Imam Malik bin Anas

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Beliau adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Ibunya adalah Aliyah bin Syarik al-Azdiyah. Keluarganya berasal dari Yaman, lalu pada masa Umar bin Khattab, sang kakek pindah ke Kota Madinah dan menimba ilmu dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi salah seorang pembesar tabi’in.

Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya Nabi kita Muhammad, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Pamannya adalah Nafi’, seorang periwayat hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya, radhiallahu ‘anhum. Dengan lingkungan keluarga yang utama seperti ini, Imam Malik dibesarkan.

Awalnya, saudara Imam Malik yang bernama Nadhar lebih dahulu darinya dalam mempelajari hadits-hadits Nabi. Nadhar mendatangi para ulama tabi’in untuk mendengar langsung hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari para sahabat. Kemudian Imam Malik pun mengikuti jejak saudaranya dalam mempelajari hadits. Beberapa waktu berlalu, Imam Malik melangkahi saudaranya dalam ilmu hadits. Kecemerlangannya semakin tampak karena Malik juga menguasai ilmu fiqh dan tafsir.

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Menjadi Ulama Madinah 

Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.”

Imam Malik belajar dari banyak guru, dan ia memilih guru-guru terbaik di zamannya agar banyak memperoleh manfaat dari mereka. Di antara pesan dari gurunya yang selalu beliau ingat adalah untuk tidak segan mengatakan “Saya tidak tahu” apabila benar-benar tidak mengetahu suatu permasalahan. Salah seorang guru beliau yang bernama Ibnu Harmaz berpesan, “Seorang yang berilmu harus mewarisi kepada murid-muridnya perkataan ‘aku tidak tahu’.

Setelah mempelajari ilmu-ilmu syariat secara komperhensif, Malik bin Anas mulai dikenal sebagai seorang yang paling berilmu di Kota Madinah. Beliau menyampaikan pelajaran di Masjid Nabawi, di tengah-tengah penuntut ilmu yang datang dari penjuru negeri.

Salah satu hal yang menarik dari kajian fiqih yang beliau sampaikan adalah penafsiran-penafsiran hadits dan pendapat-pendapat beliau banyak dipengaruhi oleh aktifitas yang dilakukan penduduk Madinah. Menurut Imam Malik, praktik-praktik yang dilakukan penduduk Madinah di masanya tidak jauh dari praktik masyarakat Madinah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penduduk Madinah juga mempelajari Islam dari para leluhur mereka dari kalangan para sahabat Nabi. Jadi kesimpulan beliau, apabila penduduk Madinah melakukan suatu amalan yang tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah, maka perbuatan tersebut dapat dijadikan sumber rujukan atau sumber hukum. Inilah yang membedakan Madzhab Imam Malik disbanding 3 madzhab lainnya.

Sifat dan Karakter Imam Malik

Dari segi fisik, Imam Malik dikarunia fisik yang istimewa; berwajah tampan dengan perawakan tinggi besar. Mush’ab bin Zubair mengatakan, “Malik termasuk seorang laki-laki yang berparas rupawan, matanya bagus (salah seorang muridnya mengisahkan bahwa bola mata beliau berwarna biru), kulitnya putih, dan badannya tinggi.” Abu Ashim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits  setampan Malik.”

Selain Allah karuniai fisik yang rupawan, Imam Malik juga memiliki kepribadian yang kokoh dan berwibawa. Orang-orang yang menghadiri majlis ilmu Imam Malik sangat merasakan wibawa imam besar ini. Tak ada seorang pun yang berani berbicara saat ia menyampaikan ilmu, bahkan ketika ada seorang yang baru datang lalu mengucapkan salam kepada majlis, jamaah hanya menjawab salam tersebut dengan suara lirih saja. Hal ini bukan karena Imam Malik seorang yang kaku, akan tetapi aura wibawanya begitu terasa bagi murid-muridnya. Demikian juga saat murid-muridnya berbicara dengannya, mereka merasa segan menatap wajahnya tatkala berbicara. Wibawa itu tidak hanya dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan para khalifah pun menghormati dan mendengarkan nasihatnya.

Imam Syafii yang merupakan salah seorang murid Imam Malik menuturkan, “Ketika melihat Malik bin Anas, aku tidak pernah melihat seoarang lebih berwibawa dibanding dirinya.” Demikian juga penuturan Sa’ad bin Abi Maryam, “Aku tidak pernah melihat orang yang begitu berwibawa melebihi Malik bin Anas, bahkan wibawanya mengalahkan wibawa para penguasa.”

