalhah setelah ia terbunuh, maka ia turun dari tunggangannya dan mendudukkan nya. Ia mengusap debu dari wajahnya dan jenggotnya, dengan mendoakan rahmat Allah untuknya, dan ia berkata, “Andai saja aku telah meninggal dua puluh tahun sebelum terjadinya hari ini.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ath-Thabari dalam tafsirnya dan juga Al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Abu Habibah pembantu Thalhah berkata, “Aku masuk menemui Ali bersama Imran bin Thalhah setelah selesai dari perang Jamal, ia berkata, “Maka Ali menyambutnya dan mendekatkannya kepadanya, seraya berkata, “Sungguh aku berharap Allah menjadikanku dan ayahmu ke dalam golongan orang-orang yang dikatakan Allah, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipandipan (QS. Al-Hijr [15]:47).” Lalu ia berkata, “Wahai putra saudaraku, bagaimanakah kabar fulanah, dan bagaimana fulanah?” Ia menyakan tentang ibu-ibu dari anak-anak ayahnya. Kemudian ia berkata, “Kami tidak mengambil tanah kalian pada tahun ini melainkan karena takut orang-orang akan merampasnya. Wahai fulan, pergilah dengannya menemui Ibnu Qarzhah, suruh dia untuk menyerahkan penghasilan tanahnya selama tahun-tahun belakangan ini, dan agar ia mengembalikan tanahnya” Ia berkata, maka berbicaralah dua orang yang duduk di salah satu sudut, salah satunya adalah Al-Harits bin Al-A’war, “Allah jauh lebih adil dari itu, kalian membunuhnya kemarin dan tiba-tiba kemudian menjadi saudara dan duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan di surga?! Maka Ali berkata, “Pergilah kalian ke bumi Allah yang paling jauh dan paling liar, siapa lagi yang dimaksud kalau bukan aku dan Thalhah?! Wahai putra saudaraku, jika engkau membutuhkan sesuatu datanglah kepada kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang satunya lagi adalah Ibnu Al-Kawwa’, Ali mendekatinya dan memukulnya dan berkata, “Apakah engkau dan teman-temanmu mengingkari ini?!”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Hamidah Ali bin Abdullah Ath-Tha’ini berkata, “Ketika Ali sampai di Kufah, ia mengirim pesan kepada  dua putra Thalhah dan berkata, “Wahai dua putra saudaraku, kembalilah ke tanah kalian dan ambillah kembali, sesungguhnya aku telah menyitanya agar orang-orang tidak merampasnya, sungguh aku berharap Allah menjadikanku dan ayahmu ke dalam golongan orang-orang yang dikatakan Allah, “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS. Al-Hijr [15]:47)” Maka Al-Harits bin Al-A’war Al-Hamdani berkata, “Allah jauh lebih adil dari itu.” Maka Ali menarik bajunya dan berkata, “Lalu siapa lagi? Semoga engkau celaka.” Ali mengucapkannya dua kali.”

Beginilah akhlak para shahabat Radhiyallahu Anhum, Dan inilah sikap yang ditunjukkan imam besar khalifah yang diberi petunjuk Ali bin Abi Thalib pada saat berkobarnya fitnah tersebut. Dan inilah sikap yang ditunjukkan imam besar khalifah yang diberi petunjuk Ali bin Abi Thalib pada saat berkobarnya fitnah tersebut. Ia tidak melanggar akhlak kenabian yang ia dapatkan langsung dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam dan dari wahyu yang terpercaya. Ia tidak ragu untuk menyatakan bahwa pasukan Jamal yang keluar dari barisannya, yang terdiri dari para shahabat dan orang-orang mukmin yang shalih, adalah orang-orang mukmin yang terpilih, dan ahli-ahli ibadah yang bersih, orang-orang yang jujur, tidak ada yang membuat mereka keluar berperang selain keinginan untuk perdamaian dan perbaikan serta memerangi orang-orang yang zhalim. Dalam hal ini mereka adalah orang-orang yang mujtahid, di mana yang salah akan mendapatkan satu pahala dan yang benar mendapatkan dua pahala.

