Zubair bin Awwam

A. Masa Kecil, Remaja dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, dan Penisbatannya

Zubair bin Awwam Khuwailid Az-Zubair bin Awwam bin Khuwalid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Makki Al-Madani.

Nasab nya bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pada kakeknya yang kelima yaitu Qushay, dengan jumlah kakek antara mereka adalah sama.

2. Julukannya

Ibunya menjulukinya Abu Thahir dengan mengambil julukan saudaranya Zubair bin Abdul Muthalib, sementara Zubair sendiri menjuluki dirinya Abu Abdullah di ambil dari anaknya Abdullah, inilah yang lebih dikenal, dan para shahabat pun memanggilnya dengan ini.

3. Gelarnya

Hawari/Pembela Rasulullah

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah melekatkan gelar ini kepadanya pada banyak kesempatan, dan dengan itu dia dikenal di kalangan shahabat bahkan sampai hari ini. Adapun Hawari adalah seorang penolong dan pembela yang sangat loyal terhadap apa yang dibelanya, yang tulus dan murni dari tendensi apapun. Dan Zubair adalah salah satu di antara orang yang paling loyal terhadap RasulullahShallallahualaihi wa Sallam.

4. Kemuliaan Nasab dan Keturunannya

Zubair mempunyai akar keturunan yang mulia dan garis keluarga yang terhormat. Dia berasal dari bangsawan Quraisy, tumbuh di kalangan Bani Manaf, kakeknya adalah Abdul Muththalib, ibunya Shafiyyah binti Abdul Muththalib, dan putra-putra Abdul Muththalib, ibunya Shafiyyah binti Abdul Muththalib, dan putra-putra Abdul Muththalib yang lain merupakan paman-pamannya. Maka dia mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Kemudian dia besar di kalangan Bani Asad, dan juga mempunyai hubungan kerabat melalui perkawinan dengan Bani Umayyah, Bani Taim, Bani Adi, dan lain-lain.

Dan disebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim serta Ibnu Asakir dari Abdullah bin Zubair berkata, “Zubair berkata kepadaku, “Tidak ada seorangpun yang menemani RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, kecuali aku telah menemani beliau seperti itu dan bahkan lebih baik. Anakku, engkau telah mengetahui bahwa ibumu Asma binti Abu Bakar adalah istriku, dan kau juga mengetahui bahwa Aisyah binti Abu Bakar adalah bibimu. Ibuku adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib dan Abu Thalib serta Abbas. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam adalah putra pamanku dan bibiku Khadijah binti Khuwailid adalah istrinya serta putrinya Fathimah adalah juga putri Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa ibunda Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallami adalah Aminah binti Wahab binti Abdi Manaf binti Zuhrah, dan Ibu dari Shafiyyah dan Hamzah adalah Halah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhra.”

5. Sifat dan Kepribadiannya

Kedudukan keluarganya yang terhormat serta kemuliaan nasab dan keturunannya didukung oleh tubuhnya yang tegap dan fisik yang sempurna, juga sosoknya yang berwibawa. Di adalah seorang yang tinggi, tegap dan kekar perawakannya. Mempunyai daging yang tipis, kulit yang coklat dan tubuh yang dipenuhi bulu. Jalannya cepat dan penuh percaya diri. Lembaran sejarah telah membuktikan keteguhannya dalam banyak peristiwa, dan ketangguhannya dalam menghadapi banyak musuh yang kuat dalam berbagai kancah pertempuran.

Putranya Urwah menggambarkan sosoknya sebagai berikut, “Zubair bin Awwam adalah seorang yang berperawakan tinggi, sehingga ketika menunggang binatangan tunggangan kaki akan menyentuh tanah, aku sering memegang rambut pundaknya dan dia berjalan dengan cepat dan pernuh percaya diri.”

Dan dalam riwayat lain Urwah berkata, “Seingatku, aku sering memegang rambut di bahunya ketika aku masih kecil dan aku bergelantungan dengan itu di punggungnya.”

Sebagian lagi menambahkan bahwasanya dia mempunyai daging yang sedikit, mempunyai jenggot dan jambang yang tipis, berkulit coklat, dan ini tidak berubah saat dia tua.

Kekuatan dan ketahanan tubuhnya dibuktikan ketika masa remajanya di Mekah dia melawan seorang laki-laki dewasa dan berhasil mematahkan tangannya, dan memukulnya dengan keras sehingga orang itu harus dibopong pulang kerumahnya.

Peristiwa itu diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Urwah bin Zubair yang berkata, “Ketika remaja di Mekah Zubair bertarung melawan seorang laki-laki dewasa dan mematahkan tangannya, serta memukulnya dengan sangat keras. Ketika laki-laki tersebut dibopong dan melewati Shafiyyah, ia bertanya :”Ada apa dengannya?” orang-orang itupun menjawab, “Dia telah melawan Zubair”

Haripun terus berlalu, tubuh remaja tersebut semakin kuat dan tekadnya jelas. Sikapnya tegas, dengan kepribadian yang mulia. Sehingga lengkaplah sosoknya dengan kedewasannya yang makin sempurna. Dia ambil bagian dalam banyak peristiwa dan kancah pertempuran dengan keberanian yang mencengangkan, dan keteguhan yang luarbiasa di saat-saat sulit. Tidak sedikitpun merasa gentar menghadapi musuh-musuh terbaik dan menghempaskan mereka semua di bawah hunusan pedangnya. Bahkan ketika kemudian dia mendekati usia enam puluh tahun, tekad tersebut tak pernah pudar dan kekuatannya pun seakan tak berkurang. Ketika dia menerima angerah syahid, istrinya Atikah bin Zaid mencela sikap pengecut Ibnu Jurmuz yang telah membunuhnya dengan lick dan berkata :

Begitulah shahabat yang mulia ini pada masa kecilnya, masa mudanya dan masa tuanya. Berperawakan tinggi, kekar, pemberani dan teguh dalam pendirian. Selalu ikut dalam berbagai peristiwa, berperang dalam banyak pertempuran, dan menyerbu kedalam kancah peperangan seolah satu pasukan tentara menyatu dalam dirinya seorang.

6. Masa Kecil

Merupakan sebuah keberuntungan bagi remaja ini yang tumbuh dalam keluarga yang terkenal dengan kemuliaan dan keberaniannya. Diakui kehormatan wanita-wanitanya dan tinggi kedudukan mereka. Kakek dari pihak ayahnya, Khuwailid terbunuh pada masa jahiliyah. Ayahnya Awwam terbunuh dalam perang Fijar yang terkenal saat Zubair masih bayi. Sehingga dia diasuh oleh ibunya Shafiyyah binti Abdul Muththalib, dan juga oleh pamannya Naufal bin Khuwailid.

Shafiyyah merupakan wanita terpandang dari Quraisy, dia adalah putri dari pemuka Mekah Abdul Muththalib, dan saudari dari Abu Thalib, Hamzah serta Abbas. Bibi dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, maka dia mempunyai kedudukan yang tinggi serta menjadi kebanggan para wanita. Seorang wanita yang cerdas, terhormat, mulia, pemberani dan teguh pendirian. Mempunyai watak yang keras, dalam jiwanya tersimpan cita-cita yang tinggi untuk membesarkan putranya menjadi seorang yang tangguh dan pemberani. Mendidiknya dalam nuansa kesatriaan dan keberanian, serta menghantarkannya menjadi seorang laki-laki yang berbudi luhur dan bertanggung jawab dengan melaksanakan tanggung jawab yang dipikulnya dengan sebaik-baiknya.

Sampai sekarangpun wanita masih menjadi kawah candradimuka tempat para pahlawan dilahirkan. Telah banyak yang telah kit abaca maupun yang kita saksikan nama-nama yang bersinar dalam perjalanan sejarah yang terdiri dari ulama-ulama dan laki-laki agung lainnya yang ditempa oleh kejeniusan wanita-wanita yang mempersembahkan kepada dunia model terhebat dari pendidikan yang benar serta tuntunan yang tiada duanya. Maka sejarahpun mencatat sepak terjang para laki-laki hebat tersebut, namun sayangnya melupakan ibu-ibu mereka, dan ini adalah sebuah kezhaliman sejarah!

Shafiyyah menginginkan putranya tumbuh mengikuti kemuliaan orang tua dan paman-pamannya, mewarisi keagungan mereka, dan mewarisi sifat-sifat terbaik mereka. Baik itu berupa akal yang cerdas, pemahaman yang baik, keberanian dan kesatriaan, sifat suka menolong, dan membela kehormatan keluarganya. Maka shafiyyah pun menuntun putranya untuk meniti tangga demi tangga yang dilalui para laki-laki sejati sejak ia masih remaja. Mendidiknya dengan budi pekerti yang baik sejak ia masih sangat muda. Menempanya dengan caranya yang keras, demi menyiapkannya mengarungi kehidupan. Dan untuk mempersiapkannya jika sewaktu-waktu dipanggil untuk berperang. Agar dia tak gentar untuk maju jika dibutuhkan oleh keadaan, dan mampu berfikir jernih dengan kecemerlangan akalnya ketika dihadapkan kepada kebenaran yang telah dicampur adukkan dengan kebatilan.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Urwah bin Zubair yang berkata, “Suatu ketika Shafiyyah memukul Zubair yang sudah yatim dengan keras, orang-orang berkata kepadanya, “Engkau telah membunuhnya, mematahkan hatinya, sungguh kau telah menghancurkan anak ini!” maka dia menjawab, “Aku memukulnya agar dia menjadi yang pintar dan bisa menghadapi pasukan musuh.”

Dan diriwayatkan oleh Mush’ab Az-Zubairi dalam kita Nasab Quraisy, dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah, “Suatu ketika shafiyyah memukul Zubair yang masih kecil, dan berlaku keras kepadanya, kau membencinya!” Shafiyyah menjawab, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa aku membencinya. Sungguh orang itu telah berdusta. Aku memukulnya agar dia menjadi anak yang pintar sehingga ia bisa menghadapi pasukan musuh.”

Naufal pun berkata, “Hai Bani Hasyim, cukupkanlah kami dari penyai kalian ini.”

7. Masuk Islam

Nikmat Allah atas remaja ini menjadi kian sempurna dengan menjadikannya di antara mereka yang terpilih untuk beriman kepada Allah dan Rasul nya Shallallahualaihi wa Sallam. Menolong dan membelanya serta mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya sejak terbitnya fajar risalah kenabian yang menerangi jazirah arab.

Sungguh amat besar karunia yang dilimpahkan Allah kepada Zubair, tumbuh dari keturunan terhormat dan mulia, di didik oleh Shafiyyah putri dari pemuka Quraisy dan pemimpin dari pelayan Ka’bah. Kemudian Allah meletakkannya di bawah keagungan nya dengan memberi nya hidayah untuk mengikut Rasul NyaShallallahualaihi wa Sallam dan memuliakannya dengan mengemban dakwah bersamanya.

Ibnu Ishaq dan yang lainnya menuturkan, “Bahwasanya ketika Abu Bakar masuk Islam, ia menunjukkan keislamannya. Dan menyeru kepada Allah dan Rasul Nya Shallallahualaihi wa Sallam. Abu Bakar adalah seorang yang akrab di kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Paling mengenal nasab Quraisy, memahami dengan baik seluk beluk kabilah itu, yang baik maupun yang jahat. Dia sering didatangi oleh orang-orang dari kaumnya untuk masalah yang berbeda-beda. Baik itu karena pengetahuannya, karena perdagangannya, ataupun juga karena keramahannya dalam bergaul. Maka ia pun mengajak merekaa yang ia percaya dari kaumnya kepada Islam, terdiri dari mereka yang sering bergaul dengannya, sehingga masuk Islamlah di tangannya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhaha bin Ubaidillah. Saat mereka menerima ajakannya, ia membawa mereka ke hadapan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk menyatakan keislaman dan kemudian shalat.”

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari bapaknya Urwah bin Zubair, “Zubair masuk Islam saat ia berumur 16 tahun.”

Dan riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr, dan dipilih oleh banyak imam, serta dikuatkan oleh ucapan Mughalthay dalam kitabnya Al-Isyarah ila Siratil Mushthafa, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berumur dua puluh empat tahun ketika Zubair dilahirkan.”

Maka ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dimuliakan dengan kenabian, Zubair berusia 16 tahun.

Juga ada riwayat yang menyatakan, bahwasanya ia masuk Islam pada umur 8 tahun, serta riwayat lain yang menyebutkan bahwa Zubair masuk Islam saat berusia 12 tahun.

Dan yang benar adalah riwayat yang pertama, karena Abu Bakar Radhiyallahu Anhu hanya menyeru pada pemuda dan laki-laki dewasa untuk lebih memperkuat dakwah serta mampu menanggung berbagai cobaan yang akan menimpa dikemudian hari. Sehinga apa yang bisa diperbuat oleh anak berusia 8 tahun dalam menghadapi keangkuhan Quraisy dan gelombang kemusyrikan yang begitu mendarah daging di Mekah?! Kemudian, majelis Abu Bakar hanya didatangi oleh laki-laki dewasa dan para pemuda, dan bukan anak-anak.

Ini dikuatkan lagi dengan fakta bahwa usia Zubair sama dengan usia Thalhah dan Sa’ad, dan mereka telah masuk Islam pada umur sekian.

Dan Ibu Zubair, Shafiyyah binti Abdul Muththalib pun tidak pernah melarang keinginan anaknya yang telah remaja, atau menghalang halanginya dari Islam dan menganut akidah tauhid. Karena dialah yang pertama kali mendidik anaknya budi pekerti yang baik dan kecerdasan. Serta mendidiknya menjadi seorang laki-laki yang berjiwa bebas dan meninggalkan taklid buta.

Dia juga senantiasa memperhatikan perilaku dan tindak tanduknya, serta melihat siapa teman-teman dan tempat berkumpulnya. Diapun melihat kematangan Zubair ketika, mendapati bahwa ia bersama teman-temannya seperti Thalhah, Sa’ad, dan Ibnu Auf bersama-sama mendatangi majelsi salah seorang pemuka Quraisy yaitu Abu Bakar yang terkenal dengan keutamaan-keutamaannya serta kebaikan budi perkertinya. Shafiyyah pun menjadi tenang dengan pergaulan putranya, dan percaya bahwa itu akan membawa kebaikan baginya.

Di samping itu dia juga telah lama memperhatikan dengan seksama dan mengenal secara dekat perjalanan hidup keponakannya Muhammad Al-Amin Shallallahualaihi wa Sallam. Shafiyyah termasuk di antara orang yang paling dekat dengannya, juga paling dekat rumahnya, serta paling dekat hubungan keluarganya. Lalu keutamaan dan kemuliaan pribadinya telah dikenal luas, apalagi olehnya sebagai bibi. Dari itu, dia yakin bahwa apa yang dirintis oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dalam memikul amanah dari langit, dan mengemban dakwah serta menyebarkannya, tentunya membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Untuk itu, Shafiyyah merestui langkah yang diambil oleh putranya, dan menyokongnya. Memberi dukungan atas jalan yang telah diambil nya untuk beriman kepada Allah dan Rasulnya Shallallahualaihi wa Sallam. Sehingga tidak ada satupun riwayat dalam perjalanan hidupnya atau dalam perjalanan hidup anaknya yang menunjukkan bahwa ia melarang atau menyakiti anaknya ketika ia memproklamirkan keimanannya pada hari-hari pertama dari kemunculan dakwah. Bahkan ia sendiri termasuk yang masuk Islam lebih dini, dan ikut berhijrah bersama putranya Zubair, serta banyak peristiwa yang diikutinya bersama RasulullahShallallahualaihi wa Sallam.

B. Bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

1. Bergabung dengan Kafilah Dakwah dan Menanggung Cobaan

Zubair dengan beberapa pemuda lain bersegera menyatakan keimanan kepada dakwah Islam. Mereka segera menjadi tameng yang kokoh baginya, dan tangan kanan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamdalam menyebarkannya. Melindungi dan menerima petunjuk dari agama yang baru lahir ini. Dan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mampu memberikan kesan yang mendalam kepada para pemuda dan pemudi yang telah siap untuk menerima kebenaran, dan mempunyai fitrah yang masih murni bagaikan cermin tanpa karat. Belum tercemarkan oleh kotornya tradisi animism yang diwarisi dari kehidupan jahiliyah dengan berbagai keburukannya. Beliau membimbing mereka dengan hikmah dan keyakinannya serta tekad yang kuat menuju kepada kebenaran, hidayah, cahaya, serta kehormatan dan kemuliaan.

Kelompok pertama inilah yang kemudian membentuk komunitas masyarakat muslim di Mekah, tepat di tengah kekacauan dan krisis yang melanda. Merekalah titik awal dakwah yang memancarkan cahayanya di pelosok Mekah yang kemudian menyinari seluruh penjuru jazirah arab.

Adapun mereka yang menyambut seruan Allah dan Rasul Nya Shallallahualaihi wa Sallam ini bukanlah berasal dari golongan fakir miskin, orang-orang lemah, para budak, ataupun kabilah-kabilah yang terpinggirkan di Mekah. Namun berasal dari suku Quraisy yang utama, putra-putra dari kabilah-kabilah terhormat Quraisy dan pemuda-pemuda pilihan mereka. Sedikit yang berasal dari kabilah kecil yang mempunyai perjanjian dengan Quraisy, dan sangat sedikit sekali yang berasal dari golongan fakir miskin dan orang-orang lemah.

Ini terbukti dari nama-nama mereka yang terukir dengan indah dalam kitab-kitab sejarah dan riwayat dari para penutur sirah nabawiyah, yang mencantumkannya dalam kitab-kitab karya mereka lengkap dengan nasab keturunan mereka secara detail dan mengagumkan.

Landasan dakwah pun menjadi kokoh. Dan orang-orang mulai berdatangan masuk ke dalam agama ini. Para pemuda dan pemudi, yang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, mengarungi jalannya di laut yang dipenuhi badai kemusyrikan, tanpa mempedulikan banyaknya cobaan dan penderitaan. Jiwa orang-orang yang beriman pun menyatu, menguatkan tekad mereka, memunculkan kepribadian yang menonjol dan tegar. Hal ini semakin menimbulkan kebencian yang mendalam dalam diri pemuka-pemuka Quraisy dan melecutkan mereka untuk semakin menumpahkan berbagai siksaan kepada anak-anak dan saudara-saudara yang beriman.

Adapun Zubair bisa selamat dari kekerasan seorang ayah dan larangannya untuk mengikuti agama yang baru tidak lebih karena ayahnya telah lama meninggal. Begitupula ia terbebas dari penolakan seorang ibu dan usaha menghalanginya dari memeluk Islam, karena ibunya pun masuk Islam tidak lama setelah keislamannya. Otomatis tidak ada halangan dari dalam keluarga kecilnya. Namun ia tidak dapat terhindar dari siksaan keluar besarnya yang terus mempertahankan agama nenek moyang mereka yang secara perlahan mulai sekarat.

Al-Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Suatu ketika pamannya memaksanya untuk duduk di atas sebuah tikar, lalu ia membakar tikar tersebut dan berkata, “Kembalilah kepada kekufuran,” dan Zubair menjawab, “Aku tidak akan kembali kafir selamanya!”

Ini merupakan sebuah metode penyiksaan gaya baru yang diciptakan oleh pamannya Zubair. Ia menyiksanya dengan kobaran api yang panas menyala, dan menyesakkan nafasnya dengan asap yang begitu tebal. Namun ia hanya mendapati kesabaran dan keteguhan hati Zubair, seakan panasnya api justru semakin memurnikannya dari kelemahan jiwa, untuk kemudian muncul bagikan emas murni. Zubair menganggap usaha pamannya sebagai satu hal yang kecil, dan ia membalasnya dengan mengatakan, “Aku tidak akan kufur selamanya!!”

Inilah buah pertama dari pendidikan unggul yang diberikan oleh Shafiyyah binti Abdul MuththalibRadhiyallahu Anha yang mengasuh Zubair sendiri mempunyai persangkaan yang baik terhadap dakwah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sejak pertama kali menginjakkan kakinya dengan tekad yang teguh dalam kafilah dakwah tersebut.

Ia beriman kepada Allah dan Rasulnya Shallallahualaihi wa Sallam murni dengan keinginannya sendiri dan dengan kesempurnaan akalnya. Ia mendengarkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam membaca Al-Qur’an dengan indah, yang menghidupkan jiwanya, membahagiakan ruhnya, dan menerangi akalnya. Cahaya iman pun menyinari hatinya. Akankah ia tinggalkan segala kenikmatan dan kemewahan yang justru mencampakkannya ke dalam gelapnya kemusyrikan, kebodohan animism, serta kepalsuan mereka yang mengaku berpegang kepada agama nenek moyang?! “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga ia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang Kafi terhadap yang mereka kerjakan” (QS.Al-An’am [6]:122).

Pemuda itu telah masuk ke dalam taman Islam. Tidak menjadi masalah apa yang akan dihadapinya di sepanjang pagar taman tersebut dari duri-duri yang akan menggores tubuhnya. Ia akan menghadapi itu semua dengan keteguhan tekad dan terus melangkah di jalan Allah dengan penuh keyakinan, takkan tergoyahkan.

2. Cinta dan Pembelaannya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tidak terlepas dari siksaan kaum Quraisy. Beliapun ikut menanggung hasil dari kebodohan kaumnya. Dan Allah melindungi beliau melalui pamannya, Abu Thalib yang setia membelanya.

Suatu ketika tersiar kabar bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah ditangkap dan disiksa. Berita inipun sampai ke telinga Zubair, yang begitu muda dan penuh keimanan. Seketika itu juga dia mengambil pedangnya dan segera menghunusnya untuk melindungi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamdan menghindarkannya dari siksaan apapun.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Dala’il An-Nubuwwah, juga Ibnu Asakir dan Ibnul Jauzi, sebuah riwayat yang akan memperjelas kisah tadi, dan menambah kekaguman akan pembelaan Zubair. Mereka meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab, “Sesungguhnya orang yang pertama kali menghunus pedangnya di jalan Allah adalah Zubair. Suatu hai ketika ia sedang tidur siang, ia mendengar suara yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah di bunuh. Zubair segera keluar dengan pedang terhunus. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bertemu dengannya dan bertanya, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Dia berkata, “Wahai Rasulullah , aku mendengar bahwa engkau telah dibunuh.” Rasul berkata, “Lalu apa yang akan kau lakukan?” di menjawab, “Demi Allah, sungguh aku akan membunuh seluruh penduduk Mekah.” Kemudian Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mendoakan kebaikan baginya.

Ibnu Al-Musayyab berkata, “Dan pada hari itu Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mendoakan kebaikan baginya, dan sungguh Allah tidak menyia-nyiakan doanya.”

Dan begitulah yang terjadi. Pedang yang telah dihunus oleh Zubair pada hari-hari pertama kemunculan dakwah, terus terhunus di jalan Allah, selalu ada setiap kali kesusahan menimpa RasulullahShallallahualaihi wa Sallam.

Doa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang penuh berkah ini telah memberikan jaminan baginya dalam menghadapi berbagai peristiwa di kemudian hari. Berbagai pertempuran dan peperangan yang diikutinya menjadi bukti atas kebenaran hal itu. Juga pertandingannya melawan banyak tokoh musuh serta kepahlawanannya dalam membela agama Allah dan melindungi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Ini terus berlanjut sampai akhirnya ia berjumpa dengan Tuhannya.

Dengan peristiwa yang mengagumkan tadi, Zubair terkenal sebagai orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah.

3. Persaudaraannya di Mekah dengan Abdullah bin Mas’ud

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sangat intens dalam menyatukan shahabat-shahabatnya. Memperkuat rasa cinta di antara mereka, serta memperkokoh rasa saling tolong menolong di antara sesame muslim. Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mempersaudarakan antara shahabatnya di Mekah masing-masing berdua. Persaudaraan ini bukanlah untuk memunculkan sesuatu yang belum ada di antara umat Islam, karena persaudaraan dalam Islam pada dasarnya telah ada di antara mereka. Namun ini adalah untuk lebih mempertegas dan supaya tingkat persaudaraan tersebut bisa mencapai level tertinggi yang berlandaskan kepada Islam.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitab Zadul Ma’ad “Rasulullah mempersaudarakan di antara sesama muhajirin sebelum mereka hijrah. Persaudaraan yang belandaskan kebenaran dan rasa saling mengasihi. Abu Bakar dipersaudarakan dengan Umar, Hamzah dengan Zaid bin Haritsah, Utsman dengan Abdurrahman bin Auf, dan Zubair dengan Abdullah bin Mas’ud.

Al-Hakim meriwayatkan dari Urwah, “Zubair masuk Islam dan turut hijrah ke Habasyah dua kali. Dan tidak pernah absen dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mempersaudarakannya dengan Abdullah bin Mas’ud.”

4. Hijrah ke Habasyah dan kembali ke Mekah

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menjadikan rumah Al-Arqam bin Abil Arqam sebagai basis dakwahnya. Dan menjadikannya titik pertemuan para shahabatnya yang telah lebih dahulu masuk Islam. Lalu berdatanglah kepadanya para pencari kebenaran, baik yang berasal dari putra-putra Quraisy ataupun yang bukan untuk membenarkan risalahnya dan mengikuti petunjuknya. Kaum Quraisy merasakan ini sebagai ancaman. Bumi Mekah pun bergoyang. Para pemuka kaum mulai menimpakan berbagai macam siksaan kepada putra-putra mereka yang mengikut Muhammad Shallallahualaihi wa Sallam. RasulullahShallallahualaihi wa Sallam pun merasakan beratnya penderitaan dan siksaan yang menimpa shahabat-shahabatnya. Namun mereka tetap sabar dalam keimanan mereka. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammengarahkan mereka untuk hijrah di jalan Allah dan pindah dari Mekah ke Habasyah. Beliau bersabda,“Seandainya kalian hijrah ke negeri Habasyah, niscaya di sana ada seorang raja yang tidak seorangpun dizhalimi di sisinya. Itu adalah tempat yang aman. Sampai nanti Allah membukakan jalan keluar atas apa yang kalian hadapi saat ini.”

Zubair termasuk di dalam rombongan pertama ini yang meninggalkan keluarga, rumah dan negerinya demi hijrah di jalan Allah Ta’ala.

Pertama kali mereka menuju Jeddah yang merupakan daerah pantai dari Mekkah, dari sana mereka menyebrang ke Habasyah.

Ibnu Ishaq dan para penulis kitab sejarah yang lain telah menuturkan nama-nama mereka yang hijrah ke Habasyah, mereka mengatakan, “Dari Bani Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay: Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad”

Hijrah ini bukanlah sekedar pelarian dari penindasan dan siksaan yang menimpa mereka. Itu merupakan sebuah hijrah dari satu kaum yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, namun mendapat siksaan yang tidak mampu ditanggung oleh siapapun. Di tambah lagi dengan tidak adanya carauntuk membela diri karena mereka belum diizinkan untuk melawan. Tapi mereka diperintahkan untuk bersabar dan memaafkan. Jadi hijrah tersebut sekaligus sebagi media untuk menyebarkan agama dan meluaskan dakwah dengan aman. Ini terlihat jelas dalam dialog yang dilakukan oleh Ja’far bin Abi Thalib atas nama seluruh kaum Muhajirin. Najasyi pun memberikan tempat tinggal dan menjamin keamanan mereka di sana.

Ketika kaum Muhajirin telah tenang dalam perlindungan Najasyi, suatu hari Najasyi harus menghadapi peperangan melawan pemberontak. Kaum Muhajirin merasa sedih dan khawatir kalau-kalau Najasyi kalah dan raja yang baru akan menzhalimi mereka atau mengusir mereka keluar dari negeri itu. Mereka pun berkeinginan untuk mengetahui hasil dari pertempuran. Dan mereka mengutus seseorang untuk mendapatkan berita dari medan tempur. Untuk itu mereka mengutus seorang laki-laki yang brilian dalam menghadapi situasi seperti itu, dialah Zubair bin Awwam.

Ibnu Ishaq dan Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ummu Salamah Radhiyallah Anha, “Ketika kami tinggal di Habasyah, kami mendapatkan tetangga yang sangat baik pada diri Najasyi. Kami merasa aman menjalankan agama, berbadah kepada Allah tanpa disakiti atau mendengar sesuatu yang tidak kami sukai. Demi Allah, sungguh demikianlah keadaan kami. Lalu tiba-tiba ada pemberontakan yang mengancam singgasana Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat kami merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Karena takut kalau-kalau pemberontak tersebut menang, dan memerintah tanpa memberikan kami hak sebagaimana yang diberikan oleh Najasyi.” Ummu Salamah melanjutkan, “Najasyi pun bergerak menuju musuhnya, dan mereka terpisahkan oleh lebarnya sungai Nil.” Dia berkata, “Para shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapakah yang bersedia untuk pergi melihat pertempuran dan kemudian kembali membawa berita?” Zubair bin Awwam menjawab, “Saya”, dan para shahabat yang lain berkata, “Kamu akan pergi.” Saat itu ia termasuk yang termuda di antara kami. Kemudian mereka meniupkan sebuah kantong dari kulit untukknya dan meletakkannya di bagian dadabnya, dan dengan itu ia berenang hingga sampai ke bagian lain dari sungai di mana pertempuran terjadi. Lalu ia melanjutkan perjalanan hingga berada di tengah mereka. Kami berdoa untuk kemenangan Najasyi atas musuhnya, dan berkuasa penuh di negerinya. Demi Allah sungguh kami mengharapkan itu sambil terus menunggu apa yang terjadi. Tiba-tiba Zubair muncul sambil berlari, dengan melambaikan bajunya dan berkata, “Bergembiralah, Najasyi telah menang, dan Allah telah menghancurkan musuhnya, dan menetapkan kekuasaan Najasyi di negerinya.” Demi Allah, aku tidak pernah melihat kami merasakan kegembiraan yang seperti itu sebelumnya. Kemudian Najasyi kembali dan Allah telah menghancurkan musuhnya, serta menetapkan kekuasan Najasyi di negerinya. Dan Habasyah menyatu di bawah kekuasaannya. Kami mendapat kesempatan yang sangat baik disampingnya, hingga kemudian kami kembali kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di Mekah.”

Dan begitulah Zubair mengambil resiko dan berenang di tengah sungai nil yang bagaikan laut, tidak mempedulikannya bahaya dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul. Ia hanya yakin bahwa apa yang dilakukan adalah di jalan Allah. Berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi dan pastinya akan berpengaruh kepada nasib saudara-saudaranya dan keberlangsungan dakwah di negeri itu. Ia pun menceburkan dirinya di sungai dan berenang di permukaannya. Bukankah ia putra dari Al-‘Awwam (yang pandai berenang)?! Ia pun sampai di tempat perkemahan tentara dan menghadiri pertemuan mereka. Dan ketika situasi dianggap telah menggembirakan bagi kaum muslimin ia segera kembali. Bahkan kegembiraannya telah mendahului kedatangannya dengan melambaikan bajunya dari jauh mengabarkan kabar gembira tersebut. Sungguh Zubair adalah seseorang penolong dan pemikul banyak harapan.

Namun keberadaannya di Habasyah tidak berlangsung lama, tersiar kabar bahwa penduduk Mekah telah masuk Islam. Sehingga Banyak yang termotivasi untuk kembali ke Mekah, termasuk Zubair. Keinginan untuk kembali ke kampong halamannya semakin menjadi-jadi dengan semakin besarnya rasa rindunya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan hasrat untuk selalu bersamanya. Untuk kembali mendapatkan pencerahan dari cahaya petunjuk dan ajarannya, serta menjadi penolong yang setia baginya. Zubair pun bergegas kembali ke kampong halamannya. Ketika Mekah semakin dekat, mereka baru mengetahui bahwa berita tentang masuk Islamnya penduduk Mekah adalah bojong. Sebagian tidak jadi memasuki Mekah, dan sebagian yang lain tetap memasukinya, termasuk Zubair.

5. Mendampingi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Hijrah ke Madinah

Zubair kembali ke Mekah dan segera mengambil tempat di barisan terdepan di antara para shahabat. Selalu mendampingi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan hamper tak pernah berpisah darinya. Senantiasa menghadiri majelisnya, dan hadir dalam kehidupannya sehari-hari. Ia persembahkan seluruh kemampuannya untuk Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang paling dekat dan penolong yang sangat loyal.

Dari Habasyah ia membawa sebilah tongkat dengan panjang kurang lebih setengah tombak pada umumnya. Ia menghadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang kemudian selalu dibawa pada saat Shalat.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam melaksanakan dua Shalat hari raya sebelum khutbah tanpa adzan atau iqamah. Dengan membawa tombak ditangannya. Tombak tersebut merupakan milik Zubair bin Awam yang dibawanya dari Habasyah, dan dihadiahkan kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.”

Imam Ath-Thabrani mengatakan pada kejadian-kejadian tahun 244H dari kita Tarikh nya, “Dan pada tahun itu Khalifah Al-Mutawakkil di hadiahi sebuah tongkat yang dulunya kepunyaan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan bernama tombak. Disebutkan bahwa itu adalah milik Najasyi yang dihadiahkan kepada Zubair bin Awwam, Zubair menghadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Digunakan oleh para muadzin, dan dibawa oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pada dua shalat hari raya. Digunakan sebagai penopang tubuh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di saat shalat. Maka Mutawakkil memerintahkan agar itu dibawa di depannya oleh seorang petugas.”

Dan di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya dari Abdullah bin Zubair, “Aku berkata, wahai ayah, riwayatkanlah hadits dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamkepadaku agar aku bisa meriwayatkan darimu. Karena putra-putra shahabat selalu meriwayatkan hadits dari ayah-ayah mereka. “Zubair berkata, “Wahai anakku, tidak ada yang menemani RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, kecuali aku telah menemani beliau seperti itu dan bahkan lebih baik.”

Dan dalam riwayat lain dari Abdullah bin Zubair dari ayahnya, “Aku tidak pernah berpisah dengannya –Shallallahualaihi wa Sallam – sejak aku masuk Islam.”

Maksudnya adalah dalam kondisinya secara umum. Karena ia telah berpisah dengan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam saat hijrah ke Habasyah, juga saat ia mencari nafkah dan melakukan urusan perniagaannya. Namun selama ia berada di Mekah atau Madinah, ia tidak melepaskan peluang untuk bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan tetap berada di dekatnya.

Ketika Allah mengizinkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk hijrah ke Madinah, dan didahului oleh banyak shahabat, kemudian menyusul bersama dengan shahabatnya Ash-Shiddiq, dalam perjalanan hijra terdapat sebuah momen yang indah antara Zubair dengannya.

Di sebuah hadits panjang tentang hijrah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin, Ibnu Syihab berkata, “Urwah bin Zubair mengabarkan kepadaku, bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bertemu dengan Zubair di sebuah kafilah kaum muslimin yang baru kembali berdagang dari negeri Syam. Maka Zubair memakaikan pakaian putih kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Abu Bakar.”