Imam Malik juga dikenal dengan semangatnya dalam mempelajari ilmu, kekuatan hafalan, dan dalam pemahamannya. Pernah beliau mendengar 30 hadits dari Ibnu Hisyam az-Zuhri, lalu ia ulangi hadits tersebut di hadapan gurunya, hanya satu hadits yang terlewat sedangkan 29 lainnya berhasil ia ulangi dengan sempurna. Imam Syafii mengatakan,

إذا جاء الحديث، فمالك النجم الثاقب

“Apabila disebutkan sebuah hadits, Malik adalah seorang bintang yang cerdas (menghafalnya pen.).

Imam Malik sangat tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan ilmu. Apabila ada suatu permasalahan ditanyakan kepadanya, lalu ada yang mengatakan, ‘Itu permasalahan yang ringan.” Maka Imam Malik pun marah kepada orang tersebut, lalu mengatakan, “Tidak ada dalam pembahasan ilmu itu sesuatu yang ringan, Allah berfirman,

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 5)

Semua permasalahan agama itu adalah permasalahan yang berat, khususnya permasalahan yang akan ditanyakan di hari kiamat.”

Imam Malik juga seorang yang sangat perhatian dengan penampilannya dan ini adalah karakter yang ditanamkan ibunya sedari ia kecil. Pakaian yang ia kenakan selalu rapi, bersih, dan harum dengan parfumnya. Isa bin Amr mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang yang berkulit putih ataupun merah yang lebih tampan dari Malik. Dan juga ian seseorang yang lebih putih dari pakaiannya.” Banyak riwayat-riwayat dari para muridnya yang mengisahkan tentang bagusnya penampilan Imam Malik, terutama saat hendak mengajarkan hadits, namun satu riwayat di atas kiranya cukup untuk menggambarkan kebiasaan beliau.

Hendaknya demikianlah seorang muslim, terlebih seseorang yang memiliki pengetahuan agama. Seorang muslim harus berpenampilan rapi, bersih, dan jauh dari bau yang tidak sedap. Sering kita lihat saudara-saudara muslim yang dikenal sebagai orang yang taat, mereka berpenampilan lusuh, pakaian tidak rapi karena jarang distrika atau karena lama tidak diganti, dan keluar bau tidak sedap dari tubuh atau pakaiannya, ironisnya ini terkadang terjadi saat shalat berjamaah. Agama kita sangat menganjurkan kebersihan dan Allah mencintai keindahan.

Firasat Yang Tajam

Sering kita dapati ketika membaca biografi orang-orang shaleh bahwasanya mereka memiliki firasat yang tajam. Demikian juga dengan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Imam Syafii mengisahkan tentang gurunya ini sebuah kisah yang menunjukkan kuatnya firasat sang guru. Kata Imam Syafii, “Ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Malik, kemudian ia mendengarkan ucapanku. Ia memandangiku beberapa saat dan ia berfirasat tentangku. Setelah itu ia bertanya, ‘Siapa namamu?’ Kujawab, ‘Namaku Muhammad.’. Ia kembali berkata, ‘Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat, karena aku melihat engkau akan mendapatkan suatu keadaan (menjadi orang besar pen.).”

Usul mazhab..

Sesungguhnya Imam Malik menggunakan usul mazhabnya yang agak berlainan daripada mazhab-mazhab lain yang wujud,diantara usul-usul beliau di dalam mazhab ialah :

(1) Al-Quran : seperti para imam mazhab yang lain,iaitu bersandar kepada kitabullah pertamanya.

(2) As-Sunnah

(3) Ijma’

(4) Al-Qiyaas : tetapi beliau tidaklah terlalu membuka luas pintu penggunaan qiyas di dalam mengeluarkan hukum hakam,sepertimana yang dilakukan oleh para fuqaha’ Hanafiah.

(5) Amalun Ahli Madinah (perlakuan penduduk Kota Madinah) : beliau menambah usul ini selepas keempat-empat usul utama yang disepakati tadi,yang mana perbuatan penduduk Madinah di dalam mazhab Maliki seakan-akan hadith yang diriwayatkan daripada baginda nabi daripada sekumpulan manusia kepada sekumpulan manusia yang lain,iaitu seperti hadith mutawatir,sebab itulah Imam Malik mendahulukan usul ini daripada Al-Qiyas didalam memperdalilkan sesuatu hukum,dan begitulah juga  pada kata-kata sahabat yang tidak boleh diijtihadkan juga mendepani Al-Qiyas, Masalihul Mursalah,Sadduz Zarai’e ,Al-‘Urf ,Istihsan dan juga Istishab.