Dan ketika penduduk Kufah bergabung dengannya, ia berdiri di hadapan pasukan yang besar tersebut menyampaikan khutbahnya dan menerangkan kepada mereka bahwa tujuannya adalah perdamaian, dan bahwasanya pasukan Thalhah, Zubair dan ummul mukminin Aisyah adalah saudara-saudara mereka. Ia berkata.

“Aku telah mengajak kalian untuk menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Nashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi mereka dengan kelembutan, dan kita biarkan mereka hingga mereka memulai menyerang kita secara zhalim. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan Insya Allah, dan tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah.”

Ketika ia ditanya tentang pasukan Jamal, ia berkata, “Mereka adalah saudara-saudara kami yang berbuat zhalim kepada kami, maka kami perangi mereka, namun mereka telah kembali, dan kami telah menerima mereka.”

G. Kepergiannya dan Harta Warisannya

Thalhah berpulang setelah menorehkan di dalam buku catatan kehidupannya, sejak remajanya hingga detik akhir dari hidupnya, sifat-sifat terbaik, dan mengisinya dengan berbagai perbuatan yang mulia. Baris pertama dari catatan tersebut adalah kedudukannya sebagai salah seorang dari kelompok yang paling pertama masuk Islam. Dengan demikian ia telah menceburkan dirinya ke dalam kobaran permusuhan antar akidah ketuhanan dengan akidah kaum Quraisy yang musyrik, sejak awal sebelum masuknya NabiShallallahualaihi wa Sallam ke rumah Al-Arqam. Selama itu ia menanggung banyak siksaan dan penderiaan yang tidak akan bisa ditanggung kecuali oleh orang-orang dengan tekad yang kuat. Ia menutup catatan kehidupannya dalam medan perang, dan kalimat terakhir yang mengisi baris terakhir itu adalah kata syahid. Adapun di antara baris pertama dan terakhir, terbentang begitu banyak halaman yang berisi berbagai keutamaan, kelebihan, dan kontribusinya yang terpuji. Itu semua terimplementasikan dalam bentuk jihad di jalan Allah, berdakwah, ibadah, sikap zuhud, kemurahan hati, dan kedermawanan yang penuh keikhlasan.

Thalhah menjalani hidupnya dengan menunggu-nunggu kabar gembira dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bahwa dia adalah “Seorang syahid yang berjalan di muka bumi”, kesyahidan telah menunggunya, dan ia pasti akan mendapatkannya dan ia juga akan didapatkan oleh kesyahidan itu sendiri, sebagai bukti dari kebenaran kata-kata Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Thalhah keluar bersama saudara-saudaranya untuk perdamaian, menciptakan perdamaian dan menuntut qishash atas para pembunuh Utsman. Ia terjun dalam perang Jamal, dan ia terkena oleh panah dari seorang yang fasik, dan disanalah akhir dari perjalanannya. Dan ketetapan Allah jualah yang pasti akan berlaku.

1. Kelahirannya

Ishaq bin Yahya bin Thalhah meriwayatkan dari Musa bin Thalhah berkata, “Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah, dilahirkan pada tahun yang sama.”

Zubair masuk Islam saat usianya enam belas tahun, Sa’ad masuk Islam saat usianya tujuh belas tahun, dan mereka berdua masuk Islam bersama Thalhah pada hari-hari pertama dari permulaan dakwah, sehingga usia Thalhah tentunya sama dengan usia mereka. Jadi bisa dikatakan bahwa ia lahir enam belas tahun sebelum Nabi diutus, yaitu sekitar tahun 28 sebelum hijrah.

2. Wafatnya

Dikatakan oleh Ibnu Sa’ad, Khalifah bin Khayyath dan yang lainnya, “Thalhah terbunuh pada perang Jamal, pada hari Kamis tanggal sepuluh Jumadits Tsaniyah tahun tiga puluh enam. Dan pada saat terbunuh ia telah berusia enam puluh empat tahun.”

3. Usianya

Banyak riwayat yang menyebutkan tentang usia Thalhah, dan yang terbanyak adalah ia wafat pada usia enam puluh empat tahun. Inilah riwayat yang paling mendekati kebenaran, dan ini sesuai dengan riwayat-riwayat yang menerangkan tentang tahun kelahiran dan wafatnya.