Setelah itu barulah Zubair keluar dari Mekah dan Menyusui Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam ke Madinah. Dan ia mengambil resiko dengan berhijrah sendirian tanpa teman.

Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad serta yang lainnya menuturkan bahwasanya Zubair ketika Hijrah dari Mekah ke Madinah singgah di rumah Al-Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julah di perkampungan Bani Jahjaba.

Di madinah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam membentuka sebuah masyarakat muslim dan mensinergikan seluruh unsur yang ada dalam satu kesatuan yang saling menguatkan. Kaum Muhajirin yang telah didik dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan untuk saling mengasihi, dan Anshar yang telah memberikan sumpah setia untuk menjadi pembela bagi dirinya dan dakwahnya. Beliau membentuk sebuah masyarakat muslim yang terdiri dari unsur-unsur yang memiliki kesatuan dalam akidah serta iman yang kokoh. Kemudian menghilangkan perbedaan yang ada dalam sarana hidup dan tempat tinggal dengan memperkuat hubungan persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Dengan begitu beliau telah mendirikan sebuah bangunan social yang kokoh dengan meleburnya seluruh unsur baik moril ataupun materil menjadi satu. Satu kesatuan dalam akidah, ibadah, hukum-hukum politik, sosial, ekonomi, akhlak, dan pendidikan yang bersumber dari wahyu ilahi dan hikmah kenabian.

Persaudaraan tersebut mencakup banyak di antara kaum Muhajiirin dan Anshar yang merupakan perinti bagi masyarakat Muslim. Terlihat dengan persaudaraan ini tingginya kecintaan kaum Anshar kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin dan kemuliaan hati mereka. Mereka mempersembahkan seluruh yang mereka punya dengan kemurahan hati dan penghormatan. Jiwa mereka begitu mulia dengan bantuan moril maupun materil dengan keikhlasan yang mengharukan.

Dan dibentuklah persaudaraan antara Muhajirin dengan Anshar yang masing-masing terdiri dari seorang Muhajir dan seorang Anshar. Ibnu Ishaq dan lainnya menuturkan nama-nama mereka, dengan menyebutkan seorang Muhajir lalu saudaranya dari golongan Anshar, mereka menyebutkan, “Dan Zubair bin Awwam dengan Salamah bin Salaamah bin Waqsy dari Bani Abdul Asyhal adalah bersaudara.”

Dan usia Zubair saat hijrah ke Madinah adalah sekitar dua puluh delapan tahun. Karena pada masa awal kenabian ia berusia enam belas tahun, sementara Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berada di Mekah selama tiga belas tahun, jadi usia Zubair pada tahun hijrah adalah dua puluh delapan tahun” (Ada sebuah riwaat di kitab Hilyah dan Tarikh Ibnu Asakir dan lainnya, bahwasanya ketika hijrah usia Zuabir adalah 18 tahun, dan itu adalah pendapat yang lemah.

6. Perhatian Nabi Shallallahualaihi wa Sallam kepada Zubair, Kecintaannya, dan Menjadikannya penulis Wahyu

Pada masyarakat yang baru terbentuk di Madinah Al-Munawwarah itu kemudian ayat-ayat Al-Qur’an turun secara kontinyu ke dalam hati Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dan syariat pun mulai mengatur kehidupan kaum muslimin. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menerapkannya dalam perbuatan an terus menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an. Menuntun pengikutnya untuk mencontoh dan mematrikan ajarannya kedalam jiwa-jiwa yang bersih suci tersebut. Menarik mereka yang ikut mengokohkan pondasi dakwah dan menyokongnya dalam menyampaikan risalah sejak kemunculannya. Menularkan kemuliaan akhlak dan keutamaan perilakunya kepada mereka. Dan Zubair bin Awwam adalah satu di antara golongan yang terpilih itu dan terdekat dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, bahwasanya ketika RasulullahShallallahualaihi wa Sallami membagi tanah di Madinah, beliau memberikan untuk Zubair satu bidang yang luas.

Di Madinah pun terdapat beberapa bidang tanah dan rumah-rumah yang dikenal dengan nama: Baqi’uz Zubair (Properti Zubair)

Dalam riwayat lain oleh Ibnu Sa’ad dari Urwah bin Zubair, dari Ibu nya Asma binti Abu Bakar, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan Zubair sebuah kebun kurma.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menghadiahkan kepada Zubair sebidang tanah dengan kebun kurma dari harta Bani Nadhir.” Dan di dalam riwayat lain Ibnu Sa’ad menanamkannya Al-Buwailah.

Lalu Ibnu sa’ad dan lainnya menyebutkan beberapa nama lain yang juga mendapat bagian dari RasulullahShallallahualaihi wa Sallam. Dan berkata, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menulis,“Bsmillahirrahmanirrahim, ini adalah surat dari Muhammad Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada Zubair bin Awwam bahwasanya aku menghadiahkannya tanah Suwariq, bagian atas dan bawahnya, dan tidak ada yang akan menuntutnya” lalu Ali menulisnya.”

Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammemberikan Zubair tanah sejauh lari kudanya di sebuah tempat bernama Tsurair. Ia pun mengendarai kudanya sampi berhenti, kemudian melemparkan cambuknya. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamberkata, “Berikan kepadanya sampai sejauh cambuk yang dilempar itu.”

Ketika Allah membukakan Khaibar bagi Rasul-Nya Shallallahualaihi wa Sallam, beliau memberikan Zubair sebidang tanah. Dalam kitab Al-Amwal” karangan Abu Ubaid diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan Zubair sebidang tanah di Khaibar, yang mempunyai pepohonan dan kurma.”

Harta berupa tanah-tanah inilah, dan hal-hal lainnya yang akan kami sebutkan kemudian yang menjadikan Zubair Radhiyallahu Anhu kaya dan mempunyai harta yang banyak.

Suatu ketika Zubair ditimpa sakit gatal di sekujur tubuhnya sehingga merasa sakit ketika mengenakan pakaian. Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengizinkannya untuk memakai sutera.

Ahmad dan Asy-Syakhani (Al-Bukhari dan Muslim) juga Ibnu Hibban dan lainnya meriwayatkan dari Qatadah, bahwasanya Anas bin Malik mengabarkan, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammemberikan rukhshah (keinginan) untuk Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam untuk memakai sutera dalam perjalanan, dikarenakan penyakit gatal yang mereka derita.

Dalam sebuah riwayat dari Anas, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam mengadukan kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam – penyakit gatal – maka beliau memberikan rukhshah bagi mereka untuk memakai sutera, dan aku melihat mereka memakainya dalam sebuah peperangan.”

Bahkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pernah menghadiahkan kepada Zubair pakaian dari sutera, sebagai imbalan, karena Zubair pernah memakaikannya pakaian putih pada saat hijrah. Dan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam selalu membalas kebaikan dengan yang lebih baik.

Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, “Aku memiliki dua sarung tangan dari sutera kepunyaan Zubair, hadiah dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan ia menggunakannya berperang.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan kepada Zubair sebuah pakaian pelapis dari sutera dan dihiasi dengan benang sutera, dan ia berperang dengan menggunakannya.”

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam terus menambah kedekatan Zubair kepadanya, dan mengandalkannya dalam menyampaikan risalah, dengan menjadikannya salah satu orang kepercayaannya dalam menulis Al-Qur’an. Juga menulis surat-surat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan menjadi saksi atas surat-surat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamuntuk ditulis. Ini adalah sebua keududukan yang sangat tinggi dan hanya didapatkan oleh shahabat-shahabat besar Radhiyallahu Anhum.

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, juga Mughalthay dalam Al-Isyarah ila Siratil Mushthafa, nama-nama shahabat yang menuliskan wahyu untuk Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, mereka menyebutkan: Khalifah yang empat, Zubair, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan lainnya.

Ibnu Sa’ad dan lain meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengirimkan surat-suratnya kepada para raja dan mengajak mereka kepada Islam. Kemudian mereka menyebutkan teks surat-surat tersebut dan nama-nama shahabat yang menulisnya, diantaranya :

“Bismillahirrahmanirahim . . . Ini adalah surat dari Muhammad, seorang Nabi, kepada Bani Muawiyah bin Jarwal Ath-Thaiyyin “Bagi siapa yang masuk Islam, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya, memberikan seperlima rampasan perang untuk Allah dan Rasul-Nya, memisahkan diri dari orang-orang musyrik, dan menyatakan keislamannya, maka ia mendapati kemanan dari Allah dan Rasul-Nya. Dengan keislamannya mereka berhak atas tanah dan air mereka, dan negeri mereka akan dilindungi. Di tulis oleh Zubair bin Awwam.”

Dan dalam surat perjanjian Nabi Shallallahualaihi wa Sallam dengan umat nasrani,“Bismillahirrahmanirrahim dan dengannya memohon pertolongan . . . surat perjanjian, yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada seluruh umat nasrani, ini adalah surat yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah kepada seluruh manusia, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menjamin risalah Allah kepada manusia supaya tidak ada alas an bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . . . Ditujukan kepada seluruh pemeluk agamanya dan semua yang mengikuti agama nasrani di timur dan di barat.”

Surat ini panjang dalam dua halaman, dan di akhir surat disebutkan, “Perjanjian yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada seluruh umat nasrani ini, dan kewajiban mentaati seluruh kentutan yang dibuat bagi mereka di dalamnya, disaksikan oleh mereka yang tercantum namanya sebagai berikut: Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar bin Abi Quhafah, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Abu Darda’, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam.” Kemudian menyebutkan nama-nama shahabat lainnya. Di akhir perjanjian disebutkan : “Perjanjian ini ditulis oleh Ali bin Abi Thalib di Masjid Nabi Shallallahualaihi wa Sallampada tanggal tiga Muharram tahun ketika Hijrah.

7. Peristiwa-peristiwa lain bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Di Mekah ataupun Madinah, Zunair menyaksikan turunnya ayat-ayat suci Al-Qur’an. Menerimanya langsung dari lisan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, mendengar langsung darinya, dan membuka hatinya menerima ayat-ayat tersebut. Seluruh jiwa dan raganya seolah berlomba untuk menerapkan apa yang didapatnya. Setiap kali ada ayat yang membutuhkan penjelasan dari makna dan maksud yang terkandung di dalamnya, ia tidak ragu sedikit pun untuk bertanya langsung kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dengan meniatkan itu sebagai ibadah. Ini menjadi pelajaran bagi mereka yang datang setelahnya dalam memahami maksud dari suat ayat, atau bertanya kepada orang yang lebih berilmu dalam hal yang sulit untuk dipahami.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi yang berkata, hasan shahih juga Al-Hakim dan dia menyatakan hadits shahih, dan dikuatkan oleh Adz-Dzhabi, dari Abdullah bin Zubair, dari Zubair bin Awwam,  dia berkata, “Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu (QS. Az-Zumar [39]: 30-31). Zubair berkata, “Duhai Rasulullah apakah akan diulang kembali apa yang terjadi di antara kami di dunia tentang dosa-dosa? Beliau menjawab, “Ya, semuanya akan diulang kepada klian, sehingga setiap orang mendapatkan haknya.”Zubair berkata, “Demi Allah, Sungguh Urusan itu sangat berat.”

Al-Qurthubi menukil dalam tafsirnya dari Abdullah bin Umar, bahwa ia berkata, “Kami hidup dalam suatu masa dan merasa bahwa ayat ini turun untuk kami dan ahli kita, “Kemudian sesunguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu (QS. Az-Zumar [39]: 31). Maka kami berkata, “Bagaimana mungkin kami berselisih sementara Nabi kami satu dan agama kami satu?! Hingga aku menyaksikan sebagian dari kami memukul wajah sebagian yang dengan pedang (ini terjadi pada perang jamal dan shiffin dan lainnya) maka aku sadar bahwa ayat itu diturunkan untuk kami.”

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi serta Ibnu Majah, dari Abdullah bin Zubair, bahwa ayahnya berkata, “Ketika turun ayat “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu) QS. At-Takatsur [102]:8). Ia berkata, “Wahai Rasulullah, nikmat yang mana yang akan ditanyakan? Bukankah hanya ada dua ‘hitam’ : kurma dan air? Rasulullah menjawab, “Bahkan kalaupun hanya itu, maka akan ditanyakan.”

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memimpin kaum muslimin dengan bijaksana dan penuh kasih sayang. Menarik hati mereka dengan keindahan budi pekertinya dan kepribadiannya yang mulia. Membimbing mereka menuju jalan kebenaran, memutuskan perkara di antara mereka dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Memunculkan potensi-potensi kebaikan pada diri mereka, mendidik dengan memberikan teladan dalam memaafkan dan saling memahami satu sama lain. Mengenyampingkan kesalahan-kesalahan kecil dan kekhilafan sehingga hati mereka bersih dari rasa dengki. Menyucikan lisan mereka dari perkataan keji dan sia-sia. Sungguh mereka adalah sebaik-baik pengikut bagi Rasul teragung teragung Shallallahualaihi wa Sallam.

Hanya saja lingkungan sosial mereka belum terlepas sepenuhnya dari beberapa noda yang terkadang mengotori kehidupan masyarakat di sana. Juga tidak lepas dari beberapa kekhilafan dan kesalahan. Bagaimanapun mereka adalah manusia, yang tidak mungkin lepas dari segala kesalahan. Dan tidak ada yang mengharap agar mereka semua menjadi Malaikat. Merupakan tugas dari wahyu dan Rasul untuk memperbaiki berbagai kesalahan tersebut. Serta menjadi pelajaran bagi keseluruhan kaum muslimin baik saat wahyu diturunkan maupun yang datang setelah mereka sampai hari kiamat kelak. Dan sudah menjadi tabiat para shahabat yang mulia, jika mereka diingatkan akan Allah, mereka segera sadar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dan apabila dihadapkan kepada kebenaran, mereka akan berpegang teguh kepadanya.

Dalam perjalanan hidup Zubair, terdapat satu kejadian yang dapat menjadi contoh akan sebuah kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masyarakat muslim saat itu. Yaitu ketika ia bertikai dengan salah seorang Anshar yang ikut dalam perang Badar dalam hal mengairi kebun kurma mereka. Perkara inipun diangkat kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan beliaupun memutuskannya di antara mereka. Beliau meminta Zubair untuk mundur dari sedikit haknya demi saudaranya yang dari golongan Anshar tersebut. Namun justru shahabat Anshar tersebut membuat sebuah kekeliruan yang fatal dan merasa kecewa dengan keputusan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Ia menganggap bahwa RasulullahShallallahualaihi wa Sallam telah berat sebelah dalam keputusannya. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sangat dan memerintahkan Zubair untuk kembali mengambil haknya secara penuh. Lalu beliau memaafkan shahabat Anshar tadi dan menyelamatkannya dari jurang yang digali setan untuknya. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tidak memaafkannya, beliaulah yang telah memaafkan Hathib bin Abi Baltha’ah yang mengirimkan surat secara rahasia kepada kaum Quraisy mengabarkan kepada meeka bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tengah mempersiapkan pasukan untuk menaklukkan Mekah. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memaafkannya karena ia ikut dalam perang Badar. Dan shahabat Anshar yang bertikai dengan Zubair pun jugai kut dalam perang Badar. Jatuh ke dalam maksiat adalah bagian dari tabiat manusia, dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamadalah seorang pendidik yang menenteramkan jiwa dan pembawa kepada kebaikan.

Ahmad dan enam perawi hadits (dikenan dengan As-Sttah (enam), yang terdiri dari enam imam perawi hadtis yang termasyhur, yaitu : Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’I, dan Imam Ibnu Majah) juga Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, Zubair bin Awwam menceritakan bahwasanya dia bersengketa dengan seorang laki-laki dari Anshar yang ikut dalam perang Badar bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, di hadapan Rasulullah dalam masalah Syiraj Al-Harrah, yang mereka gunakan sama-sama untuk mengairi kebun kurma mereka. Orang anshar tersebut berkata, “Bukalah air itu agar bisa mengalir” Namun Zubair tidak mengindahkannya. Maka Rasulullah berkata, “Alirkanlah air itu wahai Zubair, kemudian biarkan ia mengalir kepada tetanggamu.”Shahabat Anshar tersebut marah dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak bibimu?” wajah Rasulullah pun memerah dan berkata, “Alirkanlah air itu di kebunmu hai Zubair, kemudian tahan hingga kembali memenuhi dinding.” Di sini Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengembalikan kepada Zubair haknya. Dan sebelum itu Rasulullah memberikan solusi yang memberikan kebaikan bagi Zubair dan shahabat Anshar itu. Mengembalikan hak Zubair dengan hukum yang jelas. Zubair berkata, “Aku merasa bahwa ayat ini tidaklah diturunkan melainkan karena perkara itu. “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (QS. An-Nisa’ [4]:65).

C. Peperangannya Bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Perjalanan Jihadnya Pasca Wafatnya Rasulullah

1. Keberanian dan Kepahlawanannya dalan Jihad

Jika membicarakan peperangan-peperangan yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan jihad pada masa khulafaur rasyidin, serta peristiwa-peristiwa menentukan pada masa itu, dan penaklukan-penaklukan yang mereka lakukan, maka sosok Zubair akan terlihat pada garda terdepan dan namanya selalu muncul dalam deretan-deretan teratas dari daftar kepahlawanan.

Dan tema yang paling menonjol dalam perjalanan jihadnya bahwa ia adalah “Orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah.” Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah mendoakannya dan juga pedangnya, sehingga berkah doa tersebut terlihat jelas dalam hidupnya, sebagaimana terlihat dalam kilauan pedangnya dalam jihad dan kemenangan-kemenangan yang diraihnya.

Di Habasyah ia maju sendirian mengarungi sungai Nil untuk mengetahui apa yang terjadi antara Najasyi dengan pemberontak. Diikuti kemudian dengan berbagai kiprahnya di medan jihad yang terus menambah lembaran kepahlawanannya dalam menegakkan kalimat Allah. Tak sekalipun ia absen dalam peperangan-peperangan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, maupun dalam setiap pertempuran-pertempuran besar yang menentukan pada masa khulafaur rasyidin, ia termasuk di antara tiga shahabat yang paling berani yaknim Ali, Hamzah dan Zubair. Juga satu di antara empat shahabat yang paling keras yakni Umar, Ali, Zubairm dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia masuki kancah peperangan seolah satu pasukan menyatu dalam dirinya, bahkan Umar menganggapnya bagi laki-laki.

Keberanian ini diwarisi Zubair dari keluarganya. Kakek dan ayahnya tewas dalam medang perang. Lalu ibunya Shafiyyah menyiapkannya untuk menerima tanggung jawab dengan penuh keberanian dan tak gentar untuk maju memasuki kancah kehidupan dan pertempuran. Maka ia pun mendidiknya dengan didikan yang keras tanpa kelonggaran sedikitpun. Hal ini memberikan bekas yang nyata dalam kekuatan jiwa dan ketegarannya dalam menghadapi berbagai peperangan. Semua itu menjadi sempurna dengan didikan dan tuntunan dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Ia pun selalu berada pada barisan terdepan setiap kali medan tempur memanggilnya. Zubair memasuki medan tempur tanpa sedikitpun rasa takut atau ragu. Karena ia yakin bahwa jiwanya berada di tanganp penciptanya, yang bisa mengambilnya kapan saja, dan segala sesuatu telah mempunyai ajal yang ditentukan. Maka ia aselalu mendahului siapapun untuk maju ke medan jihad, seolah tali-tali kekang kuda telah begitu lentur di tangannya. Ia menikmati suasana pertempuran, seolah medan tempur itu sendiri telah tunduk kepadanya. Telinganya menikmati dentingan pedang, hatinya damai mengarungi lembah kematian. Tubuhnya telah terbiasa menerima lemparan panah, sayatan pedang dan tusukan tombak. Sungguh tepat apa yang digambarkan Hasan Radhiyallahu Anhu tentangnya, “Dia pejuang dan pahlawan yang menghunus pedangnya jika terjadi pertempuran.”

2. Peperangannya bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Zubair ambil bagian dalam perang Badar dan perang-perang lain setelahnya. Ikut dalam perang melawan orang-orang yang murtad, merasakan dahsyatnya pertempuran di Yarmuk, Nahawand, penaklukan Mesir dan lainnya. Sebagai hasilnya, di tubuhnya terdapat banyak sekali bekas-bekas tusukan tombak, panah, dan sayatan pedang. Ia berkata, “Tidak ada satupun bagian di tubuhku ini, kecuali telah mendapatkan luka bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.” Namun begitu, pukul-pukulan pedang yang diterimanya dalam begitu banyak pertempuran yang dahsyat, tak dapat memisahkan ruh dari badannya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Pedang Zubair berhiaskan perak.”

Dan telah diceritakan sebelumnya bahwa ia menghunus pedangnya di periode awal dakwah Mekah untuk membela Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mendoakan kebaikan untuknya dan pedangnya.

Al-Hakim menceritakan dalam kitab Al-Mustadrak dari Urwah bin Zubair, “Demi Allah tidaklah RasulullahShallallahualaihi wa Sallam keluar untuk satu peperangan atau suatu ekspedisi militer, melainkan aku ada bersamanya.”

Ibnu Sa’ad dan Ath-Thabrani beserta Abu Nu’aim meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Zubair masuk Islam saat berusia enam belas tahun, dan tidak pernah absen dalam peperangan yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam,”

Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan, “Bahwasanya Zubair dikenal dalam perang dengan memakai ikat kepala berwarna kuning.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, “Pada hari terjadinya perang jamal, Zubair berwasiat kepada anaknya Abdullah dan berkata, “Tidak ada satupun anggota tubuhku, kecuali telah terluka dalam perang bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, bahkan dibagian kemaluan. (Hadits ini dikategorikan Hasan oleh At-Tirmidzi, dan Shahih menurut Al-Albani).

3. Perang Badar

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam keluar bersama sebagian shahabatnya bukan dengan niat perang, karena beliau mengajak mereka untuk mencegat kafilah Abu Sufyan yang membawa harta Quraisy. Beliau berkata kepada para shahabatnya, “Itu adalah kafilah Quraisy keluarlah menghadang mereka, semoga Allah memudahkan kalian mendapatkannya.”

Sementara itu Abu Sufyan mengetahui keberangkatan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk mencegat kafilahnya, maka ia mengupah seseorang dan segera mengutusnya ke Mekah untuk mengerahkan Quraisy menyelamatkan harta benda mereka. Dan ia juga mebarkan mereka bahwasanya Muhammad Shallallahualaihi wa Sallam telah menawarkan kepada shahabat-shahabatnya harta yang dibawa oleh kafilahnya. Dan ia segera bergegas mengubah arah haluan kafilah nya dan mengambil jalan menyusuri pantai sehingga ia selamat.

Kaum Quraisy pun segera bergegas menyelamatkan harta benda mereka. Mereka segera mempersiapkan diri dengan dipimpin oleh pemuka-pemuka kabilahnya. Dan mereka segera keluar dan berjalan lengkap dengan segala peralatan dan perlengkapan perang. Dengan mengendarai unta, kuda, persenjataan yang lengkap, sekaligus tidak ketinggalan arak, alat-alat musik dan para penari wanita. Mereka bergerak dengan kesombongan dan rasa dengki yang begitu mendalam.
Kaum Quraisy melaju dengan seribu prajurit, dengan tujuh ratus unta dan dua ratus kuda. Sementara kaum muslimin hanya berjumlah tiga ratus lebih dengan tujuh puluh unta yang mereka kendarai secara bergiliran dan dua kuda, serta perbekalan dan perlengkapan yang sangat sedikit.

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan para shahabatnya yang tidak mempunyai persiapan untuk berperang mendengar tentang pasukan lengkap kaum musyrikin yang bergerak menujuh Madinah. Namun itu tidak sedikitpun menggoyahkan tekadnya, beliau tetap maju dan menerangkan situasi tersebut kepada para shahabatnya agar mereka tahu. Beliau mengajak mereka bermusyawarah, dan memberikan penekanan kepada golongan shahabat dari Anshar. Dan mendapatkan jawaban yang menyenangkan hatinya, ditambah lagi dengan sikap mereka yang membuktikan komitmen mereka untuk turut berperang.

Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad serta yang lainnya menceritakan bahwasanya pada perang Badar hanya terdapat dua kuda dalam pasukan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, salah satunay milik Zubair , yang dinamai Al-Ya’sub.

Al-Hakim menceritakan sebua riwayat yang dianggap shahih oleh Adz-Dzahabi, dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan “Perang pertama dalam Islam adalah perang Badar, kami hanya memiliki dua kuda, satu milik Zubair dan yang lain milik Miqdad.”

Untuk mengetahui kedudukan pasukan Quraisy, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abi Thalib, Zubair, dan Sa’ad bin Abi Waqqash dengan beberapa shahabat lain menuju sumur Badar.

Mereka berhasil menangkap dua mata-mata Quraisy dan membawa mereka ke hadapan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam. Mereka mendapatkan informasi bahwasanya pasukan Quraisy telah berada di balik sebuah bukit pasir yang berada di lembah Al-Qushwa, dan jumlah mereka berkisar antara Sembilan ratus sampai seribu prajurit. Dan dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Utbah dan Syaiban putra-putra Rabi’ah, Abu jahal, An-Nadhr bin Harits, Hakim bin Hizam, dan Naufal bin Khuwailid paman dari Zubair, serta tokoh-tokoh lainnya.

Kedua pasukan telah mengambil posisi berhadap-hadapan, dan kemudian dentingan pedang-pedang pun terdengar. Perang telah memperlihatkan taringnya, dan para pahlawan pun mengambil bagian untuk bertempur. Zubair menemukan apa yang telah ditunggunya sekian lama untuk membela RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dan mempertahankan kesucian agamanya.

At-Thabrani menceritakan dari Al-Bahi pembantu Mush’ab bin Zubair, “Pada perang Badar, bersama Rasululah Shallallahualaihi wa Sallam hanya ada dua penunggang kuda, Zubair di sayap kanan, dan Miqdad bin Aswad di sayap kiri.”

Zubair pun memakai sorban kuning yang dengan itu ia dikenal. Dan turun menyerbu ke kancah peperangan. Allah menolong tentaranya dengan tentara Malaikat dari langit, yang juga menggunakan sorban berwarna kuning.

Ibnu Sa’ad, Ath-Thabrani, Ibnu Asakir dan beberapa perawi lainnya meriwayatkan, dan Ibnu Hajar dalamAl-Ishabah menyatakan shahih riwayat dari Ibnu Sa’ad, dari Hisyam bin Urwah bin Zubairm dari ayahnya Urwah bercerita, “Pada perang Badar Zubair memakai sorban berwarna kuning, dan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya para Malaikat turun dengan tanda yang digunakan Zubair.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Urwah bin Zubair, “Jibril turun pada perang Badar dalam rupa Zubair, dengan melilitkan sorban berwarna kuning.”

Dan Al-Bukhari meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, bahwa ayahnya berkata, “Zubair bercerita, “Pada perang Badar aku bertemu dengan Ubaidah bin Sa’id bin Al-Ash yang menutup mukanya hingga hanya matanya yang terlihat. Ia dijuluki Abu Dzatil Karisy, dan ia pun berkata, “Akulah Abu Dzatil Karisy.” Maka aku memukulnya dengan tombak dan menusuk matanya hingga tewas.” Hisyam berkata, “Aku diberitahu bahwa Zubair berkata, “Sungguh aku telah menginjakan kakiku di atas tubuhnya, lalu aku berjalan dengan angkuh. Dan dengan susah payah aku mencabut tombak tersebut dari tubuhnya yang ternyata telah bengkok kedua sisinya” Urwah berkata, “Rasulullah meminta tombak tersebut kepada Zubair dan ia pun menyerahkannya. Sepeninggal beliau, Zubair mengambil kembali tombak itu. Abu Bakar kemudian meminta tombak itu dan Zubair pun memberikannya. Saat Abu Bakar meninggal, Umar memintanya dan Zubair pun mengabulkannya. Waktu Umar meninggal dunia tombak itu diambil oleh Zubair lalu diminta oleh Utsman dan Zubair pun menyerahkannya. Ketika Utsman terbunuh tombak itu jatuh ke tangan keluarga Ali dan Abdullah bin Zubair memintanya. Dan tombak itu tetap berada di tangannya sampai ia terbunuh.”

4. Perang Uhud

Dalam perang Uhud Zubair memainkan peran yang begitu besar, memperlihatkan sebuah bentuk kepahlawanan yang diwarnai oleh kokohnya iman dan akidah. Ia menunjukkan kepahlawanan yang diwarnai oleh kokohnya iman dan akidah. Ia menunjukkan keberanian dan sikap laki-laki sejati, serta ciri khas sebuah keimanan dan kekuatan jiwa yang ditopang oleh tubuh yang kuat. Ditambah dengan kemahiran dalam bertempur dan kesabaran dalam menghadapi pertarungan. Ia berhasil mengalahkan salah satu musuh terkuat, dan dengan itu mendapatkan sebuah lencana kehormatan ketika RasulullahShallallahualaihi wa Sallam menebusnya dengan kedua orang tuanya, sebagai sebuah pengakuan atas perannya yang begitu menentukan.

Ketika gendering perang mulai ditabuh, salah seorang pembawa panji kaum musyrikin menantang untuk berduel, yang disambut oleh Zubair dan menjadikannya seperti korban-korban sebelumnya.

Yunus bin Bukair meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, ia mengatakan “Thalhah bin Abi Thalhah Al-Abdari, pembawa panji pasukan musyrik dalam perang Uhud menantang untuk berduel. Banyak yang merasa jeri menghadapinya. Namun Zubair menyambut tantangan itu. Ia melompat ke atas punggung untanya dan menjatuhkannya ke tanah, kemudian menyembelihnya dengan pedangnya. Maka RasulullahShallallahualaihi wa Sallam memujinya dan berkata, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai seorang pembela, dan pembelaku adalah Zubair.” Dan beliau melanjutkan, “Kalau ia tidak menerima tantangannya, niscaya aku yang akan menantangnya, karena aku melihat ketakutan orang-orang kepadanya.”

Dan kemudian panji pasukan musyrik  dibawa secara bergantian, dan mereka pun terbunuh satu demi satu. Hingga kemudian diambil oleh Kilab bin Thalhah, maka Zubair menariknya dan lalu membunuhnya.

Ath-Thabari dan yang lainnya meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma, ia mengatakan “Seorang laki-laki dari pasukan musyrikin maju dengan menyandang pedangnya, ketika ia sampai di tempat yang agak tingi ia berkata, “Siapa yang berani berduel?” Maka RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata kepada seorang laki-laki dari pasukannya, “Apakah kamu mau menghadapinya?” Ia menjawab, “Kalau engkau menginginkannya wahai Rasulullah.” Sementara itu Zubair berusaha memperlihatkan dirinya. Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadanya, “Majulah wahai putra Shafiyyah.” Ia pun maju hingga berhadap-hadapan dengannya. Merekapun mulai bertarung dan saling merangkut satu sama lain hingga jatuh bergulingan. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata,“Siapa yang terlebih dahulu jatuh ke bawah, akan mati terbunuh.” Maka Nabi Shallallahualaihi wa Sallamiberdoa, dan diikuti oleh yang lain. Dan laki-laki kafir itupun terjatuh lebih dahulu, dan Zubair jatuh di atasnya, dan kemudian membunuhnya.”

Dalam riwayat dari Ibnu Asakir, “Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menyambutnya dan menciumnya, dan berkata, “Paman (dari pihak ayah,) menjadi tebusanmu.”

Ath-Thabari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia mengatakan “Rasullullah Shallallahualaihi wa Sallam menugaskan Zubair sebagai komandan pasukan berkuda, bersama dengan Miqdad bin Aswad Al-Kindi. Dan Rasulullah menyerahkan panji kepada Mush’ab bin Umair, dan Hamzah bin Abdul Muthalib memimpin pasukan Hussar (Al-Hussar yaitu pasukan yang tidak memakai baju besi). Khalid bin Walid maju memimpin pasukan berkuda kaum musyrikin, dan bersamanya ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Maka RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mengutus Zubair, dan berkata, “Songsonglah Khalid bin Walid dan tetaplah menghadangnya sampai aku mengizinkanmu.” Dan memerintahkan pasukan berkuda lain dari sisi yang lain dan berkata, “Janganlah meninggalkan posisi sampai aku mengizinkan.” Lalu Abu Sufyan datang dengan membawa Lata dan Uzza. Maka Rasulullah mengirimkan pesan kepada Zubair agar menyerang, maka ia menyerang Khalid bin Walid hingga Allah mengalahkannya dan pasukan yang bersamanya, dan ia berkata,“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (QS. Ali Imran [3]:152).”

Peperangan menjadi makin berat bagi kaum musyrikin, dan hawa kemenangan berpihak kepada kaum muslimin. Zubair dan Miqdad terus menekan kaum musyrikin hingga berhasil mengalahkan mereka. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam beserta para shahabatnya terus menyerang dan berhasil mengalahkan Abu Sufyan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dan Ahmad dalam Musnadnya dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu. Dan Ath-Thabrani dari Qatadah bin An-Nu’man Al-Anshari Al-Badri. Dan Ishaq bin Rahawaih dan Al-Bazzar dari Zubair, mereka menceritakan, “Pada perang Uhud RasulullahShallallahualaihi wa Sallam menawarkan sebuah pedang, orang-orangpun mengambilnya, kemudian melihat-lihat pedang tersebut dan berkeinginan untuk membawanya, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang bisa memberikannya haknya?” Orang-orang pun terdiam. Kemudian majulah beberapa orang, di antaranya Abu Bakar, Umar, Ali, dan Zubair. Namun Rasulullah menolak untuk menyerahkannya. Hingga akhirnya Abu Dujanah Simak bin Kharasyah berdiri dan bertanya, “Apakah haknya wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Menggunakannya untuk memukul musuh hingga ia jatuh, tidak memakainya untuk membunuh seorang muslim, dan tidak lari dengannya dari hadapan seorang musuh.” Abu Dujanah berkata, “Aku akan mengambilnya dan menunaikan haknya wahai Rasulullah,” Dan Rasulullah pun memberikannya.”

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Ishaq, dari Zubair bin Awwam, ia berkata, “Aku merasa penasaran ketika meminta pedang tersebut dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, namun beliau menolak dan memberikannya kepada Abu Dujanah. Demi Allah aku akan memperhatikan apa yang dilakukannya. Maka aku mengikutinya, lalu ia mengeluarkan sebuah ikat kepala merah dan memakainya di kepalanya. Orang-orang Anshar berterika, “Abu Dujanah telah mengeluarkan ikat kematian. Begitulah yang dikatakan ketika ia memakai ikat kepala tersebut.

Dan siapapun yang ia temui pasti dibunuhnya! Di kalangan tentara musyrik ada seorang laki-laki yang tidak membiarkan seorang pun dari kami terluka, dan pasti membunuhnya. Mereka berdua pun mulai saling mendekat satu sama lain, aku berdoa kepada Allah agar mempertemukan mereka. Mereka pun bertemu dan saling memukul. Laki-laki musryik tersebut memukul Abu Dujanah kemudian memukulnya dengan pedangnya dan berhasil membunuhnya. Kemudian aku melihatnya telah siap menebaskan pedang di atas kepala Hindun binti Utbah, namun kemudian ia menjauhkan pedangnya darinya. Zubair berkata, maka aku berkata, “Allah dan Rasulnya lebih mengetahui.”