Usul-usul Imam Malik ini agak berbeza dengan usul-usul para imam mazhab yang lain,di antara yang membezakan usul ini dengan usul mazhab lain ialah :

(1) Beliau mensyaratkan hadith ahad tidak boleh bercanggah dengan perbuatan penduduk Madinah (amalun ahli Madinah) kerana perbuatan penduduk Madinah pada pandangan beliau dan pada pandangan gurunya yang mulia iaitu Rabiah Bin Abdul Rahman ialah : “riwayat seribu orang dari seribu orang adalah lebih baik daripada riwayat seorang dari seorang” dan sandaran beliau di dalam meriwayatkan sunnah ialah periwayatan Ahli Hijaz,dan Imam Malik terlalu teliti dan terlalu memeriksa sesuatu hadith itu dengan memperdalaminya sebelum beliau menerimanya,dan beliau juga beramal dengan hadith mursal, dan beliau terlalu banyak menggunakan as-sunnah di dalam berhukum berbanding dengan Imam Abu Hanifah.

(2) Beliau menggunakan pendapat sahabat jika sanadnya sahih,dan beliau menggunakan pendapat sahabat yang paling mengetahui atau a’lim,seperti Abu Bakar,Umar,Utsman,Ali,Ibnu Umar dan Ibnu Abbas,Ibnu Masu’d dan lain-lain,yang mana beliau menggunakanya jika sesuatu masalah itu tidak dijumpai didalam Al-Quran atau nas-nas di dalam hadith nabi yang bermartabat sahih,dan pendapat para sahabat,seperti yang kami maklumkan,beliau mendepankanya daripada Al-Qiyas.

Usul beliau ini telah ditolak oleh beberapa ulama’,contohnya Imam Ghazali di dalam kitabnya Al-Mustasfa yang menolak dalil ini dengan berkata : Para sahabat sesungguhnya mereka itu tidaklah sempurna,dan harus bagi mereka untuk melakukan kesalahan,maka kata-kata mereka tidak boleh dijadikan sebagai hujjah.

(3) Beliau beramal dengan Masalihul Mursalah,iaitu Masalih yang tidaklah dibatalkan oleh hukum syarak dan juga tidaklah dibatalkan oleh nas yang tertentu,yang mana beliau melihat kepada menjaga maqsud syarak itu sendiri,yang mana dapatlah diketahui bahawa ianya adalah maqsud syarak dengan bersandarkan kepada Al-Quran,As-Sunnah atau Ijmak.

Dan beramal dengan Al-Maslahah itu tidaklah dipercanggahkan oleh para ulamak,tetapi apa yang menjadi percanggahan sesama mereka itu ialah apabila ianya bertembung dengan Maslahah yang lain,dan Imam Malik akan menganggap salah satu maslahah daripada yang bercanggah itu sebagai dalil manakala yang satu lagi tidaklah beliau menganggapnya sebagai dalil,contohnya : menyebat orang yang dituduh sebagai pencuri kerana melihatkan barang curian tersebut sebagai bukti,dan Imam Malik berpendapat sedemikian kerana beliau berpandangan terdapatnya maslahah pada hal sedemikian,kerana jika sebatan dilakukan ke atas orang yang dituduh itu akan membuatkan barang yang dicuri itu dikembalikan kepada tuanya,dan dapat mengelakkan daripada harta tersebut hilang begitu sahaja,dan pendapat beliau itu telah ditolak oleh ulama’ yang lain,kerana maslahah yang diperkatakan Imam Malik ini telah bertembung dengan maslahah yang lain pula,iaitu maslahah pada orang yang dituduh itu dengan tidak menyebatnya kerana kemungkinan orang yang dituduh itu tidak bersalah,dan tidak menyebat orang yang bersalah adalah lebih ringan daripada menyebat orang yang tidak bersalah,dan jika maslahah ini yang tidak menyebat orang yang dituduh itu akan menyebabkan kesukaran mendapatkan kembali harta yang dicuri itu,maka maslahah menyebat orang yang dituduh itu pula akan menyebabkan menyeksa orang yang tidak bersalah.

Dan di antara contoh Maslahah lain yang diamalkan oleh Imam Malik ialah : isteri kepada seorang lelaki yang hilang ghaib entah ke mana dan tidaklah diketahui hidupnya atau matinya dan menyebabkan perempuan tersebut tertekan kerana kehilangan suaminya itu,maka Imam Malik mengatakan bahawa isteri lelaki tersebut mempunyai ‘iddah dan boleh di kahwini selepas masa 4 tahun bermula dari terputusnya khabar berita tentang lelaki tersebut,yang mana ianya merupakan maslahah kepada isteri lelaki tersebut melebihi daripada maslahah suaminya yang telah hilang ghaib tidak diketahui khabar beritanya.