4. Tempat pemakamannya dan Pemindahannya

Ketika Thalhah wafat, orang-orang menguburkannya di tepi Kalla’.

Khalla’ adalah tempat dimana kapal-kapal berlabuh, yaitu tepian sungai-sungai, dan yang dikenal dengan nama dermaga.

Sa’id bin Amir Adh-Dhuba’I meriwayatkan dari Al-Mutsanna bin Sa’id berkata, “Seseorang mendatangi Aisyah binti Thalhah dan berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Thalhah dan ia berkata, “Katakanlah kepada Aisyah agar ia memindahkanku dari tempat ini, sesungguhnya rembesan lumpurnya menggangguku.” Maka Aisyah segera berangkat dengan para pembantunya, mereka membuatkan tempat baru untuknya, dan kemudian mengeluarkannya. Ia berkata, “Tidak ada yang berubah darinya selain beberapa helai rambut dari salah satu sisi jenggotnya, atau ia mengatakan, “Kepalanya.” Dan itu terjadi setelah lebih dari tiga puluh tahun!”

Dalam riwayat lain, “Sebagian keluarganya melihatnya dalam mimpi dan ia berkata, “Bebaskanlah aku dari air ini, sungguh aku telah tenggelam.” Maka mereka mengali kuburannya yang hijau dengan tanaman, mereka mengeringkan airnya dan kemudian mengeluarkannya. Dan ternyata hanya bagian jenggot dan wajahnya yang menghadap tanah yang telah dimakan oleh tanah. Lalu mereka membeli sebagian tanah milik Abu Bakrah dan memakamkannya di sana.”

5. Harta Warisannya

Allah memberkahi Thalhah dalam hartanya sebagaimana Dia memberkahi untuknya. Allah melapangkan rezekinya, dan membukakan pintu-pintu rahmat untuknya. Harta-harta tercurah kepadanya sehingga mengalir di kedua tangannya, dan Allah memuliakannya dengan jiwa yang pemurah dan lapang, dan dengan tangan yang suka memberi. Ia sering memberi dalam jumlah yang banyak, dan menghibahkan dalam jumlah yang banyak pula. Ia menginfakkan ini dan itu, sehingga keberkahan semakin meliputi hartanya, dan Allah pun meninggalkan harta yang banyak setelahnya. Ia meninggalkan untuk keluarganya harta yang sangat banyak sehingga mereka bisa hidup dalam keadaan kaya dan terhormat. Malaikat telah mencatat di lembaran amalnya begitu banyak kebaikan dan pahala yang amat besar yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala semata.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, “Bahwasanya Mu’awiyah bertanya kepadanya, “Berapakah harta yang ditinggalkan oleh Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Dua juga dua ratus ribu dirham, dan dari emas sebanyak dua ratus ribu dinar.” Maka Mu’awiyah berkata, “Ia telah hidup dalam keadaan terpuji, dermawan, dan mulia, dan terbunuh sebagai orang yang dirindukan, semoga Allah merahmatinya.”

Dan mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah berkata, “Nilai harta yang ditinggalkan Thalhah dari property dan hartanya yang berupa perhiasan sebanyak tiga puluh juta dirham, dan ia meninggalkan ua sebanyak dua juta dua ratus ribu dirham dan dua ratus ribu dinar, dan sisanya adalah ‘Urudh (bentuk jamak, dan mufradnya adalah ‘Ardh, yaitu menyelisihi harga dirham dan dinar).

Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim meriwayatkan dari Su’da binti Auf Al-Murriyyah, istri Thalhah – ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah, semoga Allah merahmatinya, terbunuh dan saat itu di tangan bendaharanya terdapat dua juta dua ratus ribu dirham dan kemudian tanah serta propertinya ditaksir bernilai tiga puluh juta dirham.”

Ibnu Sa’ad menuturkan sebuah riwayat yang mencengangkan dari Amru bin Al-Ash, ia berkata, “Aku diberitahu bahwasanya Thalhah bin Ubaidillah meninggalkan seratus buhar, setiap buhar berisi tiga kwintal emas, dan aku mendengar bahwa buhar adalah kantung dari kulit sapi jantan.”

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/thalhah-bin-ubaidillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s