Jadi Zubair merasa penasaran dengan penolakan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam ketika ia meminta pedang tersebut. Juga penolakan Rasulullah kepada tiga shahabat besar, yaitu abu bakar, Umar dan Ali. Ketika Zubair melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan ia yakin bahwa beliau tidak melakukan sesuatu kecuali hikmah, ia berkata, “Demi allah, aku akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Abu Dujanah.” Ia pun mengikutinya dan menyaksikan sebuah keberanian yang tidak takut akan kematian, dan keperkasaan dalam memporak-porandakan barisan kaum musyrikin. Zubair pun mengetahui rahasia pilihan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada Abu Dujanah sebagai pahlawan pembawa pedangnya. Saat itu ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Inilah sebuah sikap yang mencerminkan keberanian jiwa dan kejujuran yang nyata ketika ia mengungkapkan perasaannya, dan meceritakan kepada orang-orang apa yang terbersit dalam hatinya. Agar bisa menjadi contoh sebagai kepatuhan mutlak dalam menerima keputusan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, dan menerima hikmah serta kepemimpinan beliau.

Angin peperangan terus berhembus memihak kepada kaum muslimin. Pasukan musuh pun mulai lari meninggalkan medang perang. Dan peperangan seolah akan segera berakhir dengan kemenangan besar. Namun terjadi satu peristiwa yang segera membalikkan keadaan. Pada pemanah yang ditempatkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di bukit Ainan melanggar perintahnya. Mereka meninggalkan posisi mereka dan turun untuk ikut serta mengumpulkan rampasan perang. Maka situasi ini dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid yang segera menyerang balik, dan memporak-porandakan barisan kaum muslimin. Anginpun berubah, semuanya menjadi terbalik dan membakar dengan api kekalahan. Mereka menjadi tercerai-berai dan bertempur tanpa komando. Mereka menjadi panic dan putus asa, sehingga banyak yang berputar arah dan lari tanpa tujuan. Sementara itu Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bertahan di tempatnya, tanpa bergeser sedikitpun. Dan ikut bertahan bersamanya rombongan kecil dari shahabat yang berjumlah empat belas orang. Termasuk di antaranya Zubair, dan semuanya berkata kepada RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, “Wajahku sebagai jaminan bagi wajahmu, jiwaku sebagai jaminan bagi jiwamu, dan bagimu keselamatan tanpa akhir.”

Saat itu delapan orang shahabat berbai’at kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dengan bai’at kematian. Tiga dari golongan Muhajirin, yaitu Ali, Zubair, dan Thalhah. Dan lima dari golongan Anshar, yaitu Abu Dujanah, Al-Harits bin Ash-Shammah, Al-Hubbab bin Al-Mundzir, Ashim bin Tsabit, dan Shal bin Hunaif. Dan tidak seorangpun di antara mereka yang terbunuh saat itu!

Pada hari itu, Nabi Shallallahualaihi wa Sallam memuliakan Zubair sebagai penghargaan atas kepahlawanan dan ketegarannya, dan memberikannya sebuah lencana kehormatan yang kekal dengan menebusnya dengan ayah dan ibunya.

Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Zubair, bahwa Zubair bercerita, “Pada perang Uhud, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menebusku dengan kedua orang tuanya sekaligus.”

Sementara itu, di tanah tempat berlangsungnya pertempuran, jasad para syuhada terbujur. Di antaranya terdapat Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, juga paman Zubair dari pihak ibunya. Jasadnya telah terkoyak, satu hal yang mendatangkan kesedihan luar biasa bagi RasulullahShallallahualaihi wa Sallam. Lalu Shafiyyah menyaksikan jasad saudaranya dalam keadaan seperti itu. Shafiyyah datang dengan membawa dua helai kain untuk mengafaninya, ia pun merelakannya dengan kesabaran dan penuh keimanan.

Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dan juga Abu Ya’la, Al-Barraz dan yang lainnya, dari Hisyam bin Urwah, Urwah bercerita, “Ayahku Zubair menceritakan bahwasanya saat perang Uhud, Datanglah seorang wanita. Hingga ketika ia akan sampai ke tempat para syuhada, Zubair berkata, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tidak ingin wanita itu melihat keadaan mereka”, maka beliau berkata, “Wanita itu, wanita itu!” Zubair berkata, “Maka aku mengenalinya bahwa itu adalah ibuku, aku segera mendatanginya tepat sebelum ia sampai ke tempat para syuhada.” Zubair melanjutkan, “Ia memukul dadaku, dan di adalah seorang wanita yang keras” dan berkata, “Menjauhlah engkau dariku, maka engkau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah yang melarangmu”, diapun berhenti, dan mengeluarkan dua helai kain dan berkata, “Ini ada dua helai kain, aku membawanya untuk saudaraku Hamzah, aku telah mendengar kabar kematiannya, kafanilah ia dengannya.” Zubair berkata, “Kamipun membawa dua kain tersebut untuk mengafani Hamzah, namun disampingnya terdapat shahabat dari Anshar yang telah terbunuh dan juga diperlakukan sebagaimana jasad Hamzah. Ia berkata, “Kami pun merasa malu untuk mengafani Hamzah dengan dua helai kain, sementara shahabat Anshar tersebut tidak mempunyai kain kafan! Maka kami memutuskan, satu untuk Hamzah, dan satu untuk shahabat Anshar. Kami pun mengukurnya, dan mendapatkan salah satunya lebih besar dari yang lain. Kami pun mengundinya, dan mengafani mereka berdua sesuai dengan hasil yang didapat.”

5. Hamra’ul Asad

Perang Uhud terjadi pada hari sabtu tanggal 15 Syawwal tahun ke tiga hijrah. Shallallahualaihi wa Sallammemerintah Bilal untuk mengumumkan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengejar musuh, dan tidak ada yang boleh keluar bersama kami kecuali mereka yang ikut dalam perang kemarin .” Para shahabat pun memenuhi panggilan itu walaupun dalam keadaan terluka.

Ini adalah salah satu di antara momen yang menggambarkan keberanian Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan para shahabat, juga keteguhan hati dan tekad mereka. Dan keberanian yang sejati adalah keteguhan hati dan ketegarnnya dalam menghadapi bahaya, dalam kesusahan dan penderitaan.

Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berangkat dengan para sahabatnya mengejar kaum musyrikin untuk memperlihatkan kepada mereka, bahwa apa yang telah mereka lakukan kepada kaum muslimin tidak sedikitpun melemahkan kekuatan dan kesolidan mereka. Namun mereka tetap dalam kondisi kekuatan yang sama dan semangat yang tetap berkobar untuk menghadapi musuh dengan seluruh persiapan mereka. Beliau berkemah dengan seluruh tentaranya di Hamra’ul Asad. Dan Zubair adalah satu di antara pahlawan dalam perang ini.

Asy-Syaikhani (Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim) dan Ibnu Majah serta yang lainnya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha membacakan, “yaitu orang-orang yang menanti (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar (QS. Ali Imran [3]:172)”. Kemudian ia berkata kepada Urwah, “Wahai putra saudariku, sungguh kakek dan ayahmu termasuk ke dalam golongan ini. Ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengalami apa yang dialaminya pada perang Uhud, dan kaum musyrikin telah pergi, beliau khawatir kalau-kalau mereka kembali. Maka beliau berkata, “Siapa yang akan mengikuti mereka?” Beliau pun memilih tujuh puluh orang shahabat, di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Zubair.”

Zubair berhak mendapat kemuliaan dan kedudukan yang tinggi serta pujian dari RasulullahShallallahualaihi wa Sallam bahwa ia termasuk di antara “yaitu orang-orang yang menanti (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar (QS. Ali Imran [3]:172)”

6. Perang Khandaq

Zubair pun melanjutkan kisah jihadnya bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Kaum Quraisy dan para sekutunya yang terdiri dari orang-orang Habasyah, dan banyak kabilah menyerbu Madinah dengan kekuatan tentara sepuluh ribu personil, yang dipimpin langsung oleh Abu Sufyan. Mereka membawa persenjataan lengkap dan persiapan yang sempurna untuk berperang. Barisan pembela kebenaran pun menyambut mereka dengan kekuatan tiga ribu mujahid.

Di kancah pertempuran tersebut Zubair kembali memperlihatkan peran-peran baru yang menambah kecemerlangan catatannya pada keberanian dan ketegaran dalam membela agamanya, membela Nabi dan risalahnya. Terkadang Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengutusnya untuk satu misi yang berbahaya, dan ia pun melaksanakannya tanpa rasa takut. Di lain kesempatan salah satu perwira dari pasukan musyrikin menantang untuk berduel, maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammemerintahkannya untuk menerimanya. Dia pun dengan senang hati menerima dan memberikan kegembiraan bagi pasukan muslimin dengan membunuh musuh Allah tersebut. Pada kesempatan lain, ia mencium bahaya yang mengancam Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan ia segera melindunginya. Dan banyak kesempatan lain dimana ia menunggang kudanya dan memasuki kancah peperangan. Luka-luka yang dideritanya pun menjadi bukti nyata akan kebenarannya imannya, dan sebagai cendera mata kebanggaan dalam meraih pahala Allah Ta’ala. Dan ketika perang berakhir, ia pun menerima lencana kenabian yang mulia, ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menebusnya dengan ayah dan ibunya, dan memilihnya di antara para shahabat dengan menyatakan bahwa ia adalah pembelanya selamat atas Zubair.

Yunus bin Bukair meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, “Naufal bin Abdullah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi keluar pada perang Khandaq dan menantang untuk berduel. Zubair bin Awwam menerima tantangannya dan memukulnya, membelanya menjadi dua dan bertekuk di bawah sayatan pedangnya. Kemudian ia berlalu sambil berkata, “Aku adalah orang yang selalu menjaga dan melindungi Nabi yang Ummi.”

Dan dalam riwayat dari Al-Waqidi, “Zubair memukul Naufal bin Abdullah bin Al-Mughirah dengan pedangnya dan membelahnya menjadi dua, dan sampai memotong pelana kudanya. Dan dikatakan, “Sampai bagian atas dari punggung kuda.” Maka dikatakan kepadanya, “Hai Abu Abdillah, sungguh kami tidak pernah menyaksikan pedang seperti pedangmu.” Ia bermaksud bahwa itu adalah perbuatan tangannya, bukan pedangnya”.

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dalam Mushannaf-nya dari Ikrimah, “Pada perang Khandaq seorang laki-laki dari pasukan musyrikin maju dan berkata, “Siapa yang mau berduel?” maka RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata, “Bangkitlah hai Zubair”, Shafiyyah berkata, “Wahai Rasulullah, di anakku satu-satunya!” Maka Rasulullah kembali berkata, “Bangkitlah hai Zubair.” Zubair pun bangkit, dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang dapat menjatuhkan lawannya, akan membunuhnya.” Zubairpun menjatuhkan lawannya dan membunuhnya. Kemudian kembali dengan membawa rampasannya, maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikannya untuknya.”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dai Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Zubair bercerita, “Aku berkata kepada ayahku pada perang Ahzab, “Aku telah melihatmu wahai ayah menyerang diatas kudamu yang bernama Asqar.” Zubair berkata, “Engkau telah melihatku wahai anakku?” aku menjawab, “Iya” Dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamtelah mengumpulkan kedua orang tuanya untukku saat itu dengan berkata, “Ayah dan Ibuku sebagai tebusan bagimu.”

Dan Ibnu Sa’ad berkata, “Saat itu ‘Abbad bin Bisyr dan Zubair bin Awwam menjadi penjaga RasulullahShallallahualaihi wa Sallam.”

Di tengah berlangsungnya pertempuran dan kesibukan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menghadapi musuh yang bersekutu menyerangnya, beliau seolah merasakan adanya nafas pengkhianatan yang berhembus dalam kegelapan di lorong-lorong jiwa Bani Quraizhah. Karena beliau adalah orang yang paling mengetahui tabiat yahudi yang culas, dan keburukan akhlak mereka, serta kedengkian mereka yang begitu mengakar kepada para Nabi dan Rasul Allah. Maka beliau berkata kepada shahabatnya, “Siapa yang akan memberitahuku tentang keadaan Bani Quraizhah?” Zubair menyambut panggilan itu sampai tiga kali, dan kemudian berangkat sendirian. Dia tahu bahaya yang mengancam, dan kemungkinan pengkhianatan yahudi dan pembunuhnya dalam gelap, namun ia tidak peduli. Dia berjalan kembali dengan membawa berita bahwasanya mereka telah memutuskan perjanjian dan mengkhianatinya. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pun memuliakannya dan menebusnya dengan kedua orang tunya, serta menjadikannya sebagai pembelanya.

Diriwayatkan Ahmad, Asy-Syaikhani, An-Nasa’I, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban serta yang lainnya, dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallahualaihi wa Sallam bersabda pada perang Khandaq, “Siapa yang bersedia memberitahukan kepada kami tentang keadaan Bai Quraizhah?”Zubair menjawab “Saya.” Ia pun pergi dengan kudanya dan kembali membawa berita tentang mereka. Kemudian Rasulullah bertanya untuk yang kedua kalinya, Zubair kembali menjawab, “Saya”,  kemudian Rasulullah kembali bertanya untuk yang ketiga kalinya, dan Zubair kembali menjawab, “Saya.” Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Al-Waqidi menambahkan dalam riwayatnya, “Maka Zubair pun pergi, kemudian kembali dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat mereka memperbaiki benteng-benteng mereka, dan memperbaiki jalan-jalan mereka, serta mengumpulkan ternak-ternak mereka.”

Ibnu Hajar menceritakan dalam Fathul Bari, “Dan di sana terlihat nilai tambah dari Zubair, dan kekuatan hatinya, serta kebenaran keyakinannya. Dalam peristiwa itu juga terlihat bolehnya seorang laki-laki bepergian sendirian, dan bahwasanya larangan untuk bepergian sendirian adalah ketika tidak ada keperluan untuk itu.”

Diriwayatkan  oleh Ahmad,  Asyy-Syaikhani, dan Nasa’I, serta yang lainnya, dari Abdullah bin Zubair bercerita, “Pada saat perang Ahzab, aku dan Umar bin Abu Salamah dikelompokkan bersama-sama kaum wanita. Tiba-tiba aku melihat Zubair di atas kudanya dengan bersembunyi ke perkampungan Bani Quraizhah, dua atau tiga kali. Ketika pulang aku berkata, “Wahai ayah, aku melihatmu bersembunyi.” Ia berkata, “Apakah benar engkau melihatku hai anakku?.” Aku menjawab, “Iya.” Dia berkata, “RasulullahShallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang bisa mendatangi Bani Quraizhah dan memberitahuku tentang berita mereka?” Akupun berangkat, dan ketika kembali, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammengumpulkan kedua orang tuanya untukku dengan besabda, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu.”

Abdullah bin Zubair saat itu bersama kaum wanita di Uthm, yaitu sebuah bentenng Hassan, karena dia saat itu masih berusia empat tahun beberapa bulan. Peristiwa ini menunjukkan kecerdasannya dan ketepatan penglihatannya dalam masalah tersebut dengan rinci dalam usia yang begitu belia. Dan mampu mengingat apa yang dilihatnya dengan mengagumkan.

7. Perang Khaibar dan Wadil Qura

Pada tahun ketujuh hijrah, terjadilah perang Khaibar. Allah membukakan benteng-bentengnya bagi kemenangan kaum muslimin. Dan dalam perang tersebut banyak pertempuran maupun duel-duel yang terjadi.

Seorang yahudi, Yasir saudar dari Marhab, menantang untuk berduel. Dia menyombongkan keberanian dan kepahlawanannya yang sesungguhnya tidak mempunyai landasan rohani yang kokoh selain daripada keangkuhan dirinya. Zubair menerima tantangannya dengan keberanian yang dilandasi oleh keimanan yang kokoh, dan jiwa pengorbanan yang hanya mengharapkan pertolongan dari Allah. Sebuah kekuatan iman yang menghancurkan kekuatan jahiliyah yang paling besar sekalipun.

Ibnu Ishaq menceritakan, “Yasir menantang untuk berduel sambil melantunkan sebuah syair.”

Al-Waqidi menambahkan, “Yasir adalah salah satu tokoh mereka yang terkuat. Ia mempunyai sebuah tombak yang digunakannya untuk menghalau kaum muslimin. Maka Ali bin Abi Thalib menerima tantangannya. Namun Zubair bin Awwam berkata kepadanya, “Aku bersumpah agar engkau membiarkanku menghadapinya” Ali pun membiarkannya. Dan Zubair pun maju menghadapinya. Saat itu Shafiyyah berkata, “Wahai Rasulullah, dia akan akan membunuh anak putraku.” RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata, “Justru putramu yang akan membunuh nya Insya Allah.” Zubair maju sambil melantunkan sebuah syair.”

Kemudian mereka mulai bertarung dan Zubair berhasil membunuhnya. Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Paman (dari pihak ayah) dan paman (dari pihak ibu) menjadi tebusanmu.”

Kemudian Rasulullah meninggalkan Khaibar menuju Wadil Qura (Dinamakan Wadil Qura (lembah perkampungan) karena banyaknya perkampungan di sana, terletak di antara Madinah dan Tabuk. Kota terbesar yang ada du sana saat ini adalah Al-‘Ala, 350 km sebelah utara Madinah). Di sana terdapat sekelompok yahudi di mana beberapa kabilah arab telah bergabung dengan mereka. Ketika Rasulullah dan para shahabatnya sampai, mereka disambut dengan lemparan. Sementara mereka belum berada dalam keadaan siap.

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam segera menyiapkan para shahabatnya untuk bertempur dan membariskan mereka. Beliau memberikan panjinya kepada Sa’ad bin Ubadah. Dan tiga bendera lain diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir, Sahal bin Hunaif, dan Abbad bin Bisyr. Kemudian RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mengajak orang-orang musyrik itu untuk masuk Islam dan menerangkan bahwa apabila mereka masuk Islam, kaum muslimin akan mengamankan harta mereka serta menyelamatkan nyawa mereka. Adapun perhitungan mereka diserahkan kepada Allah. Maka salah seorang di antara mereka maju dan menantang untuk berduel, Zubai menerimanya dan berhasil membunuhnya. Lalu majulah seorang lainnya, dan kembali diladeni oleh Zubair dan berhasil membunuhnya. Kemudian salah seorang dari mereka kembali maju, dan dihadapi oleh Ali yang juga berhasil membunuhnya. Hingga pihak Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berhasil membunuh sebelas dari mereka. Pada hari berikutnya, mereka menyerahkan diri dan memberikan harta benda mereka. Dengan begitu Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallami menaklukkan mereka dengan kekuatan tentaranya dan Allah menganugerahkan harta rampasan perang yang berasal dari kaum musyrikin tersebut.

8. Fathu Makkah (Penaklukkan Kota Mekkah)

Pada Fathu Makkah Zubair bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan membawa panji beliau memimpin pasukan yang berada di sayap kiri. Beliau juga mengutusnya dalam sebuah misi bersama Ali dan Miqdad untuk mengambil sebuah surat yang dikirim oleh Hathib bin Abi Balta’ah melalui seorang perempuan yang mengendarai unta. Ketika kaum muslimin hampir mencapai Mekah, RasulullahShallallahualaihi wa Sallam menunjuknya untuk memimpin dua ratus orang yang terdiri dari para shahabat.

Ahmad meriwayatkan, juga Asy-Syaikhani, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Hibban dan yang lainnya, dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu, Ia bercerita, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammengutus aku, Zubair dan Miqdad bin Al-Aswad, dan beliau berkata, “Pergilah kalian hingga Raudhatul Khakh (sebuah tempat di dekat Hamro’ul Asad) karena sesungguhnya di sana ada seorang wanita pengendara unta yang membawa sepucuk surat, ambilah darinya.” Lalu kami pergi sementara kuda kami saling berjauhan jaraknya hingga kami sampai di Raudhah. Kami pun menemukan wanita yang mengendarai unta itu. Kami berkata kepadanya “Keluarkanlah surat itu” Lalu kami pergi sementara kuda kami saling berjauhan jaraknya hingga kami sampai di Raudhah. Kami pun menemukan wanitaa yang mengendari unta itu. Kami berkata kepadanya “Keluarkanlah surat itu” Lalu wanita itu menjawab “Tidak ada surat bersamaku” Lalu kami berkata “Sungguh keluarkanlah surat itu atau kami akan melemparkan pakaian-pakaianmu (menelanjangimu)!”, maka wanita itu mengeluarkan surat tersebut yang dia simpan di belakang rambutnya yang dipintai. Maka kami menemui Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dengan membawa surat itu.

Ahmad, Muslim, An-Nasa’I, Ibnu Hibban dan lainnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Kami berada bersama Rasulullah saat Fathu Makkah. Beliau menugaskan Khalid bin Walid memimpin sisi kanan, dan Zubair bin Awwam pada sisi kiri.”

Dan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan Zubair bin Awwam, saat itu Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah memerintahkan pamannya Abbas untuk menahan Abu Sufyan di Khathmul Jabal (hidung sebuah gunung, maksudnya sesuatu yang menonjol dari gunung sehingga menyempitkan badan jalan), agar ia bisa menyaksikan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin pun melewatinya. “Hingga sampai pada satu pasukan yang lebih kecil, dimana Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan para shahabatnya berada di sana. Dan panji Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di bawa oleh Zubair bin Awwam.”

Uqbah bin Musa menceritakan dalam kitab Maghazi-Nya, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammengutus Zubair bin Awwam membawa pasukan muhajirin dan kuda-kuda mereka. Dan memerintahkannya untuk memasuki Mekah melalui Kada’ dari dataran tinggi di Mekah. Dan memerintahkannya untuk menancapkan benderanya di Hajun (sebuah gunung di Mekah yang juga merupakan kuburan) dan tidak meninggalkannya sampai Rasulullah mendatanginya.”

Dan menurut riwayat dari Ibnu Sa’ad, “Lalu sebuah tenda didirikan untuk Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memerintahkan untuk menghancur Hubal. Dan segera di hancurkan sementara beliau menyaksikannya. Zubair bin Awwam berkata kepada Abu Sufyan bin Harb, “Hai Abu Sufyan, Hubal telah dihancurkan! Pada perang Uhud engkau telah begitu membanggakannya, hingga engkau menyangka bahwa ia bisa memberikanmu nikmat.” Abu Sufyan berkata, “Lupakan itu hai putra Awwam. Aku telah menyaksikan, bahwa kalau memang ada Tuhan selain Tuhannya Muhammad, maka tidak akan begini kejadiannya.”

9. Perang Hunain dan Tabuk

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam keluar menuju Hunain. Dan Allah memberikan kemenangan bagi tentara-Nya. Tentara musyrikin pun berputar arah melarikan diri dari medan tempur. Dan seperti biasa, Zubair memainkan peran yang sangat besar dalam peperangan seolah satu pasukan prajurit menyatu dalam dirinya.

Ibnu Ishaq, Al-Waqidi, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab, “Ketika kaum musyrikin menderita kekalahan pada perang Hunain, Malik bin Auf keluar bersama beberapa pasukan berkuda dari kaumnya dan berdiri di celah sebuah gunung. Dia  berkata kepada pasukannya, “Bertahanlah di sini sampai orang-orang yang lemah dari mereka lewat di sini, dan sekaligus menunggu teman-teman kalian yang masih tertinggal.”

Sa’id bin Al-Musayyab melanjutkan, “Ketika mereka berada pada posisi itu, datanglah serombongan pasukan berkuda. Malik bin Auf berkata, “Apa yang kalian lihat?” mereka menjawab, “Kami melihat suatu kaum yang meletakkan tombak-tombak mereka di antara telinga kuda-kuda mereka. Mereka mempunyai kaki yang panjang.” Ia berkata, “itu adalah Bani Sulaim, bertahanlah, tidak ada yang perlu kalian takutkan dari mereka.” Ketika pasukan itu melewati bagian bawah dari celah tersebut, mereka terus mengambil jalan melalui sisi kiri dari lembah.

Kemudian pasukan berkuda lain datang menyusul. Malik berkata kepada para shahabatnya, “Apa yang kalian lihat?” mereka menjawab, “Kami melihat suatu kaum yang meletakkan tombak-tombak mereka di bagian pantat kuda.” Ia berkata, “Itu adalah suku Aus dan Khazraj, bertahanlah, tidak ada yang perlu kalian takutkan dari mereka.” Ketika pasukan itu sampai di bagian bawah dari celah tersebut, mereka terus mengikuti jalan yang diambil Bani Sulaim.

Kemudian muncullah seorang penunggang kuda. Malik berkata kepada para shahabatnya, “Apa yang kalian lihat?” mereka menjawab, “Kami melihat seorang penunggang kuda yang tinggi, dan mempunyai kaki yang besar. Ia menyandang penunggang kuda yang tinggi, dan mempunyai kaki yang besar. Ia menyandang tombaknya di bahunya, dan mengikat kepalanya dengan ikat berwarna kuning.” Malik berkata, “Itu adalah Zubair bin Awwam. Aku bersumpah demi Allah dia akan menyerang kalian, bertahanlah. Ketika ia sampai di bagian bawah dari celah tersebut, ia melihat mereka, ia pun mendatangi mereka dan terus menyerang mereka sendirian sampai ia berhasil mengusir mereka dari sana.”

Kemudian ia ikut dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dalam perang terakhir beliau, yaitu perangAl-Usrah (perang Tabuk). Al-Waqidi dan Ibnu Asakir menceritakan, “Ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kembalai dari lembah Wada’, beliau segera menuju Tabuk. Dan mengangkat panji-panji dan bendera perang. Beliau menyerahkan panji terbesar kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan menyerahkan bendera terbesar kepada Zubair.” Dan saat itu jumlah pasukan yang menyertai Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam adalah tiga puluh ribu prajurit.

10. Meneruskan Jihad Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kembali ke hadirat Tuhan nya Subhanahu wa Ta’ala, dan telah menancapkan pondasi iman di seluruh penjuru jazirah arab. Cahayanya terus menyinari perbatas Syam, Persia, dan Mesir. Seruannya pun telah didengar oleh para raja dan pemimpin pada zamannya melalui surat-surat yang dikirimnya bersama para shahabat yang bertindak sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Beliau juga membuka jalan bagi para khalifah yang datang setelah untuk melanjutkan jihad dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan menuju Yordania, namun takdir Allah mendahului beliau. Misi itu kemudian dilanjutkan oleh khalifah setelah beliau, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Penaklukan-penaklukan pun terjadi di era khulafaur-rasyidin. Melenyapkan penghalang-penghalang dari jalan dakwah. Menumbangkan siapa saja yang berdiri menghadang jalannya menuju dunia yang lebih luas. Mematahkan cara para tiran yang hanya memaksakan manusia untuk menyembah berhala-berhala selain Allah. Dan memberikan manusia untuk memilih ; “Barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir (QS-Al-Kahfi [18]:29).” Karena “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat (QS. Al-Baqarah [2]:256).” dan “Agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata (QS. Al-Anfal [8]:42).”

Islam pun melebarkan sayapnya sampai negeri Syam, Persia, Mesir, dan kemanusiaan pun bersorak gembira menerima kedatangan para penakluk yang mulia dengan agama mereka yang baru.

Zubair ikut serta dalam perang-perang besar yang menentukan dalam fase yang diberkahi ini. Di jazirah arab dia ikut andil dalam perang melawan orang-orang murtad, dan dalam penaklukan Syam, Persia, dan Mesir, ia pun memiliki peran-peran yang menentukan.

Adalah sebuah kebiasaan bagi Amirul Mukminin Umar bin Khaththab untuk mengajak para shahabat besar bermusyawarah. Untuk membantunya dalam melindungi agama dan kebijakan Negara, termasuk di antara mereka adalah Zubair. Hanya saja Umar lebih sering mengimnya untuk mematahkan kekuatan musuh dalam siuasi-situasi sulti dan peristiwa-peristiwa besar.

Hisyam bin Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ayahnya, Zubair berkata, “Aku tidak pernah absen dari peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, kecuali bahwa aku selalu berada di depan, dan orang-orang mengikuti.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdul Azin bin Muhammad Ad-Darawardi, bahwasanya “Seorang laki-laki menemui Ali bin Abu Thalib ketika ia berada di masjid Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan berkata kepadanya, “Hai Abu Hasan, siapakah yang paling berani?” Ali menjawab, “Itulah dia yang marah seperti marahnya macan, dan melompat seperti lompatan singa”, dan dia menunjuk kea rah Zubair.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tiga orang ini adalah shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang paling berani yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib, dan Zubair bin Awwam.”

11. Perang melawan orang-orang murtad

Ketika kabilah-kabilah arab kembali murtad dan menolak untuk membayar zakat, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu menyerang mereka. Tindakan ini didukung oleh para shahabat dan mereka bertahan bersamanya. Mereka mengkhawatirkan serang kabilah-kabilah arab ke Madinah. Maka Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan membuat persiapan perang di masjid untuk menghadapi serangan yang diperkirakan akan datang dari luar. Dan mempersiapkan seratus shahabat pilihan untuk berjaga di pintu-pintu masuk Madinah. Di antaranya Ali, Zubair, Thalhah, dan Ibnu Mas’ud.

Penduduk Madinah hanya mempunyai waktu tiga hari, ketika para penolak zakat menyerang dalam kegelapan malam. Kedatangan mereka diketahui oleh para prajurit yang bertugas jaga malam. Maka Ali, Thalhah, Zubair, dan Ibnu Mas’ud segera mengirimkan berita kepada Abu Bakar yang menjawab, “Tetaplah di tempat kalian masing-masing.” Dan mereka pun melakukannya. Dengan segera bala bantuan datang dari masjid dan memukul mundur para penyerang yang kemudian melarikan diri.

12. Perang Yarmuk

Pada tahun ketiga belas hijrah, terjadilah perang Yarmuk. Yang merupakan salah satu perang bersejarah yang sangat menentukan. Di mana kaum muslimin menghadapi pasukan yang jumlah enam kali lipat banyak. Kaum muslimin berjumlah sekitar empat puluh ribu prajurit, sementara pasukan romawi berjumlah dua ratus empat puluh ribu prajurit. Kaum muslimin tidak pernah mengandalkan jumlah dan kelengkapan dalam perang-perang mereka. Namun mereka bersandar pada pertolongan dari Allah yang disertai dengan persiapan dan usaha. Komandan mereka dalam perang ini adalah singa Islam, dan pedang jadi banyak formasi. Setiap formasi dipimpin oleh satu pahlawan besar, dan Zubair memimpin salah satunya. Setiap formasi berjumlah seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu shahabat, di antara mereka sekitar seratus orang yang ikut dalam perang badar, dan Zubair adalah salah satu yang terbaik di antara mereka.

Pertempuran berlangsung sengit dan Allah menurunkan kemanangan bagi kaum muslimin. Zubair mencatarkan banyak peran yang mengagumkan dalam perang ini. Sekaligus menjadi rangkaian bagi kisah kepahlawanannya yang membanggakan dan ketegaran hatinya serta kesempurnaan imannya kepada Tuhannya. Ia merangsek masuk ke dalam medan tempur tanpa mempedulikan sayatan pedang dan tusukan tombak di tubuhnya. Dan ia berada di depan formasi pasukan yang dipimpinnya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Para shahabat RasulullahShallallahualaihi wa Sallam berkata kepada Zubair, “Apakah kau akan menyerang agar kami dapat menyerang bersamamu?” Zubair menjawab, “Sesungguhnya kalau aku menyerang kalian tidak akan membantuku.” Mereka menjawab. “Kami akan membantumu.” Maka ia pun menyerang dan membongkar barisan mereka, dan tak seorangpun bersamanya!! Kemudian ia kembali, dan musuh berhasil menarik tali kekang kudanya, dan melayangkan dua pukulan dengan pedang pada tahunnya. Tepat di antara dua tebasan tersebut terdapat satu bekas tebasan pedang yang ia peroleh pada perang Badar.

Urwah berkata, “Aku sering memasukkan jariku ke dalam bekas-bekas pukulan tersebut untuk bermain-main saat aku kecil.” Urwah melanjutkan, “Saat itu Abdullah bin Zubair ada bersamanya, dan usianya sepuluh tahun  (ini adalah pekiraan umurnya saat itu, atau saat itu dia telah berumur tiga belas tahun). Zubair menaikkannya ke atas kuda dan menyeluruh seseorang untuk menjaganya.”

Saat itu bersama Zubair terdapat istrinya yang mulia, Asma binti Abu Bakar yang ikut menyaksikan peperangan.

Ibnu sa’ad meriwayatkan dalam biografi Asma binti Abu Bakar, dari Abu Waqid Al-Laitsi shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan ikut dalam perang Yarmuk, ia berkata, “Asma binti Abu Bakar saat itu ada bersama Zubair, aku mendengarnya berkata kepada Zubair, “Hai Abu Abdullah, demi Allah kalau ada prajurit dari pihak musuh yang datang bergegas, maka kakinya akan tersandung oleh tali kemahku, hingga dia akan jatuh di atas mukanya, dan mati tanpa ada senjata apapun mengenainya!”

13. Perannya yang Besar Dalam Penaklukan Mesir

Pada tahun kedua puluh hijrah, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab menugaskan seorang shahabat yaitu Amru bin Ash untuk menaklukkan Mesir. Dan mengirimkan bersamanya sekitar empat ribu mujahid. Namun ia tidak bisa menaklukkannya dengan cepat, sehingga Amru meminta bala bantuan dari Amirul Mukmin.

Al-Baladzuri menceritakan dalam Futuhul Buldan bahwasanya Zubair Radhiyallahu Anhu sangat ingin untuk berperang dan bermaksud untuk menyerang Antiokhia (salah satu kota romawi yang ditaklukkan oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, setelah kawasan itu dibagi-bagi menjadi Negara-negara kecil pasca serangan Uts-Maniyah, ia menjadi bagian dari Syiria. Terletak sekitar 96 Km sebelah barat Aleppo dan sekarang merpakan bagian dari Turki Modern). Maka Umar berkata kepadanya, “Hai Abu Abdullah, apakah engkau berminat dengan wilayah Mesir?” ia menjawab, “Aku sama sekali tidak mempunyai minat untuk itu. Namun aku akan keluar sebagai seorang mujahid, dan penolong bagi kaum muslimin. Kalau aku mendapati Amru telah menaklukkannya, aku tidak akan mengganggu pekerjaannya. Dan aku akan pergi ke beberapa wilayah pantai dan berdiam di sana. Namun kalau aku mendapatinya belum mampu menaklukan Mesir, maka aku akan berada bersamanya.”

Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan dalam Futuh Mishra wal Maghrib, ia mengatakan “Amru bin AshRadhiyallahu Anhu ketika terlambat dalam menaklukkan Mesir, ia menulis kepada Umar bin KhaththabRadhiyallahu untuk meminta bantuan. Maka Umar mengirimkan empat ribu prajurit, setiap seribu prajurit di pimpin oleh seorang komandan. Dan Umar bin Khaththab menulis kepadanya, “Sesungguhnya aku telah mengirimkan kepadamu empat ribu prajurit. Setiap seribu prajurit dipimpin oleh seorang laki-laki yang menandingi seribu orang. Zubair bin Awwam, Al-Miqdad bin Amru, Ubadah bin Ash-Shamit, dan Maslamah bin Mukhallad. Maka ketahuilah, saat ini engkau telah memiliki dua belas ribu prajurit. Dan dua belas ribu prajurit tidak akan dapat dikalahkan dengan alasan jumlah yang sedikit.”

Sungguh benar apa yang dilakukan oleh khalifah Umar. Dia telah mengirimkan tentara-tentara muslim yang berasal dari para shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang selalu berlomba-lomba menuju kebaikan. Dan pengiriman para shahabat tersebut dan khususnya Zubair mempunyai perang yang sangat penting dalam penaklukan Mesir.

Khalifah bin Khayyath dan Ibnu Abdil Hakam, juga Al-Baladzuri dan lainnya meriwayatkan tentara-tentara muslim yang berasal dari para shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang selalu berlomba-lomba menuju kebaikan. Dan pengiriman para shahabat tersebut dan khususnya Zubair mempunyai peran yang sangat penting dalam penaklukan Mesir.

Khalifah bin Khayyath dan Ibnu Abdil Hakam, juga Al-Baladzuri dan lainnya meriwayatkan, bahwasanya ketika Zubair datang menemui Amru, ia mendapatinya tengah mengepung Benteng Babilonia. Maka Zubair segera menaiki kudanya dan mengelilingi parit yang mengelilingi benteng. Kemudian menyebarkan prajurit di sekitar parit tersebut. Pengepungan berlangsung lama hingga memakan waktu sampai tujuh bulan. Maka dikatakan kepada Zubair, “Sesungguhnya di sana terdapat Tha’un (sejenis penyakit menular).” Ia menjawab, “Justru kita datang untuk Tha’n dan Tha’un (Tha’n – menikam atau menusuk).

Dan penaklukan pun berjalan lambat bagi Amru. Maka Zubair berkata, “Aku akan menyerahkan diriku kepada Allah. Dan aku berharap dengan ini Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin.” Diapun mengambil tangga dan menyadarkannya ke benteng dari arah Suq Al-Hammam, lalu ia menaikinya. Dan mengatakan kepada mereka, apabila mereka mendengarnya bertakbir agar menjawab takbirnya bersama-sama. Tidak berapa lama, Zubair telah bertakbir dari atas benteng dengan pedangnya. Maka orang-orangpun segera menyerbu dengan menaiki tangga sehingga Amru sampai melarang mereka karena takut tangga itu akan patah. Ketika tentara romawi melihat bahwa pasukan muslimin telah menguasai benteng, mereka pun mundur. Dan gerbang benteng Babilonia pun terbentang lebar bagi kaum muslimin. Dengan terbukanya gerbang tersebut, peperangan yang menentukan itu pun berakhir dengan takluknya Mesir.

Inilah sebuah resiko berani yang diambil oleh Zubair. Dia tahu bahwa tentara-tentara romawi mempertahankan benteng mereka. Dengan pedang terhunus, tombak teracung, dan panah-panah yang siap diluncurkan. Namun itu sedikitpun tidak mengkhawatirkan atau menggetarkannya. Dan dia justru berkata, “Sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada Allah.” Dengan keberanian yang mengagumkan dan dilandasi oleh kokohnya iman dan akidah. Juga ditopang oleh fisik yang prima dan pengalaman perang, serta ketegaran dalam menghadapi tebasan pedang dalam pertarungan. Semua ini membuktikan bahwa Amirul Mukminin Umar telah membuktikan kebenaran kata-katanya bahwa “Sesungguhnya Zubair sebanding dengan seribu prajurit.”

Shahabat yang mulia ini memiliki peran yang sangat vital dalam kemenangan atas Muqauqis dalam pertempuran Babilonia yang menentukan. Sebuah pertempuran yang membukakan pintu Mesir secara keseluruhan bagi kaum muslimin. Dan mereka pun masuk dengan membawa cahaya Al-Qur’an dan petunjuk Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Ketika Mesir telah ditaklukkan, Zubair meminta Amru untuk membaginya. Namun ia menolak sebelum meminta pendapat dari Umar.

Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad nya, dan Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal, serta Abdul Hakam dalam kitab Futuh Mishra, dari shahabat Sufyan bin Wahab Al-Khulani, berkata, “Ketika kami berhasil menaklukkan Mesir”, Demi Allah, engkau akan membaginya sebagaimana Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam membagi Khaibar.” Maka Amru berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku menulis surat kepada Amirul Mukminin.” Dan ia pun menulis surat kepada Umar. Lalu Umar menulis kepadanya, “Pertahankanlah seperti itu hingga kaum muslimin bertambah banyak dak berkembang di sana.”

Amru bin Ash memberikan keamanan bagi penduduk Mesir, dan membuat sebuah perjanjian damai bersama mereka, dengan disaksikan oleh Zubair, Abdullah, dan Muhammad, putra-putra Ambin bin Ash.

14. Perang Nahawand

Perang ini terjadi pada tahun 21 H. Setelah kaum muslimin berhasil menguasai ibu kota kerajaan Persia, yaitu Al-Mada’in, orang-orang Persia menjadi marah dan bangkit. Mereka kemudian dipimpin oleh Yaz-Dajir. Zubair menulis surat kepada kota Nahawand dan daerah-daerah pegunungan serta negeri-negeri yang ada disekitarnya. Mereka pun datang dari segala penjuru untuk bergabung dengannya, dan berkumpul di Nahawand dengan kekuatan seratus lima puluh ribu prajurit.

Amirul mukminin Umar bin Khaththab segera mengumpulkan para shahabat dan bermusyawarah untuk menghadapi ancaman dari Persia. Juga menentukan siapa yang akan memimpin pasukan kaum muslimin. Akhirnya ia menentukan pilihan pada An-Nu’man bin Muqarrin. Lalu ia menulis surat kepada Hudzaifah bin Al-Yaman memerintahkannya untuk membawa pasukan dari Kufah. Juga kepada Abu Musa Al-Asy’ari agar memimpin pasukan dari Bashrah. Dan kepada An-Nu’man yang saat itu juga berada di Bashrah agar berjalan dengan pasukan yang ada bersamanya menuju Nahawand. Dan memerintahkan apabila mereka semua telah berkumpul, maka setiap komandan bertanggung jawab memimpin pasukannya masing-masing. Sementara komandan pasukan secara umum berada di tangan An-Nu’man bin Muqarrin.

Kedua pasukan pun saling berhadap-hadapan. Kaum muslimin menyerang pasukan Persiam dan panji Nu’man terus menerobos musuh bagikan seekor elang yang menyerang mangsanya. Hingga mereka saling menyatu dengan pedang, dan bertempur dengan sangat dahsyat. Akhirnya Allah memberikan kemenangan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Peristiwa Nahawand merupakan sebuah peristiwa yang sangat besar, yang tidak pernah ada sebelumnya. Dan sekaligus mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sehingga kaum muslimin menamakannya Fathul Futuh (puncak dari seluruh penaklukan).

Zubair adalah salah satu di antara pahlawan dalam perang yang sangat dahsyat ini. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata, “Umar mengutus An-Nu’man bin Muqarrin, dan menulis kepada penduduk Kufah agar membantunya, dan merekapun pergi bersamanya. Dan bersama dengannya terdapat Hudzaifah bin Al-Yaman, Zubair bin Awwam, Al-Asy’ats bin Qais, Al-Mughirah bin Syu’bah, Abdullah bin Umar, dan Amru bin Ma’dikarib. Hingga akhirnya mereka sampai di Nahawand. Dan pertama kali jatuh adalah An-Nu’man bin Muqarrin.

15. Penaklukan Azerbaijan

Pada tahun kedua puluh satu hijriah, Zubair bin Awwam ikut dalam penaklukan Azerbaijan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Zaid bin Wahab, dia berkata, “Kami menyerang Azerbaijan pada masa pemerintahan Umar. Saat itu Zubair ada bersama kami. Lalu datang sebuah surat dari Umar, “Telah sampai kepadaku berita bahwa kalian berada di negeri yang makanannya bercampur dengan bangkai, dan pakaiannya dari bangkai. Maka janganlah kalian makan kecuali yang bersih, dan jangan memakai pakaian kecuali yang bersih pula.”

16. Setelah Perjalanan Jihad yang panjang ini.

Inilah percikan-percikan yang menyingkap perjalanan jihad yang telah dilalui oleh seorang shahabat yang mulia, Zubair bin Awwam.

Sungguh hidupnya, dan kekuatan pedangnya dipenuhi berkah. Sebuah berkah daro doa Rasulullah  Shallallahualaihi wa Sallam pada hari-hari pertama dimulainya dakwah. Dan juga disebabkan oleh keikhlasannya yang begitu mendalam, keberaniannya yang langka, serta perjalanannya yang amat mengagumkan.

Perhatikanlah peristiwa-peristiwa yang begitu banyak, dalam jangka waktu yang begitu panjang, dan tempat yang amat luas, untuk mengetahui perjuangan dan banyaknya kontribusi yang diberikan oleh Zubair bin Awwam untuk agama dan umatnya.

Dia ikut dalam seluruh peperangan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di jazirah Arabia. Tidak pernah absen dalam perang di jalan Allah. Kemudian ikut bersama Abu Bakar dalam perang melawan orang-orang murtad, lalu maju menuju negeri Syam dan berperan dalam perang Yarmuk. Setelah itu pada masa Umar, dia beralih ke barat menuju Mesir, dan mencatatkan peran yang gemilang dalam penaklukannya. Kemudian ia kembali ke Madinah untuk berangkat kembali ke arah timur menuju Persia dan ikut dalam perang Nahawand. Dari sana ia kembali ke Madinah, dan segera berangkat bersama rombongan mujahid menuju utara untuk menaklukkan Azerbajian.

Mari berhenti sejenak untuk memberikan penghormatan atas tekad yang dimiliki oleh shahabat dan mujahid yang agung ini. Sudah sepantasnya anda merasakan kekaguman atas panjangnya jarak yang telah ia tempuh di atas punggung kudanya, dari Madinah Al-Munawwarah menuju Syam, terus ke Mesir, Persia, dan Azerbaijan.

Dan akan jauh lebih kagum lagi ketika mengetahui bahwa seluruh peperangan dan pertempuran yang ia ikuti, tidak mampu menjatuhkannya di atas medan jihad. Namun itu semua meninggalkan bekas yang nyata di tubuhnya yang dipenuhi oleh bekas pukulan pedang!

Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir serta Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Ali bin Zaid Jud’an, ia berkata, “Seseorang yang pernah melihat Zubair menceritakan kepadaku bahwa di dadanya terdapat banyak bekas tusukan dan pukulan.”

Dan Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Abu Nu’aim serta yang lainnya meriwayatkan dan Hafsh bin Khalid, ia berkata, “Seseorang yang telah berusia lanjut datang menemui kami dari Maushil dan bercerita, “Aku menemani Zubair bin Awwam pada sebagian perjalanannya. Di suatu tanah kosong ia terkena junub. Maka ia pun berkata, “Tutupiaku”, akupun menutupinya. Tanpa sengaja aku menoleh kepadanya, dan melihat tubuhnya penuh dengan bekas pukulan pedang. Aku berkata, “Demi Allah, aku telah melihat banyak bekas pukulan di tubuhmu yang tak pernah aku lihat pada orang lain.” Dia berkata, “Engkau telah melihatnya?” aku menjawab, “Iya”. Dia berkata, “Engkau telah melihatnya?” aku menjawab, “Iya”. Dia berkata, “Maka demi Allah, setiap luka yang ada ditubuhku, aku dapatkan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallamdi jalan Allah.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Pada tubuh Zubair terdapat tiga lubang bekas tusukan pedang, yang salah satunya pada pundaknya. Urwah berkata, “Aku pernah memasukkan jariku pada lubang luka itu! Dia menambahkan ; Dua luka saat perang Badar dan yang lainnya pada Perang Yarmuk.” Urwah berkata, “Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadaku ketika Abdullah bin Zubair terbunuh, “Wahai Urwah, apakah engkau mengetahui pedang Zubair?” Aku jawab, “Ya”. Dia bertanya lagi, “Bagaimana bentuknya?” Aku jawab, “Pedangnya sumbing, Patah ketika perang Badar.” Dia berkata, “Kamu benar.” Kemudian dia bersya’ir, “Pada pedang itu terdapat banyak sumbingan karena dia menggempur musuh (ini merupakan potongan kedua dari sebuah bait, syair yang terkenal dari An-Nabighah Adz-Dzubyani, dalam sebuah syair memuji keluarga Hafnah dari Ghassasinah, adapun potongan pertama dari bait ini adalah, “Tiada keburukan mereka, kecuali bahwa pedang-pedang mereka). Maka dia mengembalikan pedang itu pada Urwah. Hisyam berkata, “Kemudian kami menawarkan pedang itu di antara kami dengan harga tiga ribu. Lalu di antara kami ada yang membelinya. Saat itu aku ingin sekali, jika saja aku yang membelinya.”

Ath-Thabrani menceritakan dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 187 H bahwa pedang Zubair berada pada tangan Harun Ar-Rasyid, dan dia telah menggunakannya untuk memotong leher beberapa orang atheis.

D. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Zubair adalah seorang laki-laki yang telah bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam selama lebih dari dua puluh tahun, dan tidak berpisah dari dalam susah dan senang, masa perang dan damai. Mengambil langsung Al-Qur’an dan sunnah dari beliau, menerapkannya secara langsung dihadapan beliau, mengikutinya, mentaati petunjuknya, mengikuti langkahnya. Dan menjadi salah satu di antara mereka yang paling loyal kepada Nabi Shallallahualaihi wa Sallam hingga diumumkan di depan khalayak bahwasanya setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembela beliau adalah Zubair. Kita bisa mengatakan, bahwa laki-laki ini tentunya memiliki kisah perjalanan hidup yang sangat mengagumkan.

Zubair dalam hal akhlaknya, kepribadiannya, perilakunya, sifat-sifat nya, dan nasihat-nasihatnya adalah Zubair yang sama dalam hal perjuangannya menegakkan dakwah dan kiprahnya dalam berbagai medan perang. Serta kesabarannya dalam pertempuran dan ketegarannya dalam menghadapi musuh.

Beginilah Islam membentuk tokoh-tokohnya secara seimbang dan paripurna. Meletakkan semua pada tempatnya, sehingga antara satu sisi dengan yang lainnya tidak timpang. Tidak melupakan satu sisi dalam pendidikan dan memberikan perhatian lebih pada sisi yang lain. Sehingga menjadi timpang, dan meruntuhkan bangunan kepribadian dan menjadikannya kacau.

Zubair Radhiyallahu Anhu senantias mengikuti sunnah Nabi dalam shalatnya, sehingga tidak pernah meninggalkan shalat sunnah, bahkan dalam perjalanan sekalipun ia melakukannya di atas untanya. Selalu menjaga keikhlasan amalnya kepada Allah Ta’ala. Berusaha untuk tidak memperlihatkan amalan-amalannya untuk menghindarkannya dari riya’. Menjaga keluarga dan anak-anaknya dan selalu mengajarkan mereka untuk mendapatkan yang terbaik, dan sanga keras dalam menuntun mereka untuk terus meningkatkan diri meniti kesempurnaan. Sehingga ia sering membawa anaknya dalam berbagai medang perang, sementara usia anaknya belum mencapai lima tahun. Kemudian membawanya ke Syam ketika berumur tiga belas tahun untuk ikut menyaksikan kiprah para pahlawan. Dan menumbuhkan dalam dirinya kecintaan untuk memperjuangkan Islam dan keinginan syahid serta mengikuti langkah orang-orang besar. Bahkan ia pernah membawa istrinya dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Sebagaimana ia juga membawa mereka untuk pergi haji. Dan tak perlu dikatakan lagi bahwa ia juga membawa mereka untuk shalat berjamaah. Namun itu semua tidak menghalanginya untuk mencandai anak-anaknya dan bermain dengan mereka. Membuat mereka bergoyang, melantunkan syair-syair lembut untuk menghibur dan sekaligus merangsang kebaikan pribadi mereka.

Hanya saja wataknya yang keras dan begitu berakar di dalam dirinya, membuatnya kerap bersikap tegas kepada istri-istrinya, bahkan kepada istrinya, Asma’. Satu kali Asma’ pernah mengadukan hal itu kepada ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun ia menyabarkannya dan memuji kebaikan-kebaikan Zubair! Dan di antara bentuk sikap kerasnya adalah perasaan cemburunya yang begitu besar, yang menjadikan Asma sangat menjaganya, bahkan dari Rasusullah Shallallahualaihi wa Sallam sekalipun! Maka Asma’ dan istri-istri yang lain pun bersabar dalam menjaga sikap cemburunya tersebut. Dan Zubair mampu membangun rumah tangga terbaik dalam masa awal keislaman.

Di sisi lain, Zubair menonjol dengan jiwa toleransi yang tinggi, ringan tangan, dan suka berbuat baik kepada orang lain. Zuhud dalam menghadapi jabatan dan harta, bahkan ia menolak untuk memimpin Mesir. Dan ketika Amirul Mukminin Umar bin Khaththab wafat, ia pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pegawai khalifah.

Zubair termasuk orang yang beruntung dalam perniagaannya. Duniapun sekaan datang menghampirinya, dan harta-harta mengalir ke tangannya. Ia pun membukakan tangannya lebar-lebar untuk menafkahkannya. Bahkan kebaikan hati dan kemuliaan akhlaknya, juga pergaulannya yang baik dengan orang lain, menjadikan banyak di antara tokoh lainnya yang baik dengan orang lain, menjadikan banyak di antara tokoh-tokoh shahabat yang mempercayakan anak-anak dan wasiat mereka kepada Zubair untuk dikelolanya. Bahkan Umar Al-Faruq menyarankan orang-orang agar mempercayakan harta mereka kepada Zubair. Sementara Zubair Radhiyallahu Anhu sendiri menganggap harta-harta tersebut sebagai sebuah amanah yang harus ia pertanggungjawabkan. Ia pun menjaga harta tersebut untuk mereka, mengasuh anak-anak mereka dan memberikan nafkah dari kelebihan hartanya. Namun demikian, Allah telah memberikan nafkah dari kelebihan hartanya. Namun demikian, Allah telah memberikan berkahnya pada harta warisan Zubair, yang jumlahnya mencapai puluhan juta dirham pada zaman itu!

1. Ibadahnya

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Raja’ Al-Utharidi, ia berkata, “Suatu hari aku melihat Zubair, lalu ia didatangi oleh seorang laki-laki dan berkata, “Ada apa dengan kalian wahai para shahabat Rasulullah? Aku melihat kalian sangat ringan dalam melaksanakan shalat! Ia menjawab, “Kami mendahului perasaan was-was yang akan mengganggu shalat kami”.

Hal ini diperjelas oleh apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’I, dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan, dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam, ia mengatakan, “Ammar bin Yasir shalat dua rakaat, dan meringankannya. Abdurrahman bin Al-Harits berkata kepadanya, “Wahai Abu Yaqzhan, aku lihat engkau meringkan shalatmu!” ia menjawab, “Sesungguhnya aku mendahului perasaan was-was yang akan menganggu shalatku. Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda,“Sesungguhnya seseorang melakukan shalat, dan mungkin saja ia tidak benar-benar berada dalam shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, atau sepertujuhnya, dan atau seperenamnya,” hingga ia menghitung sesuatu”.

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, “Aku bersama Zubair dari Syam kembali dari perang Yarmuk. Aku melihatnya shalat di atas kendaraannya kemanapun itu menghadap”

Dan begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dalam Shahih Bukhari dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam shalat di atas kendaraannya kemanapun itu menghadap. Dan jika hendak melaksanakan shalat fardhu, beliau turun dan menghadap kiblat.”

Dan Zubair berangkat menunaikan ibadah haji dengan istri dan anak-anaknya lebih dari sekali. Dan Asma’ mempunyai kisah yang unik dengan Zubair.

Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Urwah bin Zubir, ia berkata “Aisyah Radhiyallahu anha menceritakan kepadaku, “Hal pertama yang dilakukan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam ketika sampai adalah berwudhu, kemudian thawaf. Dan itu bukan umrah. Kemudian Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhuma menunaikan ibadah haji sepertinya.” “Kemudian aku melaksanakan haji bersama ayahku Zubair Radhiyallahu Anhu, dan hal pertama yang dilakukannya adalah thawaf. Dan aku juga menyaksikan orang-orang muhajirin dan anshar melakukan itu. Dan ibuku (Yaitu Asma binti Abu Bakar, dan saudarinya adalah Aisyah binti Abu Bakar) memberitahukan bahwa ia dan saudarinya, serta Zubair dan beberapa orang telah berihram untuk umrah. Ketika mereka selesai mengusap rukun, mereka pun bertahallul.”

Ahmad dan Muslim serta An-Nasa’I dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar, “Kami datang bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, berihram untuk menunaikan haji. Ketika kami semakin dekat dengan Mekah, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang tidak mempunyai hewan sembelihan, hendaklah ia bertahallul. Dan siapa yang memiliki hewan sembelihan hendaklah ia tetap pada ihramnya.” Asma berkata, “Zubair memiliki hewan sembelihan, maka aku bertahullul. Akupun memakai pakaianku dan menggunakan wewangianku. Kemudian aku duduk di dekat Zubair. Dan ia berkata, “Menjauhlah dariku,” maka aku berkata, “Apakah kamu takut aku akan melompat kepadamu?!”

Perhatikanlah bagaimana wanita yang agung ini berbicara kepada suaminya pada kondisi itu, dan di tempat yang mulia itu, dan kemudian meceritakannya kepada seluruh dunia tentang keadaan para shahabat saat bersama Rasulullah  Shallallahualaihi wa Sallam, dan di tempat yang suci seperti itu.

An-Nasa’I dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Zubair  bin Awwam, “Barangsiapa di antara kalian yang mampu menabung amal shalihnya untuk akhirat, hendaklah ia melakukannya.”

2. Kisahnya bersama keluarganya dan rasa cemburunya yang begitu besar

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Maimun bin Mihran, “Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’atih adalah istri dari Zubair bin Awwam. Dia mempunyai sikap yang keras kepada istri-istrinya. Dan Ummu Kultsum tidak menyukainya. Maka ia memintanya untuk menceraikannya, namun Zubair menolaknya. Hingga suatu hari ia merasakan sakit hendak melahirkan, sementara Zubair tidak mengetahuinya. Maka Ummu Kultsum mendesak Zubair untuk menceraikannya saat ia sedang berwudhu, Zubair akhirnya menjatuhkan talak satu. Kemudian ia keluar dari rumah Zubair dan melahirkan anaknya. Seseorang dari keluarga Zubair mengetahui hal ini dan segera memberitahukan Zubair bahwa ia telah melahirkan. Maka Zubair berkata, “Dia telah menipuku, semoga Allah menipunya! Ia segera mendatangi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda, “Kitabullah telah menerangkan tentang hukum ini sebelumnya, pinanglah iakembali” Zubair menjawab, “Sungguh ia tidak akan pernah kembali kepadaku selamanya.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ikrimah, ia mengatakan, “Asma’ binti Abu Bakar adalah istri dari Zubair bin Awwam, dan ia bersikap keras kepadanya. Maka Asma mendatangi ayahnya dan mengadukan hal itu. Ayahnya berkata, “Wahai anakku, bersabarlah. Sesungguhnya seorang istri yang memiliki suami yang shalih, kemudian ia meninggal, dan sang istri tidak pernah menikah lagi, maka mereka akan kembali dikumpulkan di surga.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan lafazh hadits darinya. Dari Urwah bin Zubair dan Fathimah binti Al-Mundzir bin Zubair, bahwa mereka berdua bercerita, “Asma binti Abu Bakar keluar untuk hijrah saat dia mengandung Abdullah bin Zubair. Sampai kemudian ia tiba di Quba’. Dan Abdullah pun lahir di Quba’. Setelah melahirkan ia keluar menemui Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam agar beliau memberi kunyahan kurmah pada si bayi. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengambil bayi itu darinya dan beliau meletakkan nya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma. Aisyah Radhiyallahu Anhaberkata, “Kami harus mencari sebentar sebelum mendapatkannya. Beliau mengunyah kurma itu lalu memberikannya ke mulut bayi sehingga yang pertama tama masuk ke perutnya adalah kunyahan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Selanjutnya Asma berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengusap bayi, mendoakan dan memberinya nama Abdullah. Tatkala anak itu berumur tujuh atau delapan tahun, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Ayahnya, Zubair yang memerintahkan demikian. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tersenyum saat melihat anak itu datang menemuinya. Kemudian beliau membaiatnya.”

Dan dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh Zubair ini, kita dapat mengambil sebuah pelajaran penting. Bahwa walaupun bai’at dari seorang anak kecil, Abdullah saat itu berusia tujuh atau delapan tahun, kepada Nabi Shallallahualaihi wa Sallam merupakan bai’at tabrik (mendapatkan keberkahan) dantasyrif (penghormatan dan penghargaan), dan bukan bai’at taklif (kewajiban), namun itu bertujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai yang mulia dalam jiwa si anak, dan membangun kepribadiannya. Juga melatihnya untuk mencintai Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, mengikuti petunjuknya, serta membela agamanya. Dan disana terdapat hikmah dari dibolehkannya anak-anak kecil yang cerdas untuk mengikuti majelis-majelis laki-laki dewasa agar meeka bisa mendengar pembicaraan mereka, menarik pelajaran dari kebijaksanaan mereka, tercerahkan dengan pemikiran-pemikiran mereka, dan mengambil manfaat dari pembicaraan mereka.

Zubair pun terus menjulang ke tempat yang lebih tinggi bersama anak-anaknya. Telah kami ceritakan sebelumnya bahwa ia memabwa putranya Abdullah saat berusia kurang dari lima tahun, untuk menyaksikan perang Khandaq dari benteng bersama dengan para wanita. Ini dilakukannya untuk menumbuhkan kecintaan berjihad di jiwa anaknya. Padahal ia bisa saja meninggalkan anaknya di rumah bersama dengan harta dan keturunan yang lain.

Bahkan ia melakukan perjalanan ke Syam dan membawanya untuk menyaksikan perang Yarmuk saat berusia sekitar tiga belas tahun. Dan menugaskan seseorang untuk menjaganya agar ia tidak ikut menyerbu ke medan tempur. Karena zubair mengetahui kekuatan jiwa dan keberanian hati yang dimiliki oleh putranya, yang tentunya diwarisinya dari ayahnya, semoga Allah meridhai keduanya.

Mari kita cermati sebuah kisah yang diceritakan oleh Mush’ab Az-Zubairi dalam Nasab Quraisy, tentang keikutsertaan Abdullah bin Zubair dalam perang Afrika bersama Abdullah bin Sa’ad Sarh pada tahun 27 H. Serta kisah tentang kepahlawanannya yang mengagumkan dalam menghadapi George raja romawi dengan pasukannya yang berjumlah seratus dua puluh ribu prajurit, dan kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin.

Abdullah bin Zubair berkata, “Ibnu Abi Sarh emengutusku untuk membawakan kabar gembira kepada Utsman bin Affan. Maka aku mendatanginya dan mengabarkan kemenangan yang dikaruniakan oleh Allah. Aku juga menceritakan keadaan kami di sana. Ketika aku selesai berbicara, dia berkata, “Apakah engkau bisa mengabarkan ini kepada orang-orang?”. Aku menjawab, “Apa yang menghalangiku untuk melakukan itu?, anda lebih aku segani daripada mereka semua!” Ia berkata, “Pergilah ke masjid dan kabarkanlah kepada mereka.” Akupun menuju masjid, dan menaiki mimbar. Tiba-tiba aku melihat wajah Zubair bin Awwam, dan wibawanya membuatku gugup! Diapun mengetahui itu, maka dia mengambil segenggam kerikil, dan medekatkan wajahnya ke wajahku, dan seolah dia hendak melemparku dengan kerikil tersebut. Maka aku kuatkan hatiku dan mulai berbicara. Setelah aku selesai, ayahku Zubair berkata, “Seolah aku mendengar Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berbicara! Siapa yang ingin menikah seorang wanita, hendaklah ia melihat ayah atau saudaranya, karena ia akan mempunyai sifat salah satu di antara mereka.”

Ini merupakan sebuah warna baru dari adab dan pendidikan.

Adapun yang berkenaan dengan adab, telah diketahui bahwasanya Abdullah bin Zubair mampu berbicara di hadapan khalifah dengan fasih dan jelas. Dan kemudian bermaksud untuk menyampaikan hal yang sama kepada orang-orang masjid yang dipenuhi oleh para shahabat. Namun ketika wajahya bertemu dengan wajah ayahnya, ia dikuasai oleh wibawa ayahnya. Dan menjadi gugup untuk berbicara di hadapan ayahnya. Dan menjadi gugup untuk berbicara di hadapan ayahnya yang begitu agung dan mempunyai kedudukan yang tinggi di hatinya. Ia diliputi kegalauan, bagaimana mungkin dia akan berbicara di atas mimbar itu sementara ayahnya hadir di sana?!

Sedangkan yang menyangkut pendidikan, terlihat hekas dari sikap yang diambil oleh Zubair, yang dengan kecerdasannya segera mengetahui kegugupan putranya. Ia pun menyayangkan sikap itu. Sungguh ia begitu kagum ketika melihat putranya bersiap untuk berbicara pada situasi tersebut, di mana terdapat banyak sekali shahabat-shahabat besar, termasuk di antara mereka ayahnya sendiri! Abdullah melihat tangan ayahnya memegang tanah masjid dengan geram dan menggenggam kerikil siap untuk dilemparkan kepadanya. Maka pemuda inipun segera menyampaikan pembicaraannya dengan kefasihan Abu Bakar dan bahkan dengan nada suara yang sama. Hal ini amat mengembirakan ZUbair, sampai ia berkata, “Seolah aku mendengar Abu Bakar yang berbicara!!” Abu Bakar adalah kakek dari Abdullah melalui ibunya Asma’. Di sini terdapat isyarat tentang pentingnya memilih istri dari tunas yang baik.

Kekerasan Zubair ini diimbangi dengan kelembutan dan kasih sayang disaat itu dibutuhkan. Maka kita lihat ia bercanda dengan anak-anaknya, bermain bersama mereka, bersyair untuk mereka, dan berbicara dengan meeka. Jadi, pada setiap kondisi mempunyai petunjuk yang berbeda, dan pada setiap tempat juga terdapat perkataan yang berbeda pula.

Kisah Sayyidah Dzatun Nithaqain (julukan bagi Asma’ binti Abu Bakar yang berarti yang mempunyai dua ikat pingga) yang mulia bersama suaminya Zubair tentang rasa cemburunya yang tinggi serta kepandaiannya dalam menjaga hati suaminya, menarik untuk disimak dan diambil pelajaran darinya, serta layak untuk dihargai.

Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, “Asma binti Abu Bakar berkata, “Ketika Zubair bin Awwam menikahiku, dia tidak mempunyai apapun di muka bumi ini, baik itu harta, budak, atau apapun juga, selain kuda dan tukang siram. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan biji kurma bagi penyiram kebunnya, memberi makan, memberi minum, menjahitkan timbanya dan membuatkan adonan rotinya. Tapi aku tidak pandai membuat roti karena itu para wanita Anshar tetanggakulah yang membuatkan roti, dan mereka adalah tetangga yang baik. Dan aku biasa membawa biji-biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadanya, di atas kepalaku sejauh dua pertiga farsakh.

Asma’ berkata, “Pada suatu hari, aku bertemu Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan para shahabatnya dari golongan Anshar, ketika aku sedang membawa biji-bijian di atas kepalaku. Beliau memanggilku dan berkata, “ikh, ikh” (untuk menurunkan untanya), segera beliau menderumkan untanya agar aku naik di belakangnya”. Kemudian Asma’ melanjutkan, “Namun aku malu berjalan bersama para lelaki. Dan aku ingat akan Zubair dan rasa cemburunya yang besar, bahkan dia adalah laki-laki yang paling pencemburu”. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengetahui bahwa aku merasa malu, maka beliau kembali melanjutkan perjalanan. Kemudian aku mendatangi Zubair, dan aku katakan : “Tadi aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam ketika sedang membawa biji-bijian diatas kepalaku, sementara beliau dengan shahabat-shahabatnya, kemudian beliau menurunkan untanya agar aku bisa naik, tapi aku malu kepadanya dan aku juga sadar akan cemburumu. Zubair berkatam, “Demi Allah! Engkau memanggul biji kurma di atas kepalamu adalah lebih berat bagiku daripada engkau menunggang bersama beliau.” Asma’ berkata, “Sampai kemudian Abu Bakar mengirimkan seorang pembantu yang mengambil alih pengurusan kuda dariku, sungguh seakan-akan ia telah membebaskanku.”

Lihatlah betapa wanita yang mulia ini rela memanggul biji kurma di atas kepalanya dari tempat yang cukup jauh, berjarak dua pertiga farsakh. Satu farsakh (5,5 Km), artinya sejauh kurang lebih 4km. Dan ia tetap sabar dan menerima dengan penuh keikhlasan dan kehormatan. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammelihat beratnya pekerjaan yang ia lakukan, maka beliau menurunkan untanya agar bisa membonceng nya. Beliau adalah pemimpin dari umat ini, dan suami dari Aisyah yang merupakan saudari dari Asma’. Pada saat itu beliau bersama beberapa orang shahabatnya. Asma’ merasa malu dan ingat akan sifat cemburu suaminya. Maka ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki walaupun dengan tubuh yang amat letih ini. Ini dilakukannya demi menjaga perasaan suaminya. Ketika ia menyampaikan ini kepada suaminya, Zubair merasa susah, karena hal itu (karena hal itu berboncengan dengan Rasulullah) tidak akan membangkitkan rasa cemburunya. Dan dalam sebuah riwayat dari Muslim, dari Ibnu Abi Mulaikah, “Bahwasanya Asma berkata, “Aku biasa mengurus rumah Zubair, dan ia mempunyai seekor kuda. Aku mengurus kuda tersebut, padahal tidak ada yang lebih berat bagiku selain dari mengurus kuda. Aku memotong rumput untuk makannya, memberinya makan, daan mengurus kebutuhannya.” Ibnu Abi Mulaikah melanjutkan, “Kemudian ia mendapatkan seorang pembantu. Saat itu Nabi Shallallahualaihi wa Sallam mendapatkan seorang tawanan perang, dan beliau memberikannya untuk Asma’ sebagai pembantu. Asma’ berkata, “Ia mengambil alih mengurus kuda. Dan membebaskanku dari tugas memberi makannya.”