(4) Beliau juga beramal dengan Al-Istihsan pada kebanyakkan masalah yang dihadapi,di antaranya ialah : memberikan jaminan kepada pekerja dan pengawal secara bersama,dan Al-Qiyas mengatakan bahawa mereka tidak perlu dijamin,kerana mereka ialah orang yang memegang amanah dan yang memegang amanah tidaklah perlu dijamin,tetapi demi maslahah kepada umum mereka perlu diberikan jaminan,kerana ianya dapat memelihara harta manusia yang dijaga oleh mereka,dan jika tidak diberikan jaminan kepada mereka akan menyebabkan kemungkinan harta manusia yang dijaga itu hilang begitu sahaja dan juga keperluan manusia yang sememangnya memerlukan khidmat mereka,walaupun Imam Malik beramal dengan Al-Istihsan,tetapi tidaklah beliau menggunakanya secara meluas seperti Imam Abu Hanifah yang beramal dengan Al-Istihsan secara meluas.

Kitab-kitab beliau :

Di antara kitab agung beliau yang sampai kepada kami ialah Kitab Al-Muwattho’,kitab agung yang mulia ini telah dikarang oleh beliau yang mana termuat di dalamnya hadith-hadith beserta feqh,dan termuat juga di dalamnya kata-kata para sahabat dan Tabi’en beserta pendapat-pendapat beliau di dalam bidang feqh yang telah di ijtihadkan oleh beliau,kitab ini telah disusun mengikut tertib kitab-kitab feqh iaitu dimulai dengan bab bersuci kemudianya bab solat,bab zakat,bab puasa dan bab haji dan begitulah seterusnya,dan lebih daripada itu lagi,beliau telah mensyarahkan hadith-hadith tersebut bersama mengeluarkan hukum-hakam feqh berdasarkan hadith tersebut,berdasarkan perbuatan ini,kitab ini telah dianggap sebagai kitab feqh,manakala jika dilihat kitab ini yang dipenuhi oleh banyak hadith-hadith nabi yang telah dikumpulkan dan disatukan oleh beliau ini pula telah dilihat sebagai kitab hadith.

Kitab mulia ini telah dikarang dan disaring oleh Imam Malik selama 40 tahun lamanya,dikatakan bahawa pada mulanya kitab ini mengandungi 10,000 buah hadith,kemudian selepas disaring dan dibuang hadith-hadith yang lemah menjadi sebanyak 1720 buah hadith sahaja.

Anak-anak murid beliau :

Sesungguhnya Imam Malik tidak pernah keluar daripada Kota Madinah,cuma anak-anak muridnya sahaja yang mengembara dari berbagai negara ke Kota Madinah untuk berguru dengan beliau,selepas mereka berguru dengan beliau mereka pun balik ke negara masing-masing dan menyebarkan mazhab beliau ini,sebahagian anak-anak murid beliau ada yang datang dari Mesir dan sebahagianya ada yang datang dari negara lain,dan anak-anak murid beliau yang datang dari Mesir merupakan tulang belakang mazhab Maliki,di antaranya ialah :

(1) Abdullah Bin Wahab Bin Muslim,dilahirkan pada tahun 125 hijrah dan mengembara ke Madinah dan berguru dengan Imam Malik pada tahun 148 hijrah,dan beliau telah berguru dengan Imam Malik dan melaziminya selama 20 tahun,dan beliau tidak pernah meninggalkan gurunya itu sehinggalah Imam Malik pergi menemui Allah,dan beliau ada meriwayatkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik,dan juga beliau ada mengarang kitab di dalam mazhab,beliau juga telah berguru ilmu feqh dengan Al-Laits Bin Saad dan Sufyaan Bin Uyaynah,disebabkan kecerdikkan dan kepintaran beliau di dalam bidang feqh,Imam Malik telah menggelarkan beliau sebagai Faqih Mesir,dan juga digelarkan sebagai Mufti,Berkatanya Ibnu Al-Qasim tentang beliau : “Jikalau matinya Ibnu Uyaynah,maka aku akan pukulkan hati unta kepada Ibnu Wahab” beliau telah meninggal di Mesir pada tahun 197 hijrah.

(2) Abdur Rahman Bin Al-Qasim,dilahirkan di Syam pada tahun 128 hijrah dan meninggal dunia di Mesir pada tahun 191 hijrah,beliau telah berguru dan melazimi Imam Malik selepas Ibnu Wahab selama 10 tahun lamanya,apa yang istimewanya,beliau tidak mencampurkan ilmu yang beliau dapati daripada Imam Malik dengan para fuqaha’ yang lain,maka jadilah beliau di dalam mazhab maliki seperti Muhammad Bin Al-Hasan di dalam mazhab Hanafi yang tidak mencampurkan ilmu imamnya dengan imam yang lain,beliau telah mengarang kitab Al-Mudawwanah yang mana kitab tersebut mengumpulkan kesemua pendapat-pendapat di dalam mazhab maliki,dan Al-Faaqih Maliki Sahnun telah meriwayatkan kitab tersebut daripada beliau.

(3) Asyhab Bin Abdul Aziz Al-Qaisiy,dilahirkan pada tahun 145 hijrah dan meninggal dunia di Mesir pada tahun 204 hijrah,beliau telah berguru dengan Imam Malik dan Al-Laits Bin Saad,beliau merupakan salah seorang perawi di dalam mazhab dan merupakan di antara penyebar mazhab maliki,dan juga di antara imam yang mempertahankan mazhabnya,beliau juga merupakan ketua di dalam mazhab maliki di Mesir selepas Ibnu Al-Qasim.

(4) Abdullah Bin Al-Hakam,dilahirkan di Iskandariah pada tahun 155 hijrah,dan meninggal dunia pada tahun 214 hijrah,beliau telah mendengarkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik dan telah meriwayatkanya,dan para ashab mazhab maliki seperti Ibnu Wahab,Ibnu Al-Qasim dan Asyhab telah meriwayatkan dari apa yang mereka telah dengari dari beliau,beliau merupakan kawan rapat dengan Imam As-Syafie’ rahimahullahu taala,dan beliau merupakan ketua di dalam mazhab maliki selepas Asyhab Al-Qaisiy.

Manakala anak-anak murid Imam Malik yang datang dari negara selain Mesir iaitu seperti di Utara Afrika dan dari negara Andalus ialah :

(1) Asad Bin Al-Furat,menetap di Tunisia,beliau telah mengembara ke Madinah dan berguru dengan Imam Malik dan telah mendengarkan Al-Muwattho’ dan telah meriwayatkanya,kemudianya beliau telah mengembara ke Iraq dan telah berguru dengan Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan,dan beliau telah mempelajari dan mendalami feqh hanafi dari kedua orang syeikh ini,beliau telah menggabungkan pendapat feqh dari kedua-dua madrasah ini,beliau telah menjadi ketua mazhab maliki di Qairawan,beliau wafat pada tahun 213 hijrah yang mana ketika itu beliau menjadi Ketua Turus Angkatan Tentera di dalam peperangan.

(2) Sahnun iaitu Abdus Salam Bin Habib At-Tanuukhi,dilahirkan pada tahun 160 hijrah dan wafat pada tahun 240 hijrah,beliau telah belajar di Qairawan dan telah belajar Al-Mudawwanah Al-Asadiah dengan Asad Bin Al-Furat,kemudian beliau telah mengembara ke Mesir dan telah bertemu dengan Ibnu Al-Qasim dan telah mengajarkan beliau Al-Asadiah,dan Ibnu Al-Qasim telah membetulkan beliau pada beberapa masalah,kemudian beliau pulang ke Qairawan dan menjadi pemerintah di sana sehinggalah beliau wafat.

(3) Yahya Bin Yahya Bin Katsir Al-Laitsi,beliau telah berangkat dari Cordova di Andalus mengembara ke Madinah dan telah berguru dengan Imam Malik di sana,kemudian beliau mengembara ke Mesir dan telah berguru pula dengan Al-Laits Bin Saad,beliau juga telah bertemu dengan para ashab mazhab maliki di sana dan telah berguru dengan mereka,kemudian beliau pulang ke Andalus dan telah menyebarkan mazhab maliki di sana,dan beliau telah menjadi ketua mazhab maliki di sana sehinggalah beliau wafat pada tahun 234 hijrah.

Tanpa syak lagi,sesungguhnya kesemua anak murid Imam Malik ini telah menabur jasa yang besar dalam menyebarkan mazhab maliki,beliau hanyalah duduk di Madinah sahaja,tetapi mazhab beliau telah tersebar sehingga ke Mesir,Utara Afrika,Sudan dan Andalus dari jalan periwayatan anak-anak murid beliau ini.

Wafatnya

Imam Malik rahimahullah wafat di Kota Madinah pada tahun 179 H/795 M dengan usia 85 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’. Semoga Allah merahmati Imam Malik dan menempatkannya di surganya yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber :

http://kisahmuslim.com/4351-biografi-imam-malik.html

https://alhammasiyy.wordpress.com/laman-sejarah-imam/imam-malik-bin-anas-97h-179h/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s