Lalu suatu hari seorang laki-laki datang kepadaku dan berkata, “Wahai Ummu Abdullah, aku adalah seorang laki-laki miskin, aku ingin berjualan di depan rumahmu.” Asma’ menjawa, “Sesungguhnya kalau aku membolehkanmu, niscaya Zubair akan melarang. Maka kembalilah nanti, dan mintalah hal itu kepadaku saat Zubair ada dirumah.” Laki-laki itu kembali kemudian dan berkata, “Wahai Ummu Abdullah, aku adalah seorang laki-laki miskin, aku ingin berjualan di depan rumah mu.” Asma’ Menjawab, “Kenapa engkau harus memilih rumahku dari sekian banyak rumah di Madinah ini?!” Maka zubair berkata kepadanya, “Kenapa engkau melarang seorang laki-laki miskin untuk berjualan?!”. Laki-laki itupun berjualan hingga ia mendapatkan laba, dan aku menjual seorang budak wanita kepadanya. Lalu Zubair menemuiku dan uang hasil penjualan itu masih ada dalam pangkuanku, maka ia berkata, “Berikanlah itu kepadaku.” Asma’ menjawab, “Sesungguhnya aku telah menyedekahkannya.”

Ini adalah sebuah kecerdasan yang ditunjukkan oleh shahabiyah yang mulia ini dalam bersikap, dan menunjukkan kepintarannya dalam menyiasati permintaan laki-laki miskin tersebut, dengan mencari cara mendapatkan izin dari Zubair dan mengambil hatinya. Dengan begitu ia bisa memberikan kebaikan untuk laki-laki miskin tersebut dengan izin langsung dari suaminya.

3. Suaminya, Infaknya, dan Sedekah-sedekahnya Sumber Kekayaannya

Dunia seolah datang menghapiri Zubair, dan harta pun mengalir deras ke tangannya. Itu adalah hasil dari pembagian tanah yang diberikan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan tiga khalifah yang datang setelahnya dari harta fai’, dan dari apa yang didapatnya dari harta rampasan perang dalam banyak peperangan yang diikutinya. Juga dari kesibukannya dalam berdagang dan menginvestasikan hartanya. Dan apapun hasil yang datang kepadanya dari budak-budak yang dimilikinya, ia telah memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak dari tanah-tanahnya. Seluruh pemasukan tersebut terkumpul dan membanjiri tangannya. Dan ia termasuk diantara shahabat yang terkaya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Urwah, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair sebidang tanah dengan kebun kurma, yang merupakan harta ramapasan dari Bani Nadhir. Dan Abu Bakar memberi Zubair sebuah lereng yang merupakan tanah mati. Dan Umar memberi Zubair sebidang lembah sempit.

Telah kami ceritakan sebelumnya bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair sebidang tanah di khaibar, di Suwariq, dan di Tsurair di mana beliau memberikannya tanah sejauh kudanya dapat berlari. Ia pun menunggang kudanya sampai kuda tersebut berhenti karena keletihan, setelah itu dia pun melempar anak panahnya, dan mereka memberinya sampai batas jatuhnya anak panah tersebut.

Ibnu Asakir dan yang lainnya menceritakan bahwa dalam pembagian harta rampasang perang, Zubair mendapatkan empat bagian, satu bagian untuknya, dua bagian untuk kudanya, dan satu lagi untuk keluarganya yaitu ibunya.

Dalam Musnad Ahmad diceritakan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair satu bagian, ibunya satu bagian, dan untuk kudanya dua bagian.”

Abu Ubaid menyebutkan dalam Al-Amwal, dari Musa bin Thalhah, ia mengatakan, “Utsman membagikan tanah untuk lima shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, Zubair, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Usamah bin Zaid, dan Khabbab bin Al-Arat.”

Diceritakan bahwa di Irak banyak terdapat tanah yang telah kosong ditinggalkanya pemiliknya, tidak ada lagi yang menempati atau memanfaatkannya. Tanah seperti ini hukumnya dikembalikan kepada khalifah. Utsman berpendapat dan begitu juga Umar sebelumnya, bahwa memanfaatkannya lebih baik bagi umat Islam, dan pajak tanahnya pun lebih bermanfaat bagi mereka. Maka Utsman memberikannya kepada yang ia anggap berhak, untuk dimanfaatkan sebagaimana tanah-tanah lain yang dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya, dan mengeluarkan kewajiban mereka atas kaum muslimin (Ini merupakan bagian perkataan Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal).

Ibnu Sa’ad dan yang lainnya meriwayatkan, dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Ketika Umar terbunuh, Zubair bin Awwam mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pegawai khalifah.”

Zubair senantiasa memimpin langsung perniagaannya, sehingga ia sering pulang pergi ke Syam. Ibnu Abdil Barr menceritakan dalam Al-Isti’ab, “Zubair adalah orang yang sangat beruntung dalam perniagaannya. Suatu ketika ditanyakan kepadanya, “Dengan apa engkau mendapatkan apa yang telah engkau peroleh dalam perniagaanmu?” dia menjawab, “Itu karena aku tidak pernah berbelanja dengan curang, tidak menolak suatu keuntungan, dan Allah memberikan keberkahan bagi siapa yang dikehendakinya.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dair Urwah bin Zubair, “Zubair mempunyai beberapa bidang tanah di Mesir, beberapa bidang tanah di Iskandariyah, juga beberapa bidang tanah di Kufah dan Bashrah, dan dia juga mempunyai pemasukan dari propertinya yang ada di Madinah.”

Dan dalam riwayat tentang harta warisannya yang panjang, disebutkan bahwa ia mempunyai Tanah yang luas di Al-Ghabah ( sebuah tempat di barat laut Madinah Al-Munawwarah, dengan jarak sekitar 6km dari pusat kota), sebelas rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, dua rumah di Kufah, dan satu rumah di Mesir.

4. Kedermawanan dan Kebaikannya

Hakim bin Hizam Radhiyallahu Anhu berkta, “Sesungguhnya Zubair berpacu dengan angin.”

Ibnu Asakir serta Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Juwariyah bin Asma’, ia berkata, “Zubair menjual sebuah rumahnya dengan harta enam ratus ribu dirham, maka dikatakan kepadanya, “Hai Abu Abdullah, engkau telah ditipu! Dia menjawab, “Sekali-kali tidak, demi Allah kalian akan mengetahui bahwa aku tidak ditipu, itu kuniatkan di jalan Allah.”

Ya’qub bin Sufyan serta Abu Nu’aim, Ibnu asakir, dan yang lainya meriwayatkan dari Sa’id bin Abdul Aziz, “Zubair memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak tanahnya, dan tidak sepeserpun dari harta itu yang masuk kerumahnya, semuanya ia sedekahkan!”

Di dalam riwayat lain dari Sa’id bin Abdul Aziz, ia berkata, “Zubair memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak tanahnya, dan ia membagi-bagikannya setiap malam, kemudian ia pulang ke rumahynya tanpa membawa apa-apa lagi.”

Di dalam kitab Ar-Riyadh An-Nadhirah diceritakan bahwa bahwa ia mengirimkan untuk ummul mukminin Aisyah dua kantung uang yang berjumlah seratus delapan puluh ribu dirham.

5. Dan di antara bentuk kedermawanannya adalah infaknya kepada putra-putra sahabat yang diwasiatkan kepadanya

Di dalam sebuah hadits yang panjang tentnag harta warisan Zubair dan hutang-hutangnya, Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan, “Seseorang akan mendatanginya dengan memabawa harta dan menitipkannya kepada Zubair, namun Zubair berkata, “Tidak, namun ini adalah hutang, sesungguhnya aku takut akan menghilangkannya.”

Adapun maksud dari perkataannya, “Tidak, namun ini adalah hutang” bahwa ia tidak ingin memegang sebuah titipan kecuali kalau orang tersebut rela menjadikan harta tersebut menjadi tanggungannya sepenuhnya/ Maksudnya, bahawa ia takut seandaonya harta tersebut hilang, sehingga ia akan di anggap tidak cermat dalam menjaganya. Maka ia memilih menjadikannya sebagai tanggungannya, sehingga lebih nyaman bagi pemilik harta, dan lebih menjaga kehormatannya.

Di sini kita melihat bagaimana sikap Zubair yang sangat berlebihan dalam berbuat baik kepada para shahabatnya. Ia bersedia menjaga harta – harta mereka sepeninggal mereka, dan kemudian menunaikan wasiat-wasiat merek a kepada anak-anak mereka. Dan tidak cukup demikian, ia sangat berhati-hati dalam menjaga harta mereka, baik itu titipan atau wasiat – dengan menjadikan harta-harta tersebut menjadi tanggungan-tanggungannya, walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya. Namun ia mejadikan itu semua dalam tanggungannya sebagai bentuk dari keseriusannya dalam menajga harta mereka (ini adalah perkataan dari Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam karya terbesarnya, Fathul Bari).

Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi, dan Ath-Thabrani, serta Al-Baihaqi meriwayatkan dari Umar bin KhaththabRadhiyallahu Anhu, ia berkata “Kalau aku ingin meninggalkan suatu warisan, atau menitipkan suatu titipan kepada seseorang, niscaya akan aku titipkan kepada Zubair bin Awwam, sesungguhnya dia adalah salah seorang pembela agama!”

Dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Al-Fasawi, Mush’ab Az-Zubairi, Al-Baihaqi, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya berkata, “ Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, Al-Miqdad bin Al-Aswad, dan Muthi’ bin Al-Aswad, berwasiat kepada Zubair Radhiyallahu Anhu. Maka ia berkata kepada Muthi’, “Aku tidak dapat menerima wasiatmu.” Maka Muthi’ berkata, “Aku mohon kepadamu dengan nama Allah dan atas nama kasih sayang, demi Allah aku hanya mengikuti pendapat Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, sungguh aku mendengar Umar berkta, “Kalau aku ingin meninggalkan suatu warisan, atau menitipkan suatu titipan kepada seseorang, niscaya akan aku titipkan kepada Zubair bin Awwam, sesungguhnya dia adalah seorang pembela agama!”

Dan dalam riwayat dari Mush’ab Az-Zubairi, “Maka Muthi’ berkata kepadanya, “Hai Abu Abdullah, terimalah wasiatku, sungguh aku mendengar Umar berkata, “Zubair adalah sebaik-baik tempat menitipkan wasiat, kalau aku ingin meninggalkan suatu barang,  maka pastilah aku wasiatkan kepada Zubair.” Zubair berkata, “Demi Allah, apakah engkau mendengar ini dari Umar?” Ia menjawab, “Demi Allah aku telah mendengar ini dari Umar”. Dan Zubair pun menerima wasiatnya.”

Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dia berkata, “Tujuh orang dari shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah berwasiat kepada Zubair, diantaranya Utsman, Al-Miqdad, Abdurrahman bin Auf, dan Ibnu Mas’ud. Zubair menjaga harta wasiat mereka, dan memberikan nafkah kepada anak-anak mereka dari hartanya pribadi!”

Ibnu Sa’ad dan Al-Fasawi, juga Al-Baihaqi meriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, “Abdullah bin Mas’ud berwasiat, dan ia menulis, “Sesungguhnya aku menyerahkan wasiatku kepada Allah, kepada Zubair bin Awwam, dan keapada anaknya Abdullah bin Zubair, dan sesungguhnya mereka berdua berhak sepenuhnya atas apa yang diwasiatkan kepada mereka dari harta warisanku, dan tidak seorangpun dari putri-putriku yang dinikahkan, kecuali dengan izin mereka berdua, dan janganlah Zainab menghalangi hal tersebut (Zainab adalah istri dari Ibnu Mas’ud).”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Qais bin Abu Hazim, “Zubair mendatangi Utsman setelah Abdullah bin Mas’ud wafat, dan berkata, “Berikan kepadaku pemberian dari Abdullah. Sungguh keluarga dari Abdullah lebih berhak atasnya dari baitul mal. Maka ia memberikannya lima belas ribu dirham (sebelumlah Abdullah bin Mas’ud telah meninggalkan pemberiannya).”

E. Ilmunya dan Hadits-Hadits yang Diriwayatkannya

Zubair berada di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam nyarus dalam seluruh masa dakwahnya, keculai beberapa waktu di mana ia berpisah dari beliau saat ia hijrah ke Habasyah. Zubair hadir dalam majelis beliau, memperhatikan sunnahnya, mendengar haditsnya, dan mendapatkan ilmu yang amat banyak darinya. Namun demikian, sedikit sekali hadits yang diriwayatkan olehnya. Ini dikarenakan oleh banyak faktor, diantaranya dia mendengar Nabi Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” Maka ia berpegang kepada hadits ini, dan bersama beberapa sahabat lain menahan salah tanpa disengaja, walaupun dianggap tidak berdosa secara ijma, namun Zubair takut kalau banyaknya hadits yang diriwayatkan akan membuatnya salah pada suatu saat, sementara dia tidak menyadarinya.

Ditambah lagi bahwa dia tidak mengkhususkan dirinya untuk menyampaikan hadits atau menyebarkan ilmu. Hampir seluruh harinya dia persembahkan untuk dakwah dan jihad. Juga untuk mengurus perniagaannya dan memperhatikan urusan keluarganya. Dan tidak ketinggalan ia memberikan perhatian yang besar dalam mengurus amanah yang diwasiatkan kepadanya, yang terdiri dari anak-anak para shahabat, dan semua ini nyaris menyita seluruh waktunya.

Setiap shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam merupakan imam yang layak diikuti, dan perbuatan mereka adalah contoh yang layak diteladani. Mereka adalah orang-orang yang diharapkan dan mengamalkannya. Kebanyakan shahabat-shahabat besar sangat sedikit meriwayatkan hadits disbanding yang lainnya. Seperti Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Sa’id bin Zaid serta shahabat-shahabat besar lebih muda lainnya. Mereka ini dianggap sebagai ahli fikih dari shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Mereka hidup dengan umur yang panjang dan dibutuhkan oleh masyarakatnya. Mereka menajdi rujukan, dan tidak mungkin bagi mereka untuk menyembunyikan ilmu yang mereka dapatkan dari Rasulullah. Di samping mereka, banyak terdapat shahabat-shahabat lain yang hidup biasa tanpa menjadi rujukan bagi masyarakat. Ini dikarenakan banyaknya shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Bahkan pada perang Tabuk, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam disertai oleh tiga puluh ribu orang shahabatnya.

Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasa’I, Abu Dawud, serta Ibnu Majah dan lafazh hadits berasal darinya, meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, “Aku bertanya kepada Zubair, “Kepana aku tidak mendengarmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sebagaimana aku mendengar dari Ibnu Mas’ud dan fulan, dan fulan? Ia menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah berpisah dari beliau sejak aku menyatakan keislamanku, namun aku pernah mendengarnya bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

Dalam sebuah riwayat yang panjang dari Ibnu Hibban, dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Abdullah bin Zubair berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, riwayatkanlah hadits dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadaku agar aku bisa meriwayatkannya darimu. Karena putra-putra shahabat selalu meriwayatkan hadits dari ayah-ayah mereka. “Zubair berkata, “Wahai berkata, “Wahai anakku, tidak ada seorangpun yang menemani Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, kecuali aku telah menemani beliau seperti itu dan bahkan lebih baik. Aku telah mendampingi beliau dengan sebaik-baiknya, dan segala puji hanya bagi Allah. Dan aku telah mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

Zubair meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Adapun yang meriwayatkan hadits darinya antara lain, dua putranya Abdullah bin Urwah, Abdurrahman bin Auf, Al-Ahnaf bin Qais, Al-Hasan Al-Bashri, Qais bin Abu Hazim, malik bin Aus bin Al-Hadatsan, maimun bin Mihran, dan Nafi’ bin Juabir bin Muth’im, serta yang lainnya.

F. Keutamaannya dan Jaminan Surga Untuknya, Serta Kedudukannya Di Sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam Dan Para Sahabatnya

Allah Ta’ala telah memuliakan Zubair dengan banyak keutamaan dan kelebihan. RasulullahShallallahualaihi wa Sallam juga memberikan penghargaan dengan pujian-pujian yang istimewa. Zubair sendiri telah menorehkan dalam lembaran-lembaran hidupnya sejarah yang cemerlang dan karakter yang sangat terhormat. Dia telah mempersembahkan kemuliaan yang tertinggi dan dengan begitu ia pun membumbung tinggi menempati posisi yang mulia.

Dia adalah salah seorang di antara para shahabat besar pertama memeluk Islam. Orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah untuk membela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Melakukan dua hijrah, ke Habasyah dan Madinah Al-Munawwarah. Shalat menghadap dua kiblat. Mendampingi NabiShallallahualaihi wa Sallam setiap peperangannya. Dan salah seorang dari pahlawan perang Badar yang menggunakan ikat kepala kuning, dan para malaikat pun turun dengan keadaan demikian. Dia bertahan pada perang Uhud, dan membai’at dengan bai’at kematian. Dan termasuk di antara mereka yang memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya dalam peristiwa Hamra’ul Asad, dan juga termasuk di antara mereka yang melakukan Bai’atur Ridhwan di bawah pohon. Dialah yang memegang janji RasulullahShallallahualaihi wa Sallam pada saat penaklukan kota Mekah. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, juga menyebutkan kedua orang tuanya dan menebusnya dengan mereka berdua, serta mendoakan kebaikan untuknya dan untuk pedangnya. Beliau memujinya di hadapan para shahabatnya dengan menyebutnya sebagai pembelanya. Beliau bersaksi kepadanya di Hira’ bahwa ia akan mati syahid, dan memberi kabar gembira dengan surga. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pun wafat dalam keadaan ridha kepadanya. Lalu Umar menjadikannya salah satu di antara enam orang anggota dewan syura, dan mencalonkannya menjadi khalifah, dan banyak shahabat yang berwasiat kepadanya agar menjaga anak-anak dan harta mereka. Tubuhnya penuh dengan bekas luka dan tusukan karena banyaknya peperangan yang ia ikuti. Dan dalam diri shahabat-shahabatnya, ia mempunyai kedudukan yang tidak dipunyai kecuali oleh sedikit dari shahabat-shahabat terbaik Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

1. Keutamaannya, Kelebihannya, dan Kedudukannya di Sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Di antara keutamaan Zubair yang paling menonjol adalah ia termasuk orang yang pertama masuk Islam, dan menjadi bagian dari kaum Muhajirin. Dan Allah Ta’ala telah memuji dan meninggikan kedudukan mereka dalam firmannya “Dan orang-orang lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung (QS. At-Taubah [9]:100)”.

Di juga termasuk yang ikut dalam perang Badar. Dan mereka mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah dan Rasul Nya dan di hati kaum muslimin berada pada tempat yang amat terhormat.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, juga Ibnu Hibban dan yang lainnya, dari Ali bin Abi Thalib, bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Barangkali Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh telah pasti bagi kalian surga.”

Dan dalam riwayat dari Abu Dawud, dan Ibnu Hibban serta Al-Hakim, dari Abu Hurairah, dari RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, “Barangkali Allah telah mengetahui perihal mereka yang ikut perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh kalian telah Aku ampuni.”

Dan Allah juga telah memuji mereka yang keluar bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam setelah perang Uhud, padahal mereka dalam keadaan terluka, namun tetap menerima panggilan untuk berjihad. Mereka bergegas mengejar pasukan Quraisy sampai di Hamra’ul Asad. Zubair termasuk di antara mereka. Maka dia pun menerima kesaksian yang mulia itu dan sebuah pengakuan bahwa ia termasuk orang yang menyambut panggilan Allah dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

Di dalam Ash-Shahihain dan yang lainnya, dari Urwah bin Zubair, “Aisyah Radhiyallahu Anha membacakan ayat, “(yaitu) orang-orangy ang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar (QS. Al-Imran [3]:172) dan berkata kepada Urwah, “Hai putra saudariku, sesungguhnya ayah dan kakekmu termasuk di antara mereka yaitu Zubair dan Abu Bakar).

Dan diantara keutamaannya yang lain adalah bahwa ia turut hadir dalam perjanjian Hudaibiah dan berbai’at di bawah pohon. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Ummu Mubasysyir Al-Anshariyah Radhiyallahu Anha, dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut dalam perang Badar dan Hudaibiyah.”

Dan Rasulullah telah menegaskan kepadanya bahwa ia adalah seorang syahid, dan kedudukan para syuhada di sisi Tuhan mereka sangat istimewa, dan ini telah dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Ahmad, Muslim, An-Nasa’I, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mendaki bukit Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair. Tiba-tiba bukit tersebut berguncang. Maka RasulullahShallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Diamlah wahai Hira, sesungguhnya yang ada di atasmu adalah seorang Nabi, Ash-Shiddiq, dan syahid”.

Dalam Ash-Shahihain serta yang lainnya, dari Jabir bin Abdullah, “Bahwasanya Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berkata pada saat perang Khandaq, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Dalam sebuah riwayat yang shahih dalam kitab Mustadrak Al-Hakim, dari Urwah bin Zubair, dari Zubair bin Awwam, Nabi Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Hai Abu Abdullah, tahukah engkau bahwasanya Rasulullah pernah mengatakan hal itu untuk orang selainmu?” Dia menjawab, “Tidak, Demi Allah aku tidak tahu.”

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, dengan sanad yang shahih, dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Zubair adalah putra bibiku, dan pembelaku dari umatku.”

Pada perang Uhud, Zubair memperlihatkan peran yang sangat baik, dia termasuk di antara sedikit shahabat yang bertahan di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pun memuliakannya.

Ahmad meriwayatkan, dengan sanad yang shahih, dari Abdullah bin Zubair, berkata, “RasulullahShallallahualaihi wa Sallam menebusku dengan kedua orang tuanya pada perang Uhud.”

Dan Rasulullah menguatkan keutamaan pembelanya tersebut, dan mengulang pernyataannya itu pada perang Khandaq.

Asy-Syaikhani dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Zubair Radhiyallahu Anhu, “Sungguh Demi Allah, Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah menebusku dengan kedua orang tuanya pada hari itu, dan berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitab Al-Isti’ab dari Abu Ishaq As-Sabi’I, ia berkata, “Aku bertanya dalam suatu majelis yang terdapat lebih dari dua puluh orang shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam disana, “Siapa orang yang paling mulia di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam?” Mereka menjawab, “Zubair dan Ali bin Abi Thalib.”

Maksudnya bahwa dua orang sahabat ini termasuk di antara mereka yang mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, seperti ucapan beliau Shallallahualaihi wa Sallamkepada Abu Dzar, “Tidak satupun yang berada di bawah langit, dan berjalan di atas bumi, yang lebih jujur perkataannya dari pada Abu Dzar.”

Ibnu Hibban berkata, “Tidak mungkin perkataan ini dimaksudkan secara umum, karena saat itu langit sana juga terdapat Al-Mushthafa Shallallahualaihi wa Sallam, Ash-Shiddiq, dan Al-Faruq Radhiyallahu Anhuma.”

Juga perkataan Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, “Umatku yang paling pengasih kepada yang lain adalah Abu Bakar, dan yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, dan yang paling pemalu adalah Utsman.”

Ibnu Hibban berkata, “Kata-kata ini adalah kata-kata yang dihapuskan darinya “dari atau di antara”. Jadi maksud dari ucapan Nabi, “Umatku yang paling pengasih kepada yang lain”, adalah, “Di antara umatku yang paling pengasih”, juga ucapan beliau, “Dan yang paling tegas dalam agama Allah”, maksudnya adalah, “Di antara yang paling tegas, juga di antara yang paling tegas, juga di antara yang paling pemalu.”

2. Jaminan Surga

Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memahkotai seluruh kabar gembira dan pujian-pujiannya untuk Zubair dengan bersaksi bahwa ia adalah penghuni surga. Sebagaimana banyak disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang telah disebutkan beberapa kali dalam kita ini. Diantaranya :

Ahmad, An-Nasa’I, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban serta yang lainnya meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Ia berkata, Nabi Shallallahualaihi wa Sallam telah bersabda, “Sepuluh orang di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, dan Zubair di surga.” Dan ia menyebutkan sisanya.

Ahmad, An-Nasa’I, dan Ibnu Hibban serta yang lainnya meriwayatkan dari banyak sanad, dari Sa’id bin Zaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang di surga, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair.” Hingga akhir hadits.

Dan Syu’bah bin Al-Hajjaj meriwayatkan dari Manshur bin Abdurrahman, ia berkata, “Aku mendengar Asy-Sya’bi berkata, “Aku bertemu dengan lebih dari lima ratus orang shahabat, dan semua mengatakan, “Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair di surga.”

Empat Shahabat ini termasuk dalam sepuluh orang yang disebutkan dalam hadits sebelumnya. Ikut serta dalam perang Badar, dan keempatnya terbunuh dan mati dalam keadaan syahid, Radhiyallahu Anhum, dan Allah telah membuktikan janjinya.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, dari Ali bin Abi Thalib yang berkata, “Telingaku telah mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.” Adalah hadits lemah yang lemah. Dianggap lemah oleh At-Tirmidzi, dan Adz-Dzahabi, dan banyak ulama lainnya.

3. Kedudukan di Antara Shahabat

Para shahabat telah mengetahui kedudukan Zubair di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, juga kedudukannya dalam Islam, dan keutamaan-keutamaan serta peran-perannya yang mengagumkan dalam banyak peristiwa yang ditorehkannya dalam perjalanan hidupnya bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan setelah wafatnya beliau. Maka ia pun mendapat tempat yang istimewa di hati mereka.

Cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa Umar Radhiyallahu Anhu menunjuknya menjadi salah satu dari enam orang anggota majelis syura, dan membatasi tugas penunjukan khalifah di antara mereka.

Dan telah disebutkan sebelumnya perkataan dari Umar, “Kalau aku ingin meninggalkan suatu warisan, atau menitipkan suatu titipan kepada seseorang, niscaya akan aku titipkan kepada Zubair bin Awwam, sesungguhnya dia adalah salah satu rukun dari agama!”

Dan kedudukannya di sisi Utsman pun tidak kurang dari kedudukannya di sisi Umar. Ahmad dan Al-Bukhari, serta An-nasa’I dan Al-Hakim meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Marwan bin Al-Hakam mengabarkanku dan berkata “Utsman menderita sakit pendarahan yang parah di hidungnya pada tahun di mana penyakit itu mewabah, hingga ia tidak bisa berangkat haji, dan ia pun menyiapkan wasiat. Kemudian datang seorang laki-laki dari Quraisy kepadanya dan berkata, “Tunjuklah pengganti.” Utsman bertanya, “Apakah mereka membicarakan ini?” di menjawab, “Iya”. Utsman berkata, “Siapa yang menurut mereka pantas?” Dan ia pun diam. Kemudian masuk laki-laki lain aku rasa dia adalah Al-Harits ( Dia adalah Al-Harits bin Al-Hakam, saudara dari Marwan yang menceritakan riwayat ini) dan berkata, “Tunjuklah pengganti” Utsman bertanya, “Apakah mereka membicarakan ini?” di menjawab “Iya”. Utsman berkata, “Siapa yang menurut mereka pantas?” dan dia pun diam. Kemudian dia berkata, “Barangkali mereka menyebut Zubair?” dia menjawab, “Iya”. Utsman berkata, “Sungguhm demi Dzat jiwaku yang berada ditangan- Nya, sejauh yang aku tahu, sesungguhnya dia adalah yang terbaik dari mereka, dan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.”

Adapun Ali Radhiyallahu Anhu, cukuplah menjadi bukti atas kecintaannya yang mendalam terhadap Zubair, dan penghormatannya yang tinggi kepadanya, kesedihannya yang luar biasa pada saat mendengar kabar tentang syahidnya Zubair, dan menyebut pembunuhannya sebagai penghuni neraka, dan akan kita ceritakan kemudian.

Suatu ketika ada seorang laki-laki yang mencaci maki Ali, Thalhah, dan Zubair. Lalu lewatlah Sa’ad bin Abi Waqqash dan melarangnya dari itu, namun ia tidak berhenti. Lalu Sa’ad mengancam akan mendoakan kecelakaan atasnya, namun orang itu tetap tidak peduli, maka Sa’ad pun berdoa.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia bercerita, “Saad berkata, “Ya Allah, kalau orang ini telah mencaci mereka yang telah berbuat apa yang telah mereka lakukan untukmu, maka pada hari ini, jadikanlah orang ini sebagai contoh! Tiba-tiba datanglah seekor unta, dan orang-orang memberinya jalan, dan unta itu kemudian menabrak dan menginjak orang tersebut. Dan aku melihat orang-orang mengikuti Sa’ad dan berkata, “Allah telah mengabulkan doamu wahai Abi Ishaq.”

Ibnu Sa’ad dan ath-Thabrani, juga Al-Bazzar dan yang lainnya, meriwayatkan dari nafi’, “Ibnu Umar mendengar seseorang berkata, “Aku adalah putra dari pembela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Maka Ibnu Umar berkata, “Kalau engkau memang dari keluarga Zubair, tapi kalau tidak, maka bukan pembela Rasulullah.”

Hasan bin Tsabit telah memujinya dalam sebuah syair yang indah dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya, serta sifat-sifat dan kiprahnya.

Zubair bin Bakkar dan Al-Hakim bin Tsabit, serta Ibnu Abdill Barr dan yang lainnya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari Fathimah binti Al-Mundzir, Dari neneknya Asma binti Abu Bakar, “Suatu ketika Zubair mendatangi melwati sebuah majelis yang dihadiri oleh para shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Saat itu Hasan sedang membacakan syairnya di hadapan mereka. Namun mereka tidak mendengarkannya dengan antusias, maka zubair pun duduk bersama mereka, dan kemudian berkata, “Kenapa aku melihat kalian tidak memperhatikan apa yang kalian dengar dari syair Ibnu Al-Furai’ah?! Sungguh Rasulullah pernah mendengarkan syairnya dan memperhatikannya dengan baik, dan melebihkan imbalannya, serta tidak membagi perhatiannya dengan yang lain.”

G. Bersama Khulafaur Rasyidin Dan Mengalami Masa Terjadinya Fitnah

Zubair beserta para shahabat dan bahkan seluruh kaum muslimin melepas kepergian RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dengan hati yang hancur oleh kesedihan karena harus berpisah selama-lamanya. Mata mereka digenangi air mata karena kehilangan beliau, jiwa-jiwa menjadi resah karena tidak ada lagi yang akan mengobati rasa rindu dan menyembuhkan penyakit-penyakit mereka. Mereka begitu terpukul oleh peristiwa yang meninggalkan suatu kekosongan yang amat besar, dikarenakan hilangnya suatu masa di mana mereka hidup dalam naungan hikmah kenabian, dinaungi oleh kasih sayang, rasa cinta, keagungan akhlak, dan keindahan pekertinya. Suatu masa di mana mereka terus mengharapkan dan menunggu turunnya wahyu satu demi satu, dan ayat-ayat tersebut mampu menonjolkan potensi mereka dan mengarahkan jalan hidup mereka, serta membimbing langkah mereka.

Namun para shahabat tersebut adalah alumni dari madrasah nubuwwah (sekolah kenabian) yang membentuk, mendidik, dan mengarahkan mereka bagik secara lisan maupun dengan perbuatan selama dua puluh tiga tahun. Dan mereka pun lulus dari madrasah tersebut sebagai murid-murid terbaik yang dibina langsung oleh Nabi teragung Shallallahualaihi wa Sallam. Mereka pun bangkit untuk mengajarkan apa yang telah mereka dapatkan dengan membawa Al-Qur’an dan sunnah yang mulia, yang akan menjaga jalan mereka, dan mengarahkan perbuatan mereka kepada kebenaran dan kebaikan serta kebahagiaan.

Zubair adalah satu di antara shahabat yang tercerahkan oleh ajaran-ajaran madrasah tersebut sejak hari-hari pertamanya sampai detik-detik akhir keberadaan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sebagai seorang pemimpin sekaligus guru. Zubair telah menorehkan dalam lembaran perjalanan hidupnya kisah-kisah kepahlawanan dan pengorbanan serta keikhlasan yang amat mengangumkan. Juga keteguhannya dalam berpegang kepada sinar yang meneranginya dan cahaya yang lebih luas dan menyinari seluruh penjuru alam, yang terlihat dalam bentuk pokok-pokok Islam dan makna-makna mengagumkan yang terkandung di dalam nya serta dalam bentuk penerapannya dengan sebaik-baiknya.

Bersama para shahabat yang lain, ia meneruskan perjalanan hidupnya, diikuti oleh generasi baru setelah mereka, yang berdiri dari para tabi’in, di ikuti oleh generasi baru setelah mereka, yang terdiri dari para tabiin, dibawah pimpinan empat khulafaur rasyidin. Ia tetap pada sikapnya seperti saat bersama RasulullahShallallahualaihi wa Sallam. Ia pun mendampingi para khalifah satu persatu, membantu mereka dalam mengurus Negara dan rakyat. Bergabung dalam sebuah badan terhormat bersama dengan para shahabat besar yang membentuk majelis syura, yang akan mengarahkan penerapan hukum dan membantu khalifah dalam menjaga kemurnian agama dan dalam mengurus Negara. Majelis syura ini juga berwenang untuk membetulkan posisi yang salah, meluruskan kekeliruan, memberikan nasihat, menutupi kelemahan, dan menjaga agar tidak tergelincir. Di samping itu, menjaga kemurnian petunjuk kepada yang benar. Dan majelis ini bukanlah manjelis yang berfungsi untuk pengambilan suara mayoritas, atau memberi tanda tangan dan paraf dalam menetapkan hukum, dan bekerja berdasarkan hawa nafsu serta mengikuti keinginan pribadi, sebagaimana yang kita saksikan dalam banyak catatan sejarah, dan bahkan pada zaman kita yang serba sulit ini!!

Zubair tidak pernah absen dalam setiap peristiwa besar yang terjadi selama masa kepemimpinan empat khulafaur rasyidin. Bahkan ia ikut terbakar oleh api fitnah yang mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Utsman, dan kemudian Ali. Dan juga tergilas olehnya, yang kemudian berakhir dengan kepergian ruhnya sebagai seorang syahid yang selalu mempersembahkan pengorbanan yang paling tinggi.

Adapun keterlibatannya dalam peristiwa fitnah adalah dengan tujuan beramai dan menangkap para penyebar fitnah yang telah menyebarkan kejahatan di antara kaum muslimin. Maka ia pun bangkit bersama sekelompok saudara-saudaranya untuk memadamkan apinya, dan mengembalikan keadaan seperti semula, dengan menjadikan firman Allah Ta’ala, “Dan apabila da dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antar keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zhalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencitai orang-orang yang berlaku adil (QS. Al-Hujurat [49]:9)”. Sebagai pedoman mereka. Namun panah-panah dari para pemberontak tidak pernah lepas darinya, bahkan mengejarnya hingga keluar dari medan tempur. Sebuah tangan yang belumpur dosa pun terulur kepadanya dengan pedang seorang pengecut. Ia pun terbunuh secara licik, dan kembali kepada Tuhannya sebagai seorang syahid, dan penuh kebahagiaan sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

1. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sejak hari pertama pemerintahan Abu Bakar, Zubair telah berada bersamanya. Turut membai’atnya di Saqifah Bani Sa’idah, dan mendukungnya dalam menghadapi perang melawan orang-orang murtad, serta menjadi salah satu anggota dari majelis syura. Dan Abu Bakar sendiri mendekatkan Zubair kepadanya dan memuliakannya, karena ia mengetahu kedudukannya di sisi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan juga karena kiprahnya yang mengagumkan dan banyaknya keutamaan-keutamaan lain yang dimilikinya.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia bercerita, “Ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam wafat, orang-orang berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah, dan Abu Bakar serta Umar juga berada bersama mereka di sana.” Abu Sa’id meneruskan, “Kemudian seorang pembicara dari Anshar berdiri dan berkata, “Apakah kalian tahu bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam adalah salah seorang dari Muhajirin, maka penggantinya pun haruslah dari kaum Muhajirin. Lalu kita adalah Anshar dan penolong Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, maka kita pun akan menjadi Anshar bagi beliau.” Maka Umar berdiri dan berkata, “Sungguh benar apa yang dikatakan oleh justru bicara kalian, kalau kalian meminta hal selain itu, maka kami tidak akan membai’at kalian. Kemudian Umar mengambil tangan Abu Bakar dan berkata, “Inilah pemimpin kalian, maka bai’atlah dia. Lalu Umar membai’atnya, dan diikuti oleh bai’at dari kaum Muhajirin dan Anshar.” Abu sa’id melanjutkan, “Kemudian Abu Bakar naik mimbar, dan melihat wajah seluruh hadirin, namun ia tidak menemukan Zubair. Maka ia pun memanggil Zubair, dan ia segera datang. Abu Bakar berkata, “Wahai putra dari bibi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan pembelanya, apakah engkau telah mengatakan bahwa aku menginginkan terpecahnyya tongkat kaum muslimin?” dia menjawab, “Tidak ada cercaan wahai khalifah Rasulullah.” Dia pun bangkit dan membaiatnya.” Kemudian Abu Bakar kembali melihat wajah-wajah mereka yang hadir, dan ia tidak melihat Ali. Maka ia pun memerintahkan untuk memanggil Ali bin Abi Thalib, dan ia segera datang. Abu Bakar berkata, “Wahai putra dari paman Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam,dan suami dari putrinya, apakah engkau mengatakan bahwa aku menginginkan terpecahnya tonkat kaum muslimin?” dia menjawab, “Tidak ada cercaan wahai khalifah Rasulullah.” Dia pun bangkit dan membaiatnya.”

Al-Hafizh Abu Ali An-Nisaburi berkata, “Aku mendengar Muhammad Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Muslim bin Al-Hajjaj datang kepadaku dan bertanya tentang hadits ini, maka aku tuliskan untuknya di sepotong kulit dan aku bacakan untuknya. Dia berkata, “Hadits ini senilai dengan Badanah (seekor unta yang gemuk), aku berkata, “Hanya senilai dengan Badanah?! Sungguh hadits ini senilai dengan Badrah (sebuah kantung yang berisi sepuluh ribu dirham).”

Dan dalam riwayat dari Musa bin Uqbah, dengan sanad yang bagus menurut Ibnu Katsir, “Bahwasanya Abu Bakar berkhutbah dan meminta maaf kepada orang-orang, dan ia berkata, “Demi Allah aku tidak pernah mengejar kekuasaan baik satu hari atau satu malam pun, juga aku tak pernah memintanya kepada Allah baik secara terang-terangan atau secara rahasia.” Kaum Muhajirin menerima perkataannya, dan Ali serta Zubair berkata, “Kami tidak marah kecuali karena kami terlambat diajak bermusyawarah. Sunggu kami memandang bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak atas untuk urusan ini. Dia adalah yang menemani Nabi di dalam gua, dan sungguh kami mengetahui kehormatan dan kebaikannya, dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah menyuruhnya untuk mengimami shalat di saat beliau masih hidup.”

Adapun Zubair sebelumnya berpihak kepada Ali yang berada di rumahnya menghibur FathimahRadhiyallahu Anha karena kepergian ayahnya Shallallahualaihi wa Sallam. Dan mereka berdua tidak mengetahui kepergian Abu Bakar dan Umar dan yang lain ke Saqifah, dan tidak menyaksikan dialog apa yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar. Saat itu orang-orang bertikai tentang siapa yang berhak menggantikan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Sehingga dalam situasi demikian, tidak seorangpun sempat untuk melihat siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Sehingga ketika pendapat-pendapat telah dikemukakan, sebagian ucapan telah ditolak, dan kesepakatan telah tercapai dengan pengangkatan Ash-Shiddiq, lalu mereka beramai-ramai mendatanginya dan berbaiat. Dan pada saat asap pertikaian telah lenyap dengan cepat, dan matahari kebenaran telah tegak, maka Abu Bakar berdiri untuk memberikan sambutannya sebagai khalifah pada acara penobatan khalifah pertama dalam Islam. Ia memperhatikan wajah mereka yang hadir, dan tidak menemukan Ali dan Zubair, sementara mereka adalah tokoh terkemuka dalam masyarakat. Ini menarik perhatiannya, dan merasa heran akan ketidakhadiran mereka dalam situasi yang penting tersebut. Kalaulah yang tidak hadir adalah orang yang lebih rendah kedudukannya, atau orang bias am Abu bakar tidak akan memberikan perhatian yang begitu besar. Namun ketika yang tidak hadir adalah dua shahabat besar, Ali dan Zubair, ini adalah suatu masalah yang harus diperhatikan dan dicari tahu penyebabnya. Maka Abu Bakar mengatakan apa yang dikatakan, dan mereka berdua pun segera datang dan berbaiat di hadapan seluruh jamaah.

Dan telah disebutkan sebelumnya bahwa Abu Bakar memberikan kepada Zubair sebuah lereng. Zubair bergabung dengan Ash-Shiddiq dalam perang melawan orang-orang murtad, saat itu ia bersama dengan sekelompok shahabat bertugas menjaga Madinah.

Dia juga merupakan salah seorang shahabat yang memberikan pendapat kepada Abu Bakar untuk maju sampai ke negeri Syam. Lalu ikut dalam perang Yarmuk yang peristiwanya dimulai pada akhir masa pemerintahan Ash-Shiddiq, dan berakhir pada awal pemerintahan Al-Faruq.

2. Bersama Umar bin Khaththab

Setelah Ash-Shiddiq, Umar melanjutkan tongkat estafet kekhalifahan, tetap mengikuti sunnah RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dan jalan khalifah setelah beliau. Umar pun merangkul para shahabat besar dan tokoh-tokoh mereka, dan mendekatkan mereka kepadanya. Menyertakan mereka dalam sebuah tanggung jawab maha besar untuk mengurus Negara dan rakyat. Kemudian Umar membentuk sebuah majelis syura yang terdiri dari tokoh-tokoh shahabat dan pemuka umat. Dan Zubair adalah satu di antara mereka yang diminta Umar untuk memperhatikan masalah pemerintahan bersamanya. Sehingga sering kali Umar melarangnya untuk meninggalkan Madinah kecuali untuk ikut berjihad dalam beberapa peperangan yang menentukan sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Zubair pun menunaikan apa yang ditugaskan kepadanya, dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ia sering menemui Umar, dan termasuk yang berani menegurnya, suatu tabiat yang telah tertanam dan mengakar pada dirinya melalui hari-hari dan kondisi yang keras. Umar puyn melihat hal ini pada Zubair, namun itu justru menambah kegembiraannya. Seorang pemimpin muslim sejati harus menjaga dirinya dengan sekelompok singa, yang berani memberikan pendapat dalam setiap kondisi yang melenceng dari agama, dan mengancam mashlahat kaum muslimin. Dan bukan mendekatkan dirinya dengan segerombolan domba yang bisa dikumpulkan dengan satu kata, dan diusir dengan satu tongkat.

Ibnu Sa’ad dan Sa’id bin Manshur serta yang lainnya meriwayatkan, “Majelis kaum Muhajirin terletak di antara makam Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dengan mimbar beliau. Disanalah mereka duduk, di antaranya Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf, dan apabila datang sebuah kabar kepada Umar dari penjuru manapun, ia akan mendatangi mereka untuk memberi kabar dan bermusyawarah.”

Dan Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abdullah bin Umar, “Bahwasanya Zubair pernah meminta izin kepada Umar untuk ikut dalam jihad, Umarpun berkata, “Duduklah, sungguh engkau telah berjihad bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.”

Contoh dari peristiwa yang terjadi dan dialami oleh Zubair dan yang lainnya di majelis syura, kisah perselisihan antara Ali dan Abbas Radhiyallahu Anhuma tentang kedudukan harta yang ditinggalkan oleh Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Perkara ini pun dibawa kepada Umar, dan ia pun segera berdiskusi dengan majelis tersebut. Dan Umar menguatkan pendapatnya dengan sebuah hadits dari RasulullahShallallahualaihi wa Sallam. Ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Asy-Syaikhani serta yang lainnya, dari Malik bin Aus bin Al-Hadatsan berkata, “Umar bin Khaththab memanggilku, ketika aku berada di sana, datanglah pembantunya Yarfa’ dan berkata, “Ini ada Utsman, Abdurrahman bin Auf,  Sa’ad, dan Zubair bin Awwam, meminta Izin untuk masuk”, ia menjawab, “Izinkan mereka.” Tidak lama kemudian ia datang lagi dan berkata, “Ini Abbas dan Ali minta izin untuk menghadap.”  Ia menjawab, “Izinkan mereka.” Ketika telah masuk, Abbas berkata, “Wahai Amirul mukminin putuskanlah perkaraku dengannya.” Saat itu mereka berselisih tentang harta fai’ yang diberikan Allah untuk Rasul-Nya Shallallahualaihi wa Sallam dari harta Bani Nadhir. Lalu kelompok dari majelis syura berkata, “Putuskanlah perkara mereka wahai Amirul Mukminin, dan bebaskanlah yang satu dari yang lainnya, sungguh perselisihan mereka telah terlalu lama.”

Ath-Thabari dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Salim bin Abdullah, “Ketika Umar diangkat menjadi khalifah, dia mencukupkan diri dengan tunjangan seperti yang diterima oleh Abu Bakar, namun kebutuhannya bertambah banyak. Maka beberapa orang dari muhajirin berkumpul, di antaranya Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair. Zubair berkata, “Andai kita bisa berbicara kepada Umar untuk menambahkan tunjangan yang diterimanya.” Ali berkata, “Kita berharap dia mau menerimanya, marilah kita menemuinya.” Maka Utsman berkata, “Dia adalah Umar! Maka mari kita mengurus perkara ini melalui belakang, kita temui Hafshah dan memintanya untuk merahasiakan ini.” Merekapun menemui Hafshah dan memintanya untuk memberitahukan Umar tentang beberapa orang tanpa menyebutkan nama, kecuali Umar menerima usulan mereka, lalu mereka pun pergi.

Hafshah menemui Umar untuk menyampaikan usulan ini. Dan segera melihat kemarahan di wajah Umar, dan ia berkata, “Siapa mereka?” Hafshah menjawab, “Engkau tidak akan mengetahui siapa mereka sampai aku tahu pendapatmu.” Maka Umar berkata, “Kalau aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku burukkan wajah-wajah mereka.”

Kemudian amirul mukminin mengingatkannya tentang kehidupan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallami, juga kehidupan khalifah setelah beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah itu, ia berkata, “Adapun perumpamaanku dengan kedua shahabatku bagaikan tiga orang yang mengikuti suatu jalan. Yang pertama berlalu dengan bekalnya, dan ia pun sampai di tujuan. Kemudian yang kedua berlalu dengan mengikuti jalanya, dan sampai kepadanya. Maka kalau yang ketiga tetap mengikuti jalan mereka, dan ridha dengan bekal mereka berdua, niscaya ia akan sampai dan kembali bersama mereka. Namun kalau ia memilih selain jalan mereka, ia tidak akan dapat bersama mereka.”

Umar Radhiyallahu Anhu memiliki wibawa yang sangat hebat dalam hati orang-orang mukmin. Sehingga seseorang akan masuk untuk satu keperluan kepadanya, dan keluar lagi tanpa berbicara apa-apa, tidak ada yang menghalanginya kecuali wibawa yang terpancar dari Umar! Maka para tokoh shahabat khawatir akan sikap orang-orang tersebut. Maka Zubair, Utsman, Ali, Thalhah, dan Ibnu Auf berangkat menemui Umar dan berbicara tentang hal ini, serta memintanya untuk bersikap lebih lunak. Abdurrahman bin Auf pun masuk untuk berbicara dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bersikap lembutlah kepada orang-orang, sungguh seseorang ada yang datang kepadamu, namun rasa takutnya kepadamu menghalanginya untuk menyampaikan kebutuhannya kepadamu, sehingga ia kembali tanpa bisa berbicara kepadamu!” Umar berkata, “Hai Abdurrahman, demi Allah, apakah Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair serta Sa’ad memintamu untuk menyampaikan ini?” Ia menjawab, “Iya”. Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, sungguh aku telah bersikap lunak kepada mereka sehingga aku takut kepada Allah akan sikap lunakku, kemudian aku bersikap keras sehingga aku takut kepada Allah akan sikap kerasku, Maka bagaimanakah solusinya?” Abdurrahman pun bangkit sambil menangis dan menyeret jubahnya, dan berkata, “Celakahlah mereka yang menggantikanmu, celakalah mereka yang akan menggantikanmu.”

Saudaraku, perhatikanlah tokoh-tokoh tersebut. Perhatikanlah sikap ara anggota majelis syura dan kepedulian mereka terhadap kebutuhan rakyat, serta kesibukan mereka mengurus kepentingan umat. Juga kepedulian rakyat, serta kesibukan mereka mengurus kepentingan umat. Juga kepedulian mereka akan lancarnya proses pemerintahan dan nasehat-nasehat mereka yang jujur dan berani. Tidak seperti majelis-majelis para wakil rakyat di banyak negara muslim yang dilanda kesengsaraan dikarenakan orang-orang seperti mereka, yang tidak berani menyampaikan kebenaran, dan berusaha menghiasi kebatilan. Serta kegigihan mereka dalam mendapatkan hati penguasa yang justru merendahkan mereka, karena mereka hanya bisa mengikuti kemauan sang penguasa. Mereka pun menodai kehormatan mereka sendiri, dan menyia-nyiakan umat yang mereka wakili. Jika seorang penguasa tidak mampu menjadi seperti Umar, dan pengontrol kekuasaan tidak mampu mengikuti jalan yang ditempuh oleh Utsman, Ali, Zubair, serta saudara-saudara mereka yang lain, maka apa nilai dari para tokoh tersebut, dan apa faidah dari posisi mereka di lingkaran kekuasaan?

Sekarang perhatikanlah riwayat berikut ini :

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari Aslam pembantu Umar, ia berkata, “Umat berkata kepadaku, “Hai Aslam, jagalah pintu ini untukku, dan jangalah menerima apapun dari siapa saja.” Suatu hari ia melihatku memakai pakaian baru. Ia bertanya, “Darimana engkau mendapatkan ini? Aku menjawab, “Ubaidillah bin Umar memakaikannya untukku.” Dia berkata, “Adapun kalau dari Ubaidillah maka ambillah, namun kalau dari yang lain jangan kau ambil.” Aslam berkata, “Kemudian Zubair datang di saat aku menjaga pintu, dan meminta untuk masuk, aku memberitahunya bahwa Amirul Mukminin sedang sibuk saat itu. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya dam memukul bagian belakang telingaku sehingga aku berterika.” Aslam melanjutkan, “Maka aku masuk menemui Umar, dan ia bertanya, “Ada apa denganmu?” Aku menjawab,”Zubair telah memukulku.” Lalu aku menceritakan apa yang terjadi. Umar pun berkata, “Demi Allah, aku tahu bagaimana Zubari.” Dan ia berkata, “Suruhlah ia masuk.” Dan akupun memintanya masuk menemui Umar. lalu Umar berkata, “Kenapa engkau memukul pemuda ini?” Zubair menjawab, “Karena dia merasa bisa menghalangi kami menemuimu!” Umar bertanya, “Apakah ia pernah menolakmu dari pintuku sebelumnya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Jika dia berkata kepadamu, “Sabarlah beberapa saat, sesungguhnya Amirul mukminin sedang sibuk”, tidakkah kau memberiku waktu?”! Sungguh demi Allah, seekor binatang buasa hanya akan berdarah oleh binatang buas yang lain, dan kemudian mereka memakannya.”

Dan benar, perjalanan seekor binatang buas harus dikawal oleh kumpulan binatang buas lain, sehingga apabila ia lupa, mereka akan mengingatkannya, dan kalau ia salah, mereka akan mengoreksinya. Jika ia melenceng, mereka akan meluruskannya, dan kalai ia menentang, mereka akan melukainya, lalu mengumumkan kepada seluruh kumpulan bahwa bahwa pemimpin mereka telah mengkhianati amanah. Namun apabila seekor binatang buas dikelilingi oleh kawanan serigala yang culas, atau sekumpulan domba yang jinak, maka rakyatnya akan celaka dan negaranya pun akan lenyap! Benar wahai Abu Hafsh. “Sesungguhnya demi Allah, seekor binatang buas hanya akan berdara oleh binatang-binatang buas yang lain, dan kemudian mereka memakannya.”

Pada tahun 14H, ketika Umar berniat untuk keluar memimpin tentaranya untuk menyerang Persia, ia membawa Zubair bersamanya, dan menjadikannya memimpin pasukan dari sayap kiri.

Ath-Thabari meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, “Ketika sampai berita terbunuhnya Abu Ubaid bin Mas’ud kepada Umar, dan berkumpulnya penduduk Persia di bawah kepemimpinan seorang keturunan Kisra, ia menyeru kaum Muhajirin dan Anshar, dan kemudian berangkat hingga sampai di Shirar. Kemudian memerintahkan Thalhah bin Ubaidillah berjalan mendahuluinya hingga sampai di Al-A’wash. Lalu ia menunjuk Abdurrahman bin Auf memimpin sayap kanan, dan Zubair bin Awwam di sayap kiri. Dan menjadikan Ali sebagai pengganti khalifah di Madinah. Kemudian ia bermusyawarah dengan para shahabat, dan semuanya berpendapat untuk terus berjalan menuju Persia. Dan musyawarah tersebut terjadi saat ia telah sampai di Shirar dan Thalhah telah kembali. Ia pun meminta pendapat dari para penasehatnya, Thalhah saat itu setuju dengan pendapat yang lain, sementara Abdurrahman bin Auf melarangnya.

Abdurrahman bin Auf berbicara dengan hormat dan telah diceritakan dalam kisahnya. Dalam pembicaraannya dia mengusulkan agar Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan pasukan nya. Dan para penasehat lain menyetujui pendapatnya tersebut.

Pada tahun 21 H, pasukan Persia berkumpul di kota Nahawand, kaum muslimin pun meminta bantuan dari Amirul Mukminin Umar. Umar segera menyuruh seseorang untuk menyerukan kaum muslimin untuk berkumpul di masjid. Ia kemudian mengemukakan persoalan ini kepada kaum musliminm dan meminta pendapat dari para penasehat nya dan tokoh-tokoh lain. Lalu Umar berkata, “Inilah hari yang menjadi penentuan bagi hari-hari selanjutnya. Sungguh aku telah berkehendak untuk melakukan sesuatu dan akan aku sampaikan kepada kalian semua, maka dengarkanlah. Setelah itu sampaikanlah pendapat kalian dengan singkat, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Di antara kalian ada yang berpendapat aku harus keluar bersama orang-orang yang bersamaku dan mereka yang dapat aku kumpulkan, hingga aku sampai disuatu tempat di antara dua kota ini (Kuffah dan Bashrah). Kemudian aku menyuruh mereka untuk maju dan aku akan menjadi penolong bagi mereka hingga Allah memberikan kemenangan bagi mereka, dan memutuskan apa yang dia kehendaki?” maka Utsman Bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf, berdiri di antara para penasehat dari shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, kemudian mereka berkata, “Kami tidak sependapat demikian, tapi jangan sampai mereka kehilangan ide dan arahanmu.” Dan mereka berkata, “Hadapkanlah mereka dengan kabilah-kabilah arab, kesatria-kesatria mereka, dan tokoh-tokoh mereka, juga pertemukanlah mereka dengan orang-orang yang telah mereka pecahkan kesatuannya, orang yang telah mereka bunuh rajanya, dan telah menghadapi banyak pertempuran yang lebih hebat dari ini. Sesungguhnya mereka hanya meminta keputusan darimu untuk mengizinkan mereka, bukan memanggilmu untuk membantu mereka, maka izinkanlah mereka dan tunjuklah seorang pemimpin atas mereka, dan kemudian berdoalah untuk mereka.”

Kemudian Ali berdiri dan menguatkan pendapat mereka dan berbicara dan semangat yang tinggi. Umar pun menjadi tenang dengan pendapat shahabat-shahabat terdekatnya, dan mengambil sulan tersebut. Kemudian menunjuk An-Nu’man bin Muqarrin sebagai komandan perang. Dan turut berada di bawah panjinya sekelompok besar shahabat, di antaranya Zubair. Perang tersebut merupakan sebuah pertempuran yang sangat dahsyat di mana Allah memberikan kemenangannya bagi kaum muslimin. Dan dikenal dalan sejarah dengan sebutan Fathul Futuh (puncak dari seluruh penaklukan).

Pada tahun paceklik di mana Madinah dilanda kekeringan yang hebat, banyak bantuan yang berdatangan dari negeri-negeri muslim lainnya. Umar menugaskan Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membagikannya kepada kaum muslimin. Mereka membagikan kepada setiap rumah satu ekor unta dan makanan. Sehingga mereka bisa memakan makanan tersebut, dan menyembelih unta agar dagingnya bisa dimakan, menjadikan gajihnya sebagai lauk, dan memanfaatkan kulitnya untuk alas kaki. Dengan demikian Allah telah memberikan kelapangan untuk orang-orang.

Alangkah mulianya sang khalifah, dan para pembantu khalifah sehingga manusia mendapatkan kebahagian dan mempunyai nasib yang baik ketika dipimpin oleh seorang laki-laki yang mau menegakkan syariat Allah, dan menjalankan perintah-perintahnya dengan adil. Dan dibantu oleh sekelompok manusia-manusia hebat yang jujur, yang betul-betul bekerja melayani umat. Sehingga mereka bisa menghilangkan penderitaan, menyelamatkan mereka yang berteriak kesusahan, menolong kaum miskin dan mereka yang membutuhkan, serta menolong mereka yang kelaparan. Mereka tidak pernah berusaha menguasai harta milik umum dengan cara mencuri, merampok atau merampas. Mereka tidak menggunakan kekuasaan untuk memukul rakyat, atau menutup mulut-mulut mereka. Juga tidak sekalipun memanfaatkan para penjilat dan para orator untuk mempengaruhi rakya agar mendengar dan mematuhi perintah mereka. Dan sungguh para penguasa dan para kaki tangan mereka akan menghadapi suatu keadaan yang amat dahsyat di hadapan Allah yang Maha Menguasai dan Maha kuat, “Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (QS. An-Nur [24]: 24).”

Peristiwa-peristiwa bersejarah yang melibatkan Zubair pada masa pemerintahan Umar Al-Faruq ini, ditambah dengan catatannya yang penuh dengan tindakan-tindakan yang mulia sejak masa Ash-Shiddiq dan pada masa kenabian, menjadikannya berhak bersama-sama sejumlah shahabat lain untuk berada pada posisi teratas dalam wajah sejarah. Dia adalah satu di antara enam shahabat yang diberikan amanah oleh Umar agar menunjuk khalifah dari mereka dengan jalan syura, dan agar kaum muslimin memilih salah satu dari mereka untuk menjadi khalifah pengganti Umar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya, dari Amru bin Maimun Al-Audi, bahwa Umar berkata, “Sungguh aku tidak mengenal seseorang yang lebih berhak atas urusan ini dari mereka, yang ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka. Siapapun yang dipilih dari mereka setelahku, maka dialah yang akan menajdi khalifah. Maka dengarkanlah dia dan taatilah. Kemudian Umar menyebutkan Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Dalam sebuah riwayat dari Ath-Thabari, dari Al-Miswar bin Makhramah, ia berkata, “Lima orang dari Ahlu Syura (saat itu thalhah tidak hadir) datang berziarah ke makam Umar, kemudian mereka keluar untuk pulang kerumah masing-masing. Abdurrahman bin Auf memanggil mereka dan berkata, “Kalian akan kemana? Ikutlah denganku.” Mereka pun mengikutinya. Mereka berjalan hingga sampai di rumah Fathimah bin Qais Al-Fihriyah. Abdurrahman pun memulai pembicaraan dan berkata, “Wahai kalian, sesungguhnya aku mempunyai ide, dan kalian pun akan memberikan pendapat. Maka dengarkanlah agar kalian tahu mengerti, dan jawablah agar kalian paham. Kalian adalah imam-imam yang menjadi panutan. Ulama yang menjadi rujukan, maka janganlah kalian menumpulkan pedang dengan pertikaian di antara kalian. Dan janganlah kalian biarkan musuh-musuh kalian menyarungkan pedang-pedang mereka, serahkanlah urusan ini kepada salah satu dari kalian, hingga bisa berjalan dengan tenang, dan sampai ketujuan.” sampai akhir dari perkataannya.

Kemudian Utsman, Ali, dan Sa’ad berbicara dengan kata-kata yang baik, tepat, dan bijaksana. Semuanya menegaskan akan menerapkan kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahualaihi wa Sallam tetap bersama jamaah, dan akan mendengarkan dan taat kepada siapapun yang dipilih kaum muslimin untuk pemimpin mereka.

Pada kesempatan tersebut Zubair berbicara, dan dia berkata, “Amma ba’du, sesungguhnya orang yang menyeru kepada Allah tidak akan dilupakan, dan orang yang menyambut seruannya tidak akan dihinakan, yaitu ketika hawa nafsu terpecah belah dan leher-leher terkilir. Tidak ada yang akan nyia-nyiakan apa yang telah engkau (Dia berbicara kepada Abdurrahman bin Auf) katakan kecuali mereka yang sesat. Dan tidak ada yang meninggalkan apa yang kau serukan kecuali mereka yang sengsara. Kalaulah bukan karena aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan, dan kewajiban-kewajiban kepada Allah yang telah digariskan, agar diberikan kepada yang berhak, agar ia tetap hidup dan tidak mati, maka kematian yang mencegahkan seseorang untuk memegang pemerintahan adalah suatu keselamatan, dan menghindarkan diri dari kepemimpinan adalah sebuah perlindungan! namun kita memiliki kewajiban kepada Allah untuk menjawab seruan-Nya, dan menunjukkan sunnah, agar kita tidak mati dalam keadaan buta, dan tidak buta dengan kebutaan jahiliyah. Maka aku menerima ajakanmu, dan akan mendengar apa yang engkau perintahkan, dan tiada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian semua.”

Adapun hasil dari syura adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan secara terperinci dalam biografi Abdurrahman bin Auf, dan bahwasanya kaum muslimin bersepekat untuk memilih Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

3. Bersama Asy-Syahid Dzun-Nurain, Utsman Bin Affan

Dan Zubair meneruskan jalan yang telah dilaluinya bersama Ash-Shiddiq dan Al-Faruq dengan khalifah yang ketiga. Ia menerupakan tangan kanannya, salah seorang penasehatnya dan termasuk yang paling dekat dengannya dan didahulukan dalam majelis-majelisnya. Dia senantiasa memberikan nasehat-nasehatnya kepada khalifah, dan pertama dalam membelanya. Sejak hari pertama penobatannya sebagai khalifah, ketika ia mengambil tangan kanannya dan membai’atnya sebagai khalifah sebagaimana shahabat-shahabat lain, dan sampai ketika Utsman dikepung oleh para pemberontak, dan menumpahkan darahnya yang suci.

Cukuplah sebagai bukti bagimu tentang kedudukan Zubair yang istimewa di sisi Amirul Mukminin Utsman, bahwa ketika Utsman menderita sakit pendarahan yang parah di hidungnya pada tahun di mana penyakit itu mewabah, hingga ditakutkan dia kaan meninggal karena nya, orang-orang menyarankan agar ia menunjuk Zubair sebagai pengganti khalifah. Saat itu Utsman berkata, “Sungguh, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sejauh yang aku tahu, sesungguhnya dia adalah yang terbaik dari mereka, dan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Salam.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abi Hashin bin Utsman bin Ashim, “Bahwasanya Utsman bin Affan memberikan Zubair enak ratus ribu dirham, maka ia pun pergi menemui paman-pamannya dari Bani Kahil dan berkata, “Harta manakah yang paling baik?” Mereka menjawab, “Harta dari Isfahan”, ia berkata, “Maka berikanlah kepadaku harta Isfahan.”

Pada hari-hari disaat terjadinya fitnah yang besar, Zubair setia mendampingnya, menjadi penolongnya, dan terus membelanya. Ia pun mengusir para pemberontak yang datang kepadanya dengan berpura-pura ingin membai’atnya sebagai khalifah bagi kaum muslimin. Dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka terlaknat dengan lisan Nabi Muhammad Shallallahualaihi wa Salam. Ketika pengepungan semakin menjadi-jadi, Zubair dan beberapa shahabat masuk dan menegaskan bahwa mereka akan setia menolongnya dan mendukung posisinya. Ia juga mengirim putranya Abdullah untuk bertempur tanpanya. Namun takdir Allah telah ditentukan, apa yang ditakutkan pun terjadi, dan Zubair terguncang oleh musibah yang terjadi. Ia berbicara tentang para pembunuh dengan pembicaraan yang keras, kemudian ia keluar menujuu Mekah, dan kemudian Bashrah, untuk menuntut darah Utsman dan membunuh para pembunuhnya.

Ath-Thabari meriwayatkan kedatangan para pemberontak yang durjanah ke Madinah. Kemudian mereka mengutus dua orang dari mereka, “Dan mereka mendatangi istri-istri Nabi Shallallahualaihi wa Salam, juga Ali, Thalhah, dan Zubair. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami hanya bermaksud mendatangi rumah ini, dan meminta khalifah ini untuk mencopot beberapa pejabat kami, hanya itulah maksud kedatangan kami.” Kemudian mereka minta izin kepada mereka untuk membolehkan orang-orang (yaitu yang berada di belakang mereka, yang terdiri dari kaum pemberontak dari Mesir dan Irak) memasuki Madinah. Namun mereka semua menolak, dan melarang, dan berkata, “Telur ini tidak boleh pecah!”

Para pemberontak pun membagi diri menjadi tiga: orang-orang Mesir mendatangi Ali, orang-orang Bashrah mendatangi Thalhah, dan orang-orang Kufah mendatangi Zubair yang saat itu berada di tengah jemaah, dan ia telah melepaskan putranya untuk menolong Utsman. Mereka mengucapkan salam kepadanya dan menawarkan jabatan khalifah kepadanya. Ia membentak mereka dan mengusir mereka, dan berkata, “Kaum muslimin telah mengetahui bahwa pasukan Dzil Marwah, dan Dzi Khusyub, serta pasukan Al-A’wahs telah terlaknat dengan lisan Nabi Muhammad Shallallahualaihi wa Salam.”

Lalu Ali dan Thalhah pun mengatakan hal yang sama dengan Zubair.

Para pemberontak kemudian lebih memperkat pengepungan di rumah Utsman, dan melemparinya dengan batu hingga ia jatuh pingsan di atas mimbar, Utsman pun di bawa kerumahnya. Beberapa orang dari shahabat segera datang dan bersiap untuk menghadapi perang, di antara mereka terdapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dan Hasan bin Ali. Namun Utsman mengirim utusan kepada mereka, dan meminta mereka untuk kembali, dan akhirnya mereka pun kembali.

Kemudian Ali, Thalhah, dan Zubair mendatangi Utsman untuk menjenguknya atas apa yang menimpanya, mereka juga mengeluhkan kekhawatiran yang mereka rasakan, lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.

Zubair mengutus anaknya yang pemberani Abdullah untuk tetap berada di rumah Utsman, bergabung dengan kelompok besar shahabat pemberani untuk berjuang membela Amirul Mukminin. Sementara Utsman Radhiyallahu Anhu sendiri terus menekankan kepada mereka agar jangan sampai ada darah yang tertumpah karenya.

Peristiwa tragi situ pun terjadi, dan para pemberontak berhasil melaksanakan kejahatan mereka yang menggoyahkan pondasi Negara Islam. Kaum muslimin dan seluruh dunia tersentak oleh tumpahnya darah As-Syahid Dzun Nurain, menantu Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang mempunyai tangan yang suci dengan apa yang dilakukannya untuk kaum muslimin, yang telah diketahui oleh yang terdekat maupun yang terjauh sekalipun.

Berita ini sampai di telinga Ali, Thalhah, dan Zubair. Mereka segera menuju rumah Utsman dengan pikiran yang kosong. Mereka memasuki rumah Utsman, dan mendapatinya telah terbunuh dengan pedang! Ali berkata, “Bagaimana mungkin dia bisa terbunuh sementara kalian ada di pintunya?!” Dia menampar Hasan dan memukul dada Husain, dan menghardik Ibnu Zubair dan Ibnu Thalhah, lalu pulang ke rumahnya dalam keadaan murka. Kemudian datanglah orang-orang yang ingin memba’iatnya menjadi khalifah, namun Ali berkata, “Urusan ini bukan di tangan kalian, itu adalah urusan para ahli Badar, siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.”

Ibnu Katsir berkata, “Ketika tragedi besar yang tragi situ terjadi, orang-orang pun menyesal dan sangat membesarkan masalah itu. Bahkan mayoritas orang-orang khawarij bodoh tersebut ikut menyesali perbuatan mereka. Sehingga mereka persis menjadi ikut menyesali perbuatan mereka. Sehingga mereka persis menjadi seperti orang-orang yang menyembah sapi, dalam firman-Nya, “Dan setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, “Sungguh, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi (QS. Al-A’raf [7]: 149).

Ath-Thabrani menyebutkan ketika peristiwa pembunuhan Utsman sampai ke telinga Zubair, dia berkata,“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah merahmati Utsman dan memberikan pertolongan kepadanya.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kaum pemberontak tersebut merasa menyesal.” Ia menjawab, “Sungguh mereka telah merencanakan ini, sungguh mereka telah merencanakan ini.” Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkan sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang sepaham dengan mereka yang terdahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam (QS. Saba’ [34]: 54)”

4. Bersama Ali Dan Mengalami Terjadinya Fitnah

Ali dan Zubair Radhiyallahu Anhuma memiliki kedekatan dalam nasab, dan juga sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Kehadiran Islam semakin mengeratkan kedekatan keluarga serta kecintaan antara keduanya. Ali adalah putra dari paman Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dididik di rumah kenabian dan tumbuh di pangkuannya. Sementara Zubair adalah putra dari bibi RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, sekaligus juga putra dari bibinya Ali, dia adalah pembela nabi, da termasuk mereka yang paling dicintai beliau. Takdir pun telah menyatukan Ali dan Zubair sejak hari pertama kemunculan dakwah. Dan perjalan waktu pun semakin mengeratkan ikatan hubungan mereka, meningkatkan rasa persaudaraan, dan menambah rasa cinta yang semakin mendalam. Mereka bagaikan dua kuda pacu yang melaju kencang membela Islam dan menunaikan perintah-perintah NabiShallallahualaihi wa Sallam. Dan begitulah keadaan mereka sampai masa khalifah yang ketiga Utsman bin Affan. Bahkan ketika Zubair dipilih untuk menjadi salah satu dari enam ahli syura., dan Abdurrahman bin Auf berkata, “Serahkanlah urusan ini kepada tiga orang diantara kalian,” Zubair berkata, “Aku telah menyerahkan suaraku kepada Ali.” 

Keadaan seperti ini begitu mengagumkan, sehingga sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, dan pena pun tak mampu melukiskan ketinggian dan rasa cinta yang begitu mendalam dan berakar, serta sikap mendahulukan orang lain seperti yang diperlihatkan oleh Zubair. Ia melepaskan haknya untuk menjadi khalifah dan menyerahkannya kepada Ali! Hal ini tidak akan dilakukan kecuali oleh seorang laki-laki yang amat menyadari besarnya beban yang akan dipikul dengan mengambil tanggung jawab pemerintahan. Dan pada saat yang sama dia pun menyadari kemampuan Ali dalam mengemban tugas yang mulia itu. Dan begitulah Zubair memandang kedudukan Ali dalam dirinya.

Zubair tetap berada dalam kondisi ini, dan tidak berubah sampai akhir masa pemerintahan Utsman dan ia gugur dalam sebagai syahid. Lalu kaum Muhajirin dan Anshar mendatangi Ali dan membai’atnya, dan Zubair berada dalam barisan terdepan saat itu. Ia sedikitpun tidak mengundur-undur waktu, atau berambisi untuk merebut kekuasaan. Ia tidak pernah menentang Ali dalam urusan pribadinya, dan ini satu hal yang sangat mustahil baginya. Namun ia berbeda pendapat dengan Ali dalam masalah ijtihad. Bahkan para sahahabat pun masih banyak yang berbeda pendapat saat itu. Zubair dan sebagian besar shahabat saat itu berpendapat tentang pentingnya untuk segera membunuh para pembunuh Utsman.

Adapun Zubair dan Thalhah bagaikan dua sekawan dalam banyak ide dan pendapat, bahkan mereka berdua menemui syahid dalam peristiwa yang sama. Thalhah dalam kancah peperangan, sementara Zubair syahid di Wadi Siba’.

Dalam diri Zubair tidak pernah menganggap Ali kurang dari anggapan Ali sendiri kepada Zubair. Ali tetap merasakan jauh di lubuk hatinya, dan dalam relung jiwanya, perasaan hormat dan penghargaan yang tinggi, serta pengakuan akan peran-peran Zubair. Juga pujian akan apa yang telah dilakukan Zubair dalam membela agama dan Nabinya Shallallahualaihi wa Sallam. Sehingga ketika sampai kepadanya berita kematian Zubair, ia merasakan kedukaan yang luar biasa dalam hidupnya, dan ia memberikan pujian yang tinggi untuk Zubair, serta menyatakan bahwa pembunuhnya adalah seorang penghuni neraka.

Begitu Utsman terbunuh, orang-orang segera mendatangi Ali, baik dari golongan shahabat maupun yang lainnya, dan mereka berkata, “Amirul Mukminin Ali!” Hingga mereka masuk kerumahnya, dan berkata, “Kami membaiatmu, maka ulurkanlah tanganmu, engkaulah yang paling berhak atas urusan ini! Maka Ali berkata, “Urusan ini bukan di tangan kalian, itu adalah urusan para ahli Badar, siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.” Namun tidak seorangpun yang tersisa, semuanya mendatangi Ali dan berkata, “Kami tidak akan melihat siapapun yang lebih berhal darimu, ulurkanlah tanganmu untuk kami baiat.” Maka Ali berkata, “Mana Thalhah dan Zubair?” saat itu yang pertama yang membaiatnya adalah Thalhah, diikuti kemudian oleh Zubair. Ketika Ali melihat hal tersebut, ia segera menuju masjid dan naik mimbar. Dan saat itu yang pertama kali naik ke atas mimbar dan membaiatnya adalah Thalhah, diikuti kemudian oleh Zubair, dan shahabat-shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, semoga beliau meridhai mereka semua.

Kemudian Thalhah dan Zubair meminta izin kepada Ali untuk melaksanakan umrah, dan Ali mengizinkan mereka. Merekapun berangkat menuju Mekah. Di sana sekumpulan shahabat berencana menuju Bashrah untuk meminta bantuan penduduknya guna membentuk sebuah pasukan yang kuat untuk menuntut dara Utsman dan melaksanakan qishash atas pembunuhnya. Ummul Mukminin Aisyah pun ikut bersama mereka. Dan keadaan para shahabat saat itu seolah mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Aisyah, “Demi Allah, sungguh dosa Utsman tidak sampai menjadikannya pantas untuk dibunuh, sekarang ia telah terbunuh dengan zhalim, dan sikap yang tepat adalah mencari siapa pembunuh Utsman lalu membunuh mereka karena perbuatannya.”

Merekapun bergerak menuju Bashrah, dan berhasil menguasainya. Ali kemudian menyusul mereka dengan pasukannya. Dan kedua pasuka kemudian bertemu dalam Perang Jamal, yang merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan dan berakhir dengan kekalahan Pasukan Unta, dan syahidnya Thalhah dan Zubair.

Sebelum terjadinya perang Jamal, dan pada saat berkecamuknya perang, terdapat beberapa peristiwa yang berkaitan dengan Zubair, yang perlu kita perhatikan dan diambil pelajaran darinya, sekaligus untuk mengetahui riwayat-riwayat lemah yang penuh dusta, dan sengaja dibuat tentang peristiwa tersebut.

Abu Dawud Ath-Thayalisi, dan Ahmad, serta Nasa’I meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Al-Hasan Al-Bashri, dari Zubair bin Awwam, dia berkata, “Ketika turun ayat, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu (QS. Al-Anfal [8]: 25)”. Saat itu kami adalah satu kesatuan, maka aku heran dengan ayat ini, fitnah apa yang akan menimpa kami? Bagaimanakah bentuk dari fitnah yang dimaksud? Hingga kemudian aku menyaksikannya.”

Dan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya, dari Mathaarif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir, ia berkata, “Kami berkata kepada Zubair, “Hai Abdullah, apa yang membawa kalian kesini? Kalian biarkan khalifah hingga terbunuh, kemudian kalian datang untuk menuntut darahnya.” Zubair berkata, “Sesungguhnya kami telah membaca ayat ini pada masa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan masa Abu Bakar, Umar, dan juga pada masa Utsman, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu (QS. Al-Anfal [8]: 25)”. Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan masuk di dalamnya, hingga terjadilah apa yang terjadi.”

Ketika dua pasukan kaum muslimin tersebut telah bertemu di Bashrah, dan sebelum pertempuran pecah, Al-Qa’qa’ bin Amru berusaha untuk mendamaikan kedua pasukan, dan kesepatakan pun tercapai. Kaum muslimin pun bisa istirahat malam itu dengan tenang dan penuh keselamatan menunggu pagi untuk menanda tangani kesepakatan damai tersebut. Namun, para musuh Islam, yang terdiri dari mereka yang membangkang, menyemburkan api perang dalam gelap dengan licik dan niat yang jahat dan jiwa yang kotor. Sementara para shahabat dan pecinta kedamaian dari golongan tabi’in tidak ada yang menginginkan perang ataupun menghendaki pertumpahan darah tanpa alasan yang benar.

Abdurrazaaq dan Ahmad meriwayatkan, dengan isnad yang shahih, dari Al-Hasan Al-Bashri, “Seseorang laki-laki mendatangi Zubair dan berkata, “Apakah aku boleh membunuh Ali untukmu?” Zubair menjawab, “Tidak, dan bagaimana engkau akan membunuhnya sementara ia dikelilingi oleh tentaranya?!” Ia menjawab, “Aku mendatanginya dan kemudian membunuhnya secara diam-diam.” Ia menjawab, “Tidak sesungguhnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya keimanan mengikat pembunuhan, seorang mukmin tidak membunuh.”

Al-Mundziri menjelaskan, “Maksudnya adalah, mendatangi seseorang yang sedang dalam kondisi lalai dan tidak siap, kemudian menyergap dan membunuhnya. Adapaun ucapannya, “Sesungguhnya keimanan mengikat pembunuhan” maksudnya adalah bahwa keimanan menghalangi seseorang untuk membunuh, sebagaimana ikatana menghalangi seseorang untuk bertindak.”

Inilah akhlak para shahabat, Zubair mencela laki-laki ini dan mencegah keinginannya yang sesat. Sebab, bagaimana mungkin ia membunuh seorang mukmin padahal seharusnya keimanan mencegah seseorang  dari membunuh, apalagi yang akan dibunuh adalah khalifah Ali yang merupakan manusia terbaik saat itu?

Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lamin Nubala’  dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata kepada Zubair pada saat perang Jamal, “Hai putra Shafiyyah, ini Aisyah bertujuan untuk memberikan kekuasaan kepada Thalhah, adapun engkau, apa yang membuatmu memerangi keluargamu Ali?”

Keterangan ini, walaupun diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya, namun isi dari riwayatnya adalah mungkar, dan tertolak tanpa keraguan sedikitpun.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan dalam Fathul Bari, “Bahwasanya tidak seorangpun meriwayatkan bahwa Aisyah dan orang-orang yang bersamanya menentang Ali dalam urusan kekhalifahan, dan tidak seorangpun di antara mereka yang meminta seseorang untuk menggantikannya sebagai khalifah.

Ini dikuatkan oleh bai’at yang dilakukan oleh para shahabat, termasuk di antaranya Thalhah dan Zubair untuk Ali sebagai khalifah dan pengakuannya sebagai Amirul Mukminin.

Adapun keluarnya pasukan unta adalah dengan maksud berdamai. Dan perkataan para shahabat tentang Ali, dan ucapan Zubair kepada laki-laki yang ingin membunuh Ali, dan ucapan Zubair kepada laki-laki yang ingin membunuh Ali dan larangannya kepada laki-laki tersebut, juga kesepakatan kedua pasukan dengan Al-Qa’qa untuk berdamai, lalu peristiwa yang terjadi, dan pujian yang diberikan Ali kepada Thalhah dan  Zubair, serta penghormatan yang diberikannya untuk Ummul Mukminin Aisyah, dan banyak lainnya, semua itu menjadi bukti yang menolak kebenaran berita di atas dan melemahkannya.

Kemudian kami mengatakan, apakah mungkin bagi seseorang seperti Ummul Mukminin Aisyah, dengan seluruh kedudukannya dalam Islam dan wibawanya dalam diri orang-orang yang beriman, apakah mungkin baginya mempertaruhkan keberlangsungan Islam dan eksistensi kaum muslimin, lalu keluar bersama pasukan yang terdiri dari banyak shahabat dan duar dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, hanya untuk mengguat kepemimpinan Ali, dan merebut itu untuk Thalhah hanya karena dia berasal dari bani Taim dan Aisyah juga dari bani Taim?! Apakah pendapat ini masuk akal dan dapat diterima?!

Sebagaimana itu juga tertolak oleh seluruh peristiwa yang terjadi dari awal sampai akhir. Terutama Hadits Al-Hau’ab  yang merupakan hadits shahih, ketika Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Aku rasa aku harus kembali.” Kemudian mereka mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya anda keluar hanya untuk berdamai, dan semoga Allah memberikan kedamaian bagi umat ini berkata anda.”

Lalu pada saat-saat terakhir dari perang Jamal, dan para pembelot yang sesat mulai mengarahkan bidikan mereka kepada tunggangan ummul mukminin Aisyah, Ali memerintahkan seseorang untuk menyembelih untanya, demi melindungi nyawanya yang mulia, Radhiyallahu Anha.

Setelah pertempuran usai, Amirul Mukminin Ali mendatangi Aisyah, menyampaikan salam kepadanya, dan Aisyah pun menyambut kedatangannya dan kemudian membaiatnya. Kemudian Ali menyiapkan kepulangannya dengan didampingi oleh empat puluh orang pendamping wanita, dan kembali menuju Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani saudaranya, Muhammad.

Ketika rombongan akan berangkat, Aisyah keluar menemui orang-orang dan berkata, “Wahai anak-anakku, sungguh kami pernah saling mencela baik sedikit ataupun banyal, maka janganlah ada di antara kalaian yang menyerang yang lain karena masalah ini. Sesungguhnya tidak ada yang terjadi antaraku dan Ali pada masa lalu, kecuali seperti yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sungguh bagiku terlepas dari celananya dulu, dia adalah di antara yang terbaik.”

Lalu Ali berkata, “Wahai manusia, sungguh ia telah jujur dan berbuat baik, tidak ada yang terjadi antaraku dengannya kecuali seperti yang disampaikannya. Sesungguhnya ia adalah istri dari Nabi kalianShallallahualaihi wa Sallam, di dunia dan diakhirat.

Setelah semua ini, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa Aisyah ingin memberikan kekuasaan kepada Thalhah!

Bahkan Thalhah sendiri telah menyerahkan haknya untuk menjadi khalifah kepada Utsman, pada saat angina masih bertiup dengan tenang, dan urusan kaum muslimin masih mudah. Apakah setelah terbunuhnya Utsman, dan urusan kekhalifahan dipenuhi oleh goresan luka, tiba-tiba Thalhah menginginkannya dan memerangi kaum muslimin untuk mendapatkannya? Ini adalah sebuah omong kosong !!

Lalu ucapannya dalam riwayat tersebut, “Adapun engkau, apa yang membuatmu memerangi keluargamu Ali?” adalah sangat aneh.

Zubair dan para shahabat tidak keluar dengan niat memerangi Ali sedikitpun. Perkaranya juga bukan masalah jauh dekatnya hubungan  nasab. Karena mereka hanya bermaksud untuk berdamai, dan tidak terpikir sedikitpun di kepala mereka bahwa yang akan mereka hadapi adalah putra paman mereka atau keturunan Quraisy manapun.

Sementara Ali sendiri tidak pernah menuduh saudara-saudaranya dengan tuduhan tersebut. Bahkan ia begitu senang dan bahagia ketika Al-Qa’qa’ datang memberitahukan bahwa mereka menerima perdamaian. Namun ketika terjadi apa yang kemudian terjadi, ia sangat terguncang oleh kematian Thalhah dan Zubair, ia menangisi mereka sementara hatinya hancur oleh kesedihan atas mereka. Ali kemudian memberikan pujian yang baik untuk mereka. Dan tidak benar riwayat yang mengatakan bahwa ia mencela mereka dengan kata-kata, baik dari dekat ataupun dari jauh.

Ibnu Asakir menyebutkan satu riwayat lain yang juga dinukil oleh Adz-Dzahabi, dari Al-Hasan Al-Bashri, “Ketika Ali memenangkan perang Jamal, kemudian ia memasuki rumah bersama orang-orang, dan ia berkata, “Sungguh aku mengetahui tentang seorang pemimpin fitnah yang masuk surga, sementara pengikutnya di neraka!” Maka Al-Ahnaf berkata, “Siapakah dia hai Amirul Muminin?” Dia menjawab, “Zubair.”

Ini adalah sebuah riwayat yang mempunyai cela. Adz-Dzahabi sendiri mengkritiknya dan berkata, “Di dalam sanadnya terdapat sesuatu yang mengindikasikan bahwa riwayat ini mursal, dan dalam lafazhnya terdapat keanehan, kita berlindung kepada Allah untuk menyaksikan para pengikut Zubair ataupun tentara Muawiyah berada di neraka. Namun kita menyerahkan urusan mereka kepada Allah, dan memohonkan ampun bagi mereka.”

Dan lafazh dari riwayat ini pun tidak benar, bukan berasal dari Ali Ridhwanullahi Alaihi. Riwayat ini sengaja saya sebutkan disini untuk menjelaskan kelemahannya, dan melindungi orang-orang awam agar tidak terjerumus dalam jebakannya, dan agar tidak termakan oleh berita-berita bohong. Selain itu, sikap Amirul Mukminin Ali, dan perkataannya sebelum peperangan, atau saat perang berlangsung, maupun setelah semua berakhir, semua itu membantah riwayat di atas dan mementahkannya.

Sebelum peperangan ia berdiri di hadapan tentaranya dan menyampaikan khutbah, ia berkata, “Aku telah memanggil kalian, untuk sama-sama menemui saudara-saudara kita dari penduduk Basharah. Kalau mereka mau kembali bersama kita, maka itulah yang kita harapkan. Namun kalau mereka tetap bertahan, kita akan memperlakukan mereka dengan lembut, dan kita akan terus menghadapi mereka sampai mereka yang memulai menzhalimi kita. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung kebaikan, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan. Insya Allah, wa la quwwata illa billah.”

Ali juga menolak untuk membagikan harta dari pasukan unta, dan mencela mereka yang menginginkan itu. Ali bahkan berkata, “Siapa di antara kalian yang menginginkan Ummul Mukminin menjadi bagian nya dari harta rampasan perang?” dan ia berkata, “Sesungguhnya mereka adalah seperti kalian, maka siapa yang memaafkan kita, dia menjadi bagian dari kita, dan kita adalah bagian darinya.”

Suatu ketika ia ditanya tentang pasukan jamal (unta), dia menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kami yang berbuat zhalim kepada kami, maka kami perangi mereka, namun mereka telah kembali, dan kami telah menerima mereka.”

Ditambah lagi dengan berbagai ucapannya tentang Thalhah, Zubair, dan Aisyah, serta sikapnya terhadap mereka semua, semoga Allah meridhai mereka semua.

Dengan memperhatikan rentetan peristiwa sejak keluarnya pasukan unta dari Mekah, terus menuju Basharah dan keberhasilan mereka menaklukannya, dan pertempuran yang terjadi dalam proses tersebut, kemudian pertemuan mereka dengan pasukan Ali dan kesepakatan mereka untuk berdamai, kemudian makar para pemberontak yang merusak kesepakatan tersebut dengan menjebak kedua pasukan dan menyalakan api peperangan dan akhirnya terjadi pertempuran, saat itu Zubair telah memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ia mempelajari penyebab peperangan dan hasil yang telah didapat. Ia juga telah berusaha untuk mengumpulkan potongan-potongan kejadian yang tercerai berai. Setelah ini semua, jelaslah baginya bahwa demi kebaikan agamanya, juga demi akhiratnya, maka lebih baik baginya untuk mengurangi kobaran api peperangan, dan untuk segera menghentikannya, dengan menarik diri dari medan tempur. Ia pun memutuskan demikian, dan segera meninggalkan tempat peperangan tanpa peduli ucapan bahwa ia meninggalkan peperangan karena sikap pengecut, atau alasan bahwa ia berperang dengan tujuan berdamai.

Pada perjalanan mereka menuju Bashrah, dan saat anjing-anjing di Al-Hau’ab menyalak, lalu Aisyah menceritakan hadits Nabi Shallallahualaihi wa Sallam tentang salakan anjing-anjing tersebut, sehingga ia bertekad untuk kembali, namun dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya anda keluar dengan tujuan berdamai”. Semua itu tentunya didengar oleh Zubair, karena ia adalah seorang tokoh dan salah seorang pimpinan dalam pasukan tersebut. Namun itu semua belum cukup untuk memalingkannnya dari tujuannya dan membatalkan ijtihad yang ia ambil dengan ikut bersama pasukan tersebut.

Ketika terjadi sesuatu di Basharah, peperangan tak dapat dihindarkan, ia melihat kekacauan dalam perkara tersebut, dan mecium adanya para penyebar fitnah dan orang-orang yang menyalakan apinya di barisan kedua pasukan, kata hatinya semakin kuat, dan keraguan akan alasannya ikut dalam peperangan itupun semakin menguasainya.

Semua itu ditambah lagi dengan apa yang disaksikannya dari kesepakatan damai dengan Al-Qa’qa’, namun tiba-tiba peperangan pecah apda waktu malam. Ia tidak ingin menuduh orang-orang shalih yang berada bersamanya, namun juga tidak ingin melemparkan tuduhan kepada saudaranya Ali dan orang-orang shalih yang juga ada dalam barisannya. Maka ia pun menyimpulkan bahwa perkara tersebut tidak lagi berada di jalan yang terang.

Pendapatnya ini, serta tekadnya untuk menarik diri semakin diperkuat oleh ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya dengan baik “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim saja di antara kamu (QS. Al-Anfal [8]: 25.) Ketika ia melihat fitnah yang telah menyebarm dan kobaran apinya juga telah menyambarnya, ia pun yakin bahwa inilah yang dimaksud oleh ayat tersebut, dan bahwa merekalah orang-orang yang disinggung di dalamnya.

Di samping itu, di melihat pasukan Ali, dan mendapatkan Ammar bin Yasir di sana. Sementara NabiShallallahualaihi wa Sallam telah bersabda, “Celakalah Ammar, ia dibunuh oleh sekelompok yang zhalim.”Dalam keadaan apapun, kalau Ammar yang berada di pasukan Ali terbunuh, maka artinya pasukan yang lain adalah pasukan yang zhalim.

Lalu ditambah lagi dengan kedatangan Ibnu Abbas kepada Zubair dan ucapannya, “Dimana Shafiyyah binti Abdul Muthalib ketika engkau emerangi Ali bin Abi Thalib Abdul Muththalib dengan pedangmu?!” (Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad ini adalah sesuatu yang pantas diucapkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bukan riwayat bohong yang kami sebutkan sebelumnya dimana terdapat tuduhan kepada Aisyah bahwa ia keluar untuk menjadikan Thalhah sebagai khalifah).

Semua pemikiran di atas seolah membangunkannya dan menyadarkannya bahwa tempatnya yang paling pantas adalah dalam medan jihad dan membela kaum muslimin. Bukan bertikai dengan khalifah pengganti Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang telah dibaiatnya, yang juga merupakan saudaranya dalam Islam yang telah bahu-membahu bersamanya dalam pertempuran-pertempuran besar, yaitu putra pahamannya Ali!! Bagaimana mungkin ia ridha menghadapinya dengan pedang. Dan apa yang akan dikatakannya kepada ibunya Shafiyyah andai ia masih hidup, sementara dia yang telah mendidiknya dan menanamkan sifat-sifat terpuji di dalam dirinya?!

Seluruh faktor ini, ditambah dengan sejarah hebat yang dimiliki Zubair, serta berbagai kiprahnya yang takkan pernah dilupakan sejarah, juga jiwanya yang tegar dan sikap wara’ nya yang mengagumkan, membuatnya memilih untuk meninggalkan medan tempur, dan menari diri darinya. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang akan dikatakan orang lain. Karena kepahlawanan seseorang, terletak pada sikapnya dalam berpegang teguh kepada prinsip-prinsipnya, terletak pada kepuasan batin yang dicapainya, terletak pada panggilam iman dari hatinya. Sementara bukti-bukti yang ada di tangannya tidak bisa lagi untuk menunggu pujian, dan membuatnya tidak takut akan celaan.

Inilah faktor-faktor yang menurut kami mendorong Zubair untuk mundur dari perang Jamal.

Adapun riwayat yang mengatakan bahwa Ali menemui Zubair dan mengingatkannya akan ucapan NabiShallallahualaihi wa Sallam, bahwa ia akan memerangi Ali, dan ia berada pada posisi yang zhalim, maka riwayat ini tidak benar.

Ad-Dulabi meriwayatkan dalam Adz-Dzurriay Ath-Thahirah dari Yazin bin Harun, ia berkata, “Aku mendengar dari Syarik, dari Al-Aswad bin Qais, telah bercerita kepadaku seseorang yang melihat Zubair mengikuti jejak kuda dnegan panahnya, dengan kemudian Ali memanggilnya, “Hai Abdullah! Ia pun mendekatinya, hingga leher-leher tunggangan mereka bertemu, Ali berkata, “Demi Allah, tidakkah kau ingat suatu hari aku membisikkan sesuatu kepadamu, kemudian Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallammendatangi kita dan berkata, “Ka berbisik kepadanya! Demi Allah, dia akan memerangimu, dan saat itu dia berbuat zhalim kepadamu.” Orang itu berkata, begitu mendengar hadits tersebut, ia memukul wajah untanya dan segera pergi.

Ini adalah riwayat yang lemah, karena terdapat periwayat yang tidak diketahui, sementara Syarik Al-Qadhi seringkali mempunyai banyak kesalahan.

Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Al-Mustadrak dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik Ar-Raqasyi, dari kakeknya Abdul Malik, dari Abu Harb bin Abu Al-Aswad Ad-Dili berkata, “Aku melihat Zubair keluar menuju Ali, maka Ali berkata kepadanya, “Demi Allah, tidakkah engkau mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Engkau akan memeranginya, dank au dalam posisi menzhaliminya.”Zubair menjawab, “Aku tidak ingat.” Kemudian Zubair pun pergi.”

Ini juga hadits yang lemah, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik Ar-Raqasyi lemah, dan kakeknya Abdul Malik bin Muslim Ar-Raqasyi tidak diketahui.

Al-Hafizh Al-Uqaili menyebutkan dalam kitabnya Adh-Dhu’afa, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik, dan kemudian menyebutkan hadits ini, dan mengatakan, “Orang-orang yang ada dalam sanad hadit ini adalah lemah.”

Hal lain yang melemahkan hadits ini adalah sebuah riwayat tentang harta warisan Zubair yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Zubair, “Ketika Zubair telah berdiri pada perang Jamal, ia memanggilku, dan akupun berdiri di sampingny. Dia berkata, “Hai anakku, tidak aka nada yang terbunuh hari ini kecuali sebagai seorang yang zhalim atau yang dizhalimi, dan sungguh aku melihat bahwa aku akan terbunuh hari ini secara zhalim. Namun begitu, kekhawatiran terbesarku adalah masalah hutang-hutangku.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa dalam dirinya ia merasa benar dengan pilihannya untuk ikut berperang. Karena itulah ia mengatakan bahwa kekhawatiran terbesarnya adalah masalah hutang-hutangnya. Kalau ia berpendapat bahwa ia tidak berada pada pihak yang benar, atau ia merasa bahwa ijtihadnya adalah salah, tentulah kegelisahannya akan lebih besar pada urusan perang yang dihadapinya. Dan juga ada kemungkinan bahwa ia berpegang kepada dalil bahwa seorang mujtahid diberi imbalan atas ijtihadnya, walaupun itu salah.”

Adapun hadtis, “Engkau akan memeranginya, dank au dalam posisi menzhaliminya.” Telah dianggap lemah oleh banyak orang, dan analisa yang benar terhadap hadits tersebut juga akan melemahkannya.

Andaikata hadits tersebut shahih dan diketahui oleh Ali Radhiyallahu Anhu niscaya ia tidak akan mendiamkannya hingga pecahnya perang dan banyak kepala yang telah lepas dari lehernya. Ia tidak akan menunggu hingga bertemu dengan Zubair di medan tempur dan leher kedua binatang tunggangan mereka bertemu, lalu memberitahunya setelah terlambat! Bahkan kalau memang hadits tersebut benar diketahui Ali, maka sifat wara’ yang dimilikinya, serta keinginannya untuk melindungi darah kaum muslimin akan membuatnya segera mendatangi saudaranya Zubair di depan seluruh pasukan sehingga perang bisa dihindari, dan pertumpahan darah yang lebih banyak pun dapat terelakkan. Karena Ali maupun saudara-saudaranya yang lain dari golongan shahabat sangat berpihak kepada kebenaran, dan amat menjaga darah kaum muslimin.

Karena itulah kami katakana bahwa alas an yang memaksa Zubair untuk mundur dari medang perang adalah banyak faktor dan peristiwa-peristiwa yang telah ia kumpulkan dari analisanya, dan membuatnya ragu dan akhirnya sadar, sebagaimana yang telah dijelaskan. Maka ia pun meninggalkan peperangan tanpa peduli apa yang akan diucapkan orang-orang tentang sifat-sifat pengecut dalam menghadapi pertempuran. Karena kebenaran yang telah terungkap baginya lebih penting dari apapun juga.

Di dalam kitab Al-Hilyah, terdapat riwayat dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata, “Pada perang Jamal, Zubair menarik diri dari memerangi Ali, maka anaknya Abdullah menemuinya dan berkata, “Pengecut, pengecut! Zubair berkata, “Semua orang tahu bahwa aku bukan seorang pengecut. Namun Ali telah mengingatkanku tentang sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, maka aku bersumpah tidak akan memeranginya.”

Kemudian ia diikuti oleh Ibnu Jurmuz yang membunuhnya dengan licik. Maka ia pun terbunuh sebagai syahid semoga Allah meridhainya.

H. Kisah Syahidnya, Ucapan Duka Untuknya, Dan Harta Warisannya

1. Kisah syahidnya

Kisah tentang syahidnya Zubair diceritakan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Asakir, dan banyak lainnya, dan dengan bermacam versi yang berbeda pula. Seperti yang diriwayatkan oleh Hushain bin Abdurrahman, dari Amru bin Jawan, “Dari Al-Ahnaf bin Qais berkata, “Ketika Zubair tiba di Safawan, sebuah tempat di luar Bashrah, seperti jarak antara Qadisiyah dan Kufa, ia bertemu dengan An-Na’ir, seorang laki-laki dari Bani Musyaji’, ia berkata, “Hendak kemana wahai pembela RasulullahShallallahualaihi wa Sallam, engkau berada dalam lindunganku, takkan ada yang bisa sampai kepadamu.” Maka Zubair pun pergi bersamanya. Kemudian seseorang datang menemui Al-Ahnaf dan berkata, “Zubair telah berada di Safawan.” Maka Al-Ahnaf berkata, “Masya Allah atas apa yang terjadi, di telah mengumpulkan kaum muslimin sehingga mereka saling memukul saudaranya dengan pedang, kemudian ia kabur untuk menemui anak-anak dan keluarganya! Hal ini didengar oleh Amru bin Jurmuz dan Fadhalah bin Habis dan Nufai’, beberapa pemberontak dari Bani Tanim. Merekapun berangkat mencarinya, dan menemukannya bersama dengan An-Na’ir. Maka Amru bin Jurmuz mendatanginya dari belakang dengan menaiki kudanya yang telah letih, lalu ia menikamnya dengan tidak terlalu keras. Maka Zubair pun balik menyerang dengan tetap mengendarai kudanya yang bernama Dzul Khimar, hingga ketika Ibnu Jurmuz merasa bahwa Zubair akan membunuhnya, ia memanggil dua temannya, “Hai Nufai’, wahai Fadhalah”, mereka pun menyerangnya bersamaan hingga berhasil membunuhnya.”

Semoga Allah mengampuni Al-Ahnaf atas apa yang telah dikatakan nya! Sesungguhnya ZubairRadhiyallahu Anhu telah nyata baginya beberapa hal yang membuatnya berhenti berperang dan menarik diri dari medan tempur. Seharunys Al-Ahnaf lebih baik menyimpan pendapatnya dalam hati khususnya dalam situasi kritis yang penuh fitnah seperti itu, dan dipenuhi oleh orang-orang bodoh yang hanya mengandalkan emosi semata. Besar kemungkinan bahwa Al-Ahnaf sama sekali tidak bermaksud untuk menganjurkan membunuh Zubair. Namun ia telah melontarkan satu pernyataan tanpa dipikirkan sebelumnya, apalagi dilihat dari kebijaksanaannya, juga kecerdasan yang dimilikinya, sehingga pernyataan tersebut ditangkap oleh beberapa orang anak muda, dengan mimpi-mimpi bodoh mereka, dan kemudian segera berangkat untuk melaksanakan pekerjaan mereka yang penuh dosa tersebut.

Di sini terdapat sebuah pelajaran penting bagi setiap orang yang berakal agar berhati-hati dalam berbicara dan menjaga lisannya. Khususnya ketika dalam kondisi yang penuh dengan fitnah, dan timbulnya kerancuan serta situasi sulit yang tidak bisa dipahami dengan mudah. Ini yang dimaksudkan oleh seorang shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud ketika dia mengatakan, “Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum, sebuah pembicaraan yang tidak dapat menjangkau akal mereka, kecuali menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka.” Ini sangat tetap menggambarkan kejadian tadi. Para pembunuh Zubair tersebut menyangka bahwa perbuatan dosa mereka adalah sebuah kebaikan, dan yang menyebabkan mereka berfikir demikian adalah ucapan Al-Ahnaf yang tidak dapat mengjangkau akal mereka.

Zubair bin Bakkar berkata, pamanku Mush’ab bin Abdullah telah bercerita kepadaku dan berkata, “Yang terlibat dalam pembunuhan Zubair, Amru bin Jurmuz At-Taimi dari Mujasyi’, An-Na’ir dan Fadhalah bin Habis keduanya dari Bani Tamim, kemudian dua orang dari Bani Sa’ad. Adapun yang bertugas membunuhnya adalah Amru bin Jurmuz, dan dibantu oleh Fadhalah bin Habis dan An-Na’ir.”

Terbunuhnya Zubair dengan cara ini adalah sebuah bentuk kezhaliman, dan Zubair Radhiyallahu Anhusendiri telah mengetahui bahwa ia akan terbunuh secara zhalim, dalam hadits panjang yang diriwayatkan Al-Bukhari tentang hartas warisan Zubair, dari Abdullah bin Zubair, “Ketika Zubair telah berdiri pada perang Jamal, ia memanggilku, dan yang terbunuh hari ini kecuali sebagai seorang yang zhalim atau yang dizhalimi, dan sungguh aku melihat bahwa aku akan terbunuh hari ini secara zhalim.”

Ibnu Hajar berkata, “Perkiraannya bahwa ia akan terbunuh secara zhalim, telah benar-benar terjadi, karena ia terbunuh secara licik.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Pada saat perang Jamal, Zubair memanggil putranya Abdullah dan berwasiat kepadanya, dan berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya hari ini adalah hari di mana seseorang akan terbunuh secara zhalim atau dalam keadaan menzhalimi, demi Allah, kalau aku terbunuh, maka aku akan terbunuh sebagai orang yang terzhalimi, demi Allah aku tidak pernah melakukan dan tidak akan pernah melakukanya.” Maksudnya melakukan perbuatan maksiat.

Zubair Radhiyallahu Anhu ketika meninggalkan medan perang, ia segera menuju Madinah, kemudian ia diikuti oleh Amru bin Jurmuz dan beberapa yang bersamanya sampai di Wadi As-Siba’, dan mereka membunuhnya di sana, dan kuburannya pun di sana. Adapun Wadi As-Siba’ saat ini dikenal dengan kampong Zubair, sangat dekat dengan Bashrah.

2. Sampainya berita kepada Amirul Mukminin dan kesedihannya atasnya, serta sikapnya kepada pembunuhnya

Ahmad dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan, juga Al-Hakim yang men tashih riwayat ini bersama Adz-Zhahabi dan Ibnu Hajar dengan yang lainnya, dari Zirr bin Hubaisy berkata, “Ibnu Jurmuz minta izin untuk bertemu dengan  Ali, dan sat itu aku ada bersamanya, maka Ali berkata, “Berikanlah kabar gembira kepada pembunuh Ibnu Shafiyyah dengan neraka! Kemudian Ali berkata, “Aku telah mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair.”

Dalam sebuah riwayat lain dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata, “Pembunuh Zubair minta izin untuk menemui Ali, maka Ali berkata, “Demi Allah, sungguh pembunuh Zubair akan masuk neraka. Sesungguhnya aku telah mendengar Raslullah Shallallahualaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair.”

Dalam riwayat lain dari Abu Nadhrah Al-Abdi, “Ketika kepada Zubair dibawa kepada Ali, dia berkata, “Wahai orang badui, ambillah tempat dudukmu di neraka! Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah mengatakan kepadakuj bahwa pembunuh Zubair tempatnya di neraka.”

Ibnu Sa’ad juga menceritakan kisah pembunuhan Zubair, dan diakhir kisahnya disebutkan, “Lalu Ibnu Jurmuz mengambil kepalanya, dan membawanya dengan pedangnya kepada Ali. Maka Ali mengambilnya dan berkata, “Ini adalah pedang yang senantiasa menghilangkan kesusahan dari wajah RasulullahShallallahualaihi wa Sallam! Namun kebinasaan dan kematian yang buruk telah terjadi. ZubairRahimahullah kemudian dimakamkan di Wadi As-Siba’, lalu Ali duduk menangisinya di atas makamnya bersama para shahabatnya.”

Ibnu asakir meriwayatkan dari Abu Nadhrah, “Ketika sampai kepada Ali kabar kematian Zubair beserta cincin dan pedangnya, ia menangisinya, dan anak-anaknya ikut menangisi bersamanya, lalu ia berkata, “Sungguh keadaan kita saat ini telah dikotori oleh pembunuhan terhadap Zubair.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ali, bahwa ia berkata, “Sungguh aku sangat berharap agar aku, Thalhah, dan Zubair termasuk diantara mereka dikisahkan Allah dalam firman-Nya, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS. Al-Hijr [15]: 47).”

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhuma, “Suatu ketika kami berada bersama Ali di masjid Kufah, saat itu berbaring dengan menyamping di sisi kirinya, lalu kami mulai berbicara tentang Utsman, Thalhah, dan Zubair. Tiba-tiba ia mengubah posisinya dengan berbaring di sisi kanannya, dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan?” kami menjawab, “Kami berbicara tentang masalah Utsman, Thalhah, dan Zubair. Dan kami kira engkau tidur.” Maka Ali membaca ayat, “Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka) (QS. Al-Anbiya’ [21]:101).” Itu adalah Aku, Utsman, Thalhah, dan Zubair. Kemudian ia melanjutkan, “Dan aku termasuk golongan Utsman, Thalhah, dan Zubair.” Kemudian ia membaca, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS. Al-Hijr [15]:47).” Dan berkata, itu adalah Utsman, Thalhah, dan Zubair. Dan aku termasuk golongan Utsman, Thalhah, dan Zubair , Radhiyallahu Anhum.”

3. Penyesalan Ibnu Jurmuz atas Kelicikan dan Permohonannya kepada anak-anak Zubair untuk melaksanakan Qisash atasnya

Saat ia melihat sikap Ali kepadanya, dan mendengar ancaman yang menakutkan tentang tempat kembalinya yang amat buruk di akhirat nanti, serta kemurkaan Allah atasnya, dan ancaman neraka untuknya, ia pun merasakan penyesalan atas pembunuhan Zubair. Maka ia mendatangi anak-anaknya dan memohon kepada mereka agar membunuhnya sebagai qishash atas Zubair, namun mereka menolak, dan ia pun mati dalam penyesalan dan dosanya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sufyan bin Uyaynah, “Amru bin Jurmuz mendatangi Mush’ab bin Zubair (ketika ia menjadi gubernur di Iraq atas nama saudaranya Abdullah bin Zubair) dan berkata, “Bunuhlah aku karena Zubair”. Maka Mush’ab menulis surat kepada Abdullah bin Zubair, dan dijawab, “Aku harus membunuh Ibnu Jurmuz karena Zubair?! Biarkan dia, bahkan sampai sandalnya sekalipun!”

Dan dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Urwah, “Bahwasanya Amru bin Jurmuz menemui Mush’ab hingga ia menangkapnya, dan melemparkannya ke penjara. Kemudian Mush’ab menulis surat kepada Abdullah bin Zubair menceritakan perkaranya. Maka Abdullah membalas dan berkata, “Alangkah buruk apa yang telah kau lakukan, apakah kau mengira aku akan membunuh seorang arab badui dari Bani Tamim karena Zubair? Biarkan dia, maka Mushab melepaskannya. Hingga suatu hari ia naik ke atas sebuah benteng, dan meminta seseorang untuk melemparkannya dari sana, maka ia pun dilemparkan dari atasnya, dan mati terbunuh! Saat itu telah begitu membenci hidupnya, karena rasa takut yang terus mengejarnya, dan bahkan di dalam mimpinya, karena itulah ia memilih untuk mengkahiri hidupnya.”

4. Kelahirannya, wafatnya, serta usianya

Al-Fasawi, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, “Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah, dilahirkan pada tahun yang sama.”

Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Sa’ad masuk Islam saat berusia 17 tahun, sementara Zubair masuk Islam saat berusia 16 tahun, maka kemunggkinan Sa’ad dilahirkan di awal tahun, dan Zubair di akhir dari tahun yang sama.

Dengan begitu, maka kira-kira ia dilahirkan pada tahun 28 sebelum hijrah.

Para perawi sepakat bahwa ia meninggal pada perang Jamal, dan itu terjadi pada hari kamis, 10 Jumadits Tsaniyah tahun 36 H.

Adapun Umurnya, diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya, dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Ayahku terbunuh pada perang Jamal, dan ia telah berusia enam puluh empat tahun.”

Dan inilah yang benar, ini juga dikuatkan oleh riwayat yang menyebutkan tahun kelahiran dan wafatnya.

5. Ucapan duka untuknya

Kaum muslimin dan keluarga besar Zubair merasakan kesedihan yang amat mendalam. Bukan karena kematiannya, karena kematian adalah pasti, dan merupakan akhir dari perjalanan setiap makhluk hidup di dunia. Namun kesedihan mereka adalah karena sikap pengecut yang digunakan oleh pembunuhnya, seorang laki-laki pengecut yang disesatkan oleh Allah, yang telah membunuh Zubair dengan licik. ZubairRadhiyallahu kemudian bergabung dengan rombongan para syuhada sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

Istrinya meratapi kepergiannya, begitu pula dengan saudarinya, dan banyak orang yang ikut meratapinya dengan membacakan syair-syair menyentuh dan penuh dengan kenangan tentangnya. Syair-syair yang mengungkapkan tentang musibah karena kehilangannya, dan sekaligus menceritakan tentang sifat-sifatnya yang mulia dan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya.

Dari Abdurrahman bin Abu Az-Zinad, ia berkata, “Ketika berita wafatnya Zubair sampai ke telinga Ali, putrinya Fathimah binti Ali mememik karena sedih. Lalu dikatakan kepada Ali, “Fathimah menangisi wafatnya Zubair! Ali menjawab, “Siapa lagi setelah Zubair yang akan ditangisi?”

6. Warisan dan wasiatnya

Al-Bukhari dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Hisyam bin urwah bin Zubair, dari ayahnya, dari Abdullah bin Zubair, “Ketika Zubair telah berdiri pada perang Jamal, ia memanggilku, dan aku pun berdiri di sampingnya. Dia berkata, “Hai anakku, tidak aka nada yang terbunuh hari ini kecuali sebagai seorang yang zhalim atau yang dizhalimi, dan sungguh aku melihat bahwa aku akan terbunuh hari ini secara zhalim. Namun begitu, kekhawatiran terbesarku adalah masalah hutang-hutangku. Apakah kau melihat bahwa hutang kita akan menyisakan sesuatu dari harta kita?” Lalu ia berkata, “Hai anakku, juallah apa yang kita punya, lalu lunasilah hutangku. Dan aku mewasiatkan sepertiganya, dan sepertiga darinya untuk anak-anaknya yaitu anak-anak Abdullah bin Zubair, ia berkata, “Sepertiga dari yang sepertiga, apabila ada yang tersisa dari harta kita setelah melunasi hutang, maka sepertiganya untuk anakmu.”

Hisyam berkata, “Saat itu beberapa anak dari Abdullah bin Zubair telah menyamai beberapa dari anak-anak Zubair, Khubaib dan Abbad, dan saat itu dia memiliki Sembilan putra dan Sembilan putri.” Abdullah berkata, “Ia pun berwasiat kepadaku untuk melunasi hutang-hutangnya, dan ia berkata, “Wahai anakku, kalau engkau merasa tidak mampu untuk itu, maka minta tolonglah kepada perlindunganku.” Dia berkata, “Demi Allah aku tidak memahami apa yang dia katakana, sehingga aku bertanya, “Wahai ayah, siapakah pelindungmu?” dia menjawab, “Allah.” Abdullah melanjutkan, “Maka sungguh demi Allah, tidak pernah aku menemui kesulitan dalam melunasi hutangnya, kecuali aku segera berkata, “Wahai pelindung Zubair, lunasilah untuknya hutangnya, dan dia segera melunasinya. Ketika Zubair terbunuh, dia tidak meninggalkan dinar atau dirham, kecuali beberapa properti. Diantaranya tanah di Al-Ghabah, sebelas rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, satu rumah di Kufah, dan satu rumah di Mesir.” Abdullah berkata, “Adapun hutang yang ia punya adalah karena setiap orang yang datang untuk menitipkan hartanya, maka Zubair akan menjawab, “Tidak, tapi ini akan aku anggap sebagai hutang, sungguh aku takut kalau aku menghilangkannya.” Zubair tidak pernah memimpin satu wilayahpun, juga tidak pernah mengambil pajak tanah, atau apapun. Karena ia selalu berada dalam peperangan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, atau bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu Anhum.” Abdullah bin Zubair berkata, “Aku kemudian menghitung hutang yang ia punya, dan jumlah adalah dua juta dua ratus ribu. Suatu ketika Hakim bin Hizam (Hakim bin Hizam bin Khuwailid Radhyallahu Anhu adalah kerabat Zubair kedudukannya dari suku Asad yang berasal dari Quraisy) bertemu dengan Abdullah bin Zubair dan berkata, “Wahai putra saudaraku, berapakah hutang dari saudaraku? Abdullah menyembunyikannya dan berkata, “Seratus ribu.” Maka Hakim berkata, “Demi Allah, sungguh aku merasa bahwa harta kalian tak akan cukup untuk itu.” Abdullah lalu berkata, “Bagaimana pendapatmu jika jumlahnya dua juta dua ratus ribu?” Ia menjawab, “Aku rasa kalian takkan mampu, kalau kalian merasa tidak mampu dalam hal ini, minta tolonglah padaku.” Hisyam berkata, “Dulu Zubair membeli Al-Ghabah dengan harga seratus tujuh puluh ribu, dan Abdullah berhasil menjualnya seharga satu juta enak ratus ribu.

Kemudian ia bangkit dan berkata, “Siapa saja yang mempunyai hak piutang atas Zubair, maka hendaklah ia menemui kami di Al-Ghabah.” Lalu Abdullah bin Ja’fa menemuinya, dan ia mempunyai pitungan pada Zubair sebesar empat ratus ribu. Maka dia berkata kepada Abdullah, “Kalau kalian mau, aku akan meninggalkannya untuk kalian.” Abdullah menjawab, “Tidak.” Maka ia berkata kepada Abdullah, “Kalau kalian mau, kalian boleh menundanya kalau ada yang kalian tunda.” Abdullah menjawab, “Tidak” Ia berkata, Kalau begitu berikan saja sepotong tanah untukku.” Maka Abdullah menjawab, “Engkau boleh mengambil dari sini sampai di sana.” Lalu tinggallah empat setengah bidang tanah lagi yang tersisa. Kemudian ia mendatangi Mu’awiyah yang saat itu sedang bersama dengan Amru bin Utsman, Al-Mundzir bin Zubair, dan Ibnu Zam’ah. Muawiyah bertanya kepadanya, “Berapakah tanah di Al-Ghabah ini dihargai?” ia menjawab, “Setiap bidang seharga seratus ribu.” Dia bertanya “Berapa yang tersisa?” Ia menjawab, “Empat setengah bidang.” Al-Mundzir bin Zubair berkata, “Aku beli satu bidang dengan harga seratus ribu.” Kemudian Mu’awiyah berkata, “Berapa yang tersisa?” Ia menjawab, “Satu bidang setengah.” Muawiyah berkata, “Aku beli dengan harga seratus lima puluh ribu.” Ia berkata, “Lalu Abdullah bin Ja’far menjual jatahnya dari Muawiyah seharga enam ratus ribu. Ketika Abdullah bin Ja’far menjual jatahnya dari Mua’wiyah seharga enam ratus ribu.

Ketika Abdullah bin Zubair telah selesai melunasi hutangnya, anak-anak Zubair yang lain berkata, “Bagikanlah kepada kami harta warisan kami.” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan membagikannya untuk kalian sampai aku mengumumkan pada musim haji selama empat musim berturut-turut : “Ketahuilah, siapapun yang mempunyai piutang pada Zubair, hendaklah ia menemui kami, agar kami bisa melunasi nya.” Ia berkata, “Hisyam berkata, “Dan begitulah setiap tahun, pada saat musim haji ia mengumumkan hal tersebut. Dan ketika empat tahun telah berlalu, ia pun membagikan warisan itu kepada mereka.” Zubair meninggalkan empat istri, lalu harta warisan itu dikurangi sepertiga, dan setiap istri mendapatkan satu juta dua ratus ribu. Sementara keseluruhan hartanya berjumlah lima puluh juta dua ratus ribu.”

Ibnu Hajar memberikan catatan pada ucapannya, “Sementara keseluruhan hartanya berjumlah lima puluh juta dua ratus ribu.” Ibnu Hajar berkata, “Ini masih bisa diperdebatkan. Karena, kalau setiap istrinya mendapatkan satu juta dua ratus ribu, maka bagian untuk keempat istri adalah sebesar empat juta delapan ratus ribu. Dan ini adalah seperdelapan. Maka kalau dikalikan delapan, hasilnya adalah tiga puluh delapan juta empat ratus ribu. Jumlah ini adalah dua pertiga dari keseluruhan harta. Kalau ini digabung dengan sepertiga yang telah diwasiatkan, dan sepertiga berarti setengah dari dua pertiga, yaitu Sembilan belas juta dua ratus ribu. Maka dengan begitu, maka jumlah keseluruhan hartanya adalah limat puluh tujuh juta enam ratus ribu.”

Ini dijelaskan lagi oleh Ibnu Katsir, yang berkata, “Jumlah keseluruhan hartay ang dibagikan kepada seluruh ahli waris adalah tiga puluh delapan juta empat ratus ribu. Sedangkan sepertiga yang telah diwasiatkan adalah berjumlah Sembilan belas juta dua ratus ribu. Maka jumlah keseluruhan adalah lima puluh tujuh juta enam ratus ribu. Adapun hutang yang dikeluarkan sebelum itu adalah sebanyak dua juta dua ratus ribu. Dengan demikian, maka keseluruhan harta peninggalannya, baik yang berupa hutang, wasiat, ataupun warisan, adalah lima puluh Sembilan juta delapan ratus ribu. Adapun kami sengaja mengingatkan akan hal ini dikarenakan di Shahih Bukhari terdapat hal yang masih bisa diperdebatkan, yang harus diingatkan.”

Ibnu Hajar berpendapat bahwa perbedaan yang timbul dalam peperangan harta peninggalan Zubair adalah dikarenakan ketidak pedulian terhadap rincian hitungan. Karena yang ditekankan adalah banyaknya harta yang tumbuh dengan penuh berkah pada harta peninggalan Zubair. Karena saat itu ia meninggalkan hutang yang banyak, dan tidak meninggalkan apapun kecuali properti-properti yang telah disebutkan di atas. Namun demikian, peninggalannya tersebut dipenuhi oleh berkah sehingga bisa menghasilkan uang yang begitu banyak! Dan telah menjadi kebiasaan orang Arab yang terkadang menghilangkan pecahan-pecahan kecil pada hitungan, dan terkadang tetap mengalikannya.

Dalam kisah di atas, terdapat banyak pelajaran penting, dan hikmah yang dapat dipetik, yang telah ditorehkan oleh setiap pribadi yang berperan di dalamnya.

Dari sikap yang ditunjukkan oleh Zubair, terlihat jelas pentingnya perkara hutang. Karena sosok seperti Zubair dengan segala kiprah dan kontribusinya, tetap menunjukkan rasa khawatirnya akan tuntutan dari orang-orang yang mempunyai hak atasnya setelah kematiannya kelak. Sebagaimana terlihat dari sikapnya sebuah keyakinan yang tinggi kepada Allah saat ia berkata kepada putranya, “Wahai anakku, kalau engkau merasa tidak mampu untuk itu, maka minta tolonglah kepada pelindungku.”

Dalam kisah di atas juga terlihat bakti seorang anak kepada ayah nya dalam bentuk tertinggi. Ini terlihat dari kesungguhan Abdullah bin Zubair dalam menjaga reputasi ayahnya, dan tetap mempertahankan kemurahan hati ayahnya bahkan setelah wafatnya. Maka ia menolak bantuan siapapun selain Allah dalam melunasi hutang-hutang ayahnya. Sebagaimana ia juga tidak menerima ketika Abdullah bin Ja’far berkeinginan untuk merelakan hutang Zubair kepadanya yang berjumlah cukup besar. Ketika Abdullah bin Zubair menolak, ia minta agar pembayarannya ditunda. Ini pun tetap ditolak hingga akhirnya dia memilih untuk mengambil sepetak tanah sebagai gantinya. Dan ketika dijual ia pun mendapatkan untung sebesar dua ratus ribu.

Kemudian sikap yang ditunjukkan oleh Hakim bin Hizam saat mendatangi Abdullah bin Zubair untuk menanyakan jumlah hutang ayahnya. Dan ia merasa kasihan karena banyaknya jumlah hutang tersebut, dan menawarkan bantuan untuk ikut melunasinya. Namun Abdullah bin Zubair menolaknya. Dan Hakim kembali menawarkan bantuan tersebut lebih daru satu kali, dan Abdullah bin Zubair tetap enggan menerimanya.

Semua itu adalah sebuah gambaran indah tentang sikap saling membantu dalam masyarakat muslim. Juga menunjukkan sikap peduli kepada saudara-saudara serta anak-anak mereka setelah kematian mereka. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Duhai saudara, perhatikanlah bagaimana keadaan masyarakat yang dibangun oleh RasulullahShallallahualaihi wa Sallam tersebut, yang tetap berada pada jalan dan sunnah beliau. Kemudian berhentilah sedikit lama di depan harta yang begitu banyak, yang jumlahnya mencapai lima puluh Sembilan juta. Lalu ingatlah bahwa pemiliknya hanyalah seseorang  yang tumbuh dalam keadaan yatim dalam pelukan ibunya. Kemudian beranjak dewasa dalam dekapan Islam, menjadi kuat dengan jihad, dan berusaha dengan perniagaannya. Dan dunia pun datang menghampirinya dengan terpaksa. Saat wafat, ia meninggalkan harta yang begitu banyak, lengkap dengan infak yang tidak sedikit dan bahkan amat banyak, lengkap dengan infak yang tidak sedikit dan bahkan amat banyak. Begitulah, dalam biografi orang-orang besar selalu terdapat pelajaran bagi mereka yang ingin mengambil pelajaran atau mereka yang ingin bersyukur.

I. Data-Data Pribadi Dan Keturunannya Yang Penuh Berkah

Allah memuliakan Zubair dengan akar keturunan yang mulia. Semua itu ditambah dengan ketinggian pribadi dan akhlaknya. Kalaulah kebanggaan seorang manusia terletak pada amalnya, dan nilai seseorang dilihat dari agama dan ketakwaannya, maka kalau itu semua ditambahkan dengan akar keturunan dan nasab yang baik, maka ia bagaikan cahaya di atas cahaya. “Manusia itu (bagaikan) barang tambang, orang-orang terbaik pada masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik di dalam Islam jika mereka memahami (penggalan dari hadits yang diriwayatkan Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah).

Adapun keutamaan-keutamaan yang dimiliki Zubair, juga berbagai kiprah dan kontribusinya yang terpuji telah mengisi seluruh kisi kehidupannya. Ini jelas terlihat dalam berbagai sikap dan peran mengagumkan yang ia mainkan dalam banyak situasi dan kondisi. Sejak ia masih berusia remaja, ketika ia mengulurkan tangan memegang tangan kanan Nabi Shallallahualaihi wa Sallam menyatakan keislamannya dan berjanji untuk membelanya, hingga akhirnya ia kembali kepada Tuhannya sebagai seorang syahid dengan penuh kebahagiaan.

Adapun akar keturunan baik yang dimilikinya, juga kemuliaan keluarga besarnya adalah tambahan nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dia berasal dari Bani Asad dari Quraisy, sementara Abdul Muththalib yang merupakan tokoh pemimpin di Quraisy adalah paman-pamannya dari garis ibu, dan RasulullahShallallahualaihi wa Sallam adalah putra dari pamannya dari garis ibunya, dan sekaligus suami dari bibinya Khadijah, juga ipar baginya jika dilihat dari sisi ummul mukminin Aisyah yang merupakan saudari dari Asma istri Zubair. Ibunya Shafiyyah adalah seorang shaha-biyah yang mulia, dia mempunyai dua saudara, dua saudari yang semuanya adalah shahabat. Lima daru saudara, dan dua saudari yang semuanya adalah shahabat. Lima dari istrinya shahabiyah, bahkan putranya Abdullah juga merupakan seorang shahabat. Beberapa orang anaknya, dan sejumlah besar cucu-cucu dan keturunan mereka selanjutnya merupakan tokoh-tokoh terhormat dan pemimpin dalam masyarakat. Semua itu meeka peroleh dengan ilmu, otak yang cerdas, kefasihan dalam berbicara serta kebaikan dan kemurahan hati.

1. Ayahnya Al-Awwam

Dia terbunuh dalam perang fijar beberapa masa sebelum kedatangan Islam. Dan dia adalah saudara dari penghulu para wanita, Khadijah binti Khuwailid.

2. Ibunya Shafiyyah binti Abdul Muththalib

Dia adalah saudari kandung dari Hamzah, dan bibi dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Seorang shahabiyah yang terkenal. Termasuk di antara shahabiyah yang paling dahulu hijrah. Dia adalah mujadidah pemberani, dan termasuk wanita yang paling dihormati.

Dia menyaksikan terbunuhnya saudaranya Hamzah singa Allah pada perang Uhud, dan ia mampu bersabar dengan penuh keimanan. Ia hidup setelah wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, ketika hatinya hancur oleh kepergian beliau, dan mengubahnya dalam sebuah syair yang penuh kesedihan.

3. Saudara-saudaranya
  • As-Saib bin Awwam : Seorang shahabat, ikut dalam perang Uhud, Khandaq, dan beberapa peristiwa lainnya. Mendapatkan syahid dalam perang Yamamah, dan tidak mempunyai keturunan. Radhiyallahu Anhu.
  • Abdurrahman bin Awwam : Masuk Islam pada tahun penaklukkan kota Mekah, dan kemudian mendampingi Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Pada masa jahiliyah ia bernama Abdul Ka’bah, maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menamakannya Abdurrahman. Ia mendapatkan syahid pada perang Yarmuk.
4. Saudaranya-saudaranya yang lain

Usud, Ashram, Ubaidillah, Malik, dan Ya’la putra-putra Awwam. Dan tidak ada riwayat yang berbicara tentang mereka.

5. Saudari-saudarinya
  • Ummu Habib binti Awwam: Seorang Shahabiyah, istri dari Khalid bin Hizam, saudara dari Hakim bin Hizam.
  • Zainab binti Awwam : Seorang shahabiyah, istri dari Hakim bin Hizam.
  • Hindun binti Awwam : Menikah dengan Zaid bin Haritsah, seorang yang disayangi NabiShallallahualaihi wa Sallam.
6. Istri-istrinya
  • Asma binti Abu Bakar At-Taimiyah, Putri dari Ash-Shiddiq, saudari dari Ash-Shiddiq yang suci ummul mukminin Aisyah, Dzatun Nithaqain, seorang shahabiyah mulia yang terkenal. Dia mempunyai umur yang panjang, dan merupakan kaum Muhajirin yang terkait wafat.
  • Atikah Binti Zaid Al-Adawiyah, Seorang shahabiyah yang mulia, saudari dari Sa’id bin Zaid, satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Menikah dengan tiga orang shahabat, satu demi satu, dan semuanya meninggalkannya dalam keadaan syahid. Orang-orang Madinah sering berkata, “Siapa yang menginginkan syahid, maka hendaklah ia menikah Atikah bin Zaid. Pertama dia dinikahi oleh Abdullah bin Abu Bakar, dan ia syahid. Kemudian dinikahi oleh Umar bin Khaththab, ia pun syahid. Dan kemudian dinikahi oleh Zubair, dan ia pun syahid”. Dan ia pun berduka dan meratapi bertiga, semoga Allah meridhai mereka semua.
  • Ummu Khalid Amah binti Khalid bin Sa’id bin Al-Ash Al-Umawiyah, Termasuk golongan shahabiyah yang masih muda, dia adalah putri dari seorang shahabat besar Khalid bin Sa’id. Dilahirkan di Habasyah, dan kemudian datang ke Madinah bersama ayahnya dan orang-orang yang berhijrah ke Habasyah lainnya pada saat penaklukan Khaibar. Lalu di membai’at Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan banyak belajar langsung dari beliau. Dia mempunyai banyak riwayat di dalam kitab-kitab hadits.
  • Ummul Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ith Al-Umawiyah, Seorang shahabiyah, masuk Islam, berbai’at dan berhijrah. Dinikahi oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian menemui syahid pada perang Mut’ah. Kemudian dinikahi oleh Zubair, namun kemudian diceraikan. Lalu dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf dan wafat meninggalkannya. Kemudian dinikahi oleh Amru bin Al-Ash, dan meninggal sebagai istrinya.
  • Tumadhir binti Al-Ashbagh Al-Kalbiyah, Seorang shahabiyah, pernah dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf, namun hanya bertahan selama tujuh sebelum kemudian diceraikannya.
  • Istri-istrinya yang lain, Ar-Rahab bin Anif Al-Kalbiyah, Zainab binti Murtsad, dan Al-Halal binti Qais bin Naufal.
  • Empat istri yang dalam ikatan pernikahan dengannya saat wafat Asma binti Abu Bakar, Atikah binti Zaid, Ummu Khalid binti Khalid bin Sa’id, dan Ar-Rabab binti Anif.
7. Anak-Anaknya

Zubair memiliki dua puluh anak, sebelas laki-laki, dan dua diantaranya meninggal saat masih kecil, dan Sembilan perempuan.

Dia menamai anak-anaknya dengan nama para syuhada dari palangan shahabatm dan nama-nama anal perempuannya dari nama para ummahatul mukminin.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Zubair bin Awwam berkata, “Thalhah bin Ubaidillah menamai anak-anak laki-lakinya dengan nama-nama Nabi, padahal dia tahu bahwa tiada Nabi setelah Muhammad. Maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka pun menjadi syahid.” Maka ia menamai Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy, Al-Mundzir dari Al-Mundzir bin Amru, Urwah dari Urwah bin Mas’ud, Hamzah dari Hamzah bin Abdul Muththalib, Ja’far dari Ja’far bin Abi THalib, Mush’ab dari Mus’ab bin Umar, Ubaidah dari Ubaidah bin Al-Harits, Khalid dari Khalid bin Sa’ad, Amru dari Amru bin Sa’id bin Al-Ash, ia (maksudnya Amru bin Sa’id bin Al-Ash) syahid pada perang Yarmuk.”

Aku (penulis) berpendapat bahwa penamaan dengan nama-nama para Nabi adalah disukai, bahkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, menamakan putranya dengan nama Abul-Anbiya’ (bapak para Nabi): Ibrahim Alaihi Salam.

Dan dalam Ash-Shahihain dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam,  bahwasanya beliau bersabda, “Namailah anak-anak kalian dengan namaku.”

Dan dalam kitab yang sama, Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Aku dikaruniai seorang anak laki-laki, maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan beliau menamainya dengan Ibrahim, dan mengolesi mulutnya dengan kunyahan kurma.”

  • Nama anak-anaknya yang laki-laki : Abdullah, yang merupakan seorang shahabat yang alim, Urwah yang merupakan seorang hafizh dan ahli fikih, Al-Mundzir, Khalid, Amru, Mush’ab, Hamzah, Ubaidah, Ja’far, serta Al-Muhajir dan Ashim yang keduanya meninggal saat kecil.
  • Nama anak-anak perempuannya : Khadijah Al-Kubra, Khadijah Ash-Shughra, Aisyah, Habibah, Saudah, Hindun, Ramlah, Zainab, dan Ummul Hasan.
8. Sebagian Cucu-cucunya
  • Amir bin Abdullah bin Zubair : Seorang perawi hadits, ahli ibadah yang utama, dan riwayat-riwayatnya banyak terdapat di dalam Al-Kutub As-Sittah
  • Ubadah bin Abdullah bin Zubair : Di antara anak-anak Abdullah yang terbesar, dan yang seusia dengan pamannya Urwah. Dia adalah seorang perawi hadits yang utama, dan para imam yang enam meriwayatkan darinya di dalam kitab-kitab mereka.
  • Abdullah bin Urwah bin Zubair : Merupakan salah seorang tokoh dari kelaur Zubair, disamakan dengan Abdullah bin Zubair dalam hal ketajaman lisan dan kekuatannya. Dan Abdullah bin Zubair sendiri pernah mengatakan kepada Urwah, “Engkau telah melahirkan anakku!”, maksudnya adalah bahwa Abdullah bin Urwah mirip dengannya. Ketika penduduk Madinah ditimpa oleh kekeringan selama tujuh tahun, Abdullah bin Urwah dengan hartanya yang di Furu (salah satu diantara lembah yang terdapat Hizaj, terletak 150 Km dari selatan Madinah, terkenal dengan banyaknya kebun kurma dan mata air) membawa orang ketempat penyimpanan kurmanya dua kali dalam sehari, pada siang hari untuk makan siang, dan malam untuk makan malam. Ini terus berlangsung hingga orang tetap bertahan hidup. Hadits-hadits darinya diriwayatkan oleh As-Sittah (enam perawi hadits) kecuali Abu Dawud.
  • Utsman bin Urwah bin Zubair : Seorang orator, ulama, dan cukup berada. Ia adalah salah satu tokoh dan pemuka dari Quraisy. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jama’ah, kecuali At-Tirmidzi.
  • Muhammad bin Urwah bin Zubair : Dia adalah anak kesayangan Urwah, mempunyai wajah yang sangat tampan, bahkan ketampanannya menjadi contoh dalam pepatah. At-Tirmidzi meriwayatkan hadits darinya.
  • Yahya bin Urwah bin Zubair : Salah satu di antara putra Urwah yang paling terhormat. Pemberani dan sangat tegar. Amirul mukminin Abdul Malik bin Marwan sangat menghormati dan memuliakannya. Hadits-hadits darinya diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.
  • Muhammad bin Ja’far bin Zubair : Satu di antara ahli fikih dan qari (ahli bacaan Al-Qur’an) yang dimiliki penduduk Madinah. Hadits-hadits darinya dapat ditemukan di Al-Kutub As-Sittah.
  • Fathimah binti Al-Mundzir bin Zubair : Seorang ahli agama sekaligus periwayat hadits. Hadits-hadits darinya diriwayatkan oleh para penulis dari Al-Kutub As-Sittah.
  • Ummu Amru binti Abdullah: Dia Meriwayatkan dari ayahnya, dan hadits-hadits darinya terdapat dalam kitab As-Sunan Al-Kubra karangan An-Nasa’i
9. Keturunan dari Cucu-cucunya
  • Mus’ab bin Tsabit bin Abdullah bin Zubair
  • Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair
  • Umar bin Abdullah bin Urwah bin Zubair
  • Abdul Wahid bin Hamzah bin Amdullah bin Zubair
  • Abbad bin Hamzah bin Abdullah bin Zubair. Dan mereka semua merupakan perawi hadits.
  • Amir bin Hamzah bin Abdullah bin Zubair : Dia adalah satu diantara tokoh dari keluar Zubair dan termasuk yang paling cerdas dan kuat bahasanya. Dikatakan kepadanya, “Tidak pernah engkau berdebat dengan seseorang, kecuali engkau pasti mengunggulinya?!” Ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak pernah sekalipun berdebat dalam satu masalah yang menimbulkan keraguan bagi orang-orang yang berilmu.”
  • Abdullah bin Mush’ab bin Tsabit bin Abdullah bin Zubair : Dia adalah seorang yang tampan dan rendah hati. Fasih bicaranya, memiliki kharisma yang tinggi dan pemimpinn yang dicintai. Khalifah Al-Mahdi sangat menghormati dan mencintainya. Al-Mahdi memberikan Al-Yamamah di bawa kekuasaannya, lalu Harun Ar-Rasyid menjadikan Madinah dan Yaman sekaligus di bawah kekuasaannya.

Pada Keturunan yang penuh berkah ini masih terdapat banyak keunggulan lainnya. Mush’ab Az-Zubairi menyebutkan dalam Nasab Quraisy, dan juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Jamharatu Ansabil Arab,keturunan Zubair dari anak-anaknya (Abdullah, Al-Mundzir, Urwah, dan Mush’ab) dengan jumlah yang sangat banyak. Di antara Mereka terdapat banyak tokoh-tokoh dalam masyarakatnya, orang-orang dengan kedudukan yang tinggi dan ulama-ulama besar dari ahli hadits, dan fikih. Juga banyak di antara mereka yang cerdas, fasih, dikenal dengan syair-syair dan kemampuan retorika yang tingi. Dan dikenal kebaikan dan kemurahan hati mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan dalam memimpin, dan selalu dilibatkan dalam syura.

Semoga Allah merahmati semuanya, dan semoga Allah senantiasa meridhai pembela Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Sumber : https://sahabatnabi.com/category/zubair-bin-awwam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s